REFLEKSI KASUS

CHROMOBLASTOMYCOSIS

Sonny Wijanarko
08/264946/KU/12622

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

yaitu nodul dan plak. Namun sel ini tidak memberikan informasi untuk kausa penyakit. Tempat – tempat yang sering terkena adalah ekstremitas bawah. meninggi. Lesi noduler biasanya berkembang menjadi verrucose. sehingga lesi memberikan bau. GAMBARAN KLINIS Pada anamnesis pasien mungkin tidak mengeluhkan apapun sampai terjadi infeksi sekunder atau elephantiasis. dan lesi menyebar secara lateral ke jaringan sehat. lymphedema. Penyakit ini terjadi pada tempat dengan trauma pada kulit yang mungkin pasien sudah lupa waktunya. atau yang lebih jarang Rhinocladiella aquaspersa). Setelah beberapa tahun. phialophora verrucosa. Telinga. sehingga dijumpai atrofi dan scar. Pada kedua tipe ini permukaanya verrucose. sedangkan pada plak menyebar secara lateral dengan tepi yang aktif dan meninggi. Cladosporium Carrionii. Karena lesi chromoblastomycosis terbentuk dalam jangka waktu tahunan. Terdapat 2 varian dari UKK pada penyakit ini. Pada permukaan kedua tipe dapat dijumpai black dots. Penyebaran secara hematogen dan limfatik dapat terjadi namun jarang. eritem. pemeriksaan KOH 10% adalah yang paling bermanfaat. Identifikasi spesies dilakukan seperti biasa dengan menilai berbagai karakteristik termasuk produksi konidia. PEMERIKSAAN LAB Dari pemeriksaan lab yang dapat dilakukan. dan carcinoma. Lesi yang menyebar ke tulang dapat menyebabkan lesi osteolitik. Dapat juga ditemukan hifa. setiap agen kausatif memiliki pola yang mirip. dan dada juga dapat terkena namun jarang. wajah. Dapat juga disertai infeksi sekunder. fonsacea compacta. elephantiasis. Penyebaran hematogen dan limfatik dapat terjadi sehingga terdapat lesi metastatic yang jauh dari lokasi primer. Pada kultur. pedunculated. terbentuk papul yang kecil. Biasanya terletak pada tungkai bawah.PENDAHULUAN Chromoblastomycosis adalah infeksi jamur kronis pada kulit dan jaringan subkutan yang disebabkan oleh inokulasi dari kelompok jamur yang spesifik (biasanya Fonsacaea pedrosoi. cauliflowerlike. gambarannya berupa nodul dan plak verrucosa yang disertai ulkus. lengan. warna seperti cerutu. disebut dengan Medlar bodies. Akan ditemukan sel yang sklerotik. dinding tebal. . Dapat juga terdapat materi hemopurulent yang menutupi ulkus kecil. dan bokong. dengan penyembuhan pada area central. Infeksi sekunder oleh bakteri dapat terjadi. Infeksi sekunder dipercaya sebagai penyebab terjadinya stasis limfe dan kemudian terjadi elephantiasis. yaitu koloni seperti beludru yang tumbuh lambat disertai bentuk seperti cap berwarna hitam. Fungus penetrasi ke kulit biasanya karena trauma. Agen kausatif lebih mudah didapat dari specimen yang diambil dari black dots. biasanya terdapat scale dan infiltrasi.

Lebih dari lima lesi atau lesi metastatic Komplikasi: Satu poin dari setiap komplikasi: Lymphedema 1 poin. Lesi lebih besar dari 100cm2 Jumlah lesi: 1. Di dalam giantcell terdapat sel fungi berwarna coklat. dan giantcell. Biasanya ditemukan pseudoepitheliomatous hyperplasia dari epidermis dengan infiltrate lymphomononuclear yang diffuse. Ulkus 1 poin. ulkus. adanya komplikasi (lymphedema. cepat. Cryosurgery dengan nitrogen cair adalah cara pembedahan yang sering dilakukan untuk menangani lesi kutan baik jinak maupun ganas. Lesi kecil sampai 25cm2 2. STAGING Castro tahun 1999 mengemukakan staging berdasarkan klinis. infeksi sekunder) dan respon pada terapi sebelumnya. dan luasnya lesi. chemotherapy. Pemeriksaan radiografis dapat dilakukan apabila ada keterlibatan tulang. walaupun jarang. Kesuksesan tergantung dari agen kausatif. eksisi dan pemanasan). yaitu terapi fisik (cryoterapi. TERAPI Terdapat tiga jenis terapi. Pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan. Tidak diperlukan pengecatan khusus. biasanya sampai 7 kali sesi untuk sembuh. Resistensi terhadap terapi sebelumnya ditambah 1 poin. Pemeriksaan lain yang dapat menunjang adalah Enzyme-linked Immunoabsorbent Assay (ELISA). dan kombinasi. Polymerase chain reaction (PCR). Dapat juga ditemukan abses. Lesi tunggal 2. jumlah lesi. granuloma. Pada pemeriksaan histologis dengan pengecatan hematoxylin-eosin dapat terlihat fungi berwarna seperti cerutu. infeksi sekunder 1 poin. Dulu temperature yang rendah dipercaya dapat . dan rolling circle amplification (RCA).Pemeriksaan serologis dilakukan hanya untuk kepentingan penelitian. Dua sampai lima lesi 3. Pasien diklasifikasikan dengan stage mild (sampai 3 poin) moderate (4-6 poin) dan severe (7-10 poin) Area lesi 1. Cara ini memberikan hasil memuaskan untuk lesi yang kecil dan terlokalisir. Pemeriksaan RCA murah. Lymphoscintigrafi dapat dilakukan untuk mengevaluasi lymphedema. gambaran klinis. Staging didasarkan pada luasnya lesi. sensitive yang mungkin praktis dalam penegakan diagnosis. Lesi sedang 25cm2-100cm2 3. mikroabses. namun tidak rutin.

Treatment dengan modalitas multiple sering dikombinasikan. Di Jepang terapi pemanasan digunakan. dan terapi fisik. Withdrawal obat dapat membuat relapse. dan hasilnya juga bervariasi. Antibiotic oral dapat digunakan. dalam waktu 6-12 bulan. Dosis bervariasi dari 200-400 mg. 2005). hasilnya menunjukkan outcome yang sedikit lebih baik dari itraconazole dan terbinafine. Fisioterapi dan drainase limfe dapat dilakukan untuk mencegah lymphedema. Peningkatan suhu menghambat perkembangan jamur. Ulkus dan infeksi sekunder ditangani dengan perawatan. Pada kasus severe dapat dilakukan treatment selama beberapa tahun. .menghancurkan agen infeksi. dengan tidak relapse sampai 15 tahun. menunjukkan hasil yang baik. Lesi terlokalisir berespon baik untuk terapi. Itraconazole oral dapat digunakan sebagai monotherapy atau dikombinasikan dengan flucytosine (5-FC). 82% pasien dengan refraktori chromoblastomycosis menunjukkan kesembuhan (Keating. yaitu pemberian antifungal jangka panjang. Walaupun efikasi telah terbukti namun mekanismenya belum diketahui. namun kesembuhan total jarang. pembedahan. secara eksperimental digunakan untuk chromoblastomycosis. derivate triazole baru. Efek samping jarang. Radiasi photodynamic therapy (PDT) dengan 5-aminolevulinic acid (ALA) juga dapat dilakukan. Posaconazole. Itraconazole memberikan perbaikan yang paling drastic saat beberapa bulan terapi. namun kultur fungi pada temperature -196°C tidak dapat membunuh. Pendinginan dalam studi dilakukan bervariasi mulai dari 30 detik sampai 4 menit. Berbagai pengobatan antifungal telah dilakukan dan hasil terbaik adalah dengan itraconazole dan terbinafine dosis tinggi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful