You are on page 1of 10

UJIAN BEDAH PLASTIK

Oleh :

Elfa Alissa Ersyanti G0006193

Pembimbing: dr. Amru Sungkar Sp.B Sp.BP

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH SMF ILMU BEDAH FK UNS / RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA 2011
1

Kemudian pasien menabrak orang yang menyebrang sehingga terjatuh. Posisi jatuh wajah membentur aspal. Keluhan Utama: Nyeri pada wajah setelah kecelakaan lalu lintas. Riwayat Penyakit Sekarang 1. : Jawa : Islam : Menikah : 01078145 : 25 Juli 2011 Tanggal Pemeriksaan : 26 Juli 2011 B.30 Juli 2011 : Fraktur zygomaticus. C. 1. Identitas Pasien Nama Umur Ruang Jenis Kelamin Alamat Suku Agama Status Perkawinan No.Tanggal Nama NIM Stase Kasus : 26 Juli 2011 : Elfa Alissa Ersyanti : G 0006193 : 25 Juli. Buatlah anamnesis lengkap pasien tersebut diatas yang menunjang diagnosis ! ANAMNESIS Autoanamnesis dan alloanamnesis dilakukan pada tanggal 26 Juli 2011 A. 2 . RM Tanggal Masuk RS : Arif Halim : 31 tahun : Mawar 2 / 8I : laki-laki : Kampung sewu RT03 / RW03 Jebres Surakarta. Fraktur nasal. Mekanisme injury + 1 jam SMRS pasien mengendarai sepeda motor tanpa helm.

Bagaimana benturan dan posisi jatuhnya? (Sudjatmiko. Apakah hidung bapak tersumbat? ( Jong dan Sjamsuhidayat. 2007: De jong dan Sjamsuhidayat. 2009) h. 2003) Pada pasien ini: Pasien ini mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor Pasien terjatuh dalam posisi tersungkur.obatan sebelumnya? (Reksoprodjo. 2009) g. 2005) b. 2005) j. 2007: De jong dan Sjamsuhidayat. Adakah ada perdarahan dari lubang hidung atau mulut? (Ceallaigh 2007) e. penting untuk mengetahui mechanism of injury. Apakah bapak mual dan muntah setelah kejadian? (McMullin. Adakah nyeri kepala setelah kejadian? (Sudjatmiko.Setelah jatuh pasien tidak pingsan dan tidak muntah. 2007: Jong dan Sjamsuhidayat. Setelah terjatuh pasien sadar. 2007: Jong dan Sjamsuhidayat. Kemudian oleh penolong pasien dibawa ke RSDM Pada kasus trauma kepala. kepala (wajah) terkena aspal Kecelakaan ini mengenai muka pasien Pasien mengalami nyeri kepala setelah kejadian. Pertanyaan pada pasien ini a. Apakah bapak mengalami kecelakaan atau trauma? (Sudjatmiko. Apakah bapak sudah mendapatkan obat. 2005) f. Apakah bapak masih bisa membau? (Danastri. 2009) i. Apakah bapak pingsan tidak sadarkan diri? (McMullin. Apakah bapak mengalami kejang? (McMullin. 2005) d. 2010) k. 2005) c. Cedera komosio yang lebih berat menyebabkan keadaan bingung disertai amnesia retrograde dan amnesia antegrad (keadaankeadaan amnesia pada peristiwa sebelum dan sesudah cedera). Pasien tidak mual dan muntah 3 . Komotio serebri ringan adalah cedera dimana kesadaran tetap tidak terganggu namun terjadi disfungsi neurologis yang bersifat sementara dalam berbagai derajat. Apakah mengenai muka atau tidak? (Sudjatmiko.

gigi goyang di incisivus 2 kiri atas i. visus 6/6. nadi 84 kali/menit d. retraksi suprasternal (-) k. maxilla goyang (+). Disability :GCS E4V5M6. pucat (-). simetris. pupil isokor (3mm/3mm). sadle nose (+). Mata : hematom periorbita (+/-) . 20 x/menit c. petechiae (-). thoracoabdominal.2 0C (per axiller) c. gizi kesan cukup b. reflek cahaya (+/+) isokor. Tanda vital:     TD : 120/80 mmHg Nadi : 84 x / menit Respirasi : 20 x / menit Suhu : 37. Jantung Inspeksi : iktus cordis tidak tampak 4 . darah (-) g. reflek cahaya (+/+). Buatlah pemeriksaan fisik lengkap ! 1. Mulut : mukosa basah (+). Primary Survey : a. Kepala : jejas (+) lihat status lokalis e. Thoraks : normochest. Airway : Clear b. Exposure : t : 37. konjungtiva anemis (-/-). Kulit : sawo matang. Hidung : darah (+). Lateralisasi (-) e. Leher : dalam batas normal j. Circulation : tensi 120/80. pergerakan bola mata (N) f.- Pasien tidak kejang. h. Hidung mengeluarkan darah 2. Breathing : spontan. sekret (-). Secondary Survey a. maloklusi (+) crosbite. Telinga : nyeri tragus (-).2 0C. turgor baik d. diplopia (-). Keadaan umum : KU lemah. jejas lihat pada status lokalis 2. ikterik (-).

vulnus (-) P: pendataran malar iminens (+). 2009. luka (+/-) Bawah : akral dingin (-/-). Pulmo Inspeksi : pengembangan dada kanan = kiri Palpasi : fremitus raba kanan = kiri Perkusi : sonor // sonor Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+). Fraktur Maxilla : Temuan potensial dari fraktur Le Fort I adalah edema fasialis dan goyangnya palatum durum dan gigi atas. Reksoprodjo. nyeri tekan (-). intensitas normal. oedem (-/-) o. hopoesthesi infraorbithalis (+). Status Lokalis: R. epistaksis. Ondik. suara tambahan(-/-) m. hemorrage subkonjuntiva. maxilla goyah (+) sisi dextra (Sudjatmiko. 2003) 3. oedem (-/-). Pada Le Fort II. Ekstremitas Atas : akral dingin (-/-). 5 . Midfacialis (D) I : Oedem (+). dan rhinorrhea LCS. 2005. ditemukan edema fasialis. Abdomen Inspeksi : distended (-) Auskultasi : bising usus (+) normal Palpasi : tymphani Perkusi : supel. defence muscular (-) n. goyangnya maksila pada sutura nasofrontal. 2007: De jong dan Sjamsuhidayat.Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar Auskultasi : bunyi jantung I-II. bising (-) l. regular. Buatlah diagnosis dan differential diagnosis ! Diagnosis : Fraktur Nasal dan Fraktur Zygomaticus Differential diagnosis : 1.

Ondik. Perhatikan pengisian sinus oleh darah yang menyebabkan pengaburan gambar sinus. rhinorrhea LCS dan epifora (air mata merembes) terjadi secara sekunder oleh blokade ductus lacrimalis (Venugoval. elektrolit dan albumin. 2009) a. Pemeriksaan darah lengkap Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada penderita dengan kelainan bedah ditujukan pada mencapai diagnosis dasar yang spesifik dari patologi bedah yang diderita. 1998. Breathing. 2009) 4. (Sudjatmiko. Selain itu. Berdasarkan penemuan laboratorium dapat dinilai kondisi pasien yang sebelumnya tidak dikenal untuk memperkecil resiko pembedahan dan untuk memperbaiki perjalanan pascabedah. Jelaskan rencana penatalaksanaan ! a. dengan membandingkan sisi kontralateral bisa ditemukan diskontinuitas tulang secara radiologis. pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk evaluasi keadaan patologi lainnya yang ditemukan pada penderita yang menentukan atau turut menentukan pemulihan terapi bedah atau resiko terapi. Buatlah pemeriksaan penunjang (laboratorium dan pemeriksaan radiologis) dan penilaian dari hasil pemeriksaan penunjang tersebut! a. Pemeriksaan radiologis Foto AP dan Waters: walaupun garis patah kadang tidak jelas. 2007. Donat. 2005) 5. CT Scan 3 dimensi akan menggambarkan bentuk tulang muka keseluruhan dan lubang yan patah atau melesak dapat dikenali dengan lebih jelas. epistaksis.2. Circulation dan selanjutnya tetap diawasi 6 . dikerjakan atas indikasi khusus. Primary survey: Airway. 2007: Jong dan Sjamsuhidayat. Penanganan awal 1. angka leukosit.CT Scan bisa melihat garis patah yang tidak nampak dalam foto radiologis biasa. 2005. Fraktur NOE : NOE menampilkan telecanthus ( melebar dan mendatarnya nasal bridge). faktor pembekuan darah. gula darah. Jong dan Sjamsuhidayat. Dari pemeriksaan laboratorium darah dapat dilihat hemoglobin. (Sudjatmiko.

Penanganan lanjut yaitu pada minggu pertama pasca trauma Fraktur Nasal sebaiknya direparasi tidak terlalu lama sejak traumanya. 6. Indikasi reposisi terbuka yang lain ialah adanya diplopia.2. bila ternyata tidak stabil maka perlu reposisi terbuka dan fiksasi dengan interosseus wiring (ICOPIM 5-761) atau dengan pemasangan plat dan sekrup. orbita. Bila ada luka. dan oklusi. 2001) c. (Ondik. dan pencegahan sekunder penyakit tersebut ! a. neurologis. Perlengkapan keselamatan dengan helm (pengaman kepala) yang melindungi sampai rahang bawah dapat untuk mencegah trauma maxillofacial. (Sudjatmiko. rongga mulut. 2009) Tindakan operasi fraktur zygoma adalah bila hanya ada deformitas saja maka dilakukan reposisi tertutup dengan cara Gillies (ICOPIM 5-760). 2009) 7 . (Staffel. Namun demikian pada beberapa fraktur yang displaced tetap memerlukan imobilisasi setelah reduksi. karena otot-otot yang melekat pada os zygoma tidak banyak. scalp. infra orbitalis. mandibula. Mencegah infeksi dengan menjaga kebersihan setelah operasi sehingga penyembuhan bisa berlangsung cepat. Adanya cedera kepala (brain injury) dapat menunda timing operasi Open Reduction Internal Fixation (ORIF) pada fraktur tulang muka. hidung. (Staffel. wajah bagian tengah. 3. 2001) d. deviasi atau remuk. 2007) b. Memperbaiki psikis setelah kecelakaan agar pasien tidak menjadi trauma psikis (Hitosugi. gangguan n. mengingat tulang nasal adalah pipih dan sering patahnya berbentuk impresi. 2007) Biasanya untuk fraktur zygoma penanganan fraktur cukup dengan reposisi. Mengkonsumsi makanan yang bergizi agar luka operasi pasien bisa cepat sembuh. b. sehingga begitu direposisi akan cepat pulih kembali. penyuluhan. Secondary survey: pemeriksaan leher. ditutup dengan kasa lembab sambil menunggu terapi definitif. telinga. Jelaskan edukasi. (Sudjatmiko.

Menggunakan sabuk pengaman bila berkendara mobil untuk mencegah trauma maxillofacial.e. (Danastri. 2001) 8 . 2009) h. Bila terdapat gejala diplopia atau hipoestesi di wajah segera lapor ke dokter (Arosarena. Mengurangi berbicara yang keras atau teriak. (Danastri. (Mouzakes. Jangan berkendara motor bila dalam kondisi mabuk atau mengantuk. 2010) g. 2010) f.

2006. 1998. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.php?page=FRAKTUR+OS. R. 4th IRTAD CONFERENCE Jong. Yogyakarta.1136/emj. T. Facial trauma. 2009. M. T.124:1306-1314 Hitosugi. Arch Facial Plast Surg.2009.11(1):48-52 Ceallaigh et al. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. Part 3: orbitozygomatic complex and zygomatic arch fractures. WD dan Sjamsuhidajat. Arch Facial Plast Surg.fkumyecase. 2010. Maxillofacial Injuries and Violence Against Women. Analysis of Maxillofacial Injuries of Vehicle Passengers Involved in Frontal Collisions.emedicine/plastic /surgery/facial fracture Danastri. Nasal dan Fraktur Dinding Sinus Maksila Bilateral Pada Pasien Laki-Laki Dengan Udem Cerebri. Diagnosis and management of common maxillofacial injuries in the emergency department. B. Jakarta: EGC McMullin. http://www. Facial Fractures in Motor Vehicle Collisions. Nina. Facial Fracture Classification According to Skeletal Support Mechanisms. Fraktur Os.24:120-122 doi:10.+NASAL+DAN+FR AKTUR+DINDING+SINUS+MAKSILA+BILATERAL+PADA+PASIEN+LAKILAKI+DENGAN+UDEM+CEREBRI Donat.net/wiki/index.035972 Cohen AJ.DAFTAR PUSTAKA Arosarena et al. 2009.11(3):165-170 9 . L. zygomatic arch Fracture. 1998. Emerg Med J 2007. 2009. 2005. 2007. http://www. 2009.

MJAFI 2010.11(5):296302 Phelan at all. Maxillofacial Trauma. M. G. Florida Reksoprodjo et al. 66 : 14-17 Yogonandan et al. 2001. 2001. Jakarta: Yayasan Khasanah Kebajikan. Management of Acute Nasal Fractures. Fractures in the Maxillofacial Region: A Four Year Retrospective Study. 2000.Tangerang: Bina Rupa Aksara Sudjatmiko. American Academy of Otolaryngology. 2003. Petunjuk Praktis Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi. Arch Facial Plast Surg. 2007. et al. Primary Care Otolaryngology.The Impact of Airbags and Seat Belts on theIncidence and Severity of Maxillofacial Injuries in Automobile Accidents in New York State.G. J.Mouzakes et al. Ilmu Bedah. Facial Fractures in Motor Vehicle Collisions. Management of Nasal Fractures. 2009. 2004. 2009. 2009. American medical association Venugopal et al. Staffel. Strong et all.127:1189-1193 Ondik.Epidemiological Trends and Risk Factor 10 . 2001. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 2009. The Treatment of Nasal Fractures.P. Trauma tulang Muka.