ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) BRONKOPNEUMONIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bronkopneumonia adalah peradangan akut pada paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus. Bronkopneumonia merupakan penyumbang kematian balita di dunia sekitar 1,6-2,2 juta balita dengan proporsi 19%. Masalah yang sering muncul pada klien dengan Boncopnemonia adalah tidak efektifnya bersihan jalan napas, resiko tonggi terhadap infeksi, klurang pengetahuan, intolerasnsi aktivitas, tidak efektifnya pola napas. Hasil penelitian diperoleh trend kunjungan penderita bronkopneumonia berdasarkan data tahun 2005-2009 menunjukkan penurunan dengan persamaan garis Y= 16,6-X. Proporsi berdasarkan sosiodemografi yaitu kelompok umur 2-11 bulan 48,5%, sex ratio168%, dan Kota Medan 71,0%. Bronkopneumonia berat 28,0%, jumlah kunjungan berulang satu kali 94,1%, gizi buruk 4,2%, imunisasi tidak lengkap 82,9%, pendidikan ayah dan ibu SLTA dan Akademi/PT masing –masing 42,9% dan 42,1%, pekerjaan ayah pegawai swasta 39,1%, ibu rumah tangga 45,5%, jumlah anak orang tua tiga 60,0%, anak ke tiga 60,0%, lama rawatan rata-rata 4,70 hari, dan meninggal 4,8%. Jika broncopnemonia terlambat didiagnosa atau terapi awal yang tidakmemadai pada broncopnemonia dapat menimbulka empisema, rusaknya jalan napas, bronkitis, maka diperlukan asuhan keperawatan secara menyeluruh yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Untuk itu, berdasarkan uraian diatas, kami merasa perlu membahas dan menelaah lebih dalam mengenai penyakit broncopneumonia untuk dapat mengetahui bagaimana melakukan asuhan keperawatan pada pasien bronkopnemonia dengan pendekatan proses keperawatan yang benar. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimanakah asuhan keperawatan yang tepat pada pasien dengan penyakit broncopneumonia? 1.3 Tujuan Umum Untuk dapat mengetahui bagaimana asuhan keperawatan yang tepat pada pasien dengan penyakit broncopneumonia.

4 Tujun Khusus 1. virus. jamur dan benda asing.4. BAB II PEMBAHASAN 2. Bronkopneumonia sering disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri. Pneumonia yg didapat di masyarakat (Community-acquired pneumonia. mengikuti infeksi dari saluran nafas atas.) Haemophilus influenzae merupakan penyebab yang sering pada anak-anak Mycoplasma sering bisa menjadi penyebab keduanya (anak & dewasa) Terutama disebabkan kerena kuman gram negatif b.) 3.1 Untuk mengetahui secara keseluruhan mengenai penyakit broncopneumonia 1. 2.1 Berdasarkan Sumber Infeksi a.1. demam pada infeksi spesifik dan penyakit yang melemahkan sistem pertahanan tubuh.2 Klasifikasi Pneumonia 2.2 Menambah pengetahuan mengenai berbagai penyakit pada sistem pernafasan salah satunya broncopneumonia yang telah terjadi di masyarakat sekitar.) Streptococcus pneumonia merupakan penyebab utama pada orang dewasa 2. Bronkiolus terminalis menjadi tersumbat dengan eksudat mukopurulen membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang bersebelahan.4. Pneumonia yg didapat di RS (Hospital-acquired pneumonia ) .) 1. Definisi Bronkopneumonia adalah pneumonia yang terdapat di daerah bronkus kanan maupun kiri atau keduanya. Penyakit ini seringnya bersifat sekunder. pneumonia dapat muncul sebagai infeksi primer.) 1.1. Pada bayi dan orang-orang yang lemah. Bronkopneumonia (pneumonia lobularis) adalah peradangan pada parenkim paru yang awalnya terjadi di bronkioli terminalis dan juga dapat mengenai alveolus sekitarnya.2.

Klebsiella pada penderita alkoholik.) 1.) Prognosis ditentukan ada tidaknya penyakit penyerta Sering terjadi pada bayi dan anak-anak Pada orang dewasa sering disebabkan oleh bakteri anaerob Macam kuman penyebabnya sangat luas. Legionella dan Chlamydia Sering mengenai anak-anak dan dewasa muda 1.) 3. Pneumonia Immunocompromise host 2.) Sering pada bayi dan anak-anak 2. Pneumonia yang disebabkan virus 1.2.) Beberapa mikroba cenderung menyerang individu yang peka.) Disebabkan: Mycoplasma.) Merupakan penyakit yang serius pada penderita dengan pertahanan tubuh yang lemah .2 Berdasarkan Kuman Penyebab a.) 1. misal.) Sering terjadi pada semua usia 2. Staphylococcus menyerang pasca influenza 1.) 2. Pneumonia bakterial 1. termasuk kuman sebenarnya mempunyai patogenesis yang rendah Berkembang sangat progresif menyebabkan kematian akibat rendahnya pertahanan tubuh c.) 2.2. Pneumonia Atipikal 1.) Angka kematiannya > daripada CAP (Community-acquired pneumonia.) 2. Pneumonia aspirasi d.

Pneumonia lobaris (lobar pneumonia) 1.Pneumocystis carinii) c.) 3.) 3.) Sering pada pneumonia bakterial Jarang pada bayi dan orang tua Pneumonia terjadi pada satu lobus atau segmen.2. Pneumonia interstisialis (interstitial pneumonia 2.) 1.) Ditandai adanya bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru Dapat disebabkan bakteri maupun virus Sering pada bayi dan orang tua Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus Proses terjadi mengenai jaringan interstitium daripada alevoli atau bronki Merupakan karakteristik (tipikal) infeksi oportunistik (Cytomegalovirus. kemungkinan dikarenakan obstruksi bronkus misalnya : aspirasi benda asing pada anak atau proses keganasan pada orang dewasa b.) 2. dan sekresi humoral setempat. Orang yang normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan yang terdiri atas : reflek glotis dan batuk. adanya lapisan mukus.) 2.) 4. Pneumonia yang disebabkan oleh jamur atau patogen lainnya 1. Bronchopneumonia 1.3. .1.) Seringkali merupakan infeksi sekunder Predileksi terutama pada penderita dengan pertahanan tubuh yang rendah 2. gerakan silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ.3 Berdasarkan Predileksi atau Tempat Infeksi a.) 2. Etiologi Secara umun individu yang terserang bronkopneumonia diakibatkan oleh adanya penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen.) 2.

2. Bronkopneumonia hidrokarbon dapat terjadi oleh karena aspirasi selama penelanan muntah atau pemasangan selang NGT ( zat hidrokarbon seperti pelitur. Influensa Virus. virus influenza. Keparahan penyakit tergantung pada jenis minyak yang terinhalasi.1 Faktor Infeksi . Bordetella pertusis. . Adenovirus. Bordetella Pertusis. Respiratory Sincytial Virus (RSV). 2. tuberculosis .Pada anak-anak : Virus : Parainfluensa. Bronkopneumonia lipoid dapat terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung minyak secara intranasal. Bakteri : Streptokokus pneumoni. pemberian makanan dengan posisi horizontal.Pada bayi : Virus : Virus parainfluensa. M. Pneumocytis. Adenovirus.3. . Haemofilus influenza.Pada anak besar – dewasa muda : Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia.Pada neonatus : Streptocccus grup B. . minyak tanah dan bensin). Setiap keadaan yang mengganggu mekanisme menelan seperti palatoskizis.3. Mycobakterium tuberculosa.2 Faktor Non Infeksi Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi : 1. C. RSP Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia Bakteri : Pneumococcus. termasuk jeli petroleum. trachomatis Bakteri : Pneumococcus. RSV.2. Jenis minyak binatang yang mengandung asam lemak tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti susu dan minyak ikan.Mycobacterium tuberculosa.Cytomegalovirus. . atau pemaksaan pemberian makanan seperti minyak ikan pada anak yang sedang menangis. Organisme atipikal : Chlamidia trachomatis.

yang satu merupakan predisposisi yang lain (Tupasi. terutama bayi kurang dari 1 tahum. daya tahan tubuh sangat berpengaruh untuk terjadinya Bronkopneumonia. Menurut sistem imun pada penderita-penderita penyakit yang berat seperti AIDS dan respon imunitas yang belum berkembang pada bayi dan anak merupakan faktor predisposisi terjadinya penyakit ini. 1. . kedua keadaan ini sinergistik. Faktor host (diri) 1. sedangkan salah satu determinan utama dalam mempertahankan keseimbangan tersebut adalah status gizi. saling mempengaruhi. 1985). ketahanan tubuh menurun dan virulensi phatogen lebih kuat sehingga menyebabkan keseimbangan yang tergangu dan akan terjadi infeksi. 2. Usia Kebanyakan infeksi saluran pernafasan yang sering mengenai anak usia dibawah 3 tahun. 1. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak pada balita lebih rentan terkena penyakit bonkopneumonia dibandingkan orang dewasa dikarenakan kekebalan tubuhnya masih belum sempurna.Selain faktor di atas.4 Faktor Resiko Faktor-faktor yang berperan dalam kejadian Bronkopneumonia adalah sebagai berikut : 1. Status Gizi Interaksi antara infeksi dan Kekurangan Kalori Protein (KKP) telah lama dikenal. Pada KKP. Riwayat penyakit terdahulu Penyakit terdahulu yang sering muncul dan bertambah parah karena penumpukan sekresi yang berlebih yaitu influenza. Pemasangan selang NGT yang tidak bersih dan tertular berbagai mikrobakteri dapat menyebakan terjadinya bronkopneumonea.

dan keadaanan sosialnya yang baik untuk keluarga dan individu (WHO. 1. Kepadatan hunian (crowded) Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang. perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani. Faktor Lingkungan 1. Infeksi saluran nafas bagian bawah menyebabkan tiga hal. rohani. Haemophillus influenzae atau karena aspirasi makanan dan minuman. sebagian lagi masuk ke pembuluh darah dan menginfeksi saluran pernafasan dengan ganbaran sebagai berikut: 1.5 Patofisiologi Bronchopneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas yang disebabkan oleh bakteri staphylococcus. Dari saluran pernafasan kemudian sebagian kuman tersebut masukl ke saluran pernafasan bagian bawah dan menyebabkan terjadinya infeksi kuman di tempat tersebut.1. 1989). Status sosioekonomi Kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi yang rendah mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan masyarakat. yaitu dilatasi pembuluh darah alveoli. dan masyarakat diduga merupakan faktor resiko penularan pneumonia. dimana orang menggunakannya untuk tempat berlindung yang dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang diperlukan. peningkatan suhu. 1. . dan edema antara kapiler dan alveoli. 2. Rumah Rumah merupakan struktur fisik. jumlah anggota keluarga.

anoreksia. 2. apabila proses menjalar ke pleura (terjadi pleuropneumonia) 4. diare. baik pada awal penyakit atau selama sakit lalu purulen dan bisa terjadi hemoptisis 3.) 2.6 Manifestasi Klinis 1.2. krepitasi 2. suara bisik. suara napas bronkovesikuler – bronchial.1 Pemeriksaan fisik a. diambil sputum yang mengandung darah dan nanah 2. Sputum dicuci dg garam faali. mula-mula mukoid . mual & muntah. Palpasi / Perkusi / Auskultasi tanda-tanda konsolidasi : Redup.2 Pemeriksaan Penunjang a.) Demam mendadak. 2.) Tanda & gejala lain yang tidak spesifik : mialgia. pusing.7. peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi dan kemudian terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit 2.) Batuk.) Nyeri pleuritik. fremitus raba / suara meningkat. malaise. Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora normal dalam usus. ringan sampai berat.) Mempunyai banyak keterbatasan Usahakan bebas dari kontaminan dengan berbagai cara : 1. disertai menggigil. Pemeriksaan dahak 1.7.7 Pemeriksaan 2. Inspeksi / palpasi : sisi hemitoraks yg sakit tertinggal b.

3. Abnormalitas radiologis pada pneumonia disebabkan karena pengisian alveoli oleh cairan radang berupa : opasitas / peningkatan densitas ( konsolidasi ) disertai dengan gambaran air bronchogram 2. Pemeriksaan darah 1. Asidosis respiratorik pada stadium lanjut e. 4. pungsi transtorakal 3. kavum orofaring dibersihkan dulu dengan cara berkumur 3. memakai bronkosokopi 5. Tampilan klinis pneumonia dapat dibedakan menjadi dua kelompok. yaitu bacterial dan non bacterial (atipikal) .) spesimen yg diperoleh lalu dilakukan pengecatan gram dan kultur b. maka ulangan foto toraks harus diulangi dalam 24-48 jam untuk menegakkan diagnosis. aspirasi trakeal 4. Umumnya lekositosis ringan sampai tinggi 2. Bila di dapatkan gejala klinis pneumonia tetapi gambaran radiologis negatif. Foto thorax PA/lateral 1. Hipoksemia & hipokarbia 2. Pemeriksaan gas darah 1. Hitung jenis bergeser ke kiri ( shift to the left) LED dapat juga tinggi Kultur darah dapat positif 20-25 % pada penderita yang tidak diobati c. 3. 2.2.

KARAKTER KLINIS Timbulnya gejala Batuk Pengecatan gram Leukositosis Nyeri dada Foto paru PNEUMONIA BAKTERIAL Mendadak sebagian besar di paru Produktif dengan banyak sputum. sputum sedikit Non diagnostik. Juga diperhatikan ada tidaknya faktor modifikasi. segen atau bronkopneumonia Tidak mengikuti batas anatomis. purulen/mukopurulen Sering ditemukan mikroba PNEUMONIA NON BAKTERIAL (ATIPIKAL) Berangsur-angsur. atau leukopeni yang jelek Ada. leukopeni pada kasus Biasanya tidak ada.8 Penatalaksanaan Pengelolahan pneumonia harus berimbang dan memadai. sering bersifat umum selain di paru Tidak produktif. bervariasi dari yang ringan sampai berat Tanda konsolidasi lobar. mencakup : 1. yaitu keadaan yang dapat meningkatkan resiko infeksi patogen yang spesifik misalnya S. pneumoniae yang resisten terhadap penesilin. baik pada pengecatan gram maupun kultur Ada dan tinggi. Tindakan umum ( general suportif ) 2. Koreksi kelainan tubuh yang ada 3. kelainan interstitial Jarang 2. Pemilihan antibiotik Bila keadaan klinis baik dan tidak ada indikasi rawat inap dapat diobati di rumah. .

Pengobatan antibiotik spektrum luas lebih dari 7 hari sebelumnya 4. Kuman-kuman tersebut meliputi : 1. Streptococcus pneumoniae yg resisten terhadap penisilin : a. Adanya penyakit ko-morbid yang lain f. Usia > 65 tahun b. Adanya penyakit ko-morbid yang lain 4. Enterik gram-negative : 1. Pseudomonas aeruginosa : 1.) Faktor modifikasi adalah keadaan yang dapat meningkatkan resiko infeksi dengan kuman patogen yg spesifik. Kontak dengan anak-anak 1. Pecandu alkohol d. Terapi kortikosteroid (>10 mg pednison/hari) 3. Pendekatan ini harus mempertimbangkan : . Mendapat tx betalaktam dlm 3 bulan terakhir c. Pengobatan antibiotika sebelumnya 5. Penyakit gangguan imunitas (tms tx steroid) e.) Faktor antibiotik diperlukan adanya pendekatan yang logis untuk memperkirakan etiologi dan memberikan pengobatan inisial secara empiris. Kerusakan jaringan paru (bronkiektasis) 2. Adanya dasar penyakit kardiopulmoner 3. Malnutrisi B. Penghuni rumah jompo 2.A. 3.

kecenderungan epidemiologis setempat 2.8. Bila panas tinggi perlu dikompres atau minum obat penurun panas 2. Pemberian obat simtomatik antara laim antipiretik. faktor risiko sosial (alkohol. 1.8. Minum secukupnya untuk mengatasi dehidrasi 1. dll) 5. Istirahat di tempat tidur 2.3 Penatalaksanaan rawat inap di ruang rawat intensif . Pengobatan suportif / simtomatik 1. Pemberian terapi oksigen 2.8. Pengobatan antibiotik harus diberikan ( sesuai bagan ) kurang dari 4 jam 2. temuan kelainan paru (pemeriksaan fisik dan radiologis) 2. Pengobatan antibiotik harus diberikan ( sesuai bagan ) kurang dari 4 jam 2. Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit 3. mukolitik 1.1. Pengobatan suportif / simtomatik 1. drug abuse. Bila perlu dapat diberikan mukolitik dan ekspektoran 3.2 Penatalaksanaan rawat inap a. penyakit penyerta / komorbid 4.1 Penatalaksanaan rawat jalan a. usia penderita 3.

Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.   Rasional  Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stres/ adanya proses infeksi akut. dengan criteria: 2) mengauskultasi bunyi nafas.  Bersihan jalan nafas tidak efektif Jalan napas bersih dan efektif setelah hari Tidak ada dypsnoe. Bersihan jalan nafas yang tidak efektif dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas adventisius Posisi semi fowler akan berhubungan dengan perawatan.35 – 7. koreksi kalori & elektrolit 3. peningkatan produksi a) sputum. catat rasio inspirasi/ ekspirasi catat adanya bunyi nafas.a.45 = 80–100 mmHg 22–26 mmol/L Data Subjektif   Pasien mengeluh rewel Pasien mengeluh sesak sesak nafas H+ = 35–45 nmol/L(nM) PaCO2 = 35–45 mmHg HCO3−= . untuk mencairkan dahak sehingga mudah dikeluarkan. 4) Memberikan minum hangat sedikit sedikit tapi sering. mukolitik.9 Asuhan Keperawatan No. Pemberian obat simtomatik antara lain antipiretik. Pengobatan antibiotik harus diberikan ( sesuai bagan ) kurang darti 4 jam c. Intervensi 1) Mengkaji frekuensi pernafasan. Pemasangan infus untuk rehidrasi. 5) Melaksanakan tindakan delegatif : Bronchodilator. Data-data: sianosis. ronchi dan suara krek-krek b) pH PaO2 BGA mormal = 7. Bila ada indikasi penderita dipasang ventilator mekanik. mukolitik b. Pengobatan suportif / simtomatik 1. Misalnya: mengi. Diagnosis Keperawatan Perencanaan Tujuan 1. 2. 3) Memberikan posisi semi fowler. Pemberian terapi oksigen 2. krekels dan ronki.

Pemberian obat-obatan pengerncer dahak memudahkan proses evakuasi jalan nafas  anak mencret Data Objektif      Pernafasan cepat dan dangkal pernafasan cuping hidung ronchi dan sianosis batuk berdahak sputum purulen penggunaan otot Bantu nafas .   Pasien tidak mau makan Terdengar suara grek-grek orang tua menyatakan kurang paham tentang penyakit yang diderita anaknya   mempermudah pasien untuk bernafas Hidrasi menurunkan kekentalan sekret dan mempermudah pengeluaran.

Membantu aktivitas anak  Anak membutuhkan bantuan dalam keadaan sakit untuk memenuhi kebutuhannya aktivitas sesuai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari- .  Manifestasi distres pernafasan tergantung pada derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum  Sianosis menunjukkan vasokontriksi atau respon tubuh terhadap demam/ menggigil dan terjadi hipoksemia. gangguan kapasitas pembawa oksigen darah. 3) 4) Mempertahankan istirahat Kolaborasi pemberian oksigen dan tidur. 1) hari. dengan benar sesuai dengan indikasi sianosis pada kulit. respirasi meningkat Menunjukan fungsi paru 1) Mengkaji frekuensi. perubahan membran alveolus sesak hilang. Intoleransi aktivitas berhubungan dewngan kelemahan umum. tidak ada 3. Mengbsevasi warna kulit. Mampu toleran terhadap / kondisi anak.   Menghemat penggunaan oksigen dengan Istirahat dan tidur Mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kapiler. membran 2) mucosa dan kuku. membran mucosa dan kuku apakah terdapat sianosis. gangguan pengiriman oksigen yang optimal dengan kriteria Kedalaman dan kemudahan pernafasan.   bunyi nafas bronchovesikuler muntah malaise penurunan nafsu makan dan berat badan  2.

pencegahan. Nyeri hilang / berkurang dengan kriteria : Menunjukan penurunan skala nyeri . mampu mengulang kembali penatalaksanaan di rumah sakit atau . 5. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi parenkim paru. Memberikan tindakan     Dengan aktifitas yang dilakukan bertahap diharapkan energi yang dikeluarkan tidak berlebih Mengetahui tingkat keparahan penyakit Rasa nyaman adalah salah satu cara untuk mengurangi rasa nyeri karena bisa menimbulkan efek relaksasi Dengan nafas yang baik dapat mengurangi rasa nyeri yang diderita Permberian analgetika sangat berperan dalam penurunan tingkat kenyerian nyeri misalnya tajam. 4. delegasi pemberian analgetika untuk menurunkan nyeri. ditusuk. wajah tampak rileks. kenyamanan atau latihan nafas. 3) Menyarankan untuk  melakukan aktivitas secara bertahap. 1) 2) 3) 4) Menentukan karakteristik Memberikan tindakan Mengjarkan tekhnik relaksasi. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pemahaman Pengetahuan orang tua 1) Memberikan penjelasan  Menambah pengetahuan keluarga sehingga dapat membantu dalam proses perawatan anak meningkat dengan kriteria : tentang penyakit anak. dll.2) Menyarankan keluarga untuk  Aktifitas yang berlebih akan membutuhkan banyak tenaga dan akan menimbulkan kelelahan pada anak membatasi aktivitas anak yang berlebihan yang dapat menimbulkan kelelahan.

terjadi dengan kriteria makanan yang disediakan dapat dihabiskan. yang dapat dilakukan dirumah agar oreang tua mengetahui dan mau aktif ikut serta dalam setiap tindakan. Kekurangan volume cairan Tidak terjadi kehilangan 1) Mengkaji perubahan tanda-  Untuk menunjukkan adnya .  Peran ibu sangatlah penting dalam proses penyembuhan anak 6. rendahnya tahanan terhadap infeksi. 1) Mengidentifikasi faktor yang   Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah Tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali dan mengurangi efek mual pada anak dapat menimbulkan mual dan muntah 2) 3) 4) Memberikan makan porsi kecil Menyajikan makanan dalam  Menimbang BB setiap hari  tapi sering. keadaan hangat.terhadap informasi penjelasan yang diberikan. Makanan hangat dapat meningkatkan rasa nyaman diperut anak Adanya kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi. atau lambatnya responterhadap terapi 7. 2) Memotivasi ibu untuk melaksanakan anjuran petugas. Perubahan nutrisi kurang dari Gangguan nutrisi tidak kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.

berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan . tidak ada 3) 4) cairan. tanda vital. . penurunan pemasukan oral volume cairan dengan kriteria : Meningkatnya tanda – tanda kurang volume cairan. sesuai indikasi. 2) Mengkaji turgor kulit. Menyatat intake dan out put  Kolaborasi pemberian obat   kekurangan cairan sisitemik Indikator langsung keadekuatan masukan cairan Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian Memperbaiki ststus kesehatan masukan cairan .