LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN SULOSIO PLASENTA

A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1. DEFINISI Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau keseluruhan plasenta dari implantasi normalnya (korpus uteri) setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum janin lahir. Jika separasi ini terjadi di bawah kehamilan 20 minggu maka mungkin akan didiagnosis sebagai abortus imminens. Solusio placenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh plasenta yang implantasinya normal, sebelum janin dilahirkan, pada masa kehamilan atau persalinan, disertai perdarahan pervaginam, pada usia kehamilan 20 minggu. Cunningham dalam bukunya mendefinisikan solusio plasenta sebagai separasi premature plasenta dengan implantasi normalnya korpus uteri sebelum janin lahir. Abdul Bari Saifuddin dalam bukunya mendefinisikan solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasi normalnya sebelum janin lahir, dan definisi ini hanya berlaku apabila terjadi pada kehamilan di atas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram. Jadi , solusio placenta adalah terlepasnya sebagian atau keseluruhan placenta dari implantasi normalnya (korpus uteri) sebelum janin lahir, dengan disertao perdarahan pervaginam pada usia kehamilan 20 minggu atau berat janin di atas 500 gram 2. ETIOLOGI Penyebab primer solusio plasenta belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa factor yang menjadi predisposisi : 1. Faktor kardio-reno-vaskuler Glomerulonefritis kronik, hipertensi essensial, sindroma preeklamsia dan eklamsia. Pada penelitian di Parkland, ditemukan bahwa terdapat hipertensi pada separuh kasus solusio plasenta berat, dan separuh dari wanita yang hipertensi tersebut mempunyai penyakit hipertensi kronik, sisanya hipertensi yang disebabkan oleh kehamilan. Dapat terlihat solusio plasenta cenderung berhubungan dengan adanya hipertensi pada ibu. 2. Faktor Trauma Trauma yang dapat terjadi antara lain : • Dekompresi uterus yang mendadak pada hidroamnion, polihidramnion dan gemeli. • Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar atau tindakan pertolongan persalinan. • Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain. Dari penelitian yang dilakukan Slava di Amerika Serikat diketahui bahwa trauma yang terjadi pada ibu (kecelakaan, pukulan, jatuh, dan lain-lain) merupakan penyebab 1,5-9,4% dari seluruh kasus solusio plasenta. Di RSUPNCM dilaporkan 1,2% kasus solusio plasenta disertai trauma. 3. Faktor Paritas Ibu Lebih banyak dijumpai pada multipara dari pada primipara. Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus solusio plasenta yang diteliti dijumpai 45 kasus terjadi pada wanita multipara dan 18 pada primipara. Pengalaman di RSUPNCM menunjukkan peningkatan kejadian solusio plasenta pada ibu-ibu dengan paritas tinggi. Hal ini dapat diterangkan karena makin tinggi paritas ibu makin kurang baik keadaan endometrium.

yang mana bertanggung jawab atas terjadinya vasospasme pembuluh darah uterus dan dapat berakibat terlepasnya plasenta. Faktor Kebiasaan Merokok Ibu yang perokok juga merupakan penyebab peningkatan kasus solusio plasenta sampai dengan 25% pada ibu yang merokok ≤ 1 (satu) bungkus per hari. dan lain-lain. hipotesis ini belum terbukti secara definitif. Ini dapat diterangkan pada ibu yang perokok plasenta menjadi tipis.2-2. tekanan pada vena cava inferior akibat uterus yang membesar. Faktor Usia Ibu Dalam penelitian Prawirohardjo di RSUPNCM dilaporkan bahwa terjadinya peningkatan kejadian solusio plasenta sejalan dengan meningkatnya umur ibu.12% dari semua kejadian solusio plasenta di Amerika Serikat menjadi sebab kematian bayi. Penelitian Cunningham di Parkland Memorial Hospital melaporkan 1 kasus dalam 500 persalinan. Literatur lain menyebutkan insidennya 1 dalam 77-89 persalinan. Riwayat Solusio Placenta sebelumnya Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis ibu dengan riwayat solusio plasenta adalah bahwa resiko berulangnya kejadian ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil lainnya yang tidak memiliki riwayat solusio plasenta sebelumnya. makin tinggi frekuensi hipertensi menahun. 3. Penelitian retrospektif yang dilakukan oleh Ducloy di . Angka kejadian solusio plasenta pada ibu-ibu penggunan kokain dilaporkan berkisar antara 13-35%. Tumor Uterus Tumor uterus seperti leiomioma uteri (uterine leiomyoma / mioma uteri) yang hamil dapat menyebabkan solusio plasenta apabila plasenta berimplantasi di atas bagian yang mengandung leiomioma. 7. Namun. 5. dan bentuk solusio plasenta berat 1 dalam 500-750 persalinan. 8. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Deering didapatkan 0. 9. Slava dalam penelitiannya melaporkan insidensi solusio plasenta di dunia adalah 1% dari seluruh kehamilan.4. Deering dalam penelitiannya melaporkan bahwa resiko terjadinya solusio plasenta meningkat 40% untuk setiap tahun ibu merokok sampai terjadinya kehamilan. karena adanya perbedaan kriteria menegakkan diagnosisnya. EPIDEMIOLOGI Insiden solusio plasenta jarang terjadi dan bervariasi antara 0. Faktor penggunaan kokain Penggunaan kokain mengakibatkan peninggian tekanan darah dan peningkatan pelepasan katekolamin. Pengaruh lain Seperti ketuban pecah dini. terjadi pula penurunan kasus solusio plasenta menjadi 1 dalam 750 persalinan. diameter lebih luas dan beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya. Tetapi sejalan dengan penurunan frekuensi ibu dengan paritas tinggi. anomali uterus. malnutrisi/defisiensi gizi. 6. Di sini terlihat bahwa tidak ada angka pasti untuk insiden solusio plasenta. anemia.4 % dari seluruh kehamilan. Hal ini dapat diterangkan karena makin tua umur ibu.

Swedia melaporkan dalam 894.619 kelahiran didapatkan 0. Menurut data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSUPNCM) Jakarta didapat angka 2% atau 1 dalam 50 persalinan. dapat juga keluar melalui vagina. Apabila perdarahan sedikit. dengan berkembangnya hematom subkhorionik terjadi penekanan dan perluasan pelepasan plasenta dari dinding uterus.1% dari seluruh persalinan. Perdarahan yang tertahan atau tersembunyi dapat terjadi bila : 1. nyeri dan juga akan mengganggu kontraktilitas (kemampuan berkontraksi) uterus yang sangat diperlukan pada saat setelah bayi dilahirkan sebagai akibatnya akan terjadi perdarahan post partum yang hebat. Kejadian baru diketahui setelah plasenta lahir. Akibat kerusakan miometrium dan bekuan retroplasenter adalah pelepasan tromboplastin yang banyak ke dalam peredaran darah ibu. Pada kondisi ini dapat dilihat secara makroskopis seluruh permukaan uterus terdapatbercakbercak berwarna biru atau ungu. serta gejala dan tandanya pun belum jelas. hematom yang kecil hanya akan sedikit mendesak jaringan plasenta dan peredaran darah utero-plasenter belum terganggu. Solusio plasenta ringan jarang didiagnosis. Djamil Padang dalam periode 2002-2004 dilaporkan terjadi 19 kasus solusio plasenta dalam 4867persalinan (0. DR. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus-menerus/tidak terkontrol karena otot uterus yang meregang oleh kehamilan tidak mampu berkontraksi untuk membantu dalam menghentikan perdarahan yang terjadi. mungkin karena penderita terlambat datang ke rumah sakit atau tanda-tanda dan gejalanya terlalu ringan sehingga tidak menarik perhatian penderita maupun dokternya. Antara tahun 1968-1971 solusio plasenta terjadi pada kira-kira 2. Darah mengalir masuk ke dalam rongga amnion setelah menimbulkan ruptur selaput ketuban. yang terdiri dari 14% solusio plasenta sedang dan 86% solusio plasenta berat. Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat akan terjadi suatu kondisi uterus yang biasanya disebut dengan istilah Uterus Couvelaire (Uterus Bercak Biru). Terdapat efusi darah di balik plasenta tetapi tepi plasenta masih melekat. darah juga dapat menembus masuk ke dalam kantong amnion. 4. 2. Plasenta sudah terlepas sama sekali tetapi selaput ketuban masih melekat pada dinding uterus. sehingga berakibat pembekuan intravaskuler dimanamana atau disseminated intravascular coagulation (DIC) yang akan menghabiskan sebagian besar persediaan fibrinogen. Akibatnya hematom subkhorionik (hematom retroplasenta) akan menjadi bertambah besar. M. kemudian akan medesak plasenta sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta akan terlepas dari implantasinya di dinding uterus. Sedangkan penelitian yang dilakukan Suryani di RSUD. atau mengadakan ekstravasasi di antara otot-otot miometrium uterus.5% terjadi solusio plasenta. 4.39%) atau 1 dalam 256 persalinan. Kepala janin begitu rapat dengan segmen bawah uterus sehingga darah tidak bisa melewatinya. Sebagian darah akan masuk ke bawah selaput ketuban. . Akibatnya ibu jatuh pada keadaan hipofibrinogenemia. 3. yang pada pemeriksaan plasenta didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang berwarna kehitaman. Uterus pada kondisi seperti ini (Uterus Couvelaire) akan terasa sangat tegang. PATOFISIOLOGI Solusio plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan ke dalam desidua basalis dan terbentuknya hematom subkhorionik (hematom retroplasenta) yang dapat berasal dari rupturnya pembuluh darah miometrium atau plasenta (arteri spiralis desidua).

Apabila janin masih hidup. karena dapat saja menjadi semakin tegang karena perdarahan yang berlangsung. dimana terdapat pelepasan sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak. tetapi perdarahan sebenarnya mungkin telah mencapai 1000 ml. Ibu mungkin telah jatuh ke dalam syok. .Walaupun demikian. uterus tidak tegang. bunyi jantung sukar didengar. uterus tegang. MANIFESTASI KLINIS Gambaran klinis dari kasus-kasus solusio plasenta diterangkan atas pengelompokannya menurut gejala klinis : 1. belum ada tanda renjatan. Tanda dan gejala dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta ringan. • Solusio plasenta parsialis. yaitu : • Ringan : perdarahan kurang 100-200 cc. yaitu : • Solusio plasenta dengan perdarahan keluar melalui vagina. Dinding uterus teraba tegang terus-menerus dan nyeri tekan sehingga bagian-bagian janin sukar untuk diraba.Pada keadaan hipofibrinogenemia ini terjadi gangguan pembekuan darah yang tidak hanya di uterus. tetapi dapat juga secara mendadak dengan gejala sakit perut terus-menerus. Solusio plasenta sedang Dalam hal ini plasenta telah terlepas lebih dari satu per empat bagian. janin hidup. kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%. pelepasan plasenta dapat terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan. 6. Salah satu tanda yang menimbulkan kecurigaan adanya solusio plasenta ringan ini adalah perdarahan pervaginam yang berwarna kehitamhitaman. • Sedang : Perdarahan lebih 200 cc. KLASIFIKASI 1. Darah tidak mengalir ke luar tetapi tertahan diantara bagian plasenta yang lepas dengan bagian uterus. Apabila terjadi perdarahan pervaginam. janin mati. Perut terasa agak sakit. Uterus yang agak tegang ini harus selalu diawasi. gawat janin atau janin telah mati. bagian-bagian janin masih mudah diraba. Cunningham dan Gasong masing-masing dalam bukunya mengklasifikasikan solusio plasenta menurut tingkat gejala klinisnya. pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan. plasenta terlepas seluruhnya. Perfusi ginjal akan terganggu karena syok dan pembekuan intravaskular 5. 2. Jenis ini jarang terjadi. atau terasa agak tegang yang sifatnya terus menerus. Kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal mungkin telah terjadi. Darah terlihat dari luar. • Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik. • Ruptura sinus marginalis. 2.Walaupun perdarahan pervaginam dapat sedikit. tetapi juga pada alat-alat tubuh lainnya. Pritchard JA membagi solusio plasenta menurut bentuk perdarahan. • Solusio plasenta yang perdarahannya masuk ke dalam kantong amnion (ketuban) setelah menembus selaput ketuban 3. pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan. terdapat tanda pre renjatan. yaitu : • Solusio plasenta totalis. tetapi belum dua per tiga luas permukaan. terdapat tanda renjatan. yang tidak lama kemudian disusul dengan perdarahan pervaginam. warnanya akan kehitam-hitaman dan sedikit sakit. Trijatmo Rachimhadhi membagi solusio plasenta menurut derajat pelepasan plasenta. demikian pula janinnya yang jika masih hidup mungkin telah berada dalam keadaan gawat. Solusio plasenta ringan Solusio plasenta ringan ini disebut juga ruptura sinus marginalis. hanya sebagian kecil pinggir plasenta yang terlepas. • Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi yang membentuk hematoma retroplacenter. kadar fibrinogen plasma lebih 150 mg%. plasenta terlepas sebagian.

Perdarahan pervaginam tampak tidak sesuai dengan keadaan syok ibu. pucat. Terjadi sangat tiba tiba. • Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak lagi). terkadang perdarahan pervaginam mungkin saja belum sempat terjadi. Biasanya ibu telah jatuh dalam keadaan syok dan janinnya telah meninggal. Solusio plasenta berat Plasenta telah terlepas lebih dari dua per tiga permukaannnya. PEMERIKSAAN FISIK 1. bisa disertai kontraksi tetanik. lemas. Uterusnya sangat tegang seperti papan dan sangat nyeri. Nyeri perut dirasakan terus menerus. Ibu terlihat anemis . mungkin terjadi kelainan pembekuan darah Kelas 3 – berat (Plasenta telah terlepas lebih dari 2/3luas permukaannya) • Tidak ada hingga perdarahan vagina yang berat • Kontraksi tetanik uterus yang sangat nyeri • Syok pada ibu • Hipofibrinogenemia (<150 mg/dL) • Koagulopati • Kematian janin 7. kadang-kadang pasien dapat menunjukkan tempat yang dirasa paling sakit. • Perdarahan pervaginam yang sifatnya dapat hebat dan sekonyong-konyong (nonrecurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuan darah yang berwarna kehitaman. Ibu dapat jatuh ke dalam keadaan syok • Gawat janin • Hipofibrinogenemia (50 – 250 mg/dL). muntah. mata berkunang-kunang.walaupun hal tersebut lebih sering terjadi pada solusio plasenta berat. Pada keadaan-keadaan di atas besar kemungkinan telah terjadi kelainan pada pembekuan darah dan kelainan/gangguan fungsi ginjal. • Kepala terasa pusing. Anamnesis • Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut. uterus teraba tegang dan nyeri tekan • Takikardi pada ibu dengan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan frekuensi nadi. Kelas Gejala Kelas 0 – asimtomatik • Gejala tidak ada • Diagnosis dibuat dengan menemukan pembekuan darah yang terorganisasi atau bagian yang terdepresi pada plasenta yang sudah dilahirkan Kelas 1 – ringan (Rupturan sinus marginalis atau sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak) • Tidak ada atau sedikit perdarahan dari vagina yang warnanya kehitamhitaman • Rahim yang sedikit nyeri atau terus menerus agak tegang • Tekanan darah dan frekuensi nadi ibu yang normal • Tidak ada koagulopati • Tidak ada gawat janin Kelas 2 – sedang (Plasenta lepas lebih dari 1/4-nya tetapi belum sampai 2/3 luas permukaannya) • Tidak ada hingga adanya perdarahan dari vagina dalam jumlah yang sedang • Nyeri pada uterus yang bersifat sedang hingga berat. 3.

Ini menunjukkan telah terjadi komplikasi koagulopati pada pasien yaitu disseminated intravascular coagulation. 5. disebut prolapsus placenta. kadar fibrinogen menurun (hipofibrinogenemia) dan kadar D-dimer meningkat. Inspeksi • Pasien gelisah.yang tidak sesuai dengan jumlah darah yang keluar pervaginam. 8. ini sering meragukan dengan plasenta previa. Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah hipofibrinogenemia. • Uterus tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois (wooden uterus) baik waktu his maupun di luar his. dan tes kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 15O mg%). • PT dan APTT yang memanjang. Harus dilakukan pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk melihat apakah sudah terjadi komplikasi pada ginjal. Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (kreater) dan terdapat koagulum atau darah beku yang biasanya menempel di belakang plasenta. pada pemeriksaan sedimen dapat ditemukan silinder dan leukosit. lakukan cross-match test. • Kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang lain. • Apabila plasenta sudah pecah dan sudah terlepas seluruhnya. Pemeriksaan Dalam • Serviks dapat telah terbuka atau masih tertutup. Auskultasi Sulit dilakukan karena uterus tegang. • Bagian-bagian janin sulit dikenali. sianosis dan berkeringat dingin. maka diperiksakan pula COT (Clot Observation test) tiap l jam. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan Plasenta Plasenta dapat diperiksa setelah dilahirkan. yang disebut hematoma retroplacenter. kemudian turun di bawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari satu per tiga bagian. • Darah : Hb menurun. kecil dan filiformis. Pemeriksaan Laboratorium • Urin : Albumin (+). • Nyeri tekan di tempat plasenta terlepas. bila denyut jantung terdengar biasanya di atas 140. . karena perut (uterus) tegang. • Pucat. plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan. 6. 2. Nadi cepat. • Terlihat darah keluar pervaginam (tidak selalu). 4. 3. periksa golongan darah. baik sewaktu his maupun di luar his. Palpasi • Tinggi fundus uteri (TFU) tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh dalam keadaan syok. sering mengerang karena kesakitan. • Kalau sudah terbuka maka plasenta dapat teraba menonjol dan tegang. 2. tes kualitatif fibrinogen (fiberindex). Pemeriksaan Umum Tekanan darah semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler.

bila usia kehamilan kurang dari 36 minggu dan bila ada perbaikan (perdarahan berhenti. Keluarnya cairan amnion juga dapat mengurangi perdarahan dari tempat implantasi dan mengurangi masuknya tromboplastin ke dalam sirkulasi ibu yang mungkin akan mengaktifkan faktor-faktor pembekuan dari hematom subkhorionik dan terjadinya pembekuan intravaskuler dimanamana. Pencegahan gagal ginjal meliputi penggantian darah yang hilang. 2. pada pemantauan dengan USG daerah solusio plasenta bertambah luas). Tetapi bila telah terjadi nekrosis korteks ginjal. Oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran pengeluaran urin yang teliti yang harus secara rutin dilakukan pada penderita solusio plasenta sedang dan berat. keadaan umum penderita umumnya masih baik. Bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus. Penanganan solusio plasenta berdasarkan gejala klinis. Bila janin hidup. secepatnya harus dilakukan cross darah dan pemberian fresh frozen plasma (FFP) dan tranfusi packed red cell (PRC) untuk mengganti darah yang sudah keluar dan memperbaiki anemia. Selain cairan. dan faktor-faktor pembekuan. Maka transfusi darah harus segera diberikan. PENATALAKSANAAN / TERAPI Penanganan kasus-kasus solusio plasenta didasarkan kepada berat atau ringannya gejala klinis atau menurut keadaan ibu dan janinnya. Gagal ginjal sering merupakan komplikasi solusio plasenta. Pada tahap oliguria. . maka kehamilan harus segera diakhiri. Amniotomi akan merangsang persalinan dan mengurangi tekanan intrauterin. prognosisnya buruk sekali. Karena telah terjadi syok pada pasien. amniotomi. Persalinan juga dapat dipercepat dengan memberikan infus oksitosin yang bertujuan untuk memperbaiki kontraksi uterus yang mungkin saja telah mengalami gangguan. uterus tidak tegang. fibrinogen. infus oksitosin dan jika perlu seksio sesaria. Perlu juga dipasang kateter untuk memonitor urin yang keluar. penanganan di rumah sakit meliputi transfusi darah. Solusio plasenta sedang dan berat Apabila tanda dan gejala klinis solusio plasenta jelas ditemukan. Biasanya yang terjadiadalah nekrosis tubuli ginjal mendadak yang umumnya masih dapat tertolong dengan penanganan yang baik. gejala solusio plasenta makin jelas. • Janin dan kandung kemih ibu. Pemberian tranfusi dapat juga diganti menggunakan whole blood karena di dalamnya sudah terkandung komponen sel darah merah. berarti ada kemungkinan telah terjadi komplikasi pada ginjal. Apabila diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan berarti perdarahan telah terjadi sekurangkurangnya 1000 ml. Pemberian FFP ditujukan untuk memperbaiki keadaan koagulopati karena di dalam FFP terdapat fibrinogen dan berbagai faktor pembekuan. yaitu: 1. pemberantasan infeksi yang mungkin terjadi. Bila terjadi oligouria. janin hidup) dengan tirah baring dan observasi ketat. • Darah • Tepian plasenta 9. bila janin mati lakukan amniotomi disusul infus oksitosin untuk mempercepat persalinan. mengatasi hipovolemia. apalagi yang disertai hipertensi menahun dan preeklamsia. perut tidak sakit. kemudian tunggu persalinan spontan. Solusio plasenta ringan Ekspektatif. menyelesaikan persalinan secepat mungkin dan mengatasi kelainan pembekuan darah. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Pada pemeriksaan USG yang dapat ditemukan antara lain : • Terlihat daerah terlepasnya plasenta. maka penanganan yang pertama kali harus diberikan adalah resusitasi cairan dengan menggunakan kristaloid sampai tercapai tekanan darah minimal 90/60 mmHg. lakukan seksio sesaria.3.

mengapa tidak dilakukan persalinan spontan per vaginam untuk melahirkan bayi. Persalinan diharapkan terjadi dalam 6 jam sejak berlangsungnya solusio plasenta. Dengan melakukan persalinan secepatnya dan transfusi darah dapat mencegah kelainan pembekuan darah.Kemungkinan kelainan pembekuan darah harus selalu diawasi dengan pengamatan pembekuan darah. Pengobatan dengan fibrinogen tidak bebas dari bahaya hepatitis. karena itu pengobatan segera ialah pemulihan defisit volume intravaskuler secepat mungkin. usia kehamilan dan lamanya solusio plasenta berlangsung. Syok perdarahan Pendarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hamper tidak dapat dicegah. Pemberian fibrinogen pada kasus hipofibrinogenemia hanya dilakukan bagi penderita yang sangat memerlukan dan tidak menjadi pengobatan rutin bagi setiap kasus solusio plasenta. dalam hal ini adalah dengan melahirkan bayi dan plasenta secepatnya. Proses persalinan harus sudah selesai dalam 3-6 jam setelah terjadinya solusio plasenta. Apoplexi uteroplacenta (uterus couvelaire) tidak merupakan indikasi histerektomi. Janin dalam kandungan sudah meninggal. karena vasospasme akibat perdarahan akan meninggikan tekanan darah. dan bukan pengobatan rutin. Akan tetapi. tapi mayoritas kematian disebabkan syok perdarahan dan penimbunan cairan yang berlebihan. Titik akhir dari hipotensi yang persisten adalah asfiksia. karena pemberian darah segar selain dapat memberikan sel darah merah juga dilengkapi oleh platelet dan factor pembekuan. Angka kesakitan dan kematian ibu tertinggi terjadi pada solusio plasenta berat. Kemudian. Bila persalinan telah diselesaikan. maka satu-satunya cara melakukan persalinan adalah seksio sesaria. kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Meskipun kematian dapat terjadi akibat nekrosis hipofifis dan gagal ginjal. Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu : 1. Gagal ginjal Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penderita solusio plasenta. 10. pada . Tekanan darah tidak merupakan petunjuk banyaknya perdarahan. oleh karena itu pengobatan dengan fibrinogen hanya pada penderita yang sangat memerlukan. 2. Pemberian setiap 1 gram fibrinogen akan meningkatkan kadar fibrinogen darah 40 mg%. Untuk tujuan ini pemberian darah segar adalah pilihan yang ideal. Tindakan yang terbaik untuk mengatasi perdarahan adalah dengan segera menghentikan sumber perdarahannya. Tetapi jika itu tidak memungkinkan. jika perdarahan tidak dapat dikendalikan setelah dilakukan seksio sesaria maka tindakan histerektomi perlu dilakukan. Kondisi ibu yang tidak stabil yaitu dalam keadaan syok kurang memungkinkan dilakukannya persalinan per vaginam. KOMPLIKASI Komplikasi solusio plasenta pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas. Pada solusio plasenta berat keadaan syok sering tidak sesuai dengan jumlah perdarahan yang terlihat. Dalam hal ini dapat dikemukakan beberapa alasan. penderita belum bebas dari perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala III persalinan dan adanya kelainan pada pembekuan darah. Pemberian terapi cairan bertujuan mengembalikan stabilitas hemodinamik dan mengkoreksi keadaan koagulopathi. penanganan perdarahan harus secepatnya diatasi agar kondisi ibu tidak semakin jelek. Mungkin timbul pertanyaan dalam penanganan kasus pasien mengenai pemilihan sectio cesarea sebagai tindakan pengakhiran kehamilan. walaupun sudah dilakukan amniotomi dan infuse oksitosin.

secepat mungkin menyelesaikan persalinan dan mengatasi kelainan pembekuan darah. Hipoksia dan anemia 4. 3. Perfusi ginjal akan terganggu karena syok dan pembekuan intravaskuler. Oliguri dan proteinuri akan terjadi akibat nekrosis tubuli atau nekrosis korteks ginjal mendadak. Kelainan pembekuan darah Kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia. namun di klinik pengamatan pembekuan darah merupakan cara pemeriksaan yang terbaik karena pemeriksaan laboratorium lainnya memerlukan waktu terlalu lama. Diduga bahwa hematom subkhorionik mengeluarkan tromboplastin yang menyebabkan pembekuan intravaskuler tersebut. Akibat gangguan mikrosirkulasi dapat mengakibatkan syok. Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire) Pada solusio plasenta yang berat terjadi perdarahan dalam otot-otot rahim dan di bawah perimetrium kadang-kadang juga dalam ligamentum latum. Tapi apakah uterus ini harus diangkat atau tidak. Kecurigaan akan adanya kelainan pembekuan darah harus dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium. • Fase II Fase ini sebetulnya fase regulasi reparatif. disebut disseminated intravasculer clotting. Oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran pengeluaran urin yang harus secara rutin dilakukan pada solusio plasenta berat. Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bulan ialah 450 mg%. Pencegahan gagal ginjal meliputi penggantian darah yang hilang secukupnya. kerusakan jaringan pada alat-alat yang penting karena hipoksia dan kerusakan ginjal yang dapat menyebabkan oliguria/anuria. sehingga hasilnya tidak mencerminkan keadaan penderita saat itu. pemberantasan infeksi. Perdarahan ini menyebabkan gangguan kontraktilitas uterus dan warna uterus berubah menjadi biru atau ungu yang biasa disebut Uterus couvelaire. maka fase I disebut juga coagulopathi consumptive. Akibatnya ialah peredaran darah kapiler (mikrosirkulasi) terganggu. Apabila kadar fibrinogen plasma kurang dari 100 mg % maka akan terjadi gangguan pembekuan darah. yaitu usaha tubuh untuk membuka kembali peredaran darah kapiler yang tersumbat. Fibrinolisis yang berlebihan malah berakibat lebih menurunkan lagi kadar fibrinogen sehingga terjadi perdarahan patologis. 4. tergantung pada kesanggupannya dalam membantu menghentikan perdarahan. Komplikasi yang dapat terjadi pada janin : 1. turunnya kadar fibrinogen disebabkan karena pemakaian zat tersebut. kapiler. Fetal distress 2.dasarnya disebabkan oleh keadaan hipovolemia karena perdarahan yang terjadi. Biasanya terjadi nekrosis tubuli ginjal yang mendadak. berkisar antara 300-700 mg%. yang umumnya masih dapat ditolong dengan penanganan yang baik. Mekanisme gangguan pembekuan darah terjadi melalui dua fase : • Fase I Pada pembuluh darah terminal (arteriole. Gangguan pertumbuhan/perkembangan 3. venule) terjadi pembekuan darah. Dari penelitian yang dilakukan oleh Wirjohadiwardojo di RSUPNCM dilaporkan kelainan pembekuan darah terjadi pada 46% dari 134 kasus solusio plasenta yang ditelitinya. atasi hipovolemia. Kematian . Usaha ini dilaksanakan dengan fibrinolisis. Jadi pada fase I.

Hampir 100% janin pada kasus solusio plasenta berat mengalami kematian. Pada kasus solusio plasenta ringan sampai sedang. Pada kasus-kasus tertentu tindakan seksio sesaria dapat mengurangi angka kematian janin. ada atau tidak hipertensi menahun atau preeklamsia. PROGNOSIS Prognosis ibu tergantung luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus. keadaan janin tergantung pada luasnya plasenta yang lepas dari dinding uterus. banyaknya perdarahan. Angka kematian ibu pada kasus solusio plasenta berat berkisar antara 0.5-5%. tersembunyi tidaknya perdarahan. Perdarahan lebih dari 2000 ml biasanya menyebabkan kematian janin. Sebagian besar kematian tersebut disebabkan oleh perdarahan. gagal jantung dan gagal ginjal. . dan selisih waktu terjadinya solusio plasenta sampai selesainya persalinan. Tetapi ada literatur yang menyebutkan angka kematian pada kasus berat berkisar antara 50-80%. lamanya solusio plasenta berlangsung dan usia kehamilan.11.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful