anemia

BAB I PENDAHULUAN

Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di klinik di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Diperkirakan lebih dari 30% jumlah penduduk dunia atau 1500 juta orang menderita anemia. Kelainan ini mempunyai dampak besar terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi serta kesehatan fisik. Anemia bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri, tetapi merupakan gejala dari berbagai macam penyakit dasar. Oleh karena itu penentuan penyakit dasar juga penting dalam pengelolaan kasus anemia, karena tanpa mengetahui penyebab yang mendasari, anemia tidak dapat diberikan terapi yang tuntas. Berdasarkan standar kompetensi dokter Indonesia yang dibuat oleh Divisi Standar Pendidikan Kolegium Dokter Indonesia, dokter umum diharapkan dapat menegakkan diagnosis anemia (defisiensi besi, megaloblastik, aplastik, hemolitik) berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium. Untuk anemia defisiensi besi, dokter umum harus mampu melakukan penanganan. Untuk anemia megaloblastik, aplastik, hemolitik, dokter umum hanya sampai tahap merujuk serta mengetahui komplikasi penyakit tersebut. Oleh karena itu, dalam referat ini akan dibahas mengenai keempat jenis anemia tersebut.

1

BAB II PEMBAHASAN

1 ERITROPOESIS

1.1 Definisi Eritropoesis adalah proses pembentukan sel darah merah yang dibentuk dalam sumsum tulang dengan rangsangan hormon eritropoetin (ginjal), dirangsang oleh kadar O2 rendah (hipoksia).

1.2 Faktor–faktor yang diperlukan untuk eritropoesis  Zat besi Zat besi penting untuk sintesis hemoglobin oleh eritrosit. Kebutuhannya 2 mg/hari untuk wanita, sedangkan untuk pria 4 mg/hari untuk pria. Zat ini diabsorbsi dari makanan sehari– hari dan disimpan di berbagai jaringan, terutama di hati. Cadangannya disimpan 60% (Hb), 10% (mioglobin enzim) 30% (feritin, hemosiderin). 6-8% diserap di duodenum, dipengaruhi oleh Hcl dan vitamin C.  Tembaga (Cu) Bagian esensial dari protein yang diperlukan untuk mengubah besi feri (Fe3+) menjadi besi fero (Fe2+).  Vitamin tertentu seperti asam folat, vitamin C, dan Vitamin B12 Vitamin untuk sintesis DNA (protein), berperan penting dalam pertumbuhan normal dan pematangan eritrosit. Vitamin B12 tidak dapat disintesis dalam tubuh dan harus didapat dari makanan. Agar vitamin B12 dapat diabsorbsi dari saluran pencernaan, lapisan lambung harus memproduksi faktor intrinsik (sel parietal lambung).  Eritropoetin Produksi eritrosit diatur oleh eritropoetin, suatu hormon glikoprotein yang diproduksi terutama oleh ginjal. Kecepatan produksi eritripoetin berbanding terbalik dengan persediaan oksigen dalam jaringan.

2

Hormon lain Hormon lain seperti kortikoson, hormon toroid dan hormon pertumbuhan juga mempengaruhi pertumbuhan eritrosit.

2 ANEMIA 2.1 Definisi Anemia merupakan kelainan hematologi yang paling sering dijumpai baik di klinik maupun di lapangan. Untuk mendapatkan pengertian tentang anemia maka kita perlu menetapkan definisi anemia: a. Anemia adalah keadaan dimana massa eritrosit dan/atau massa hemoglobin yang beredar tidak dapat memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh. b. Secara laboratorik dijabarkan sebagai penurunan dibawah normal kadar hemoglobin, hitung eritrosit dan hematokrit (packed red cell). 2.2 Kriteria anemia Parameter yang paling umum dipakai untuk menunjukkan penurunan massa eritrosit adalah kadar hemoglobin, disusul oleh hematokrit dan hitung eritrosit. Pada umumnya ketiga parameter tersebut saling bersesuaian. Yang menjadi masalah adalah berapakah kadar hemoglobin yang dianggap abnormal. Harga normal hemoglobin sangat bervariasi secara fisiologik tergantung pada umur, jenis kelamin, adanya kehamilan dan ketinggian tempat tinggal. Oleh karena itu perlu ditentukan titik pemilah (cut off point) di bawah kadar mana kita anggap terdapat anemmia. Di negara barat kadar hemoglobin paling rendah untuk laki– laki adalah 14gr/dl dan 12gr/dl pada perempuan dewasa pada permukaan laut. Peneliti lain memberikan angka yang berbeda yaitu 12gr/dl (hematokrit 38%) untuk perempuan dewasa, 11gr/dl (hematokrit 36%) untuk perempuan hamil, dan 13gr/dl untuk laki dewasa. WHO menetapkan cut off point anemia untuk keperluan penelitian lapangan seperti terlihat pada tabel 1.

3

Oleh karena itu beberapa peneliti di Indonesia mengambil jalan tengah dengan memakai kriteria hemoglobin kurang dari 10 gr/dl sebagai awal dari work up anemia atau di india dipakai angka 10-11 gr/dl. bila MCV > 95 fl 4 . Dalam klasifikasi ini anemia dibagi menjadi tiga golongan (1) Anemia hipokromik mikrositer apabila MCV < 80 fl dan MCH < 27 fl (2) Anemia normokromik normositer. kriteria WHO sulit dilaksanakan karena tidak praktis. et al 2001) Kelompok Laki – laki dewasa kriteria Anemia (Hb) < 13 gr/ dl < 12 gr/dl < 11 gr/dl Wanita dewasa tidak hamil Wanita hamil Tabel 1 Untuk keperluan klinik (rumah sakit dan praktik dokter) di Indonesia dan negara berkembang lainnya. Apabila kriteria WHO dipergunakan secara ketat maka sebagian besar pasien yang mengunjungi poliklinik atau dirawat di rumah sakit akan memerlukan pemeriksaan work up anemia lebih lanjut. bila MCV 80-95 fl dan MCH 27-34 fl (3) Anemia makrositer.Tabel 1.3 Klasifikasi anemia Klasifikasi anemia dapat dibuat berdasarkan gambaran morfologik dengan melihat indeks eritrosit atau happusan darah tepi. 2. Kriteria anemia menurut WHO (dikutip dari Hoffbrand AV.

Kategori anemia ke tiga adalah anemia mikrositik hipokrom. seperti pada talasemia (penyakit hemoglobin abnormal kongenital). Yang pertama adalah anemia normositik normokrom. atau gangguan sintesis globin. keadaan sideroblastik dan kehilangan darah kronik. hemolisis. Kategori besar yang kedua adalah anemia makrositik normokrom. Ini dapat juga terjadi pada kemoterapi kanker. Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normal tetapi normokrom karena konsentrasi hemoglobinnya normal. Hal ini umumnya menggambarkan insufisiensi sintesis hem (besi). sebab agen-agen yang digunakan mengganggu metabolisme sel. seperti pada anemia defisiensi besi. 5 . Hal ini diakibatkan oleh gangguan atau terhentinya sintesis asam nukleat DNA seperti yang ditemukan pada defisiensi B12 dan atau asam folat. Klasifikasi etiologi dan morfologi anemia bila digabungkan (lihat tabel 2) akan sangat menolong dalam mengetahui penyebab suatu anemia berdasarkan jenis morfologi anemia. gangguan endokrin. gangguan ginjal. Penyebab anemia jenis ini adalah kehilangan darah akut. hipokrom berarti mengandung hemoglobin dalam jumlah yang kurang dari normal. Mikrositik berarti kecil. Sudah dikenal tiga klasifikasi besar. dan penyakitpenyakit infiltratif metastatik pada sumsum tulang. mikro dan makro menunjukkan ukuran sel darah merah sedangkan kromik menunjukkan warnanya. kegagalan sumsum. penyakit kronik termasuk infeksi. Dimana ukuran dan bentuk sel-sel darah merah normal serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal tetapi individu menderita anemia.Gambar 1 Pada klasifikasi anemia menurut morfologi.

bentuk non-megaloblastik anemia pada penyakit hati kronik anemia pada hipotiroidisme anemia pada sindrom mielodiplastik Tabel 2 Anemia dapat juga diklasifikasikan dipikirkan adalah: (1) Meningkatnya kehilangan sel darah merah dan menurut etiologinya. anemia akibat penyakit kronik d. Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi dan etiologi I . Penyebab utama yang 6 . Anemia normokromik nomositer a. anemia akibat penyakit kronik e. thalasemia major c. anemia defisiensi besi b. termasuk anemia pernisiosa b. anemia pada sindrom mielodisplastik g. bentuk megaloblastik      anemia defisiensi asam folat anemia defisiensi B12. anemia pasca perdarahan akut b. anemia hemolitik di dapat d. anemia aplastik c. anemia pada keganasan hematologik III. anemia sideroblastik II. Anemia hipokromik mikrositer a. anemia pada gagal ginjal kronik f.Tabel 2. Anemia makrositer a.

Yang disebut diatas adalah gangguan herediter. hemoroid atau menstruasi. Hipersplenisme (pembesaran limpa. penyakit-penyakit keganasan. pada keadaan ini terjadi kerusakan pada sel darah merah. Malaria adalah penyakit parasit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang terinfeksi. dan sumsum tulang hiperselular atau normal) dapat juga menyebabkan hemolisis 7 . sulfonamida. Penyakit ini akan menimbulkan anemia hemolitik berat ketika sel darah merah diinfestasi oleh parasit plasmodium. Anemia hemolitik otoimun selanjutnya diklasifikasikan menurut suhu dimana antibodi bereaksi dengan sel-sel darah merah –antibodi tipe panas atau antibodi tipe dingin. dikenal dengan nama hemolisis. Meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh perdarahan atau oleh penghancuran sel. Gangguan membran sel darah merah misalnya sferositosis herediter 4. Hemoglobinopati.(2) Penurunan atau gangguan pembentukan sel. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi. misalnya anemia sel sabit 2. pansitopenia. Gangguan sintesis globin misalnya talasemia 3. Defisiensi enzim misalnya defisiensi G6PD (glukosa 6-fosfat dehidrogenase). kinin. Respon otoimun terdiri dari pembentukan antibodi terhadap sel-sel darah merah itu sendiri. lupus eritematosus. hemolisis dapat juga disebabkan oleh gangguan lingkungan sel darah merah yang seringkali memerlukan respon imun. dimana permukaan sel darah merah tidak teratur. atau akibat pardarahan kronik karena polip pada kolon. Sel darah merah yang terkena akan segera dikeluarkan dari peredaran darah oleh limpa. L-dopa atau pada penyakit-penyakit seperti limfoma. leukemia limfositik kronik. Keadaan dimana sel darah merah itu sendiri terganggu adalah: 1. artritis reumatorid dan infeksi virus. terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek hidupnya atau karena perubahan lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. Namun. yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan. Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma atau tukak. Respon isoimun mengenai berbagai individu dalam spesies yang sama dan diakibatkan oleh tranfusi darah yang tidak cocok. Keadaan yang di namakan anemia hemolitik otoimun dapat timbul tanpa sebab yang diketahui setelah pemberian suatu obat tertentu seperti alfa-metildopa.

apapun penyebabnya.akibat penjeratan dan penghancuran sel darah merah. dan penyinaran dengan radiasi dan (2) Penyakit-penyakit menahun yang melibatkan ginjal dan hati. Luka bakar yang berat khususnya jika kapiler pecah dapat juga mengakibatkan hemolisis. Usia 4. Anoksia organ 2. Gejala umum anemia menjadi jelas (anemia simptomatik) apabila kadar hemoglobin telah turun ddibawah 7gr/dl. leukimia dan multipel mieloma. Adanya kelainan jantung atau paru sebelumnya. vitamin C dan besi dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektif sehingga menimbulkan anemia. Mekanisme kompensasi tubuh terhadap berkurangnya daya angkut oksigen. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah: (1) Keganasan yang tersebar seperti kanker payudara. Klasifikasi etiologi utama yang kedua adalah pembentukan sel darah merah yang berkurang atau terganggu (diseritropoiesis). Setiap keadaan yang mempengaruhi fungsi sumsum tulang dimasukkan dalam kategori ini. asam folat. Gejala umum anemia ini timbul karena : 1. penyakit-penyakit infeksi dan defiensi endokrin. Untuk menegakkan diagnosis anemia harus digabungkan pertimbangan morfologis dan etiologi. apabila kadar hemoglobin turun di bawah harga tertentu. yaitu :  Gejala umum anemia 8 . Kekurangan vitamin penting seperti vitamin B12. berat ringannya gejala umum anemia tergantung pada: 1. obat dan zat kimia toksik.4 Patofisiologi dan gejala anemia Gejala anemia (sindrom anemia atau anemic syndrome) adalah gejala yang timbul pada setiap kasus anemia. Kecepatan penurunan hemoglobin 3. Derajat penurunan hemoglobin 2. 2. Gejala anemia dapat digolongkan menjadi tiga jenis.

Sindrom anemia tidak besifat spesifik karena dapat ditimbulkan aleh penyakit di luar anemia dan tidak sensitif karena timbul setelah penurunan hemoglobin yang berat (Hb <7gr/dl). gangguan neurologik pada defisiensi vitamin B12 Anemia hemolitik : ikterus. sesak nafas dan dispepsia.7gr/dl) sindrom anemia tediri dari rasa lemah.  Gejala khas masing – masing anemia Gejala ini spesifik untuk masing – masing jenis anemia. Tetapi pada umumnya diagmosis anemia memerlukan pemeriksaan laboratorium. Misalnya gejala akibat infeksi cacing tambang : sakit perut. Pada pemeriksaan pasien tampak pucat. yang mudah dilihat pada konjungtiva. atrofi papil lidah. stomatitis angularis. Gejala penyakit dasar Gejala yang timbul akibat penyakit dasar yang menyebabkan anemia sangat bervariasi tergantung dari penyebab anemia tersebut.Gejala umum anemia. dan hepatomegali Anemia aplastik : perdarahan dan tanda – tanda infeksi. telapak tangan dan jaringan di bawah kuku. seperti misalnya pada anemia akibat penyakit kronik oleh karena artritis reumatoid. lesu. Sebagai contoh :      Anemia defisiensi besi : disfagia. anamnesis dan pemeriksaan fisik sangat penting pada kasus anemia untuk mengarahkan diagnosis anemia. pembengkakan parotis. Meskipun tidak spesifik. timbul karena iskemia organ target serta akibat mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan kadar hemoglobin. cepat lelah. dan warna kuning pada telapak tangan. mukosa mulut. kaki terasa dingin. mata berkunang – kunang. Pada kasus tertentu sering gejala penyakit dasar lebih dominan. disebut juga sebagai sindrom anemia. splenomegali. telinga mendenging (tinitus). Gejala ini muncul pada setiap kasus anemia setelah penurunan kadar hemoglobin sampai kadar tertentu (Hb . dan kuku sendok (koilonychia) Anemia megaloblastik : glositis. 9 .

antara lain adalah pendekatan tradisional. yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dasar (underlying disease). Kita tidak cukup hanya sampai pada diagnosis anemia. Maka tahap–tahap dalam diagnosis anemia adalah :     Menentukan adanya anemia Menentukan jenis anemia Menetukan etiologi atau penyakit dasar anemia Menentukan ada atau tidaknya penyakit penyerta yang akan mempengaruhi hasil pengobatan Terdapat bermacam–macam cara pendekatan diagnosis anemia.2. tetapi sedapat mungkin kita harus dapat menentukan penyakit dasar yang menyebabkan anemia tersebut. Dalam pendekatan klinis yang menjadi perhatian adalah :    Kecepatan timbulnya penyakit (awitan anemia) Berat ringannya derajat anemia Gejala yang menonjol Berikut gambar algoritme pendekatan diagnosis pasien dengan anemia :  Anemia hipokromik mikrositer 10 . serta pendekatan klinis. Hal ini penting diperhatikan dalam diagosis anemia. pendekatan morfologi. fingsional dan probabilistik. bukan suatu kesatuan penyakit (disease entity).5 Pendekatan diagnosis dan pendekatan terapi Anemia hanyalah suatu sindrom.

Gambar 2  Anemia normokromik normositer 11 .

Gambar 3  Anemia makrositer 12 .

spesimen untuk pemeriksaan yang dipengaruhi oleh transfusi harus 13 . Dalam keadaan demikian. Pengobatan hendaknya diberikan berdasarkan diagnosis definitif yang telah ditegakkan telebih dahulu 2.Gambar 4 Pendekatan terapi Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian terapi pada pasien anemia adalah: 1. 3. Pemberian hematinik tanpa indikasi yang jelas tidak dianjurkan Pengobatan anemia dapat berupa :  Terapi untuk keadaan darurat : Pada kasus anemia dengan payah jantung atau ancaman payah jantung maka harus segera diberikan terapi darurat dengan transfusi sel darah merah yang dimampatkan (PRC) untuk mencegah perburukan payah jantung tersebut.

Anemia aplastik lebih sering terjadi di negara Timur. hitung retikulosit rendah atau hilang dan biopsi sumsum tulang menunjukkan suatu keadaan yang disebut “pungsi kering” dengan hipoplasia yang nyata dan terjadi pergantian dengan jaringan lemak. asam folat untuk anemia defisiensi asam folat.diambil terlebih dahulu. Dalam keadaan dimana diagnosis definitif tidak dapat ditegakkan. Penderita mengalami pansitopenia yaitu kekurangan sel darah merah. kita terpaksa memberikan terapi percobaan (terapi ex juvantus) pada terapi jenis ini penderita harus diawasi dengan ketat. Secara morfologis sel-sel darah merah terlihat normositik dan normokrom. Jika terdapat respons yang baik terapi diteruskan tetapi jika tidak terdapat respons maka harus dilakukan evaluasi kembali. pada keadaan ini jumlah sel-sel darah yang dihasilkan tidak memadai. Transfusi diberikan pada anemia pasca perdarahan akut dengan tanda – tanda hemodinamik. sel darah putih dan trombosit. anemia akan kambuh kembali. 4. 5. Hampir semua kasus anemia aplastik berkembang ke kematian bila tidak dilakukan pengobatan. Langkah-langkah pengobatan terdiri dari mengidentifikasi dan menghilangkan agen penyebab. dan bagaimana respon tubuh terhadap pengobatan. dan lain – lain. Anemia Aplastik Anemia aplastik adalah suatu gangguan pada sel-sel induk di sumsum tulang yang dapat menimbulkan kematian.  Terapi untuk mengobati penyakit dasar : Penyakit dasar yang menjadi penyebab anemia harus diobati dengan baik. Namun pada beberapa keadaan tidak dapat ditemukan agen penyebabnya dan keadaan ini disebut idiopatik. Jika tidak. dan lain – lain. bahan untuk pemeriksaan besi sserum.  Terapi suportif  Terapi khas untuk masing – masing anemia : Terapi ini bergantung pada jenis anemia yang dijumpai. Angka kelangsungan hidup tergantung seberapa berat penyakit saat didiagnosis. Beberapa keadaan seperti ini diduga merupakan keadaan imunologis. seperti apusan darah tepi. dimana insiden kira-kira 7 kasus 14 . Misalnya preparat besi untuk anemia defisiensi besi.

tetapi semakin banyak dugaan yang mengarah pada peran penting sel T autoreaktif. Anemia aplastik kadang–kadang timbul setelah infeksi virus tertentu. benzena. keusakan sumsum tulang dapat diperkirakan. demam. Yang termasuk dalam kategoi ini adalah obat antineoplastik (misal: antimetabolit). Peningkatan insiden ini diperkirakan berhubungan dengan faktor lingkungan seperti peningkatan paparan dengan bahan kimia toksik. dan penyakit granulomatosa. dan kloramfenikol. 4 kasus persejuta penduduk di Thailand dan 5 kasus persejuta penduduk diMalaysia. Anemia aplastik perlu dibedakan dengan anemia akibat infiltrasi sumsum tulang (anemia mieloftisik) “leukemia aleukemik”. Gejala-gejala anemia aplastik Kompleks gejala anemia aplastik berkaitan dengan pansitopenia. Proses patogenik yang menyebabkan kegagalan sumsum tulang masih belum jelas. Defisiensi trombosit dapat mengakibatkan: (1)Ekimosis dan ptekie (perdarahan dalam kulit) 15 . Anemia aplastik mengenai semua usia dan kedua jenis kelamin. Penjelasan kenapa insiden di Asia Timur lebih besar daripada di negara Barat belum jelas. Granulositopenia mungkin hanya bemanifestasi sebagai infeksi minor yang berulang dan persisten atau oleh onset mendadak mengigil. Splenomegali jelas tidak tejadi pada anemia aplastik. Hal ini terbukti dengan tidak ditemukan peningkatan insiden pada orang Asia yang tinggal di Amerika. terutama hepatitis vius yang ditularkan di masyarakat. Obat dan zat kimia merupakan penyebab tersering anemia aplastik skunder. Etiologi dan patogenesis anemia aplastik Pada lebih dari separuh kasus. dan biasanya reversible. Gejala-gejala lain yang berkaitan dengan anemia adalah defisiensi trombosit dan sel darah putih. terjadi pajanan ke suatu zat mielotoksik atau pemakaian obat mielotoksik. Pada anemia aplastik sumsum tulang hiposeluler akibat kegagalan sel bakal. Pada kasus yang lain. dan letih lesu. Manifestasi klinik mungkin sulit dibedakan. anemia aplastik muncul tanpa penyebab yang jelas sehingga disebut idiopatik.persejuta penduduk di Cina. dibandingkan dengan faktor genetik. Untuk beberapa bahan. terkait dosis.

Terapi semacam ini dianjurkan untuk penderita yang agak tua atau untuk penderita yang tidak mempunyai saudara kandung yang cocok. 16 . yaitu sel darah merah. Defisiensi sel darah putih mengakibatkan lebih mudahnya terkena infeksi.tahun. tetapi efisiensinya tidak menentu. Pencegahan dan terapi yang dilakukan pada anemia aplastik Tindakan pencegahan dapat mencakup lingkungan yang dilindungi (ruangan dengan aliran udara yang mendatar atau tempat yang nyaman) dan higiene yang baik. Aplasia berat disertai pengurangan atau tidak adanya retikulosit jumlah granulosit yang kurang dari 500/mm3 dan jumlah trombosit yang kurang dari 20. Karena infeksi dan perdarahan yang disebabkan oleh defisiensi sel lain merupakan penyebab utama kematian maka penting untuk mencegah perdarahan dan infeksi. Pada kasus-kasus yang dianggap terjadi reaksi imunologis maka digunakan globulin antitimosit (ATG) yang mengandung antibodi untuk melawan sel T manusia untuk mendapatkan remisi sebagian. Penderita anemia aplastik kronik dipertahankan pada hemoglobin (Hb) antara 8 dan 9 g dengan tranfusi darah yang periodik. Agen-agen perangsang sumsum tulang seperti androgen diduga menimbulkan eritropoiesis. Namun penderita yang lebih ringan dapat hidup bertahun. Pada pendarahan dan/atau infeksi perlu dilakukan terapi komponen darah yang bijaksana. granulosit dan trombosit dan antibiotik. Pengobatan terutama dipusatkan pada perawatan suportif sampai terjadi penyembuhan sumsum tulang.000 dapat mengakibatkan kematian dan infeksi dan/atau perdarahan dalam beberapa minggu atau beberapa bulan.(2)Epistaksis (perdarahan hidung) (3)Perdarahan saluran cerna (4)Perdarahan saluran kemih (5)Perdarahan susunan saraf pusat. Penderita anemia aplastik berusia muda yang terjadi secara sekunder akibat kerusakan sel induk memberi respon yang baik terhadap tranplantasi sumsum tulang dari donor yang cocok (saudara kandung dengan antigen leukosit manusia [HLA] yang cocok).

karena dibutuhkan waktu yang lebih pendek untuk resolusi neutropenia (akan membaik 6 bulan dengan imunosupresif). besi cadangan. dan besi transport. mempunyai sifat seperti radikal bebas. dan keinginan penyakit . rekomendasi terapi harus dibuat setelah memperlihatkan kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Untuk pasien usia menengah yang memiliki donor yang cocok. Anemia Defisiensi Besi Kompartemen besi dalam tubuh Besi terdapat dalam berbagai jaringan dalam tubuh. Proses absobsi besi dibagi menjadi 3 fase : 17 . Absorbsi besi paling banyak terjadi pada bagian proksimal duodenum disebabkan oleh pH dari asam lambung dan kepadatan protein tertentu yang diperlukan dalam absorbsi besi pada epitel usus. secara umum pasien dengan hitung neutrofil yang sangat rendah cenderung lebih baik dengan TST. Upaya melakukan tearpi penyelamatan dapat menunda transplantasi sumsum tulang. sedangkan perempuan dewasa adalah 35mg/kgBB. tetapi selalu berkaitan dengan protein tertentu. Adapun terapi penyelamatan. Namun. Dalam keadaan normal seorang lelaki dewasa mempunyai kandungan besi 50mg/kgBB. Pasien yang lebih muda umumnya mentoleransi TST lebih baik. deajat keparahan penyakit. Namun dampaknya masih kontraversial.Terapi standar anemia aplastik meliputi imunosupresi atau transplantasi sumsum tulang (TST). Pada sebuah penelitian. angka penyelamatan yang bermakna pada pasien yang refrakter ATG kuda tercapai dengan siklus kedua ATG kelinci. Untuk memasukkan besi dari usus ke dalam tubuh diperlukan proses absorbsi. Absorbsi besi Tubuh mendapatkan masukan besi yang berasal dari makanan. Pasien berusia lebih dari 20 tahun dengan hitung neutrofil 200–500/mm3 tampaknya lebih mendapat manfaat dari imunosupesi dibandingkan TST. seperti senyawa besi fungsional. Pasien yang refrakter dengan pengobatan ATG petama dapat berespons terhadap siklus imunosupresi ATG ulangan. Besi dalam tubuh tidak pernah terdapat dalam bentuk logam bebas (free iron). Besi bebas akan merusak jaringan. siklus ketiga tampaknya tidak dapat menginduksi respons pada pasien yang tidak berespon terhadap terapi ulangan.

Besi dipertahankan dalam keadaan terlarut oleh pengaruh asam lambung. Pada brush border dari sel absorftif. besi feri dikonversi menjadi besi fero oleh enzim ferireduktase. tingkat absorbsinya tinggi tidak dihambat oleh bahan penghambat sehingga mempunyai bioavailabilitas tinggi. Besi heme dioksidasi menjadi hemin. Pada proses ini terjadi reduksi dari feri ke fero oleh enzim ferooksidase (antara lain oleh hapseitin. Absorbsi besi heme jauh lebih efisien dibandingkan dengan besi non-heme. Besi heme diabsorbsi melalui proses yang berbeda yang mekanismenya belum diketahui dengan jelas. Setelah besi masuk dalam sitoplasma. 18 . mungkin dimediasi oleh protein duodenal cytochrome b-like (DCYTB). yaitu :   besi heme : terdapat dalam daging dan ikan. tingkat absorbsinya rendah. kemudian pada waktu pematangan bemigrasi ke arah puncak vili sehingga siap sebagai sel absorbtif. sebagian diloloskan melalui basolateral transporter (ferroprotin disebut juga sebagai IREG 1) ke dalam kapiler usus. Fase luminal : Besi dalam makanan diolah dalam lambung kemudian siap diserap di duodenum. kemudian besi (feri) diikat oleh apotransferin dalam kapiler usus. yang kemudian diabsorbsi secara intak (utuh) diperkirakan melalui suatu reseptor.  Fase mukosal Penyerapan besi terjadi terutama melalui mukosa duodenum dan jejunum proksimal. yang identik dengan seruloplasmin pada metabolisme tembaga). besi non-heme : berasal dari sumbe tumbuh – tumbuhan. Sel absorptif terletak pada puncak dari vili usus (apical cell). dipengaruhi oleh bahan pemacu atau penghambat sehingga bioavailabilitasnya rendah. Transpor melalui membran difasilitasi oleh divalent metal transpoter (DMT1). Besi dalam makanan terdapat dalam 2 bentuk. sebagian disimpan dalam bentuk feritin. Besar kecilnya besi yang ditahan dalam enterosit atau diloloskan ke basolateral diatur oleh “set point” yang sudah diset saat enterosit berada pada dasar kripta liberkhun.

Satu molekul transfein dapat mengikat maksimal dua molekul besi. Besi dalam endosom akan dikeluarkan ke sitoplasma dengan bantuan DMT1. Komplek Fe2-TfTfr akan terlokalisir pada suatu cekungan yang dilapisi oleh klatrin (clathrin – coated pit). sedangkan ikatan apotransferin dan reseptor transferin mengalami siklus kembali ke pemukaan sel dan dapat dipergunakan kembali. Mekanisme regulasi absorbsi besi Terdapat 3 mekanisme regulasi absorbsi besi dalam usus : o Regulator dietetik 19 . terutama sel normoblas. melewati bagian basal epitel usus. Besi yang terikat pada transferin (Fe2-Tf) akan diikat oleh reseptor transferin (transferin receptors = Tfr) yang terdapat pada permukaan sel. kemudian dalam darah diikat oleh apotransferin menjadi transferin. Suatu pompa proton menurunka pH dalam endosom. Tansferin akan melepaskan besi pada sel RES melalui proses pinositosis. memasuki kapiler usus.Gambar 5  Fase korporeal Besi setelah diserap oleh enterosit (epitel usus). menyebabkan perubahan konformasional dalam protein sehingga melepaskan ikatan besi dengan transferin. cekungan ini mengalami invaginasi sehingga membentuk endosom.

Mekanisme regulasi ini bekerja belum diketahui dengan pasti. sedangkan kehilangan besi fisiologik bersifat tetap. Sehingga dengan demikian dapat dilihat suatu lingkaran tertutup (closed circuit) yang sangat efisien. Eritrosit yang terbentuk secara efektif yang akan beredar melalui sirkulasi memerluka besi 17mg. Besi dari usus dalam bentuk transferin akan bergabung dengan besi yang dimobilisasi dari makrofag dalam susmsum tulang sebesar 22mg untuk dapat memenuhi kebutuhan eritropoesis sebanyak 24mg per hari. Diperkirakan melalui crypt-cell programming sehubungan dengan respon saturasi transferin plasma dengan besi. seperti yang dilukiskan pada gambar berikut. Pada dietary regulator juga dikenal mucosal block. Siklus besi dalam tubuh Pertukaran besi dalam tubuh merupakan lingkaran yang tertutup yang diatur oleh besarnya besi yang diserap usus. Mekanisme eryhtropoetic regulator ini belum diketahui dengan pasti. o Regulator eritropoetik Besar absorbsi besi berhubungan kecepatan eritropoesis. Besi yang terdapat pada besi yang beredar. maka eritrosit resisten terhadap absorbsi besi beriutnya. sebaliknya apabila cadangan besi rendah maka absorbsi besi akan ditingkatkan. sedangkan besi sebesar 7mg akan dikembalikan ke makrofag karena terjadinya eritropoesis inefektif (hemolisis intramedular). Besi yang diserap usus setiap hari berkisar antara 1-2mg. yaitu suatu fenomena dimana setelah beberapa hari dari suatu bolus besi dalam diet. 20 . o Regulator simpananan Penyerapan besi diatur melauli besarnya cadangan besi dalam tubuh. setelah mengalami proses penuaan juga akan dikembalikan pada makrofag sumsum tulang sebesar 17mg. Penyerapan besi rendah jika cadangan besi tinggi.Absorbsi besi dipengauhi oleh jenis diet dimana besi terdapat. eksresi besi terjadi dalam jumlah yang sama melalui eksfoliasi epitel. Erythropoestic regulator.

Hampir dua pertiga besi terdapat dalam 21 . neoplasma. bergantung pada jenis kelamin dan besar tubuhnya. gastritis varises esophagus. (2)Gangguan absorpsi seperti setelah gastrektomi dan (3)Kehilangan darah yang menetap seperti pada perdarahan saluran cerna yang lambat karena polip. Penyebab lain defisiensi besi adalah: (1)Asupan besi yang tidak cukup misalnya pada bayi yang diberi makan susu belaka sampai usia antara 12-24 bulan dan pada individu tertentu yang hanya memakan sayursayuran saja. Khususnya terjadi pada wanita usia subur. sekunder karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan peningkatan kebutuhan besi selama hamil. Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia di dunia. makan aspirin dan hemoroid. Dalam keadaan normal tubuh orang dewasa rata-rata mengandung 3 sampai 5 g besi.Gambar 6 Anemia defisiensi besi secara morfologis diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintetis hemoglobin.

Kekurangan zat besi akan ditimbulkan dari setiap kondisi dimana asupan zat besi tidak memenuhi kebutuhan tubuh. pemakaian salisilat atau NSAID. Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh karena rendahnya masukan besi. limpa dan dalam sumsum tulang sebagai feritin dan sebagai hemosiderin untuk kebutuhankebutuhan lebih lanjut. hemoroid dan infeksi cacing tambang. 22 . 4. Pada persediaan besi berkurang maka besi dari diet tersebut diserap lebih banyak. Etiologi dan Patofisiologi anemia defisiensi besi Walaupun dalam diet rata-rata terdapat 10-20 mg besi. Besi yang dimakan diubah menjadi besi fero dalam lambung dan duodenum. divertikulosis. dan rendah daging. hanya sampai 5%-10% (1-2 mg) yang sebenarnya sampai diabsorpsi. penyerapan besi terjadi pada duodenum dan jejunum proksimal. atau kualitas besi (bioavailibilitas) besi yang tidak baik ( makanan banyak serat.hemoglobin yang dilepas pada proses penuaan serta kematian sel dan diangkut melalui transferin plasma ke sumsum tulang untuk eritropoiesis. gangguan absorbsi. Dengan kekecualian dalam jumlah yang kecil dalam mioglobin (otot) dan dalam enzim-enzim hem. serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun:  Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun dapat berasal dari: o Saluran cerna: akibat dari tukak peptik. sepertiga sisanya disimpan dalam hati. anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan. Kemudian besi diangkut oleh transferin plasma ke sumsum tulang untuk sintesis hemoglobin atau ke tempat penyimpanan di jaringan. tropical sprue atau kolitis kronik. rendah vitamin C. Gangguan absorbsi besi: gastrektomi. kanker kolon. o Saluran genitalia perempuan: menorrhagia atau metrorhagia o Saluran kemih: hematuria o Saluran napas: hemoptisis  Faktor nutrisi akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan. kanker lambung.   Kebutuhan besi meningkat: seperti pada prematuritas.

keadaan ini disebut iron depleted state atau negative iron balance. serta pengecatan besi dalam sumsum tulang negatif. Apabila kekurangan besi berlanjut terus maka cadangan besi menjadi kosong sama sekali. Jika cadangan besi menurun. Keadaan ini ditandai oleh penurunan kadar feritin serum. akibatnya timbul anemia hipokromik mikrositer.Berikut daftar penyebab kekurangan zat besi Tabel. Pada fase ini kelainan pertama yang dijumpai ialah peningkatan kada free protophorphyrin dalam eritrosit. Akhir – akhir ini parameter yang sangat spesifik ialah peningkatan reseptor transferin dalam serum. disebut sebagai iron deficency 23 . keadaan ini disebut sebagai : iron deficient erythropoesis. 3 Patogenesis terjadinya anemia defisiensi besi Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi sehingga cadangan besi makin menurun. peningkatan absorbsi besi dalam usus. penyedian besi untuk eritropoesis berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosit tetapi anemia secara klinis beum terjadi. Saturasi transferin menurun dan total iron binding capacity (TIBC) meningkat. Apabila jumlah besi menurun terus maka eritropoesis semakin terganggu sehingga kadar hemoglobin mulai menurun.

tali pusat dan fetus. Tanda dan gejala anemia pada penderita defisiensi besi Gejala dan tanda kekurangan zat besi sebagian dijelaskan dengan adanya anemia. toleransi exercise yang buruk. Kadar besi berkurang walaupun kapasitas meningkat besi serum meningkat. pembentukan plasenta. Jumlah retikulosit mungkin normal atau berkurang.5 sampai 1 mg/hari. hal ini terjadi oleh karena volume darah ibu selama hamil meningkat. merah daging. Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta pada beberapa enzim yang dapat menimbulkan gejala pada kuku. kelelahan. Gejala anemia defisiensi besi dapat digolongkan menjadi 3 golongan besar. mudah patah dan sebenarnya berbentuk seperti sendok (koilonikia). eritrosit mikrositik dan hipokrom disertain poikilositosis dan aniositosis. Termasuk pucat. pecahpecah dengan kemerahan dan rasa sakit di sudut-sudut mulut. seta telinga berdenging. kebutuhan besi harian tetap meningkat. Setiap milliliter darah mengandung 0.anemia. penderita defisiensi besi yang berat (besi plasma lebih kecil dari 40 mg/ 100 ml. epitel mulut dan faing serta berbagai gejala lainnya. licin. rata. penurunan daya kerja.5 mg besi. lesu. dan meradang dan sakit. dari 0. ada juga efek langsung dari kekurangan zat besi pada sistem saraf pusat. Pemeriksaan darah menunjukkan jumlah sel darah merah normal atau hampir normal dan kadar hemoglobin berkurang. mata berkunang – kunang. Pada sediaan hapus darah perifer. Walaupun kehilangan darah karena menstruasi berhenti selama hamil. Selain tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh anemia. yaitu:  Gejala umum anemia Gejala anemia yang disebut juga sebagai sindrom anemia dijumpai pada anemia defisiensi besi apabila kadar hemoglobin turun di bawah 7-8mg/dl. Dapat juga timbul stomatitis angularis. serta mengimbangi darah yang hilang pada waktu melahirkan. cepat lelah. Namun. Namun wanita yang mengalami menstruasi kehilangan tambahan 15 sampai 28 mg/bulan. Selain itu atropi papilla lidah mengakibatkan lidah tampak pucat. Gejala ini berupa badan lemah.Hb 6 sampai 7 g/100 ml)mempunyai rambut yang rapuh dan halus serta kuku tipis. 24 . Kehilangan besi umumnya sedikit sekali. tetapi kondisi ini sangat jarang. mengkilat. Kekuangan zat besi juga dapat dikaitkan dengan koilonikia dan sindrom Plummer-Vinson.

Preparat besi parenteral digunakan secara sangat selektif. o Stomatitis angularis (cheilosis): adanya keradangan pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan o Disfagia: nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring o Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan akhloridia o Pica: keinginan untuk memakan bahan yang tidak lazim. Sebagian penderita memberi respon yang baik terhadap senyawa-senyawa oral seperti ferosulfat. tukak. Misalnya pada anemia akibat penyakit cacing tambang dijumpai dispepsia.  Gejala penyakit dasar Pada anemia defisiensi besi dapat dijumpai gejala–gejala penyakit yang menjadi penyebab anemia defisiensi besi tersebut. dan kulit telapak tangan berwarna kuning seperti jerami. bergaris – garis vertikal dan menjadi cekung sehingga mirip seperti sendok o Atropi papil lidah: permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang. Pembedahan mungkin diperlukan untuk menghambat perdarahan aktif yang diakibatkan oleh polip. Gejala khas Defisiensi Besi Gejala khas dijumpai pada defisiensi besi. Besi tersedia dalam bentuk parenteral dan oral. perubahan diet mungkin diperlukan untuk bayi yang hanya diberi makan susu atau individu dengan idiosinkrasi makanan atau yang menggunakan aspirin dalam dosis besar. seperti: tanah liat. masih dibutuhkan suplemen besi untuk meningkatkan hemoglobin dan mengembalikan persediaan besi. sebab harganya mahal dan mempunyai insidens besar terjadi reaksi yang merugikan. parotis membengkak. Pengobatan anemia pada penderita defisiensi besi Pengobatan defisiensi besi mengharuskan identifikasi dan menemukan penyebab dasar anemia. 25 . lem dll. kuku menjadi rapuh. Walaupun modifikasi diet dapat menambah besi yang tersedia (misalnya hati. tetapi tidak dijumpai pada anemia jenis lain adalah: o Koilonychia: kuku sendok (spoon nail). es. keganasan dan hemoroid.

Pembeian sulfas ferrous 3x200mg mengakibatkan absorbsi besi 50mg per hari yang dapat meningkatkan eritropoesis dua sampai tiga kali nomal. Preparat yang tesedia adalah Ferrous Sulphat (sulfas ferous) merupakan preparat pilihan pertama oleh karena paling murah dan efektif. kalau tidak maka anemia akan kambuh kembali. Terapi terhadap anemia defisiensi besi adalah: 1. Dosis anjuran adalah 3x200mg. Setiap 200mg sulfas ferrous mengandung 66mg besi elemental. murah dan aman. pengobatan hemoroid. Terapi kausal harus dilakukan. 2.Setelah diagnosis ditegakkan maka dibuat renana pemberian terapi. Berikut beberapa jenis preparat besi oral: Preparat Tablet Elemen besi tiap tablet Dosis lazim untuk dewasa ( tablet/hari) 3-4 Fero sulfat (hidrat) Fero glukonat 325 mg 65 mg 325 mg 36 mg 3-4 Fero fumarat 200 mg 66 mg 3-4 Fero fumarat 325 mg 106 mg 2-3 Tabel 4 26 . Misalnya pengobatan caccing tambang. pengobatan menorhagia. Terapi kausal: terapi terhadap penyebab perdarahan. Pemberian preparat besi untuk mengganti kekurangan besi dalam tubuh (iron replacement therapy)  Terapi besi oral Terapi besi oral merupakan terapi pilihan pertama oleh karena efektif.

ada juga yang menganjurkan sampai 12 bulan. Dosis pemeliharaan yang diberikan adalah 100-200 mg. muntah. Pengobtana besi diberikan 3 sampai 6 bulan. Dianjurkan pemberian diet yang banyak mengandung hati dan daging yyang banyak mengandung besi.  Terapi besi parenteral Terpai besi parenteral sangat efektif tetapi mempunyai risiko lebih besr dan harganya lebih mahal. Efek samping utama besi peroral adalah gangguan gastrointestinal yang dijumpai pada 15-20%. Keadaan dimana kehilangan darah banyak sehingga tidak cukup dikompensasi oleh pembeian besi oral 6. setelah kadar hemoglobin normal untuk mengisi cadangan besi tubuh. iron sorbitol citric acid complex dan yang terbaru adalah iron ferric gluconate dan iron sucrose yang lebih aman. seperti pada kehamilan trimester tiga atau sebelum operasi 7. misalnya pada gastektomi 5. Penyerapan besi terganggu. Intoleransi terhadap pemberian besi oral 2. Untuk mengurangi efek sampingg besi diberikan saat makan atau dosis dikuangi menjadi 3x100mg. Besi parenteral dapat diberikan secara intramuskular dalam ata IV pelan. Pada pasien yang mengalami intoleransi. Keluhan ini dapat berupa mual. tetapi efek samping lebih sering dibandingkan dengan pemberian setelah makan. Pemberian 27 . Defisiensi besi fungsional relatif akibat pembeian eritropoetin pada anemia gagal ginjal kronik anemia akibat penyakit kronik. Gangguan pencernaan 4.Preparat besi sebaiknya diberikan saat lambung kosong. sulfas ferosus dapat diberikan saat makan atau setelah makan. yang sangat mengurangi kepatuhan pasien. anemia seing kambuh kembali. Indikasi pemberian besi pareteral adalah: 1. Jika diberikan dosis pemeliharaan. Kebutuhan besi yang besar dalam waktu pendek. Untuk meningkatkan penyerapan besi dapat diberikan preparat vitamin C. Oleh karena risiko lebih besar dan harganya lebih mahal maka besi parenteral hanya diberikan atas indikasi tertentu. Preparat yang tesedia ialah iron dextran complex (mengandung 50 mg besi/ml). Kepatuhan terhadap obat rendah 3. tetapi dapat meningkatkan efek samping terapi. serta konstipasi.

Efek samping yang dapat timbul adalah reaksi anafilaksis. Pasien dengan riwayat alergi dan pasien yang sebelumnya pernah mendapat preparat besi secara suntikan lebih besar kemungkinannya untuk mengalami reaksi hipersensitivitas. vitamin C diberikan 3x100mg per hari untuk meningkatkan absorbsi besi c. Anemia sangat simptomatik. 3.4 + 500 atau 1000 mg Mengingat adanya risiko reaksi hipersensitivitas. misalnya anemia dengan gejala pusing yang sangat menyolok iii. Dosis dapat diberikan sekaligus atau diberikan dalam beberapa kali pemberian. Diet. Efek samping lain adalah flebritis. 28 . mual. muntah. dosis uji yang kecil dari iron dextran perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum pemberian dosis penuh secara IM atau IV. Sebagai premedikasi dapat dipertimbangkan pemberian furosemid IV. nyeri perut dan sinkop. Pasien memerlukan peningkatan kadar hemoglobin yang cepatt seperti pada kehamilan trimester akhir atau preoperasi. Pengobatan lain a. meskipun jarang (0. sebaiknya diberikan makanan begizi dengan tinggi protein terutama yang berasal dari protein hewani b. sakit kepala. Transfusi darah. Indikasi pemberian transfusi darah pada anemia kekurangan besi adalah : i. Vitamin C.secara IM memberikan rasa nyeri dan memberikan warna hitam pada kulit. flushing. Kebutuhan besi (mg) = (15-Hb sekarang) x BB x 2.6%). ADB jarang memerlukan transfusi darah. Adanya penyakit jantung anemik dengan ancaman payah jantung ii. Jenis darah yang diberikan adalah PRC (Packed Red Cell) untuk mengurangi bahaya overload.

akan menghasilkan tidak sempurnanya sintesis DNA. nyeri kepala ringan. hematopoiesis sangat sensitif pada defisiensi vitamin tersebut. Peningkatan kadar bilirubin ada kaitannya dengan tingginya pelipat gandan sel –sel eritrioid dalam sumsum tulang. diare merupakan bagian dari megaloblastosis dari epitel usus halus. kemungkinan bersamaan dengan diare . traktus gastrointestinal. Peran utama dari asam folat dan vitamin B12 ialah dalam metabolisme intraseluler. Tanda fisik dari pasien dengan defisiensi kobalamin yaitu pucat. pada auskultasi biasanya terdengar bising sistolik. dengan kulit sedikit kekuningan begitu juga mata. vertigo. termasuk anemia Pernisiosa Gambaran klinis defisiensi kobalamin melibatkan darah. Anemia megaloblastik merupakan kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis DNA dan ditandai oleh sel megaloblastik. yang mengakibatkan malabsorbsi. Tanda romberg dan babinsky mungkin dapat positif dan rasa sikap serta getaran biasanya hilang. 29 . Kemungkina terjadi gangguan daro sfingter. Bila kedua zat tesebut mengalami defisiensi. palpitasi. tinitus. Dan stadium akhir dari perjalanan penyakit ialah tak dapat pulih.Anemia Megaloblastik Anemia megaloblastik diklasifikasikan menurut morfologinya sebagai anemia makrositik. perubahan patologi awal adalah diemilinisasi. Klasifikasi anemia megaloblastik  Anemia defisiensi kobalamin (B12). dan sistema nervorum. Manifestasi gastrointestinal keluhan nyeri lidah. Manifestasi hematologis sepenuhnya selalu berakibat anemia. Anorexia. dan jantung mungkin membesar. kelemahan dan ataksia. kemudia diikuti oleh degenerasi aksonal dan akhirnya kematian neuronal. Keluhan dari anemia dapat terungkap seperti rasa lemah. dan gejala awal ialah anemia megaloblastik. Nadi denyutnya cepat. Manifestasi gangguan neurologis. Asam folat dan vitamin B12 adalah zat yang berhubungan dengan unsur makanan yang sangat diperlukan bagi tubuh. papil lidah halus dan kemerahan. Reflek– refleks mungkin hilang atau meningkat. angina dan keluhan yang berkaitan dengan kegagalan jantung kongestif. Keluhan dan gejalan termasuk mati rasa dan parestesia pada ekstremitas.

Anemia megaloblastik sering kali terlihat pada orang tua dengan malnutrisi. Defisiensi asam folat secara umum berhubungan dengan atu atau lebih faktor seperti: asupan yang tak memadai. Anemia asam folat Para pasien dengan defisiensi asal folat lebih sering kurang gizi dibanding dengan defisiensi kobalamin. Diare sering ada. cacing pita berkompetisi dengan hospes dalam mendapatkan vitamin B12 dari makanan. atau malabsorbsi. Sebab-sebab atau gejala anemia megaloblastik Anemia megaloblastik sering disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam folat yang mengakibatkan sintesis DNA terganggu. yang mengakibatkan anemia megaloblastik. keperluan yang meningkat. Penyakit celiac dan sariawan tropik juga menyebabkan malabsorpsi dan penggunaan obat-obat yang bekerja sebagai antagonis asam folat juga mempengaruhi. Kebutuhan ini juga meningkat pada anemia hemolitik.  Defisiensi kobalamin Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya pengobatan bergantung pada identifikasi dan menghilangkan penyebab dasarnya. Tindakan ini adalah memperbaiki defisiensi diet dan terapi pengganti dengan asam folat atau dengan vitamin B12. berlawanan dengan defisiensi kobalamin. Individu dengan infeksi cacing pita (dengan Diphyllobothrium latum) akibat makan ikan segar yang terinfeksi. serta agen kemoterapeutik. dan cheilosis dan glossitis juga dialami. keganasan dan hipertiroidisme. penyakit usus dan keganasan. Pengobatan anemia pada penderita anemia megaloblastik. Walaupun anemia pernisiosa merupakan prototip dari anemia megaloblastik defisiensi folat lebih sering ditemukan dalam praktek klinik. pecandu alcohol atau pada remaja dan pada kehamilan dimana terjadi peningkatan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fetus dan laktasi. Penderita kecanduan alkohol yang dirawat di rumah sakit sering memberi respon “spontan” bila di berikan diet seimbang. Namun. Defisiensi ini mungkin sekunder karena malnutrisi. Manifestasi gastrointestinal adalah serupa tetapi dapat lebih meluas dan lebih berat dari anemia pernisiosa. malabsorpsi. tidak tampak adanya abnormalitis neurologik. 30 . kekurangan faktor intrinsik (seperti terlihat pada anemia pernisiosa dan postgastrekomi) infestasi parasit.

m kobalamin 1000 ug tiap bulan dari sisa hidup pasien. Dikenal tiga jenis suntikan vitamin B12 yaitu larutan sianokobalamin yang berkekuatan 10 .m. Pada kebanyakan kasus. tetapi respons dapat kurang memuaskan bila terdapat keadaan yang menghambat hematopoesis misalnya infeksi. sedangkan terapi utama untuk defisiensi kobalamin adalah terapi pengganti. Dengan terapi ini respons hematologik baik sekali. uremia atau penggunaan kloramfenikol. dan harus selalu dalam pengawasan. kemudian dilanjutkan suntikan i. terapi pengganti adalah semua yang diperlukan guna pengobatan defisiensi kobalamin. Darah harus diberikan pelan–pelan dalam bentuk PRC (Packed Red Cell). misalnya adanya pertumbuhan bakteri yang belebihan dalam intestinum perlu diberi antibiotik. defisiensi kobalamin dapat dikelola secara efektif dengan pemberian terapi oral dengan kristalin B12 sejumlah 2 mg per hari.1000µg/ml. Respons yang buruk dengan dosis 100µg/hari selama 10 hari. Sebab defek yang ada. Selain sediaan– sediaan diatas tedapat pula suntikan hidroksokobalamin 100µg yang memberikan efek lebih lama dari pada sianokobalamin. sehingga interval penyuntikan dapat diperpanjang. larutan ekstrak hati dalam air dan suntikan depot vitamin B12. sedangkan perbaikan yang nyata dari kerusakan yang telah dimulai sedini mungkin. Terapi penunjang dilakukan dengan memberikan dosis pemeliharaaan 100200µg sebulan sekali sampai diperoleh remisi yang lengkap yaitu jumlah eritrosit dalam darah ±4. namun ketidakpatuhan lebih besar pada terapi oral dibanding terapi i. teutama dalam bentuk suntikan kobalamin intramuskular. Awalnya pemberian terapi parenteral dengan kobalamin 1000 ug i. Pada terapi awal diberikan dosis 100µg sehari parenteral selama 5-10 hari. tiap minggu sampai 8 minggu.Setelah diagnosis defisiensi kobalamin ditegakkan maka perlu memberikan terapi spesiffik berkaitan dengan penyakit dasar yang melatarbelakangi. maka para pasien diberi pengobatan parenteral. biasanya selalu malabsorbsi. Kadang–kadang pasien menunjukkan anemia yang berat disetai pula gangguan yang membahayakan keadaan kardiovaskular yang gawat maka diperlukan transfusi.5 juta/mm3 dan morfologi hematologi berada dalam batas–batas normal. mungkin juga disebabkan oleh salah diagnosis atau potensi obat yang kurang. Progresi kerusakan neurologik pada anemia pernisiosa dapat dihentikan dengan sempurna. Volume PRC yang diberikan sedikit demi sedikit akan cukup guna menghindari masalah gagal kardiovaskular akut.m. Kemudian 100µg 31 .

Tetapi cara menyiapkan makanan yang benar juga diperlukan untuk menjamin jumlah gizi yang adekuat. walaupun diberikan dosis sampai 1000µg. Pada pasien dengan keperluan yang terus menerus meningkat seperti pada pasien anemia hemolitik atau mereka yang dengan malabsorbsi atau malnutrisis kronik.sebulan sekali cukup untuk mempertahankan remisi. kemudian diikuti dengan terkoreksinya anemia setelah 1 sampai 2 bulan kemudian.  Defisensi folat Seperti defisiensi kobalamin. misalnya terjadi retikulosis yang nyata setelah kurang lebih 4 hari. Sumber yang paling melimpah adalah daging merah (misalnya hati dan ginjal) dan sayuran berdaun hijau yang segar. Respons hematologis sama dengan yang dapat dijumpai setelah terapi pengganti pada defisiensi kobalamin. Hendaknya terus menerus didorong guna memelihara dan mengajarkan diet yang optimal dengan kecukupan folat. Lama terapi tergantung pada keadaan dasar defisiensi. defisiensi folat perlu diobati dengan terapi pengganti. Etiologi dan Klasifikasi Pada prinsipnya anemia hemolisis dapat terjadi karena: 1) Defek molekular: hemoglobinopati dan enzimopati 32 . Pencegahan anemia pada penderita anemia megaloblastik Kebutuhan minimal folat setiap hari kira-kira 50 mg mudah diperoleh dari diet rata-rata. terikat pada protein plasma secara lemah dan disimpan dalam hati. Misalnya 50% sampai 90% folat dapat hilang pada cara memasak yang memakai banyak air. namun dosis tinggi sampai 5mg per hari mungkin diperlukan pada defisiensi folat yang disebabkan karena malabsorbsi. Pemberian dosis pemeliharaan setiap bulan ini penting sebab retensi vitamin B12 terbatas. Folat diabsorpsi dari duodenum dan jejunum bagian atas. Anemia Hemolitik Anemia hemolisis adalah kadar hemoglobin kurang dari normal akibat kerusakan sel eritrosit yang lebih cepat dari kemampuan sumsum tulang untuk menggantikannya. Pemberian folat parenteal jarang diperlukan. Dosis yang lazim diberikan adalah 1mg per hari oral.

katup prostetik O Infeksi. Anemia Hemolisis Didapat. Sel eritrosit pasien tidak dapat bertahan hidup di sirkulasi darah resipien yang kompatibel.d e f i s i e n s i glukosa fosfat isomerase. Anemia Hemolisis Herediter. transfusi O Mikroangiopati. preeklampsia. misalnya: idiopatik. kelainan autoimun. misalnya: infeksi malaria. infeksi Clostridium Berdasarkan ketahanan hidupnya dalam sirkulasi darah pasien. Koagulasi Intravaskular Diseminata (KID). tetapi seleritrosit yang kompatibel normal 33 .sedangkan sel eritrosit kompatibel normal dapat bertahan hidup di sirkulasi darah pasien. eklampsia.2) Abnormalitas struktur dan fungsi membran -membran 3) Faktor lingkungan seperti trauma mekanik atau autoantibody Berdasarkan etiologinya anemia hemolisis dapat dikelompokkan menjadi : 1. keganasan. Sindrom Uremik Hemolitik (SUH). anemia hemoli sis dapat dikelompokkan menjadi: 1) A n e m i a h e m o l i s i s i n t r a k o r p u s k u l a r .infeksi.hipertensi maligna. yang termasuk kelompok ini : O Defek enzim/enzimopati Defek jalur Embden Meyerhof .d e f i s i e n s i f o s f o g l i s e r a t k i n a s e Defek jalur heksosa monofosfat. Sel eritrosit pasien dapat bertahan hidup di sirkulasi darah resipien yang kompatibel.d e f i s i e n s i g l u k o s a 6 f o s f a t d e h i d r o g e n a s e ( G 6PD). obat-obatan. infeksi babesiosis. yang termasuk kelompok ini adalah : O Anemia hemolisis imun. 2) A n e m i a h e m o l i s i s e k s t r a k o r p u s k u l a r . misalnya: Trombotik Trombositopenia Purpura (TTP).d e f i s i e n s i p i r u v a t k i n a s e .d e f i s i e n s i g l u t a i o n r e d u k t a s e oHemoglobinopati Thalassemia Anemia sickle cell Hemoglobinopati lain oDefek membran (membranopati): sferositosis herediter 2.

babesiosis dan klostridium. d e s t r u k s i e r i t r o s i t t e r j a d i l a n g s u n g d i sirkulasi darah. Misalnya pada trauma mekanik. Manifestasi Klinis Pasien mungkin mengeluh lemah. Anemia Hemolisis Imun Hemolisis terjadi karena keterlibatan antibodi yang biasanya IgG atau IgM yang spesifik untuk antigen eritrosit pasien (disebut autoantibodi) 2. Hemolisis yang lebih sering adalah hemolisis ekstravaskular. Pasien juga mengeluh kuning dan urinnya kecoklatan. cepat capek dan sesak. H e m o l i s i s intravaskular jarang terjadi. Anemia Hemolisis Non-Imun Hemolisis terjadi tanpa keterlibatan imunoglobulin tetapi karena faktor defek molekular. faktor l i n g k u n g a n y a n g b u k a n a u t o a n t i b o d i s e p e r t i hipersplenisme. abnormalitas struktur membran. Pada hemolisis i n t r a v a s k u l a r . kerusakan mekanik eritrosit karena mikroangiopati atau infeksi y a n g mengakibatkan kerusakan eritrosit tanpa mengikutsertakan mekanisme imunologi seperti malaria. anemia hemolisis dikelompokkan menjadi: 1. meski jarang terjadi. Pada hemolisis ekstravaskular destruksi sel eritrosit dilakukan oleh sistem retikuloendotelial karena sel eritrosit yang mengalami perubahan membran tidak dapat melintasi sistem retikuloendotelial sehingga difagositosis dan dihancurkan oleh makrofag. Patofisiologi Hemolisis dapat terjadi intravaskular dan ekstravaskular tergantung pada patologi yang mendasari suatu pen yakit. fiksasi komplemen dan aktivasi sel permukaan atau infeksi yang langsung mendegradasi dan mendestruksi m e m b r a n s e l e r i t r o s i t . pusing. Riwayat pemakaian obat-obatan dan terpajan toksin serta riwayat keluarga merupakan informasi penting yang 34 .tidak dapat bertahan hidup di sirkulasi darah pasien.Berdasarkan ada tidaknya keterlibatan imunoglobulin pada kejadian hemolisis.

Hemoglobin-haptoglobin ini segera dibersihkan oleh hati hingga kadar haptoglobin menjadi rendah sampai tidak terdeteksi.harus ditanyakan saat anamnesis. schistosit pada mikroangiopati. Pada hemolisis intravaskular yang masif. 35 . Pada hemolisis intravaskular kadar hemoglobin bebas dapat melebihi kadar haptoglobinsehingga hemoglobin bebas difiltrasi oleh glomerolus dan direabsorpsi oleh tubulus proksimal dan mengalami metabolisme. meningkatkan katabolisme heme dan p e m b e n t u k a n b i l i r u b i n t i d a k t e r k o n j u g a s i . Diagnosis banding retikulositosis adalah pedarahan aktif. Selanjutnya hemosiderin dikeluarkan ke urin dan terdeteksi sebagai hemosiderinuria. Jika tidak ada kerusakan jaringan organ lain. p r o s t h e s i s intravaskular dan lain-lain. Splenomegali didapatkan pada beberapa anemia hemolitik. Retikulositosis dapat diamati segera. M o r f o l o g i e r i t r o s i t d a p a t m e n u n j u k k a n a d a n y a h e m o l i s i s d a n penyebabnya. sel target p a d a t h a l a s s e m i a . meskipun retikulositosis meningkatkan ukuran m e a n c o r p u s c u l a r v o l u m e . peningkatan laktat dehidrogenase (LD) terutamaLDH 2 dan SGOT dapat menjadi bukti adanya percepatan destruksi eritrosit. H e m o g l o b i n b e b a s h a s i l hemolisis terikat dengan haptoglobin. ambang kapasitas absorpsi hemoglobin oleh tubulus proksimal terlewati. Anemia pada hemolisis biasanya normositik. Pada pemeriksaan fisik ditemukan kulit dan mukosa kuning. Retikulositosis mencerminkan adanya hiperplasia eritrosit di sumsum tulang tetapi biopsi sumsum tulang tidak selalu diperlukan. anemia hemolitik autoimun. hemoglobinopati. sehingga hemoglobin dikeluarkan ke urin dalam bentuk hemoglobinuria. 3 -5 hari setelah penurunan hemoglobin. Baik hemolisis intravaskular maupun ekstravaskular. pen yakit hati. Hasil metabolisme di ginjal ini menghasilkan ikatan antara besi heme dengan simpanan protein (feritin dan hemosiderin). mielotisis dan perbaikan supresi eritropoeisis. Pemeriksaan Laboratorium Retikulositosis merupakan indikator terjadinya hemolisis. Misalnya sferosit pada sferositosis herediter. Pada anemia berat dapat ditemukan takikardi dan aliran murmur pada katup jantung.

Pemeriksaan seri anemia. Tetapi dapat diberikan dalam bentuk terapi darurat. Anemia dapat diklasifikasikan menurut etiopatogenesisnya ataupun berdasarkan morfologi eritrosit. Pendekatan diagnosis anemia dapat dilakukan secara klinis. Pengobatan anemia seyogyanya dilakukan atas indikasi yang jelas. Anemia merupakan kelaianan yang sering dijumpai untuk penelitian lapangan umumnya dipakai kriteria anemia menurut WHO sedangkan untuk keperluan klinis dipakai kiteria Hb<10gr/dl atau hematokrit <30%. Gabungan kedua klasifikasi ini sangat bermanfaat untuk diagnosis. terapi yang khas untuk masing – masing anemia dan terapi kausal. tetapi juga lebih baik ialah dengan gabungan pendekatan klinis dan laboratotik. Dalam pemeriksaan anemia diperlukan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorik yang terdiri dari pemeriksaan penyaring. pemeriksaan sum-sum tulang. yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dasar (underlying disease). pemeriksaan khusus. 36 . terapi suportif.BAB III KESIMPULAN Anemia hanyalah suatu sindrom bukan suatu kesatuan penyakit (disease entity).

Daryl K. 2008. I made. Buku ajar patologi Edisi7 volume 2.com/doc/80904189/11/ANEMIA-HEMOLITIK 37 . http://www. 2007. jakarta : FKUI p. Lorraine. M Wilson. 2006. Jakarta : FKUI p. Robbins. Jakarta : EGC 8. 2006. Young NS. Avaliable from: (www. Anemia Defisiensi Besi dalam Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid II. Gde Dharmayuda. Jakarta : EGC 4. Cotran. Jakarta : EGC 3. 634-640 9. Robert K. p . Anemia Megaloblastik dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.DAFTAR PUSTAKA 1.scribd.org/1996/1996/078. 2006. Viktor W.ishapd. Patofisiologi (konsep klinis proses – proses penyakit edisi 6. Farmakologi dan terapi Edisi 5 (cetakan ulang dengan perbaikan. Lauralee Sherwood. 643-649 11. 7. Jakarta : FKUI. tjokorda. Murray. Sylvia A. Soenarto. bhakta. Rodwell. hematologi dasar klinik ringkas. Bakta. 2006. 795-803 10. Granner. Jakarta : EGC 5. Peter A. 2003. Ketut . Price. (Online) (Accessed 2012April). The Pathophysiology of Acquired Aplastic Anemia. Suega.pdf). Jakarta : EGC 6. Rianto. Jakarta : FKUI 2. 2007. Bhakta. Setiabudy . I made . Mayes. Kumar. Pendekatan Terhadap Pasien Anemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakita Dalam FKUI jilid II. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. I made. 2006. Biokimia harper edisi 25. 2008).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful