You are on page 1of 17

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kesehatan merupakan anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, namun dalam kenyataannya manusia sering mengabaikannya. Hidup bersih merupakan langkah yang paling penting untuk mencegah penyakit dan menjaga kesehatan tubuh. Oleh karena itu kebersihan harus dijaga baik dari dalam diri manusia itu sendiri, lingkungan tempat tinggal agar terhindar dari segala penyakit. Lingkungan yang kotor ini bisa menyebabkan berbagai mikroorganisme penyakit yang setiap saat dapat menyerang siapapun tanpa memandang usia dan status sosial, sehingga orang yang sebenarnya dapat menikmati kesehatan terpaksa harus menderita berbagai macam penyakit salah satunya adalah tifoid dan paratifoid akibat dari ulah manusia itu sendiri. Penyakit tifoid ini selain infeksinya berasal dari 5F (food, fluid, finger, faeces, flies, fomites) juga ditularkan oleh carrier. B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini: 1. Memperoleh pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan tifoid dan paratifoid. 2. Mengetahui dan memahami faktor-faktor resiko penyebab, pencegahan dan penanganan pada pasien tifoid dan paratifoid. 3. Meningkatkan kemampuan perawat dalam menciptakan hubungan yang terapeutik pada pasien tifoid dan keluarga. C. Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini: 1. Studi kepustakaan dengan mengambil beberapa literatur yang berhubungan dengan penyakit tifoid dan paratifoid.

2. Pengamatan kasus secara langsung, di unit Elisabeth kamar 403 2 untuk


membandingkan dengan studi kepustakaan, yang meliputi pengkajian,

penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, penatalaksanaan dan evaluasi. D. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan makalah ini diawali dengan Bab I Pendahuluan, yang berisikan latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II Tinjauan teoritis yang mencakup konsep dasar medik yang terdiri dari definisi, anatomi fisiologi, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, pemeriksaan diagnostik, terapi dan pengelolaan medik, komplikasi dan konsep asuhan keperawatan, menguraikan tentang pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, perencanaan pulang serta patoflowdiagram. Bab III Kesimpulan serta ditutup dengan daftar pustaka.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Medik 1. Definisi Demam tifoid dan demam paratifoid adalah penyakit infeksi akut pada saluran pencernaan pada usus halus (Noer Syaifullah, dkk. Ilmu Penyakit Dalam hal 435). Typhus Abdominalis adalah penyakit infeksi bakteri hebat yang diawali di selaput lendir usus halus (dr Jan Tambayong, Patofisiologi untuk Keperawatan, hal 143). Demam tifoid dan paratifoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus. Sinonim dari demam tifoid dan paratifoid adalah typoid dan paratypid fever, enteric fever, tifus dan paratifus abdominalis. Demam paratifoid menunjukkan manifestasi yang sama dengan tifoid, namun biasanya lebih ringan (Kapita Selekta Kedokteran, ed.3, hal. 421). 2. Anatomi Fisiologi Susunan saluran pencernaan terdiri dari: a. Mulut, merupakan organ pertama dari saluran pencernaan yang letaknya meluas dari bibir sampai ke isthmus fausian yaitu perbatasan antara mulut dengan faring. b. Faring, menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan. Pada saat menelan faring mencegah masuknya makanan ke jalan pernafasan dengan menutup sementara hanya beberapa detik dan mendorong makanan masuk ke dalam esofagus agar tidak membahayakan pernafasan. c. Esofagus/kerongkongan, merupakan saluran yang menghubungkan faring dengan lambung. d. Lambung, merupakan sebuah kantong muskular yang letaknya antara esofagus dan usus halus. Lambung merupakan saluran yang dapat mengembang karena adanya gerakan peristaltik terutama di daerah epigaster. Lambung menampung makanan yang masuk melalui

esofagus,

menghancurkan

dan

menghaluskan

makanan

dengan

peristaltik lambung dan getah lambung. e. Usus halus, panjangnya + 2,5 meter. Usus halus terletak di daerah umbilikus terdiri dari beberapa bagian: 1) Duodenum Sekresi dalam duodenum datang dari pankreas, hepar, dan kelenjar dinding usus itu sendiri. Pada bagian kanan duodenum terdapat bagian yang merupakan tempat bermuaranya saluran empedu (ductus koleductus) dan saluran pankreas (ductus pancreatikus) yang dinamakan papila vateri. Dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar Brunner memproduksi getah intestinum. Sekresi pankreas mempunyai pH alkali yang berfungsi menetralisir asam lambung yang memasuki duodenum. Empedu disekresikan oleh hepar dan disimpan dalam kandung empedu, berfungsi untuk mengemulsikan lemak yang dicerna. 2) Jejunum Panjangnya 2-3 meter, berkelok-kelok, terdapat di sebelah kiri atas intestinum minor dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas (mesenterium). Akar mesenterium memungkinkan keluar masuknya arteri dan vena mesenterika superior dan pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara lapisan peritoneum yang membentuk 3) Ileum Ujung batas antara ileum dan jejenum tidak jelas, panjangnya lebih kurang 4-5 meter. Ileum merupakan usus halus yang terletak di sebelah kanan bawah yang berhubungan dengan sekum perantaraan lubang yang disebut orifisium ileosekalis yang diperkuat oleh sfingter dan dilengkapi oleh sebuah katup valvula ceicalis yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam colon asendens agar tidak masuk kembali ke dalam ileum. Lapisan usus halus: 1) Tunika Mukosa mesenterium. Penampang jejenum lebih lebar, dindingnya tebal, dan banyak mengandung pembuluh darah.

Lapisan ini banyak memiliki lipatan yang membentuk plika sirkularis dan villi intestinal (jonjot-jonjot) yang selalu bergerak karena pengaruh hormon jaringan villi kinnin. Villi ini banyak mengandung pembuluh darah dan limfe. Pada bagian ini terjadi penyerapan lemak yang telah diemulsi. 2) Tunika Propia Pada bagian dalam dari tunika mukosa terdapat jaringan limfoid noduli limpatisi dalam bentuk sendiri-sendiri dan berkelompok. Tiap kelompok kurang 20 noduli lipatisi. Kumpulan ini disebut plaque peyeri yang merupakan tanda khas dari ileum. 3) Tunika Submukosa Pada lapisan ini terdapat anyaman pembuluh darah dan saraf yang merupakan anyaman saraf simpatis. 4) Tunika Muskularis Lapisan ini terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan otot sirkuler dan otot longitudinal. Diantara keduanya terdapat anyaman serabut saraf yang disebut pleksus mienterikus Auerbachi. 5) Tunika Serosa (adventisia) Lapisan ini meliputi seluruh jejenum dan ileum. Kelenjar-kelenjar usus halus terdiri dari: 1) Kelenjar Lieberkum Merupakan kelenjar yang terdapat di seluruh selaput lendir usus halus fungsi mengeluarkan getah usus halus untuk menyempurnakan pencernaan makanan. 2) Kelenjar Brunner Mensekresi zat alkali yang berfungsi untuk melindungi duodenum dari pengaruh asam lambung. 3) Kelenjar Suliter Terdapat di seluruh permukaan usus halus yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap serangan bakteri. 4) Kelenjar Payer Merupakan kelompok soliter yang panjangnya 20-30 cm di permukaan mukosa ileum. f. Usus besar, merupakan saluran pencernaan berupa usus berpenampang luas atau berdiameter besar. Merupakan lanjutan dari

usus halus yang tersusun seperti huruf U terbalik yang terbagi menjadi colonasendens, transversum dan desendens serta sigmoid. Usus ini berfungsi menyerap air dan makanan, tempat inggal bakteri E. Coli dan faeces. g. Rectum, merupakan lanjutan dari sigmoid yang menghubungkan usus besar dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan tulang sacrum dan koksigis. h. Anus, bagan yang menghubungkan rectum dengan udara luar yang terletak di dasar pelvis dan dindingnya diperkuat oleh sfingter ani. 3. Etiologi Etiologi demam tifoid adalah Salmonella typhi. Sdangkan demam paratifoid disebabkan oleh organisme yang termasuk dalam spesies Salmonella enteritidis, yaitu S. enteritidis bioserotipe paratyphi A, S. enteritidis bioserotipe paratyphi B, S. enteritidis bioserotipe paratifi C. Kuman ini mempunyai 3 antigen yaitu: a. Antigen O: antigen pada bagian soma/tengah b. Antigen H: antigen pada bagian flagel. c. Antigen VI: antigen pada bagian kapsul. Cara perpindahan kuman melalui cara 5 F, yaitu; a. Food and fluid, yaitu melalui makanan dan minuman yang tercemar. b. Flies, melalui lalat yang membawa kuman tersebut. c. Finger, melalui jari atau tangan yang kotor atau terkontaminasi kuman. d. Faeces, melalui kuman yang terdapat pada faeces. e. Fomites, kontaminasi melalui alat makan/minum yang kurang bersih. Penularan yang paling sering di daerah endemik adalah melalui makanan yang tercemar oleh karier, yaitu orang yang sembuh dari demam typoid dan masih mengekskresi kuman salmonella dalam tinja dan urine selama lebih dari 1 tahun. Karier ini terjadi akibat pengobatan yang tidak tuntas selama menderita demam typhoid. 4. Patofisiologi Kuman salmonella masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh Salmonella dikarenakan oleh faktor 5F.

asam lambung merupakan penghambat masuknya salmonella ke dalam usus. Sekresi asam klorida mampu menghancurkan sebagian dari salmonella, tetapi karena masuknya kuman bersama dengan makanan dan minuman maka terjadi pengenceran asam lambung, yang mengurangi daya hambat terhadap mikroorganisme yang masuk. Daya hambat asam lambung ini juga akan menurun pada waktu terjadi pengosongan lambung, sehingga bakteri dapat lebih leluasa masuk ke dalam usus. Kuman Salmonella kemudian memasuki folikel-folikel limfe yang terdapat pada lapisan mukosa atau submukosa usus halus dan memperbanyak diri dengan cepat. Kemudian memasuki saluran limfe dan akhirnya mencapai ke aliran darah, dengan melewati kapiler-kapiler pada dinding kantung empedu atau secara tidak langsung melalui kapilerkapiler hepar, maka kuman sampai ke empedu dan larut di sana. Melalui empedu yang efektif, masuklah kuman ke dalam usus untuk kedua kalinya, yang lebih berat daripada invasi tahap pertama. Invasi kedua ini akan menimbulkan lesi yang luas pada jaringan limfe usus kecil disertai dengan gejala-gejalanya. Apabila infeksi ini tidak segera ditangani maka akan menimbulkan komplikasi yang lebih berat, yakni perdarahan, peritonitis dan ileus paralitik sedangkan kuman yang masih ada dalam darah akan terus mengikuti aliran darah. Kerusakan yang terjadi tergantung dari tempat dimana kuman Salmonella tersebut berada (bersarang). 5. Tanda dan Gejala a. Minggu I (fase prodormal/intermiten) 1) Demam (suhu naik turun, khususnya meningkat pada malam hari dan turun menjelang pagi dan siang) selama 3-7 hari. 2) Merasa kedinginan. 3) Sakit kepala, pusing, nyeri otot, lemas, malaise. 4) Anoreksia, mual dan muntah, rasa tidak enak pada abdomen. 5) Konstipasi selanjutnya diare. b. Minggu II (fase fibris continue/remitten) 1) Demam tinggi terus menerus dan konstan. 2) Bradikardi

3) Lidah kotor di tengah tapi di bagian tepi dan ujungnya merah dan tremor, stomatitis, mulut bau. 4) Distensi abdomen. 5) Hepatomegali dan splenomegali. 6) Penurunan kesadaran 7) Gangguan mental: psikosis 8) Hipoperistaltik/hiperperistaltik usus bila terjadi ileus c. Minggu III (fase penyembuhan) 1) Panas dan tanda gejala lainnya berangsur mulai turun.

6. Test Diagnostik a. Kultur/gaal: 1) Darah: kuman Salmonella (+) selama minggu I 2) Feses dan urine: Kuman Salmonella (+) bila sudah terkena pada ginjal dan saluran pencernaan pada minggu II. b. Liver Fungsi Tes meningkat bila sudah terjadi gangguan pada hepar dan lien. c. Pada pemeriksaan USG ditemukan adanya pembesaran hepar dan lien. d. Pemeriksaan widal: Titer O dan H tinggi selama 10 hari-2 minggu. Didapatkan titer terhadap antigen O adalah 1/200 atau lebih, sedangkan titer terhadap antigen H walaupun tinggi akan tetapi tidak bermakna untuk menegakkan diagnosis karena titer H dapat tetap tinggi setelah dilakukan imunisasi atau bila penderita telah lama sembuh. 7. Penatalaksanaan Medik Penatalaksanaan demam typoid terbagi atas 3 bagian yaitu: a. Perawatan Pasien demam typoid perlu istirahat/dirawat untuk isolasi dan observasi. Pasien harus tirah baring selama minimal 7 hari bebas demam atau selama 14 hari. Untuk mencegah terjadinya komplikasi. Mobilisasi pasien dilakukan secara bertahap sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. b. Diit

Diit tinggi kalori, tinggi protein, tidak mengandung lemak, dalam bentuk lunak. c. Obat Dengan pemberian antibiotika dan antipiretik. 8. Komplikasi a. Komplikasi intestinal 1) Perdarahan usus: terjadi karena melepasnya kerak-kerak ulkus pada dinding usus halus. 2) Peritonitis: terjadi karena peradangan pada usus halus menembus ke dalam peritoneum (rongga abdomen) dengan gejala: nyeri di atas daerah yang meradang, denyut nadi meningkat, mual, muntah dan perut tegang. 3) Ileus paralitik: muncul pada awal peritonitis akibat respon otot/neurogenik terhadap peradangan. b. Komplikasi ekstra intestinal 1) Kardiovaskuler: peradangan pada otot jantung (miokarditis). 2) Paru: pleuritis. 3) Hepar dan kandung empedu: hepatitis dan kolesistitis. 4) Ginjal: glomerulonefritis. 5) Tulang: osteomyelitis. A. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan. Higiene lingkungan yang kurang baik. Higiene perorangan yang buruk. Higiene kebersihan alat-alat makan/minum yang kurang baik. Tingkat pengetahuan tentang kesehatan yang kurang. Ada anggota keluarga yang pernah menderita sakit yang sama. Pengobatan tidak tuntas. Kebiasaan makan: jajan sembarang. Cara pengobatan dan penyimpanan makanan yang kurang baik. Demam tinggi terutama sore hari.

b. Pola nutrisi metabolik. -

Anoreksia, mual, muntah. Lidah khas (putih di tengah dan kotor) tepi dan ujungnya merah. Mulut bau dan stomatitis. Konstipasi/diare (hipo/hiperperistaltik usus). Jumlah urine output menurun. Nyeri pada persendian. Pusing, lemah, lesu. Sulit tidur karena demam, nyeri daerah abdomen. Waktu dan kebiasaan lamanya tidur. Sakit kepala. Nyeri abdomen dan nyeri sendi.

c. Pola eliminasi -

d. Pola aktivitas dan latihan -

e. Pola tidur dan istirahat -

f. Pola persepsi kognitif -

2. Tumbuh kembang pada anak usia 6 12 tahun Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya. Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi. a. Motorik kasar 1) Loncat tali 2) Badminton 3) Memukul 4) motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan irama dan keleluasaan.

10

b. Motorik halus 1) Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan 2) Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik. c. Kognitif 1) Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi 2) Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah 3) Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal 4) Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang d. Bahasa 1) Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak 2) Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung dan kata depan 3) Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal 4) Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan

3. Diagnosa Keperawatan a. Hipertermi salmonella. b. Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia. c. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan output yang berlebihan. d. Gangguan pola eliminasi faeces : diare/konstipasi berhubungan dengan hipo/hiper peristaltik usus akibat infeksi saluran pencernaan usus halus. berhubungan dengan proses infeksi oleh kuman

11

4. Perencanaan Keperawatan a. Hipertermi salmonella. HYD: Suhu tubuh dalam batas normal (36o-37oC). Intervensi: 1) Observasi TTV (S, N, P, T) setiap 3-4 jam selama demam. R/ Mengetahui proses perjalanan infeksi dan terapi selanjutnya. 2) Beri banyak minum (2-3 liter/hari) bila tidak ada kontraindikasi. R/ Sebagai pengganti cairan yang hilang akibat panas. 3) Beri kompres hangat. R/ Membantu menurunkan suhu tubuh. 4) Beri baju tipis dan menyerap keringat. R/ Memberi kenyamanan dan menurunkan panas. 5) Anjurkan klien untuk banyak beristirahat di tempat tidur. R/ Aktivitas yang berlebihan dapat meningkatkan metabolisme. 6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antipiretik. R/ Membantu proses penyembuhan. b. Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia. HYD: Kebutuhan nutrisi terpenuhi yang ditandai dengan: 5. 6. 7. Intervensi: 1) Beri makan porsi sedikit tapi sering dan hangat (4-6 kali perhari). R/ Menghindari muntah. 2) Beri makanan yang lunak. R/ Makanan yang keras dapat meningkatkan kerja usus. 3) Kaji jumlah makanan yang dihabiskan. R/ Mengetahui intake nutrisi klien. 4) Bantu dan dampingi klien saat makan, beri support untuk menghabiskan makanan. R/ Menambah motivasi klien untuk makan. Klien mampu menghabiskan 1 porsi makanan. Kadar Hb dan Ht dalam batas normal. IMT dalam batas normal. berhubungan dengan proses infeksi oleh kuman

12

5) Timbang BB seminggu sekali pada jam dan timbangan yang sama. R/ Memantau status nutrisi klien. 6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi antiemetik. R/ Mengurangi mual dan muntah. 7) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian nutrisi perental. R/ Untuk pemenuhan nutrisi. c. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan output yang berlebihan. HYD: Kebutuhan cairan terpenuhi dengan baik ditandai dengan turgor kulit elastis, mukosa lembab. Intervensi: 1) Kaji turgor kulit dan mukosa mulut. R/ Turgor kulit yang kering merupakan tanda kekurangan cairan. 2) Anjurkan klien banyak minum (2-3 liter/hari) bila tidak ada kontraindikasi. R/ Untuk mengganti cairan yang hilang. 3) Catat intake dan output dalam 24 jam. R/ Mengetahui keseimbangan cairan. 4) Anjurkan klien untuk istirahat di tempat tidur. R/ Aktivitas yang berlebihan menyebabkan kehilangan cairan. 5) Kolaborasi dengan dokter pemberian cairan parental bila peroral tidak memungkinkan. d. Gangguan pola eliminasi faeces : diare/konstipasi berhubungan dengan hipo/hiper peristaltik usus akibat infeksi saluran pencernaan khususnya usus halus. HYD: Peristaltik usus dalam batas normal 5-35 x/menit. 8. 9. Intervensi: 1) Observasi bising usus. R/ Memantau fungsi usus. 2) Observasi cairan masuk dan keluar pasien. R/ Memantau hidrasi. Pasien dapat BAB 1x sehari. Konsistensi faeces lunak.

13

3) Observasi konsistensi faeces. R/ Mengetahui adanya kelainan. 4) Observasi keluhan pasien. R/ Menentukan intervensi yang akan diberikan. 5) Berikan makanan dalam bentuk lunak. R/ Mencegah perdarahan pada usus.

14

BAB III KESIMPULAN

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi saluran pencernaan bagian bawah yang menular dan dapat menyerang siapa saja. Timbulnya penyakit ini erat hubungannya dengan kebiasaan hidup dan gaya hidup yang kurang menjaga kebersihan seperti sanitasi lingkungan yang kurang diperhatikan kebersihannya, makanan dan minuman yang tidak dijaga kebersihan, jajan sembarang tempat, tidak cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Masyarakat baru sadar bila sudah terkena penyakit tersebut. Padahal penularan penyakit ini dapat dicegah sebelumnya. Intervensi tentang cara pencegahan dan penularan dari penyakit tifoid dan paratifoid perlu diberikan secara tepat dan benar seta berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Begitu pula dengan asuhan keperawatan yang diberikan harus tepat dan benar, karena penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Peran perawat sangatlah diperlukan dalam memberikan asuhan keperawatan pada penderita dengan tifoid dan paratifoid secara benar dan tepat serta memberikan penyuluhan pada klien dan keluarga tentang pencegahan berulangnya kembali penyakit tersebut. Bagi penderita sendiri, yang terpenting adanya niat dan kemauan disertai upaya dalam perubahan kebiasaan dan gaya hidupnya. Keluarga juga hendaknya mampu menjadi fasilitator pada masa rehabilitasi.

15

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth, 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Volume 3. Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Mansjoer, Arif. M. Kapita Selekta Kedokteran . (2000). Edisi 3 jilid 2. Jakarta, FKUI. Noer Prof. Dr. Hm. Sjaifoellah (1996). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3 jilid I. Jakarta FKUI. Price, Sylvia A. 1995. Patofisiologi. Edisi 4. Alih bahasa: Dr. Peter. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran E

16

15