BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sedang dihadapi masyarakat dunia akhir-akhir ini. Indonesia sendiri termasuk dalam salah satu negara yang mengalami peningkatan kasus HIV/AIDS tertinggi. Data Kementerian Kesehatan dari April sampai dengan Juni 2011 kasus AIDS baru dilaporkan adalah 2.001 kasus dari 59 Kabupaten/Kota di 19 Provinsi. Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Cara penularan kasus AIDS baru yang dilaporkan melalui heteroseksual (76,3%), IDU (16,3%), perinatal (4,7%) dan homoseksual (2,2%).¹ Penularan AIDS sekarang ini tidak hanya dilakukan oleh kaum heteroseksual, tetapi juga pada kaum homosekual seperti gay dan waria. Kurangnya pengetahuan akan bahaya HIV/AIDS dengan melakukan hubungan seksual dengan cara berganti-ganti pasangan merupakan salah satu penyebab tingginya angka peningkatan kasus HIV/AIDS. Penemuan baru di 2011 ini, berdasarkan laporan hasil survei Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan Badan Narkotik Nasional (BNN), peningkatan jumlah penderita tidak lagi didominasi penggunaan jarum suntik. Tetapi mulai didominasi perilaku seks bebas homoseksual atau seks antar lelaki. Homoseksual dan biseksual masih tetap merupakan kelompok yang terpinggirkan di Indonesia. Meskipun merupakan faktor penting dalam penyebaran HIV, namun masih sedikit kampanye atau penyuluhan pencegahan yang membahas secara spesifik masalah yang berkaitan dengan homoseksualitas dan biseksualitas. Marginalisasi telah memaksa banyak pria homoseksual yang menjalani kehidupan biseksual dimana kehidupan homoseksual yang terselubung ditutupi oleh kehidupan heteroseksual yang sesuai nilai-nilai komunitas, sehingga menyulitkan untuk dapat menjangkau kelompok yang rentan ini dengan pesan-pesan yang dapat mereka rasakan sesuai dengan kondisi mereka. Marginalisasi juga berarti bahwa konteks sosial dari komunitas homoseksual didominasi oleh kurangnya kepercayaan dan komunikasi terbuka, kurangnya penyebaran informasi dan perilaku seks yang tidak aman. Oleh karena itu, disini diperlukan kemampuan kita sebagai masyarakat maupun dokter untuk membantu menanggulangi peningkatan HIV/AIDS khususnya bagi kaum homoseksual.

1

Bagi Peneliti untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang penanggulangan HIV/AIDS pada komunitas gay dan waria.2 Tujuan Penelitian o o Mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya peningkatan kasus HIV/AIDS Mengetahui cara menanggulangi HIV/AIDS pada kaum waria dan gay pada kaum gay dan waria 1. 3. 2. Dokter-dokter. 1. Bagi Pemerintah.4 Manfaat Penelitian 1.3 Hipotesis Cara penanggulangan HIV/AIDS pada kaum gay dan waria dapat diketahui melalui faktor-faktor penyebabnya.1. dan Lembaga Sosial Masyarakat agar lebih memperhatikan kaum gay dan waria dengan memberikan penyuluhan atau seminar. Bagi kaum gay dan waria untuk memberikan masukan dan informasi tentang bahaya dan penularan penyakit HIV/AIDS dalam rangka mengurangi jumlah penderita HIV/AIDS. 2 .

² Ini adalah infeksi virus yang bisa menyebakan kerusakan parah dan tidak bisa diobati pada sistem imunitas. karena hubungan seksual dilakukan secara anal. cairan vagina. Sampai sejauh ini penyakit AIDS masih belum diketahui obatnya dan mayoritas orang yang terserang penyakit ini akan meninggal dalam beberapa tahun kemudian. air susu ibu dan cairan-cairan lain yang mengandung darah. mereka berpikir tidak akan hamil.BAB II PEMBAHASAN 2. penerima transfusi darah maupun heteroseksual. semen atau air mani. padahal resiko kesehatannya jauh lebih besar. Akan tetapi.1 Pengertian HIV/AIDS HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran untuk mencegah penularan HIV/AIDS di kalangan gay dan waria masih rendah. HIV merupakan penyebab dasar dari AIDS. 3 . penyalahguna narkoba melalui jarum suntik.2 HIV/AIDS pada kaum gay dan waria Virus AIDS sekarang sangat umum dijumpai di dalam komunitas homoseksual.² Penularan bisa terjadi melalui hubungan seks. Mereka menanggung risiko mendapatkan penyakit ini dari pasangan yang sudah mengidapnya bila mereka mengadakan hubungan seksual melalui anus. yang memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular AIDS adalah melalui darah dan hubungan seksual. Resiko yang ditakutkan dari berhubungan seksual umumnya adalah takut hamil.³ Kerentanan kaum gay atau waria terkena HIV/AIDS adalah karena rendahnya kesadaran menggunakan alat kontrasepsi ketika berhubungan seksual. HIV secara umum dapat menular melalui cairan tubuh seperti darah. Kaum homoseksual dengan lebih dari satu pasangan seksual memiliki risiko yang tinggi terkena HIV/AIDS. Namun. Kaum waria dan gay dikenal sebagai golongan yang sangat rentan terkena HIV/AIDS. 2. Mayoritas pasien AIDS adalah homoseksual. pemakaian jarum suntik yang bergantian dan melalui ibu ke anak selama masa kehamilan atau persalinan dan juga masa menyusui. transfusi darah. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan berbagai gejala dan infeksi sebagai akibat hilangnya system kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV.

Kondisi Sosial  Kondisi sosial juga sangat mempengaruhi seseorang untuk melakukan hal-hal negatif. Kepribadian seseorang dapat mempengaruhi cara pandang dan cara pikir seseorang terhadap suatu hal.2.1 Faktor Penyebab  Psikologis Faktor psikologis sangat berhubungan dengan kepribadian seseorang. pasti akan terjadi perubahan perilaku yang lebih baik. Bila seseorang memiliki kesadaran diri bahwa perbuatannya salah dan dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain dan orang itu siap atau mau untuk mengubah perilakunya. Walaupun ia tahu perbuatannya salah dan dapat tertular penyakit kelamin sperti HIV/AIDS. biasanya mereka akan lari dari masalah dan melampiaskannya ke hal-hal yang negatif. misalnya menjadi homoseksual dan suka berganti-ganti pasangan. Homoseksual dan biseksual masih tetap merupakan kelompok yang terpinggirkan di Indonesia. banyak masyarakat yang tidak mempunyai pengetahuan secara memadai tentang pengertian penyakit HIV/AIDS serta akibat-akibat dari hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan juga pencegahan tertularnya penyakit HIV/AIDS. Ekonomi  4 . ia tidak berniat untuk mengubah perilakunya karena didalam dirinya sudah tertanam tekanan psikologis dari masa lalu. ia menjadi homoseksual dan suka berganti-ganti pasangan. namun masih sedikit kampanye pencegahan yang membahas secara spesifik masalah yang berkaitan dengan homoseksualitasdan biseksualitas. Minimnya pengetahuan inilah yang menyebabkan tingginya angka penderita HIV/AIDS khususnya kaum homoseksual.2. Meskipun merupakan faktor penting dalam penyebaran HIV. Misalnya karena dulu pernah disakiti perempuan. Namun. Kondisi sosial dapat dipengaruhi oleh :  Edukasi Pada umumnya. Kebanyakan mereka hanya mengetahui bahwa penyakit kelamin sperti HIV/AIDS hanya dapat ditularkan dari hubungan seksual antara lawan jenis yang sering kali berganti-ganti pasangan. apabila seseorang mempunyai tekanan psikologis dari dalam dirinya seperti pengalaman masa lalu.

Misalnya.2 Cara Penanggulangan Dalam upaya menanggulangi peningkatan kasus HIV/AIDS pada kaum gay dan waria. yaitu : 4 1. misalnya peningkatan migrasi ke daerah perkotaan. Sehingga sering kali banyak masyarakat yang belum mengetahui mengenai bahaya melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan. juga diperlukan dukungan dari keluarga dan orang terdekat serta masyarakat yang harus mendukung dan tidak mendiskriminasi orang yang terkena penyakit HIV/AIDS. seminar maupu media massa mengenai HIV/AIDS kepada masyarakat untuk mengurangi perilaku seks yang menyimpang dan dapat memperbesar risiko tertularnya HIV/AIDS. gizi dan layanan dasar lainnya. Promosi kesehatan (Health promotion)  5 . yaitu setia pada satu pasangan c) Condom. Kemiskinan meningkatkan kerentanan terhadap tertular HIV/AIDS melalui beberapa cara. bila seseorang tinggal di lingkungan tempat lokalisasi. Ada 5 tingkat pencegahan (Five level prevention) menurut Level & Clark. yaitu menunda kegiatan seksual b) Be faithful. dan ketidaksetaraan gender.Masyarakat miskin dan terpinggirkan sangat rentan terhadap HIV dan AIDS. 2. bisa dilakukan dengan metode ABCD : a) Abstinence. yaitu menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual d) Drugs. yaitu tidak menggunakan NAPZA terutama penggunaaan jarum suntik agar tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian dan bersama-sama Upaya pencegahan juga bisa dilakukan dengan memberikan informasi dan edukasi baik dalam bentuk penyuluhan. lama-lama orang itu bisa terpengaruh untuk melakukan hal yang serupa. akses terbatas pada pendidikan dan informasi. Budaya di Indonesia masih menganggap bahwa pengetahuan tentang perilaku seksual merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan. Budaya berkaitan dengan nilai-nilai dan norma sosial dalam masyarakat. akses terbatas perawatan kesehatan. apalagi bila ditambah dengan ajakan/bujukan dari orang-orang terdekatnya. eksploitasi seksual. Selain itu.2. Sosial dan budaya Lingkungan sosial sangat mempengaruhi perilaku seksual yang menyimpang.

waria penjaja seks dan pelanggannya serta lelaki suka lelaki. Karena kekhususannya.2. lingkungan.3 Teori dan Realita A. Rehabilitasi (Rehabilitation) Ada juga beberapa cara pencegahan berdasarkan kelompok-kelompok tertentu. pelanggan penjaja seks. Teori Psikologis. • Kelompok rentan (vulnerable people) adalah kelompok masyarakat yang karena lingkup pekerjaan. ibu hamil. anak jalanan. people) memelihara produktivitas individu dan meningkatkan kualitas hidup. Pencegahan • Kelompok ditujukan berisiko untuk tertular menghambat atau rawan lajunya tertular perkembangan (high-risk HIV. Pembatasan cacat (Disability limitation) 5. perempuan. Pencegahan ditujukan untuk peningkatkan kewaspadaan. Dalam kelompok ini termasuk penjaja seks baik perempuan maupun laki-laki. teori psikologi dibagi menjadi 3 : 6 . Diagnosis dini dan pengobatan segera (Early diagnosis and prompt treatment) 4. kepedulian dan keterlibatan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di lingkungannnya. Perlindungan khusus (Spesific protection) 3. sehingga rentan terhadap penularan HIV. ketahanan dan atau kesejahteraan keluarga yang rendah dan status kesehatan yang labil. Kelompok berisiko tertular adalah mereka yang berperilaku sedemikian rupa sehingga sangat berisiko untuk tertular HIV. penerima transfusi darah dan petugas pelayanan kesehatan. remaja. Pencegahan untuk kelompok ini ditujukan agar tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko tertular HIV. penyalahguna napza suntik dan pasangannya. (Menghambat menuju kelompok berisiko) • Masyarakat Umum (general population) adalah mereka yang tidak termasuk dalam ketiga kelompok terdahulu. Pencegahan untuk kelompok ini ditujukan untuk mengubah perilaku berisiko menjadi perilaku aman. Termasuk dalam kelompok rentan adalah orang dengan mobilitas tinggi baik sipil maupun militer. pengungsi. 2. diantaranya : 5 • Kelompok tertular (infected people) adalah mereka yang sudah terinfeksi HIV. narapidana termasuk dalam kelompok ini.

Perilaku yang mencerminkan mental yang sehat menurut behavioristik adalah jika ia dapat mengaplikasikan pengalamannya dalam menghadapi masalah yang ia 7 . Ego dan Super Ego. kebutuhan untuk hidup.6 Id menimbulkan keinginan besar seperti keinginan seksual. Contoh : seorang pria yang memiliki hasrat seksual yang besar lalu dia mencari penyaluran realistis namun ia tidak mempunyai istri ataupun kekasih. atau menyublimasi keinginan tersebut.• Teori psikoanalisis Teori ini menurut Freud memandang pembentuk kepribadian dan sikap seseorang dipengaruhi oleh model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan model kepribadian tersebut adalah : Id. Seperti mencari lawan jenis untuk berhubungan seksual. Id adalah factor keinginan yang timbul dari naluri dan insting untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia. Superego adalah aspek sosiologis dari kepribadian berupa hubungan keinginan dari id dengan norma atau peraturan yang ada di masyarakat. Disaat pertahanan ego tidak bekerja maka id akan semakin besar lalu hasrat seksual itu akan di salurkan tanpa berpikir lagi maka timbullah perilaku menyimpang seperti pemerkosaan. manstrubasi. Id akan menimbulkan energi yang menyebabkan tingginya tegangan untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia. • Teori Behavioristik Psikologi behavioristik menganggap perilaku manusia karena hasil dari belajar selama hidupnya. dan lain lain. Ego adalah aspek psikologis manusia yaitu kognitif dan intelektual tujuan ego adalah mencari objek yang tepat dan realistic untuk mereduksi tegangan dari Id. Jika seseorang terlalu menuruti naluri Id yang dia rasakan dan tidak menghiraukan ego dan superego yang ada maka orang tersebut dapat melakukan hal yang dianggap abnormal dan orang tersebut dapat dinilai tidak memiliki mental yang sehat. menggantikan keinginan dengan yang tidak berbahaya. Disaat hasratnya semakin besar dia tidak mempunyai mekanisme pertahanan ego yaitu ego menempuh cara ekstrim untuk menghilangkan tekanan kecemasan berlebihan dari id dengan cara rasionalisasi. berusaha mencari kebutuhan hidup dan lainnya. kasih sayang. Lalu ego mencari penyaluran realistis untuk mereduksi tegangan dari id. Disaat ego sudah menemukan penyalurannya lalu muncul superego yaitu suara hati yang menilai apakah tindakan yang akan kita lakukan sesuai dengan aturan atau norma yang ada di masyarakat dan apakah bisa diterima oleh banyak orang. Ketika energi Id memuncak muncullah Ego. atau perilaku seks bebas.

Dan kesehatan mental menurut humanistik adalah setiap manusia memiliki caranya masing . 4. Teori Kedokteran tentang HIV/AIDS Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh virus yang disebut Human immunodeficiency virus (HIV). Motivasi menimbulkan perilaku. kreatif dan bebas dari segala tekanan dari luar. Tapi jika manusia itu tidak dapat menggunakan hasil belajarnya dengan baik dan justru semakin terjerumus dalam masalah lalu menimbulkan perilaku atau pikiran yang tidak sesuai serta keputusasaan maka orang itu tersebut dianggap terganggu kesehatan mentalnya. Sesuai dengan keyakinan humanistik bahwa manusia unik maka untuk memenuhi kebutuhan manusia melakukan hal – hal yang berbeda. • Teori Humanistik Psikologi humanistik mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. Abraham Maslow menekankan pada teori motivasinya : 1. Dalam mengambil keputusan individu yang sehat juga menggunakan segala aspek psikologisnya seperti emosional dan intelegensinya dan tidak terburu – buru. HIV menyerang sel darah putih yang menangkal infeksi. Psikologi humanistik manusia adalah makhluk kreatif. kebutuhan-kebutuhan fisiologis 2. 5. kebutuhan-kebutuhan rasa aman 3. Manusia juga belajar melalui lingkungan sekitarnya jika ia belajar dengan orang yang salah dan lingkungan yang salah maka akan menghasilkan perilaku yang salah juga. Hal tersebut merupakan ciri dari orang yang memiliki jiwa yang sehat.hadapi dengan baik. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut T4 atau sel T penolong (T helper) 8 .masing untuk mengatasi gangguan mentalnya dan bagaimana manusia melakukan hal yang berbeda – beda dalam menghadapi berbagai tekanan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan mental. B. kebutuhan-kebutuhan rasa aman dan memiliki kebutuhan akan penghargaan kebutuhan akan aktualisasi diri Dari kebutuhan di atas manusia memiliki motivasi yang mempengaruhi sikapnya. yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri bukan pada kekuatankekuatan ketidaksadaran.

cairan vagina dan air susu ibu. Teori sosiologi yang menyimpang.Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan . cairan sperma.atau juga sel CD 4. air mata dan lain-lain. sebab perilaku menyimpang dalam Teori anomi Teori anomi menempatkan ketidakseimbangan nilai dan norma dalam masyarakat sebagai penyebab penyimpangan.Batuk menetap lebih dari 1 bulan . enzim ini dapat menggunakan RNA virus sebagai template untuk membentuk DNA yang kemudian berintegrasi dalam kelompok hospes dan selanjutnya bekerja sebagai dasar untuk proses replikasi HIV. Sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat.Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita . atau dapat dikatakan mempunyai kemampuan mengopi cetak materi genetik diri di dalam materi genetik sel-sel yang ditumpanginya melalui proses ini HIV dapat mematikan sel-sel T4.Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang . Dikatakan kelompok retrovirus karena virus ini mempunyai kemampuan dapat membentuk DNA dari RNA virus.Limfadenopati generalisata . di mana tujuan-tujuan budaya lebih ditekankan dari sosiologi dapat dilihat dari hal-hal berikut : 6  9 . Gejala Mayor: .2.Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan .Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan . air liur. Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah.Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis . sebab mempunyai enzim trankriptase reversi.Demensia/ HIV ensefalopati Gejala Minor: .Kandidias orofaringeal .Herpes simpleks kronis progresif .Dermatitis generalisata . HIV tergolong ke dalam kelompok retrovirus subkelompok Lentivirus.Retinitis virus sitomegalo C.7 HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia.

Sebenarnya setiap teori sosiologis tentang penyimpangan mempunyai asumsi bahwa individu disosialisasikan untuk menjadi anggota kelompok atau masyarakat secara umum. Menurut teori labeling. sebab pelaksanaan kontrol sosial tersebut mendorong orang masuk ke dalam peran penyimpang. Walaupun teori ini dimaksudkan memberikan penjelasan umum tentang kejahatan. Kelompok yang mengalami lebih banyak ketegangan karena ketidakseimbangan ini (misalnya orang-orang kelas bawah) lebih cenderung mengadaptasi penyimpangan daripada kelompok lainnya. sementara orang atau kelompok lainnya melakukan penyimpangan. Ditutupnya peran konvensional bagi seseorang dengan pemberian stigma dan label.  Teori Kontrol 10 . pemberian sanksi dan label yang dimaksudkan untuk mengontrol penyimpangan malah menghasilkan sebaliknya. menyebabkan orang tersebut dapat menjadi penyimpang sekunder. Tetapi pembelajaran itu bisa juga termasuk mangadopsi norma-norma dan nilai-nilai yang menetapkan penyimpangan diinginkan atau dibolehkan dalam keadaan tertentu. Pembelajaran itu mungkin tidak kentara. Teori ini memperkirakan bahwa pelaksanaan kontrol sosial menyebabkan penyimpangan. Sebagian besar orang menganut norma-norma masyarakat dalam waktu yang lama. khususnya dalam mempertahankan diri dari pemberian label. Untuk masuk kembali ke dalam peran sosial konvensional yang tidak menyimpang adalah berbahaya dan individu merasa teralienasi.  Perspektif Teori Labeling labeling mengetengahkan pendekatan interaksionisme dengan berkonsentrasi pada konsekuensi interaksi antara penyimpang dengan agen kontrol sosial. Teori Differential Association oleh Sutherland adalah teori belajar tentang penyimpangan yang paling terkenal. Individu dan kelompok dalam masyarakat seperti itu harus menyesuaikan diri dan beberapa bentuk penyesuaian diri itu bisa jadi sebuah penyimpangan. misalnya saat orang belajar bahwa penyimpangan tidak mendapat hukuman.pada cara-cara yang tersedia untuk mencapai tujuan-tujuan budaya itu. dapat juga diaplikasikan dalam bentuk-bentuk penyimpangan lainnya. Teori sosiologi atau teori belajar memandang penyimpangan muncul dari konflik normatif di mana individu dan kelompok belajar norma-norma yang membolehkan penyimpangan dalam keadaan tertentu.

seseorang merasa lebih bebas untuk menyimpang. Lebih banyak perilaku homoseksual dibandingkan orang yang memiliki orientasi homoseksual. Teori ini meletakkan penyebab kejahatan pada lemahnya ikatan individu atau ikatan sosial dengan masyarakat. di mana opini masyarakat akhir-akhir ini lebih bisa menerima homoseksualitas. mengklasifikasi. Jika seseorang merasa dekat dengan kelompok konvensional. Orientasi homoseksual adalah sikap atau perasaan ketertarikan seseorang pada orang lain dengan jenis kelamin yang sama untuk tujuan kepuasan seksual. Perilaku homoseksual adalah hubungan seks antara orang yang berjenis kelamin sama. 11 . D. sedikit sekali kecenderungan menyimpang dari aturanaturan kelompoknya. Berpikir kritis meliputi pemikir-an dan penggunaan alasan yang logis. peraturan dan hukum daripada penjelasan perilaku yang dianggap melanggar peraturan. Homoseksualitas menyangkut orientasi dan perilaku seksual. Tapi jika ada jarak sosial sebagai hasil dari putusnya ikatan. Kelompk-kelompok yang lemah ikatan sosialnya (misalnya kelas bawah) cenderung melanggar hukum karena merasa sedikit terikat dengan peraturan konvensional. walaupun banyak juga digunakan dalam bentuk-bentuk penyimpangan lainnya. mendeskripsikan pola. menghubung-kan sebab dan akibat. melakukan pengurutan (sekuensi). Ia adalah teori penjelasan norma. Norma dan aturan hukum yang melarang homoseksualitas dianggap kuno. Kelompok-kelompok elit menggunakan pengaruhnya terhadap isi hukum dan proses pelaksanaan sistem peradilan pidana.Perspektif kontrol adalah perspektif yang terbatas untuk penjelasan delinkuensi dan kejahatan. atau macetnya integrasi sosial. menghindari bunuh diri karena alasan moral dan agama. Norma sosial lainnya mengikuti pola berikut ini. dan argumentasi. misalnya norma yang menganjurkan hubungan heteroseksual. mencakup ketrampilan membandingkan. tidak kecanduan minuman keras. Beberapa kelompok yang sangat berkuasa membuat norma mereka menjadi dominan.  Teori Konflik Teori konflik adalah pendekatan terhadap penyimpangan yang paling banyak diaplikasikan kepada kejahatan. Teori Berpikir Kritis Berpikir kritis mencakup ketrampilan menafsirkan dan menilai pengamatan. informasi. Peraturan datang dari individu dan kelompok yang mempunyai kekuasaan yang mempengaruhi dan memotong kebijakan publik melalui hukum.

Berpikir kritis penting. tetapi juga membantu menemukan cara untuk menemukan akar masalah. dan penyampaian kritik. pertimbangan apakah kesimpulan ditarik berdasarkan bukti-bukti pendukung yang memadai. Berpikir kritis penting dilakukan dalam profesi kedokteran. maupun berpikir dan bertindak dengan menggunakan keyakinan yang salah tersebut. Dalam skeptisisme ilmiah. Konsep dan prinsip berpikir ilmiah bersifat universal. dalam memilih terapi untuk pasien.membuat analogi. termasuk bidang profesi kedokteran. 12 . Sebagai contoh. menyusun rangkaian. proses berpikir kritis meliputi akuisisi dan interpretasi informasi. berpikir kritis diperlukan di semua bidang profesi dan disiplin akademik. Berpikir kritis tidak hanya persoalan berpikir secara analitis. seorang dokter perlu berpikir kritis apakah keputusan untuk memilih terapi sudah tepat. Hanya saja penerapannya perlu merefleksikan konteks bidang profesi dan disiplin yang bersangkutan. penggunaan informasi itu untuk menarik kesim-pulan yang bisa dipertanggungjawabkan. peramalan. tetapi juga berpikir secara berbeda (thinking differently). memberi alasan secara deduktif dan induktif. menjelaskan. Analisis kritis berguna tidak hanya untuk mengiris/ menganalisis masalah. menilai. penilaian argumen. Dengan menggunakan kerangka skeptisisme ilmiah. Berpikir kritis dapat diterapkan kepada kasus di bidang profesi apa saja. dan merestrukturisasi pemikirannya. sehingga dapat memperkecil risiko untuk mengadopsi keyakinan yang salah. Berpikir kritis mengurangi risiko pembuatan diagnosis yang keliru dan pemilihan terapi yang tidak tepat yang dapat merugikan atau berakibat fatal bagi pasien. perumusan hipotesis. apakah didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang kuat yang membenarkan bahwa terapi itu memang efektif untuk memecahkan masalah yang dihadapi pasien. karena memung-kinkan seorang untuk menganalisis.8 Berpikir kritis mencakup penentuan tentang makna dan kepentingan dari apa yang dilihat atau dinyatakan. perencanaan. Berpikir kritis mencakup analisis secara kritis untuk memecahkan masalah.

diperlukan kemampuan berpikir kritis dengan menganalisa situasi dan mengetahui faktor-faktor penyebabnya serta mencoba mencari solusi yang terbaik bagi semua pihak.2  Saran Bagi para calon dokter agar mampu berpikir kritis terhadap permasalahan yang ada dalam profesi dokter ke depannya.1 Kesimpulan Untuk menanggulangi peningkatan kasus HIV/AIDS khususnya bagi kaum gay dan waria. 13 .\ BAB III PENUTUP 3.  Bagi peneliti ilmiah selanjutnya agar lebih memfokuskan pengamatan pada masalah yang ada dan berusaha mencari jalan keluar yang lebih baik. 3.

Bunga rampai masalah kesehatan. Jayanti E. 2009. Bandung: Alimul AA. 4 November 2011. 8.91-3.or. Ferriman A. 4. 7. Diunduh dari www. 5. Jakarta: EGC. 6 November 2011.h. Sosiologi: menyelami fenomena sosial di masyarakat.id. 2007. Critical thinking. Diunduh dari http://fk.227-9. 3.id.113. 14 . Heriani.h. 6 Rahayuwati L. PT Purna Invest.ac. Laporan kementerian kesehatan triwulan Rengganis I.h. Ifran EB. Diunduh dari www. Mengenal HIV/AIDS. kedua.DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Bashiruddin J. Pengantar ilmu kesehatan anak untuk pendidikan kebidanan. 6 November 2011.lontar. 2007.unpad. Aids and anda.h.ui. Murti B.aidsindonesia.uns. 6. narkoba dengan kejadian infeksi HIV AIDS.ac. Diunduh dari http://resources. Jakarta: Salemba Medika.19. Weber J. penyunting. Komisi penanggulangan AIDS. Dalam: Anwar INC. Loetan F.id. Pengetahuan dan sikap mengenai hubungan penggunaan November 2011. Waluya B. 2008. dkk.ac. Deskripsi dan literatur. Sudarmo P.id.

peningkatan kasus HIV/AIDS ditempat yang kental kehidupan beragamanya Langkah 3 Analisis Masalah 15 . peningkatan kasus HIV/AIDS pada kaum gay dan waria 2. Proyek perintis : Proyek yang pertama kali dilakukan di daerah tersebut Langkah 2 Rumusan Masalah 1.LAMPIRAN Langkah 1 Identifikasi Istilah 1. HIV/AIDS : Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh 2. penanggulangan penyakit HIV/AIDS 3.

Teori sosiologi mengenai perilaku menyimpang Teori kedokteran tentang HIV/AIDS Teori berpikir kritis Teori psikologis edukasi psikologis Kondisi sosial ekonomi Social dan budaya Langkah 4 Hipotesis Cara penanggulangan HIV/AIDS pada kaum gay dan waria dapat diketahui melalui faktor penyebabnya. mengetahui faktor penyebab peningkatan HIV/AIDS pada kaum gay dan waria 2. Langkah 5 Sasaran Pembelajaran 1. mengetahui teori-teori yang berhubungan dengan penanggulangan HIV/AIDS 3. mengetahui dan menerapkan cara penanggulangan HIV/AIDS pada kaum gay dan waria Penanggulan HIV/AIDS pada kaum gay dan waria Teori & Realita Faktor penyebab 16 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful