You are on page 1of 25

PENGARUH PEMBERIAN SUSU FORMULA TERHADAP KEJADIAN KESAKITAN PADA BAYI

Oleh MELISHA L. GAYA 07120022

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2008

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Berdasarkan Kepmenkes RI no : 450/MENKES/SK/IV/2004, pemberian ASI

eksklusif, atau ASI saja, bagi bayi di Indonesia dilakukan sejak bayi lahir sampai dengan bayi berumur 6 (enam) bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak berusia 2 (dua) tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai. Tetapi pada kenyataannya masih banyak ibu yang memberikan susu formula pada bayi-bayi mereka yang masih berusia di bawah 6 bulan. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003 menunjukkan bahwa ibu-ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya yang berusia 4-5 bulan hanya sebesar 14%. Selain itu, satu dari tiga bayi usia 2-3 bulan telah diberi makanan tambahan, salah satunya susu formula. Masih menurut berdasarkan SDKI, penggunaan susu formula meningkat dari 10,8% pada tahun 1997 menjadi 32,5% pada tahun 2002. Berbagai alasan dituturkan oleh para ibu yang memberikan susu formula pada bayibayi mereka. Salah satunya adalah kurangnya masa cuti melahirkan di Indonesia, yaitu hanya selama 3 bulan, sehingga para ibu terpaksa memberikan susu formula pada bayi mereka yang baru berusia 3 bulan selagi mereka bekerja. Hal ini begitu memprihatinkan, karena pemberian susu formula pada bayi justru dapat menyebabkan berbagai penyakit. Sekitar 80% susu formula yang beredar di pasaran, bahan utama dari susu formula adalah susu sapi (Judarwanto, 2005). Meskipun kepadatan kalori keseluruhan pada susu sapi yang tidak dimodifikasi (65 kal/100ml) mirip dengan ASI, komposisinya sangatlah berbeda dengan ASI (Wilson, 2003). Penelitian dari beberapa

negara barat mengindikaskan bahwa 2,5 % bayi mengalami alergi terhadap susu sapi

(Sampson & Leung, 2004). Sedangkan di Indonesia, angka kejadian alergi terhadap susu sapi bervariasi, mulai dari 0,5%-7,5%, dan sekitar 2% dari 1,5 juta bayi di Yogyakarta menderita alergi terhadap susu sapi (Kumalasari, 2007). Pada bayi, sawar fungsional (seperti keasaman lambung, enzim enzim usus, dan sebagainya), serta sawar imunologis (seperti sekresi IgA) belum matang dan memungkinkan peningkatan penetrasi antigen makanan. Ditambah dengan GALT (Gut-Associated Lymphoid Tissue) yang masih kurang mampu menoleransi penetrasi antigen tersebut, sehingga menyebabkan reaksi hipersensitivitas makanan rentan terjadi pada usia ini (Sampson & Leung, 2004). Sensitivitas terhadap susu sapi sering menimbulkan diare, tidak jarang steatore, dan peningkatan berat badan yang lambat. Dua per tiga kasus kasus sensitivitas terhadap susu sapi menunjukkan gejala muntah, yang lainnya adalah gagal tumbuh, distensi abdomen, rasa cepat kenyang sehingga bayi tidak mau menyusu lagi, dan malabsorpsi. Terkadang juga muncul gejala anemia, edema, dan hipoproteinemia walaupun jarang (Sampson & Leung, 2004). Berdasarkan survei yang dilakukan Departemen Kesehatan Indonesia, angka kesakitan diare yang dilaporkan dari sarana kesehatan dan kader per 1.000 penduduk, terlihat adanya kecenderungan menurun sejak tahun 1993 yaitu dari 28,77 per 1.000 penduduk menurun menjadi 21,22 per 1.000 penduduk pada tahun 1996. Akan tetapi terjadi sebaliknya dengan angka kematiannya per 100 penderita,angka kesakitan diare justru terlihat meningkat dari tahun 1993 yaitu dari 0,015 menjadi 0,022 pada tahun 1996. Berdasarkan hasil pemantauan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit diare yang dilaporkan, dari 19 propinsi di Indonesia pada tahun 1995, telah terjadi KLB di 64 kabupaten, dengan jumlah penderita 8.011 orang, meninggal 360 orang. Pada tahun 1996, KLB diare

terjadi di 59 Kabupaten, dengan jumlah penderita 8.584 orang dengan jumlah kematian 208 orang. Sedangkan angka kesakitan diare di daerah Transmigrasi di 18 Propinsi yang melaporkan pada tahun 1996 menunjukkan bahwa angka kesakitan diare per 1000 penduduk tertinggi ada di propinsi DI Aceh (69,54) , propinsi Sumatera Barat ( 48,87) menyusul propinsi Irian Jaya (40,73) dan terkecil adalah propinsi Sulawesi Tenggara ( 2,11). Selain gejala-gejala yang berhubungan dengan sistem pencernaan, hipersensitivitas terhadap susu sapi pada bayi juga dapat menimbulkan ganggaun sistem respirasi. Salah satunya gejala hipersensitivitas terhadap susu sapi pada sistem respirasi yang paling sering terjadi adalah asma. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menyatakan bahwa angka kejadian asma meningkat lebih dari 160% pada bayi-4 tahun di dari tahun 1980-1995. Sedangkan di Indoensia angka kejadian asma pada orang dewasa adalah 2-5% penduduk Indonesia, dan angka kejadian pada anak dan bayi lebih tinggi daripada angka kejadian pada orang dewasa. Berdasarkan uraian-uraian yang telah disebutkan di atas, timbul keinginan peneliti untuk menggali lebih banyak lagi mengenai pengaruh pemberian susu formula pada bayi. 1.2 Rumusan Masalah Uraian ringkas dalam latar belakang masalah di atas memberikan dasar peneliti untuk merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : Faktor apa saja yang menyebabkan tingginya angka kejadian kesakitan pada bayi yang diberi minum susu formula ? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka kejadian kesakitan pada bayi yang diberi susu formula. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui pengaruh pemberian susu formula terhadap kejadian diare pada bayi. 2. Mengetahui pengaruh pemberian susu formula terhadap kejadian penyakit asma pada bayi. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Memberi masukan tentang berbagai pengaruh pemberian susu formula pada kesehatan bayi. 2. Memberi masukan untuk bidang pediatrik sehubungan dengan masalah kesehatan pada bayi yang disebabkan oleh pemberian susu formula.
3. Sebagai sumber informasi untuk penelitian selanjutnya.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Susu Formula 2.1.1. Klasifikasi Susu formula dapat digolongkan menjadi 2 golongan. Yang pertama adalah susu formula bayi, yaitu produk makanan yang formulanya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dari lahir sampai umur antara 4 dan 6 bulan sesuai dengan karateristik fisiknya. Sedangkan yang kedua adalah susu formula lanjutan, yaitu produk makanan yang formulanya dimaksudkan untuk bayi setelah berumur 6 bulan (KepMenKes RI no : 237/MENKES/SK/IV/). 2.1.2. Komposisi Mayoritas susu formula berbahan pokok susu sapi, dan pada umumnya susu formula menyerupai ASI dalam hal komposisi kimia, namun terdapat kekurangan dalam hal enzimenzim, substansi imunologis, atau substansi-substansi bioaktif lainnya yang ditemukan dalam ASI (Weaver, dkk, 2003) Nutrisi Protein Casein : Whey Karbohidrat Lemak Linoleat dan asam linoleat Mineral Natrium Kalium Klorida Kalsium Fosfor Magnesium Komposisi Nutrisi 15-20 gr/L Vitamin 80 : 20 A (retinol) 48-100 gr/L D 23-50 gr/L E (-tocopherol) >1% energi total K C 15-35 mg/dL B1 (Tiamin) 50-100 mg/dL B2 (Riboflavin) 40-80 mg/dL B3 (Nicotinaminde) 30-120 mg/dL B6 (Pyridoxin) 15-60 mg/dL B12 2,8-12 mg/dL Asam pantotenat Komposisi 40-150 g/dL 0,7-1,3 g/dL >0,3 mg/dL >1,5 g/dL >3 mg/dL >13 g/dL >30 g/dL >230 g/dL >5 g/dL >0,01 g/dL >200 g/dL

Zat besi Zinc Tembaga

70-700 g/dL 200-600 g/dL 10-60 g/dL

Biotin Asam folat (Williams, 2003)

>0,5 g/dL >3 g/dL

Tabel 2.1 Dalam pembuatan susu formula, modifikasi yang dilakukan terhadap susu sapi sebagai komponen utamanya adalah sebagai berikut (Williams, 2003) : 1. Reduksi kandungan protein dan elektrolit. 2. Perbandingan Casein:Whey mungkin diubah untuk meningkatkan kualitas protein dan digestibilitas. 3. Reduksi kandungan kalsium dan fosfor.
4. Peningkatan kandungan karbohidrat dengan penambahan laktosa atau maltodextrins

(polimer glukosa). 5. Pengubahan campuran lemak dengan menggunakan minyak sayuran untuk mengurangi intake lemak tersaturasi dan meningkatkan intake lemak tak tersaturasi, sehingga mningkatkan absorpsi lemak. 6. Penambahan trace mineral, biasanya zat besi dan tembaga. 7. Penambahan vitamin. 2.1.3 Alergi terhadap Susu Sapi sebagai Komponen Utama Susu Formula Salah satu penyebab alergi makanan pada bayi adalah protein susu sapi. Manifestasi yang terjadi dapat meliputi gejala di kulit, saluran cerna, dan saluran napas. Proses diagnosis alergi susu sapi meliputi evaluasi riwayat penyakit, pemeriksaan klinis, uji eliminasi dan provokasi, dan uji kulit. Pengobatan utama kelainan ini adalah eliminasi protein susu sapi dalam diet. Untuk mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang karena eliminasi, maka perlu diberikan pengganti dengan nilai nutrisi setara namun tidak alergenik. Alternatif yang

dapat digunakan adalah susu kedele, susu formula protein hidrolisat, dan susu formula berbahan dasar asam amino (Leman & Ambarwati, 2004). Pada kehidupan sehari hari, istilah alergi makanan sering digunakan untuk menggambarkan semua reaksi yang tidak normal dan tidak diinginkan, yang terjadi setelah mengonsumsi makanan tertentu. Menurut definisi ilmiah, sebenarnya ini tidak tepat, karena tidak semua reaksi terhadap makanan yang tidak diinginkan terjadi melalui mekanisme imunologik (Munasir, 2002). Istilah yang tepat digunakan adalah adverse food reaction (reaksi makanan yang tidak diinginkan) yang di dalamnya mencakup alergi makanan dan intoleransi makanan. EAACI (European Association of Allergy and Clinical Immunology)

mengklasifikasikan reaksi makanan yang tidak diinginkan sebagai berikut :

Reaksi makanan yang tidak diinginkan

Reaksi Toksik Reaksi Imunologis (alergi) Reaksi Non Imunologik (intoleransi makanan)

Reaksi Non Toksik

Gambar 2.1 Reaksi toksik disebabkan oleh iritan tertentu atau racun dalam makanan seperti jamur, susu, daging yang terkontaminasi, dll. Reaksi imunologis (alergi) adalah respon abnormal terhadap makanan yang diperantarai reaksi emunologis, sedangkan reaksi imunologis (intoleransi makanan) adalah raeksi yang diakibatkan oleh zat yang terdapat dalam makanan (seperti histamin pada ikan yang diawetkan), farmakologi makanan (tiramin pada keju), atau

akibat kelainan pada orang tersebut (seperti defisiensi laktosa) (Rengganis & Yunihastuti, 2006). Gejala klinis yang terjadi pada alergi susu sapi biasanya meliputi gejala di kulit, saluran cerna, dan saluran napas. Namun sebagian besar gejala akan berupa gangguan pada saluran cerna, karena saluran cerna merupakan organ yang pertama kali kontak dengan makanan tersebut. Gejala alergi susu sapi pada saluran cerna yang paling sering timbul adalah diare dan muntah (Leman & Ambarwati, 2004). Saluran napas dapat pula mengalami manifestasi alergi susu sapi. Reaksi yang terjadi misalnya berupa asma, rinitis alergika, batuk, dan mengi (Leman & Ambarwati, 2004). Dan dari beberapa reaksi asma yang diinduksi oleh alergi makanan pada anak, 29% nya disebabkan oleh alergi terhadap susu sapi (James, 2003). 2.2 Tinjauan Umum Traktus Gastrointestinal Pada saat lahir, tidak semua komponen sistem saluran cerna telah mencapai kematangannya. Kelanjutan pematangan sistem saluran cerna diperlihatkan oleh adanya perubahan pola fungsi selama masa pertumbuhan anak. Keadaan perkembangan yang normal ini hendaknya tidak dikacaukan dengan penyakit saluran cerna (Markum, 1991). Fungsi gastrointestinal bervariasi sesuai maturasi. Suatu gejala yang mungkin abnormal pada anak yang lebih tua, seperti regurgitasi, adalah hal yang normal pada bayi (Wyllie, 2004). Selain itu, gastrointestinal sangat rentan terhadap paparan berbagai toksik lingkungan. Toksik lingkungan yang masuk ke tubuh secara oral diubah dalam traktus gastrointestinal oleh keasaman (pH) lambung, enzim-enzim pencernaan, atau bahkan bakteri yang hidup dalam usus. Toksik lingkungan yang terpapar melalui kulit atau melalui inhalasi disekresikan ke lumen gastrointestinal melalui sistem biliaris dan dapat mengakibatkan

toksisitas. Juga, toksin yang tersuspensi dalam udara dapat juga mencapai traktus gastrointestinal dengan drainase sinus-sinus ke faring dan esofagus (Sreedharan & Mehta, 2004). 2.2.1 Anatomi dan Fisiologi Traktus Gastrointestinal Sesuai dengan asal katanya, gastrointestinal mempunyai arti berkenaan dengan lambung dan usus, oleh karena itu dalam pembahasan berikutnya akan dipaparkan mengenai lambung dan usus. Lambung adalah ruang berbentuk kantung mirip huruf J yang terletak di antara esofagus dan usus halus. Lambung dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan perbedaan anatomis, histologis, dan fungsional, yaitu bagian fundus, korpus, dan antrum (Sherwood, 1996), seperti yang terlihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Fundus adalah bagian lambung yang terletak di atas lubang esofagus. Bagian tengah atau utama lambung adalah korpus (badan). Lapisan otot polos di fundus dan korpus relatif

tipis, tetapi bagian bawah lambung, antrum, memiliki otot yang jauh lebih tebal (Sherwood, 1996). Lambung melakukan beberapa fungsi. Fungsi terpenting adalah menyimpan makanan yang masuk sampai disalurkan ke usus halus dengan kecepatan yang sesuai untuk pencernaan dan penyerapan optimal. Fungsi kedua lambung adalah untuk mensekresikan asam klorida (HCl) dan enzim-enzim yang memulai pencernaan protein (Sherwood, 1996). Usus halus adalah tempat berlangsungnya sebagian besar pencernaan dan penyerapan. Setelah isi lumen meninggalkan usus galus tidak terjadi lagi pencernaan, walaupun usus besar dapat menyerap sejumlah kecil garam dan air. Usus halus adalah suatu saluran dengan panjang sekitar 6,3 m dengan diameter kecil 2,5 cm. usus ini berada dalam keadaan bergelung di dalam rongga abdomen dan terentang dari lambung sampai usus besar. Usus halus dibagi menjadi tiga segmen, yaitu duodenum (20 cm), jejunum (2,5 m), dan ileum (3,6 m) (Sherwood, 1996). Usus besar terdiri dari kolon, sekum, apendiks, dan rektum. Sekum membentuk kantung buntu di bawah taut antara usus halus dan usus besar di katup ileosekum. Tonjolan kecil mirip jari di dasar sekum adalah apendiks, jaringan limfoid yang mengandung limfosit. Kolon, yang membentuk sebagian besar usus besar, tidak bergelung-gelung seperti usus halus, tetapi terdiri dari tiga bagian yang relatif lurus, yaitu kolon asendens, kolon transversus, dan kolon desendens. Bagian akhir kolon desendens berbentuk lurus yang disebut rektum (Sherwood, 1996), seperti yang tampak pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 2.2.2 Enzim Pencernaan Lambung Dinding lambung, usus kecil, dan usus besar terdiri dari 4 lapisan, yaitu mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa. Delapan puluh lima persen mukosa lambung terdiri dari kelenjar oksintik yang mengandung sel-sel yang menyekresikan asam lambung (HCl), pepsinogen, faktor intrinsik, dan mukosa, serta sel-sel endokrin yang menyekresikan peptida yang memiliki efek parakrin dan endokrin (Wyllie, 2004). Sel-sel parietal lambung secara aktif mengeluarkan HCl ke dalam lulmen kantung lambung, kemudian mengalirkannya ke dalam lumen lambung. pH isi lumen turun sampai serendah 2 akibat sekresi HCl. Meskipun sebenarnya HCl tidak mencerna apapun dan tidak mutlak diperlukan bagi fungsi saluran pencernaan, zat ini melakukan beberapa fungsi yang membantu pencernaan, yaitu (Sherwood, 1996): 1. Mengaktifkan prekursor enzim pepsinogen menjadi enzim aktif pepsin, dan membentuk lingkungan asam yang optimal untuk aktivitas pepsin. 2. Membantu penguraian serat otot dan jaringan ikat, sehingga partikel makanan berukuran besar dapt dipecah-pecah menjadi partikel-partikel kecil.

3. Bersama dengan lisozim air liur, mematikan sebagian besar mikroorganisme yang masuk bersama makanan, walaupun sebagian dapat lolos serta terus tumbuh dan berkembang biak di usus besar. Pepsinogen adalah prekursor untuk enzim proteolitik pepsin, dan faktor intrinsik dibutuhkan untuk absorpsi vitamin B12. Kelenjar pilorik terletak pada antrum dan meengandung sel-sel yang menyekresikan gastrin. Tingkat produksi gastrin dan asam lambung adalah berbanding terbalik, kecuali bila ada sekresi yang patologis (Wyllie, 2004). Sekresi asam lambung rendah saat lahir tapi meningkat drastis pada 24 jam pertama kehidupan. Sekresi asam lambung dan pepsin mencapai puncaknya selama 10 hari pertama dan menurun pada 10-30 hari setelah lahir. Sekresi faktor intrinsik meningkat pelan selama 2 minggu pertama kehidupan (Wyllie, 2004) 2.3 Tinjauan Umum Traktus Respiratorius Perkembangan saluran respirasi meliputi 3 proses utama, yaitu

morfogenesis/pembentukan semua strusktur yang penting, adaptasi terhadap pernapasan atmosfer pascanatal, dan pertumbuhan dimensional. Dua proses yang pertama terjadi sebelum atau sesaat setelah lahir, sedangkan pertumbuhan berlanjut setelah lahir dengan langkahlangkah yang secara umum ditentukan oleh kebutuhan organ-oragn lain yang juga sedang tumbuh dan aktivitas metabolik pada anak (Haddad & Fontan, 2004). Efek terhadap cedera saluran pernapasan tidak hanya tergantung pada keparahan dan kekronisan cederanya, tapi juga pada waktu terjadinya cedera. Hal ini berkaitan dengan waktu perkemangan paru-paru. Cedera yang terjadi selama morfogenesis bisa mengakibatkan gangguan struktur dan fungsi saluran respirasi yang parah dan irreversibel. Sebaliknya,

cedera yang terjadi pada tingkat pertumbuhan paru-paru selanjutnya, biasanya reversibel dan, jika tidak, dapat terkonpensasi oleh proses pertumbuhan itu sendiri (Haddad & Fontan, 2004). 2.3.1 Anatomi dan Fisiologi Traktus Respiratorius Sekitar 50% penyempurnaan akhir alveolus telah terbentuk saat masa kehamilan cukup bulan dan 85% penyempurnaan terjadi pada usia 2-3 tahun. Proses alveolisasi diikuti oleh reduksi jaringan interstisial dan remodeling kapiler menjadi jarigan tunggal dan dengan penipisan sawar gas darah. Setelah alveolisasi sempurna pada usia + 3 tahun, paru-paru tumbuh sebagai hasil dari penarikan yang sebagian besar berhubungan dengan bertambahnya volume sangkar iga (Helms & Henderson, 2003) Saluran penghantar udara yang membawa udara ke dalam paru adalah hidung, faring, laring, trakea, bronkus, dan bronkiolus. Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa bersilia. Ketika masuk rongga hidung, udara disaring, dihangatkan, dan dilembabkan. Ketiga proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel toraks bertingkat, bersilia, dan bersel goblet (Wilson, 2005), seperti yang tampak pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4

Permukaan epitel diliputi oleh lapisan mukosa yang disekresi oleh sel goblet dan kelenjar mukosa. Partikel debu yang kasar disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam rongga hidung, sedangkan partikel yang halus akan terjerat dalam lapisan mukus (Wilson, 2005). Dari hidung, udara berjalan ke garing (tenggorokan), yang berfungsi sebagai saluran bersama bagi sistem pernapasan maupun sistem pencernaan. Terdapat dua salurang yang berjalan dari faring, yaitu trakea, tempat lewatnya udara ke paru, dan esofagus, saluran tempat lewatnya makanan ke lambung (Sherwood, 1996). Trakea kemudian terbagi menjadi dua cabang utama, bronkus kanan dan kiri. Di dalam setiap paru, bronhkus terus bercabang-cabang menjadi saluran napas yang semakin sempit, pendek, dan banyak. Cabang terkecil dikenal sebagai bronkiolus. Di ujung-ujung bronkiolus terkumpul alveolus, kantung udara kecil tempat terjadinya pertukaran gas-gas antara udara dan darah (Sherwood, 1996).

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Konseptual Penelitian

Diare Susu formula Susu sapi Alergi Asma

Gambar 3.1 3.2 Hipotesis Penelitian Hipotesis : 1. Adanya pengaruh pemberian susu formula terhadap keajdian kesakitan bada bayi. 2. Alergi susu sapi pada bayi dapat menyebabkan diare. 3. Alergi susu sapi pada bayi dapat menyebabkan asma.

3.3 Kerangka Teori


Paparan I alergen pada susu sapi

Sel B

menghasilkan

IgE

Berikatan dengan

Reseptor Fc pada permukaan sel mastosit dan basofil

IgE pada sel mastosit dan basofil Paparan II alergen pada susu sapi Aktivasi sel mastosit dan basofil

Penglepasan berbagai mediator yang tersimpan dalam granula sitoplasma sel mastosit dan basofil

Reaksi alergi

Traktus gastrointestinal

Traktus respiratorius

Diare

Asma

Gambar 3.2

BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan November 2008 di Kecamatan Pauh, Padang dan Laboratorium Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. 4.2 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah analitik cross sectional. 4.3 Populasi, Sampel, Besar Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 4.3.1 Populasi Populasi penelitian ini adalah bayi (usia 0-24 bulan) di Kecamatan Pauh yang mengonsumsi susu formula. 4.3.2 Sampel dan Besar Sampel 4.3.2.1 Kriteria Inklusi Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah bayi (usia 0-24 bulan) yang menderita diare dan asma. 4.3.2.2 Kriteria Eksklusi Kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah : 1. Bayi yang tidak mengonsumsi susu formula. 2. Bayi dengan penyakit gastrointestinal lainnya.

3. Bayi dengan penyakit saluran respirasi lainnya. 4.3.2.3 Jumlah Sampel Jumlah sampel diperoleh dengan rumus : N n= 1 + N (d2)

Keterangan : N = besar populasi n = besar sampel d = tingkat kepercayaan / ketepatan yang diinginkan

Sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak (???) 4.3.3 Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling. 4.4 Teknik Pengumpulan Data 4.4.1 Data Primer Data primer merupakan data yang diperoleh dengan menggunakan kuisioner yang meliputi umur, konsumsi susu formula, serta kejadian penyakit diare dan asma. 4.5 Variabel Penelitian 4.5.1 Variabel Bebas Variabel bebas dari penelitian ini adalah pemberian susu formula.

4.5.2 Variabel Tergantung Variabel tergantung dari penelitian ini adalah terjadinya diare dan asma pada bayi. 4.6 Definisi Operasional 4.6.1 Susu Formula Susu formula bayi adalah produk makanan yang formulanya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dari lahir sampai umur antara 4 dan 6 bulan sesuai dengan karateristik fisiknya. Susu formula lanjutan adalah produk makanan yang formulanya dimaksudkan untuk bayi setelah berumur 6 bulan. 4.6.2 Diare Diare adalah frekuensi pengeluaran dan kekentalan feses yang tidak normal. 4.6.3 Asma Serangan berulang dispnea paroksismal, dengan radang jalan napas dan mengi akibat kontraksi spasmodik bronkus. Beberapa kasus asma adalah manifestasi alergi pada orangorang yang peka, yang lain dicetuskan oleh berbagai faktor seperti latihan fisik berat, partikel-partikel iritan, stres psikologis, dan lain sebagainya. 4.7 Bahan Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Kuisioner (terlampir) 2. Susu formula protein hidrolisat. 3. 2 mL Serum sampel

4. IgE standard serum (7700-IU/ml).

5. 0,5 ml akuades. 4.8 Prosedur Kerja Untuk mengetahui apakah penyebab bayi menderita diare dan asma adalah alergi terhadap susu sapi atau bukan, maka dilakukan tes eliminasi dan pemeriksaan kadar IgE. 4.8.1 Tes Eliminasi Tes ini bertujuan untuk mengetahui penyebab diare dan asma pada sampel, dilakukan dengan cara : 1. Menghindari pemberian susu formula pada bayi selama 2 minggu. 2. Pemberian susu formula protein hidrolisat sebagai pengganti susu formula yang dikonsumsi sehari hari. Hal ini bertujuan untuk memberikan asupan pengganti yang memiliki nilai nutrisi setara dengan susu sapi namun tidak mengandung susu sapi. 3. Menilai gejala alergi yang terjadi. 4.8.2 Pemeriksaan Kadar IgE 4.8.2.1. Pengambilan Sampel 1. Pengambilan darah sampel sebanyak 2 mL secara intravena dengan menggunakan jarum suntik. 2. Memasukkan darah ke dalam tabung reaksi, kemudian disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 2000rpm.

3. Mengambil serum dengan menggunakan pipet, lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi lain ; tabung ditutup dengan nesco film dan disimpan dalam lemari pendingin pada suhu 2oC 8oC 4.8.2.2 Penentuan Kadar IgE 1. Pembuatan larutan standar untuk plat LC-Partigen IgE. a. Sebagai standar digunakan IgE standard serum (7700-IU/ml). b. IgE standard serum yang terdapat dalam vial dilarutkan dengan 0,5 ml akuades. c. Dibuat pengenceran larutan IgE standard serum sesuai dengan instruksi yang tertera pada plat imunodifusi LC-Partigen IgE yaitu dengan perbandingan 1:4, 1:2, 1:1. 2. Menghitung kadar IgE a. Tutup plastik dan plat LC-Partigen IgE dibiarkan terbuka kira-kira 5 menit pada temperatur kamar. b. Pada sumur satu sampai tiga dimasukkan larutan IgE standard serum dengan perbandingan 1:4, 1:2, 1:1 dan sumur-sumur selanjutnya diisi dengan serum sampel. c. Larutan standar dan serum sampel masing-masing dipipet sebanyak 20 1 dan dimasukkan ke dalam sumur secara tegak lurus. d. Plat dibiarkan terbuka selama 30 menit (sampai serum berdifusi).

e. Kemudian dipipet kembali 20 1 larutan standar dan serum sampel tadi dan dimasukkan ke dalam masing-masing sumur secara tegak lurus. f. Plat dibiarkan terbuka kira-kira 10 sampai 20 menit, kemudian ditutup dengan tutup plastik dan diinkubasikan selama 5 hari pada temperatur kamar. g. Diameter presipitasi yang terbentuk diukur dengan menggunakan rol Behring dan kadar IgE ditentukan dengan menggunakan kurva kalibrasi.

DAFTAR PUSTAKA Haddad GG, Fontan JJP. Development of the respiratory system. In: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, editors. Nelson textbook of pediatrics. 17th ed. Pennsylvania: Saunders, 2004. p. 1357. Helms P, Henderson J. Respiratory disorders. In: McIntosh N,Helms PJ, Smyth RL, editors. Forfar & arneils textbook of pediatrics. 6th ed. Edinburgh/Toronto: Churchill Livingston, 2003. p. 723-724 James JM. Respiratory manifestations of food allergy. Pediatrics 2003;111;1625-30. Judarwanto W. Permasalahan alergi susu sapi. Diupdate bulan September 2008. Diakses dari www.putrakembara.com tanggal 13November 2008. Kumalasari D. Alergi susu sapi pada bayi. Diupdate tanggal 16 november 2007. Diakses dari http://dikkyz.blogspot.com/2007/11/selamat-bergabung-rekan-tim.html tanggal 13 November 2008. Leman MM, Ambarwati FD. Alergi makanan pada bayi dan anak. Medika 2004;XXX:72831. Markum AH. Ilmu kesehatan anak. 1st ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1991. p. 407. Munasir Z, alergi makanan pada anak. In: Trihono PP, Purnamawati S, Syarif DR, editors. Pendidikan kedokteran berkelanjutan ilmu kesehatan anak XLV : hot topics in pediatrics II. Jakarta: Balai penerbit FKUI, 2002. p. 197-203. Rengganis I, Yunihastuti E. Alergi makanan. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid I. 4 th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, 2006. p. 263. Sampson HA, Leung DYM. Adverse reactions to foods. In: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, editors. Nelson textbook of pediatrics. 17th ed. Pennsylvania: Saunders, 2004. p. 789-91. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. 2nd ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1996. Sreedharan R, Mehta DI. Gastrointestinal tract. Pediatrics 2004;113;1044-50. Weaver L, Edwards C, Golden B, Reilly J. Nutrition. In: McIntosh N,Helms PJ, Smyth RL, editors. Forfar & arneils textbook of pediatrics. 6th ed. Edinburgh/Toronto: Churchill Livingston, 2003. p. 569 Williams AF. Infant feeding. In: McIntosh N,Helms PJ, Smyth RL, editors. Forfar & arneils textbook of pediatrics. 6th ed. Edinburgh/Toronto: Churchill Livingston, 2003. p. 398-400.

Wilson D. Feeding the full-term newborn. In: McIntosh N,Helms PJ, Smyth RL, editors. Forfar & arneils textbook of pediatrics. 6th ed. Edinburgh/Toronto: Churchill Livingston, 2003. p. 193. Wilson LM. Anatomi dan fisiologi sistem pernapasan. In: Price SA, Wilson LM, editors. Patofisiologi II konsep klinis proses-proses penyakit. 6th ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2005. p.737. Wyllie R. Normal digestive tract phenomena. In: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, editors. Nelson textbook of pediatrics. 17th ed. Pennsylvania: Saunders, 2004. p.1197.