You are on page 1of 18

BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Sektor pariwisata dipercaya sebagai salah satu penyumbang devisa yang tinggi bagi Nelayan Indonesia. Sejak tahun 2008, pemerintah Indonesia lebih menggalakkan promosi tentang pariwisata di Indonesia melalui program Visit Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan dan keindahan alam yang tidak ternilai harganya. Keanekaragaman dan keunikan lingkungan alam serta kebudayaan Indonesia telah diakui secara internasional. Hal ini menjadikan promosi untuk pengembangan pariwisata di Indonesia tidak terbatas. Minat wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri, tidak terbatas di objek-objek wisata yang terkenal dan ramai saja. Beberapa khalayak justru memandang objek wisata yang terlalu ramai kurang memberikan kesan yang berarti. Seiring dengan kecenderungan back to nature dan pergesaran paradigma dari produk kayu ke non kayu, maka usaha ekowisata pada masa yang akan datang memiliki kecenderungan permintaan yang semakin meningkat. Tidak sekedar berwisata alam saja, dalam ekowisata selain memberikan kepuasan pribadi juga dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran, pemahaman dan dukungan terhadap usaha-usaha konservasi alam. Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem hutan tropika yang unik untuk dinikmati dan dipelajari. Didalamnya selain banyak didapati spesies mangrove, juga banyak ditemukan berbagai spesies kepiting. Dibalik keunikan ekosistem mangrove telah terbukti bahwa ekosistem mangrove mampu menjadi sistem perlindungan pantai secara alami termasuk mengurangi resiko gelombang pasang bahkan tsunami dan tempat perlindungan satwa. Mengingat besarnya fungsi ekosistem mangrove dari segi ekonomi, edukasi dan ekologi, pemanfaatan hutan mangrove sebagai objek ekowisata diharapkan dapat membantu melestarikan hutan mangrove di Indonesia. Ekowisata Mangrove di Wanasari, Tuban, Bali memiliki ekosistem mangrove alami dengan di dalamnya terdapat sekat-sekat bambu yang berfungsi sebagai pembatas kolam kepiting bakau yang keberadaannya tidak jauh dari pusat

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

1

kota. Pada lokasi ini mulai tahun 2010 dibangun beberapa gazebo yang nantinya pada bulan Maret 2013 akan di lounching ekowisata mangrove. Dalam kegiatan budidaya kepiting bakau di Wanasari, Tuban, Bali terdapat beberapa instalasi air untuk pembenihan kepiting. I.2 Tujuan 1. Mengkaji keberhasilan pembangunan ekowisata mangrove di Wanasari, Tuban, Bali. 2. Mengkaji potensi ekowisata mangrove di Wanasari, Tuban, Bali. 3. Mengkaji instalasi air pada kegiatan budidaya kepiting bakau di Wanasari, Tuban, Bali. I.3 Manfaat Hasil praktikum ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang perkembangan pembangunan ekowisata mangrove di daerah Wanasari, Tuban, Bali serta instalasi air yang ada pada kegiatan budidaya kepiting bakau. I.4 Waktu dan Tempat Praktikum Waktu Tempat : 17 Desember 2012 : Kelompok Mangrove Wanasari, Tuban – Bali

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

2

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mangrove 2.1.1 Pengertian Ekositem Mangrove Mangrove berasal dari kata mangal yang menunjukkan komunitas suatu tumbuhan. Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Menurut FAO, Hutan Mangrove adalah Komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah pasang surut. Ekosistem mangrove banyak ditemukan di pantai-pantai teluk yang dangkal, estuaria, delta dan daerah pantai yang terlindung. Santoso (2006), menyatakan bahwa ruang lingkup mangrove secara keseluruhan meliputi ekosistem mangrove yang terdiri atas : 1) Satu atau lebih spesies pohon dan semak belukar yang hidupnya terbatas di habitat mangrove (exclusive mangrove). 2) Spesies tumbuhan yang hidupnya di habitat mangrove, namun juga dapat hidup di habitat non-mangrove (non-exclusive mangrove). 3) Biota yang berasosiasi dengan mangrove (biota darat dan laut, lumut kerak, cendawan, ganggang, bakteri dan lain-lain) baik yang hidupnya menetap, sementara, sekali-sekali, biasa ditemukan, kebetulan maupun khusus hidup di habitat mangrove.
Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

4

4) Proses-proses dalam mempertahankan ekosistem ini, baik yang berada di daerah bervegetasi maupun di luarnya. 5) Daratan terbuka atau hamparan lumpur yang berada antara batas hutan sebenarnya dengan laut. 6) Masyarakat yang hidupnya bertempat tinggal dan tergantung pada mangrove. 2.1.2 Jenis-Jenis Mangrove Indonesia memiliki sebanyak tidak kurang dari 89 jenis pohon mangrove, atau paling tidak menurut FAO terdapat sebanyak 37 jenis. Dari berbagai jenis mangrove tersebut, yang hidup di daerah pasang surut, tahan air garam dan berbuah vivipar terdapat sekitar 12 famili. Dari sekian banyak jenis mangrove di Indonesia, jenis mangrove yang banyak ditemukan antara lain adalah jenis api-api (Avicennia sp.), bakau (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), dan bogem atau pedada (Sonneratia sp.) merupakan tumbuhan mangrove utama yang banyak dijumpai. Jenis-jenis mangrove tersebut adalah kelompok mangrove yang menangkap, menahan endapan dan menstabilkan tanah habitatnya. Jenis api-api (Avicennia sp.) atau di dunia dikenal sebagai black mangrove mungkin merupakan jenis terbaik dalam proses menstabilkan tanah habitatnya karena penyebaran benihnya mudah, toleransi terhadap temperartur tinggi, cepat menumbuhkan akar pernafasan (akar pasak) dan sistem perakaran di bawahnya mampu menahan endapan dengan baik. Mangrove besar, mangrove merah atau Red mangrove (Rhizophora sp.) merupakan jenis kedua terbaik. Jenis-jenis tersebut dapat mengurangi dampak kerusakan terhadap arus, gelombang besar dan angin.

2.1.3 Fauna di Habitat Mangrove Menurut Bengen (2001) komunitas fauna ekosistem mangrove membentuk percampuran antara 2 (dua) kelompok :

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

5

1. Kelompok fauna daratan / terestrial yang umumnya menempati bagian atas pohon mangrove, terdiri atas: insekta, ular, primata dan burung. Kelompok ini tidak mempunyai sifat adaptasi khusus untuk hidup di dalam hutan mangrove, karena mereka melewatkan sebagian besar hidupnya diluar jangkauan air laut pada bagian pohon yang tinggi, meskipun mereka dapat mengumpulkan makanannya berupa hewan laut pada saat air surut. 2. Kelompok fauna perairan / akuatik, terdiri atas dua tipe yaitu : a. Yang hidup di kolom air, terutama berbagai jenis ikan dan udang; b. Yang menempati substrat baik keras (akar dan batang mangrove) maupun lunak (lumpur) terutama kepiting, kerang dan berbagai jenis invertebrata lainnya. 3. Karakteritik Ekosistem Mangrove Karakteristik ekosistem mangrove menurut Bengen (2001) adalah :
1. Umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berumpur,

berlempung atau berpasir 2. Daerahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari maupun tergenang hanya saat pasang purnama. Frekuensi genangan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove 3. Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat 4. Terlindung dari gelombang dan arus pasang surut yang kuat. bersalinitas payau (2-22 ‰) hingga asin (mencapai 38 ‰). 5. Banyak ditemukan di pantai-pantai teluk yang dangkal, estuari, delta dan daerah pantai yang terlindung. Air

2.1.4 Penyebaran Mangrove

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

6

Menurut Bengen (2001) dalam Rochana (2012), penyebaran dan zonasi hutan mangrove tergantung oleh berbagai faktor lingkungan. Berikut salah satu tipe zonasi hutan mangrore di Indonesia :
1. Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir,

sering ditumbuhi oleh Avicennia spp. Pada zona ini biasa berasosiasi Sonneratia spp. Yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik.
2. Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh

Rhizophora spp. Di zona ini juga dijumpai Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp.
3. Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera spp. 4.

Zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa ditumbuhi oleh Nypa fruticans, dan beberapa spesies palem lainnya.

2.1.5 Fungsi Ekosistem mangrove Hutan Mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat maupun hewan Mangorove dipenuhi pula oleh kehidupan lain seperti mamalia, amfibi, reptil, burung, kepiting, ikan, primata, serangga dan sebagainya. Selain menyediakan keanekaragaman hayati (biodiversity), ekosistem Mangorove juga sebagai plasma nutfah (geneticpool) dan menunjang keseluruhan sistem kehidupan di sekitarnya. Habitat Mangorove merupakan tempat mencari makan (feeding ground) bagi hewan-hewan tersebut dan sebagai tempat mengasuh dan membesarkan (nursery ground), tempat bertelur dan memijah (spawning ground) dan tempat berlindung yang aman bagi berbagai ikan-ikan kecil serta kerang (shellfish) dari predator. Beberapa manfaat hutan mangrove dapat dikelompokan sebagai berikut: A. Manfaat / Fungsi Fisik : 1. 2. 3. Menjaga agar garis pantai tetap stabil Melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi. Menahan badai/angin kencang dari laut

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

7

4. 5.
6.

Menahan

hasil

proses

penimbunan

lumpur,

sehingga

memungkinkan terbentuknya lahan baru Menjadi wilayah penyangga, serta berfungsi menyaring air laut Mengolah limbah beracun, penghasil O2 dan penyerap CO2. menjadi air daratan yang tawar

B. Manfaat / Fungsi Biologik : 1. Menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi plankton, sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan. 2. Tempat memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang. 3. Tempat berlindung, bersarang dan berkembang.biak dari burung dan satwa lain. 4. Sumber plasma nutfah & sumber genetik. 5. Merupakan habitat alami bagi berbagai jenis biota. C. Manfaat / Fungsi Ekonomis : 1. Penghasil kayu : bakar, arang, bahan bangunan. 2. Penghasil bahan baku industri : pulp, tanin, kertas, tekstil, makanan, obatobatan, kosmetik, dll 3. Penghasil bibit ikan, nener, kerang, kepiting, bandeng melalui pola tambak silvofishery 4. Tempat wisata, penelitian & pendidikan. Ekosistem hutan mangrove bermanfaat secara ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis dan ekonomis hutan mangrove adalah (Santoso dan H.W. Arifin, 1998 dalam Rochana (2012 ) : 1. Fungsi ekologis : a. pelindung garis pantai dari abrasi, b. mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan, c. mencegah intrusi air laut ke daratan, d. tempat berpijah aneka biota laut,

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

8

e. tempat berlindung dan berkembangbiak berbagai jenis burung, mamalia,

reptil, dan serangga, f. sebagai pengatur iklim mikro. 2. Fungsi ekonomis :
a. penghasil keperluan rumah tangga (kayu bakar, arang, bahan bangunan,

bahan makanan, obat-obatan),
b. penghasil keperluan industri (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik,

penyamak kulit, pewarna), c. penghasil bibit ikan, nener udang, kepiting, kerang, madu, dan telur burung,
d. pariwisata, penelitian, dan pendidikan.

2.2 Ekowisata 2.2.1 Pengertian Ekowisata Ekowisata merupakan suatu konsep yang mengkombinasikan kepentingan industry kepariwisataan dengan para pencinta lingkungan. Para pencinta lingkungan menyatakan bahwa perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup hanya dapat tercapai dengan melibatkan orang-orang yang tinggal dan mengantungkan hidupnya pada daerah yang akan dikembangkan menjadi suatu kawasan wisata dan menjadikan mereka partner dalam upaya pengembangan wisata tersebut. Metode ini diperkenalkan oleh Presiden World Wild Fund (WWF) pada konfrensi tahunan ke-40 Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA). Kegiatan ekowisata biasanya berada didaerah tropis yang mempunyai keanekaragaman yang tinggi dan banyak flora dan fauna yang bersifat endemic sehingga kondisi tersebut rentan untuk mengalami perubahan. Dari sisi nilai tambah ekowisata, ada kemungkinan dalam implementasi program tersebut apabila tidak direncanakan dengan baik maka akan sebaliknya yang asalnya mendukung terhadap kelestarian lingkungan hidup malah menjadi mendorong terjadinya kerusakan lingkungan hidup di daerah tersebut. Oleh karena itu dalam pengembangan ekowisata perlu adanya rencana pengelolaan yang mengacu kepada tujuan utama awalnya yaitu mendorong dilakukannya pengawetan lingkungan hidup, sehingga ekowisata perlu di rencanakan pengelolaannya
Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

9

dengan mengintergrasikan dalam pendekatan sistem untuk konservasi yang menggunakan desain konservasi. 2.2.2 Potensi Ekowisata Mangrove Potensi rekreasi dalam ekosistem mangrove menurut Bahar (2004) antara lain :
a. Bentuk perakaran yang khas yang umum ditemukan pada beberapa jenis

vegetasi mangrove seperti akar tunjang (Rhizophora (Heritiera spp.).

spp.), akar lutu

(Bruguiera spp.), akar pasak (Sonneratia spp., Avicenia spp.), akar papan

b. Buah yang bersifat viviparious (buah berkecambah semasa masih

menempel pada pohon) yang terlihat oleh beberapa jenis vegetasi mangrove seperti Rhizophora spp. dan Ceriops spp. c. Adanya zonasi yang sering berbeda mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman (transisi zonasi). d. Berbagai jenis fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove seperti beraneka ragam jenis burung, serangga dan primata yang hidup di tajuk pohon serta berbagai jenis fauna yang hidup di dasar mangrove seperti babi hutan, biawak, buaya, ular, udang, ikan, kerang-kerangan, keong, kepiting dan sebagainya. e. atraksi adat istiadat masyarakat setempat yang berkaitan dengan sumberdaya mangrove. f. Hutan-hutan mangrove yang dikelola secara rasional untuk pertambakan tumpang sari dan pembuatan garam, bisa menarik wisatawan. Potensi ini dapat dikembangkan untuk kegiatan lintas alam, memancing, berlayar, berenang, pengamatan jenis burung dan atraksi satwa liar, fotografi, pendidikan, piknik dan berkemah, serta adat istiadat penduduk lokal yang hidupnya bergantung pada keberadaan hutan mangrove.

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

10

2.2.3 Sifat Pengunjung Ekowisata Para ekowisatawan biasanya mempunyai rasa tanggung jawab sosial terhadap daerah wisata yang dikunjunginya. Kunjungan yang terjadi dalam satu satuan tertentu yang mereka lakukan tidak hanya terbatas pada sebuah kunjungan dan wisata saja. Wisatawan ekowisata biasanya lebih menyukai perjalanan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga tidak mengganggu lingkungan disekitarnya. Daerah yang padat penduduknya atau alternatif lingkungan yang serba buatan dan prasarana lengkap kurang disukai karena dianggap merusak daya tarik alami. 2.3 Instalasi air Instalasi air dalam kegiatan budidaya merupakan perencanaan pembangunan alur air yang digunakan untuk budidaya dari sumber air melalui komponen penyalur dan penyambungan ke bak-bak penampungan air yang berfungsi untuk memenuhi kenutuhan air dala kegiatan budidaya. Faktor-faktor penting dalam instalasi saluran air adalah : 1. Sumber air 2. Biaya 3. Model instalasi 4. Letak instalasi kolam 5. Ukuran kolam

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

11

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

12

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Keadaan Umum Lokasi Praktikum Lapang

3.1.1

Letak dan Luas

Ekowisata Mangrove dalam praktikum lapang terletak di Wanasari, Tuban, Denpasar Bali. Kawasan ekowisata mangrove ini memiliki luas 1.370 ha dan 70 ha diantaranya merupakan kawasan kepiting bakau. Kawasan ini merupakan hutan mini yang dipenuhi dengan tanaman mangrove. Tanaman mangrove di daerah ini nampak hijau dan masih alami. Disana juga terdapat bambu untuk membuat jalan setapak menuju hutan bakau dan mengembangkan usaha kepiting. Jalan setapak yang terbuat dari bambu ini berbentuk melingkar dan mengelilingi kawasan bakau di wilayah Tuban. Jalan dari bambu tersebut dibuat tidak hanya untuk mengawasi kepiting, tapi juga digunakan sebagai jalur untuk melakukan pembersihan kawasan hutan bakau.

Gambar 1. Kawasan Ekowisata Mangrove Wanasari 3.1.2 Kondisi Masyarakat Sekitar

Masyarakat di kawasan ekowisata mangrove Wanasari, Tuban, Denpasar ini mayoritas beragama Hindu Dharma atau Agama Tirtha sebagaimana merupakan sejenis agama Hindu yang umumnya diamalkan oleh kebanyakan
Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

13

orang Bali di Indonesia. Kegiatan melaut bukan sebagai mata pencaharian utama. Mereka melaut hanya sebagai hobi dan sebuah pekerjaan sampingan bila ada yang mau sewa perahu untuk mancing. Untuk satu perahu sewanya mencapai Rp. 300.000. Masyarakat kelompok tani wanasari pada umumnya mata pencahariannya budidaya kepiting bakau. Namun pada pembibitan Kepiting Bakaupun juga terdapat banyak kendala, salah satunya ialah kesulitan dalam memperoleh bibit kepiting bakau. Dalam budidaya inipun masyarakat sekitar juga sangat memperhatikan aspek kelestarian lingkungan yakni dengan menjaga keestarian hutan bakau yang dimanfaatkan sebagai aktifitas budidaya tersebut. Selain itu, bentuk kepedulian masyarakat juga diwujudkan dengan memperhatikan kaidah rehabilitas, yaitu dengan melakukan penanaman kembali pohon yang rusak di kawasan hutan bakau tersebut. Hal ini menunjukkkan bahwa masyarakat sekitar sangat peduli terhadap pelestarian lingkungan bakau. Kesadaran akan pelestarian hutan bakau tersebut dikarenakan nelayan sudah menganggap hutan bakau di wilayah Kelurahan Tuban itu milik mereka sendiri yang harus tetap dipelihara dan dijaga. 3.1.3 Aksesbilitas

Aksesibilitas merupakan salah satu kunci utama yang akan mendukung keberhasilan pengembangan pada suatu kawasan, karena akan menghubungkan wilayah pengembangan dengan daerah luar. Sarana transportasi angkutan umum di Wanasari, Tuban, Denpasar, Bali terdiri dari Truk, Bus, Mini Bus serta Angkutan Desa/Kota. Saat ini di kawasan By Pas Ngurah Rai Tuban juga sedang dilaksanakan pembangunan jalan tol. Sistem jalan tol sudah beroperasi nantinya juga akan memberikan dampak positif pada kawasan ekowisata mangrove, melalui jalan tol akan tampak indah melihat pemandangan laut lepas dan jalan yang sehingga juga akan memberi pemasukan tambahan bagi kelompok nelayan. 3.1.4 Instalasi Listrik Instalisi listrik di depan ekowisata mengrove sudah ada, namun untuk menjangkau ke kawasan ekowisata belum maksimal.

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

14

3.1.4

Pasang Surut

Pasang surut adalah perubahan atau perbedaan permukaan laut yang terjadi secara berulang dengan periode tertentu karena adanya gerakan dari benda-benda angkasa yaitu rotasi bumi pada sumbunya, peredaran bulan mengelilingi bumi dan peredaran bulan mengelilingi matahari. Bulan dan matahari keduanya memberikan gaya gravitasi tarikan terhadap bumi, dimana gaya tarik bulan yang mempengaruhi pasang surut adalah 2,2 kali lebih besar daripada gaya tarik matahari. Secara statistik, Bulan menyebabkan hampir 70% efek pasang surut. Sedangkan matahari memiliki pengaruh sebesar 30%. Pasang surut di daerahpun juga terjadi setiap hari, tiap air pasang tidak jarang sampah kiriman kerap kali nyangkut pada hutan. 3.2 Perencanaan Ekowisata Mangrove

Ekowisata di Wanasari menjadi salah satu pilihan dalam mempromosikan lingkungan yang khas yang terjaga keasliannya sekaligus menjadi suatu kawasan kunjungan wisata. Potensi yang ada adalah suatu konsep pengembangan lingkungan yang berbasis pada pendekatan pemeliharaan dan konservasi alam. Konsep ini sangat unik dengan pengembangan dan pelibatan sektor manajemen yang terpadu serta seluruh stakeholders’ yang terkait. Namun pada prinsipnya cukup sederhana dengan pola management lingkungan yang rill. Konsep tersebut tidak akan terlepas dari : 1. Penataan Lingkungan Alami. 2. Nilai Pendidikan (Penelitian dan pengembangan).
3. Partisipasi Masyarakat Lokal dan Nilai Ekonomi.

4. Upaya Konservasi dan Pengelolaan Lingkungan. 5. Minimalisasi Dampak dan Pengaruh Lingkungan (tentunya beberapa strategi khusus). Ekowisata Mangrove di kawasan ini direncakan akan launching pada bulan Maret 2013. Pada daerah ekowisata mangrove ini akan dibangun tiga gazebo, disana juga akan dibangun pos-pos kuliner Indonesia. Hal ini diharapkan agar wisatawan dapat menikmati keindahan alam yang masih alami.
Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

dengan

15

3.3 Instalasi Air Kolam Budidaya Kepiting Bakau

Pada kegiatan budidaya kepiting bakau di Wanasari, Tuban, Bali, bak penampungan air yang digunakan untuk pemeliharaan larva berjumlah 3 kolam, dengan bentuk persegi panjang yang berukuran 1,5 m x 2 m x 0,8 m, den volume 200 liter. Kolam ini berfungsi sebagai kolam penampungan air laut. Sumber air berasal dari laut. Air laut diambil ketika air laut mengalami pasang tertinggi. Air laut diletakkan pada bak salinitas berukuran 1.5x2m dengan volume 200L. pada bak tersebut diberi aerasi besar sehingga air teraduk terus menerus. Bak tersebut berisi 80% air laut dan 20% air tawar. Air laut berasal dari laut langsung sedang air tawar didapat dari air tanah. Air tersebut siap dipindahkan pada bak larva maupun bak crabeta dengan luas bak masing-masing 1.5x2m bervolume 200L. Pemindahan air dari bak salinitas ke bak larva maupun bak crabeta dilakukan penyaringan. Penyaringan dilakukan didalam saluran pipa, pipa tersebut diisi dengan kasa penyaringan yang biasa digunakan di akuarium sehingga ketika air dipindahkan secara otomatis tersaring. Air pada bak larva dan crebeta lebih jernih dibanding pada bak salinitas. Pada bak larva dan bak crabeta diberi aerasi masing-masing berjumlah 10 buah. Tujuan diberi aerasi tersebut adalah untuk mengupayakan oksigen tersuplay terus menerus bagi kehidupan larva dan crabeta. Diluar ruang instalasi air terdapat dua bak induk, induk jantan dan betina masing-masing berukuran 1.5x2m dengan volume 200L. Air untuk bak induk juga berasal dari bak salinitas. Pergantian air dilakukan setiap air pasang tertinggi. Sehingga masing-masing bak akan diganti airnya secara berkala. Sebelum bak salinitas diisi kembali dengan air laut, bak terlebih dulu dibersihkan. Air untuk keramba pembesaran merupakan air yang sama dengan perairan laut sekitar. Hal tersebut karena keramba terletak diantara tanaman mangrove sehingga pergantian air mengikuti pasang surut air laut. Pembersihan dilakukan setiap air surut. Reruntuhan daun bakau yang terjatuh didalam keramba akan terkumpul di salah satu sudut keramba mengikuti aliran surutnya air. Kotoran dari

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

16

laut tidak dapat masuk kedalam keramba karena terdapat jaring-jaring yang tinggi sehingga kotoran hanya ada kerena daun yang jatuh di dalam keramba itu sendiri. Sebagai sebuah sistem bangunan instalasi air juga membutuhkna biaya yang tidak sedikit. Besar kecilnya biaya dipengaruh oleh modal instalasi, letak instalasi kolam , jenis kolam dan ukuran kolam. Dana untuk pembangunan instalasi ini didapatkan dari kerjasama dengan beberapa perushaan dan modal pribadi para kelompik tani.

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

17

BAB IV PENUTUP 1.1 Kesimpulan

Bahwa dalam suatu pengelolaan ekowisata dalam hal ini adalah ekowisata mangrove diperlukan : 1. Persiapan keadaan lahan atau lokasi dengan kesesuaian tofografi yang ada untuk kemudian ditinjau berdasar syarat – syarat aspek lokasi ekowisata.
2. Persiapan individu biakan (mangrove) beserta populasi yang menempati

dalam satu ekosistem mangrove tersebut. Seperti kepiting bakau, uca sp. dsb Pemanfaatan lebih (optimalisasi) lahan mangrove selain sebagai ekowisata juga dapat dimanfaatkan sebagai area budidaya (pembiakan) kepiting bakau.

1.2

Saran

Saran yang dapat kami sampaikan atas terlaksananya praktikum lapang ini adalah, untuk kemudian bias mengkondisikan mahasiswa agar lebih benar – benar fokus praktikum sehingga tidak banyak lagi mahasiswa yang tidak menjalan praktikum dengan benar.

Laporan Praktikum Manajemen Marikultur | 2012

18