ANJURAN TEPAT PENGGUNAAN OBAT PENULISAN RESEP BERPERAN PENTING DALAM PEMILIHAN PENGOBATAN, PERANAN PASIEN JUGA SAMA

PENTINGNYA. PENGETAHUAN MASYARAKAT, SIKAP DAN PERSEPSI PENGOBATAN MANDIRI UNTUK PENYAKIT FLU AKAN MENENTUKAN ARAH PENGOBATAN. DI LUAR NEGERI PENGOBATAN MENCAKUP PERESEPAN OBAT, PEMEBELIAN OBAT BEBAS SECARA LANGSUNG SERING BERASAL DARI SUMBER TAK RESMI DAN SERING DITANGGAPI AGRESIF OLEH BAGIAN PEMASARN KOMERSIAL. 6 TAHAP PROGRAM EDUKASI EFEKTIF 1. INVESTIGASI SITUASI 2. RENCANA AKTIVITAS 3. PERKEMBANGAN LITERATUR/BAHAN 4. TEST DAN PENINJAUAN BAHAN 5. APLIKASI AKTIVITAS 6. EVALUASI AKTIVITAS KEBUTUHAN AKAN PENGGUNAAN OBAT SECARA TEPAT 1. ORANG SAKIT PERCAYA STATUS KESEHATANNYA TERGANTUNG PENYIMPANGAN NORMA, PENDEKATAN DG PERSEPSI BUDAYA. 2. PERAWAT MEMBANTU MENOLONG ATAU SAMPAI GEJALA PERGI TANPA PENGOBATAN 3. ORANG MEMILIH BEROBAT KE RS, PRAKTISI KESEHATAN, FARMASIS, DUKUN 4. DARI RESEP MENDAPAT REKOMENDASI DARI FARMASIS UNTUK BELI 5. PASIEN MENENTUKAN KAPAN BEROBAT, BAGAIMANA PENGOBATAN, JIKA TERJADI ES? TANPA EDUKASI KETEPATAN PASIEN MENGGUNAKAN OBAT BERKURANG KEMAMPUANNYA, PENGETAHUAN MEMBUAT KEPUTUSAN TENTANG PENGGUNAAN OBAT TIDAK ADA, TIDAK MENGERTI PERANAN OBAT DALAM PELAYANAN KESEHATAN DISTRIBUSI OBAT 1. KLINIK 2% 2. RS 1% 3. DOKTER 7% 4. TOKO OBAT 35% 5. GUDANG OBAT(LINGKUNGAN) 40% 6. DLL 5% MASALAH OBAT IRASIONAL MELIPUTI 1. PENGGUNAAN BERLEBIHAN ATAU KEKURANGAN 2. PENGGUNAAN TIDAK TEPAT FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA 1. SISTEM PENGATURAN TAK MEMADAI 2. KEKURANGAN OBAT ESENSIAL 3. KURANGNYA INFORMASI OBAT UNTUK PENULISAN RESEP DAN PENGGUNA 4. KOMUNIKASI PASIEN DAN PENULIS RESEP BURUK PENYALAHGUNAAN OBAT MELIPUTI 1. KETERSEDIAAN RESEP OBAT TERSEBAR LUAS DI PEDAGANG OBAT, TOKO

OBAT, GUDANG OBAT TAK RESMI 2. PENINGKATAN PENGGABUNGAN PENGOBATAN BARAT KE DALAM KEBUDAYAAN LOKAL 3. PENURUNAN PENGATURAN SISTEM KEUNTUNGAN PENGETAHUAN INDIVIDU 1. APRESIASI YANG BAIK AKAN KETERBATASAN OBAT 2. KESEIMBANGAN KERJASAMA ANTARA PENGGUNA DAN PENYEDIA LAYANAN KESEHATAN 3. SIKAP KRITIK AKAN INFORMASI OBAT 4. PENGETAHUAN TENTANG PENGGUNAAN OBAT KEUNTUNGAN BAGI MASYARAKAT 1. PENGETAHUAN AKAN KEBIJAKAN DAN RASIONAL OBAT 2. PENGGUNAAN YANG EKONOMIS DAN MENGURANGI LIMBAH 3. PENINGKATAN KEPERCAYAAN PELAYANAN KESEHATAN 4. PENINGKATAN UKURAN SUKSES PELAYANAN KESEHATAN PRINSIP PENGGUNAAN OBAT 1. PENGGUNAAN OBAT MELIHAT KONTEKS MASYARAKAT, KOMUNITAS, KELUARGA, INDIVIDU 2. PENGGUNAAN OBAT TERINTEGRASI KE KURIKULUM PENDIDIKAN 3. KETERSEDIAAN INFORMASI ILMIAH OBAT 4. FASILITAS PILIHAN INFORMASI OBAT 5. KETERLIBATAN ORGANISASI NON PEMERINTAH PERKEMBANGAN EDUKASI MASYARAKAT DAN PASIEN FOKUS PADA KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT SELAMA PENGOBATAN DENGAN MELIHAT BUDAYA EDUKASI MASYARAKAT PENGGUNAAN OBAT YANG TEPAT MENGARAHKAN KE 1. ESENSI OBAT 2. KELELUASAAN TERHADAP PASIEN MENGETAHUI RESEP YANG BENAR 3. INFORMASI TENTANG INTERAKSI DAN PENGGUNAAN OBAT 4. TARGET YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN OBAT 5. FARMASI MENAWARKAN INFORMASI SPESIFIKASI OBAT KOMUNIKASI EFEKTIF YAITU INVESTIGASI 1. KETERSEDIAAN INFORMASI SELALU ADA 2. KEBUTUHAN INFORMASI BARU (LITERATUR UPDATE) 3. JARINGAN KOMUNIKASI (SUMBER INFORMASI YANG DIPERCAYA) RENCANA KOMUNIKASI AKTIVITAS 1. REALISTIK DAN KOMUNIKASI OBJEKTIF 2. PENDEKATAN MENGARAH PERUBAHAN 3. PROGRAM PENYAMPAIAN PESAN (SELEBARAN; LEAFLET, MEDIA MASSA; KORAN, PRIBADI; FACE TO FACE, MEDIA ORANG; PUPPET) 4. KERJASAMA INSTITUSI (WHO DAN UNICEF) 5. MONITORING DAN EVALUASI 6. WAKTU, BUDGET, SUMBER UANG PENGEMBANGAN KOMUNIKASI

1. INTERVENSI 2. PROGRAM KOMUNIKASI 3. PENYAMPAIAN PESAN TEST DAN TINJAU 1. APAKAH TARGET MENGERTI 2. APAKAH MEREKA MENERIMA 3. BAHAN PENYAMPAIAN PESAN ATRAKTIF 4. PESAN MEYAKINKAN 5. TANGGAPAN PENDENGAR APLIKASI DAN MONITORING 1. TARGET MENERIMA 2. TARGET MENGGUNAKAN 3. PROGRAM TERJADWAL 4. PENUNDAAN PROGRAM BERDAMPAK KE DEPAN EVALUASI 1. PERUBAHAN DALAM KEPUASAN PELANGGAN 2. PERUBAHAN PERILKAU DISTRIBUTOR *PROSEDUR UMPN BALIK 1. MASALAH DALAM PENGEMBANGAN DAN APLIKASI 2. FAKTOR LUAS PROJEK CONTOH PERUBAHAN JADI PLAN B *SUKSES ATAU TIDAK 1. FAKTOR YANG MEMBERI KONTRIBUSI SUKSES ATAU TIDAK 2. YANG TERPENTING LEARNING OR LESSON *PASIEN TAK PATUH KARENA 1.KOMUNIKASI BURUK DENGAN PENULIS RESEP 2. TAKUT BERTANYA 3. TIDAK ADA WAKTU KONSUL 4. INFORMASI SULIT DIDAPAT 5. TIDAK MAMPU BAYAR 6. PENGOBATAN LAMA BEFORE YOU TAKE IT TALK ABOUT IT ASK DOKTER 1. ALTERNATIF PENGOBATAN 2. BAGAIAMANA PENGGUNAAN 3. BUTUH DIULANG LAGI ASK FARMASIS 1. BAGAIAMANA PENYIMPANAN 2. JELASKAN LABEL 3. WADAH MUDAH TERBUKA FAKTOR FASILITAS 1. PENINGKATAN KEPEDULIAN 2. PENGETAHUAN SOSIAL DAN TEORI PERILAKU 3. PENGEMBANGAN VIA MASS MEDIA DAN IT PENIGKATAN KEPATUHAN PENGOBATAN 1. FAMILIAR, SIMPATIK 2. DOSIS DALAM ANGKA DAN WAKTU

3. ES MINIMAL 4. INSTRUKSI JELAS 5. RESEP DISESUAIKAN DENGAN BUDAYA DAN GAYA HIDUP FAKTOR KETERPAKSAAN 1. KEBIJAKAN TIDAK MASUK AKAL 2. KELEMAHAN INFRASTRUKTUR 3. KEKURANGAN SUMBER 4. KETERTARIKAN KOMERISIL DAN PROFESIONAL KOMUNIKASI OBAT ESENSI 1. PENGGUNAAN OBAT GENERIK 2. KONAS 3. HARGA INDIKATOR PUBLIC PERSENTASE KESEHATAN MASYARAKAT PENGATURAN PROMOSI OBAT SANKSI UNTUK PELANGGARAN IKLAN DO NOT TAKE WITH MEALS, TAKE WITH MEALS, TAKE AT BEDTIME Diposkan oleh toms.com di 02:31 Tidak ada komentar: Reaksi: Kamis, 05 Mei 2011 PA BENNY PENGEMBANGAN PRODUK Pengembangan produk atau praformulasi adalah proses optimasi suatu obat melalui penetapan sifat kimia, fisika, farmakologi dan mikrobiologi dalam rangka pembuatan suatu bentuk sediaan yang dipilih agar mantap, efektif dan aman. Bukan saja mengenai zat berkhasiatnya, tetapi juga berkaitan dengan zat-zat lain. Praformulasi :Pembuatan obat atau sediaan obat dalam skala kecil. (untuk kemudian diuji mutunya, apabila bagus, baru dilanjutkan ke skala industri). Skala industri :Pembuatan sediaan obat dalam skala besar dari sediaan yang telah dibuat dan diuji melalui proses praformulasi. Tujuan dari proses praformulasi adalah membuat sediaan yang mantap baik secara fisika (tidak ada endapan), kimia, mikrobiologi, farmakologi dan sterilitas (obat suntik). Dalam praformulasi terdapat perpaduan dari beberapa unsur, yaitu: Zat Berkhasiat (wajib) Zat bantu Pembawa Wadah (wajib) Keempat unsur tersebut digunakan untuk membuat bentuk sediaan yang direncanakan dan diuji mutunya. Namun dari 2 unsur wajib tersebut dapat diciptakan suatu bentuk sediaan obat. Contoh sediaan yang mengandung 2 unsur: a. Prokain Penisilin G atau Benzil Prokain Penisilin. Dikemas dalam vial dan disajikan dalam bentuk serbuk, karena prokain Penisilin G jika dilarutkan dalam air atau disajikan dalam bentuk larutan atau suspensi dalam air dapat terurai dengan adanya inti β-Laktam. Kecuali jika disajikan dalam bentuk suspensi dengan pembawa minyak (Penisilin oil). Minyak yang biasa digunakan adalah minyak nabati (contoh minyak kacang atau oleum arachidis) dan

Yang tertera dalam etiket bukan bobot tapi Unit Internasional. Air ( Pembawa). Biasa disebut „me too‟ produk) Zat berkhasiat baru: zat berkhasiat yang baru ditemukan. biasanya 6 juta u.000 unit b. Contoh obat suntik dengan 4 unsur adalah vitamin C injeksi.minyak sintetik. digunakan dan beredar namun tetap masih laku di pasaran (beberapa merk obat kandungan zat berkhasiatnya sama saja. Bentuk: Ekstrak :hasil ekstraksi tanaman. Di Indonesia belum ada.i Dewasa : 600. 20 g. 5 g. Anti Oxidan Na2S2O5 (Na meta bisulfit/Na pirosulfit) sebagai zat bantu dan ampul (wadah) Dalam praformulasi dari masing-masing unsur harus diuji mutunya: Zat Berkhasiat Uji Mutu Zat bantu Uji Mutu Pembawa Uji Mutu Wadah Uji Mutu Pencampuran (bentuk sediaan yang direncanakan) Uji Mutu Uji Mutu Produksi skala industri Uji Mutu Pengetiketan atau pengemasan ZAT BERKHASIAT Asal Zat berkhasiat: Zat berkhasiat lama : zat berkhasiat yang telah lama ditemukan. misal 1 g. hanya ada ekstrak dari tumbuhan ditambah bahan pembawa atau tidak lalu dimasukkan ke dalam kapsul. . Ciri-cirinya: Yang tertera di etiket bobot. contoh: ekstrak daun katuk untuk ibu menyusui dibuat dalam sediaan tablet Isolat :Isolasi zat berkhasiat yang terkandung dalam suatu tanaman yang mempunyai khasiat tertentu. dibuat atau disintetis dan belum pernah diproduksi oleh suatu industri farmasi manapun. Streptomisin Untuk TBC. yang mengandung : Vitain C (zat berkhasiat).000 unit Anak-anak : 300.

Untuk obat suntik kadar yang digunakan 10%. Uji Mutu FI IV/III. p. Contoh: Adrenalin dikombinasi dengan anestesi lokal. 5 gr. sehingga kadarnya menjadi turun maka di uji dulu mutunya sebelum digunakan. maka dari itu harus ditentukan kadarnya dengan cara: Argentometri (untuk Ca) dan kompleksometri (untuk Cl). sangat higroskopis atau mudah menyerap lembab. rotasi optic. walaupun dalam monografi tidak steril).i : Pro Injectionum • Pharmaceutical grade (teknis) Contoh: Boraks (teknis) minimal Pharmaceutical grade karena dipergunakan dalam proses pengelasan. pemerian. Farmakope lain. pedoman khusus Certificate of Analysis Uraian Uji Mutu FI IV: • Pemerian • Kelarutan • Identifikasi • Jarak lebur • Susut pengeringan • Sisa pemijaran • Penetapan kadar • Wadah dan penyimpanan Kualitas zat berkhasiat: • p. Contoh: CaCl2 (Kalsium Klorida) Berbentuk kristal. yang kemurniannya paling bagus/baik.a : Pro Analysis • p. seperti bobot molekul.Semi sintetis Ciri khas suatu zat berkhasiat: Sifat : Mempunyai khasiat farmakologi tertentu Terdapat di monografinya Monografi: Uraian dari zat yang tercantum dalam farmakope. (harus steril.a. Sterilitas / bebas pirogen: (kecuali obat suntik) Monografi zat tertulis uji. Syarat BPOM “Apapun yang diimpor harus disertai Sertifikat Analisis” Sertifikat Analisis: Uraian singkat dari suatu zat yang diimpor beserta kadarnya. tidak ada uji sterilitas tetapi harus tau kalau untuk obat suntik harus steril. Zat berkhasiat yang sebelum digunakan membuat sediaan obat harus ditetapkan mutunya. Norit / karbo aktif / Carbo adsorben Berfungsi untuk membuat air bebas pirogen pada pembuatan larutan infus (merupakan metode . rotasi jenis. Dari ketiganya. dikemas dalam ampul 10 gr.

tapi emulsi M/A dengan emulgator lesitin boleh sebagai injeksi IV Emulsi dalam bentuk sediaan untuk parenteral adalah untuk tujuan makanan bagi orang yang tidak sadar/tidak makan contoh: lecitin. Contoh lain = parafin cair dan parafin kuning (vaselin kuning) 9:1 disterilkan dalam oven 150o selama 1 jam (FI III). saring. dengan cara: o Istirahat di sanatorium o Minum Scott emulsion karena di dalamnya terkandung minyak ikan. contoh : Scott emulsion (baik untuk anak 1 th). Air/Minyak non-parenteral oral Obat luar Parenteral 2. lalu saring dalam keadaan panas agar carbo adsorben tidak mengendap. Pada norit yang diperiksa bukan kadarnya tetapi kemampuannya. digunakan untuk pengobatan TBC. Dalam minyak ikan ada faktor yang tidak tersaponifikasi dan mempunyai daya menyembuhkan luka pada penyakit TBC. lalu didihkan. Setengah padat salep mata/kulit Krim Basis salep mata menggunakan basis berlemak. Emulsi (2 Zat cair yang tidak tercampur menjadi tercampur homogeny dengan penambahan emulgator) Minyak non-parenteral oral Obat luar parenteral Cat: Minyak murni tidak boleh untuk injeksi IV. dimasukkan ke dalam erlenmeyer. (ada antipirin dalam jumlah berlebih).3%. Kemudian ditetapkan kadarnya secara iodometri. Dosis 0. Emulsi dalam betuk oral.konvensional). Kemudian dapat diketahui kadar carbo yang diserap. 5. Bentuk Padat non parenteral oral Obat luar Parenteral (mis : inj PP) 3. Caranya: Norit (g) + antipirin (g) + H2O. Bentuk Suspensi (zat padat yang terdispersi secara homogen dan halus dalam cairan pembawa dengan penambahan zat suspending agent/pengental) Air/Minyak non-parenteral oral Obat luar Parenteral 4. polostalo. lalu kocok. lalu biarkan mendidih ± 15 menit. Penyajian zat berkhasiat: 1. Larutan sejati (zat terlarut sempurna dalam cairan pembawanya dan terlihat jernih tanpa partikel-partikel). . Masukkan Carbo adsorben ke dalam erlenmeyer. Antipirin awal-Antipirin sisa = Antipirin yang diserap Cara pembuatan air bebas pirogen: Panaskan air dalam erlenmeyer. Sebelum perang dunia ke-II. adeps lanae dilarang.1-0.

. Penambahan HCl atau NaOH a) Ephedrin Ephedrin merupakan golongan alkaloid yang bersifat basa. Ciri khas dari basa alkaloid adalah mengandung Nitrogen dengan sepasang electron sunyi (low electron pair ). Bronsted-Lowry Asam = donor (memberi) H+ Basa = akseptor (menerima) H+ Contoh: botol HCl pekat didekatkan dengan botol Amoniak maka akan terjadi kabut putih yang masing-masing sebelumnya tidak berwarna. Arrhenius Asam = menghasilkan H+ (proton) Basa = menghasilkan OH2. maka bila mata dikedipkan. yang larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. H3PO4.Mengapa pemilihan vaselinnya yang kuning bukan vaselin putih? Karena vaselin putih diperoleh dari vaselin kuning yang dikelantang sehingga menjadi putih. Lewis Asam = Akseptor sepasang eBasa = Donor sepasang eContoh: b) Cinchophen Untuk obat encok (sudah tidak dipakai lagi) Cinchophen dalam obat suntik tidak larut dalam air sehingga larut dalam pelarut organik dengan penambahan NaOH. Bila salep dioleskan pada mata. H2SO4) maka ephedrin akan larut dalam air karena membentuk garamnya. Ada 3 teori ion: 1. maka akan terbentuk garamnya yang larut dalam air. untuk melarutkannya ditambahkan asam mineral (HCl. Ephedrin 10% untuk tetes hidung. maka bila mata dikedipkan. salep mata akan ikut sesuai arah mata karena tidak larut dalam air mata. TEA dan minyak (parafin cair). 3. Untuk mata lebih baik salep daripada krim karena: Bila krim dioleskan pada mata. H+ yang terikat oleh sepasang e.sunyi dengan ikatan kovalen. dengan adanya air mata krim akan melarut dan obat/krim hilang. Solubilisasi Zat Berkhasiat (larut dalam air) I. bila dicampur menghasilkan krim yang putih (tipe O/W) tercucikan. Krim terdiri dari: Asam stearat.

maka akan membentuk garamnya yang larut dalam air (larutan sejati). Terjadi tautomerisasi = terjadi perpindahan H ke O (teori lama) d) SD (sulfadiazin) Untuk obat suntik/antibakteri (pilek. asam 5 etil fenil barbiturat Untuk obat tidur (hipnotikum) lemah Fenobarbital tidak larut dalam air. yang larut adalah Fenobarbital Na. batuk) e) Fenobarbital (C12H12N2O3). dengan penambahan NaOH.c) SA (Sulfasetamid) obat tetes mata Amin aromatik tidak larut dalam air. tetapi Fenobarbital Na dalam air akan terurai menjadi: i. Amin aromatik: khas ditentukan dengan cara Nitrimetri(teori baru). Kemudian terjadi dekarboksilasi (lepasnya gugus karboksilat) Fenil etil asetil ureum ii. jadi dilarutkan dalam Petit. Kemudian terjadi deaminasi (lepasnya gugus amin) menjadi Asam Fenil etil malonat Fenobarbital Na dalam air akan terurai. agar tidak terurai karena polaritas solution petit lebih kecil dari polaritas air murni sehingga cukup untuk mempertahankan stabilitas fenobarbital Na Komposisi Solutio Petit: .

Pembentukan senyawa Na Hidrogensulfit Menadion (vit K) Khasiat: menghantikan pendarahan (hemostiptikum) Larut dalam minyak.Gliserin Etanol 95% Air Pelarut campuran lain : Propilen glikol + Etanol 95% + air Propilen glikol + glierin + air II. tetapi mudah terurai. agar menjadi larut Kloramfenikol diesterifikasi dengan mononatrium suksinat. Pembentukan senyawa Na Suksinat a) Kloramfenikol Khasiat: obat thypus Sifat: tidak larut dalam air. maka dibuat dalam bentuk sediaan kering dalam ampul dan didampingi dengan ampul berisi air. pahit. sehingga untuk membuat larut dalam air disisipkan gugus SO3Na (Natrium Sulfit) dengan proses sintesis. maka untuk anak-anak dibuat dalam suspensi dengan diesterifikasi dengan palmitat/stearat agar tidak pahit. Kloramfenikol Na Suksinat larut dalam air. kemudian dilakukan elusidasi strukturnya. (Bentuk ester = gabungan antara senyawa alkohol & asam organik) Untuk obat suntik. . setelah diketahui RB-nya. Karena rasanya pahit. Vit K yang larut dalam air lebih cepat kerjanya daripada vit K yang larut dalam minyak III. dan hasil dari jasad renik Penisilium venezuele.

maka B2 HCl diganti B2 Fosfat Na. larutan B2 berwarna kuning telur.IV. coklat tua. c) Deksametason (tetes mata/larutan sejati) Deksametason merupakan sintesis dari tanaman Dioscorea sp yang menghasilkan diosgenin (Zat yang banyak terdapat pada umbi dengan inti siklopentano fenantren) . Pembentukan senyawa Na Fosfat Vit B Kompleks Vit B komplek dalam bentuk tablet tidak ada masalah. tetapi dalam bentuk injeksi. Tablet: B1 B2 HCl B6 Nikotinamid Calc. Lama kelamaan maka larutan akan berubah coklat. dan mengendap. sehingga ditambah Fosfat agar larut dalam air. Pantothenat Injeksi: B1 B2 Fosfat Na B6 Nikotinamid Panthenol a) B2 Riboflavin (C17H20N4O6) b) Vit K Vit K larut dalam minyak.

untuk mencegahnya ditambahkan: Ca Gluconat + Ca. Sakarat/Ca. Levulinat => sehingga membentuk kompleks yang tidak . Calc Gluconat 10% mendekati KSPnya/kelarutannya.Deksametason tidak larut dalam air. agar menjadi larut maka ditambahkan gugus posfat V. Kompleks antara Teofilin dengan etilendiamin dikenal dengan nama Aminofillin c) Calcium Gluconat 10% Digunakan sebagai asupan ion Kalsium pada Osteoporosis. Apabila kita membuat dalam bentuk injeksinya maka mudah mengendap. maka harus dibuat bentuk kompleks dengan penambahan HCl Prokain b) Teofillin Khasiat: Obat asma Kadar: 2.6% Penambahan etilen diamin agar sediaan tidak mengendap. tapi dalam kadar terapeutik (dosis besar) akan mengendap. Pembentukan kompleks Mengandung inti xantin /purin (tanpa O) a) Coffein Kofein larut dalam air.

Kinin 2 HCl Kelarutannya baik. tidak mengubah khasiat dan daya kerja farmakologi zat berkhasiat. kinin ada 2 jenis : Kinin HCl Kelarutannya kurang baik. Untuk mengatasi pengendapan tersebut. kadar Na2S2O5 berkurang artinya jika Na2S2O5 akan dipakai ditetapkan dulu kadarnya secara Iodometri. VI. Pembawa air diganti dengan pelarut campur Contohh: Sol. fisika. Glucono – galacto – glukonat (tidak mengendap). Tidak boleh mengganggu penetapan kadar zat berkhasiat Contoh: Vit C + NaHCO3 -> CO2 untuk menaikkan pH Vit C dalam sediaan kemudian + antioksidan (Na2S2O5) 0. tetapi sifatnya sangat asam sehingga pada penyuntikan akan terasa sakit. tersatukan dengan zat berkhasiat. Syarat: Tidak berkhasiat. Gluconat 10% akan mengendap dengan penyimpanan lama karena pengaruh cahaya. maka dilakukan pemanasan setelah itu disimpan pada suhu kamar. d) Chinin Berasal dari tanaman Chinchona succiruba (Rubiaceae). Petit ZAT BANTU Guna: Mempertahankan sifat kimia. Contoh: Ca. farmakologi. Sandoz (sediaan patent) + Ca.3% dan penetapan kadar ditetapkan secara Iodometri. dititrasi langsung dengan Iodium Na-2S2O5 antioksidan yang sering dipakai -> akan melepaskan SO2 secara spontan. Yang dapat memutar bidang polarisasi adalah atom Cyang asimetris yaitu atom C yang semuatangannya berikatan dengan gugus yang berbeda Sinkonin : tidak berkhasiat Sinkonidin : tidak berkhasiat Sebagai obat suntik.2-0. tidak beracun. Ca. Uji Mutu: Sesuai monografi FI/ seperti zat berkhasiat . mikrobiologi.mengendap. Keistimewaan mempunyai 4 alkaloid: Kinin e : sebagai obat malaria Kinidine : obat jantung Kinine dan kinidine berbeda bidang polarisasinya saja. dll yang dimiliki zat berkhasiat. sehingga dibuat kompleks dengan penambahan antipirin dan uretan.

Dalam filtrat ada antipirine yang tidak diserap / berlebih. Zat Pengisotonis Misal: NaCl.024g = 0. Hipotonis : < 0. air yang diluar masuk ke dalam eritrosit akibatnya eritrosit pecah.9% NaCl Hipertonis : > 0. Asasnya: Pirogen yang ada dalam air apabila ditambah carbo akan diadsorpsi (diserap) sehingga filtrat akan bebas pirogen. maka akan kembali seperti semula. Peran Zat Bantu: 1. lalu disaring. dll Isotonis: ∞ 0. NaNO3.1-0. Penetapan Aktivitasnya: Dalam erlenmeyer ada air. akibatnya air yang ada di dalam eritrosit keluar. Glukosa.2 g x 0.12 Dit: berapa NaCl yang dibutuhkan? Jwb: 0. lalu ditentukan PK antipirine secara Iodometri.9% NaCl Eritrosit (sel darah merah) Eritrosit mengkerut (plasmolisis) Sel darah merah / eritrosit di dalam lingkungan yang hipertonis.3 ditentukan aktivitasnya. Hal ini disebut fenomena Plasmolisis. Cara ekivalensi NaCl Bobot NaCl dalam gram yang mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan tekanan osmosis 1 gram zat tertentu.2 g) dalam 50 ml E=0. apabila eritrosit kembali ke suasana isotonis. BM: bobot maksimum L : nilai yang menunjukkan pecahan ion + atau – Contoh: Dik: zat A : 200 mg/10 ml (0. Na2S2O5) Contoh: Norit/Carbo adsorben untuk menghilangkan pirogen kadar 0. Nilai L 1) Non elektrolit : L=1.024 g (Zat A mempunyai osmosis 0.12 = 0. kemudian eritrosit akan mengkerut. Cara Perhitungan Isotoni a.426 g NaCl yang harus ditambahkan agar sediaan ini isotonis.45g-0. Hal ini disebut Hemolisis. dan tidak dapat kembali seperti semula. carbo adsorben + antipirine (g) lalu dikocok akibatnya antipirin akan diserap oleh carbo.Perhatikan zat bantu yg kadarnya berubah selama penyimpanan setelah dipakai (carbo asorbens.024) 0.9% NaCl Eritrosit pecah (Hemolisis) Eritrosit dalam lingkungan hipotoni.9 (sakarosa) .

1 W = bobot zat Contoh: V=W x e x 111. FI I) Bobot NaCl Bobot zat Harga dan NaCl yang dibutuhkan untuk isotonis lebih mudah digunakan. NaCl diganti glukosa dll apabila salah satu zat yang akan diisotoniskan dengan NaCl menghasilkan endapan dengan zat berkhasiatnya. akan larut di dalam air jika ditambah asam mineral.3 (Na2CO3) 5) Uni-tri valen elektrolit : L=5. NaCl yang dibutuhkan NaCl c.1 .0 (asam sitrat. basa efedrin) 3) Uni-uni valen elektrolit : L=3.0 (CuSO4) 8) Tri-uni valen elektrolit : L=6.2 x 0.0 (AlCl3) b. H2SO4. H3PO4. Adrenalin diisolasi dari hewan (dari anak ginjal). pH-Stabilita a) Adrenalin Khasiat : vasokontriktor (menciutkan pembuluh darah).4 (KCl) 4) Uni-di valen elektrolit : L=4. belum mampu dibuat secara sintetis. sehingga tidak semua zat dapat menggunakan cara ini. rumus ini tidak dapat dipakai.8 (CaCl2) 7) Di-di valen elektrolit : L=2.2) Elektrolit lemah : L=2.int.6664 ml yang sudah isotonis Untuk membuat 50 ml = 50 – 2. BPC (FI IV) penurunan titik beku a : penurunan titik beku 1% zat tertentu b : penurunan titik beku 1% air Kelemahan= Nilai a terdapat dalam daftar PTB zat. Cara White-Vincent V = W x e x 111.2 (Natrium sitrat) 6) Di-uni valen elektrolit : L=4. 2. HNO3) pH stabilita adrenalin = 3.6664 = 47.1 V=0. ada 4 asam mineral (HCl.12 x 111. Adrenalin tidak larut dalam air. tetapi tidak semua zat memiliki grafik.3336 ml.1 V=2. d. sehingga apabila zat tersebut tidak terdapat dalam tabel. Cara Grafik (Ph.

NOR-Adrenalin bitatrat (1:80.jika pH tidak 3. NOR : Nitrogen Ohne Radikal=tanpa nitrogen radikal Lidocain ada 2 macam: 1. b) Vit C pH = 5. perbandingan adrenalin dengan prokain HCl 4% = 1:80. sehingga tanpa rasa sakit waktu gigi dicabut. Lidocain tanpa Adrenalin untuk mengobati aritmia / penyakit jantung. ditambah NaHCO3 untuk meningkatkan pH. Jika tanpa Adrenalin Prokain HCl yang disuntikkan pada gusi akan menyebar melalui pembuluh darah-darah halus.000) untuk vasokontriktor Lidocain dengan adrenalin = untuk anestesi lokal 2.2% ( Na meta bisulfit / Na piro sulfit) . Digunakan pada kedokteran gigi dan untuk khitanan. Dengan perkembangan waktu procain HCl tidak dipakai lagi karena menyebabkan shock anafilatik dan diganti dengan Lidocain HCl 2%. Jika ditambah adrenalin Prokain HCl yang disuntikkan pada gusi maka akan menciutkan pembuluh darah halus di gusi sehingga tidak terasa sakit waktu gigi dicabut. untuk itu perlu ditambahkan Na2S2O5 0. Sehingga khasiat obat hilang. Farmakofor = gugus tertentu yang ada di zat tertentu yang mempunyai khasiat farmakologi yang sama. Saat ini adrenalin HCl diganti dengan NOR Adrenalin bitartrat.000). Adrenalin biasanya dikombinasi dengan Prokain HCl 4% Prokain HCl = anestetik lokal (untuk menghilangkan rasa sakit setempat). Vit C mudah terurai jadi keton.8 (rendah) .1 maka akan terurai menjadi adrenokrom (merah).

intra lumbal). ortokresol 0. 3.15%. ditambahkan klor kresol 0. Pembuatan secara aseptik Zat berkhasiat tidak tahan pemanasan sehingga tidak bisa sterilisasi akhir. Aluminium monostearat .12 µm (dibuat dari ester selulosa asetat) • Disaring dg filter bakteri 0. Na2SO3.001-0.002%. nipagin 0. sedangkan Na2SO3 tidak melepaskan gas SO2 dan pH nya diatas 7 6. klor kresol 0. botol sediaan peroral) b. glukosa. Sterilisasi dg uap air mengalir. Stabilisator Antioksidan : Na2S2O5. tioureum. dimana zat berkhasiat disterilkan diawal dengan gas etilen oksida (dg cara sterilisasi yg sesuai) Zat-zat lain yang tahan pemanasan. propil galat. (dapat mengakibatkan meningitis aseptik) Pengawet yg biasa digunakan fenol 0. peridural. Zat pensuspensi CMC Na.5%. vit C Na2S2O5 dan NaHSO3 jika dibuka kemasannya akan melepas gas SO2 dan pH nya dibawah 7.05%.5%. Pengawet tidak boleh ditambahkan apabila: Sediaan IV dosis tunggal > 15 ml Suntikkan kedalam susmsum tulang belakang (intra tekal. fenil merkuri nitrat 0.6 % pH 7. HPMC.c) Aminofilin 2. disterilkan dg kalor Campur dan tambahkan pengawet fenol 0.5%.02 µm. α-tokoferol. Apapun yang disajikan dalam dosis ganda (vial. NaHSO3. botol tetes.6 (untuk asma berat) Gabungan antara teofilin dengan etilen diamin jd aminofilin Tidak terjadi endapan sehingga meningkatkan kadar zat disuntikkan secara IV dalam bentuk ampul 10 ml. benzyl alkohol 2% 4. Bakteriostatika/Bakterisida sebagai pengawet Pengawet boleh ditambahkan apabila: a.2%. Anesteetika lokal Lidokain HCl (Prokain HCl) 5. NDGA. nipasol 0. klor butanol 0. gom arab. intra okular. intra sisternal. intra kardial.2% c.5% Lakukan 4 kali penyaringan : • Kertas saring wathman no 1 • Penyaringan dengan G3 (glass masir) • Disaring dg filter membran 0. intra arterial.

Pelarut campur Sol Petit Gliserin 350 Etanol 95% 260 H2O ad 1000 Propilen glikol Benzil alkohol H2O Propilen glikol 40% Etanol 95% 10% H2O 50% Contoh : Fenobarbital dalam air terurai.7. Unit internasional 4.Non air minyak nabati (ol arachidis/m kacang) minyak sintetis .Air . mEq/l mEq = valensi x mMol x jumlah ion/atom/mol 3. Pernyataan kadar obat suntik : 1. Per 1000 ml: ……… g 2. mOsm/l atau …… g/100 ml osmolarita : bobot per liter osmolarita : bobot per kg 1) Untuk non elektrolit : 2) Untuk elektrolit kuat 3) Untuk tiap ion bersangkutan 4) Perubahan osmolalita manjadi osmolarita mOsm/l = mOsm/1000 H2O x g H2O/ml larutan 5) Osmolarita setelah 2 larutan dicampur PEMBAWA Sinonim: pelarut. vehiculum. dalam sol petit tidak terurai. solvent Pembawa: . Bobot 3. Persen Pernyataan kadar elektrolit : 1. Bobot/volume 2.

Hasil airnya disebut: Aquadestilata (air suling). maka air akan berpindah kembali ke hipotonis (terjadi osmosis balik) melalui suatu membran semipermeabel.) + OH• H+ + OH.. Yang boleh digunakan sebagai pembawa obat suntik adalah air hasil destilasi dan osmosis balik iii.NO3-. Air ini harganya mahal.) + H+ • Penukar anion OH.. Destilasi Cara: Air dipanaskan menguap. Ca2+.1. Reverse Osmosis (Osmosis balik) Hipertonis Hipotonis H2O H2O Diberi tekanan Na+ H2O ClBerdasarkan sifat koligatif air uji: sifat alami air pindah dari yang hipotonis (kanan) ke hipertonis (kiri). Penukar ion Cara: • Penukar kation H+ Na+ + Na+ (K+. zat padat total. .. logam berat. Pembawa air (Aqua destillata/bidest. bakteriologi i..tidak dapat menembus. NH4-. dengan penambahan tekanan dari arah kiri ke kanan. kemudian uap air yang dihasilkan dilewatkan pada alat pendingin (kondensor) sehingga uap air akan mengembun lalu menghasilkan tetesan air dan ditampung dalam wadah.(HCO3. . Ca+2.Cl• + Cl. CO2. ion seperti C-. kemurnian. SO4-2.H2O aqua demineralisata Hasilnya: Aquademineralisata (air yang tidak ada mineralnya) . air suling) Monografi pembawa air yg ada di FI IV hanya 2 yaitu : Aqua purificata (air murni) Aqua steril pro injeksi Sedangkan aqua pro injeksi tidak tercantum dlm monografi FI IV tetapi terdapat dalam USP XXIII : water for inj hal 1636 Pembuatan: destilasi. dengan penukar ion. sedangkan Na+Cl. SO4-2. osmosis-balik Aqua puruficata (air murni) Guna : untuk sediaan. hanya H2O yang dapat menembus membran ini. ii. kecuali parenteral Uji : pH. zat mudah teroksidasi..

Aqua pro injeksi . maka akan diregenerasi dengan HCl dan NaOH. Kation dicuci dg HCl Untuk bagian atas alat dimasukkan pipa yang terdapat NaOH yang dialirkan hanya pada bagian bawah saja. asal ke3 zat tersebut dihilangkan dengan cara: Debu: disaring dengan kertas saring Zat yang tidak terionisasi: disaring dengan karboadsorbrns/arang aktif Jasad renik: disaring dengan saringan bakteri Aqua steril pro injectione Air yang digunakan untuk injeksi yang disterilkan dan dikemas. Aquadem bisa digunakan. (bagian anion). Na+ H+ + HCl + Na+ Cl. Catt: Aquadem hasil dari penukaran ion tidak boleh untuk sediaan obat suntik karena masih terdapat: Zat yang tidak terionisasi (yang lewat dalam penukaran ion karena zat tersebut tidak mempunyai muatan) Jasad renik Debu. menyebabkan putaran-putaran gelembung.OH+ NaOH + Clb. Two bed Jika alat two bed sudah jenuh. Cara regenerasi dengan mengalirkan udara dari bawah. karena beda berat jenis maka yang berat akan ada di bawah dan yang kecil di atas.Sumber air didapat dari: PAM (tergantung letak pabrik) tidak dipakai karena mengandung flour Air sumur bor Alat yang digunakan dalam pembuatan air dari penukar ion: a. Mixed bed Prosesnya terjadi pemisahan berdasarkan bobot jenis. Dikemas dalam vial 20 ml – 1l dan disterilkan dengan autoklaf untuk dicampur dengan obat padat sebelum disuntikkan.

Asam lemak bisa berupa : Asam palmitat Asam stearat Asam oleat .Terdapat pada USP XXIII hal 1636. maka yang hanya lewat melalui saringan hanya molekul zat saja yang ukurannya lebih kecil dari pirogen. Pirogen Gejala terkena pirogen: menggigil setelah ½ jam kemudian hilang kembali seperti semula. Ester = senyawa gabungan dari alkohol dan asam organik. osmosis balik Guna: pelarut pembuatan injeksi (dalam jumlah besar). Contoh: ampul vit C. • Filter molekular (tangential flow filters) = pemisahan 2 molekul karena molekul pirogen lebih besar dari molekul zat. 2.3% • Disaring dengan asbes Mampu mnyerap pirogen kemudian disaring dengan G3 karena hasil filtrat mengandung seratserat asbes. Pembawa non air a) Minyak nabati (Oleum Arachidis) Minyak = cairan yang mengandung trigliserida dan asam lemak bebas. injeksi vit B12 1000 δ/ml.1-0. tidak ada di FI IV Pembuatan: destilasi. Umumnya pirogen banyak terdapat dalam larutan infus. Untuk menghilangkan pirogen pada alat dengan oven 250oC selama 30 menit Untuk menghilangkan pirogen pada larutan: • Cara klasik Dengan Carbo Adsorben 0.

N) lalu dipanaskan. Bilangan penyabunan Cara: Minyak ditimbang dalam erlenmayer dengan bobot tertentu. Bilangan penyabunan iii. Bilangan asam ii. Bilangan iod Fungsi: untuk menentukan ikatan rangkap pada asam Prinsip: bromometri Cara: Timbang minyak + KBrO3 (V. E Menadion Testosterone profionat Estradiol benzoate Kualitas minyak ditentukan dengan Syarat dan Uji: i. sehingga dapat diketahui bilangan penyabunan murni (NaOH total/awal-NaOH sisa/bilangan asam) iii. Cara: Minyak ditimbang dalam erlenmayer dengan bobot tertentu kemudian titrasi langsung dengan NaOH (N) dengan indikator phenoftalein hingga titik akhir titrasi (NaOH berlebih + indikator PP berubah warna menjadi merah muda).N) (KBrO3 mengoksidasi) + KBr(g) (stabilisator) + HCl menghasilkan Br2(berasal dari KBr/KBr teroksidasi) Br2 berlebih + KI I2 dititrasi dengan tiosulfat. I2 tidak. Reaksi: ii. setelah dingin NaOH berlebih dititrasi dengan HCl dengan indikator PP. Bilangan asam Bilangan yang menyatakan jumlah asam organik yang terdapat dalam minyak tersebut. tambahkan NaOH (V. D. Hanya Br2 yang masuk ke ikatan rangakap. Reaksi saponifikasi = Perhitungan : NaOh awal diketahui. Bilangan ion i. . kemudian didinginkan (dg kondensor) ± 30 menit (untuk mencegah kehilangan air).Obat suntik dengan pembaw minyak Vit A. NaOH sisa diketahui. dimana H pada asam akan diganti Na.

propiloleat.KbrO3 (V. Reaksi adisi= Kemudian sisa Br2 + KI I2(titrasi dg Na tiosulfat) Perhitungan : Br2 awal diketahui. botol tetes. flakon. tidak mudah pecah (mekanik tekanan). mudah . b) Minyak sintetis Lebih mahal daripada minyak nabati Dipakai untuk suntikan hormon-hormon : etiloleat. Pada bilangan iod digunakan Br2 karena iod tidak bisa mengadisi kecuali jika menggunakan ICl Jika bilangan asam terlalu tinggi bisa diperbaiki dengan (Olea Neutralisata ada Injectionem Pharmaope Belanda) 1. Dikocok dengan etanol 95% (minyak + etanol). Ditambah MgO padat. Plastik (untuk infus. WADAH Pustaka FI IV-1089 Wadah obat : 1. setengah padat dll) 3. botol untuk cairan. Seng I. transparan. cairan tetes. vial. dsb) 2. tablet. benzil alkohol. sehingga Br2 yang mengadisi diketahui. strip/blister) 4.N) + KBr (g) Br2 + KI I2 + tiosulfat.asam lemak akan masuk kedalam larutan etanol 2. Alkohol: etanol. propilalkohol. gliserin. Ditambah larutan NaOH (Rx = bil asam) 3. Br2 sisa diketahui. metiloleat. impermeable. Kaca Syarat wadah kaca Resistensi kimia. Kaca (ampul. Aluminium (salap/krim. isopropil miristat.

0 Jumlah asam sulfat tergantung banyaknya volume Uji kualitas/ uji pelepasan/uji mutu 1.020 N asam : 8. 3. 4.5 Kaca tipe III merupakan tipe kaca yang paling jelek kualitasnya untuk dibuat ampul karena banyak Na+ yang dilepaskan dan tidak memenuhi syarat. 2.020 N asam = 0.020 N asam = 15.CaO. Wujud kaca Campuran silikat. Powdered /Crashed Glass Test (untuk uji kaca serbuk). Tipe III = kaca soda kapur Rumus = SiO2 75%. Hasil ayakan diambil secukupnya (beberapa gram) dan ditambah air kemudian dipanaskan diautoklaf (tujuannya untuk pelepasan Natrium supaya masuk dan diserap air). logam alkali dan kalsium: (Alkali)2O.2 (diatas 100). Al2O3) agar koefisien muai kecil. kemudian diayak dengan pengayak yang cocok. Dinginkan.0 Kaca tipe ini merupakan kaca yang paling mahal dan bagus Contoh: alat-alat gelas lab pyrex. diatas 100 ml 0.02 N) untuk mengetahui jumlah basa / Na yang dilepaskan oleh serbuk kaca tersebut. selanjutnya air jumlah tertentu dititrasi dengan asam (H2SO4 0. CaO 10%. NP (non parenteral) = kaca soda kapur untuk penggunaan umum Tipe uji = kaca serbuk Batas ukuran (ml) = semua ml 0. Kaca tipe II dipakai untuk ampul karena murah. Cara: Wadah ditumbuk /dihancurkan sampai halus. Tipe-tipe kaca dan batas uji (FI IV) 1.dibersihkan. 0.7 (100/kurang). Al2O3 2%.6 SiO2 dengan penambahan (B2O3. Tipe I = Kaca Borosilikat ketahanan tinggi Rumus = SiO2 80%. Tipe uji = kaca serbuk Batas ukuran (ml) : semua ml 0. Na2O + CaO + Oksida lain 6% . B2O3 12%. mempunyai daya tahan terhadap perbedaan suhu dan resistensi terhadap zat kimia.020 N asam = 1. Tipe uji: Kaca serbuk Batas ukuran: (ml) semua ml 0. Na2O 15%. . Tpe II = Kaca soda kapur terolah Rumus = 2(Na+ gelas-) + SO2 (gas) + ½O2 + H2O(uap) 500oC 2(H+ gelas-) + Na2SO4 Tipe uji = ketahanan terhadap air Batas ukuran (ml) : 100 atau kurang.

Dengan indikator Merah-metil-asam (FI III) Cara: Wadah diisi dengan merah metil yang diasamkan dan ditutup dengan aluminium foil. 3. Catt: Kaca tipe III paling jelek maka dibuat kaca tipe II terolah.dll) Tube krim/salep Selang plastik (IV) Strip dan blitser packing. Pembuatan Blow-fill-seal : Blow : dialirkan udara steril ke dalam wadah plastik Fill : Dimasukkan larutan steril bebas pirogen . Surface / Whole Container Test (untuk uji ketahanan terhadap air) Surface yaitu bagian permukaannya saja / bagian dinding yang bersentuhan dengan air. dan dilihat warnanya berubah / tidak. Guna: Wadah larutan infus (“blow-fill-seal”) / ampul Kantong penampung darah asal transfusi. dinginkan. Cara: Wadah utuh tidak diserbuk. Uji pelepasan alkali kaca tipe II tidak dilakukan menurut Powdered Glass Test sebab pada kaca tipe II wadah (kaca) tidak diserbuk karena Natrium yang ingin diketahui adalah Na yang terdapat di dalam wadah. Plastik Ujud plastik: Senyawa polimer sintetik berbobot molekul tinggi Cair bila dipanaskan. dipanaskan di autoklaf (agar Na+ melarut ke dalam air). diisi dengan air suling ditutup dengan aluminium foil. Apabila ada alkali/Na+ yang dilepaskan dari dinding gelas/kaca tadi maka warna indikatornya kuning. Alat suntik (disposibel syringe) Botol plastik (tablet. Cara pengolahan gelas tipe III menjadi tipe II: Kaca/gelas tipe II yang terdapat Na+ dialirkan gas SO2 + O2 + H2O di dalam suhu 500oC sehingga Na+ yang diikat menjadi Na2SO4 Bilas dengan air untuk menghilangkan Na2SO4 2(Na+ gelas-) + SO2(gas) + ½ O2 + H2O 500oC 2(H+ gelas-) + Na2SO4 II. padat pada suhu kamar. Selanjutnya air tersebut dalam volume tertentu dititrasi dengan asam sulfat untuk mengetahui jumlah alkali/Na+ yang dilepaskan oleh dinding wadah kaca tadi.2. dipanaskan diautoklaf. didinginkan. banyak Na+ yang dilepaskan yang akan: Menguraikan/mengganggu zat berkhasiat Terjadi pengendapan.

Tebal aluminium jangan tebal (mahal)/tipis (mudah dilepas). dinginkan. Seng Tutup botol ulir yang diseal (garis tengah. dituang ke dalam cetakan dengan tiupan. Logam berat. tutup. Wadah diisi dengan ester + H2SO4 (sisa penguapan dari campuran ini diperiksa). sisa penguapan. harus disesuaikan 2. Panjang kaki tutup vial aluminium IV. meleleh.C. tebal. I. sisa pemijaran Bau. Uji mutu: Ekstraksi: Amoniak. reduktor. lalu lepas dari cetakan. panjang kaki) . Untuk menguji kejernihan wadah plastik (pada lautan infus) digunakan alat coulter counter Caranya : Diuji menggunakan 20 wadah plastik dibuka kemudian isinya dimasukkan kedalam coulter counter „ Maksimal hanya boleh ada 5 kotoran yang terbaca Jika lebih dari 5 maka sediaan tidak memenuhi syarat kejernihan.V. rasa. NaCl. dan pH Uji busa Uji biologi: Wadah diisi dengan larutan NaCl. minyak nabati. Uji Fisika khusus Porositas terhadap udara/uap air/mikroba/kerapuhan. III. etanol + NaCl (1:20). kemudian disuntikkan pada tikus : I. isi. PEG 400.Seal : tutup Jadi : Granul plastik dipanaskan. panjang kaki) Strip dan blister packing (aluminium-foil) tebal Sachet (serbuk atau cairan) Menutup lubang alat gelas sebelum disterilkan (erlenmayer) Tutup vial aluminium tergantung daritebal karet 1. tebal. Strip plastik ditanam dalam otot kelinci. eritrosit kemudian larutan diperiksa. Uji Absorpsi (Contact test) Wadah diisi dengan larutan zat pengawet. Kejernihan.P. Sulfat. Aluminium Guna : Tube untuk sediaan setengah padat (salap/krim) tebal Tutup vial aluminium (diameter. I.

amoniak. maka terurainya zat tersebut dalam jangka waktu sekian bulan/tahun. Kondisi diperberat untuk menetapkan Stabilitas Obat . kejernihan. farmakologi dan bakteriologi masalah penting dalam pengembangan obat.0. botol sirup. Pencegahan adsorpsi pengawet oleh t. etiket dicetak b. etiket ditempel untuk sediaan suspense.v.v. nomor bets STABILITAS OBAT Sediaan apapun yang dibuat. tubedsb Etiket Kejelasan. • Uji Fisika kualitas karet: Fragmentasi : jumah partikel dihitung (3 per t. rasa. oksigen.Addendum . Nb. lembab. + pengawet + H2O otoklaf (1150-1160C 30‟ atau 1210=15‟) KOTAK DAN ETIKET Kotak : tebal karton : a.v.k. Apabila disimpan dalam suhu kamar. cahaya. reduktor. mungkin akan ada celah antara karet & bibir vial. pH: 5. vial. bau. kaki) (sintetik) Uji Mutu: • Ekstraksi hasil refluks/otoklaf diperiksa: Sisa penguapan. harus diuji stabilitas obatnya. oksidator. antara lain: KLT : Antalgin (4-metil aminoantipirin) Analisis thermal (dikloksasilin X asam stearat) Azas uji: zat yang belum /sudah terurai.k) Self-seability (dengan alat suntik/piercing machine) Menutup diri sendiri (Self-seability) Vial dengan larutan didalamnya ditusuk dengan alat suntik. Apakah mesin menutup denganbaik/tidak Jika tekanannya kurang. Stabilitas kimia.k t. sehingga saat ditutup aka nada celah & menyebabkan isi vial bisa tumpah. pH (pelarut) dan zat bantu Hidrolisis ester dan amida Cara deteksi stabilitas zat padat (kualitatif). klorida. Dipengaruhi oleh: Kalor. Sulfida Volatil/larut. Jadi mesin harus diatur seemikian rupa sehingga saat menekan tutup karet benar-benar rapat. fisika. cukup besar Tidak luntur Nomor registrasi. logam berat. warna.Bahan karet untuk tutup vial karet (diameter. jangan sampai ada cairan yang keluar /menyemprot karet segera menutup setelah alat suntik dicabut Ageing test (700C = 168 jam) Closure Integrity test (dengan Natrium fluoresen) Tidak ada hubungan dengan karet tapi dengan alatnya.2-7.

37oC. Oksidasi 4. sehingga dilakukan penyimpanan pada suhu yang ditingkatkan (oven).75.60. Fotolisis : UV dan sinar tampak 4. tetapi waktunya sangat lama . A.dan 90% RH pada suhu K Ball milling 1.45. Non isoterm = suhu tidak sama Caranya: Menggunakan satu oven. H3O+. Misalnya : suhu 600. 80oC. dst. Hidrolisis oleh : H2O. terbagi menjadi 2: 1. disimpan pada suhu kamar. dan 100oC. Pada waktu-waktu tertentu ditentukan kadarnya (kadar awal diketahui). Katalisis oleh : Fe2+.75oC 30. PH 2. Zat padat Kalor dan kelembaban Adsorpsi lembab Segi fisika 2. Cu2+.3.30. Cahaya 4. OH-.20. 750. T : 100oC setelah 2 minggu ditentukan stabilitasnya. Isoterm = suhu sama Caranya: Menggunakan 3 suhu dan 3 oven uji : 60oC.5. Larutan air pH 3. 2. Fe3+.digunakan 3 oven dengan suhu yang berbeda. Uji Stabilitas terhadap suhu.7.37oC/75%RH. Oksidasi : O2 3. Ca2+.50. Dibuat secara kecil-kecilan 50 ampul untuk menguji stabilitasnya. 900C Suhu Waktu/minggu 600 750 900   0 .Uji Pelaksanaan 1. T : 60oC setelah 2 minggu ditentukan stabilitasnya T : 80oC setelah 2 minggu ditentukan stabilitasnya.9(dan 11) pada suhu kamar 37oC refluks dalam 1 N HCl dan NaOH UV (254 dan 366 nm) + cahaya biasa Aliran O2 4 Jenis penguraian: 1.

( ln c – ln c0) = k1. First orde Reaction (reaksi orde satu) Tergantung dari konsentrasi Rumus = .t Catt: apabila nilainya berbeda berarti menunjukkan reaksi tingkat 1 Grafik: log x t Uji Stabilitas pada suhu yang ditinggikan (Elevated temperature test): .t Ln c0 – ln c = k1. II. Zero orde Reaction (reaksi orde nol) Penguraiannya tergantung dari konsentrasi Rumus: catt: Apabila nilainya hampir sama atau tidak beda jauh maka dia itu reaksi tingkat 0 Grafik: x t t ½ = waktu yang diperlukan untuk menguraikan zat tersebut menjadi setengah dari zat awalnya.  2   4 Nilai hasil pengujian (nilainya turun terus) Tujuan/azasnya : untuk mempercepat peruraian Asas = Reaksi kinetika kimia Berdasarkan reaksi kimianya dibagi: I.

.7 (35oC=120 menit) 3 jenis grafik: Bentuk V (Benzilpen. Cara substitusi (K) 4.0. Hidrolisis (peruraian oleh air) Ester.(katalisis asam basa) + suhu Aspirin Aspirin adalah ester (senyawa organik + alkohol) Aspirin disimpan dalam jangka waktu lama (bertahun-tahun) akan terurai menjadi asam asetat + asam salisilat. misal dengan pH=3.8 (+ NaHCO3) Benzylpen pH= 6. 7.5. Persamaan Arrhenius: Rumus: K = A. bila lebih tinggi disebut adenokrom). Cara grafik (linearitas) b.1. amida atau laktam peka terhadap hidrolisis yang dikatalisis oleh H+ atau OH. 2. ph<3 = rasemisasi {≈fenilefrin}) Vit C = pH stabil 5. Pada waktu tertentu kadarnya ditetapkan 3. Benzyl penisilin pH=6.7 (dikatakan stabil dalam air selama 120 menit. Sediaan disimpan pada sekurang-kurangnya 3 suhu yang berbeda (tetapi konstan /isoterm). Tentukan K: a.9 (dapar) Panaskan pada suhu dan selama waktu tertentu Tetapkan kadar zat berkhasiat Contoh: Adrenalin HCl/bitatrat (ph stabil=3. prokain HCl) Bentuk sigmoid (Aspirin) Bentuk Gente (HCT) B.e-Ea/RT 5. Menghitung K/ penguraian (≈ stab) pada suhu lain: NB= Uji stabilitas: Dibuat larutan.

 Senyawa yang peka terhadap oksidasi: a) Olefin (Karotenoid. Asam stearat dan asam palmitat tidak mudah tengik karena tidak memiliki ikatn rangkap (jenuh) b) Aldehida (Benzaldehida. Reaksi diatas disebut reaksi berantai dan berkesinambungan. oksigen dan senyawa pengoksidasi sendiri. C. Seringkali oksigen diikat atau hidrogen dibebaskan. Kompleksasi.Kepekaan terhadap hidrolisis Laktam > ester > amida Mengatasi Hidrolisis: Bentuk suspensi/padat. C yg ditinggalkan disebu radikal bebas ditandai dg bintang * yg bersebelahan dg atom C dan ikatan rangkap (H berhasil menjadi radikal bebas (*) dapat terjadi pada atom karbon yang bersebelahan dengan atom karbon (c) yang mempunyai ikatan rangkap) • C yg ditinggalkan bereaksi dengan oksigen (O2) menghasilkan peroksida • Kemudian Peroksida ini bereaksi dg H dari rumus awal sehingga terjadi pemutusan-pemutusan yg menimbulkan bau tengik. Oksidasi (Bereaksi dengan oksigen/pelepasan elektron) Pemberian elektron berasal dari atom atau molekul. terpen) Proses reaksi tengik (rancid) karena ada ikatan rangkap dan gugus karboksilat • H bereaksi dg suatu gugus. asam lemak tak jenuh. vitamin A. Kepolaran dikurangi. sinamaldehida) c) Eter (dietil ester) d) Endiol (asam askorbat) Asam askorbat mudah terurai jd keton shg perlu ditambah Na2S2O5 . ion logam. Oksidasi dipengaruhi oleh : cahaya. Pilih pH dengan penguraian terkecil bila memang masih memungkinkan.

2.kemudian disaring dengan kertas saring dan G3 (glass masir) lalu diisikan dalam ampul.e) Hidroksimetil keton (prednisolon) f) Fenol (fenol. morfin. kemudian diisi dengan obatnya lalu ujungnya dialiri kembali denga gas N2 kemudian ampul ditutup. didinginkan sambil dialiri gas N2. adrenalin. Ada 2 cara penutupan ampul: 1. setelah itu didinginkan sambil dialirkan gas N2. Pull sealing Caranya: ampul dipanaskan (diewatkan) di api pada sedikit dibawah ujung ampul kemudian ditarik. b) Zat padat . resorsin. ergotamin) h) Alkohol (Benzilalkohol) Pencegahan oksidasi a) Zat dalam bentuk larutan sejati: Air dididihkan selama 30‟ terhitung setelah mendidih. morfin) Adrenalin yg saat ini digunakan adalah NOR adrenalin bitartrat g) Amin tersier (atropin. Tambahkan antioksidan dan pengkhelat Pencampuran sambil dialiri gas N2 Wadah dialiri gas N2 sebelum ditutup Simpan di luar pengaruh cahaya bila mungkin ph 3-4 Zat peka terhadap oksidasi Aquadest dididihkan selama 30‟ (untuk menghilangkan oksigen). Cara pengisian ampul di Industri Ampul diletakkan pada ban berjalan (dari kiri ke kanan) kemudian ampul tersebut di alir gas N2 sampai ke dasar. kemudian dicampur dengan zat berkhasiat (yang peka terhadap oksigen) dan zat lainnya. Tip sealing Caranya: Ujung ampul dipanaskan (dilewatkan) di api sehingga kedua ujungnya akan ketemu. Cara ini tidak digunakan lagi karena kelemahannya akan terdapat celah yang mengakibatkan ampul bocor dan sediaan tidak steril.

 Kebanyakan antioksidan menyediakan elektron atau H+. sehingga harus ditentukan dulu kadarnya (cara iodometri karena SO2 bereaksi dengan iodium).NaHSO3 = Na bisulfit/Na hidrogen sulfit . α.1%). UV antara 290-320 nm (=0. IR 50-400 400-750 750-10.1%= Na sulfit Ket : Na2S2O5 dan NaHSO3 jika wadahnya dibuka akan mengeluarkan gas SO2 secara spontan. γ. Jenis antioksidan: Larut dalam air Golongan sulfit (0.1%) : . NOR Adrenalin. asam sitrat (0. Contoh lain yang larut dalam air: Na Formaldehid Sulfoksilat 0. asam tartrat (0. dan δ tokoferol (0. Senyawa pengkhelat Edta-Na2 (0. agar tidak terjadi penguraian kimia dan perubahan khasiat farmakologi.1% tioureum.1%). Prerekuisit adalah antioksidan dioksidasi lebih dulu daripada zat aktif.01-0. Cahaya tampak3. oktil. sedangkan Na2SO3 dilarutkan dalam air pH nya diatas 7.000 286-72 72-36 36-1 .D h : konstanta Planck (6.Na2S2O5 = Na pirosulfit/Na metabisulfit .01%).002-1%). yang akan bereaksi dengan radikal bebas untuk menghentikan reaksi rantai.Na2SO3 0.Setelah diwadahi: vakumkan atau aliri N2 Antioksidan Guna: Mencegah teroksidasinya zat aktif. vit C. Minyak suatu media yang sangat sulit terjadinya oksidasi sehingga antioksidan tidak digunakan.dan dodesil-gallat (0.2% dari cahaya matahari) fotolisis] mengkatalisis oksidasi. Larut dalam minyak Propil-. lidokain.02%). Na2S2O5 dan NaHSO3 dilarutkan dalam air pH nya dibawah 7. Energi yang dimiliki cahaya: E = h. UV 2.mol-1) 1. untuk sebagian juga hidrolisis. Apabila dalam persediaan tidak ada Na2S2O5 & NaHSO3 dapat digunakan Na2SO3 dengan syarat pHnya diturunkan sampai dibawah 7. Na2SO3 tidak melepaskan gas SO2. NB: Penetapan kadar zat berkhasiat tidak terganggu oleh antioksidan. Fotolisis Cahaya[Cahaya matahari: 290-780 nm. Na2S2O5 sebagai stabilisator dari vitamin C. D. BHA (Butil Hidroksinol) (0.02-1%).1%).625 x 10-27erg/detik) D : Frekuensi radiasi (H2/detik) (c/λ) Jenis Λ (nm) E (Kcal. NDGA (0.

Keterangan: Akibat 1 : elektron di kulit luar terlepas. Mol. Senyawa Pengkhelat (Chelating agents) Guna: Mengikat ion logam yang mengkatalisis rekasi oksidasi menjadi kompleks khelat. Energi diretensi hingga saat digunakan secara kimia atau ditransfer ke mol. Yang menyerap membebaskan cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda (fluoresensi/fosforesensi) tanpa terjadi penguraian. E. Yang mengabsorpsi pecah (terurai) 2. memutuskan ikatan kimia (radikal bebas).Ikatan ionik . sama halnya dengan cincin aromatik. Logam berat biasanya ikut dalam/pada sintesis & logam berat ini memungkinkan peruraian sehingga logam berat tersebut harus diikat dengan Na2EDTA (dinatrium Edta) Khelasi : adalah pembentukan struktur siklis yang memiliki stabilitas termodinamika dan stabilitas terhadap suhu. Akibat 2 : mol. Mol. mol.vibrasi Akibat 3 : mol. Bergerak dan rotasi Akibat absorpsi radiasi elektromagnetik: 1. Lain yang mungkin saja diuraikan 3. Uji transmisi cahaya dengan spektrofotometer (FI IV) Cara mencegah fotolisis: Gunakan wadah berwarna Wadah tak berwarna disimpan dalam kotak karton Ditutup aluminium foil/blitser. Dinatrium Edta) Reaksi tersebut(logam Cu) ada 2 macam ikatan: .vibrasi.Ikatan kovalen Pengkhelat yang bisa digunakan : Al3+ . Energi diubah menjadi kalor tanpa reaksi 4. Yang banyak digunakan adalah : Dinatrium edetat (Complexon III.

5%. Asimetrik (*) : atom karbon yang dikelilingi 4 gugus yang berbeda mampu memutar bidang polarisasi. maka t ½ turun) dan pengaruh cahaya. Kloreton 4%. Pembentukan komplek khelat dimungkinkan karena: 1.Ph Ind 74-720 . kekuatan ion (kekuatan ion naik. botol tetes. Zat pengawet untuk minyak (bukan media baik untuk pertumbuhan jasad renik): Contoh: Benzil alkohol 2%. H+ asal gugus asam primer diganti oleh ion logam dan 2. NB: .3%. Katalisator (H3O+ & OH->> pH).v sekali suntik > 15 ml Suntikkan ke dalam sumsum tulang belakang (intratekal. botol sediaan peroral) Pembuatan aseptik Sterilisasi uap air mengalir + O-kresol 0. Bakteriostatika / Bakterisida (Zat pengawet) Digunakan dalam hal: Dosis ganda (vial. berpengaruh pada khasiat farmakologinya. Klorkresol 0. Fenol 0.Rasemisasi mengikuti reaksi tingkat satu . intra cardial & intra arterial (meningitis aseptik/ radang pada selaput otak). . lebih besar kecenderungannya membentuk khelat . intralumbal). NB: l-adrenalin 12-20 kali lebih kuat daripada d-adrenalin.5% (untuk pH kurang dari 7) Setelah 1 jam steril.Al3+ ikatan kovalennya tetap 2. Gugus netral yang memiliki atom dengan sepasang elektron bebas.Lebih tinggi valensi suatu ion. Rasemisasi (Pemutaran bidang polarisasi) Adalah proses yang mengubah senyawa aktif optik sebanyak 50% menjadi enantiomer/antipodanya. . intra sist. Zat pengawet untuk air: 1.1%. Fenol 0.Perhatikan pH tinggi yang mengionisasi Dinatrium-Edta. G. Kresol 0. pelarut (kepolaran turun. Rasemisasi untuk memutar pada bidang polarisasi (alatnya polarimeter).2% (FI III) Syarat: Memenuhi syarat farmakope Efektif sebagai bakteriostatika/bakterisida Tersatukan dengan zat berkhasiat Larut baik dalam pembawa yang diapakai Tidak mengganggu penentuan kadar zat berkhasiat Tidak boleh dipakai untuk: i.Kecepatan rasemisasi tergantung dari suhu. maka t ½ naik). tetapi ikatan ioniknya 3. F. peridural.

Tidak tahan suhu sterilisasi (akan terurai) . Ortho-kresol 0.Kloreton dilarutkan dengan pemanasan pada suhu 60oC.Tahan pemanasan .15% . Wujudnya kering.Untuk obat tetes mata. Nipagin (metil paraben ) 0.kresol 0.Larut dengan pemanasan . Untuk Aminofillin (pH>7) 4.karena diikat oleh tween 80) Fenol dalam suasana basa (tidak ada daya bakterisidnya karena terbentuk Na-fenolat). 2.tto dengan halida.m. logam berat. kristal halus putih.3%) 3.Perhatikan: Bekerja dalam suasana asam. reduktor .5% (untuk pH lebih dari 7) Tahan dalam suasana basa (kresol = campuran o-. krim . Benzilalkohol .Ada juga : fenilmerkuriborat/asetat 6.dan p. fenol + tween 80 (daya bakterisidnya menurun.2% (4-kloro m-kresol) Aktif dalam suasana basa Mis. Fenil merkurinitrat 0.Tidak boleh dalam suasana basa (JAPHA ‟59-390) .05% Sifat dan gunanya seperti nipagin Catt: u/ nipagin & nipasol: Bila dikombinasi : khasiatnya terhadap jasad renik Aktif pada pH 4-6 Tahan pemanasan. Klorkresol 0.Mempunyai daya anestetik lokal lemah .002% (BP) .Tunggal berkhasiat terhadap kapang 7.5% . Jika dalam suasana basa menghasilkan Na-Fenolat. penyimpanan lama warna merah dan cair (cairan merah jangan dibuang tetapi bisa digunakan dengan cara destilasi suhu 170oC dengan pendingin udara).001-0. dipengaruhi tween 80 Efektif terhadap kapag dan bakteri gram (+) bila dikombinasi 8. Fenol + gliserin.3-0. Kloreton (klorbutanol) 0. asam. berkurang .Biasanya dikombinasi dengan Nipasol . 5. Nipasol (propil paraben) 0.

pelepasan yang optimal. asam stearat 4%.Dibandingkan dengan Fenol 0. lalu ditentukan degan DTA/DSC dan konfirmasi secara KLT (setelah penyimpanan pada suhu dan kelembaban yang ditingkatkan). STABILITAS FASE PADAT • Bentuk sediaan padat yang mantap dan efektif tergantung dari pilihan bahan bantu untuk memudahkan pemberian. bioavailabilitas yang baik dan pencegahan peruraian • Stabilitas fase padat berbeda dengan stabilitas larutan. Dicloxacillin 2. Khusus tablet yang mengandung 2% b/b air (untuk memungkinkan kompresi yang baik) mampu menyebabkan rekasi kimia antara zat berkhasiat dan bahan tambahan dalam larutan jenuh. Suhu 50oC selama 3 minggu ≈ 12 minggu suhu kamar. Ket: 1. suhu meningkat=meningkat. . pH dan kekuatan ion.5% (BPC) Syarat : larutan yang mengandung bakteri vegetatif 106 per ml + bakterisid >> harus steril setelah 3 jam H. Dicloxacilin 73%. • Analisa termal digunakan untuk menentukan ada tidaknya antaraksi fisiko-kimia antara zat-zat dan gejala polimorfise. atau kapsul dapat diliputi oleh air sebagai film pada permukaan dan merubah kinetika. Asam sorbat Catatan: Antaraksi antara pengawet dengan zat tertentu: Paraben + Tween 80 = menurun Fenol + Tween 80 = menurun Setil piridium klorida (amon kuartern) + Tilosa = menurun Asam sorbat + PEG 4000/6000 =menurun Benzilalkohol/kloreton + tilosa=menurun Kloreton + Tween 80 =menurun Kresol + Kinin HCl = menurun pH meningkat + menurun. laktosa 23%. PS. Dekarboksilasi Jarang terjadi Zat padat mengalami dekarboksilasi pirolitik oleh pemanasan cukup tinggi (25-30 Kcal) Contoh terkenal adalah degradasi PAS Natrium menjadi m-aminofenol dan CO2 (mengikuti reaksi tingkat 1). penambahan garam anorganik=meningkat Uji aktivitas zat pengawet: . yakni sbb: Zat berkhasiat + zat bantu kemudian dicampur (1:1 atau 1:10 tergantung dari dosis).(mengakibatkan hidrolisis pada permukaan kristal).. tablet.Bila teroksidasi (benzaldehida : dest dulu) 9.

namun sifat sama dalam fase cair atau uap. bentuk polimorf suatu senyawa bisa diubah secara reversibel menjadi polimorf lain. Dua jenis transisi: Enantiotropik Dengan mengatur suhu atau tekanan. Deteksi polimorfisme: Uji disolusi : bentuk metastabil >> laju disolusi cepat Sinar X (X-Ray diffraction) Analisis Infra Merah DSC (Differential Scanning Calorimetry) & DTA (Diff Therm Analysis). Granulat (dalam bentuk granul): • Homogenitas . bobot jenis. DTA (Diff Thermal Analisis) atau DSC (Diff Scanning Calorimetry) Uji mutu antibiotik yang disajikan dalam kapsul dengan DSC dan KLT Perbedaan titik lebur ditentuka dari selisihnya pada poros Y dengan ciri khasnya puncak dan letak dari zat yang ditentukan.selesai) 3. 1. Dicloxacilin 93%. NB: titik lebur ditentukan sbb: 1. Kloramfenikol Perbedaan polimorf dalam hal: titik lebur. dan tekanan uapnya. Contoh: Karbon. kelarutan. asam stearat 7%. Mutu tablet Dalam rangka pembuatan tablet yang bermutu perlu dilakukan uji khusus pada tahap pembuatan tertentu: a. Pincak lebih tinggi dan lebih kekanan menunjukkan hasil lebih bagus. kristal tidak) Transisi kristal karena dihaluskan atau granulasi basah Stabilitas kimia buruk (Penisilin G amorf kurang stabil daripada garamnya berbentuk kristal). Dengan mikroskop (=awal peleburan jd 50%. Polimorfisme Polimorf adalah senyawa padat dengan sekurang-kurangnya dua susunan molekul/atom yang berbeda (jenis kristal yang berbeda).3. 2. Monotropik Bentuk polimorf yang tidak stabil pada semua suhu dan tekanan. Mikroskop listrik Akibat polimorfisme (yang dikemas dalam vial untuk obat suntik) Pertumbuhan kristal dalam suspensi dan krim mengakibatkan bioavailabilitas dipengaruhi (jadi besar) Kemungkinan pengendapan dari polimorf yang kurang larut dalam bentuk sediaan cair. Dengan kapilar (=jarak lebur) 2. Bioavailabilitas buruk karena polimorf kurang larut (Novobiocin amorf : absorpsi baik.

Tablet sedang dicetak: • Kekerasan tablet • Keseragaman bobot c. Tidak “caking” f. Kemudahan sedot (syringe-ability) d. Setelah tablet selesai dibentuk/tablet jadi: • Kekerasan • Disintegrasi • Friabilitas • Disolusi STABILITAS SUSPENSI Suspensi adalah zat padat yang terdispersi secara homogen dan halus dalam suatu pembawa (air/minyak) dengan tambahan pengental (sspending agent) Disajikan dalam suspense jika zat aktif tidak larut dalam pembawa.5-5% (antibiotika 30%) b. Suspensi: Pembawa air (contoh: Deksametason. Ukuran partikel serba sama (Polimorfisme >> bioavailabilitas >> syringe-ability dipengaruhi) h. Rekonstruksi cepat g. Jumlah zat padat :0. Viskositas tergantung dari: Jumlah zat padat Pensuspensi (HPMC. Zat padat terflokulasi (floculated) >> struktur endapan longgar NB: Deflokulasi atau non flokulasi : struktur padat Suspensi bermutu: Rekonstruksi dengan pengocokan ringan = homogen Mudah dituang/disedot dengan alat suntik Ukuran dan bentuk kristal stabil Bioavailabilitas baik Memenuhi syarat kadar .• Kadar air • Sudut diam/sifat alir • Kompresibilitas b. Tiksotropi Rate of shear rpm Shearing stress/gaya e. Aluminium monostearat) Sifat dan campuran pembawa c. Kloramfenikol palmitat) Pembawa non-air (Prokain penicilin G) a.

sirop. Krim. Suspensi 11.(3) 1. Salep: mata. dan Perbekalan Kesehatan Rumah tangga”. Ditjen POM.Normal 5.Keras . bau pH Kon sistensi Ukuran partikel Sta bilitas Daya sebar (spreadability) Sterilitas      . tingtur 8. Granul /serbuk 6. Tablet: . Ampul 3. Suppositoria 10. tetes. kulit 2.*)     Krim *) Jumlah jasad renik dalam krim maksimal 105 per g (“Kumpulan Peraturan perundang-undangan Bidang kosmetika.Lembek 7. pasta. Kapsul: . Dragee: . Serbuk 9.Khusus . Aerosol 2. Cairan. gel 4. salep. Krim (M/A) Syarat salep & krim: Basis tidak “pecah” Konsistensi normal Ukuran partikel tetap Homogen Uji stabilitas salep/krim: Eva luasi warna.Khusus . Ikhtisar Uji Mutu Bentuk Sediaan: Bentuk sediaan (1) (2) (3) (4) (5) (6) Khusus no .Depkes RI).STABILITAS FASE SETENGAH PADAT (SEMI SOLID) 1.Normal . Alat kesehatan.Salep .

Ampul (isi serbuk)                    .12.

                              .

51o.51o.71o.71o.61o=idem 41o.71o.                       41o.81o=sda .61o=12mggu 51o.81o=idem 41o.51o.81o=sda 21oC/52%.61o.61o.51o.61o.31oC/70%=sda Spt no 4 41o.

71o. pengawet zat. 31oC/70% hingga bobot tetap (6) Uji susut bobot.51o. c) Krim.41o. 3. konsistensi/viskos. Penampilan. keragaman bobot. kadar zat. emulsi: 2. disintegrasi. salep. Penampilan. Penampilan. kadar zat. Pengamatan Uji Mutu: a) Aerosol: 2. penampilan.51o. pH. Penampilan. disimpan pada 4oC-41oC selama 4 minggu (kenaikan suhu setelah 24 jam). ukuran partikel. kejernihan. penguraian zat 2. Kehilangan bobot. rekonstruksi (suspensi).71o=sda Spt no 4 Spt no 7 Ket: (1) Uji pengaruh cahaya. keragaman bobot. kekerasan e) Granul/serbuk: 1. disintegrasi. rekonstruksi. penguraian zat 3.61o. disolusi. ukuran partikel. pH.61o. rekonstruksi. penguraian zat. pada penyinaran dengan lampu xenon selama 24 jam (2) Uji pengaruh suhu rendah. bau. pH. Penampilan. ukuran partikel (suspensi) 3. disimpan pada 21oC/60%. Penampilan. Penampilan. Penampilan. Penampilan.2 d) Dragee (normal. 26oC/65%. khusus): 1. disimpan (tegak lurus dan terbaring) pada 51oC selama 12 minggu.81o=sda Spt no 4 Spt no 1 41o. homogenitas. 5.1 . disolusi. 6. disimpan pada -10oC selama 4 minggu (3) Uji reaksi kinetika. isotoni (bila ada). Penampilan. kejernihan 3. Bau. kadar zat (zat pengawet diuji seperti zat berkhasiat) 4. b) Ampul: 1. penguraian zat. semua menggunakan reaksi kinetika (4) Uji pengaruh perubahan suhu.seperti 4. spt no. pasta. gel. penguraian zat. kadar 4. katup. (5) Uji pengaruh kelembaban.

keragaman bobot.1 2. ukuran partikel k) Tablet (normal. disintegrasi. disolusi. seperti 4. l) Ampul (isi serbuk => liofilisasi): . khusus): Normal: 1. bau. disolusi. kekerasan. susut pengeringan.1 3. penguraian zat. keragaman bobot. i) Suppositoria: 1. Penampilan. kadar zat (zat pengawet diuji seperti zat berkhasiat). Tablet efervesen: Penampilan. disintegrasi. kadar zat 4. h) Serbuk: 3. kadar zat. Penampilan. Penampilan.1. Tablet depot: Penampilan. Penampilan. susut pengeringan. pH. kekerasan. sifat meleleh. sifat tabur. Khusus: 1.1 2. disintegrasi. disintegrasi. tetes. rekonstruksi. keragaman bobot. tingtur: 1.1 3. penguraian zat.Penampilan. kekerasan. kekerasan. g) Cairan. susut pengeringan. atau susut. lembek): 1.seperti 4. Penampilan.seperti 4. Penguraian zat. ukuran partikel.susut pengeringan. daya larut. sirop. Penampilan kapsul 3. 5. Penampilan. kadar zat 5. 5. keragaman bobot. disolusi. Penampilan. kekerasan. keragaman bobot. Penampilan. rekonstruksi. disolusi.kelenturan. Penampilan. disintegrasi.Penampilan. Seperti 4. penguraian zat. kadar zat (zat pengawet diuji seperti zat berkhasiat) 4. f) Kapsul (keras. Penampilan. Penampilan. pH. penguraian zat.3. Penampilan. 5. disolusi 1. Penampilan. ukuran partikel 3. pH. penguraian zat. tambahan bobot. penguraian zat. sifat tabur. disintegrasi. kadar zat. kadar zat. rekonstruksi. penguraian zat. disolusi. keragaman bobot. j) Suspensi: 1. kadar zat. susut pengeringan.2.Penampilan.3. disolusi 1.Seperti 4. 5. Tablet hisap: Penampilan.1 3. kejernihan 3.

Sefalosporin: Cefaclor. pembesaran kelenjar prostat. Seftizoksim. Sefiksim. Sulfamethoxazole. lainnya. c. rekonstruksi. kadar zat. Miscellanous: Cinoxacin. Ampisilin. warna. coli. karena adanya batu. d. Siklasilin.com di 01:51 Tidak ada komentar: Reaksi: UAS TERAPI Jawaban Soal UAS FARMAKOTERAPI URINARY TRACT INFECTIONS (UTI) 1. Cryptococcus). Bakampisilin. 2. Nitrofurantoin. pH. Cefadroxil. kejernihan. Amikasin. Sefalosporin: Sefazolin. Jawab: UTI Uncomplicated adalah infeksi dimana tidak ada kelainan struktural / neurologik pada saluran kemih yang menganggu aliran normal dari urin dalam mekanisme/ sistem pengeluaran urin. Cepharadine. TrimetoprimSulfametaksazol. d. e. Fluconazole (Candida. Terapi Eradikatif untuk Uncomplicated UTI: a.Penampilan. Sebutkan beberapa bakteri gram positif dan negatif yang dapat menyebabkan terjadinya UTI. Cryptococcus). Cephalexin. Sefotaksim. Aminoglikosida: Gentamisin.1. Bedakan batasan UTI complicated dengan yang Uncomplicated dan berikan contoh pengobatan untuk status masing2. NB: Untuk suspensi: penampilan. Antifungi: Ampoterisin B (Candida). . Penisilin: Ampisilin (E. Proteus). Terapi Eradikatif untuk Complicated UTI: a. Pseudomonas). Coliform lainnya. Sulfisoxazole. Amoksisilin-Klavulanat. termasuk Pseudomonas aeruginosa. Staphylococci. UTI Complicated adalah hasil dari ketidaknormalan / penyimpangan saluran kemih. b. Doksisiklin. kekurangan neurologik / infeksi dari saluran normal pasien dengan penyakit dasar / yang diperoleh dari RS. Penisilin: Amoksisilin. Flucylosine (Candida. Trimetoprim. Sulfamethizole. penguraian zat. Meklosilin. Klebsiella aerogenes. penggunaan kateter yang lama. Tobramisin.seperti 4. Sebutkan beberapa bakteri yang lazim sebagai penyebab GTI. Pseudomonas aeruginosa. Tetrasiklin: Tetrasiklin. Piperasilin. Proteus mirabilis. b. Sulfonamid: Sulfacytine. Bakteri Gram Positif: Enterococci. Asam Nalidiksat. GASTROINTESTINAL INFECTIONS (GI) 1.1 3. Jawab: Bakteri Gram Negatif: Escherichia coli. Minoksiklin. Spektrum: Gram Negatif. c. Karbenisilin-Indanil Sodium (Gram negatif. Dan jelaskan 3 sifat utama kebanyakan bakteri yang dapat menimbulkan GTI. Diposkan oleh toms. pH.

Jawab: Bakteri penyebab GTI Virus: Rotavirus & Norwalk virus. Bakteri: Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Vibrio & E. coli. Parasit: Giardia lamblia, Entamoeba histolytica & Cryptosporidium. 3 sifat utama: o Kemampuan memproduksi enterotoksin o Kemampuan untuk menempel pada mukosa & menyebabkan peradangan o Kemampuan untuk menyerang secara lengkap mukosa intestinal / usus 2. Apa yang saudara ketahui tentang terapi Rehidrasi, Terapi pendukung & Antimikroba yang dapat diberikan untuk GTI. Jawab: a. Terapi cairan & elektrolit Pengobatan utama untuk semua tipe infeksi diare adalah penggantian cairan & elektrolit. Ada 2 tujuan utama dalam menangani pasien yang kehilangan cairan pada GE, yaitu Rehidrasi: penggantian cairan yang hilang merupakan pengobatan agresif dalam menangani dehidrasi Terapi pemeliharaan: penggantian terus menerus dari cairan & elektrolit setelah pasien menderita dehidrasi. Cairan dapat diberikan melalui rute oral / IV, tergantung keparahan dari cairan yang hilang & kemampuan pasien untuk mempertahankan pengambilan oral. Jika pengambilan pasien ≤ output, terapi IV direkomendasikan. Volume dari cairan yang diberikan tergantung ukuran tubuh dari individu, kehilangan kotoran, derajat dehidrasi / adanya demam. Pasien dengan dehidrasi berat bisa membutuhkan 10-20 ml/kg bolus gram normal. Cairan harus mengandung karbohidrat sebagai energi tambahan untuk mengobati hipoglikemia. Cairan IV dari KCl 20-40 mEq/l harus mengandung serum Kalium adequate setelah kekurangan dapat diatasi. Cairan mengandung ½ sendok teh garam & 8 sendok teh gula dalam 1 liter air. 4 sendok teh gula, ¾ sendok teh garam & 1 sendok teh Na2CO3 dalam segelas orange jus pada 1 liter air. Cairan ini berisi Na2CO3 & mungkin lebih baik untuk pasien hipokalemia.

b. Terapi pendukung Penggunaan obat antidiare dalam pengobatan infeksi GTI GE tergantung pada sebagian produk, agen yang menginfeksi & umur dari pasien. Antidiare seperti tinctur opium, Loperamid & Diphenil atropin dianggap aman & dapat mengurangi frekuensi BAB pada beberapa tipe dari infeksi self-limiting GE yang akut pada orang dewasa & anak2, akan tetapi obat yang memperlambat motilitas GI dapat meningkatkan durasi & keparahan penyakit sebab terjadi peningkatan waktu kontak bakteri dengan mukosa khususnya jika patogenesis dari infeksi adalah penyerangan mukosa. c. Terapi antimikroba Tidak ada obat antimikroba yang efektif untuk viral GE. Penggunaan AB untuk mengobati bakterial GE tergantung pada organisme penyebab infeksi, keparahan & kekronikan pada proses

infeksi serta efektivitas dari AB dalam mengurangi keparahan / keadaan pembawa dari penyakit karena kebanyakan infeksi GE pada pasien ambulatory adalah sel berat / telah menyebar, sehingga dengan keadaan lemah. CENTRAL NERVOUS SYSTEM INFECTIONS (CNSI) 1. Bedakan antara Meningitis dengan Enchepalitis. Jawab: Meningitis umum didefinisikan sebagai peradangan pada membran otak / spinal cord. Sedangkan Encephalitis adalah peradangan pada jaringan otak. 2. Cara membedakan diagnosis antara infeksi Bakterial dengan infeksi Fungal serta dengan infeksi Viral dalam kasus Meningitis. Jawab: Tampilan White blood cell (106/liter(mm-3)) Tipe Protein Rasio glukosa CSF/Serum Bakterial Keruh >500 Polymorphonuclear Meningkat 50% Fungal Jernih 10-500 Mononuklear termasuk limfosit dan / atau monosit Meningkat Bervariasi Viral Jernih 10-500 Mononuklear termasuk limfosit dan / atau monosit Normal / meningkat 50% CT-scan & MRI adalah diagnostik untuk mendeteksi pembengkakan otak.

3. Prinsip utama yang harus diperhatikan dalam seleksi terapi Meningitis. Berikan contoh obat2 pilihannya. Jawab: a. Pencapaian & pemeliharaan konsentrasi obat AB yang cukup dalam CSF / cairan ekstraselular otak. b. Aktivitas mikrobiologi AB saat dalam CNS c. Penurunan / merubah respon peradangan dalam CNS d. Secara efektif menangani komplikasi yang dihasilkan dari infeksi. Obat2 pilihan: Usia Obat Neonatal (hingga 2bulan) 1. Ampisilin / Penisilin + Aminoglikosida 2. Sefotaksim; Seftriakson; Seftisoksim; Sefuroksim; Vankomisin; Nafsilin Bayi & Anak (2 bulan – 10 tahun) Ampisilin & Kloramfenikol / Sefotaksim; Seftriakson; Sefuroksim; Penisilin Remaja & Dewasa (>10 tahun) Penisilin / Ampisilin / Sefotaksim; Seftriakson; Seftazidim Adanya trauma / pembedahan 1. Penisilin + Nafsilin + Aminoglikosida 2. Sefotaksim; Seftriakson; Seftazidim; Vankomisin (alergi Penisilin) VIRAL DESEASE Non HIV dan HIV 1. Berikan contoh obat2 antiviral pilihan untuk:

a. Herpes simplex: Acyclovir b. Hepatitis kronik: Interferon α-2b c. Infeksi Cytomegalovirus: Ganciclovir / Foscarnet d. Infeksi Varicella zoster: Acyclovir, untuk yang resisten Acyclovir gunakan Foscarnet 2. Jelaskan mekanisme kerja farmakodinamik & ES yang lazim timbul pada pemberian Interferon Alpha. Jawab: Interferon manusia adalah senyawa alami yang muncul dengan komplek antiviral, menstimulir pembentukan daya tahan tubuh & kerja antineoplastik. Mempunyai 3 kelas, yaitu Alfa, Beta & Gamma. 3 bentuk Interferon alfa, yaitu alfa-2a (Roferon-A), alfa-2b (Intron A) & alfa-n3 (Alferon N). Mekanisme dari kerja Antiviral: Interferon alfa mempunyai efek ganda dalam siklus replikasi virus. Setelah berikatan dengan membran sel inang, obat memblok: - Masuknya virus kedalam sel - Sintesis dari RNA virus pesan & protein virus - Perkumpulan & pelepasan virus

Farmakokinetik: Tidak diabsorpsi secara oral, tapi pemberian secara parenteral (IM & SM). Tingkat plasma obat 4-8 jam. Inaktivasi muncul secaracepat pada cairan tubuh & jaringan. Efek samping: Menyebabkan sindrom seperti flu dengan ciri2: - Demam - Fatigue - Mialgia - Sakit kepala - Menggigil Gejala dapat diminimal dengan terapi yang berkelanjutan. Beberapa gejala (demam, sakit kepala, mialgia) dapat dikurangi dengan Asetaminofen. Beberapa ES lain: anoreksia, kehilangan berat badan, diare, sakit perut, dizziness & batuk. Pemberian lama / dosis tinggi dapat menyebabkan menekan sumsum tulang; neurotoksik termasuk fatigue & depresi; rambut rontok; kegagalan fungsi tiroid & mungkin kardiotoksisitas. 3. Jelaskan persamaan & perbedaan antara HIV Infection dengan AIDS. Jawab: HIV (Human immunodeficiency virus) adalah mikroba yang AIDS. HI V menyebabakan defisiensi imun dengan membunuh limfosit CD4 T (sel CD4 T) yang dibutuhkan untuk respon imun. Hasil dari defisiensi imun, pasien mempunyai resiko infeksi & neoplasma. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu sindrom pada individual yang positif HIV serta: - Jumlah sel CD4 T dibawah 200 sel/µl, atau - Mempunyai penyakit yang menyertai, yaitu Pneumocystis carinii pneumonia, Cytomegalovirus

retinitis, Disseminated histoplasmolisis, TBC & Kaposi‟s sarcoma. 4. Jelaskan tentang klasifikasi obat Antiretroviral & berikan regimen pilihan untuk Multidrug therapy awal untuk infeksi HIV. Jawab: Klasifikasi Obat Antiretrovirus: a. Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI) Didanosin = Videx Lamivudin = Epivir Stavudin = Zerit Zalcitabine = Hivid Zidovudin = Retrovir b. Non-nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (Non-NRTI) Delavirdin = Rescriptor Nevirapin = Viramune c. Protease Inhibitors Indinavir = Crixivan Nelfinavir = Viracept Ritonavir = Norvir Saquinavir = Invirase Pilihan untuk Multidrug therapy awal untuk infeksi HIV: a. Regimen pilihan: 1 PI + 2 NRTI Ke-3 obat tsb harus mengandung 1 PI & 2 NRTI sehingga memberikan manfaat klinik & mereduksi plasma HIV RNA dibawah batas aman pada sebagian besar pasien yang diterapi dengan obat ini. Protease Inhibitors Kombinasi NRTI Indinavir Zidovudin + Didanosin Nelfinavir Zidovudin + Zalcitabin Ritonavir Zidovudin + Lamivudin Saquinavir Stavudin + Lamivudin Stavudin + Didanosin b. Regimen alternatif: 1 NNRTI + 2 NRTI Ke-3 obat harus mengandung 1 NNRTI & 2 NRTI dapat menurunkan plasma HIV RNA pada batas tidak aman diberbagai pasien, tapi efek antiviral mungkin tidak terus menerus seperti pada regimen pilihan. NNRTI NRTI Nevirapin idem dengan atas Delavirdin SEXUALLY TRANSMITTED DISEASES (STDs) 1. Berikan 3 contoh penyakit yang tergolong STDs disertai obat2 pilihannya. Jawab: a. Chlamydia Trachomatis Infections Urethris, Cervicitis, Proctitis & Conjunctivitis: Azithromisin (oral) / Doksisilin (oral) Kehamilan: Eritromisin (oral)

Kerusakan saluran limfa mungkin terjadi. uretra. venereum & Opthalmia Neonatal. Gonococcal Infections Disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae Gejala pada pria: rasa terbakar pada saat urinasi & gangguan pus-like pada penis. Luka mungkin terjadi pada kulit. T. pallidum masuk kedalam tubuh melalui penetrasi membran mukosa dari mulut. konjungtivitas. nafsu makan berkurang & malaise) adalah khas. luka primer. Katup jantung & aorta mungkin rusak. Artritis. . vagina / uretra dari penis. Menyerang sebagian besar organ. paralisis & gejala psikiatrik lainnya. primer. sifilis sekunder terbentuk. sakit kepala. Cervical. sehingga berpengaruh pada sterilitas. merah. ovarium & saluran fallopian) dapat terjadi. pallidum melalui aliran darah. meskipun T. Gejalanya sebagai hasil dari penyebaran T. Chlamydia Trachomatis Infections Disebabkan oleh Chlamydia trachomatis. artritis & jarang meningitis & endocarditis. Infeksi otak-Neurosifilis-adalah umum & menyebabkan kehilangan intelegensia. 2-6 minggu setelah chancre sembuh. Setelah masa inkubasi 1-4 minggu. Luka kulit & gejala seperti flu (demam. faringeal & Optalmia: Seftriakson (IM) Bacteremia. Setelah beberapa minggu chancre sembuh secara spontan. Menyebabkan infeksi pada saluran kelamin. Pneumonia): Eritromisin (oral / IV) Limfomagranuloma: Doksisiklin (oral) b. terbentuk ditempat masuknya. Berikan gejala klinik untuk salah satu penyakit yang anda pilih. Meningitis: Seftriakson (IV) dengan / tanpa Sefiksim (IV) Opthalmia Neonatal: Seftriakson (IM) / Sefotaksim (IM/IV) c. pallidum masih ada.Infeksi neonatal (Opthalmia. Syphilis Disebabkan oleh Treponema pallidum Karakteristik: Sifilis terbentuk dalam 3 tahap. Syphilis Awal: Benzatin penisilin G (IM) Neurosifilis: Penisilin G (IV) Congenital sifilis: Penisilin G (IM/IV) / Prokain Penisilin G (IM) 2. Gejala sifilis sekunder ini dapat hilang selama 4-8 minggu-tapi dapat muncul kembali dalam waktu lebih dari 3-4 tahun kedepan. Gonococcal Infections Uretral. namun infeksi serius dari struktur reproduksi wanita (vagina. yang disebut chancre. Pembesaran kelenjar limfa & nyeri mungkin terjadi. proctitis. c. Pada wanita biasanya asimptomatis. protruding & sangat nyeri. b. limfomagranuloma. Chancre ini keras. Bacteremia dapat terjadi pada kedua jenis kelamin ini. tulang & mata. Rectal. sekunder & tersier. Sifilis tersier terbentuk 5-40 tahun setelah infeksi dini. servik. menyebabkan lesi pada daerah mukosa. Jawab: a.

diare & muntah. lemah. Hiperfragmentasi pada kulit & membran mukosa. Jawab: a. Dexamethasone Suppression Tests Pengobatan: ada dua tipe pengobatan. lemah otot. Gejalanya meliputi obesitas. kumis pada wanita. bersisik. GI: mual. nyeri abdominal. takikardia Metirapon Menghambat kortisol dengan memblok tahap akhir dari pembentukan kortisol Sedasi. Diagnosis: Screening test: ditemukannya ikatan tinggi kortisol dengan corticosteroid-binding globulin (CBG). penurunan daya ingat. osteoporosis. jerawat. Manifestasi klinik: non spesisik: anoreksia. diare. Pengobatan dengan menghambat sekresi pituitari dari ACTH 2. sedasi Bromokriptin Menghambat sekresi ACTH Mual. batu empedu. berat badan bertambah. sakit kepala Aminoglutetimid Menghambat pembentukan kortisol dengan memblok konversi kolesterol menjadi pregnenolon Letargi. muntah. muntah. Penyakit Addison Adalah ketidakcukupan/kekurangan adrenokortikal. ruam kulit. hipotensi. Bedakan terminologi medik antara Sindrom Cushing dengan Penyakit Addison. ACTH Stimulation Test . hipertensi Mitotan Destruksi sel adrenokortikol pada sintesis kortisol Anoreksia. Diagnosis: Screening test: kadar ACTH tinggi dalam plasma. hepatoksisitas b. renal calculi. yaitu: 1. sakit kepala. lemah & berat badan menurun. ginekomasti. hipotensi. Dan jelaskan tindakan terapi untuk masing2 kasus tsb. perubahan psikologis.ADRENOCORTICAL AND OTHER HORMONAL DYSFUNCTION 1. ketidakteraturan menstruasi. mual. mual. merupaka penyakit yang berbahaya dan dapat menyebabkan kematian dengan cepat apabila tidak diobati. anoreksia. moonface. Pengobatan dengan menghambat sekresi adrenokortikal dari kortisol Obat Mekanisme kerja ES Siproheptadin Menghambat sekresi ACTH Merangsang nafsu makan. hipertensi. Sindroma Cushing Adalah manifestasi klinik dari peningkatan yang tidak tepat dan kronis dari level serum kortisol. lemah. garis2 pada kulit. hepatoksisitas Ketokenazol Menghambat pembentukan kortisol dengan memblok konversi kolesterol menjadi pregnenolon Mual. letargi. nyeri bagian belakang. ruam kulit.

biasanya pasien akan stabil setelah 24jam & pada saat itu dosis dapat diturunkan menjadi 50 mg IV setiap 6 jam. Dosis perawatan Hidrokortison adalah 20-30 mg/hari paling lama 4 / 5 hari.75 0. dengan /tanpa penambahan penggantian mineralkortikoid. Addisonian Crisis Berdasarkan penggantian glukokortikoid.Kadar plasma ACTH: level ACTH biasanya meningkat sampai ≤55 pmol/liter (250pg/ml) pada pasien dengan kekurangan adrenokortikol. .5 mg/hari. Pengobatan: a. Nama t ½ biologi Dosis ekivalen (mg) Kerja singkat Hidrokortison Kortison asetat 8-12 8-12 20 25 Kerja sedang Prednison Prednisolon Metilprednisolon Triamsinolon 18-36 18-36 18-36 18-36 5 5 4 4 Kerja lama Deksametason Betametason 36-54 36-54 0. Hidrokortison 100 mg IV setiap 6 jam. Pemberian IV & glukosa direkomendasikan untuk merawat dehidrasi. shock & hipoglikemi.60 b. Prednison dapat dijadikan sebagai alternatif dengan dosis 5-7. Terapi perawatan Hidrokortison 15-30 mg/hari dibagi dalam 2 / 3x/hari dengan dosis yang lebih besar pada pagi hari.

2. penurunan BB walau nafsu makan meningkat. Litium. BB bertambah walau nafsu makan berkurang. Radioaktif Iodin. lid lag. & lemah. edema. cabai alami (mengandung Tiosianat & Goitrogen lainnya) b. Bedakan pula terminologi medik dan prinsip terapi yang dipilih antara: a. Resorsinol. Antagonis Adrenergik. Ipodat. Iodida. kelembaban kulit Pelebaran kaki&tangan. pretibial myxedema. Kolestipol. panas. letargi. dismenorhea Extremitis Pretibial myxedema. kelabilan emosi. Thioamid / propanolol preoperasi sama penurunan gejala). Sulfonilurea. menurunkan keringat. kulit terasa dingin & kering. Hiperparatiroidisme dengan Hipoparatiroidisme . Pembedahan (Iodida. mudah capek Kepala Rambut tipis. tremor Lemah. depresi. lid retraction. kuku rapuh & berwarna kuning Neuromuskular Lelah. berkeringat. penipisan dari aspek lateral pada mata Mata Pandangan kabur. Hipertiroidisme dengan Hipotiroidisme Jawab: Sistem tubuh Hipertiroidisme Hipotiroidisme Umum Intoleransi pada panas. paresthesias. Amiodaron. Kelopak mata membengkak Leher Pembesaran daerah goiter dengan /tanpa getaran Goiter pada hipotirodisme primer tidak ditemukan pada gangguan pituitari Kardiak Palpitasi. Fenilbutazon. meningkatkan detak & tekanan sistolik Detak jantung lemah. Iodida. lemah. Intoleransi pada dingin. PAS. menurunkan energi & meningkatkan kebutuhan tidur Prinsip terapi: Penyakit Pengobatan Hipertiroidisme Thioamid. rambut rontok serta suara lemah. hiperdefekasi Konstipasi Genitourinary Amenorhea / penurunan siklus haid Menorhagia. dispnea. keterlambatan reflek tendon dalam Emosi Gugup. rapuh & jarang. Kontras media Iodin Hipotiroidisme Kolesteramin. pembesaran kardiak. Nitroprusid. insomnia & pemendekan siklus tidur Ketidakstabilan emosi. tekstur halus Rambut kering. Sulfonamid. iritabilitas. nyeri prekordial GI Diare.

Kalsitonin. Hormon B kemudian bekerja pada hipotalamus & pituitari untuk menekan pembentukan faktor X dan hormon A. Berikan salah satu contoh hormon2 apa yang saling berkaitan. β-bloker. Dialisis. Mitramisin. Diuretik (Furosemid). mual & muntah) & manifestasi neurologik dari lemah. Indometasin. b. Na-pospat. Bisphospatase.a. oleh sebab itu penekanan pembentukan hormon B itu sendiri. Hiperparatiroidisme Hiperparatiroidisme primer adalah sebuah karakteristik gangguan endokrin dengan kelebihan ketidakkontrolan pembentukan hormon paratiroid (PTH) dari adenomatous (keterlibatan kelenjar tunggal. Jawab: Mekanisme umpan balik negatif Faktor X merangsang pembentukan hormon A. D untuk meningkatkan absorpsi Ca. cacat mental. D (Ergokalsiferol & Kolekalsiferol) 3. Glukokortikoid. dimana rangsangan dilakukan oleh organ target. . Hiperkalsiuria terjadi ketikaawal ginjal untuk reabsorpsi Ca adalah berlebih. 80%). Patogenesis: kekurangan produksi hormon PTH menyebabkan: Penurunan reasorpsi tulang Hiperpospatemia & hipopospaturia Penurunan absorpsi intestinal dari Ca Penurunan level dari aktif 1-25-OH-D3 Hipokalsemia & hiperkalsiuria Alkalosis metabolik dari penurunan eksresi bikarbonat Diagnosis: Hipoparatiroidisme pasti terinfeksi dengan hipokalsemia. ketidakterdeteksinya level dari PTH & sejarah operasi leher sebelumnya. simetidin. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Mekanisme Umpan Balik Negatif dalam sistem hormonal. hiperpospatemia. Etidronat di-Na. Pengobatan: pemberian PTH secara oral disertai suplemen Ca & Vit. hiperplastik (keterlibatan kelenjar ganda.99 mmol/liter (29 mg/dl) Tanda & gejala: GI (anoreksia. Banyak gerak. sehingga menyebabkan pembentukan Hormon B. 20%) / malignan (<2%) kelenjar paratiroid. Estrogen. Pengobatan: Hidrasi. keterlambatan reflek tendon dalam. CaCO3 & Vit. Serum Ca ≥ 2. Progestin. Hipoparatiroidisme Penyebab utama dari Hipoparatiroidisme adalah pasca operasi / pembesaran anterior leher. Patogenesis: kelebihan pembentukan PTH disebabkan oleh hiperkalsemia & hipopospatemia melalui mekanisme yang tergambar. penggantian kekurangan elektrolit.

Contoh mekanisme umpan balik negatif .

Akbatnya terjadi respon yg berlebihan atau efek toksik pd dosis yg biasa diberikan berdasarkan perhitungan luas permukaan tubuh b.PEMILIHAN TERAPI 1. Contoh: • Fase biotransformasi hati (terutama glukuronidasi dan jg hidroksilasi) yg kurang • Fase ekskresi ginjal (filtrasi glomerulus & sekresi tubuli) yg hanya 60-70% dari fase ginjal dewasa • Kapasitas ikatan protein plasma (terutama albumin) yg rendah • Sawar darah otak dan sawar kulit yg belum sempurna Dg demikian diperoleh kadar obat yg tinggi dlm darah & jaringan. Disamping itu. wanita hamil & menyusui a. Lansia . terdapat peningkatan sensitivitas eseptor terhadap obat. Bayi Pada usia ini perbedaan respon yg utama disebabkan belum sempurnanya berbagai fungsi farmakokinetik tubuh. lansia. Perbedaan karakter fisiologis yang berpengaruh kepada respon obat bagi pasien bayi.

Menurunkan aliran darah ginjal .Meningkatkan lemak tubuh .Meningkatkan pH lambung .Menurunkan output kardiak • Metabolisme obat . Ada beberapa obat dapat menurunkan metabolisme hati selama kehamilan.Menurunkan sekresi tubular . aliran darah ginjal menjadi ganda.• Absorpsi obat: . karena waktu transit intestinal untuk meningkatkan.Menurunkan albumin serum .Menurunkan jumlah nefron c. Wanita hamil Perubahan pada ginjal.Menurunkan aktivitas enzim hati • Ekskresi obat . Karena transit lebih lama. Wanita menyusui 1) Sekresi obat ke ASI Pd umumnya banyak obat yg disekresikan kedalam ASI dg kadar : pd ASI < plasma Keberadaan dalam ASI sukar dideteksi karena kadarnya rendah Pasien dg gagal ginjal : konsentrasi dlm ASI >> Beberapa obat disekresi dalam bentuk tidak aktif 2) Konsentrasi obat mencapai ASI tergantung pada Dosis obat Half life obat Ikatan dg protein plasma Berat molekul Kelarutan didalam lemak Perbedaan pH antara plasma dan ASI 3) Pengaruh obat pada proses laktasi (pembuatan ASI) Dapat meningkatkan atau menurunkan produksi ASI . sehingga LFG menurun. akibatnya clearance obat dipecepat.Menurunkan kecepatan aliran darah . Motilitas usus juga menurun.Menurunkan motilitas GI .Menurunkan LFG .Menurunkan permukaan absorpsi .Menghambat waktu pengosongan lambung • Distribusi obat . Pada trimester.Menurunkan total air tubuh . maka dibutuhkan waktu tambahan bagi obat untuk di absorpsi. liver & saluran GI. d.Menurunkan massa hati .Menurunkan massa tubuh .Menurunkan aliran darah hati .

Obat2 yang perlu perhatian / tidak harus diberikan bagi pasien bayi. depresi nafas hipertermia). Lansia . Bayi Obat ES Androgen Pubertas prematur pada pria. lansia. menurunkan tinggi pada remaja dari premature epiphyseal closure Aspirin & salisilat lain Intoksitas dari overdosis akut (asidosis. wanita hamil & menyusui a.Meningkatkan ASI Metoklopramid Oxytocin Menurunkan ASI Bromocriptin Levodopa Diuretik Alkohol 2. Reye‟s sindrom pada anak dengan chickenpox / influenza Kloramfenikol Gray sindrom (neonates & infant) Glukokortikoid Menghambat pertumbuhan dengan penggunaan jangka lama Fluorokuinolon Tendon rupture Heksaklorofen Toksisitas CNS (infant) Asam nalidiksat Erosi cartilage Fenotiazid Kematian mendadak pada infant Sulfonamide Kernikterus (neonatus) Tetrasiklin Kuning pada gigi b.

2. Busulfan. Warfarin .Penghambat ACE . Tetrasiklin. Wanita hamil . Asam valproat . Litium. Epidemiologi: a.Obat lain: Alkohol (dosis tinggi). Metrotrexat .Antiseizure: Karbamazepin.c. Trimethadion. Androgen d.Derivate Vit. Saluran kemih mengandung uretra. A . Wanita menyusui: Obat yg biasa digunakan dan hendaknya dihindari oleh wanita yg sedang menyusui Amiodaron Kandungan iodine dapat menyebabkan hipotirodisme neonatus Aspirin Resiko teoritis sindrom Reye Barbiturat Mengantuk Benzodiazepin Latargi Karbimazol Gunakan dosis efektif terendah untuk menghindari hipotiroidisme Kontraseptif (kombinasi oral) Dapat mengurangi produksi air susu dan menurunkan kandungan nitrogen dan protein Obat sitotoksik Masalah yg mungkin timbul adalah penekanan imun dan neutropenia Efedrin Iritabilitas Tetrasiklin Risiko teoritis perubahan warna gigi Diposkan oleh toms. Patogenesis: mikroorganisme menyerang melalui 2 cara yaitu uretra dan penyebaran .Hormon seks: Estrogen. Isotretinoin. b. Vit. Sikloposfamid. Kokain (dosis tinggi). Talidomid. UTI adalah beberapa kondisi yang berhubungan dengan salah satu dari bagian saluran kemih. ureter & ginjal.Antikanker / Immunosupresan: Aminopterin. dimana terdapat mikroorganisme dalam jumlah yang signifikan. Wanita: sindrom “honeymoon” cystitis & pyelonephritis pada kehamilan serta bakteriuria. kandung kemih. Fenitoin. kelenjar prostat. Pria: kelainan bawaan pada anak laki2 dan berkembang menjadi hipertropi prostat serta gangguan aliran kencing pada pria dewasa.com di 01:50 Tidak ada komentar: Reaksi: RANG TERAPI 2 URINARY TRACT INFECTIONS (UTI) 1. Progestin. A: Etretinat. 3.

Trimetoprim-Sulfametaksazol . Asam Nalidiksat. yaitu: a. Nitrofurantoin. Gangguan ginjal atau faktor komplikasi lain. Pada keadaan infeksi akut. Infeksi nosokomial d. demam. Enterococcus: Ampisilin. Absorpsi GI atas baik yang tidak merubah flora usus besar d. Trimetoprim-Sulfametaksazol. frekuensi. Pada keadaan kronik. Pada rektal menyatakan pembesaran. Hematuria & proteinuria dapat terdeteksi pada sekitar 10-15% pasien khususnya pada beberapa hari pertama. Kecilnya daya resisten 8. Kriteria yang diperlukan untuk antimikroba ideal yang diberikan untuk UTI: a. muntah. Asam Nalidiksat. Pasien dapat mengeluhkan sakit area suprapubic. Infeksi yang berulang atau kambuhan b. Urinalisis dengan beberapa bakteria 6. Perubahan minimal dalam flora vagina f. leukositosis. Upper tract infection c. Biaya rendah h. Presentasi dari prostatitis adalah hal yang umum ditemukan pada Lower UTI. Gejala urinnya yang nyata: urin menjadi keruh. Tingkat urinari yang tinggi dengan filtrasi glomerulus & sekresi e. Diagnosis: ada 5 gejala klinik umum pada pasien kultur urinari positif. urgensi & samar2 terasa tidak enak pada bagian perut. e. Klasifikasi UTI berdasarkan presentasi klinik: a. 7. Nitrofurantoin. bakteria & hematuria terjadi pada 50% pasien & Leukositosis. Dosis sekali sehari c. Lainnya: Asam Nalidiksat. Nyeri bagian belakang c. Trimetoprim-Sulfametaksazol. kekuatan kelenjar prostat. mual. d. Kultur: a. kelemahan costovertebral angle (CVA). Proteus: Sefalosporin. TrimetoprimSulfametaksazol. b. Urinalisis menyatakan Pyuria (≥ 5-10 pada sel darah putih per high power field). c. b. Urinalisis menampakkan bakteria. demam hingga 390C & menggigil. pasien mungkin mengeluhkan pada belakang lumbosakral. Lower Tract Infection: onset yang mendadak termasuk disuria (sakit pada waktu urinasi). pyuria. Urinalisis dengan >15 WBC/high-power field d. bagaimanapun juga demam. Mencakup gram negatif yang baik g. Upper Tract Infection:keluhan non spesifik mulai dari sakit kepala. Urinalisis dengan >5 sel darah merah/HPF e. gelap & berbau busuk. nyeri pada perineal & kerusakan uretra mungkin terjadi. perih. 5. Escherichia coli: Sefalosporin. WBC pada kebanyakan pasien.hematogenous melalui ginjal. Reaksi alergi yang rendah b. Klebsiella spp: Asam Nalidiksat. 4. Sejarah dari UTI b. Antimikroba In Vitro (Tes Sensitivitas): a.

9. iritasi GI. 10. Gejala utama dari infeksi akut GI adalah diare. Masa inkubasinya lebih singkat dari norwalk virus yaitu 4-48 jam. di sekolah & kampus. Trimetoprim. Enterobacter. dengan durasi dari kesakitan dari 5-8 hari. Virus dapat diketahui .s TMP/SMX ½ . Staphylococcus & Candida seperti patogen lainnya. coli hanya sekitar 30% dari UTI nosokomial dengan Pseudomonas. Virus diekskresi melalui feses. 13. naik kapal. pada dosis dari satu tablet kekuatan ganda 2x sehari. kelemahan pada pasien & bayi disebabkan kekurangan cairan & elektrolit yang membutuhkan dirawat di RS. Penyebarannya melalui rute fecal-oral. Karbenisilin & Siprofloksasin memiliki konsentrasi yang tinggi pada prostat.s 14. GASTROINTESTINAL INFECTIONS (GI) 1.h. Gejalanya demam & muntah. Profilaksis & Suppresif Agen untuk UTI: Obat Dosis Komentar Methenamine mandelat 1 gr q. Rotavirus. Methenamine hipurat 1 gr b. E.d Sama spt diatas Nitrofurantoin 50-100 mg q. 11. Pasien harus dirawat selama 4-6 minggu. dehidrasi. Trimetoprim yang dapat mencakup gram negatif adalah obat pilihan pertama pada infeksi prostat. Doksisiklin. Norfloksasin dapat menyembuhkan secara aman & terapi efektif dari UTI nosokomial. Golongan Kuinolon mungkin berperan penting dalam pengobatan dari infeksi nosokomial. Antiinfeksi umum yang menunjukkan keefektifannya sebagai agen profilaksis adalah Trimetoprim/Sulfametaksazol. Obat alternatifnya adalah menggunakan Sefalosporin Generasi III & Penisilin spektrum luas.i. Klebsiella.1 tab q. Enterococcus. Oleh karena itu. Masa inkubasi sampai 1-3 hari. Norwalk virus terjadi pada saat berkemah. 2. Obat pilihan untuk UTI nosokomial adalah kombinasi regimen dari Aminoglikosida (Gentamisin) & Ampisilin. Doksisiklin mungkin tidak mencakup gram negatif & juga Karbenisilin & Siprofloksasin biasanya diberikan pada organisme yang sudah resisten.5. dimana tidak dapat berpenetrasi dengan baik pada kelenjar prostat.d Membutuhkan pH urin sampai <5. dapat menyebabkan disuria. KI pada gangguan ginjal. Serta biasanya dikombinasi dengan Sulfametaksazol. 3.i. Serratia. 12. Nitrofurantoin.h. Methenamine dll. perawatan di rumah & setelah ingesti dari kontaminasi air atau dari ikan. dengan durasi dari kesakitan 1-2 hari.

Kejadian infeksi GI dari Campylobacter mungkin seringnya terinfeksi Salmonella / Shigella. S. coli. Ada 5 tipe dari organisme yang mungkin menyebabkan diare melalui 7 mekanisme. Kemampuan sel2 pada darah lumen memiliki sifat intraluminal fagositosis e. sonnei (terjadi pada negara industri). S. Peningkatan beresiko menurunkan produksi asam lambung & gangguan . choleraesuis. Menular dari orang ke orang melalui rute fecal-oral. enterohemorhagik E. coli (EIEC) yang menyebabkan peradangan kolitis. 4 tipe dari Shigella: S. Host defense pada GTI: a. meskipun dapat terjadi pada semua musim. Campylobacter bentuk spiral dari gram negatif menimbulkan efek sistemil sama seperti GI. Meskipun ada >2000 sterotipe dari Salmonella. Residen dari mikroflora Antagonis / Antagonis H2 menurunkan inokulum yang dibutuhkan untuk memproduksi secara klinik GTI yang penting dari organisme. Masa inkubasinya bervariasi dari 24 jam sampai 10 hari. boydii & S. & E. diare biasanya mereda setelah 3-7 hari. C.didalam feses selama 72 jam setelah onset dari kesakitan. enteritidis). Bakteri. coli (EHEC) dimana disebabkan diare hemorhagik dengan memproduksi verotoksin. dysenteriae (penyebab utama & tidak biasa ditemukan pada negara berkembang sejak beberapa abad terakhir ini). Campylobacter sering diimplikasikan sebagai penyebab dari diare-perjalanan. kebanyakan kasus dari Salmonella-induksi GI disebabkan oleh S. coli (EPEC). Enterik Adenovirus. kuda. Gejala terjadi dari 6-48 jam setelah terkontaminasi makanan / air. Masa inkubasi dari 2 sampai 20 hari.domba. sapi. Daya tahan tubuh = gerakan peristaltik c. C. Penyebaran melalui rute fecal-oral. S. Yersinia enterocolitica adalah bentuk lain dari gram negatif organisme yang menyebabkan GTI pada anak & dewasa. Antibiotik (khususnya spektrum luas) mengurangi flora normal dari saluran intestinal. Calcivirus & Astrovirus juga ditemukan pada sebagian pasien dengan diare. typhi & S. 4. enteroinfasiv E. Shigella adalah gram negatif bentuk batang yang diketahui menyebabkan GTI pada manusia yang menuju pada disentri. enteritidis menyerang 28% dari pasien pada 1045 rawat inap yang mengidap Diabetes yang memakai insulin / hipoglikemik oral sehingga meningkatkan resiko dari infeksi. coli enterotoksigenik (ETEC). kucing & anjing. coli adalah gram negatif bentuk batang. S. S. coli yang memproduksi diare dengan kolonisasi. Spesies patogeniknya yaitu C. newport / S. flexneri (terjadi pada tahun 1920an & 1930an). anatum & sebagai hasil dari kontaminasi makanan / air yang terdapat dalam rumah. jejuni. Salmonella adalah basil gram negatif dari famili Enterobacteriaceae & mewakili 3 sterotipe utama (S. yang menyebabkan diare dengan organisme enteroadherent. Lainnya Enteropatogenik E. Sekresi imunoglobulin A / produksi Imunoglobulin A f. 3 dari mekanisme ini meliputi tahan panas (LTEC) & 2 tipe dari Enterotoksin stabil terhadap panas (STa & STb) ditemukan dalam E. felis. Organisme diisolasi dari berbagai jenis hewan termasuk babi. Keasamaan lambung = lambung yang asam dapat menolong secara preventif b. enteritidis. Gejala utama. Sakit yang disebabkan oleh virus disebut “winter vomitting disease” indikasi muntah & insiden musiman. komunitas / institusi. Kontaminasi dari pasteurisasi susu dengan Salmonella-infeksi susu. Kontaminasi telur / produk yang terbuat dari telur. 5. Sekresi dari mukus = pencernaan & enzim2 d. E.

yaitu memulihkan sel2 yang berada dalam keadaan hipersekresi ke keadaan normal kembali. obat ini banyak digunakan pada diare akut. CENTRAL NERVOUS SYSTEM INFECTIONS (CNSI) 1. 8. Artritis f. Resisten Salmonella menggunakan Ampisilin (3-81%). Aminoglikosida oral / Siprofloksasin Vibrio TMP/SMX Siprofloksasin / Tetrasiklin hidroklorida 10. Kloramfenikol (0-65%) & TMP-SMX (0-76%). Maka. kehilangan berat badan. keluarga / kontak lain. 9. Tetrasiklin (11-91%) & TMPSMX (0-55%). 7. Bismuth subsalisilat: dengan membentuk suatu lapisan pelindung untuk menutup luka2 di dinding usus akibat peradangan. Gejala klinik: a. Diare b. Mekanisme kerja dari antidiare: a. Fecal leukocytes c. Resisten Shigella biasanya menggunakan Ampisilin (7-87%). Resisten Antimikroba Multiresisten Salmonella. Kaolin-Pectin: sebagai adsorben toksin pada diare. b. ETEC diketahui telah resisten Ampisilin. Ampisilin / Siprofloksasin ETEC TMP/SMX Siprofloksasin / Doksisiklin EPEC Aminoglikosida oral EIEC Ampisilin TMP/SMX Campylobacter Eritromisin Siprofloksasin / Tetrasiklin hidroklorida Pseudomonas Aminoglikosida oral Aeromonas/Plesiomonas TMP/SMX Tetrasiklin hidroklorida. Loperamide: mampu menormalisasi keseimbangan resorpsi-sekresi sel2 mukosa. Kekurangan elektrolit: hipokalemia & hiponatremia. Vasculitic rashes e.lambung serta kesakitan perut biasanya diakui sebagai komplikasi dari DM. rawat inap & tampilan serta kualitas dari feses dapat mempengaruhi etiologi. Tetrasiklin & TMP-SMX. Tetrasiklin (8-48%). AB Pilihan untuk Bacterial GE Agen Kausatif Pilihan Obat Obat Alternatif Shigella TMP/SMX Tetrasiklin hidroklorida. Shigella & ETEC telah berkembang pada negara berkembang. Fever (demam) d. Patogen pada Infeksi CNS: Bacterial meningitis • Bayi prematur & baru lahir . c. 6. Bacteremia Hati2 pada: perjalanan. penggunaan Antibiotik.

pneumoniae S. pneumoniae Enterobacteriaceae Listeria monocytogenes S. pneumoniae N. meningitidis Staphylococci S. coli Grup B streptococci Listeria monocytogenes Enterobacteriaceae lainnya Streptococcus faecalis Streptococcus pneumoniae Staphylococci Haemophilus influenzae Neisseria meningitidis S.• Bayi & anak2 • Dewasa • Geriatri • Adanya trauma / pembedahan E. pneumoniae Staphylococcus aureus Enterobacteriaceae Fungal meningitis • “Normal” host .

Bakteremia dengan pertahanan intravaskular d. Serangan meningeal e. sinusitis. Pertahanan bakterial & replikasi dengan CNS f. Patogenesis: Pada neonatus mekanisme pertahanan tubuh belum terbentuk & terdapat kekurangan pada fungsi dari leukosit. Produksi dari tempat peradangan subarachnoid Otitis media. biasanya dari kolonisasi nasofaringeal b. Imunoglobulin A & IgM. Splenectomy. Viral meningoencephalitis • Bayi baru lahir • Imunocompromised host Herpes simplex Herpes zoster Kerusakan otak • Umum • Adanya trauma / pembedahan • Imunocompromised host Streptococci Mixed anaerobes Enterobacteriaceae S.• Imunocompromised host Cryptococcus neoformans Coccidioides immitis C. Sel inang memperoleh dari organisme baru. infeksi gigi & mastoiditis adalah kondisi predisposisi pada meningitis. Translokasi dari organisme melewati jaringan mukosa lokal c. Tahapan inisiasi bakterial meningitis: a. Penyakit dasar / terapi imunosupresif dapat meningkatkan resiko meningitis. neoformans C. immitis Candida albicans Aspergillus spp. . DM & alcoholism meningkatkan resiko infeksi karena rusaknya fungsi leukosit. aureus Mixed anaerobes Enterobacteriaceae Nocardia asteroides 2.

Penisilin / 2. Kegagalan banyak obat untuk medeteksi tingkat CNS. Sifat fisik sehingga suatu AB dapat memiliki sifat penetrasi yang baik kedalam CNS/SSP: a. 4. Afinitas relatif untuk air & lemak (derajat ionisasi & kelarutan dalam lemak dari bentuk tidak terion) b. 3. 5. sakit kepala & fotofobia. tidak nafsu makan. Nafsilin Alergi Penisilin: Vankomisin + Kloramfenikol . Transpor media pembawa (biasanya tidak penting untuk AB) Derajat ionisasi tergantung dari karakteristik obat pada plasma pH. muntah. Gejala klinik yang umum adalah letargi. jamur / bakteria. anak & dewasa gejala lebih indikatif dari peradangan meningeal. Kekakuan nuchal adalah klasik ditemukan pada peradangan meningeal. reflek meningkatkan tekanan intrakranial / peradangan otak. iritabilitas. sianosis / hipotermia. Gejala lain yaitu mual. Gangguan syaraf & konvulsi / koma muncul pada 1-3 pasien. Komplikasi: pembengkakan otak. meskipun kemampuan mereka melewati barier adalah sudah dapat membersihkan aliran obat dari CSF. Beberapa Penisilin & Sefalosporin diketahui memliki derajat sekresi tubular yang berkontribusi pada eliminasi mereka sendiri. Pada bayi diatas 1 tahun. lateral sinus thrombosis. Pada neonatus & bayi dibawah 1 tahun biasanya tidak ada gejala / sangat tidak spesifik. pneumoniae. Terapi empirik untuk pembengkakan otak Obat Tidak Adanya trauma / pembedahan 1. Ketika AB berpenetrasi kedalam CSF harus memiliki sifat mikrobiologi secara aktif. Kelarutan dalam lemak dari bentuk yang tidak terionisasi adalah determinasi oleh afinitas relatif dari obat untuk lemak / air. gangguan pernafasan. Meningitidis. Tanda & gejala biasanya nonspesifik & berbeda pada tiap golongan umur. CSF harus melebihi kadar bakterisidal minimum. cerebral thrombophlebitis & subdural empyema. 6. Pada kondisi akut (10% kasus) tanda & gejala tampak pada ≤ 24 jam & berkembang dengan cepat. Aktivitas bakterisid dari Aminoglikosida menurun jika pH turun karena kadar dalam darah meningkat. Etilogi: S. Demam & cacat mental adalah gejala yang sering terjadi. Sedangkan pada kondisi subakut (75% kasus) tanda & gejala tampak pada 1-7 hari sebelum evaluasi & mungkin disebabkan oleh beberapa virus. Probenesid menurunkan ekskresi ginjal. Afinitas relatif untuk protein serum plasma (hanya fraksi bebas yang diharapkan dapat berpenetrasi ke barier CNS) c. Diagnosis dan gambaran klinik Bisa akut / subakut tergantung dari tanda & gejala yang tampak kurang / lebih dari 24 jam.Implantasi langsung dari trauma / prosedur operasi saraf merupakan presentase kecil dari kasus meningitis. Bentuk ionisasi dari obat meningkatkan afinitas untuk plasma air & yang tidak terionisasi dapat melewati membran selular. N. Konsentrasi dari AB pada CSF dimana mirip dengan / hanya melebihi kadar hambatan minimum. Ampisilin + Kloramfenikol / Metronidazole Adanya trauma / pembedahan 1.

Penisilin + Metronidazol + Aminoglikosida 3. Generasi ke-3 Sefalosporin 7. Pilihan obat untuk infeksi viral non-HIV: Virus & Infeksi Pilihan Obat Herpes Simplex Virus • Genital herpes • Encephalitis • Daerah mukosa • Neonatal • Resisten Acyclovir • Radang pada mata Acyclovir Acyclovir Acyclovir Acyclovir Foscarnet trifluridine Varicella-Zoster Virus • Varicella (chicken pox) • Herpes zoster • Varicella / zoster • Resisten Acyclovir Acyclovir Acyclovir Acyclovir Foscarnet Cytomegalovirus • Retinitis Ganciclovir / Foscarnet Influenza A Virus • Infeksi saluran pernafasan Amantadine / Rimantadine Respiratory Syncytial Virus • Broncholitis. Acyclovir Merupakan pilihan obat pertama untuk infeksi yang disebabkan oleh Herpes Simplex Viruses & . AB (Sulfonamid. ANTIVIRAL: DRUGS FOR NON-HIV INFECTIONS 1. Minosiklin & Rifampin) & Vaksin Meningococcal efektif secara prefentif pada penyakit Meningokokal.2. Pneumonia Ribavirin Virus Hepatitis B & C • Hepatitis kronik Interferon α-2b 2.

Untuk mendapatkan efek antiviral. Herpes Simplex Genitalis. kemudian dirubah lagi menjadi Acyclo-GTP merupakan senyawa yang sangat responsif untuk menghambat sintesis DNA. Untuk pasien dengan infeksi dini. VZV sedikit sensitif terhadap Acyclovir. Resisten: Melalui 3 mekanisme: a.Bergabung kedalam pertumbuhan DNA.5 jam. Level mencapai pada cairan otak adalah 50% dalam plasma. Tidak menimbulkan ES. Merubah Timidin kinase sehingga tidak dapat mengkonversi Acyclovir menjadi Acyclo-GMP c. terapi secara oral dapat mengurangi luka. sehingga menghambat pertumbuhan virus tsb. termasuk Herpes Simplex Viruses (HSV).Varicella-Zoster Virus. b. Reaksi yang biasa terjadi adalah phlebitis & peradangan pada daerah infus. Infeksi Varicella-Zoster. sedangkan CMV resisten terhadap Acyclovir. b. Infeksi genital herpes disebabkan oleh tipe 2 HSV (HSV-2). Spektrum Antiviral: Hanya aktif terhadap golongan virus Herpes. diberikan secara topikal dapat mengurangi durasi dari pelepasan viral. Varicella-Zoster Virus (VZV). Farmakokinetik: Bioavailabilitas oral rendah 15-30%. c. Oral Acyclovir dapat menyebabkan profilaksis pada episode lanjutan dari herpes labialis yang timbul kembali. maka IV Acyclovir dapat diindikasikan.Menghambat DNA polimerase virus . Merubah DNA polimerase virus sehingga menjadi sedikit sensitif untuk menghambat Penggunaan Terapeutik: a. Sedangkan pada kerusakan ginjal waktu paruh lebih lama. manifestasi pada tingginya kreatinin serum & blood urea nitrogen (BUN) terjadi pada beberapa pasien. Dapat diberikan topikal. waktu paruh 2. Untuk pasien dengan infeksi dini. Cytomegalovirus (CMV). Kerusakan ginjal tidak . Terapi IV: IV Acyclovir secara umum dapat ditoleransi dengan baik. Pada pasien dengan fungsi ginjal yang normal. Topikal Acyclovir tidak efektif untuk infeksi genital yang timbul kembali. Oral & Topikal: Oral Acyclovir tidak menunjukan ES yang serius. Efek samping: a. Infeksi Herpes Simplex pada daerah mukosa. Untuk pasien immunocompeten oral Acyclovir dapat mengobati infeksi primer pada gusi & mulut. Acyclovir harus diaktifkan. Oral Acyclovir lebih baik daripada topikal untuk infeksi dini genital & yang timbul kembali. Pada virus ini HSV lebih sensitif terhadap Acyclovir. Ketika penyakit sudah menjadi parah. Dosis tinggi dari oral Acyclovir merupakan terapi efektif dari herpes zoster pada dewasa. Mekanisme Kerja: Menghambat replikasi virus dengan menekan sintesis DNA. Nefrotoksik. Tahap kritis dari aktivasi adalah mengkonversi Acyclovir menjadi Acyclo-GMP oleh Timidin kinase. khususnya obat yang sudah berubah. Nefrotoksik terjadi karena kekurangan Acyclovir pada tubulus ginjal. Ketika penyakit sudah menjadi parah. Acyclovir didistribusikan secara luas pada cairan tubuh & jaringan. Infeksi herpes pada muka & orofaring biasanya disebabkan oleh tipe 2 HSV (HSV-2). Oleh karena itu dosis harus dikurangi. Menurunkan produksi Timidin kinase b. maka IV Acyclovir dapat diindikasikan. tapi tidak mempercepat penyembuhan. Tidak terjadi absorpsi yang signifikan pada penggunaan topikal. Acyclo-GTP menekan sintesis DNA dengan cara: . oral & IV. Eliminasi di ginjal.

Pada pasien dengan fungsi ginjal yang normal. Oral: 1000 mg 3x/hari dengan makanan untuk CMV retinitis. Intraokular: implant (Vitraset) untuk pasien CMV retinitis dengan AIDS. Reaksi yang biasa terjadi adalah mual. diare. demam. Dosis & Pemberian: a. Dosis & Pemberian: a. senyawa yang menghambat DNA polimerase virus & dengan demikian mencegah replikasi viral DNA. termasuk AIDS b. Preparasi. tablet 400 & 800 mg. Famciclovir Prodrug yang digunakan untuk mengobati herpes zoster akut. c. b. ruam.Melalui penggabungan dengan rantai pertumbuhan DNA. Obat ini didistribusikan secara luas pada cairan tubuh & jaringan.dilaporkan. 4. Pada topikal menyebabkan transien burning / sensasi perih. IV: dosis awal untuk dewasa dengan fungsi ginjal yang normal adalah 5 mg/kg (infus lebih dari 1 jam) setiap 12 jam untuk 14-21 hari. Mekanisme Kerja: Mengkonversi menjadi bentuk aktifnya. Penggunaan Terapeutik: Mempunyai 2 indikasi: a. IV: serbuk 500 mg/10 ml vial & 1000 mg/20 ml vial. kegagalan fungsi hati & konvusi serta gejala CNS lain. Preparasi. Resiko relaps lebih tinggi dengan oral Ganciclovir lebih besar dengan IV Ganciclovir. Sedangkan pada kerusakan ginjal waktu paruh lebih lama. Oleh karena itu dosis harus dikurangi.Menghambat polimerase DNA viral. Dosis harus diturunkan pada pasien dengan kerusakan ginjal. sehingga menyebabkan terminasi prematur rantai Farmakokinetik: Bioavailabilitas oral rendah hanya 5% dalam keadaan puasa & 9% dengan makanan. sakit kepala & vertigo. 2 bentuk sediaan dosis: 5 mg/kg infus lebih dari 1 jam setiap hari & 6 mg/kg (infus lebih dari 1 jam 1x/hari. ES lain: mual. Ganciclovir triphosphate dengan menginfeksi sel. . muntah. suspensi 200 mg/5ml c. anemia. Karena obat ini mempunyai ES yang serius. 5 hari sampai beberapa minggu. Topikal: salep Acyclovir 5% b. Ganciclovir teratogenik & embrotoksis percobaan pada hewan & kemungkinan pada manusia. Pengobatan dari retinitis CMV pada pasien kekurangan daya tahan tubuh. termasuk Cytomegalovirus (CMV). Pada pasien dengan AIDS. waktu paruhnya sekitar 3jam. 3. penggunaannya terbatas untuk mencegah & mengobati infeksi CMV. . Efek samping: Granulositopenia (mempengaruhi sumsum tulang) & Trombositopenia (faktor pembekuan darah). ES kecil. CMV retinitis angka kejadian 15-40%. Ganciclovir Bentuk antiviral sintetik dengan aktivitas terhadap herpes virus. Oral: kapsul 200 mg. Pencegahan dari retinitis CMV pada pasien transplantasi. Mekanisme Kerja & Spektrum Antiviral: Penciclovir melewati intraselular konversi menjadi Penciclovir triphosphat. khususnya Granulositopenia & Trombositopenia. Ganciclovir triphosphate menekan replikasi DNA dengan cara: .

Valacyclovir (1000 mg 3x/hari untuk 7-14 hari). Dosis & Pemberian: Tablet 500 mg oral. Rekomendasi dosis 500 mg setiap 8 jam. secara IV & Ganciclovir. ES utama dari Cidoclovir adalah kerusakan ginjal. Dosis & Pemberian: Kapsul 500 mg. tergantung dari tingkat kerusakan. 6. diare. Preparasi. awalnya ≥ 72 jam setelah onset dari gejala herpes zoster. secara IV. digunakan secara oral terapi untuk Herpes zoster. Efek samping: Famciclovir secara umum dapat ditoleransi dengan baik. Penggunaan Terapeutik: Saat ini Famciclovir hanya digunakan untuk mengobati herpes zoster akut. betuk aktifnya. Pada keadaan yang sama. Dosis harus diturunkan pada pasien dengan kerusakan ginjal. Pada percobaan klinik pada pasien Herpes zoster. Preparasi. Kegunaan tergantung dari konversi Valacyclovir menjadi Acyclovir. ketika Valacyclovir diberikan secara oral juga. Penciclovir aktif terhadap HSV-1. Pada percobaan klinik untuk terapi Genital herpes awal / kambuh kembali. bentuk aktif. sakit kepala & vertigo. Makanan menurunkan laju absorpsi Famciclovir. muntah. Valacyclovir Mekanisme Kerja & Penggunaan: Bentuk produk dari Acyclovir. Efek samping: Thrombotic thrombocytopenic purpura / Hemolytic uremic syndrome. Cidofovir Obat IV baru untuk pengobatan CMV Retinitis pada pasien AIDS. Waktu paruh Penciclovir sekitar 2. Farmakokinetik: Setelah pemberian oral. Cidoclovir menyebabkan penghambatan selektif polimerase viral DNA & dengan demikian menghambat . Valacyclovir 1000 mg 2x/hari & Acyclovir 200 mg 5x/hari menghasilkan hasil yang sama. Penciclovir diekskresi dalam urin. diberikan sebelum makan. tapi tidak diperpanjang. Sebagai diphosphate. Aman bagi kehamilan & menyusui serta pada anak dibawah 18 tahun. In vitro. Sedangkan pada kerusakan ginjal waktu paruh lebih lama. interval dosis harus ditingkatkan sampai 12 jam / 24 jam. HSV-2 & VZV. Bagaimanapun juga waktu paruh Penciclovir dalam sel tidak begitu lama. Farmakokinetik: Famciclovir dengan cepat terabsorpsi dalam saluran GI melalui konversi enzimatik menjadi Penciclovir. Obat alternatif untuk infeksi ini adalah Foscarnet. oral / intraokular.5 jam.Penghambatan sintesis DNA terbatas hanya sel yang terinfeksi saja. meninggalkan secara cepat sel inang. bentuk aktifnya. dosis yang direkomendasikan 1000 mg 3x/hari selama 7 hari. Valacyclovir secara cepat diabsorpsi & dikonversi secara utuh menjadi Acyclovir. Mual. dimana lebih efektif daripada Acyclovir (800 mg 5x/hari untuk 7 hari) dalam mengurangi waktu sakit & posttherpetic neuralgia. bioavailabilitas hanya 15-30%. Ketika Acyclovir itu sendiri diberikan secara oral. 5. efektifitas availabilitas dari Acyclovir meningkat hebat-sekitar 55%. Untuk terapi Herpes zoster. Mekanisme Kerja: Diubah menjadi Cidoclovir diphosphate. Pada pasien dengan kerusakan ginjal.

Cidoclovir harus tidak diberikan / dosis harus dikurangi. Semua dosis harus diturunkan pada pasien dengan kerusakan ginjal. Sebagai tambahan menyebabkan lemah otot. anemia. neutropenia. Farmakokinetik: Diberikan secara Infus IV & diekskresi di Ginjal. Antara 10% & 28% dari sebagian dosis yang diserap dalam tulang. ulserasi kelamin. Probenesid berkompetisi dengan Cidoclovir dalam sekresi tubular ginjal. HSV-1. lebih sedikit ditoleransi & lebih mahal. Pada percobaan klinik pada pasien AIDS & CMV Retinitis. tremor. CMV Retinitis pada pasien AIDS b. HSV-1. mual. termasuk Neurophil harus dimonitor. ketidakseimbangan elektrolit & mineral. Dosis & Pemberian: Larutan (24 mg/ml) untuk infus IV. Solubilitas yang rendah dalam air & tidak dipenetrasi dalam sel. Ribavirin . Foscarnet lebih sulit diberikan. HSV-2 & VZV. iritabilitas. ES lain demam. dosis awal 60 mg/kg (Infeksi CMV) / 40 mg/kg (Infeksi HSV) infus lebih dari 1 jam setiap 8 jam selama 2 – 3 minggu. Penggunaan Terapeutik: Memiliki 2 indikasi: a. dosis harus diturunkan pada pasien dengan kerusakan ginjal. Efek samping: ES utama dari Cidoclovir adalah kerusakan ginjal. diare & sakit kepala. Preparasi. semua pasien harus diberikan Probenesid & terapi hidrasi IV dengan sebagian Infus Cidoclovir. Preparasi. ES utama dari Cidoclovir adalah kerusakan ginjal. anemia & seizure. Cidoclovir mempunyai waktu paruh yang lama (17-65 jam). Dosis penyembuhan (CMV & HSV Infeksi) adalah 90 – 120 mg/kg infus selama 2 jam sekali sehari. Konsentrasi intraselular dari Cidoclovir diphosphate adalah rendah untuk menghambat polimerase DNA manusia. oleh karena itu sel inang berkurang. tergantung tingkat kerusakan ginjal. Karena Foscarnet dieliminasi dalam ginjal. Cidoclovir secara signifikan menghambat pertumbuhan dari retinitis. Waktu paruh plasma adalah 3 sampai 5 jam. 7. sehingga memperlama eliminasi. Dibandingkan dengan Ganciclovir. IV Foscarnet & Ganciclovir harus di infus setiap hari. Harus diberikan pada dosis yang besar dengan volume cairan yang besar. Mekanisme Kerja: Analog dari Pyrophospate yang menghambat polimerase DNA viral & melawan transkripsi. Selain itu dapat menyebabkan Granulositopenia. Resisten Acyclovir pada HSV daerah mukosa Farmakokinetik: Memiliki bioavailabilitas oral rendah & harus diberikan secara IV. Foscarnet Aktif dalam melawan Herpes virus. Untuk pasien dengan fungsi ginjal normal. 8. termasuk CMV. Spektrum Antiviral & Penggunaan Terapeutik: Cidoclovir aktif terhadap CMV.sintesis viral DNA. Jika luka sudah tampak. sehingga menghambat sintesis viral asam nukleat. ketidaknormalan fungsi liver. Efek samping & Interaksi: Nefrotoksik. Dosis & Pemberian: Larutan (75 mg/ml) dalam 5 ml ampul. HSV-2 & VZV. Untuk mengurangi resiko dari luka. muntah.

Pemberian harus dimulai selama 24 jam dari onset pada gejala.Individual yang mempunyai resiko tinggi komplikasi influenza . herpes genitalis. Mekanisme dari kerja Antiviral: Dapat mencegah penetrasi virus influenza A memasuki sel inang & dapat menghambat lapisan viral. Preparasi. sirup 10 mg/ml . Terjadi 10-30%. Sebagai tambahan. 9. Dosis & Pemberian: Oral: 100 mg kapsul. Efek Cardiovaskular. Penggunaan dalam Kehamilan & Laktasi: Teratogenik & embrotoksik Interaksi Obat: Pemberian bersama obat antikolinergik. Lassa fever & Korean hemorhagik fever. Kandidat untuk pencegahan termasuk: . Influenza virus (tipe A&B) & herpes simplex virus. Reaksi meliputi dizziness. Hipotensi ortostatik. Sayangnya. bayi yang dirawat & anak kecil. Efek samping: Central Nervous System Effect. Konsentrasi dalam plasma rendah. Penggunaan dalam Kehamilan: Dikontraindikasikan selama kehamilan. Ekskresi melalui urin (30-55%) & feses (15%). insomnia & sulit berkonsentrasi. Ribavirin untuk pengobatan influenza A & B. Melewati barier darah-otak & plasenta. nervousness. Aktif terhadap Respiratory syncytial virus (RSV). Dosis & Pemberian: Serbuk (6 mg/100 ml vial) pemberian aerosol. Penggunaan tambahan termasuk measles. Pada pasien dengan kerusakan ginjal. Penggunaan Terapeutik: Obat tidak aktif terhadap Influenza tipe B. Fungsi saluran pernafasan harus dimonitor. menghambat secara mudah pada replikasi dari komponen viral. Preparasi. Pemberian sistemik (oral/IV) menyebabkan anemia. Farmakokinetik: Diberikan secara oral inhalasi.Amantadine dapat diakumulasi sampai tingkat tinggi jika dosis tidak dikurangi. menyebabkan reaksi psikotik. Dimetabolisme secara aktif & inaktif. Amantadine Obat antiviral untuk pencegahan & pengobatan infeksi yang disebabkan virus Influenza tipe A.Petugas kesehatan & keluarga pasien yang kontak langsung dengan pasien Farmakokinetik: Diabsorpsi secara baik pada pemberian oral & didistribusi secara luas dalam cairan tubuh & jaringan.Mekanisme Antiviral: Virustatik. Efek samping: Inhalasi Ribavirin menimbulkan sedikit / tidak toksisitas sistemik. hepatitis akut & kronik. kegunaan sangat kecil & harganya mahal. Penggunaan Terapeutik: Hanya untuk pneumonia viral yang disebabkan RSV yang digunakan secara hati2. Ekskresi dalam ginjal.

herpes keratokonjungtivitas & cyndlomata acuminata (genital warts). ES yang sering terjadi: rasa terbakar. Interferon Alfa Penggunaan Antiviral & Dosis: Pada prinsipnya. Obat ini diberikan untuk mengobati keratokonjungtivitas akut & epithelial keratitis yang kambuh kembali. 12. Sayangnya.Untuk pencegahan & pengobatan Influenza tipe A: . 14. Sebagai tambahan. kerja & penggunaan. Trifluridine Satu2nya obat yang diindikasikan sebagai pengobatan topikal dari infeksi okular yang disebabkan oleh HSV tipe 1 & 2. Tersedia dalam bentuk salep mata 3%.>9 tahun: 100 mg 2x/hari . Dosis untuk pencegahan pada anak 5 mg/kg/hari. 10. Pemberian secara oral & bioavailabilitas mencapai 90%. Pasien hepatitis kronik tipe B: parenteral interferon alfa-2b (5 million IU/hari selama 4bulan) secara biokimia & memperlihatkan perubahan pada 40% penderita. dapat digunakan pada CMV. Disediakan dalam bentuk larutan tetes mata 1%.Anak 1-9 tahun: 4. sulit berkonsentrasi. VZV. peka terhadap cahaya. Rimantadine hanya untuk pencegahan & pengobatan dari infeksi virus Influenza tipe A. Tidak dimetabolisme. Efek antiviral merupakan hasil dari polimerase DNA Virus & terminasi prematur dari pertumbuhan rantai DNA virus. 11. setengah pasien dapat sakit kembali jika terapi dihentikan. ES yang sering adalah rasa terbakar pada daerah setempat & panas. Rimantadine Mirip dengan Amantadine dalam struktur. ES utama yaitu rasa grogi.4 – 8. Diteteskan pada kornea setiap 2jam. Rimantadine 100 mg kapsul & 10 mg/ml sirup. fotofobia & lacrimation. melewati metabolisme lintas pertama sampai ekskresi di urin. Dosisnya 100 mg 2x/hari. antiviral sistemik digunakan pada hepatitis kronik tipe B & hepatitis kronik tipe C. Vidarabine Diindikasikan untuk mengobati keratokonjungtivitas akut & epithelial keratitis yang kambuh kembali yang disebabkan oleh HSV tipe 1 & 2. HSV. 13. susah tidur & lemah otot. Hepatitis kronik tipe C: interferon alfa-2b (2 / 3 million 3x seminggu hari selama 6bulan) secara biokimia & memperlihatkan perubahan pada 50% penderita. Hal ini disebabkan pemberian interferon alfa selama hepatitis C akut meningkatkan resiko terjadinya penyakit kronik.8 mg/kg/hari dalam 2/3 dosis terbagi Dosis harus diturunkan pada pasien dengan kerusakan ginjal. Idoxuridine . Kerja antiviral merupakan hasil dari penghambatan sintesis DNA.

panas. Enzim yang digunakan dalam proses ini adalah viral RNA-dependent DNA polymerase. Selama fase awal infeksi.Merupakan obat antiviral pertama yang efektif untuk digunakan pada manusia. tingkat plasma dari HIV dapat meningkat 10 juta virion/ml. (untuk membedakan dari DNA-dependent RNA polymerase. 4.1%. 2. sehingga membentuk daerah pekembangbiakan yang besar untuk virus . Resiko dari kontraksi HIV dapat dikurangi dengan penggunaan kondom & persediaan screening . fotofobia. yang sering disebut meneruskan proses transkripsi) Ada 2 tipe dari HIV. penggunaan jarum suntik & hemofilia. Untuk memelihara tingkat steady state biasanya terlihat selama infeksi HIV kronik. karena itu replikasi dapat terjadi tanpa perlawanan. Jadi untuk bereplikasi. sekresi vagina & darah. Laju replikasi: HIV secara cepat bereplikasi selama tahap infeksi. Target sel: sel CD4 T (limfosit helper T). pasien sering disebut sebagai sindrom retrovirus akut. replikasi adalah besar. ANTIVIRAL: DRUGS FOR HIV INFECTIONS 1. biasanya pada periode perinatal. Retrovirus mengurangi perlengkapan untuk replikasi sendiri & oleh karena itu. bengkak pada mata. Penyakit dapat bertransmisi melalui hubungan seks. 3. Karena Vidarabine & Trifluridine lebih efektif & kurang toksik daripada Idoxuridine. Hanya diindikasikan untuk keratitis yang disebabkan oleh HSV tipe 1 serta tidak aktif untuk tipe 2. Selama tahap dari kenaikan virus ini. enzim induk yang menjelaskan DNA menjadi RNA. Tersedia dalam bentuk salep mata 0. retrovirus mempunyai untaian RNA tunggal positif sebagai bahan genetiknya.5% & tetes mata 0. yaitu HIV-1 & HIV-2. HIV hanya terbatas pada lelaki homoseksual. transfusi. Karakteristik HIV HIV adalah retrovirus.Sel inang tidak meningkatkan respon imun terhadap HIV. ES: radang. Dapat juga masuk kedalam fetus melalui ibu yang telah terinfeksi. laju replikasi adalah antara 1 & 10 milyar virion/hari.Populasi sel CD4 T masih besar. Meskipun berbeda secara tampilan & antigenitas. pemakaian bersama jarum suntik & spoitnya. Sebagai hasil dari replikasi yang besar. yang biasa disebut reverse transcriptase. kemacetan pembuluh lakrimal & kerusakan pada epitel kornea. tapi disebabkan oleh sindrom penyakit yang sama. Efek antiviral merupakan hasil dari penggabungan metabolisme idoxuridine kedalam virus DNA. Tidak semua obat aktif terhadap kedua tipe ini. mereka adalah parasit intraselular obligat. Berbeda dengan virus lainnya. Transmisi infeksi HIV: Transmisi dapat masuk melalui semen. retrovirus harus menerjemahkan RNA menjadi DNA. hal ini disebabkan karena: . Awalnya.

Neuropati periperal / radiculopathy. disebut penghambat nukleosida Reverse Transcriptase.5 jam 12 jam Eliminasi Metabolisme hati diikuti dengan ekskresi ginjal Metabolisme sebagian diikuti dengan ekskresi ginjal Metabolisme sebagian diikuti dengan ekskresi ginjal Metabolisme sebagian diikuti dengan ekskresi ginjal Ekskresi ginjal (tidak berubah) Toksisitas utama • Anemia & Neutropenia • Intoleransi GI . 5. 6. Diare h. Pembengkakan hati k.75 mg tid >60 kg: 40 mg bid <60 kg: 30 mg bid 150 mg bid Bioavailabilitas 60% Tablet: 40% Serbuk: 30% 85% 86% 86% t ½ serum 1. Obat yang analog struktural dengan nukleosida. Ruam-Erythematous maculopapular dengan luka pada wajah & tubuh & kadang berlebihan. Penghambat Reverse Transcriptase dibagi menjadi: a. Sariawan l.1 jam 1. Mialgia / arthalgia g. b. Demam b. Obat yang tidak analog dengan nukleosida. Gambaran dari Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI) Zidovudin Didanosin Zalcitabin Stavudin Lamivudin Dosis 300 mg bid >60 kg: 200 mg bid <60 kg: 125 mg bid 0.6 jam 1. Gejala neurologik: meningoencephalitis / aseptic meningitis. termasuk telapak tangan & kaki e. Gejala & tanda dari sindrom retrovirus akut: a. disebut penghambat non-nukleosida Reverse Transcriptase. Sakit kepala i. Penurunan berat badan m. Ulserasi mukosa pada mulut. esofagus / kelamin f. 7. Mual & muntah j. Limfomadenopati c. Paringitis d.darah untuk HIV.2 jam 1 jam 3-6 jam t ½ intraselular 3 jam 12 jam 3 jam 3.

obat yang diberikan dengan perhatian: Indinavir. Gambaran dari Non-nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI) Nevirapin Delavirdin Dosis 200 mg 1x/hari selama 14 hari. Dihidropiridin. Terfenadin. kecuali ada resisten 8. Kuinidin & Warfarin • Antasid & Didanosin menurunkan absorpsi dari Delavirdin. Triazolam & Cisapride • Karena penghambatan P-450. Midazolam. obat yang dikontraindikasikan: Astemizol. Penghambat kanal Ca.6 jam Eliminasi Dimetabolisme oleh P-450 diikuti dengan ekskresi di urin (80%) & feses Idem Toksisitas utama Ruam Ruam Interaksi obat • Menurunkan P-450 & level dari berbagai obat: efek pada penghambat protease & kontrasepsi oral adalah yang perlu diperhatikan • Rifampin & Rifabutin juga menurunkan P-450 & level dari Nevirapin • Menghambat P-450 & mungkin meningkatkan level dari berbagai obat • Karena penghambatan P-450. Dapson.• Sakit kepala • Insomnia • Miopati • Pankreatitis • Neuropati periperal • GI: mual. tidak boleh diberikan selama 1 jam dari Delavirdin . diare • Neuropati periperal • Pankreatitis (jarang) • Stomatitis • Neuropati periperal • Pankreatitis (jarang) Toksisitas kecil First of choice: Lamivudin / Stavudin. Alprazolam. Saquinavir. lalu 200 mg 2x/hari 400 mg tid (campur 4 tablet 100 mg pada 3 ons/ lebih air agar mudah ditelan) Bioavailabilitas >90% 85% t½ serum 25-30 jam 5. Klaritomisin. Alkaloid ergot.

Midazolam / alkaloid ergot • Efeknya diturunkan oleh Rifampin & Rifabutin & kemungkinan dengan Fenobarbital. karena itu penggunaan konkuren dikontraindikasikan • Efek Ritonavir diturunkan oleh Etinil Estradiol (kontrasepsi oral). Penyakit HIV akut Semua pasien dengan penyakit HIV akut harus menerima terapi antiretrovirus secara maksimal efektif. Ketokenazol & jus anggur • Menghambat P-450 • Tidak boleh dikombinasikan dengan Astemizol. Midazolam / alkaloid ergot • Efeknya diturunkan oleh Rifampin & Rifabutin • Efeknya diturunkan oleh Etinil Estradiol & Noretindron (kontrasepsi oral) • Efeknya ditingkatkan oleh Ketokenazol 10.9. Triazolam. Teofilin. Perubahan regimen 4 alasan untuk penggantian terapi antiretrovirus: a. Pengobatan gagal b. diare & sakit kepala jarang terjadi Diare Interaksi obat • Menghambat P-450 • Tidak boleh dikombinasi dengan Astemizol. rasa logam. mual. 11. Terfenadin. Gambaran dari Protease Inhibitors Indinavir Ritonavir Saquinavir Nelfinavir Dosis 800 mg q 8 h 600 mg q 12 h 600 mg q 8 h 750 mg q 8 h Pemberian 1 jam sebelum makan / 2 jam setelah makan. Deksametason & Karbamazepin • Efeknya ditingkatkan oleh Ritonavir. pemberian selang 2 jam • Menghambat P-450 • Tidak boleh dikombinasikan dengan Astemizol. pandangan kabur. Cisapride. Fenitoin. Sulfametaksazol & Zidovudin • Absorpsi diturunkan oleh Didanosin. Pengobatannya sama seperti regimen pilihan 1 PI + 2 NRTI. Cisapride. Triazolam. Triazolam. Cisapride. dapat diberikan bersama susu / daging rendah lemak Bersama makanan Bersama daging tinggi lemak Bersama makanan Penyimpanan Suhu kamar. Klaritomisin.5-2 jam 3-5 jam 1-2 jam 3. muntah.5-5 jam ES • Nefrolitiasis • Intoleransi GI • Lainnya: sakit kepala. Terfenadin. pusing. Terfenadin. lindungi dari kelembaban Kulkas Suhu kamar Suhu kamar Bioavailabilitas 30% Adequate Kapsul gelatin keras: rendah (4%) & eratis 20-80% t ½ plasma 1. Midazolam / alkaloid ergot • Efek Indinavir diturunkan oleh Rifampin & Rifabutin • Meningkatkan ketokenazol • Absorpsi diturunkan oleh Didanosin. diare • Parestesias (sirkumoral & periperal) • Astenia (lemah) • Rasa berkurang Sangat ditoleransi dengan baik. ruam. astenia. trombositopenia • GI: mual. pemberian selang 1 jam • Menghambat P-450 secara kuat • Penghambatan P-450 meningkatkan level dari berbagai obat. Toksisitas obat .

c. Cytomegalovirus retinitis Dengan 3 obat: Ganciclovir. Rifampin. Atovaquone. Pengobatan pada wanita hamil: Menerima terapi antiretrovirus secara optimal. Pengobatan pada Pediatrik: Beberapa studi mengindikasikan bahwa virologi HIV pada anak sama dengan dewasa. Keberhasilannya adalah untuk menyeimbangkan manfaat dari pengobatan (mengurangi jumlah virus. Regimen rekomendasi adalah 2 NRTI-Zidovudin (200 mg tid) + Lamivudin (150 mg bid)-selama 4 minggu. Trimetrexate + Asam Folat & Primakuin + Klindamisin. Diberikan secara IV. Zidovudin. Gejala awal meliputi demam. sehingga terapi antiretrovirus juga sama. ibu hamil tsb dapat menunda terapi sampai kehamilan selesai. nyeri dada. Sulfadiazin menyebabkan ruam & kristal uria. TMP + Dapson. adalah satu2nya obat yang dapat mengurangi resiko transmisi HIV ke janin sampai 70-80%. Pasien tidak patuh d. Mycobacterium tuberculosis-Mycobacterium avium Complex Mycobacterium tuberculosis: INH + RMP+PZA kemudian diganti dengan INH+RMP selama 2 bulan kemudian. Klofazimin & Amikasin. Alternatifnya Pentamidin. Jika dibutuhkan. 15. Cidoclovir & Foscarnet. pallor & sianosis. tanpa melupakan kehamilannya. Penggunaan regimen yang suboptimal 12. Perubahan klinik tampak pada 4-8 hari. Anak2 harus diobati dengan kombinasi dari obat antiretrovirus yang menghasilkan plasma HIV RNA pada tingkat yang tidak dapat dideteksi dengan pengujian. Pengobatan pada Infeksi Oportunis: a. Siprofloksasin. Pirimetamin + Atovaquone / terapi tunggal: Azitromisin / Klaritromisin. b. Jika infeksi masih dalam tahap awal. Pneumocystis carinii pneumonia Manifestasi klinik dari PCP umumnya nonspesifik. Postexposure Profilaksis Resiko terbentuknya penyakit HIV setelah pembukaan pertama dapat dikurangi-tapi tidak dihilangkan-dengan obat profilaksis. Mycobacterium avium Complex: Azitromisin / Klaritromisin ditambah obat lain yaitu EMB. Toxoplasma Encephalitis Pengobatan menggunakan: Pirimetamin + Sulfadiazin. . dengan demikian membiarkan imun inang melawan untuk mengeliminasi virus sebelum menjadi banyak. 14. Pada pasien yang tidak toleransi pada Sulfadiazin dapat menggunakan obat: Pirimetamin + Klindamisin. d. Untuk profilaksis: Azitromisin / Klaritromisin dapat digunakan. dapat ditambahkan beberapa obat: Rifabutin. 13. Terapi profilaksis berdasarkan pengobatan awal mungkin mencegah infeksi selular dini & perkembangan lokal dari HIV. Pengobatan pilihan untuk PCP adalah TMP-SMX efektif pada 90% pasien. dyspnea. c. dengan demikian menaikan kesehatan ibu & mengurangi resiko dari transmisi HIV ke janin) terhadap resiko pengobatan (teratogenik pada janin). batuk.

trachomatis menimbulkan infeksi selama proses melahirkan. Pengobatan pilihan: Doksisiklin 100 mg oral 2x/hari selama 3 minggu. b. lidah. karena menyebabkan kernikterus pada bayi. selama 2 bulan / lebih lama. dapat menggunakan Amoksisilin. ES utama dari Amfoterisin: kerusakan ginjal. base. Sulfisoksazol & Sulfonamid juga KI. Pada pasien resisten Acyclovir. Acyclovir adalah obat pilihan yang diberikan secara oral / IV. Preparasi lain yang dapat digunakan adalah E. termasuk bibir. E. c. Ofloksasin adalah alternatif. 2. d. E. Dapat menyebabkan: a. dapat diberikan terapi sistemik dengan oral azole (Flukonazol. Varicella-Zoster Virus Infection Terapi pilihan: oral Acyclovir (800 mg 5x/hari selama 7-10 hari). Infeksi kehamilan: obat pilihan untuk infeksi selama kehamilan ini adalah Eritromisin 500 mg oral selama 7 hari. diberikan tablet kekuatan ganda harian. Waktu pengobatan 7-21 hari. etilsuksinat. h. trachomatis. terapi pemeliharaan dibutuhkan untuk menurunkan resiko kambuh kembali. Gejala lainnya: mual. Untuk wanita yang tidak bisa menggunakan Eritromisin. Pada pasien dengan komplikasi HIV. ada 2 pengobatan yang direkomendasikan yaitu dosis tunggal 1-gm oral Azitromisin / 100 mg Doksisiklin 2x/hari oral selama 7 hari. Regimennya: TMP-SMX. tulang. Chlamydia Trachomatis Infections Disebabkan oleh bakteri STD. Pengobatan pilihan: Amfoterisin B infus harian. e. tapi ke-2 obat ini kontraindikasikan karena dapat menyebabkan kerusakan pada gigi & tulang bayi. Cryptococcal Meningitis Menginfeksi 9% dari 13% pasien AIDS. diplokokus gram negatif sering berubah menjadi .trombositopenia). g. Terapi pemeliharaan: oral Flukonazol harian. dapat menggunakan Foscarnet IV.Ketika Toxoplasma telah terkontrol. Respon biasanya tampak selama 3-10 hari. Candidiasis Infeksi oleh Candida albicans yang terdapat pada orofaring & esofagus. Bayi tsb beresiko terhadap konjungtivitas & pneumonia.5 mg/kg (oral/IV) 4x/hari selama 2 minggu. kolon. Neonatal Opthalmia & Pneumonia: sekitar ½ dari kehamilan bayi pada wanita dengan serviks C. Lymphogranuloma Venereum: disebabkan oleh rantai unik dari C. Meskipun Doksisiklin & Tetrasiklin dapat melawan Chlamydia trachomatis. Sebagai alternatif. Ketokenazol / Itrakonazol). fotofobia & kemunduran mental. Gonococcal Infections Disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Transmisi melalui hubungan seks. dimana sering berespon pada terapi topikal (misalnya mendesir & menelan sebuah suspensi Nistatin / menghisap troches Mikonazol). depresi (neutropenia. Untuk dewasa. Oral Flusitosin dapat dikombinasikan dengan Amfoterisin B. Infeksi saluran kelamin (uretra. Alternatif: oral Famciclovir & IV Foscarnet. SEXUALLY TRANSMITTED DISEASES (STDs) 1. f. Herpes Simplex Virus Infection Luka mungkin muncul pada berbagai tempat. Pengobatan pilihan untuk infeksi ke-2nya adalah sistemik Eritromisin 12. Sebesar 70% pasien yang diberikan oral candidiasis (sariawan). Gejala umum: demam & sakit kepala. kelamin & dubur. stearat / E. mata & CNS. HSV mungkin menginfeksi esofagus. estolat kontraindikasi pada kehamilan karena resiko dari kerusakan hati pada bayi. muntah. serviks & epididymitis) biasanya dengan Chlamydia trachomatis.

Acute Epididymitis Disebabkan oleh N. Syphilis Disebabkan oleh Treponema pallidum. maka dapat diberikan oral Doksisiklin / Azitromisin. pallidum masuk kedalam tubuh melalui penetrasi membran mukosa dari mulut. sifilis sekunder terbentuk. Untuk gonorrhea yang sudah menyebar (bacteremia. ovarium & saluran fallopian) dapat terjadi. servik. 5. pallidum masih ada. Apabila terkena infeksi N. Setelah beberapa minggu chancre sembuh secara spontan. artritis. 1% Tetrasiklin / 1% silver nitrat. Pada pasien rawat inap. Sifilis tersier terbentuk 5-40 tahun setelah infeksi dini. protruding & sangat nyeri. artritis & jarang meningitis & endocarditis. terapi parenteral Seftriakson (IM) / Sefotaksim (IM / IV) 3. Pelvic Inflammatory Disease Disebabkan oleh N. uretra. meskipun T. Gejala pada pria: rasa terbakar pada saat urinasi & gangguan pus-like pada penis. gonorrhoeae &/ atau C. luka primer. menyebabkan lesi pada daerah mukosa. sehingga berpengaruh pada sterilitas. meningitis). vagina / uretra dari penis. Terapi awal diikuti dengan oral Doksisiklin selama 14 hari. 4. Bacteremia dapat terjadi pada kedua jenis kelamin ini. Pembesaran kelenjar limfa & nyeri mungkin terjadi. namun infeksi serius dari struktur reproduksi wanita (vagina. Pada bayi baru lahir dengan optalmia aktif. sekunder & tersier. merah. Pada wanita biasanya asimptomatis. yang diikuti dengan Sefiksim (400 mg oral 2x/hari) a. Setelah masa inkubasi 1-4 minggu. Transmisi melalui hubungan seks. sakit kepala. primer. trachomatis. Nongonococcal Urethritis Disebabkan oleh Chlamydia trachomatis (25-40%). dapat menggunakan Eritromisin. trachomatis. Luka kulit & gejala seperti flu (demam.5% Eritromisin. Gejalanya sebagai hasil dari penyebaran T.gonokokus. Obat pilihan untuk uncomplicated gonorrhea: Seftriakson dosis IM tunggal (125-250 mg). gonorrhoeae & C. Chancre ini keras. pallidum melalui aliran darah. meliputi Seftriakson (1 gm IV harian selama 7-10 hari) / Seftriakson (1 g IV harian selama 3 hari). 2-6 minggu setelah chancre sembuh. nafsu makan berkurang & malaise) adalah khas. yang disebut chancre. Menyerang sebagian besar organ. Gonococcal Neonatal Optalmia: 0. T. pengobatan awal: Sefotaksim (IV) / Sefotetan (IV) diikuti dengan Doksisiklin (IV). Gejala sifilis sekunder ini dapat hilang selama 4-8 minggu-tapi dapat muncul kembali dalam waktu lebih dari 3-4 tahun kedepan. gonorrhoeae &/ atau C. Pengobatan: Ofloksasin 300 mg oral 2x/hari selama 10 hari. Obat pilihan: Doksisiklin 100 mg 2x/hari selama 7 hari. Pada pasien yang KI. alternatif: Sefiksim. Karakteristik: Sifilis terbentuk dalam 3 tahap. trachomatis. 6. Siprofloksasin & Ofloksasin. terbentuk ditempat masuknya. dibutuhkan terapi parenteral. Ureaplasma urealyticum (sekitar 20%) & Trichomonas vaginalis (<5%). paralisis & gejala . Infeksi otak-Neurosifilis-adalah umum & menyebabkan kehilangan intelegensia. Pada pasien rawat jalan: Sefoksitin (IM) kombinasi dengan Probenesid / dengan Seftriakson (IV). Kerusakan saluran limfa mungkin terjadi.

Pada kehamilan. Pengobatan: Penisilin G.psikiatrik lainnya. Herpes Simplex Infections Disebabkan oleh HSV-2. Congenital sifilis. Mycoplasma hominis & anaerob lainnya. Pada wanita. tidak ada gejala infeksi. AIDS Disebabkan oleh HIV 8. Disebabkan oleh Gardnerella vaginalis (yang dikenal H. Katup jantung & aorta mungkin rusak. sekunder & sifilis yang belum terlihat dalam waktu ≤ 1 tahun) dapat diobati dengan dosis IM tunggal Benzatin Penisilin G. Pengobatan: Metronidazol oral 500 mg 2x/hari selama 7 hari. infeksi mungkin asimptomatis / disebabkan gangguan cairan vagina. 2 pengobatan yang direkomendasikan: Penisilin G (IM/IV) 50.75% gel) 5 gm 2x/hari selama 5 hari & Klindamisin (krem 2%) 5 gm setiap sore selama 7 hari.000 unit/kg 1x/hari selama 10-14 hari. Intravaginal: Metronidazol (0. Late Sifilis (≥ 1 tahun) juga diobati dengan IM Benzatin Penisilin G. Pengobatan pilihan: Cryotherapy Pengobatan alternatif: Podophyllum resin / Asam trikloroasetat (ke-2nya topikal). Infeksi dapat dihilangkan dengan dosis tunggal Metronidazol 2 gm. Pengobatan rekomendasi: 2-4 juta unit IV Penisilin G setiap 4 jam selama 10-14 hari. dosis tergantung tahap penyakit. Metronidazol KI selama kehamilan trimester pertama. Seftriakson 250 mg IM 1x/hari c. Pengobatan: Acyclovir (oral / IV) 12. tapi dosis ditingkatkan (2. Pengobatan: a.000 unit/kg setiap 8-12 jam selama 10-14 hari / Prokain Penisilin IM 50. harus diterapi dengan Penisilin G dengan dosis yang disesuaikan pada tahapan penyakit. vaginalis). yang diikuti dengan rasa terbakar & panas. . Karakteristik infeksi adalah sangat sakit. Early sifilis (primer. 10. biasanya kelamin luar. 7. Luka mungkin terjadi pada kulit. Chancroid Disebabkan oleh Haemophilus ducreyi. Eritromisin 500 mg oral 4x/hari selama 7 hari b. tulang & mata. Genital & Anal Warts Disebabkan oleh Human papillomavirus. 11. Pada pria. Dosis dapat diulangi jika pengobatan gagal. ulser yang tidak ratapada tempat dari inokulasi. Transmisi melalui hubungan seks. Bacterial Vaginosis Hasil dari perubahan mikroflora vagina. Neurosifilis membutuhkan terapi lebih aggresif.4 juta unit seminggu sekali selama 3 minggu). Azitromisin 1 gm oral 1x/hari 9. Trichomoniasis Disebabkan oleh Trachomonas vaginalis.

Kanker payudara b. Pengobatan: 5% Permethrin (topikal). Gangguan GI a. Asma bronkial b. Anemia hemolitik . Gangguan kulit 8. Glomerulonefritis b. Urtikardia 6. Scabies Disebabkan oleh Sarcoptes scabiei. Gangguan kolagen a. Kapan Glukokortikoid digunakan: 1. Gangguan hati a. Sindrom nefrotik 4. ADRENOCORTICAL AND OTHER HORMONAL DYSFUNCTION 1. Angioderma b. Rematik a. Artritis gout akut b. Kekurangan Adrenokortikol primer / sekunder 2. Polimositis 5. Gangguan alergi a. Hepatitis aktif kronik b. Hepatitis alkohol 11. Pediculosis Pubis Disebabkan oleh Phthirus pubis (pubis lice) Pengobatan: 1% Permethrin (topikal) 14. Artritis rematoid c. SLE b. Penyakit Crohn‟s 9. Miscellaneous a. Leukimia 10. Pemberian klinik dari Steroid: pemberian glukokortikoid harus hati2 karena bersifat imunosupresan. Pnemonitis 7. Osteoartritis 3.13. Sarkodosis b. Kolitis ulser b. Malignansi a. Gangguan saluran nafas a. Gangguan ginjal a.

oleh karena itu meningkatkan Ca secara psikokimia. D Meningkatkan konversi metabolisme 25-hidroksikolekalsiferol menjadi bentuk aktif vit D3 melalui rangsangan aktivitas dari tubular ginjal 25-OH-1-α-hidoksilase Meningkatkan ekskresi ginjal dari bikarbonat. membentuk asidosis dimana dapat menurunkan kemampuan sirkulasi albumin menjadi Ca. Fungsi Paratiroid: Meningkatkan pembentukan Ca & pospat dari resorpsi tulang Meningkatkan reasorpsi Ca & Mg melalui ginjal Meningkatkan absorpsi intestinal dari Ca secara langsung melalui vit.2. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful