Perdamaian Dalam Hukum Pidana

Apa yang melatarbelakangi sikap para pakar yang hampir semuanya diam dan bungkam dalam menyikapi peritiwa perdamaian tersebut ? Adakah makna diam dalam konteks ini berarti membenarkan atau menyetujui proses perdamaian dalam bidang hukum pidana ? Dan adakah lembaga perdamaian ini diakui keberadaannya dalam hukum pidana ? Untuk memecahkan persoalan apakah lembaga perdamaian ini diakui dalam praktek peradilan hukum pidana, menurut hemat penulis ada dua metode berfikir yang saling bertolak belakang. Pertama, metode berfikir yang yuridis formal. Bagi penganut metode ini akan berkata, bahwa hukum pidana adalah hukum publik. Konsekuensi dari sifat hukum pidana sebagai hukum publik adalah, bahwa pelanggaran terhadap ketentuan hukum pidana akan diselesaikan oleh aparat penegak hukum. Sebagai hukum publik, maka tidak diperkenankan untuk diselesaikan oleh kedua belah pihak saja, pihak korban dengan pihak pelaku. Jika terjadi pembunuhan atau pencurian misalnya, maka pihak korban tidak dibenarkan untuk melakukan tindakan pembalasan terhadap pelaku. Jika ini yang dilakukan oleh pihak korban, maka korban dapat dituduh telah melakukan tindakan main hakim sendiri (daad van eigenrichting), sehingga korban dapat dihukum karena telah melakukan tindakan main hakim sendiri tersebut. Berlainan dengan sifat hukum pidana, dalam hukum perdata justru sebaliknya, jika terjadi perselisihan antara dua pihak, maka maka aturan hukum perdata secara tegas memperkenankan antara kedua belah pihak itu untuk melakukan perdamaian, dan malah dianjurkan untuk berdamai. Negara, dalam kasus perbuatan perdata tidak bisa mengintervensi atau mencampurinya. Negara baru ikut mencampuri apabila tidak terdapat kesepakatan damai diantara kedua belah pihak. Melalui gugatan ke Pengadilan, maka berarti negara telah ikut mencampuri kasus kedua belah pihak. Tapi sebaliknya, oleh karena pembunuhan ini termasuk dalam ruang lingkup hukum pidana, maka proses penyelesaiannya merupakan tanggung jawab aparatur penegak hukum (polisi, jaksa dan hakim) untuk menanganinya, bukan diselesaikan oleh korban. Korban tidak punya kewenangan untuk menyelesaikannya secara pribadi. Dengan demikian, para penganut metode berfikir yang yuridis formal ini, akan menolak

keberadaan lembaga perdamaian dalam hukum pidana. bahwa hukum tidak identik dengan hanya sebatas Undang-Undang saja. baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis. Sehingga konsekuensinya adalah. Hukum adalah aturan-aturan yang tertulis. adalah merupakan sumber hukum yang valid dan shahih di samping peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh negara. metode berfikir yang yuridis materiil. Atau dengan kata lain. menurut aliran ini. yaitu: mengapa tidak langsung saja disebut “fakultas Undang-Undang”. Para penganut aliran ini memandang. maka persoalan yang menarik untuk dikedepankan adalah: Apakah hanya lembaga pengadilan sajakah yang bisa menegakan keadilan. “pengadilan sebagai benteng keadilan ?”. mengapa kita masih juga mensakralkan. apakah memang lembaga pengadilan telah diberi hak untuk memonopoli penegakan keadilan ? Apakah di pelosok desa yang berada nun jauh disana tidak ada keadilan ? Apakah di Kantor Gubernur tidak ada penegakan keadilan ? Apakah di kampus tidak ada keadilan ? Apakah lembaga adat yang ada di kampung-kampung tidak bisa menegakan keadilan. termasuk lembaga pengadilan. keadilan itu ada dimana-mana. bukankah akan membuat kita menjadi semakin stress. Makna hukum bagi penganut aliran ini adalah. Al Qur'an dan Hadist. Jika demikian pandangan aliran ini. seluruh kasus pidana harus diajukan ke sidang pengadilan. jika dalam tataran praktek ternyata putusan-putusan yang menjadi produk pengadilan itu justru banyak yang tidak adil ? . bahwa hukum sama dengan UndangUndang. tidak ada satu lembagapun. maka ada pertanyaan yang menarik untuk diajukan. mengapa dalam tataran normatif-empiris disebut “fakultas hukum” ? Ada apa sebenarnya ini ? Kedua. penganut aliran kedua. dan seterusnya ? Menurut hemat penulis. bahwa yang penting dalam penegakan hukum adalah dalam rangka tercapainya kepastian hukum. Penganut metode berfikir yuridis formal ini memandang. karena menurut aliran ini. Sedangkan sebaliknya. yang akan dicapai melalui proses penegakan hukum adalah keadilan. Kalau pernyataan ini dapat diterima. Bertolak dari sudut pandang keadilan dalam kaitannya dengan lembaga perdamaian. Di luar peraturan perundangundangan masih banyak hukum. yang dapat mengkalim “dirinya” sebagai satusatunya yang berwenang dan memonopoli dalam penegakan keadilan. tanpa kecuali. dan yang tidak tertulis bukanlah hukum namanya. Bagi penganut aliran yang pertama. Sehingga di luar Undang-Undang tidak ada hukum. sebagaimana halnya dengan ketidakadilanpun juga ada dimana-mana.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah. bisakah kita menerima konsep perdamaian (ishlah) dalam hukum pidana kalau dengan ishlah ini dapat menimbulkan dan melahirkan rasa damai. Lalu. Kalau hukum itu identik dengan keadilan. sejuk dan rasa adil diantara para pihak ? Jika semua kasus pidana harus diselesaikan melalui proses peradilan pidana. sama halnya seperti dalam kasus perdata sebagaimana yang dipaparkan di atas. maka putusan pengadilan itu batal demi hukum. apakah dengan adanya putusan pengadilan. Tanpa kalimat ini. Persoalannya adalah. Apakah dengan tindakan permaafan (baca: perdamaian) ini. Jika seseorang yang bernama Fulan melakukan pembunuhan terhadap seorang ibu. Benarkah lembaga ini tidak mempunyai landasan hukum sehingga dipandang liar ? Sebelum penulis mengemukakan alasan yuridis. sehingga pelaksanaannya dipandang liar karena tidak mempunyai landasan hukum. ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu landasan logikanya. maka pertanyaannya adalah. bahwa penyelesaian kasus kejahatan dilakukan di luar acara peradilan. ini berarti diantara kedua belah pihak telah tercapai suatu keadilan. tentu dengan perdamaian ini timbul suasana sejuk antara kedua belah pihak. atas kesepakatan yang tulus dan ikhlas dari pihak korban yang terdiri dari anak-anaknya dan saudara kandung si korban. “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. si Fulan tersebut. apakah putusan . tidak sah. ternyata hukum itu tidak selamanya identik dengan keadilan.Hakekat Lembaga Perdamaian Perdamaian dalam hukum pidana artinya adalah. selalu tercantum untaian kalimat yang berbunyi. jika kita perhatikan secara seksama pada setiap putusan pengadilan. akan semakin menumbuh-suburkan perasaan dendam ataukah justru menyejukan suasana antara pelaku dan korban ? secara logika. lalu masalahnya selesai ? Atau dengan kata lain. Kemudian. seharusnyalah putusan pengadilan itu berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan Hukum”. Lembaga perdamaian ini secara yuridis formal tidak diakui dalam peraturan perundang-undangan hukum pidana. seperti yang dianut oleh aliran yang berpandangan yuridis formal. memberi maaf kepada si pelaku. “Demi Keadilan Berdasarkan Hukum ?” Kalau kita berangkat dari cara berfikir yuridis materil. berkaitan dengan keadilan ini. yaitu dengan cara perdamaian antara kedua belah pihak. mengapa kepala/irah-irah putusan pengadilan itu tidak berbunyi.

Jika lembaga ishlah ini tidak diatur dalam Undang-Undang. Memang tak dapat disangkal. pada umumnya aparat penegak hukum sudah terlanjur dan terbiasa berfikir bahwa yang dikatakan hukum itu adalah Undang-Undang. Konsekuensinya adalah. laju perkembangan masyarakat seringkali tidak terjangkau oleh materi peraturan perundang-undangan. Tapi perlu diingat. maka kehadiran ishlah bisa diterima. tapi adalah berkaitan dengan masalah kalah dan menang. Sehingga dalam banyak hal. bahwa segala persoalan kehidupan kemasyarakatan sebaiknya diatur secara hitam putih dalam peraturan perundang-undangan. tapi juga rasa keadilan. di luar Undang-Undang tidak ada hukum. Barangkali aparatur penegak hukum kita masih sulit menerima fikiran-fikiran yang berlandaskan pada metode berfikir yuridis materiil. sebab. Ishlah Dalam Pelanggaran Lalu Lintas Lembaga Ishlah dalam hukum pidana ini secara diam-diam sebenarnya sering diterapkan oleh anggota masyarakat. bahwa putusan pengadilan itu bukannya menyelesaikan masalah tapi justru menimbulkan masalah. maka secara apriori langsung menolaknya. maka yang terjadi adalah kepincangan-kepincangan dalam proses penegakan hukum. yang akan dicapai itu bukan hanya kepastian hukum. Mengapa ? Karena pandangan orang terhadap proses peradilan itu bukan masalah benar atau salah.pengadilan dapat menyelesaikan masalah ? Bukankah seringkali terjadi. bisakah kita menerima kehadirannya tanpa landasan Pasal ? Masalah berani atau tidaknya kita menerima keberadaannya sangat tergantung pada pola berfikir. bahwa setiap kali bertindak selalu saja mencari dasar hukumnya yaitu Undang-Undang Nomor berapa dan Pasal berapa yang mengaturnya. Dalam kasus ini seringkali . Undang-Undang seringkali tertinggal dibandingkan dengan pesatnya kemajuan dan perkembangan sosial. Konsekuensinya adalah. apabila kita terlalu berfikir yuridis formal. tapi ia mampu menciptakan suasana keadilan diantara para pihak yang bersengketa. Jika kita sudah terbiasa dengan pola berfikir yang yuridis formal. tertulis. Artinya. Tapi apabila titik berat metode berfikir itu terletak pada yuridis materil. terutama dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas . bahwa proses pembentukan peraturan perundang-undangan itu sendiri memakan waktu cukup lama.

bisakah dia merekam proses persidangan secara baik pada sidang berikutnya terhadap suatu perkara dalam rangka memberikan keadilan yang materil kepada pencari keadilan yang datang padanya ? Ataukah hanya mengandalkan catatan-catan dari Panitera saja ? Ini baru tinjauan dari sudut kuantitas. Kalau dengan kesepakatan ini. tidak ada satupun kasus pidana yang dapat diselesai di luar jalur peradilan. tinggal lagi masalah watak Polri kita: jika Polri kita sangat kaku dan hanya berfikir yuridis formal. jumlah hakim tidak lebih hanya dalam hitungan belasan orang. Dengan seringnya terjadi perdamaian dalam kasus kecelakaan lalu lintas. tidak peduli apakah si penabrak itu telah membayar sejumlah uang kepada korban atau tidak. secara sosiolagis. semua kasus yang berbau pidana harus diselesai lewat peradilan pidana. tetapi juga mencakup perkara perdata. Sampai saat ini. menghendaki adanya lembaga ADR (Alternative Dispute Resolution) dalam hukum pidana. Perdamaian itu biasanya diikuti dengan pembayaran sejumlah uang oleh pihak penabrak kepada korban sebagai penggantian biaya penagobatan di rumah sakit. pihak korban telah mrasa adil sementara pihak pelaku sendiri dengan tulus ikhlas membayarkan sejumlah uang. dan di lain waktu berposisi sebagai hakim ketua pada hari yang sama. mampukah pengadilan kita menegakan keadilan secara materil. Kalaupun ada. pada waktu tertentu ia bertindak sebagai hakim anggota. Persoalannya. . sementara tugasnya bukan hanya mengadili perkara pidana saja. Di setiap Pengadilan Negeri.terjadi perdamaian antara pihak penabrak dengan pihak korban (yang ditabrak). demikian seterusnya pada hari-hari berikutnya. ini menunjukan bahwa sebenarnya masyarakat. Persoalannya adalah. semua kasus pidana harus diselesaikan lewat proses peradilan. maka pihak penabrak tetap akan diajukan ke sidang pengadilan. Singkat kata. bukan keadilan sebatas pengertian formal ? Tugas Hakim Mari kita coba menghitung personil hakim yang ada di tiap-tiap Pengadilan Negeri di Indonesia. jumlah sedikit sekali. secara yuridis formal. Karena memang secara formal tidak ada ketentuan pengecualian. Gambaran tugas hakim dalam mengadili perkara. Sedangkan dari sudut kualitas tentu saja akan sangat beragam antara kemampuan hakim yang satu dengan yang lain.

sudah saatnya pembentuk Peraturan Perundang-undangan merespon kenyataan-kenyataan lapangan yang menghendaki adanya ADR dalam perkara pidana. . sehingga tidak lagi dilakukan secara illegal seperti yang selama ini terjadi.Atas dasar apa yang diuraikan di atas. namun terdapat indikasi terhadap tindak pidana-tindak pidana tertentu yang sekarang justru lebih banyak orientasi penyelesaiannya dilakukan secara damai. Walaupun tidak seluruh perkara pidana yang diberi peluang untuk diselesaikan secara ADR. maka untuk hal-hal seperti inilah yang perlu direspon dan dirumuskan untuk diberikan landasan legalitas. penulis berpendapat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful