BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ada kalanya lingkungan tidak berpihak pada tumbuhan.

Misalnya pada daerah iklim sedang, ada musim dingin yang tidak memungkinkan tumbuhan untuk tumbuh. Di daerah tropik sekalipun ada saat dimana tumbuhan tidak dapat tumbuh secara optimal, misalnya kondisi lingkungan yang kering berkepanjangan. Untuk itu tumbuhan melakukan dorman. Dormansi dapat didefinisikan sebagai suatu pertumbuhan dan metabolisme yang terpendam, dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak baik atau oleh faktor dari dalam tumbuhan itu sendiri. Penyebab terjadinya dormansi bermacam-macam yaitu secara spontan, faktor lingkungan mupun hormon pertumbuhan. Dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa hari, semusim, bahkan sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe dari dormansinya. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan tersebut. Pertumbuhan tidak akan terjadi selama benih belum melalui masa dormansinya, atau sebelum dikenakan suatu perlakuan khusus terhadap benih tersebut (Salisbury dan Ross, 1995). Hampir semua tumbuhan darat, baik tumbuhan rendah maupun tumbuhan tingkat tinggi dalam siklus hidupnya akan dijumpai adanya fase dormansi. Dormansi ini dapat terjadi baik pada seluruh tumbuhan atau organ tertentu yang disebabkan oleh faktor eksternal maupun faktor internal, yang bertujuan untuk mempertahankan diri pada kondisi yang kurang menguntungkan. Gejala dormansi dapat dijumpai pada biji dan organ tumbuhan lainnya, seperti tunas, rhizoma dan umbi lapis. Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses perkecambahan tersebut. Pada banyak spesies, dormansi kuncup diinduksi oleh suhu rendah, tetapi ada juga respon terhadap panjang hari, khususnya jika suhu tetap tinggi. Perlakuan hari pendek menyebabkan terjadinya pembentukan kuncup akhir yang dorman dan terlambatnya pemanjangan ruas dan pemanjangan daun, tetapi sering daun tidak gugur (Salisbury dan Ross, 1995). Dormansi adalah keadaan biji yang tidak berkecambah atau dengan kata lain tunas yang yang tidak dapat tumbuh (terhambatnya pertumbuhan) selama periode tertentu yang disebabkan oleh faktor-faktor intern dalam biji atau tunas tersebut. Suatu biji dikatakan
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 1

dorman apabila biji tersebut tidak dapat berkecambah. meski faktor-faktor lingkungan yang dibutuhkan tersedia (Salisbury dan Ross. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas dapat ditarik suatu rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan dormansi biji berkulit keras (biji saga)? C. 1995). LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 2 . Ada beberapa penyebab dormansi pada biji yaitu eksternal dan internal. Tujuan Mengetahui pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan dormansi biji berkulit keras (biji saga). Salah satu penyebab internal dari biji yaitu kulit biji yang keras yang menyebabkan imbibisi atau masuknya air ke dalam biji sulit terjadi. Penyebab dormansi secara eksternal yaitu berasal dari lingkungan dari biji sedangkan secara internal yaitu berasal dari biji itu sendiri. B. setelah periode tertentu.

Dormansi Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji. Saga Daunnya majemuk. ladang-ladang atau sengaja dipelihara di pekarangan. mekanisme dan bentuknya. dalam tandan bunga. Dormansi diklasifikasikan menjadi bermacam-macam kategori berdasarkan faktor penyebab. berbentuk bulat telur serta berukuran kecil-kecil. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Bunganya berwarna ungu muda dengan bentuk menyerupai kupu-kupu.BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Klasifikasi Tanaman Divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis B. Daun Saga bersirip ganjil dan memiliki rasa agak manis. hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embrio. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embrio. Tumbuh dengan baik pada daerah dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan Faktor Penyebab Dormansi • : Spermatophyta : Dicotyledonae : Resales : Leguminosae : Abrus : Abrus precatorius Linn Sub divisi : Angiosperrnae Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan. Saga mempunyai buah polong berisi biji-biji yang berwarna merah dengan titik hitam mengkilat dan licin. a. LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 3 . Tumbuhan ini banyak tumbuh secara liar di hutan-hutan.

raphe/hilum. • Termodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh suhu c. • • • Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil. adapun mekanisme higroskopinya diatur oleh hilum. nukleos. strophiole. b. suberin. • Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji. Berdasarkan Mekanisme Dormansi Di Dalam Biji Mekanisme fisik Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri. terbagi menjadi: • Mekanis: embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik • Fisik: penyerapan air terganggu karena kulit biji yang impermeable • Kimia: bagian biji atau buah yang mengandung zat kimia penghambat Mekanisme fisiologis Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis. terbagi menjadi: • Photodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh keberadaan cahaya. Berdasarkan Bentuk Dormansi Kulit biji immpermeabel terhadap air (O2) • Bagian biji yang impermeabel: membran biji. kulit biji. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skrifikasi mekanisme. Embrio belum masak (immature embryo) LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 4 . Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin.• Imnate dormancy (rest): dormansi yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ biji itu sendiri. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat. Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. kulit biji. lignin) pada membran. pericarp. endocarp. • Immature embryo: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embrio yang tidak/belum matang.

namun epikotil baru keluar pada musim semi berikutnya (setelah melampaui satu musim Dormansi karena zat penghambat Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangakaian kompleks prosesproses metabolik. namun masih butuh waktu untuk mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangakaian proses perkecambahan. yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. kulit biji maupun daging buah. namun semai tumubuh rendah • masih membutuhkan suhu yang lebih rendah lagi • kerdil Akar keluar pada musim semi. seperti apel dan Familia Rosaceae. Biji membutuhkan suhu rendah Biasa terjadi pada spesies daerah temperate.• Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya). Dormansi ini secara alami terjadi dengan cara: biji dorman selama musim gugur melampaui satu musim dingin. Dormansi karena kebutuhan biji akan suhu rendah ini dapat dipatahkan dengan perlakuan pemberian suhu rendah. namun lokasi penghambatnya sukar ditentukan karena daerah kerjanya berbeda dengan tempat dimana zat tersebut diisolir. Misalnya Gnetum gnemon (melinjo) • • Embrio belum terdiferensiasi Embrio secara morfologis telah berkembang. embrio tumbuh Embrio mengalami dormansi yang hanya dapat dipatahkan dengan suhu Embrio tidak dorman pada suhu rendah. dan baru berkecambah pada musim semi berikutnya. endosperm. embrio masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya. dengan pemberian aerasi dan imbibisi. LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 5 . Dormansi immature embryo ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur rendah dan zat kimia. Zat penghambat dapat berada dalam embrio. Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin dan lacton tidak jenuh. namun proses perkecambahan biji Perkecambahan terjadi tanpa pemberian suhu rendah. Ciri-ciri biji yang mempunyai dormansi ini adalah: • • Jika kulit dikupas.

Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih. Hartmann (1997) mengklasifikasikan dormansi atas dasar penyebab dan metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya. serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam (Schmidt. suhu. proses perkecambahan berlangsung dalam beberapa tahapan penting meliputi : • • • • • • Absorbsi air Metabolisme pemecahan materi cadangan makanan Transport materi hasil pemecahan dari endosperm ke embrio yang aktif bertumbuh Proses-proses pembentukan kembali materi-materi baru Respirasi Pertumbuhan Banyak faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji. terjadi proses fisiologi-biokemis yang kompleks. sedangkan stratifikasi digunakan unuk mengatasi dormansi embrio. Perkecambahan Biji Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang keluar menembus kulit biji (Salibury. LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 6 .Teknik Pematahan Dormansi Biji Biji telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahakan dormansi dan memulai proses pekecamabahannya. 1985: 4160). 1975:46-43). Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara promotor dan inhibitor perkecambahan. Upaya ini dapat berupa pemberian perlakuan secara fisis. yang ditunjukan untuk mematahkan dormansi. C. Di balik gejala morfologi dengan permunculan radikula tersebut. Secara fisiologi. dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji. maupun chemis. mekanis. 2000). terutam asam giberelin (GA) dan asam abskisat (ABA). kelembaban. cahaya dan adanya senyawa-senyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan (Mayer. baik yang internal dan eksternal. Faktor eksternal yang merupkan ekologi perkecambahan meliputi air.

Setelah pematangan – waktu yang diperlukan oleh biji untuk mulai berkecambah setelah pematangan buah. 2. 3. asam dan basa (secara kimiawi) ataupun dengan cara biologi dengan menggunakan bantuan mikroba. Selain beberapa faktor yang telah disebutkan banyak biji yang memerlukan pendinginan agar lepas dari dormansi yang diatur segera setelah masak. Rendahnya kadar etilen. Embrio yang masih muda ( immature). Proses dormansi dapat dipatahkan dengan beberapa proses diantaranya proses pendinginan. LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 7 . Sintesis zat perangsang. Suhu.Mekanisme utama yang dapat menyebabkan suatu biji dormansi atau terjadinya dormansi yang berkepanjangan dan penyebab terhambatnya perkecambahan adalah : Faktor lingkungan 1. 3. Kebutuhan akan cahaya untuk perkecambahan. Kulit biji – mencegah masuknya gas. 5. 2. Kejutan dengan suhu tinggi. 1. Perlakuan pendinginan juga bukan merupakan satu-satunya yang dapat menghilangkan dormansi. dapat pula menghilangkan dormansi secara lebih dini. Kulit biji – efek mekanik. Kurangnya air. Banyak pohon memerlukan antara 250-1000 jam pendinginan sebelum dormansi dapat dihilangkan. Hilangnya inhibitor – waktu yang diperlukan sampai inhibitor hilang. 6. Banyak spesies “hari panjang” memerluakan suhu hangat untuk mengembalikan pertumbuhannya. 4. kejutan atau goresan pada biji (proses fisika). Faktor internal Faktor waktu 1. 3. Adanya zat penghambat (inhibitor). pemanasan. Tidak adanya zat perangsang tumbuh. zat pengatur tumbuh. 2.

Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. 10 biji yang lain dihilangkan bagian yang tidak ada lembaganya dengan menggunakan kertas ampelas dan kemudian mencuci dengan air. dan media penanaman.BAB III METODE PENELITIAN A. LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 8 30 biji Secukupnya 1 lembar 3 polibag secukupnya 1 buah . Variabel Respon : jenis biji (biji jarak). dan variabel respon. Gelas kimia D. 10 biji direndam dalam asam sulfat pekat selama 5 menit. • : kecepatan perkecambahan biji dan banyak biji yang tumbuh. jumlah biji. Menyediakan biji jarak sebanyak 30 biji dan membagi menjadi 3 kelompok : • • • 3. Alat dan Bahan 1. variabel manipulasi. : perlakuan pada biji (diampelas. Kertas ampelas 4. C. mengusahakan kondisi penanaman biji dalam keadaan sama untuk ketiga pot. 2. Air 6. di rendam dalam H2SO4. B. Variabel Penelitian • • Variabel Kontrol Variabel Manipulasi dan dicuci dengan air. Menanam ketiga kelompok biji tersebut dalam pot yang bermedia tanam tanah dan pasir dengan perbandingan 1 : 1. Asam sulfat pekat 3. Biji berkulit keras (biji jarak) 2. Pot (polibag) dan media tanam berupa tanah dan pasir 5. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang kam gunakan adalah eksperimen karena kami menggunakan suatu pembanding dan beberapa variabel diantaranya variabel kontrol. kemudian mencuci dengan air. Mengambil 10 biji yang lainnya kemudian mencuci dengan air. Metode Percobaan 1.

5. Desain Percobaan LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 9 . E.4. Membuat tabel pengamatan kecepatan perkecambahan dari hasil pengamatan. Mengamati perkecambahan untuk ketiga pot tersebut setiap hari selama 14 hari. Bila tanahnya kering melakukan penyiraman.

Pengaruh Berbagai Perlakuan Terhadap Pemecahan Dormansi Biji Jarak Hari ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Jumlah Biji yang Tumbuh Prosentase Jumlah Biji yang Tumbuh Direndam H2SO4 1 1 1 1 4 Perlakuan Diamplas 2 1 1 1 1 6 Dicuci air 1 1 1 3 40% 60% 30% 7 Histogram pengaruh berbagai perlakuan terhadap pemecahan dormansi biji jarak 5 4 3 6 t g n y j i b h a l m u J 2 1 0 Dicuci air Direndam Diamplas LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI H2SO4 TUMBUHAN 10 Perla n kua . Hasil Tabel.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.

Terlihat pada tabel bahwa biji yang diampelas muncul kecambah pada hari ke-3 sebanyak 2 buah kecambah. dan dicuci dengan air terjadi pertumbuhan yang berbeda-beda. diamplas. Setelah 14 hari. Sedangkan. Hal ini dapat diidentifikasi bahwa biji yang diamplas lebih cepat mematahkan dormansi daripada biji yang direndam dengam H2SO4 dan dicuci dengan air. jumlah biji saga yang tumbuh dari perlakuan diamplas sebesar 6 buah kecambah dengan prosesntase 60%. jumlah biji saga dari perlakuan direndam H2SO4 sebesar 4 buah kecambah dengan prosentase 40% dan jumlah biji saga dari perlakuan dicuci dengan air sebesar 3 buah kecambah dengan prosentase 30 %. Ada 3 macam perlakuan yang diberikan pada biji yaitu pengamplasan pada bagian biji tempat keluarnya kotiledon yang merupakan perlakuan secara fisik dan perlakuan kimia dengan perendaman biji pada LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 11 . pada biji yang direndam dengan H2SO4 muncul kecambah pada hari ke-4 sebanyak 1 buah kecambah. Pembahasan Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian perilaku fisik dan kimia terhadap pematahan dormansi biji jarak. Analisis Data Berdasarkan data yang kami peroleh dapat dianalisis bahwa biji berkulit keras yaitu biji saga yang ditanam pada media yang sama tetapi dengan perlakuan awal yang berbeda yaitu direndam dalam H2SO4. sedangkan untuk biji yang dicuci dengan air muncul kecambah pada hari ke-4 sebanyak 1 buah kecambah.Histogram Pengaruh Berbagai Perlakuan Terhadap Pemecahan Dormansi Biji Jarak B. C.

dan dicuci air tumbuh 1 pada hari ke-5 dengan jumlah biji yang berkecambah sebesar 3 buah selama 14 hari. Perlakuan dengan dicuci air dapat mematahkan dormansi dari biji karena biji ini mengalami pertumbuhan pada hari ke-7 sebanyak 1 buah. LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 12 . Perendaman dengan air biasa dalam hal ini aquades tidak tumbuh mungkin disebabkan oleh keadaan anantomi biji yang kurang baik. rendahnya proses mobilisasi cadangan makanan dan rendahnya proses metabolisme cadangan makanan. Pada percobaan yang kami lakukan menunjukkan bahwa biji dengan diamplas mengalami pematahan dormansi yang lebih cepat dan mampu tumbuh lebih banyak daripada dua perlakuan yang lain yaitu direndam H2SO4 dan dicuci dengan air . Mekanisme utama yang menyebabkan suatu biji dormansi atau terjadinya dormansi yang berkepanjangan. dan faktor waktu. pada saat biji diamplas. Hal ini disebabkan karena biji yang direndam H2SO4 berada dalam kondisi asam sehingga mematikan pertumbuhan kotiledon dimana biji akan sulit untuk tumbuh. Dengan kata lain perlakuan ini dapat menghilangkan sumbat hilum dan mengurangi kandungan kulit biji yang keras sehingga biji dapat tumbuh dengan baik. selain itu kotiledon akan lebih cepat keluar menembus kulit biji.larutan H2SO4. faktor internal. proses respirasi tertekan / terhambat. Kulit biji yang diamplas menyebabkan melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas. penyebab terhambatnya perkecambahan adalah : faktor lingkungan. Benih yang mengalami dormansi ditandai oleh rendahnya / tidak adanya proses imbibisi air. selain itu kotiledon akan lebih cepat keluar menembus kulit biji. Biji yang diberi perlakuan fisik dengan dikikir mengalami pematahan dormansi terbukti pada hari ke-4 biji berkecambah sebanyak 2 buah. Perlakuan dengan perendaman H2SO4 juga mengalami pertumbuhan pada hari ke-6 ssebanyak 1 buah. kulit biji yang keras dan tebal menjadi lebih tipis sehingga memudahkan imbibisi air. Hal ini dikarenakan. Percobaan ini sedikit melenceng dari teori yang menyatakan bahwa sejumlah besar perlakuan diantaranyan pemberian asam sulfat efektif dalam mengurangi kandungan dalam biji keras. Pengamplasan bertujuan untuk membuat kulit biji yang keras dan tebal menjadi lebih tipis sehingga memudahkan imbibisi air. Pada perlakuan direndam H2SO4 tumbuh 1 buah pada hari ke-4 dengan jumlah biji yang berkecambah sebesar 4 buah selama 14 hari.

Agar dormansi biji berkulit keras dapat dipecahkan. Dormansi dapat lebih cepat LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 13 . Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji dan keadaan fisiologis dari embrio atau bahkan kombinasi dari kedua keadaan tersebut. Syarat ketika menggosok kulit biji keras ini harus pada bagian yang tidak ada lembaganya agar mikropil (tempat tumbuhnya kecambah) tidak rusak. kesimpulan dari percobaan ini adalah : Ada 2 cara yang dapat mematahkan dormansi yakni cara fisik dengan pengamplasan dan cara kimia dengan perendaman H2SO4. Kondisi dormansi mungkin dibawa sejak benih masak secara fisiologis ketika masih berada pada tanaman induknya atau mungkin setelah benih tersebut terlepas dari tanaman induknya. maka harus dilakukan berbagai cara atau perlakuan. Perlakuan yang lain dapat dilakukan dengan kimiawi dengan cara merendam biji pada larutan H2SO4 pekat.Umumnya dormansi biji disebabkan oleh adanya kulit biji yang keras dan sifatnya permeabel terhadap air dan udara serta memberikan hambatan mekanik yang dapat menghalangi embrio untuk tumbuh. Larutan ini membantu untuk memecahkan dormansi sehingga biji dapat berkecambah. Perlakuan ini dapat dilakukan secara mekanik dengan cara menggosok kulit bijinya. BAB V SIMPULAN Berdasarkan dari hasil pengamatan.

diakses pada tanggal 6 Desember 2012 LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 14 . DAFTAR PUSTAKA Anonim.uns.blog.dipatahkan pada perlakuan pengamplasan biji sedangkan perlakuan lain memerlukan waktu yang sedikit lama untuk mematahkan dormansi. http://marufah. Dormansi tanaman.id/pertanian/. 2012.ac.

Pedoman Teknologi Benih (Terjemahan). Ross. LAMPIRAN LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 15 . H. Seed Dormancy and Germination. New Salisbury. Yuliani dan Lukas S Budipramana. 1988. http://veganojustice. J. Mississipi.. 1989. State College..W. Dormansi dan Uji Tetrazolium.W. ITB.wordpress.com/2011/10/12/dormansidanujitetrazoliu/. Bradbeer. diakses pada tanggal 6 Desember 2012. Bandung. Yuni Sri.Anonim. Byrd. Chapman & Hall. 2011. 1995. F. Rahayu. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. 2010.B. Surabaya: Laboratorium Fistum-Biologi-Unesa York. Fisiologi Tumbuhan jilid 3..W. dan C.

Perlakuan direndam H2SO4 Perlakuan diamplas Perlakuan direndam air masih belum berkecambah Perlakuan direndam H2SO4 pada hari ke-14 Perlakuan diamplas pada hari ke-14 Perlakuan direndam air pada hari ke-14 LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN 16 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful