Partisipasi Masyarakat Pengertian Secara umum partisipasi masyarakat merupakan suatu bentuk keterlibatan secara aktif dari masyarakat

dalam segala bidang kehidupan. Hal ini berkaitan dengan pengertian partisipasi yang dikemukakan dalam kamus besar Bahasa Indonesia tahun 2005 yang menyatakan partisipasi sebagai hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan (Pusat Bahasa, Depdiknas 2005). Menurut Notoatmodjo (2007), partisipasi masyarakat adalah ikut sertanya seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan permasalahan–permasalahan masyarakat tersebut. Partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan berarti keikutsertaan seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan yang mereka hadapi sendiri baik masalah keluarga ataupun masyarakat itu sendiri. Berdasarkan deklarasi “Alma Ata” tahun 1978 , partisipasi dianggap sebagai proses aktif dimana hubungan kerjasama ditetapkan antara pemerintah dan penduduk dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan dengan tujuan untuk mencapai otonomi daerah yang lebih baik dan kontrol infastruktur dan teknologi dalam pelayanan kesehatan primer (Vasquez et al:32 dalam Murphy, 2006). Selebihnya, partisipasi berarti dimana masyarakat setempat bertanggung jawab untuk mendiagnosis dan bekerja untuk memecahkan masalah kesehatan mereka sendiri dan masalah pembangunan (Morgan dalam Murphy, 2006). Partisipasi masyarakat umumnya dipandang sebagai suatu bentuk perilaku. Salah satu bentuk perilaku kesehatan adalah partisipasi ibu balita dalam program Posyandu, yang

mewujudkan dengan membawa anak mereka untuk ditimbang berat badannya ke Posyandu secara teratur setiap bulan, karena perilaku keluarga sadar gizi (keluarga yang mampu

mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya) salah satunya dapat dilihat dari indikator menimbang berat badan balita secara teratur ke Posyandu. Penimbangan balita dikatakan baik apabila minimal ada empat kali anak balita ditimbang ke Posyandu secara berturut-turut dalam enam bulan dan dikatakan tidak baik apabila kurang dari empat kali secara berturut-turut ke Posyandu dalam enam bulan (Depkes RI, 2006). Posyandu adalah wadah yang paling tepat untuk peran serta masyarakat tersebut, karena dengan adanya peran serta dari masyarakat secara teratur dan berkesinambungan maka akan terciptanya kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Posyandu dapat dikatakan sebagai sarana partisipasi atau peran serta masyarakat dalam usaha peningkatan kesehatan masyarakat

(Sembiring, 2004). Didalam partisipasi, setiap anggota masyarakat dituntut suatu kontribusi dan sumbangan. Kontribusi tersebut bukan hanya terbatas pada dana dan finansial saja tetapi dapat berbentuk daya (tenaga), dan ide (pemikiran). Hal ini dapat diwujudkan didalam 4M, yaitu manpower (tenaga), money (uang), material (benda-benda lain seperti kayu, bambu, beras,batu, dan sebagainya), mind (idea atau gagasan) (Notoatmodjo, 2007). Mengingat pentingnya partisipasi masyarakat atau peran serta masyarakat sehingga diatur dalam UU nomor 36 2009 Bab XVI, dicantumkan tentang peran serta masyarakat dan salah satu pasalnya yaitu pasal 174 ayat (1) yang menyatakan bahwa masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan serta dalam rangka membantu mempercepat pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, artinya peran serta masyarakat atau partisipasi masyarakat khususnya dalam pembangunan dilindungi oleh undang-undang. Hal ini terkait dengan kasus kurang gizi dan gizi buruk yang terkadang sulit ditemukan di masyarakat, salah satu penyebabnya adalah karena si ibu tidak membawa anaknya ke pusat pelayanan kesehatan yang salah satunya Posyandu. Akibatnya bermunculan berbagai kasus kesehatan masyarakat bermula dari kekurangan gizi yang terlambat terdeteksi pada banyak balita seperti diare, anemia pada anak, dan lain – lain di beberapa provinsi di Indonesia (Sudarti, 2007).

Dasar-Dasar Filosofi Partisipasi Masyarakat Dalam hubungannya dengan fasilitas dan tenaga kesehatan, partisipasi masyarakat dapat diarahkan untuk mencukupi kelangkaan tersebut. Dengan kata lain, partisipasi masyarakat dapat menciptakan fasilitas dan tenaga kesehatan. Pelayanan kesehatan yang diciptakan dengan adanya partisipasi masyarakat didasarkan kepada idealisme (Notoatmodjo,2007): 1. Community felt need Apabila pelayanan itu diciptakan oleh masyarakat sendiri, ini berarti bahwa masyarakat itu memerlukan pelayanan tersebut. Sehingga adanya pelayanan kesehatan bukan karena diturunkan dari atas, yang belum dirasakan perlunya, tetapi tumbuh dari bawah yang diperlukan masyarakat dan untuk masyarakat.

2. Organisasi pelayanan kesehatan masyarakat yang berdasarkan pasrtisipasi masyarakat adalah salah satu bentuk pengorganisasian masyarakat. Hal ini berarti bahwa fasilitas pelayanan kesehatan itu timbul dari masyarakat sendiri.

Konsep Perilaku Kesehatan A. Akibatnya masyarakat tidak akan mempunyai rasa memiliki terhadap program. dan sebagainya. masyarakat sulit untuk berpartisipasi disegala program. sukar ditumbuhkan dan akan memakan waktu yang lama. pendidikan. pendidikan kesehatan sangat diperlukan dalam rangka merangsang tumbuhnya motivasi. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa filosofi partisipasi masyarakat dalam pelayanan kesehatan adalah terciptanya suatu pelayanan untuk masyarakat.3. peraturan-peraturan maupun dengan perintah lisan saja.2007): 1. Persyaratan utama masyarakat untuk berpartisipasi adalah motivasi. dan oleh masyarakat. Pengertian Perilaku . yaitu dengan dua cara (Notoatmodjo. merasa dipaksa dan kaget karena dasarnya bukan kesadaran tetapi ketakutan. Artinya tenaganya dan penyelenggaraannya akan ditangani oleh anggota masyarakat itu sendiri yang dasarnya sukarela. Untuk itu. Partisipasi dengan persuasi dan edukasi Yaitu suatu partisipasi yang didasari pada kesadaran. Tetapi bila tercapai hasilnya akan mempunyai rasa memiliki dan rasa memelihara. Timbulnya motivasi harus dari masyarakat itu sendiri dan pihak luar hanya merangsangnya saja. Partisipasi ini dimulai dengan penerangan. Tetapi masyarakat akan takut. Tahap-Tahap Partisipasi Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengajak atau menumbuhkan partisipasi masyarakat. Cara ini akan lebih cepat hasilnya dan mudah. dari masyarakat. 2. Partisipasi dengan paksaan Artinya memaksa masyarakat untuk berkontribusi dalam suatu program. Pelayanan kesehatan tersebut akan dikerjakan oleh masyarakat sendiri. baik secara langsung maupun tidak langsung. baik melalui perunadang-undangan. Tanpa motivasi.

binatang sampai dengan manusia itu berperilaku. karena mereka mempunyai aktifitas masing-masing. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia. 2003) : 1. perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003). . Misalnya seorang ibu memeriksakan kehamilannya atau membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi. 2. seorang pemuda tahu bahwa HIV/AIDS dapat menular melalui hubungan seks. kesadaran. merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Perilaku tertutup (convert behavior) Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo. dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan. Misalnya : seorang ibu hamil tahu pentingnya periksa kehamilan. dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut. Menurut Skinner. pengetahuan. baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. dan kemudian organisme tersebut merespons. persepsi. Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini. Oleh sebab itu. dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian. Perilaku terbuka (overt behavior) Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme.Dari segi biologis. dan sebagainya. maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon.

dan minuman. Klasifikasi Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit. apabila seseorang dalam keadaan sakit.B. Domain Perilaku . sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. sistim pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek : a. serta lingkungan. C. perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok : 1. serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit. Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance). 3. Perilaku peningkatan kesehatan. makanan. Perilaku pencegahan penyakit. dan penyembuhan penyakit bila sakit. Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. c. Dari batasan ini. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri. atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior). Perilaku kesehatan lingkungan Adalah bagaimana seseorang merespon lingkungan. b.Perilaku gizi (makanan dan minuman). Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan. 2. baik lingkungan fisik maupun sosial budaya dan bagaimana.

sarana. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang : 1) Faktor Internal : faktor dari dalam diri sendiri. yang terdiri dari ranah kognitif (kognitif domain). membagi perilaku itu didalam 3 domain (ranah/kawasan). Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk kepentingan pengukuran hasil. masyarakat. dan ranah psikomotor (psicomotor domain). ketiga domain itu diukur dari : 1. Ada enam tingkatan domain pengetahuan yaitu : 1) Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan (knowlegde) Pengetahuan adalah hasil dari tahu. dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Menurut Bloom. Tanpa pengetahuan seseorang tidak mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi. minat. 2) Faktor Eksternal : faktor dari luar diri. kondisi fisik. meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas. seperti dikutip Notoatmodjo (2003). 3) Faktor pendekatan belajar : faktor upaya belajar. ranah affektif (affectife domain). yaitu mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut. misalnya intelegensia. misalnya strategi dan metode dalam pembelajaran. misalnya keluarga. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan. 2) Memahami (Comprehension) .

3) Aplikasi Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. konsep terhadap suatu objek 2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek 3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave) . Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok : 1) Kepercayaan (keyakinan). 5) Sintesa Sintesa menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagianbagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru. Sikap (attitude) Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. 4) Analisis Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponenkomponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan ada kaitannya dengan yang lain. 2. ide. 6) Evaluasi Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi / objek.

mengerjakan. sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan : 1) Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek). 3) Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Praktik atau tindakan (practice) Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan (support) praktik ini mempunyai beberapa tingkatan : 1) Persepsi (perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama. 3. dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. 2) Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya.Seperti halnya pengetahuan. 4) Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. 2) Respon terpimpin (guide response) .

maka ia sudah mancapai praktik tingkat tiga. 4) Adopsi (adoption) Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. 3) Mekanisme (mecanism) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis. Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung. yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat kedua. Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan yakni : 1) Kesadaran (awareness) Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek) 2) Tertarik (interest) Dimana orang mulai tertarik pada stimulus 3) Evaluasi (evaluation) Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Menurut penelitian Rogers (1974) seperti dikutip Notoatmodjo (2003). hari atau bulan yang lalu (recall). . Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.

D. Asumsi Determinan Perilaku Menurut Spranger membagi kepribadian manusia menjadi 6 macam nilai kebudayaan. Secara rinci perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan. sikap. kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. keyakinan. Teori Lawrence Green (1980) Lawrence Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan. yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). keinginan. minat. Namun demikian realitasnya sulit dibedakan atau dideteksi gejala kejiwaan tersebut dipengaruhi oleh faktor lain diantaranya adalah pengalaman. kehendak. sosial budaya dan sebagainya. sikap dan sebagainya. . Kepribadian seseorang ditentukan oleh salah satu nilai budaya yang dominan pada diri orang tersebut. Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkap faktor penentu yang dapat mempengaruhi perilaku khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. motivasi.4) Mencoba (trial) Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru. Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor : 1) Faktor predisposisi (predisposing factor) Faktor-faktor yang dapat mempermudah atau mengpresdeposisikan terjadinya perilaku pada diri seseorang atau masyarakat. 5) Menerima (Adoption) Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan. antara lain : 1. Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok. persepsi. sarana/fasilitas. adalah pengetahuan. kepercayaan.

Misalnya perilaku ibu untuk memeriksakan kehamilannya akan dipermudah apabila ibu tersebut tahu apa manfaat dari periksa hamil. . tahu siapa dan dimana periksa hamil tersebut dilakukan. yakni bahwa tokoh masyarakat yang dihormatinya tidak atau belum mengikuti KB. maka masih diperlukan sarana atau fasilitas untuk memungkinkan atau mendukung perilaku tersebut. klinik. agar masyarakat mempunyai perilaku sehat harus terakses (terjangkau) sarana dan prasarana atau fasilitas pelayanan kesehatan. fasilitas periksa hamil seperti puskesmas. 2) Faktor pendukung (enabling factor) faktor pemungkin atau pendukung (enabling) perilaku adalah yang terwujud dalam lingkungan fisik. nilai-nilai dan sebagainya seseorang atau masyarakat tersebut terhadap apa yang dilakukan. tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas. maka harus tersedia jamban. bahwa masyarakat sudah tahu manfaat keluarga berencana (KB) dan juga telah tersedia di lingkungannya fasilitas pelayanan KB. atau prasarana (misalnya puskesmas. Sering terjadi. Dari segi kesehatan masyarakat. Agar seseorang atau masyarakat buang air besar di jamban. untuk terjadinya perilaku ibu periksa hamil. alat-alat steril dan sebagainya) yang mendukung atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Dari contoh diatas telah terlihat jelas bahwa tokoh masyarakat merupakan faktor penguat (Reinforcing factors) bagi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. Misalnya. dan sebagainya. tetapi mereka belum ikut KB karena alasan yang sederhana. obat-obatan. atau mempunyai uang untuk membangun jamban sendiri. rumah sakit. Pengetahuan. Pengetahuan dan sikap saja belum menjamin terjadinya perilaku. sikap dan fasilitas yang tersedia kadang-kadang belum menjamin terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. 3) Faktor pendorong (reinforcing factor) Faktor pendorong adalah yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain. maka diperlukan bidan atau dokter. sarana-sarana kesehatan. posyandu.keyakinan.

1 Faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan .Model ini dapat digambarkan sebagai berikut: B=f (PF. EF. RF ) Keterangan : B = Behavior PF = Predisposing Factors EF = Enabling Factors RF = Reinforcing Factors F = Fungsi L. Green mengemukakan teori yang menggambarkan hubungan pendidikan kesehatan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan seperti pada gambar di bawah ini: Non masalah kesehatan Non perilaku Faktor Predisposisi (predisposing factors) Kualitas hidup Masalah kesehatan Pendidikan kesehatan Faktor pendukung (enabling factors) Perilaku Faktor pendorong (reinforcing factors) Gambar 1.

Faktor predisposisi 1. sikap. yang bersangkutan.11 Menurut Poerdji menyatakan bahwa umur 12 hingga 35 bulan merupakan umur yang paling . Seseorang yang tidak mau mengimunisasikan anaknya di psoyandu dapat disebabkan karena orang tersebut tidak atau belum mengetahui manfaat imunisasi bagi anaknya (predisposing factors). ketersediaan fasilitas. dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.Disimpulkan bahwa perilaku sesorang atau masyrakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan. mahalnya biaya transportasi. tradisi. misalnya sulitnya mencapai sarana pelayanan kesehatan. Disamping itu. baik yang hidup maupun yang mati. Faktor di Luar Perilaku atau Non Perilaku yang dapat mempengaruhi pencapaian kesehatan individu atau masyarakat. Umur balita Dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa umur adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk. Sebab lain. Atau barangkali juga karena rumahnya jauh dari posyandu atau puskesmas tempat mengimunisasikan anaknya (enabling factors). biaya pengobatan. mungkin karena para petugas kesehatan atau tokoh masyarakat lainnya disekitarnya tidak pernah mengimunisasikan anaknya (reinforcing factors). pemangkin dan penguat sebagai berikut: A. kebijakan dan peraturan dan lain sebagainya. sikap. Faktor – faktor yang mempengaruhi kunjungan ibu ke Posyandu balita10 Berdasarkan teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo tersebut maka akan dijabarkan beberapa faktor yang berhubungan dengan kunjungan balita ke posyandu meliputi faktor predisposisi. Disamping itu. dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Green menyatakan bahwa pendidikan kesehatan mempunyai peranan penting dalam mengubah dan menguatkan ketiga kelompok faktor itu agar searah dengan tujuan kegiatan sehingga menimbulkan perilaku positif dari masyarakat terhadap program tersebut dan terhadap kesehatan pada umumnya. kepercayaan. sikap. ketersediaan fasilitas.

Hal lain yang menyebabkan ibu balita tidak lagi hadir di Posyandu khususnya balita diatas usia 36 bulan. Di sini jelas bahwa faktor pendidikan besar pengaruhnya terhadap perkembangan emosional dan intelektual dalam bersosisalisasi dengan lingkungan. karena ibu balita merasa bahwa anaknya sudah mendapatkan imunisasi lengkap dan perkembangan sosial anak semakin bertambah. Jenjang pendidikan formal adalah: 1) Pendidikan dasar 9 tahun. dengan jumlah sampel 27021 balita berusia 0 hingga 59 bulan dengan hasil analisis menunjukkan secara bivariat dan multivariat bahwa faktor umur balita berhubungan dengan kunjungan balita ke Posyandu.berpengaruh terhadap kunjungan karena pada umur ini merupakan pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. 10 Menurut Undang-undang RI tahun 2003 nomor 20 pasal 14 menyebutkan bahwa jenjang pendidikan terbagi atas tiga tingkatan yaitu: pendidikan dasar sembilan tahun yang terdiri dari sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama. pendidikan menengah yaitu sekolah lanjutan tingkat atas dan pendidikan tinggi yaitu diploma dan pendidikan strata satu keatas. Pendidikan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia . cara.11 Teori pendidikan mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu kegiatan atau usaha untuk meningkatkan kepribadian. pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. serta semakin berkembang kedewasaan. perbuatan mendidik.13 2. terdiri dari: a) Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah b) SMP/MTs 2) Pendidikan Menengah. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kunjungan balita ke posyandu adalah faktor umur. umur 12 hingga 35 bulan merupakan umur yang paling berpengaruh terhadap kunjungan.12 Berdasarkan penelitian Balitbang Depkes RI (2002) dengan analisis menggunakan data sekunder Survei Sosial Ekonomi Nasional 2001. proses. terdiri dari: . sehingga proses perubahan perilaku menuju kepada kedewasaan dan penyempurnaan kehidupan manusia. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin tinggi pula tingkat kecakapan emosionalnya.

hal ini disebabkan oleh sikap dan perilaku yang mendorong kesehatan masih rendah. Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang akan membentuk suatu sikap dan menimbulkan suatu perilaku dalam kehidupan sehari.hari. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. terdiri dari: a) Akademi b) Institut c) Sekolah tinggi d) Universitas Rendahnya tingkat pendidikan erat kaitannya dengan perilaku ibu dalam memanfaatkan sarana kesehatan (Posyandu). Sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka kesadaran untuk berkunjung ke Posyandu semakin aktif. rasa dan raba. yakni indera penglihatan. Tanpa adanya pengetahuan maka para ibu balita sulit dalam melakukan kunjungan ke Posyandu. penciuman.14 Tingkat pendidikan ibu yang rendah mempengaruhi penerimaan informasi sehingga pengetahuan tentang Posyandu terbatas. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. . mortalitas dan morbiditas akan semakin menurun. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. Tingkat pendidikan juga berkaitan dengan pengetahuan yang juga merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku ibu balita membawa balitanya ke Posyandu. Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu. Tingginya tingkat pengetahuan tentang Posyandu yang dimiliki oleh kader kesehatan dapat membentuk sikap positif terhadap program Posyandu khususnya perilaku ibu balita membawa balitanya yang dianggap masih buruk.10 3. dan itu terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).a) SMA dan MA b) SMK dan MAK 3) Pendidikan Tinggi. Tingkat pendidikan ibu yang rendah merupakan penghambat dalam pembangunan kesehatan. pendengaran.

berkembang dan berubah. bahkan seringkali tidak disadari oleh pelakunya.11 Menurut Mulyanto Sumardi dan Hans Diater Evers.11 Menurut Budioro (2002:108) keterbatasan sarana dan sumber daya. dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawanya kepada sesuatu keadaan yang lebih memuaskan dari pada keadaan yang sebelumnya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya. Sisa waktunya 16-18 jam digunakan untuk kehidupan dalam keluarga.15 Menurut penelitian Sihol Hutagalung. Jumlah anak yang banyak pada keluarga akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima. karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun sekunder. atau dengan 8 jam satu hari dan 40 jam satu minggu untuk 5 hari kerja dalam satu minggu. pendapatan yaitu seluruh penerimaan baik berupa uang maupun barang baik dari pihak lain maupun dari hasil sendiri. Pendapatan Pendapatan adalah hasil pencarian atau perolehan usaha. dan lain-lain.17 Ibu yang bekerja mempunyai waktu kerja sama seperti dengan pekerja lainnya. . Pekerjaan ibu Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia.18 5. Adapun waktu kerja bagi pekerja yang waktu siang 7 jam satu hari dan 40 jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam satu minggu.19 Jadi yang dimaksud pendapatan dalam penelitian ini adalah suatu tingkat penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan dari orang tua dan anggota keluarga lainnya. masyarakat.Pengetahuan menurut HR Bloom adalah hasil tahu yang dimiliki individu atau dengan memperjelas fenomena sekitar. Pendapatan keluarga yang memadai akan menujang tumbuh kembang anak dan kesadaran anak.16 4. tidur. Kebutuhan ibu bisa bermacam-macam.5 6. Jumlah anak dalam keluarga Jumlah anak adalah banyaknya keturunan dalam satu keluarga. lebihlebih jika jarak anak terlalu dekat. pengetahuan ibu mempengaruhi perilaku menimbangkan anaknya di Posyandu.

menghindari. atau di tempat khusus yang dibangun masyarakat.rendahnya penghasilan. orang akan dapat menduga bagaiman respon atau tindakan yang akan diambil tindakan oleh orang tersebut terhadap suatu masalah atau keadaan yang dihadapinya. rumah penduduk.16 2. sedangkan dalam sikap negatif terdapat kecenderungan menjauhi. Hasil penelitian tentang kelengkapan sarana atau fasilitas posyandu dibuktikan oleh peneliti yang berkesimpulan bahwa semakin lengkap saran yang digunakan di Posyandu. Sikap positif. adanya peraturan atau perundangan yang menjadi penghambat akan membatasi keberdayaan orang perorang maupun masyarakat untuk merubah perilakunya. Sikap Sikap adalah kesiapan pada seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu. kecenderungan tindakan adalah mendekati.11 Jangkauan pelayanan Posyandu dapat ditingkatkan dengan bantuan pendekatan maupun pemantauan melalui kegiatan Posyandu. Faktor-faktor Pemangkin (Enabling Factors) 1. semakin sering ibu menimbangkan anaknya di Posyandu.23 . tidak menyukai obyek tertentu. membenci. Sikap yang ada pada seseorang yang memberikan gambaran corak tingkah laku seseorang. Jarak Posyandu Menurut Departemen Pendidikan Nasional. Keterjangkauan Fasilitas Keterjangkauan fasilitas adalah hal yang dapat menarik seseorang untuk selalu menggunakan fasilitas tersebut. balai RT.20 7. B. Posyandu dapat dilaksanakan di pos pelayanan yang sudah ada. jarak adalah ruang sela (panjang atau jauh) antara dua benda atau tempat yaitu jarak antara rumah dengan Posyandu. balai desa. Jadi dalam kondisi wajar-ideal gambaran kemungkinan tindakan atau tingkah laku yang diambil sebagai respon terhadap suatu masalah atau keadaan yang dihadapkan kepadanya dapat diketahui dari sikapnya . mengharapkan obyek tertentu.20 Posyandu sebaiknya berada pada tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan ditentukan oleh masyarakat sendiri.21 Sikap merupakan penentu penting dalam tingkah laku. Berdasar pada sikap seseorang. menyenangi.

bekerja sukarela. (5) . Kader Posyandu berasal dari anggota masyarakat. mampu melaksanakan kegitan. dari 80 orang responden yang memanfaatkan Posyandu 77 orang diantaranya datang ke Posyandu hanya dengan jalan kaki sedangkan sisanya 3 orang mengatakan harus menggunakan kendaraan untuk bisa mengikuti kegiatan Posyandu. Kader Posyandu yang ramah. (4) Penyuluhan atas dasar hasil penimbangan balita.267 kali dibandingkan dengan yang bertempat tinggal jauh. Posyandu yang dilakukan oleh kader Posyandu yang terampil akan mendapat respon positif dari ibu-ibu balita sehingga kader tersebut ramah dan baik. Faktor-faktor Penguat (Reinforcing Factors) 1. terampil dalam memberikan pelayanan kesehatan dapat menyababkan ibu-ibu balita rajin datang dan memanfaatkan pelayanan kesehatan di Posyandu. mampu menggerakan masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sutanto menunjukan bahwa responden yang mengaku jarak tempuh ke tempat pelaksanaan Posyandu dekat akan lebih banyak memanfaatkan Posyandu dibandingkan dengan responden yang jarak tempuhnya jauh. Kader mempunyai peranan langsung dan tidak langsung dalam melaksanakan kegiatan yaitu: a) Peranan Langsung Menyelenggarakan kegiatan bulanan Posyandu: (1) Pencatatan balita. 24 C. (3) Pencatatan hasil penimbngan balita. bekerja sukarela. Peran Kader 8 Keterampilan petugas Posyandu merupakan salah satu keberhasilan dari sistem pelayanan di Posyandu.Faktor biaya dan jarak pelayanan kesehatan dengan rumah berpengaruh terhadap perilaku penggunaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. (2) Penimbangan balita.23 Pendapat yang sama juga ditemukan dalam penelitian Setowaty di Puskesmas Pal V Kota Pontianak yang menemukan keluarga yang tinggalnya dekat dengan pelayanan pengobatan akan memanfaatkan pelayanan 4. Menurut Koenger (1983) keterjangkauan masyarakat termasuk jarak akan fasilitas kesehatan akan mempengaruhi pemilihan pelayanan kesehatan. mampu melaksanakan kegitan. mampu menggerakan masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan Posyandu.

Heri D. (8) Melaporkan kegiatan. (6) Pemberian makanan tambahan. (7) Peran serta rumah. 226 . Jakarta 2009. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Ed 1.Penyuluhan ibu hamil dan ibu menyusui.J. Maulana. b) Peranan tidak langsung Penggerak utama masyarakat dalam kegiatan posyandu Promosi kesehatan.

Jakarta: Rineka Cipta . Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.Daftar Pustaka Notoatmodjo.2007. Soekidjo.