PANDANGAN ORIENTALIS TENTANG MUHAMMAD PENDAHULUAN Perusakan aqidah dan syari’ah (ajaran Islam) merupakan bahaya yang harus

diwaspadai. Bila perusakan itu sudah berhasil, maka kita akan menjadi orang yang terombang-ambing dalam beragama Islam, bahkan merusak sama sekali. Usaha perusakan itu sudah lama dilakukan orang, yaitu sejak lahirnya risalah Islam itu sendiri. Saat ini usaha-usaha seperti itu makin bervariasi, sejalan dengan perkembangan zaman dan cara berfikir manusia. Pada zaman dahulu musuh-musuh nabi Muhammad melontarkan tuduhan terhadap beliau dan risalahnya menggunakan argumentasi yang berbeda dengan kondisi sekarang. Di saat itu masih ada nabi yang menjadi sumber utama untuk bertanya. Namun manusia zaman sekarang tidak mempunyai sumber otentik yang mudah ditanyai. Ia harus mencari argumentasi sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk memberikan keterangan yang dapat diterima orang. Banyak ragam tuduhan yang dilontarkan orang-orang memusuhi Islam, antara lain menuduh AlQur’an sebagai karangan Nabi Muhammad. Dalam mengarang Al-Qur’an periode Madinah, Nabi dipengaruhi oleh orang-orang Yahudi, dan masih banyak lagi tuduhan orang-orang yang senang terhadap Islam dan Nabi Muhammad. Kajian para Orientalis terhadap Nabi Muhammad Saw. terbagi kepada beberapa aspek, ada yang meneliti karakter dan kepribadian, ide, serta visi misi Nabi Muhammad Saw., seperti yang telah dilakukan oleh para tokoh Orientalis Fr. Buhll, Henri Lammens, G. W. Bromfield, dan Richard Bell. Ada juga kajian yang meneliti kasus, seperti mengenai ke-ummi-an Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh tokoh Orientalis S. M. Zwemer, H. G. Reissner, Isaiah Goldfeld, Norman Calder, dan Khalil `Athamina BirZeit.

PEMBAHASAN A. Pandangan Orientalis Terhadap Nabi Muhammad SAW Peter, pendeta di Maimuma, menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi palsu. Yahya adDimasyqi atau dikenal juga sebagai John of Damascus (750 M) juga menulis dalam bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen Ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti-Kristus. John of Damascus berpendapat bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang penipu kepada orang Arab yang bodoh. Dengan liciknya, dia mengatakan bahwa:

Martin Luther menganggap Nabi Muhammad Saw sebagai orang jahat dan mengutuknya sebagai anak setan. cara dan strategi yang berbeda. Nabi Muhammad Saw bukan hanya dianggap sebagai seorang Nabi palsu. sikap menghina Nabi Muhammad Saw terus berlanjut. Begitu juga dalam artikel J. bahkan lebih dari itu.[2] Pada era Renaissance (zaman kelahiran kembali) Barat dan zaman Reformasi Barat. imej buruk terus berlanjut. sebagaimana sikap seorang Muslim. Bede menggambarkan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang yang kasar. dan Machmet. Pastor Bede dari Inggris yang hidup pada tahun 673-735 M berpendapat bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang manusia padang pasir yang liar (a wild man of desert). dan pendusta yang paling canggih. Sikap para Orientalis seperti itu tidak bisa disederhanakan kategorisasinya menjadi Orientalis klasik yang berbeda dengan Orientalis kontemporer. Dalam artikel tersebut. dan tamak kuasa. Ini bisa dimengerti karena eksistensi agama mereka tergugat dengan munculnya Islam. Kristen. Dengan cerdasnya.`Muhammad bisa mengawini Khadijah sehingga mendapat kekayaan dan kesenangan. Klimovich. Penolakan seperti itu adalah `loci communes' (common places) dalam pemikiran para Orientalis. Intinya sama saja yaitu mengingkari kenabian Nabi Muhammad Saw dan kebenaran al-Qur’an. Pada zaman pencerahan Barat. Biografi Nabi Muhammad Saw beserta alQur’an terus menjadi sasaran. Sehingga ia menjadi penguasa dan mengklaim sebagai seorang Nabi. cinta perang dan biadab. Namun dengan pendekatan yang lebih lunak. Karena hal ini juga. Lebih parah lagi. level. Jadi. ekstremis. Para Orientalis beranggapan bahwa wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW sebenarnya merupakan sebuah hasil dari pengadopsian dari berbagai tradisi Yahudi. Mahon. Marlowes Tamburlaine menuduh al-Quran sebagai karya setan. Nabi Muhammad Saw merupakan seorang penyembah berhala yang disembah oleh orang Arab yang bodoh. buta huruf. Pada saat itu. Voltaire menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai fanatik. status sosial yang rendah.[3] Kemudian gerakan ini dilanjutkan oleh Orientalis kontenporer yang tetap mengusung gagasan Orientalis klasik sekalipun dengan kadar. Nabi Muhammad Saw disebut sebagai Mahound. dan Persia. bodoh tentang dogma Kristen. yang menulis sebuah artikel diterbitkan pada tahun 1930 dengan berjudul `Did Muhammad Exist?'. wajar jika kajian mereka kepada Nabi Muhammad Saw dan al-Quran tidak dibangun dari keimanan.'[1] Senada dengan John of Damascus. atau juga Mahoun. yang sinonim dengan setan dan berhala di dalam bahasa Prancis dan Jerman. Muhammad memiliki hobi perang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan. Pada zaman pertengahan Barat. Nabi Muhammad Saw adalah fiksi yang wajib karena selalu adanya asumsi bahwa setiap agama harus mepunyai pendiri. Mahomet. Bryan. Klimovich menyimpulkan bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Nabi Muhammad Saw adalah dibuat-buat. yang sedikit menceritakan bagaimana proses Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyunya: . Muhammad menyembunyikan penyakit epilepsinya ketika menerima wahyu dari Jibril.

'[6] Komentar itu diberikan Toy atas turunnya Surah al-Lahab di mana Nabi Muhammad SAW berinteraksi dengan salah satu pamannya Abu Lahab. `essai surles mœurs' dan `Mahomet'.'[5] Misalnya lagi komentar Orientalis terhadap karir keberhasilan Nabi Muhammad Saw dalam misinya menyiarkan syi'ar. tapi para muridnyalah yang menjadikannya penuntun agung seluruh manusia. nenek moyang Welsh Eisteddfod. dan bukan karena faktor elemen-elemen agama. di mana masalah-masalah keagamaan dibicarakan secara terbuka. Toy yang mengatakan: `Hal itu dikarenakan gugup oleh kegembiraannya karena dia memiliki pandangan-pandangan yang tidak bisa dibedakannya dengan kejadian-kejadian nyata. Washington Irving mengomentari keberhasilan dakwah Nabi Muhammad Saw itu disebabkan oleh mimpi dan monomania. Begitu juga dengan kesimpulan Crawford H. sebuah lembaga kecil yang beranggotakan para pencari kebenaran. dalam bentuk yang tidak jelas dan membingungkan. ia hanya diutus untuk menjadi Nabi bangsa arab. Sementara itu. memiliki kesamaan dengan para pedagang Mekah. Bagi Toy. adalah seperti yang terjadi pada sirah tentang surat perjanjian pemboikotan atas Nabi Saw oleh kaum Quraisy yang dimakan rayap dan tersisa hanya tulisan Bismillah. keberhasilannya karena didorong oleh faktor ambisi dan komunitasnya. Bagi Voltaire dalam karyanya. Ia karenanya terbina untuk menolak pemberhalaan dan menerima formula monoteistik yaitu formula La Ilaaha Illallah… Banyak ayat Mekah di dalam al-Quran ditasbihkan kepada kisah Nabi. tapi bagi mereka yang pernah tinggal di iklim tropis akan menganggapnya bukan hal yang luar biasa. Surah al-Lahab adalah merupakan sebuah ekspresi kebencian yang bersifat pribadi yang seterusnya menjadi religious hatred. Worrel mengatakan: . dan para pelajar tentang Judaisme dan Kristen yang tekun. diambil dari sumber-sumber Ibrani'. yang diadakan secara rutin di Okadh dan kota-kota lainnya. Ia telah mempelajari sebagian hal ini dalam kabilah dagangnya yang ke Suriah.[4] Lain lagi dengan teori prasangka yang dibangun oleh Henri Lammens yang mengatakan bahwa: `Mohammad memandang dirinya sebagai seorang Nabi suci. Sedangkan Torrel membangunkan teori khayalan. akrab dengan ajaran adat yang melingkupi berbagai doktrin yang diajarkan oleh tokoh Ibrani. dengan menganggap adanya timbal balik antara pengalaman keberagamaan Nabi Muhammad Saw dengan pernikahannya dengan Siti Khadijah yang lebih tua. Antara lain konsekuensi pendekatan historicity yang mereduksi fakta. Semaklah komentar Sprenger berikut: `Keadaan ini (surat perjanjian yang dimakan rayap) telah dibesar-besarkan sebagai suatu nukjizat. sebuah bangsa yang baik. warga Mekah. dan dalam beberapa kunjungannya ke pertemuan-pertemuan syair. Ia mendapatkan pengetahuan yang lebih jelas dan dalam dari kaum Hanif.`Mohammad dalam tahun-tahun awal.

dan tidak objektif dalam studi Islam ataupun studi sirah Nabi Muhammad Saw. Keyakinan Carlyle akan kebenaran Nabi Muhammad Saw. maka Loria Valeri memandang tuduhan semacam itu sebagai perbuatan aniaya dan dhalim. bukanlah dorongan nafsu dirinya sendiri dan itu pun dalam ikatan dan batas-batas yang telah ditentukan. Adapun tuduhan orang mengenai syahwat Nabi Muhammad. Perkataan. ini didasarkan atas pandangannya bahwa sebagai seorang yang besar mustahil untuk jadi pendusta.[8] Carlyle menyesalkan kebohongan yang mungkar terhadap Islam dan rasulnya. perbuatan dan pemikirannya selalu tepat. Thomas Carlyle memberikan pernyataan secara terbuka tentang Nabi Muhammad Saw. Dia merasa heran terhadap kemungkaran semacam itu. Tidak ada satu pun kalimat yang keluar dari mulut beliau malainkan pasti mengandung hikmah yang tinggi. Valeri mengatakan dengan lantang dan argumentatif: “Muhammad bukanlah bukan orang yang bersyahwat tinggi (hypersex) . yang sejak masa kecil diberi gelar AlAmien(orang yang terpercaya). Kejujuran merupakan asas keutamaan dan keterpujian di sisinya. dan menganggap penuduhnya sebagai orang yang lemah dan kurang akal. Sudah tiba waktunya kita memerangi perkataan palsu yang memalukan yang sudah disebar-luaskan orang. Hal yang semacam itu merupakan ujian dan sekaligus sebagai bukti bahwa Islam sangat diperhitungkan oleh agama lain sehingga mereka berlomba-lomba untuk menghancurkannya. para orientalis menuding bahwa poligami nabi Muhammad sebagai bukti bahwa libidonya sangat tinggi. dan dibuatnya perumpamaan dan tidak masuk akal. dan Muhammad sebagai penipu dan pendusta. karena risalah yang disampaikan rasul merupakan pelita bagi umat manusia”. Namun tidak semua orientalis tersebut yang tidak tergugah hatinya dengan keagungan Islam. Tibawy secara khusus menulis dengan sangat terperinci sebagai ungkapan kritik terhadap sikap para sarjana Orientalis yang apriori. B. jika ia condong kepada anggapan bahwa agama Islam dituduh sebagai suatu kebohongan. L. Dia menyatakan bahwa “adalah aib yang besar bagi budayawan manapun. berprasangka. Dengan alasan inilah. niscaya akan disibukkan oleh urusan dan tugas kenabiannya dari pada sibuk dengan wanita. Sebab perkara Nabi Muhammad berkenaan dengan istri-istrinya yang suci itu. Kesaksian Orientalis yang Sadar Begitu pedas dan tidak terperi hujatan dari kaum orientalis tentang nabu Muhammad. Seandainya beliau seorang nabi. Dalam menjawab tuduhan terhadap Nabi Muhammad.'[7] Selain itu. A.`Muhammad telah mengembangkan bakat puisi dan kenabian pada tahun-tahun akhir pernikahannya dengan Khadijah. Ia memperkuat keyakinan akan kebenaran rasul dengan pengetahuannya tentang sejarah Rasulullah Saw. dan kehilangan kedua bakat ini selama tiga belas tahun dimasa banyak pernikahannya yang lain.

Beliau adalah orang zuhud. [9] Demikianlah Allah menjadikan Thomas Carlyle dan Loria Valeri – pemikir yang sadar – sebagai pembela terhadap agama Islam dan Nabinya dengan pembelaan yang mulia dan terpuji. maka sudah merupakan kewajiban kita untuk mengatasi upaya-upaya yang akan terus-menerus melakukan serangan terhadap Islam.Saran-saran Sebarapa besar bagaimana pun hujatan yang dilancarkan oleh para orientalis. Keadaan ini akan terus berlanjutan sehingga ke akhir hayat dunia ini menemui waktu penghabisannya. Semulia apapun kedudukan Nabi Muhammad Saw di mata kaum Muslimin dan para penjunjung yang lain. Selian Carlyle dan Valeri masih banyak lagi orientalis-orientalis yang telah sadar dengan apa yang mereka perbuat sebelumnya. . tetap tidak akan mengubah pandangan para Orientalis terhadap beliau. serta akan terus meraih kerancuan berfikir dan tenggelam di dalam kesombongan. . seyogyanya tidak menyurutkan kadar keimanan kita sebagai muslim yang pastinya meyakini bahwa Islam merupakan agama yang paling benar. lebih jauh lagi secara destruktif. Begitulah nasib para Orientalis dari satu generasi kepada generasi yang lain. Faktor ini bukanlah disebabkan oleh kelemahan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang manusia biasa sekaligus utusan Tuhan Yang Maha Esa yang selalu dimuliakan di mana-mana. Yokyakarta: LKiS. dan banyak diantara mereka yang memeluk agama Islam PENUTUP . sebagai kader penerus yang memegang tongkat estafet pengemban tugas kejayaan Islam. dan tidak objektif terhadap Nabi Muhammad Saw. di mana mereka akan terus mewarisi kejahilan dan kegelapan.Kesimpulan Dari pemaparan di atas. 2003. Seiring dengan perkembangan jaman maka varian metode dan kajian mereka akan semakin berkembang pula. maka dapatlah diringkaskan bahwa sesungguhnya para Orientalis akan terus menerus mengomentari dan melontarkan berbagai pandangan mereka perihal Nabi Muhammad SAW. tetapi dikarenakan oleh sikap mereka sendiri yang apriori. Maka dari itu. berprasangka. Justru kita harus semakin giat untuk mengembangkan wawasan keagamaan.sebagaimana dituduhkan orang secara dlalim dan penuh permusuhan. Ensklopedi Tokoh Orientalis. DAFTAR PUSTAKA Badawi. tiada menyukai kesenangan duniawi”. baik secara konstruktif. Abdurrahman. sehingga kita bisa mengkonter apa yang kemudian diwacanakan oleh para orientalis.

211 [5] Ibid. Yokyakarta: Bentang. 503 Kaum Orientalis Terhadap Islam. 309 [3] Muhammad Basir.hlm. 2003. Jakarta: Khairul Bayan. 2006. (Bandung: CV. 197 [4] Muhammad Basir. 1991. hlm. 212 [6] Ahmad Muhammad Jamal. Pandangan Bentang. hlm. Jamal. hlm. hlm. Orientalis dan Sirah Nabi Muhammad SAW.hlm. Islamia: Kerancuan Orientalis dalam Kajian Islam. Pandangan Bentang. (Yokyakarta: . 2003) hlm. 309 [2] Ibid. [1] Ahmad Muhammad Jamal. 1991). Membuka Tabir. (Bandung: CV. hlm. Diponogoro. 2003) hlm. Upaya Orientalis dalam Memalsukan Islam. Orientalis dan Sirah Nabi Muhammad SAW. Malki Ahmad. Diponogoro. 2006). (Bandung: CV. 324 [7] Malki Ahmad Nasir. Diponogoro. Islamia: Kerancuan Orientalis dalam Kajian Islam. Pandangan Kaum Orientalis Terhadap Islam. 419 [9] Ibid. 1991). 75 [8] Ahmad Muhammad Jamal. Membuka Tabir. (Yokyakarta: Kaum Orientalis Terhadap Islam. Bandung: CV. Upaya Orientalis dalam Memalsukan Islam. Sketsa Awal. Membuka Tabir. Diponogoro. 1991). Membuka Tabir. (Jakarta: Khairul Bayan. Upaya Orientalis dalam Memalsukan Islam. Upaya Orientalis dalam Memalsukan Islam. Muhammad.Basir. Nasir. Ahmad Muhammad. Sketsa Awal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful