BAB I REKAM MEDIK I. IDENTIFIKASI a. b. c. d. e. f. g. II. Nama Umur Alamat Agama Status Bangsa : Ny.

Siti Aisiyah : 22 Tahun : Bugel 2/5 keseneng Mojotengash : Islam : Menikah : Indonesia

Jenis Kelamin : Perempuan

ANAMNESIS (autoanamnesis) Anamnesis Umum : Pasien datang ke IGD pukul 7:30 pagi diantar bidan dengan keterangan G1P0A0 kenceng-kenceng teratur blm dirasakan air ketuban keluar sejak 4 jam yang lalu pukul 04.00.WIB. HPHT HPL Umur Kehamilan : 17 Mei 2011 : 24 Februari 2012 : 38 minggu 1 hari

Riwayat perkawinan Kawin 1 kali, menikah pada usia 20 tahun lamanya 1 tahun. Riwayat Obstetri G1P0A0 Anak pertama hamil ini a. Riwayat haid Menarche umur 13 tahun. Haid teratur 30 hari, lamanya 7 hari, darah haid biasa, sakit waktu haid tidak ada, keputihan (-), gatal (-), bau (-). b. c. d. Nafsu makan: Biasa Riwayat KB belum pernah Miksi dan defekasi lancar.

1

e.

Riwayat penyakit yang pernah diderita DM tidak ada Penyakit jantung tidak ada Hipertensi tidak ada Anamnesis Khusus Keluhan utama: Air ketuban pecah sejak 4 jam yang lalu III. PEMERIKSAAN FISIK Status present Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Pernapasan Temperatur : tampak sakit sedang : kompos mentis : 120/70 mmHg : 84x/menit : 20 x/menit : 36,7 ºC. Konjungtiva pucat : (-)/(-), ikterus (-)

Hati dan limpa tidak teraba Edema -/-, varises -/-, refleks fisiologis +/+, refleks patologis -/Payudara hiperpigmentasi -/-. Jantung Paru-paru Keadaan gizi Berat badan Tinggi badan a. • : gallop (-), murmur (-). : bising nafas vesikuler normal, ronkhi -/-, wheezing -/-. : sedang. : 59 kg : 149 cm

Status ginekologis Pemeriksaan luar: janin tunggal, memanjang, puka, kepala teraba 4/5 bagian, TFU 28cm, DJJ 140x/menit

2

kepala turun di H2. Pemeriksaan dalam: Vulva urethra tenang.BDP Pukul 9. DJJ 138x/menit PD : v/u tenang. dinding vagina licin.00.00) Tx : Observasi His dan Djj 3 .15. selket sulit diraba. Masuk amphicillin 1g IV Pukul 10. primigravida hamil aterm. ddv licin. AK (+).• o (+). Dx : KPD 8 jam primigravida h aterm BDP Tx: usul induksi misoprostol 25 mcq/oral/ 6jam/ tab 1 Pukul 13.00. Pemeriksaan Djj (+) 144x/menit Mulai induksi misoprostol 25mcq/oral/6jam. Dilakukan NST • • • • • FHR: 140-145 Variabilitas : >5 Akselerasi (+) Deselerasi (-) Gerakan (+) Kesan NST reaktif Pukul 11. AK DIAGNOSIS KPD 4 jam. evaluasi 6 jam lagi (pukul 19. Selket sulit di raba. pembukaan 0cm. STLD (-). serviks tebal di belakang. pembukaan 0cm. sx tebal di belakang.00. IV. His (-). kepala turun H1. STLD (-). Evaluasi.

sx tipis.40. LD (+). pembukaan 4cm. DJJ 146x/menit. kepala Kepala turun di H3-4. AK (+). selket (+). AK (+). Dx : KPD 11 jam primigravida h aterm dp kala I aktif. sx tebal di belakang. evaluasi 4 jam lagi. Panjang badan 45cm. his 2-3/30-40’/s PD : serviks tidak teraba. Evaluasi His (-). Selket (-). AK (+). (05.35. kepala turun di H2. dan anus terbuka. DJJ. DJJ 146x/menit. Bayi lahir spontan jenis kelamin perempuan.00. dinding vagina licin.Pukul 19. pembukaan lengkap. ddv licin. preskep.00) Pukul 01.00. Vulva. pembukaan 0cm. STLD (-). kepala turun di H2. Dx : KPD 11 jam primigravida hamil aterm BDP dengan riwayat Induksi misoprosto 25mcq/oral/6jam/tab 1 Tx: masuk misoprostol 25mcq/oral/6jam/tab2 Oservasi his. berat badan 2300gr. preskep. Ibu tampak ingin mengejan.00) Pukul 01. siapkan set partus dan resusitasi bayi Pukul 01. LD (-). dalam riwayat induksi misoprostol25mcq/oral/6 jam/tab 2. djj. evaluasi 6 jam lagi (01. Dx : Kala II awal Tx : pimpin persalinan. PD : v/u tenang. Tx : oservasi his. Selket sulit di raba. Evaluasi His : 5-6’/20-25’/s. DJJ 136x/menit PD : vulva uretra tenang. apgar score 7/9 Tx : injeksi oxitoxin 1 A 4 .

hecting luar jahit satu-satu dx : Post partus spontan dengan riwayat induksi misoprostol 25mcq/oral/6jam/tab 2 atas indikasi KPD 11 jam V. rutur di hecting dalam dengan jelujur terkunci. Plasenta lahir spontan kesan lengkap. Amoxicillin tab 3x500 4. Asam Mefenamat 3x500 3.Pukul 01.45. PENATALAKSANAAN 1. Perineum ruptur grade III. Perbaikan keadaan umum 2. Viliron 1x1 5 . Tx : inj metergin 1A.

Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. yang meningkatkaan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu. 6 . • Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intrauterine atau oleh kedua faktor tersebut. Definisi Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu disebut ketuban pecah dini pada kehamilan prematur.berkurangnya kekuatan membrane disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina servik (sarwono prawiroharjop. Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.2002) Prinsip dasar : • Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung • Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetric berkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadinya infeksi khoriokarsinoma sampai sepsis.BAB II PEMBAHASAN A.ketuban pecah dini di sebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uteri atau kedua faktor tersebut.

2002 ) B. ( Sarwono Prawirohardjo. namun penyebabnya masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. bertujuan untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya prematuritas. bahwa lebih banyak terjadi pada kehamilan yang cukup bulan dari pada yang kurang bulan. KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan kurang bulan. sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD pada kehamilan preterm terjadi sekitar 34 % semua kekahiran prematur. dan mempunyai kontribusi yang besar pada angka kematian perinatal pada bayi yang kurang bulan. Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi adalah: 7 . Insidensi Beberapa peneliti melaporkan hasil penelitian mereka dan didapatkan hasil yang bervariasi. Pengelolaan KPD pada kehamilan kurang dari 34 minggu sangat komplek. yaitu sekitar 95 %. C.• Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi. Hal yang menguntungan dari angka kejadian KPD yang dilaporkan. Insidensi KPD berkisar antara 8 .10 % dari semua kehamilan. namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD. Etiologi Walaupun banyak publikasi tentang KPD.

curetage). 4. 6. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya trauma. Servik yang inkompetensia.3. hidramnion. 5. 2. pemeriksaan dalam. 6. kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan.Faktor golonngan darah 6. Keadaan sosial ekonomi 6. sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah. 3.5. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual. 6. Faktor lain 6. misalnya sungsang.2. gemelli.Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan jarinngan kulit ketuban.1.Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.1. 8 .Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C). Infeksi Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.4. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya KPD. merokok dan perdarahan antepartum. maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi.Faktor multi graviditas. Kelainan letak.

Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian. Cairan ketuban ini terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam anorganik serta bahan organik. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri. Sedangkan. Bagian pertama disebut amnion. Cairan ini dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion. Namun bisa juga kurang dari jumlah tersebut atau lebih hingga mencapai 3-5 liter. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8-10 cc air ketuban atau 1 persen dari seluruh volume dalam tiap jam.5 liter. Pada ibu hamil. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. nyeri perut. Manfaat air ketuban Pada ibu hamil. Demam. serta cairan otak pada anensefalus. bagian kedua. mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes. Patofisiologi Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang berisi cairan dan janin selama masa kehamilan. Tanda dan gejala Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Normalnya antara 1 liter sampai 1. yang terdapat di sebelah luar disebut chorion.D. air ketuban ini berguna untuk mempertahankan atau memberikan perlindungan terhadap bayi dari 9 . denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi. ditambah air kencing janin. Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. E. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak. dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk sementara. bercak vagina yang banyak. jumlah cairan ketuban ini beragam. terdapat di sebelah dalam.

Sebaliknya diagnosa yang negatif palsu berarti akan membiarkan ibu dan janin mempunyai resiko infeksi yang akan mengancam kehidupan janin. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Jika ada infeksi dan inflamasi. Karena diagnosa yang positif palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkakn bayi terlalu awal atau melakukan seksio yang sebetulnya tidak ada indikasinya. fibroblas. golongan darah serta rhesus.benturan yang diakibatkan oleh ‘lingkungannya’ di luar rahim. terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin. susunan genetiknya. Tak hanya itu. Caranya yaitu dengan mengambil cairan ketuban melalui alat yang dimasukkan melalui dinding perut ibu. menyebabkan selaput ketuban tipis. dan sebagainya. menghasilkan kolagenase jaringan. F. manfaat lain dari air ketuban ini adalah untuk mendeteksi jenis kelamin. memerikasa kematangan paru-paru janin. sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion. Selain itu air ketuban bisa membuat janin bergerak dengan bebas ke segala arah. • Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion. Oleh karena itu 10 . dan kelainan kongenital (bawaan). Diagnosa Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. ibu atau keduanya. jaringan retikuler korion dan trofoblas. lemah dan mudah pecah spontan. Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut : • Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban.

kalau belum juga tampak keluar. dan belum ada pengeluaran lendir darah. Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu dipertimbangkan. Diagnosa KPD ditegakkan dengan cara : 1. 4. penderita diminta batuk. Pemeriksaan dengan spekulum. keluanya cairan tersebut tersebut his belum teratur atau belum ada. fundus uteri ditekan. atau mengeluarkan cairan yang banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir atau ngepyok. Anamnesa Penderita merasa basah pada vagina. dan perlu juga diperhatikan warna. atau bagian terendah digoyangkan. Karena 11 . akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada fornik anterior. Cairan berbau khas. pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE). bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak.diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat. pemeriksaan ini akan lebih jelas. Inspeksi Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina. 3. Pemeriksaan dalam Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi. 2. pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam. megejan atau megadakan manuvover valsava.

Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis. jika krtas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). Mikroskopik (tes pakis). 5. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya diulakaukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. pH air ketuban 7 – 7.b. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5.pada waktu pemeriksaan dalam. 12 . Namun sering terjadi kesalahn pada penderita oligohidromnion. jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal. tetap kuning. Tes Lakmus (tes Nitrazin). Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret vagina.a.5. Pemeriksaan laboraturium Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna. darah dan infeksi vagina dapat mengahsilakan tes yang positif palsu. Pemeriksaan Penunjang 5. bau dan pH nya.1. dengan kertas nitrazin tidak berubah warna. 5. konsentrasi. 51. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. 5.2.1.

normal negatif). DJJ meningkat).8 C) ibu takikardia (>100 denyut per menit) fetal takikardia (>160 denyut per menit) nyeri abdomen. nyeri tekan uterus cairan amnion berwarna keruh atau hijau dan berbau leukositosis pada pemeriksaan darah tepi (>15000- - 20000/mm3) pemeriksaan penunjang lain : leukosit esterase (+) (hasil degradasi leukosit. 3. leukositosis. takikardi. korioamnionitis (demam >380C. nyeri uterus. jika terjadi pada usia kehamilan preterm. kultur darah G. infeksi maternal : infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterine. bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis. cairan vagina berbau busuk atau bernanah. 4. namun pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sedehana. persalinan preterm. Diagnosis infeksi intrapartum - febris di atas 38 C (kepustakaan lain 37. Tali pusat menumbung 2. Komplikasi 1. pemeriksaan Gram. Prematuritas.Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya. Oligohidramnion. endometritis 13 .

dan kalau menempuh cara konservatif dengan maksud untuk memberi waktu pematangan paru. harus bisa memantau keadaan janin dan infeksi yang akan memperjelek prognosis janin. trauma pada waktu lahir dan Premature. sepsis perinatal sampai kematian janin H. 6. komplikasi infeksi intrapartum • komplikasi ibu : endometritis. atonia). Kalau umur kehamilan tidak diketahui secara pasti segera dilakukan pemeriksaann ultrasonografi (USG) untuk mengetahui umur kehamilan dan letak janin. dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu. Penatalaksanaan Kasus KPD yang cukup bulan. Oleh karena itu pada kehamilan kurang bulan perlu evaluasi hati-hati untuk menentukan waktu yang optimal untuk persalinan. dan kalau menunggu persalinan spontan akan menaikkan insidensi chorioamnionitis. kalau segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan insidensi bedah sesar. Pada umur kehamilan 34 minggu atau lebih biasanya paru-paru sudah matang. • komplikasi janin : asfiksia janin. chorioamnionitis yang diikuti dengan sepsi pada janin merupakan sebab utama meningginya morbiditas 14 . Kasus KPD yang kurang bulan kalau menempuh cara-cara aktif harus dipastikan bahwa tidak akan terjadi RDS (Respiratory Distress Syndrome). Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan. sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki vaskularisasi sangat banyak). penekanan tali pusat (prolapsus) : gawat janin kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang). Resiko yang lebih sering pada KPD dengan janin kurang bulan adalah RDS dibandingkan dengan sepsis. penurunan aktifitas miometrium (distonia.5.

dan mortalitas janin. Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurunkan infeksi pada ibu.bila dalam 24 jam setelah kulit ketuban pecah belum ada tanda-tanda persalinan maka dilakukan induksi persalinan. Dengan mempersingkat periode laten durasi KPD dapat diperpendek sehingga resiko infeksi dan trauma obstetrik karena partus tindakan dapat dikurangi. Walaupun antibiotik tidak berfaeadah terhadap janin dalam uterus namun pencegahan terhadap chorioamninitis lebih penting dari pada pengobatanya sehingga pemberian antibiotik profilaksis perlu dilakukan. Pada hakekatnya kulit ketuban yang pecah akan menginduksi persalinan dengan sendirinya. Makin muda umur kehamilan makin memanjang L. Sekitar 70-80 % kehamilan genap bulan akan melahirkan dalam waktu 24 jam setelah kulit ketuban pecah. 15 .Pnya. proses persalinan umumnya berlangsung lebih dari 6 jam. Waktu pemberian antibiotik hendaknya diberikan segera setelah diagnosis KPD ditegakan dengan pertimbangan : tujuan profilaksis.P = “lag” period. infeksi janin langsung berhubungan dengan lama pecahnya selaput ketuban atau lamanya perode laten.dan bila gagal dilakukan bedah caesar. Penatalaksanaan KPD pada kehamilan aterm (> 37 Minggu) Beberpa penelitian menyebutkan lama periode laten dan durasi KPD keduanya mempunyai hubungan yang bermakna dengan peningkatan kejadian infeksi dan komplikasi lain dari KPD. 1. Beberapa penulis meyarankan bersikap aktif (induksi persalinan) segera diberikan atau ditunggu sampai 6-8 jam dengan alasan penderita akan menjadi inpartu dengan sendirinya. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari persalinan disebut periode latent = L. lebih dari 6 jam kemungkinan infeksi telah terjadi. Pada kehamilan cukup bulan.

16 .Pelaksanaan induksi persalinan perlu pengawasan yang sangat ketat terhadap keadaan janin. maka segera dilakukan induksi persalinan tanpa memandang umur kehamilan. tidak perlu dilakukan pemeriksaan dalam untuk mencegah terjadinya infeksi dan kehamilan diusahakan bisa mencapai 37 minggu. jika selama menunggu atau melakukan pengelolaan konservatif tersebut muncul tanda-tanda infeksi.ditidurkan dalam posisi trendelenberg. dilakukan pematangan servik. Induksi dilakukan dengan mempehatikan bishop score jika > 5 induksi dapat dilakukan. ibu dan jalannya proses persalinan berhubungan dengan komplikasinya. 2. sebaliknya < 5. Tujuan dari pengelolaan konservatif dengan pemberian kortikosteroid pada penderita KPD kehamilan kurang bulan adalah agar tercapainya pematangan paru. penatalaksanaan KPD pada kehamilan preterm (< 37 minggu) Pada kasus-kasus KPD dengan umur kehamilan yang kurang bulan tidak dijumpai tanda-tanda infeksi pengelolaanya bersifat koservatif disertai pemberian antibiotik yang adekuat sebagai profilaksi Penderita perlu dirawat di rumah sakit. obat-obatan uteronelaksen atau tocolitic agent diberikan juga tujuan menunda proses persalinan. Pengawasan yang kurang baik dapat menimbulkan komplikasi yang fatal bagi bayi dan ibunya (his terlalu kuat) atau proses persalinan menjadi semakin kepanjangan (his kurang kuat). jika tidak berhasil akhiri persalinan dengan seksio sesaria.

ruptura uteri. Sehingga dikatan pengolahan konservatif adalah menunggu dengan penuh kewaspadaan terhadap kemungkinan infeksi intrauterin.Induksi persalinan sebagai usaha agar persalinan mulai berlangsung dengan jalan merangsang timbulnya his ternyata dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi yang kadang-kadang tidak ringan. tidakan bedah sesar hendaknya dikerjakan bukan sematamata karena infeksi intrauterin tetapi seyogyanya ada indikasi obstetrik yang lain. misalnya kelainan letak. Sikap konservatif meliputi pemeriksaan leokosit darah tepi setiap hari. Sedian terdiri atas betametason 2 dosis masing-masing 12 mg i. dll. gawat janin.(8) The National Institutes of Health (NIH) telah merekomendasikan penggunaan kortikosteroid pada preterm KPD pada kehamilan 30-32 minggu yang tidak ada infeksi intramanion. partus tak maju. Ternyata pengelolaan konservatif juga dapat menyebabakan komplikasi yang berbahaya. pengawasan denyut jamtung janin. maka perlu dilakukan pengawasan yang ketat. Selain komplikasi-kompilkasi yang dapat terjadi akibat tindakan aktif.m tiap 24 jam atau dexametason 4 dosis masing-masing 6 mg tiap 12 jam. Kegagalan dari induksi persalinan biasanya diselesaikan dengan tindakan bedan sesar. Seperti halnya pada pengelolaan KPD yang cukup bulan. pemberian antibiotik mulai saat diagnosis ditegakkan dan selanjutnya stiap 6 jam. Komplikasikomplikasi yang dapat terjadi gawat janin sampai mati.eriksaan tanda-tanda vital terutama temperatur setiap 4 jam. pem. tetani uteri. emboli air ketuban. 17 . dan juga mungkin terjadi intoksikasi. Pemberian kortikosteroid antenatal pada preterm KPD telah dilaporkan secara pasti dapat menurunkan kejadian RDS.

18 .(Sumber : http://medlinux.blogspot.html) INDUKSI PERSALINAN Definisi Induksi persalinan adalah usaha agar persalinan mulai berlangsung sebelum atau sesudah kehamilan cukup bulan dengan jalan merangsang timbulnya his.com/2009/02/ketuban-pecah-dini-kpd.

4. 5. bila dibiarkan terlalu lama dalam kandungan diduga akan beresiko atau membahayakan hidup janin. Ibu hamil tidak merasakan adanya kontraksi atau his. Indikasi darurat: 1) Hipertensi gestasional yang berat 2) Diduga komplikasi janin yang akut 3) PJT (IUGR) yang berat 4) Penyakit maternal yang bermakna dan tidak respon dengan pengobatan 5) APH yang bermakna dan Korioamnionitis b. misalnya si ibu menderita tekanan darah tinggi. Membran ketuban pecah sebelum ada tanda-tanda awal persalinan. terkena infeksi serius. Ukuran janin terlalu kecil. antara lain: a. atau mengidap diabetes.Tujuan Induksi Tujuan melakukan induksi antara lain: • • Mengantisipasi hasil yang berlainan sehubungan dengan kelanjutan kehamilan Untuk menimbulkan aktifitas uterus yang cukup untuk perubahan serviks dan penurunan janin tanpa meyebabkan hiperstimulasi uterus atau komplikasi janin • Agar terjadi pengalaman melahirkan yang alami dan seaman mungkin dan memaksimalkan kepuasan ibu Indikasi Indikasi melakukan induksi persalinan antara lain: 1. Indikasi segera (Urgent) 1) KPD saat aterm atau dekat aterm 19 . 2. Padahal kehamilannya sudah memasuki tanggal perkiraan lahir bahkan lebih (sembilan bulan lewat). 3. Plasenta keluar lebih dahulu sebelum bayi. Indikasi induksi persalinan berdasarkan tingkat kebutuhan penanganan. Induksi juga dapat dilakukan dengan alasan kesehatan ibu.

yakni serviks sudah mendatar dan menipis dan sudah dapat dilalui oleh sedikitnya 1 jari. Distensi rahim yang berlebihan g. Sebaiknya kepala janin sudah mulai turun ke dalam rongga panggul. yaitu: 1. Bila nilai lebih dari 8 induksi persalinan kemungkinan akan berhasil. Tidak terdapat kelainan letak janin yang tidak dapat dibetulkan. Indikasi tidak segera ( Non urgent ) 1) Kehamilan ‘post-term’ 2) DM terkontrol baik 3) Kematian intrauterin pada kehamilan sebelumnya 4) Kematian janin 5) Problem logistik (persalinan cepat. Sebaiknya serviks uteri sudah matang. 3. Disproporsi sefalopelvik b. Kontra indikasi induksi antara lain: a. 2. 4. Gemelli f. Grande multipara 20 .2) PJT tanpa bukti adanya komplikasi akut 3) DM yang tidak terkontrol 4) Penyakit iso-imun saat aterm atau dekat aterm c. Insufisiensi plasenta c. serta sumbu serviks mengarah ke depan. jarak ke rumah sakit) Untuk dapat melakukan induksi persalinan perlu dipenuhi beberapa kondisi dibawah ini. Apabila kondisi-kondisi di atas tidak terpenuhi maka induksi persalinan mungkin tidak memberikan hasil yang diharapkan. Tidak ada disproporsi sefalopelvik (CPD). Malposisi dan malpresentasi d. Plasenta previa e.1 Untuk menilai keadaan serviks dapat dipakai skor bishop.

Jika ibu merasa tidak tahan dengan rasa sakit yang ditimbulkan. biasanya proses induksi dihentikan dan dilakukan operasi caesar. Adanya kontraksi rahim yang berlebihan. Itu sebabnya selama proses induksi 21 . Cacat rahim Penilaiyan Serviks Keberhasilan induksi persalinan bergabtung pada skor pelvis. biasanya induksi cukup dilakukan dengan oksitoksin. Risiko Melakukan Induksi Risiko induksi persalinan yang mungkin terjadi diantaranya adalah: 1. matangkan serviks lebih dahulu dengan prostaglandin atau folley kateter. Jika ≤ 5. Itu sebabnya induksi harus dilakukan dalam pengawasan yang ketat dari dokter yang menangani. • Jika skor ≥ 6.h. 2. Janin akan merasa tidak nyaman sehingga dapat membuat bayi mengalami gawat janin (stress pada bayi).

perdarahan 22 . Risiko yang berhubungan dengan prosedur ini meliputi tali pusat menumbung atau kompresi tali pusat.berlangsung. Bila dianggap terlalu beresiko menimbulkan gawat janin. 2. Emboli terjadi apabila air ketuban yang pecah masuk ke pembuluh darah dan menyangkut di otak ibu. Stripping of the membranes Stripping of the membranes dapat meningkatkan aktivitas fosfolipase A2 dan prostaglandin F2α (PGF2 α) dan menyebabkan dilatasi serviks secara mekanis yang melepaskan prostaglandin. Emboli. infeksi maternal atau neonatus. deselerasi denyut jantung janin. Hal ini bisa terjadi pada yang sebelumnya pernah dioperasi caesar. Meski kemungkinannya sangat kecil sekali namun tetap harus diwaspadai. lalu menginginkan kelahiran normal. 5. Bila terjadi. tapi apabila digunakan sebagai pelengkap. penolong harus memantau gerak janin. 4. tampaknya berhubungan dengan kebutuhan dosis oksitosin rata-rata yang lebih rendah dan peningkatan rasio persalinan normal pervaginam. Dapat merobek bekas jahitan operasi caesar. dan pecah ketuban spontan serta ketidaknyamanan pasien. Induksi persalinan dengan Metode Bedah 1. Amniotomi Diduga bahwa amniotomi meningkatkan produksi atau menyebabkan pelepasan prostaglandin secara lokal. Risiko dari teknik ini meliputi infeksi. Stripping pada selaput ketuban dilakukan dengan memasukkan jari melalui ostium uteri internum dan menggerakkannya pada arah sirkuler untuk melepaskan kutub inferior selaput ketuban dari segmen bawah rahim. atau paru-paru. 3. dapat merenggut nyawa ibu seketika. perdarahan. Telaah Cochrane menyimpulkan bahwa stripping of the membrane saja tidak menghasilkan manfaat klinis yang penting. proses induksi harus dihentikan.

hanya ada dua uji terkontrol yang baik yang mempelajari penggunaan amniotomi saja. Selaput ketuban digores atau dikait untuk memecahkan ketuban g. dan PGE2 meningkatkan aktivitas kolagenase pada serviks. Teknik amniotomi adalah sebagai berikut : a. berdarah. Alat setengah kocher (cervical hook) dimasukkan melalui muara serviks dengan cara meluncur melalui tangan dan jari (sisi pengait mengarah ke tangan pemeriksa f. tebal atau tipis. Membran yang menutupi kepala janin dilepaskan dengan jari pemeriksa e. b. Bagian terbawah harus sudah masuk panggul d. glikosaminoglikan. dan buktinya tidak mendukung penggunaannya untuk induksi persalinan. mekonium) Menurut telaah Cochrane. Keadaan cairan amnion diperiksa (jernih. Dilakukan pemeriksaan pelvis untuk mengevaluasi serviks dan posisi bagian terbawah janin. 23 . Ia menyebabkan peningkatan kadar elastase. Induksi persalinan secara farmakologis : Prostaglandin Prostaglandin bereaksi pada serviks untuk membantu pematangan serviks melalui sejumlah mekanisme yang berbeda. Denyut jantung janin diperiksa (direkam) sebelum dan setelah prosedur tindakan dilakukan c. Ia menggantikan substansi ekstraseluler pada serviks.dari plasenta previa atau plasenta letak rendah dan kemungkinan luka pada janin.

Ruptur uteri pada wanita dengan riwayat seksio sesaria sebelumnya juga mungkin merupakan komplikasi. sementara mifepristone melawan aksi ini. yang membatasi penggunaannya pada wanita yang tidak memiliki skar uterus Mifepristone Mifepristone (Mifeprex) adalah agen antiprogesteron. Uji klinis menunjukkan bahwa dosis optimal dan pemberian interval dosis 25 mcg intravagina setiap empat sampai enam jam. Risiko yang berhubungan dengan penggunaan prostaglandin meliputi hiperstimulasi uterus dan efek samping maternal seperti mual. suatu kontraksi tunggal selama minimal dua menit. kedua analog prostaglandin tersedia untuk tujuan pematangan serviks. yaitu gel dinoprostone (Prepidil) dan dinoprostone inserts (Cervidil). Relaksasi pada otot polos serviks menyebabkan dilatasi.5 mg gel dinoproston. dan demam. yang didefinisikan sebagai kontraksi yang berakhir lebih dari 90 detik atau lebih dari lima kontraksi dalam 10 menit selama dua periode . sementara Cervidil mengandung 10 mg dinoprostone dalam bentuk pessarium Misoprostol Penggunaan misoprostol tidak direkomendasikan pada pematangan serviks atau induksi persalinan pada wanita yang pernah mengalami persalinan dengan seksio sesaria atau operasi uterus mayor karena kemungkinan terjadinya ruptur uteri.dermatan sulfat. sehingga menyebabkan kontraksi otot miometrium. Dosis yang lebih tinggi atau interval dosis yang lebih pendek dihubungkan dengan insidensi efek samping yang lebih tinggi. Saat ini. dan asam hialuronat pada serviks. dan hipersistole. Agen 24 .10 menit berurutan. khususnya sindroma hiperstimulasi. Wanita yang diterapi dengan misoprostol untuk pematangan serviks atau induksi persalinan harus dimonitor denyut jantung janin dan aktivitas uterusnya di rumah sakit sampai penelitian lebih lanjut mampu mengevaluasi dan membuktikan keamanan terapi pada pasien. Progesteron menghambat kontraksi uterus. Pada akhirnya. muntah. diare. Prepidil mengandung 0. prostaglandin menyebabkan peningkatan kadar kalsium intraseluler.

Sebagai tambahan. Oksitosin endogen diesekresikan dalam bentuk pulsasi selama persalinan spontan. 25 . hal ini tampak dalam pengukuran konsentrasi oksitosin plasma ibu menit per menit. ada 7 percobaan yang melibatkan 594 wanita yang menggunakan mifepristone untuk pematangan serviks. Konsentrasi oksitosin tertinggi selama persalinan ditemukan dalam darah tali pusat. Berdasarkan evaluasi telaah Cochrane mengenai hasil dari 4 penelitian yang melibatkan 267 wanita disimpulkan bahwa kurangnya dukungan dalam penggunaan relaksin saat ini. Hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang diterapi dengan mifepristone cenderung memiliki serviks yang matang dalam 48 sampai 96 jam jika dibandingkan dengan plasebo. Konsentrasi oksitosin dalam plasma serupa selama kehamilan dan selama fase laten dan fase aktif persalinan. sehingga tidak cukup mendukung bukti keamanan mifepristone dalam pematangan serviks.ini menyebabkan peningkatan asam hialuronat dan kadar dekorin pada serviks. Oksitosin Oksitosin merupakan agen farmakologi yang lebih disukai untuk menginduksi persalinan apabila serviks telah matang. Namun demikian. hanya sedikit informasi yang tersedia mengenai luaran janin dan efek samping pada ibu. Relaksin Hormon relaksin diperkirakan dapat mendukung pematangan serviks. namun terdapat peningkatan yang bermakna dalam kadar oksitosin plasma selama fase akhir dari kala II persalinan. Dilaporkan Cochrane. yang menunjukkan bahwa adanya produksi oksitosin yang bermakna oleh janin selama persalinan. sehingga masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai agen-agen induksi persalinan. para wanita ini cenderung melahirkan dalam waktu 48-96 jam dan tidak dilakukan seksio sesaria.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful