You are on page 1of 12

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pola Asuh Pengasuhan menurut Porwadarminta (dalam Amal, 2005) adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin atau mengelola. Pengasuhan yang dimaksud disini adalah mengasuh anak. Menurut Darajat (dalam Amal, 2005) mengasuh anak maksudnya adalah mendidik dan memelihara anak itu, mengurus makan, minumnya, pakaiannya dan keberhasilannya dalam periode yang pertama sampai dewasa. Dengan pengertian di atas dapatlah dipahami bahwa pengasuhan anak yang dimaksud adalah kepemimpinan, bimbingan yang dilakukan terhadap anak berkaitan dengan kepentingan hidupnya. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2002), pengertian pola asuh adalah merupakan suatu bentuk (struktur), system dalam menjaga, merawat, mendidik dan membimbing anak kecil. Sedangkan pola asuh menurut Soetjiningsih (2004) adalah suatu model atau cara mendidik anak yang merupakan suatu kewajiban dari setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak yang sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya. Dalam laporan Temu Ilmiah Sistem Kesejahteraan Anak Nasional, 1998 (dalam Garliah, 2003) pola asuh orang tua dirumuskan sebagai seperangkat sikap dan perilaku yang tertata, yang diterapkan oleh orang tua dalam berinteraksi dengan anaknya. Kohn, 1986 (dalam Tarmudji, 1991) mengatakan bahwa pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orang tua ini meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritasnya, dan cara orang tua memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anaknya. Ukuran keluarga mempunyai pengaruh terhadap pola asuh keluarga dan hasil-hasil yang dicapai oleh anak. Keluarga besar dan keluarga kecil secara kualitatif menggambarkan pengalaman-pengalaman perkembangan. Anak-anak yang berasal dari keluarga kecil menerima lebih banyak perhatian daripada anak-anak dari keluarga yang besar. Penelitian telah menghubungkan perbedaan ini dengan perkembangan intelektual dan penampilan prestasi di sekolah (Feiring dan Lewia, 1984).

Page | 1

corak hubungan orang tua anak dapat dibedakan menjadi tiga pola. dan memanjakan membuat anak menjadi egois. kebanyakan orang tua mempunyai favorit. sedangkan dalam pola demokrasi. dan sangat sensitive. Pola demokrasi – otokrasi. Tunduk pada anak. Permisivitas yang berlebihan. 3. Memanjakan. dsb 4. 2. yaitu : 1. 5. 8. 2.B. Hal ini membuat mereka lebih menuruti dan mencintai anak favoritnya daripada anak lain di dalam keluarga. Pola memiliki – melepaskan. sopan.kegiatan dalam keluarga. Penerimaan. Permisivitas terlihat pada orang tua yang membiarkan anak berbuat sesuka hati dengan sedikit pengendalian. dan berhati-hati tapi cenderung malu. Penolakan. Perlindungan orang tua yang berlebihan mencakup pengasuhan dan pengendalian anak yang berlebihan. Anak yang didominasi oleh salah satu atau kedua orang tua bersifat jujur. Penerimaan orang tua ditandai oleh perhatian besar dan kasih sayang pada anak. Orang tua yang tunduk pada anaknya membiarkan anaknya mendominasi mereka dan rumah mereka. orang tua yang menerima. Hurlock ada beberapa sikap orang tua yang khas dalam mengasuh anaknya yakni antara lain : 1. 7. Favoritisme. Dominasi. dan mudah dipengaruhi orang lain. pola ini didasarkan atas taraf partisipasi anak dalam menentukan kegiatan. Macam – Macam Pola Asuh Orang Tua Menurut Fels Research Institute. Melindungi secara berlebihan. sering menuntut. Meskipun mereka berkata mereka mencintai semua anak dengan sama rata. Permisivitas. Penolakan dapat dinyatakan dengan mengabaikan kesejahteraan anak atau dengan menuntut terlalu banyak dari anak dan sikap bermusuhan yang terbuka. memperhatikan perkembangan kemampuan anak dan memperhitungkan minat anak. Page | 2 . 3. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai diktator terhadap anak. patuh. 6. Pola ini bergerak dari sikap orang tua yang overprotektif dan memiliki anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali. mengalah. Pola menerima – menolak. pola ini didasarkan atas sikap protektif orang tua terhadap anak. pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak. sampai batas – batas tertentu anak dapat berpartisipasi dalam keputusan-keputusan keluarga (Ahmadi. 1991: 180) Menurut Elizabet B.

2. (Hurlock. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional. Hampir semua orang tua mempunyai ambisi bagi anak mereka seringkali sangat tinggi sehingga tidak realistis. 3. yaitu : 1. Ambisi orang tua. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Sedangkan menurut Bolsom menyatakan bahwa pola asuh dapat digolongkan dalam tiga macam. Otoriter Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Love withdrawal (pola asuh lepas kasih) Adalah pernyataan-pernyataan nonfisik dari rasa dan sikap tidak setuju orang tua terhadap perilaku anak dengan implikasi tidak diberikannya lagi kasih sayang sampai anak merubah perilakunya. 1970 (dalam Garliah. maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. 2. Demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya. biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. 1990: 204) Menurut Hoffman. yakni : 1. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orang tua yang directive nya tinggi dan supportivenya rendah.9. Orang tua tipe ini cenderung memaksa. Pada tipe pola asuh ini dijumpai perilaku orang tua yang directive dan supportive nya rendah. Power Assertion (pola asuh unjuk rasa) Adalah perilaku orang tua tertentu yang menghasilkan tekanan-tekanan eksternal pada anak agar mereka berperilaku sesuai dengan keinginan orang tua. menghukum. memerintah. Ambisi ini sering dipengaruhi oleh ambisi orang tua yang tidak tercapai dan hasrat orang tua supaya anak mereka naik di tangga status sosial yang lebih tinggi. Induction (pola asuh bina kasih) Adalah suatu teknik disiplin dimana orang tua memberi penjelasan atau alasan mengapa anak harus mengubah perilakunya. 2003) pola asuh terdiri dari tiga tipe atau tiga macam. Pada tipe pola asuh seperti ini dijumpai perilaku orang tua yang directive dan supportive nya tinggi. selalu mendasari tindakannya pada rasio atau Page | 3 .

Pada pola asuh otoriter ini anak hanya dianggap sebagai objek pelaksana saja dan orang tua yang berkuasa menentukan segala sesuatu untuk anak. Permisitif Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar. perkembangan anak semata-mata ditentukan oleh orang tua. Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter mengakibatkan anak. 1991: 112). dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka.pemikiran-pemikiran. sehingga seringkali disukai oleh anak. Penerapan pola asuh otoriter oleh orang tua terhadap anak dapat mempengaruhi proses pembentukan kepribadian anak. Pada pola asuh ini hanya akan terjadi komunikasi satu arah. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan. Menurut Singgih D. Karena menurutnya tanpa sikap keras tersebut anak tidak akan melaksanakan tugas dan kewajibannya. Pada pola asuh otoriter ini.Y. 1995: 87). Singgih D. dan lambat berinisiatif (Ahmadi. tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak. Gunarsa. Gunarsa dan Ny. 3. Perintah yang diberikan berorientasi pada sikap keras orang tua. Orang tua yang memberikan tugas dan menentukan berbagai aturan tanpa memperhitungkan keadaan dan keinginan anak. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat. Jadi pola asuh otoriter merupakan pola asuh orang tua terhadap anak dengan menentukan sendiri aturanaturan dan batasan-batasan dimana aturan dan batasan tersebut mutlak harus ditaati oleh anak tanpa kompromi dan memperhitungkan keadaan anak. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya. dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat. ragu-ragu di dalam semua tindakan. Page | 4 . Sikap pribadi anak yang otoriter biasanya suka menyendiri. cenderung mengalami keraguraguan dalam setiap perbuatan dan tindakan ketika melakukan suatu hal yang dapat membentuk pribadi penyendiri sehingga nantinya mengalami kesulitan dalam pergaulannya dengan lingkungan sekitarnya. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Jika anak menentang atau membantah. maka orang tua tidak segan memberikan hukuman. mengalami kemunduran kematangannya. Dalam hal ini kebebasan anak sangat dibatasi. Apa saja yang dilakukan oleh anak harus sesuai dengan keinginan orang tua. pola asuh otoriter adalah suatu bentuk pola asuh yang menuntut anak agar patuh dan tunduk terhadap semua perintah dan aturan yang dibuat oleh orang tua tanpa ada kebebasan untuk bertanya atau mengemukakan pendapatnya sendiri (Gunarsa.

maka setelah dewasa pun akan terus mencari bantuan.Utami Munandar mengemukakan bahwa sikap orang tua yang otoriter paling tidak menunjang perkembangan kepribadian dan tanggung jawab sosial. Maka anak dianggap pembangkang. dan ia tidak akan mengembangkan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena tidak mendapat kesempatan untuk mencoba. Dengan demikian. melakukang yang diinginkannya dengan tidak melewati batas-batas atau aturan-aturan yang telah ditetapkan orangtua. 1992:98). ia merasa tidak dapat mengimbangi teman-temannya dalam segala hal sehingga anak menjadi pasif dalam pergaulan. biasanya tidak ada komunasi antara orangtua dan anak. maka orang tua tidak segan-segan menghukum anaknya. jika anak tidak melakukan apa yang dikatakan orangtua. dalam hal ini orangtua cenderung memberikan perintah dan larangan kepada anak serta memaksakan disiplin kepada anak. Anak juga akan takut untuk mengemukakan pendapatnya. 1995:84). Pola asuh demokratis adalah suatu bentuk pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak. Utami munandar menyatakan bahwa pola asuh demokratis adalah cara mendidik anak. Bisa dikatakan pola asuh demokratis ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat. dan pengamanan. Anak yang dibesarkan di rumah yang bernuansa otoriter akan mengalami perkembangan yang tidak diharapkan orang tua. menghukum dan cenderung memberikan ancaman-ancaman kepada anak. Selain itu apabila terdapat perbedaan pendapat antara orangtua dan anak. Karena kepercayaan terhadap diri sendiri tidak ada. Pada pola asuh demokratis. sehingga anak tidak akan berani mencoba. Maka dari itu orangtua menganggap bahwa anak harus mematuhi peraturan-peraturan orangtua dan tidak boleh membantah. orangtua cenderung memaksakan kehendak. Pada pola asuh otoriter ini. tetapi kurang bebas dan kurang percaya diri (Munandar. dimana orangtua memberikan peraturan-peraturan tetapi dengan memperhatikan keadaan dan kebutuhan anak (Munandar. Semakin lama ia akan mempunyai perasaan rendah diri dan kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri. 1992:127). pola asuh otoriter adalah pola asuh yang cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti oleh anak. suka memerintah. Orangtua cenderung memaksakan segala sesuatu tentang anak ddan anak hanya sebagai pelaksana. Ini berarti bahwa anak tidak berani memikul tanggung jawab (Kartono. perlindungan. rajin dalam mengerjakan pekerjaan sekolah. sopan. Larangan dan hukuman orang tua akan menekan daya kreativitas anak yang sedang berkembang. namun kebebasan itu tidak mutlak dengan bimbingan yang penuh pengertian antara orangtua dan anak (Gunarsa. Anak menjadi patuh. 1992: 98). Anak akan menjadi kurang kreatif jika orang tua selalu melarang segala tindakan anak yang sedikit menyimpang dari yang seharusnya dilakukan.orangtia Page | 5 .

bukan seekor hewan terlatih yang patuh tanpa pertanyaan (Beck. sasaran orangtua ialah mengembangkan individu yang berfikir. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. Sehingga pada pola asuh demokratis ini dapat tercipta suasana komunikatif. Pola asuh ini sama dengan pola asuh permisif. Pola asuh selanjutnya adalah pola asuh laissez faire. dan dimengerti oleh anak. Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat. dipahami.Hal tersebut dilakukan orangtua dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. 1992:51). Pada pola asuh demokratis ini.selau memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh pengertian terhadap anak mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. dan keinginannya dan belajar untuk menanggapi pendapat orang lain. Orang tua bersikap sebagai pemberi pendapat dan pertimbangan terhadap akitivitas anak. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat. Pola asuh demokratis memiliki dampak positif yang lebih besar jika dibandingkan dengan pola asuh otoriter dan laissez faire. Fromm berpendapat. anak. perkembangannya lebih luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional. Pola asuh demokratis ini ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak. Orang tua dan anak membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. perasaan.Hal tersebut mungkin menimbulkan sikap tunduk secara membuta kepada kekuasaan. atau justru sikap menentang kekuasaan (Ahmadi. pola asuh ini juga disebut dengan pola asuh permisif. serta dapat tercipta keharmonisan antar orang tua. dan sesama keluarga. Jadi pola asuh demokratis dapat dikatakan sebagai kombinasi dari dua pola asuh ekstrim yang bertentangan. mampu menghargai orang lain. 1991:180). Pada pola asuh ini terdapat komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. dan mampu bertanggung jawab pada kehidupan sosialnya. Orang tua memperhatikan dan mempertimbangkan alasan-alasan yang dapat diterima. yang dapat menilai situasi dan bertindak dengan tepat. perasaan. memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang harus ditakuti dan bersifat magi (rahasia). dan keinginannya. Page | 6 . bahwa anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana demokratis. Sebaliknya anak yang dibesarkan dalam suasana otoriter. Kata laissez faire berasal dari bahasa Perancis yang berarti membiarkan (leave alone). Dengan pola asuh ini anak akan mampu mengembangkan kontrol terhadap perilakunya sendiri dengan hal – hal yang dapat diterima oleh masyarakat. yaitu pola asuh otoriter dan laissez faire. Penerapan pola asuh demokratis pada anak akan menjadi orang yang mau menerima kritik dari orang lain. mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. ditandai dengan orang tua yang tidak pernah memberikan aturan dan pengarahan kepada anak.

orang tua sebagai pemegang peran utama. kurang dapat bergaul dengan lingkungan sosialnya. Orang tua membiarkan anaknya mencari dan menentukan sendiri apa yang diinginkannya. Tapi juga akan lebih mungkin terlibat dalam kenakalan remaja dan memiliki prestasi yang rendah di sekolah karena anak menganggap bahwa orang tuanya tidak pernah aturan. Pola asuh laissez faire anak memang akan memiliki rasa percaya yang lebih besar. serta memiliki defresi yang lebih tinggi. cinta dan kehangatan untuk anaknya. 1998: 44). Kebebasan sepenuhnya diberikan kepada anak. Setiap pola asuh pasti memiliki risiko masing-masing. ketergantungan kepada orang lain. dan pola asuh laissez faire. dan tingkat depresi lebih rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka dalam kehidupan sehari-hari. Pola asuh otoriter memang memudahkan orang tua. Sedangkan pada pola asuh demokratis. dan bersifat kekanak-kanakan secara emosional. kurang kreatif. pola asuh yang dianggap paling efektif untuk diterapkan pada anak adalah pola asuh demokratis. orang tua memberikan kebebasan pada anak untuk mengemukakan pendapat. Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang disesuaikan dengan perkembangan anak.Serta adanya kebebasan pada anak tanpa batas untuk berperilaku sesuai dengan keinginan anak. Orang tua seperti ini cenderung kurang perhatian dan acuh tak acuh terhadap anaknya. serta Page | 7 . pola asuh demokratis. Melalui pola asuh ini anak juga dapat merasa bebas mengungkapkan kesulitannya. Pada pola asuh otoriter. Dari ketiga pola asuh tersebut. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa adanya pertimbangan dari orang tua. lemah. aturan untuk halhal yang esensial saja. Akan tetapi cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki kepercayaan diri. tergantung. orang tua akan berusaha membantu mencarikan jalan keluar tanpa berusaha mendiktenya (Sochib. pengarahan. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh seperti ini mungkin memang tidak memiliki masalah dengan pelajaran dan juga bebas dari masalah kenakalan remaja. dengan tetap menunjukkan dukungan. melakukan apa yang diinginkannya namun tidak melewati aturan-aturan yang telah ditetapkan orang tua. kegelisahannya kepada orang tua karena ia tahu. kemampuan sosial baik. Pada pola asuh ini anak adalah subyek yang dapat bertindak dan berbuat menurut hati nuraninya. karena tidak perlu untuk bersusah payah untuk bertanggung jawab dengan anak. sementara pola asuh laissez faire membuat anak merasa boleh berbuat sekehendak hatinya. Pola asuh ini cenderung membuahkan anak-anak nakal yang manja. Pada pola asuh ini orang tua memberikan kontrol terhadap anak-anaknya dalam batas-batas tertentu. Anak dipandang sebagai makhluk hidup yang berpribadi bebas. Sedangkan pola asuh leissez faire bahwa pemegang peran utama adalah anak. Pola asuh tersebut yakni pola asuh otoriter.

Budaya Setempat Lingkungan masyarakat di sekitar tempat tinggal memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk pola pengasuhan orang tua terhadap anak.diberi kebebasan tanpa batas sehingga dimanapun anak berada ia merasa bebas untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya. Ideologi yang berkembang dalam diri orang tua Orang tua yang memiliki keyakinan atau ideologi tertentu cenderung menurunkan pada anak-anaknya dengan harapan bahwa nantinya nilai dan ideologi tersebut dapat tertanam dan dikembangkan oleh anak dikemudian hari. dalam mengasuh dan mendidik anak sikap orang tua dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya adalah pengalaman masa lalu yang berhubungan erat dengan pola asuh ataupun sikap orang tua mereka. C. tipe kepribadian orang tua. kehidupan perkawinan orang tua dan alasan orang tua mempunyai anak (Gunarsa. Dengan perekonomian yang cukup. 3. Orang tua yang menganut keyakinan agama atau religius tertentu senantiasa berusaha agar anaknya nantinya juga mengikuti agama dan keyakinan religius tersebut. dan budaya yang berkembang di dalamnya. kesempatan dan fasilitas yang diberikan serta lingkungan material yang mendukung Page | 8 . Dalam hal ini mencakup segala aturan. adat. nilai-nilai yang dianut orang tua. 2. Letak geografis norma etis Dalam hal ini letak suatu daerah serta norma etis yang berkembang dalam masyarakat memiliki peran yang cukup besar dalam membentuk pola asuh yang nantinya akan diterapkan orang tua kepada anaknya. Penduduk pada dataran tinggi memiliki karakteristik yang berbeda dengan penduduk pada dataran rendah sesuai dengan tuntutan atau tradisi yang berkembang pada tiap-tiap daerah. Orientasi religius Orientasi religius dapat menjadi pemicu diterapkannya pola asuh dalam keluarga. norma. 4. Faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua Menurut Wahyuni. 5. 1976: 144) Mindel menyatakan bahwa ada beberapa factor yang mempengaruhi terbentuknya pola asuh orang tua. diantaranya: 1. Status ekonomi Status ekonomi juga mempengaruhi pola asuh yang nantinya akan diterapkan oleh orang tua pada anaknya.

Sub Kultur Budaya Budaya di lingkungan keluarga juga mempengaruhi pola asuh yang nantinya akan diterapakan pada anak. kemungkinan besar orang tua akan banyak mengontrol anaknya karena rasa khawatir. Di Meksiko. Mussen juga menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua yakni : 1.cenderung mengarahkan pola asuh orang tua menuju perlakuan tertentu yang dianggap sesuai oleh orang tua. Hal tersebut dapat dilihat jika suatu keluarga tinggal di kota besar. Sedangkan keluarga yang tinggal di perdesaan kemungkinan orang tua tidak begitu khawatir terhadap anaknya. Hal tersebut sama seperti pendapat Bunruws yang menyatakan bahwa banyak orang tua yang membolehkan anak-anaknya untuk mempertanyakan tindakan orang tua dan beragumentasi tentang aturan dan standar moral. 6. Gaya hidup masyarakat di desa dan di kota besar memiliki berbagai macam perbedaan dan cara yang berbeda pula dalam interaksi serta hubungan orang tua dan anak. 1992: 3). perilaku seperti itu dianggap tidak sopan dan tidak pada tempatnya. 1994: 392-393) Page | 9 . Sehingga hal tersebut nantinya juga akan mempengaruhi pola asuh yang diterapkan orang tua terhadap anak (Walker. 2. Lingkungan tempat tinggal Lingkungan tempat tinggal mempengaruhi cara orang tua dalam penerapan pola asuh terhadap anaknya. 3. Status sosial ekonomi Status sosial ekonomi juga mempengaruhi pola asuh yang nantinya diterapkan oleh orang tua kepada anak. cenderung mengembangkan pola asuh sesuai dengan diri anak tersebut. Bakat dan kemampuan orang tua Orang tua yang memiliki kemampuan dalam komunikasi dan berhubungan dengan tepat dengan anak. 7. Gaya hidup Norma yang dianut dalam kehidupan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh factor lingkungan yang nantinya akan mengembangkan suatu gaya hidup. Keluarga dari kelas sosial yang berbeda tentunya mempunyai pandangan yang juga berbeda tentang bagaimana cara menerapkan pola asuh yang dapat diterima bagi masing-masing anggota keluarga (Mussen.

dan kurang matang secara sosial. 2. D. budaya setempat. Peran keluarga dalam mengajarkan nilai-nilai keagamaan demi memperkuat keimanan seorang anak. Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak yang mandiri. norma etis dan status ekonomi. Peran Keluarga dalam Perkembangan Pendidikan Kepribadian Anak Dalam menerapkan pendidikan bagi anak dalam pembentukan karakter kepribadiannya. yaitu : 1. Peran keluarga sebagai tempat mengaduh dan menampung segala permasalahan pribadi anak. letak geografis. 2. Dampak Pola Asuh Ira Petranto (2006:4) menguraikan dampak pola asuh pada anak adalah dapat dikarakteristikkan sebagai berikut: 1. Adapun yang bersifat eksternal seperti lingkungan tempat tinggal. agresif. dan mengajarkan nilai-nilai sosial agar anak tahu bagaimana berorganisasi dan hidup bergantung pada orang lain dengan menjunjung nilai-nilai budaya bangsa atau masyarakat. bahwa harga diri anak yang rendah terutama adalah karena pola asuh orang tua yang permisif. cemas dan menarik diri. mau menang sendiri. kurang mandiri. bakat dan kemampuan orang tua. orientasi religius serta gaya hidup. mampu menghadapi stress. dan koperatif terhadap orang-orang lain. Keluarga senantiasa mendengar dan memberikan solusi terbaik bagi anak tersebut dengan tidak menggunakan sikap otoriter dan memberikan perhatian yang maksimal. pendiam. tidak berinisiatif. manja. Perilaku orang tua yang baik sesuai dengan nilai-nilai etika akan dicontohi oleh anak. 3. 3. Hal yang bersifat internal yakni ideologi yang berkembang dalam diri orang tua. terdapat beberapa peran penting keluarga dalam perkembangan kepribadian anak . mempunyai hubungan baik dengan teman. tertutup.Dari pemaparan para ahli diatas bisa dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua ada yang bersifat internal dan ada pula yang bersifat eksternal. dapat mengontrol diri. tidak patuh. Dari karakteristik-karakteristik tersebut bisa kita lihat. berkepribadian lemah. Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsif. kurang percaya diri. Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut. E. Peran keluarga sebagai motivator terbesar bagi perkembangan kepribadian anak. mempunyai minat terhadap hal-hal baru. gemar menentang. suka melanggar norma. Hal-hal tersebut mempengaruhi pola asuh yang dipakai oleh orang tua terhadap anaknya. Page | 10 .

anak tersebut harus dididik dulu di dalam keluarganya karena itu adalah ilmu cinta dan kasih sayang yang diterapkan di dalam keluarga. 6. Peran keluarga dalam menciptakan suasana dan lingkungan yang harmonis. sebelum anak melangkahkan kaki keluar menuju lembaga pendidikan yang luar. dan bahagia. sehingga anak sendiri pun merasa kuat karena ada yang menopangnya. damai sejahtera.4. Dan yang terakhir adalah peran keluarga sebagai kekasih atau teman. dimana ada Ayah dan Ibu yang senantiasa dapat menerima dan menghargai pendapat satu sama lain dan juga pendapat anak. Ketika ada cinta dalam sebuah keluarga maka semua kerisauan dan masalah-masalah dapat teratasi bersama. 5. Page | 11 . Peran keluarga sebagai lembaga pendidikan secara pribadi bagi perkembangan kepribadian anak.

BAB III PENUTUP A. kelebihan dan kelemahan sendiri-sendiri tergantung pada penerapan pola asuh yang digunakan. ciri-ciri. Page | 12 . Kesimpulan Pola asuh orang tua merupakan seperangkat sikap dan perilaku yang tertata. pola asuh demokratis. segala sesuatu tentang kepribadian anak bermula dari lingkungan keluarganya. Ada beberapa macam dan tipe pola asuh orang tua menurut pendapat para ahli. Hal ini dikarenakan orang tua atau keluarga adalah struktur kepribadian pertama bagi anak. yang diterapkan oleh orang tua dalam berinteraksi dengan anaknya untuk mewujudkan anak berkepribadian sesuai dengan yang diharapkan orang tua. Jadi. Dalam proses pendidikan kepribadian atau perkembangan kepribadaian anak. dan pola asuh leissez faire. peran orang tua serta keluarga sangat penting. Salah satunya adalah pola asuh otoriter. Setiap pola asuh tersebut memiliki pengertian. Dari berbagai macam pola asuh tersebut tidak hanya memberikan efek positif bagi anak tetapi beberapa diantaranya juga memberikan efek negatif. Oleh karena itu orang tua serta anggota keluarga sangat diharapkan untuk dapat menerapkan pola asuh yang terbaik bagi anak agar anak memiliki kepribadian yang baik.