Clock Widgets

">

Senin, 03 Mei 2010
PENGGUNAAN KONDOM KATETER PADA PENANGANAN PERDARAHAN POSTPARTUM
17.20 Diposkan oleh Bidan Feby

PENDAHULUAN Perdarahan pasca persalinan ( Postpartum Hemorrhage = PPH ) sampai saat ini masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal baik di Negara maju maupun di Negara berkembang. Kelahiran bayi adalah suatu proses normal, tetapi adakalanya ditemui kejadian morbiditas dan mortalitas maternal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi pada kala ketiga persalinan. Kematian maternal adalah suatu tragedi dan merupakan kerugian besar bagi masyarakat dan suatu bangsa. Sekitar setengah juta wanita mati tiap tahun akibat proses kelahiran bayi dan kehamilan. Sekitar seperempat di antara mereka mengalami komplikasi yang terjadi pada kala ketiga persalinan. Di Inggris risiko kematian maternal akibat postpartum hemorrhage adalah satu per 100.000 kelahiran, sedangkan di negara berkembang adalah satu per 1000 kelahiran. Di Malaysia dari tahun 1995-1996 menunjukkan bahwa postpartum hemorrhage sebagai penyebab utama dari kematian maternal. Kala ketiga persalinan digambarkan sebagai suatu proses berlanjut yang mulai dengan lahirnya janin dan berakhir dengan lahirnya plasenta. Umumnya sekitar 5 sampai 10 beberapa menit, tetapi tidak sampai melebihi dari 30 menit. Angka kematian maternal ( Maternal Mortality Rate = MMR ) di Amerika Serikat pada tahun 1995 sebanyak 7,1/100.000 kelahiran hidup. Penyebab terbanyak dari MMR tersebut adalah perdarahan, emboli, hipertensi dalam kehamilan, kardiomiopati serta karena komplikasi anastesi. Sedang di Amerika Tengah, yaitu di Meksiko dan sekitarnya, MMR terrendah adalah di Kostarika sebanyak 29/100.000 dan tertinggi di Guatemala yaitu 190/100.000. Penyebab kematian terbanyak juga adalah perdarahan. Sedang di Asia Tenggara Negara kita masih menduduki angka tertinggi yaitu sebanyak 307/100.000 ( SDKI tahun 1998-2002 ), penyebab kematian tertinggi juga sama, yaitu perdarahan

yaitu penjahitan laserasi. Penanganan ada dua bagian. Karena sukar untuk menilai berapa banyak insidens PPH yang sebenarnya. PPH seringkali tidak dilaporkan. kompresi manual ataupun packing. Secara keseluruhan di seluruh dunia ini kematian maternal sebanyak 600. pada perdarahan pasca persalinan penghentian perdarahan pada bekas implantasi plasenta terutama karena adanya kontraksi dan retraksi miometrium sehingga menyempitkan dan membuntu lumen . PPH dapat terjadi langsung yang disebut PPH primer / dini dan dapat pula terjadi setelah 24 jam kemudian yang disebut PPH sekunder / lambat. sedangkan pada seksio sesarea sebanyak > 1000 cc. terutama bila keadaan ibu pasca salin dalam keadaan baik. cardiac output dan perfusi organ sehingga menimbulkan gejala klinis dari PPH.000 pertahun dan yang disebabkan oleh PPH sebanyak 125. Baru setelah kemampuan peningkatan vaskuler terlampaui maka terjadilah penurunan tekanan darah. secara garis besar PPH mengenai 4 – 6% dari seluruh persalinan. metil ergometrin atau prostaglandin. karena penilaian jumlah perdarahan cenderung underestimated. penambahan cairan. darah serta komponen-komponennya. Ketiga: dengan cara pembedahan. Penyebab PPH terbanyak adalah atonia uteri. Definisi PPH tergantung dari jenis persalinan yang terjadi. kuret sisa plasenta. Walaupun pengetahuan tentang penyebab perdarahan pasca persalinan telah banyak diketahui dan darah sudah banyak tersedia tetapi kematian yang disebabkan oleh PPH ini masih menduduki tempat yang tinggi baik di Negara maju maupun di Negara-negara berkembang. wanita hamil lebih mudah berkompensasi terhadap adanya perdarahan dengan cara meningkatkan tahanan vaskuler perifer sehingga tekanan darah tidak menurun dan dapat menjamin kelancaran perfusi organ. maka dibandingkan wanita tidak hamil. yaitu suportif dengan perbaikan keadaan umum. yaitu melakukan identifikasi penyebab perdarahan dan usaha untuk menghentikannya. ligasi pembuluh darah ataupun dilakukan histerektomi. Kedua: hemostasis secara mekanis dengan manual atau digital plasenta. Yang kedua adalah penanganan kausatif. Pada PPH yang penting adalah menentukan etiologinya dan memberikan penanganan yang sesuai.000 wanita pertahun. Ada beberapa cara untuk menghentikan perdarahan yaitu. American College of Obstetricians and Gynecologist yaitu menetapkan kriteria penurunan > 10% dari kadar hematokrit sebelum dan sesudah persalinan. Pada persalinan pervaginam. PPH didefinisikan sebagai terjadinya perdarahan > 500 cc. Dengan adanya peningkatan jumlah volume plasma dan sel darah merah yang meningkat pada wanita hamil ( 30 – 50% ) serta adanya peningkatan cardiac output.( 28% ) disusul Preeklamsia-eklamsia dan infeksi masing-masing sebanyak 13% dan 10%. Mekanisme penghentian perdarahan pasca persalinan berbeda dengan tempat lain dimana faktor vasospasme dan pembekuan darah sangat penting. PATOFISIOLOGI PPH Perdarahan postpartum / Postpartum Hemorrhage ( PPH ) terjadi karena adanya perdarahan yang banyak yang pada umumnya berasal dari tempat implantasi plasenta atau adanya laserasi jalan lahir. pertama: pemberian uterotonika dengan oksitosin. kelainan imlantasi plasenta dan laserasi jalan lahir.

atonia uteri dapat terjadi pula pada setiap persalinan. Idealnya stabilisasi dilakukan lebih dulu sebelum tindakan definitif dikerjakan. hidramnion • Persalinan lama • Persalinan terlalu cepat • Setelah induksi / akselerasi persalinan • Multi-Paritas • Riwayat HPP TERTINGGALNYA JARINGAN PLASENTA • Adanya sisa kotiledon atau adanya lobus suksenturiata • Kelainan implantasi – akreta. Atonia uteri dapat pula bersamaan laserasi jalan yang merupakan penyebabnya. Walau tanpa ada faktor predisposisi. sehingga pemeriksaan jalan lahir.pembuluh darah. serviks dan uterus harus dikerjakan pada setiap PPH. Adanya sisa plasenta atau bekuan darah dalam jumlah yang banyak dapat mengganggu efektivitas kontraksi dan retraksi miometrium sehingga dapat menyebabkan perdarahan tidak berhenti. atau serviks • Ruptura uteri GANGGUAN KOAGULASI Atonia uteri merupakan penyebab PPH yang terbanyak. Pada saat awal resusitasi cairan juga diambil sample darahnya untuk diperiksakan . Kontraksi dan retraksi miometrium yang kurang baik dapat mengakibatkan perdarahan walaupun sistem pembekuan darahnya normal. inkreta. hamil multiple. PENANGANAN PPH Tujuan utama penanganan PPH adalah (1) mengembalikan volume darah dan mempertahankan oksigenasi (2) menghentikan perdarahan dengan menangani penyebab PPH. Diagnosis atonia uteri dapat dibedakan secara cepat dari laserasi jalan lahir berdasarkan kontraksi uterusnya. vagina. sehingga perlu selalu dilakukan observasi dan monitor kontraksi uterus pasca persalinan. tetapi hal ini kadang-kadang tidak mungkin dikerjakan sendiri-sendiri melainkan seringkali dikerjakan perbaikan keadaan umum ( resusitasi ) sambil dilakukan tindakan untuk menghentikan perdarahan tersebut. FAKTOR PREDISPOSISI PERDARAHAN DARI TEMPAT IMPLANTASI PLASENTA KONTRAKSI HIPOTONIK = ATONIA UTERI • Obat-obat anastesi • Uterus overdistensi – janin besar. yaitu vagina. perkreta PERDARAHAN JALAN LAHIR • Episiotomi yang lebar atau meluas ( ekstensi ) • Laserasi perineum. sebaliknya walaupun sistem pembekuan darah abnormal asalkan kontraksi dan retraksi miometrium baik akan menghentikan perdarahan. bila kontraksi baik perdarahan banyak maka kemungkinan besar ada laserasi jalan lahir. sedang bila kontraksi kurang baik maka atonia uteri.

Trombosit. kompresi bimanual. Bila dengan cara ini juga belum berhasil menghentikan perdarahan.laboratorium sederhana dahulu. Cara pemasangan tampon kondom menurut Metode Sayeba adalah secara aseptik kondom yang telah diikatkan pada kateter dimasukkan kedalam cavum uteri. kondom dilepas 24 – 48 jam kemudian dan tidak didapatkan komplikasi yang berat. Oleh karena penyebab PPH terbanyak adalah karena atonia uteri. pengikatan Arteri Uterina. Dari penelitiannya disebutkan angka keberhasilannya 100% ( 23 berhasil dari 23 PPH ). Cara ini kemudian disebut dengan Metode Sayeba. Tetapi dapat pula menguntungkan bila dengan tampon tersebut perdarahan bisa berhenti sehingga tidak diperlukan tindakan operatif atau tampon digunakan untuk menurunkan perdarahan sementara sambil menunggu penanganan operatif. sementara obat uterotonika tetap diberikan. Ovarika atau Hipogastrika ( Iliaka Interna ). yaitu paling tidak kadar Hemoglobin. Metronidazol dan Gentamisin. Kondom diisi dengan cairan garam fisiologis sebanyak 250-500 cc sesuai kebutuhan. juga dipakai beberapa cara yaitu : dengan menggunakan SengstakenBlakemore tube. Divisi Fetomaternal Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Unlam/RSUD ulin Banjarmasin . Kondom kateter dilepas 24 – 48 jam kemudian. dilakukan Histerektomi. Metode ini digunakan sebagai alternatif penanganan HPP terutama sambil menunggu perbaikan keadaan umum. Bila penanganan dengan non operatif ini tidak berhasil baru dilakukan penanganan secara operatif secara laparotomi pemakaian metode B-Lynch. atau rujukan. tampon uterovaginal. pada kasus dengan perdarahan berat kondom dapat dipertahankan lebih lama. Amoksisilin. Rusch urologic hydrostatic balloon catheter ( Folley catheter ) atau SOS Bakri tamponade balloon catheter. dapat menyebabkan perdarahan yang tersembunyi atau bila ada perembesan berarti banyak darah yang sudah terserab di tampon tersebut sebelumnya dan dapat menyebabkan infeksi. Faal Pembeku Darah atau dikerjakan pemeriksaan Waktu Pembekuan Darah dan Waktu Perdarahan secara langsung. Bila perdarahan berlanjut tampon kassa akan basah dan darah keluar dari introitus vagina. dipasang tampon kasa gulung di vagina. Pada tahun 2003 Sayeba Akhter dkk mengajukan alternatif baru dengan pemasangan kondom yang diikatkan pada kateter. Lekosit. Penggunaan kondom kateter pada penanganan perdarahan post partum. Pemberian tampon ( packing ) uterovagina dengan kassa gulung dapat merugikan karena memerlukan waktu untuk pemasangannya. Kontraktilitas uterus dijaga dengan pemberian drip oksitosin paling tidak sampai dengan 6 jam kemudian. Untuk menjaga kondom agar tetap di cavum uteri. Hematokrit. Alternatif dari pemberian tampon selain dengan kassa. Indikasi pemasangan kondom sebagai tampon tersebut adalah untuk PPH dengan penyebab Atonia Uteri. Dilakukan observasi perdarahan dan pengisian kondom dihentikan ketika perdarahan sudah berkurang. maka langkah pertama dari penanganannya adalah dengan pemijatan uterus. Adjar Wibowo. Diberikan antibiotika tripel.

supracervical Hysterectomy. a range of interventions for postpartum hemorrhage Pharmacotherapy Carboprost Methergine Blood banking Cryoprecipitate Fresh-frozen plasma Surgery Repair of lacerations B-Lynch suture Hysterectomy. total Nonsurgical procedures Bakri Postpartum Balloon Interventional radiology Uterine artery balloons Consultation Anesthesiologist–intensivist Gynecologic oncologist Interventional radiologist Trauma surgeon Urologist Uterine embolization Uterine balloon tamponade Uterine packing Ligation of the hypogastric artery Other uterine compression sutures Pelvic packing Pelvic tourniquet Platelets Red blood cells Misoprostol Oxytocin Vasopressin .TABLE At your disposal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful