DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

BUKU PEDOMAN
3R Berbasis Masyarakat Di Kawasan Permukiman

Kata Pengantar
Amanat UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air dan PP no.16 /2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum untuk melaksanakan program perlindungan air baku telah ditindak lanjuti dengan suatu rumusan kebijakan nasional dalam pengembangan pengelolaan persampahan di Indonesia (Permen PU 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Persamapahan). Untuk mengatasi berbagai permasalahan persampahan berkaitan dengan keterbatasan lahan TPA (Tempat Pemrosesan akhir) dan buruknya kinerja TPA diberbagai kota di Indonesia serta adanya potensi sampah diberbagai sumber daya, implementasi Kebijakan Pertama (Pengurangan Sampah Sejak Dari sumbernya) perlu segera dilakukan secara memadai. Pelaksanaan stimulant Program 3R Berbasis Masyarakat merupakan dukungan nyata dari Pemerintah (cq. Ditjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum) untuk membantu Pemerintah Kabupaten/Kota dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui gerakan pengurangan dan pemanfaatan sampah yang ditargetkan sebesar 20% pada tahun 2010. Peran masyarakat menjadi sangat penting dalam pola-pola berbasis masyarakat, baik masyarakat sebagai penghasil sampah maupun sebagai actor pengelola sampah. Penyusunan buku “Pedoman 3R Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman” ini merupakan upaya untuk memberikan informasi dan panduan pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat kepada stakeholders terkait. Buku Pedoman ini disusun berdasarkan hasil evaluasi best practice yang ada dilapangan dari berbagai kota di Indonesia, dan terdiri dari beberapa buku, yaitu:  Buku I : Pedoman Umum 3R  Buku II : Pedoman Perencanaan 3R  Buku III : Pedoman Pelaksanaan 3R  Buku IV : Pedoman Monitoring dan Evalusai 3R Akhirnya kami mengharapkan dukungan semua pihak dan semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan Rahmat Nya bagi sukses program 3R Jakarta, Februari 2008 Direktur Jenderal Cipta Karya

Ir. Budi Yuwono.

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

BUKU I
Pedoman Umum 3 R Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman

DAFTAR ISI BUKU I : PEDOMAN UMUM

1. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1.3 SASARAN 1.4 PENGERTIAN 2. PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT 2.1 PENDEKATAN PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU BERBASIS MASYARAKAT 2.2 PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT DI KAWASAN PERMUKIMAN 2.2.1 KONSEPSI PENANGANAN SAMPAH 3R SKALA RUMAH TANGGA 2.2.2 KONSEPSI PENANGANAN SAMPAH 3R SKALA KAWASAN 2.3 PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI KAWASAN PERMUKIMAN 2.4 ASPEK KEBERLANJUTAN PROGRAM 2.5 PEMBIAYAAN DAN INSENTIF 2.6 DUKUNGAN PERATURAN 3. PROSES PELAKSANAAN PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI KAWASAN PERMUKIMAN 4. KESIMPULAN DAN PENUTUP 4.1 KESIMPULAN 4.2 PENUTUP

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Mengacu pada Permen PU No. 21/PRT/M/2006 tentang kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Pengelolaan Persampahan terutama yang berkaitan dengan kebijakan pengurangan sampah sejak dari sumbernya dengan program unggulan 3R serta sasaran yang harus dicapai pada tahun 2010 sebesar 20%, pada dasarnya merupakan tugas berat bagi semua pihak dalam mewujudkan upaya tersebut, mengingat kondisi yang ada saat ini, baru sekitar kurang dari 3% sampah yang dapat dikurangi atau dimanfaatkan. Namun demikian dengan berbagai gerakan yang ada di tingkat masyarakat baik melalui peranan tokoh masyarakat, LSM ataupun pemerintah kota/ kabupaten, telah banyak praktek-praktek unggulan (best practise) 3R yang cukup sukses dan dapat direplikasikan di tempat lain, sehingga target pengurangan 20% bukan mustahil akan dapat dicapai. Pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat merupakan paradigma baru dalam pengelolaan sampah. Paradigma baru tersebut lebih ditekankan kepada metoda pengurangan sampah yang lebih arif dan ramah lingkungan. Metoda tersebut lebih menekankan kepada tingkat perilaku konsumtif dari masyarakat serta kesadaran terhadap kerusakan lingkungan akibat bahan tidak terpakai lagi yang berbentuk sampah. Pengurangan sampah dengan metoda 3R berbasis masyarakat lebih menekankan kepada cara pengurangan sampah yang dibuang oleh individu, rumah, atau kawasan seperti RT ataupun RW. Dari pendekatan tersebut, maka didalam pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat ada dua kegiatan yang harus dilakukan secara sinergi dan berkesinambungan.

2

Dua kegiatan tersebut adalah (1) proses pengelolaan aliran sampah dari mulai akan dikeluarkan oleh masyarakat dan (2) proses pemahaman masyarakat dalam pengelolaan sampah dengan metoda 3R. Pengurangan sampah dengan program 3R dan replikasi best practise memang bukan hal mudah untuk dilakukan karena akan sangat bergantung pada kemauan masyarakat dalam merubah perilaku, yaitu dari pola pembuangan sampah konvensional menjadi pola pemilah sampah. Untuk itu diperlukan berbagai upaya baik langsung maupun tidak langsung, seperti antara lain:  Percontohan program 3R  Penyuluhan  Pemberdayaan dan pendampingan masyarakat  Pendidikan Sejak Pelita V, Departemen Pekerjaan Umum telah memberikan percontohan program 3R skala kawasan yang disebut UDPK (Usaha Daur Ulang dan Produksi Kompos) dan lebih diintensifkan sejak TA 2007 yaitu dengan menerapkan program pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat melalui metode 3R ini di 25 provinsi (44 kota/ kabupaten). Hasil evaluasi terhadap pendekatan yang pernah dilakukan dengan metode UDPK, dianggap kurang berhasil karena masih bersifat orientasi proyek. Sedangkan pendekatan 3R yang baru adalah menggunakan pendekatan partisipatif, pemberdayaan dan pendampingan terhadap masyarakat yang cukup intens sehingga diharapkan dapat lebih berhasil. Selanjutnya, kegiatan pengurangan sampah sejak dari sumbernya akan dilakukan dengan mengedepankan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat secara lebih memadai dan diharapkan dapat menjadi gerakan moral nasional.

3

Dalam rangka memudahkan berbagai pihak untuk melaksanakan program pengurangan sampah tersebut, disusunlah suatu Pedoman Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Masyarakat (3R) untuk skala rumah tangga dan skala kawasan

1.2

MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dari diterbitkannya Buku I Pedoman Umum dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat adalah membantu para pelaksana di lapangan yang akan melakukan kegiatan pengurangan sampah sejak dari sumbernya untuk memahami pola pendekatan berbasis masyarakat Sedangkan tujuan dari diterbitkannya Buku I Pedoman Umum dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat adalah:  Memberikan penjelasan secara mendalam mengenali rencana pelaksanaan kegiatan Pengelolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat  Meningkatkan upaya pengurangan sampah sejak dari sumbernya dengan metode yang praktis dan telah dilaksanakan dalam best practise

1.3 SASARAN
Sasaran yang ingin dicapai dalam pedoman ini adalah tersedianya panduan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat di Kawasan Permukiman/ Perumahan.

4

1.4

PENGERTIAN

Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau dari proses alam yang berbentuk padat. Sampah Organik, yaitu memiliki sifat mudah terurai secara alami contohnya : daun, sayuran, dan buah serta sampah sisa makanan. Sampah non-organik, yaitu sampah yang sulit dan tidak bisa terurai secara alami meliputi: plastik, kaca, besi, sebagian jenis kertas dan lainnya. Sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat, konsentrasinya, dan/atau jumlahnya memerlukan penanganan khusus. Sumber Sampah adalah tempat awal/pertama dimana sampah timbul Penghasil sampah adalah setiap orang yang menghasilkan timbulan sampah. Penanganan Sampah 3R adalah konsep penanganan sampah dengan cara Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali) dan Recycle (Mendaur ulang) sampah mulai dari sumbernya. Pengomposan adalah proses pengolahan sampah menjadi kompos Pemberdayaan, Upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk mendirikan masyarakat melalui perwujudan potensi kemampuan yang mereka miliki atas dasar prakarsa dan kreativitas Persampahan, yang dimaksud dalam pedoman ini adalah Pengelolaan persampahan Pembiayaan sampah adalah dana yang diperuntukkan bagi pengelolaan sampah.

5

Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu adalah tempat dilaksanakannya kegiatan mengguna ulang, mendaur ulang, pemilahan, pengumpulan, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah. Tempat pemrosesan akhir adalah tempat untuk mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman. Timbulan Sampah adalah jumlah sampah yang dihasilkan perorang perhari dalam satuan volume maupun berat Reduce adalah upaya mengurangi volume sampah Reuse adalah upaya menggunakan kembali sampah tanpa perubahan bentuk untuk kegiatan lain yang bermanfaat. Recycle adalah upaya mendaur ulang sampah menjadi benda lain yang bermanfaat RKM (Rencana Kerja Masyarakat), Suatu rencana yang dibuat oleh masyarakat sebagai anggota Tim Kerja Masyarakat (TKM) bersama pengurus TKM sebagai wadah untuk menampung aspirasi dari masyarakat desa / kampung atas kegiatan 3R Evaluasi, Kegiatan untuk menilai, memperbaiki dan meningkatkan seberapa jauh sebuah program kegiatan dapat berjalan secara efektif, efisien dan optimal seperti yang telah dirumuskan bersama atau direncanakan Fasilitator, Adalah “ Pelaku yang membantu, mendorong dan mengarahkan kegiatan dilapangan”, dengan menggunakan kegiatan-kegiatan yang ada dalam panduan sehingga dapat membantu kelompok yang bekerjasama.

6

Jasa pengelolaan sampah adalah pelayanan pengelolaan sampah yang diberikan kepada masyarakat oleh pemerintah daerah. Komposter adalah alat untuk mengolah sampah organik menjadi kompos Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), Forum musyawarah, tempat masyarakat menyampaikan aspirasi Operasi dan Pemeliharaan (O&P), Adalah upaya pemanfaatan dan pemeliharaan prasarana dan sarana secara optimal oleh masyarakat pengguna dengan pembinaan pemerintah daerah secara berkesinambungan. Organisasi persampahan adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya meliputi bidang pengelolaan sampah.

7

BAB II PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3 R BERBASIS MASYARAKAT
2.1 PENDEKATAN PENGELOLAAN MASYARAKAT SAMPAH TERPADU BERBASIS

Konsep 3R adalah paradigma baru dalam pola konsumsi dan produksi disemua tingkatan dengan memberikan prioritas tertinggi pada pengelolaan limbah yang berorientasi pada pencegahan timbulan sampah, minimisasi limbah dengan mendorong barang yang dapat digunakan lagi dan barang yang dapat didekomposisi secara biologi (biodegradable), dan penerapan pembuangan limbah yang ramah lingkungan. Pelaksanaan 3R tidak hanya menyangkut aspek teknis semata, namun jauh lebih penting menyangkut masalah sosial dalam rangka mendorong perubahan sikap dan pola pikir menuju terwujudnya masyarakat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan Prinsip pertama Reduce adalah segala aktifitas yang mampu mengurangi dan mencegah timbulan sampah. Prinsip kedua Reuse adalah kegiatan penggunaan kembali sampah yang layak pakai untuk fungsi yang sama atau yang lain. Prinsip ketiga Recycle adalah kegiatan mengelola sampah untuk dijadikan produk baru. Untuk mewujudkan konsep 3R diatas, salah satu cara penerapannya adalah melalui pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat, yang diarahkan kepada daurulang sampah (recycle). Hal ini dipertimbangkan sebagai upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya, karena adanya potensi pemanfaatan sampah organik sebagai bahan baku kompos dan komponen non organik sebagai bahan sekunder kegiatan industri seperti plastik, kertas, logam, gelas, dan lain-lain.

8

Sesuai dengan Permen PU 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan, diperlukan suatu perubahan paradigma yang lebih mengedepankan proses pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, yaitu dengan melakukan upaya pengurangan dan pemanfaatan sampah sebelum akhirnya sampah dibuang ke TPA (target 20% pada tahun 2010). Reduce (R1) Reduce atau reduksi sampah merupakan upaya untuk mengurangi timbulan sampah di lingkungan sumber dan bahkan dapat dilakukan sejak sebelum sampah dihasilkan. Setiap sumber dapat melakukan upaya reduksi sampah dengan cara merubah pola hidup konsumtif, yaitu perubahan kebiasaan dari yang boros dan menghasilkan banyak sampah menjadi hemat/ efisien dan sedikit sampah. Namun diperlukan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk merubah perilaku tersebut. Reuse (R2) Reuse berarti menggunakan kembali bahan atau material agar tidak menjadi sampah (tanpa melalui proses pengolahan), seperti menggunakan kertas bolak balik, menggunakan kembali botol bekas “minuman” untuk tempat air, mengisi kaleng susu dengan susu refill dan lain-lain. Recycle (R3) Recycle berarti mendaur ulang suatu bahan yang sudah tidak berguna (sampah) menjadi bahan lain setelah melalui proses pengolahan, seperti mengolah sisa kain perca menjadi selimut, kain lap, keset kaki, dsb atau mengolah botol/plastik bekas menjadi biji plastik untuk dicetak kembali menjadi ember, hanger, pot, dan sebagainya atau mengolah kertas bekas menjadi bubur kertas dan kembali dicetak menjadi kertas dengan kualitas sedikit lebih rendah dan lainlain.

9

2.2

PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT DI KAWASAN PERMUKIMAN
Untuk menerapkan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat di kawasan permukiman, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :  Komposisi dan karakteristik sampah, untuk memperkirakan jumlah sampah yang dapat dikurangi dan dimanfaatkan Karakteristik lokasi dan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, untuk mengidentifikasi sumber sampah dan pola penanganan sampah 3R yang sesuai dengan kemampuan masyarakat setempat Metode penanganan sampah 3R, untuk mendapatkan formula teknis dan prasarana dan sarana 3R yang tepat dengan kondisi masyarakat setempat. Proses pemberdayaan masyarakat, untuk menyiapkan masyarakat dalam perubahan pola penanganan sampah dari proses konvensional ”kumpulangkut-buang” menjadi pola 3R. Misalnya: penghijauan dulu kebersihan buang sampah di tempatnya  pemilahan daur ulang. Uji coba pengelolaan, sebagai ajang pelatihan bagi masyarakat dalam melaksanakan berbagai metode 3R. Keberlanjutan pengelolaan, untuk menjamin kesinambungan proses pengelolaan sampah yang dapat dilakukan oleh masyarakat secara mandiri.

10

Minimisasi sampah hendaknya dilakukan sejak sampah belum terbentuk yaitu dengan menghemat penggunaan bahan, membatasi konsumsi sesuai kebutuhan, memilih bahan yang mengandung sedikit sampah, dsb Upaya memanfaatkan sampah dilakukan dengan menggunakan kembali sampah sesuai fungsinya seperti halnya pada penggunaan botol minuman atau kemasan lainnya. Upaya mendaur ulang sampah dapat dilakukan dengan memilah sampah menurut jenisnya baik yang memiliki nilai ekonomi sebagai material daur ulang (kertas, plastik, gelas/ logam, dll) maupun sampah B3 Rumah tangga yang memerlukan penanganan khusus (baterai, lampu neon, kaleng sisa insektisida dll) dan sampah kemasan (bungkus mie instan, plastik kemasan minyak, dll) Pengomposan sampah diharapkan dapat diterapkan di sumber (rumah tangga, kantor, sekolah, dll) yang akan secara signifikan megurangi sampah pada tahap berikutnya.

11

2.2.1. Konsepsi Penanganan Sampah 3R Skala Rumah Tangga
 Penanganan sampah hendaknya tidak lagi hanya bertumpu pada aktivitas pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan sampah. Penanganan sampah skala rumah tangga diharapkan dapat menerapkan upaya minimisasi yaitu dengan cara mengurangi, memanfaatkan kembali , dan mendaur ulang sampah yang dihasilkan.

KOMPOSTER

KOMPOS

ORGANIK BAHAN KOMPOS ORGANIK RESIDU

KOMPOS

MATERI DAUR ULANG GEROBAK/ MOTOR 3R TPST RESIDU

LAPAK

RUMAH TANGGA

B3

TPA

NON ORGANIK RESIDU PENANGANAN B3 LANJUTAB NON ORGANIK KERAJINAN TANGAN

SAMPAH CAMPUR

SKALA SUMBER

SKALA KAWASAN

Gambar 1. Penanganan Sampah 3R di Sumber

12

1). Skenario Pemilahan Sampah Non Organik Skenario pemilahan sampah non organik di kawasan permukiman perlu dilakukan, yaitu dengan cara memisahkan sampah kertas, plastik dan logam/kaca di masing-masing sumber dengan cara sederhana dan mudah dilakukan oleh masyarakat, misal menggunakan kantong plastik besar atau karung kecil. Khusus untuk sampah B3 rumah tangga, diperlukan wadah khusus yang pengumpulannya dapat dilakukan sebulan sekali atau sesuai kebutuhan Hasil pemilahan sampah di sumber pada umumnya mempunyai kualitas yang lebih baik dibandingkan apabila pemilahan sampah dilakukan di TPA.

13

2). Skenario Pengolahan Sampah Organik (Pembuatan Kompos) Dibedakan antara sampah organik dari kebun (daun-daunan) sampah organik dari dapur (nasi, daging, dst.)  Skenario pembuatan kompos secara individu disumber harus dilakukan dengan cara sederhana dan dapat mengacu pada best practice yang telah ada, misal seperti yang dilakukan di Sukunan Sleman DIY , Surabaya atau wilayah lainnya.

dan

Pembuatan kompos di sumber dapat dilakukan misalnya di Banjarsari dan di Rawajati dengan metode lubang (hanya dapat dilakukan untuk daerah yang tingkat kepadatan penduduknya masih rendah), Gentong, Bin Takakura atau metode lain sebagai “composter”. Dengan “composter gentong” (alasnya dilubangi dan diisi kerikil serta sekam), merupakan cara sederhana karena seluruh sampah organik dapat dimasukkan dalam gentong). Dengan Bin Takakura (keranjang yang dilapisi kertas karton, sekam padi dan kompos matang), memerlukan sedikit kesabaran karena dibutuhkan sampah organik terseleksi dan pencacahan untuk mempercepat proses pematangan kompos. Composter Takakura dapat tempatkan di dalam rumah (tidak menimbulkan bau) Produk kompos dapat digunakan untuk program penghijauan dan penanaman bibit

14

3). Skenario Daur Ulang Daur ulang di sumber dilakukan mulai dengan melakukan pemilahan sampah, sebaiknya dilakukan dengan cara yang sederhana agar mudah dilakukan oleh masyarakat. Pemilahan sampah dapat dimulai dengan memisahkan sampah menjadi sampah basah (organik) dan sampah kering (non organik) atau langsung menjadi beberapa jenis (sampah organik, kertas, plastik, kaleng, sampah B3 rumah tangga).

2.2.2. Konsepsi Penanganan Sampah 3R Skala Kawasan
KOMPOSTER KOMPOS

ORGANIK BAHAN KOMPOS ORGANIK RESIDU

KOMPOS

MATERI DAUR ULANG GEROBAK/ MOTOR 3R TPST RESIDU

LAPAK

RUMAH TANGGA

B3

TPA

NON ORGANIK RESIDU PENANGANAN B3 LANJUTAB NON ORGANIK KERAJINAN TANGAN

SAMPAH CAMPUR

SKALA SUMBER

SKALA KAWASAN

Gambar 2. Metode Operasional Penanganan Sampah Skala Kawasan

15

1). Landasan Operasional Pengelolaan Sampah Skala Kawasan
 Perlu dibedakan tipe kawasan seperti kawasan komplek perumahan baru (cakupan pelayanan 1000 – 2000 unit rumah), kawasan perumahan teratur/ non komplek (cakupan pelayanan 1 RW) dan kawasan perumahan tidak teratur/kumuh atau perumahan di bantaran sungai Diperlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pengurangan volume sampah. Diperlukan keterpaduan operasional pengelolaan sampah mulai dari sumber, pihak penerima bahan daur ulang (lapak) dan pengangkutan residu ke TPA Diperlukan area kerja pengelolaan sampah terpadu skala kawasan yang disebut TPST (tempat pengolahan sampah terpadu) Kegiatan pengelolaan sampah di TPST meliputi pemilahan sampah, pembuatan kompos, pengepakan bahan daur ulang, dll Pemisahan sampah di TPST dilakukan untuk beberapa jenis sampah seperti sampah B3 Rumah tangga (selanjutnya akan dikelola sesuai dengan ketentuan), sampah kertas, plastik, logam/kaca (akan digunakan sebagai bahan daur ulang) dan sampah organik (akan digunakan sebagai bahan baku kompos) Pembuatan kompos di TPST dilakukan dengan metode Open Windrow Incinerator skala kecil tidak direkomendasikan karena incinerator kecil hanya direkomendasikan untuk sampah rumah sakit dan sampah khusus.

 

16

2). Metode Operasional Pengelolaan Sampah Skala Kawasan
Pengumpulan Sampah  Metode pengumpulan sampah dapat dilakukan secara individual (door to door) maupun komunal (masyarakat membawa sendiri sampahnya ke Wadah / Bin Komunal yang sudah ditentukan)  Peralatan pengumpulan sampah di kawasan perumahan baru (cakupan luas dan jalan lebar) dapat dilakukan dengan menggunakan motor sampah (kapasitas 1,2 m 3), sedangkan untuk kawasan perumahan non komplek dan perumahan kumuh/bantaran sungai cukup dilakukan dengan menggunakan gerobak (1 m3). Jadual pengumpulan sampah non organik terpilah seperti kertas, plastik, logam/ kaca dapat dilakukan seminggu sekali, sedangkan untuk sampah yang masih tercampur harus dilakukan minimal seminggu 2 kali. Motor/Gerobak sampah yang mengumpulkan sampah terpilah dapat dimodifikasi dengan sekat atau dilengkapi karung-karung besar (3 unit atau sesuai dengan jenis sampah).

17

3) Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Skala Kawasan
a. Lokasi  Luas TPST bervariasi, tergantung kapasitas pelayanan dan tipe kawasan. Untuk kawasan perumahan baru (cakupan pelayanan 2000 rumah) diperlukan TPST dengan luas 1000 m². Sedangkan untuk cakupan pelayanan skala RW (200 rumah), diperlukan TPST dengan luas 200 – 500 m²  TPST dengan luas 1000 m² dapat menampung sampah dengan atau tanpa proses pemilahan sampah di sumber. TPST dengan luas < 500 m² hanya dapat menampung sampah dalam keadaan terpilah (50%) dan sampah campur 50 %. TPST dengan luas < 200 m² sebaiknya hanya menampung sampah tercampur 20 %, sedangkan sampah yang sudah terpilah 80 %.

b. Fasilitas TPST  Fasilitas TPST meliputi wadah komunal, areal pemilahan dan areal composting dan juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang lain seperti saluran drainase, air bersih, listrik, barier (pagar tanaman hidup) dan gudang penyimpan bahan daur ulang maupun produk kompos serta biodigester (opsional)

18

c. Daur Ulang
 Sampah yang didaur ulang minimal adalah kertas, plastik dan logam yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan untuk mendapatkan kualitas bahan daur ulang yang baik, pemilahan sebaiknya dilakukan sejak di sumber.  Pemasaran produk daur ulang dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lapak atau langsung dengan industri pemakai.  Daur ulang sampah B3 Rumah tangga (terutama batu baterei dan lampu neon) dikumpulkan untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku (PP 18 / 1999 tentang pengelolaan sampah B3).  Daur ulang kemasan plastik (air mineral, minuman dalam kemasan, mie instan dll) sebaiknya dimanfaatkan untuk barang-barang kerajinan atau bahan baku lain.

d. Pembuatan Kompos
 Sampah yang digunakan sebagai bahan baku kompos adalah sampah dapur (terseleksi) dan daun-daun potongan tanaman. Metode pembuatan kompos dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan open windrow. Perlu dilakukan analisa kualitas terhadap produk kompos secara acak dengan parameter antara lain warna, C/N rasio, kadar N,P,K dan logam berat. Pemasaran produk kompos dapat bekerja sama dengan pihak Koperasi dan Dinas (Kebersihan, Pertamanan, Pertanian dll)

19

2.3

PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI KAWASAN PERMUKIMAN
Untuk melaksanakan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat, diperlukan kegiatan pemberdayaan secara terprogram, terpadu, dan berkelanjutan sehingga dapat dicapai perubahan perilaku masyarakat dalam program 3R. Proses pemberdayaan masyarakat meliputi antara lain sosialisasi /penyuluhan, pelatihan, percontohan, pengembangan kegiatan dan lain-lain.

2.4

ASPEK KEBERLANJUTAN PROGRAM
Aspek keberlanjutan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga kesinambungan proses pengelolaan yang sudah terbina. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam beberapa aspek keberlanjutan adalah sebagai berikut:  Adanya lembaga kelompok masyarakat sebagai organisasi pengelola yang tidak formal namun terlegalisir serta sesuai dengan aspirasi masyarakat Adanya dukungan peraturan setingkat kelurahan untuk pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis masyarakat Adanya dana untuk operasional pengelolaan maupun biaya pemeliharaan atau investasi penambahan prasarana dan sarana sesuai dengan kebutuhan. Dana tersebut dapat berasal dari iuran masyarakat serta hasil penjualan kompos atau material daur ulang dengan cash flow diketahui bersama secara transparan

20

Adanya dukungan teknologi ramah lingkungan dan tersedianya prasarana dan sarana persampahan skala kawasan sesuai kebutuhan masyarakat Adanya peran aktif masyarakat untuk melaksanakan program 3R terutama yang berkaitan dengan perubahan perilaku dan budaya memilah sampah sejak dari sumbernya. Adanya dukungan dari instansi pengelola sampah tingkat perkotaan untuk pengangkutan residu, penyerapan produk kompos dan material daur ulang serta penanganan lanjutan sampah B3 rumah tangga sesuai ketentuan yang berlaku Adanya pola monitoring dan evaluasi dari instansi terkait baik ditingkat kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten bahkan di tingkat yang lebih tinggi, yaitu provinsi dan pemerintah pusat. Hasil monitoring dan evaluasi dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi proses replikasi atau pengembangan yang diperlukan serta pendataan yang lebih akurat untuk mengetahui hasil pencapaian program 3R secara nasional

21

2.5.

PEMBIAYAAN DAN INSENTIF
Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat, meliputi:   Kebutuhan biaya investasi pembelian prasarana dan sarana Kebutuhan biaya operasi pengumpulan sampah dan operasional TPST dan pemeliharaan prasarana/sarana Perhitungan iuran warga/bulan yang besarnya dimusyawarahkan, sebaiknya dapat memenuhi kebutuhan biayan investasi dan operasional. Perhitungan biaya hasil penjualan kompos dan produk daur ulang yang digunakan untuk kepentingan sosial warga atau untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman Insentif yang didapat adalah berupa hasil penjualan material daur ulang dan produk kompos serta penjualan bibit tanaman

2.6

DUKUNGAN PERATURAN
Untuk pelaksanan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat, perlu didukung peraturan baik secara formal maupun non formal. Peraturan tersebut meliputi :    Ketentuan organisasi pengelola Tata laksana kerja Ketentuan teknis pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat

22

BAB III PROSES PELAKSANAAN PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI KAWASAN PERMUKIMAN
Proses pendekatan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat dikawasan permukiman secara garis besar dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
PROSES PELAKSANAAN PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R PERSIAPAN Tahap 1 ( Bulan Februari)

SELEKSI KOTA/ KABUPATEN

Tahap 2 ( Bulan Maret)

SELEKSI LOKASI
   

Tahap 3 (Bulan April)
Sosialisasi 3R Verifikasi Teknologi Pengolahan Pemilihan Lokasi TPST (utk kawasan) Pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat

SELEKSI FASILITATOR

PENYIAPAN MASYARAKAT

PENDAMPINGAN

SURVAI LAPANGAN (SAMPAH DAN SOSIAL)

Tahap 4 (Bulan Mei)

PEMILIHAN METODA DAN TEKNOLOGI 3R

  

PENYUSUNAN RENCANA KERJA MASYARAKAT

PERENCANAAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT

Aspek Teknis Operasional Aspek Kelembagaan Aspek Pengaturan Aspek Pendanaan Aspek Peran Serta Masyarakat

SATKER

DED DAN RAB

Tahap 5 (Bulan Oktober)

PENGADAAN SARANA DAN PRASARANA 3R PELAKSANAAN PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT

MONITORING DAN EVALUASI Tahap 6 (Bulan Desember)

KEBERLANJUTAN PROGRAM

PENGEMBANGAN DAN REPLIKASI

Tahap 7

23

Dalam pelaksanaannya, maka seperti pelaksanaan kegiatan pada umumnya dilakukan dalam beberapa tahapan. Tahapan-tahapan kegiatan pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat secara umum sebagai berikut:

1. Tahap Pertama
Tahap ini meliputi kegiatan:  Persiapan yang meliputi sosialisasi pengelolaan sampah dengan metoda 3R kepada seluruh pemangku kepentingan tingkat pusat.  Sosialisasi ini bertujuan menyatukan persepsi terhadap permasalahan sampah secara umum serta visi untuk beberapa tahun kedepan.  Sosialisasi dilakukan dengan kegiatan seminar atau workshop yang dihadiri oleh pengambil keputusan tingkat pusat.

2. Tahap kedua
Tahap ini meliputi kegiatan:  Seleksi kota/kabupaten yang akan melaksanakan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat dimaksudkan untuk memperoleh kota/kabupaten yang berminat dengan disertai komitmen yang jelas dari pimpinan daerah.  Seleksi kota/kabupaten ini dilakukan karena dua alasan yaitu:  Anggaran penyelenggaraan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat seluruhnya atau sebagian berasal dari pusat  Diperlukan komitmen yang jelas dan tegas karena pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat kemungkinan akan melibatkan beberapa institusi daerah terkait dan diharapkan program dapat berkelanjutan serta berkembang.  Seleksi kota /kabupaten dilakukan dengan workshop yang sifatnya regional yang dihadiri oleh perwakilan kota/kabupaten dalam regional tersebut.  Tujuan dari workshop ini adalah mengumpulkan kota yang berminat dan seleksi dilakukan jika anggaran hanya diperuntukkan tidak untuk semua kota yang ada dalam region tersebut.

24

3. Tahap Ketiga
Tahap ini meliputi kegiatan:  Seleksi lokasi dilakukan hanya pada kota terpilih.  Tahap awal dari seleksi kota ini adalah memperoleh daftar panjang dari lokasi yang sesuai kriteria pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat.  Untuk memperoleh daftar pendek calon lokasi maka dilakukan tapisan awal dengan memilih lokasi yang paling memenuhi kriteria pengelolaan 3R berbasis masyarakat.  Calon lokasi pada daftar pendek tersebut akan mengajukan proposal yang diikuti dengan presentasi.  Dapat juga dilakukan survey cepat (Rapid Participatory Assessment) yang dilakukan oleh masyarakat yang berminat dengan mempresentasikan kepada pemangku kepentingan pada tingkat kampung.

4. Tahap Keempat
Tahap ini meliputi kegiatan:  Pemilihan fasilitator. Keberadaan fasilitator sangat diperlukan dalam pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat.  Fasilitator bertugas menggalang masyarakat yang berminat melaksanakan pengelolaan sampah 3R, bersama-sama mencari metoda penyelesaian masalah sampah, menggali keinginan masyarakat, dan memberikan pelatihan serta pendampingan dalam pelaksanaan pengelolaan sampah 3R.  Fasilitator dipilih sesuai kapabilitas dan tingkat pemahamannya terhadap lingkungan umumnya dan sampah khususnya.  Fasilitaor direkrut dan digaji oleh penyelenggara program pengelolaan sampah berbasis masyarakat 3R.  Penyiapan masyarakat dengan terpilihnya lokasi dan fasilitator, maka program sosialisasi yang lebih intens dapat dilakukan dalam beberapa serial pertemuan yang digalang oleh fasilitator dengan dibantu beberapa tenaga ahli lepas.  Pemilihan lokasi TPST untuk pengelolaan skala kawasan ataupun metoda pengolahan sampah di rumah tangga ditentukan pada tahapan ini.  Kegiatan selanjutnya adalah survay lapangan baik dari komposisi dan timbulan sampah serta sosial masyarakatnya. 25

Survey ini dilakukan dalam mencari data dasar untuk pemilihan teknologi, program penyuluhan, serta sebagai tolok ukur kinerja pembanding keberhasilan dari program yang akan dilaksanakan.

5. Tahap Kelima
Tahap ini meliputi kegiatan:  Pembuatan DED dan RAB yang dilakukan oleh KSM dan Fasilitator kemudian diserahkan kepada Satker untuk kegiatan Pengadaan sarana dan Prasarana 3R yang dilakukan dengan sistem Tender yang terbuka.  Pembangunan ataupun pelaksanaan operasi pengelolaan sampah 3R dilakukan setelah masyarakat secara bulat menerima metoda yang akan dilakukan serta lokasi dimana TPST akan dibangun.  Proses pembangunan harus dilakukan bersama-sama dengan masyarakat sehingga penolakan akibat sindrom NYMBY (Not in My Backyard) dapat ditekan seminim mungkin.

6. Tahap Keenam
Tahap ini meliputi kegiatan:  Pelaksanaan pengelolaan sampah 3R yang dapat dilakukan sekaligus atau bertahap sesuai dengan kesiapan masyarakat dan pendanaan.  Kegiatan pelaksanaan program didampingi oleh fasilitator dengan konsultan daerah jika ada.  Monitoring dan evaluasi kinerja pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat meliputi pengumpulan informasi, seperti pengukuran atau pengamat

26

Kegiatan pemantauan dan pengukuran bermanfaat dalam suatu manajemen pengelolaan seperti :  Menelusuri tahapan kemajuan dalam memenuhi perencanaan awal, mencapai tujuan dan sasaran serta perbaikan berkelanjutan;  Mengembangkan informasi untuk mengidentifikasikan aspek dalam pengelolaan sampah 3R yang penting;  Memantau pelaksanaan pengolahan sampah secara 3R sesuai dengan tujuan dan sasaran;  Menyediakan data untuk mendukung atau mengevaluasi pengendalian operasional; Menyediakan data untuk mengevaluasi kinerja organisasi;  Menyediakan data untuk mengevaluasi kinerja sistem manajemen persampahan secara umum dan penyelenggaraan program 3R secara khusus.

7. Tahap Ketujuh
Tahap ini meliputi kegiatan:  Keberlanjutan program dilaksanakan dengan salah satunya replikasi dan pengembangan.  Pertemuan-pertemuan warga masih tetap dilakukan untuk membentuk komunitas yang lebih memahami perlunya mengurangi sampah di sumbernya.  Dilakukan penguatan kapasitas pada seluruh pemangku kepentingan pada lokasi yang sedang melakukan kegiatan pengelolaan sampah 3R terpadu sehingga pengembangan lebih mudah dilakukan. Pada pelaksanaan program pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat diperlukan panduan yang dapat memberi arahan kepada para pengelola di daerah. Pedoman tersebut meliputi tahapan pelaksanaan seperti diatas yang tersusun dalam aspek perencanaannya, aspek pelaksanaannya, dan aspek monitoring dan evaluasi.

27

BAB IV KESIMPULAN dan PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
1. Pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat melalui masyarakat melalui metode Reduce, Reuse, Recycle (3R) mulai saat ini sebaiknya sudah diterapkan karena program ini berkaitan dengan kebijakan dan strategi nasional pengembangan pengelolaan persampahan terutama yang berkaitan dengan kebijakan pengurangan sampah sejak dari sumbernya. Proses pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat harus mengikuti 7 tahapan kegiatan sebagai berikut:  Tahap pertama ( Persiapan)  Tahap Kedua (Seleksi kabupaten/kota)  Tahap Ketiga (Seleksi Lokasi)  Tahap Keempat (Penyiapan Masyarakat, Survey lapangan,Pemilihan Teknologi, Penyusunan RKM)  Tahap Relima ( Pembuatan DED & RAB, Pengadaan Sarana & Prasarana 3R)  Tahap Keenam ( Pelaksanaan pengelolaan sampah 3R dan Monev)  Tahap Ketujuh (Keberlanjutan program dan replikasi).

2.

4.2 PENUTUP
Buku 1 (satu) ini adalah pedoman umum yang akan dijelaskan lebih lanjut di buku 2 (dua) tentang pedoman perencanaan, buku 3 (tiga) tentang pedoman pelaksanaan dan buku 4 (empat) tentang pedoman monitoring evaluasi dan pengembangan

28

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

BUKU II
Pedoman Perencanaan 3 R Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman

DAFTAR ISI BUKU II : PEDOMAN PERENCANAAN KEGIATAN 3R BERBASIS MASYARAKAT 1. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1.3 SASARAN 2. PERENCANAAN PENEGLOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERMUKIMAN 2.1 PENDAHULUAN 2.2 SELEKSI KOTA/KABUPATEN 2.3 SELEKSI LOKASI 2.3.1 KRITERIA UMUM 2.3.2 KRITERIA FISIK LINGKUNGAN 2.3.4 KRITERIA SOSIAL EKONOMI 2.4 PENYIAPAN MASYARAKAT 2.4.1 PEMILIHAN FASILITATOR 2.4.2 PENELITIAN SOSIAL 2.4.3 PENELITIAN KOMPOSISI DAN TIMBULAN 2.5 PEMILIHAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT 2.6 PEMILIHAN TEKNOLOGI 2.6.1 TEKNOLOGI PEWADAHAN 2.6.2 TEKNOLOGI PENGOMPOSAN DENGAN KOMPOSTER 2.6.3 TEKNOLOGI DAUR ULANG SAMPAH NON ORGANIK SKALA RT 2.6.4 TEKNOLOGI PENGUMPULAN SAMPAH 2.6.5 TEKNOLOGI PENGOLAHAN SAMPAH SKALA KAWASAN

2.7

2.8

PERANCANGAN MODUL PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT 2.7.1 MODUL PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT SKALA RUMAH TANGGA 1000 JIWA (3R-1000 RUMAH TANGGA) 2.7.2 MODUL PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT SKALA KAWASAN 1000 JIWA (3R-1000 KAWASAN) PERENCANAAN PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT 2.8.1 KELEMBAGAAN 2.8.2 PENGOPERASIAN TPST 2.8.3 PEMBIAYAAN 2.8.4 PENGATURAN

3. PENUTUP

2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Perencanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat merupakan langkah awal dalam pelaksanaan kegiatan. Perencanaan ini merupakan dasar dalam pengelolaan sampah baik skala individual maupun skala kawasan. Untuk itu perlu disusun suatu pedoman perencaaan. Pedoman perencanaan ini meliputi seleksi kota/kabupaten, seleksi lokasi, survey lapangan, analisa, pemilihan teknologi, pemilihan fasilitator, penyusunan rencana kerja, penyusunan peraturan, kelembagaan, pembiayaan, peran serta masyarakat. Selain itu, pedoman perencanaan ini meliputi juga pedoman perencanaan pembangunan, operasi dan pemeliharaan, monitoring dan evaluasi, serta pengembangan dan replikasi.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud diterbitkannya pedoman perencaraan 3R sampah berbasis masyarakat ini adalah untuk membantu pelaku di lapangan yang akan melakukan kegiatan perencanaan pengurangan sampah untuk skala rumah tangga maupun skala kawasan. Sedangkan tujuannya adalah untuk memberikan penjelasan tentang tahapan perencanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat. :

3

1.3 SASARAN
Tersedianya pedoman perencanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat meliputi pengelolaan sampah skala rumah tangga dan skala kawasan.

4

BAB II PERENCANAAN PENEGLOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERMUKIMAN
2.1 Pendahuluan.

Pendekatan perencanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat mengacu pada proses pelaksanaan secara umum seperti telah diuraikan pada Buku Pedoman I.
PROSES PELAKSANAAN PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R PERSIAPAN Tahap 1 ( Bulan Februari)

SELEKSI KOTA/ KABUPATEN

Tahap 2 ( Bulan Maret)

SELEKSI LOKASI
· · · ·

Tahap 3 (Bulan April)
Sosialisasi 3R Verifikasi Teknologi Pengolahan Pemilihan Lokasi TPST (utk kawasan) Pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat

SELEKSI FASILITATOR

PENYIAPAN MASYARAKAT

PENDAMPINGAN

SURVAI LAPANGAN (SAMPAH DAN SOSIAL)

Tahap 4 (Bulan Mei)

·

PEMILIHAN METODA DAN TEKNOLOGI 3R

· · ·

PENYUSUNAN RENCANA KERJA MASYARAKAT

PERENCANAAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT

·

Aspek Teknis Operasional Aspek Kelembagaan Aspek Pengaturan Aspek Pendanaan Aspek Peran Serta Masyarakat

SATKER

DED DAN RAB

Tahap 5 (Bulan Oktober)

PENGADAAN SARANA DAN PRASARANA 3R PELAKSANAAN PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT

MONITORING DAN EVALUASI Tahap 6 (Bulan Desember)

KEBERLANJUTAN PROGRAM

PENGEMBANGAN DAN REPLIKASI

Tahap 7

5

2.2

Seleksi Kota/Kabupaten

Tahapan seleksi Kota/Kabupaten merupakan tahap ke 2 setelah dilakukan sosialisasi tentang pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat kepada seluruh provinsi, instansi terkait, dan pemangku kepentingan lainnya. Seleksi Kota/Kabupaten dilaksanakan pada setiap provinsi di Indonesia. Pada perencanaan seleksi Kota/Kabupaten maka diperlukan kriteria sebagai berikut : · Walikota / Bupati atau Pejabat yang berwenang berminat untuk implementasi penyelenggaraan pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat dengan membuat surat minat yang ditujukan kepada Departemen Pekerjaan Umum dilengkapi dengan persetujuan alokasi lahan TPST sesuai dengan Tata Ruang. Memiliki Dinas atau UPT yang bertanggung jawab dalam bidang kebersihan sebagai Dinas penanggung jawab. Sebaiknya sudah pernah melakukan kegiatan berbasis masyarakat. Bersedia kontribusi in cash untuk biaya fisik ; dan in kind yaitu sarana kantor dan staf dinas penanggungjawab sebagai fasilitator. Kesiapan Dinas Penanggung jawab untuk bekerjasama dengan Tenaga Fasilitator Diutamakan kota / kabupaten yang mempunyai pengalaman 3R sebelumnya.

· · · ·

Dalam perencanaan pemilihan Kota/Kabupaten, maka dapat digunakan metode scoring seperti berikut :

6

KRITERIA
Walikota / Bupati atau Pejabat yang berwenang berminat untuk implementasi penyelenggaraan pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat dengan membuat surat minat yang ditujukan kepada Departemen Pekerjaan Umum. Memiliki Dinas atau UPT yang bertanggung jawab dalam bidang kebersihan sebagai Dinas penanggung jawab. Sebaiknya sudah pernah melakukan kegiatan berbasis masyarakat. Bersedia kontribusi in cash untuk biaya fisik ; dan in kind yaitu sarana kantor dan staf dinas penanggungjawab sebagai fasilitator. Kesiapan Dinas Penanggung jawab untuk bekerjasama dengan Tenaga Fasilitator Diutamakan kota / kabupaten yang mempunyai pengalaman 3R sebelumnya. TOTAL SCORE 5

SCORE

5 5 5

5

20

Kota/Kabupaten dengan total score tertinggi yang akan masuk dalam daftar pendek untuk tapisan berikutnya.

7

2.3

Seleksi Lokasi

Seleksi lokasi dilaksanakan setelah terpilihnya kota/kabupaten yang berniat akan melaksanakan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Untuk memperoleh daftar alternatip lokasi, maka Satuan Kerja PU dan Dinas Terkait melaksanakan sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan pengelolaan sampah di wilayahnya. Hasil yang diharapkan dari sosialisasi ini adalah berupa daftar panjang dari lokasi yang berminat untuk menerapkan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Untuk memilih lokasi yang tepat maka digunakan kriteria sebagai berikut :

2.3.1. Kriteria Umum :
· · Batasan administrasi lahan TPST dalam batas administrasi yang sama dengan area pelayanan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Status kepemilikan lahan milik pemerintah atau lainnya dengan surat pernyataan bersedia digunakan untuk prasarana dan sarana pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Ukuran lahan antara 750 – 1000 m2 Mempunyai program lingkungan berbasis masyarakat. Masalah sampah sudah mulai mengganggu masyarakat.

· · ·

8

2.3..2. Kriteria Fisik lingkungan:
· · · · · · · · · · Permukaan air tanah di TPST >10 m Lahan yang diusulkan memang telah di manfaatkan/ difungsikan sebagai lokasi TPS Sampah. Berada didalam area yang memang direncanakan diperuntukkan sebagai lokasi TPS Sampah atau Rencana pemanfaatan rendah untuk fasilitas umum / taman. Bebas banjir. Berada di lahan datar. Jalan keluar/masuk menuju dan dari TPST datar dengan kondisi baik dan lebar jalan yang cukup untuk mobilisasi keluar/masuk motor/gerobak sampah. Jarak lokasi ke permukiman lebih dari 200 m dari permukiman. Terletak 500 m dari jalan raya Berdampak minimal terhadap tata guna lahan. Terdapat zona penyangga dan kegiatan operasionalnya tidak terlihat dari luar.

2.3.3. Kriteria Sosial Ekonomi
· · · · · Cakupan pelayanan mendekati 1000 KK. Ada tokoh masyarakat yang disegani dan mempunyai wawasan lingkungan yang kuat. Penerimaan masyarakat untuk melaksanakan program 3R merupakan kesadaran masyarakat secara spontan. Masyarakat bersedia membayar retribusi pengolahan sampah. Sudah memiliki kelompok aktif di masyarakat seperi PKK, Forum-forum kepedulian terhadap lingkungan, karang taruna, remaja mesjid, club jantung sehat, club manula, pengelola kebersihan/sampah, dll

9

Dalam tapisan awal untuk memperoleh daftar pendek dari lokasi yang akan digunakan untuk pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat dapat digunakan metode scoring seperi berikut :

KRITERIA Kriteria Umum :

SCORE 25

·

Batasan administrasi lahan TPST dalam batas administrasi yang sama dengan area pelayanan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Status kepemilikan lahan milik pemerintah atau lainnya dengan surat pernyataan bersedia digunakan untuk prasarana dan sarana pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Ukuran lahan antara 500 – 1000 m2 Mempunyai program lingkungan berbasis masyarakat. Masalah sampah sudah mulai mengganggu masyarakat

5 5

·

· · ·

5 5 5

10

KRITERIA Kriteria Fisik lingkungan: · · Permukaan air tanah di TPST >10 m Lahan yang diusulkan memang telah di manfaatkan/ difungsikan sebagai lokasi TPS Sampah. Berada didalam area yang memang direncanakan diperuntukkan sebagai lokasi TPS Sampah atau Rencana pemanfaatan rendah untuk fasilitas umum / taman. Bebas banjir. Berada di lahan datar. Jalan keluar/masuk menuju dan dari TPST datar dengan kondisi baik dan lebar jalan yang cukup untuk mobilisasi keluar/masuk motor/ gerobak sampah

SCORE 50 5

5

·

5 5 5

· · ·

5 · · · Jarak lokasi TPST 500 m ke permukiman Berdampak minimal terhadap tata guna lahan Terdapat zona penyangga dan kegiatan operasionalnya tidak terlihat dari luar. 5 5

5

11

KRITERIA

SCORE

Kriteria Sosial Ekonomi
25 · · Cakupan pelayanan mendekati 1000 KK. 5 Ada tokoh masyarakat yang disegani dan mempunyai wawasan lingkungan yang kuat. Penerimaan masyarakat untuk melaksanakan program 3R merupakan kesadaran masyarakat secara spontan. 5

·

5

·

Masyarakat bersedia membayar retribusi pengolahan sampah.

5

·

Sudah memiliki kelompok aktif di masyarakat seperi PKK, Forum-forum kepedulian terhadap lingkungan, karang taruna, remaja mesjid, club jantung sehat, club manula, pengelola kebersihan/sampah, dll

5

TOTAL SCORE

100

12

2.4

Penyiapan Masyarakat

Penyiapan masyarakat dilakukan setelah lokasi untuk pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R terpilih. Penyiapan masyarakat merupakan langkah cukup penting bagi keberlanjutan program pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat karena dari tahap ini diharapkan akan dihasilkan fasilitator, Kelompok Kerja Mayarakat, pemilihan metoda atau teknologi yang akan digunakan dalam pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R, lokasi, dan Rencana Kerja Masyarakat. Pada perencanaan penyiapan masyarakat maka ada beberapa tahap yang perlu dilakukan yaitu : · · · · Pemilihan fasilitator Penelitian sosial Penelitian komposisi dan timbulan sampah Sosialisasi pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis msyarakat melalui Focal Group Discussion (FGD) untuk memperoleh kesepakatan dalam :  Pemilihan metoda atau teknologi 3R yang akan digunakan  Pemilihan sistem pengelolaan sampah terpadu 3R  Pembentukan Kelompok Kerja Masyarakat  Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat Pelatihan yang terdiri dari :  Materi umum :  Sosialisasi perencanaan program  Pengertian pengelolaan sampah 3R  Pemahaman tentang sampah dan dampaknya  Aspek pendukung seperti kelembagaan, pendanaan, pengaturan, dan teknis operasional

·

13

Materi Teknis :  Sistem pengelolaan sampah  Daur ulang sampah non organik  Pengkomposan sampah Peserta pelatihan :  Anggota KSM  Warga yang terlibat

2.4.1

Pemilihan Fasilitator

Pemilihan fasilitator dilakukan oleh Satuan Kerja PU bersama-sama dengan konsultan lokal dengan kriteria sebagai berikut : · · · · · · · · Memiliki kemampuan baca dan tulis Memahami karakteristik masyarakat di lokasi terpilih Sehat jasmani dan rohani Bisa berkomunikasi dengan baik Mempunyai pengalaman dalam pemberdayaan Memiliki waktu yang cukup untuk melaksanakan tugas sebagai fasilitator Memiliki pengetahuan dasar tentang persampahan (3R) Bersedia tinggal dan bekerjasama dengan masyarakat di lokasi terpilih

TFL adalah tenaga pendamping dari daerah yang bersangkutan dan dilatih agar menjadi terampil dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas masyarakat dalam memutuskan, merencanakan, melaksanakan dan mengelola kegiatan Kampung terutama yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan sampah 3R.

14

Setiap Tenaga Fasilitator mempunyai tugas dan tugas jawab sebagai berikut : · Memfasilitasi dan membantu masyarakat untuk dapat membentuk dan membantu pemilihan anggota KSM secara demokratis dengan memperhatikan kesetaraan jender dan kesetaraan kaya-miskin. Memfasilitasi penyusunan Rencana kerja masyarakat, periode pelaksanaan pembangunan sarana 3R sesuai yang dibutuhkan masyarakat, dan pasca pembangunan, yang meliputi :  Pelaksanaan pelatihan lanjutan tentang pelaksanaan kegiatan 3R khususnya tata cara operasional peralatan di lokasi 3R terpilih, pemilihan metode pengomposan dengan teknologi yang tepat guna, dan mudah.  Bantuan dalam memfasilitasi masyarakat untuk mengidentifikasi masalah-masalah kebersihan yang berhubungan dengan masalah persampahan yang dihadapi oleh masyarakat dan merumuskan strategi untuk mengatasi masalah dengan menggunakan metologi yang sesuai.

·

Pelaksanaan teknis persampahan yang dibutuhkan · · · · · · Pelaksanaan pelatihan dan supervisi dalam pelaksanaan pembangunan dengan pendekatan teknis pada kelompok masyarakat pelaksana 3R. Pemberian dukungan dan bantuan teknis pada masyarakat. Pelaksanaan pelatihan dan supervisi untuk masalah operasional dan pemeliharaan dan perbaikan sarana 3R Pemdampingin dan pelatihan kelompok masyarakat dalam mengelola dana untuk pembangunan sarana 3R Bantuan kepada masyarakat dalam melaksanakan monitoring sendiri pada pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R. Melaporkan hasil kegiatan ditingkat masyarakat secara periodik (bulanan) kepada PU Kota/Kabupaten atau Leading Dinas.

15

2.4.2

Penelitian Sosial

Kegiatan survey sosial ini dilaksanakan berkaitan dengan aspek-aspek sosial yang akan mempengaruhi keberlanjutan program 3R ini. Setidaknya ada 3 aspek yang perlu diketahui dari masyarakat untuk mendukung keberhasilan program persampahan 3R terpadu yaitu : norma, persepsi dan perilaku masyarakat tehadap sampah dan pengelolaannya. Dari ketiga aspek tersebut maka akan diperoleh antara lain : · · · · · · Wawasan masyarakat terhadap lingkungan secara umum terutama terhadap pengelolaan sampah, Tingkat kesadaran masyarakat terhadap dampak buruk pengelolaan sampah yang tidak baik Persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah saat ini Perilaku masyarakat dalam mengelola sampah Penerimaan masyarakat terhadap pengelolaan sampah terpadu 3R Kesanggupan masyarakat dalam iuran sampah

Tahapan perencanaan survey sosial terdiri dari : · Penentuan jumlah responden, yaitu menentukan jumlah warga yang akan dijadikan responden dalam penelitian dengan cara sebagai berikut :  Menentukan populasi (jumlah seluruh warga) dari lokasi yang akan melaksanakan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat,  Menentukan jumlah populai per strata tingkat kemapanan ekonomi jika akan dilakukan survey sosial per strata yaitu : strata tempat tinggal pendapatan tinggi, sedang, dan rendah,  Menentukan jumlah responden sesuai kaidah ilmu statistik yang berlaku.  Pemberitahuan atau permintaan izin dari instansi terkait dan pengurus wilayah (RT/RW/Lurah).

16

·

Penyusunan kuesioner, yaitu bahan acuan untuk melakukan pendataan yang dapat dilakukan secara pasif dengan membagikan kuesioner kepada responden atau aktif dengan wawancara langsung. Pada penyusunan kuesioener perlu diperhatikan :  Data tentang masyarakat yang ingin dikumpulkan,  Pertanyaan yang mudah dicerna dan tidak terlalu banyak Pengarahan surveyor yaitu memberikan pengarahan terhadap calon pewawancara jika akan dilakukan survey dengan wawancara langsung. Beberapa persyaratan untuk surveyor adalah :  Mengenal daerah yang akan disurvey  Memiliki latar belakang sosial (dari mahasiswa jurusan sosial)  Memiliki kemampuan wawancara. Pelaksanaan survey , pelaksanaan survey ini dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan dengan memperhatikan :  Waktu pelaksanaan yang tidak mengganggu responden  Bukan pada saat yang sama dengan kegiatan khusus misalnya pilkades, lebaran, dan lain-lain Pengolahan dan analisa data survey Perumusan hasil pelaksanaan survey, yaitu kesimpulan survey yang dapat dirumuskan melalui eberapa metoda :  Sosial mapping dari lokasi pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat  Tingkat kemauan masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R

·

·

· ·

17

2.4.3

Penelitian Komposisi dan Timbulan Sampah

Komposisi sampah di berbagai kota di Indonesia pada umunya didominasi oleh sampah organic yang dapat mencapai 70% dan non-organik 30%. Dari jumlah tersebut 75% sampah tersebut dihasilkan dari kegiatan permukiman (SNI tentang Timbulan Sampah Kota Sedang dan Kecil, 1977). Semakin maju tingkat ekonomi suatu kota/Negara, menunjukkan kecenderungan semakin menurunnya komponen sampah organic dan meningkatnya komponen sampah organic seperti kertas, plastik, logam. Secara umum komposisi sampah dapat dibedakan dalam beberapa komponen yaitu: a. Sampah Organik; yang dapat terdiri dari sisa makanan dan daun b. Sampah Kertas; yang dapat berupa kardus, karton, kertas HVS, kertas Koran, dll. c. Sampah Plastik; baik berupa kantung plastik, botol plastik bekas kemasan, jerigen, dll. d. Sampah Kayu; baik berupa potongan kayu, furnitur bekas, dll e. Sampah Karet; baik berupa ban bekas, lembaran karet, dll f. Sampah Kulit; yang dapat berupa lembaran, potongan kulit dll g. Sampah Kaca/beling; baik berupa potongan kaca, botol kaca, gelas kaca, dll h. Sampah kain/perca; yang dapat berupa potongan kain, atau pakaian bekas/rusak,dll i. Sampah lain-lain; yang dapat berupa pecahan keramik, dan sisa sampah yang tidak termasuk dalam kategori diatas j. Sampah B3 rumah tangga; dapat berupa batu baterai bekas, kaleng bekas kemasan insektisida, lampu TL/Neon, kaleng bekas cat, hair spray, obat-obatan kedaluarsa, dan lain sebagainya.

18

Tujuan dari survey timbulan dan komposisi sampah ini adalah untuk mendapatkan suatu besaran nilai timbulan sampah yang selanjutnya digunakan dalam perencanaan dan pengelolaan sampah Perencanaan penelitian lapangan komposisi dan timbulan sampah dilakukan dalam beberapa tahapan kegiatan yaitu : · · · · Menentukan wilayah yang akan diteliti Menentukan jumlah rumah yang akan diteliti, Mempersiapkan peralatan dan tenaga peneliti Mengurus perizinan dari instansi terkait

Peralatan dan perlengkapan yang digunakan terdiri dari: · · · · · Alat pengambil contoh berupa kantong plastik dengan volume 40 liter; Alat pengukur volume contoh berupa kotak berukuran 20 cm X 20 cm X 100 cm yang dilengkapi dengan skala tinggi Timbangan (0 - 5 ) kg dan ( 0 – 100 ) Kg Alat pengukur, volume contoh berupa bak berukuran ( 1,0 m X 0,5 m X 1,0 m) yang dilengkapi dengan skala tinggi; Perlengkapan berupa alat pemindah ( seperti sekop) dan sarung tangan

2.5

Pemilihan Sistem Pengelolaan Sampah terpadu 3R Berbasis Masyarakat

Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat terdiri dari dua alternatif sesuai dengan lingkup pelayanannya yaitu : · · Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat Skala Rumah Tangga Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat Skala Kawasan

19

SKALA RUMAH TANGGA Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat Skala Rumah Tangga adalah sistem pengelolaan sampah yang menerapkan pemberdayaan masyarakat dalam mengurangi sampah di sumbernya yaitu rumah tangga.

KOMPOSTER

KOMPOS

ORGANIK BAHAN KOMPOS ORGANIK RESIDU

KOMPOS

MATERI DAUR ULANG GEROBAK/ MOTOR 3R TPST RESIDU

LAPAK

RUMAH TANGGA

B3

TPA

NON ORGANIK RESIDU PENANGANAN B3 LANJUTAB NON ORGANIK KERAJINAN TANGAN

SAMPAH CAMPUR

SKALA SUMBER

SKALA KAWASAN

Sistem ini memerlukan beberapa kriteria lokasi seperti berikut : · · · · Masyarakat di wilayah pelayanan bersedia melakukan pengolahan sampahnya secara mandiri Tidak ada lokasi yang memadai untuk pengolahan sampah secara terpusat Dukungan dari tokoh masyarakat Dukungan dari pemerintah lokal setempat

20

SKALA KAWASAN Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu Skala Kawasan adalah sistem pengelolaan sampah yang melakukan pengurangan sampah secara terpusat di lokasi tertentu.
KOMPOSTER KOMPOS

ORGANIK BAHAN KOMPOS ORGANIK RESIDU

KOMPOS

MATERI DAUR ULANG GEROBAK/ MOTOR 3R TPST RESIDU

LAPAK

RUMAH TANGGA

B3

TPA

NON ORGANIK RESIDU PENANGANAN B3 LANJUTAB NON ORGANIK KERAJINAN TANGAN

SAMPAH CAMPUR

SKALA SUMBER

SKALA KAWASAN

Sistem ini memerlukan beberapa kriteria lokasi seperti berikut : · Ada lokasi untuk TPST (mendekati 1000 m2) untuk pengolahan sampah secara terpusat · Dukungan dari masyarakat sekitar lokasi · Dukungan tokoh masyarakat · Adanya Kelompok Kerja Masyarakat sebagai pengelola · Adanya pendanaan yang cukup · Dukungan dari pemerintah lokal setempat Pada penerapannya, dapat dilakukan kombinasi antara kedua sistem tersebut sesuai dengan kemauan masyarakat setempat.

2.6

Pemilihan Teknologi

Teknologi atau metoda yang berkaitan dengan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarkat sangat terkait erat dengan sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat yang pada umumnya terdiri dari subsistem pewadahan, subsistem komposter rumah tangga, subsistem pengumpulan, dan subsistem pengolahan sampah terpusat untuk kawasan. 21

2.6.1

Teknologi Pewadahan

Subsistem pewadahan merupakan subsistem awal dalam sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat yang merupakan subsistem yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dalam pemilihan teknologi untuk peawadahan, maka ada beberapa kriteria yang sebaiknya diikuti secara benar yaitu : · Volume pewadahan minimal dapat menampung sampah dari penghuni untuk jangka waktu minimal 3 hari untuk sampah non organik dan 1 hari untuk sampah organik. Terbuat dari bahan yang cukup kuat, tahan basah untuk sampah organik, sehingga umur teknis dari pewadahan minimal dapat mencapai 6 bulan. Pada metoda pewadahan terpilah sesuai prinsip 3R maka setiap wadah dapat menyimpan sesuai jenis sampah yang akan disimpan. Untuk itu pada perencanaan perlu dirujuk hasil penelitian lapangan komposisi sampah setempat. Bahan wadah paling baik dapat diperoleh secara lokal. Pada metoda pewadahan terpilah 3R, maka warna wadah sebaiknya spesifik untuk setiap jenis sampah. Untuk menambah estetika yang lebih baik maka wadah dilengkapi dengan tutup. Mudah dalam operasi pemasukan sampah maupun pengosongan sampah. Mudah dalam perawatan.

·

·

· · · · ·

22

Perencanaan penentuan wadah sampah di sumbernya dilakukan melalui tahapan sebagai berikut : · · Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah, maka diperoleh perkiraan timbulan sampah per orang per hari pada lokasi terpilih, Dari penelitian sosial, diperoleh :  Jumlah hunian rata-rata pada rumah tangga  Kebiasaan masyarakat membuang sampah. Untuk sampah campuran, volume wadah dihitung berdasarkan : (jumlah hunian ratarata) x 3 liter/orang/hari x 3 hari. Untuk program 3R, volume wadah disesuaikan dengan jenis sampah yang akan dipilah sebagai berikut :  Wadah sampah organik : (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampah organik/ orang/hari x 1 hari.  Wadah sampah non organik : (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampan non organik/orang/hari x 3 hari. Pemilihan warna dilakukan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut :  Warna gelap untuk sampah yang mudah membusuk  Warna terang untuk sampah kering non organik (dapat lebih dari satu tergantung jenis sampah yang dipilah)  Warna merah untuk bahan berbahaya dan beracun.

· ·

·

2.6.2

Teknologi Pengkomposan dengan Komposter

Dalam sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat maka pengolahan sampah di rumah tangga merupakan salah satu kegiatan penting dalam daur ulang sampah. Penggunaan komposter dalam proses pengkomposan sampah organik di rumah tangga. Beberapa teknologi komposter rumah tangga yang sekarang ini banyak digunakan antara lain :

23

Keranjang Tatakura

Drum komposter statis.

Drum komposter putar

Kriteria dalam pemilihan komposter rumah tangga adalah : · Volume komposter minimal dapat menampung sampah organik dari dapur untuk jangka waktu minimal 40 hari. · Satu rumah minimal menyediakan 2 (dua) unit komposter. · Terbuat dari bahan yang cukup kuat, tahan basah untuk sampah organik, sehingga umur teknis dari komposter minimal dapat mencapai 1 tahun. · Terdapat lubang pengudaraan yang cukup · Bahan pembuatan komposter paling baik dapat diperoleh secara lokal. · Harus dilengkapi dengan tutup. · Mudah dalam operasi pemasukan maupun pengosongan sampah. · Mudah dalam perawatan.

24

Pada perencanaan pengkomposan sampah organik skala rumah tangga, maka dilakukan beberapa tahapan antara lain : · Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah, maka diperoleh perkiraan timbulan sampah per orang per hari pada lokasi terpilih, asumsi rata –rata 3 liter / orang/hari Dari penelitian sosial, diperoleh :  Jumlah hunian rata-rata pada rumah tangga  Kebiasaan masyarakat membuang sampah. Volume komposter sampah organik dari dapur dapat ditentukan melalui perkiraan sebagai berikut : (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampah organik/orang/hari x 40 hari x 0,2. Rata-rata volume komposter 50 liter, jika tingkat hunian lebih dari 5 orang, maka dapat digunakan kelipatannya. Diperlukan minimal dua komposter untuk setiap rumah tangga, dengan tata cara penggunaan, komposter yang sudah penuh perlu didiamkan selama sebulan lagi dan dipanen jika komposter satunya sudah penuh.

·

·

·

2.6.3

Teknologi Daur Ulang Sampah Non Organik Skala Rumah Tangga

Daur ulang sampah non organik untuk kertas dan plastik dapat dilakukan di rumah tangga. Dari best practice yang dilakukan oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, daur ulang sampah non organik kertas dan plastik biasanya untuk membuat barang seni seperti kertas seni, tas plastik, hiasan plastik, dll. Kriteria daur ulang sampah non organik : · · · · Tidak berbahaya bagi kesehatan Tidak menggunakan bahan kimia beracun Tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan Mudah dilaksanakan

25

Secara umum, perencanaan kegiatan daur ulang sampah non-organik dapat dilaksanakan berdasarkan beberapa hal dibawah ini, antara lain: Sampah yang akan didaur ulang sebaiknya berupa bahan yang terdiri dari kertas, plastik, karet/kulit dan logam. Bahan ini memiliki nilai ekonomi tinggi, namun dalam pelaksanaannya memerlukan penanganan khusus (pemilahan sesuai jenis dan bahan penyusunnya), merupakan bahan daur ulang kualitas baik, dan dipilah sejak dari sumbernya Pemasaran produk daur ulang, dapat dilaksanakan dengan cara menjalin kerjasama dengan pihak lapak besar atau langsung dengan industri/organisasi pengguna bahan tersebut (misal industri kertas daur ulang, industri pengolah logam, pengolah karet bekas, dll) Untuk limbah yang dikategorikan sebagai bahan B3, sebaiknya bahan ini hanya dikumpulkan dalam wadah khusus yang tidak mudah bocor dan diberi label. Daur ulang bahan B3 ini sebaiknya di koordinasikan dengan pihak pengumpul resmi yang memiliki ijin atau dinas kebersihan kota/kabupaten.

2.6.4

Teknologi Pengumpulan Sampah

Pengumpulan sampah merupakan subsistem setelah pewadahan. Pengumpulan sampah dapat dilakukan langsung oleh kendaraan pengangkut sampah atau tidak langsung melalui penggunaan gerobak atau motor sampah. Pada kasus sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat maka pengumpulan dilakukan melalui penggunaan gerobak atau motor sampah. Dalam perencanaan teknologi pengumpulan maka digunakan beberapa kriteria sebagai berikut :

26

· Volume gerobak atau motor sampah 1 m3 sehingga satu unit pengumpul dapat melayani 300 jiwa atau sekitar 60 kk untuk timbulan sampah 3 liter/orang/hari. Untuk timbulan yang berbeda (sesuai hasil penelitian lapangan) maka cakupan pelayanan satu unit pengumpul dapat diperkirakan sebagai berikut : 1000 liter/(timbulan sampah dlm liter/ orang/hari). · Kondisi topografi yang berbukit hanya dapat dilayani dengan motor sampah · Kondisi topografi yang datar dapat menggunakan gerobak atau motor sampah. · Pengumpulan sampah terpilah dapat dilakukan :  Gerobak atau motor 3R yang tersekat sesuai jenis sampah yang terpilah digunakan sesuai hasil pemilahan  Gerobak tanpa sekat digunakan dengan jadwal tertentu · Mempunyai umur teknis minimal 1 tahun · Menggunakan ban angin. Perencanaan pengumpulan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat Menggunakan beberapa tahapan sebagai berikut : · Pendataan jumlah warga pada lokasi terpilih · Penentuan jumlah gerobak atau motor 3R yang dibutuhkan dengan cara : ((jumlah warga) x jumlah timbulan sampah/orang/hari)/1000 liter/rit per hari. · Pemilihan jenis pengumpul dilihat dari topografi lokasi · Penyusunan anggaran investasi sesuai harga satuan setempat · Penyusunan anggaran operasi pengumpulan yang terdiri dari :  Biaya tetap :  Pegawai  Asuransi  Pemeliharaan  Biaya variabel :  Bahan bakar · Penyusunan jadwal pengumpulan

27

2.6.5

Teknologi Pengolahan Sampah Skala Kawasan

Teknologi pengolahan sampah terpadu skala kawasan yang disebut juga dengan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Tempat pengolahan sampah terpadu berdasarkan best practice yang ada biasanya terdiri dari proses pemilahan, pengkomposan dan proses pengemasan bahan non organik untuk daur ulang. Dari TPST ini akan keluar produk berupa kompos dan bahan lapak. Pada perencanaan teknologi pada TPST maka ada beberapa kriteria antara lain : · Fasilitas TPST terdiri dari :  Luas lahan yang paling baik mendekati 1.000 m2 untuk keperluan lahan pengkomposan, kantor pengendalian, dan gudang penyimpanan.  Bangunan pelindung untuk :  Areal pemilahan  Areal pengkomposan  Kantor pengendali  Gudang penyimpanan  Peralatan mesin pendukung :  Pencacah organik  Pengayak kompos  Pencacah plastik  Buffer Zone

28

·

Karakteristik proses pengkomposan :  Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan open windrows mempunyai ukuran lebar 2 meter, tinggi 1,5 meter dan panjang minimal 2 meter (dapat lebih dari ini sesuai lahan yang ada).  Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan metode caspary lebar 1 meter, panjang 1 meter, dan tinggi 1 meter. Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan metode open bin : lebar 1 meter, panjang 2 meter, dan tinggi 1 meter.

·

Data yang dibutuhkan :    Jumlah warga yang terlayani jumlah sampah yang akan diolah di TPST. Tersedianya data komposisi sampah.

29

Perencanaan teknologi pengolahan sampah skala kawasan dilakukan pada beberapa tahapan : · Penentuan wilayah/jumlah warga yang akan dilayani · Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah, dapat diperkirakan jumlah sampah yang harus diolah yang terdiri dari jumlah sampah organik dan sampah non organik. · Bersama-sama warga menentukan metoda atau teknologi yang akan diterapkan, untuk pengkomposan sampah ada beberapa pilihan : teknologi open windrows, teknologi caspary dan open bin sesuai dengan tenaga dan biaya yang ada. · Menentukan layout dari TPST dengan memperhatikan jumlah sampah organik yang akan dikomposkan, metode yang akan digunakan, dan bentuk lahan yang ada. · Menentukan organisasi pengelola · Penyusunan anggaran investasi sesuai harga satuan setempat · Penyusunan anggaran operasi pengumpulan yang terdiri dari :  Biaya tetap :  Pegawai  Asuransi  Pemeliharaan  Biaya variabel :  Bahan bakar  Listrik

2.7

Perancangan Model Pengelolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat

Untuk perancangan model pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat maka akan digunakan asumsi pengelolaan satu kawasan dengan jumlah jiwa dikelola 1.000 orang atau setara dengan 200 rumah (1 rumah diperkirakan 5 penghuni).

30

2.7.1

Sistem Pengolahan Sampah Skala Rumah Tangga

Diagram alir pada sistem peneglolaan sampah skala rumah tangga adalah seperti Gambar berikut : Gambar 2.1. Diagram pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat.

KOMPOSTER

KOMPOS

ORGANIK BAHAN KOMPOS ORGANIK RESIDU

KOMPOS

MATERI DAUR ULANG GEROBAK/ MOTOR 3R TPST RESIDU

LAPAK

RUMAH TANGGA

B3

TPA

NON ORGANIK RESIDU PENANGANAN B3 LANJUTAB NON ORGANIK KERAJINAN TANGAN

SAMPAH CAMPUR

SKALA SUMBER

SKALA KAWASAN

31

Modul 3R-1000 skala rumah tangga mempunyai karakteristik sebagai berikut : · · · · Melayani 1000 jiwa atau setara dengan 200 kk Tidak mempunyai lahan kosong. Dengan asumsi timbulan sampah 3 liter/orang/hari maka jumlah sampah yang diolah adalah 3.000 liter per hari atau 3 m3/hari Dengan asumsi komposisi organik 60 % (nilai ini dapat berubah sesuai hasil penelitian timbulan dan komposisi setempat) maka berdasarkan pengalaman best practice, hanya 40 % dapat dikomposkan, sisanya 20 % berupa residu organik. · Dengan mempertimbangkan lama proses pengkomposan 40 hari dan penyusutan karena lapuk dan penguapan, maka volume komposter yang digunakan per rumah tangga dengan 5 jiwa/rumah tangga adalah 50 liter. · · Jumlah komposter per rumah tangga 2 unit sehingga modul 3R-1000 rumah tangga membutuhkan 400 unit komposter. Gerobak/motor 3R yang dibutuhkan 2 unit.

32

Spesifikasi dari pewadahan sampah non organik adalah sebagai berikut : · · · · Volume wadah 50 liter Bahan terbuat dari bahan tahan air Dilengkapi tutup Warna terang

Spesifiaksi komposter : · · · · Volume 50 liter Berlubang pada dinding dan dasar Dilengkapi tutup Bahan komposter terbuat dari bahan tahan air

Spesifikasi gerobak: · · · · · Volume bak 1 m3 Terbuat dari bahan tahan air Menggunakan ban angin Lebar maksimal 1 meter Mudah dalam mengoperasikan

Spesifikasi motor 3R : · · · · Volume bak 1,2—1 ,5 m3 Terbuat dari bahan tahan air Menggunakan ban angin Mudah dalam mengoperasikan

33

Motor Sampah

Gerobak Sampah untuk Sampah Terpilah
Gerobak Sampah untuk Sampah Terpilah

Gerobak Sampah Tercampur

34

2.7.2

Modul Pengelolaan sampah Terpadu 3R berbasis masyarakat skala kawasan 200 KK

Diagram alir pada sistem pengelolaan sampah skala kawasan di TPST adalah seperti pada Gambar 2.2. Diagram alir ini dengan asumsi tidak ada pemilahan di rumah tangga. Gambar 2.2. Diagram Alir Sistem Pengelolaan Sampah Skala Kawasan

KOMPOSTER

KOMPOS

ORGANIK BAHAN KOMPOS ORGANIK RESIDU

KOMPOS

MATERI DAUR ULANG GEROBAK/ MOTOR 3R TPST RESIDU

LAPAK

RUMAH TANGGA

B3

TPA

NON ORGANIK RESIDU PENANGANAN B3 LANJUTAB NON ORGANIK KERAJINAN TANGAN

SAMPAH CAMPUR

SKALA SUMBER

SKALA KAWASAN

35

Modul 200 KK mempunyai karakteristik sebagai berikut : · · · · · Mampu melayani 1000 jiwa atau setara dengan 200 kk Mempunyai lahan kosong Diasumsikan 50 % warga bersedia mengkomposkan. Dengan asumsi timbulan sampah 3 liter/orang/hari maka jumlah sampah yang diolah adalah 3.000 liter per hari atau 3 m3/hari Dengan asumsi komposisi organik 60 % (nilai ini dapat berubah sesuai hasil penelitian timbulan dan komposisi setempat) maka berdasarkan pengalaman best practice, hanya 40 % dapat dikomposkan, sisanya 20 % berupa residu organik. · Dengan mempertimbangkan lama proses pengkomposan 40 hari dan penyusutan karena lapuk dan penguapan, maka volume komposter yang digunakan per rumah tangga dengan 5 jiwa/rumah tangga adalah 50 liter. · · · Jumlah komposter per rumah tangga 2 unit sehingga modul 3R-1000 rumah tangga membutuhkan 200 unit komposter. Gerobak/motor 3R yang dibutuhkan 3 unit. TPST dengan karakteristik :    · Luas lahan keseluruhan 200 m2 Terdapat fasilitas pemilahan, pengkomposan dan penangan barang daur ulang. Lahan pengkomposan 100 m2 dengan 8 tumpukan.

Sampah non organik dikemas di TPST dan dikirim ke lapak.

36

Spesifikasi TPST : · · · · · · · · · · Kapasitas 3 m3 per hari Melayani 200 kk atau 1000 jiwa Metode pengkomposan open windrows dengan ukuran lebar 1,5 meter, panjang 2 meter, tinggi 1,5 meter Pemilahan dilakukan manual tanpa ban berjalan Alat pengemas bahan non organik manual. Pembalikkan tumpukan dilakukan secara manual. Jumlah tumpukan (open windrows) 14 unit. Hasil kompos 1,2 ton per hari. Waktu panen 40 hari. Mesin pendukung :  Alat pengayak kompos  Alat pencacah organik

2.8

Perencanaan Peneglolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat

Pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat mencakup pengorganisasian, pembiayaan, dan pengoperasian TPST.

37

2.8.1

Kelembagaan.

Pengorganisasian pengelolaan TPST sesuai aliran proses pengolahan sampah. Struktur organisasi TPST adalah sebagai berikut :

KEPALA TPST

SEKRETARIS

BENDAHARA

SEKSI DIKLAT

SEKSI DAUR ULANG

SEKSI PEMILAHAN

SEKSI PENGKOMPOSAN

SEKSI PEMASARAN/ PEMANFAATAN

SDM yang diperlukan untuk seluruh kerja TPST diperkirakan 5 orang untuk pekerja lapangan, 1 orang untuk bendahara merangkap sekretaris, dan satu kepala unit,.

38

2.8.2

Pengoperasian TPST

Pengoperasian TPST dilakukan melalui tahapan sebagai berikut : · Pemilahan sampah :  Pembongkaran sampah dari gerobak/motor sampah  Penyebaran sampah dipelataran pemilahan  Pemilahan sampah organik dan non organik secara manual  Pemilahan sampah non organik berdasar komponen Pengkomposan :  Penyusunan tumpukan sampah organik pada lajur yang ditentukan  Pembalikan tumpukan satu kali seminggu  Penyiraman dan pengukuran suhu tumpukan  Pematangan kompos  Pengeringan  Pengayakan  Pengemasan Daur ulang non organik  Pemilahan komponen non organik sesuai permintaan lapak  Pengemasan per komponen non organik terpilah  Pengiriman bahan lapak.

·

·

39

2.8.3

Pembiayaan

Pembiayaan TPST terdiri dari biaya investasi, biaya operasional yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.

Biaya Investasi.
Biaya investasi sebenarnya harus mengikuti harga satuan setempat. Untuk perkiraan maka digunakan pengalaman dari Best Practice yaitu berkisar antara Rp. 100 juta – 250 juta per ton kapasitas.

Biaya Operasi
Biaya operasi TPST yang terdiri dari : · Biaya tetap :  Pegawai yang besarnya sesuai dengan Upah Minimum Regional setempat.  Asuransi yang berkisar 10 % dari biaya pegawai.  Pemeliharaan :  Bangunan sekitar 1 % dari investasi bangunan per tahun  Listrik sekitar 1,5 % dari investasi listrik per tahun  Mesin 3 % dari nilai investasi mesin per tahun. · Biaya variabel :  Bahan bakar  Listrik

40

2.8.4

Pengaturan

Dalam pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman, diperlukan beberapa surat keputusan untuk mengatur kelancaran operasi dari sistem yaitu : · · · Surat keputusan mengenai pembentukkan organisasi pengelola (Kelompok Swadaya Masyarakat yang dikeluarkan oleh institusi terkait (RW/Lurah/Camat) Surat Keputusan mengenai tata tertib kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah oleh institusi terkait (RW/Lurah/Camat) Surat Keputusan mengenai iuran pengelolaan sampah oleh institusi terkait (RW/Lurah/ Camat)

41

BAB III PENUTUP
Pedoman Perencanaan Kegiatan 3R Berbasis Masyarakat ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketiga buku pedoman lain. Pedoman ini merupakan dasar yang harus ditindak lanjuti didalam buku 3 (tiga) tentang Pedoman Pelaksanaan dan buku 4 (empat) tentang pedoman monitoring evaluasi dan pengembangan. Pedoman perencanaan ini meliputi seleksi kota/kabupaten, seleksi lokasi, penyiapan masyarakat, pengumpulan data, pemilihan teknologi, perancangan modul, dan pengoperasian prasarana dan sarana.

42

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

BUKU III
Pedoman Pelaksanaan 3 R Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman

DAFTAR ISI
BUKU III : PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN 3R BERBASIS MASYARAKAT DI KAWASAN PERMUKIMAN
1. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1.3 SASARAN 2. PERSIAPAN PELAKSANAAN 3R 2.1 SELEKSI KOTA/KABUPATEN 2.2 SELEKSI LOKASI 2.3 PEMILIHAN FASILITATOR 2.4 SURVEY LAPANGAN 3. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 3.1 PENENTUAN KELEMBAGAAN 3.2 RENCANA KERJA MASYARAKAT 3.3 PENDAMPINGAN MASYARAKAT 3.4 PELATIHAN 3.5 ASPEK PEMBIAYAAN PENGELOLAAN SAMPAH 3R SKALA INDIVIDUAL/ RUMAH TANGGA 4.1 PEMILIHAN TEKNOLOGI SKALA RUMAH TANGGA 4.2 CONTOH PENGOLAHAN SAMPAH RUMAH TANGGA PENGELOLAAN SAMPAH 3R SKALA KAWASAN 5.1 PENENTUAN LOKASI TPST 5.2 PENENTUAN TEKNOLOGI SKALA KAWASAN

4.

5.

6. KEBERLANJUTAN PROGRAM 7. PENUTUP

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat merupakan langkah kedua setelah dilaksanakannya perencanaan kegiatan. Pelaksanaan ini merupakan dasar dalam pengelolaan sampah baik skala individual maupun skala kawasan. Untuk itu perlu disusun suatu pedoman pelaksanaan. Pedoman pelaksanaan ini meliputi seleksi kota/kabupaten, seleksi lokasi, survey lapangan, analisa, pemilihan teknologi, pemilihan fasilitator, penyusunan rencana kerja, penyusunan peraturan, kelembagaan, pembiayaan, peran serta masyarakat. Selain itu, pedoman pelaksanaan ini meliputi juga pedoman pelaksanaan pembangunan, operasi dan pemeliharaan, monitoring dan evaluasi, serta pengembangan dan replikasi.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud diterbitkannya buku Pedoman pelaksanaan 3R sampah berbasis masyarakat adalah untuk membantu secara teknis pelaku di lapangan dalam pelaksanaan kegiatan 3R sampah mulai dari skala rumah tangga sampai skala kawasan. Tujuannya adalah memberikan informasi secara mendalam mengenai uraian teknis pelaksanaan 3R sampah mulai skala rumah tangga sampai skala kawasan.

2

1.3

SASARAN
Tersedianya pedoman pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat meliputi pengelolaan sampah skala rumah tangga dan skala kawasan.

3

BAB II PELAKSANAAN PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERMUKIMAN
2.1 Pendahuluan
Pendekatan pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman mengacu pada proses pelaksanaan secara umum seperti telah diuraikan pada Buku Pedoman I.
PROSES PELAKSANAAN PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R PERSIAPAN Tahap 1 ( Bulan Februari)

SELEKSI KOTA/ KABUPATEN

Tahap 2 ( Bulan Maret)

SELEKSI LOKASI
· · · ·

Tahap 3 (Bulan April)
Sosialisasi 3R Verifikasi Teknologi Pengolahan Pemilihan Lokasi TPST (utk kawasan) Pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat

SELEKSI FASILITATOR

PENYIAPAN MASYARAKAT

PENDAMPINGAN

SURVAI LAPANGAN (SAMPAH DAN SOSIAL)

Tahap 4 (Bulan Mei)

·

PEMILIHAN METODA DAN TEKNOLOGI 3R

· · ·

PENYUSUNAN RENCANA KERJA MASYARAKAT

PERENCANAAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT

·

Aspek Teknis Operasional Aspek Kelembagaan Aspek Pengaturan Aspek Pendanaan Aspek Peran Serta Masyarakat

SATKER

DED DAN RAB

Tahap 5 (Bulan Oktober)

PENGADAAN SARANA DAN PRASARANA 3R PELAKSANAAN PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT

MONITORING DAN EVALUASI Tahap 6 (Bulan Desember)

KEBERLANJUTAN PROGRAM

PENGEMBANGAN DAN REPLIKASI

Tahap 7

4

2.2 Seleksi Kota/Kabupaten
Untuk melaksanakan pemilihan kota/kabupaten yang akan melaksanakan pengeolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat, maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: · Satuan kerja Departemen PU di provinsi bersama-sama dengan konsultan lokal, konsultan pusat dan Dit PLP-PU pusat melaksanakan workshop satu hari dengan materi:  Penjelasan program pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman dari PLP-Dep PU Pusat.  Pemahaman mengenai sistem pengelolaan sampah oleh PLP-Dep PU Pusat  Pemahaman mengenai pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman oleh tim pakar  Pengalaman pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman (best practice) oleh praktisi lapangan. · Peserta workshop adalah :  Dinas PU dari kota/kabupaten  Dinas yang bertanggung jawab terhadap kebersihan dari kota/kabupaten  LSM
DAFTAR KOTA DALAM SATU PROPINSI

PROSES SELEKSI KOTA/KABUPATEN
SOSIALISASI 3R & PROGRAM PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT - Adanya surat minat yang ditanda-tangani Walikota/Bupati - Adanya Dinas Penanggung Jawab - Berpengalaman dalam implementasi program pembangunan masyarakat secara partisipatif di wilayah kota - Kontribusi biaya sarana fisik, sarana kantor, dan staff dinas penanggung jawab sebagai fasilitator

KOTA TERSELEKSI

5

·

Membagikan format isian bagi kota/kabupaten yang berminat untuk melaksanakan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman yang juga berisi syarat-syarat untuk dipenuhi yaitu :  Walikota / Bupati atau Pejabat yang berwenang berminat untuk implementasi penyelenggaraan pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat dengan membuat surat minat yang ditujukan kepada Departemen Pekerjaan Umum dilengkapi dengan persetujuan lahan TPST yang sesuai dengan Tata Ruang.  Memiliki Dinas atau UPT yang bertanggung jawab dalam bidang kebersihan sebagai Dinas penanggung jawab.  Sebaiknya sudah pernah melakukan kegiatan berbasis masyarakat.  Bersedia kontribusi in cash untuk biaya fisik ; dan in kind yaitu sarana kantor dan staf dinas penanggungjawab sebagai fasilitator.  Kesiapan Dinas Penanggung jawab untuk bekerjasama dengan Tenaga Fasilitator Diutamakan kota / kabupaten yang mempunyai pengalaman 3R sebelumnya Membentuk tim teknis yang untuk pemilihan kota/kabupaten yang berminat. Penerimaan format isian dan dokumen persyaratan yang harus diperunuhi (2 minggu setelah workshop). Tik teknis melakukan proses pemilihan :  Melakukan verifikasi data  Melakukan proses scoring  Melaporkan hasil pemilihan ke Satker Satker menghubungi kota terpilih dan melaporkan ke PLU-Dep PU Pusat.

· ·

·

·

6

2.3 Seleksi Lokasi
Seleksi lokasi dilaksanakan setelah terpilihnya kota/kabupaten yang berniat akan melaksanakan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Untuk memperoleh daftar alternatip lokasi, maka Satuan Kerja PU dan Leading Dinas Terkait melaksanakan beberapa tahapan kegiatan sebagai berikut :

Pemilihan Daftar Pendek (Short List) calon lokasi
· Satuan kerja Departemen PU di provinsi bersama-sama dengan konsultan lokal, konsultan pusat , Leading Dinas dan Dit PLP-PU pusat melaksanakan workshop satu hari dengan materi:  Penjelasan program pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman dari PLP-Dep PU Pusat.  Pemahaman mengenai sistem pengelolaan sampah oleh PLP-Dep PU Pusat  Pemahaman mengenai pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman oleh tim pakar  Pengalaman pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman (best practice) oleh praktisi lapangan. Peserta Workshop adalah :  Dinas terkait pada kebersihan dan pengelolaan sampah kota  Perwakilan dari camat/lurah/kepala desa  Perwakilan warga dari kelurahan/desa  Kelompok aktif di masyarakat  LSM  Perwakilan perguruan tinggi setempat.

·

7

· · ·

Membagikan format isian bagi wilayah yang berminat untuk melaksanakan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman. Membentuk tim teknis yang untuk pemilihan lokasi yang berminat. Penerimaan format isian dan dokumen proposal singkat dari peminat (2 minggu setelah workshop). Proposal singkat memuat data sesuai acuan kriteria lokasi pada Buku II Pedoman Perencanaan Pengelolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat di Permukiman Penyusunan daftar panjang lokasi yang berminat. Tim teknis melakukan proses pemilihan :   Melakukan verifikasi data Melakukan proses scoring sesuai dengan acuan dari Buku II Pedoman Perencanaan Pengelolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat di Permukiman Menyusun daftar pendek lokasi yang berminat Melaporkan hasil pemilihan ke Satker

· ·

 

Pemilihan Lokasi
Setelah diperoleh daftar pendek (short list) calon lokasi maka dilakukan beberapa tahapan sebagai berikut :

Presentasi perwakilan Calon Lokasi pada daftar pendek
· · · Presentasi kepada beberapa kampung shorlist yang memenuhi syarat diruang pertemuan dinas / instasi penanggungjawab. Mengundang 3 – 5 orang wakil dari beberapa kampung shorlist. minimal

Presentasikan program PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT – oleh contoh – putar film (oleh Dinas penanggung jawab).

8

Hasil yang diharapkan : · Permintaan presentasi kepada stakeholder lokasi yang berminat di balai pertemuan Kampung /Lingkungan / RT/RW. · Surat Undangan dari masyarakat untuk melakukan survai cepat (Rapid PaticipatoryRPA). · Syarat untuk mengikuti seleksi lokasi.

RAPID PARTICIPATORY ASSESSMENT (RPA).
· · Dilakukan di lokasi yang menyatakan minat terhadap program PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT dan melibatkan masyarakat kampung./desa. Pelaksanaan RPA adalah :       ·     Persiapan tim fasilitator Penyiapan logistik, materi dan alat-alat lainnya Kontak dengan masyarakat Menentukan waktu dan tempat Melaksanakan pertemuan sesuai skedul dan kesepakatan Komunikasi dan koordinasi dengan semuat pemangku kepentingan. Keseluruhan waktu untuk pelaksanaan RPA biasanya sekitar 20 jam dengan 6 metoda. Waktu pelaksanaan biasanya antara jam 19:00 – 23:00 dalam 2 – 3 kali seminggu. Tempat di balai desa atau ruang pertemuan warga Wakil masyarakat mempresentasikan konsolidasi scoring hasil RPA.

Waktu dan tempat :

9

SELEKSI LOKASI TERPILIH.
Seleksi Kampung dan Lokasi terpilih sebagai berikut : · Memfasilitasi masyarakat dalam melakukan seleksi yang dilakukan secara sendiri · · Masyarakat kampong yang ikut seleksi mempretansikan kondisi kampung/desanya. Masyarakat menghitung dan menentukan sendiri kampung/desa yang paling siap untuk tempat implementasi program PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT. Penandatanganan Berita Acara/BAP hasil Seleksi Kampung/desa adalah : Memberi waktu untuk konfirmasi lahan dsb kepada pemenang kampung ke – 1 (satu) dengan tenggat waktu tertentu. Bila pemenang ke-1 bermasalah , beri kesempatan kepada pemenang kampung ke-2.
DAFTAR LOKASI

· · ·

SOSIALISASI 3R & PROGRAM PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT

PROSES SELEKSI LOKASI

LOKASI BERMINAT

PROSES PEMILIHAN LOKASI

LOKASI TERPILIH

KRITERIA : - Telah dan sedang melakukan kegiatan pelestarian lingkungan seperti penghijauan lingkungan - Adanya kelompok aktif di masyarakat - Adanya tokoh masyarakat yang disegani - Adanya permasalahan sampah - Terdapat sejumlah rumah tangga yang berminat atau mempunyai lahan kosong - Dalam batas administrasi yang jelas (RT, RW, Kelurahan)

·

Penetapan lokasi oleh Bupati/Walikota sesuai dengan Tata Ruang

10

2.4

Penyiapan Masyarakat

Penyiapan masyarakat dilakukan setelah lokasi untuk pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R terpilih. Penyiapan masyarakat merupakan langkah cukup penting bagi keberlanjutan program pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat karena dari tahap ini diharapkan akan dihasilkan fasilitator, Kelompok Kerja Mayarakat, pemilihan metoda atau teknologi yang akan digunakan dalam pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R, lokasi, dan Rencana Kerja Masyarakat. Pada pelaksanaan penyiapan masyarakat maka ada beberapa tahap yang perlu dilakukan yaitu :  Pemilihan fasilitator  Pengumpulan data persampahan di lokasi terpilih  Penelitian sosial  Penelitian komposisi dan timbulan sampah  Sosialisasi kepada masyarakat  Pemilihan lokasi, sistem dan teknologi pengelolaan sampah terpadu 3R  Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat  Pendampingan masyarakat  pelatihan

11

2.4.1
·

Pemilihan Fasilitator

· · ·

·

·

Satuan kerja Dep. PU provinsi bersama konsultan daerah membuat pengumuman di mass media mengenai kebutuhan fasilitator daerah dalam rangka pengelolaan sampah tepadu 3R berbasis masyarakat di permukiman. Penerimaan dokumen lamaran dari fasilitator Penyusunan daftar panjang calon fasilitator Penyusunan daftar pendek calon fasilitator dengan tapisan awal sesuai kriteria pada Buku II Pedoman Perencanaan Pengelolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat di Permukiman tentang kriteria fasilitator. Melakukan wawancara kepada daftar pendek calon fasilitator yang berisikan :  Pemahaman terhadap karakteristik masyarakat di lokasi terpilih  Pengalaman dalam bidang pemberdayaan masyarakat  Kesiapan untuk melaksanakan tugas sebagai fasilitator pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman  Pengetahuan dasar tentang persampahan dan program 3R  Kesediaan tinggal dan bekerjasama dengan masyarakat di lokasi terpilih Pelatihan fasilitator tentang pengelolaan sampah terpadu 3R.
PROSES SELEKSI FASILITATOR
DAFTAR PEMINAT

PENAPISAN AWAL

- Memiliki kemampuan baca tulis - Sehat jasmani dan rohani - Berpengalaman dalam pemberdayaan

DAFTAR PENDEK CALON

PROSES PEMILIHAN FINAL

- Memahami karakteristik masyarakat lokal - Mampu berkomunikasi dengan baik - Memiliki waktu yang cukup untuk melaksanakan tugas sebagai fasilitator - Memiliki pengetahuan dasar tentang persampahan - Bersedia tinggal dan bekerja sama dengan masyarakat di lokasi terpilih

FASILITATOR TERPILIH

12

Tugas fasilitator antara lain : · · · Menyiapkan daftar panjang wilayah Melakukan pengecekan lapangan sesuai persyaratan teknis minimal Mengisi form daftar pendek kampung berdasarkan hasil pengecekan lapangan dan meminta pengesahan dari kepala dinas. Mengundang stakeholder masyarakat yang masuk dalam daftar pendek untuk sosialisasi 3R Menindak lanjuti penjelasan kepada masyarakat sesuai permintaan Melakukan kegiatan Rapid Participatory Assessment (RPA) dikampung yang mengirim undangan Memfasilitasi pertemuan warga Membuat berita acara seleksi kampung Mengikuti pelatihan/training yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat dan Propinsi dan menyampaikan hasil pelatihan pada masyarakat.

·

· ·

· · ·

13

2.4.2

Pengumpulan data persampahan di lokasi terpilih.

Satuan kerja Dep PU Provinsi, konsultan daerah dan fasilitator bersama-sama melakukan pengumpulan data dasar melalui penelitian lapangan, untuk digunakan dalam pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat yang terdiri dari : · Data sosial · Data timbulan dan komposisi sampah

14

2.4.3
· · ·

Penelitian Sosial

· ·

· · · · · ·

Pelaksanaan penelitian sosial dilakukan dengan tahapan : Membuat dokumen yang diperlukan untuk survey sosial dan surat perizinan yang diperlukan. Melakukan kajian awal dari kondisi lokasi yaitu :  Jumlah warga yang akan dilibatkan pada program pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat.  Untuk kasus tertentu, kriteria permukiman dapat dibagi sesuai kategori tingkat ekonomi tinggi, menengah dan rendah.  Penentuan jumlah warga yang akan dijadikan responden sesuai kaidah penelitian sosial yang berlaku, misalnya 5 % dari populasi. Untuk penelitian per strata tingkat ekonomi, maka penentuan jumlah responden dilakukan proporsional.  Penentuan responden yang akan di wawancara secara acak (random).  Membuat daftar responden dan menghubungi instansi terkait dan lurah/RW/RT untuk pelaksanaan penelitian.  Mengirim surat pemberitahuan kepada responden. Penyusunan kuesioner terstruktur Pemilhan surveyor untuk pewawancara yang dapat diambila dari perguruan tinggi setempat pada bidang sosial atau personil LSM/Kelompok aktif di masyarakat dengan kemampuan bidang sosial. Penyusunan jadwal pelaksanaan penelitian lapangan Pengarahan surveyor Pelaksanaan survey Tim konsultan daerah melaksanakan pengawasan Pengolahan dan analisa data oleh tim konsultan daerah Pembuatan peta sosial (social mapping) dari lokasi tempat pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat.

15

2.4.4
· ·

Penelitian Komposisi dan timbulan sampah.

· ·

Membuat dokumen yang diperlukan untuk survey sosial dan surat perizinan yang diperlukan. Melakukan kajian awal dari kondisi lokasi yaitu :  Jumlah warga yang akan dilibatkan pada program pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat.  Untuk kasus tertentu, kriteria permukiman dapat dibagi sesuai kategori tingkat ekonomi tinggi, menengah dan rendah.  Penentuan rumah yang akan dijadikan pengambilan contoh sampah. Volume sampah untuk penelitian komposisi minimal 0,5 m3 atau 500 liter sehingga jumlah rumah untuk pengambilan contoh minimal 40 rumah.  Membuat daftar rumah dan menghubungi instansi terkait dan lurah/RW/RT untuk pelaksanaan penelitian.  Mengirim surat pemberitahuan kepada warga. Menentukan lokasi pemilahan dan penimbangan untuk penelitian komposisi sampah Persiapan logistik penelitian mengacu kepada Buku II Pedoman Perencanaan Pengelolaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat di Permukiman tentang penelitian komposisi sampah berupa :  Kantong plastik untuk pengambilan sampel dari rumah  ATK untuk pencatatan  Ember, garu, terpal, dll., untuk penelitian komposisi sampah  Alat timbangan skala 100 kg dan 5 kg

16

·

· ·

Pelaksanaan penelitian lapangan, dilakukan selama 8 hari berturut-turut (dari Senin ke Senin), atau lebih kecil frekuensinya sesuai biaya yang ada dengan sebelumnya konsultasi kepada ahli sampah dengan cara :  Membagikan kantong plastik yang sudah diberi tanda kepada sumber sampah 1 hari sebelum pelaksanaan  Mencatat jumlah unit masing-masing penghasil sampah  Mengumpulkan kantong plastik yang sudah terisi sampah  Mengangkut seluruh kantong plastik ke tempat pengukuran  Menimbang kotak pengukur  Menuangkankan secara bergiliran conto sampah ke kotak pengukur 40 liter  Menghentakan 3 kali kotak conto dengan mengangkat kotak setinggi 20 cm lalu dijatuhkan ke tanah  Mengukur dan mencatat volume sampah ( Vs)  Menimbang dan mencatat berat sampah (Bs)  Menimbang bak pengukur 500 liter  Mencampur seluruh conto dari setiap lokasi pengambilan dalam bak pengukur  Mengukur dan mencatat volume sampah total dan sampah terpisah berdasarkan jenisnya Pengolahan dan analisa data. Pelaporan

17

2.4.5

Sosialisi Kepada Masyarakat
untuk

Sosialisasi pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis msyarakat bertujuan memperoleh kesepakatan dalam : · Pemilihan lokasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu · Pemilihan metoda atau teknologi 3R yang akan digunakan · Pemilihan sistem pengelolaan sampah terpadu 3R · Pembentukan Kelompok Kerja Masyarakat · Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat

2.4.6

Pemilihan Lokasi, Sistem dan Teknologi Pengelolaan sampah terpadu 3R

Pelaksanaan sosialisasi 3R kepada masyarakat terutama dalam pemilihan lokasi, metoda dan teknologi dapat dilakukan dengan metoda ”metaplan” dimana faktor diskusi sangat minimal. Metode ini memungkinkan setiap peserta dapat mengungkapkan keinginan tanpa dipengaruhi peserta lainnya. Pelaksanaan dari metode ini adalah sebagai berikut : · · Konsultan daerah dan Fasilitator membentuk panitia pelaksana Penyiapan alat berupa :  Spidol  Kertas metaplan tiga warna  Whiteboard Pelaksanaan dapat di balai desa atau ruang pertemuan warga Sesion pertama pemaparan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat di permukiman oleh tenaga ahli.

· ·

18

·

Sesion kedua adalah membagikan kertas ”metaplan” kepada peserta masing-masing berbeda warna untuk wakil pemerintah, masyarakat, dan LSM. Pada sesion ini dilakukan :  Identifikasi masalah pengelolaan sampah lokal  Identifikasi kemungkinan cara pengelolaannya  Penggabungan pendapat dari peserta  Pengelompokan masalah  Pengelompokan cara pengelolaannya Sesion ke tiga adalah membagikan kertas ”metaplan” kepada peserta masing-masing berbeda warna untuk wakil pemerintah, masyarakat, dan LSM. Pada sesion ini dilakukan :  Pemilihan masalah pengelolaan sampah yang paling penting untuk segera di tangani sesuai hasil pengelompokkan pada sesion kedua.  Pemilihan cara pengelolaannya sesuai hasil pengelompokan pada sesion kedua  Sesion ke empatadalah penentuan cara pengelolaan yang paling banyak diminati peserta yang mencakup sistem, lokasi dan pemilihan teknologi.

·

2.4.7

Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat

Untuk pembentukan Rencana Kerja Masyarakat dari hasil yang telah diperoleh pada proses metaplan maka dapat dilakukan tahapan sebagai berikut : · Fasilitator bersama-sama masyarakat melaksanakan penyusunan kegiatan utama 3R yang akan dilakukan didalam kegiatan pertemuan warga (misalnya: rembug warga, FGD, pertemuan rutin warga, dll.). FASILITATOR bertindak sebagai fasilitator yang bertugas mengarahkan proses diskusi penentuan kegiatan utama yang akan dilaksanakan oleh warga dilokasi 3R. FASILITATOR sebelumnya mempersiapkan format tabel isian seluruh kegiatan dan sub kegiatan 3R yang akan dilakukan.

19

·

Setelah didapatkan daftar kegiatan dan sub kegiatan, FASILITATOR bersama-sama warga menentukan detail informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan tersebut, antara lain:  menetapkan periode pelaksanaan serta tahapannya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan/sub-kegiatan  menentukan penanggung jawab pelaksanaan setiap kegiatan sesuai dengan yang akan dilaksanakan. Penentuan penanggung jawab ini sebaiknya melibatkan peran serta warga yang ditentukan melalui musyawarah warga  menetapkan waktu awal dan akhir pelaksanaan kegiatan/sub kegiatan  menetapkan anggota pelaksana kegiatan/sub kegiatan  menetapkan daftar kebutuhaan bahan dan peralatan yang diperlukan untuk setiap kegiatan/sub kegiatan  menetapkan alokasi kebutuhan biaya yang diperlukan untuk setiap kegiatan / subkegiatan  menetapkan perkiraan target akhir penyelesaian kegiatan / sub-kegiatan beserta indikator monitoring dan evaluasinya bagi setiap kegiatan/sub-kegiatan yang dianggap telah selesai Setelah daftar kegiatan dan sub-kegiatan dianggap selesai, FASILITATOR bersama warga melaksanakan pemeriksaan akhir dengan memfokuskan pada:  konsistensi pelaksanaan kegiatan/sub-kegiatan yang didasarkan pada alokasi pembiayaan dan ketersediaan sumber daya dilapangan  beban kerja masing-masing anggota tim yang ditugaskan / penanggung jawab kegiatan  konsisten dengan alokasi penetapan waktu yang telah direncanakan.

·

Pelaksanaan program 3R didasarkan atas azas kebutuhan masyarakat. Dalam pelaksanaan pengelolaan sampah skala rumah tangga perlu dibuatkan jadwal kegiatan, berdasarkan perencanaan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

20

2.4.8

Pendampingan Masyarakat

Kegiatan pendampingan merupakan langkah pemantauan atas pelaksanaan/terapan dari seluruh rencana kegiatan. Kegiatan ini lebih difokuskan pada kelancaran teknis pengelolaan sampah di sumber maupun di TPST. Dalam kegiatan ini tetap dilakukan sosialisasi / kampanye program dalam upaya melakukan pengembangan atau Replikasi ditempat lain.

2.4.9

Pelatihan

Pelatihan merupakan proses pembekalan atas pilihan teknologi yang akan dipakai, sarana sosialisasi dan advokasi kepedulian warga terhadap program. Materi pelatihan dimulai dari sistem pengolahan sampah skala rumah tangga, sampai terapan pengolahan sampah skala kawasan.

Materi Pelatihan
Materi umum : · Sosialisasi perencanaan program · Pengertian Pengelolaan sampah 3R · Pemahaman tentang sampah dan dampaknya · Aspek Kelembagaan · Aspek keuangan secara umum Materi Teknis: a. Pengelolaan sampah skala rumah tangga, meliputi: · Proses pengumpulan · proses pewadahan · proses pemilahan · proses pengolahan sampah organik · proses pengolahan sampah non-organik · proses pengolahan residu · proses pemanfaatan hasil 21

b. Pengelolaan sampah skala kawasan, meliputi:
· · · · · · · · · proses pengangkutan terpilah dari sumber proses pengumpulan proses pemilahan proses pengolahan sampah organik proses pengolahan sampah non-organik proses pengolahan residu proses pengolahan lindi proses penanganan B3 proses pemanfaatan hasil

Jenis Pelatihan · Pelatihan Untuk Pelatih (TOT) · Pelatihan Untuk warga skala rumah tangga · Pelatihan Untuk pelaksana pengelola skala kawasan Peserta Pelatihan · Fasilitator · Organisasi Masyarakat 3R (KSM) · Satker · Warga yang terlibat langsung di lokasi 3R · warga yang tidak terlibat langsung (dari lain lokasi) Waktu Pelatihan · Pelatihan TOT : 2 hari (70 % praktek lapangan, 30 % teori) · Pelatihan Pengelola 3R skala rumah tangga : 3 hari (70 % praktek lapangan, 30 % teori) · Pelatihan Pengelola 3R skala kawasan : 3 hari (70 % praktek lapangan, 30 % teori) Metoda Pelatihan · Ceramah (tutorial) · Tanya jawab · Diskusi Kelompok · Kunjungan lapangan (studi banding) 22

2.5

Aspek Pembiayaan

Aspek pembiayaan dalam kegiatan pengelolaan sampah 3R ini diperlukan untuk memberikan panduan khususnya skala rumah tangga dan kawasan. Pembiayaan skala rumah tangga dan kawasan ; · pembelian/pengadaan sarana pewadahan · pelatihan warga tentang pemilahan skala rumah tangga · pembiayaan studi banding / benchmarking · penguatan kelembagaan · kunjungan · pameran · kampanye peranserta · pembangunan TPST · sarana pengolahan sampah organik –nonorganik · sewa lahan · tenaga kerja · Listrik · Suku cadang

23

Bab III PENGELOLAAN SAMPAH 3R
3.1. SKALA RUMAH TANGGA
Pada prinsipnya teknologi yang dipilih adalah tepat guna dan ramah lingkungan. Dalam pengelolaan sampah skala rumah tangga melibatkan seluruh penghuni rumah, meliputi kegiatan pengurangan (minimasi) dan penanganan sampah. Proses pengurangan dimulai sejak sampah belum terbentuk, seperti menghemat penggunaan bahan, membatasi konsumsi sesuai kebutuhan, memilih barang yang sedikit mengandung sampah dsb. Penanganan adalah proses pengelolaan mulai dari pewadahan, pemilahan dan pengolahan. Komponen pemilahan minimal dilakukan terhadap sampah yang mudah terurai, tidak mudah terurai dan sampah B3. Pengelolaan dilakukan melalui upaya pemanfaatan kembali sampah dan mendaur ulang, sesuai fungsinya seperti penggunaan botol minuman dan kemesan lainnnya. Mendaur ulang dilakukan dengan memilih sampah menurut jenisnya baik yang memiliki nilai ekonomi seperti plastik, kertas, gelas, logam dll, dikreasi menjadi hasta karya. Adapun sampah material kompos yang mudah terurai diolah melalui pengomposan. Pengolahan sampah material kompos harus dilakukan setiap hari.Dalam mengolah sampah anorganik perlu dipertimbangkan kegiatan tersebut tidak berbahaya bagi lingkungan, tidak menggunakan bahan kimia beracun dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Untuk limbah B3 ditangani secara khusus melalui pewadahan tersendiri dan terpisah dari jenis sampah lain. Pelaksanaan pemilihan teknologi dilakukan dengan sesuai dengan hasil survai sampah dan sosial, satuan kerja PU bersama-sama dengan konsultan daerah membuat analisis dan menentukan alternatif teknologi pengolahan yang akan diterapkan.

24

KOMPOSTER

KOMPOS

ORGANIK BAHAN KOMPOS ORGANIK RESIDU

RUMAH TANGGA

B3

GEROBAK/ MOTOR 3R

NON ORGANIK RESIDU

NON ORGANIK

KERAJINAN TANGAN

SAMPAH CAMPUR

SKALA SUMBER

25

CONTOH PENGOLAHAN SAMPAH RUMAH TANGGA Operasional Komposter Drum
Alat dan Bahan Komposter dari drum plastik volume 30 liter. Drum dilubangi pada setiap sisi dan bagian bawah drum. Jarak antar lubang pada bagian sisi drum sekitar 2 cm ke samping dan ke atas membentuk jalur ke bawah. Jarak antar jalur sekitar 5 cm. Lubang pada bagian bawah drum diletakan pada tempat aliran air. 1. Alat pengaduk 2. Sampah 3. KOMPOS sebagai aktivator Cara Kerja 1. 2. 3. 4. Sampah dicacah berukuran 2 – 3 cm Cacahan sampah dicampur kompos 50% : 50% Campuran sampah dan kompos dimasukan dalam drum Setiap hari dimasukan cacahan sampah dilapisi kompos setebal 1cm. Setiap tujuh hari sekali sampah diaduk. Jika terlihat kering disiram dan tetesan air siraman ditampung untuk dipakai kembali menyiram sampah. 5. Sekiatar 30 hari sampah yang sudah jadi kompos diambil langsung di dalam drum, atau ditumpahkan kemudian disaring. Sampah yang belum jadi dimasukan kembali ke dalam drum. Kompos yang matang sebagian dimanfaatkan sesuai keperluan dan sebagian disisihkan sebagai aktivator. 6. Jika drum disimpan menggantung maka cara panen bisa dilakukan dengan menggoyang drum dan menampung kompos di bagian bawah drum.

26

Operasional Komposter Takakura
Alat dan Bahan 1. Keranjang berlubang 2. Bantal sekam padi 2 bh 3. Kain kasa hitam 4. Kardus 5. Kompos 6. Sampah Cara Kerja · · · · · · · · · Keranjang dilapisi kardus seluruh bagian tepinya Sampah dirajang ukuran 2-3cm Bantalan sekam dimasukan pada dasar keranjang Rajangan sampah diaduk dengan kompos kemudian dimasukan dalam keranjang. Bantalan sekam disimpan diatas tumpukan campuran kompos dan sampah. Diatas bantalan ditutup kain hitam, kemudian tutup keranjang ditutup. Sampah dapur yang sudah di rajang dimasukan kedalam keranjang setiap hari dan diaduk dengan kompos. Setelah keranjang penuh dengan sampah, keranjang ditutup dan dibiarkan sampai kompos matang. Setelah kompos matang, kompos dituangkan kemudian dikeringkan. Kompos dimanfaatkan sesui dengan keperluan

27

3.2. SKALA KAWASAN
Pengelolaan sampah skala kawasan adalah merupakan kegiatan lanjutan terhadap sampah yang tidak terolah di sumber, atau merupakan pengolahan langsung dari seluruh sampah warga pada area sendiri sesuai dengan volume dan karakteristik sampah. Lingkup kawasan sebaiknya memiliki batasan administratif misalnya 1 RT.

28

PROSES 3R DI TPST
Pada prinsipnya teknologi skala kawasan yang dipilih adalah tepat-guna dan ramah lingkungan. Lingkup pengelolaan sampah skala kawasan minimal meliputi wilayah satu Rukun Tetangga (RT). Jumlah penghuni sebanyak 40 KK atau sekitar 200 jiwa. Dengan ratarata produksi sampah 1 KK sebanyak 3 liter perhari, maka jumlah sampah 1 RT sekitar 600 liter atau 0,6 meter kubik. Pengelolaan sampah TPST meliputi kegiatan : A. Penampungan Sampah Sampah yang masuk merupakan sampah yang sudah terpilah di warga. Pengangkutan sampah dari sumber menggunakan alat angkut yang sudah terpilah sesuai jenisnya. . B. Pemilahan Sampah Pemilahan dilakukan dengan memilih dan menempatkan sampah sesuai jenisnya. Umumnya dibedakan atas sampah kertas,plastic, gelas,kaca,karet,kulit dll, serta sampah material kompos dan sampah organic yang tidak dapat dikomposkan seperti sabut dan batok kelapa. C. Pengepakan Sampah Non Organik Pengepakan dilakukan sebagai pemadatan sampah agar volumenya berkurang. Pengepakan dilakukan terhadap sampah kertas,plastic dan kaleng serta material organic yang tidak dapat dikomposkan. Pengepakan dilakukan secara manual atau mekanik. Pengepakan secara manual dilakukan dengan cara memasukan sampah dalam kotak kayu. Kedalam kotak kayu tersebut dimasuakn kantong plastic dan pada keempat sisi kotak diluar plastic dipasang tali rapia. Sampah diinjak merata sampai penuh satu kotak. Plastik bagian atas dilipat kemudian diikat. Sampah dikeluarkan dari kotak berbentuk seperti bala pres. Untuk pengepakan secara manual sampah kaleng dan botol minuman dipipihkan terlebih dahulu.

29

Pengepakan secara mekanik dilakukan menggunakan mesin pres. Sampah terpilah dimasukan langsung dalam mesin mesin pres. Jika sudah padat sampah tercetak dikeluarkan kemudian ditutup plastic dan diikat. D. Penempatan sampah terpilah Sampah yang sudah di pres ditempatkan tersendiri sesuai jenisnya. Ditempatkan dalam gudang atau diluar gudang pada tempat beratap. E. Pembuatan Kompos Sampah material kompos adalah sampah mudah membusuk. Pengomposan dilakukan secara aerobic melalui metoda OPEN BIN, OPEN WINDROW dan CASPARY. F. Pengolahan Residu Sampah yang tidak terolah dianggap sebagai residu dan diangkut ke TPA. Pengolahannya dilakukan secara landfill.

METODA PEMBUATAN KOMPOS
Metoda pembuatan kompos meliputi kegiatan: Pemilahan, Pencetakan, Pembalikan, Penyiraman, Pengeringan, Penyaringan, Pengemaan dan Pengolahan lindi

PROSES PENGOMPOSAN

30

Open Bin
Adalah cara pengomposan yang dilakukan dengan menempatkan sampah dalam kotak permanen. Kotak dibuat sesuai dengan volume sampah yang akan dikomposkan. Dibuat parallel atau kotak-kotak pengomposan diletakan dalam satu kotak besar kemudian dibuat sekat menjadi kotak kecil pengomposan.

Sistem pengudaraan, selain diperoleh dengan melakukan pembalikan, diperoleh pula dengan menempatkan lubang-lubang pada bagian tepi kotak. Pengomposan ini lebih diarahkan untuk pengomposan sampah dengan tekstur yang sangat halus seperti kotoran hewan.

Open Windrow,
adalah pengomposan dengan melakukan penumpukan sampah tanpa alat pencetak. Tumpukan bisa berbentuk persegi panjang atau trapesium. Sistem pengudaraan selain dari proses pembalikan, diperoleh pula dari proses penganginan dari setiap sisi tumpukan sampah.

31

Caspary
adalah melakukan pengomosan dengan menumpuk sampah menggunakan alat pencetak. Ukuran kotak kecil 1x1x0,5 m dan kotak besar 2x1x0,5 m. Tinggi tumpukan sampah antara 1 sampai 1,5m. Sistem pengudaraan sama seperti metoda open windrow.

Tatalaksananya Metoda Caspary adalah sebagai berikut: Pemilahan Sampah dipilah antara material kompos dengan sampah yang sulit membusuk. Pencetakan Sampah material kompos dimasukan dalam kotak pencetak. Sampah diinjak-injak terutama pada bagian tepi kotak. Dibuat tinggi tumpukan minimal 1 m. Jika tinggi kotak hanya 0,5 m maka setelah mencapai tinggi 0,5 m kotak dinaikan kemudian diisi sampah kembali. Selesai mencetak kotak dibersihkan dan dan disimpan. Penyiraman Peniraman dilakukan pada saat mencetak yaitu pada saat ketinggian 50 cm dan 100 cm. penyiraman dilakukan pula pada saat pembalikan dan pada saat tumpukan sampah terlihat kering. Kadar air tumpukan sampah adalah antara 50 – 60 %. Pembalikan Pembalikan dilakukan dengan interval waktu sebagai berikut: Pembalikan pertama dilakukan pada hari kesebelas sedangkan pembalikan berikutnya setiap lima hari sekali. Pembalikan seluruhnya sebanyak 7 kali. Pada saat pembalikan dapat dilakukan pula penggabungan antar tumpukan, yaitu setelah pembalikan ketiga. 32

Pengeringan Pengeringan dilakukan melalui proses penganginan. Kompos disebarpada suatu ruang dengan ketinggian 20 cm, kemudian dibalik-balik. Penyaringan Kompos kering disaring melalui pengayakan. Tekstur kompos ditentukan oleh ukuran mess kawat yang digunakan. Biasanya digunakan mess 0,5 cm untuk tekstur sangat halus, mess 1 cm untuk tekstur halus dan kompos yang tidak lolos dari mess 1 cm dimasukan dalam tekstur kasar. Pengemasan Sesuai dengan ukuran teksturnya kompos dimasukan dalam kemasan. Kemasan bisa dalam plastic atau karung. Agar kompos tidak mudah rusak disimpan di dalam gudang yang kering. Pada bagian dasar tumpukan diberi alas kayu agar terjaga dari kelembaban yang tinggi. Untuk setiap 1 m persegi dapat menampung kompos sekitar 600 kg dengan tinggi tumpukan 1m. Pemanfaatan Kompos sangat baik untuk media tanam berbagai jenis tanaman. Kompos mengandung unsr hara makro dan mikro yang dibutuhkan oleh tanaman, sehingga terjadi keseimbangan sediaan unsur hara di dalam tanah. Kompos lebih bersifat pemulih kondisi tanah. Hasil Pengomposan Proses pengomposan sangat efektif dalam mengolah sampah, karena mencapai susut bobot sampai 70% dan susut volume sampai 82 %. Kompos sendiri merupakan nilai tambah dariproses pengomposan. Pengolahan Air Lindi Air lindi dari proses pengomposan harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air. Pengolahan air lindi biasanya dilakukan melalui kolam penyaringan. Untuk memudahkan pengolahan air lindi tempat pengomposan alasnya disemen dan dibuat miring untuk mengarahkan air lindi dan memudahkan dalam pengolahannya. Untuk itu keseluruhan areal pengomposan sebaiknya ternaungi.

33

KUALITAS KOMPOS Parameter Pengkomposan Secara Umum · Kadar air (50 – 60%) · Aerasi ( > 50% oksigen diudara) · Rasio C/N (20 -40) · Ukuran partikel (aerasi alami 5 cm, aerasi buatan 1 cm) · Tingkat keasaman (5 – 8) · Ukuran petak (tinggi 1,5 meter, lebar 2,5 meter, panjang bervariasi) · Ketersdiaan populasi mikroba · Kondisi Cuaca Spesifikasi Kompos · Kematangan Kompos  Berwarna hitam seperti warna tanah  Tidak berbau  Temperatur sekitar 28 – 34 derajat Celcius  Bentuknya sudah hancur  C/N rasio 15-20 · Kemurnian kompos  Tidak mengandung logam, gelas, plastik dan karet lebih besar dari 2 mm  Tidak mengandung logam berat dan kimia organik seperti pestisida  Tidak mengandung benda tajam yang dapat melukai manusia. Organisme Pathogen  Fecal Coli < 1000 MPN/gr total solid dalam keadaan kering  Salmonella sp. < 3 MPN/4 gr total solid dalam keadaan kering Pencemar Organik  Pestisida organo klorin  Insektisida dan herbisida  Dioksin dan Furan 34

·

·

MANFAAT DAN POTENSI KOMPOS
· Mengandung unsur hara mkrodan mikro serta mineral penting yang dibutuhkan oleh tanaman · Meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap serta menahan air dan unsur hara · Meningkatkan porositas,aerasi dan komposisi keanekaragaman mikroorganisme tanah · Meningkatkan daya ikat tanah terhadap air · Memperbaiki struktur dan tekstur tanah (soil conditioner) · Meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik · Penyubur peraiaran,meningkatkan sediaan pakan alami perairan, seperti tambak · Reklamasi lahan, sebagai pelapis tanah yang sudah tidak produktif dan penutup lubang bekas galian tambang · Media tanam pembibitan berbagai jenis tanaman termasuk tanaman HTI · Tanah Penutup TPA

35

Metoda Open Bin

Kelebihan · Sampah tidak terlihat dari luar · Areal pengomposan terlihat rapih · Volume sampah terolah sama · · · · Modal lebih ringan dari metoda openbin Tumpukan sampah bisa mencapai tinggi oftimal 1,5 Penggunaan lahan fleksibel Proses pembalikan lebih mudah dibanding metoda open bin dan caspary Tumpukan sampah terlihat rapih Volume sampah tercetak lebih banyak dan seragam Tumpukan sampah tidak mudah roboh dan tahan tiupan angin Pengunaan lahan lebih hemat dan Fleksibel · · · · ·

Kekurangan Padat modal Tinggi kotak terbatas Ruang gerak pekerja terbatas Penggunaan lahan terbatas Volume sampah tercetak tidak sama untuk setiap tumpukan Tumpukan sampah rentan tiupan angin Tumpukan sampah mudah roboh

Open Windrow

· ·

Caspary

· · ·

· ·

Padat Karya Proses pembalikan lebih rumit dari open-bin atau open windrow

·

36

BAB IV KEBERLANJUTAN PROGRAM

Keberlanjutan program sangat ditentukan oleh keseriusan warga dalam menjalankan program yang sudah disepakati dan diilakukan bersama. Melalui kelembagaan yang ada dibuatkan suatu pengaturan yang jelas dan disepakati oleh seluruh warga. Pengaturan ini meliputi aspek pendanaan, aspek peran serta warga dan aspek teknologi yang dipilih seperti terlihat pada gambar sebagai berikut:

GAMBAR DIAGRAM KEBERLANJUTAN PROGRAM

PERATURAN HUKUM

KELEMBAGAAN

TEKNIK DAN OPERASIONAL

SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 3 R BERBASIS MASYARAKAT DI KAWASAN PERMUKIMAN

PERANSERTA MASYARAKAT

PENDANAAN

37

Keberlanjutan program terdiri dari: 1. Pengembangan Pengembangan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat dapat dimasukkan dalam perencanaan jangka pendek, menengah, ataupun jangka panjang sesuai kebutuhan. Pengembangan dapat dilakukan sebagai :  Pengembangan system pengolahan termasuk teknologi pengolahan  Perluasan kegiatan 3R yang sedang berjalan  Penambahan kapasitas olah untuk skala kawasan Pengembangan dapat dilakukan atas permintaan masyarakat atau sudah masuk dalam perencanaan awal. Dalam proses pengembangan perlu diperhatikan :   Perlu dilakukan perencanaan target pengurangan sampah sampai waktu tertentu (misalnya 2015) sehingga proses pengembangan dapat dilakukan lebih terarah. Jumlah warga yang terlibat didata dan dipilih karakteristik yang hampir mirip dengan warga yang sedang melaksanakan pengelolaan sampah 3R dan dilakukan tahapan kegiatan seperti proses perencanaan sebelumnya seperti pengenalan, sosialisasi, dll. Pada skala kawasan, pengembangan tergantung dari luas lahan yang ada atau perubahan teknologi pengolahan untuk memperoleh target pengurangan sampah.

Pengembangan dapat dilakukan :  Jika ada permintaan dari masyarakat disekitar kawasan  Jika lahan masih memungkinkan (untuk skala kawasan) Perencanaan pengembangan meliputi perkiraan jumlah warga yang akan dilibatkan dalam pengembangan pengelolaan sampah 3R terpadu.

38

2. Replikasi Kegiatan replikasi adalah melakukan kegiatan sejenis dalam suatu program yang sama pada lokasi yang berbeda. Kegiatan merupakan modifikasi dari kegiatan di daerah lain yang telah berhasil. Dalam memilih lokasi perlu di dukung dengan kesiapan dan kemauan masyarakat. Pelaksanaannya perlu penyesuaian dengan kondisi dan kebiasaan masyarakat setempat. Tahapan paling penting dalam melakukan replikasi adalah:  Penelusuran kemauan masyarakat lokasi terpilih yang dicerminkan dalam surat permintaan dari pemuka masyrakat atau RT/RW atau Pejabat Strukural Penguasa Daerah.  Survey lokasi, diutamakan lokasi dengan kondisi yang mirip atau hampir mirip dengan lokasi yang sudah berhasil menerapkan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat.  Melakukan prosedur pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat seperti yang dilakukan pada lokasi contoh.

39

BAB V PENUTUP
· Pedoman pelaksanaan dapat digunakan sebagai acuan bagi pengelola 3R di lokasi yang sama dan atau replikasi di tempat lain dengan ketentuan yang sama. Pedoman Pelaksanaan 3R berbasis masyarakat di kawasan permukiman ini, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tiga buku pedoman yang lain. Pedoman ini harus ditindaklanjuti dalam buku empat (pedoman Monev).

·

40

41

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

BUKU IV
Pedoman Monitoring Dan Evaluasi 3 R Berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman

DAFTAR ISI BUKU IV : PEDOMAN MONEV KEGIATAN 3R BERBASIS MASYARAKAT

1. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1.3 SASARAN 2. PEMANTAUAN PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT 2.1 UMUM 2.2 PEMANTAUAN DI TINGKAT PUSAT 2.3 PEMANTAUAN DI TINGKAT PROVINSI 2.4 PEMANTAUAN DI TINGKAT KOTA/KABUPATEN 2.5 PEMANTAUAN EKSTERNAL 3. EVALUASI PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT 4. REPLIKASI DAN PENGEMBANGAN 4.1 UMUM 4.2 PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT 5. PENUTUP

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Pedoman Monitoring, Evaluasi dan Pengembangan merupakan pedoman teknis pelaksanaan monitoring dan evaluasi pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Pedoman ini merupakan bagian yang tidak terpisah dari pedoman perencanaan dan pedoman pelaksanaan. Monitoring dan evaluasi pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat meliputi pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program yang meliputi perencanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat serta pelaksanaan kegiatan yang meliputi aspek teknis operasional, kelembagaan, pendanaan, pengaturan (legal), dan peran serta masyarakat.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud diterbitkannya pedoman monitoring, evaluasi dan pengembangan adalah untuk arahan bagi pelaksana lapangan dalam memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat Sedangkan tujuannya adalah:  Menelusuri tahapan kemajuan dalam pengelolaan sampah 3R  Mengevaluasi kinerja sistem  Menyediakan data untuk pengembangan dan replikasi program

2

1.3 SASARAN
Diperolehnya pedoman monitoring dan evaluasi yang komprehensif mencakup seluruh aspek dalam pengelolaan sampah 3R terpadu berbasis masyarakat

BAB II PEMANTAUAN PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT
2.1 UMUM
Pemantauan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat adalah proses yang dilakukan secara berkala mulai dari persiapan, perencanaan, sosialisasi, pelaksanaan, keberlanjutan program, sampai dengan pengembangan dan replikasi. Hasil dari kegiatan pemantauan digunakan untuk perbaikan kualitas pelaksanaan dan perbaikan perencanaan. Hasil kegiatan tersebut juga dapat digunakan untuk input evaluasi pelaksanaan program maupun dasar untuk keberlanjutan program, pengembangan serta replikasi. Pemantauan pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat dilakukan secara :   Pemantauan internal dilakukan oleh seluruh unit pelaksana didalam sistem pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat, Pemantauan eksternal dilakukan oleh unit diluar pelaksana kegiatan seperti LSM, Perguruan tinggi.

2.2.

PEMANTAUAN DI TINGKAT PUSAT

Ditingkat Pusat, pemantauan dilakukan oleh Direktorat PLP Ditjen Cipta Karya, Departemen PU dan Tim Koordinasi Pusat. Pemantauan ditekankan kepada :

4

1. Jumlah provinsi yang melaksanakan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat 2. Perencanaan Pengelolaaan Sampah Terpadu 3R Berbasis Masyarakat di tingkat provinsi 3. Jumlah kota yang melaksanakan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat 4. Pelaksanaan kegiatan pengelolaan sampah 3R terpadu pada masing-masing provinsi.

2.3.

PEMANTAUAN DI TINGKAT PROVINSI

Pemantauan di Tingkat Propinsi dilaksanakan melalui kunjungan ke kota/kabupaten terpilih. Pemantauan dilakukan pada beberapa hal sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Pelaksanaan sosialisasi pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat di kota/ kabupaten Pelaksanaan seleksi kota yang berminat melaksanakan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Pelaksanaan pemilihan lokasi pada lokasi terpilih Pelaksanaan Survai Lapangan mengenai timbulan dan komposisi sampah serta kondisi masyarakat dan pemilihan teknologi pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat. Pelaksanaan pemilihan fasilitator Pelaksanaan penyiapan masyarakat yang terdiri dari sosialisasi 3R, verifikasi teknologi ditingkat masyarakat, pemilihan lokasi TPST, pembentukan Tim Kerja Masyarakat (TKM), dan Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat. Perencanaan pengelolaan sampah terpadu 3R di lokasi terpilih Pelaksanaan pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat Pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat.

5. 6.

7. 8. 9.

2.4.

PEMANTAUAN DI TINGKAT KOTA/KABUPATEN.

Pemantauan di Tingkat Kota/Kabupaten dilakukan terhadap pelaksanaan program pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat yang meliputi : 1. Proses sosialisasi kepada seluruh lokasi yang berpotensi mengelola sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. 2. Proses seleksi lokasi berminat di kota/kabupaten. 3. Pelaksanaan Survai Lapangan mengenai timbulan dan komposisi sampah serta kondisi masyarakat dan pemilihan teknologi pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat. 4. Pelaksanaan pemilihan fasilitator 5. Pelaksanaan penyiapan masyarakat yang terdiri dari sosialisasi 3R, verifikasi teknologi ditingkat masyarakat, pemilihan lokasi TPST, pembentukan Tim Kerja Masyarakat (TKM), dan Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat. 6. Perencanaan pengelolaan sampah terpadu 3R di lokasi terpilih 7. Pelaksanaan pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat 8. Pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat yang meliputi :  Teknis operasional  Pembentukkan kelembagaan  Pendanaan  Pengaturan dan Perundangan  Peran Serta Masyarakat

6

2.5 2.5.1

Program Pemantauan Lokasi 3 R

Program pemantauan dilakukan dengan alat bantu pantau yang terukur seperti tabel berikut ini: Beri tanda (X) pada kondisi yang ada dilapangan Umum : Letak Lokasi : < 50 m dari rumah terdekat Antara 50 – 100 m dari rumah Antara 100 – 500 m dari rumah > 500 m dari rumah terdekat Status lahan : Milik Pemerintah Milik Perorangan Milik Perusahaan Swasta Tanah Wakaf Tidak diketahui Luas Lokasi : Sama dengan atau lebih dari 1000 m2 Antara 500 – 1000 m2 Antara 200 – 500 m2 Kurang dari 200 m2

Fisik : Topografi : Lereng Berbukit Datar Hidrologi : Kurang 100 m dari badan air Antara 100 – 300 m dari badan air Lebih 300 m dari badan air Sumber air : Air sungai Air danau Air tanah Lainnya ............................................ Penggunaan lahan sebelumnya : Jalur hijau Tegalan Sawah Rawa Danau Rumah Tanah tidak terurus Lainnya...............................

8

2.5.2 2.5.2.1

Sarana dan Prasarana Pewadahan

Pola pewadahan, baik untuk individual dan komunal : Satu jenis pewadahan untuk semua sampah Pewadahan terpilah antara sampah organik dan non organik Pewadahan terpilah antara sampah organik, non organik, dan sampah B3 Pewadahan dengan warna gelap untuk sampah mudah terurai secara alamiah seperti daun, sisa makanan, sayuran Pewadahan dengan warna terang untuk sampah tidak mudah membusuk seperti plastik, gelas, kertas, logam, kain. Jumlah pewadahan lebih dari satu dengan warna berbeda dapat dilakukan sesuai dengan jenis komponen yang dipilah. Pewadahan dengan warna merah dengan tanda berbahaya untuk sampah B3 rumah tangga seperti bekas kemasan obat, kemasan pestisida, kemasan obat pemeberantas serangga, dll. Penempatan wadah, berlaku untuk individual dan komunal : Ditempatkan dekat dengan sumber sampah : Didekat dapur untuk sampah organik mudah membusuk Diarea ruang bersih untuk sampah non organik tidak mudah membusuk dan kering Tidak menganggu aktifitas lalu lalang penghuni Mudah dalam aksesibilitas untuk pengisian dan pengosongan.

Bahan wadah : Plastik Logam Kayu Rotan Lainnya sebutkan........................ Bentuk pewadahan : Kotak Silinder Lainnya sebutkan.................. Metoda pewadahan : Ada tutup Tidak ada tutup Ukuran Wadah : Lebih kecil dari 10 liter Antara 10 liter – 30 liter Antara 30 liter – 60 liter Diatas 60 liter

10

2.5.2.2 Pengolahan Skala Rumah Tangga
Jenis peralalatan komposter yang digunakan : Tong dari plastik yang berlubang Keranjang Tatakura Bak dari kayu Drum setengah berlubang Lainnya sebutkan........................... Volume komposter : Diatas atau sama dengan 60 liter Antara 30 – 60 liter Dibawah 30 liter Jumlah komposter : Diatas 3 unit per rumah 2 unit per rumah 1 unit per rumah Lainnya sebutkan.................... Warna hasil kompos : Hitam seperti tanah Coklat tua Lainnya sebutkan...........

Bau hasil kompos : Berbau seperti humus Berbau busuk Tidak berbau Lainnya sebutkan........... Bentuk kompos : Mempunyai tekstur yang halus Masih kasar terlihat ada materi organik tidak hancur Lainnya sebutkan............. Daur ulang sampah non organik : Menggunakan teknologi yang berbahaya bagi kesehatan Menggunakan bahan kimia spserti lem, bensin, minyak tanah Menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan (misalnya air buangan) Memerlukan ketrampilan khusus yang sulit dilakukan orang awam Produk daur ulang : Kertas untuk kertas seni dan barang seni lainnya Plastik untuk barang seni kerajinan tangan Lainnya sebutkan................

12

2.5.2.3

Pengumpulan

Jenis alat pengumpulan : Gerobak/motor sampah biasa Gerobak sampah 3R Motor sampah 3R Lainnya sebutkan................ Pola pengumpulan : Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah tercampur dalam satu gerobak Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan gerobak atau motor sampah 3R (bak terpilah untuk beberapa jenis sampah) Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan gerobak atau motor sampah beberapa gerobak dimana masing-masing gerobak mengumpulkan jenis sampah tertentu pada hari yang sama. Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan gerobak atau motor sampah beberapa gerobak dimana masing-masing gerobak mengumpulkan jenis sampah tertentu pada hari yang berbeda Lainnya sebutkan................................

Operasional pengumpulan : Frekuensi pengumpulan : Setiap hari Tiga hari sekali Seminggu sekali Lainnya sebutkan.................... Frekuensi pengumpulan disesuaikan dengan komponen sampah: Sampah mudah membusuk : Setiap hari Tiga hari sekali Seminggu sekali Lainnya sebutkan.................... Untuk sampak kering ; Setiap hari Tiga hari sekali Seminggu sekali Lainnya sebutkan.................... Untuk sampah B3 dikumpulkan : Setiap hari Tiga hari sekali Seminggu sekali Lainnya sebutkan.................... Daerah pelayanan mencakup : Lebih dari 500 kk 300- 500 kk 100 – 300 kk 50 – 100 kk Kurang dari 50 kk Pelaksanaan pengumpulan dilakukan oleh : Dinas Kebersihan atau sejenis Petugas khusus dari RW/Kelurahan Swadaya masyarakat oleh KSM Kelompok aktif masyarakat : Karang Taruna, PKK, dll Lainnya sebutkan............ 14

2.5.2.4

Tempat Pengolahan Sampat Terpadu Skala Kawasan

Jenis teknologi yang digunakan : Pengkomposan sampah organik Pengolahan sampah kertas Pengolahan sampah plastik Lainnya sebutkan Teknologi Pengkomposan yang digunakan : Open Windrows Caspary Open Bin Lainnya sebutkan.......................... Peralatan Bantu Pengkomposan : Alat Penghancur Sampah Organik Cairan aktivator seperti EM4, dll. Lainnya sebutkan............. Kapasitas TPST : Diatas atau sama dengan 2 ton (10 m3) per hari Antara 1 ton – 2 ton per hari Kurang dari 1 ton per hari

Cakupan Layanan : Diatas atau sama dengan 1000 kepala keluarga Antara 750 – 1000 kepala keuarga Antara 500 – 750 kepala keluarga Antara 250 – 500 kepala keluarga Antara 100 – 250 kepala keluarga Antara 40 – 100 kepala keluarga Dibawah 40 kepala keluarga Warna hasil kompos Hitam seperti tanah Coklat tua Lainnya sebutkan........... Bau hasil kompos : Berbau seperti humus Berbau busuk Tidak berbau Lainnya sebutkan........... Bentuk kompos : Mempunyai tekstur yang halus Masih kasar terlihat ada materi organik tidak hancur Lainnya sebutkan............. Daur ulang sampah non organik : Menggunakan teknologi yang berbahaya bagi kesehatan Menggunakan bahan kimia spserti lem, bensin, minyak tanah Menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan (misalnya air buangan) Memerlukan ketrampilan khusus yang sulit dilakukan orang awam Produk daur ulang : Kertas untuk kertas seni dan barang seni lainnya Plastik untuk barang seni kerajinan tangan Bahan baku pabrik Lainnya sebutkan................ 16

2.5.3 Kelembagaan
Bentuk lembaga : Kelompok Swadaya Masyarakat Bagian dari kepengurusan RT/RW Kelompok Aktif (PKK, Karang Taruna, Perkumpulan keagamaan) Lembaga diluar lingkungan (LSM) Lainnya sebutkan ............................. Struktur Organisasi : pembina ketua Sekretaris Bendahara Unit Monitoring dan Evaluasi Unit kerajinan daur ulang Unit produksi kompos Unit penjualan produk Unit pemeliharaan Unit Diklat Unit penyuluhan Legalitas pembentukan : Surat Keputusan RT/RW Surat Keputusan Lurah Surat Keputusan Camat Surat Keputusan Walikota Lainnya sebutkan.....................

2.5.4 Pendanaan
Biaya Investasi : Pewadahan : Kurang dari Rp. 25.000,- per kk Antara Rp. 25.000 – 50.000,- per kk Antara Rp. 50.000 – Rp. 100.000,- per kk Antara Rp. 100.000,- - Rp. 300.000,- per kk Diatas Rp. 300.000,- per kk Komposter Rumah Tangga : Kurang dari Rp. 25.000,- per kk Antara Rp. 25.000 – 50.000,- per kk Antara Rp. 50.000 – Rp. 100.000,- per kk Antara Rp. 100.000,- - Rp. 300.000,- per kk Diatas Rp. 300.000,- per kk Pengumpulan : Kurang dari Rp. 100.000,- per unit Antara Rp. 100.000,- - Rp. 1.500.000,- per unit Antara Rp. 1.500.000,- - Rp. 2.500.000,- per unit Diatas Rp. 2.500.000,- per unit TPST : Kurang dari Rp. 200 juta Antara 200 juta – 1 milyard Diatas 1 milyard.

18

Biaya operasional per tahun : Pengumpulan : Kurang dari Rp. 5.000.000,Antara Rp. 5.000.000,- - Rp. 10.000.000,Antara Rp. 10.000.000,- - Rp. 15.000.000,Diatas Rp. 15.000.000,Biaya Pengolahan di TPST : Kurang dari Rp. 50.000.000,Antara Rp. 50.000.000,- - Rp. 100.000.000,Antara Rp. 100.000.000,- - Rp. 150.000.000,Diatas Rp. 150.000.000,Sumber Dana : Dana Mandiri dari masyarakat Sharing antara masyarakat dan pihak lain Dana APBD pemerintah daerah Dana LSM Lokal Dana LSM Luar Negeri Lainnya sebutkan Alokasi dana meliputi : Operasional : Peningkatan kapasitas (capacity building) dalam sarasehan, Focus Group Discussion, dll Pelatihan Kunjungan lapangan Pameran produk-produk daur ulang Lain-lain sebutkan.............. Pemeliharaan Penggantian komposter yang rusak Pemeliharaan alat pengumpul Pemeliharaan TPST Lainnya sebutkan..................

Pelaporan keuangan : Pembukuan Laporan keuangan triwulan Laporan keuangan tahunan Lainnya sebutkan...................

2.5.5 Peran Serta Masyarakat
Keterlibatan Warga : Seluruh warga 1 kelurahan terlibat Seluruh warga 1 RW terlibat Seluruh warga 1 RT terlibat 50 % warga 1 RT terlibat 25 % warga 1 RT terlibat Perwakilan pada setiap RT/RW di seluruh kelurahan Lainnya sebutkan................. Kelompok aktif di masyarakat yang terlibat : PKK Karang Taruna Jantung Sehat Kelompok agama Arisan Lainnya sebutkan................ Frekuensi pertemuan warga tentang pengelolaan sampah terpadu 3R : Seminggu sekali Dua minggu sekali Sebulan sekali 3 bulan sekali 6 bulan sekali 1 tahun sekali Lebih dari 1 tahun sekali Tidak pernah Lainnya sebutkan.................... 20

2.5.6 Pengaturan
Pengaturan dan Peraturan perundangan disarankan mempunyai : Surat Keputusan Pembentukan Organisasi Pengelola Sampah 3R terpadu berbasis masyarakat – TKM (Sk Lurah, RW, atau RT) Surat Keputusan (Lurah, RW, RT) tentang iuran bulanan pengelolaan sampah surat Keputusan (Lurah, RW, RT) tentang tata tertib kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah Lainnya sebutkan.............

2.5.7 Operasional
Tingkat operaional saat pemantauan : Sudah berjalan 100 % mencakup sesuai perencanaan Berjalan antara 75 % - 100 % Antara 50 % - 75 % Dibawah 50 %

BAB III EVALUASI PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R BERBASIS MASYARAKAT

Evaluasi program adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat dan juga identifikasi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan. Untuk melakukan evaluasi diperlukan indikatorindikator yang penting dan mempengaruhi dalam sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat.

3.1

Indikator

Indikator-indikator penting dalam pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat adalah : 1. Peningkatan peran serta masyarakat dalam keterlibatannya pada program pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. (Diukur berdasarkan jumlah masyarakat yang terlibat) 2. Terbentuknya lembaga (Kelompok Swadaya Masyarakat) dalam pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat, (Diukur dari jumlah lokasi yang mempunyai KSM) 3. Adanya dana yang mendukung keberlanjutan program. (Diukur berdasarkan adanya sumber dana) 4. Adanya teknologi pengolahan sampah yang berkelanjutan dalam mendukung pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat (Diukur berdasarkan jumlah masyarakat yang menerapkannya secara keberlanjutan dan mandiri).

22

5.

Adanya pengaturan yang jelas dalam melaksanakan pengelolaan sampah terpadu 3R bebasis masyarakat (diukur berdasarkan surat keputusan, surat edaran, tentang tata cara pengelolaan sampah dari pimpinan wilayah seperti RT, RW dan kelurahan).

Evaluasi pelaksanaan program pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat dilakukan oleh Tingkat Pusat, Propinsi dan Kota/Kabupaten.

3.2

Evaluasi Tingkat Pusat.

Evaluasi tingkat pusat dilakukan oleh Tim Pusat . Indikator yang perlu diperhatikan dalam evaluasi tingkat pusat adalah sebagai berikut :  Jumlah kota/kabupaten melaksanakan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat.  Jumlah warga masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat.  Jumlah kota/kabupaten yang sudah memiliki Tim Kerja Masyarakat.  Jumlah kota/kabupaten yang memiliki sumber dana mandiri.

3.3

Evaluasi Tingkat Propinsi.

Evaluasi program tingkat propinsi dilaksanakan dengan mempertimbangkan masukan dari hasil monitoring/pemantauan yang dilakukan di lapangan ditambah dengan hasil laporan di tingkat kabupaten. Indikator yang perlu diperhatikan adalah :  Jumlah kota/kabupaten yang melaksanakan program pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat  Jumlah masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan sampah 3R bebasis masyarakat

  

Jumlah lokasi yang terlibat dalam pengelolaan sampah 3R Jumlah lokasi yang sudah mempunyai TKM (Tim Kerja Masyarakat) Jumlah sampah terkurangi

3.4

Evaluasi Tingkat Kota/Kabupaten.

Evaluasi pelaksanaan kegiatan di tingkat Kota/Kabupaten dilakukan dengan mempertimbangkan masukan dari hasil pemantauan yang dilakukan oleh fasilitator dan Kepala Desa/Lurah. Indikator dalam evaluasi tingkat Kabupaten adalah :      Jumlah masyarakat pada lokasi terpilih yang terlibat dalam pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Jumlah Kepala Keluarga yang terlibat langsung dalam kegiatan pelaksanaan pengelolaan sampah 3R berbasis masyarakat. Jumlah sampah terkurangi Jenis produk daur ulang sampah Kesesuaian pelaksanaan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat.

3.5

Program Evaluasi

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat digunakan metoda scoring sperti pada Tabel berikut.

24

3.5.1 Umum :

Lokasi 3 R

Pemantauan
Letak Lokasi :          < 50 m dari rumah terdekat Antara 50 – 100 m dari rumah Antara 100 – 500 m dari rumah > 500 m dari rumah terdekat Milik Pemerintah Milik Perorangan Milik Perusahaan Swasta Tanah Wakaf Tidak diketahui

Score 1 2 3 1 5 4 3 2 1

Status lahan :

Luas Lokasi : (Sampah tertangani (m3)/0,25) x 500)/luas lahan yang ada.     Lebih besar atau sama dengan 1 Antara 0,75 - 1 Antara 0,5 – 0,75 Kurang dari 0,5 4 3 2 1

Fisik : Pemantauan
Topografi :   Lereng Berbukit 1 2 3 1 2 3 3 3 2 Score

 Datar Hidrologi :   Kurang 100 m dari badan air Antara 100 – 300 m dari badan air

 Lebih 300 m dari badan air Sumber air :    Air sungai Air danau Air tanah

 Lainnya ............................................ Penggunaan lahan sebelumnya :         Jalur hijau Tegalan Sawah Rawa Danau Rumah Tanah tidak terurus Lainnya............................... 1 7 4 2 3 5 6

26

3.5.2 3.5.2.1

Sarana dan Prasarana Pewadahan Pemantauan Score
1 2 3

Pola pewadahan, baik untuk individual dan komunal :  Satu jenis pewadahan untuk semua sampah  Pewadahan terpilah antara sampah organik dan non organik  Pewadahan terpilah antara sampah organik, non organik, dan sampah B3 Warna Pewadahan :  Sampah Organik :  Warna Gelap  Warna Terang  Warna Merah  Lainnya sebutkan…………  Sampah Non Organik :  Warna Gelap  Warna Terang  Warna Merah  Lainnya sebutkan…………  Sampah B3 :  Warna Gelap  Warna Terang  Warna Merah  Lainnya sebutkan…………

3 2 1

2 3 1

2 1 3

Pemantauan
Penempatan wadah, berlaku untuk individual dan komunal :  Ditempatkan dekat dengan sumber sampah :  Sampah Organik :  Di atau dekat dapur  Diluar Rumah  Diruang Tamu  Sampah Non Organik :  Di atau dekat dapur  Diluar Rumah  Diruang Tamu  Letak Pewadahan :  Tidak mengganggu aktifitas penghuni  Mengganggu aktifitas penghuni  Mudah dalam pengosongan  Sulit dalam pengosongan  Bahan wadah :  Plastik  Logam  Kayu  Rotan  Lainnya sebutkan........................  Metoda pewadahan :  Ada tutup  Tidak ada tutup  Ukuran Wadah : (Jumlah penghuni x 3 x3)/45  Lebih besar atau sama dengan 1  Antara 0,75 - 1  Antara 0,5 – 0, 75  Lebih kecil atau sama dengan 0,5

Score

3 2 1 1 2 3 5 3 5 3 4 3 1 2

5 3 4 3 2 1

28

3.5.2.2

Pengolahan Skala Rumah Tangga Pemantauan Score

Jenis peralalatan komposter yang digunakan :      Tong dari plastik yang berlubang Keranjang Tatakura Bak dari kayu berlubang Drum setengah berlubang Lainnya sebutkan........................... 5 5 5 5

Volume komposter : (Jumlah penghuni x 1,5 x50)/2    Diatas atau sama dengan 60 liter Antara 30 – 60 liter Dibawah 30 liter 3 2 1

Jumlah komposter :     Diatas 3 unit per rumah 2 unit per rumah 1 unit per rumah Lainnya sebutkan.................... 3 2 1

Pemantauan
Warna hasil kompos :  Hitam seperti tanah   Coklat tua Lainnya sebutkan...........

Score
3 2 1

Bau hasil kompos :     Berbau seperti humus Berbau busuk Tidak berbau Lainnya sebutkan........... 3 1 2

Bentuk kompos :    Mempunyai tekstur yang halus Masih kasar terlihat ada materi organik tidak hancur Lainnya sebutkan............. 3 2

Daur ulang sampah non organik :     Tidak menggunakan teknologi yang berbahaya bagi kesehatan Tidak menggunakan bahan kimia spserti lem, bensin, minyak tanah Tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan (misalnya air buangan) Tidak memerlukan ketrampilan khusus yang sulit dilakukan orang awam 3 3 3 3

Produk daur ulang :    Kertas untuk kertas seni dan barang seni lainnya Plastik untuk barang seni kerajinan tangan Lainnya sebutkan................ 5 5

30

3.5.2.3

Pengumpulan Pemantauan Score
1 2 3

Jenis alat pengumpulan :     Gerobak/motor sampah biasa Gerobak sampah 3R Motor sampah 3R Lainnya sebutkan................

Pola pengumpulan :    Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah tercampur dalam satu gerobak Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan gerobak atau motor sampah 3R (bak terpilah untuk beberapa jenis sampah) Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan gerobak atau motor sampah beberapa gerobak dimana masing-masing gerobak mengumpulkan jenis sampah tertentu pada hari yang sama. Pengumpulan langsung dari rumah ke rumah dengan gerobak atau motor sampah beberapa gerobak dimana masing-masing gerobak mengumpulkan jenis sampah tertentu pada hari yang berbeda Lainnya sebutkan................................ 1 3 3

4

Pemantauan
Operasional pengumpulan :  Frekuensi pengumpulan :      Setiap hari Tiga hari sekali Seminggu sekali Lainnya sebutkan....................

Score

3 2 1

Frekuensi pengumpulan disesuaikan dengan komponen sampah:  Sampah mudah membusuk :      Setiap hari Tiga hari sekali Seminggu sekali Lainnya sebutkan.................... 3 2 1

Untuk sampak kering ;         Setiap hari Tiga hari sekali Seminggu sekali Untuk sampah B3 dikumpulkan : Setiap hari Tiga hari sekali Seminggu sekali Lainnya sebutkan.................... 3 2 1 3 2 1

32

Pemantauan
 Daerah pelayanan mencakup : o Lebih dari 500 kk o o o o  300- 500 kk 100 – 300 kk 50 – 100 kk Kurang dari 50 kk

Score
5 4 3 2 1

Pelaksanaan pengumpulan dilakukan oleh : o o o o o Kelompok aktif masyarakat : Karang Taruna, PKK, dll Dinas Kebersihan atau sejenis Petugas khusus dari RW/Kelurahan Swadaya masyarakat oleh KSM Lainnya sebutkan................. 1 2 3 4

3.5.2.4

Tempat Pengolahan Sampat Terpadu Skala Kawasan Pemantauan Score
5 5 5

Jenis teknologi yang digunakan :     Pengkomposan sampah organik Pengolahan sampah kertas Pengolahan sampah plastik Lainnya sebutkan

Teknologi Pengkomposan yang digunakan :     Open Windrows Caspary Open Bin Lainnya sebutkan.......................... 5 5 5

Peralatan Bantu Pengkomposan :  Alat Penghancur Sampah Organik 5

Kapasitas TPST :    Diatas atau sama dengan 2 ton (10 m3) per hari Antara 1 ton – 2 ton per hari Kurang dari 1 ton per hari 3 2 1

34

Aspek
Cakupan Layanan :        Diatas atau sama dengan 1000 kepala keluarga Antara 750 – 1000 kepala keuarga Antara 500 – 750 kepala keluarga Antara 250 – 500 kepala keluarga Antara 100 – 250 kepala keluarga Antara 40 – 100 kepala keluarga Dibawah 40 kepala keluarga

Score
7 6 5 4 3 2 1

Warna hasil kompos    Hitam seperti tanah Coklat tua Lainnya sebutkan........... 3 2

Bau hasil kompos :     Berbau seperti humus Berbau busuk Tidak berbau Lainnya sebutkan........... 3 1 2

Aspek
Bentuk kompos :  Mempunyai tekstur yang halus   Masih kasar terlihat ada materi organik tidak hancur Lainnya sebutkan.............

Score
3 2

Daur ulang sampah non organik :     Tidak Menggunakan teknologi yang berbahaya bagi kesehatan Tidak Menggunakan bahan kimia spserti lem, bensin, minyak tanah Tidak Menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan (misalnya air buangan) Tidak Memerlukan ketrampilan khusus yang sulit dilakukan orang awam 5 5 5 5

Produk daur ulang :     Kertas untuk kertas seni dan barang seni lainnya Plastik untuk barang seni kerajinan tangan Bahan baku pabrik Lainnya sebutkan................ 5 5 5

36

3.5.3

Kelembagaan Aspek Score
5 4 3 2

Bentuk lembaga :  Kelompok Swadaya Masyarakat  Bagian dari kepengurusan RT/RW  Kelompok Aktif (PKK, Karang Taruna, Perkumpulan keagamaan)  Lembaga diluar lingkungan (LSM)  Lainnya sebutkan ............................. Struktur Organisasi :            pembina ketua Sekretaris Bendahara Unit Monitoring dan Evaluasi Unit kerajinan daur ulang Unit produksi kompos Unit penjualan produk Unit pemeliharaan Unit Diklat Unit penyuluhan 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

Legalitas pembentukan :      Surat Keputusan RT/RW Surat Keputusan Lurah Surat Keputusan Camat Surat Keputusan Walikota Lainnya sebutkan..................... 1 2 3 4

3.5.4

Pendanaan Aspek Score

Biaya Investasi :        Pewadahan : Kurang dari Rp. 25.000,- per kk Antara Rp. 25.000 – 50.000,- per kk Antara Rp. 50.000 – Rp. 100.000,- per kk Antara Rp. 100.000,- - Rp. 300.000,- per kk Diatas Rp. 300.000,- per kk 5 4 3 2 1

Komposter Rumah Tangga :      Kurang dari Rp. 25.000,- per kk Antara Rp. 25.000 – 50.000,- per kk Antara Rp. 50.000 – Rp. 100.000,- per kk Antara Rp. 100.000,- - Rp. 300.000,- per kk Diatas Rp. 300.000,- per kk 5 4 3 2 1

Pengumpulan Gerobak:     Kurang dari Rp. 1.000.000,- per unit Antara Rp. 1.000.000,- - Rp. 1.500.000,- per unit Antara Rp. 1.500.000,- - Rp. 2.500.000,- per unit Diatas Rp. 2.500.000,- per unit 4 3 2 1

Pengumpulan Motor:     Kurang dari Rp. 10.000.000,- per unit Antara Rp. 10.000.000,- - Rp. 15.000.000,- per unit Antara Rp. 15.000.000,- - Rp. 25.000.000,- per unit Diatas Rp. 25.000.000,- per unit 4 3 2 1 38

TPST : o Kurang dari Rp. 200 juta o Antara 200 juta – 1 milyard o Diatas 1 milyard.

3 2 1

Biaya operasional per tahun :  Pengumpulan : o Kurang dari Rp. 36.000.000,o Antara Rp. 36.000.000,- - Rp. 75.000.000,o Antara Rp. 75.000.000,- - Rp. 100.000.000,o Diatas Rp. 100.000.000, Biaya Pengolahan di TPST : o Kurang dari Rp. 50.000.000,o Antara Rp. 50.000.000,- - Rp. 100.000.000,- (tanpa mesin pencacah) o Antara Rp. 100.000.000,- - Rp. 150.000.000,-(dengan mesin pencacah) o Diatas Rp. 150.000.000,2 4 4 2 1 3 4 1

Aspek
Sumber Dana :  Dana Mandiri dari masyarakat  Sharing antara masyarakat dan pihak lain  Dana APBD pemerintah daerah  Dana LSM  ·Lainnya sebutkan

Score 5 4 3 2

Alokasi dana meliputi :  Operasional :  Peningkatan kapasitas (capacity building) dalam sarasehan, Focus Group Discussion, dll  Pelatihan  Kunjungan lapangan  Pameran produk-produk daur ulang  Lain-lain sebutkan.............. Pemeliharaan  Penggantian komposter yang rusak  Pemeliharaan alat pengumpul  Pemeliharaan TPST  Lainnya sebutkan.................. Pelaporan keuangan :  Pembukuan  Laporan keuangan triwulan  Laporan keuangan tahunan 5 5 5 5 5 5 5 5

5 5 5

40

3.5.5

Peran Serta Masyarakat Aspek Score
6 5 4 3 2 1

Keterlibatan Warga :  Seluruh warga 1 kelurahan terlibat  Seluruh warga 1 RW terlibat  Seluruh warga 1 RT terlibat  50 % warga 1 RT terlibat  25 % warga 1 RT terlibat  Perwakilan pada setiap RT/RW di seluruh kelurahan  Lainnya sebutkan................. Kelompok aktif di masyarakat yang terlibat :  PKK  Karang Taruna  Jantung Sehat  Kelompok agama  Arisan  Lainnya sebutkan................ Frekuensi pertemuan warga tentang pengelolaan sampah terpadu 3R :  Seminggu sekali  Dua minggu sekali  Sebulan sekali  3 bulan sekali  6 bulan sekali  1 tahun sekali  Lebih dari 1 tahun sekali  Tidak pernah  Lainnya sebutkan....................

3 3 3 3 3

8 7 6 5 4 3 2 1

3.5.6

Pengaturan Aspek Score
5 5 5

Pengaturan dan Peraturan perundangan disarankan mempunyai :  Surat Keputusan Pembentukan Organisasi Pengelola Sampah 3R terpadu berbasis masyarakat – TKM (Sk Lurah, RW, atau RT)  Surat Keputusan (Lurah, RW, RT) tentang iuran bulanan pengelolaan sampah  surat Keputusan (Lurah, RW, RT) tentang tata tertib kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah  Lainnya sebutkan.............

3.5.7

Operasional
Aspek Score 4 3 2 1

Tingkat operasional saat pemantauan :  Sudah berjalan 100 % sesuai perencanaan   

Berjalan antara 75 % - 100 % Antara 50 % - 75 % Dibawah 50 %

42

BAB IV PENUTUP

Dengan tersusunnya Pedoman 4 Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan Pengelolaan Sampah 3R berbasis masyarakat diharapkan dapat menjadi panduan bagi penyelenggaraan 3R yang berkelanjutan sesuai dengan perencanaan awal dan sasaran pengurangan sampah 20 % ditahun 2010. Hasil monitoring dan evaluasi seperti yang tertera pada pedoman ini dapat dijadikan acuan untuk pengembangan maupun replikasi ke daerah sekitarnya. Kami mengharapkan masukan yang konstruktif guna lebih melengkapi pedoman ini.

DAFTAR PUSTAKA
1. UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang 2. UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, 3. UU No. 32 tahun 2006 tentang Pemerintah Daerah 4. UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan Dan Permukiman 5. UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 6. PP No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum 7. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2005-2009; 8. Peraturan Menteri PU No. 21/ PRT / M / 2006 tentang Kebijakan Strategi Pengelolaan Persampahan 9. Standar Nasional Indonesia, SNI 19-3964-1994, Metode Pengambilan dan Pengukuran 10. Standar Nasional Indonesia, SNI T-13-1990-F, Tata cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan, Departemn Pekerjaan Umum, 1990. 11. Standar Nasional Indonesia, SNI S 04 1991 03, Spesifikasi Timbulan Sampah Untuk Kota Kecil dan Kota Sedang di Indonesia, Departemen Pekerjaan Umum, 1991. 12. Standar Nasional Indonesia, SNI 19-2454-2002, Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan, Departemen Pekerjaan Umum, 2002. 13. Standar Nasional Indonesia, SNI 03-3242-1994, Tata Cara Pengelolaan Sampah di Pemukiman, 14. Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Pedesaan, Pedoman Pengelolaan Persampahan perkotaan, Departemen PLP Wilayah, , 2003. 15. Departemen PLP Wilayah, Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Pedesaan, Pedoman Pengelolaan Persampahan perkotaan bagi pelaksana, , 2003. 16. Badan Standarisasi Nasional – BSN, Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan, 17. CPIS, Panduan Persiapan Usaha Daur Ulang dan Produksi Kompos, 1992 18. Sri Murniati Djamaludin dan Sri Wahyono, Pengomposan Sampah Skala Rumah Tangga 44

PENASEHAT
Direktur Jenderal Cipta Karya Susmono Kati Andraini Darto

PENYUSUN
Endang Setyaningrum Widhi Handoko Sri Bebassari Djoko Heru Martono Maskana

EDITOR
PT. WASECO TIRTA

Dicetak Untuk DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN EDISI I MARET 2008