You are on page 1of 14

LAPORAN KASUS KONDILOMA AKUMINATA

Pembimbing: dr. Dedianto Hidajat Sp.KK

OLEH: Ica Justitia HIA007027

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI BAGIAN/SMF KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM RSU PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT 2012

1

1.5 Pada laporan kasus berikut. Pendahuluan Infeksi menular seksual (IMS) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup menonjol saat ini pada sebagian besar wilayah dunia.1 Berbagai mikroorganisme telah diketahui sebagai penyebab IMS. akan dijabarkan mengenai pasien yang datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP NTB dengan diagnosis kondiloma akuminata. namun tidak seluruhnya dapat menyebabkan infeksi genital/IMS. Para mitra seksual juga perlu diperiksa akan adanya kutil. Gambaran kliniknya berupa suatu vegetasi bertangkai dengan permukaan berjonjot-jonjot (eksofitik) dan dapat bergabung membentuk lesi yang lebih besar sehingga tampak seperti kembang kol. Kondiloma akuminata juga dikenal sebagai penyakit jengger ayam. Pasien perlu disadarkan bahwa yang bersangkutan dapat menularkan penyakitnya kepada mitra seksualnya.Laporan Kasus Kondiloma akuminata Ica Justitia Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNRAM/RSUP NTB I. 2 . dan genital warts. Hingga saat ini telah dikenal sekitar 100 tipe virus tersebut. 16. salah satunya adalah human papilloma virus (HPV). dan 18 merupakan tipe genitalmukosal. atau berupa papul dengan permukaan yang halus dan licin yang bergabung menjadi plakat yang besar.4. HPV tipe 6 dan 11 lebih sering dijumpai pada kondiloma akuminata dan neoplasia intraepitelial serviks derajat ringan. HPV tipe 6.2.3 Kondiloma akuminata merupakan kelainan fibroepitelioma pada kulit dan mukosa yang disebabkan oleh HPV. Penatalaksanaannya dengan pengangkatan lesi. kutil kelamin. 11. Diagnosisnya ditegakkan berdasarkan gambaran klinisnya atau tes asam asetat. namun tidak berarti merupakan suatu penyembuhan infeksi.

badan.RM 2. Menurut pasien daging ini bertambah besar. Riwayat Alergi Riwayat alergi terhadap makanan. kira-kira sebesar biji kacang hijau. obat-obatan. Nyeri dan mudah berdarah pada daging tumbuh disangkal pasien. Gatal dirasakan terus-menerus. Riwayat Penyakit dahulu: Pasien tidak pernah mengalami hal serupa sebelumnya. Mataram : Bali : Hindu : 10 September 2012 : 055601 . Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada keluarga pasien yang mengalami hal serupa. maupun kaki. Pasien tidak pernah mengeluhkan adanya daging tumbuh di tempat lain seperti di mulut.II. Identitas Pasien Nama Usia Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat Suku Bangsa Agama Waktu Pemeriksaan No. Pasien merasakan gatal pada daerah daging tumbuh tersebut. tangan. Laporan Kasus 1. Riwayat kencing manis dan darah tinggi disangkal. hidung. NJ : 29 tahun : Laki-laki : Supir truk antarkota : Pagesangan. 3 : Tn. dingin disangkal oleh pasien. namun tidak terlalu mengganggu. debu. Anamnesis Keluhan Utama : terdapat daging tumbuh di kemaluan (penis) Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien mengeluh terdapat daging tumbuh di kemaluannya (penis) sejak ± 1 bulan yang lalu. awalnya daging tersebut berukuran kecil. Pasien tidak pernah mengalami kencing nanah dan luka pada kemaluan dan daerah sekitarnya.

batas tegas. Pembesaran kelenjar getah bening inguinal (-). sewarna dengan warna kulit dengan permukaan berjonjotjonjot. dalam beberapa bulan sebelumnya pasien mengaku berhubungan seksual dengan orang lain yang bukan istrinya. Pasien memiliki 2 orang istri. konsistensi keras. istrinya berhubungan seksual hanya dengan dia. Pasien belum disunat. Menurut pasien. ukuran + 0. Istrinya adalah ibu rumah tangga. Menurut pasien. dalam sebulan terakhir ia berhubungan seksual hanya dengan istrinya. Pemeriksaan Penunjang : : baik • Asam asetat 5% pada lesi • Pro biopsi (pemeriksaan histopatologis) 5. Namun. Diagnosis Kerja 4 . 4. baik saat berhubungan seksual dengan istrinya maupun dengan orang lain. 3.Riwayat Pengobatan Pasien tidak pernah mencari pengobatan untuk keluhannya saat ini. Riwayat menggunakan kondom disangkal pasien.5 x 1 cm. Riwayat kebiasaan dan sosial Pasien bekerja sebagai supir truk antarkota. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Status dermatologis: Lokasi: UKK: sulkus koronarius penis vegetasi bertangkai soliter. Diagnosis Banding • Kondiloma akuminata • Kondiloma lata • Veruka vulgaris • Karsinoma sel skuamosa 6.

Penatalaksanaan Farmakologis : • Asam trikloroasetat 50%.Kondiloma akuminata 7. Prognosis • Qua ad Vitam : dubia ad bonam • Qua ad Sanationam : dubia ad bonam 9. diulang dengan interval 1 minggu Non Farmakologis : • Jelaskan kepada pasien mengenai penyakitnya • Hindari hubungan seksual selama masa pengobatan • Jika tidak bisa menghindari hubungan seksual. gunakan kondom saat melakukan hubungan seksual • Sarankan pasien untuk memeriksakan juga mitra seksualnya • Anjurkan pasien untuk melakukan sirkumsisi • • Anjurkan pasien untuk kontrol ke klinik VCT (Voluntary Consulting Test) Kontrol ke rumah sakit 1 minggu lagi 8. Dokumentasi 5 .

7 Diagnosis banding pasien yaitu kondiloma lata. Tempat predileksi kondiloma akuminata pada pria yaitu di perineum dan sekitar anus. menunjukkan bahwa prilaku seksual pasien berisiko tinggi. Gambaran klinis penyakit-penyakit tersebut yang membedakannya dengan kondiloma akuminta dijabarkan sebagai berikut. mudah berdarah. laki-laki. permukaannya datar. Veruka 6 . batas tegas sewarna dengan warna kulit dengan permukaan berjonjot-jonjot pada sulkus koronarius penis. sulkus koronarius. tidak bertangkai. pasien kemungkinan menderita IMS jenis vegetasi sehingga diagnosis yang mungkin adalah kondiloma akuminata. glans penis. bila digores akan timbul autoinokulasi (fenomena Kobner). yaitu tipe 16 dan 18. mitra seksual yang lebih dari satu dan riwayat hubungan seksual tidak aman – tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Pasien merasakan gatal pada daerah daging tumbuh tersebut. Kondiloma akuminata merupakan penyakit IMS yang disebabkan oleh HPV. 6 Pada pemeriksaan fisik didapatkan vegetasi bertangkai. Lesi kondiloma lata berupa plakat yang erosif dan eksudatif akibat gesekan dengan permukaan kulit.3 Kondiloma lata merupakan bagian sifilis sekunder yang muncul 4-10 minggu setelah sifilis primer. veruka vulgaris. Jadi. muara uretra eksterna. khususnya tipe 6 dan 11. agama Hindu. dan bekerja sebagai supir truk antarkota. Beberapa tipe HPV mempunyai potensi onkogenik yang tinggi.1 Mikroorganisme penyebab IMS yang paling umum ditemui adalah HPV. Lesi veruka vulgaris berupa nodul berwarna abu-abu kecoklatan dengan permukaan kasar atau verukosa. Pembahasan Diagnosis kondiloma akuminata pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis lesi. 3.III. Tidak didapatkan pembesaran kelenjar getah bening regional. Daging tersebut bertambah besar. konsistensi keras. Pada anamnesis didapatkan seorang pasien. berusia 28 tahun.3.2 juta orang setiap tahunnya terinfeksi HPV di Amerika Serikat. prevalensi infeksi HPV tinggi. korpus dan pangkal penis. Pasien mengeluhkan terdapat daging tumbuh pada kemaluannya. dan berbau. Hasil anamnesis lebih lanjut. Yaitu. ukuran + 0.5 Pada pasien tidak didapatkan riwayat ulkus sebelumnya. Berdasarkan keluhan tersebut. Keluhan ini dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu.5 x 1 cm. Diperkirakan sekitar 6. Beberapa tipe HPV dapat ditemukan dalam satu kelainan. terdiri atas papul-papul lentikular.2. pasien kemungkinan menderita infeksi menular seksual. Sifilis primer lesinya berupa papul yang segera menjadi erosi dan ulkus. Karsinoma sel skuamosa vegetasinya seperti kembang kol. namun nyeri dan mudah berdarah pada daging tumbuh tidak dikeluhkan pasien. soliter. dan karsinoma sel skuamosa. Pada pria yang secara seksual aktif.

higiene yang kurang baik. atau aplikasi nitrogen cair. dan pembedahan. Pada lesi yang meragukan untuk kondiloma akuminata dapat dilakukan pembubuhan asam asetat 5%. Pengobatan secara fisik yaitu krioterapi dengan nitrogen cair atau karbondioksida padat. Penatalaksanaan kondiloma akuminata terdiri dari pengobatan dengan bahan kimia dan secara fisik yang secara umum bertujuan untuk mengangkat lesi. perianal.3 7 .1.8 Pasien juga dianjurkan untuk melakukan sirkumsisi.vulgaris tempat predileksinya terutama di ekstremitas bawah bagian ekstensor. Pengobatan dengan bahan kimia terdiri dari pemakaian oleh pasien dan pemakaian oleh petugas kesehatan. Efek sampingnya yaitu dapat terjadi ulkus. Pasien dengan kutil anogenital perlu disadarkan bahwa yang bersangkutan dapat menularkan penyakitnya sehingga dianjurkan untuk menggunakan kondom. asam trikloroasetat (TCA) 25-50%.1 terapi dengan TCA efektif dan kurang merusak daripada operasi laser. dan sela jari kaki. Pengobatan diulangi dengan interval satu minggu.7 Para mitra seksual juga perlu diperiksa akan adanya kutil. Pada kasus ini pasien diobati dengan TCA 50% yang dioleskan pada jaringan kutil. Efektifitasnya sama dengan podofilotoksin. skar. menurunkan risiko terkena IMS. dan keganasan penis. di bawah mammae. bedah listrik (elektrokauterisasi). Jika dibubuhkan asam asetat 5% lesi kondiloma akuminata akan berubah menjadi putih. elektrokauter. TCA tidak memiliki efek sistemik dan aman digunakan selama hamil. Pengobatan dengan bahan kimia antara lain dengan podofilin/podofilotoksin. dan infeksi sekunder pada penggunaan yang tidak tepat. krioprob.8 Prognosis kondiloma akuminata baik. krim imikuimod. Saat ini belum ada terapi antiviral yang spesifik yang digunakan. Faktor predisposisi seperti prilaku seksual berisiko tinggi. dapat menyebar ke mukosa mulut dan hidung. walaupun sering residif. dan tidak sirkumsisi harus diidentifikasi dan dihindari.4 Karena keterbatasan bahan. vulva. HIV. Pengangkatan lesi bukan berarti penyembuhan infeksi. pemeriksaan ini tidak dilakukan. Penggunaan kondom bertujuan mengurangi penularan selanjutnya.3. Sirkumsisi dapat membantu menjaga kebersihan dan kelembaban alat kelamin. Terapi ini paling efektif pada kutil kecil dan lembab.1 TCA memiliki efek kaustik (membakar) lokal yang efektif terhadap kutil. skrotum.3 Pada pasien lesi didapatkan di sulkus koronarius. dapat diulang hingga 4 kali. Sedangkan tempat predileksi kondiloma lata yaitu lipat paha.

Diagnosis kerja pasien adalah kondiloma akuminata. Keluhan ini dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu. riwayat hubungan seksual sebulan terakhir hanya dengan istri. Terapi yang diberikan yaitu pembubuhan TCA 50% yang diulang dengan interval satu minggu. Riwayat kencing nanah (-). pekerjaan supir truk antarkota. agama Hindu. tangan. Daging tersebut bertambah besar. menghindari berhubungan seksual selama pengobatan atau menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Pasien juga dianjurkan untuk memeriksakan mitra seksualnya. maupun kaki disangkal pasien. KK 8 . Pasien merasakan gatal pada daerah daging tumbuh tersebut. riwayat hubungan seksual beberapa bulan sebelumnya (+) dengan bukan istri. Riwayat keluhan serupa di keluarga (-). Daging tumbuh di tempat lain seperti di mulut. Riwayat menggunakan kondom (-). hidung. dan melakukan sirkumsisi. Telah dibacakan pada tanggal 18 September 2012 dr. mengeluhkan ada daging tumbuh pada kemaluannya. badan. Secara umum prognosis pasien baik. Riwayat keluhan serupa sebelumnya (-). luka pada kemaluan dan daerah sekitarnya (-). Pada pemeriksaan fisik didapatkan vegetasi bertangkai soliter sewarna dengan warna kulit dengan permukaan berjonjot-jonjot di sulkus koronarius penis. Dedianto Hidajat Sp. Riwayat sunat (-).IV. Ringkasan Pasien laki-laki berusia 28 tahun. Pasien memiliki 2 orang istri. namun nyeri dan mudah berdarah pada daging tumbuh tidak dikeluhkan pasien.

Tugas Manifestasi klinis sifilis Secara klinis. 9 . Sifilis stadium I atau sifilis primer akan muncul setelah masa inkubasi kuman Treponema pallidum yang berlangsung 10 sampai 90 hari(ratarata 3 minggu). Ulkus ini juga dikenal sebagai ulkus durum yang mempunyai sifat khusus. anus. Sifat khusus tersebut adalah tidak nyeri (indolen). Selain memberi lesi kulit. malaise. yaitu lesi S II umumnya tidak gatal. hepar. umumnya kemudian menjadi ulkus. S II dapat disertai gejala penyerta seperti anoreksia. Selain itu juga dapat di ekstragenital seperti lidah. kelenjar getah bening. sering disertai limfadenitis generalisata. tulang. mata. jari. koronarius. dasar ialah jaringan granulasi berwarna merah dan bersih.9 Gambar 1. biasanya terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional di inguinalis medialis. sekitar ulkus teraba keras (indurasi). Lokasi ulkus pada laki-laki biasanya di prepusium.V. dan saraf. Gejala penting untuk membedakan lesi S II dengan penyakit kulit lain. sedangkan pada wanita biasanya ulkus berlokasi di labium mayora dan minora. batang penis. stadium II (S II). tonsil. klitoris. Kelainan kulit dimulai sebagai papul lentikular yang permukaannya segera menjadi erosi. Lesi kulit yang membasah pada S II sangat menular. yaitu stadium I (S I). dan atralgia. S II juga memberi kelainan pada mukosa.4. papul. stadium laten. Seminggu setelah afek primer tersebut. dan soliter (biasanya hanya 1 – 2 ulkus). rektum. dan payudara. namun tidak terdapat tanda peradangan akut pada kulit di atasnya. 3. dan serviks. demam yang tidak tinggi. dan skrotum. dan stadium III (S III). nyeri kepala. Ulkus durum 9 Sifilis stadium II atau sifilis sekunder biasanya akan muncul 4-10 minggu setelah timbulnya lesi primer dan sepertiga kasus masih disertai S I. Lesi di kulit dapat berupa roseola. sifilis dibagi menjadi beberapa stadium. Afek primer sembuh sendiri antara tiga sampai sepuluh minggu.

pustul. 10 . Sendi dan tulang jarang terkena. berbintikbintik atau berbercak-bercak. bawah payudara. permukaan kondiloma lata menjadi erosif. Papul dapat tertutup skuama (papuloskuamosa). Roseola adalah makula. Akibat gesekan antar-kulit. berupa mucous patch atau mucous plaque. terdapat pula alur transversal atau longitudinal. dan sangat menular. tidak nyeri. Roseola sifilitika 9 Lesi pada mukosa. kabur. Kerontokan rambut dapat mengenai rambut kepala (alopesia difus. Bila lesi pada kulit menyembuh mungkin meninggalkan bekas berupa makula hipopigmentasi (leukoderma sifilitika). dan menyusun diri menjadi asinar atau sirsinar. perianal. 3. terutama pada mulut dan tenggorok. Kelainan yang dapat timbul yaitu efusi sendi yang tidak nyeri dan tidak mengganggu pergerakan. dan genital. Timbulnya pustul sering disertai demam dan penderita tampak sakit. atau bentuk lainnya. Kelainan pada kuku berupa perubahan warna pada kuku menjadi putih. Pada S II lanjut dapat terjadi uveitis anterior. Kadang-kadang pada S II terjadi hepatitis. penebalan pada bagian distal lempeng kuku. Lokasinya generalisata dan simetrik. eksudatif. terdiri atas papul-papul lentikular. rapuh. Lesi pada rambut menyebabkan kerontokan rambut akibat akar rambut dirusak oleh treponema. Lesi lainnya yaitu krusta yang dapat menutupi ulkus. sudut mulut. Papul merupakan bentuk lesi yang paling sering.4 Gambar 2. bentuknya bulat atau lonjong. permukaannya datar. Papul dapat terlihat di dahi. alopesia areolaris). sebagian berkonfluensi. vulva. dan tidak saling melekat. Plak pada mukosa timbul bersama-sama dengan bentuk papul/plak pada kulit dan biasanya erosif. Pustul jarang terjadi. Tempat predileksinya skrotum. warnanya merah tembaga. alis mata bagian lateral. ketiak.3 Pada S II umumnya terjadi pembesaran kelenjar getah bening generalisata yang bersifat soliter. di bawah payudara. Bentuk lain ialah kondiloma lata. dan sela jari kaki. dan janggut.

tibia. yaitu fase asimptomatik meskipun masih terdapat infeksi aktif yang dibuktikan melalui tes serologis yang positif. Nodular guma pada fossa poplitea 9 11 . lebih banyak. kadang-kadang S I. Biasanya guma soliter dan asimetris.4 Sifilis stadium II akan diikuti fase laten. Umumnya bentuk rekuren adalah S II. Lesi lain yang bisa didapatkan pada S III adalah nodus. Pertumbuhannya lambat. atau progresif menjadi S III (sifilis tersier). lebih kecil (miliar hingga lentikular).4 Gambar 3. Fase laten dapat berlangsung lama (beberapa tahun. Tekanan intrakranial dapat meninggi dan memberi gejala nyeri kepala. 3.9 Proses guma juga terjadi pada mukosa. biasanya melunak. dan testis. Perbedaannya ialah nodus lebih superfisial. kronis. bahkan bertahun-tahun). membentuk ulkus yang dalam dengan dasar tertutup pus. laring. dan lain-lain) yang kemudian pecah ke permukaan mengeluarkan cairan seropurulen dan kadang disertai jaringan nekrotik. Rekurensi dapat terjadi pada sifilis yang tidak diobati atau yang mendapat pengobatan tidak adekuat. tulang. femur.9 Sepertiga pasien sifilis fase laten yang tidak diterapi akan berkembang menjadi S III. Dalam perkembangannya nodus mirip guma. dan fibula. muntah. S III tulang paling sering menyerang tengkorak. bahu. serta dinding curam (seperti dilubangi). Kelainan saraf berupa meningitis. paru. Kelainan yang khas ialah guma. yakni infiltrat sirkumskripta. Gejala nyeri biasanya pada malam hari. humerus. mempunyai kecendrungan untuk bergerombol dan berkonfluensi. atau diinterupsi oleh S II yang rekuren. Guma dimulai dengan timbulnya granuloma di dalam jaringan (otot. tulang. Guma pada mulut atau septum nasi dapat merusak septum nasi atau palatum mole hingga terjadi perforasi. hepar. dan destruktif.3. dan edema papil. tepi meninggi dan keras. gastrointestinal. mengalami nekrosis di tengah dan membentuk ulkus.Timbulnya nyeri jika terjadi periostitis. umumnya beberapa minggu hingga bulan dan meninggalkan sikatrik yang hipotrofi.

khususnya yang disebabkan oleh hiperplasia akibat infeksi Pemeriksaan dilakukan dengan pembubuhan asam asetat 5% selama 3-5 menit pada lesi dan sekitarnya. Sel epitel squamosa yang normal akan tampak merah muda akibat refleksi cahaya dari stroma yang mengandung pembuluh darah. Neurosifilis asimptomatik kelainannya hanya pada likuor serebrospinalis. terjadi akibat demielinisasi dan degenerasi funikulus dorsalis. penyumbatan vena kava superior. inkontinensia urin. perikardium. dan gangguan rasa nyeri. 4. Angina pektoris merupakan gejala umumnya.Pada sifilis tersier juga didapatkan sifilis kardiovaskular dan neurosifilis. Tabes dorsalis timbul 8-12 tahun setelah infeksi pertama. penekanan bronkus. Neurosifilis dibagi menjadi (1) neurosifilis asimptomatik. Jenis yang nomor (3) yang paling sering terjadi. gangguan miksi dan defekasi. kejang umum atau fokal. dapat terjadi depresi atau maniakal. Kematian disebabkan oleh ruptur ke trakea. Aneurisma pada aorta menyebabkan pulsasi pada dada sebelah kanan atas. Masa laten sifilis kardiovaskular umumnya 15-30 tahun. kejang. Gejalanya ialah nyeri kepala.10 Pembubuhan asam asetat 5% menyebabkan koagulasi atau presipitasi protein selular. atrofi nervus optikus. dan dehidrasi sel. apatis. Sejumlah 10-15% kasus neurosifilis adalah demensia paralitika. pleura. (3) sifilis parenkim: tabes dorsalis dan demensia paralitika. stupor atau koma. Lambat laun terjadi kelemahan. edema papil. Jika epitel mengandung banyak presipitasi protein. Pada sifilis meningovaskular terjadi trombosis atau penyempitan lumen pembuluh darah. Gejalanya ialah gangguan sensibilitas berupa ataksia. gangguan mental. disatria. pembengkakan sel epitel. arefleksia. kelumpuhan. Pada dinding aorta terjadi terjadi infiltrasi perivaskular yang terdiri atas sel limfiosit dan sel plasma. dan akhirnya meninggal. Lapisan intima dan media juga dirusak sehingga timbul aneurisma. (4) guma. (2) sifilis meningovaskular (sifilis serebrospinalis). Miokarditis jarang terjadi. atau ke mediastinum. atau penekanan nervus laringeus. gangguan visus. atau tremor otot wajah. gangguan hipotalamus. ataksia. Walaupun lapisan yang lebih dalam mengandung 12 . 3 Acetowhite test Acetowhite HPV. gangguan piramidal. Lalu diamati perubahan warna yang terjadi. Aortritis sering mengenai katup aorta asenden dan arteria koronaria. waham.3 Neurosifilis lebih sering terjadi pada orang berkulit putih. Mula-mula terjadi kemunduran intelektual. Enarteritis akan menyebabkan iskemia. asam asetat akan berkoagulasi dengan protein ini dan menyebabkan perubahan warna. 10 test merupakan pemeriksaan tambahan yang digunakan untuk memperjelas gambaran kutil. penekanan atau penggeseran trakea.

11 Perubahan warna akan tampak jika terjadi peningkatan aktivitas nukleus dan DNA (deoxyribonucleic acid). hiperkeratosis.11 13 . kondiloma. Jadi perubahan warna acetowhite test akan tampak pada neoplasia serviks. dan epitel dalam masa penyembuhan dan regenerasi (terkait peradangan). Perubahan warna pada kondiloma akan tampak putih keabu-abuan.protein. metaplasia squamosa. Perubahan warna epitel yang terkait peradangan akan tampak tersebar dan difus. asam asetat tidak dapat berpenetrasi sehingg tidak terjadi koagulasi dan perubahan warna. Sedangkan pada kelainan lainnya akan tampak lebih pucat.

Sankaranarayanan dan Ramani S W (editor). J Eur Acad Dermatol Venereol (2001). Lyon: 2003 14 . Miguel R S. et al. 681-689. The Journal of Infectious Disease (2006). Diunduh dari http://www. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Departemen 2006. Syphilis. [abstract].ncbi. Kumar B. Kesehatan RI Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. B B. Genital human papillomavirus infection: current and prospective therapies.pdf+html 8. p 1955-1964 10. Dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Eileen F D. Pedoman Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual.654. Carrie M N. Penyakit Virus. Elliot J A. A Practical Manual on Visual Screening for Cervical Neoplasia. h 393-409 6. McGraw-Hill Companies. Jakarta: 2007. p.sgmjournals. Prevalence of HPV Infection among Men: A Systematic Review of The Literature. McGraw-Hill Companies. Jusuf B. New York: 2008. Jakarta: 2007. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Airlangga University Press. Ronny P H. Dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 224-225 5.nih. International Agency for Reseach on Cancer and World Health Organitation. 7th ed. The Acetowhite Test in Genital Human Papillomavirus Infection in Men: What Does it add??. Diunduh dari http://vir. Christopher. 2. edisi 5.full. New York: 2008. 7th ed.gov/pubmed/11451317 11.pdf+html 7. Sifilis. Katherine M S. 93.org/content/93/Pt_4/681.DAFTAR PUSTAKA 1. In: Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 15(1):27-9. Depkes RI. h 215-217. dkk. Disease and disorder of the male genitalia. New York: 2008. Journal of General Virology (2012). Gupta S. p 1914-1921 3. Natahusada dan Adhi D. Diunduh dari http://jid. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 7th ed.org/content/194/8/1044. Douglas R L. edisi 5. McGraw-Hill Companies. Margaret A S. In: Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 664 9. In: Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine.nlm.oxfordjournals. 194. h 112-114 4.full. Jakarta: Surabaya: 2007. Warts.