Fungsi plasenta Perkembangan dan anatomi fisiologi plasenta Ketika korda trofoblastik dari blastokista melekat pada uterus

, kapiler-kapiler darah tumbuh ke dalam korda dari sistem vaskuler embrio yang baru terbentuk. Menjelang hari ke16 setelah pembuahan, darah juga mulai dipompa oleh jantung wmbrio itu sendiri. Secara bersamaan, sinuus-sinus darah yang disuplai oleh darah ibu berkembang disekitar bagian luar korda trofoblastik. Sel-sel trofoblas menjulurkan semakin banyak penonjolan-penonjolan, yang akan menjadi vili plasenta, tempat tumbuh kapiler-kapiler fetus. Jadi, vili yang membawa darah fetus dikelilingi oleh sinus-sinus yang mengandung darah ibu. Pada saat yang sama, darah ibu mengalir dari arteri uterina ke dalam sinus-sinus maternal yang mengelilingi vili dan kemudian kembali ke dalam vena uterina ibu. Total daerah permukaan dari semua vili plasenta yang matur, hanya beberapa meter persegi jauh lebih kecil daripada area membran pulmoner di dalam paru. Meskipun demikian, bahna nutrisi dan zat-zat lain melewati membrab plasenta terutama dengan cara difusi, yang hampir sama dengan difusi yang terjadi melalui membran alveolus paru dan membran kapiler dimanapu dalam tubuh. Permeabilitas Plasenta dan Konduktansi Difusi Membran Fungsi utama plasenta adalah mengadakan difusi bahan-bahan makanan dan oksigen dari darah ibu ke dalam darah fetus dan difusi produk-produk ekskretoris dari fetus kembali ke ibu. Pada bulan-bulan awal kehamilan, membran plasenta masih tebal karena belum berkembang sepenuhnya. Oleh karena itu, permeabilitasnya rendah. Lebih lanjut, area permukaannya kecil karena plasenta belum tumbuh secara bermakna. Oleh karena itu, pada awalnya total konduktansi difusinya kecil. Sebaliknya, pada kehamilan lanjut, permeabilitas membran plasenta meningkat akibat penipisan lapisan-lapisan difusi mebran dan karenan area permukaan berkembang sangat luas, sehingga memberikan peningkatan difusi plasenta yang sangat besar. Jarang sekali terjadi “robekan” pada membran plasenta, yang memungkinkan sel-sel darah ferus lewat ke ibu atau yang lebih jarang lagi, sel-sel darah ibu masuk ke dalam fetus. Untungnya sangat jarang fetus mengeluarkan banyak darah ke dalam sirkulasi ibu akibat ruptur membran plasenta. Difusi oksigen Melalui Membran plasenta Prinsip yang hampir sama persis dengan difusi oksigen melalui membran paru. Oksigen yang larut di dalam darah sinus maternal besar masuk kedalam darah fetus melalui difusi sederhana, didorong oleh gardien tekanan oksigen dari darah ibu ke dalam fetus. Mendekati akhir usia kehamilan, PO2 rata-rata dalam darah ibu pada sinus-sinus plasenta kira-kira 50 mmHg, dan PO2 rata-rata dalam fetus setelah teroksigenasi adalah kira-kira 30

Jadi. walaupun pada kenyataannya darah fetus yang meninggalkan plasenta hanya mempunyai PO2 sebesar 30 mmHg. Hilangnya karbon dioksida membuat darah fetus lebih alkalis. Seseorang akan berpikir bagaimana mungkin bagi fetus dapat memperoleh oksigen yang cukup bila dara fetus yang meninggalkan plasenta hanya mempunyai PO2 30 mmHg. sehubungan dengan pertukaran karbon dioksida dan oksigen dalam paru. Faktor tersebut yaitu. Ada tiga alasan mengapa PO2 yang rendah ini membuat darad fetus mampu untuk mentranspor oksigen ke jaringan fetus hampir sama banyak dengan yang di transpor oleh darah ibu ke jaringannya.oleh karena itu. sehingga meningkatkan oksigen dalam darah fetus. oleh karena itu. dan satu-satunya cara mengekskresi karbon dioksida dari fetus adalah melalui plasenta ke dalam darah ibu. Total kapasitas difusi oksigen seluruh plasenta pada saat aterm kira-kira 1. Kedua efek tersebut membuat pergeseran bohr di sini dua kali lebih penting daripada untuk pertukaran oksigen dalam darah paru. meyediakan mekanisme lain untuk meningkatkan tranpor oksigen oleh darah fetus. ini adalah faktor yang lebih penting dalam meningkatkan jumlah oksigen yang ditranspor ke jaringan fetus. keadaan ini disebut efek Bohr ganda. Ketiga efek Bohr. Keadaan ini memaksa lebih banyak oksigen mengalir dari darah ibu. oleh karena itu. konsentrasi hemoglobin darah fetus kira-kira 50% lebih besar dari hemoglobin ibu. Perubahan ini menyebabkan kapasitas oksigen darah fetus yang bergabung dengan oksigen menjadi meningkat dan yang berada dalam darah ibu menurun. fetus mampu menerima oksigen lebih dari cukup melaui membran plasenta. sedangkan peningkatan karbon dioksida dalam darah ibu membuat darah ibu lebih asam. Pertama. Difusi Karbon Dioksida Melalui Membran Plasenta Karbon dioksida secara terus menerus dibentuk dalam jaringan fetus dengan cara yang sama dengan pembentukan karbon dioksida dalam darah ibu.2 milimeter oksigen permenit permilimeter air raksa dari perbedaan tekanan oksigen diseluruh membran. Dengan tiga cara ini. hemoglobin dapat membawa oksigen lebih banyak PCO2 rendah dari pada yang dapat di bawa Pco2 tinggi. pergeseran Bohr akan bekerja pada arah tertentu dalam darah ibu dan pada arah yang lain dalam darah fetus. Darah fetus yang memasuki plasenta membawa sejumlah besar karbondioksida. Kapasitas ini sebanding dengan kapasitas pada paru bayi yang baru lahir. Kedua. PCO2 darah fetus besarnya 2 sampai 3 mmHg lebih tinggi dari PCO2 darah ibu. gradien tekanan rata-rata untuk difusi oksigen melalui membran plasenta kira-kira adalah 20 mmHg. tetapi banyak karbon dioksida ini berdifusi dari darah fetus ke dalam darah ibu. hemoglobin yang terdapat pada fetus terutama adalah hemoglobin fetus. suatu jenis hemoglobin yang disintesis oleh fetus sebelum kelahiran.mmHg. Gradien tekanan karbon dioksida yang kecil ini pada membran lebih dari cukup untuk memungkinkan difusi .

Oleh karena itu. zat-zat ini juga berdifusi dari darah ibu ke dalam darah fetus tetapi lebih lambat daripada glukosa sehingga glukosa lebih mudah dipakai fetis sebagai nutrisi. Selain itu. Sebaliknya. Difusi Bahan Makanan Melalui Membran Plasenta Zat-zat metabolisme lain yang diperlukan oleh fetus berdifusi ke dalam darah fetus dengan cara yang sama seperti oksigen. Produk ini terutama meliputi nitrogen bukan protein seperti ureum. Untuk menyediakan glukosa yang banyak ini. Jadi glukosa ditranspor oleh molekul-molekul pembawa dala membran sel trofoblas. fetus sering menggunakan glukosa sebanyak yang dipakai oleh seluruh tubuh ibu. kreatinin yang sulit mempunyai presentasi konsentrasi darah fetus yang lebih tinggi daripada di dalam darah ibu. sebagai akibat gradien difusi melewati membran plasenta. natrium. pada stadium akhir kehamilan. dan juga klorida berdifusi relatif lebih mudah dari darah ibu ke dalam darah fetus. Karena kelarutan asam lemak yang di tinggi di membran sel. Walaupun begitu. produk-produk ekskresi lainnya yang dibentuk pada fetus juga berdifusi melalui membran plasenta ke dalam darah ibu dan kemudian di ekskresikan bersama-sama dengan produk-produk ekskresi dari ibu. Ekskresi Produk-Produk Buangan Melalui Membran plasenta Dengan cara yang sama seperti karbon dioksida berdifusi dari darah fetus ke dalam darah ibu. ekskresi dari fetus terutama terjadi.karbon dioksida yang adekuat karena kelarutan karbon dioksida yang ekstrem dalam membran plasenta memungkinkan karbon dioksida berdifusi kira-kira 20 kali kecepatan difusi oksigen. zat-zat seperti benda keton dan ion kalium. Kadar ureum dalam darah fetus hanya sedikit lebih besar dari kadar di dalam darah ibu karena ureum berdifusi melalui membran plasenta dengan sangat mudah. kadar glukosa di darah fetus adalah 20 sampai 30 persen lebih rendah dari darah ibu. karena terdapat konsestrasi produk-produk ekskresi dalam darah fetus lebih tinggi dari pada darah ibu. . sel-sel trofoblas yang membatasi vili plasenta menyediakan difusi terfasilitasi glukosa melalui membran plasenta. Sebagai contoh. asam urat dan kreatinin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful