Minggu, 11 November 2012

asuhan keperawatan hiperbilirubin

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu keadaan yang menyerupai penyakit hati yang terdapat pada bayi baru lahir adalah terjadinya hiperbillirubinemia yang merupakan salah satu kegawatan pada bayi baru lahir karena dapat menjadi penyebab gangguan tumbuh kembang bayi. Kelainan ini tidak termasuk kelompok penyakit saluran pencernaan makanan, namun karena kasusnya banyak dijumpai maka harus dikemukakan. Kasus ikterus ditemukan pada ruang neonatus sekitar 60% bayi aterm dan pada 80 % bayi prematur selama minggu pertama kehidupan. Ikterus tersebut timbul akibat penimbunan pigmen bilirubin tak terkonjugasi dalam kulit. Bilirubin tak terkonjugasi tersebut bersifat neurotoksik bagi bayi pada tingkat tertentu dan pada berbagai keadaan. Ikterus pada bayi baru lahir dapat merupakan suatu gejala fisiologis atau patologis. Ikterus fisiologis terdapat pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurang bulan sebesar 80%. Ikterus tersebut timbul pada hari kedua atau ketiga, tidak punya dasar patologis, kadarnya tidak membahayakan, dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus patologis adalah ikterus yang punya dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Dasar patologis yang dimaksud yaitu jenis bilirubin, saat timbul dan hilangnya ikterus, serta penyebabnya. Neonatus yang mengalami ikterus dapat mengalami komplikasi akibat gejala sisa yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh sebab itu perlu kiranya penanganan yang intensif untuk mencegah hal-hal yang berbahaya bagi kehidupannya dikemudian hari. Perawat sebagai pemberi perawatan sekaligus pendidik harus dapat memberikan pelayanan yang terbaik dengan berdasar pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum Mengetahui gambaran umum asuhan keperawatan pada anak dengan hiperbilirubinemia

2. Tujuan Khusus Setelah dilakukan presentasi diharapkan mahasiswa dapat; a. Mengetahui definisi, klasifikasi dan etiologi hiperbilirubinemia pada anak

b.

Mengetahui patofisiologi, manifestasi klinik dan komplikasi penyakit hiperbilirubinemia pada anak

c.

Mengetahui pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan penyakit hiperbilirubinemia pada anak

d. Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada anak dengan hiperbilirubinemia

mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning (Ngastiyah. bilirubin direk 0. Ikterus Patologik a. Definisi Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari normal (Suriadi. d.5 mg% untuk neonatus lebih bulan. b. . 2000). Klasifikasi 1. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama. Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan dan 12. Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12.5 mg% pada neonatus kurang bulan. Nilai normal bilirubin indirek 0. Hiperbillirubin ialah suatu keadaan dimana kadar billirubinemia mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi menimbulkan kernikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik (Prawirohardjo.1 mg/dl. sehingga kulit. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg% perhari. Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama. Timbul pada hari ke dua dan ketiga. e.4 mg/dl. b. B. Hiperbilirubinemia (ikterus bayi baru lahir) adalah meningginya kadar bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik. 2001). 1997).3 – 1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. c.1 – 0. konjungtiva. c. 2. Ikterus Fisiologis a.

Pigmen kuning ditemukan dalam empedu yang terbentuk dari pemecahan hemoglobin oleh kerja heme oksidase.d. kortikosteroid. Pada bayi hiperbilirubinemia kemungkinan merupakan hasil dari defisiensi atau tidak aktifnya glukuronil transferase. Uridin Diphospgoglucuronic Acid). Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama. D. e. 5. non-polar (bereaksi indirek) 7. 8. Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%. Glukuronil transferase menjadi bilirubin mono dan diglukuronida yang polar larut dalam air (bereaksi direk) 4. bilirubin masuk dalam empedu melalui membran kanalikular. 2. bilirubin tak terkonjugasi diambil oleh protein intraseluler “Y protein” dalam hati. Bilirubin yang tidak terkonjugasi dalam hati dirubah (terkonjugasi) oleh enzim asam uridin disfosfoglukuronat (UDPGA. asidosis 1. obstruksi empedu (atresia biliari). Adanya komplikasi. hipotiroid jaundice ASI 9. 6. tak terkonjugasi. biliverdin reduktase dan agen pereduksi nonenzimatik dalam sistem retikuloendotelial. Pengambilan tergantung pada alairan darah hepatik dan adanya ikatan protein. salisilat. Setelah pemecahan hemoglobin. Bilirubin yang terkonjugasi yang larut dalam air dapat dieliminasi melalui ginjal. f. Akhirnya dapat masuk ke sistem gastrointestinal dengan diaktifkan oleh bakteri menjadi urobilinogen dalam tinja dan urine. defisiensi glukoronil transferase. 4. Beberapa bilirubin diabsorbsi kembali menjadi sirkulasi enteroheptik 6. lahir prematur. Rendahnya pengambilan dalam hepatik kemungkinan karena penurunan protein hepatik sejalan dengan penurunan aliran darah hepatik 8. masalah metabolik galaktosemia. 2. 7. Terjadi 4 sampai 7 hari setelah lahir. Etiologi Peningkatan kadar bilirubin dalam darah tersebut dapat terjadi karena keadaan sebagai berikut. Warna kuning dalam kulit akibat dari akumulasi pigmen bilirubin yang larut lemak. C. hipoglikemi. Patofisiologi 1. Polychetemia Isoimmun Hemolytic Disease Kelainan struktur dan enzim sel darah merah Keracunan obat (hemolisis kimia. Menurunnya ikatan albumin. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik. asfiksia. 5. Dengan konjugasi. infeksi. 3. 3. Dimana terdapat kenaikan bilirubin tak terkonjugasi dengan kadar 25 sampai . kloramfenikol) Hemolisis ekstravaskuler Cephalhematoma Ecchymosis Gangguan fungsi hati. hipotermi. Jaundice yang terkait dengan pemberian ASI merupakan hasil dari hambatan kerja glukoronil transferase oleh pregnanediol atau asam lemak bebas yang terdapat dalam ASI.

Pada permulaan tidak jelas. 4. 5. kejang. stenosis yang disertai ketegangan otot F. biasanya mencapai normal dalam beberapa hari. Komplikasi . Bilirubin yang patologis tampak ada kenaikan bilirubin dalan 24 jam pertama kelahiran. yang tampak mata berputar-putar 8. 12. 11. ikterus pada tipe obstruksi (bilirubin direk) kulit tampak berwarna kuning kehijauan atau keruh. Letargik (lemas). muncul antara 3 sampai 5 hari sesudah lahir. 2. Dapat tuli. 1. Jaundice yang tampak dalam 24 jam pertama disebabkan oleh penyakit hemolitik pada bayi baru lahir. Muntah. Perbedaan ini hanya dapat dilihat pada ikterus yang berat. warna urin gelap dan warna tinja pucat. atau ibu dengan diabetik atau infeksi. kuku atau kulit dan membran mukosa.30 mg/dl selama minggu ke-2 sampai minggu ke-3. dan mencapai puncak pada hari ke tiga sampai hari ke empat dan menurun pada hari ke lima sampai hari ke tujuh yang biasanya merupakan jaundice fisiologis. Sedangkan untuk bayi dengan ikterus fisiologis. Ikterus adalah akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit yang cenderung tampak kuning terang atau orange. 3. Jika pemberian ASI dihentikan. seperti dempul 6. fatigue. Penghentian ASI selama 1 sampai 2 hari dan penggantian ASI dengan formula menfakibatkan penurunan bilirubin serum dengan cepat. tidak mau menghisap 9. gangguan bicara dan retardasi mental 10. Perut membuncit dan pembesaran pada hati 7. kejang. sesudahnya pemberian ASI dapat dimulai lagi dan hiperbilirubin tidak kembali ke kadar yang tinggi seperti sebelumnya. epistotonus.. Jaundice yang tampak pada hari ke dua atau hari ke tiga. Jika pemberian ASI dilanjutkan. Manifestasi Klinik Tanda dan gejala yang jelas pada anak yang menderita hiperbilirubin adalah. anoksia. sepsis. hiperbilirubinemia akan menurun berangsur-angsur dan dapat menetap selama 3 sampai 10 minggu pada kadar yang lebih rendah. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot. 10. Biasanya dapat mencapai usia 4 minggu dan menurun 10 minggu. kadar bilirubin serum akan turun dengan cepat. Tampak ikterus pada sklera. E. 9.

Kernikterus. Pemeriksaan Diagnostik 1. bicara lambat. Penatalaksanaan 1. 3. retardasi mental. Pencegahan dan pengobatan hipoksin pada neonatus dan janin. Pada bayi prematur kadar billirubin lebih dari 14 mg/dl dan bayi cukup bulan kadar billirubin 10 mg/dl merupakan keadaan yang tidak fisiologis. kerusakan neurologis. G. b. Laboratorium (Pemeriksan Darah) a. Fototerapi . Menghindari obat yang meningkatakan ikterus pada masa kelahiran. Radioisotop Scan. 6. cerebral palsy.Keadaan bilirubin yang tidak teratasi akan menyebabkan memperburuk keadaan. bila terkait dengan infeksi. HCT. Antibiotik. 4. Pengawasan antenatal dengan baik dan pemberian makanan sejak dini (pemberian ASI). Hitung Darah Lengkap. untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu. dan menyebabkan komplikasi. 3. 2. Fenobarbital Fenobarbital dapat mengeksresi billirubin dalam hati dan memperbesar konjugasi. Meningkatkan sintesis hepatik glukoronil transferase yang mana dapat meningkatkan billirubin konjugasi dan clereance hepatik pigmen dalam empedu. Pemeriksaan billirubin serum. dapat digunakan untuk membantu membedakan hapatitis dan atresia billiari. Hb. USG. 1. Protein serum total. H. 5. c. tidak ada koordinasi otot dan tangisan yang melengking. Fenobarbital tidak begitu sering digunakan. Bilirubin enchepalopathy (komplikasi serius) 2. hiperaktif. 2. misalnya sulfa furokolin.

Hipoksia Pathways . 7. Infeksi.Fototerapi dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbillirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan billirubin dikulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto pada billirubin dari billiverdin. Transfusi tukar dilakukan bila sudah tidak dapat ditangani dengan foto terapi. I.Asidosis. Transfusi tukar.

.

2). Urine berwarna gelap. Chepalohaematoma besar mungkin terlihat pada satu atau kedua tulang parietal yang berhubungan dengan trauma kelahiran. feces mungkin lunak atau coklat kehijauan selama pengeluaran billirubin. e.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. hepatosplenomegali atau hidrops fetalis. vasase meconium mungkin lambat. Opistotonus. Aktivitas/istirahat : letargi. mungkin ada dengan inkompathabilitas Rh. Seksualitas : mungkin praterm. g. 2. Oedema umum. dapat tampak ikterik pada awalnya pada wajah dan berlanjut pada bagian distal tubuh. 3). 1). Kehilanga refleks moro. dengan kekakuan lengkung punggung. Pengkajian Dalam melakukan pengkajian pada anak dengan gangguan hiperbilirubin adalah dilakukan sebagai berikut. aktifitas kejang. akimosis berlebihan. menandakan anemia c. Pemeriksaan umum a. bercak merah muda. bayi besar untuk usia gestasi (LGA) seperti bayi dengan ibu diabetes. menangis lirih. pteque. h. 4). Eliminasi : Bising usus hipoaktif. malas b. mungkin terlihat. Sirkulasi : mungkin pucat. Keamanan : Riwayat positif infeksi atau sepsis neonatus. hepar. i. bayi kecil usia untuk gestasi (SGA). perdarahan intrakranial. f. Pemeriksaan fokus . d. Terjadi lebih sering pada bayi pria daripada bayi wanita. Neurosensori. bayi dengan letardasio pertumbuhan intra uterus (IUGR). Makanan cairan : Riwayat pelambatan (makanan oral buruk). 1. Palpasi abdomen : dapat menunjukkan pembesaran limpa. Pernafasan : krekels (oedema pleura).

urine dan tinja. Diagnosa Keperawatan 1. Orang tua tidak tanpak cemas yang ditandai dengan orang tua mengekspresikan perasaan dan perhatian pada bayi dan aktif dalam partisipasi perawatan bayi 5.a. Inspeksi. ubun-ubun tidak cekung. Bayi tidak mengalami injury pada mata yang ditandai dengan tidak ada konjungtivitis . tidak ada jaundice. temperatur dalam batas normal 3. Bayi tidak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi yang ditandai dengan urine output kurang dari 13 ml/kg/jam. d. Bayi terbebas dari injury yang ditandai dengan serum bilirubin menurun. e. Pemeriksaan fisik. f. 6. membran mukosa mulut. b. 2. Pemeriksaan bilirubin menunjukkan adanya peningkatan Tanyakan berapa lama jaundice muncul dan sejak kapan apakah bayi ada demam Bagaimana kebutuhan pola minum Tanyakan tentang riwayat keluarga Apakah anak sudah mendapat imunisasi hepatitis B B. 3. membran mukosa normal. konjungtiva. Resiko injury (internal) berhubungan dengan peningkatan serum bilirubin sekunder dari pemecahan sel darah merah (SDM) dan gangguan ekskresi bilirubin Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan hilangnya air (Insible Water Loss) tanpa disadari sekunder dari fototerapi Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan fototerapi Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurangnya pengalaman bonding Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pengalaman orang tua Resiko injury pada mata berhubungan fototerapi C. Orang tua memahami kondisi bayi dan alasan pengobatan dan berpartisipasi dalam perawatan bayi (pemberian minum dan menangani popok) 6. Rumusan diagnosa keperawatan pada kasus anak dengan gangguan hiperbilirubin adalah sebagai berikut. 5. g. Perencanaan 1. c. Bayi tidak menunjukkan adanya iritasi pada kulit yang ditandai dengan tidak terdapat ras dan tidak ada ruam makuler eritematosa 4. 4. warna sklera. 2. tidak terdapat sepsis refleks hisap dan menelan baik. reflek moro normal. kulit.

D. Berikan fototerapi sesuai program c. mata Monitor temperatur setiap 2 jam 3. meningkatnya temperatur. f. Inspeksi kulit setiap 4 jam b.ogis alasan perawatan dan pengobatan . d. Monitor Hb dan Hct 2. turgor kulit. Kaji dehidrasi. Mengurangi rasa cemas orang tua a. Kaji hiperbillirubin tiap 1 – 4 jam dan catat Monitor kadar billirubin 4 – 8 jam sesuai program b. d. Orang tua memahami kondisi anak dan berpartisipasi dalam perawatan a. Gunakan sabun bayi c. Pertahankan kontak orang tua-bayi b. dengarkan rasa takut dan perhatian orang tua 5. meningkatnya konsentrasi urine dan cairan hilang berlebihan e. Ajarkan orang tua untuk mengekspresikan perasaan. Ajak orang tua untuk diskusi dengan menjelaskan tentang fisiol. perawatan dan pengonatannya c. membran mukosa. Berikan minum sesuai jadual c. Mencegah gangguan integritas kulit a. Mencegah terjadinya dehidrasi a. Pertahankan intake (pemasukan cairan) b. Jelaskan kondisi bayi. Mencegah injury a. ubun-ubun. Monitor inteke dan output (pemasukan dan pengeluaran) Berikan terapi infus sesuai program bila indikasi. Gunakan pengalas yang lembut 4. Antisipasi kebutuhan transfusi tukar e. Gunakan pelindung daerah genital a. Implementasi 1. Merubah posisi bayi dengan sering d.

Libatkan dan ajarkan orang tua dalam perawatan bayi a. dan tangisan yang b. b. hindari penekanan pada mata yang berlebihan karena dapat menimbulkan jejas pada mata yang tertutup atau kornea dapat tergores jika dapat membuka matanya saat dibalut. E. Jelaskan untuk pemberian imunisasi. Gunakan pelindung pada mata saat fototerapi mau makan dan minum. Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan. a. . Jelaskan pada orang tua tentang komplikasi yang mungkin terjadi dan segera lapor dokter atau perawat. Mencegah injury pada mata a. kekakuan otot. menangis terus. Ajarkan orang tua cara merawat bayi agar tidak terjadi infeksi dan jelaskan tentang daya tahan tubuh bayi. lethargi. meningkatnya temperatur. Perencanaan Pemulangan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pulang adalah. c. Namun bila penyebab bukan dari jaundice ASI tetap diteruskan pemberiannya. d. Pastikan mata tertutup.b. e. Jelaskan pada orang tua pentingnya pemberian ASI apabila sudah tidak ikterik. Jelaskan komplikasi dengan mengenal tanda dan gejala. kejang dan tidak melengking 6.

Saran Berdasarkan simpulan di atas. Komplikasi yang terjadi pada hiperbillirubin adalah billirubin ensepalopati dan kernikterus. Fisioterapi dan rehabilitasi bila terdapat gejala sisa. Oleh karena itu pada bayi yang menderita hiperbilirubin perlu dilakukan tindak lanjut sebagai berikut : 1. hipoglikemia. Proses fisiologis b. . pemberian fenobarbital. Bahaya hiperbilirubin adalah kernikterus. 3. 2. yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi. antibiotik dan transfusi tukar. hipotermia. Penilaian berkala pendengaran. Daya pikir yang berbeda c. 2. 3. gangguan fungsi hati dan komplikasi pada asfiksia. Penilaian berkala pertumbuhan dan perkembangan. kalau tidak ditanggulangi dengan baik. a. dan penatalaksanaannya adalah fototerapi. USG. yaitu. Radio Isotop Scan.BAB IV PENUTUP A. Struktur fisik yang berbeda dengan orang dewasa Kerjasama dengan orang yang terdekat pada anak (keluarga) juga akan membantu dalam kelangsungan proses pemberian asuhan keperawatan. maka disarankan. Pemeriksaan diagnostik pada hiperbillirubin adalah laboratorium. Gejala yang menonjol pada hiperbillirubin adalah ikterik. B. Mengetahui karakteristik anak merupakan langkah yang efektif dalam rangka memberikan asuhan keperawatan pada anak. Kesimpulan Hiperbillirubin adalah suatu keadaan dimana kadar billirubin mencapai nilai yang mempunyai potensi menimbulkan kernikterus. Hiperbillirubin terjadi disebabkan oleh peningkatan billirubin. 1.

EGC. Jakarta. Bari Abdul. 1997. Jakarta. JNPKKR/POGI & Yayasan Bina Pustaka. Asuhan Keperawatan Pada Anak . Mary Fraces. 2001. Jakarta. Perawatan Anak Sakit. Ilmu Kebidanan.html . Prawirohadjo. Jakarta. Rencana Perawatan Maternal / Bayi. E Marlynn & Moerhorse. 2001. Edisi I.com/2012/11/asuhan.DAFTAR PUSTAKA Suriadi. dan Rita Y. EGC. Ngastiah. Sarwono. Buku Ajar Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.blogspot. Diposkan oleh tyan kecu di 07:10 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Label: asuhan keperawatan hiperbilirubin http://kecutyan. Edisi 3. Doengoes. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka. Syaifuddin. Fajar Inter Pratama.hiperbilirubin. 2000. 1997.keperawatan.

maka saran dan kritik sangat kami nantikan dari para mahasiswa dan pengajar sehingga akan semakin memperbaiki makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna.3 Patofisiologi 3 2.1 Latar Belakang 1 1.7 Penatalaksanaan 6 2. Penyusun DAFTAR ISI Kata Pengantar i Daftar Isi ii BAB I PENDAHULUAN 1.MAKALAH KEPERAWATAN ANAK Dr. Terima kasih kami ucapkan kepada Dr.8 Pencegahan 8 BAB III PENUTUP 3.2 Tujuan ………………………………………………………………………2 BAB II PEMBAHASAN 2.6 Diagnosis 6 2.4 Manifestasi klinis 5 2. Akhir kata kami selaku penulis mengucapkan mohon maaf apabila ada kesalahan dan kami nerharap semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi para mahasiswa Akademik Perawat dan pembaca.2 Etiologi 4 2. Triyanto Saudin Tentang Bayi Dengan Hiperbilirubinemia OLEH : Dani Wijayanto 2009 1440 1018 STIKES BAHRUL ULUM LAB II BATU KOTA WISATA BATU 2011 KATA PENGANTAR Atas rahmat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua sahingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah “Keperawatan Anak tentang bayi dengan hiperbilirubinemia”.5 Klasifikasi 6 2.1 Definisi 3 2.1 Kesimpulan 14 . Triyanto Saudin selaku koordinator Pendidikan dan dosen yang telah membimbing penyusun dalam penyelesaian makalah.

1988). (Suzanne C. Proses hemolisis darah. defisiensi enzim G-6PADA. G. 2002) Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek pathologis. BAB II PEMBAHASAN 2. piruvat kinase.3. 1. . Pada sebagian neonatus.2 Tujuan Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Keperawatan Anak dari dr. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang bulan.1 Definisi Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum. 1991:314) 2.2 Saran dan Kritik 14 Daftar Pustaka BAB I PENDAHULUAN 1. membrane mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith. golongan darah lain. Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (Dorothy R.19% menderita ikterus. Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh kelainan bawaan. ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. infeksi berat. ABO. ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Produksi yang berlebihan Hal ini melebihi kemampuannya bayi untuk mengeluarkannya. Ikterus ini pada sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian. perdarahan tertutup dan sepsis. Di Jakarta dilaporkan 32.1 Latar Belakang Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. (Markum. juga dapat menimbulkan ikterus. kulit. karenanya setiap bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau kadar bilirubin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. Triyanto Saudin.2 Etiologi Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor: 1. misal pada hemolisis yang meningkat pada inkompabilitas darah Rh. Marlon. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan. Smeltzer. 1998) Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata.

10. Kulit tampak berwarna kuning terang sampai jingga (pada bayi dengan bilirubin indirek) 2.4 Manifestasi Klinis 1. Gangguan nafas 7. dan sulfaforazole. atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik. hipoksia. . Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom Criggler-Najjar) penyebab lain atau defisiensi protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam “uptake” bilirubin ke sel hepar. 2. 11.3 Patofisiologi Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan bebab bilirubin pada streptucocus hepar yang terlalu berlebihan. Perbesaran lien dan hepar 5. 4. 3.2. hiperkarbia. Jaundice yang tampak 24 jam pertama disebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir. misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan anoksia/hipoksia. Gangguan ambilan bilirubin plasma terjadi apabila kadar protein-Z dan protein-Y terikat oleh anion lain. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit. Perdarahan tertutup 6. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapat bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak. Gangguan transportasi Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila pada bayi terdapat keadaan imaturitas. akibat asidosis. polisitemia. bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusakan jaringan otak. sepsis atau ibu dengan diabetk atau infeksi. Gangguan dalam ekskresi Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat. Sifat indirek ini yang memungkinkan efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. hipoglikemia dan kelainan susunan saraf pusat yang karena trauma atau infeksi. Pada derajat tertentu. Kelainan yang terjadi pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris. 2. meningkatnya bilirubin dari sumber lain. memendeknya umur eritrosit janin/bayi. Gangguan saraf 9. Petekie 4. gangguan fungsi hepar. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi/kerusakan hepar oleh penyebab lain. misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu intra/ekstra hepatika. Terdapat ikterus pada sklera. Anemia 3. Gangguan sirkulasi 8. kuku/kulit dan membran mukosa. Berat lahir rendah. ditentukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukuronii transferase) atau bayi menderita gangguan ekskresi. Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek. Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan neonatus sendiri. kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin. Gangguan proses “uptake” dan konjugasi hepar Gangguan ini dapat disebabkan oleh immturitas hepar. Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl.

2. seperti abses hati atau hepatoma 3. 3.12. serosis hati. ABO) pada waktu hamil 2. Pemberian fenobarbital. Namun pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabkan gangguan metabolic dan pernafasan baik . Tindakan khusus 1. Peritoneoskopi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. 2. Dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbilirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan bilirubin dalam kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto. Memeriksa golongan darah ibu (Rh.6 Komplikasi 1. Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir. Kadar bilirubin yang lebih dari 14mg/dl tidak fisiologis. Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat. Pemeriksaan bilirubin serum Pada bayi cukup bulan. Mempercepat konjugasi dan mempermudah ekskresi. 5.7 Penatalaksanaan Tindakan umum 1. Mencegah truma lahir. bilirubin mencapai kurang lebih 6mg/dl antara 2-4 hari setelah lahir. Gangguan pendengaran dan penglihatan 4. infeksi dan dehidrasi. Kernikterus. Fototerapi 2. Apabila nilainya lebih dari 10mg/dl tidak fisiologis. Pemeriksaan radiology Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati. 4. Kerusakan neurologis 3. Biopsy hati Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis.5 Diagnosis 1. Laparatomi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. 5. pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir yang dapat menimbulkan ikhterus. hepatoma. Kematian. 4. Pada bayi premature. Retardasi mental 2. 6. 2. 3. Jaundice yang tampak pada hari ke 2 atau 3 dan mencapai puncak pada hari ke 3-4 dan menurun hari ke 5-7 yang biasanya merupakan jaundice fisiologi. Ultrasonografi Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra hepatic. 2. kadar bilirubin mencapai puncak 10-12 mg/dl antara 5-7 hari setelah lahir.

• Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatus. perkembangan dan pendengaran serta fisioterapi dengan rehabilitasi terhadap gejala sisa. 5. novobiosin. Terapi sinar matahari Tindak lanjut Tindak lanjut terhadap semua bayi yang menderita hiperbilirubin dengan evaluasi berkala terhadap pertumbuhan. Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi 6. Joanner. 1996 . • Pencegahan infeksi. selain itu juga berguna untuk mengurangi timbulnya bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hari. Mc Closkey. BAB III PENUTUP 3. • Imunisasi yang baik pada bayi baru lahir • Pemberian makanan yang dini. Louis :Mosby .1 Kesimpulan Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis. St. Ikterus patologik adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubin. 4.8 Pencegahan Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan : • Pengawasan antenatal yang baik • Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi dan masa kehamilan dan kelahiran. Terapi ini juga digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada neonatus dengan hiperbilirubin jinak hingga moderat.2 Saran Semoga Makalah ni dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Iowa Intervention Project Nursing Intervention Classification (NIC) Edisi 2. Westline Industrial Drive. kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau mempunyai potensi menjadi “kernicterus” dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Terapi transfuse digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin yang tinggi. Memberi substrat yang kurang untuk transportasi/ konjugasi misalnya pemberian albumin karena akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin lebih mudah dikeluarkan dengan transfuse tukar. 3. Terapi obat-obatan. 7. contoh :sulfaforazol. • Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus. 2. misalnya obat phenorbarbital/luminal untuk meningkatkan bilirubin di sel hati yang menyebabkan sifat indirect menjadi direct. oksitosin. Menyusui bayi dengan ASI 10. untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari sinar yang ditimbulkan dan dikhawatirkan akan merusak retina. 9. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik DAFTAR PUSTAKA 1.pada ibu dan bayi. 8.

com/2011/05/25/makalah-keperawatan-anak-tentang-bayi-denganhiperbilirubinemia/ I. Diagnosa Keperawatan NANDA . Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang bulan. PENDAHULUAN Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Di Jakarta dilaporkan 32.wordpress. Louis . St.Budi . 1991.dkk. 4. Jhonson. Pada sebagian neonatus. Ilmu Kesehatan Anak. Markum. ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik.Marion. Mosby.19% menderita ikterus.Missouri . http://dwaney. Proses hemolisis darah. karenanya setiap bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau kadar bilirubin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. 2005-2006. Santosa. Ikterus ini pada sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan . 3. 1997. H. Jakarta : Prima Medika. Jakarta : FKUI. Iowa Outcomes Project Nursing Classification (NOC) Edisi 2. ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. infeksi berat.2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful