BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Anak-anak merupakan salah satu golongan penduduk yang berada dalam situasi rentan, dalam kehidupannya di tengah masyarakat. Kehidupan anak dipandang rentan karena memiliki ketergantungan tinggi terhadap orang tua. Jika orang tua lalai menjalankan tanggung jawabnya, maka anak akan mengalami berbagai masalah kesehatan. Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak adalah diare. Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya (3 atau lebih per hari) yang disertai perubahan bentuk dan kosistensi tinja dari penderita (Depkes RI, 2002). Penyakit diare perlu mendapatkan perhatian khusus karena di samping angka kesakitannya yang masih tinggi, penyakit ini juga dapat menimbulkan wabah yang akhirnya menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) serta penyakit ini juga dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani secara serius. Untuk itu sangat diperlukan sistem kewaspadaan diri (SKD) yang baik (Dinkes Provinsi Bengkulu, 2002). Menurut catatan WHO, diare membunuh dua juta anak di dunia setiap tahun, sedangkan di Indonesia menurut Surkesnas tahun 2001, diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita, dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur (Amirudin, 2007). Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia tahun 2001, diare menempati urutan ketiga penyebab kematian bayi. Diare merupakan penyakit dengan frekuensi KLB kelima terbanyak setelah DBD, Campak, Tetanus Neonaturum dan keracunan makanan. (Depkes RI, 2004).

Pada tahun 2006 diare menduduki urutan ke-2 pada 10 penyakit terbanyak di Provinsi Bengkulu dengan jumlah balita penderita diare 31.233 kasus, sedangkan untuk Kota Bengkulu memiliki kejadian paling banyak diantara kabupaten lain yaitu 7.125 kasus pada balita. Puskesmas Sukamerindu merupakan Puskesmas yang memiliki jumlah penderita diare balita terbanyak dibandingkan Puskesmas lainnya di wilayah Kota Bengkulu dengan jumlah penderita diare pada balita 1,498 kasus. (Profil Dinkes Kota, 2006). Pada tahun 2008, jumlah penderita diare pada balita di Kota Bengkulu mencapai 4430 kasus dan jumlah kasus tertinggi masih di Puskesmas Sukamerindu, adalah 876 kasus. (Dinkes Kota, 2008). Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena infeksi, malabsorbsi, alergi, keracunan, immuno defisiensi, dan penyebab lain. Adapun penyebab-penyebab tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya keadaan gizi, kebiasaan atau prilaku, sanitasi lingkungan, dan sebagainya (Amirudin, 2007). Penyakit diare merupakan suatu penyakit yang berbasis lingkungan. Ada 2 faktor yang dominan yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan prilaku manusia yang tidak sehat. Ada beberapa perilaku yang dapat meningkatkan resiko terjadinya diare yaitu tidak memberikan ASI secara penuh hingga umur 4-6 bulan pertama dari kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, air minum tercemar pada bakteri tinja, tidak mencuci tangan sesudah BAB, sebelum menjamah makanan (Depkes RI, 1998). Pengetahuan dan sikap ibu tentang penyakit diare berpengaruh pada perilaku ibu dan masalah kesehatan keluarga. Menurut Notoadmojo, tahun 1993 perilaku dibagi 3 domain, ini diukur dari pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan praktek (practice). Hasil studi awal yang dilakukan di Puskesmas Sukamerindu, ditemukan dari 10 orang balita yang terkena diare, ternyata 7 orang ibu yang memiliki balita yang menderita diare menggunakan susu formula dengan menggunakan botol dan tidak mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memberikan makanan pada balita. 3 orang ibu diantaranya yang memiliki

balita mencuci tangan sebelum memberikan makanan dan memberikan ASI hingga umur lebih dari 6 bulan. Berdasarkan dari data tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui ”Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu dengan Kejadian Diare pada Balita di Wilayah kerja Puskesmas gempang mankes Tahun 2009”.

B. Rumusan Masalah Dari data yang terurai di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah masih tingginya kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2008. Dengan pertanyaan peneliti adalah ”Apakah ada Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap dengan Kejadian Diare pada Balita ” ?.

C. Tujuan 1. Tujuan umum Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan Sikap Ibu dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu. 2. Tujuan khusus a. Untuk mengetahui frekuensi diare pada balita. b. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan ibu tentang diare di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu. c. Untuk mengetahui distribusi frekuensi sikap ibu tentang diare di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu. d. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan Ibu dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu. e. Untuk mengetahui hubungan sikap Ibu dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi akademik Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa jurusan Keperawatan, sebagai pemberi pelayanan kepada masyarakat mengenai penyebab Diare pada balita. 2. Bagi Puskesmas Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada bidang kesling dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan.

2. Bagi Peneliti lain

Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain.

E. Keaslian Penelitian Peneliti serupa pernah diteliti oleh : 1. Linda Handayani, ”Hubungan Hyegene Pribadi Ibu dan Sanitasi Lingkungan dengan Diare Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tempel 1 Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman”. Dengan hasil tidak ada hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita. 2. Diana Winduri 2001, Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Diare di Puskesmas Sukamerindu tahun 2001. Dengan hasil tidak ada hubungan status gizi dengan kejadian diare pada balita.

tempat. Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Diare pada Balita di Puskesmas Sukamerindu tahun 2003. sampel. waktu. Dengan hasil tidak ada hubungan antara status gizi dan kepadatan penduduk dengan kejadian diare pada balita. Bedanya dari ketiga penelitian di atas adalah variabel.3. dan desain. Dengan variabel Status Gizi dan Kepadatan Penduduk. . populasi. Esti rahayu 2003.

b. 5) Infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan. Diare 1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. shigella. trichiuris. 2002). tonsilofaringitis. 1990). giardia lamblia. Pengertian Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya (3 atau lebih per hari) yang disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita (Depkes RI. trichomonas hominis. a. adenovirus. ensefalitis dan sebagainya. salmonella. rotavirus. Etiologi Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor. oxyuris. seperti otitis media akut (OMA). Coli. strongyloides. Faktor infeksi 1) Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak Infeksi enteral ini meliputi : 2) Infeksi bakteri : vibrio. campylobacter. Albert and Paul S. E. Faktor malabsorbsi .). Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.). yaitu : (B. 4) Infestasi parasit : cacing (ascaris. coxsackie. 3) Infeksi virus : enteroovirus virus ECHO. protozoa (entamoeba histolytica. 2006) . aeromonas dan sebagainya. Diare adalah BAB yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. bronkopneumonia. yersinia. poliomyelitis. (FK UI. astrovirus dan lain-lain. 2. jamur (candida albicans).

3. monosakarida (intoleransi glukosa. 1990) c. faktor makanan : makanan basi. Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktrosa. Albert and Paul S. 3) Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan. Patogenesis 1) Patogenesis diare akut . b. alergi terhadap makanan. Patogenesis dan patofisiologi (B. Albert and Paul S. Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah : 1) Gangguan osmotik Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi. keracunan. Alergi (bacilus cereuc). malabsorbsi protein. 2005). walaupun jarang dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar. sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. 2) Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.Untuk faktor malabsorbsi ada 3 yaitu malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa. sehingga timbul diare. (B. fruktosa dan galaktosa). maltosa dan sukrosa). faktor psikologis : rasa takut dan cemas. malabsorbsi lemak. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. 1990) a. imunodefisiensi dan sebab lainnya (Joko irianto. beracun.

Patofisiologi Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi : 1) Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik. hipokalemia dan sebagainya. c. 1990) Mula-mula bayi/balita menjadi cengeng. c) Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik). Warna tinja makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur oleh empedu. malnutrisi dan lain-lain. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan .) 2) Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan kurang. Tinja lendir dan atau darah. kemudian diare. yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare. pengeluaran bertambah) 3) Hipoglikemia 4) Gangguan sirkulasi darah 4. suhu tubuh meningkat. d) Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare. 2) Patogenesis diare kronis Lebih kompleks dan faktor-faktor yang menimbulkannya ialah infeksi bakteri. parasit. gelisah. nafsu makan berkurang atau tidak ada. Gejala klinis (B. b) Jasad renik tersebut berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus halus.a) Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung. malabsorbsi. Albert and Paul S.

1990) a. Komplikasi (B. dengan menentukan PH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan). kalsium dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai oleh kejang).elektrolit. 6. d. Pemeriksaan tinja b. PH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest. g. Albert and Paul S. 1990) : Belum ada dehidrasi. terutama dilakukannya pada penderita diare kronik. h. Albert and Paul S. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus. hipotoni otot. Makroskopis dan mikroskopis c. lemah. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif. e. BB turun. kalium. mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung. 7. Pemeriksaan laboratorium (B. Pemeriksaan kadar ureum dan kretinin untuk mengetahui faal ginjal. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah. f. bila diduga terdapat intoleransi gula. Albert and Paul S. perubahan pada elektrokardiogram) . Bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi. Klasifikasi Pengklasifikasian berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi (B. b. 1990) a. bradikardia. dehidrasi ringan. Renjatan hipovolemik. turgor kulit berkurang. selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. maka gejala dehidrasi mulai tampak. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium. dehidrasi sedang dan dehidrasi berat. 5.

Mata c. Malnutrisi energi protein. Intoleransi laktosa sekunder. terutama pada dehidrasi hipertonik f. lunglai atau tidak sadar Cekung Sangat cekung dan Tidak ada kering Kering Tidak ada Haus. 2005) . Hipoglikemia d. Air mata d. Kejang. karena selain diare dan muntah.1. rewel Lesu . penderita juga mengalami kelaparan. Periksa turgor kulit Kembali cepat 3. terapi Rencana terapi A Dehidrasi ringan / bila ada 1 tanda ditambah 1 atau lebih tanda lain Rencana Rencana terapi B terapi C (Joko irianto. Rasa haus Normal Ada Basah Minum biasa Tidak haus B C . 2. hipotonik. Mulut dan lidah e. ingin Sangat minum kering banyak Malas minum atau tidak bisa minum Kembali lambat Kembali sangat lambat Dehidrasi berat / bila ada 1 tnda ditambah 1 atau lebih tanda lain 2. g.c. berat. Keadaan Baik umum sadar b. e. sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa usus halus. Derajat Tanpa dehidrasi dehidrasi sedang 4. Dehidrasi (ringan. isotonik atau hipertonik). Gelisah. Tabel penilaian derajat dehidrasi Penilai A an 1. sedang. Lihat a.

Penyebaran Kuman yang menyebabkan diare Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain makan/minum yang tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. penggunaan botol ini memudahkan pencernaan oleh kuman. perlu kita ketahui terlebih dahulu frekuensi diare pada balita yaitu 2-3 kali per tahun. 2005) : a. Beberapa prilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare. prilaku tersebut antara lain : 1) Tidak memberikan ASI (air susu ibu) secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan pada bayi yang tidak diberi ASI risiko untuk menderita diare lebih besar dari pada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita dehidrasi berat juga lebih besar. pencemaran di rumah dapat terjadi kalau tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan. 3) Menyimpan makanan masak pada suhu kamar. merupakan kejadian berulang pada balita.8. Bila makanan disimpan beberapa jam pada suhu kamar makanan akan tercemar dan kuman akan berkembangbiak. . Maka kejadian ini. 2) Menggunakan botol susu. 4) Menggunakan air minum yang tercemar. 5) Tidak mencuci tangan setelah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyusui/menyuapi anak. Adapun yang menyebabkan kejadian diare ini berulang yaitu (Joko irianto. Epidemiologi Sebelum kita ketahui epidimiologi dari kasus diare ini. karena botol susah untuk dibersihkan. air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat disimpan di rumah.

ASI mengandung antibodi yang dapat melindungi kita terhadap kuman penyebab diare seperti : shigella dan V cholerae 2) Kurang gizi beratnya penyakit . Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare Beberapa faktor pada penjamu dapat meningkatkan insiden beberapa penyakit lain dan lamanya diare. diare dapat terjadi karena kuman yang tidak patogen dan mungkin juga berlangsung lama. 5) Secara proposional. diare lebih banyak terjadi pada golongan balita (55 %). lama dan risiko kematian karena diare meningkat pada anakanak yang menderita gangguan gizi terutama gizi buruk. Faktor lingkungan dan prilaku Penyakit diare adalah salah satu penyakit yang berbasis lingkungan dua faktor yang dominan . Sering menganggap bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya padahal sesungguhnya mengandung virus dan bakteri dalam jumlah besar. 3) Campak. diare dan disentri sering terjadi dan berakibat berat pada anak-anak yang sedang menderita campak dalam waktu 4 minggu terakhir hal ini sebagai akibat dari penurunan kekebalan tubuh penderita. yaitu saran air bersih dan sarana pembuangan tinja. 4) Imunodefisiensi/imunosupresi. maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare. Faktor-faktor tersebut adalah : 1) Tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun. b. misalnya sesudah infeksi virus (seperti campak) atau mungkin yang berlangsung lama seperti pada penderita AIDS (automune insufisiensi syndrom) pada anak imunosepresi berat. c. Keadaan ini hanya berlangsung sementara. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan prilaku manusia apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan prilaku manusia yang tidak sehat pula. .6) Tidak membuang tinja (termasuk tinja bayi) dengan benar. Sementara itu tinja binatang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Yaitu melalui makan dan minum .

bubur susu atau nasi tim. penderita harus segera dibawa ke petugas atau sarana kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat . Albert and Paul S. Mencegah terjadinya dehidrasi Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan memberikan minum lebih banyak dengan cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti air tajin. air sup. Adapun tindakan keperawatan untuk menangani masalah yang timbul karena diare ini adalah: a. Asuhan keperawatan pada diare (B. atau susu khusus yang tidak mengandung laktosa. Mengobati dehidrasi Bila terjadi dehidrasi (terutama pada anak). berikan air matang. biasanya jenis makanan yang dianjurkan yaitu susu (ASI atau susu formula). penderita harus segera diberikan caiaran parenteral (IV) dengan ringer laktat sebelum dilanjutkan dengan terapi oral. Untuk terapi oral atau dietik (pemberian makanan) yaitu : 1) Untuk anak di bawah 1 tahun dan di atas 1 tahun dengan BB kurang dari 7 Kg. 1990) Masalah keperawatan yang prioritas terjadi pada anak diare adalah : Kehilangan cairan dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya keseimbangan asam basa (asidosis metabolik dan hipokalemia). b. Bila terjadi dehidrasi berat.9. Dengan ketentuan yaitu : . kuah sayur. yaitu dengan oralit. Macam cairan yang dapat digunakan akan tergantung pada : 1) Kebiasaan setempat dalam mengobati diare 2) Tersedianya cairan sari makanan yang cocok 3) Jangkauan pelayanan kesehatan 4) Tersedianya oralit 5) Bila tidak mungkin memberikan cairan rumah tangga yang di anjurkan.

tepung beras dan lain-lain. 2003). Cuci tangan pakai sabun adalah mencegah diare paling murah dan efektif (Suharyono. 2) Sedangkan untuk anak di atas 1 tahun dengan BB lebih dari 7 Kg. air tajin. dimana cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat. Tidak ada obat yang aman dan efektif untuk menghentikan diare.a) Berikan makanan selama diare untuk memberikan gizi pada penderita terutama anak-anak agar anak tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya BB. Apabila ditemukan penderita diare disertai dengan penyakit lain. menggunakan air bersih. b) Anak yang masih minum ASI harus lebih sering diberi ASI c) Anak yang minum susu formula harus diberikan lebih dari biasanya. memperbaiki makanan sapihan. Secara tradisionil gula. e) Setelah diare berhenti pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan BB anak. . dianjurkan makanan padat atau cair dan susu sesuai dengan kebiasaan sehari-hari. a) Mengobati masalah lain Prinsip pengobatan diare ialah mengganti cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah. Fakta menunjukkan bahwa cuci tangan pakai sabun dapat mengurangi risiko penyakit diare hingga mencapai 50 %. dengan tetap mengutamakan dehidrasi. mencuci tangan dan cara yang benar membuang tinja bayi/balita. maka diberikan pengobatan sesuai indikasi. Berikan cairan termasuk oralit dan makanan sesuai yang dianjurkan. d) Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna sedikit tapi sering. b) Upaya pencegahan diare Upaya pencegahan diare tersebut antara lain dengan melakukan pemberian ASI.

mematuhi dokter. misal ke poli gigi untuk berobat. misal. 1908. misal diet. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan. misal perilaku sehubungan dengan air bersih. misalnya makanan yang bergizi. Pengetahuan peserta didik terhadap pendidikan yang diberikan (knowledge). Perilaku tersebut terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkattingkat pencegahan penyakit. 3) Perilaku sehubungan dengan pencarian obat. dalam memilih menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan. d. misal dalam memilih konsumsi makanan. c. 4) Perilaku sehunbungan denagn pemulihan kesehatan. sistem pelayanan kesehatan. Menurut Benyamin Bloom dalam Notoadmojo. misalnya tidur memakai kelambu untuk menghindari gigitan nyamuk. pembuangan limbah. Perilaku kesehatan itu mencakup : a. makanan. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan. yakni : 1) Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan. b. kondisi rumah sehat. yaitu bagaimana manusia berespon. pembuangan air kotor. 2) Perilaku pencegahan penyakit. serta lingkungan. Prilaku Ibu (Pengetahuan dan Sikap) yang Mempengaruhi Terjadinya Diare 1. perilaku dibagi dalam 3 domain yaitu : a.B. imunisasi. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit. Perilaku terhadap makanan. Konsep Perilaku Menurut Notoadmojo (2003) perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit. olah raga. baik secara pasif maupun aktif yang dilakukan sehubungan dengan sakit dan penyakit tersebut. pembersihan sarangsarang. peraturan .

dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.b. yakni : 1) Tahu (Know) Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Adapun tingkat pengetahuan di dalam demain kognitif mempunyai 6 tingkatan. 2. 3) Aplikasi Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. pendengaran. Pengindraan terjadi melalui panca indera manusia. dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. c. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). rasa dan raba. yakni indera penglihatan. Sikap atau anggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (attitude). Pengetahuan (Knowledge) Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu. 4) Analisis . Praktek atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi pendidik yang diberikan (practice). penciuman. Oleh sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. 2) Comprehention (memahami) Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui.

Menurut Green dalam Notoatmodjo. 5) Sintesis Ini menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagianbagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sikap (Attitude) Menurut Saifuddin Azwar.75%) 2 : kurang (< 56%) 3. 6) Evaluasi Ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut. 1993 yang menyatakan bahwa pengetahuan seseorang akan bertambah dengan diperolehnya informasi-informasi tertentu sehingga akan terjadi peningkatan pengetahuan. Dengan peningkatan pengetahuan tersebut maka akan terjadi peningkatan sikap kesehatan dalam diri individu yang berdasarkan kesadaran dan kemauan individu. Tingkat pengetahuan menurut (Arikunto S. Pengetahuan ini berpengaruh terhadap sikap seseorang sesuai dengan pemikirannya. 1997. Beberapa batasan lain tentang sikap ini dapat dikutipkan sebagai berikut : . 2002. dan masih ada kaitannya satu sama lain. 2006) yaitu : 0 : baik (76% . jika positif akan menimbulkan sikap positif demikian juga sebaliknya. Menurut Sarwono. pada hakikatnya pengetahuan merupakan semua yang diketahui manusia tentang objek tertentu. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek.100%) 1 : cukup (56% .Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponenkomponen.

c. pengetahuan. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap obyek. bukan reaksi terbuka tau tingkah laku yang terbuka. Newcomb dalam S Azwar. Menurut Saifuddin. menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas. dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave). kepercayaan (keyakinan). akan tetapi adalah merupakan pre-disposisi tindakan suatu perilaku. ide. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup. berpikir. Ketiga komponen ini secara bersamaan membentuk sikap yang utuh (total attitude). seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologi. dan emosional memegang peranan penting. keyakinan. Pendapat Azwar. tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. konsep terhadap suatu obyek. 1998 menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu yaitu : a. 2002 salah seorang ahli psikologi sosial. Sikap ini memiliki 3 komponen pokok yaitu : a. untuk mempunyai tanggapan dan penghayatan. 2005 bahwa sikap juga dipengaruhi oleh faktor eksteren dan intern salah satunya pengalaman.dari batasan-batasan di atas dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat. Pengalaman pribadi Apa yang telah dan sedang dialami seseorang akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan terhadap suatu stimulus sosial. Dalam penentuan sikap yang utuh ini. b. Apakah penghayatan .

e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap. Pengaruh orang lain yang dianggap penting Orang lain merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap seseorang. (konoatif). . Adanya informasi mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Media massa Sebagai sarana komunikasi. majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Pengaruh faktor emosional Suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. akan tergantung pada berbagai faktor lain. f. surat kabar. apabila cukup kuat. radio. Pengaruh kebudayaan Kebudayaan dimana seseorang hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap seseorang d. dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. c. b. berbagai bentuk media massa seperti televisi. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindar konflik dengan orang lain yang dianggap penting. Pada umumnya individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting. akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah kecenderungan untuk bertindak.itu kemudian akan membentuk sikap yang positip atau yang negatip.

keracunan. Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahakan agar terdiri atas pernyataan favorable dan pernyataan unfavorable dalam jumlah yang kurang lebih seimbang. (FK. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama perilaku manusia yang tidak sehat. Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Kejadian Diare Penyakit diare merupakan suatu penyakit yang berbasis lingkungan. yaitu kalimatnya bersifat mendukung atau memihak pada objek sikap. malabsorbsi. Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu karena infeksi. Karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula. 1998). Sebaliknya. Ada 2 faktor yang dominan yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. UI. Pernyataan seperti ini disebut sebagai pernyataan yang unfavorable.Dari teori sikap ada yang dinamakan pernyataan yang ditulis mengikuti kaidah yang benar melalui penskalaan dan seleksi item. Pernyataan seperti ini disebut sebagai pernyataan yang favorable. Variasi pernyataan favorable dan unfavorable akan membuat responden memikir lebih hati-hati isi pernyataannya sebelumnya memberikan respon sehingga stereotipe responden dalam menjawab dapat dihindari (Azwar. imunodefisiensi dan penyebab lain. alergi. yaitu melalui makanan dan minuman maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare. pernyataan sikap mungkin pula berisi hal-hal yang negatif mengenai objek sikap. Adapun . yaitu yang bersifat tidak mendukung ataupun kontra terhadap objek sikap yang hendak diungkapkan. Pernyataan sikap mungkin berisi atau mengatakan hal-hal yang positif mengenai objek sikap. akan menjadi isi suatu skala sikap. C. Dengan demikian pernyataan yang disajikan tidak semua positif atau semua negatif yang dapat mendatangkan kesan seakan-akan isi skala yang bersangkutan seluruhnya memihak atau sebaliknya seluruhnya tidak mendukung objek sikap. 1997).

Hipotesis Ho : Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan kejadian diare pada balita di Posyandu wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Ha : Ada hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan kejadian diare pada balita di Posyandu wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu. 2007). (Depkes RI. Ada beberapa perilaku yang dapat meningkatkan resiko terjadinya diare yaitu sikap ibu yang tidak memberikan ASI secara penuh hingga umur 4-6 bulan pertama dari kehidupan. 1998) D. kebiasaan atau perilaku. (Ridwan. tidak mencuci tangan sesudah BAB dan sebelum menjamah makanan. air minum tercemar pada bakteri tinja.penyebab-penyebab tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya keadaan gizi. menyimpan makanan masak pada suhu kamar. sanitasi lingkungan dan sebagainya. . menggunakan botol susu.

Desain Penelitian .1. Tujuannya untuk mengetahui Hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan kejadian diare pada balita.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan metode cross sectional. Bagan 3. Dimana variabel independent (pengetahuan dan sikap) dan variabel dependent (Diare pada anak balita) dengan pengukuran sekali dan dalam waktu bersamaan.

Kerangka Joko Irianto.B. Definisi operasional C. Definisi Operasional Tabel 3. 2. 2005 C. 3. Kerangka Penelitian Bagan.1 Ringkasan Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Balita yang didiagnosa diare Alat Ukur Hasil Ukur Skala ordinal 1 Variabel dependen (diare pada balita) Kuisioner 0: (1 didiagnosa pertanyaan) diare 1: tidak didiagnosa diare 2 Variabel Pengetahuan kuisioner 2 : baik independent responden (20 (76% (pengetahuan) adalah pertanyaan) 100%) pengetahuan 1 : cukup ibu tentang (56% - ordinal .

P = (876/2. 0. Tempat dan Waktu Penelitian (0.43 (0. 0.84 .96.5 tahun yang berada di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu dari bulan Januari sampai bulan Desember 2008.19 (sikap unfavorabl e) ordinal D.1 (1.001 0. 3 Variabel independent (sikap) Sikap merupakan kesiapan ibu terhadap kejadian diare pada balita.1)² = proporsi sesuatu .43). Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak balita usia 1 .032 = 0. Sampel dalam penelitian ini yaitu semua ibu-ibu yang memiliki balita dari usia 1-5 tahun yang berkunjung ke Puskesmas Sukamerindu dengan teknik pengambilan sampel. q = 1-P = derajat akurasi (presisi) yang diinginkan . dengan perhitungan sebagai berikut : n= Z²(1-α/2).032 balita untuk lurah Sukamerindu.P(1-P) d² Keterangan : n = Sampel (Aziz Alimul : 2007) Z(1-α/2) = Nilai distribusi normal baku tabel Z pada α tertentu P d jawab : Z = 1. kuisioner (10 pertanyaan dengan skala likert) 75%) 0 : kurang (< 56 %) 1 : Jika T ≥ = 27.diare pada bayi/balita.43) n= 3. Berjumlah 2.001 94 responden E.941184 0.43 (1-0.19 (sikap favorable) 0 : Jika T ≤ = 27.57) 0. yaitu teknik pendekatan accidental sampling.96)² . d = 0.

b. F. 3. yaitu : a. 2. Coding Setiap lembar kuesioner yang telah diisi oleh responden diberi kode yang dilakukan oleh peneliti agar lebih mudah dan sederhana.Tempat penelitian di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu dan waktu penelitian dari 14 April sampai 22 April 2009. Data primer yaitu data yang akan diambil dengan cara menyebarkan kuisioner yang berisi pertanyaan yang memiliki beberapa alternatif jawaban. Editing Editing adalah pengecekan kembali apakah isian pada lembar kuesioner sudah sesuai dan lengkap dengan absen jawaban yang telah disediakan. Cleaning Mengecek kembali data yang sudah diproses apakah ada kesalahan atau tidak ada masingmasing variabel yang sudah di proses sehingga dapat di perbaiki dan di nilai. Pengumpulan. Pengumpulan Data Dalam penelitian ini data akan diperoleh dari data primer dan data sekunder. Pengolahan Data Data yang akan dikumpulkan diolah melalui beberapa tahap. Analisis univariat . . Sedangkan data sekunder yaitu data yang akan diperoleh dari profil DinKes Kota tentang penyakit menyerang saluran pencernaan yang berupa Diare yang berlangsung selama 2 minggu atau lebih di wilayah kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu. yaitu : a. Pengolahan dan Analisa Data 1. Analisis Data Data disajikan melalui analisa univariat dan analisa bivariat. Processing Processing adalah memproses data dengan menggunakan komputer atau secara manual agar dapat dianalisis.

15-x ] T = 50 + 10 [3.19 = sikap unfavorabel (negatif) Keterangan : T = skor responden pada skala sikap yang hendak dirubah menjadi skor T x = mean skor dalam kelompok X = skor responden S = standar deviasi b. E : 2001) Keterangan : P = Jumlah persentase yang dicapai F = Jumlah frekuensi untuk setiap alternatif jawaban n = Jumlah objek penelitian Untuk pengukuran variable sikap menggunakan rumus skor T : [ 27.19 = sikap favorabel (positif) jika T ≤ 27. Pengolahan data menggunakan komputarisasi dan uji statistik yaitu untuk analisa hubungan pengetahuan dengan kejadian diare menggunakan Pearson Chi-Square sedangkan untuk . Analisis Bivariat Analisis bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel independent (pengetahuan dan sikap ibu) dengan variabel dependent (Diare pada balita).Data dianalisis dengan distribusi frekuensi yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dengan rumus : (Budiarto.640] Interpretasi sebagai berikut : jika T ≥ 27.

05.analisa hubungan sikap ibu dengan kejadian diare menggunakan Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikan 95%.05) Ha ditolak bila X2 hitung < X2 tabel (p  0. Uji hipotesis : Ha diterima bila X2 hitung > X2 tabel (p < 0.  = 0. 2001) . E.05) (Budiarto.

Pada tahap persiapan meliputi kegiatan penetapan judul. yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. . Setelah mendapatkan izin dari Kepala Puskesmas. Dalam melakukan penelitian ini. ujian proposal dan mengurus izin penelitian. survey awal yang dilakukan pada Januari 2009. setelah mendapatkan surat izin penelitian. menyiapkan instrumen penelitian. Peneliti meminta izin penelitian dari institusi Pendidikan yaitu Poltekkes Bengkulu Prodi Keperawatan Bengkulu. Pengambilan data dilakukan dengan survey awal yaitu dengan mewawancarai 7 orang ibu-ibu yang memiliki balita dari usia 1-5 tahun sebagai sampel awal penelitian. Hasil ya Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independent dengan dependen. yang sebelumnya sudah mendapat izin dari Kepala Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu. Kemudian peneliti merumuskan masalah penelitian. peneliti langsung melakukan penelitian yang dilakukan selama 9 hari yaitu dari tanggal 14 April 2009 sampai dengan 22 April 2009 dengan cara membagikan kuesioner kepada masing-masing responden. Pada tanggal 14 April 2009 peneliti mendapatkan izin dari Dinas Kesehatan Kota Bengkulu yang kemudian langsung diserahkan ke Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu. Pelaksanaan penelitian ini dibagi menjadi 2 tahap. ada beberapa hambatan antara lain dalam melakukan pengisian kuesioner diperlukan waktu yang lebih karena memerlukan ketelitian untuk menjawab pertanyaan pengetahuan dan sikap yang ada di lembar kuisioner tersebut.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Provinsi Bengkulu tanggal 9 April 2009. langsung diserahkan ke bagian kesatuan bangsa.

1. Sikap ibu Unfavorable Favorable Jumlah 3 Diare Tidak Ya Jumlah Variabel Pengetahuan ibu Frekuensi (F) 34 45 15 94 4 90 94 79 15 94 Persentase (%) 36.7% 100% 84% 16% 100% .enelitian Setelah data terkumpul kemudian data diolah dengan menggunakan uji chi-square yang meliputi : analisa univariat dan analisa bivariat.9% 16% 100% 4.3% 95. baik variabel independen (pengetahuan ibu dan sikap ibu) maupun variabel dependen (Diare Pada Balita). Distribusi Frekuensi Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukamerindu Tahun 2009 No 1.1% 47. Kurang Cukup Baik Jumlah 2. adapun hasil penelitiannya adalah : a. Tabel 4. Analisa Univariat Analisa ini dilakukan untuk menjelaskan/mendeskripsikan karakter masing-masing variabel yang diteliti.

7%). Untuk variabel dependen yaitu kejadian diare pada balita di Puskesmas Sukamerindu yaitu sebanyak 15 balita (16%) terdiagnosa diare dan sebanyak 79 (84%) balita terdiagnosa bukan diare. sedangkan untuk sikap ibu dari tabel di atas sebagian besar memiliki sikap yang favorable sebanyak (95. sebaliknya jika ρ = ≥ 0.6% 38 84. apabila ρ = ≤ 0.Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa untuk pengetahuan hampir sebagian ibu memiliki pengetahuan yang cukup tentang diare yaitu sebanyak (47. Kriteria penilaian yang dipakai berdasarkan uji statistik uji Chi-square dengan X2 tabel = ( 3. Tabel 4.228 0. b. unfavorabe b.2. Hasil Analisa Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu dengan Kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sukamerindu Tahun 2009 No Variabel Yang Diteliti 1 Pengetahuan ibu a. Untuk melihat derajat kemaknaan. Cukup c.892 20% 12 80% 15 100% 1 25% 3 75% 4 100% 14 15. Analisa Bivariat Analisa bivariat dilakukan untuk melihat karakteristik masing-masing variabel yaitu untuk mengetahui hubungan variabel independent (pengetahuan dan sikap ibu) dengan variabel dependen (kejadian diare pada balita).05 dan derajat kebebasan (df) = 1.7% 29 85.05 maka ada hubungan yang bermakna. baik 2 Sikap ibu a. favorable Diare Ya n % Tidak n % f % x² P 5 7 3 14.05 maka hubungan tidak bermakna. Kurang b.3% 34 100% 15.9%).841 ) dengan nilai α = 0.507 .6% 76 84.4% 45 100% 0.4% 90 100% 0.

05.05 sehingga hasil penelitian ini tidak bermakna atau tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan kejadian diare. Sehingga diperoleh hasil pearson chi-square dengan nilai ρ = 0..4% dengan balita yang tidak diare dari 45 balita.507 lebih besar dari nilai α = 0. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Depkes RI (1998) bahwa.7% kurang. sedangkan 85. Sehingga hasil penelitian ini tidak bermakna atau tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada balita. Pembahasan 1. dan 75% dengan balita yang tidak diare dari 4 balita. Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Diare pada Balita Berdasarkan hasil yang didapat di atas dapat diketahui bahwa untuk pengetahuan. 15. penyakit diare merupakan suatu penyakit yang berbasis lingkungan. dan 84. B.7% dari 34 balita.3% dengan balita yang tidak diare dari 34 balita. 14. Dari penelitian tersebut didapat hasil uji Chi-square nilai p = 0. 20% baik dari 15 responden yang balitanya diare.6% dari 45 balita. Sedangkan untuk sikap diperoleh hasil fisher’s exact tests dengan nilai p = 0.3% kurang.4% dengan balita tidak diare dari 90 balita.05 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada balita.892 atau lebih dari nilai α = 0. dan 85. Pengetahuan baik dengan balita diare 20% dari 15 balita. Ada dua faktor yang dominan yang . 80% baik 79 responden yang balitanya tidak terkena diare.Berdasarkan keterangan tabel di atas untuk pengetahuan kurang dengan balita yang terkena diare 14. Sedangkan sikap favorable dengan balita diare 15. Pengetahuan cukup dengan balita diare 15.6% dari 90 balita dan 84. Sikap unfavorable dengan balita diare 25% dari 4 balita.48% cukup. dan 80% dengan balita tidak diare dari 15 balita.892 lebih besar dari α = 0.6% cukup. 84.

alergi. dan sebagainya. 1908 bahwa perilaku dibagi menjadi 3 domain yaitu pengetahuan. Ada juga pendapat lain menurut Amirudin. karena dalam penelitian variable independent penelitian yaitu pengetahuan tidak ada hubungannya dengan variable dependen yaitu kejadian diare. 2007 secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan enam besar yaitu karena infeksi. ini dikarenakan. sikap dan tindakan. Adapun penyebab-penyebab tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya keadaan gizi. Hubungan Sikap Ibu dengan Kejadian Diare Untuk sikap responden di dapat 25% unfavorable dan 15. bahwa diare penyakit yang berbasis lingkungan. sedangkan 75% unfavorable dan 84. kebiasaan atau perilaku. keracunan. 1998). karena pengetahuan yang diteliti belum menjadi satu kesatuan dalam pembentukan perilaku. (Depkes RI. Dari hasil penelitian ini diantara sampel ternyata balita yang menderita diare hanya sedikit. Sesuai dengan pendapat Notoadmojo.6% favorable dari 15 balita yang terkena diare. imunodefisiensi dan penyebab lain.507 dilihat dari fisher’s exact dimana lebih . malabsorbsi. Dengan peningkatan pengetahuan tersebut maka akan terjadi peningkatan sikap kesehatan dalam diri individu yang berdasarkan kesadaran dan kemauan individu. biasanya musim penghujan. Akan tetapi hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Sarwono (1993) yang menyatakan bahwa pengetahuan seseorang akan bertambah dengan diperolehnya informasiinformasi tertentu sehingga akan terjadi peningkatan pengetahuan. 2. Kejadian diare terjadi tergantung musim.4% favorable dari balita yang tidak diare. Hasil komputarisasi diperoleh nilai ρ = 0.berhubungan dengan diare yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Dimana kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. Berdasarkan dua pendapat di atas bahwa perilaku manusia yang dapat menyebabkan terjadinya diare . sanitasi lingkungan. Hasil penelitian ini bertentangan dengan teori yang ada.

di sini sama halnya dengan seorang ibu sayang dengan balitanya (Azwar. Sikap yang favorable dengan pengalaman contohnya balita terkena diare. dan sikap itu masih merupakan reaksi tertutup dan memiliki 3 komponen pokok yaitu kepercayaan. maka seseorang yang pernah mengalami hal tersebut akan berusaha tidak melakukan hal yang sama untuk menghindari kejadian diare berulang lagi. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung dan memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. maka seseorang tersebut akan cenderung melakukan hal yang ke arah positif untuk menghindari akibat yang negatif. Dalam penentuan sikap yang utuh emosional memegang peranan penting. orang terdekat merupakan orang yang dianggap penting. Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus. Ini Sama halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti. Menurut Berkowitz. 1972 sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan.05 yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap ibu dengan kejadian diare pada balita. Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh Azwar. 1998). emosional dan kecenderungan untuk bertindak. seseorang cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap yang dianggapnya penting. . 1997). Hal ini juga sesuai dengan asumsi bahwa sikap yang favorable merupakan predisposisi untuk berperilaku (Notoatmodjo. karena faktor eksteren dan intern salah satunya pengalaman . Menurut Saifuddin. 2005 bahwa sikap juga dipengaruhi oleh fakor eksteren dan intern salah satunya pengalaman. berarti khusus dan banyak mempengaruhi sikap individu tersebut.besar dari α = 0. Dimana. Pada umumnya. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut. 2002 sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. Sikap merupakan predisposisi tindakan suatu objek.

Untuk itu. Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan pembahasan Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukamerindu Tahun 2009 dapat disimpulkan sebagai berikut: Tidak ada hubungan bermakna antara Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Diare pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2009 (p = 0. Saran peneliti. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan peneliti ingin memberikan saran kepada semua pihak yang terkait antara lain kepada : 1. 2. sebagai penindak lanjut yaitu lebih meningkatkan mutu pelayanan khususnya pada bagian Kesling (Kesehatan Lingkungan) dengan tujuan dapat mengurangi kejadian diare pada balita. B. pihak Puskesmas lebih .892) Tidak ada hubungan antara Sikap Ibu dengan kejadian Diare Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Tahun 2009 (ρ = 0. Sesuai dengan teori bahwa diare penyakit yang berbasis lingkungan. Puskesmas Sebagai informasi : bahwa yang mempengaruhi diare bukan karena pengetahuan dan sikap saja menurut teori.507). Akademik Untuk dapat mencari faktor penyebab yang lain yang berhubungan dengan diare yang lebih mendukung.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. tetapi ada pengaruh lain yang lebih berperan.

memperhatikan lingkungan dan bila perlu terjun sesekali untuk melihat kondisi yang sebenarnya. Sehingga visi dan misi Kota Bengkulu tercapai pada tahun 2010 nantinya. 3. Bagi Peneliti Lain Diharapkan dapat melakukan penelitian lebih lanjut dan mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel lain yang lebih inovatif mengenai faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita. .

Bandung : 2006. Perilaku Manusia Pengantar Singkat Tentang Psikologi. Jakarta : 1992. Penerbit Andi Offset. MA. Irianto J. Kes. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Mediaindonesiaonline. Jakarta : 2006. Current Issue Kematian Anak (Penyakit Diare).DAFTAR PUSTAKA Alimul Hidayat A. Edisi 12. A. Dr. available from : www. Profil Dinkes Provinsi Bengkulu. Dr. Sikap Manusia Teori dan pengukurannya. dkk. 2008. diakses dari : www. Dinkes Kota Bengkulu. Penerbit refika ADITAMA. Penyakit dan Penanggulangannya. Profil Dinkes Provinsi Bengkulu. Metodologi Penelitian. Dinkes Provinsi Bengkulu. FKM Jurusan Epidemiologi Universitas Hasanuddin. Penerbit EGC. Nelson. Jakarta : 1990. Jakarta : 2003 Alimul Hidayat A. Com. . Notoadmojo S. Profil Dinkes Kota Bengkulu. . Penerbit Pustaka Pelajar. 2002. M. Azwar S. Profil Dinkes Provinsi Bengkulu. 2002. Ilmu Kesehatan Anak. Penerbit Rineka Cipta. diperoleh tanggal 27 september 2008. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. 2006.. Infeksi Saluran Pencernaan. 2007. Profil Dinkes Kota Bengkulu. Edisi 2. Yogyakarta : 2002 B Albert and Paul S. Penerbit Salemba Medika. Arikunto S. Jakarta : 2007 Amiruddin R. Mar’at. Penerbit Salemba Medika. Drs. 2008. 2006.adobe acrobat document. Com. Prediksi Keparahan Diare 2005. Dinkes Provinsi Bengkulu. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. SKM. A. Penerbit Widiya Medika (KNAPP). Depkes RI. Makasar : 2007. Yogyakarta : 1993 . Edisi ke 2.

2008) .00 100.00 100. KECAMATAN PUSKESMAS DIARE DITANGANI JML KASUS 4 5 138 138 % DITANGANI 1 1 2 GADING CEMPAKA 2 RATU AGUNG 3 4 RATU SAMBAN TELUK SEGARA 3 Jembatan kecil Jalan gedang Lingkar barat Lingkat timur Kuala lempuing Nusa indah Sawah lebar Anggut atas Pasar ikan Kampung bali Sukamerindu 6 100.00 100.00 100.00 202 109 84 120 385 334 446 230 135 876 212 170 52 192 202 109 84 120 385 334 446 230 135 876 212 170 52 192 5 6 7 SUNGAI SERUT MUARA Ratu agung BANGKAHULU Beringin jaya SELEBAR Basuki rahmat Betungan (Profil Dinke Kota Bengkulu.00 100.00 100.Lampiran 1 Tabel : Persentase Cakupan Diare Balita Menurut Kecamatan Kota Bengkulu Tahun 2008 NO.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.

Lampiran 2 JADWAL PENELITIAN Nopem Desemb Februar Januari Maret April Mei KE Oktober ber er i N GIA I I I I I I I I O TA I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I I N I V I V I V I V I V I V I V I V I I I I I I I I 1 Pen dah ulua n Sur vei Awa l Iden tifik asi Mas alah Pen gam bila n Judu l Pem buat an .

Prop osal Kon sul Prop osal Ujia n Prop osal Perb aika n Prop osal 2 Pela ksan aan Pen gum pula n Data Pen gelo laan Data 3 Ujia .

n KTI .

Indragiri No. taman tahun 2003 SMAN 7 Bengkulu. 09 Rw. tamat tahun 2000 SMPN 8 Bengkulu.Lampiran 3 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama Tempat. pindah SDN 35 Bengkulu. 18 Agustus 1988 : Perempuan : Islam : 2 (kedua) : 4 (empat) : Jalan Titiran No. tamat tahun 2006 Mahasiswi Program Studi Keperawatan Jurusan Keperawatan Poltekkes Bengkulu. Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Anak ke Jumlah Saudara : Dwi Wahyuni Agusniarti : Bengkulu. 90 Rt. 3 Padang Harapan Bengkulu Telp. Jl. (0736) 341212 Riwayat Pendidikan - : - SDN 32 Bengkulu. 003 Perumnas Gading Cempaka Permai : Poltekkes Bengkulu Prodi Keperawatan. . Tahun 2006 – sekarang.

Kep. M. Pembimbing terdiri dari A.Lampiran 4 ORGANISASI PENELITIAN I.Kep : 140 333 048 : Dosen Poltekkes Bengkulu : Pembimbing II Alamat II. 90 Blok 3 Rt. 003 : Sukamerindu Perumnas gading cempaka permai. 09 Rw.Kes :140 166 343 : Dosen Poltekkes Bengkulu : Pembimbing I : Sumur melele : Ns. Septi Yanti.Aguscik Jaya. Nama NIP Pekerjaan Jabatan Alamat B. S. Lingkar barat Bengkulu .S. Titiran No. Nama NIP Pekerjaan Jabatan : Ns. Peneliti Nama NIM Pekerjaan Alamat : Dwi Wahyuni Agusniarti : P0 04 20 006 008 : Mahasiswa Poltekkes Bengkulu Jurusan Keperawatan : Jln.

5. Isilah data pribadi ibu terlebih dahulu. Isilah pertanyaan di bawah in dengan sebenarnya. Nomor urut Nama Umur Pendidikan : : : : tidak sekolah ( kosongkan ) Tamat SD SMP Tamat SMA – Akademi/S¹ A.tidak . Apakah anak ibu mengalami diare : a. 2. Untuk jenis pertanyaan frekuensi dan pengetahuan beri tanda ( x ) pada jawaban yang ibu anggap benar. 2. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti. 4. Frekuensi Diare 1. Lembar kuesioner ini dikembalikan setelah mengisi seluruh pertanyaan.. ya b. 3. Data pribadi responden 1.Lampiran 5 LEMBAR KUESIONER PENELITIAN “ PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DALAM PENANGANAN DIARE PADA BALITA ” I. Lembar kuesioner pengetahuan Petunjuk Pengisian Kuesioner 1. 3. 4.

. biasanya keadaan beraknya : a. Menurut ibu diare pada balita disebabkan oleh kecuali : a. kuning kecoklatan. berbahu khas 4.. Makanan dan minuman yang kurang bersih b. dan gelisah 5. Menurut ibu pemberian susu formula dengan menggunakan botol dapat diare karena : a. Menurut ibu diare itu berak pada balita lebih dari . susah buang air besar c. Susu basi yang menyebabkan diare . keciklatan c. 3 kali/hari 2... Keadaan lingkungan yang kotor c. suhu tubuh panas.kali/hari : a. 1 kali/hari b. berbahu khas b. kuning kehijaun. Saat ibu tahu anak ibu diare. Anak rewel. Anak rewel. Botol susu susah untuk dibersihkan menyebabkan b. kurang nafsu makan/tidak sama sekali. Cair berlendir. Pengetahuan 1. Keras berbentuk. Lembek berbentuk.... Kondisi anak ibu apabila terkena diare. c. gelisah b. Memberikan ASI dari umur 4 – 6 bulan 3. suhu tubuh panas.B. Terbuat dari plastik c. maka akan tampak keluhan yang pertama yaitu : a. Anak rewel.

Ya. karena air yang diperoleh dari sumur yang tidak menurut kriteria kesehatan . Kemingkinan tercemar tinja. karena pencucian botol susu harus dengan air hangat b. Vitamin C 11. Pertumbuhan anak ibu terganggu 10. benar. Membeli obat di warung 8. Apa yang telah ibu lakukan untuk menghindari diare berulang pada anak ibu : a. Tidak. mengapa : a. Ke Puskesmas/RS langsung b. benar. Dehidrasi b. Memberikan ASI penuh hingga umur 6 bulan b. Diberi air gula dicampur garam sedikit ( oralit buatan ) c. Menurut ibu pemakaian air yang tidak bersih dapat menimbulkan diare atau tidak. karena terlalu merepotkan 7. Menurut ibu pernyataan diatas benar atau salah penjelasanya. Mencuci tangan sebelum membuat susu formula c. ibu harus mencuci botol susu dengan air panas lau dikeringkan dan sebelum membuatnya ibu harus cuci tangan terlebih dahulu.6. Obat – obatan apa saja yang ibu tahu untuk mengobati diare anak ibu : a. salah. Paracetamol c. Oralit b. Pencucian botol suus dengan menggunakan air panas lalu dikeringkan 9. Apa yang ibu pikirkan jika diare pada anak ibu tidak sembuh dalam waktu yang singkat : a. Kematian c. karena dengan mencuci tangan dpat menghilangkan kuman c. Ya. Apa yang ibu lakukan bila anak ibu terkena diare : a. karena air sebelum dikonsumsi dimasak terlebih dahulu c. Sebaiknya membuat susu formula dengan menggunakan botol. karena : a. karena jarak septiteng dengan sumur kurang dari 10 meter. b.

menurut ibu apa yang akan dialami oleh anak ibu untuk kehidupan selanjutnya : a. Menunggu sampai besok untuk ke PKM b. Memasak air hingga 100 ° C 14. apa itu dehidrasi : a. Apa yang dapat ibu lakukan apabila anak ibu diare sebelum dibawa ke PKM. Terganggu tumbuh dan perkembangan anak 17. Mengkonsumsi air yang bersumber dari sumur sesuai kriteria sehat c. untuk sementara menunggu berobat ke PKM b. Suhu tubuh panas. untuk mengganti oralit. Air tajin c. Sedangkan di rumah ibu habis gula : a. Apakah ibu mengetahui. karena diare 15. Air garam 13. Bila anak ibu yang masih berumur 2-3 tahun sering mengalami diare. Kondisi rumah dikelilingi oleh selokan. Terganggu pola buang air besar c. Apa yang telah ibu lakukan untuk mengatasi diare pada anak ibu yang telah mengalami diare berulang : a. dan banyak sampah bertumpuk. Terganggu pola makan b. Lanjutan dari diare b.agar penyebaran kuman tidak terjadi b. Kehilangan cairan tubuh yang berlebihan karena diare tidak teratasi c. Memindahkan sampahnya di salah satu pojok selokan . diare adalah penyakit yang bagaimana : a. Membuang sampah dan selokan ditutup dengan kayu. Menurut pemikiran ibu. Biasa saja b.12. Penyakit yang sering diderita anak – anak 16. Membuat oralit buatan. Apa yang akan ibu lakukan dengan kondisi rumah seperti itu untuk menghin dari diare : a. Berbahaya dan dapat menyebabkan kematian c.

sebelum makan tindakan yang . Rewel 20. biasanya kondisi anak ibu akan seperti : a. beri tanda v pada kolom yang sesuai yaitu : Keterangan : STS TS RR S SS = Sangat Tidak Setuju = Tidak Setuju = Ragu – ragu = Setuju = Sangat Setuju S SS NO. Makanan cair c. Setiap hari selokannya dibersihkan agar penyebaran kuman oleh lalat tidak terjadi 18. Makanan padat b. Mencuci tangan. makanan seperti apakah yang baik untuk diberikan : a. Saat anak ibu mengalami diare. Memberikan cairan gula ditambah garam sedikit (oralit buatan) dapat membantu penyembuhan diare. Tidak c. Menurut ibu diare dapat dicegah. Ya. apabila ibu dan keluarga bersikap dan bertindak sehat : a. harus B. Ya b. Tidak napsu makan b. Untuk jenis pertanyaan sikap. Suhu tubuh tinggi c. Makanan lembek 19. 2. PERNYATAAN STS TS RR 1.c. Saat anak ibu mengalami diare. Tidak menyimpan makanan terlalu lama dapat mencegah terjadinya diare 3.

com/2011/03/hubungan-pengetahuan-dan-sikap-ibu. Memberikan larutan oralit tidak menjamin diare teratasi Sampah yang menumpuk dan konsumsi air dari sumur yang tidak berkriteria sehat. 6. Mencuci tangan dan tidak menggunakan botol susu adalah salah satu mengurangi kejadian diare berulang pada balita Penyimpanan makanan dilemari merupakan tindakan yang baik untuk menghindari penyakit diare Menjaga kebersihan lingkungan salah satu menghindari diare Terima kasih udah dibaca ! http://www. 10. harus dilakukan setiap waktu Sebaiknya bayi berumur 4 – 6 bulan harus diberi ASI secara penuh Sikap yang baik untuk mencegah diare yaitu memberikan ASI esklusif.yonokomputer. 7.4. 9. baik dikonsumsi.html . 8. 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful