You are on page 1of 26

BAB I TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Pada umumnya, gangguan psikotik singkat belum dipelajari dengan baik di psikiatrik amerika

dikarenakan seringnya perubahan criteria diagnostic yang terjadi selama lebih dari 15 tahun terakhir. Pasien dengan gangguan yang mirip dengan gangguan psikotik singkat sebelumnya telah diklasifikasikan sebagai menderita psikosis reaktif, histerikal, stress dan psikogenik. Psikosis reaktif sering kali digunakan sebagai sinonim untuk skizofrenia berprognosis baik, diagnosis DSM IV gangguan psikotik singkat tidak berarti menyatakan hubungan dengan skizofrenia. Ditahun 1913 Karl Jasper menggambarkan sejumlah cirri penting untuk diagnosis psikosis reaktif, termasuk adanya stressor traumatis berat yang dapat diidentifikasi, hubungan yang erat antara stressor dan perkembangan psikosis dan perjalanan episode psikotik yang ringan. Disamping itu, isi psikosis sering kali mencerminkan sifat pengalaman traumatis dan perkembangan psikosis dihipotesiskan sebagai memuaskan tujuan pasien, seringkali suatu tipe pelepasn suatu kondisi traumatis. Epidemiologi Pada umumnya gangguan ini dianggap jarang, seperti yang dinyatakan oleh suatu penelitian tentang perekrutan militer dimana insidens psikosis reaktif singkat diperkirakan adalah 1,4 per 100.000 yang direkrut ( DSM III). Lebih sering pada pasien muda daripada pasien lanjut usia , walaupun beberapa kasus melaporkan adanya riwayat kasus yang memang mengenai orang lanjut usia. Beberapa klinisi mengatakan bahwa gangguan mungkin paling sering pada pasien dari kelas sosioekonomi rendah dan pada pasien dengan ganggaun kepribadian yang telah ada sebelumnya ( histrionic, narsistik, paranoid, skizotipal, dan ambang). Orang yang telah mengalami bencana berat atau perubahan cultural yang besar. Tetapi semua hal tersebut belum dibuktikan benar didalam penelitian klinis yang terkontrol baik.

1

Etiologi Didalam DSM III R factor psikososial bermakna dianggap menyebabkan psikosis reaktif singkat, tetapi criteria tersebut telah dihilangkan dari DSM IV. Perubahan dalam DSM IV menempatkan diagnosis gangguan psikotik singkat didalam kategori yang sama dengan banyak diagnosis psikiatrik utama lainnya yang penyebabnya tidak diketahui dan diagnosis kemungkinan termasuk gangguan yang heterogen. Pasien dengan gangguan psikotik singkat yang pernah memiliki gangguan kepribadian mungkin memiliki kerentanan biologis atau psikologis kearah perkembangan gejala psikotik. Walaupun pasien dengan perkembangan psikotik singkat sebagai suatu kelompok mungkin tidak memiliki peninggian insidensi skizofren didalam keluarganya, beberapa data menyatakan bahwa adanya suatu peninggian insidensi gangguan mood. Perumusan psikodinamika telah menyadari adanya mekanisme menghadapi (coping mechanism) yang tidak adekuat dan kemungkianan adanya tujuan sekunder pada pasien dengan gejala psikotik. Seperti pada teori biologis tentang gangguan, teori psikologis belum disahkan oleh penelitian klinis yang terkontrol cermat. Teori psikodinamik tambahan menyatakan bahwa gejala psikotik adalah suatu pertahanan terhadap fantasi yang dilarang, pemenuhan harapan yang tidak dicapai, atau suatu pelepasan dari situasi psikososial tertentu. Diagnosis DSM IV memiliki rangkaian diagnosis untuk gangguan psikotik, didasarkan terutama atas lama gejala. Untuk gejala psikotik yang berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan dan yang tidak disertai dengan satu gangguan mood, ganggaun yang berhubungan dengan zat, atau suatu gangguan psikotik karena kondisi medis umum , diagnosis gangguan psikotik singkat kemungkianan merupakan diagnosis yang tepat. Untuk gejala psikotik yang lebih dari satu hari diagnosis sesuai yang harus dipertimbangkan adalah gangguan delusional ( jika waham merupakan gejala psikotik utama), gangguan skizofreniform (jika gejala berlangsung kurang dari 6 bulan) dan skizofrenia(jika gejala telah berlangsung lebih dari 6 bulan. Jadi gangguan psikotik singkat diklasifikasikan didalm DSM IV sebagai suatu gangguan psikotik dengan durasi singkat. Criteria diagnostic menentukan sekurang-kurangnya satu gejala yang jelas psikotik yang berlangsung selama satu hari sampai satu bulan. DSM IV menentukan

2

Criteria diagnostic untuk gangguan psikotik singkat A. suatu onset pasca persalinan. klinis mungkin tidak mampu memperoleh informasi yang akurat tentang ada atau tidaknya stressor pencetus. Beberapa klinisi telah mengamati bahwa gejala afektif. Walaupun adanya gejala psikotik mungkin jelas. Gambaran Klinis Gejala gangguan psikotik singkat selalu termasuk sekurang kurangnya satu gejala psikosis utama. Beberapa gejala tersebut ditemukan pada gangguan yang mengarahkan diagnosis delirium dan jelas memerlukan pemeriksaan organic yang lengkap.lebih lanjut penentuan dua cirri: adanya atau tidak adanya satu atau lebih stressor yang jelas dan. tetapi tidak selalu memasukkan keseluruhan pola gejala yang ditemukan pada skizofrenia. Waham Halusinasi Bicara terdisorganisasi Perilaku terdiorganisasi jelas atau katatonik Lamanya suatu episode gangguan adalah sekurangnya satu 3 . episode suatu gangguan mood sebelumnya. Seperti pada pasien psikiatrik akut. biasanya dengan onset yang tiba-tiba. Gejala karakteristik untuk gangguan psikotik singkat adalah perubahan emosional. riwayat yang diperlukan untuk membuat diagnosis mungkin tidak dapat diperoleh hanya dari pasien. dan riwayat ingesti zat psikotomimetik yang belum lama mungkin tidak dapat diperoleh dari wawancara klinis saja. Adanya satu atau lebih gejala berikut • • • • B. pakaian atau perilaku yang aneh. konfusi dan gangguan pemusatan perhatian mungkin lebih sering ditemukan pada gangguan psikotik singkat daripada gangguan psikotik kronis. walaupun hasilnya mungkin negative. informasi mengenai gejala prodromal. berteriak teriak atau diam membisu dan gangguan daya ingat untuk peristiwa yang belum lama terjadi. Disamping itu.

Beberapa klinis berpendapat bahwa keparahan peristiwa harus dipertimbangkan didalam hubungan dengan 4 .hari tetapi kurang dari satu bulan. Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh suatu gangguan mood dengan cirri psikotik. gangguan skizoafektif atau skizofrenia dan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat atau kondisi umum medis Sebutkan jika: Dengan stressor nyata: jika gejala terjadi segera setelah dan tampak sebagai respon dari suatu kejadian yang. Dengan onset pasca persalinan: jika onset dalam waktu empat minggu setelah persalinan. akan menimbulkan stress yang cukup besar bagi hamper setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang tersebut Tanpa stressor nyata: jika gejala psikotik tidak terjadi segera setelah atau tampak bukan sebagai respon terhadap kejadian yang sendirian atau bersama sama akan menimbulkan stress yang cukup besar bagi hamper setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang tersebut. akhirnya kembali penuh pada tingkat fungsi pramorbid C. Peristiwa tersebut adalah kematian anggota keluarga dekat dan kecelakaan kendaraan yang berat. sendirian atau bersama sama. Stresos Pencetus Contoh yang paling jelas dari stresos pencetus adalah peristiwa kehidupan yang besar yang dapat menyebabkan kemarahan emosional yang bermakna pada tiap orang.

pada umumnya pasien dengan gangguan psikotik singkat memiliki prognosis yang baik. perkembangan gangguan psikiatrik bermakna tertentu dapat menyatakan suatu kerentanan mental pada pasien. Diagnosis Banding Klinis tidak boleh menganggap bahwa diagnosis yang tepat untuk pasien yang psikotik singkat adalah gangguan psikotik singkat. tetapi mungkin memperluas definisi stressor pencetus dengan memasukkan peristiwa yang tidak berhubungan dengan episode psikotik. Diagnosis lain yang dipertimbangkan didalam diagnosis banding adalah gangguan buatan dengan tanda dan gejala psikologis yang menonjol. Factor tersebut dapat semata-mata terjadi bersama-sama. Sejumlah pasien dengan persentasi yang tidak diketahui yang pertama kali di klasifikasikan menderita gangguan psikotik singkat selanjutnya menunjukkan sindroma psikiatrik kronis. Gangguan psikiatrik tambahan yang harus dipertimbangkan didalam diagnosis banding adalah gangguan identitas disosiatif dan episode psikotik yang disertai dengan gangguan kepribadian ambang dan skizotipal. berpura-pura. Seorang pasien mungkin tidak mau mengakui penggunaan zat gelap. Namun demikian. gangguan psikotik karena kondisi medis umum.bahkan jika factor psikosocial pencetus yang jelas ditemukan. Tetapi penjumlahan derajat stress yang disebabkan oleh urutan peristiwa memerlukan suatu derajat pertimbangan klinis yang hampir tidak mungkin. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Menurut definisinya. dan gangguan psikotik akibat zat. Tetapi. dengan demikian membuat pemeriksaan intoksikasi zat atau putus zat sulit tanpa menggunakan tes laboratorium. bukannya peristiwa tunggal yang menimbulakan stress dengan jelas. Pasien dengan epilepsy atau delirium dapat juga datang dengan gejala psikotik yang dengan ditemukan pada gangguan psikotik singkat. seperti skizofrenia dan gangguan mood. Walaupun pandangan tersebut adalah beralasan. Klinisi lain berpendapat bahwa stressor mungkin merupakan urutan peristiwa yang menimbulkan stress sedang. dan penelitian 5 . perjalanan penyakit gangguan psikotik singkat adalah kurang dari satu bulan.kehidupan pasien.

menjadi aneh atau menakutkan seperti menyendiri. Gangguan Psikotik Akut Gambaran utama perilaku: • • • • • Perilaku yang diperlihatkan oleh pasien yaitu : Mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya Keyakinan atau ketakutan yang aneh/tidak masuk akal Kebingungan atau disorientasi Perubahan perilaku. Lamanya gejala akut dan residual sering kali hanya beberapa hari. Pedoman diagnostik Untuk menegakkan diagnosis gejala pasti gangguan psikotik akut adalah sebagai berikut : 6 . misalnya terdapat halusinasi. Konfusi selama psikosis sedikit penumpulan afektif gejala singkat tidak ada saudara yang skizofrenik PSIKOTIK/PSYCHOTIC Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak mampuan individu menilai kenyataan yang terjadi. bicara dan tertawa serta marah-marah atau memukul tanpa alasa2. Kadang-kadang. gejala depresif mengikuti resolusi gejala psikotik. Pasien dengan cirri-ciri tersebut kecil kemungkinannya kemudian akan menderita skizofrenia atau suatu gangguan mood. Cirri prognosis yang baik untuk gangguan psikotik singkat Penyesuaian premorbid yang baik sedikit trait schizoid pramorbid stressor pencetus yang berat onset gejala mendadak gejala afektif. waham atau perilaku kacau/aneh. Sejumlah indikator telah dihubungkan dengan prognosis yang baik. Bunuh diri adalah suatu keprihatinan pada fase psikotik maupun fase depresif pascapsikotik. Psikotik yang dibahas pada modul ini yaitu psikotik akut dan kronik. orang lain atau lingkungan.di eropa telah menyatakan bahwa 50 sampai 80 persen dari semua pasien tidak memilki masalah psikiatrik berat lebih lanjut. mengancam diri sendiri. kecurigaan berlebihan.

pasien mungkin sedang mengalami suatu episode maniak • depresi Penatalaksanaan Pertama. harga diri berlebihan). pasien mungkin sedang mengalami psikotik kronik lain • proses pikir. atau merasa diamati/diawasi oleh orang lain) • • • Agitasi atau perilaku aneh (bizar) Pembicaraan aneh atau kacau (disorganisasi) Keadaan emosional yang labil dan ekstrim (iritabel) Diagnosis banding Selain diagnosis pasti. misalnya pasien percaya bahwa mereka diracuni oleh tetangga. waham. Beberapa informasi yang perlu disampaikan pada pasien dan keluarga antara lain tentang : 7 . Waham (ide yang dipegang teguh yang nyata salah dan tidak dapat diterima oleh mendengar suara yang tak ada sumbernya atau melihat sesuatu yang tidak ada bendanya) • kelompok sosial pasien. saudara harus dapat memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang psikotik akut berikut hak dan kewajibannya Informasi yang perlu untuk pasien dan keluarga Untuk lebih memahami dan memperjelas isi dan metode pemberian informasi yang akan disampaikan saudara dapat dibaca lebih lengkap pada modul VI B tentang asuhan keperawatan pasien halusinasi. isolasi sosial. menerima pesan dari televisi. kemungkinan skizofrenia dan gangguan Jika terlihat gejala mania (suasana perasaan meninggi. ada diagnosis banding untuk psikotik akut ini karena dimungkinkan adanya gangguan fisik yang bisa menimbulkan gejala psikotik. • • • • • Epilepsi Intoksikasi atau putus zat karena obat atau alkohol Febris karena infeksi Demensia dan delirium atau keduanya Jika gejala psikotik berulang atau kronik.• Halusinasi (persepsi indera yang salah atau yang dibayangkan : misalnya. percepatan bicara atau Jika suasana perasaan menurun atau sedih.

Berikan obat antipsikotik untuk mengurangi gejala psikotik : • Haloperidol 2-5 mg. 1 sampai 3 kali sehari. Apabila saudara menemukan pasien gangguan jiwa di rumah dengan perilaku di bawah ini. Jika pasien menolak pengobatan. Obat antiansietas juga bisa digunakan bersama dengan neuroleptika untuk mengendalikan agitasi akut (misalnya: lorazepam 1-2 mg. walaupun beberapa pasien mungkin memerlukan dosis yang lebih tinggi (2). minum. tetapi lama perjalanan Agitasi yang membahayakan pasien. 1 sampai 3 kali sehari) (3). Hati-hati agar pasien tidak mengalami cedera Konseling pasien dan keluarga 1. makan. atau • Chlorpromazine 100-200 mg. Kebutuhan dasar pasien terpenuhi (misalnya. eliminasi dan kebersihan) 3. Motivasi pasien agar melakukan aktivitas sehari-hari setelah gejala membaik Pengobatan Program pengobatan untuk psikotik akut : 1. memerlukan penyakit sukar diramalkan hanya dengan melihat dari satu episode akut saja • hospitalisasi atau pengawasan ketat di suatu tempat yang aman. 8 . Dampingi pasien dan keluarga untuk mengurangi stress dan kontak dengan stresor 3. keluarga atau masyarakat. Lanjutkan obat antipsikotik selama sekurang-kurangnya 3 bulan sesudah gejala hilang. 1 sampai 3 kali sehari Dosis harus diberikan serendah mungkin untuk mengurangi efek samping. mungkin diperlukan tindakan dengan bantuan perawat kesehatan jiwa masyarakat dan perangkat desa serta keamanan setempat • Menjaga keamanan pasien dan individu yang merawatnya: 1. kewajiban dan tanggung jawab keluarga dalam pengobatan pasien 2. Bantu keluarga mengenal aspek hukum yang berkaitan dengan pengobatan psikiatrik antara lain : hak pasien.• Episode akut sering mempunyai prognosis yang baik. Keluarga atau teman harus mendampingi pasien 2.

Rujukan Tindakan rujukan diperlukan bila terjadi kondisi-kondisi yang tidak dapat diatasi melalui tindakan yang sudah dilakukan sebelumnya khususnya pada : • Kasus baru gangguan psikotik • Kasus dengan efek samping motorik yang berat atau timbulnya demam. hipertensi. kekakuan.lakukan kolaborasi dengan tim untuk mengatasinya. bisa ditanggulangi dengan pengurangan dosis terapi atau pemberian beta-bloker • Gejala parkinson (tremor/gemetar. bisa ditanggulangi dengan obat antiparkinson oral (misalnya. A : 45 tahun : 28 Oktober 1970 9 . hentikan obat antipsikotik lalu rujuk BAB II STATUS PASIEN 1. • Kekakuan otot (Distonia atau spasme akut). IDENTITAS PASIEN Nama Umur Tanggal lahir : Tn. bisa ditanggulangi dengan suntikan benzodiazepine atau obat antiparkinson • Kegelisahan motorik berat (Akatisia). trihexyphenidil 2 mg 3 kali sehari) 5). akinesia).

Agama Suku Pendidikan Status Alamat Pekerjaan Tanggal masuk RS : Islam : Jawa : Tamat S1 jurusan Administrasi bisnis komunikasi : Menikah. Riwayat Gangguan Psikiatri Pasien belum pernah mengalami gejala seperti ini sebelumnya. Sejak 2 minggu inin pasien tidak pernah masuk bekerja. Jawa Timur : Staff perusahaan swasta : 6 April 2012 2. maupun riwayat pengobatan psikiatri sebelumnya. Keluhan Tambahan Dalam 2 minggu ini pasien sering tidak masuk kerja dan selalu memegangi tangan istrinya jika takut C. Keluhan Utama Pasien dibawa ke Rumah Sakit karena sering melihat mayat dan didalam hatinya menyuruh untuk mati B. RIWAYAT PSIKIATRI A. Riwayat Gangguan Sebelumnya a. Memiliki 2 orang anak : sumber rejo. Pasien sering tidak bisa tidur dan sering berbicara sendiri. Riwayat Gangguan sekarang Sekitar 1 bulan ini pasien sering menjadi pendiam dan ketakutan sendiri. 10 . D.

Masa Kanak Akhir dan Remaja Selama masa remaja. C. Masa Kanak-Kanak (0-3 tahun) Menurut orang tuanya tumbuh kembang pasien berjalan normal sesuai usia. c. Pasien mengaku sehabis pulang sekolah sering membantu ibu dan kakanya yang bekerja sebagai petani. Masa Dewasa 11 . Hubungan dengan orang tua dan adik-adiknya cukup baik.b. riwayat kejang (-). 3. riwayat nyeri kepala (-). Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif Penggunaan obat-obatan dan psikotropika disangkal pasien. penyakit saraf (-). pasien merupakan pelajar yang rajin tetapi cenderung lebih pendiam dari teman-teman sebayanya. Masa Pertengahan (3-11 tahun) Pasien tumbuh dan berkembang normal sesuai dengan usianya. epilepsy (-). RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI A. Jarang bermain keluar dengan teman-teman sebayanya karena pasien lebih suka untuk berada dirumah untuk belajar dan membaca buku. E. B. Pasien adalah anak yang penurut dan pendiam pada masa kanak-kanak. Pasien juga tidak merokok dan minum alkohol. D. tumor otak (-). Pasien jarang bergaul dengan teman-teman sebayanya karena lebih sering berada dirumah. Pasien pernah masuk dalam kegiatan OSIS dan pramuka di sekolahnya. Riwayat Medis Riwayat trauma kepala (-). Masa Prenatal dan Perinatal Pasien lahir secara normal dan cukup bulan ditolong oleh bidan di Rumah Sakit.

Pasien dekat dengan ayah dan ibunya. terkadang ia mengikuti kerja bakti di lingkungannya. Pasien taat dalam menjalankan ajaran agama. Riwayat Pelanggaran Hukum Pasien tidak pernah melakukan tindakan pelanggaran hokum maupun berurusan dengan pihak berwajib. pasien memilih berdiam diri di rumah berkumpul dengan anak istrinya.a. Pasien juga menolak untuk berpacaran sebelum menikah c. Pasien memiliki seorang kakak tiri dari pernikahan pertama ibunya. d. Riwayat Keluarga Pasien adalah anak ke tiga dari tiga saudara sekandung. Riwayat Pendidikan Pasien bersekolah di SDN daerah Lawang. Setelah pasien menjadi tentara pasien dikirim untuk melanjutkan ke jenjang sarjana dan mengambil jurusan administrasi bisnis komunikasi. 12 . Ayah dan ibu pasien bukan termasuk penganut islam yang taat. Aktivitas Sosial Pasien termasuk seorang yang suka bersosialisasi. Agama Pasien dibesarkan dalam lingkungan agama Islam. b. melanjutkan SMP di daerah nganjuk. mereka jarang sholat dan tidak menjalankan ibadah puasa. Bila sedang tidak ada kegiatan. ia sering menghadiri pengajian di dekat rumahnya. misalnya dengan selalu teratur sholat dan menjalankan puasa baik puasa wajib maupun puasa yang tidak wajib. Pasien banyak belajar tentang agama islam dari orang-orang di mesjid yang kebetulan dekat dengan rumah pasien. dan melanjutkan ke SMEA Negeri di Malang atas keinginan sendiri. e.

gangguan jiwa. jika melakukan kesalahan. meskipun ayahnya pindah tidak jauh dr tempat ibunya tetapi pasien dan kakaknya masih sering bermain ke rumah ayahnya. pasti akan ditegur. Setelah berpisah. hubungan ayah dengan anak-anaknya masih tetap baik. Pasien tidak terlalu dekat dengan kakak perempuannya. pasien 13 . Ayah dan ibu pasien berpisah ketika pasien duduk di kelas 2 SD dan bercerai resmi pada saat pasien kelas 4 SD. Jika ada yang melakukan kesalahan. orang tua hanya menegur saja. Tidak ada anggota keluarga pasien lainnya yang mengalami gangguan jiwa.dan kakak laki-lakinya. Orang tua pasien tidak pernah menghukum dengan keras anak-anaknya. Genogram Keluarga: PEDIGREE (SILSILAH KELUARGA) Keterangan : : Laki-laki : Bercerai : Wanita : Laki-laki. kedua orang tua memperlakukan anaknya sama saja. Keluarga pasien tidak pernah membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuannya.

badan berkeringat. mata tertutup. Penampilan Seorang laki-laki sesuai dengan usia.: Wanita meninggal 4. Sikap Terhadap Pemeriksa Pasien kurang kooperatif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa. Pikiran 14 . hanya menjawab pertanyaan dengan kalimat singkat. E. tidak lancar. Pasien menutup mata sepanjang wawancara. Kadang-kadang tangan terlihat gemetar. Halusinasi visual (+) pasien melihat seperti ada bayangan. Pasien jg berulang kali mengatakan ‘jangan tinggalkan saya’ D. Gangguan Persepsi Halusinasi auditorik (+) menyuruh pasien untuk mati saja. Mood b. Bicara Kurang spontan. berulang kali mengatakan mau mati saja. Deskripsi Umum a. Volume kecil. STATUS MENTAL ( Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 6 April 2012) A. Mood dan Afek a. b. Memakai baju kaos lengan pendek dan celana panjang kain. intonasi kurang jelas. sedang di fiksasi di atas ranjang. Afek : tumpul : tumpul C. B.

tanggal dan tahun saat diwawancara.a. Arus pikira b. Konsentrasi dan Perhatian Baik. Bentuk pikiran : non reslistik F. pasien dapat membaca tulisan dan dapat menuliskan namanya sendiri dan nama anak pasien. Pasien juga dapat mengeja kata dunia dengan baik dan dapat e. pasien dapat mengenali dokter pemeriksa dan Keluarga c. Kesadaran dan Kognitif a. pasien tidak melakukan kesalahan saat melakukan pengurangn 100-7 kemudian hasilnya dikurang tujuh lagi dan seterusnya. : menurun. Taraf Kesadaran Kesadaran pasien kompos mentis b. Daya Ingat Amnesia (-) d. 15 . Kemampuan Membaca dan Menulis Baik. pasien tidak mengetahui hari. Isi pikiran : Asosiasi longgar : ptm(-) waham (-) c. Orientasi Waktu Tempat : menurun. pasien tidak mengetahui bahwa ia berada di ruang periksa Orang dokter : baik.

g. Daya Nilai dan Tilikan a.00 dikurangi Rp 250. G. Kemampuan Visuospasial Baik. Kemampuan Mengendalikan Impuls Saat wawancara. Perilaku pasien selama wawancara terlihat tidak terkendali. Pasien juga dapat menyebutkan nama Presiden RI dan wakil presiden RI yang pertama. pasien beberapa kali mencoba berdiri dan memberontak. Daya Nilai Sosial Baik. Tilikan Derajat 1.00. Status Internis Keadaan umum Kesadaran : baik : compos mentis 16 . kemampuan pengendalian impuls buruk. H. pasien dapat menggambarkan jam seperti yang diminta pemeriksa. pasien bersikap sopan terhadap dokter b.000. Intelegensi dan Kemampuan Informasi Baik. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 4 April 2012 A. serta dapat memperlihatkan arah jarum panjang dan jarum pendek dengan baik. Penyangkalan penyakit sama sekali 5. pasien dapat menjawab pertanyaan Rp 1. Penilaian Realita Terganggu c.f.

tidak ada edema Tanda rangsang meningeal Tanda efek ekstrapiramidal Motorik Sensorik 6. bising usus normal : akral hangat. Status Neurologis : 130/80 mmHg : 80x/menit : 20x/menit : 36. EVALUASI MULTIAKSIAL Aksis I Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V : F23 .Tekanan darah Frekuansi nadi Frekuensi napas Suhu Mata THT Thoraks Abdomen Ekstremitas B. sclera tidak ikterik : dalam batas normal : dalam batas normal : datar.0 Psikotik Akut : negative : tidak ada : baik : baik : Ciri kepribadian anankastik : Tidak ada diagnosis : Masalah istri yang beru melahirkan anak perempuan : GAF saat masuk rumah sakit: 50-41 GAF 1 tahun : 80-90 7. PROGNOSIS 17 .7oC : Konjungtiva tidak anemic.

dubia ad bonam 8. pengobatan . A 9. Memberikan psikoterapi yang bersifat supportif pada pasien mengenai kondisi penyakitnya.00 WIB Malang.00 WIB 081909000056 Sore 16. 3.Jum’at R/ Resperidone Tab mg 2 S 2 dd Tab 1 m et v No:XXX Pro Umur : Tn. dan pengaturan dosis harus berdasarkan rekomendasi dokter. A :45 tahun 18 Alamat : Malang . dr. adanya efek samping yang bisa timbul dari pengobatan ini. Psikofarmaka • Resperidone 2 x 2 mg B. TERAPI A. dan kemampuan mengatasi masalah. menggali dan memotivasi potensi dan kemampuan yang ada pada diri pasien. 6 April 2012 Senin. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien mengenai pentingnya minum obat secara teratur. Resep Praktek/ Rumah : SIP : 207 121 0032 Hari Praktek : Perum Joyo Grand JJ 15 Malang Pagi 07.00-09. serta hal-hal yang dapat mencegah dan mencetuskan penyakit pasien sehingga dapat memperpanjang remisi dan mencegah kekambuhan. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien mengenai penyakitnya. Psikoterapi 1. 2.00-20.

RESPERIDONE KOMPOSISI RISPERIDONE 1 mg Tiap tablet salut selaput mengandung: Risperidone 1 mg RISPERIDONE 2 mg Tiap tablet salut selaput mengandung: Risperidone 2 mg RISPERIDONE 3 mg Tiap tablet salut selaput mengandung: Risperidone 3 mg 19 .BAB III PEMBAHASAN A.

Studi risperidone dosis tunggal menunjukkan konsentrasi zat aktif dalam plasma yang lebih tinggi dan eliminasi yang lebih lambat pada lanjut usia dan pada pasien dengan gangguan ginjal. Risperidone berikatan dengan reseptor α1-adrenergik. Antagonisme serotonin dan dopamin sentral yang seimbang dapat mengurangi kecenderungan timbulnya efek samping ekstrapiramidal. Risperidone merupakan antagonis monoaminergik selektif dengan afinitas tinggi terhadap reseptor serotonergik 5-HT2 dan dopaminergik D2. Farmakokinetik Risperidone diabsorpsi sempurna setelah pemberian oral. Hidroksilasi merupakan jalur metabolisme terpenting yang mengubah risperidone menjadi 9-hidroxyl-risperidone yang aktif. Meskipun risperidone merupakan antagonis D2 kuat. dimana dapat memperbaiki gejala positif skizofrenia. hal tersebut menyebabkan berkurangnya depresi aktivitas motorik dan induksi katalepsi dibanding neuroleptik klasik. Risperione tidak memiliki afinitas terhadap reseptor kolinergik. INDIKASI Terapi pada skizofrenia akut dan kronik serta pada kondisi psikosis yang lain. blunted affect. gangguan pola pikir. Absorpsi risperidone tidak dipengaruhi oleh makanan. kecurigaan dan rasa permusuhan) dan atau dengan gejala-gejala negatif yang terlihat nyata (seperti. dia memperluas aktivitas terapeutik terhadap gejala negatif dan afektif dari skizofrenia. konsentrasi plasma puncak dicapai setelah 1-2 jam. halusinasi. dengan gejalagejala tambahan (seperti. Konsentrasi plasma tetap normal pada pasien dengan gangguan fungsi hati. delusi.FARMAKOLOGI Cara kerja obat Risperidone termasuk antipsikotik turunan benzisoxazole. 20 . Waktu paruh eliminasi dari fraksi antipsikotik yang aktif adalah 24 jam.

Penggunaan pada penderita geriatrik. sulit berbicara). 1-2 x sehari Dosis umum 4-8 mg per hari Dosis di atas 10 mg/hari tidak lebih efektif dari dosis yang lebih rendah dan bahkan mungkin dapat meningkatkan gejala ekstrapiramidal. 21 . depresi. 1-2 x sehari (titrasi lebih rendah dilakukan pada beberapa pasien) Hari ke-3 : 6 mg/hari. DOSIS Dosis umum Hari ke-1 : 2 mg/hari. 2 x sehari Dosis dapat disesuaikan secara individual dengan penambahan 0. 2 x sehari) Penggunaan pada anak: Pengalaman penggunaan pada anak-anak usia di bawah 15 tahun belum cukup.menarik diri dari lingkungan sosial dan emosional. 1-2 x sehari Hari ke-2 : 4 mg/hari.5 mg. KONTRAINDIKASI • Hipersensitif terhadap risperidone. juga penderita gangguan fungsi ginjal dan hati: Dosis awal: 0.5 mg. Dosis di atas 10 mg/hari dapat digunakan hanya pada pasien tertentu dimana manfaat yang diperoleh lebih besar dibanding dengan risikonya. 2 x sehari (hingga mencapai 1-2 mg. perasaan bersalah dan cemas) yang berhubungan dengan skizofrenia. Juga mengurangi gejala afektif (seperti. Dosis di atas 16 mg/hari belum dievaluasi keamanannya sehingga tidak boleh digunakan.

pasien disarankan tidak menyetir atau menjalankan mesin hingga diketahui kerentanan individualnya. perubahan status mental dan gangguan denyut nadi. Jika tanda dan gejala tardive dyskinesia muncul. Bila timbul gejala NMS. Bila diperlukan efek sedasi yang lebih. Risperidone diberikan secara hati-hati pada penderita kardiovaskular. Penggunaan risperidone dapat menimbulkan Neuroleptic Malignant Syndrome (NMS) yang manifestasi klinisnya adalah: Hiperpireksia.PERINGATAN DAN PERHATIAN • • Anak-anak usia < 15 tahun tidak dianjurkan. Risperidone dapat mengganggu aktivitas yang memerlukan konsentrasi mental. hentikan segera penggunaan. Pasien diberitahu bahwa berat badannya dapat meningkat. Dapat menyebabkan hipotensi ortostatik. 22 . terutama pada pemberian awal. mioglobinemia. takikardia dan diaforesis. aritmia. Manifestasi lainnya dapat berupa: peningkatan kreatinin fosfatase. serta gagal ginjal akut. 2x sehari tidak lebih efektif dari dosis yang lebih rendah dan bahkan mungkin dapat meningkatkan gejala ekstrapiramidal. Pengurangan dosis harus dipertimbangkan bila terjadi hipotensi. • • • • • Pemberian pada wanita hamil dan menyusui jika keuntungannya lebih besar dari risiko. • Penggunaan risperidone juga dapat menimbulkan hiperprolaktinemia (karena risperidone dapat meningkatkan kadar prolaktin sehingga kemungkinan efek karsinogenitasnya meningkat). • Obat antagonis reseptor dopamin berhubungan dengan induksi tardive dyskinesia. • Pemberian risperidone pada pasien Parkinson secara teori dapat menyebabkan penyakit memburuk. rigiditas otot. ditandai dengan pergerakan berulang yang tidak terkendali. terutama pada lidah dan/atau wajah. • Penggunaan dosis di atas 5 mg. Jangan melebihi dosis yang dianjurkan. pertimbangkan untuk menghentikan penggunaan semua obat antipsikotik. Hati-hati penggunaan pada pasien epilepsi. Dilaporkan bahwa munculnya gejala ekstrapiramidal merupakan faktor risiko terjadinya tardive dyskinesia. pemberian obat seperti benzodiazepin lebih baik dibanding menaikkan dosis risperidone. tekanan darah.

INTERAKSI OBAT 23 . disfungsi orgasme. gynaecomastia. rigiditas otot. tardive dyskinesia. ketidakstabilan otonom. rasa cemas. dispepsia. distonia akut. dilaporkan pernah terjadi. EFEK SAMPING • • Yang umum terjadi: insomnia. hipotensi termasuk ortostatik. kelelahan. takikardia termasuk takikardia reflek dan hipertensi. ditandai dengan hipertermia. Pernah dilaporkan namun jarang terjadi. Bila hal ini terjadi. dapat terjadi neuroleptic malignant syndrome (namun jarang). hipersalivasi. mual/muntah. Risperidone dapat menyebabkan kenaikan konsentrasi prolaktin plasma yang bersifat dose-dependent. disfungsi ejakulasi. • Seperti neuroleptik lainnya. • • • • Kenaikan berat badan. agitasi. bradikinesia. konstipasi. pusing.• Penggunaan risperidone pada penderita geriatrik serta penderita gangguan fungsi hati dan ginjal: Dosis awal dan dosis tambahan perlu dikurangi sampai separuh dosis normal. gejala ini biasanya ringan dan akan hilang dengan pengurangan dosis dan/atau dengan pemberian obat antiparkinson bila diperlukan. pada pasien skizofrenik: intoksikasi air dengan hiponatraemia. priapismus. disfungsi ereksi. • Beberapa kasus gejala ekstrapiramidal mungkin terjadi (namun insiden dan keparahannya jauh lebih ringan bila dibandingkan dengan haloperidol). kesadaran berubah dan kenaikan kadar CPK. nyeri abdominal. rinitis. sakit kepala. inkontinensia urin. disebabkan oleh polidipsia atau sindrom gangguan sekresi hormon antidiuretik (ADH). konsentrasi terganggu. rigiditas. tidak teraturnya suhu tubuh dan terjadinya serangan. gangguan penglihatan. gangguan siklus menstruasi dan amenorrhoea. edema dan peningkatan kadar enzim hati kadang-kadang terjadi. Efek samping lain: somnolen. ruam dan reaksi alergi lain. penggunaan obat antipsikotik termasuk risperidone harus dihentikan. akathisia. dapat berupa galactorrhoea. • Kadang-kadang terjadi orthostatic dizziness. seperti: tremor. Sedikit penurunan jumlah neutrofil dan trombosit pernah terjadi. Jika bersifat akut.

Fluoksetin dapat meningkatkan konsentrasi plasma dari fraksi antipsikotik (risperidone dan 9-hydroxy-risperidone) dengan meningkatkan konsentrasi risperidone. 5 blister @ 10 tablet salut selaput. No. Clozapine dapat menurunkan bersihan risperidone. Risperidone mempunyai efek antagonis dengan levodopa atau agonis dopamin lainnya. • • • • KEMASAN RISPERIDONE 1 mg : Kotak. No. Reg: GKL0505038917A1 RISPERIDONE 2 mg : Kotak.• Hati-hati pada penggunaan kombinasi dengan obat-obat yang bekerja pada SSP dan alkohol. Karbamazepin dapat menurunkan kadar plasma risperidone. 5 blister @ 10 tablet salut selaput. Reg: GKL0505038917B1 RISPERIDONE 3 mg : Kotak. 24 . 5 blister @ 10 tablet salut selaput.

Bantu keluarga mengenal aspek hukum yang berkaitan dengan pengobatan psikiatrik antara lain : hak pasien. Psikotik yang dibahas pada modul ini yaitu psikotik akut dan kronik. menjadi aneh atau menakutkan seperti menyendiri. Gambaran utama perilaku: • • • • • Perilaku yang diperlihatkan oleh pasien yaitu : Mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya Keyakinan atau ketakutan yang aneh/tidak masuk akal Kebingungan atau disorientasi Perubahan perilaku. kewajiban dan tanggung jawab keluarga dalam pengobatan pasien 2. Pedoman diagnostic B. Kesimpulan Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak mampuan individu menilai kenyataan yang terjadi. Motivasi pasien agar melakukan aktivitas sehari-hari setelah gejala membaik 25 . misalnya terdapat halusinasi. bicara dan tertawa serta marah-marah atau memukul tanpa alasa2. kecurigaan berlebihan. mengancam diri sendiri.BAB III PENUTUP A. Dampingi pasien dan keluarga untuk mengurangi stress dan kontak dengan stressor 3. waham atau perilaku kacau/aneh. orang lain atau lingkungan. Saran 1.

Disorders of Thought: Schizophrenia. International Journal of Psychiatry in Clinical Practise 3 [suppl 2]: S17-S20. Biopsychology.[abstract]. Israel Journal of Psychiatry & Related Science. Edisi ke III. Connecticut. autoantibodies and psychosis coincidence versus etiological factor : an update. 2nd ed. DC. Departemen Kesehatan R. Third ed.I. Schwartz JH. JPJ. 1999. Lieberman JA. Norwalk. 1993. J Clin. Neurobiology of Mental Illness .2000. Review of Medical Physiology .[abstract].DAFTAR PUSTAKA American Psychiatric Association. 60 (suppl 12): 9-12 McEwen BS.. 1 : 32-36. New York.22:105-122 Pinel. 261 Sadock BJ. 226. 7th ed. 37 . Silver H. Appleton & Lange. Pathophysiologic Mechanisms in the Pathogenesis and Clinical Course of Schizophrenia. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Jessell TM. 1999.1999. 2nd Oxford University Press. Connecticut 853-866 Kasper S. WF. 1991.1994. Appleton & Lange. Ann Rev Neurosci. Principles of Neural Science.. Bridging the gap between psychopharmacology and clinical symptoms. Inc. Nestler EJ. 26 . Washington. 368-369. Lymphocytes. Charney DS. Sadock VA. Kandel ER.Comprehensive Textbook of Psychiatry. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ). 1995. . 4th ed. Stress and hippocampal plasticity. A Wolters Kluwer Company. Boston. 17 ed. Allyn and Bacon. Jakarta Ganong. 2000. Lippincott Williams & Wilkins. Norwalk. 2004.1993. Schwartz M. 251-261.