You are on page 1of 10

Klasifikasi Massa Batuan

Pendahuluan[1] » Klasifikasi massa batuan menguntungkan pada tahap studi kelayakan dan desain awal dimana sangat sedikit informasi yang tersedia mengenai massa batuan, tegangan, dan hidrogeologi. » Secara sederhana, klasifikasi massa batuan digunakan sebagai sebuah check-listuntuk meyakinkan bahwa semua informasi penting telah dipertimbangkan. » Satu atau lebih sistem klasifikasi dapat digunakan untuk memperkirakan: » komposisi dan karakteristik massa batuan, » perkiraan awal kebutuhan penyangga, » Perkiraan kekuatan dan sifat deformasi massa batuan. » Harus diingat bahwa klasifikasi massa batuan tidak dimaksudkan untuk menggantikan pekerjaan desain rinci. Tetapi, pekerjaan desain ini memerlukan informasi mengenai tegangan in situ, sifat massa batuan, dan tahapan penggalian. Semua data ini mungkin tidak tersedia pada tahap awal proyek. » Jika data ini telah tersedia, klasifikasi massa batuan dapat diubah dan disesuaikan dengan kondisi spesifik lapangan.

Klasifikasi Massa Batuan[2] Sudah dikembangkan lebih dari 100 tahun lalu, sejak Ritter (1879) mencoba melakukan pendekatan empiris untuk perancangan terowongan, khususnya penentuan kebutuhan penyangga. Metode klasifikasi akan cocok jika digunakan dalam kondisi yang sama dengan kondisi pada saat metode tersebut dikembangkan. Meskipun demikian, tetap diperlukan kehatihatian untuk menerapkannya pada persoalan mekanika batuan yang lain.

Klasifikasi Massa Batuan Terzaghi (1946)[3] Referensi paling awal mengenai penggunaan klasifikasi massa batuan untuk perancangan terowongan. Beban batuan yang harus ditahan oleh steel setsdiperkirakan berdasarkan deskripsi kualitatif massa batuan. Contoh yang bagus mengenai jenis informasi geologi teknik yang sangat berguna untuk

perancangan rekayasa

Klasifikasi Stand-Up Time[4] Lauffer (1958) mengusulkan bahwa stand-up timeuntuk spantidak disangga berhubungan dengan kualitas massa batuan, Klasifikasi Lauffer telah dimodifikasi oleh banyak pihak, yang terpenting adalah modifikasi yang dilakukan oleh Pacher et al. (1974). Klasifikasi Pacher et al. ini sekarang menjadi bagian dari New Austrian Tunnelling Method (NATM). Semakin besar spanterowongan, semakin singkat waktu yang harus digunakan untuk pemasangan penyangga. Sebagai contoh, pilot tunnelkecil mungkin saja dikonstruksi dengan penyangga minimal, sedangkan terowongan dengan span yang lebih besar pada massa batuan yang sama mungkin tidak mantap jika penyangga tidak seketika dipasang.

Rock Structure Rating– RSR (Wickham et al., 1972)[5] Dikembangkan dari terowongan-terowongan kecil yang disangga dengan steel sets. Sistem pertama yang merekomendasikan pemakaian shotcrete.

Memperkenalkan konsep rating dari setiap komponen RSR = A + B + C

Rock Mass Rating(RMR) System (Bieniawski, 1976, 1989)[6] Bieniawski (1976) mempublikasikan sebuah klasifikasi massa batuan yang disebut Geomechanics Classificationatau Rock Mass Rating (RMR) system. Selama bertahun-tahun, sistem ini telah diperbaiki dengan semakin banyaknya studi kasus yang dikumpulkan. Bieniawski melakukan perubahan signifikan untuk ratingsbagi parameter-parameternya. Tindakan-tindakan pengamanan diambil di setiap tahapan pengangkutan dan penyimpan batu bara untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan hidup

Rock Mass Rating(RMR) System[7] Enam parameter yang digunakan untuk mengklasifikasikan massa batuan menggunakan RMR system: 1) kuat tekan uniaksial contoh batuan, 2) Rock Quality Designation ( RQD), 3) spasi bidang diskontinu,

4) kondisi bidang diskontinu, 5) kondisi air tanah, 6) orientasi bidang diskontinu. Dalam menerapkan sistem ini, massa batuan dibagi menjadi seksi-seksi menurut struktur geologi dan masing-masing seksi diklasifikasikan secara terpisah. Batas-batas seksi umumnya struktur geologi mayor seperti patahan atau perubahan jenis batuan. Perubahan signifikan dalam spasi atau karakteristik bidang diskontinu mungkin menyebabkan jenis massa batuan yang sama dibagi juga menjadi seksi-seksi.

Rock Mass Rating(RMR) System: Tinggi dan Beban Batuan[8] ht = B x (100-RMR)/100 » B = lebar terowongan

P = ? x ht » ? = berat satuan batuan

Rock Tunnelling Quality Index (Barton et al, 1974)[9] Berdasarkan sejumlah besar kasus penggalian bawah tanah, Barton et al. (1974) dari Norwegian Geotechnical Institute mengusulkan Tunnelling Quality Index (Q) untuk penentuan karakteristik massa batuan dan kebutuhan penyangga. Nilai numerik indeks Q bervariasi secara logaritmik dari 0.001 sampai 1000.

Rock Tunnelling Quality Index: RQD/Jn[10] Menunjukkan struktur massa batuan. Perkiraan kasar ukuran blok atau partikel. Dua nilai ekstrim (100/0.5 and10/20) berbeda sampai 400 kali. Jika diinterpretasi dengan satuan cm, ukuran partikel adalah 200 sampai to 0.5 cm ?? kasar tapi cukup realistik. Blok terbesar mungkin beberapa kali ukuran ini dan partikel terkecil kurang dari setengah kali nilai minimum di atas (partikel lempung tentu saja tidak termasuk).

Rock Tunnelling Quality Index: Jr/Ja[11] Menunjukkan kekasaran dan karakteristik geser dinding kekar atau material pengisi. Pembobotan didasarkan pada kekar kasar dan tak teralterasi pada kontak langsung. Permukaan demikian akan mendekati kekuatan puncak yang akan sangat berubah jika mengalami penggeseran. Jika kekar terisi mineral lempung, kekuatan akan sangat berkurang.

Rock Tunnelling Quality Index: Jw/SRF[12] SRF merupakan ukuran:

» pengurangan beban pada penggalian melalui zona geseran dan lempung, » tegangan batuan pada batuan keras, » beban squeezing pada batuan plastik lemah. SRF dapat dianggap sebagai parameter tegangan total. Jw merupakan ukuran tekanan air yang dapat memberikan pengaruh merugikan pada kekuatan geser kekar karena pengurangan tegangan normal efektif. Selain itu, air dapat melemahkan dan mungkin menghilangkan material pengisi pada kekar yang terisi lempung. Merupakan faktor empiris yang rumit untuk menggambarkan “tegangan aktif”.