RANGKAIAN DASAR PNEUMATIK

KOMPONEN KONTROL PNEUMATIK

Untuk Sekolah Menengah Kejuruan
Bidang Keahlian : Teknik Elektro Program Keahlian : Teknik Instalasi Listrik Berdasarkan Kurikulum SMK yang Disempurnakan (Kurikulum SMK Edisi 1999)

Penyusun : Drs. SUDARYONO Editor : Drs. Yusuf Setyabudi
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

PUSAT PENGEMBANGAN PENATARAN GURU TEKNOLOGI

VOCATIONAL EDUCATION DEVELOPMENT CENTER
JL. Teluk Mandar, Arjosari, Tromol Pos 5 Malang, 65102, Telp. (0341) 491239, Fax. (0341) 491342

T ekn ik Ins ta las i L is tr ik

KATA PENGANTAR

Modul ini diterbitkan untuk menjadi bahan ajar pada SMK Bidang Keahlian Teknik Elektro, memenuhi tuntutan pelaksanaan Kurikulum SMK yang disempurnakan (Kurikulum SMK edisi 1999). Nilai kegunaan modul ini terletak pada pemakaiannya, karena itu kepada semua organisasi dan manajemen Pendidikan Menengah Kejuruan, diharapkan dapat berusahan untuk mengoptimalkan pemakaian modul ini. Dalam pemakaian modul ini, tetap diharapkan berpegang kepada azas keluwesan, asas kesesuaian dan asas keterlaksanaan sesuai dengan karakteristik kurikulum SMK yang disempurnakan. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penulisan naskah bahan ajar ini.

Jakarta, Agustus 2000 Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan

Dr. Ir. Gatot Hari Priowiryanto NIP 130675814

Komponen Kontrol Pneumatik

i

T ekn ik Ins ta las i L is tr ik

PROFIL KOMPETENSI TAMATAN PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK INSTALASI LISTRIK
Kompetensi A. Menguasai gambar teknik elektro Sub Kompetensi A1. Menguasai jenis peralatan dan standarisasi gambar teknik A4. Menginterpretasikan gambar teknik B. Menguasai penggunaan peralatan tangan dan peralatan mesin untuk membuat bahan bantu listrik dan elektronika C. Menguasai dasar-dasar perakitan pesawat elektronika B1. Menguasai peraturan, norma, standar dan sistem keselamatan kerja B2. Menggunakan dan merawat peralatan tangan dan mesin B3. Menggunakan peralatan tangan dan mesin untuk membuat alat dari bahan logam dan non logam untuk keperluan teknik elektro C3. Merakit komponen dan menguji coba hasil rakitan A2. Menguasai dasardasar proyeksi gambar teknik A3. Menggambar rangkaian listrik dan elektronika

C1. Merencanakan tata letak komponen dan membuat jalur sambungan C4. Memahami penanggulangan dan daur ulang limbah

C2. Menguasai Teknik Pembuatan PRT

C5. Memahami cara-cara melindungi alam sekitar

D. Menguasai alat ukur listrik dan elektronika

D1. Mengidentifikasi dan mengklasifikasi peralatan ukur listrik D4. Menggunakan Alat Ukur Listrik dan Elektronika

D2. Menguasai karakteristik macammacam alat ukur listrik D5. Merawat dan memperbaiki alat ukur listrik E2. Menguasai dasar akumulator

D3. Menginterpretasikan buku petunjuk pemakaian alat ukur listrik

E. Menguasai konsep dasar teknik listrik dan elektronika

E1. Menguasai dasar elektrostatika dan kemagnetan E4. Menguasai hukum kelistrikan/rangkaian DC dan AC E7. Menguasai sifat dan macam bahan penghantar dan isolator

E3. Menguasai komponen pasif

E5. Menguasai dasardasar mesin listrik AC/DC

E6. Menguasai teori atom dan molekul

E8. Menguasai karakteristik dan penggunaan komponen semi konduktor F2. Menguasai gerbanggerbang dasar F3. Menguasai Flip-Flop

F. Menguasai dasar teknik digital dan aplikasi sederhana

F1. Menguasai Konversi bilangan

F4. Menguasai aritmatika logik G. Menguasai instalasi listrik sederhana sesuai peraturan dan keselamatan kerja H. Melaksanakan pekerjaan listrik penerangan dan tenaga G1. Menguasai dasardasar peraturan umum dan keselamatan kerja G2. Memasang instalasi listrik sederhana

H1. Menggambar instalasi listrik penerangan

H2. Menggambar instalasi tenaga/motor arus putar

H3. Menggambar instalasi dengan menggunakan komputer H6. Mengujicoba instalasi penerangan dan tenaga sederhana I3. Memperbaiki kerusakan instalasi penerangan dan tenaga

H4. Mengidentifikasi kebutuhan komponen

H5. Memasang instalasi penerangan dan tenaga sederhana I2. Mengidentifikasi kesalahan instalasi penerangan dan tenaga

I. Merawat dan memperbaiki instalasi penerangan dan tenaga

I1. Membaca gambar instalasi penerangan dan tenaga

Komponen Kontrol Pneumatik

ii

T ekn ik Ins ta las i L is tr ik
Kompetensi J. Mengoperasikan dan menguji mesin-mesin listrik AC/DC dan transformator K. Mengukur energi, frekuensi, daya dan faktor daya listrik Sub Kompetensi J1. Mengoperasikan mesin-mesin listrik AC/DC dan transformator K1. Memilih alat ukur yang sesuai untuk mengukur energi, frekuensi, daya dan faktor daya listrik L1. Menguasai prinsip pengaturan dan pengontrolan otomatis pada sistem tenaga listrik L4. Memahami pendistribusian udara dan minyak sebagai pembangkit pneumatik M. Menerapkan komponen-komponen elektronika dan dasardasar PLC dalam rangkaian kontrol M1. Mengidentifikasi kegunaan komponen elektronika daya untuk alat kontrol (triac, diac,fet, mosfet) M4. Mengidentifikasi keuntungan dan kerugian PLC N. Mengidentifikasi bentuk energi alternatif sebagai sumber tenaga listrik O. Merencana, memasang, memperbaiki dan merevisi serta mengembangkan instalasi rumah tinggal N1. Mengklasifikasikan macam-macam bentuk energi alternatif

J2. Menguji mesin-mesin listrik AC/DC dan transformator K2. Menjelaskan prinsip kerja alat ukur yang digunakan K3. Melaksanakan pengukuran energi, frekuensi, daya dan faktor daya listrik secara sistematis L3. Memasang rangkaian kontrol otomatis pada sistem tenaga listrik

L. Merangkai rangkaian mesin pengendali listrik dan rangkaian dasar pneumatik

L2. Menguasai peralatan kontrol otomatis pada sistem tenaga listrik

L5. Mengidentifikasi macam-macam katup pneumatik

L6. Membuat rangkaian pneumatik sederhana dengan satu silinder dan dua silinder M3. Mengaplikasikan komponen elektronika daya kedalam sistim kontrol sederhana

M2. Memahami karakteristik komponen elektronik daya

M5. Mengenal hardware dan software PLC

M6. Mengoperasikan hardware dan software sederhana. N3. Mengidentifikasi keuntungan dan kerugian macam-macam bentuk energi alternatif O3. Melakukan ujicoba instalasi rumah tinggal

N2. Menjelaskan prinsip kerja dan bentuk-bentuk energi alternatif

O1. Merencanakan dan memasang instalasi rumah tinggal

O2. Merencanakan dan memasang panel PHB 1 fasa/1grup

O4. Mencari kesalahan dan memperbaiki instalasi rumah tinggal P. Merencana, memasang, memperbaiki dan merevisi serta mengembangkan instalasi bangunan bertingkat P1. Merencanakan dan memasang instalasi bangunan bertingkat

O5. Melakukan revisi dan pengembangan instalasi rumah tinggal P2. Merencanakan dan memasang panel PHB untuk bangunan bertingkat P3. Merencana dan memasang instalasi alarm

P4. Merencana dan memasang instalasi penangkal petir

P5. Melakukan ujicoba instalasi bangunan bertingkat

P6. Melakukan pencarian kesalahan/kerusakan dan memperbaiki instalasi bangunan bertingkat Q3. Merencana dan memasang instalasi alarm

Q. Merencana, memasang, memperbaiki dan merevisi serta mengembangkan instalasi listrik industri

Q1. Merencanakan dan memasang instalasi tenaga 1 fasa dan 3 fasa

Q2. Merencanakan dan memasang panel tenaga 1 fasa dan 3 fasa

Q4. Merencana dan memasang instalasi penangkal petir

Q5. Melakukan ujicoba instalasi listrik industri

Q6. Melakukan pencarian kesalahan/kerusakan dan memperbaiki instalasi listrik industri

Komponen Kontrol Pneumatik

iii

T ekn ik Ins ta las i L is tr ik

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……………………………………………………………… Profil Kompetensi Tamatan ……………………………………………….. Daftar Isi ……………………………………………………………………… Pendahuluan ………………………………………………………………… Tujuan Umum Pembelajaran ……………………………………………… Petunjuk Penggunaan Modul ……………………………………………… Kegiatan Belajar 1 : Silinder Pneumatik …………………………………. 1.1 Pendahuluan ………………………………………………………. 1.2 Silinder Kerja Tunggal ……………………………………………. 1.2.1 Konstruksi ………………………………………………….. 1.2.2 Prinsip Kerja ………………………………………………… 1.2.3 Kegunaan …………………………………………………… 1.2.4 Macam-macam Silinder Kerja Tunggal …………………. 1.3 Silinder Kerja Ganda ………………………………………………. 1.3.1 Konstruksi ………………………………………………….. 1.3.2 Prinsip Kerja ………………………………………………… 1.3.3 Pemasangan ……………………………………………….. 1.3.4 Kegunaan ………………………………………………….. 1.3.5 Macam-macam Silinder Kerja Ganda …………………. i ii iv vi vii viii 1 1 2 2 3 3 4 4 4 5 6 7 8 9 9 11 12 13 14 15 17 17 18 19 20 iv

1.4 Karakteristik Silinder …………………………………………….. 1.4.1 Gaya Piston ……………………………………………….. 1.4.2 Kebutuhan Udara ………………………………………… 1.4.3 Kecepatan Silinder ………………………………………... 1.4.4 Langkah Piston ……………………………………………. Lembar Latihan …………………………………………………………. Lembar Jawaban ……………………………………………………….. Kegiatan Belajar 2 : Katup Pneumatik …………………………………... 2.1 Katup Kontrol Arah (KKA) …………………………………………. 2.1.1 Simbol …… ……………………………………………….. 2.1.2 Penomoran Pada Lubang ………………………………… 2.1.3 Metode Pengaktifan …..…………………………………...
Komponen Kontrol Pneumatik

. 2.1 Macam-macam Katup Tekanan ………………………….2 Katup Satu Arah ……………………………………………………. 2.2 2. 2.3 2. 2..2 Katup Pembatas Tekanan ……….2 Rangkaian Katup Tunda Waktu ………………………….5 Jenis Katup KKA ………………………………………….2.1 Macam-macam Katup Tunda Waktu …………………….4 Katup Sakelar Tekanan …………………………………….4.2. 2..4.1 2.5. Dua Arah …………………………………….1.5..4.4 Konfigurasi dan Konstruksi ………………………………. 2.…………………. 2.1 Katup Cekik.1. 2. 2.……….5.3 Katup Fungsi “ATAU” ……………………………………….2.3.2. 2.4 Katup 3/2 ………………………………………… Katup 4/2 ………………………………………… Katup 4/3 ………………………………………… Katup 5/2 ………………………………………… 21 22 22 30 31 32 32 35 35 36 37 38 40 40 41 43 43 44 44 45 45 45 47 49 53 58 60 2.1.4 Katup Buangan-Cepat …………………. 2.5. 2.1. Lembar Jawaban ……………………………………………………….1 Katup Cek ………………………………………………….2 Katup Kontrol Aliran..3 Katup Kontrol Aliran ………………………………………………. 2... 2.……………………….……………….1.3. 2.6 Pemasangan Katup ………………………………………. 2.3 Katup Pengatur Tekanan ……………….T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2.4 Katup Tekanan ……………………………………………………...5... Satu Arah …………………………...4. 2..5..1. Lembar Latihan ………………………………………………………….2 Katup Fungsi “DAN” ……………………………………… 2. Umpan Balik ………………………………………………………………… Daftar Pustaka ……………………………………………………………… Komponen Kontrol Pneumatik v .1.5 Katup Tunda Waktu ……………………………………….

diharapkan akan memudahkan kita dalam mempelajari rangkaian kontrol pneumatik untuk memecahkan persoalan-persoalan mesin pneumatik. penekanannya adalah pada fungsi komponen. tetapi yang dibahas pada modul ini adalah silinder kerja tunggal dan silinder kerja ganda. Ada beberapa jenis silinder. Modul ini membahas tentang komponen-komponen kontrol pneumatik yaitu silinder dan katup pneumatik. katup fungsi logika dan katup tekanan serta katup tunda waktu. cara kerja. karena desainnya adalah tanggung jawab pabrik pembuat komponen. Setelah selesai mempelajari komponen-komponen kontrol pneumatik. Pada kegiatan belajar 2 membahas tentang macam-macam katup kontrol arah.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik PENDAHULUAN Pengetahuan tentang desain dan fungsi komponen yang sesuai digabungkan ke dalam sistem kontrol pneumatik adalah penting sistem direncanakan dan dibuat. Komponen Kontrol Pneumatik vi . Semua ini dapat dipelajari pada kegiatan belajar 1. yang juga dapat bervariasi dengan keterbatasan tergantung pada desain komponen. Ukuran sambungan saluran biasanya menunjukkan kapasitas kontrol atau operasinya. sebelum Untuk para ahli kontrol pneumatik atau mekanik. Pada silinder yang perlu diketahui adalah konstruksi. kecepatan silinder dan kebutuhan udara silinder. katup kontrol aliran.

Komponen Kontrol Pneumatik vii . memahami fungsi katup tekanan . memahami karakteristik silinder . memahami silinder kerja ganda. 2. memahami silinder kerja tunggal. memahami prinsip kerja katup kontrol aliran. 5. memahami prinsip kerja katup satu arah. 6. 4. 7. memahami fungsi katup tunda waktu. 8.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik TUJUAN UMUM PEMBELAJARAN Setelah pelajaran selesai peserta harus dapat: 1. 3. memahami prinsip kerja katup kontrol arah.

Sebelum mempelajari modul ini perlu terlebih dahulu mempelajari modul tentang “ Pembangkitan dan Pendstribusian Udara Bertekanan “. modul ini dapat memenuhi tuntutan seperti yang tertulis pada profil kompetensi tamatan . Jawaban pertanyaan anda dapat mengukur sendiri sampai sejauh mana anda memahami materi yang diberikan. anda dapat mempelajari modul selanjutnya yaitu modul pneumatik tentang “Rangkaian Pneumatik “. Sebelum memulai kegiatan selanjutnya. Khusus siswa-siswa SMK Bidang Keahlian Teknik Elektro. Selelah itu mulailah mempelajari modul ini secara urut dari kegiatan 1 sampai kegiatan 2. Setelah belajar modul “ Komponen Kontrol Pneumatik “ . lembar latihan dan lembar jawaban. Selamat belajar ! Komponen Kontrol Pneumatik viii .T ekn ik Ins ta las i L is tr ik PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL Modul ini dapat digunakan siapa saja terutama siswa-siswa SMK Bidang Keahlian Teknik Mesin dan Teknik Elektro yang ingin mempelajari dasar-dasar pneumatik tentang komponen-komponen pneumatik. Kunci jawaban ada pada lembar jawaban. jawablah pertanyaan-pertanyaan pada lembar jawaban. Modul ini berisi dua kegiatan pembelajaran yaitu : • • Kegiatan Belajar 1 : Silinder Pneumatik Kegiatan Belajar 2 : Katup Pneumatik Setiap kegiatan belajar berisi informasi teori.

4. Gerakan putar : Motor udara Aktuator yang berputar (ayun) Komponen Kontrol Pneumatik 1 . Silinder kerja ganda. menentukan kebutuhan udara yang dibutuhkan silinder 9.1. 2. Sinyal keluaran dikontrol oleh sistem kontrol dan aktuator bertanggung jawab pada sinyal kontrol melalui elemen kontrol terakhir. 5. 7. Pendahuluan Aktuator adalah bagian keluaran untuk mengubah energi suplai menjadi energi kerja yang dimanfaatkan. menyebutkan bagian-bagian silinder kerja tunggal. menyebutkan bagian-bagian silinder kerja ganda. menjelaskan prinsip kerja silinder kerja ganda. menyebutkan kegunaan silinder. menentukan gaya piston silinder. menjelaskan prinsip kerja silinder kerja tunggal. menjelaskan pemasangan silinder 6. 8. : 1. Gerakan lurus (gerakan linear) : ∗ ∗ ∗ ∗ Silinder kerja tunggal. 3. 1. 2. Aktuator pneumatik dapat digolongkan menjadi 2 kelompok : gerak lurus dan putar. menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan silinder.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Kegiatan Belajar 1 SILINDER PNEUMATIK Tujuan Khusus Pembelajaran Peserta dapat : 1.

piston dengan magnet tetap Silinder kerja ganda Simbol aktuator gerakan putar : SIMBOL NAMA KOMPONEN Motor udara. Silinder Kerja Tunggal 1. putaran dua arah .2.kapasitas bervariasi. Putaran dua arah. Motor udara. Jika lubang pembuangan tidak diproteksi dengan sebuah penyaring akan memungkinkan masuknya partikel halus dari debu ke dalam silinder yang bisa merusak seal. kapasitas bervariasi. Motor udara. kapasitas tetap. Aktuator putar lintasan terbatas.2. Pembuangan udara pada sisi batang piston silinder dikeluarkan ke atmosfir melalui saluran pembuangan. putaran satu arah. putaran satu arah. Komponen Kontrol Pneumatik 2 . 1.1 Konstruksi Silinder kerja tunggal mempunyai seal piston tunggal yang dipasang pada sisi suplai udara bertekanan.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Simbol-simbol aktuator linear sebagai berikut : SIMBOL NAMA KOMPONEN Silinder kerja tunggal Silinder kerja tunggal .

3. Silinder hanya bisa memberikan gaya kerja ke satu arah .T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Apabila lubang pembuangan ini tertutup akan membatasi atau menghentikan udara yang akan dibuang pada saat silinder gerakan keluar dan gerakan akan menjadi tersentak-sentak atau terhenti. 4. Gerakan piston kembali masuk diberikan oleh gaya pegas yang ada didalam silinder direncanakan hanya untuk mengembalikan silinder pada posisi awal dengan alasan agar kecepatan kembali tinggi pada kondisi tanpa beban. sisi yang lain terbuka ke atmosfir. langkah silinder dibatasi oleh panjangnya pegas .1 : Konstruksi Silinder Kerja Tunggal 1. 2. seperti : • menjepit benda kerja 3 Komponen Kontrol Pneumatik .2. Selama bergerak permukaan seal bergeser dengan permukaan silinder. 1. 5. Seal terbuat dari bahan yang fleksibel yang ditanamkan di dalam piston dari logam atau plastik.2 Prinsip Kerja Dengan memberikan udara bertekanan pada satu sisi permukaan piston. Gambar konstruksi silinder kerja tunggal sebagai berikut : 5 1 Keterangan 1.2.3 Kegunaan Menurut konstruksinya silinder kerja tunggal dapat melaksanakan berbagai fungsi gerakan . Pada silinder kerja tunggal dengan pegas. Oleh karena itu silinder kerja tunggal dibuat maksimum langkahnya sampai sekitar 80 mm. 2 3 4 Rumah silinder Lubang masuk udara bertekanan Piston Batang piston Pegas pengembali Gambar 1.

3 Silinder Ganda 1. Piston . Saluran keluar 4. Seal 6. 1. Bearing 7.1 Konstruksi Konstruksi silinder kerja ganda adalah sama dengan silinder kerja tunggal. Batang / rumah silinder 2. Silinder kerja ganda mempunyai dua saluran (saluran masukan dan saluran pembuangan).3. Batang piston Komponen Kontrol Pneumatik 4 5. bantalan. Saluran masuk 3.4. Macam-Macam Silinder Kerja Tunggal Ada bermacam-macam perencanaan silinder kerja tunggal termasuk : • • Silinder membran (diafragma) Silinder membran dengan rol 1. Konstruksinya dapat dilihat pada gambar berikut ini : Gambar 1. ring pengikis dan bagian penyambungan.2. piston dengan seal. tetapi tidak mempunyai pegas pengembali. batang piston.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik • • • • pemotongan pengeluaran pengepresan pemberian dan pengangkatan.2 : Konstruksi Silinder Kerja Ganda Keterangan : 1. Silinder terdiri dari tabung silinder dan penutupnya.

20° C untuk . Untuk memperpanjang usia komponen seal permukaan dalam tabung silinder dikerjakan dengan mesin yang presisi. batang piston harus dilapisi chrom. Gaya yang diberikan pada batang piston gerakan keluar lebih besar daripada gerakan Komponen Kontrol Pneumatik 5 . Kedua penutup bisa diikatkan pada tabung silinder dengan batang pengikat yang mempunyai baut dan mur. maka gaya diberikan pada sisi permukaan piston tersebut sehingga batang piston akan terdorong keluar sampai mencapai posisi maksimum dan berhenti. Untuk menghindari korosi dan menjaga kelangsungan kerjanya.3. atau perunggu. Keuntungan silinder kerja ganda dapat dibebani pada kedua arah gerakan batang pistonnya. Gerakan silinder kembali masuk.80° C s/d s/d s/d + 80° C + 190° C + 200° C Ring O normal digunakan untuk seal diam. Ring seal dipasang pada ujung tabung untuk mencegah kebocoran udara. Batang piston terbuat dari baja yang bertemperatur tinggi.2 Prinsip Kerja Dengan memberikan udara bertekanan pada satu sisi permukaan piston (arah maju) . diberikan oleh gaya pada sisi permukaan batang piston (arah mundur) dan sisi permukaan piston (arah maju) udaranya terbuka ke atmosfir. Penutup akhir tabung adalah bagian paling penting yang terbuat dari bahan cetak seperti aluminium besi tuang. Untuk aplikasi khusus tabung silinder bisa dibuat dari aluminium . Rancangan khusus dipasang pada suatu area dimana tidak boleh terkena korosi. Bahan seal pasak dengan alur ganda : • • • Perbunan Viton Teflon untuk . kuningan dan baja pada permukaan yang bergeser dilapisi chrom keras. Bantalan penyangga gerakan batang piston terbuat dari PVC.20° C untuk .T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Biasanya tabung silinder terbuat dari tabung baja tanpa sambungan. Di depan bantalan ada sebuah ring pengikis yang berfungsi mencegah debu dan butiran kecil yang akan masuk ke permukaan dalam silinder. 1. Ini memungkinkan pemasangannya lebih fleksibel. sedangkan sisi yang lain (arah mundur) terbuka ke atmosfir.

tekanan bantalan pada tabung silinder dan batang piston dapat diterima. Sebagai akibatnya adalah : • • • Tekanan samping yang besar pada bantalan silinder memberikan indikasi bahwa pemakaian silinder meningkat. pada silinder kerja ganda piston dipasang dengan seal jenis cincin O atau membran. walaupun faktor lengkungan dan bengkokan yang diterima batang piston harus diperbolehkan. Alasan ini adalah penyederhanaan yang penting sekali dalam penyimpanan.3. Seperti silinder kerja tunggal. Pemasangan silinder dan kopling batang piston harus digabungkan dengan hati-hati pada penerapan yang relevan. secepat itu pula tekanan terjadi pada silinder. karena silinder harus dibebani hanya pada arah aksial. Jika sumbu salah gabung dan tidak segaris dipasang. Karena efektif permukaan piston dikurangi pada sisi batang piston oleh luas permukaan batang piston Silinder aktif adalah dibawah kontrol suplai udara pada kedua arah gerakannya. Tekanan samping ini sering mendahului faktor pengurangan perawatan silinder yang sudah direncanakan sebelumnya. Pemasangan bantalan silinder yang dapat diatur dalam tiga dimensi membuat kemungkinan untuk menghindari tekanan bantalan yang berlebihan pada silinder. Secepat gaya dipindahkan ke sebuah mesin. 1. lebih khusus lagi dimana silinder pneumatik dengan jumlah besar digunakan seperti halnya silinder dasar dan bagian pemasangan dipilih secara bebas membutuhkan untuk disimpan.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik masuk. Tekanan samping pada batang piston akan mengikis bantalan Tekanan tidak seimbang pada seal piston dan batang piston. Silinder bisa dirancang dengan jenis pemasangan permanen jika tidak harus diatur setiap saat. silinder bisa menggunakan jenis pemasangan yang diatur.3. Momen bengkok yang akan terjadi selanjutnya dibatasi oleh penggesekan yang bergeser pada Komponen Kontrol Pneumatik 6 . Alternatif lain. Pemasangan Silinder Jenis pemasangan silinder ditentukan oleh cara cara gerakan silinder yang ditempatkan pada sebuah mesin atau peralatan . yang bisa diubah dengan menggunakan perlengkapan yang cocok pada prinsip konstruksi modul. Pada prinsipnya panjang langkah silinder dibatasi.

Gambar di bawah menunjukkan cara pemasangan silinder. Gambar 1.3. sehingga bisa mencapai secara maksimum perawatan yang sudah direncanakan. batang piston berlubang untuk mulut pengisap. Ini bertujuan bahwa silinder diutamakan bekerja hanya pada tekanan yang sudah direncanakan. Aplikasi robot dengan gambaran khusus seperti batang piston tanpa putaran. Komponen Kontrol Pneumatik 7 .3 : Cara pemasangan silinder 1.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik bantalan.4 • • • • • • • Kegunaan Silinder pneumatik telah dikembangkan pada arah berikut : Kebutuhan penyensoran tanpa sentuhan (menggunakan magnit pada piston untuk mengaktifkan katup batas /limit switch dengan magnit ) Penghentian beban berat pada unit penjepitan dan penahan luar tibatiba. Silinder rodless digunakan dimana tempat terbatas. Alternatif pembuatan material seperti plastik Mantel pelindung terhadap pengaruh lingkungan yang merusak. misalnya sifat tahan asam Penambah kemampuan pembawa beban.

harus dilakukan upaya pengamanan khusus.5. dapat diatur pada kedua sisi dan piston bermagnet.3. Silinder kerja ganda dengan bantalan udara tetap dalam satu arah.3. 1.1 Silinder Dengan Peredam Diakhir Langkah Jika silinder harus menggerakkan massa yang besar. maka dipasang peredam di akhir langkah untuk mencegah benturan keras dan kerusakan silinder. Komponen Kontrol Pneumatik 8 . Pasanglah peredam kejut luar untuk memperkuat daya hambat. dapat diatur pada kedua sisi.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 1. Silinder kerja ganda dengan bantalan udara ganda . dapat diatur pada satu sisi. peredam piston memotong langsung jalan arus pembuangan udara ke udara bebas. Untuk itu disisakan sedikit sekali penampang pembuangan yang umumnya dapat diatur. Sebelum mencapai posisi akhir langkah.5 Macam-Macam Silinder Kerja Ganda SIMBOL NAMA KOMPONEN Silinder kerja ganda Silinder kerja ganda dengan batang piston sisi ganda. Silinder kerja ganda dengan bantalan udara ganda . kecepatan masuk dikurangi secara drastis. Jangan sekali-sekali menutup baut pengatur secara penuh sebab akan mengakibatkan batang piston tidak dapat mencapai posisi akhir gerakannya. Silinder kerja ganda dengan bantalan udara tunggal . Pada gaya yang sangat besar dan percepatan yang tinggi. Sepanjang bagian terakhir dari jalan langkah .

T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Konstruksi silinder kerja ganda dengan bantalan udara sebagai berikut : Gambar 1. diameter silinder dan tahanan gesekan dari komponen perapat.4 Karakteristik Silinder Karakteristik penampilan silinder dapat ditentukan secara teori atau dengan data-data dari pabriknya.4. data-data dari pabriknya adalah lebih menyakinkan. tetapi biasanya untuk pelaksanaan dan penggunaan tertentu.1 Gaya Piston Gaya piston yang dihasilkan oleh silinder bergantung pada tekanan udara. Kedua metode ini dapat dilaksanakan.4 : silinder kerja ganda dengan bantalan udara 1. p Untuk silinder kerja tunggal : π ⎞ ⎛ F = ⎜ D2 ⋅ p ⎟ − f 4 ⎠ ⎝ Untuk silinder kerja ganda : • langkah maju F = D2 ⋅ π 4 p Komponen Kontrol Pneumatik 9 . 1. Gaya piston secara teoritis dihitung menurut rumus berikut : F = A.

4 7 14 30 61 84 124 243 495 971 1983 3033 1.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik • langkah mundur F = D2 − d 2 ⋅ ( )πp 4 Keterangan : F f D d A p = = = = = = Gaya piston ( N ) Gaya pegas ( N ) Diameter piston ( m ) Diameter batang piston ( m ) Luas penampang piston yang dipakai (m2 ) Tekanan kerja ( Pa ) Pada silinder kerja tunggal.2 6 12 24 52 72 106 208 424 832 1700 2600 1.10 % adalah tahanan gesekan.0 10 20 42 86 120 176 346 706 1386 2832 4332 Komponen Kontrol Pneumatik 10 .0 5 10 21 43 60 88 173 353 693 1416 2166 1. Berikut ini adalah gaya piston silinder dari berbagai ukuran pada tekanan 1 . Diame ter Piston ( mm ) 6 12 16 25 35 40 50 70 100 140 200 250 0.6 8 16 34 70 96 142 278 566 1110 2266 3466 1.6 3 6 13 26 36 53 104 212 416 850 1300 0.10 bar.2 1 2 4 8 12 17 34 70 138 283 433 0.4 2 4 9 17 24 35 69 141 277 566 866 0. Sekitar 3 . gaya piston silinder kembali lebih kecil daripada gaya piston silinder maju karena pada saat kembali digerakkan oleh pegas . Sedangkan pada silinder kerja ganda. gaya piston silinder kembali lebih kecil daripada silinder maju karena adanya diameter batang piston akan mengurangi luas penampang piston.8 4 8 17 35 48 71 139 283 555 1133 1733 1 2 3 4 Tekanan Kerja ( bar ) 5 6 7 8 9 10 Gaya Piston ( kgf ) 1.8 9 18 38 78 108 159 312 636 1248 2550 3800 2.

225 0.611 1.618 0.048 0.096 0.392 0.4.008 0.004 0.150 0.867 0.010 0.134 0.197 2.0025 0.016 0.010 0.009 0.019 0.122 0.056 0.839 1.020 0.687 1.002 0.923 1.047 0.029 0.0008 0.299 0.644 3.103 0.066 0. Silinder pneumatik dapat dibebani lebih besar dari kapasitasnya.024 0.061 0.077 0.033 0.113 0.007 0.459 0.441 0. konsumsi udara dihitung sebagai berikut : Kebutuhan udara = perbandingan kompresi x luas penampang piston x panjang langkah Perbanding an kompresi = 1.019 0.966 0.0019 0.495 3.0014 0.038 0.768 0.187 0.243 Komponen Kontrol Pneumatik 11 .097 0.303 0.006 0.003 0.191 0.817 0.383 0.110 0.043 0.747 4.374 0.899 1.052 0.835 2.346 2.139 3.155 0.356 5.916 0.011 0.531 2.535 1.292 0.135 0.763 1.153 0. Pada tekanan kerja.037 0.342 0.084 0.039 0. tabel di bawah ini menunjukkan kebutuhan udara persentimeter langkah piston untuk berbagai macam tekanan dan diameter piston silinder.262 0.0016 0.028 0.093 0.172 0.0030 0.307 0.0005 Tekanan Kerja ( bar ) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kebutuhan udara ( q ) dalam liter/cm langkah 0.018 0. Beban yang tinggi menyebabkan silinder diam.025 0.0011 0.058 0.011 0.073 0. Tabel : Kebutuhan udara silinder pneumatik persentimeter langkah dengan fungsi tekanan kerja dan diameter piston.010 0.014 0.038 0.049 0. terlebih dahulu harus diketahui konsumsi udara pada sistem.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Silinder pneumatik tahan terhadap beban lebih.411 0.0022 0. diameter piston dan langkah tertentu.210 0.076 0.085 0.031 Untuk mempermudah dan mempercepat dalam menentukan kebutuhan udara.048 2.052 4.227 1.004 0.231 0.014 0.601 1.031 + tekanan kerja (bar ) 1.115 0.2 Kebutuhan Udara Untuk menyiapan udara dan untuk mengetahui biaya pengadaan energi.008 0.750 1.452 0. 1. Diameter Piston ( mm ) 6 12 16 25 35 40 50 70 100 140 200 250 0.006 0.443 3.335 0.075 0.012 0.022 0.0027 0.

Silinder khusus dapat mencapai kecepatan 10 m/s.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Kebutuhan udara dihitung dengan satuan liter/menit (l/min) sesuai dengan standar kapasitas kompresor. n .5 m/s (6 .1-1.4. diameter dalam dan panjang saluran antara silinder dan katup kontrol arah. Kecepatan silinder pneumatik tergantung : • • • • beban ( gaya yang melawan silinder ). Kebutuhan udara silinder sebagai berikut : Silinder kerja tunggal : Q = s . Kecepatan rata-rata piston tergantung dari gaya luar yang melawan piston (beban) dan ukuran lubang aliran dapat dilihat seperti pada tabel berikut : Komponen Kontrol Pneumatik 12 . ukuran katup kontrol arah yang digunakan.3 Kecepatan Piston Kecepatan piston rata-rata dari silinder standar berkisar antara 0. Kecepatan piston dapat diatur dengan katup pengontrol aliran dan dapat ditingkatkan dengan katup pembuang cepat yang dipasang pada sistem kontrol tersebut. tekanan kerja. q dalam l/min Silinder kerja Ganda : Q = 2 ⋅( s ⋅ n ⋅ q ) dalam l/min Keterangan : Q q s n = = = = kebutuhan udara silinder ( l/min ) kebutuhan udara persentimeter langkah piston panjang langkah piston ( cm ) jumlah siklus kerja per menit 1.90 m/min).

tekanan mekanik batang piston dan bantalan menjadi terlalu besar. Untuk menghindari bahaya tekanan. Komponen Kontrol Pneumatik 13 .T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Diameter Piston mm 25 35 50 70 70 100 100 140 140 200 200 200 250 Lubang Masuk mm 4 7 7 7 9 7 9 9 12 9 12 19 19 580 980 480 230 530 120 260 130 300 65 145 330 240 0 20 Beban dalam % 40 60 80 Kecepatan Piston dalam mm/detik 530 885 440 215 470 110 230 120 260 60 130 300 220 450 785 400 200 425 90 205 110 230 55 120 280 185 380 690 360 180 380 80 180 90 200 50 105 250 165 300 600 320 150 310 60 130 70 170 40 85 215 115 1. diameter batang piston pada langkah yang panjang harus sedikit lebih besar.4 Langkah Piston Langkah silinder pneumatik tidak boleh lebih dari 2 m.4. Akibat langkah yang panjang. sedangkan untuk silinder rodless jangan lebih dari 10 m.

........ Di mana silinder kerja tunggal digunakan? Silinder Kerja Ganda 4.. 6........................... ............................................ ........ Sebutkan bagian-bagian silinder kerja tunggal..........T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Lembar Latihan Silinder Kerja Tunggal 1........ Lebih besar mana gaya yang dihasilkan silinder kerja tunggal pada saat maju atau mundur? Jelaskan ! 3...... ..... 4..... 5... Komponen Kontrol Pneumatik 14 ............... 2........ 6.. seperti pada gambar berikut! 5 1 1.. 5...... Bagaimana silinder dapat bergerak maju dan mundur ? Karakteristik Silinder 6..... 4. Silinder dengan diameter piston 70 mm........... mempunyai lubang masuk 9 mm.…....................................................................................... …...................... ......-kah kecepatan gerak silinder............. Sebutkan bagian-bagian silinder kerja ganda ...... 2... 3.............. .......….... seperti gambar berikut ini ! 1............. . …................. ............ …. …................... Bandingkan gaya langkah mundur dengan gaya langkah maju pada silinder kerja ganda ! Mengapa demikian ? 7........................ 2 3 4 2...................... 7................ 5..... 3..... .. beban terpasang 60% beban penuh............. .... Berapa m/det..

penjepit benda kerja dsb. seperti pada gambar berikut ! 5 1 Jawab 1. seperti gambar berikut ini ! Komponen Kontrol Pneumatik 15 . Di mana silinder kerja tunggal digunakan? Jawab : • Silinder kerja tunggal digunakan pada mesin pengepresan. Batang piston 5. 3. Sebutkan bagian-bagian silinder kerja ganda. Piston 4. Lubang masuk udara bertekanan 3.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Lembar Jawaban Silinder Kerja Tunggal 1. Oleh karena itu gaya yang dihasilkan silinder maju lebih besar dari pada silinder mundur. gaya piston maju harus lebih besar dari gaya pegas. Rumah silinder 2. Silinder Kerja Ganda 4. Lebih besar mana gaya yang dihasilkan silinder kerja tunggal pada saat maju atau mundur? Jelaskan ! Jawab : • Untuk dapat maju . Sebutkan bagian-bagian silinder kerja tunggal. Pegas pengembali 2 3 4 2.

beban terpasang 60% beban penuh. Bagaimana silinder dapat bergerak maju dan mundur ? Jawab : Bila pada saluran masuk (lubang 2) dialiri udara bertekanan dan pada saluran keluar (lubang 3) terhubung ke atmosfir. Bearing 7. Saluran keluar 4. Karakteristik Silinder 6. posisi batang silinder tetap di luar. Piston 5. Bandingkan gaya langkah mundur dengan gaya langkah maju pada silinder kerja ganda ! Mengapa demikian ? Jawab: • Pada silinder kerja ganda gaya piston mundur juga lebih kecil daripada gaya piston maju.38 m/detik ) Komponen Kontrol Pneumatik 16 . mempunyai lubang masuk 9 mm. Berapa m/det. batang silinder tidak dapat masuk ke dalam rumah silinder. Seal 6.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Jawab : 1.-kah kecepatan gerak silinder. sebab pada saat mundur luas penampang piston akan dikurangi seluas batang piston. maka silinder akan maju. maka batang silinder kembali masuk ke dalam rumah silinder. Rumah silinder 2. Aliran dimatikan . Batang piston 5. Saluran masuk 3. Bila aliran masuk dari lubang keluaran (lubang 3) dan lubang masuk (lubang 2) terhubung ke atmosfir. 7. Jawab: • Baca tabel didapatkan 380 mm/detik ( 380 mm/detik = 0. Bila lubang 2 tersumbat. Silinder dengan diameter piston 70 mm.

8. Aliran udara akan lewat. menjelaskan prinsip kerja katup buangan cepat. 7.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Kegiatan Belajar 2 KATUP PNEUMATIK Tujuan Khusus Pembelajaran Peserta dapat : 1. 9. 2. menjelaskan prinsip kerja katup kontrol aliran satu arah. 14. 15. menjelaskan cara kerja katup sakelar tekanan dengan benar. KKA digambarkan dengan jumlah lubang dan jumlah kotak. menjelaskan fungsi katup fungsi “DAN”. 13. 3.1 Katup Kontrol Arah ( KKA ) Katup kontrol arah adalah bagian yang mempengaruhi jalannya aliran udara . 2. 5/2. 4/2. menyebutkan macam-macam cara mengaktifkan KKA. 11. 10. 6. menjelaskan prinsip kerja katup fungsi “ DAN ”. 17. 12. menjelaskan cara kerja katup 3/2. menjelaskan cara membaca simbol KKA. menjelaskan kegunaan katup kontrol aliran satu arah. menjelaskan prinsip kerja katup cek ( Check Valve ). membedakan katup cekik dengan katup kontrol aliran satu arah. menjelaskan cara kerja katup tunda waktu dengan benar. 4. menyebutkan macam-macam katup tekanan. Komponen Kontrol Pneumatik 17 . menjelaskan cara kerja katup pembatas tekanan dengan benar. 5. Lubang-lubang menunjukkan saluran saluran udara dan jumlah kotak menunjukkan jumlah posisi. menyebutkan macam-macam KKA. terblokir atau membuang ke atmosfir tergantung dari lubang dan jalan aliran KKA tersebut. “ATAU” dan katup buangancepat. 18. menyebutkan macam-macam konfigurasi katup tunda waktu. menjelaskan cara kerja katup pengatur tekanan dengan benar. menjelaskan prinsip kerja katup fungsi “ ATAU ”. 16.

jumlah kotak 2 menunjukkan hanya 2 kemungkinan pensakelaran misal : posisi ON dan posisi OFF.0 . digambar di posisi awal Simbol-simbol katup kontrol arah sebagai berikut : SIMBOL 2(A) NAMA KATUP KKA 2/2 .jumlah kotak 3 menunjukkan 3 kemungkinan pensakelaran misal : posisi 1 .1 Simbol Cara membaca simbol katup pneumatik sebagai berikut : Kotak menunjukkan posisi pensakelaran katup Jumlah kotak menunjukkan jumlah posisi pensakelaran katup Contoh : .2 Garis menunjukkan lintasan aliran.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2. N/O 1(P) 2(A) KKA 3/2 . N/C 1(P) 2(A) KKA 2/2 . . N/C 1(P) 3(R) Komponen Kontrol Pneumatik 18 .1. Panah menunjukkan arah aliran Garis blok menunjukkan aliran tertutup ( terblokir ) Garis diluar kotak menunjukkan saluran masukan dan keluaran.

S (katup 5/2 ) • • • membuka aliran 1 ke 2 membuka aliran 1 ke 2 membuka aliran 1 ke 4 12 ( katup 3/2 ) 12 ( katup 5/2 ) 14 ( katup 5/2 ) Z ( katup 3/2 ) Y ( katup 5/2 ) Z ( katup 5/2 ) Komponen Kontrol Pneumatik 19 .1. N/O 1(P) 3(R) 4(A) 2(B) KKA 4/2 1(P) 3(R) 4(A) 2(B) KKA 5/2 5(R) 1(P) 3(S) 4(A) 2(B) KKA 5/3 .A R ( katup 3/2 ) R .T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2(A) KKA 3/2 .4 3 ( katup 3/2 ) 5. Sistem huruf terdahulu digunakan dan sistem penomoran dijelaskan sebagai berikut : Lubang/Sambungan Lubang tekanan ( masukan ) Lubang keluaran Lubang pembuangan Lubang pembuangan Saluran pengaktifan : 1 2. posisi tengah tertutup 5(R) 1(P) 3(S) 2.2 Penomoran Pada Lubang Sistem penomoran yang digunakan untuk menandai KKA sesuai dengan DIN ISO 5599.3 ( katup 5/2 ) DIN ISO 5599 Sistem Huruf P B.

T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2. seperti secara mekanis. satu arah Pneumatis Pengaktifan langsung pneumatik Pengaktifan tidak langsung pneumatik (pilot / pemandu) Komponen Kontrol Pneumatik 20 . pneumatis. elektris dan kombinasi dari semuanya.3 Metode Pengaktifan Metode pengaktifan KKA bergantung pada tugas yang diperlukan . Simbol metode pengaktifan diuraikan dalam standar DIN 1219 berikut ini : Jenis Pengaktifan Mekanik : Operasi tombol Keterangan Tombol Operasi tuas Pedal kaki Pegas kembali Operasi rol Operasi rol.1. Jenis pengaktifan bervariasi.

Komponen Kontrol Pneumatik 21 . Kedudukan katup biasanya ditutupi dengan menggunakan penutup elastis.1. Katup geser : Katup geser memanjang Katup geser rata memanjang Katup geser dengan piringan 2.4.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Jenis Pengaktifan Listrik Keterangan Operasi dengan solenoid tunggal Operasi dengan solenoid ganda Kombinasi Solenoid ganda dan operasi pilot (pemandu ) dengan tambahan manual 2. Katup duduk : • • • • • Katup dengan kedudukan bola Katup dengan kedudukan piringan b.1.1 Katup Duduk Dengan katup duduk aliran terbuka dan tertutup dengan menggunakan bola. Katup ini sangat peka sekali dan tidak tahan terhadap kotoran. piringan dan kerucut. Bagaimanapun juga gaya aktuasinya relatif lebih besar seperti untuk menahan gaya pegas pengembali yang ada di dalam dan tekanan udara.4 Konfigurasi dan Konstruksi Perencanaan dikategorikan sebagai berikut : a. Kedudukan katup mempunyai sedikit bagian yang aktif dan karena itu ia mempunyai kelangsungan hidup yang lama.

1.1.4. kumparan geser yang rata dan katup dengan piringan geser.1b : Katup dalam keadaan aktif Komponen Kontrol Pneumatik 22 .1 Katup 3/2 N/C . pada lubang keluaran sudah ada aliran udara bertekanan yang keluar. 2.5. • posisi normal terbuka (N/O) artinya katup belum diaktifkan. pada lubang keluaran tidak ada aliran udara bertekanan yang keluar.1.1.2 Katup Geser Pada katup geser masing-masing sambungan dihubungkan bersama atau ditutup oleh kumparan geser.1a : Katup dalam keadaan tidak aktif Gambar 2.5 Jenis Katup KKA 2.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2. 2.5. Bola Duduk Gambar 2. Katup 3/2 mempunyai 3 lubang dan 2 posisi.1. Ada 2 konstruksi sambungan keluaran : • posisi normal tertutup (N/C) artinya katup belum diaktifkan.1 Katup 3/2 Katup 3/2 adalah katup yang membangkitkan sinyal dengan sifat bahwa sebuah sinyal keluaran dapat dibangkitkan juga dapat dibatalkan/diputuskan.

Dalam hal ini katup dioperasikan secara manual atau mekanik. Untuk menggerakkan tuas katup sebagai tambahan pengaktifan bisa dipasang langsung pada kepala katup seperti tombol tekan. Dengan tertekannya tuas penekan katup menyebabkan bola duduk menerima gaya dan lepas dari kedudukannya.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Hubungan posisi awal katup adalah lubang keluaran sinyal 2(A) terhubung dengan lubang pembuangan 3 (R). Gaya yang dibutuhkan untuk mengaktifkan tuas tergantung pada tekanan suplai gaya pegas pengembali dan kerugian gesekan dalam katup. Yang membedakan adalah ukuran yang sederhana dan praktis. Sekali tuas penekan dilepas lubang 1(P) tertutup dan lubang keluaran 2(A) terhubung ke lubang pembuangan 3(R) melalui tuas penekan sehingga sinyal dipindahkan.2 : Katup 3/2 N/C. 2.2 Katup 3/2 N/C .1. dalam keadaan tidak aktif Komponen Kontrol Pneumatik 23 . Gaya pegas mengembalikan sebuah bola pada kedudukan katup sehingga mencegah udara bertekanan mengalir dari lubang 1(P) ke lubang keluaran 2(A) . Ukuran katup dan luas permukaan kedudukan katup harus lebih kecil untuk mendapatkan batasan gaya aktifnya yang kecil pula. Konstruksi katup bola duduk sangat sederhana dan oleh karena itu harganya relatif murah. Dalam melakukan ini gaya tekan harus dapat melawan gaya pegas pengembali dan akhirnya udara bertekanan harus mengalir. rol dan sebagainya.5. Dudukan Piring Gambar 2.1. Suplai udara bertekanan ke posisi keluaran katup dan sinyal dikeluarkan.

Karet sealnya sederhana tetapi efektif. Pengembalian ke posisi awal dilakukan oleh pegas pengembali. Selanjutnya dengan menekan tuas piring didorong dari dudukannya sehingga memperbolehkan udara bertekanan mengalir dari lubang masukan 1(P) ke lubang keluaran 2(A). Waktu reaksinya pendek dan gerakan sedikit pada permukaan yang luas cukup untuk mengalirkan udara. lubang masukan 1(P) tertutup dan saluran keluaran terhubung ke atmosfir melalui lubang pembuangan 3(R). Dengan aktifnya tuas menyebabkan tertutupnya saluran udara dari lubang 2(A) ke lubang pembuangan 3(R).T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Gambar 2. Sama juga dengan katup dudukan bola. dalam keadaan aktif Katup yang ditunjukkan disini dikonstruksi pada prinsip dudukan piring. Komponen Kontrol Pneumatik 24 .3 : Katup 3/2 N/C. Katup jenis dudukan piring tunggal adalah jenis tanpa konflik sinyal. Jika dioperasikan dengan lambat tidak ada udara yang hilang . Dengan melepas tuas. katup ini sangat peka dan tidak tahan terhadap kotoran dan mempunyai kelangsungan hidup yang lama.

4 : Katup 3/2 N/O. dalam keadaan tidak aktif Gambar 2. udara dari lubang masukan 1(P) ditutup oleh tangkai duduk dan selanjutnya piringan tertekan sehingga lubang keluaran Komponen Kontrol Pneumatik 25 .1.1. dalam keadaan aktif Sebuah katup 3/2 yang posisi normalnya terbuka mengalirkan udara dari lubang masukan 1(P) ke lubang keluaran 2(A).5.5 : Katup 3/2 N/O.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2.3 Katup 3/2 N/O. Ketika tuas ditekan. Dudukan Piring Gambar 2. dinamakan katup normal terbuka (N/O). Posisi awal lubang masukan 1(P) tersambung ke lubang keluaran 2( A ) melalui tangkai katup dan dudukan piringan menutup lubang ke pembuangan 3(R).

Ketika tuas dilepas.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2(A) terhubung ke atmosfir melalui lubang pembuangan 3(R). menggunakan udara dari luar sebagai pembantu.5.1.. Dengan menggeser rumah luar katup saluran 1(P) terhubung ke saluran keluaran 2(A) pada satu posisi.5. Komponen Kontrol Pneumatik 26 .1. Perbedaan metode pengaktifan bisa diterapkan pada kebutuhan yang sesuai dengan aplikasi itu sendiri. Sekali lagi lubang pembuangan 3(R) tertutup dan udara mengalir dari lubang masukan 1(P) ke lubang keluaran 2(A). mekanik.4 Katup 3/2 Geser Dengan Tangan ( Hand Slide Valve ) Katup 3/2 geser dengan tangan digunakan untuk mensuplai udara dari sebuah leher pensuplai udara ke pemakai.1.1. Katup bisa diaktifkan secara manual.6 : Katup 3/2 Geser Dengan Tangan 2. Ini digolongkan sebagai katup beroperasi dengan pilot tunggal. Gambar 2.5 Katup 3/2 Diaktifkan Secara Pneumatik Katup 3/2 diaktifkan secara pneumatik . Konstruksi katup ini sederhana dan difungsikan sebagai katup pemutus dan penghubung aliran udara. dioperasikan oleh sinyal udara pada lubang pengaktifan 12(Z). piston dengan dua karet seal pada kedudukannya dikembalikan ke posisi awal oleh pegas pengembali. Bentuknya kompak dan mempunyai dua penahan untuk memegang katup pada kondisi terbuka atau tertutup. 2. listrik dan pneumatik. sedangkan posisi yang lain saluran keluaran 2(A) terhubung ke saluran pembuangan 3(R) yang membuang udara dari rangkaian kerja ke atmosfir. karena hanya ada satu sinyal kontrol dan katup mempunyai pegas pengembali.

Pada saat sinyal pada lubang 12(Z) dihentikan . Udara yang diberikan pada lubang pengaktifan 12( Z ) menggerakkan tuas katup dan akibatnya pegas tertekan.5.7a : Katup 3/2 Pilot Tunggal N/C. sedangkan lubang pembuangan 3(R) terblok. Katup yang diaktifkan secara pneumatik dapat dipakai sebagai sebuah elemen kontrol akhir dengan sistem kontrol tidak langsung.7b : Katup 3/2 Pilot Tunggal N/C.1.1. dalam keadaan aktif 2.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2.5.5. akibatnya udara yang ada dalam elemen kerja (silinder) dibuang ke saluran pembuangan 3(R) melalui saluran keluaran 2(A). tuas katup kembali ke posisi awal oleh gaya pegas pengembali. Komponen Kontrol Pneumatik 27 .5.1. Piringan menutup sambungan antara saluran masukan 1(P) dan saluran keluaran 2(A).1. Konstruksi katup 3/2. Saluran masukan 1(P) dan saluran keluaran 2(A) mengeluarkan sinyal. Gambar 2.2 Katup 3/2 Pilot Tunggal N/O Pada posisi awal katup adalah normal terbuka karena saluran masukan 1(P) terhubung dengan saluran keluaran 2(A). pilot tunggal dengan posisi normal tertutup seperti pada gambar di bawah.1 Katup 3/2 Pilot Tunggal N/C Pada posisi awal katup adalah normal tertutup karena saluran masukan 1(P) diblok oleh kedudukan piringan dan saluran keluaran 2(A) dibuang ke atmosfir. dalam keadaan tidak aktif Gambar 2.

Pada saat sinyal pada lubang 12(Z) dihentikan . Saluran masukan 1(P ) terblok dan saluran keluaran 2(A) tidak mengeluarkan sinyal. sedangkan lubang pembuangan 3(R) terhubung dengan saluran keluaran 2(A) sehingga udara yang ada dalam elemen kerja ( silinder ) dibuang ke saluran pembuangan 3(R). tuas katup kembali ke posisi awal oleh gaya pegas pengembali. Jika tuas rol diaktifkan katup pilot membuka .T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Udara yang diberikan pada lubang pengaktifan 12( Z ) menggerakkan tuas katup dan akibatnya pegas tertekan. Gaya pengaktifan katup sering sebagai faktor penentu dalam aplikasinya. Gambar 2.6 Katup 3/2 Dengan Tuas Rol Untuk menahan gaya tekan pengaktifan yang tinggi. pilot tunggal dengan posisi normal terbuka seperti pada gambar di bawah.5. pengaruhnya adalah tertutupnya saluran Komponen Kontrol Pneumatik 28 .1. Pada katup 3/2 dengan posisi normal tertutup. dalam keadaan tidak aktif 2. Udara bertekanan mengalir ke piston servo dan mengaktifkan piringan katup utama. Bantuan servo memperbolehkan katup diaktifkan dengan gaya pengaktifan yang rendah. Sebuah lubang kecil menghubungkan saluran masukan 1(P) dengan katup pilot. sehingga aliran udara dari lubang 1(P) mengalir ke lubang 2( A ) Konstruksi katup 3/2.8 : Katup 3/2 Pilot Tunggal N/O. hal ini meningkatkan kepekaan dari sistem. KKA yang diaktifkan secara mekanik bisa dilengkapi dengan katup pilot internal dan piston servo untuk membantu pembukaan katup.1.

Konstruksi katup 3/2 normal tertutup (N/C) dengan tuas rol digambarkan seperti di bawah : Gambar 2.9 : Katup 3/2 . pengaktifan dengan rol Komponen Kontrol Pneumatik 29 . diikuti oleh kedua kedudukan piringan membuka udara mengalir dari saluran 1(P) ke 2(A). NC pengaktifan dengan tuas rol Jenis katup 3/2 normal terbuka dengan tuas rol diperlihatkan seperti pada gambar di bawah : Gambar 2.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik keluaran 2(P) ke saluran pembuangan 3(R).10 : Katup 3/2 . NO.

1. saluran 1(P) ke 2(B) dan 4(A) ke 3(R) ditutup oleh gerakan pertama.5. Sebuah katup 4/2 dengan kedudukan piringan adalah sama konstruksi dengan kombinasi gabungan dua katup 3/2 : satu katup N/C dan satu katup N/O.2 Katup 4/2 Katup 4/2 mempunyai 4 lubang dan 2 posisi kontak. Tuas katup bisa dioperasikan dengan menambah pada bagian puncak tuas dengan lengan rol atau tombol tekan. aliran antara saluran 1(P) ke 4(A) dan 2(B) ke 3(R) terbuka. Dengan menekan tuas katup selanjutnya piringan melawan gaya pegas pengembali . tertekan diperlihatkan seperti pada gambar di bawah : Komponen Kontrol Pneumatik 30 . dalam keadaan tidak aktif Jika dua tuas diaktifkan secara bersamaan.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2. Katup 4/2 dudukan piringan. Konstruksi katup 4/2 dengan posisi awal ( tidak tertekan ) seperti pada gambar di bawah : Gambar 2.11 : Katup 4/2 dudukan piringan.

dalam keadaan aktif 2.3 Katup 4/3 Katup 4/3 mempunyai 4 lubang dan 3 posisi kontak.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Gambar 2.12 : Katup 4/2 dudukan piringan . plat geser dengan posisi tengah tertutup Komponen Kontrol Pneumatik 31 . Contoh katup ini adalah katup geser pelat dengan pengaktifan tangan. Konstruksi katup diperlihatkan seperti pada gambar di bawah : Gambar 2.5.1.13 : Katup 4/3 .

Pada saat aktif. elektris atau pneumatis adalah mungkin.4 Katup 5/2 Katup 5/2 mempunyai 5 lubang dan 2 posisi kontak. Dalam memasang katup geser. Pada katup geser memanjang semua cara pengaktifan manual. kanal-kanal sirkulasi akan saling berhubungan dengan berputarnya dua piringan.5. kalau tidak kerugian kebocoran akan menjadi lebih besar. Perapatan yang sudah dikenal dalam hidrolik : “Logam pada logam“ memerlukan pengepasan piston geser secara tepat ke dalam rumahnya.1. jarak antara dudukan dan rumahnya tidak boleh lebih dari 0. aliran dari 1(P) ke 4(A) dan 2(B) ke 3(R) terbuka.004 mm. Untuk menjaga kerusakan seal.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Pada saat posisi normal ( pegangan di tengah ). Katup ini dipakai sebagai elemen kontrol akhir untuk menggerakkan silinder. mekanis. Jika pegangan diputar ke kanan. Pada katup pneumatik. 2.002 . perapatan menjadi masalah . Untuk menghemat biaya pemasangan yang mahal. lubang sambungan bisa ditempatkan di sekitar keliling rumah dudukan. Juga untuk pengembalian katup ke posisi awal. dapat digunakan cara-cara pengaktifan ini. katup ini memiliki sebuah piston kontrol yang dengan gerakan horisontalnya menghubungkan atau memisahkan saluran yang sesuai.Katup geser memanjang adalah contoh katup 5/2. Sebagai elemen kontrol. dudukan sering memakai seal jenis O. aliran dari 1(P) ke 2(B) dan 4(A) ke 3(R) terbuka. semua lubang terblokir.Jalan pengaktifan jauh lebih panjang dari pada katup duduk.0. prinsip geser mendatar sebagai berikut : Komponen Kontrol Pneumatik 32 . Contoh katup 5/2 . Tenaga pengoperasiannya adalah kecil sebab tidak ada tekanan udara atau tekanan pegas yang harus diatasi ( prinsip dudukan bola atau dudukan piring ). Sedangkan jika pegangan diputar ke kiri.

14 : Katup 5/2 . Posisi yang baru ini disimpan sampai sinyal yang lain diberikan . Posisi pensakelaran terakhir dipertahankan sampai posisi pensakelaran baru diawali oleh sinyal pilot pada sisi yang berlawanan dari sinyal terakhir.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Gambar 2. Dudukan piringan seal menyambung saluran masukan 1(P) ke saluran keluaran 2(B) atau 4(A). Konstruksi katup 5/2 dudukan piringan seperti gambar berikut : Komponen Kontrol Pneumatik 33 . Ada tombol manual yang menumpang pada setiap akhir dari pengoperasian katup secara manual. Katup 5/2 dengan pilot udara ganda mempunyai sifat memori kontrol. Seal kedua pada kumparan piston menghubungkan saluran pembuangan ke lubang pembuangan . Prinsip Geser Mendatar Metode lain dari seal adalah menggunakan sebuah dudukan piring penutup dengan gerakan memutus-menghubung relatif kecil.

Maka dari itu praktis dan tepat sekali untuk memakai katup-katup dengan pengaktifan yang Komponen Kontrol Pneumatik 34 . Pemakaian ini pada katup-katup dalam bagian daya dan katup-katup dalam bagian kontrol. Untuk semua perencanaan pemasangan katup batas harus bisa diatur posisi kedudukan dengan mudah agar supaya mendapatkan keserasian koordinasi gerakan silinder dalam urutan kontrol. hal ini memberikan kemudahan untuk mereparasi dan memelihara. untuk keandalan sifat pensakelaran harus bebas gangguan pengoperasiannya. Dudukan Piringan 2. Katup yang diaktifkan secara manual untuk sinyal masukan pada umumnya ditempatkan pada panel kontrol atau meja kontrol.1. 2.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Gambar 2.6.1.1 Pemasangan Katup Pemasangan Katup Dengan Tuas Rol Keandalan sebuah pengontrolan bertahap sangat bergantung pada pemasangan katup batas ( limit switch ) yang benar.2 Penempatan Katup Pemilihan katup yang cermat.15 : Katup 5/2. penempatan yang benar adalah sebagai salah satu persyaratan lanjutan.1.6 2.6.

2. udara mengalir bebas dengan kerugian tekanan seminimal mungkin.2 Katup Satu Arah Katup satu arah adalah bagian yang menutup aliran ke satu arah dan melewatkannya ke arah yang berlawanan. Tekanan pada sisi aliran membebani bagian yang menutup dan dengan demikian meningkatkan daya perapatan katup. Katup daya sebaiknya ditempatkan sedekat mungkin dengan silinder. seperti katup kontrol aliran satu arah. katup fungsi “ATAU”. Katup-katup daya mempunyai tugas pengaktifan pneumatik untuk mengatur sesuai dengan urutan tahapan kontrol yang telah ditentukan.1 Katup Cek ( Check Valves ) Katup satu arah dapat menutup aliran secara sempurna pada satu arah. mengeluarkan atau memodifikasi kerjanya. 2. Katup daya bisa ditempatkan langsung ke pengatur. pelat atau membran. Persyaratan dasar untuk katup daya adalah untuk membolehkan membalik aliran udara ke silinder begitu sinyal kontrol telah diberikan. Pada arah yang berlawanan. katup fungsi “DAN”. Penomoran komponen dan pemakai indikator sebagai penunjuk untuk sinyal kontrol merupakan hal yang paling penting guna untuk mengurangi waktu tunda dan memudahkan pencarian kesalahan. Komponen Kontrol Pneumatik 35 . katup buangan cepat. bola. Variasi pengaktifan tersedia untuk macam yang luas dari fungsi masukan. Disamping itu katup satu arah dengan fungsi elemen yang lain membentuk elemen yang terpadu. Agar supaya panjang saluran bisa diperpendek dan juga waktu pensakelaran seideal dan sependek mungkin . Penempatan katup kontrol harus bisa diambil dengan mudah untuk mereparasi. Sebagai keuntungan tambahan adalah bahwa penyambung. slang dan waktu pemasangan bisa dihemat. Ada banyak variasi dalam ukuran dan konstruksi dikembangkan dari katup satu arah. 2. Pemblokiran ke satu arah dapat dilakukan dengan konis (cones ).T ekn ik Ins ta las i L is tr ik bisa ditempatkan pada katup dasar.

Salah satu katup yang membutuhkan dua sinyal masukan untuk menghasilkan sinyal keluaran adalah katup dua tekanan (Two Pressure Valves) atau katup fungsi “DAN”. Gambar 2. maka sinyal dengan tekanan yang lebih besar memblokir katup dan sinyal dengan tekanan yang lebih kecil yang mengalir ke luar sebagai Komponen Kontrol Pneumatik 36 . Satu sinyal masukan memblokir aliran.16b : Katup Fungsi “DAN” dengan input pada X dan Y Udara bertekanan hanya mengalir jika ke dua lubang masukan diberi sinyal.16a : Katup Fungsi “DAN” dengan input pada Y Gambar 2. Dua katup yang ditandai sebagai elemen penghubung mempunyai karakteristik logika yang ditentukan melalui dua sinyal masukan dan satu keluaran.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Gambar 2.2.2 Katup Dua Tekanan / Katup Fungsi “ DAN “ (Two Pressure Valves ) Elemen-elemen pada 3 saluran penghubung yang mempunyai sifat satu arah dapat dipasang sebagai elemen penghubung sesuai arah aliran udara. Jika sinyal masukan berbeda tekanannya.15 : Katup Cek 2. Jika sinyal diberikan ke dua sisi masukan ( X dan Y ). sinyal akan lewat ke luar.

Ketika arah aliran udara dibalik (dari A ke Y).18b : Katup Fungsi “ATAU” dengan input pada X Komponen Kontrol Pneumatik 37 .2 2(A) 1. 1.6 A X Y 1(P) 5(R) 3(S) 1. kontrol pengaman.1 4(A) 14(Z) 2(B) 1. Kedudukan seal tetap pada posisi sebelumnya karena kondisi tekanan.2. fungsi cek dan fungsi logika. silinder atau katup terhubung ke pembuangan.18a : Katup Fungsi “ATAU” dengan input pada Y Gambar 2.17 : Rangkaian katup fungsi “DAN” 2. Katup dua tekanan pada umumnya digunakan untuk kontrol pengunci. Gambar 2.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik sinyal keluaran.0 1.3 Katup Ganti / Katup Fungsi “ATAU” ( Shuttle Valve ) Katup ini mempunyai dua masukan dan satu keluaran.4 2(A) 1(P) 3(R) 1(P) 3(R) Gambar 2. Jika udara dialirkan melalui lubang pertama (Y). maka kedudukan seal katup menutup lubang masukan yang lain sehingga sinyal dilewatkan ke lubang keluaran (A).

udara pembuangan dari silinder keluar lewat lubang besar katup tersebut. 1.4 Katup Buangan-Cepat ( Quick Exhaust Valve ) Katup buangan-cepat digunakan untuk meningkatkan kecepatan silinder. Pada contoh berikut menunjukkan sebuah silinder yang diaktifkan dengan menggunakan sebuah katup yang dioperasikan dengan tangan dan lainnya dipasang pada posisi yang berjauhan. Dengan menggunakan katup buangan cepat. Jika silinder atau katup kontrol dioperasikan dari dua tempat atau lebih.2. katup ganti bisa digunakan.0 1.6 A X Y 1(P) 5(R) 3(S) 1.2 2(A) 1. Prinsip kerja silinder dapat maju atau mundur sampai mencapai kecepatan maksimum dengan jalan memotong jalan pembuangan udara ke atmosfir.4 2(A) 1(P) 3(R) 1(P) 3(R) Gambar 2.19 : Rangkaian katup fungsi “ATAU” 2.1 4(A) 14(Z) 2(B) 1. Komponen Kontrol Pneumatik 38 .T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Katup ini disebut juga komponen fungsi “ATAU”.

20 : Katup buangan cepat.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Gambar 2. udara pembuangan dari silinder Komponen Kontrol Pneumatik 39 . udara mengalir ke silinder Gambar 2.21 : Katup buangan-cepat.

Jika udara disuplai dari lubang A. 2. Karena sifat udara yang kompresibel. keluaran A dan lubang pembuangan R. piringan akan menutup lubang P dan udara keluar ke atmosfir lewat lubang R.1 Katup Cekik . Peningkatan kecepatan tersebut dibandingkan dengan pembuangan udara lewat katup kontrol akhir. Oleh Komponen Kontrol Pneumatik 40 . Gabungan katup ini dapat dipasang langsung pada lubang masukan atau keluaran silinder atau pada lubang pembuangan katup kontrol arah.1 2(A) 1. karakteristik gerakan silinder tergantung dari beban dan tekanan udara. Cara tersebut mudah dilaksanakan dengan jalan memasang katup buangan-cepat langsung pada silinder atau sedekat mungkin dengan silinder.1 4(A) 2(B) 1(P) 3(R) 5(R) 1(P) 3(S) Gambar 2.0 1.22 : Rangkaian dengan katup buangan-cepat 2.0 1. Lubang R terblokir oleh piringan .3. Bila katup cek dipasang bersama-sama dengan katup ini.01 A P R 1.01 A P R 1. Dua Arah ( Throttle Valves ) Katup cekik pada keadaan normal dapat diatur dan pengesetannya dapat dikunci pada posisi yang diinginkan.3 Katup Kontrol Aliran Katup kontrol aliran mempengaruhi volume aliran udara bertekanan yang keluar pada dua arah. 1.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Katup buangan cepat mempunyai sambungan udara masuk P. maka pengaruh kontrol kecepatan hanya pada satu arah saja. Aliran udara masuk lewat P dan keluar bebas melaui terbukanya komponen katup cek.

Blok katup cek akan memblokir aliran udara. aliran udara lewat pencekikan (penyempitan) hanya satu arah saja. Pada arah yang berlawanan udara bebas mengalir lewat katup cek.3. Gambar 2.2 Katup Kontrol Aliran. sehingga aliran udara hanya lewat pencekikan. Dengan konstruksi katup seperti ini. Komponen Kontrol Pneumatik 41 . Hati-hati agar tidak menutup katup ini penuh. Katup ini digunakan untuk mengatur kecepatan silinder.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik karena itu katup kontrol aliran digunakan untuk mengontrol kecepatan silinder dengan berbagai harga yang bervariasi.22 : Katup Cekik 2. Satu Arah. karena akan menutup udara ke sistem.

menunjukkan ketidakteraturan yang besar dalam pemberian kecepatan.2.3. katup kontrol aliran satu arah dipasang sedemikian rupa sehingga udara yang masuk silinder dicekik.1 Pencekikan Udara Masukan Pada pencekikan udara masukan. Satu Arah Ada dua jenis rangkaian pencekikan aliran udara untuk silinder kerja ganda : • • Pencekikan udara masukan. Perubahan pergeseran beban ketika melewati sebuah katup pembatas. Komponen Kontrol Pneumatik 42 . Pencekikan udara buangan. Udara pembuangan bisa keluar dengan bebas melalui katup satu arah yang dipasang pada sisi keluaran silinder. 2. jika udara masukan diperkecil. Pencekikan udara masukan dapat digunakan pada silinder kerja tunggal dan dan silinder dengan volume kecil.23 : Katup Kontrol Aliran.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik Gambar 2.

Pertama. Dalam hal ini piston dibebani antara dua pengereman.1 4(A) 2(B) 5(R) 1(P) 3(S) 5(R) 1(P) 3(S) Gambar 2.24a : Pencekikan udara masukan.0 1.24b : Pencekikan udara keluaran.01 1.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2. Pencekikan udara buangan digunakan untuk mengatur kecepatan silinder kerja ganda.0 1.02 1.01 1.4 Katup Tekanan 2. Gambar 2. udara masukan mengalir dengan bebas ke silinder dan udara buangan dicekik.02 1.4.2.3. 1. Katup tekanan dapat dibagi dalam 3 kelompok sebagai berikut : • • • Katup pengatur tekanan ( Pressure Regulating Valve ) Katup pembatas tekanan ( Pressure Limiting Valve ) Katup sakelar tekanan ( Sequence Valve ) Komponen Kontrol Pneumatik 43 . efek pengereman adalah tekanan masukan pada silinder dan yang kedua adalah udara buangan yang ditahan oleh katup kontrol aliran satu arah. 2.1 4(A) 2(B) 1.1 Macam-Macam Katup Tekanan Katup tekanan adalah elemen yang sangat mempengaruhi tekanan atau dikontrol oleh besarnya tekanan.2 Pencekikan Udara Keluaran Dengan pencekikan udara buangan.

4. walaupun dengan tekanan masukan yang berubah-ubah.4.25 : Katup Pembatas Tekanan 2. A P R Gambar 2. maka lubang keluaran pada katup akan terbuka dan udara bertekanan dibuang ke atmosfir. Tekanan masukan harus lebih besar daripada tekanan keluaran yang diinginkan. Yang penting dari unit ini adalah untuk menjaga tekanan yang stabil. Apabila nilai dalam tekanan maksimal tercapai pada lubang masukan. R P Gambar 2.3 Katup Pengatur Tekanan Katup pengatur tekanan diuraikan di bagian perlengkapan pemeliharaan udara (Servis Unit). Katup ini mencegah terlampauinya tekanan maksimal yang ditolerir dalam sistem.2 Katup Pembatas Tekanan Katup ini terutama dipakai sebagai katup pengaman (katup tekanan lebih).T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2. Katup tetap terbuka sampai katup ditutup oleh gaya pegas di dalam setelah mencapai tekanan kerja yang diinginkan.26 : Katup Pengatur Tekanan Komponen Kontrol Pneumatik 44 .

4. Macam-Macam Katup Tunda Waktu Katup tunda waktu adalah kombinasi/gabungan dari katup 3/2.1. Piston kontrol membuka jalur 1(P) ke 2(A). Dengan menggunakan tambahan tangki udara. Udara mengalir dari 1(P) ke 2(A). Katup 3/2 dapat sebagai katup dengan posisi normal membuka (NO) atau menutup (NC).4 Katup Sakelar Tekanan Katup ini bekerja sesuai dengan prinsip yang sama seperti katup pembatas tekanan. Komponen Kontrol Pneumatik 45 .5. jika udara bersih dan tekanan relatif stabil. dan tangki udara.5 Katup Tunda Waktu 2. Katup akan terbuka apabila tekanan yang diatur pada pegas terlampaui. katup kontrol aliran satu arah. tunda waktunya biasanya berkisar antara 0-30 detik. Lubang keluaran 2(A) terbuka apabila sudah terbentuk tekanan yang diatur pada saluran kontrol 12(X).T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2.27 : Katup Sakelar Tekanan 2. Gambar 2. waktu dapat diperlambat. Jika hanya menggunakan katup 3/2 dan katup kontrol aliran satu arah. Perubahan waktu secara akurat dijamin.

Piringan katup diangkat dari kedudukan semula dan kemudian udara dapat mengalir dari 1(P) ke 2(A). Pegas katup mengembalikan bantalan pemandu dan piringan katup ke posisi inisialnya. Udara mengalir dari tangki udara ke atmosfer melalui jalan pintas katup kontrol aliran satu arah dan kemudian ke jalur pembuangan. jalur pilot 12(Z) harus dibuang. Ketika tekanan kontrol yang diperlukan telah terpenuhi di dalam tangki udara.1. udara bertekanan dimasukkan ke katup pada saluran 1(P). bantalan pemandu katup 3/2 digerakkan turun ke bawah.1 Katup Tunda Waktu NC Berdasarkan gambar diagram dibawah.T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2. Waktu yang diperlukan untuk tekanan mencapai nominal dalam tangki udara adalah sama dengan waktu tunda kontrol pada katup. Udara ini akan mengalir melalui katup kontrol aliran satu arah dan tergantung pada setting sekrup pencekik.5. lebih besar atau lebih kecil dari jumlah aliran udara setiap unit waktunya ke dalam tangki udara. Jika katup tunda waktu adalah menghubung ke posisi inisialnya. 2(A) 12(Z) 1(P) 3(R) Gambar 2. Aliran udara kontrol masuk katup pada saluran 12(Z). Hal ini akan memblok saluran 2(A) ke 3(R).28 : Katup Tunda Waktu NC Komponen Kontrol Pneumatik 46 . Jalur kerja 2(A) membuang ke 3(R) dan 1(P) terblok.

2 Rangkaian Katup Tunda Waktu Rangkaian berikut ini menggunakan 2 buah katup tunda waktu. Akibatnya sinyal keluaran akan segera mati setelah setting tunda waktu tercapai. sinyal yang dikeluarkan diteruskan melalui katup (1.2).1) dan silinder bergerak mundur. Katup tunda waktu (1.4) dan menyebabkan silinder bergerak maju melalui lubang 14(Z) katup memori (1.4). Ketika katup dihubungkan dengan 10(Z) output 2(A) dibuang. Sinyal keluaran ini mensuply sinyal 12(Y) yang akan membalik katup (1.4) mempunyai set tunda waktu yang sangat pendek yaitu 0.1).T ekn ik Ins ta las i L is tr ik 2. Siklus baru hanya dapat dimulai jika tombol start Komponen Kontrol Pneumatik 47 .1. Hal ini cukup lama untuk memulai sinyal start tetapi kemudian sinyal 14(Z) diputuskan oleh sinyal pemandu timer 10(Z). Pada posisi inisial output 2(A) adalah aktif.2 Katup Tunda Waktu N0 2(A) 12(Z) 1(P) 3(R) Gambar 2.5. Pengoperasian dimulai dengan tombol tekan (1. Silinder mengoperasikan katup rol (1.5) menerima sinyal pemandu yang kemudian setelah setting waktu terlampaui akan membuka katup tunda waktu.5 detik. Katup tunda waktu (1. 2.5. sebuah katup NC (1.29 : Katup Tunda Waktu NO Katup tunda waktu normal membuka memiliki katup 3/2 dengan posisi NO.5) dan yang lain katup NO (1.3).

2 2(A) 1.0 1.5 2(A) 1.1 14(Z) 4(A) 2(B) 12(Y) 5(R) 3(S) 1(P) 1.4 2(A) 12(Z) 12(Z) 1(P) 3(R) 1(P) 3(R) 1.3 2(A) 1(P) 3(R) 1(P) 3(R) Gambar 2. 1.30 : Rangkaian Dengan Katup Tunda Waktu Komponen Kontrol Pneumatik 48 .T ekn ik Ins ta las i L is tr ik telah dilepas.3 1.4) dengan membuang sinyal 10(Z). Terlepasnya katup tombol mereset timer (1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful