BAB I PENDAHULUAN

Eliminasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang esensial dan berperan penting dalam menentukan kelangsungan hidup manusia. Eliminasi dibutuhkan untuk mempertahankan homeostatis melalui pembuangan sisa-sisa metabolisme. Secara garis besar, sisa metabolisme tersebut terbagi kedalam dua jenis yaitu sampah yang berasal dari saluran cerna yang dibuang sebagai feses serta sampah metabolisme yang dibuang baik bersama feses ataupun melalui saluran lain seperti urin, CO2, nitrogen, dan H2O. Eliminasi terbagi atas dua bagian utama pula yaitu eliminasi fekal (buang air besar/bab) dan eliminasi urine (buang air kecil/bak). Pembuangan normal urine merupakan suatu fungsi dasar yang sering dianggap remeh oleh kebanyakan orang. Apabila sistem perkemihan tidak dapat berfungsi dengan baik, maka semua sistem organ pada akhirnya akan terpengaruh. Klien yang mengalami perubahan eliminasi urin juga dapat menderita secara emosional akibat perubahan citra tubuhnya. Selain itu perubahan eliminasi dapat menyebabkan masalah pada sistem gastrointestinal. Eliminasi produk sistem pencernaan yang teratur merupakan aspek penting untuk fungsi normal tubuh.

BAB II PEMBAHASAN

1. Jelaskan anatomi fisiologi sistem urinaria ! Anatomi fisiologi system urinaria : Sistem urinaria terdiri dari dua ginjal yang memproduksi urine, dua ureter yang membawa urine ke dalam sebuah kandung kemih untuk penampungan sementara, dan uretra yang mengalirkan urine ke luar tubuh melalui orifisium uretra eksterna. i. Ginjal A. Fungsi ginjal - Pengeluaran zat sisa organik, seperti urea, asam urat, kreatinin, dan produk penguraian hemoglobin dan hormon. - Pengaturan konsentrasi ion-ion penting. Dalam hal ini ginjal mengekskresi ion Natrium, Kalium, Kalsium, Magnesium, Sulfat, dan Fosfat. Dimana ekskresi ion-ion ini seimbang dengan asupan ekskresinya melalui rute lain seperti pada saluran gastrointestinal atau kulit. - Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh. Ginjal mengendalikan eksresi ion hydrogen (H+), bikarbonat (HCO3-), dan ammonium (NH4+), serta memproduksi urine asam atau basa tergantung kebutuhan tubuh. - Pengaturan tekanan darah. Ginjal memproduksi enzim renin yang merupakan komponen penting dalam mekanisme renin-angiotensi-aldosteron yang meningkatkan tekanan darah dan retensi air. - Pengaturan produksi sel darah merah. Ginjal melepas eritroprotein yang mengatur produksi eritrosit dalam sumsum tulang. - Pengeluaran zat beracun atau polutan, zat tambahan makanan, obat-obatan atau zat kimia asing. B. Anatomi kasar ginjal - Tampilan Ginjal berbentuk seperti kacang berwarna merah tua dengan P x L x T kurang lebih yaitu 12 cm x 7 cm x 2 cm dan berat antara 120 – 150 gram. - Lokasi Ginjal terletak pada dinding abdomen posterior yang berdekatan dengan dua pasang tulang iga terakhir yang terletak di antara otot-otot punggung dan peritoneum rongga abdomen atas serta memiliki kelenjar adrenal di atasnya.Ginjal kanan terletak agak di bawah dibandingkan ginjal kiri karena terdapat hati pada bagian kanan.

. Kaliks minor ini bermuara ke dalam pelvis ginjal melalui kaliks mayor.Tubulus dan duktus pengumpul.  Tekanan darah dalam kapiler glomerular lebih tinggi dibandingkan tekanan darah dalam kapiler lain karena diameter arteriol eferen lebih kecil dibandingkan diameter arteriol aferen. . .Hilus atau hilum. panjangnya mencapai 15 mm dan sangat berliku. Struktur internal ginjal . . Duktus pengumpul membentuk tuba yang lebih besar untuk mengalirkan urine ke dalam kaliks minor. merupakan perpindahan cairan dan zat terlarut dari kapiler glomerular. adalah pembungkus terluar untuk mempertahankan posisi ginjal.  Lemak perirenal.Glomerulus. dan membalik ke atas membentuk tungkai asenden ansa henle. Ujung ini berlanjut menjadi dua sampai tiga kaliks mayor (rongga yang mencapai glandular. Struktur nefron Setiap ginjal memiliki 1 sampai 4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk urine. . adalah perluasan ujung proksimal ureter. . adalah rongga berisi lemak yang membuka pada hilus. Tubulus kontortus proksimal mengarah ke tungkai ansa henle yang masuk ke dalam medulla. bagian penghasil urine pada ginjal). adalah jaringan adipose. dalam gradient tekanan tertentu ke dalam kapsul Bowman. juga sangat berliku dengan panjang sekitar 5 mm.  Kapsul fibrosa. Pada permukaan yang menghadap lumen tubulus ini terdapat sel-sel epithelial kuboid yang kaya akan mikrovilus dan memperluas area permukaan lumen. Tubulus pengumpul membentuk duktus pengumpul yang berukuran besar dan lurus.- Jaringan ikat pembungkus  Fasia renan. Setiap kaliks mayor tersebut memiliki cabang sekitar 8 sampai 18 kaliks minor.  Membran kapilar glomerular lebih permaebel dibandingkan kapiler lain dalam tubuh sehingga filtrasi berjalan dengan sangat cepat. adalah membrane halus yang transparan. membentuk lengkungan lepit yang tajam.Tubulus kontortus distal. . urine dialirkan ke ureter yang mengarah ke kandung kemih.Filtrasi glomerular. E.Sinus ginjal. D.Ansa henle. merupakan gulungan kapilar yang dikelilingi oleh kapsul epitel Bowman.Pelvis ginjal. C. . Dari pelvis ginjal. adalah tingkat kecekungan tepi medial ginjal.Tubulus kontortusproksimal. Pembentukan urine .

fruktosa. kandung kemih dapat terlihat sebagian ke luar dari rongga panggul. di dalam rongga panggul. ureter juga terletak pada retroperitonialis.Sekresi tubulus Mekanisme sekresi tubular merupakan proses aktif yang memindahkan zat untuk keluar dari darah dalam kapiler peritubular melewati sel-sel tubular menuju cairan tubular untuk dikeluarkan dalam urine.  Komposisi filtrate glomerular antara lain glukosa. terletak di belakang simfisis pubis.  Reabsorpsi air melalui osmosis yang bergerak bersama ion natrium. dialirkan ke vesika urinairia (kandung kemih) melalui ureter. fosfat. Ureter Air kemih disekresi oleh ginjal. Dinding utera terdiri atas tiga lapisan. Sedangkan sel darah merah dan protein tidak difiltrasi. Kandung kemih merupakan kantong yang dapat menggelembung seperti balon karet. dan asam amino digerakkkan melalui kotranspor.  Reabsorpsi ion natrium ditranspor secara pasif melalui difusi terfasilitasi.  Reabsorpsi ion anorganik lain. Kandung kemih . yaitu lapisan mukosa. ammonium. karena itu. asam urat.  Reabsorpsi urea akibat difusi. klorida. dan jaringan fibrosa. prodek akhir metabolic kreatinin dan asam fivufat serta obat-obatan tertentu (penisilin) secara aktif di ke dalam tubulus. Panjang ureter kurang lebih 30 cm dan berdiameter 0. dan sulfat melalui transport aktif. Mekanisme filtrasi glomerular adalah dipengaruhi oleh tekanan hidrostatik (darah) glomerular yang mendorong cairan dan zat terlarut keluar dari darah dan masuk ke dalam kapsul Bowman. iii. urea. Otogenitis ureter termasuk berasal dari mesoderm. kalium. Zat-zat seperti ion hydrogen. Bila terisi penuh. dan kreatinin. otot polos.  Reabsorpsi glukosa. natrium. kalium. seperti kalium. Uretra sebagian terletak dalam rongga perut (pars abdominalis) dan selanjutnya berjalan di dalam rongga panggul (pars pelvira).Reabsorpsi tubulus Sebagian besar filtrate (99%) secara selektif diabsorpsi dalam tubulus ginjal. fosfat. Kandung kemih (Vesica urinaria) Aliran urine dari ginjal akan bermuara ke dalam kandung kemih (vesika urinaria).5 cm. Ureter berada pada kiri dan kanan kolumna vertebralis (tulang punggung) yang menghubungkan pelvis renalis dengan kandung kemih. ii. kalsium.Sehingga dapat dikatakan sekresi tubular ini merupakan suatu mekanisme yang penting untuk mengeluarkan zat-zat kimia asing yang tidak diinginkan.  Reabsorpsi ion klor dan ion negative melalui difusi pasif. . .

terlihat bagian yang tidak berlipat. . 2. air. impuls pada medulla spinalis dikirim ke otak yang selanjutnya menghasilkan impul parasimpatis yang menjalar melalui saraf splanknik pelvis ke kandung kemih. Sedangkan. fundus. Fungsi system pencernaan: Fungsi utama system ini adalah untuk menyediakan makanan. kelenjar saliva.Pengeluaran urine ini membutuhkan kontraksi aktif otot detrusor. Bagian-bagiannya ialah verteks. Kemudian. yaitu tuba muscular panjang yang merentang dari mulut sampai anus dan organ-organ aksesoris. Bagian verteks adalah bagian yang meruncing ke arah depan dan berhubungan dengan ligamentum vesiko umbilikale medius. reflek perkemihan terjadi saat peregangan kandung kemih sampai sekitar 300 ml sampai 400 ml urine sehingga menstimulasi reseptor peregang pada dinding kandung kemih. seperti gigi. yaitu gelombang kontraksi otot polos involunter yang menggerakkan makanan tertelan melalui saluran pencernaan.Digesti.Bagian dari otot trigonum yang mengelilingi jalan keluar uretra berfungsi sebagai sflingter uretra internal yang terbentuk dari serabut otot rangka dari otot perineal transversa yang berada di bawah kendali volunter. iv. merupakan proses memasukkan makanan ke dalam mulut. yang dilakukan secara mekanik oleh gigi. Eretra Perkemihan (urinasi) bergantung pada inervasi parasimpatis dan simaraatis juga impuls saraf volunter. . hati.Peristaltis.berbentuk seperti kerucut. duktus deferens. dan melalui proses-proses berikut: . pada diding belakang lapisan mukosa.Ingesti. .Pemotongan dan penggilingan makanan. dan korpus. Bagian fundus merupakan bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah. Jelaskan anatomi fisiologi sistem gastrointestinal ! System pencernaan terdiri dari saluran pencernaan (alimentar). merupakan hidrolisis kimia (penguraian) molekul besar menjadi molekul kecil sehingga siap untuk di absorpsi. Makanan tersebut kemudian bercampur dengan saliva sebelum ditelan. Bagian korpus berada di antara verteks dan fundus. dan pancreas. daerah ini disebut trigonum liestaudi. kandung empedu. lidah. dan elektrolit bagi tubuh dari nutrien yang dicerna sehingga siap untuk diabsorpsi. vesikula seminalis.Reflek perkemihan ini menyebabkan konstraksi otot detrusor sehingga terjadi relaksasi sflingter interbal dan eksternal yang mengakibatkan pengosongan kandung kemih. Bagian fundus terpisah dari rektum oleh spasium rektovesikula yang terisi oleh jaringan ikat. . Proses pencernaan ini berlangsung secara mekanik dan kimiawi. Dinding kandung kemih terdiri dari tiga lapisan otot polos dan selapis mukosa yang berlipat-lipat.

2. sekresi. nodulus limfe. merupakan jaringan ikat areoral untuk menopang epitelium yang mengandung pembuluh darah. Muskularis eksterna.Dinding saluran. dan absorpsi. juga bakteri dalam bentuk feses dari saluran pencernaan. Mukosa (membrane mukosa). yang terdiri lapisan sirkular dalam yang tipis dan lapisan otot polos longitudinal luar. Faring. b. yang dihantarkan dalam saraf vagus (CN X). Kendali saraf pada saluran pencernaan Sistem saraf otak mengivervasi keseluruhan saluran pencernaan. Kontraksi lapisan sirkular mengkonstriksi lumen saluran dan kontraksi lapisan longitudinal memperlebar dan memperpendek lumen saluran.Egesti (defekasi). .Pleksus Meissner dan Auerbach. satu lapisan sirkular dalam dan satu lapisan longitudinal luar. Muskularis mukosa. 3. yaitu: a. lapisan ini terdiri dari membrane serosa. Rongga Oral.Impuls parasimpatis. . Epitelium. 1. dan beberapa jenis kelenjar. Submukosa. yang mengeluarkan efek stimulus pada tonus otot polos. dan Esofagus A. mengurangi motalitas. yang dibawa oleh medulla spinalis dalam saraf splanknik. . Masenterium. merupakan proses eliminasi zat-zat sisa yang tidak tercerna. menghambat kontraksi otot polos saluran. c. . berfungsi untuk pengaturan kontraktil local dan aktifitas sekretori saluran. Gambaran garis besar saluran pencernaan . Efek ini meliputi motilitas dan sekresi cairan pencernaan. berfungsi untuk perlindungan. kecuali ujung atas dan ujung bawah yang dikendalikan secara volunter.. yang terdiri dari dua lapisan otot.Impuls simpatis. limfatik. Lamina propria. . beberapa kelenjar submukosal dan pleksus serabut saraf. adalah membran serosa terlebar dalam tubuh sebagai pembungkus organ. merupakan pergerakan produk akhir pencernaan dari lumen saluran pencernaan ke dalam sirkulasi darah dan limfatik sehingga dapat digunakan oleh sel tubuh. I. d. yang tersusun dari tiga lapisan. pembuluh limfatik. adalah jalan masuk menuju system pencernaan dan berisi organ aksesori yang berfungsi dalam proses awal pencernaan.Peritoneun. Rongga oral. dan OmentumAbdominopelvis. . dan menghambat sekresi cairan pencernaan. yang tersusun dari empat lapisan jaringan dasar dari lumen (rongga sentral) ke arah luar. Serosa. terdiri dari jaringan ikat areolar yang mengandung pembuluh darah.Absorpsi.

Pipi. Kelenjar saliva. Fungsi lambung 1. yang menbentuk dua pertiga bagian lambung.Fundus adalah bagian yang menonjol ke sisi kiri atas mulut esophagus.Badan lambung adalah bagian yang terdilatasi di bawah fundus. terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen di bawah diafragma. C. Anatomi Lambung adalah organ yang berbentuk J. Saliva mempunyai banyak fungsi.tersusun dari otot rangka (orbicularis mulut) dan jaringan ikat. II. Menyimpanan makanandengan kapasitas lambung normal yang memungkinkan adanya interval waktu antara saat makan dan kemampuan untuk menyimpan makanan dalam jumlah besar sampai makanan ini dapat terakomodasi di bagian bawah saluran. mensekresikan saliva ke dalam rongga oral.Refleks yang terjadi adalah penutupan semua lubang kecuali esophagus sehingga makanan bisa masuk. dilekatkan pada dasar mulut oleh frenulum lingua. mengurai zat tepung menjadi polisakarida dan maltose. . suatu area sempit otot polos pada ujung bawah esophagus dalam kontraksi tonus yang konstan. B. Bibir. 2. berfungsi untuk proses mastikasi (pengunyahan) makanan yang masuk ke dalam mulut yang kemudian dipotong-potong menjadi bagian kecil-kecil dan bercampur dengan saliva untuk membentuk bolus makanan yang dapat ditelan. Saliva terdiri dari cairan encer yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mucus. 4. serta menekskresikan zat buangan seperti asam urat dan urea.Bagian jantung lambung adalah area di sekitar pertemuan esophagus dan lambung. Lidah berfungsi untuk menggerakkan makanan saat dikunyah atau ditelan. Organ ini berfungsi untuk menerima makanan dan produksi wicara. melembabkan dan melumasi makanan. Esofagus Sfingter esophagus bawah. berelaksasi setelah melakukan gelombang peristaltic sehingga memungkinkan makanan terdorong ke dalam lambung. Gigi. mengandung otot buksinator mastikasi. B. Proses menelan (deglutisi) menggerakkan makanan dari faring menuju esophagus Bolus makanan dalam faring merangsang reseptor orofaring yang mengirim impuls ke pusat menelan dalam medulla dan batang otak bagian bawah.Bagian pylorus lambung menyempit di ujung bawah lambung dan membuka ke duodenum.1. Lambung A. diantaranya untuk melarutkan makanan secara kimia. 5. Lidah. 3.

serta mukus. yaitu enzim yang mengkoagulasi protein susu. Sedangkan lambung janin memproduksi renin. Lemak Lipase lambung yang disekresi oleh sel chief menghidrolisis lemak susu menjadi asam lemak dan gliserol. Kendali pada pengosongan lambung . Memproduksi mucus yang dihasilkan dari kelenjar yang membentuk barrier setebal 1 mm untuk melindungi lambung terhadap aksi pencernaan dari sekresinya sendiri. Digesti protein Pepsinogen yang disekresi oleh sel chief di ubah menjadi pepsin oleh asam klorida yang disekresi oleh sel parietal. renin lambung. enzim-enzim pencernaan. 2. Enzim ini terbawa bersama bolus dan tetap bekerja dalam lambung. Tahap usus. dan gastrin. seperti pepsinogen. yaitu massa homogen setengah cair dengan kadar asam yang tinggi yang berasal dari bolus yang kemudian didorong ke dalam duodenum. Tahap lambung. Serabut aferen menjalar ke medulla melalui saraf vagus menuju kelanjar lambung untuk menstimulasi produksi HCl. Beberapa obat yang larut lemak (aspirin) dan alcohol diabsorpsi pada dinding lambung.2. D. Sekresi lambung ini melalui tiga tahap. serta pikiran tentang makanan. Tahap sefalik. Memproduksi kimia. Karbohidrat Lambung tidak mensekresi enzim untuk mencerna karbohidrat tetapi amilase dalam saliva menghidrolisis zat tepung yang bekerja pada pH netral. 5. Digesti dalam lambung 1. Asam amino dan ptotein dalam makanan yang separuh tercerna dan zat kimia (alcohol dan kafein) juga meningkatkan sekresi lambung. 3. terjadi setelah kimus meningggalkan lambung dan memasuki usus halus. bau. 3. yaitu terjadi sebelum makanan sampai ke lambung karena sekresi lambung dapat dirangsang dengan masuknya makanan ke dalam mulut atau tambilan. dan menguraikannya untuk membentuk dadih. 2. Pepsin merupakan enzim yang hanya dapat bekerja dengan pH di bawah 5. terjadi saat makanan sampai ke lambung. Mengabsorpsi nutrient yang berlangsung dalam lambung dalam jumlah yang sedikit. Digesti protein melalui sekresi tripsin dan asam klorida. 3. Enzim ini menghidrolisis protein menjadi polipeptida. E. yaitu: 1. 4. lipase. Sekresi lambung Kelenjar pada lambung mensekresikan berbagai zat dan enzim-ehonzim pencernaan. Sekresi lambung distimulasi oleh sekresi gastrin duodenum sedangkan sekresi lambung dihambat oleh hormone-hormon polipeptida yang dihasilkan duodenum. C.

E. adalah bagian yang selanjutnya dengan panjang sekitar 1 . Juga terdapat kelenjar yang menghasilkan enzim. Sedangkan peristaltis adalah konstriksi ritmik otot polos longitudinal dan sirkular yang merupakan daya dorong utama yang menggerakkna kimus kea rahbawah di sepanjang saluran. dan jenis makanan. Motilitas Gerakan usus halus yang mencampur isinya dengan enzim untuk pencernaan. protein lebih lambat. Ileum. vili (jutaan tonjolan yang menyerupai jari dengan tinggi 0. dan lemak tetap berada dalam lambung selama 3 sampai 6 jam. Usus Halus A. III.1. dengan panjang 2 . dan mukus.Motalitas ini meliputi segmentasi irama dan peristaltis. Fungsi usus halus Usus halus mengakhiri proses pencernaan makanan yang dimulai dari mulut dan lambung.5 cm dan panjangnya 3-5 m. C. kekentalan kimus. Proses ini diselesaikan oleh enzim usus dan enzim pancreas serta dibantu oleh empedu dalam hati. dan mikrovili (lipatan-lipatan menonjol kecil pada membrane sel). Gambaran umum Keseluruhan usus halus adalah tuba terlilit yang merentang dari sfingter pilorus sampai ke katup ileosekal yang tempatnya menyatu dengan usus besar.0 mm). Pankreas. Pankreas . Divisi 1. pelepasan gastrin.2. keduanya membuka ke dinding posterior duodenum beberapa centimeter di bawah mulut pylorus. D. B. Diameter usus halus kurang lebih 2. Duktus empedu dan duktus pancreas. hormone. Segmentasi irama merupakan gerakan pencampuran utama dengan melakukan gerakan secara konstriksi dan relaksasi yang bergantian sehingga dapat mendorong kimus untuk bergerak maju mundur dari satu segmen ke segmen lain. 3.5 m. dan kandung empedu 1. Yeyenum. Dalam usus halus terdapat tiga spesialisasi structural yang memperluas permukaan absorptive. hati. yaitu plicae circulares (lipatan sirkular membrane mukosa yang mengitari lumen). Karbohidrat dapat masuk dengan cepat.2 – 1.Pengosongan distimulasi secara reflex untuk merespon terhadap peregangan lambung. Duodenum. 2. adalah bagian yang terpendek (25 cm -30 cm).5 meter yang merentang sampai menyatu dengan usus besar.

yang kemudian menguraikan protein dan peptide menjadi peptide yang lebih kecil). dan rectum. dan sukrosa menjadi monosakarida) melengkapi proses pencernaan kimus sehingga produk tersebut dapat langsung dan dengan mudah terserap. yaitu lobus kanan dan lobus kiri. hati memproduksi empedu yang berperan dalam emulsifikasi dan absorpsi lemak. dan amylase (menghidrolisis zat tepung yang tidak tercerna oleh amylase saliva menjadi disakarida. Absorpsi dalam usus halus Enzim-enzim usus. sebagian besar nutrient telah dicerna dan diabsorpsi sehingga hanya menyisakan zat-zat yang tidak tercerna. serta vitamin larut lemak (A. sampai diperlukan dalam duodenum. yaitu bagian saluran pencernaan selanjutnya dengan panjang 12 sampai 13 cm yang berakhir pada saluran anal dan membuka ke eksterior di anus. diameternya lebih lebar. laktosa. meyimpan glukosa dalam bentuk glikogen dan mengubahnya kembali menjadi glukosa jika diperlukan tubuh. E.Sel-sel endokrin (pulau-pulau Langerhans) pancreas mensekresi hormone insulin dan glucagon. lemak. lebih pendek. kolon (kolon asenden yang merentang dari sekum sampai ke tepi bawah hati di sebelah kanan dan membalik secara horizontal pada flrksura hepatica. dan vitamin. Kandung empedu Kandung empedu adalah kantong muskural hijau menyerupai pir dengan panjang 10 cm yang mempunyai kapasitas kurang lebih 30 ml sampai 60 ml. lactase. tidak memiliki lipatan-lipatan sirkular. kandung empedu menyimpan cairan empedu yang secara terus-menerus disekresi oleh sel-sel hati. elektrolit. ptotein. Usus Besar Begitu materi dalam saluran pencernaan masuk ke usus besar. dan laktosa). amylase usus (menghidrolisis zat tepung menjadi disakarida). diantaranyaenterokinase (mengaktivasi tripsinogen pancreas menjadi tripsin. dan sukrase(memecah disakarida maltose. Dalam usus juga terjadi proses absorpsi karbohidrat. dan K). IV. F. sukrosa. 3. seperti zat besi dan tembaga.500 g dan berwarna merah tua pada kondisi hidup karena kaya akan persediaan darah yang dibagi menjadi dua bagian. dan daya regangnya lebih besar dibandingkan usus halus. serta untuk menyimpan mineral. 2. lipase (menghidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol). Hati Hati adalah organ yang terletak di bawah kerangka iga dengan berat 1. Usus besar terdiri atas sekum (kantong tertutup di bawah area ileosekal). Secara umum. D. maltase. seperti maltose. . kolon transversa yang merentang menyilang abdomen di bawah hati dan lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri dan memutar ke bawah pada fleksura aplenik). Usus besar tidak memiliki vili. Cairan pancreas sendiri mengandung enzim-enzim seperti protease (menghasilkan asam amino bebas). air.

urgensi. frekuensi.Warna coklatnya berasal dari pigmen empedu dan baunya berasal dari kerja bakteri.Usus besar mengabsorpsi 80% sampai 90% air dan elektrolit dari kimus yang tersisa dan mengubah kimus dari cairan menjadi massa semi padat yang kemudian diekskresikan dalam bentuk feses. Penyebab dari inkontinensia ini yaitu perubahan lingkungan. Sepertiga meteri padatnya adalah bakteri dan sisanya yang 2% sampai 3% adalah nitrogen. inkontinensia overflow (refleks). Inkontinensia urine. disfungsi medulla spinalis ( baik gangguan pada kesadaran serebral atau kerusakan arkus refleks ). enuresis. dan disuria. 3. A. Gejala yang ditimbulkan seperti mendesaknya keinginan untuk berkemih menyebabkan urine keluar sebelum mencapai tempat yang sesuai. zat sisa organic dan anorganik dari sekresi pencernaan. serta mukus dan lemak. Beberapa perubahan yang terjadi pada pola eliminasi urine akibat kondisi tersebut antara lain inkontinensia. kurangnya urgensi untuk berkemih. retensi. Inkontinensia urine adalah kondisi ketika dorongan berkemih tidak mampu dikontrol oleh sfingter eksternal. kognitif. dan inkontinensia total. inkontinensia stres. defisit sensorik. yakni inkontinensia fungsional. ada sejumlah faktor atau kondisi yang dapat memengaruhi eliminasi urine.  Inkontinensia overflow (refleks) adalah keluarnya urine secara involunter terjadi pada jarak waktu tertentu yang telah diperkirakan jumlah urine dapat banyak atau sedikit.  Inkontinensia fungsional adalah involunter. jalan kelua urine tidak dapat diperkirakan pada klien yang sistem saraf dan sistem perkemihannya tidak utuh. . Feses juga mengandung sejumlah serat dan selulosa yang tidak tercerna. Gejalanya seperti tidak menyadari bahwa kandung kemihnya sudah terisi. Overflow ini disebabkan karena terhambatnya berkemih akibat efek anestesi atau obat-obatan. inkontinensia urgensi. atau mobititas. Sifatnya biasa menyeluruh ( inkontinensia komplet ) atau sebagian ( inkontinensia parsial ) ada lima jenis inkontinensia. Identifikasi gangguan atau masalah kesehatan apa yang bisa terjadi pada kebutuhan eliminasi urin dan fekal ! Masalah pada pola berkemih/eliminasi urin : 1. kontraksi spasme kandung kemih yang tidak di cegah. Klien yang mengalami perubahan kognitif mungkin telah lupa mengenai apa yang ia harus lakukan. Perubahan eliminasi urine Meskipun produksi urine normal.

Penyebabnya karena daya tampung kandung kemih menurun. jalan keluar pada kandung kemih yang tidak kompeten. trauma atau penyakit pada saraf spinalis atau sfingter uretra. konsumsi alkohol atau kafein. . infeksi. Enuresis adalah peristiwa berkemih yang tidak disadari pada anak yang usianya melampaui batas usia normal kontrol kandung kemih seharusnya tercapai. atau mengangkat sesuatu saat kandung kemih penuh. konsumsi makanan yang banyak mengandung garam dan mineral. Retensi urine. nokturia. infeksi saluran kemih. Gejalanya urine tetap mengalir pada waktu-waktu yang tidak dapat diperkirakan. Kondisi ini disebabkan oleh obstruksi ( mis. hipertrofi prostat). otot sfingter yang kuat. muntah. Enuresis (mengompol). Disebabkan karena neuropati saraf sensorik. tertawa. dan gangguan pola miksi.  Inkontinensia total adalah keluarnya urine total yang tidak terkontrol dan yang berkelanjutan. sering disertai oleh tingginya frekueni berkemih (lebih sering dari dua jam sekaligus). C.  Inkontinensia urgensi adalah pengeluaran urine yang tidak disadari setelah merasakan adanya urgensi yang kuat untuk berkemih. uterus yang penuh pada trimester ketiga. Enuresis lebih banyak terjadi anak-anak dimalam hari (enuresis nokturnal). lemahnya otot panggul. peningkatan tekanan uretra akibat otot detrusor yang lemah. urgensi dan sering berkemih. Retensi urine adalah kondisi tertahannya urine di kandung kemih akibat terganggunya proses pengosongan kandung kemih sehingga kandung kemih menjadi regang. Faktor penyebabnya antara lain apasitas kandung yang kurang dari normal. Gejala yang terjadi yaitu urgensi berkemih. obesitas. peningkatan asupan cairan. Penyebabnya dikarenakan batuk. pembedahan. Inkontinensia stres adalah peningkatan tekanan intraabdomen yang menyebabkan merembesnya sejumlah kecil urine. fistula yang berada di antara kandung kemih dan vagina. takut keluar malam. Gejalanya seperti keluarnya urine pada saat tekanan inraabdomen meningkat. iritasi pada reseptor peregang kandung kemih. tidak menyadari bahwa kandung kemihnya terisi atau inkontinensia B. spesme kandung kemih atau kontraktur berkemih dalam jumlah kecil (kurang dari 100 ml) atau dalam jumlah besar (lebih dari 500 ml).

yang diikuti oleh pengeluaran feses yang lama atau keras dan kering. Kondisi ini biasanya terjadi pada wanita hamil ( tekanan rahim pada kandung kemih ). Selain itu pengeluaran feses yang kering dan keras juga dapat menimbulkan rasa nyeri pada rektum. Oliguria adalah produksi urine yang rendah. adalah: 1. oliguria. Perubahan produksi urine Selain perubahan eliminasi urine. Oliguria dan anuria.D. F. 2. Adanya upaya mengedan saat defekasi adalah suatu tanda yang terkait dengan konstipasi. Gangguan kesehatan yang terjadi pada kebutuhan eliminasi fekal. Disuria. Urgensi adalah perasaan yang saat kuat untuk berkemih. Sering berkemih (frekuensi) adalah meningkatnya frekuensi berkemih tanpa disertai peningkatan asupan cairan. Perubahan tersebut meliputi poliuria. kondisi stres. trauma kandung kemih. Urgensi. Kurangnya olahraga yang teratur . Pliuria dapat menyebabkan kehilangan cairan yang berlebihan yang mengarah pada dehidrasi. Ini biasanya terjadi pada kasus infeksi uretra. Ini biasanya terjadi pada anak-anak karena kemampuan kontrol sfingter mereka yang lemah. Kondisi ini dapat terjadi pada penderita diabetes. Kebiasaan defekasi yang tidak teratur dan mengabaikan keinginan untuk defekasi b. diantaranya: a. Konstipasi Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi. Gangguan ini biasanya muncul pada kondisi stres psikologi dan iritasi uretra. A. dan anuria. yakni 100500 ml/ 24 jam. ADH) dan nefritis kronik. Poliuria adalah produksi urine yang berlebihan batas normal tanpa disertai peningkatan asupan cairan. Sering berkemih (frekuensi). B. E. Sedangkan anuria adalah produksi urine kurang dari 100ml/ 24 jam. dan terkadang ini mengindikasikan gangguan pada aliran darah menuju ginjal. Disuria adalah rasa nyeri dan kesulitan saat berkemih. Penyebab umum terjadinya konstipasi. masalah lain yang kerap dijumpai pada pola berkemih adalah perubahan produksi urine. Kebiasaan mengkonsumsi diet rendah seratdalam bentuk lemak hewani dan asupan cairan yang rendah c. dan infeksi saluran kemih. ketidakseimbangan hormonal (mis. Kondisi ini bisa disebabkan oleh asupan cairan yang sedikit atau pengeluaran cairan yang abnormal. infeksi saluran kemih. Defekasi hanya setiap 4 hari atau lebih dianggap tidak normal.

Diet dan Asupan (intake) Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang memengaruhi output urine (jumlah urine). alergi makanan. Tanda dari impaksi yang jelas ialah ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses selama beberapa hari.Respons Keinginan Awal untuk Berkemih Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak tertahan di dalam urinaria sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah urine. mengendap di dalam rectum dan tidak dapat dikeluarkan. Diare Diare adalah peningkatan jumlah feses dan peningkatan pengeluaran feses yang cair dan tidk berbentuk. Isi usus terlalu cepat keluar melalui usus sehingga absorpsi cairan menjadi tidak dapat berlangsung. Impaksi feses Impaksi feses adalah kumpulan feses yang mengeras. Penggunaan obat penenang. Iare merupakan gejala gangguan yang mempengaruhi proses pencernaan. meskipun terdapat keinginan untuk melakukan defekasi. 4. infeksi usus. distensi dank ram abdomen serta nyeri di rectum dapat menyertai impaksi. serta volumenya banyak juga bisa mengakibatkan terjadinya inkontinensia. Selain itu seringnya defekasi. Inkontinensia feses Inkontinensia feses adalah ketidakmampuan mengontrol keluarnya feses dan gas dari anus. Inkontinensia bisa disebabkan oleh kondisi fisik yang merusak fungsi atau control sfingter anus. . diantaranya stress emosional.d. 2. Selain itu. Selain itu kehilangan nafsu makan. absorpsi dan sekresi dalam saluran gastrointestinal. 4. 4. Impaksi feses merupakan akibat dari konstipasi yang tidak diatasi. 3. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan jumlah urine yang diproduksi. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urin dan fekal ! Faktor-faktor yang memengaruhi eliminasi urin adalah : 1. Stres Psikologis Meningkatnya stres dapat mengakibatkan meningkatnya frekuensi keinginan berkemih. Protein dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk. feses encer dan mengandung air. 3. akibatnya feses menjadi lebih encer. intoleransi makanan serta penggunaan obat-obatan. juga dapat meningkatkan pembentukan urine. diuretik dan obat-obat antiparkinson 2. Gaya Hidup Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi dalam kaitannya terhadap tersedianva fasilitas toilet. Banyak kondisi yang bisa menyebabkan diare.

Tingkat Perkembangan Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola berkemih. Sosiokultural Budaya dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine. khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti IVY (intra uenus pyelogram). Kondisi Penyakit Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine. seperti diabetes melitus. otot abdomen dan pelvis.5. 10. yang dapat membatasi jumlah asupan sehingga mengurangi produksi urine. Se. Faktor-faktor yang memengaruhi eliminasi fekal adalah : 1. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak. 9.tik dapat meningkatkan jumlah urine. Pengobatan Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya peningkatan atau penurunan -proses perkemihan. Usia . 13. Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktivitas. Kebiasaan Seseorang Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di mengalamikesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila dalam keadaan sakit. Namun dengan usia kemampuan dalam mengontrol buang air kecil 7. Pembedahan Efek pembedahan dapat menyebabkan penurunan pemberian obat anestesi menurunkan filtrasi glomerulus yang dapat jumlah produksi urine karena dampak dari 12. Tonus Otot Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah otot kandung kemih. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik ini juga dap'at memengaruhi kebutuhan eliminasi urine. 11.lain itu tindakan sistoskopi dapat menimbulkan edema lokal pada uretra yang dapat mengganggu pengeluaran urine. yang lebih memiliki mengalami kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. seperti adanya kultur pada masyarakat tertentu yang melarang untuk buang air kecil di tempat tertentu. Tingkat Aktivitas Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk fungsi sfingter. Misalnya pemberian diure. 6. sedangkan pemberian obat antikolinergik dan antihipertensi dapat menyebabkan retensi urine. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi pengontirolan pengeluaran urine. 8.

Posisi tersebut memungkinkan individu mengerahkan tekanan intraabdomen dan mengerutkan otot pahanya sehingga memudahkan proses defekasi. banyaknya makanan yang masuk ke dalam tubuh juga berpengaruh terhadap keinginan defekasi. Pengobatan Beberapa jenis obat dapat menimbulkan efek konstipasi. Sedangkan pada lansia. Diet Ini bergantung pada kualitas. bedah rektum. Akibatnya. Asupan cairan Asupan cairan yang kurang akan menyebabkan feses lebih keras. pada kondisi tertentu (hemoroid. 4. Kerusakan sensorik dan motorik Kerusakan pada medula spinalis dan cedera di daerah kepala akan mengakibatkan penurunan stimulus sensorik untuk defekasi. Kebiasaan pribadi Kebiasaan eliminasi pribadi memengaruhi fungsi usus. Akan tetapi. Obat-obat lain yang dapat mengganggu pola defekasi antara lain analgesik narkotik. opiat. Gerakan peristaltik akan memudahkan materi feses bergerak di sepanjang kolon. jika digunakan dalam waktu lama. bowel training pada saat kanak-kanak. 3. Faktor psikologis Perasaan cemas atau takut akan memengaruhi peristaltik atau motilitas usus sehingga dapat menyebabkan diare. frekuensi. Laksatif dan katartik dapat melunakkan feses dan meningkatkan peristaltik. 7. Akan tetapi. melahirkan) defekasi dapat menyebabkan nyeri. 2. 11. Ini karena jumlah absorpsi cairan di kolon meningkat. defekasi tidak menimbulkan nyeri.Pada bayi. atau kebiasaan menahan buang air besar. 6. . Sebagai contoh. kontrol defekasi menurun seiring dengan berkurangnya kemampuan fisiologis sejumlah organ. dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Nyeri Normalnya. Posisi saat defekasi Posisi jongkok merupakan posisi yang paling sesuai untuk defekasi. 5. 9. Kebanyakan individu merasa lebih mudah melakukan defekasi di kamar mandi mereka sendiri pada waktu yang paling efektif dan paling nyaman bagi mereka. 10. dan antikolinergik. kedua obat tersebut dapat menurunkan tonus usus sehingga usus menjadi kurang responsif terhadap stimulus laksatif. 8. Gaya hidup Aktivitas harian yang dilakukan. makanan berserat akan mempercepat produksi feses. Secara fisiologis. kontrol defekasi belum berkembang dengan baik. Tonus otot Tonus otot terutama abdomen yang ditunjang dengan aktivitas yang cukup akan membantu defekasi.

kondisi ini dapat menyebabkan konstipasi. Pemeriksaan Fisik • Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah. 2. 13. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya residual urin. Identifikasi pengkajian keperawatan apa saja yang perlu dilakukan pada kasus di atas ! Pengkajian: 1. khususnya yang ditujukan untuk melihat struktur saluran pencernaan. terasa panas dan nyeri saat berkemih. faal ginjal. Pembedahan dan anestesi Pemberian anestesi saat pembedahan dapat menghambat atau menghentikan aktiitas peristaltik untuk sementara waktu. Saat palpasi terasa adanya ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. Kehamilan Konstipasi adalah masalah yang umum ditemui pada trimester akhir kehamilan. dehidrasi sampai syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok . Kondisi ini umumnya berlangsung antara 24 jam dan 48 jam yang disebut dengan ileus paralitik. ibu hamil seringkali mengalami hemoroid permanen karena seringnya mengedan saat defekasi. dan pyelonefrosis.septik. Lama kelamaan. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan diagnostik tertentu. Pada daerah supra simfiser pada keadaan retensi akan menonjol. 12. Selain itu. Nadi dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut. Pemeriksaan Laboratorium • Pemeriksaan darah lengkap. serum elektrolit dan kadar gula . Sisa barium yang tertinggal di saluran pencernaan akan mengeras dan menyebabkan impaksi usus. prosedur prosedur pemeriksaan dengan menggunakan barium dapat menyebabkan masalah tambahan. 14. ukuran janin dapat menyebabkan obstruksi yang akan menghambat pengeluaran feses.klien seringkali menekan keinginannya untuk defekasi. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata Klien didiagnosis dengan BPH (Benigna Prostat Hiperplasia) 1. mengharuskan dilakukannya pengosongan lambung (misalnya. Seiring bertambahnya usia kehamilan. • Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk mengetahui adanya hidronefrosis. nadi dan suhu. dengan enema atau katartik). Akibatnya. Tindakan ini dapat mengganggu pola eliminasi sampai klien dapat makan dengan normal. Kasus A Seorang Bapak (50 tahun) datang ke Rumah Sakit dengan keluhan : kesulitan berkemih.

Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis. Masalah keperawatan apa yang mungkin muncul dari kasus di atas ! Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah sebagai berikut : Pre Operasi : 1). pembesaran prostat. 4). PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya keganasan 2. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli. 5) Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi 6) Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek pembedahan 3. Kurang pengetahuan tentang kondisi . Tindakan keperawatan apa yang bisa dilakukan berdasarkan kasus di atas ! . Pemeriksaan urin lengkap dan kultur. irigasi kandung kemih sering. kateter.prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi Post Operasi : 1) Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P 2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan.dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih unmtuk berkontraksi secara adekuat. 2). Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah 5). 3). 3) Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan 4) Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P. kolik ginjal.• • digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien. Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik. infeksi urinaria. distensi kandung kemih.

Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tibatiba dirasakan. distensi kandung kemih. 2). tidur / istirahat dengan tepat. R / Nyeri tajam. 1) Tujuan : tidak terjadi obstruksi 3) Kriteria hasil : Berkemih dalam jumlah yang cukup. Sebelum Operasi a. Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik. R/ Meminimalkan retensi urina distensi berlebihan pada kandung kemih 2. Kriteria hasil Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol. perhatikan lokasi. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa buli – buli.kandung kemih dari pertumbuhan bakteri 5. pembesaran prostat. Rencana tindakan dan rasional a) Kaji nyeri. Tujuan Nyeri hilang / terkontrol. intensitas ( skala 0 10 ).dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan kandung kemih untuk berkontraksi secara adekuat. Berikan obat sesuai indikasi ( antispamodik) R/ mengurangi spasme kandung kemih dan mempercepat penyembuhan b. kolik ginjal.Perencanaan 1. Observasi aliran urina perhatian ukuran dan kekuatan pancaran urina R / Untuk mengevaluasi ibstruksi dan pilihan intervensi 3. intermitten dengan dorongan berkemih / masase urin sekitar kateter menunjukkan spasme buli-buli. Awasi dan catat waktu serta jumlah setiap kali berkemih R/ Retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal 4. 3). Berikan cairan sampai 3000 ml sehari dalam toleransi jantung. Tampak rileks. 1). yang cenderung lebih berat pada pendekatan TURP ( biasanya menurun dalam 48 jam ). . R / Peningkatkan aliran cairan meningkatkan perfusi ginjal serta membersihkan ginjal . infeksi urinaria. tidak teraba distensi kandung kemih 4) Rencana tindakan dan rasional 1. menunjukkan ketrampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu.

Pemeriksaan koagulasi. pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik. d) Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan terapeutik. perhatikan peningkatan nadi dan pernapasan. 2). c). 1). Pantau masukan dan haluaran cairan. b). membran mukosa lembab dan keluaran urin tepat. 3). pengubahan posisi. g). Perhatikan keluaran 100-200 ml/.b) Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. R/ Indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian. Kolaborasi dalam memantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi. R/ Deteksi dini terhadap hipovolemik sistemik d).Kriteria hasil Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tanda -tanda vital stabil. R/ Meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan edema serta meningkatkan penyembuhan ( pendekatan perineal ). Pertahankan tirah baring bila diindikasikan R/ Diperlukan selama fase awal selama fase akut. pucat. pengisian perifer baik.Tujuan Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara.buli. R/ Diuresisi yang cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl cukupan jumlah natrium diabsorbsi tubulus ginjal. nadi perifer teraba. Resiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis. f) Berikan rendam duduk atau lampu penghangat bila diindikasikan. penurunan tekanan darah. Pertahankan selang bebas dari lekukan dan bekuan. Tingkatkan tirah baring dengan kepala lebih tinggi R/ Menurunkan kerja jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi. R / Menurunkan tegangan otot. jumlah trombosi . Awasi tanda-tanda vital. Awasi keluaran tiap jam bila diindikasikan. menurunkan resiko distensi / spasme buli . c). jumlah sel darah merah. memfokusksn kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping. contoh: Hb / Ht. R/ Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem. f) Kolaborasi dalam pemberian antispasmodik R / Menghilangkan spasme c. diaforesis.Rencana tindakan dan rasional a).

3). b. R / Membantu pasien dalam mengalami perasaan. Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan prognosisnya. Tujuan Pasien tampak rileks. 2). berpartisipasi dalam program pengobatan. R / Membantu pasien dalam memahami tujuan dari suatu tindakan. Memberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan. 3). Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder pada TUR-P Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang. 2). menunjukkan rentang yang yang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takut. Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah atau perasaan.R/ Berguna dalam evaluasi kehilangan darah / kebutuhan penggantian.pengalaman pasien R/ Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi terapi. c). Kriteria hasil Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi. Kriteria hasil Melakukan perubahan pola hidup atau prilasku ysng perlu. Serta dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi misalnya penurunan faktor pembekuan darah. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah. II. Rencana tindakan dan rasional a). b) Kaji ulang proses penyakit.prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi 1). 1. Rencana tindakan dan rasional a). Dampingi klien dan bina hubungan saling percaya R/ Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantu b). R/ Memberikan kesempatan pada pasien dan konsep solusi pemecahan masalah Kurang pengetahuan tentang kondisi . Dorong pasien menyatakan rasa takut persaan dan perhatian. 1). . Sesudah operasi c.

9. termasuk latihan nafas dalam. Observasi tanda – tanda vital R/ Mengetahui perkembangan lebih lanjut. R/ Memberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer. 4. Pemantauan klien pada interval yang teratur selama 48 jam. R/ Menentukan terdapatnya spasmus sehingga obat – obatan bisa diberikan 3. Anjurkan pada klien untuk tidak duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TUR-P. kateter. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi. 5. . Tujuan: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda infeksi .Tanda – tanda vital dalam batas normal. untuk mengenal gejala – gejala dini dari spasmus kandung kemih. 8. .Kriteria hasil : . Rencana tindakan : 1. visualisasi. 2. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat – obatan (analgesik atau anti spasmodik ) R / Menghilangkan nyeri dan mencegah spasmus kandung kemih. R/ Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi kandung kemih dengan peningkatan spasme. 7. Irigasi kateter jika terlihat bekuan pada selang. Jelaskan pada klien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha untuk mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih. Kriteria hasil: . R / Mengurangi tekanan pada luka insisi 6. .Klien akan tidur / istirahat dengan tepat. . . .Klien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi.Ekspresi wajah klien tenang.Dapat mencapai waktu penyembuhan.Klien tidak mengalami infeksi. R / Menurunkan tegangan otot. R/ Kien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung kemih. irigasi kandung kemih sering. Jelaskan pada klien tentang gejala dini spasmus kandung kemih. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter. R/ Mengurang kemungkinan spasmus.Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan. 2. memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

laporkan tanda – tanda shock dan demam.Tanda – tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda – tanda shock. R/ . Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi. R/ Untuk mencegah infeksi dan membantu proses penyembuhan. Pertahankan sistem kateter steril. R/ Menurunkan kecemasan klien dan mengetahui tanda – tanda perdarahan 2. Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dengan tindakan pembedahan . Urine lancar lewat kateter . bau. jumlah. Rencana tindakan: 1. R/ Mencegah sebelum terjadi shock. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi dilepas.. R/ Mengidentifikasi adanya infeksi. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk memudahkan defekasi . 6. R/ Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi 2. berikan perawatan kateter dengan steril. . pemeriksaan rektal atau huknah. Observasi urine: warna. R/ Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatik yang akan mengendapkan perdarahan . menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih 3. Kriteria hasil: Klien tidak menunjukkan tanda – tanda perdarahan . 5. 4. R/ Dapat menimbulkan perdarahan prostat . untuk sekurang – kurangnya satu minggu . 3. Pertahankan posisi urobag dibawah. 3. Tujuan: Tidak terjadi perdarahan. Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan dan tanda – tanda perdarahan . Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi dan mempertahankan fungsi ginjal. 5. R/ Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih. Mencegah pemakaian termometer rektal. Tanda – tanda vital dalam batas normal . Rencana tindakan: 1. Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter R/ Gumpalan dapat menyumbat kateter. 4. Observasi tanda – tanda vital. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik.

Klien berpartisipasi dalam program pengobatan. Jelaskan tentang : kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula dan kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu) R/ Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi seksual 3 . Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P. Rencana tindakan : 1 . R/ Bisa terjadi perdarahan dan ketidaknyamanan 4 . 2 . Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi . Rencana tindakan: . dengan intervensi yang tepat mencegah kerusakan jaringan yang permanen . Klien menyatakan pemahaman situasi individual . Kriteria hasil: Klien akan melakukan perubahan perilaku. Beri kesempatan pada klien untuk memperbincangkan tentang pengaruh TUR – P terhadap seksual .masukan dan haluaran dan warna urine R/ Deteksi awal terhadap komplikasi. Observasi: Tanda – tanda vital tiap 4 jam. 6. Dorong klien untuk menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan lanjutan . Klien mengerti tentang pengaruh TUR – P pada seksual. 4. R / Untuk mengklarifikasi kekhatiran dan memberikan akses kepada penjelasan yang spesifik. R/ Untuk mengetahui masalah klien . -Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan . Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah . 5. Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .R/ Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik. menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas 3 – 6 jam setelah pembedahan . Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan Kriteria hasil: Klien tampak rileks dan melaporkan kecemasan menurun .

Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh . R/ Untuk membantu proses penyembuhan . 6. 2. R/ Mengurangi potensial infeksi dan gumpalan darah . dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan. R/ Menentukan rencana mengatasi gangguan 4. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur. . R/ meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan . 2.1. Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu . R/ Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup . 5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan Tujuan: Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi. Kriteria hasil: Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup. R/ Suasana tenang akan mendukung istirahat 3. Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu. 4. Rencana tindakan: 1. Ciptakan suasana yang mendukung. suasana tenang dengan mengurangi kebisingan . R/ Dapat menimbulkan perdarahan . Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari. pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan mengedan pada waktu BAB Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari. Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur . R/ Mengedan bisa menimbulkan perdarahan. Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter. Untuk menjamin tidak ada komplikasi . 3. R/. Klien mengungkapan sudah bisa tidur . Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri ( analgesik ).

Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi urine terjadi proses berkemih. Sedangkan system tubuh yang berperan dalam proses eliminasi alvi atau buang air besar adalah system gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar. Organ yang berperan dalam eliminasi urine adalah: ginjal. kandung kemih dan uretra. Eliminasi yang teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh yang normal. asupan. Gangguan kebutuhan eliminasi urine adalah retensi urine. respon keinginan awal untuk berkemih kebiasaan seseorang dan stress psikologi. kembung dan hemorrhoid. asupan cairan. Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut buang air besar. Gangguan eliminasi alvi adalah konstipasi. diare.BAB III KESIMPULAN Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa urin atau bowel (feses). aktifitas. pola eliminasi dan kebiasaan masing-masing orang berbeda. Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi alvi terjadi proses defekasi. gaya hidup dan penyakit. Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi alvi antara lain: usia. Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urine adalah diet. Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih). Karena fungsi usus tergantung pada keseimbangan beberapa faktor. Perubahan pada eliminasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan bagian tubuh yang lain. Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua. diet. inkontinensia urine dan enuresis. . yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar).

Pendekatan Proses Lab / UPF Ilmu Bedah. Jakarta. Jakarta : EGC.. B.Benigna Prostat Hiperplasia.E. (1999). Isselbacher. Jakarta.M and Alice. FKUI. Jilid II. Surabaya. Long. F. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1999. Surabaya Soeparman. Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD.G. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 1996. Airlangga University Press. Jakarta : EGC Perry & Potter. Jakarta. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC. (1990).. 2008. Hardjowidjoto S. Doenges. C.dkk.1999.DAFTAR PUSTAKA Guyton & Hall. dr... Marry. Penerbit Buku Kedokteran EGC.C. Fundamental Keperawatan edisi 4 volume 2. 2000. . M.Harrison Prinsip-prinsip of internal medicine 13/E . Soetomo. 1994. Ilmu Penyakit Dalam. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Keperawatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful