Utang Luar Negeri

Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Politik Pembangunan

Disusun Oleh :

Kelompok 3

Redy Puja Kesuma M. Ramang Hidayatullah Dini Siswanto Febri Nurul Fadila Eka Ayu Intan P Ainul Fadilah Rachma Bheta Dwi Suryanti

105030100111073 105030100111123 105030107111034 115030100111123 115030101111086 115030101111091 115030107111026

JURUSAN ADMINISTRASI PUBLIK / KELAS D FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA Malang, 2012

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan tahapan proses yang mutlak dilakukan oleh suatu bangsa untuk dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat bangsa tersebut. Pembangunan ekonomi suatu negara tidak dapat hanya dilakukan dengan berbekal tekad yang membaja dari seluruh rakyatnya untuk membangun, tetapi lebih dari itu harus didukung pula oleh ketersediaan sumberdaya ekonomi, baik sumberdaya alam; sumberdaya manusia; dan sumberdaya modal, yang produktif. Dengan kata lain, tanpa adanya daya dukung yang cukup kuat dari sumberdaya ekonomi yang produktif. Maka pembangunan ekonomi mustahil dapat dilaksanakan dengan baik dan memuaskan. Adapun kepemilikan terhadap sumberdaya ekonomi ini oleh negara-nagara dunia ketiga tidaklah sama. Ada negara yang memiliki kelimpahan pada jenis sumberdaya ekonomi tertentu, ada pula yang kekurangan. Pada banyak negara dunia ketiga, yang umumnya memilki tingkat kesejahteraan rakyat yang relatif masih rendah, mempertinggi tingkat pertumbuhan ekonomi memang sangat mutlak diperlukan untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi dari negara-negara industri maju. Oleh karena masih relatif lemahnya kemanpuan partisipasi swasta domestik dalam pembangunan ekonomi, mengharuskan pemerintah untuk mengambil peran sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi nasional. Seoalah-olah segala upaya dan strategi pembangunan difokuskan oleh pemerintah untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dari tahun ke tahun. Sehingga, seringkali hal tersebut dilakukan melebihi kemampuan dan daya dukung sumberdaya ekonomi didalam negeri yang tersedia pada waktu itu. Akibatnya, pemerintah negara-negara tersebut harus mendatangkan sumberdaya ekonomi dari luar negara-nagara lain untuk dapat memberikan dukungan yang cukup bagi pelaksanaan program pembangunan ekonomi nasionalnya. Dengan dukungan sumberdaya ekonomi dari luar negara tersebut, maka bukanlah sesuatu yang mustahil, apabila di beberapa nagara dunia ketiga atau negara yang sedang berkembang, laju pertumbuhan ekonomi dapat melebihi laju pertumbuhan ekonomi negara-negara industri maju. Sumberdaya modal merupakan sumberdaya ekonomi yang paling sering didatangkan oleh pemerintah negara-negara sedang berkembang untuk mendukung pembangunan nasionalnya. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan sumberdaya modal dalam negeri. Sumberdaya modal didatangkan dari luar negeri, yang umunya dari negara-negara industri maju, ini wujudnya bisa beragam, seperti penanaman modal asing (direct invesment), berbagai bentuk investasi portofolio (portofolio invesment) dan pinjaman luar negeri. Dan tidak semuanya diberikan sebagai bantuan yang sifatnya cuma-cuma (gratis). Tetapi dengan berbagai konsekuensi baik yang bersifat komersil maupun politis.

Pada satu sisi, datangnya modal dari luar negeri tersebut dapat digunakan untuk mendukung program pembangunan nasional pemerintah, sehingga target pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat meningkat. Tetapi pada sisi lain, diterimanya modal asing tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah dalam jangka panjang, baik ekonomi maupun politik, bahkan pada beberapa negara-negara yang sedang berkembang menjadi beban yang seolah-olah tak terlepaskan, yang justru menyebabkan berkurangnya tingkat kesejahteraan rakyatnya.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan krisis utang dan faktor-faktor penyebabnya? 2. Bagaimanakah kondisi utang luar negeri pemerintah Indonesia? 3. Bagaimana peranan dan dampak yang ditimbulkan sebagai akibat adanya utang luar terhadap pembangunan ekonomi di Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan krisis utang dan faktor-faktor penyebabnya. 2. Untuk mengetahui perkembangan utang luar negeri pemerintah Indonesia. 3. Untuk mengetahui peran dan dampak yang ditimbulkan sebagai akibat adanya utang luar terhadap pembangunan ekonomi di Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Utang Luar Negeri 2.1.1 Indikator dan Pengertian Utang Luar negeri Tidak semua negara yang digolongkan dalam kelompok negara dunia ketiga, atau negara yang sedang berkembang, merupakan negara miskin, dalam arti tidak memiliki sumberdaya ekonomi. Banyak negara dunia ketiga yang justru memiliki kelimpahan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Masalahnya adalah kelimpahan sumberdaya alam tersebut masih bersifat potensial, artinya belum diambil dan didayagunakan secara optimal. Sedangkan sumberdaya manusianya yang besar, belum sepenuhnya dipersiapkan, dalam arti pendidikan dan keterampilan, untuk mampu menjadi pelaku pembangunan yang berkualitas dan berproduksi tinggi. Pada kondisi yang seperti itu, maka sangatlah dibutuhkan adanya sumberdaya modal yang dapat digunakan sebagai katalisator pembangunan, agar pembangunan ekonomi dapat berjalan dengan lebih baik, lebih cepat, dan berkelanjutan. Dengan adanya sumberdaya modal, maka semua petensi kelimpahan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia dimungkinkan untuk lebih didayagunakan dan dikembangkan. Tetapi, pada banyaknya negara yang sedang berkembang, ketersediaan sumberdaya modal seringkali menjadi kendala utama. Dalam beberapa hal, kendala tersebut disebabkan karena rendahnya tingkat pemobilisasian modal di dalam negeri, beberapa penyebabnya antara lain (1) pendapatan per kapita penduduk yang umumnya relatif rendah, menyebabkan tingkat MPS (marginal propensity to save) rendah, dan pendapatan pemerintah dari sektor pajak, khususnya penghasilan, juga rendah. (2) Lemahnya sektor perbankan nasional menyebabkan dana masyarakat, yang memang terbatas itu, tidak dapat didayagunakan secara produktif dan efisien untuk menunjang pengembangan usaha yang produktif. (3) Kurang berkembangnya pasar modal, menyebabkan tingkat kapitalisasi pasar yang rendah, sehingga banyak perusahaan yang kesuliatan mendapatkan tambahan dana murah dalam berekspansi. Dengan kondisi sumberdaya modal domestik yang sangat terbatas seperti itu, jelas tidak dapat diandalkan untuk mampu mendukung tingkat pertumbuhan output nasional yang tinggi seperti yang diharapkan. Solusi yang dianggap bisa diandalkan untuk mengatasi kendala rendahnya mobilisasi modal domestik adalah dengan mendatangkan modal dari luar negeri, yang umumnya dalam bentuk hibah (grant), bantuan pembangunan (official development assistance), kredit ekspor, dan arus modal swasta, seperti bantuan bilateral dan multilateral; investasi swasta langsung (PMAP); portofolio invesment; pinjaman bank dan pinjaman komersial lainnya; dan kredit perdagangan (eksper/impor)/ modal asing ini dapat diberikan baik kepada pemerintah maupun kepada pihak swasta.

Banyak pemerintah di negara dunia ketiga menginginkan untuk mendapatkan modal asing dalam menunjang pembangunan nasionalnya, tetapi tidak semua berhasil mendapatkannya, kalau pun berhasil jumlah yang didapat akan bervariasi tergantung pada beberapa faktor antara lain (ML. Jhingan : 1983, halaman 643-646) : 1. Ketersediaan dana dari negara kreditur yang umumnya adalah negara-negara industri maju. 2. Daya serap negara penerima (debitur). Artinya debitur akan mendapat bantuan modal asing sebanyak yang dapat diguankan untuk membiayai investasi yang bermanfaat. Daya serap mencakup kemampuan untuk merencanakan dan melaksanakan proyelproyek pembangunan, mengubah struktur perekonomian, dan mengaplikasikan kembali resources. Struktur perekonomian yang simultan dengan pendayagunaan kapasitas nasional yang akan menjadi landasan penting bagi daya serap suatu negara. 3. Ketersediaan sumber daya alam dan sumberdaya manusia si negara penerima, karena tanpa ketersediaan yang cukup dari kedua sumberdaya tersebut dapat menghambat pemanfaatan modal asing secara efektif. 4. Kemampuan negara penerima bantuan untuk membayar kembali (re-payment). 5. Kemampuan dan usaha negara penerima untuk membangun. Modal yang diterima dari luar negeri tidak dengan sendirinya memberikan hasil, kecuali jika disertai dengan usaha untuk memanfaatkan dengan benar oleh negara dibuat di dalam negeri. Sehingga peranan modal asing sebenarnya adalah sebagai sarana efektif untuk memobilisasi keinginan suatu negara. Pinjaman luar negeri adalah semua pinjaman yang menimbulkan kewajiban membayar kembali terhadap pihak luar negeri baik dalam valuta asing maupun dalam Rupiah. Sekarang ini dengan semakin mengglobalnya perekonomian dunia, termasuk dalam bidang finansial, menyebabkan arus modal asing semakin leluasa keluar masuk suatu negara. Pada banyak negara yang sedang berkembang, modal asing seolah-olah telah menjadi salah satu modal pembangunan yang diandalkan. Bahkan, beberapa negara saling berlomba untuk dapat menarik modal asing sebanyak-banyaknya dengan cara menyediakan berbagai fasilitas yang menguntungkan bagi para investor dan kreditur. Khusus modal asing dalam bentuk pinjaman luar negeri kepada pemerintah, baik yang bersifat grant; soft loan; maupun hard loan, telah mengisi sektor penerimaan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (goverment budget) yang selanjutnya digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan proyek-proyek pembangunan negara atau investasi pemerintah di sektor publik. Dengan mengingat bahwa peran pemerintah yang masih menjadi penggerak utama perkonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang, menyebabkan pemerintah membutuhkan banyak modal untuk membangun berbagai prasarana dan sarana, sayangnya kemampuan finansial yang dimiliki pemerintah masih terbatas atau kurang mendukung. Dengan demikian, maka pinjaman (utang) luar negeri pemerintah menjadi hal yang sangat berarti sebagai modal bagi pembiayaan pembangunan perekonomian nasional. Bahkan dapat dikatakan, bahwa utang luar negeri telah menjadi salah satu sumber pembiayaan

pembangunan perekonomian nasioanal yang cukup penting bagi sebagian besar negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. 2.1.2 Karakteristik krisis Utang dan Pembentukan Utang Utang bagi NSB bukan lagi membantu dalam pembangunannya bahkan menjadi beban. Beban utang ini disebabkan karena : pertama, Utang yang diterima lebih banyak dinyatakan dalam bentuk mata uang asing dan bukan dalam bentuk mata uang dalam negeri sehingga rentan terhadap fluktuasi di pasar moneter internasional. Kedua, kebanyakan utang yang diterima oleh NSB dalam bentuk US$, sedangkan jumlah US$ yang tersedia dipasar internasional relatif lebih sedikit dari mata uang asing lainnya seperti Yen, Deutschmark atau poundsterling sehingga NSB mengalami kesulitan dalam memperoleh US$. Untuk mengukur sampai sejauh mana tingkat utang membebani suatu negara dapat kita lihat dari beberapa aspek. Aspek tersebut yaitu: 1. Tingkat Debt service Ratio, yaitu perbandingan antara pembayaran bunga plus cicilan utang terhadap penerimaan ekspor suatu negara. Sehingga contoh tingkat DSR Brazil dan korea selatan pada tahun 1982 masing-masing sebesar 81% dan 2,2%. Ini berarti Brazil menggunakan 81% dari ekspornya untuk membayar utangnya sedangkan Korea selatan hanya 2,2%. Menurut pengalaman di banyak negara batas aman untuk DSR adalah 20%. 2. Persentase utang terhadap GNP (debt to GNP ratio). Meskipun secara absolut jumlahnya kecil, tetapi jika persentase terhadap GNP relatif besar, hal ini akan memberatkan negara tersebut. Kedua indikator tersebut dalam penggunaannya tergantung dari permasalahan yang dihadapai oleh masing-masing negara bahwa sebagian besar utang terserap oleh negaranegara di wilayah Amerika latin dan Karibia serta Asia Tenggara. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah alasan apa yang mendasari negara-negara tersebut untuk meminjam uang/utang. Sebagaimana diketahui untuk membangunan suatu negara diperlukan adanya dana yang cukup untuk membiayai kegiatan investasi. Di sisi lain negara-negara tersebut tidak mampu menyediakan dana yang cukup. Ketidakmampuan ini antara lain disebabkan oleh adanya faktor-faktor sebagai berikut. 1. Kurangnya tabungan dalam negeri ( saving-investment gap ). Kekurangan tabungan ini tidak lain karena rendahnya tingkat pendapatan penduduk di samping sistem keuangan yang belum memadai. 2. Kurangnya kemampuan untuk menghasilkan devisa ( foreign exchange ). Untuk melakukan transaksi perdagangan internasional diperlukan devisa, sementara kemampuan NSB dalam menghasilkan devisa masih rendah. Kedua faktor itulah yang pada akhirnya mendorong NSB untuk meminjam dana dari luar negeri dalam bentuk mata uang asing dan bukan mata uang domestik. Keadaan tersebut semakin diperburuk dengan tingkat bunga pinjaman yang tinggi, rendahnya harga barang-

barang ekspor yang dihasilkan oleh NSB (sebagian penghasil bahan mentah), dan rendahnya tingkat permintaan terhadap produk-produk NSB. Faktor-faktor tersebut semakin mempersulit bagi NSB untuk membayar utangnya. 2.1.3 Penyebab Timbulnya Krisis Utang Benih-benih krisis sebenarnya sudah mulai terlihat pada periode 1974-1979. Saat itu terjadi peningkatan pinjaman internasional yang luar biasa, yang sebagian disebabkan oleh lonjakan harga minyak pada tahun 1974 dan kebutuhan mengejar pertumbuhan ekonomi. NICs terutama Mexico, Brazil, Venezuela, Argentina memang tingkat pertumbuhan ekonominya di atas rata-rata negara berkembang. Namun, rekor pertumbuhan ekonomi tersebut didukung terutama oleh strategi pembangunan yang semakin outward-looking. Mereka menggenjot ekspor dan impor barang modal secara agresif, serta mengundang bantuan luar negeri secara berlebihan. Hanya sayangnya struktur industri mereka kebanyakan masih mengandung komponen impor yang tinggi. Ketika terjadi lonjakan harga minyak yang kedua tahun 1979, keadaan mulai berbalik dengan mulai meningkatnya tingkat bunga Internasional secara drastis. Yang terakhir ini disebabkan oleh kebijakan stabilisasi ekonomi di negara maju, dan penurunan penerimaan ekspor negara berkembang akibat kombianasi turunya pertumbuhan ekonomi di negera maju dan penurunan harga ekspor komoditi primer lebih dari 20 persen, di tambah lagi dengan kewajiban membayar bunga dan cicilan utang luar negeri di masa lampau dan mulai jatuh tempo pinjaman komersial. Di banyak NSB, keadaan ini diperparah dengan modal yang terbang ke luar negeri (capital flight) dan defisit transaksi berjalan (current account) yang substansial. Menurut Gibson dan Tsakalator (1992), penyebab timbulnya krisis utang dapat ditinjau dari tiga hal: pertama, sistem moneter Internasional. Kedua, sistem perbankan swasta internasional. Ketiga, negara peminjam itu sendiri. 2.1.4 Sistem Moneter Internasional Adanya ketergantungan antarnegara dalam hal ini antara Negara yang mempunyai surplus dalam neraca pembayaran dengan Negara yang mengalami defisit dalalm neraca pembayarannya, memerlukan suatu system moneter internasionalnya yang mampu memutarkan dana dari Negara yang mengalami surplus dengan Negara yang mengalami defisit. Konferensi di Bretton Woods pada bulan juli 1944 berhasil membentuk satu badan moneter internasional yaitu IMF (Internasional Monetery Fund). Badan ini bertanggung jawab untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan dalam memutarkan dana dari Negara-negara surplus ke Negara-negara defisit. System ini berjalan dengan baik pada tahun 1960-an hingga awal tahun 1970-an. Pada tahun 1070-an hingga awal 1980-an system ini mulai tidak berjalan, yang ditandai antara lain dengan semakin menurunnya peran IMF dalam menyelesaikan kesenjangan antara Negara yang mengalami surplus dalam neraca pembayarannya dengan Negara yang mengalami defisit dalam neraca pembayarannya. Proses perputaran dana lebih banyak dilakukan melalui mekanisme pasar sehingga semakin mempersulit posisi NSB selaku Negara yang mengalami defisit.

2.1.5 Solusi Krisis Utang Internasional Krisis Utang luar negeri pada hakekatnya adalah krisis likuiditas di suatu negara, dan bukan masalah insolvensi. Indikator utama adanya krisis adalah tingginya DSR (debt-service ratio) yang biasanya di atas rata-rata negara berkembang sekaligus juga mengalami kesulitan ekspor. Cakupan krisis ini, menurut Thirwall, pada dasarnya dapat dikategorikan dua (Shahadan & Idris, 1987 : Bab 1): Pertama, sejumlah kecil negara miskin yang tergantung pada ekspor komoditas primer, khususnya di afrika, di mana bank komersial tidak terlibat. Kedua, sejumlah negara yang meminjam dari sistem perbankan komersial dengan tingkat bunga mengambang ( floating rate of interest), sementara pada waktu bersamaan pasar ekspornya baru anjlok. Dengan demikian, krisis utang luar negeri sebenarrnya mencakup tidak hanya krisis negara pengutang, tapi juga krisis sistem perbankan internasional (komersial) dan krisis ekonomi dunia karena berakibat arus pinjaman internasional menjadi menciut. Dalam forum internasional, negara donor dan negara pengutang saling menyalahkan (sachs, 1989 : Bab 1). Negara donor cenderung menuding krisis utang akibat kesalahan kebijakan negara pengutang. Pinjaman dihamburkan untuk menutup inefisiensi perusahaan negara, atau dilarikan oleh oknum penguasa ke luar negeri (capital flight). Sementara negara pengutang berpendapat munculnya krisis disebabkan oleh naiknya suku bunga internasional pada awal 1980-an. Meraka menyalhkan kebijakan makro negara donor, terutama kebijakan fiskal Amerika Serikat. Pemerintah di negara pengutang lebih jauh berpendapat bahwa diperlukan semacam “penyesuaian” dengan cara pembayaran kembali utang mereka diperingan (debt relief). Berdasarkan uraian sebelumnya, tujuan mendasar yang hendak dicapai oleh NSB adalah bagaimana mengurangi utangnya secara substantif serta tersedianya dana untuk membiayai proses pembangunannya. Ada tiga solusi yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut yaitu: 1. Melaksanakan pembangunan dangan sebagian dananya berasal dari utang luar negeri, meskipun kebijakan ini akan memperpanjang masa krisis selama investasi yang ditanamkan belum memberikan hasil. 2. Mengubah sistem keuangan internasional yang memungkinkan bagi NSB untuk lebih mengontrol negara industri dan bank-bank swasta. 3. Kombinasi dari keduanya, di mana institusi internasional dalam membiayai pembangunan di NSB, di sisi lain bank-bank swasta juga diberikan wewenang dalam penyediaan dana.

2.2 Utang Indonesia 2.2.1 Perkembangan Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara dunia ketiga. Sebelum terjadinya krisis moneter di kawasan Asia Tenggara, Indonesia memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Hal tersebut sejalan dengan strategi pembangunan ekonomi yang dicanangkan oleh pemerintah pada waktu itu, yang menempatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi

sebagai target prioritas pembangunan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak akhir tahun 1970-an selalu positif, serta tingkat pendapatan per kapita yang relatif rendah, menyebabkan target pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi tersebut tidak cukup dibiayai dengan modal sendiri, tetapi harus ditunjang dengan menggunakan bantuan modal asing. Sayangnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dalam beberapa tahun tersebut, tidak disertai dengan penurunan jumlah utang luar negeri (growth with prosperity), kecuali pada tahun 1994/1995 sampai 1995/1996 (lihat tabel 1). Pemerintah pada awalnya menjadi motor utama pembangunan terus bertambah utang luar negerinya agar dapat digunakan untuk membiayai penbangunan ekonomi nasional guna mencapai target tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tersebut, tanpa disertai dengan peningkatan kemampuan untuk memobilisasi modal di dalam negeri. Hal ini menandakan adanya korelasi yang positif antara keberhasilan pembangunan ekonomi pada tingkat makro dan peningkatan jumlah utang luar negeri pemerintah (growth with indebtedness). Sejalan dengan semakin meningkatnya kontribusi swasta domestik dalampembangunan ekonomi nasional, maka peran pemerintah pun menjdi semakin berkurang. Fenomena tersebut akhirnya menyebabkan struktur utang luar negeri indonesia juga mengalami banyak perubahan selama kurun waktu tiga dasawarsa terakhir. Pada awalnya, utang luar negeri Indonesia lebih banyak dilakukan oleh pemerintah. Pinjaman pemerintah tersebut diterima dalam bentuk hibeh serta Soft loan dari negar-negara sahabat dan lembaga-lembaga supra nasional, baik secara bilateralmaupun multilateral (IGGI dan CGI). Selanjutnya seiring dengan semakin berkembangnya perekonomian Indonesia, pinjaman luar negeri besyarat lunak menjadi semakin terbatas diberikan, sehinggauntuk keprluam-keperluan tertentu dan dalam jumlah yang terbatas, pemerintah mulai menggunakan pinjaman komersial dan obligasi dari kreditur swasta internasional. Karena semakin pesatnya pembangunan dan terbatasnya kemampuan pemerintah untuk secara terus menerus menjadi penggerak utama pembangunan nasional, terutama sejak krisis harga minyak dunia awal tahun 1980-an, menyebabkan pemerintah harus mengambil langkah-langkah deregulasi di berbagai sektor pembangunan. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan dorongan kepada peran serta swasta dalam pembangunan perekonomian Indonesia, melalui peningkatan minat investasi di berbagai sektor pembangunan yang diizinkan. Dengan semakin besarnya minat investasi swasta, tapi tanpa didukung oleh sumber-sumber dana investasi di dalam negeri, baik dalam bentuk pinjaman komersial maupun investasi portofolio, yang tentu saja pada umumnya dengan persyaratan pinjaman yang tidak lunak (bersifat komersial), baik suku bunga maupun jangka waktu pembayaran kembali. Meskipun telah terjadi perubahan pada struktur utang luar negeri Indonesia, utang luar negeri pemerintah masih menjadi hal perlu diperhatikan mengingat dampaknya terhadap APBN yang sangat besar.

2.3 Peran dan dampak yang ditimbulkan sebagai akibat adanya utang luar terhadap pembangunan ekonomi di Indonesia 2.3.1 Peranan Utang Luar Negeri Dalam Pembangunan Ekonomi di Indonesia Menurut aliran neoklasik, utang luar negeri merupakan suatu hal yang positif. Hal ini dikarenakan utang luar negeri dapat menambah cadangan devisa dan mengisi kekurangan modal pembangunan ekonomi suatu negara. Dampak positif ini akan diperoleh selama utang luar negeri dikelola dengan baik dan benar. Rasanya hampir tidak ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa ada negara di dunia ini yang tidak pernah berutang kepada negara lain. Hal ini dikarenakan setiap negara memiliki perencanaan pembangunan yang berbeda-beda, tetapi memiliki kapasitas fiskal yang terbatas. Untuk membiayai pembangunan, pemerintah memiliki apa yang dikenal sebagai government spending. Jika selisih pengeluaran pemerintah dengan tingkat penerimaan pajak bernilai defisit, maka alternatifnya adalah dengan memanfaatkan pendanaan yang berasal dari luar negeri. Secara umum, pendanaan luar negeri berasal dari sumber-sumber sebagai berikut: (1) bilateral (pemerintah negara lain) berupa hibah, pinjaman lunak dan pinjaman campuran; (2) lembaga multilateral/internasional berupa hibah dan pinjaman, dan; (3) perbankan atau lembaga keuangan internasional berupa fasilitas kredit ekspor dan pinjaman komersial. Besarnya nilai utang luar negeri dapat disebabkan penerimaan pajak dan pengeluaran pemerintah yang tidak seimbang. Rendahnya penerimaan pajak, sementara pengeluaran pemerintah akibat impor barang modal tinggi. Setidaknya ada dua alasan mengapa pemerintah di negara-negara berkembang tetap membutuhkan utang luar negeri. Pertama, utang luar negeri dibutuhkan sebagai tambahan modal bagi pembangunan prasarana fisik. Infrastruktur merupakan investasi yang mahal dalam pembangunan. Kedua, utang luar negeri dapat digunakan sebagai penyeimbang neraca pembayaran. Penggunaan utang luar negeri sebenarnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan selama digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang produktif. Jika berhasil, output perekonomian akan meningkat dan economic growth akan naik. Naiknya angka pertumbuhan merupakan salah satu faktor (selain stok cadangan devisa dan pengembangan alokasi APBN) yang menjadi pertimbangan dalam pemberian peringkat utang oleh lembaga-lembaga internasional pemeringkat kredit dunia seperti Fitch dan Standard & Poor. Jika suatu negara dikategorikan sebagai investment grade, tentu ini akan berdampak baik bagi perekonomian domestik. Status investment grade ini akan menekan biaya penerbitan obligasi negara yang diterbitkan pemerintah dan swasta domestik karena dianggap memiliki risiko gagal bayar yang rendah. Akibatnya, banyak investor asing akan tertarik untuk menanamkan modalnya di dalam negeri. Terjadilah capital inflow. Ruang untuk melakukan ekspansi dalam perekonomian pun semakin lebar. Akan tetapi, utang luar negeri juga bisa menjadi bumerang. Alih-alih digunakan untuk sektor-sektor yang produktif, penggunaan utang luar negeri tidak tepat sasaran akan menyebabkan permasalahan yang serius di kemudian hari. Kasus yang paling banyak terjadi antara lain penyalahgunaan pinjaman dan lemahnya pengawasan proyek yang dibiayai dengan

utang luar negeri membuat praktik-praktik korupsi dan rent seeking di kalangan pejabat pemerintahan tumbuh subur. Di negara-negara yang tidak memiliki struktur dan sistem kelembagaan yang kuat, penggunaan pinjaman luar negeri yang ditujukan untuk membiayai program berbasis pemerataan dan pro-pemberantasan kemiskinan sering mengalami inefisiensi (Chong,Gradstein,dan Calderon,2009). Oleh karena itu, justifikasi terhadap penggunaan utang luar negeri tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi-kondisi di atas. Jika tidak, yang terjadi adalah debt trap yang tidak berkesudahan dimana negara pengutang kesulitan membayar bunga dan pokok cicilan. Berbagai cara dilakukan oleh bangsa asing atau para kapitalis untuk menanamkan pengaruhnya di Indonesia, salah satunya adalah dengan menyebabkan Indonesia tergantung pada utang luar negeri. Utang luar negeri saat ini sudah menjadi masalah strategis yang harus dihadapi bangsa Indonesia, Jika kita perhatikan lebih seksama dan mendalam, adanya utang yang sangat besar tersebut merupakan suatu ancaman terhadap stabilitas ekonomi bangsa Indonesia jika tidak dikelola dengan baik. Dengan adanya utang tersebut bangsa Indonesia memiliki ketergantungan ekonomi terhadap bangsa lain, belum lagi penambahan bunga yang harus disertai pada saat pelunasan utang akan semakin mencekik perekonomian bangsa Indonesia. Pemerintah sangat tergantung pada IMF, world bank dan Negara pemberi hutang lainnya seperti Amerika, Jepang, Belanda, Jerman dan Canada. Besarnya jumlah hutang Indonesia membuat pemerintah menjadi boneka kepanjangan tangan dari kepentingan mereka. Hampir semua undang-undang yang diusulkan pemerintah adalah usulan dari IMF atau negeri pemberi hutang. UU PMA dan UU no 13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan misalnya memberi keleluasaan pada majikan dalam melakukan pemutusan hubungan kerja serta dipermudahnya tenaga kerja kontrak. Kebijakan flexibilitas tenaga kerja sangat menguntungkan pemilik modal. Flexibilitas artinya perubahan dari sistem kerja tetap menjadi kontrak atau outsorching ( yayasan penyalur tenaga kerja ). Lahirnya UUK 13/2003, merupakan satu paket dengan UU 21/2000 dan UU PPHI No.02 tahun 2004. seperti kita telah pahami bersama merupakan turunan/bagian dari UU PROPENAS (Program Pembangunan Nasional) yang menjadi program Neo Liberalisme/globalisasi atau kapitalisme. UU Propenas memakai konsep yang diberikan oleh IMF, World Bank dan RDA (Regional Devolepment Agency) dengan dalih mengentaskan krisis ekonomi di Indonesia. UU PROPENAS merupakan kelanjutan dan penegasan/penguatan dari UU PMA tahun 1967(dan disahkannya UU PMA pada 29 april 2007) dan hal tersebut berarti pemerintah Indonesia telah melakukan kebijakan antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. Sumber daya alam diserahkan pengelolaannya kepada modal asing Militer harus menjaga kegiatan operasi modal asing Rakyat harus bekerja mengikuti ketentuan-ketentuan modal asing Membuka pasar bebas bagi hasil industri modal asing Menyediakan buruh murah bagi modal asing

Kebijakan pemerintah sangat mendukung pada pemilik modal bisa kita urutkan dari kebijakan upah murah pada level upah minimum kota ( UMK ) sampai upah minimum propinsi (

UMP ) yang jauh lebih kecil dan komponen penghitungan upah yang katanya berstandar layak tetapi sesungguhnya jauh dari layak. Protes terhadap kebijakan upah murah tidak pernah ditanggapi serius oleh pemerintah daerah maupun pusat. Karena alasan mereka agar investor tertarik menanamkan investasinya. Jadi jelas sekali yang ditawarkan pertama ke pihak penanam modal oleh pemerintah kita adalah buruh Indonesia di upah murah. Upah murah sama dengan model perbudakan modern, karena buruh hanya mendapat upah sebagai imbalan dan bukan hak. Itupun hanya cukup untuk hidup sangat pas-pasan apalagi untuk keluarga. Industri nasional Indonesia tidak berpijak pada kekuatan yang sebenarnya nyata untuk mensejahterakan rakyat. hendaknya penguatan industri dasar berdasar sumber daya alam yang tersedia dan kekuatan geografi Indonesia sebagai negeri maritime dan agraris yang terjadi adalah kebijakan ekonomi makro baik fiskal, moneter, investasi maupun perdagangan yang kurang, bahkan sama sekali tidak memihak dan mengorbankan kepentingan pembangunan sektor pertanian dan kelautan. Kebijakan yang diterapkan terlalu bias perkotaan, jasa dan industri, seperti otomotif, petrokimia, tekstil, baja, properti, dll dan terus mendorong proses konglomerasi yang merapuhkan fondasi perekonomian nasional. Industri nasional kita tidak untuk pemenuhan kebutuhan dasar rakyat dan industri yang dikembangkan adalah industri yang dicangkokan oleh pemodal asing atau atas pesanan asing untuk pemenuhan pasar eksport seperti tekstil, pakaian, elektronik, perakitan otomotif dan sepatu yang hampir semuanya dengan bahan baku import. Yang terjadi adalah sebaliknya, industri dasar yang menjadi kekuatan penting malah dikuasai oleh perusahaan international seperti minyak, tambang, energi dan ketika bangsa ini membutuhkan harus import dari perusahaan internasional 2.3.2 Dampak utang luar negeri

1. Pada sisi efektifitasnya, secara internal, utang luar negeri tidak hanya dipandang menjadi penghambat tumbuhnya kemandirian ekonomi negara-negara Dunia Ketiga. Utang diyakini menjadi pemicu terjadinya kontraksi belanja sosial, merosotnya kesejahteraan rakyat, dan melebarnya kesenjangan. 2. Sedangkan secara eksternal, utang luar negeri diyakini menjadi pemicu meningkatnya ketergantungan negara-negara Dunia Ketiga pada pasar luar negeri, modal asing, dan pada pembuatan utang luar negeri secara berkesinambungan . 3. Pada sisi kelembagaannya, lembaga-lembaga keuangan multilateral seperti IMF, Bank Dunia, dan Asian Development Bank (ADB). Keduanya diyakini telah bekerja sebagai kepanjangan tangan negara-negara Dunia Pertama pemegang saham utama mereka, untuk mengintervensi negara-negara penerima pinjaman. 4. Pada sisi ideologinya, utang luar negeri diyakini telah dipakai oleh negara-negara pemberi pinjaman, terutama Amerika, sebagai sarana untuk menyebarluaskan kapitalisme neoliberal ke seluruh penjuru dunia. (Erler, 1989). 5. Sedangkan pada sisi implikasi sosial dan politiknya, utang luar negeri tidak hanya dipandang sebagai sarana yang sengaja dikembangkan oleh negara-negara pemberi pinjaman untuk mengintervensi negara-negara penerima pinjaman. Secara tidak

langsung negara-negara kreditur diyakini turut bertanggungjawab terhadap munculnya rezim diktator, kerusakan lingkungan, meningkatkan tekanan migrasi dan perdagangan obat-obat terlarang, serta terhadap terjadinya konflik dan peperangan (Gilpin, 1987; George, 1992; Hanlon, 2000).ekonomian Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Perkembangan jumlah utang luar negeri Indonesia dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Hal ini tentu saja menimbulkan berbagai konsekuensi bagi bangsa Indonesia, baik dalam periode jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam periode jangka pendek, utang luar negeri harus diakui telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi pembiayaan pembangunan ekonomi nasional sehingga dengan terlaksananya pembangunan ekonomi tersebut, tingkat pendapatan per kapita masyarakat bertumbuh selama taga dasawarsa sebelum terjadi krisis ekonomi. Menurut Gibson dan Tsakalator (1992), penyebab timbulnya krisis utang dapat ditinjau dari tiga hal: pertama, sistem moneter Internasional. Kedua, sistem perbankan swasta internasional. Ketiga, negara peminjam itu sendiri Semakin bertambahnya utang luar negeri pemerintah, berarti juga semakin memberatkan posisi APBN RI, karena utang luar negeri tersebut harus dibayarkan beserta dengan bunganya. Ironisnya, semasa krisis ekonomi, utang luar negeri itu harus dibayar dengan menggunakan bantuan dana dari luar negeri, yang artinya sama saja dengan utang baru, karena pada saat krisis ekonomi penerimaan rutin pemerintah, terutama dari sector pajak, tidak dapat ditingkatkan sebanding dengan kebutuhan anggaran belanjanya. Dalam jangka panjang akumulasi dari utang luar negeri pemerintah ini tetap saja harus dibayar melalui APBN, artinya menjadi tanggung jawab para wajib pajak. Dengan demikian, maka dalam jangka panjang pembayaran utang luar negeri oleh pemerintah Indonesia sama artinya dengan mengurangi tingkat kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia masa mendatang. Adalah suatu hal yang tepat, bila utang luar negeri dapat membantu pembiayaan pembangunan ekonomi di negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Tetapi, penggunaan utang luar negeri yang tidak dilakukan dengan bijaksana dan tanpa prinsip kehati-hatian, dalam jangka panjang utang luar negeri justru akan menjerumuskan negara debitur kedalam krisis utang luar negeri yang berkepanjangan, yang sangat membebani masyarakat karena adanya akumulasi utang luar negeri yang sangat besar. 3.2 Rekomendasi Berdasarkan kesimpulan makalah ini, bahwa utang luar negeri telah memberikan kontribusi terhadap pembangunan di negara berkembang termasuk negara kita negera Indonesia yaitu pembiayaan pembangunan ekonomi nasional sehingga terlaksananya pembangunan ekonomi. Tetapi, penggunaan utang luar negeri yang yang tidak dilakukan dengan bijaksana dan tanpa prinsip kehati-hatian, dalam jangka panjang akan menjerumuskan

negara debitur kedalam krisis utang luar negeri yang berkepanjangan, yang sangat membebani masyarakat karena adanya akumulasi utang luar negeri yang sangat besar. Oleh karena itu penulis merekomendasikan agar pemerintah membuat kebijakan utang luar negerinya yang tepat yaitu: 1. Menjadi negara yang mandiri dan tidak tergantung pada utang luar negeri untuk pembiayaan pembangunan nasional karena bila terus tergantung akan membentuk watak / karakter bangsa yang lemah dan selalu menjadi bangsa yang di dikte oleh negara yang maju yang notabene menjadi negara kreditur. Dan selalu ada dalam bayang-bayang utang luar negeri yang berimbas pada anak dan cucu kita yang harus mengemban utangnya. 2. Mengawasi sumber pendapatan nasional yang mungkin bisa sepenuhnya membiayai pembangunan nasional, karena bila kita lihat sumber pendapatan nasional kita banyak sekali yang belum tergali misalnya pajak penghasilan atau pajak-pajak lainya. Masih banyak wajib pajak yang tidak melaporkan dengan riil penghasilan kena pajaknya, atau dari petugas dari dirjen pajaknya yang melakukan kongkalikong dengan wajib pajaknya. 3. Mengawasi juga penggunaan utang luar negeri dan pendapatan nasional apakah sudah sesuai dengan apa yang menjadi skala prioritas pembangunan nasional, Karena masih ada yang belum tepat sasaran pembangunan atau masih ada pejabat yang korupsi uang negara yang notabene untuk pembangunan nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Yulianto, “Peranan Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA) dalam Kegiatan Investasi”, Jurnal Hukum Bisnis, Vol 22, No. 5, Tahun 2003 Bresnan, John (1993), Managing Indonesia-The Modern Political Economy, New York: Columbia University Press. George, Susan, (1992). The Debt Boomerang, New Jersey: Westview Press. Harinowo, Cyrillus (2002), Utang Pemerintah – Perkembangan, Prospek, dan Pengelolaannya, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Jhingan, M.L., (1983). The Economic of Development and Planning,16th Edition, New Delhi: Vicas Publishing House, Ltd. Laporan Tahunan Bank Indonesia 1998/1999, Bank Indonesia, 2000. Ridwan Khairandy,”Peranan Perusahaan Penanaman Modal Asing Joint Venture dalam Ahli Teknologi di Indonesia”, Jurnal Hukum Bisnis, Vol 22, No. 5, Tahun 2003 Rostow, W.W., (1985). Pioneers in Development, Washington, D.C.: The World Bank.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful