You are on page 1of 5

TRISMUS

7 Nov PENDAHULUAN Trismus didefinisikan sebagai suatu kontraksi tonik dari otot mastikasi. Dahulu istilah trismus digunakan untuk menggambarkan gejala klinis dari tetanus, yaitu lock jaw atau rahang yang terkunci, yaitu suatu gejala klinis yang disebabkan oleh toksin tetanus terhadap kontraksi otot mastikasi atau pengunyah. Saat ini istilah trismus digunakan untuk menggambarkan setiap bentuk keterbatasan dalam membuka mulut, termasuk di dalamnya akibat dari trauma, pembedahan dan radiasi. Keterbatasan dalam membuka mulut ini atau trismus dapat menimbulkan masalah terhadap kesehatan, termasuk di dalamnya kekurangan zat-zat nutrisi akibat gangguan mengunyah makanan, gangguan dalam berbicara, dan pengaruhnya terhadap kesehatan mulut dan gigi. Pada orang yang mengalami rasiasi pada daerah leher dan kepala, permasalahan tersebut sering muncul bersamaan dengan gangguan dalam menelan. Trismus dapat mempengaruhi kualitas hidup sipenderita dalam berbagai cara. Komunikasi akan sulit dilakukan jika seseorang mengalami trismus. Tidak hanya gangguan dalam berbicara akibat mulut tidak bisa terbuka dengan sempurna, tetapi juga terdapat gangguan dalam artikulasi dan resonsi suara sehingga kualitas suara yang dikeluarkan akan menurun. Pada penderita yang mengalami trismus akan mengalami gangguan kesehatan mulut karena sulit melakukan gerakan mengunyah dan menelan, dan akan terjadi peningkatan resiko terjadinya aspirasi. ETIOLOGI Hambatan dari pegerakan rahang tersebut secara garis besar disebabkan oleh trauma, terapi radiasi, pembedahan dan berbagai gangguan pada sambungan rahang lainnya. Hal ini terjadi akibat kerusakan pada otot rahang, kerusakan pada sambungan rahang, pertumbuhan jaringan ikat yang terlalu cepat (pembentukan jaringan parut), Atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Berdasarkan proses diatas maka etiologi dari trismus dapat dibagi 2 yaitu: 1. Faktor eksternal - Neoplasma pada rahang - Infeksi akut - Miositis - Penyakit Sistemik (SLE, Skleroderma dan penyakit sistemik lainya) - Pseudoankylosis - Luka bakar - Atau berbagai trauma lainnya yang mengenai otot-otot rahang. 2. Faktor internal - Ankylosis tulang pada sambungan rahang - Ankylosis jaringan ikat pada sambungan rahang - Artristis - Infeksi - Trauma - Mikro trauma (termasuk di dalamnya brusixm) - Gangguan SSP (tetanus, lesi pada nervus trigeminal dan keracunan obat) 3. Faktor Iatrogenik - Paska Odontektomi Molar Ketiga Molar ketiga terpendam merupakan gigi yang paling sering mengalami impaksi diantara

sedangkan trismus yang permanen biasanya karena gangguan pada sendi temporomandibular. konsekuensinya adalah hipomobilitas dari temporomandibular joint. dislokasi. . atau gabungan dari berbagai faktor. GAMBARAN KLINIS Gambaran yang utama dari trismus adalah gangguan dalam membuka mulut. Trismus yang timbul dapat bersifat sementara atau permanen. Pergerakan yang harmonis antara sendi bilateral juga penting untuk berfungsinya mandibula secara normal. Infeksi hematom pada tempat tersebut akan menyebabkan bertambahnya rasa sakit dan terjadinya kerusakan jaringan yang luas. Toksin juga akan mempengaruhi transmisi pada mioneural junction. Toksin ini akan menekan proses inhibisi motor neuron dan interneuron. Pada regio ini juga sering terjadi trauma yang menimbulkan hemartrosis. Sebagaimana sendisendi lainnya di dalam tubuh. keadaan ini disebut dengan muscle guarding yaitu penegangan pada otot yang timbul sebagai kompensasi terhadap nyeri yang timbul pada otot tersebut. pterygoid medial dan pterygoid lateral.gigi geligi yang lain. Patogenesis lainya adalah gangguan pada temporomandibular joint. Nyeri ini akan menyebabkan otot akan berkontraksi. Dimana kedua teknik ini melibatkan penetrasi jarum ke otot-otot mastikasi dan deposisi larutan anestesi ke jaringan yang banyak vaskularisasinya. Paska pengambilan gigi molar ketiga terpendam secara odontektomi antara lain dapat menimbulkan pembengkakkan dan trismus. Pada tetanus mekanisme terjadinya kekakuan pada otot terjadi akibat tetanospasmin yang menyebar ke SSP melalui 2 mekanisme: 1. PATOGENESIS Otot mastikasi atau pengunyah terdiri dari otot temporalis. hal ini terjadi akibat . dan saat terjadi kerusakan pada otot tersebut akan menimbulkan rasa nyeri. Melalui ruang di jaringan limfatik.Injeksi Yang Dilakukan Saat Anestesi Trismus terjadi sebagai akibat komplikasi anestesi yang menggunakan jarum dalam menganestesi mandibular dan pada infiltrasi regio posterior pada rahang atas. hal ini terjadi bila jarum melewati pleksus vena pterigoideus. dapat terjadi perdarahan yang dapat menimbulkan hematom yang luas pada fossa infra temporal. yang biasanya dilakukan dengan lokal anestesi. fraktur prosessus condylaris dan disini juga terdapat diskus intraartikularis. dan menyebabkan berkurangnya lebar pembukaan mulut yang dapat dihasilkan oleh gerakan otot mastikasi.Pengaruh dari fiksasi intermaksilaris setelah fiksasi terjadinya fraktur atau trauma. Pada kedua teknik tersebut. Masing-masing otot memiliki peranan tersendiri dalam proses mengunyah. masseter. Pengambilan gigi molar ketiga bawah impaksi biasanya dilakukan secara pembedahan (odontektomi). Kontraksi ini merupakan suatu gerakan reflek. Untuk melakukan terapi pada penderita trismus lebih efisien dilakukan dengan melakukan gerakan yang halus dan perlahan. kerusakan pada saraf. maka fungsi sendi bisa berjalan dengan baik bila terdapat keserasian antara unsur-unsur tulang dan diskus dari sendi. Dengan kata lain gangguan pada tempat tersebut akan dapat menyebabkan terjadinya gangguan dalam membuka mulut atau rahang disamping rasa nyeri yang timbul saat melakukan gerakan. temporomandibular joint merupakan tempat yang sering mengalami artritis maupun penyakit degenerasi sendi. Pada penderita stroke. sehingga penderita tidak dapat mengontrolnya. . darah dan SSP. Trismus bersifat sementara hanya disebabkan oleh peradangan dan gangguan refleks saraf motorik otot-otot pengunyah. Setiap tindakan yang dipaksakan untuk meregangkan otot tersebut akan menimbulkan kontraksi yang makin kuat. Pada pasien yang menderita kanker hal ini biasanya terjadi akibat radiasi atau pembedahan. Adsorbsi melalui moineural junction 2.

Jika tidak ditangani segera proses ini akan terus berlanjut dan kerusakan akan menjadi permanen. Masalah di atas juga timbul akibat gangguan menelan pada penderita trismus. Hal ini perlu diperhatikan bila penderita tersebut membutuhkan suatu proses penyembuhan setelah menjalani proses pembedahan. Meskipun jarang terjadi. nyeri pada rahang. atau radiasi. laring tidak akan sanggup dielevasikan secara sempurna saat bolus makanan melaluinya. nyeri telinga. Kehilangan berat badan sebesar 10 % dari berat badan awal memiliki indikasi terjadi intake gizi dan kalori yang kurang pada penderita.2) PERMASALAHAN YANG TIMBUL AKIBAT TRISMUS 1. Penderita tidak sanggup memakan makanan dalam porsi yang biasa. Permasalahan akibat immobilasi sambungan rahang Meskipun gejala utama trismus adalah ketidakmampuan dalam membuka mulut. Dan juga akan dapat timbul proses degenarasi pada otot-otot pengunyah sehingga jika terus berlanjut akan menimbulkan atropi pada otot tersebut. 3. Pada keadaan ini terapi yang dibutuhkan adalah oksigen hiperbarik. Kesehatan gigi dan mulut yang jelek akan dapat menimbulkan karies yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi. gangguan ini dapat mengganggu fungsi rahang dan menjadi fatal. Pada kasus temporomandibular yang mengalami kekakuan. biasanya joint tersebut mengalami proses pembentukan jaringan ikat atau ankylosis (jarang terjadi). atau nyeri pada pergerakan rahang. mucusitis dan nyeri yang timbul dari luka bakar radiasi. Permasalahan dalam proses makan Berkurangnya kemampuan membuka mulut menyebabkan berkurangnya asupan nutrisi penderita trismus. Berbicara akan terganggu jika mulut tidak dapat terbuka secara normal sehingga bunyi yang dihasilkan tidak akan sempurna. khemoterapi. Penderita biasanya akan mengalami penurunan berat badan dan mengalami kekurangan gizi.(1. 4. pembentukan bolus yang tidak sempurna dan peningkatan dari sisa makanan akan menyebabkan aspirasi dari sisa makanan tersebut. Pada penderita yang mengalami trismus akibat terapi radiasi. Hal ini terjadi akibat matinya jaringan tulang mandibula oleh radiasi. dan kombinasi dari gejala tersebut akan menyulitkan penanganan pada penderita. Gangguan bicara dan menelan sering mengiringi gangguan dalam membuka mulut. Semua hal tersebut sering dihubungkan dengan gejala klinis lain yang ditemukan. Permasalahan dalam proses menelan dan berbicara Kebanyakan dari penderita trismus akan mengalami gangguan menelan dan berbicara. perubahan ini hampir mirip dengan perubahan yang terjadi pada proses artritis.gangguan pada SSP. . ketulian. Saat temporomadibular joint mengalami immobilisasi. Masing-masing faktor tersebut akan mempengaruhi penanganan pada penderita. hal lain yang sangat perlu mendapat perhatian adalah permasalahan pada temporomadibular joint. dan biasanya akan diikuti oleh nyeri dan proses inflamasi. Proses menelan akan terganggu jika otot mengalami kerusakan. Osteoradionekrosis ini terdapat pada penderita kanker yang menjalani terapi pada mandibula. proses degeneratif akan timbul pada sambungan tersebut. seperti sakit kepala. Infeksi yang lebih lanjut terutama pada mandibula akan menyebabkan terjadinya osteoradionekrosis. Permasalahan dalam kesehatan gigi dan mulut Gangguan dalam membuka mulut akan dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan gigi dan mulut. hal tersebut berhubungan dengan pembentukan bolus makanan yang terganggu akibat proses salivasi dan pergerakan lidah yang tidak sempurna. 2. Selain itu akan banyak ditemukan sisa makanan yang tidak seluruhnya ditelan. juga sering mengalami xerostomia. Kombinasi dari gangguan pada otot mastikasi.

KESIMPULAN . Pergerakan pasif yang dilakukan beberapa kali sehari akan lebih efektif dibandingkan dengan melakukan peregangan secara statis. Prosedur Sebelum melakukan terapi diukur dulu besarnya mulut yang dapat dibuka dan setiap selesai melakukan terapi dilakukan pencatatan. . Pada prinsipnya latihan yang dilakukan tersebut tidak sampai menimbulkan rasa nyeri dan sakit karena akan dapat mengurangi efektifitas terapi.Penanganan trismus harus dilakukan secepat mungkin untuk menghindari cacat yang permanen.PENATALAKSANAAN Penanganan yang sedini mungkin akan dapat meminimalisasi gangguan di atas. .Terapi memerlukan waktu jangka panjang (dalam waktu berbulan-bulan bahkan seumur hidup) . dan juga perlu dicatat setiap nyeri atau rasa tidak enak yang timbul setelah melakukan terapi.Tetapi perangkat yang paling banyak digunakan saat ini adalah penekan lidah. Pertahankan posisi mulut terbuka maksimal yang tidak menimbulkan rasa sakit selama 7 detik dan penderita harus melakukan latihan ini 7 kali sehari. sekrup dan katup hidrolik yang ditempatkan diantara gigi.Trismus adalah keterbatasan dari pergerakkan rahang. Terdapar bermacam-macam alat yang digunkan untuk tujuan diatas. Untuk terapi awal dilakukan dengan menggunkan formula 7-7-7. Peralatan tersebut bermacam-macam bentuknya mulai bentuk kerangka. yang berhubungan dengan gangguan pada temporomandibular joint dan otot mastikasi. Penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh Universitas Pittsburgh memperlihatkan bahwa pergerakan pasif memberikan hasil yang signifikan dalam mengurangi inflamasi dan nyeri. pegas yang ditempatkan diatara gigi. .Terapi yang paling efektif adalah melakukan terapi berupa gerakan pasif pada kedua komponen tersebut. selain cara manual dengan menggunakan jari. Penderita diperbolehkan melakukan lebih dari formula tersebut asal sanggup melakukannya. Penjabarannya yaitu. yang membuat mulut selalu terbuka. perlu diperhatikan kedua komponen yang terlibat yaitu otot dan temporomedular joint. membuka dan menutup mulut dengan bantuan sebanyak 7 kali. Jika hasil latihan telah menunjukkan kemajuan dapat dilakukan pengurangan porsi latihan.Pada penatalaksanaannya. . Total waktu yang dibutuhkan untuk melakukan prosedur latihan ini adalah 10 menit/hari.

kuduk kaku:kepalanya gak bisa ditekuk ke depan n kesamping .KAKU KUDUK kaku kuduk karena akibat rangsangan meningeal. dimana biasanya terjadi karena proses infeksi pada SSP ataupun komplikasi dari stroke perdarahan apabila sudah terjadi extravasasi dari ruang subkortikal ke ruang ventrikel. tapi bisa ditekuk ke samping. ini biasanya terjadi pada pasien tetanus. kaku kuduk karena rangsang meningeal pada orang yang kena meningitis (radang selaput otak) tandanya kaku kuduk: kepalanya gak bisa ditekuk ke depan. bukan merupakan rangsangan meningeal. kalo kuduk kaku.