KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas pimpinan dan

tuntunanya penulis dapat menyelesaikan makalah presentasi kasus dengan judul Ketuban Pecah Dini & Diabetes Melitus Gestasional sebagai salah satu syarat dalam menjalani Kepaniteraan Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Melalui ini juga penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Kol. Dr. Toto Imam S, SpOG, K.onk sebagai Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi RSPAD Gatot Soebroto 2. dr. Febriansyah Darus, SpOG sebagai ketua coordinator mahasiswa kepaniteraan obstetri dan ginekologi RSPAD Gatot Soebroto 3. dr. Sanny Santana, SpOG sebagai pembimbing dan moderator presentasi kasus penulis 4. Teman-teman kepaniteraan Obstetri & Ginekologi periode 21 maret 2011 – 28 mei 2011 Terimakasih atas semua bantuan, bimbingan dan masukan yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah presentasi kasus ini. Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga saran, kritik dan masukan sangat diterima dengan tangan terbuka. Semoga makalah ini dapat berguna tidak hanya bagi penulis tetapi juga bagi semuanya.

Jakarta, 26 April 2011

Martha Yuanita Loru

1

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum proses persalinan. Ketuban pecah dini sendiri dibagi menadi dua yaitu ketuban pecah dini preterm dimana selaput ketuban pecah sebelum usia <37minggu dan ketuban pecah dini aterm dimana ketuban pecah pada usia kehamilan >37minggu. Insidens KPD sendiri terjadi pada 8-10% pada kehamilan aterm dan pada kehamilan preterm terjadi pada 2-4% kehamilan tunggal dan 7-10% pada kehamilan kembar. Terjadinya KPD disebabkan oleh banyak factor baik secara internal maupun secara eksternal. Dari factor internal bisa berupa kelainan anomaly uterus, inkompetensi serviks, polihidramnion, kehamilan kembar, sedangkan dari factor eksternal bisa dipengaruhi oleh adanya infeksi pada ibu dan defisiensi vitamin C serta defisiensi seng. Komplikasi dari ketuban pecah dini dapat ditemukan baik pada ibu maupun pada janin. Komplikasi yang terjadi pada ibu bisa berupa infeksi intra uterine dan bahaya sepsis, peningkatan insidens bedah sesar dan juga endometrisis pasca persalinan. Komplikasi yang dapat terjadi pada janin adalah sindrom gawat napas akibat hipoplasia paru, deformitas skeletal dan perdarahan intraventrikel. Oleh karena insidens yang tinggi dan komplikasi yang berbahaya maka diagnosis yang tepat dan cepat pada keadaan ketuban pecah dini sangat diperlukan untuk dapat melakukan penatalaksanaan yang baik dan tepat sehingga baik mortalitas maupun morbiditas dari janin dan ibu dapat menurun. Disisi yang lain juga Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) merupakan suatu keadaan yang sering terjadi selama kehamilan dengan angka kejadian yang berkisar antara 3-5% dari semua kehamilan. DMG merupakan suatu keadaan dimana terjadi gangguan toleransi glukosa berbagai tingkat yang terjadi atau pertama kali terdeteksi pada kehamilan. DMG merupakan suatu keadaan yang menjadi suatu kondisi yang harus di skrinning pada semua ibu hamil karena angka kesakitan pada ibu lebih tinggi dibandingkan populasi normal dan angka kesakitan dan perinatalnya meningkat. Mengingat akan bahaya tersebut maka DMG harus dideteksi sejak awal kehamilan dan memerlukan pengelolaan yang baik sehingga dapat memberikan hasil yang baik juga bagi ibu dan janin. Tujuan Penulisan 1. Mampu menganalisis kasus kehamilan dan persalinan serta menentukan ada tidaknya komplikasi dari ketuban pecah dini dan diabetes mellitus gestasional sehingga diharapkan mampu mendiagnosis secara dini baik gejala maupun tanda yang ada pada pasien. 2. Mampu mengetahui manajemen pada kehamilan dengan ketuban pecah dini preterm dan Diabetes mellitus Gestasional.

2

BAB II LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN Nomor CM Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Alamat ANAMNESIS    Autoanamnesis tanggal 26 Maret 2011 Pk. 13.00 WIB Keluhan utama : Keluar air-air sejak 4 jam SMRS Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan G3P0A2 Hamil 32 minggu. Pasien mengeluh keluar air-air dari kemaluannya sejak 4 jam yang lalu. Air-air yang keluar berwarna jernih dan tidak berbau. Pasien mengaku tidak dapat menahan keluarnya air-air tersebut. Pasien mengaku sebelumnya mengalami keputihan dan sebelum keluar air-air pasien mengaku naik turun tangga sebanyak 4 kali di rumah untuk bersih-bersih rumah. Pasien menyangkal adanya perdarahan, demam. Kontraksi dirasakan pasien dan tidak teratur. HPHT: 17 Agustus 2010. Taksiran Partus (TP): 24 Mei 2011. Perangai Pasien : Kooperatif Riwayat Haid : o Menarche : Usia 11 tahun o Haid : Teratur o Siklus : 28 hari o Lama haid : ± 7 hari o Banyaknya haid : ± 3x ganti pembalut/hari o Nyeri haid : Tidak ada Riwayat KB : Menggunakan KB suntik 3 bulan. Sejak Mei 2010 tidak menggunakan KB lagi. Riwayat pernikahan : o Menikah usia 21 tahun dan sudah menikah selama 4 tahun. o Pernikahan pertama bagi pasangan suami dan istri. : 36.10.09 : Ny. Y : 25 tahun : SMK : Ibu Rumah Tangga : Kodam, Bekasi

 

 

3

wheezing -/: Membuncit sesuai kehamilan : Akral hangat. Riwayat keputihan (+). fluksus (-). Mei 2007. teratur : Konjungtiva anemis -/. Februari 2010. Catatan penting selama Asuhan Antenatal : Ibu dengan Diabetes Melitus Gestasional. reguler  DJJ : 140 dpm. penyakit jantung dan alergi disangkal. Kehamilan ini Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat tekanan darah tinggi. penyakit jantung dan alergi disangkal. kencing manis. kencing manis. abortus usia 3 bulan. dikuret 3. asma.    Riwayat Obstetri : 1. tampak cairan mengalir dari ostium 4 . abortus usia 3 bulan. asma.. gallop (-) : Suara napas vesikuler. valsava (+). dikuret 2. reguler o Inspekulo :  Inspeksi : Vulva dan vagina tenang  Portio licin. murmur (-).54 : 120/80 mmHg : 80x/menit. Sklera ikterik -/: BJ I-II regular. Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat tekanan darah tinggi. Sudah dikonsul ke bagian gizi dan dianjurkan untuk diet 1900kkal/hari dan cukup serat. flour albus (+). teratur : 20x/menit. ronkhi -/-. udema (-)  Status Obstetrikus o Periksa Luar :  TFU : 26 cm  Punggung kanan (puka)  Taksiran Berat Janin Klinis (TJBK) : 2015 gram  Kontraksi : (+). PEMERIKSAAN FISIK  Status Generalis o Keadaan umum o Kesadaran o Tinggi Badan o Berat Badan o IMT o Tekanan Darah o Nadi o Pernapasan o Mata o Jantung o Paru o Abdomen o Ekstremitas : Baik : Compos Mentis : 150 cm : 59 kg : 25. ostium terbuka 1 cm.

HL 32 mm. pembukaan 1 cm.o o Periksa Dalam : Portio kenyal.½  Dinding samping luas  Saccrum konkaf  Spina tajam  D1 > 9. AC 147mm. kepala Hodge I Pelvimetrik Klinis:  Promontorium tidak teraba  Linea inomonata teraba ½ . Imbang Feto Pelvik (IFP): baik PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK  03/11/2010 USG Hasil pemeriksaan: o Janin tunggal hidup intra uterine o CRL 4. CD 20mm (sesuai hamil 19 minggu 1 hari) o Jantung : DJJ 152 dpm. HC 173 mm. ketuban (-). FL 32 mm. Gambaran 4 CV normal o Anomali : Saat ini tidak tampak anomali mayor o Doppler : Tidak dilakukan o Aktivitas : Baik Penilaian Saran  : Janin tunggal hidup intrauterine dan biometri sesuai hamil 20 minggu : ANC teratur  14/03/2011 Lab kimia Jenis Pemeriksaan 27/12/2010 GTT Glukosa puasa Glukosa 2 jam 75 85 Hasil 14/03/2011 87 150 Nilai rujukan <100 mg/dL <140 mg/dL 5 .54 cm. sesuai dengan kehamilan 12 minggu 02/01/2011 USG Hasil pemeriksaan: o Janin : Janin tunggal hdup intra uterin o Placenta : Berimplantasi di korpus depan o Amnion : kesan relative cukup o Biometri : BPD 48 mm. arah belakang.5cm  AP > 90o Kesan: panggul normal – sedang. regular. panjang: 3cm.

Janin presentasi kepala tunggal hidup. suhu/4 jam o Observasi tanda-tanda vital dan kompresi tali pusat o CTG o Observasi DJJ/jam o Observasi kontraksi/jam o USG Feto Maternal Rencana Terapi o Tokolisis dengan nifedipin 10mg sublingual 4x. Presentasi kepala  PROGNOSIS   Ibu Janin : Ad Bonam : Dubia PENATALAKSANAAN AWAL  Rencana Diagnostik o Cek DPL. Hidup intrauterine. maintenance nifedipin tablet 4x10mg o Pematangan paru dengan dexametason 2x6mg selama 2 hari o Ceftriaxon 1x2gr IV o Diet DM 1900kkal.5. G3P1A2 Hamil 31 minggu 4 hari.5 – 8. UL. kontraksi (skor tokolisis = 7). GDS o Observasi TNP/jam.  16/03/2011 HbA1c  Hasil: 4  Nilai normal: Baik <6. Buruk: >8 26/03/2011 USG VK o Janin presentasi kepala tunggal hidup o BPD : 84 mm ~ hamil 31 minggu o HC : 291 mm ~ hami 31 minggu o AC : 288 mm o FL : 60 mm ~ hamil 31 minggu o ICA : 7 o Placenta berimplantasi di korpus depan Kesimpulan: hamil 31 minggu. air ketuban berkurang DIAGNOSIS KERJA  Ibu : 1. air ketuban berkurang 2. Sedang: 6. ketuban pecah 4 jam. Diabetes Melitus Gestasional (DMG) Janin : Tunggal. cukup serat  6 .

FP: 20x/menit.O. Diabetes Melitus Gestasional (DMG) 3.00 WIB dengan hasil:       Frekuensi dasar Variabilitas Akselerasi Deselerasi His Gerak Janin : 150 dpm : 5 – 15 dpm : (+) : (-) : (-) : (+) Kesan : Reassuring A : 1. Saat ini direncanakan untuk pemberian antibiotic dan pematangan paru.000/uL GDS : 86 mg/dL Urinalisa : Dalam batas normal CTG Pk. Bebas kontraksi pada G3P0A2 Hamil 32minggu. Suhu:36. Ketuban pecah 11 jam P  : Rencana Diagnostik o Observasi TNP/jam. Leukosit: 9500/uL. TD: 120/70 mmHg. Janin presentasi kepala tunggal hidup.P) 26/03/2011. Rencana Pendidikan o Menjelaskan saat ini usia kehamilan baru 32 minggu.13. perdarahan (-) DPL: Hb: 11.00 WIB S O : Mules (-) : KU: baik.20. ketuban sudah pecah. Compos mentis. FN: 88x/menit. Trombosit: 208. Ht: 35%. CATATAN KEMAJUAN PERAWATAN (S.4gr/dL. kontraksi (-).5oC Status generalis : Dalam batas normal Status obstetrikus: His (-). DJJ (+) 137dpm Inspeksi: vulva dan urethrae tenang. riwayat kontraksi – Skor tokolisis = 7 2. suhu/4jam o Observasi kontraksi dan DJJ/jam 7 . pk.A.

Bebas kontraksi 11 jam pada G3P0A2 hamil 32 minggu. LEA/hari o Observasi tanda-tanda vital dan kompresi tali pusat 8 . Ketuban pecah 22 jam P  : Rencana Diagnostik: o Observasi TNP/jam. Suhu: 36.00 WIB dengan hasil:       Frekuensi dasar Variabilitas Akselerasi Deselerasi His Gerak Janin : 135 dpm : 5 – 15 dpm : (+) : (-) : (-) : (+) Kesan: Reassuring A : 1. Compos mentis TD: 110/70 mmHg. o Cek DPL/hari. suhu/4jam o Observasi kontraksi dan DJJ/jam o Cek DPL/hari.00 WIB S O : mules (-). demam (-) : KU: baik. DJJ (+) 139 dpm Inspeksi: vulva dan urethrae tenang. LEA/hari o Observasi tanda-tanda vital dan kompresi tali pusat o USG konfirmasi tanggal 28/03/2011 Rencana Terapi o Tokolisis dengan nifedipin 4x10mg o Dexametason 2x6 mg IV o Ceftriaxon 1x2gr IV o Diet DM 1900 kkal 27/03/2011 pk. perdarahan (-) CTG Pk. 07.3oC Status generalis lainnnya : Dalam batas normal Status obstetrikus: His (-). gula darah terkontrol dengan diet 1900kkal 3. kontraksi (-). Janin presentasi kepala tunggal hidup. DMG.13. 2. FN: 87x/menit. FP: 20x/menit.

08. Suhu: 36oC Status generalis: dbn Status obstetrikus: his (-). ketuban pecah.00 WIB S O : mules (-). FN: 88x/menit. Taksiran berat janin 2100gram. setelah selesai pematangan paru 2 hari harus dinilai lagi kondisi ibu dan janinnya. SpOG: Pasien ini dengan G3P0A2 hamil 32 minggu. FP: 20x/menit. apakah harus diterminasi atau tidak. keluar air-air sedikit : KU: baik. o USG konfirmasi tanggal 28/03/2011 Rencana Terapi o Tokolisis dengan nifedipin 4x10mg o Dexametason 2x6 mg IV selama 2 hari o Ceftriaxon 1x2gr IV o Diet DM 1900 kkal o Cairan 3000ml/24jam o Rawat di ruangan lt 1 obstetri Diskusi dengan dr. Rizka. kontraksi (-). 27/03/2011 pk. Bebas kontraksi 17 jam pada G3P0A2 Hamil 32 minggu 2. Ketuban pecah 22 jam P  : Konservatif o Ceftriaxon 1x2 gr IV sampai dengan bayi lahir o Nifedipin 4x10mg o Dexametason 2x6mg IV (selama 2 hari) o Pemeriksaan DPL/hari o Cairan 3L/hari o Terminasi kehamilan pasca pematangan paru 9 . perdarahanA : 1. DMG. Tidak bisa ditentukan sekarang apakah setelah selesai pematangan paru akan diterminasi ataukah konservatif. CM TD: 120/70mmHg. Inspeksi: vulva dan uretra tenang.

FP: 14x/menit. maka dipertahankan se-viable mungkin. gusi bengkak (+) : KU: baik.28/03/2011 pk. FN: 88x/menit. DJJ: 130dpm 10 . Kultur vagina. SpOG Dengan G2P0A2 Hamil 32 minggu pasca pematangan paru. Cek CRP. FP: 16x/menit. Janin presentasi kepala tunggal hidup. Ketuban pecah 1 hari P  : Rencana diagnostic: o Observasi Tanda vital. 01. Suhu: 36. demam (-). UL. DJJ o DPL/ hari. 06. kontraksi.5 – 3 L/hari) dan berikan Vitamin C. Bebas kontraksi 1 hari pada G3P0A2 Hamil 32 minggu. Sarankan pasien untuk hidrasi cukup (2.30 WIB S O : mules (-). anyang-anyangan (-). compos mentis TD: 120/70mmHg. Suhu:afebris Status generalis: dbn Status obstetric: kontraksi irregular.45 WIB S O : dilaporkan dari ruangan dengan mules berulang.7oC Status generalis : Dalam batas normal Status obstetrikus: kontraksi (-). 2. selama tidak ada tanda-tanda infeksi. GDS Rencana therapy konservatif: o Ceftriaxon 1x2 gr sampai dengan bayi lahir o Nifedipin 4x10mg o Dexamethasone 2x6mg IV (sudah selesai) o Cairan 3000ml/24 jam o Rencana terminasi setelah pematangan paru o Vitamin C 2x400mg IV  Diskusi dengan dr. keluar air-air (+) sedikit. FN: 88x/menit. DPL dan LEA setiap hari. demam (-) : CM. DJJ (+) 132 dpm Inspeksi: vulva dan urethrae tenang A : 1. Judi JE. 29/03/2011 pk.

DMG terkontrol P        : Bedrest Cairan 2500 – 3000 cc/24 jam Nifedipin 10mg setiap 20 menit sampai dengan 4x (maintenance 4x10mg) Vitamin C 2x400mg Antibiotik: ceftriaxon 1x2gr IV Diet 1900 kal Cek DPL. KPD 2 hari (Skor tokolisis = 6) 2. Kontraksi berulang pada G3P0A2 Hamil 32 minggu.Inspeksi: vulva dan uretra tenang VT: portio kenyal. DJJ: 137dpm. his (-) A : 1. Bebas kontraksi 2 jam P       : Lanjutkan konservatif dan Bed rest Cairan 2000 – 3000cc/24 jam Nifedipin 4x10mg Vitamin C 2x400mg Ceftriaxon 1x2gr IV Cek DPL. 05. KPD 2 hari 2. Suhu:afebris Status generalis: dbn Status obstetric: kontraksi (-). Inspeksi: vulva dan uretra tenang Laboratorium: LEA +1 A : 1. kepala HI CTG: reassuring. CRP. FN: 84x/menit. FP: 18x/menit. belakang. CRP 11 . tebal 3cm. LEA setiap hari dan kultur vagina 29/03/2011 pk.30 WIB S O : mules berkurang : CM. G3P0A2 Hamil 32 minggu. LEA. ketuban (-). φ 1cm.

gerak janin (+) aktif : Baik. Suhu: afebris Status generalis: dbn Status obstetric: kontraksi(-). 09.25 dpm 12 . Ht: 31%. Bebas kontraksi 7 jam P        : Lanjutkan konservatif dengan cek DPL setiap hari Nifedipin 4x10mg Vitamin C 2x400mg Ceftriaxon 1x2gr IV Cairan 2000 – 3000cc/24 jam Bedrest dan rawat ruangan USG FM besok 30/03/2011 pk.000/uL CRP Semi kuantatif : 24 mg/ L (Normal: < 6 mg/L) CTG dengan hasil:   Frekuensi dasar Variabilitas : 161 dpm : 5 . ketuban (-). DJJ: 138dpm. FP: 18x/menit. FP: 20x/menit. TD: 120/70mmHg.30 WIB S O : mules (+) dan makin sering : TSS.9 oC Status generalis: dbn Status obstetric: His 3x/10’/35”.2 gr/dL.29/03/2011 pk. perdarahan(-) A : 1. Leukosit: 21100/uL. tebal 1cm. Trombosit: 205. Hodge I-II DPL: Hb: 10. FN: 103x/menit. CM. axial. FN: 88x/menit. KPD 2 hari 2. Inspeksi: vulva & uretra tenang. TD: 110/70mmHg. G3P0A2 Hamil 32 minggu. sedang relaksasi baik Inspeksi: vulva dan uretra tenang Inspekulo: portio licin.30 WIB S O : mules (+). ketuban (-) VT: portio lunak. CM. φ3cm. Suhu: 37. ostium uteri eksterna terbuka. 08.

perineum dang anti verban hari III Foley Cathteter 1x24 jam Diet TKTP IVFD oksitosin 20 IU/500 RL sampai dengan 12 jam post operasi Ceftriaxon 1x2gr IV Profenid 3x1 suppositoria 13 . Instruksi post op:          Observasi tanda vital. infertilitas 4 tahun dan Taksiran berat janin 2000gr. 11. JPKTH dengan kontraksi berulang : Observasi TV. SpOG Mengingat pasien dengan diagnosis G3P0A2 hamil 32 minggu. Janin presentasi kepala tunggal hidup dengan ketuban 3 hari. Penatalaksanaan selanjutnya akan diberikan melalui informed consent kepada keluarga apakah setuju dengan operasi atau lahir normal dengan resiko infeksi dan resiko bayi premature sehingga membutuhkan perawatan yang lebih lanjut.    Akselerasi Deselerasi His Gerak Janin : (-) : (+) : (+) : (+) Kesan: Reassuring A P       : G3P0A2 HAmil 32 minggu. DJJ Observasi tanda-tanda infeksi intra uterin dan kompresi tali pusat Vitamin C 2x400mg IV Ceftriaxon 1x2gr IV Cairan 2000 – 3000cc/24 jam Cek CRP dan kultur vagina Diskusi dengan dr. APGAR score 7/8. 30/03/2011 pk. KPD 3 hari.30 WIB Berlangsung SCTPP dan lahir bayi laki-laki. Bintari. kontraksi dan perdarahan Mobilisasi bertahap Realimentasi dini Hygiene vulva. Perdarahan ± 400cc dan urin ± 150cc. BB: 1600gram. kontraksi.

TD: 100/60 mmHg. perdarahan (-) GDS : 103 mg/dL A : Nifas hari II P1A2 post SC a/i Ketuban pecah 3 hari dan infertilitas 4 tahun Bayi meninggal et causa Respiratory distress syndrome P      : Observasi TV. Suhu: 36. TD: 90/50 mmHg. I: v/u tenang. I: v/u tenang. Suhu: afebris Status generalis: dbn Status obstetric: TFU 2 jari dibawah pusat. FP: 20x/menit. FN: 60x/menit. perineum dan luka operasi Mobilisasi bertahap Ceftriaxon 1x2gr IV 14 . 07. kontraksi(+) baik. pusing (+) : CM. FN: 84x/menit. kontraksi dan perdarahan Diet TKTP Hiegene vulva. FP: 21x/menit. 05. perdarahan(-) Bayi: dirawat di ruang peristi dan dipasang headbox oxygen A P        : Nifas hari I P1A2 post SC a/i Ketuban pecah 3 hari dan infertilitas 4 tahun : Observasi TV. kontraksi(+) baik.2oC Status generalis: dbn Status obstetric: TFU 2 jari dibawah pusat. kontraksi dan perdarahan Diet TKTP dan Mobilisasi aktif Hiegene vulva dan perineum Ceftriaxon 1x2gr IV Metronidazole 3x500mg Asam mefenamat 3x500 mg Sangobiad 1x1 01/04/2011 pk.31/1/2011 pk.30 WIB S O : nyeri pada bekas operasi (+) : CM.00 WIB S O : Nyeri pada bekas operasi (+).

Suhu: afebris Status generalis: dbn Status obstetric: TFU 2 jari dibawah pusat.    Metronidazole 3x500mg Sutamir 2x80mg Asam mefenamat 3x500 mg Sangobiad 1x1 02/04/2011 pk.4juta/uL. MCV= 83fl. Ht= 28%.000/uL. FP: 20x/menit. TD: 100/60 mmHg. Trombosit= 261. Inspeksi: v/u tenang.00 WIB S O : Nyeri pada bekas operasi (+) : CM.500/uL. MCHC= 31fl. 07. kontraksi (+) baik. Nifas hari III P1A2 post SC a/i Ketuban pecah 3 hari dan infertilitas 4 tahun P      : Rawat jalan dan Mobilisasi aktif Diet TKTP Hiegene vulva. FN: 80x/menit. luka operasi baik Lab: Hb=8. perdarahan (-).eritrosit: 3. Leukosit= 13. perineum dan luka operasi Cefadroxil 2x500mg Hemobin 1x1 dan Asam mefenamat 3x500mg 15 .7 gr/dL. MCH= 26fl. GDS = 103mg/dL A : 1.

1 Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm. ada jaringan korion leave ditengahnya. Volume cairan amnion pada kehamilan aterm rata-rata ialah 800ml. tetapi pada persalinan preterm IL-1B akan ditemukan. kreatinin tidak berbeda dengan kadar pada serum ibu.BAB III TINJAUAN PUSTAKA KETUBAN PECAH DINI Definisi Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum proses persalinan dimulai. jaringan itu menghasilkan sitokin IL-6. 1 Selaput amnion yang meliputi permukaan plasenta akan mendapat difusi dari pembuluh darah korion di permukaan.008. Lapisan dalam amnion berupa mikrovili yang berfungsi mentransfer cairan dan metabolik. Osmolalitas. Disamping itu selaput amnion menghasilkan zat vasoaktif dan vasorelaksan.1 Sel mesekhim berfungsi menghasilkan kolagen sehingga selaput menjadi lentur dan kuat. verniks kaseosa). Sejak awal kehamilan cairan amnion telah dibentuk. Pada kehamilan dikorionik-diamniotik terdapat selaput amnion dari masing-masing yang bersatu. 1 Masalah pada klinik ialah pecahnya ketuban berkaitan dengan kekuatan selaput. MCP-1 yang berfungsi untuk melawan bakteri. leukosit akan masuk kedalam cairan amnion sebagai reaksi terhadap peradangan. artinya kadar di cairan amnion merupakan hasil difusi dari ibunya. Cairan amnion mengandung banyak sel janin (lanugo. Pada kehamilan normal tidak ada IL-1B. Lapisan amnion ini berhubungan dengan korion leave.2 dan massa jenis 1. Bagian luar dari selaput ini adalah jaringan mesenkhim yang berasal dari mesoderm. Setelah 20 minggu produksi cairan berasal dari urin janin. selaput amnion mengatur peredaran darah dan tonus pembuluh lokal. Sebelumnya cairan amnion juga banyak berasal dari rembesan 16 . Fungsi cairan amnion yang juga penting ialah menghambat bakteri karena mengandung zat seperti fosfat dan seng. IL-8. Bagian dalam selaput yang berhubungan dengan cairan merupakan jaringan epitel kuboid yang asalnya dari ektoderm. sedangkan pada kehamilan kembar dikorionik-monoamniotik (kembar satu telur) tidak akan ada jaringan korion diantara kedua amnion. Hal ini berkaitan dengan terjadinya infeksi. Jaringan ini berhubungan dengan lapisan interstisial mengandung kolagen I. Disamping itu. cairan amnion memiliki pH 7. Dengan demikian. Lapisan ini menghasilkan zat penghambat metaloproteinase-1. Pada perokok dan infeksi terjadi perlemahan pada ketahanan selaput ketuban selaput hingga pecah. ureum. Pada saat kelahiran. Pada kehamilan normal hanya ada sedikit makrofag.2 Fisiologi selaput dan cairan amnion Selaput amnion merupakan jaringan avaskular yang lentur tetapi kuat. kadar natrium. Cairan amnion merupakan pelindung dan bantalan untuk proteksi sekaligus menunjang pertumbuhan. Namun. III dan IV. Selaput amnion juga meliputi tali pusat.

kelemahan fokal terjadi pada selaput janin diatas os servikal internal yang memicu robekan di lokasi ini. kuretase) 3. Etiologi3   Menjelang usia kehamilan cukup bulan. sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah. penyakit menular seksual misalnya disebabkan oleh Chlamydia trachomatis dan Neischeria gonorhoe. Kelainan letak misalnya lintang. merokok dan perdarahan antepartum  Defisiensi gizi dari tembaga dan vitamin C Patofisiologi1 Selaput ketuban terdiri adatas amnion dan korion yang sangat erat kaitannya. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun ascenden dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD. Selain itu. sel mesenkhim dan sel trofoblas yang terikat erat dalam matriks kolagen. kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan. Beberapa proses patologis (termasuk perdarahan dan infeksi) dapat menyebabkan ketuban pecah dini preterm. Selaput ketuban berfungsi untuk meghasilkan cairan ketuban dan melindungi janin dari infeksi. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya KPD. Faktor lain yaitu:  Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu  Faktor multi graviditas. hidramnion. cairan ada yang masuk ke paru sehingga penting untuk perkembangannya. Keadaan sosial ekonomi yang berhubungan dengan rendahnya kualitas perawatan antenatal. gemelli 4. 5. maupun amnosintesis menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi. Janin juga meminum cairan amnion (diperkirakan 500ml/hari). Servik yang inkompetensia.kulit. Tekanan intra uterin yang meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya tumor. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual. Faktor Resiko4 1. pemeriksaan dalam. Penelitian menunjukkan infeksi sebagai penyebab utama ketuban pecah dini 2. Dalam keadaan normal. 6. 1 Insidens2 Insidens KPD sendiri terjadi pada 8-10% pada kehamilan aterm dan pada kehamilan preterm terjadi pada 2-4% kehamilan tunggal dan 7-10% pada kehamilan kembar. (ANDALAS) 7. Pecahnya selaput ketuban berkaitan dengan perubahan proses biokimia yang 17 . selaput ketuban pecah dalam proses persalinan. selaput amnion dan plasenta. Lapisan ini terdiri dari beberapa sel seperti sel epitel.

terjadi dalam kolagen matriks ekstra selular amnion. Perubahan struktur. Degradasi kolagen dimediasi oleh matriks metalloproteinase (MMP) yang dihambat oleh inhibitor jaringan spesifik dan inhibitor protease. Melemahnya kekuatan selaput ketuban ada hubungannya dengan pembesarn uterus.  Menentukan kondisi janin yaitu jumlah janin. Pemeriksaan fisik Periksa tanda-tanda vital pasien yaitu kesadaran. Diagnosis4 Diagnosis KPD yang tepat sangat penting untuk menentukan penanganan selanjutnya. 3. Ketuban pecah pada kehamilan preterm disebakan oleh adanya factor eksternal misalnya infeksi yang menjalar dari vagina. Normalnya terdapat keseimbangan antara sintesis dan degradasi ekstra selular matriks. presentasi dan taksiran berat janin. Aktivitas degradasi proteolitik ini meningkat menjelang persalinan. Cara-cara yang dipakai untuk menegakkan diagnosis menurut Departemen Kesehatan (1996) adalah : 1. menyebabkan ketuban tipis. nadi. Anamnesis  Pasien mengetahui cairan yang keluar atau tidak  Cairan keluar terus atau tidak  Warna cairan yang keluar 2. sitokinin dan rotein hormone yang merangsang aktivitas matrix degrading enzyme. 18 . Oleh karena itu usaha untuk menegakkan diagnosis KPD harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Pada trimester ketiga mudah pecah. Mendekati waktu persalinan. menghasilkan kolagenase jaringan. Apa ada tanda infeksi seperti suhu badan meningkat dan nadi cepat. Infeksinya bisa disebabkan oleh bakteri yang High virulensi seperti Bacteroides maupun bakteri Low virulensi seperti Lactobacillus. Selaput ketuban sangat kuat pada kehamilan muda. pernafasan dan suhu badan. jumlah sel dan katabolisme kolagen menyebabkan aktivitas kolagen berubah dan menyebabkan selaput ketuban pecah. atau mungkin janin mati. terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin. keseimbangan antara MMP dan TIMP-1 mengarah pada degradasi proteolitik dari matriks ekstra seluler dan membrane janin. tekanan darah. letak. Jika ada infeksi dan inflamasi. Membran janin dan desidua bereaksi terhadap stimuli seperti infeksi dan peregangan selaput ketuban dengan memproduksi mediator seperti prostaglandin. korion dan apoptosis membrane janin.  Dengan pemeriksaan auskultasi ditentukan janin hidup ada. sehingga terjadi depolimerasi kolagen pada selaput korion/ amnion. lemah dan mudah pecah spontan. gawat janin atau tidak. Pemeriksaan obstetrik  Pemeriksaan palpasi untuk menentukan umur kehamilan dan mengetahui ada tidaknya kontraksi uterus. kontraksi uterus dan gerakan janin.

Sedangkan tes negative palsu dapat terjadi jika cairan yang dianalisis terlalu sedikit.  Laboratorium Bila leukosit >15. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. berat janin dan derajat maturasi plasenta.  USG Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. dengan kertas nitrazin tidak berubah warna. USG bukan merupakan alat utama untuk mendiagnosis ketuban pecah.  Apa terlihat tali pusat. konfirmasi usia kehamilan. tetap berwarna kuning. jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal.  Jika tidak tampak keluar cairan maka fundus uteri ditekan. letak janin. akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada forniks posterior  Pemeriksaan dalam  Pada kehamilan aterm dapat dilakukan periksa dalam untuk menentukan besar pembukaan dan menilai skor pelvic. megejan atau megadakan manuvover valsava. bila ada perhatikan dengan teliti adakah pulsasi pada tali pusat.  Pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam.  Pemeriksaan dengan spekulum.  Cardiotokografi (Non-stress test) Bila ada infeksi intra uterine atau peningkatan suhu tubuh ibu maka akan terjadi takikardi janin. namun pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sedehana. Darah dan infeksi vagina dapat mengahsilakan tes yang positif palsu. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis. 4.  Mikroskopik (tes pakis): dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering.  Pemeriksaan dalam spekulum digunakan untuk melihat porsio masih tertutup atau sudah terbuka. Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya.5 sedangkan sekret vagina ibu hamil pH nya 4-5. mungkin ada infeksi  19 . penderita diminta batuk. atau bagian terendah digoyangkan.Inspeksi vulva  Apa ada cairan yang keluar dan bila ada tentukan warnanya. Karena pada waktu pemeriksaan dalam. Pemeriksaan penunjang  Tes lakmus (tes Nitrazin): jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis) karena pH air ketuban 7 – 7.000/uL atau tes LEA +3. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit.  Adakah air ketuban mengalir dari porsio dan perhatikan warnanya.

Hipoksia dan asfiksia Dengan pecahnya ketuban maka terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat sehingga terjadi hipoksio atau asfiksia. insidens infeksi sekunder pada ketuban pecah dini meningkat sebanding dengan lamanya periode laten. omfalitis. Tes alfa feto protein Alfa Feto Protein (AFP) terdapat dalam konsentrasi tinggi didalam cairan amnion sehingga dengan ditemukannya AFP pada cairan vagina merupakan diagnosis yang akurat untuk ketuban pecah. Tanda-tanda infeksi intra uterine adalah peningkatan suhu ≥38oC. Fibronektin fetal Fibronektin fetal merupakan glikoprotein yang banyak ditemukan pada cairan amnion.000/uL dan takikardia janin-ibu. Zat ini dapat dideteksi pada endoserviks atau vagina dengan pemeriksaan ELISA. Periode laten yaitu periode antara pecahnya ketuban sampai dimulainya persalinan tergantung dari usia kehamilan. Pada kehamilan antara 28 – 34 minggu 50% pesalinan terjadi dalam 24 jam. Komplikasi1  Persalinan premature Setelah ketuban pecah biasanya selalu diikuti dengan persalinan. Semakin sedikit air ketuban. Tes diamin oksidase Diamin oksidase adalah enzim yang diproduksi oleh desidua yang berdifusi ke dalam cairan amnion. Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ibu dapat terjadi korioamnionitis dan pada bayi dapat terjadi septicemia. pneumonia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dengan derajat oligohidramnion. methilen blue. Jika zat tersebut kemudian ditemukan pada tampon yang dipasang di vagina maka diagnosis ketuban pecah dapat ditegakkan. Pengukuran diamin oksidase pada vagina merupakan diagnosis yang akurat ketuban pecah. Flourescein atau pewarnaan intraamniotik Dengan menyuntikkan sodium flourescein atau pewarna seperti evans blue. Infeksi Resiko infeksi pada ibu dan janin meningkat pada ketuban pecah dini. Pada kehamilan < 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu. Pada ketuban pecah dini premature. janin semakin gawat. infeksi lebih sering terjadi dibandingkan dengan ketuban pecah dini pada kehamilan aterm.     Tes evaporasi Cairan endoserviks dipanaskan hingga kandungan airnya menguap. Secara umum. Namun jika residu yang tersisa berwarna coklat berarti selaput ketuban masih intak. Jika yang terlihat adalah residu berwarna putih berarti telah tejadi ketuban pecah.   20 . indigo carmine atau flourescien ke dalam kantung amnion melalui amniosentesis. leukositosis ≥ 15. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24jam setelah ketuban pecah.

Penatalaksanaan Dalam penatalaksanaan ketuban pecah dini ada beberapa hal dasar yang harus dilakukan sebelum melakukan tindakan yaitu:     Memastikan diagnosis Menentukan usia kehamilan Evaluasi ada tidaknya infeksi maternal ataupun infeksi janin Tanda-tanda inpartu dan gawat janin Penderita dengan kemungkinan ketuban pecah dini harus masuk rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.  Jika usia kehamilan < 32 – 34 minggu maka pasien dirawat selama air ketuban masih keluar atau sampai air ketuban tidak lagi keluar. dexametason IM 5mg setiap 6 jam sebanyak 4x dan induksi persalinan setelah 24 jam  Jika usia kehamilan 32 – 37 minggu dan ada infeksi maka beri antibiotic dan lakukan induksi. belum inpartu. tanda-tanda infeksi intra uterin). Secara umum. 1 Secara umum.  Jika usia kehamilan 32 – 37 minggu. korioamnionitis dan gawat janin maka kehamilan diterminasi. Bila terdapat persalinan dalam kala aktif. Sindrom deformitas janin Ketuban pecah dini yang terjadi terlalu awal menyebabkan pertumbuhan janin terhambat. penatalaksanaanya bergantung pada usia kehamilan. Bila ketuban pecah pada kehamilan premature maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih komprehensif. observasi tanda-tanda infeksi dan kesejahteraan janin. Terminasi kehamilan pada usia kehamilan 37 minggu  Jika usia kehamilan 32 – 37 minggu. terdapat 2 jenis penanganan dan penatalaksanaan pada kasus ketuban pecah dini yaitu: 1  Konservatif Rawat di Rumah Sakit. sudah inpartu. penatalaksanaan pasien ketuban pecah dini yang tidak dalam persalinan serta tidak ada infeksi dan gawat janin. Jika pada perawatan air ketuban berhenti keluar maka pasien dapat pulang untuk rawat jalan. kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota tubuh janin serta hipoplasia pulmonar. tidak ada infeksi dan tes busa negative maka diberikan dexametason IM 5mg setiap 6 jam sebanyak 4x. tidak ada infeksi maka berikan tokolitik (salbutamol). nilai tanda-tanda infeksi (suhu. Pada usia kehamilan 32 – 37 minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paru janin dan bila memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. 21 . berikan antibiotic ( ampicilin atau eritromisin 4x500mg dan metronidazol 2x500mg selama 7 hari. leukosit.

Bila keadaan ibu dan jani baik maka pilihan terapinya adalah konservatif dengan pemberian steroid untuk pematangan paru dan kehamilan dipertahankan hingga viable. keadaan ibu dan janin baik. tokolisis dan jika terdapat kompresi tali pusat atau plasenta sehingga air ketuban menjadi sedikit dilakukan amniofusi. penatalaksanaan ketuban pecah dini bergantung pada usia gestasi saat terjadi KPD. Bila KPD terjadi pada usia gestasi 32 – 35 minggu tata laksananya adalah pemberian antibiotik. Pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan uji lakmus.dan cukup minum. Bila ditemukan keadaan ibu dan janin dalam keadaan infeksi maka segera dilakukan terminasi.  Pada kehamilan ≥37 minggu dan taksiran berat janin (TBJ) ≥ 2500gram. tokolisis dan jika air ketuban sangat sedikit lakukan amniofusi. tirah baring. USG dan Non stressed Test (NST). Sedapat mungkin kehamilan dipertahankan 33-35 minggu bila tidak ada infeksi. Bila usia kehamilan antara 28 – 37 minggu. Tata laksana Ketuban Pecah Dini preterm berdasarkan Standar Pelayanan Medik RSPAD adalah Rawat inap segera. terdapat indikasi obstetric) dan ketuban pecah ≥12 jam maka berikan antibiotic dosis tinggi dan kehamilan diakhiri dengan seksio sesarea. vitamin C : 500 mg per hari per oral. Tujuan terapi pada KPDP adalah kuratif. Dapat pula diberikan misoprostol 25µg . Bila gagal maka dilakukan seksio sesarea. Bila Ketuban pecah pada kehamilan < 37 minggu dan TBJ < 2500 gram. induksi pematangan paru dengan dexametasone atau betametasone 12mg IV bila kehamilan >28 minggu. Dilakukan ekspektatif bila paru telah matang. Pada kehamilan > 35minggu prinsipnya adalah lahirkan janin dan berikan antibiotik sebagai profilaksis. tokolitik (bila ada kontraksi) : nifedipine 3 x 10 mg.5 22 . ICA ≤ 5. nilai keadaan ibu dan janin. kortikosteroid : kalmethasin 12 mg IM sebanyak dua kali pemberian dengan interval 24 jam. Berdasarkan Standar Pelayanan Medik POGI. skor pelvic ≥ 5 dan ICA > 5 maka dilakukan induksi dengan oksitosin. NST non-reaktif atau CST postif. skor pelvic < 5. Aktif  Pada kehamilan ≥37 minggu dan taksiran berat janin (TBJ) ≥ 2500gram. Perawatan diperlukan untuk evaluasi keadaan ibu dan janin serta perencanaan tatalaksana. Bila usia kehamilan < 28 minggu maka dilakukan Informed Consent mengenai prognosis janin yang ad malam.50µg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali. uji LEA. induksi pematangan paru dengan betametasone atau dexametasone 12 mg IV. Macam terapi yang diberikan adalah antibiotika berspektrum luas : eritromisin 4 x 250 mg selama 1 minggu (dapat diganti setelah ada hasil kultur dan uji kepekaan kuman). Pada kehamilan yang <32 minggu diberikan terapi antibiotik. keadaan ibu dan janin kurang baik ( terdapat tanda-tanda infeksi intra partum.

Oleh karena itu. hipokalsemia. 6 Komplikasi Komplikasi yang mungkin terjadi pada kehamilan dengan diabetes sangat bervariasi. Sedangkan pada janin akan meningkatkan resiko terjadinya makrosomia. seksio sesarea dan terjadinya diabetes melitus tipe 2 di kemudian hari. Resistensi ini berasal dari hormon diabetogenik hasil sekresi plasenta yang terdiri atas hormon pertumbuhan. trauma persalinan. Bayi yang lahir dari ibu dengan DM biasanya le ih besar dan bisa juga terjadi pembesaran dari organ-organ (hepar. 6 23 . hiperbilirubinemia neonatal. hiperbilirubinemia. Akan terjadi diabetes melitus gestasional apabila fungsi pankreas tidak cukup untuk mengatasi keadaan resistensi insulin yang diakibatkan oleh perubahan hormon diabetogenik selama kehamilan. keadaan DMG sering akan kembali ke regulasi glukosa normal. 6 Kadar glukosa yang meningkat pada ibu hamil sering menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap bayi yang dikandungnya. Segera setelah lahir. Bila diagnosis diabetes mellitus sudah dapat ditegakkan sebelum kehamilan tetapi tidak terkontrol dengan baik maka janin beresiko mempunyai kelainan congenital. placenta lactogen dan progesteron.DIABETES MELITUS GESTASIONAL Definisi Diabetes melitus gestasional (DMG) adalah intoleransi glukosa yang dimulai atau baru ditemukan pada waktu hamil. kelenjar adrenal. bayi dapat mengalami hipoglikemia karena produksi insulin janin yang meningkat sebagai reaksi terhadap kadar glukosa ibu yang tinggi. Hormon ini dan perubahan endokrinologik serta metabolik akan menyebabkan perubahan dan menjamin pasokan bahan bakar dan nutrisi ke janin sepanjang waktu. setelah bayi dilahirkan. polisitemia. Tidak dapat dikesampingkan kemungkinan adanya intoleransi glukosa yang tidak diketahui yang muncul seiring kehamilan. jantung). Pada ibu akan meningkatkan resiko terjadinya preeklampsia. kadar glukosanya perlu dipantau dengan ketat. 6 Patofisiologi Sebagian kehamilan ditandai dengan adanya resistensi insulin dan hiperinsulinemia. Setelah ibu melahirkan. yang pada beberapa perempuan akan menjadi faktor predisposisi untuk terjadinya DM selama kehamilan. hipoglikemia. sindroma distress neonatal (RDS) serta meningkatnya mortalitas atau kematian janin. corticotropin releasing hormon. Ibu hamil penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol dengan baik akan meningkatkan resiko terjadinya keguguran atau bayi lahir mati.

24 . pada pagi hari diambil contoh darah. Pasien harus makan mengandung cukup karbohidrat minimal 3 hari sebelumnya. Dianjurkan melakukan pemeriksaan penapisan DMG pada semua ibu hamil pada kunjungan pertama. bila hasilnya negatif diulang pada minggu gestasi 2426.8 Sebaiknya sebelum hamil seorang wanita sudah diperiksa kadar glukosa darahnya agar dapat diketahui adanya DM dan kadar glukosa darah dapat dikendalikan sebelum hamil. kemudian semalam sebelum hari pemeriksaan harus berpuasa selama 8-12 jam. Setelah persiapan dalam keadaan berpuasa. Sedangkan bila kadar glukosa darah puasa < 126 mg/dl. riwayat ibu DM atau pernah DMG pada kehamilan sebelumnya sebaiknya penapisan dilakukan lebih awal dan diulang kembali pada minggu gestasi ke 26 apabila hasil tes awal negative. kemudian diberikan beban glukosa 75 gram dalam 200 ml air. Kriteria Diagnosis2. Persiapan untuk melakukan tes toleransi glukosa sama dengan persiapan TTGO pada umumnya. melahirkan bayi besar.7 Riwayat Kebidanan :  Riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas  Riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan  Pernah melahirkan bayi dengan berat badan lahir > 4000 gram  Abortus > 2 kali berturut-turut  Pernah preeklamsia dan Polihidramnion Riwayat ibu :      Pernah diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya Riwayat DM dalam keluarga Usia ibu > 30 tahun Ibu dengan obesitas atau kegemukan Infeksi saluran kencing dan kandidiosis vagina yang berulang pada kehamilan. Dinyatakan positif apabila hasil glukosa puasa >126 mg/dl dan 2 jam > 200 mg/dl. Contoh darah berikutnya diperiksa 2 jam setelah beban glukosa. mereka yang tergolong TGT harus diobati sebagai DM. Sebaliknya penapisan yang terlalu tua mengakibatkan keterlambatan pengobatan pada mereka dengan DMG. Pada mereka yang mempunyai faktor risiko yang sangat mencurigakan seperti sering abortus. Contoh darah yang diperiksa adalah plasma vena. Khusus untuk wanita hamil. Penapisan DMG yang dilakukan pada umur kehamilan muda akan memberikan hasil tes negatif yang terlalu tinggi. Beberapa peneliti menganjurkan penapisan dimulai pada minggu gestasi ke 24-26. Mereka yang mempunyai kadar glukosa darah puasa < 126 mg/dl dan 2 jam  200 mg/dl juga disebut diabetes melitus.FAKTOR RESIKO DMG 6. tetapi kadar glukosa darah 2 jam antara 126-199 mg/dl disebut tes toleransi glukosa terganggu (TGT).

Bila glukosa darah puasa < 130 mg/dl. Pada umumnya untuk DMG dianjurkan 35 Kal/kg BB ideal. Jumlah Kalori dan Komposisi Makanan 8 Untuk menentukan jumlah kalori yang diperlukan ada beberapa cara yang dipakai. Bila kadar glukosa darah puasa  130 mg/dl pada pasien langsung diberikan insulin di samping perencanaan makan. Tujuan perencanaan makan adalah:  mencapai normoglikemia  pertumbuhan dan perkembangan janin yang optimal Perencanaan makan pada DMG tidak semata-mata untuk mencapai normoglikemia. Ini hanya dapat dicapai apabila keadaan normoglikemia dapat dipertahankan selama kehamilan sampai persalinan. Sasaran normoglikemia DMG adalah kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl dan 2 jam pp < 120 mg/dl.100) – 10%. Cara yang dianjurkan adalah Berat Badan Idaman (Broca) = (TB .500 kal. perencanaan makan merupakan tahap awal yang penting pada penatalaksanaan DMG. Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu. kecuali pada penderita gemuk. spesialis obstetri ginekologi. Kebutuhan kalori merupakan jumlah keseluruhan kalori yang diperhitungkan dari:  kalori basal 25 kal/kg BBI  kalori untuk kegiatan jasmani 10-30%  penambahan kalori untuk kehamilan 300 . spesialis anak dan ahli gizi. tetapi jumlah kalori maupun komposisi makanan harus diperhitungkan untuk pertumbuhan janin agar menghasilkan bayi yang sehat. 25 . dilakukan pemeriksaan glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan untuk menentukan langkah penatalaksanaan.PENATALAKSANAAN DMG 6 Penatalaksanaan DMG sebaiknya dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis penyakit dalam. Untuk mencapai sasaran tersebut dapat dilakukan:  Perencanaan makan yang sesuai dengan kebutuhan  Pemantauan glukosa darah sendiri di rumah  Pemberian insulin bila belum tercapai normoglikemia dengan perencanaan makan Segera setelah pasien didiagnosis DMG. Pada dasarnya penatalaksanaan kehamilan dengan diabetes melitus meliputi :  Pengendalian kadar gula darah Penatalaksaan medis pada DMG ditujukan untuk mencapai sasaran normoglikemia. perlu dipertimbangkan kalori yang sedikit rendah. terutama pada penderita yang diagnosis dibuat setelah minggu ke 28 gestasi. dimulai dengan perencanaan makan saja. Perencanaan Makan 8 Sesuai prinsip penatalaksanaan DM. kesakitan dan kematian perinatal.

Komposisi makanan yang dianjurkan = untuk pasien DM pada umumnya. 100 IU) Mixtard 30/70 Rangkuman langkah-langkah pemeriksaan kadar gula darah dan protokol tindakan terdapat dalam table di bawah ini. Hanya pada keadaan tertentu bila kadar glukosa belum terkendali dengan pemberian 2 kali. Pada umumnya insulin dimulai dengan dosis kecil. 100  Insulin kerja menengah : Humulin (40 IU. Insulin 7 Bila dengan pengaturan perencanaan makan selama 2 minggu tidak tercapai sasaran normoglikemia yaitu glukosa darah plasma puasa < 105 mg/dl dan 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl.5 unit/kg bb. Untuk menjamin pertumbuhan janin yang baik . insulin harus segera dimulai. 2/3 diberikan pada pagi hari dan 1/3 pada sore hari. Protokol terapi insulin yang direkomendasikan 26 . kebutuhan protein ibu hamil dianjurkan 1-1. Dosis insulin diperkirakan antara 0. Insulin yang dipakai sebaiknya human insulin. pagi dan sore hari.5 – 1.100 Insulatard human 40. bertambah dengan meningkatnya usia kehamilan. Pada pasien dengan hiperglikemia pada keadaan puasa maupun sesudah makan diberikan insulin kombinasi kerja cepat dan kerja menengah.5 g/kgBB. Demikian juga pembagian porsi makanan selama sehari. Tabel.100  Insulin kerja campuran : Humulin 30/70 (40 IU. 100 IU) Monotard Human 40. 100 IU) Actrapid Human 40. Berbagai macam insulin yang dapat diperoleh di pasaran:  Insulin kerja cepat : Humulin R (40 IU. Pada DMG dengan hiperglikemia hanya pada pagi hari cukup diberikan suntikan insulin kerja menengah sebelum tidur malam hari. perlu diberikan insulin 4 kali sehari yaitu 3x insulin kerja cepat setengah jam sebelum makan dan insulin kerja menengah pada malam hari sebelum tidur.

mengingat morbiditas janin yang tinggi. Bila hasil NST janin non reaktif. namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normal  10x/12 jam). pemeriksaan NST dapat dilakukan pada usia gestasi 32-34 minggu.  FDJP (Fungsi Dinamik Janin Plasenta) Penilaian menyeluruh janin dilakukan dengan skor FDJP. Janin 27 .  Gerakan janin Dapat dilakukan oleh penderita sejak usia kehamilan 28 minggu. bahkan kini ditunggu 1-2 minggu lewat waktu. Pada kasus yang terkendali. moniliasis) dan kadar gula darah tak terkontrol. hidramnion dan adanya mikrosomia. penentuan usia kehamilan. Bila kadar gula darah ibu terkontrol dan janin sejahtera tidak ada indikasi untuk melakukan induksi sebelum usia kehamilan 40 minggu. Pada janin yang tidak sejahtera akan terjadi deselerasi setelah timbulnya kontraksi. Penilaian ini dilakukan setiap minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. nefropati. Rasio L/S > 2 atau didapatkannya fosfatidilgliserol menunjukkan paru-paru janin sudah matang. Pasien DMG yang berkomplikasi biasanya memerlukan insulin. Penilaian menyeluruh janin dilakukan dengan skor FDJP. Adanya makrosomia.  Pemantauan kesejahteraan janin6  Ultrasonografi Pemeriksaan ini digunakan untuk mengevaluasi pertumbuhan janin. terutama risiko terjadinya gagal nafas. Janin yang sehat (skor FDJP > 9) dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa.  Kematangan Paru Penilaian dapat dilakukan dengan amniosentesis dan pemeriksaan rasio Lesitin-Sfingomielin atau mencari adanya fosfatidilgliserol. Pada saat SC penatalaksanaan ibu DMG sama seperti lazimnya pasien DM dengan pembedahan. lanjutkan dengan pemeriksaan CST. Normalnya  10 kali/12 jam. dimana dapat terjadi kematian janin mendadak.  Kardiotokografi Sebaiknya dilakukan mulai trimester II kehamilan. Pemeriksaan ini dilakukan sejak usia gestasi 28 minggu dan dilakukan 1x/minggu. Pemantauan ibu dan janin dilakukan dengan pengukuran tinggi fundus uteri. kelainan vaskuler. mendeteksi kelainan kongenital. Penatalaksanaan obstetric Bila kadar gula darah ibu terkontrol dan janin sejahtera tidak perlu dilakukan rawat inap. PJT dan gawat jain merupakan indikasi untuk melakukan persalinan dengan SC. Skor < 5 merupakan tanda gawat janin. Skor < 5 merupakan tanda gawat janin dan harus diterminasi segera dengan SC. Penilaian ini dilakukan setiap minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. infeksi seperti glomerulonefritis. Namun pasien DMG dengan komplikasi (hipertensi/preeklamsia. Pada kasus IDDM persalinan lebih aman bila ditunggu hingga aterm. mendengarkan DJJ dan secara khusus memakai USG dan CTG. harus dirawat sejak minggu kehamilan ke 34.

yang sehat (skor FDJP > 9) dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa. Bila diperlukan terminasi kehamilan. 28 . harus dilakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila usia kehamilan masih < 38 minggu).

Dari riwayat obstetri. diet DM 1900kkal. Sedangkan bila kadar glukosa darah puasa < 126 mg/dl. setelah itu rencana terminasi setelah pematangan paru Bila dibandingkan dengan penatalaksanaan KPD berdasarkan POGI maka bila KPD terjadi pada usia gestasi 32 – 35 minggu tata laksananya adalah pemberian antibiotik. pasien menyangkal menderita diabetes melitus dan pada pemeriksaan GDP sebelum hamil diperoleh hasil GDP 78mg/dL dan pada usia kehamilan 19 minggu GDP dan hasil TTOGnya 75/85 mg/dL. cairan 3000ml/24jam. Dalam hal ini pasien mempunyai faktor predisposisi yang dapat menyebabkan ketuban pecah dini yaitu adanya keputihan dan juga periodontitis. HPHT tanggal 17 agustus 2010. Pada riwayat penyakit dahulu.BAB IV ANALISIS KASUS Pasien G3P0A2 hamil 32 minggu datang ke RSPAD dengan keluhan keluar airair sejak 4 jam SMRS. Oleh sebab itu pada pasien ini. Khusus untuk wanita hamil. ostium terbuka ± 1cm dan ketuban dinyatakan (-). Mereka yang mempunyai kadar glukosa darah puasa < 126 mg/dl dan 2 jam  200 mg/dl juga disebut diabetes melitus. valsava (+) dan tampak cairan ketuban keluar dari ostium uteri eksterna (OUE). mereka yang tergolong TGT harus diobati sebagai DM. Pasien teratur melakukan Ante Natal Care (ANC) di RSPAD GS. vitamin C 2x400mg IV. hasilnya adalah portio kenyal. Dari hasil anamnesis awal pasien mengaku mengalami keputihan beberapa hari sebelum ketubannya pecah dan dari pemeriksaan inspekulo terlihat adanya flour albus. posterior. cukup serat. antibiotik Ceftriaxon 1x2gr IV. pematangan paru dengan dexametason 2x6mg selama 2 hari. Dari inspekulo didapatkan hasil berupa portio licin. induksi pematangan paru dengan betametasone atau dexametasone 29 . Ini merupakan faktor resiko juga karena ada kemungkinan terjadi inkompetensia serviks karena ostium serviks dapat selalu terbuka. dimana pada keadaan infeksi terjadi peningkatan interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Dinyatakan positif DM apabila hasil glukosa puasa >126 mg/dl dan 2 jam > 200 mg/dl. tetapi kadar glukosa darah 2 jam antara 126-199 mg/dl disebut tes toleransi glukosa terganggu (TGT). Peningkatan ini menghasilkan kolagenase jaringan sehingga terjadi depolimerasi kolagen pada selaput korion yang menyebabkan selaput ketuban tipis. pasien dua kali mengalami abortus dan dikuret. ostium terbuka 1 cm. maka penatalaksanaan awal pada pasien ini adalah tokolisis dengan nifedipin tablet 4x10mg. Pada pemeriksaan lanjutan tanggal 28 maret 2011 pasien mengeluh gusinya bengkak dan juga mengaku bahwa giginya memang berlubang sudah lama dan sakit. Dari hasil pemeriksaan gula darah sewaktu dan TTOG pada usia kehamilan 30 minggu ditemukan kadar gula darah puasa 87mg/dL dan gula darah 2 jam post pembebanan glukosa (TTOG) sebesar 150mg/dL. Dari data anamnesis dan pemeriksaan obstetri dapat disimpulkan bahwa pasien hamil 32 minggu + 4 hari dengan ketuban pecah dini preterm belum inpartu. selain terdiagnosis dengan KPD preterm juga didiganosis dengan Diabetes Melitus Gestasional (DMG) Dengan diagnosis awal berupa G3P0A2 Hamil 32minggu dengan KPD dan DMG. Dari pemeriksaan dalam. lemah dan mudah pecah spontan.

30 .5 kalori  Koreksi atau penyesuaian  Aktivitas ibu (bekerja) = + 30% dari kebutuhan basal = 330. Pada usia kehamilan 32 – 37 minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paru janin dan bila memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. Sedangkan berdasarkan standart pelayanan medik RSPAD Gatot Soebroto maka penatalaksanaannya berupa antibiotika berspektrum luas : eritromisin 4 x 250 mg selama 1 minggu (dapat diganti setelah ada hasil kultur dan uji kepekaan kuman). vitamin C : 500 mg per hari per oral. pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan uji lakmus.  Kebutuhan basal wanita = 25 kalori/kgBB ideal  BB ideal = (150 – 100) – (10% x 59kg) = 44. leukosit. Dilakukan ekspektatif bila paru telah matang. Bila keadaan ibu dan janin baik maka pilihan terapinya adalah konservatif dengan pemberian steroid untuk pematangan paru dan kehamilan dipertahankan hingga viable. tokolisis dan jika terdapat kompresi tali pusat atau plasenta sehingga air ketuban menjadi sedikit dilakukan amniofusi. Terminasi kehamilan pada usia kehamilan 37 minggu Jika usia kehamilan 32 – 37 minggu dan ada infeksi maka beri antibiotic dan lakukan induksi.5 Jika ditinjau dari tata laksana ketuban pecah dini berdasarkan buku Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo maka jika usia kehamilan 32 – 37 minggu.75 + 500 = 1933. nilai tanda-tanda infeksi (suhu. Bila usia kehamilan antara 28 – 37 minggu. 1  Kebutuhan basal = 44. uji LEA.dan cukup minum.5 + 330.12 mg IV.75 kalori  Kalori untuk kehamilan trimester III = 500 kalori  Total Kalori diet per hari = 1102.25 kalori ~ 1900 kalori Dengan jumlah kalori 1900 per hari gula darah pasien terkontrol sehingga untuk penatalaksanaan DMG selanjutnya dilakukan dengan pengaturan jumlah kalori pasien sebesar 1900 kalori.1 x 25 kalori = 1102. nilai keadaan ibu dan janin. USG dan Non stressed Test (NST). tidak ada infeksi dan tes busa negative maka diberikan dexametason IM 5mg setiap 6 jam sebanyak 4x. Bila Ketuban pecah pada kehamilan < 37 minggu dan TBJ < 2500 gram. belum inpartu. observasi tanda-tanda infeksi dan kesejahteraan janin. tirah baring. tanda-tanda infeksi intra uterin). tokolitik (bila ada kontraksi) : nifedipine 3 x 10 mg. Untuk masalah DMG-nya pasien dikonsulkan ke bagian gizi dan dari bagian gizi menetapkan jumlah kalori yang dapat dikomsumsi oleh pasien adalah sebesar 1900kkal yang berasal dari perhitungan cara Broca yaitu BB Ideal = (TB – 100) – 10% dari BB sekarang. kortikosteroid : kalmethasin 12 mg IM sebanyak dua kali pemberian dengan interval 24 jam. Bila ditemukan keadaan ibu dan janin dalam keadaan infeksi maka segera dilakukan terminasi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. B. antibiotik sebagai profilaksis infeksi dan terminasi segera setelah ditemukan tanda-tanda infeksi intra uterin. Prinsip pemilihan metode persalinan pervaginam maupun SCTPP didasarkan pada keadaan ibu dan janin. persalinan premature dan Respiratory Distress Syndrome pada bayi akibat hipoplasia paru. KPD 3 hari. CRP Semi kuantatif : 24 mg/ L dan CTG dengan hasil: frekuensi dasar 161 dpm maka penulis lebih mengarah kepada diagnosis kerja berupa G3P0A2 hamil 32minggu dengan infeksi intra uterin. Nadi :103x/menit. JPKTH dengan kontraksi berulang. Prinsip penatalaksanaan kehamilan dengan IIU adalah segera terminasi kehamilan. Leukosit: 21100/uL. Ketuban pecah ini merupakan faktor utama terjadinya infeksi intra uterin. Pada kasus ini dimana keadaan janin dan ibu kurang baik dengan pembukaan hanya 3cm maka pilihan SCTPP merupakan metode persalinan terpilih. 31 . Pada kasus ini terjadi KPD dengan jenis Ketuban pecah dini preterm dimana usia kehamilan < 37 minggu. SARAN Apabila ditemukan kasus seperti ini di kemudian hari maka perlu dilakukan pemantauan dan penatalaksanaan yang tepat dan cepat guna mencegah terjadinya komplikasi-komplikasi yang membahayakan ibu dan janin. Sehingga penatalaksanaan utamanya adalah dengan pematangan paru.Pada tanggal 30/03/2011 berlangsung SCTPP pada ibu dengan diagnosis G3P0A2 HAmil 32 minggu. Penulis merasa kurang setuju dengan diagnosis tersebut karena berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang ditemukan hasil suhu: 37.9 oC. KESIMPULAN Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum waktu persalinan.

Norwitz Errol.Jhon. 2007 32 . 1993 : 280-300. 2.2008. Penerbit Erlangga. Standar Pelayanan Medik Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad. Jakarta. Sarwono. 851-56. Moor J. Schorge. Jakarta. EGC. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Missouri. Penyakit Endokrin. 5. 2008. Ketuban Pecah Dini dalam Esensial Obstetri dan Ginekologi. 2008. Rachimhadi T. In Practical Guide to High-Risk Pregnancy and Delivery. 2008. Ketuban Pecah Dini dalam Ilmu Kebidanan. 2008. 2001.F.. Jakarta. 8.. Dalam Wiknjosastro H. Jakarta.1.. Ketuban Pecah Dini dalam At a Glance Obstetri & Ginekologi. Hudono ST.Diabetes dalam Kehamilan. 7. Himpunan Kedokteran Feto Maternal POGI. Saifuddin AB. 6. 2nd ed. Wiknjosastro GH. 4. hal : 304 – 306. hal 119. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. hal 677-81.. Mosby Year Book Inc. Diabetes and Pregnancy. hal 118-19. Buku ajar patologi obstetric. Penatalaksanaan Kehamilan Dengan Diabetes Mellitus. edisi kedua. edisi 2.George. Hacker Neville. Jakarta. edisi keempat. Hipokrates. DAFTAR PUSTAKA Prawirohardjo. Arias F. Manuaba ida ayu. dkk. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful