1

BAB 1 PENDAHULUAN

A.

Gambaran Profil Lulusan Program Studi Era Globalisasi yang berlangsung saat ini telah membuka peluang yang cukup luas bagi negara-bangsa untuk melakukan hubungan internasional. Hubungan internasional yang terjadi dewasa ini tidak lagi menjadi dominasi antar negara dan/atau pemerintah, akan tetapi juga berlangsung antar warga negara, antar perusahaan, dan antar organisasi/institusi suatu negara dengan pihak negara lainnya. Indonesia menjadi salah satu negara yang menyadari arti pentingnya hubungan internasional, khususnya dalam melakukan hubungan kerjasama yang saling menguntungkan, baik di bidang ekonomi, politik, keamanan, hukum, dan sebagainya. Agar suatu hubungan internasional yang berlangsung tidak

menimbulkan ancaman bagi keamanan dan ketertiban internasional, maka hubungan yang berlangsung diletakkan dalam tatanan hukum internasional, suatu tatanan yang disepakati dan diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa beradab sebagai perwujudan kehendak bersama masyarakat internasional untuk menciptakan tatanan dunia baru yang memiliki keberadaban dan keteraturan, saling menghargai, dan saling menguntungkan satu dengan yang lain. Untuk itu, keberadaan hukum internasional menjadi sangat urgen dalam tatanan dunia yang sedang bergerak cepat dan transparan sebagai sebuah tuntutan globalisasi. Di bidang ekonomi, perkembangan kegiatan investasi dan perdagangan internasional berlangsung sangat cepat. Pemanfaatan sumberdaya alam yang dilakukan oleh perusahaan transnasional telah menjadi kecenderungan global. Hal ini juga berlangsung di Indonesia, dan seringkali menimbulkan problem lingkungan internasional, investasi internasiol, bahkan kejahatan internasional, sehingga membutuhkan penyelesaian hukum internasional yang akurat. Untuk itu, sekali lagi sumberdaya manusia yang menguasai hukum internasional akan memainkan peranan strategis dalam penyelesaian sengketa internasional yang berlangsung.

2

Sebagai konsekuensi dari semakin intensnya hubungan hukum internasional, maka permasalahan hukum internasional juga berkembang semakin kompleks. Keberadaan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dalam penguasaan hukum internasional secara komprehensif menjadi harapan bersama, khusunya perannya dalam memecahkan dan menemukan solusi atas permasalahan hukum internasional yang semakin kompleks. Kebutuhan sumberdaya manusia yang memiliki kapasitas penguasaan hukum internasional yang komprehensif tersebut perlu didukung oleh wawasan yang holistik. Hal ini menjadikan pentingnya penyelenggaraan program pendidikan tinggi yang berkualitas pada konsentrasi Hukum Internasional untuk memenuhi tuntutan kebutuhan tersebut. Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin merupakan Fakultas Hukum yang termapan di Kawasan Timur Indonesia yang dipandang sebagai ”maskot” perguruan tinggi terbaik di kawasan timur. Dalam menjalankan peran strategi penyelenggaraan pendidikan tinggi maka program studi ilmu hukum Fakultas Hukum Unhas diarahkan dengan tetap mengkiblati visi dan misi universitas. Penjabaran visi dan misi dimaksud kemudian tertuang sebagai berikut: I. VISI ”Menjadikan Program studi Ilmu Hukum (S1) Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin sebagai Program studi Ilmu Hukum unggulan di Indonesia pada tahun 2020 dalam pengembangan ilmu hukum internasional yang berbasis pada budaya bahari”. II. MISI Untuk mewujudkan visi program studi Ilmu Hukum maka ditetapkan misi sebagai berikut: a. Mengembangkan Program studi Ilmu Hukum (S1) yang memiliki keunggulan kompetitif dalam penelitian dan pendalaman ilmu hukum yang berwawasan holistik, serta memiliki kompetensi spesifik untuk melakukan penelitian di bidang ilmu hukum secara mandiri. b. Mengembangkan Program studi Ilmu Hukum (S1) yang memiliki kemampuan dan keunggulan dalam pelaksanaan Tri Dharma

3

Perguruan Tinggi, sehingga menghasilkan profesionalisme dan intelektualitas keilmuan yang diakui secara nasional dan internasional. c. Mengembangkan Program studi Ilmu Hukum (S1) menjadi

kebanggaan Universitas Hasanuddin dengan keluaran yang memiliki kemampuan penelitian dan pemikiran keilmuan berwawasan holistik untuk dapat memberikan solusi terbaik pada setiap persoalan pembangunan Hukum Nasional dan Internasional.

B. Kompetensi Lulusan, dan Analisis Kebutuhan Pembelajaran. Uraian visi dan misi Fakultas Hukum Unhas di atas, kemudian dijabarkan dalam bentuk pilihan kompetensi lulusan. Hal ini diartikan bahwa pilihan kompetensi lulusan ditetapkan dalam rangka menggambarkan wujud lulusan program studi ilmu hukum (S1) Fakultas Hukum Unhas. Kompetensi lulusan yang ditetapkan adalah “praktisi”. Pilihan kompetensi lulusan pada “praktisi” dimaksudkan agar lulusan yang dihasilkan memiliki basis skill (keahlian) yang merupakan pasangan (tandem) dari knowledge (pengetahuan) yang tentunya telah dimiliki oleh setiap lulusan. Sehingga, setiap lulusan dipandang telah siap baik skill maupun knowledge untuk berkompetisi pada universitas yang sesungguhnya (real life). Dalam konteks pembelajaran mata kuliah Hukum Laut (PIP) maka akan terbangun suatu konstruksi bahwa lulusan dengan kompetensi praktisi akan dapat menyelesaikan persoalan-persoalan strategis di bidang hukum laut khususnya terkait dengan penegak hukum di laut yang merupakan muara dari pemebelajaran hukum laut. Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan harmonisasi antara apa yang hendak dicapai dengan apa yang ditetapkan terhadap lulusan maka penyediaan metode pembelajaran yang tepat merupakan pilihan bijak dalam rangka menjembatani harmonisasi yang dimaksud. Kebutuhan pembelajaran yang baik dan benar yang kemudian dikelola dengan pola menejerial yang tepat akan mempermudah tercapainya harmonisasi dimaksud. Tentunya, perubahan merode pembelajaran yang diterapkan di Unhas saat ini akan semakin mempermudah pencapaian dimaksud, khususnya ketersediaanya garis-garis Besar Pembelajaran (selanjutnya disingkat GBRP), Jadwal kegiatan mengajar (selanjutnya disingkat JKM), dan Satuan Acara Pengajaran

4

(selanjutnya disingkat SAP) baik uang dikemas dalam bentuk modul maupun powerpoint. C. Garis-garis Besar Rencana Pembelajaran (GBRP) MATA KULIAH SEMESTER/SKS/KODE Kompetensi Utama : HUKUM LAUT (PIP) : AKHIR 20….-2011…; 2 SKS; 419 HI 2

1. Memiliki kemampuan dan keterampilan menggunakan dan menerapkan berbagai teori, ketentuan, dan prinsip hukum laut; 2. Memiliki kemampuan dan keterampilan melakukan penelitian di bidang hukum laut (internasional) secara mandiri. Kompetensi 1. Memiliki pemahaman, kesadaran dan kearifan Pendukung tentang berbagai aspek sosial, ekonomi, budaya dan Iptek yang mempengaruhi bidang hukum laut; 2. Memiliki kemampuan dalam hal penguasaan software dan hardware komputer untuk mengakses informasi dari berbagai sumber informasi dalam bidang hukum internasional secara umum dan hukum laut secara khusus. Kompetensi Lainnya 1. Memiliki kesadaran, kepedulian, dan komitmen terhadap penegakan hukum di bidang hukum laut; 2. Memiliki kemampuan dalam menemukan korelasi antara berbagai sektor/element yang terkait dengan hukum laut, khususnya hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

GBRP Hukum Laut (PIP):
Minggu Ke Sasaran Pembelajaran Materi Pembelajaran Strategi Pembelajaran Kriteria penilaian Bobot Nilai (%)

1

Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian PIP (Pola Ilmiah Pokok), penetapan ilmu-ilmu kelautan sebagai PIP, relevansi, visi dan misi PIP Unhas.

- Pengertian PIP; - Penetapan ilmu-ilmu kelautan sebagai PIP, relevansi, visi dan misi PIP Unhas.

1. Kuliah; interaktif; 2. Diskusi.

1. Partisipasi dalam diskusi: 2. Kejelasan dalam mengemukaka n pendapat; 3. Ketepatan dalam menguraikan teori terkait Ilmu-ilmu kelautan sebagai PIP. 1. Partisipasi dalam diskusi:

5

2

Mahasiswa dapat menjelaskan arti berbagai

Berbagai istilah seperti konsepsi nusantara,

1. Kuliah Interaktif; 2. Diskusi.

5

7. 5 Mahasiswa dapat menjelaskan berbagai macam garis pangkal yang dapat diterapkan oleh Indonesia sebagai negara kepulauan. Jalur Laut Indonesia meliputi: a. 2. Sejarah perkembangan hukum laut Indonesia. Garis pangkal lurus. Partisipasi dalam diskusi. 17 tahun 1985 tentang pengesahan Republik Indonesia atas Konvensi Hukum Laut (UNCLOS III) 1982. 1. Perjanjian garis batas maritim dengan negara tetangga. 2. Studi kasus. 2. Jalur tambahan. PP No.. 4. 3. Discovery learning melalui small group work. 6. Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait implementasi prinsip negara kepulauan. Dan lain sebagainya. Diskusi. Penguasaan individu. Kemampuan menjelaskan fakta mengenai beberapa istilah dan sejarah perkembanga n hukum laut di Indonesia. Garis penutup. 3. 2. 3. Kuliah Interaktif. Kerjasama tim. 3. Kerjasama tim. Discovery learning melalui small group work. 2. negara nusantara. Implementasinya dapat dilihat pada: 1. d. 8. 3. 2. Pengumuman Pemerintahan Tahun 1980 tentang ZEEI. UU No. 3. Partisipasi dalam diskusi. wawasan nusantara. negara nusantara. f. 2. 1. 4. 4. 3. Garis Pangkal normal. Pengumuman Pemerintahan Tahun 1969 tentang Landas Kontinen. Penguasaan individu. c. Kejelasan dalam mengemukaka n pendapat. Diskusi. Landas Kontinen Indonesia. 3. b. Diskusi. 5. Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait jalurjalur laut. Partisipasi 5 5 . Garis pangkal lurus kepulauan. benua maritim Indonesia. Kuliah Interaktif. 5 3 Mahasiswa dapat menjelaskan implementasi asas negara nusantara dalam berbagai peraturan perundang-undangan nasional. 1. 1. UU No. Laut territorial. 4 Mahasiswa dapat menjelaskan berbaga jalurjalur laut pada wilayah peraiaran Indonesia sebagai negara nusantara. 1. 1. Kuliah Interaktif.5 istilah seperti konsepsi nusantara. ZEEI. wawasan nusantara. e. benua maritim Indonesia dan sejarah perkembangan hukum laut Indonesia. 2. UU No. 5 Tahun 1983 tentang ZEEI. 1 tahun 1973 tentang Landas Kontinen. 4. Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait jalurjalur laut. 8 Tahun 1962 tentangg Lintas Damai. 1. Perairan pedalaman. Peraiaran kepulauan. 2..

3. 3. 1. Kesesuaian antara teori dan kasus serta analisis. Analisis perbandingan antara ketiga lintas pelayaran itu. 1. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai lintas pelayaran. Diskusi. 2. Penempatan awak keselamatan pelayaran kapal. 37 Tahun 2002 tentang ALKI). Studi kasus. Berbagai persyaratan yang harus diperhatikan ketika melakukan lintas alur kepulauan (PP No. Kuliah Interaktif. 3. 1. b. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai prinsip keselamatan pelayaran. 2. perairan Indonesia. Organisasi makalah. 2. Kelayakan kapal menjelaskan pengaturan untuk berlayar di laut. c. Diskusi. Partisipasi dalam diskusi. 3. Kuliah Interaktif. 4. Berbagai macam pengaturan hukum tentang lintas pelayaran di lintas pelayaran wilayah perairan RI internasional di wilayah serta penegertiannya. Kuliah Interaktif. Ketepatan menggunakan teori dalam menganalisis fakta. 5 . 2. 1. 3. 2. Sarana bantu pelayaran. Studi kasus. 1. Diskusi. 3. Studi kasus. 2. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai standardisasi keselamatan atau keamanan kapal dan pelabuhan. (safety of navigation). 5 8 Ujian Tengah Semester Makalah Individu mengenai salah satu materi perkuliahan yang telah dipelajari 10 9 Mahasiswa dapat menjelaskan standardisasi keselamatan atau keamanan kapal dan pelabuhan (International Ship and Port facilities Security Code). 5 10 Mahasiswa dapat Perlindungan dan 1. 2. Ketepatan menggunakan teori dalam menganalisis fakta. 3. 3. Partisipasi dalam diskusi. 6 Mahasiswa dapat 1. d. Pencegahan tubrukan dan trayek kapal. 1. Kuliah Interaktif. ISPS Code: a. Sejarah lahirnya ISPS Code. . 2. 1. Mahasiswa dapat 1. Isi Makalah. Kemampuan 5 7 1. 3. Ketepatan menggunakan teori dalam menganalisis fakta. Ketepatan waktu. Persyaratanpersyaratan keamanan terkait kapal dan pelabuhan. Implementasi ISPS dalam hukum nasional. hukum tentang 2. Ruang Lingkup dan Tujuannya. Partisipasi dalam diskusi.6 dalam diskusi.

4. Partisipasi dalam diskusi. 25 Tahun 2000. Penguasaan Individual. 2. Ketentuan dalam KHL III 1982. Diskusi. Pelestarian Laut: a. KHL 1982. 2. UU no.7 menjelaskan prinsip-prinsip dasar mengenai perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Kuliah Interaktif 2. PP No. 3. Ketepatan dalam menguraikan teori. Status harta karun. 2. Sumber-sumber pencemaran laut. Kejelasan dalam mengungkap pendapat. dlsb. 3. Discovery learning melalui small group work. Kerjasama Tim. Partisipasi dalam diskusi. 1. Kerjasama Tim. Ketepatan menggunakan teori dalam menganalisis fakta. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai standardisasi keselamatan atau keamanan kapal dan pelabuhan. 107 Tahun 2000. Studi kasus. 3. Pengertian. 12 Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian harta karun serta berbagai istilah. 1. Kuliah Interaktif. 3. 2. Discovery learning melalui small group 5 . pengaturan hukumnya. Keppres No. Diskusi. Diskusi. b. 5 14 Mahasiswa dapat menjelaskan ketentuan dan prinsip-prinsip dasar - Pengantar Desentralisasi kelautan 1. Studi kasus. 2. 3. 3. 1. 1. menyajikan fakta-fakta mengenai perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Penguasaan Individual. 1. 3. 1. 3. 1. 5 13 Mahasiswa dapat menejelaskan pengaturan harta karun dalam berbagai peraturan perundangundangan nasional. Kasus pencemaran laut Newmont dan kasus tumpahnya minyak di kepulauan Natuna. 3. 1. 4. 1. 1. 32 tahun 2004. 2. 2. Tindak lanjut 2. Pengertian. 3. 2. Kemampuan menyajikan fakta-fakta 5 11 Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian dan sumber-sumber pencemaran laut. Kuliah Interaktif 2. Partisipasi dalam diskusi. Partisipasi dalam diskusi. Studi kasus. 3. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai pencemaran laut. Diskusi.

Penguasaan Individual.. Kerjasama Tim. mengenai pencemaran laut. 4. Kuliah Interaktif. 1. Discovery learning melalui small group work. 3. work. 10 . Partisipasi dalam diskusi. Diskusi. 2. 3. 3. Ketepatan dalam menganilisi. Kuliah Interaktif. 31 tahun 2004) dan peraturan perundangundangan terkait lainnya. 3. 2. Partisipasi dalam diskusi. 4. 3. 2. 2. Ketepatan waktu dalam menyelesaika n makalah atau menyelsaikan soal-soal. 1. Penguasaan Individual. Kemampuan menyajikan fakta-fakta mengenai pencemaran laut. 5 15 Mahasiswa dapat menjelaskan prinsip-prinsip dasar mengenai perikanan Indonesia ( 2) - penggunaan wilayah untuk perikanan (2). 2. 1. Penguasaaan teori materi pembelajaran.8 mengenai perikanan Indonesia (1). 16 Ujian Akhir Semester Ujian akhir diberikan dapat berupa makalah atau ujian tertulis. Diskusi. - Hukum Perikanan Indonesia (UU no. Kerjasama Tim.

DR. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan bagi peserta didik. 32. Experts Group Meeting. mencakup 0. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu partisipasi dalam diskusi. Syarif. visi dan misi PIP Unhas”.7 % daratan meliputi 18. 2. Germany. perlu dikaji.7 juta km2 zona ekonomi eksklusif sangat kaya potensi sumber daya alam laut hayati dan nabati.8 juta km2. 1. Optimalizing the Indonesian Diplomacy: Challenges and Future Direction.1983 melalui beberapa kali lokakarya telah menetapkan Marine Sciences (Ilmu-Ilmu Kelautan) sebagai Pola Ilmiah Pokok Universitas Hasanuddin berdasarkan argumentasi bahwa negara Indonesia secara geografis adalah Negara-Kepulauan(Archipelagic State) yang terdiri 74. dan 2.3% seluas 5. Uraian Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dibawah kepemimpinan Rektor Prof. 74. Achmad Amiruddin 1973 . penetapan ilmu-ilmu kelautan sebagai PIP. Makassar.3 % laut teritorial. dan ketepatan dalam menguraikan teori terkait ilmu-ilmu kelautan sebagai PIP. dianalisis. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa kuliah interaktif dan diskusi. p. Inilah tantangan Unhas untuk memberikan jawaban konkrit melalui teori ilmu dan teknologi kelautan dalam semua aspek disiplin ilmu yang diajarkan di Unhas dan praktek melalui alumninya yang berbobot dan handal Laode M. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu I bahwa “mahasiswa dapat menjelaskan pengertian PIP (Pola Ilmiah Pokok). Promotion and Management of Marine Fisheries in Indonesia. Perairan laut 74.8 juta km2 perairan Nusantara. 1 . P.9 BAB 2 BAHAN PEMBELAJARAN 1 A. 30 October 2009. di eksplorasi dan di eksploitasi untuk kesejahteraan umat manusia umumnya dan kemakmuran bangsa Indonesia khususnya.3% laut dan 25. See also Vivian Louis Forbes. relevansi. kejelasan dalam mengemukakan pendapat. IUCN Environmental Policy and Law Paper No. B. IUCN Environmental Law Center.108 pulau besar dan kecil1. diteliti.

Bagi Fakultas Hukum Unhas. Rady A Gani. dan bukan menjadi universitas pengekor di belakang universitas lain. Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dalam perkembangan selanjutnya. implementasi Pola Ilmiah Pokok itu ditambah lagi satu mata-kuliah wajib universitas yakni Budaya Maritim dengan bobot 2 kredit. Jadi. di masa kepemimpinan Rektor Prof. kebijakan Pimpinan Unhas setelah lebih dua dekade untuk menambah lagi mata-kuliah Budaya Maritim bersamaan matakuliah Hukum Laut PIP. aspirasi dan arah Pola Ilmu Pokok. Penambahan mata kuliah Budaya Maritim tentunya dimaksudkan untuk lebih memasyarakatkan PIP diseluruh fakultas di Unhas yang selama ini hanya merupakan domain ilmu mahasiswa Ilmu Kelautan dan Perikanan dan Fakultas Hukum. implementasi Pola Ilmiah Pokok itu adalah mata-kuliah Hukum Laut PIP (Pola Ilmiah Pokok) menjadi mata-kuliah Wajib Universitas bagi seluruh mahasiswa dengan bobot 2 kredit. aspirasi dan arah Marine Sciences pada intinya adalah Fakultas Teknologi Kelautan. Dua . Unhas telah beberapa kali melaksanakan Lokakarya dalam rangka untuk menangkap ide. dipandang hanya menambah beban saja yang berlebihan (over load) dan tidak relevan bagi mahasiswa Fakultas Hukum. Marine Sciences adalah Ilmu dan Teknologi Kelautan untuk menjawab tantangan zaman guna melahirkan Sarjana Teknologi Kelautan yang mampu melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya laut baik yang terdapat di dasar laut (sea bed) maupun yang terdapat pada tanah di bawahnya (sub soil). Unhas harus menjadi universitas terkemuka di Indonesia dan di dunia. hal yang strategis harus dilakukan adalah mengharmonisasikan dan mengsinkronnisasikan materí mata kuliah PIP yang diajarkan di Fakultas Hukum dengan materi budaya maritim yang diajarkan di Mata Kuliah Umum di Unhas (disajikan seluruh fakultas karena meruapakan mata kuliah wajib universitas). Achmad Amiruddin pada saat itu mengatakan bahwa Unhas harus tampil di depan menjadi pelopornya. Oleh karena itu. Perlu reevaluasi atas arah yang tidak sesuai design awalnya atau grand masternya.10 mengeksplorasi dan mengeksploitasi laut beserta sumber daya alamnya for benefit of mankind. Meskipun disisi lain. bukan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Sarjana Teknologi Kelautan ini masih langka di dunia apa lagi di Indonesia. ide.

Dr. 1. karena struktur organisasi Unhas masih menerapkan sistem sentralistik yang bersifat top-down (sistem komando) dan lagi pula sudah terlihat ketinggalan zaman (out of date). tetapi juga sebagai ”penghargaan generasi” atas apa yang telah ditorehkan nenek moyang bangsa Indonesia dulu yang merintis budaya kemaritiman dalam memperkaya khazanah cakrawala pengetahuan kemaritiman hingga sekarang. (Makassar: Fakultas Hukum Unhas. Apa lagi salah satu visi yang juga hendak diraih oleh Unhas yakni membawa Unhas sebagai ”The World Class University”. Tentunya. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). pembelajaran PIP (hukum laut) tidak hanya mengkaji perkembangan hukum laut dari waktu ke waktu. 2 . Sehingga kedua mata kuliah tetap dapat diajarkan tanpa menimbulkan kontroversi tentang penyelenggaraan kedua mata kuliah ini. telah diabaikan. 2007). Lihat Juga Abdul Rasal Rauf. Kepemimpinan Rektor Prof. Paturusi (2006 – sekarang) kemudian hendak mengejewantahkan visi universitas yakni budaya maritim atau baharí dalam bentuk yang lebih konkrit. Buku Ajar Hukum Laut Internasional Indonesia. seperti: 1. Diktat. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran pertama dilakukan dalam bentuk penulisan kuis diakhir perkuliahan yang dikemas dalam beberpa pertanyaaan. strategis sifatnya jika dilakukan evaluasi dan peninjauan kembali mata-kuliah Budaya Maritim agar tidak tumpang tindih secara substansi dengan mata-kuliah PIP yang diberikan bagi mahasiswa Fakultas Hukum. hlm. Idrus A. 2007). dr. sesuai filosofi: pantai rei). Mengapa Marine Sciences (Ilmu-Ilmu Kelautan) ditetapkan sebagai Pola Ilmiah Pokok Universitas Hasanuddin? Jelaskan ? Idris Buyung. (Fakultas Hukum Unhas Makassar. Oleh karena itu.2 C. sehingga otonomi Fakultas Hukum untuk mengatur mata-kuliah yang relevan saja bagi profesi hukum. karena tidak mampu mengikuti perkembangan zaman yang cepat berubah (up to date.11 mata-kuliah yang hampir serupa tersebut ditetapkan menjadi mata-kuliah wajib universitas. serta mendorong karya-karya intelektual baru bagi yang bisa bermanfaat bagi pembangunan nasional.

Germany. Optimalizing the Indonesian Diplomacy: Challenges and Future Direction. Makassar: Fakultas Hukum Unhas. Diktat. Experts Group Meeting. Mengapa mata kuliah PIP dan Budaya Maritim yang diajarkan bagi mahasiswa Fakultas Hukum Unhas menjadi perdebatan? Daftar Bacaan Abdul Rasal Rauf. 2007. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). Syarif. IUCN Environmental Policy and Law Paper No. Fakultas Hukum Unhas Makassar. 30 October 2009. .12 2. 74. Vivian Louis Forbes. Makassar. Siapakah Rektor Unhas yang berkontribusi dalam menggagas PIP? Dan bagaimana kebijakan tersebut diimplementasikan dan dianjurkan oleh rector berikutnya? 3. Idris Buyung. Buku Ajar Hukum Laut Internasional Indonesia. IUCN Environmental Law Center. Promotion and Management of Marine Fisheries in Indonesia. Laode M. 2007.

Selain itu. hal ini jelas sangat merugikan. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu partisipasi dalam diskusi. Klaim Wawasan Nusantara Sebelum lahirnya Konvensi Hukum Laut PBB Tahun 1982 (United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS 1982) yang menetapkan lebar laut teritorial adalah 12 mil laut. . a. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa kuliah interaktif dan diskusi. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik. benua maritim Indonesia dan sejarah perkembangan hukum laut Indonesia. B. Pada konvensi hukum laut I dan II yang dilangsungkan di Jenewa tidak mampu menyelesaikan masalah kesepakatan tentang luas laut teritorial dan hanya menetapkan lebar laut teritorial seluas 3 mul laut berdasarkan praktek kebiasaan waktu itu. 442 Pasal 1 (1) yang juga menetapkan lebar wilayah laut teritorial Indonesia adalah 3 mil. dan kemampuan menjelaskan fakta mengenai beberapa istilah dan sejarah perkembangan hukum laut di Indonesia. kejelasan dalam mengemukakan pendapat. Uraian: Istilah Wawasan Nusantara dan Sejarah Perkembangan Hukum Laut di Indonesia. penetapan batas wilayah menurut “Territoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie 1939” yang dimuat dalam Staatsblad 1939 No. wawasan nusantara. negara nusantara.13 BAB 3 BAHAN PEMBELAJARAN 2 A.”. dalam konteks negara kepulauan (archipelagic state) seperti Indonesia. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu I bahwa “mahasiswa dapat menjelaskan arti berbagai istilah seperti konsepsi nusantara.

Bahwa bentuk geografis Indonesia yang berwujud negara kepulauan. Demi untuk kesatuan wilayah negara RI. 442 Pasal 1 (1) sudah tidak sesuai lagi dengan kepentingan Indonesia setelah merdeka. c. adalah: a. Karena itu.14 Mengingat adanya kelemahan atas hukum yang mengatur mengenai wilayah laut (perairan) di Wilayah Negara Republik Indonesia yang masih merupakan warisan kolonial Belanda dahulu. ternyata ada juga negara-negara lain yang menyimpanginya. . atau dikemudian hari dikenal dengan nama Deklarasi Djuanda karena pada saat itu Indonesia masih memakai konstitusi RIS 1949 dengan Perdana Menteri-nya Ir. Djuanda. yang terdiri atas tiga belas ribu lebih pulau-pulau. atau antara pulau dengan perairannya. mempunyai hak sepenuhnya dan berkewajiban untuk mengatur segala sesuatunya. wajarlah apabila pemerintah RI mempunyai gagasan baru untuk merombak total (masalah lebar laut) dan kemudian mengembangkan ke aspek-aspek selanjutnya. dan Spanyol dengan jarak enam mil dari pantai. d. agar semua kepulauan dan perairan (selat) yang ada diantaranya merupakan satu kesatuan yang utuh. demi untuk keamanan dan keselamatan negara serta bangsanya. Bahwa Indonesia setelah berdaulat sebgai suatu negara yang merdeka.Negara-negara itu yaitu negara-negara Skandinavia sejauh empat mil. Perombakan yang dimaksudkan di atas untuk pertama kali dilaksanakan oleh pemerintah RI dengan mengeluarkan pengumuman pada tanggal 13 Desember 1957 yang disebut Deklarasi 13 Desember 1957. b. besar dan kecil yang tersebar dilautan. . dan tidak dapat dipisahkan antara pulau yang satu dengan lainnya. Adapun pertimbangan-pertimbangan yang mendorong pemerintah RI sebagai suatu negara kepulauan sehingga mengeluarkan pernyataan mengenai wilayah perairan Indonesia. Bahwa penetapan batas perairan wilayah sebagaimana menurut “Territoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie 1939” yang dimuat dalam Staatsblad 1939 No. dengan tolak ukur jarak tiga mil laut dari pantai itu.

diatas. Proklamasi tentang landas kontinen 2. S. Berdasarkan Pemerintah Ketetapan MPRS No. Truman. Tahun 1960. Adapun isi pokok UU No. Istilah Wawasan Nusantara sebenarnya baru dikenal pada seminar pertahanan keamanan tahun 1966. 4 tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (LN. pada tanggal 25 Desember 1945 mengumumkan dua pernyataan. 22) dengan maksud agar klaim tersebut memiliki kekuatan hukum dan mengikat. Wawasan Bahari yang diprakarsai oleh AL. 1960. c. Wawasan Benua. untuk menggantikan tiga wawasan yang pernah ada. yang diprakarsai oleh AD. atau kemungkinan dapat menimbulkan terjadinya instabilitas nasional dalam kehidupan masyarakat negara. 4 Prp. Sebab sebelumnya. yang dapat mengakibatkan gejolak atau ketegangan dalam kehidupan politik bagsa dan negara. Proklamasi tentang perikanan. Perairan Indonesia ialah Laut Wilayah beserta perairan Pedalaman Indonesia (Perairan Nusantara). dan sifatnya sektoral. yaitu: 1. No. XIX/MPRS/1966. pada tanggal 18 Februari 1960 dikuatkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. yatiu: a.15 Deklarasi Djuanda 1957 merupakan titik pangkal lahirnya klaim Wawasan Nusantara. . Presiden AS. b. Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia adalah: 1. Dalam masalah pengumuman pemerintah RI tentang konsep Wilayah Perairan. Peraturan dikukuhkan pengganti Undang-Undang tersebut (dituangkan) menjadi undang-undang No. Pada waktu itu Wawasan Nusantara dipergunakan untuk mengembangkan kekuatan pertahanan dan keamanan yang terpadu. 4. Lain halnya dengan Wawasan Nusantara yang dikembangkan menjadi kebudayaan politik (political culture) dan merupakan milik bangsa dan negara RI. Ketiga wawasan tersebut di atas masing-masing sebagai perwujudan konsep kekuatan (power concept) sehingga menimbulkan adu kekuatan. Dua tahun setelah keluarnya Deklarasi Djuanda 1957. yang merupakan konsepsi kewilayahan. Wawasan Dirgantara yang diprakarsai oleh AU. pemerintah RI bukan satu-satunya negara yang melakukan klaim atas wilayah pantainya.

1960 tersebut. Meskipun pertambahan wilayah tersebut berwujud perairan. setelah berlakunya UU No.16 2.166. dan negara Indonesia tidak merupakan satu-satunya negara tepi (artinya ada negara tetangga). Dalam hal ini. 4/ Prp 1960 adalah : 1. yaitu dalam konferensi hukum laut Internasional pada tahun 1958 dan tahun 1960. yang berarti mempunyai kekuatan hukum dan mengikat. Dalam usaha mewujudkan konsep wawasan nusantara ini. maka garis batas Laut Wilayah Indonesia ditarik pada tengah selat. diakui dan dijaman sepanjang tidak mengganggu atau bertentangang dengan keamanan serta keselamatan negara dan bangsa. Implikasi posistif klaim wawasan nusantara yang tercantum dalam UU No. 3. Tidak berlakunya lagi pasal 1 ayat (1) angka 1 sampai dengan 4 ‘Territoriale Zee Maritieme Kringen Ordonantie” 1939. Realisasi makna ketentuan yang tercantum didalam alinea IV pembukaan UUD 1945. Dengan telah dijadikannya Deklarasi Djuanda 1957 kedalam bentuk undang-undang.027. 4/Prp. Laut Wilayah Indonesia ialah jalur laut selebar dua belas mil laut dari pulaupulau yang terluar atau bagian pulau-pulau yang terluar dengan dihubungkan garis lurus antara satu dengan lainnya. 6.250. 4. Kedua macam jalur tersebut adalah: . berarti luas wilayah bertambah 3. tetapi banyak mengandung sumber daya alam. ada dua macam jalur jalur yang ditempuh pemerintah RI dalam memperjuangkan konsep wawasan nusantara. Juga Pasal 1 (1) UUD 1945 dapat dilaksana. Perairan Pedalaman Indonesia (Perairan Nusantara) adalah semau perairan yang terletak pada sisi dalam dari garis besar. luas wilayah Indonesia menjadi: 5. Wilayah Indonesia berdasarkan TZMKO 1939 luasnya hanya: 2.193. pemerintah RI telah dua kali meng-gol-kan klaim wawasan nusantara itu di forum internasional. 5. Hak Lintas Damai kendaraan air (kapal) asing. tetapi belum mendapatkan hasil sebagaimana diharapkan. 2.087 km2. Apabila ada selat yang lebarnya tidak melebihi dua puluh empat mil laut. km2 (daratan dan lautan).163 km2 (Perairan) atau lebih kurang: 145%.

6 Tahun 1980 (LN. 16) tentang Perjanjian antara RI dan Malaysia tentang Penetapan Garis Batas Laut kedua negara di selat Malaka. 45) tentang Penetapan Batas Laut Antara RI . 5. konferensi hukum laut. 6. 3) tentang Pengesahan Persetujuan Dasar Antara RI dan PNG tentang Pengaturan-Pengaturan Perbatasan Kedua Negara. dengan jalan memperjuangkan dalam pembicaraan-pembicaraan di forum internasional. 22 tahun 1971 (LN. UU No. 1978 No 37) Mengesahkan Persetujuan Antara Pemerintah RI. tentang Perjanjian Antara Indonesia dengan Australia Mengenai Garis-garis Batas Tertentu Antara Indonesia dengan PNG. . UU No. 2. yaitu dengan langsung mengadakan perundingan baik secara bilateral maupun multilateral dengan negara-negara tetangga yang berkepentingan. Tentang Penetapan Titik Pertemuan Tiga Garis Batas dan Penetapan Garis Batas Ketiga Negara di Laut Andaman. Keppres No. Keputusan Presiden No.Australia di Laut Timor dan Laut Arafuru. 58). 1973 No. 1973 No. termuat dalam: 1. 1980 No. 4. Keppres No 24 Tahun 1978 (LN. 59) tentang Perjanjian Antara Indonesia dengan Singapura Mengenai Penetapan Garis Batas Laut Wilayah kedua negara di Selat Singapura. Pemerintah Republik India dan Pemerintah Kerajaan Thailand. mengenai perbatasan laut wilayahnya dengan wilayah RI. b) Jalur nasional. 1972 No. 3. UU No.17 a) Jalur internasional. 6 Tahun 1973 (LN. 7 tahun 1973 (LN. ternyata dalam jangka waktu pendek lebih terlihat hasilnya meskipun terbatas hanya negara-negara yang berkepentingan saja adalah yang melalui jalur nasional. 66 Tahun 1972 (LN. yaitu seperti yang sudah dilakukan.dan forum-forum internasional lainnya. Diantara dua macam jalur cara memperjuangkan klaim wawasan nusantara tersebut. Hal ini terbukti dengan adanya perundinganperundingan antar negara yang menghasilkan perjanjian (treaty) atau persetujuan (agreement). 1971 No. Perjanjian dan persetujuan yang dimaksudkan antara lain.

25-26 3 . tepi luar dari landas kontinen melebihi 200 mil dari garis dasar laut teritorial diukur. Ligitan. maka batas Landas Kontinen Indonesia adalah suatu garis yang ditarik ditengah-tengah antara pulau terluar Indonesia dengan titik luar wilayah negara tetangga. b) Pemerintah Indonesia bersedia menyelesaikan soal garis batas Landas Kontinen dengan negara-negara tetangga melalui perundingan c) Jika tidak ada perjanjian garis batas. 8 mil.3 Wilayah ini mencakup dasar laut dan tanah dibawah dasar laut diluar laut teritorial dan merupakan kelanjutan dari wilayah daratan sampai tepi luar dari batas kontinen. d) Klaim di atas tidak mempengaruhi sifat serta status dari perairan di atas Landas Kontinen Indonesia dan ruang udara diatasnya. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas.4 Pengundangan konsepsi negara kepulauan (archipelagic state) telah mengakibatkan perubahan pada panjang garis pantai yang tadinya melebihi jarak jumlah total sepanjang 33. Lereng Kontinen ada pada dasar laut dan tanah dibawahnya. Berdasarkan batasan ini negara pantai dapat menetapkan dua kriteria landas kontinen. Adapun isi pokok Deklarasi (Djuanda. Menata Pulau-Pulau Kecil Perbatasan. 2005). (Jakarta: PT Bina Aksara. kursip penulis) yang juga mengandung ketentuan tentang landas kontinen sebagaimana dimaksudkan diatas adalah sebagai berikut: a) Segala sumber kekayaan-kekayaan alam yang terdapat dalam Landas Kontinen Indonesia adalah milik eksklusif negara Indonesia. selama masih dapat dilakukan eksplorasi dan eksploitasi. Toto Pandoyo. 4 Mustafa Abubakar. yang secara geografik meliputi: Landas atau Dataran Kontinen. sampai kedalaman 200 meter atau lebih. 972 mil menjadi 8. Belajar dari Kasus Sipadan.18 b. dan Sebatik. Kedua. 069. Konsepsi Landas Kontinen Landas kontinen menurut pengertian Hukum Laut Internasional mencakup seluruh pengertian Tepian Kontinen (continental margin). sehingga negara pantai dapat menetapkan batas melebihi 200 mil laut tetapi tidak boleh melebihi 350 mil laut. Pertama wilayah yang lebarnya dari zona landas kontinen dibatasi sampai jarak 200 mil laut dari garis dasar batas teritorial diukur. Wawasan Nusantara dan Implementasinya Dalam UUD 1945 Serta Pembangunan Nasional. 1985). Perlu diingat S. hlm 27-39. hlm.

perairan diantaranya dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lainnya demikian eratnya sehingga pulau-pulau. Sedangkan pengertian kepulauan disebutkan sebagai. yaitu pernyataan Wilayah Perairan Indonesia: “Segala perairan di sekitar. 1983). 39 Pasal 46 UNCLOS 1982. ekonomi dan politik yang hakiki. Cit. Tim Penerjemah UNCLOS 1982.5 c.” Sementara itu. atau yang secara historis diangap sebagai demikian. (Jakarta:tp. disebutkan bahwa. hlm. hlm. Dalam pasal tersebut. termasuk bagian pulau. perairan dan wujud alamiah lainnya itu merupakan suatu kesatuan geografi.”6 Dan dalam sejarah hukum laut Indonesia sudah dijelaskan dalam deklarasi Juanda 1957 . tetapi Presiden Truman dari Amerika Serikat pada tanggal 28 September 1945 juga telah mengumandangkan Proklamasi tentang Landas Kontinen (Continental Shelf) negara Amerika Serikat. garis-garis pangkal lurus kepulauan. hak lintas damai melalui perairan 5 6 S. 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia disebutkan bahwa. Op. dimasukannya poin-poin negara kepulauan dalam Bab IV Konvensi Hukum Laut 1982 yang berisi 9 pasal. 41. “Negara Kepulauan adalah negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulaupulau lain. penetapan perairan pedalaman. dalam perairan kepulauan. utamanya pada pasal 46. status hukum dari perairan kepulauan. diantara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan negara RI dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah daratan RI dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada dibawah kedaulatan mutlak daripada negara RI”. Sedangkan dalam pasal 1 ayat 1 UU No. yang berisi antara lain: Ketentuan-ketentuan tentang negara-negara kepulauan. . “Negara Kepulauan” berarti suatu Negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulaupulau lain”.19 bahwa bukan hanya negara RI saja yang mengeluarkan Deklarasi tentang Landas Kontinennya. “ kepulauan” berarti suatu gugusan pulau. Toto Pandoyo. Konsepsi Negara Kepulauan Konsepsi negara kepulauan diterima oleh masyarakat internasional dan dimasukan kedalam UNCLOS III 1982.

yaitu suatu negara kepulauan minimal harus memiliki luas perairan yang sama besar atau makasimal hanya sembilan kali dengan luas daratannya. Adapun persyaratan obyektif yang harus dipenuhi oleh negara kepulauan dalam melakukan penarikan garis pangkal lurus kepulauan (pasal 47). ekonomi. Panjang maksimum setiap segmen garis pangkal. pengertian negara kepulauan akan berbeda artinya dengan definisi negara yang secara geografis wilayahnya berbentuk kepulauan. pasal 46 ini membedakan pengertian yuridis antara negara kepulauan (archipelagic state) dengan kepulauan (archipelago) itu sendiri. Hal ini dikarenakan.20 kepulauan. Dengan kata lain. Maksud dari pasal 46 butir (a) tersebut adalah. ekonomi dan politik yang hakiki atau yang secara historis dianggap sebagai demikian. perairan. perairan diantaranya dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lainnya demikian erat sehingga pulau-pulau. hak dan kewajiban kapal dan pesawat udara asing dalam pelaksanan hak lintas alur-alur laut kepulauan. dalam pasal 46 butir (b) disebutkan bahwa kepulauan adalah suatu gugusan pulau-pulau. secara yuridis. termasuk bagian pulau. kecuali bila tiga persen dari jumlah seluruh garis pangkal yang mengelilingi setiap kepulaaun dapat melebihi . yaitu panjang setiap garis lurus yang menghubungkan dua titik pangkal ditetapkan diteteapkan tidak boleh melebihi 100 mil laut. dan wujud alamiah lainnya itu merupakan suatui kesatuan geografis. satu kesatuan geografis. 2. Perbedaan ini menimbulkan konsekuensi bahwa penarikan garis pangkal kepulauan (archipelagic baseline) tidak bisa dilakukan oleh semua negara yang mengatasnamakan dirinya sebagai negara kepulauan. Hal ini dikarenakan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bila ingin melakukan penarikan garis pangkal lurus kepulauan. Rasio (perbandingan) antara luas wilayah perairan dengan daratan. politik. “negara kepulauan adalah suatu negara yang seluruhnya terdiri satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain (pasal 46 butir (a). dan historis. hak lintas alur-alur laut kepulauan. yaitu: 1. Pada pasal 46 butir (a) disebutkan bahwa. Pengaturan dalam Bab IV Konvensi Hukum Laut 1982 dimulai dengan penggunaan istilah negara kepulauan (archipelagic state). Yaitu.

9. harus dicantumkan pada peta dengan skala atau skala-skala yang memadai untuk menegaskan posisinya. 3. 6. hak-hak yang ada dan kepentingan-kepentingan sah lainnya yang dilaksanakan secara tradisional oleh negara tersebut terakhir diperairan mereka. Sistem garis pangkal demikian.21 kepanjangan tersebut. Garis pangkal yang ditarik sesuai dengan ketentuan pasal ini. serta segala hak yang ditetapkan dalam perjanjian antara negaranegara tersebut akan tetap berlaku dan harus dicermati. terletak diantara dua bagian suatu negara tetangga yang langsung berdampingan. 8. Selanjutnya. maka dapat digunakan batas maksimum 125 mil laut. Apabila suatu bagian perairan kepulauan suatu negara kepulauan. diatur bahwa ketentuan yang tertuang dalam pasal 47 merupakan garis pangkal untuk pengukuran lebar laut teritorial. Penarikan garis pangkal demikian tidak boleh menyimpang terlalu jauh dari konfigurasi umum kepulauan tersebut. termasuk bagian plateau oceanic yang bertebing curam yang tertutup atau hampir tertutup oleh serangkaian pulau batu gamping dan karang kering diatas permukaan laut yang terletak disekeliling plateau tersebut. Garis pangkal demikian tidak boleh ditarik ke dan dari elevasi surut. 4. daerah daratan dapat mencakup didalamnya perairan yang terletak didalam tebaran karang pulau-pulau dan Atol. dapat dibuat daftar koordinat geografis titiktitik yang secara jelas memerinci datum geodetik. kecuali apabila diatasnya telah dibangun mercusuar atau instalasi serupa yang secara permanen berada diatas permukaan laut atau apabila elevasi surut tersebut terletak seluruhnya atau sebagian pada suatu jarak yang tidak melebihi lebar laut teritorial dari pulau terdekat 5. Untuk maksud menghitung perbandingan perairan dengan daratan. Negara kepulauan harus mengumumkan sebagaimana mestinya peta atau daftar koordinat geografis demikian dan harus mendepositkan satu salinan setiap peta atau daftar demikian ke Sekjen PBB. 7. zona . tidak boleh diterapkan oleh suatu negara kepulauan dengan cara yang demikian rupa sehingga memotong laut teritorial negara lain dari laut lepas atau zona ekonomi eksklusif.

Selanjutnya dalam peraturan pelaksanannya. Pada pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa pemerintah menarik garis pangkal kepulauan untuk menetapkan lebar laut teritorial. Dari beberapa aturan yang telah diuraikan di atas. Trinidad dan Tobago. Cape Verde. Dengan kata lain. dalam pasal 2 Undang-Undang No 6 tahun 1996 tentang Perairan indonesia. Sao Tome dan Principe. Sedangkan penarikan garis pangkal kepulauan dilakukan dengan menggunakan. pasal 48 mengukuhkan bahwa untuk suatu negara kepulauan. seperti garis-garis pangkal biasa dan garis-garis pangkal lurus. Indonesia menuangkan Konsepsi Negara Kepulauan dalam amandemen ke 2 UUD 1945 Bab IXA tentang wilayah negara. Komoro. Kepulauan Marshall. Dari peraturan peundangundangan nasional yang dikumpulkan oleh UN-DOALOS ada 19 negara yang menetapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan negara kepulauan. Jamaika. Bahama. Sebagaimana yang disyaratkan oleh pasal 46 Konvensi Hukum Laut PBB 1982. Antigua dan Barbuda. PNG. Selain itu.22 tambahan. Tuvalu. 37 tahun 2008 tentang Daftar Koordinat Geografis titik-titik garis pangkal kepulauan Indonesia. Indonesia. Seychelles. dan Vanuatu. Maldives. Kepulauan Solomon. Fiji. Filipina. karena dapat menggunakan kelebihan-kelebihan yang dimiliki cara penarikan garisgaris pangkal kepulauan. yaitu. pemerintah Indonesia secara tegas menyatakan bahwa negara RI adalah negara kepulauan. pemerintah RI mengeluarkan PP No 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis titiktitik garis pangkal kepulauan Indonesia yang telah diubah dengan PP No. ZEE dan landas kontinen bagi suatu negara kepulauan (pasal 48). garis pangkal biasa. garis-garis pangkal lurus kepulauan mempunyai fungsi yang sama dengan garis-garis pangkal lain yang diakui oleh Konvensi Hukum Laut 1982. garis . jelas bahwa Indonesia yang berstatus sebagai negara kepulauan akan diuntungkan. Oleh karena itu. tidak semua negara yang wilayahya terdiri dari kumpulan pulaupulau dapat di anggap sebagai negara kepulauan. Kiribati. Saint Vincent dan Grenadines. Pada pasal 25 E berbunyi ” Negara Kesatuan RI adalah negara kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah-wilayah yang batasbatasnya dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang”. garis pangkal lurus kepulauan.

23

pangkal lurus, garis penutup teluk, garis penutup muara sungai, terusan dan kuala, serta garis penutup pada pelabuhan. Namun kepemilikan Indonesia terhadap pulau-pulau kecil, khususnya pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, masih menyisakan permasalahan. Kalahnya pulau Sipadan dan Ligitan oleh Malaysia telah mamberikan pelajaran kepada Indonesia dimuka Internasional. Hal ini mencerminkan bahwa pemerintah RI hanya sekedar memilki tanpa mempunyai kemampuan untuk menguasai dan memberdayakannya. Berkaca dari

maraknya potensi konflik dipulau-pulau kecil terluar, pemerintah Indonesia mengeluarkan Perpres No 78 Tahun 2005 tentang pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Perpres tersebut bertujuan untuk: 1. Menjaga keutuhan wilayah NKRI, keamanan nasional, pertahanan negara dan bangsa serta menciptakan stabilitas kawasan 2. Memanfaatkan sumberdaya alam dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan 3. Memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan. Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar juga diharapkan dapat mengatasi ancaman keamanan yang meliputi kejahatan transnasional penangkapan ikan ilegal, penebangan kayu ilegal, perdagangan anak-anak dan perempuan (trafficking), imigran gelap, penyelundupan manusia, penyelendupan senjata dan bahan peledak, peredaran narkotika, pintu masuk terrorisme, serta potensi konflik sosial dan politik. Hal ini penting agar kesaradaran untuk menjaga pulau-pulau kecil diperbatasan tetap ada, dan pualu-pulau kecil diperbatasan tidak dianggap sekedar halaman belakang.7 d. Kontribusi Amannagappa dalam Studi Hukum Laut Uraian konsepsi Wanus sebagaimana dijelaskan di atas termasuk konstribusi sejarah didalamnya, perlu dilengkapi dengan mencantumkan kontribusi Sulawesi selatan sebagai basis kemaritiman. Konsepsi tersebut dapat dilihat pada “Pura tagkisi” gulikku, pura babbara sompeku’ ku ulebbirengngi telling natowalie’ (Telah kupasang kemudiku, telah

7

Mustafa Abubakar , Op.cit. hlm. 26-32

24

kukembangkan

layarku

kupilih

tenggelam

daripada

surut

langkah).8

Masyarakat Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, Makassar dan Mandar sejak dahulu dikenal sebagai pelaut ulung dan telah mampu melayari seluruh pesisir Asia Tenggara, Australia, Madagaskar, Afrika Selatan bahkan sampai ke Jeddah-Arab Saudi. Seiring dengan kentalnya warisan sejarah kebaharian masyarakat Sulawesi Selatan, maka pemahaman akan hukum dan lingkungan laut bagi mahasiswa Universitas Hasanuddin (selanjutnya disingkat Unhas) menjadi sangat penting.9 Dalam konteks Indonesia dan khususnya Sulawesi Selatan konsepkonsep kepemilikan laut dan pengaturan pelayaran juga telah berkembang sejak abad ke 17 yang dapat dilihat pada hukum Pelayaran Amanna Gappa. Dalam hukum Amanna Gappa lebih cenderung menganut konsep kebebasan berlayar di laut. Lebih daripada itu hukum Amanna Gappa juga telah mengatur hak dan kewajiban pemilik kapal dan anak buah kapal. Konsep-konsep kepemilikan laut kemudian diadopsi oleh Hukum Laut Modern, yang dapat dilihat pada sejumlah konvensi internasional yang akan dikemukakan kemudian. Terlepas dari tuanya sejarah kebahaarian masyarakat Sulawesi Selatan, dalam dunia internasional kita mengenal beberapa konsep pengaturan laut, yang berkembang sejak zaman romawi sampai berkembangnya hukum laut modern, seperti dewasa ini. Pada zaman Romawi, laut dianggap sebagai “rest communis omnium” (hak bersama seluruh umat manusia). Menurut konsep ini penggunaan laut bebas atau terbuka bagi semua orang. Pada Abad Pertengahan setelah keruntuhan Imperium Roma, negaranegara yang muncul di sekitar laut Tengah mulai mengklaim hak kewilayahan
8

Baharuddin Lopa, Hukum Laut dan Perniagaan, (Bandung: P.T. Alumni, 1982). Naskah dalam bahasa bugis tentang hukum laut perdata telah dibahas dalam berbagai pertemuan dan penulis antara lain Carron dalam disertasinya yang berjudul “Het Handels en Zeerecht in Adatrechtsregelen van de Rechts kring Zuid Celebes”, disertasi, (Belanda: Penerbit Van Dishoeck ,1973). Isi buku undang-undang Amanna gappa ini mengandung peraturanperaturan yang berlaku menurut hukum (adat) Bugis dibidang pengangkutan laut. Tulisan lain tentang buku undangundang amana gappa adalah Ph.D.L. Tobing, Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amana Gappa, (Makassar: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1961). Lihat juga Andi Zainal Abidin, Beberapa Catatan Tentang Kitab Hukum Pelayaran dan Perniagaan Amana Gappa, (Jakarta: BPHN, 1977). Tentunya, penelitian mendalam perlu dilakukan untuk mengetahui apakah di Indonesia dahulu kala, terutama dalam hukum (adat) Bugis yang dikenal sebagai pelaut utama antara suku-suku bangsa di Indonesia, telah dikenal konsepsi-konsepsi hukum laut publik yang dapat disamakan dengan Konsepsi atau lembaga-lembaga (atau pranata) hukum laut internasional publik yang telah diterima secara umum.

Abdul Rasal Rauf, Mengurai Hukum Laut Amannagappa hingga Hukum Laut Modern, Jurnal Hukum Internasional “Jurisdictionary”, Vol. VI No. 1 Juni 2010, hlm. 37-39.

9

25

atas laut di sekitar pantai. Venetia misalnya mulai mengklaim sebagian besar dari laut Adriatik, Genoa melakukan hal yang sama atas laut Liguria, sedang Pisa yang juga negara kecil pecahan Imperium Romawi mengklaim dan melakukan tindakan-tindakan penguasaan atas laut Thyrenia. Pada masa itu, para ahli terkemuka seperti Bartolus dan Baldus telah telah meletakkan dasardasar pembagian wilayah laut, yakni bagian laut yang berada di bawah kekuasaan kedaulatan negara pantai, dan wilayah laut yang berada di luar kedaulatan pantai atau lebih dikenal dengan konsep laut teritorial dan laut lepas. Selanjutnya Baldus membedakan tiga konsepsi yang bertalian dengan wilayah laut yakni : (1) Pemilik laut, (2) Pemakaian laut dan (3) Yurisdiksi atas laut dan wewenang untuk melakukan perlindungan terhadap kepentingan di laut.10 Perkembangan pengaturan laut selanjutnya banyak ditentukan oleh pertentangan pemikiran yang beranggapan bahwa laut sebagai sesuatu yang tertutup (mare clausum) didukung oleh John Selden, dan pemikiran laut sebagai sesuatu yang terbuka (mare liberum) yang didukung oleh sarjana Belanda Hugo Gratius.11 Menurut pemikiran yang menganut mare clausum, negara memiliki kedaulatan penuh di laut, sehingga tertutup bagi negara lain. Sedangkan para pemikir mare liberum beranggapan bahwa harus ada kebebasan berlayar di laut.12 Sekilas gambaran kontribusi sebagaimana dijelaskan di atas

menggambarkan betapa Sulawesi selatan telah berpartisipasi aktif dalam sejarah perkembangan hukum laut di Indonesia.

C. Penutup

Baldus dalam Muchtar Kusumaatmadja, Hukum Laut International, (Bandung: Binacipta, 1987). Buku-buku Grotius ini dalam terjemahan bahasa Inggris diterbitkan oleh International Laws dibawah pimpinan redaksi James Brown Scott, Di Indonesia, buku-buku ini tersedia di Perpustakaan Lembaga Kebudayaan Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang disebut sebagai Kementerian Pendidikan Nasional) yang bertempat di Gedung Museum Jakarta. Dalam seri ini diterbitkannya karya-karya penulis klasik hukum internasional lain sepertinya seperti Vittoria, Gentilis, Bynkershoek, Vattel, dll. Perpustakaan ini juga berfungsi sebagai perpustakaan Rechtshogeschool (Perguruan Tinggi Hukum Zaman Hindia Belanda). 12 Hal inilah yang menyebabkan mengapa orang-orang Portugis seperti Vasco da Gama sampai di Timur Jauh (Indonesia) melalui Tanjung Harapan (Afrika Selatan) dan India (kea arah Timur), sedangkan orang Spanyol bernama Magelhaens sampai di Filipina melalui Tanjung Magelhaens di Amerika Selatan (ke arah Barat). Pembagian dunia kedalam dua lingkungan kekuasaan ini juga menerangkan mengapa sebagian dari Amerika Selatan jatuh dibawah kekuasaan Spanyol dan sebagian dibawah kekuasaan Portugal yaitu yang kemudian menjadi Brazil yang hingga sekarang berbahasa Portugis.
11

10

26

Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran kedua dilakukan dalam bentuk makalah dengan merumuskan beberapa judul/topik, seperti: 1. Kontribusi Indonesia Dalam Konvensi Hukum Laut III Tahun 1982. 2. Konsepsi Negara Kepulauan: Suatu Tantangan Hukum Laut. 3. Sulawesi Selatan: Kontribusi Kelautan yang Tak terbantahkan.

Daftar Bacaan Abdul Rasal Rauf, Mengurai Hukum Laut Amannagappa hingga Hukum Laut Modern, Jurnal Hukum Internasional “Jurisdictionary”, Vol. VI No. 1 Juni 2010, hlm. 37-39. Andi Zainal Abidin, Beberapa Catatan Tentang Kitab Hukum Pelayaran dan Perniagaan Amana Gappa, Jakarta: BPHN, 1977. Baharuddin Lopa, Hukum Laut dan Perniagaan, Bandung: P.T. Alumni, 1982. Mochtar Kusumaatmadja, Hukum Binacipta, 1987. Mustafa Abubakar, Menata Pulau-Pulau Kecil Perbatasan; Belajar dari Kasus Sipadan, Ligitan, dan Sebatik, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2005. Ph.D.L. Tobing, Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amana Gappa, Makassar: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1961. S. Toto Pandoyo, Wawasan Nusantara dan Implementasinya Dalam UUD 1945 Serta Pembangunan Nasional, Jakarta: PT Bina Aksara, 1985. Laut International, Bandung:

27

BAB 4 BAHAN PEMBELAJARAN 3

A. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu ke 3 adalah “Mahasiswa dapat menjelaskan implementasi asas Negara kepulauan dalam berbagai peraturan perundangan Republik Indonesia”. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning melalui small group work, kuliah interaktif dan diskusi kelas. Adapun criteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menyajikan fakta-fakta terkait soal implementasi atau penerapan prinsip Negara kepulauan melalui partisipasi dalam diskusi, kerjasama tim dan penguasaan individual pembelajaran ini dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan bagi peserta didik.

B. Uraian Meskipun secara teknis perundang-undangan hanya terjadi perubahan terhadap pasal ayat 1 butir 1 hingga 4 dari teritoriale zee en maritieme (TZMKO) 1939 saja, perubahan system pengukuran serta kewilayahan yang termuat dalam UU No. 4 / PRP / 1960 cukup bermasalah dilihat dari hukum dan kebiasaan Internasional. Bukan saja hal itu telah meninggalkan peraturan hukum internasional, yang berlaku dan telah berjalan berabad-abad lamanya tetapi juga mengakibatkan perubahan kewilayahan yang substansial. Disamping itu juga yang merupakan hal penting adalah permasalahan lalu lintas kendaraan air asing, untuk itu dengan peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1962, diatur tentang hak lalu lintas damai kendaraan air asing. Peraturan Pemerintahan merupakan peraturan pelaksanaan dari UU no 4 tahun 1960. Ketentuan nasional tentang lau lintas damai kapal-kapal asing penting artinya sebagai bukti adanya kesungguhan dan itikad baik dari Negara pantai untuk menjamin agar dapat terus berlangsungnya hak lalu lintas damai dalam wilyah perairan Nusantara Undang-undang No.4 Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia.

28

Isi Pokok. a. l a. Perairan Indonesia adalah laut wilayah Indonesia beserta perairan pedalaman Indonesia (Pasal 1 ayat 1) b. Laut wilayah Indonesia untuk wilayah laut selebar 12 mil yang garis luarnya diukur tegak lurus atas garis-garis dasar atau titik pada garis dasar yang terdiri dari garis-garis lurus untuk menghubungkan titik-titik terluas pada garis rendah dari pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang terluar dalam wilayah Indonesia dengan ketentuan jika ada selat yang lebarnya tidak melebihi 24 mil mil laut + Negara Indonesia tidak merupakan satu-satunya Negara tepi, maka garis batas laut wilayah Indonesia ditarik pada tengah selat (Pasal 1 ayat 1). c. Perairan pedalaman, Indonesia untuk semua perairan yang terletak pada sisi dalam dari garis dasar laut wilayah (pasal 1 ayat 3) d. lalu lintas laut damai dalam perairan pedalaman Indonesia terbuka bagi kendaraan air asing (pasal 3 ayat 1). e. dengan peraturan pemerintah dapat diatur lalulintas laut damani (pasal 3 ayat 2). f. Mulai asal berlakunya undang-undang ini (18 Februari 1960) pertama angka 1 angka 1 sampai 4 teritoriale zee am maritiesme ordonatiec 1939 dicabut (pasal 4 ayat 2). Dari undang-undang No. 4 tahun 1960 ini jelas bahwa yang dimaksudkan dengan peranan Indonesia di laut wilayah beserta perairan pedalaman di bagian laut yang terletak pada di sebelah dalam garis-garis pangkal luas laut wilayah. Peraturan Pelaksanaan PP No. 8 tahun 1962 Memberikan pengertian tentang lalu lintas damai, di pelayaran untuk maksud damai yang melintasi laut wilayah +perairan pedalaman Indonesia dari laut lepas ke teratas pelabuhan Indonesia dari laut lepas kelaut lepas (ayat 10. Ditentukan pula bahwa semua pelayanan ini harus dilakukan tanpa berhenti + membuang serta mondar mondir tanpa alasan yang sah (hovering unnua Cessarily) di perairan atau di laut lepas yang berdekatan dengan perairan tersebut tersebut tidak termasuk pengertian lalu lintas damai (ayat 3).

29

Daerah-daerah “berdekatan” yaitu daerah laut lepas sejauh 100 mil dari perairan Indonesia. Jadi di daerah 100 mil dari laut wilayah, kapal-kapal pengawas pantai Indonesia masih dapat melakukan pengawasan terhadap lalu lintas kapalkapal. Pasal-pasal ayat 2 : menentukan bahwa lalu lintas damai dianjurkan untuk mengikuti alur-alur yang dicantumkan dalam buku-buku kepanduan bahari dalam dunia pelayaran. Menurut Pasal 3 PP No. 8 Tahun 1962, lalu lintas laut termaksud dianggap damai selama tidak berlawanan dengan keamanan, keterbatasan umum, + kepentingan dan/atau tidak mengganggu perdamaian negara Republik Indonesia. Kalau lalu lintas kapal tersebut akan membahayakan Indonesia, lalu lintas tersebut tidak dapat lagi dianggap damai. Dalam hal ini, pemerintah tidak dapat lagi menjamin lautan tersebut/meminta kapal-kapal asing itu meninggalkan laut wilayahnya dengan Negara yang sekarang diakui oleh Pasal 30 KHL 1982. Suatu ketentuan yang juga sudah diterima oleh pihak Indonesia. Pantai dapat menutup untuk sementara bagian-bagian perairannya bagi kapal-kapal asing bila dianggap pula untuk menjaga keamanan dan pertahanan Nnegara. Demikian pula halnya dengan Indonesia, dapat ditemukan dalam beberapa pasal PP No. 8 tahun 1962, yaitu: Pasal 4 PP No. 8 tahun 1962 menyebutkan bahwa Presiden Indonesia memiliki kewewenangan untuk menutup bagian-bagian tentang perairan Indonesia bila dianggap perlu. Pasal 5 ayat (1) Kapal-kapal ikan asing yang lalu di perairan Indonesia harus menyimpan alat-alat penangkap ikannya dalam keadaan terbungkus. (oleh sumber daya ikan dan hak eksklusif rakyat Indonesia). Ayat (2) : kapal-kapal ikan asing tersebut harus melalui jalanan yang telah ditetapkan. Pasal 6 : Presiden dapat member izin pada kapal-kapal penelitian ilmiah di perairan Indonesia. Sepanjang tidak merugikan Indonesia. Pasal 7: Kapal perang dan kapal publik asing harus memberitahukan menteri terkait atau KSAL kecuali bila diatur 7 tahun ditetapkan. (SK Presiden No. 16 tahun 1971). Bagi kapal-kapal niaga atau swasta asing yang melakukan lintas damai, tidak ada persoalan. Kapal-kapal bebas tidak perlu diberi tahu dahulu. Tapi kapal-

subject to jurisdiction and control. therefore. Menurut dugaan. Kemudian konsep Landasan Kontinen yang dikaitkan dengan kekayaan alam yang terdapat di dasar laut dan tanah dibawahnya.30 kapal asing mengadakan kegiatan yang tidak bersifat lintas damai diperlukan izin pelayaran sesuai SK Presiden No. Having concern for the urgency of conserving and prudently utilizing its natural resources. Jenis bologi laut berupa phyto plankton dan zoo-plankton yang sangat digemari oleh ikan-ikan sebagai makanan pokoknya. I Harry S Thurman. untuk pertama kali dapat dilihat dalam proklamasi Presiden Amerika Serikat Harry S Truman pada tanggal 28 September 1945 sebagai berikut: “Now. the government of the United States regard the natural resources of the sudsoil and seabed of tehe continental shelf beneath the high seas but contiguous to the coast of the United States are appertaining to the United States. President of the United Stated of America. do hereby proclaim the following policy of United States of subsoul and and seabed of the continental shelf. Secara oceanografi dapat dijelaskan bahwa perairan diatas continental shelf termasuk jenis perairan “euphotic zone” yakni suatu lapisan air yang karena dangkalnya dapat mendapat cahaya matahari sehingga memudahkan terjadinya “photo sytesis” yang diperlukan bagi kesuburankehidupan biologi laut. Perkembangan Konsep Landas Kontinen Konsep Landas Kontinen untuk pertama kalinya dikemukakan oleh seorang Spanyol yaitu Odon de buen pada Konferensi Perikanan di Madrid tahun 1926. Kesatuan wilayah Republik Indonesia itu selanjutnya makin di tegakkan lagi kebulatannya dan keutuhannya secara menyeluruh dengan dikeluarkannya pengumumam pemerintah Republik Indonesia tentang landas kontinen pada tanggal 17 Februari 1969. yang kemudian diundangkan dalam bentuk UU No. Pada saat itu peringatan landasan kontinen tidak dikaitkan dengan kepentingan perikanan. perairan diatas Landasan Kontinen merupakan perairan yang baik sekali bagi kehidupan ikan. In cases where the continental shelf extend to the shores of another state or is share with an adjacent state the boundary shall . 1 tahun 1973 sehingga pengaturannya telah mencakup dasar laut beserta tanah dibawahnya (seabed dan subsoil). 16 tahun 1971 tentang wewenang pemberian izin berlayar bagi segala kegiatan kendaraan air asing dalam wilayah perairan Indonesia.

Misalnya. The characteristic as high seas of the water above the continental shelf and the right to their free and unimpeded navigation are no way thus affected. . sama sekali bukan menyangkut existensi kekayaan alam yang terkandung pada dasar laut dan tanah di bawahnya. Bahwa penentuan landasan Kontinen itu tidak mempengaruhi status perairan diatasnya sebagai laut bebas. Hasjim Djalal menilai bahwa proklamasi Prsiden Truman itu mengakibatkan perubahan yang radikal dibidang houkum laut. Bahwa Landas Kontinen itu tunduk dibawah jurisdiksi dan pengawasan Amerika Serikat. Bahwa objek proklamasi itu berkaitan dengan kekayaan alam yang terdapat di dlaam tanah (subsoil) dan sasar laut (seabed) dari landas Kontinen Amerika Serikat. Bahwa dalam hal Landasan Kontinen bertemu dengan pantai Negara lain. Beliau menyatakan: “I think it is no exaggeration to state that the Truman Proclamation of 1945 ate the most important causes the radical changes that have occurred in the legal rezim of the oceans”. 4. Perubahan yang radikal memang jelas dapat dilihat dari negara-negara di Amerika Latin dan di Asia secara pasti mengikuti jejak Presiden Truman. Pandangan tersebut dikemukakan dalam suatu kesempatan simposium internasional.31 be determined by the United States and the States concerned in accordance with equitable principle. 2. proklamasi Presiden Truman itu tidaklah dapat dianggap menyimpang dari ajaran Grotius tentang laut bebas. batasnya akan diatur secara bilateral berdasarkan prinsip keadilan. Disisi lain. Menurut Mochtar Kusumaatmadja. sebagai berikut: “It must be added at once the view presented by Grotius on resources of the sea were limited to the living resources as there as there was no notion at the time of the existence of mineral and energy resources”. 3. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian berkenaan dengan proklamasi tersebut yakni : 1. karena motivasi ajaran Grotius itu adalah semata-mata mengenai kebebasan berlayar dan kebebasan perikanan. Bahwa proklamasi itu bertujuan untuk melindungi kekayaan alam dan memanfaatkannya secara bijaksana. 5.

Costa Rica. 5 Juni 1949. batas landasan Kontinen mereka bukan kedalaman 200 meter tetapi sejauh 200 mil dari pantai. to a depth of 200 meters or. 1 Agustus 1947. Peru. Sedangkan Indonesia baru mengeluarkan deklarasi yang berupa Pengumuman Pemerintah tanggal 17 Februari 1969. Klaim Argentina ini betul-betul merupakan klaim perluasan wilayah. 1 Juni 1947. Abu Dhabi. Bahkan ternyata Argentina telah melangkah sangat jauh dengan mengklaim bahwa selain landas kontinen. Laut Territorial dan Laut Lepas.dan Pakistan. to where the superjacent waters admits of the exploitation of the natural resources of the said areas: (b) to the seabed and subsoil of similar submarine areas adjacent to the coast of island”. 10 Juni 1949 . Dengan adanya variasi-variasi itu sudah barang tentu dapat menimbulkan hambatan dan kesulitan dalam praktek internasionla. Qatar. Hambatan dan kesulitan itu dicoba diatasi dalam Konferensi Jenewa 1958.32 Mexico mengeluarkan proklamasi serupa tanggal 29 Oktober 1946. perairan yang ada diatasnya tunduk di bawah kedaulatan Negara Argentina. . Selain tentang landas Kontinen Konferensi Jenewa 1958 juga membahas tentang Perikanan. Mengenai hubungan hukum antar negara dengan landasan kontinennya dinyatakan dalam Pasal 2 para. beyond that limit. tahun 1949. Secara lengkap rumusan Pasal 1 adalah: “For the purposes of these articles. the term of continental shelf is used as refreshing: (a) to the seabed and subsoil of the submarine areas adjacent to the coast but outside the area of the territorial sea. Bahrain. Dalam perkembangan selanjutnya terlihat adanya variasi dan modifikasi. Batas landas kontinen adalah sampai dengan kedalaman 200 meter atau di luar itu sepanjang memungkinkan dilakuakn exploitasi. Pasal 1 dari Konvensi Jenewa 1958 tentang Landas Kontinen menyebutkan bahwa pengertian landas kontinen tidak saja berupa landas kontinen dari suatu benua tetapi juga termasuk Landas Kontinen dari suatu pulau. 8 Juni 1949. tidak lagi merupakan klaim jurisdiksi eksklusif. 9 Maret 1950. Chili. 27 Juli 1948. Saudi Arabia. Akibatnya. (1) sebagai berikut : 1) The coastal state exercises over the continental shelf Sovereign Right for the purpose of exploring it and its natural resources. Chili dan Peru misalnya mendasarkan deklarasi mereka atas “teori bioma” dan “teori kompensasi” dan mengesampingkan teori “perpanjangan secara geologi” (geological prolongation).

Mochtar Kusumaatjaya. Pemerintah Indonesia mengeluarkan Pengumuman tentang Negara Kepulauan dan pada tanggal 17 Februari1969 mengeluarkan pengumuman itu masingmasing dikukuhkan dengan Undang-Undang No. pengumuman pemerintah tentang Negara Kepulauan tidak sesuai dengan asas kebebasan laut lepas karena akibat hukum dari pengumuman itu berupa dimasukkannya beberapa bagian wilayah integral . Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Satya Nandan dapat menimbulkan bermacam-macam interpretasi. Ian Brownlie. 1 Tahun 1973. or make a claim to the continental shelf without the express consent of the coastal state. Dalam perkembangan selanjutnya ternyata rumusan Pasal 1 tentang batas landas Kontinen seperti disinyalir oleh sarjana-sarjana Hukum Internasional misalnya.33 2) The rights referred into paragraph 1 of this article are exclusive in the sense that if the coastal state does not explore the continental shelf or exploits natural resources. Tindakan Pemerintah Indonesia Mengikuti perkembangan konsep Negara Kepulauan dan Landas Kontinen. no one may undertake these activities. tidak menjamin kepastian hukum sehingga perlu diadakan penyempurnaan. Perbedaan itu paling tidak dapat dilihat dalam dua hal yaitu : 1) Secara asas (prinsip). Akhirnya penyempurnaan itu terlihat dalam ketentuan pasal 76 UNCLOS 1982. Pada tanggal 13 Desember 1957. Ditinjau dari segi kepentingan Internasional dan nasional kedua Pengumuman pemerintah itu mempunyai corak yang sedikit berbeda. Ketentuan yang ditunjuk sebagai penyebab ketidak pastian itu adalah kalimat yang berbunyi …”beyond that limit to when the superjacent water admits the exploitation of the natural resources”. Dengan demikian berarti klaim Argentina yang menuntut kedaulatan penuh atas Landas Kontinen dan perairan diatasnya tidak sesuai dengan perasaan hukum masyarakat internasional yang tertuang dalam Konvensi Jenewa 1958 itu. (Diluar batas itu ketika kedalaman air memungkinkan eksploitasi sumber daya alam). Berdasarkan kutipan-kutipan di atas jelaslah bahwa menurut Konvensi Jenewa 1958 negara hanya mempunyai hak berdaulat dan jurisdiksi eksklusif atas Landasan Kontinen.

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pengumuman Pemerintah tersebut merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. sedangkan Konsep Landas Kontinen adalah konsep yang sudah menjelma dalam hukum kebiasaan internasional walaupun untuk kepastiannya. sedangkan Pengumuman Pemerintah tentang landas kontinen tidak memperluas wilayah Negara melainkan hanya memperluas hak berdaulat serta jurisdikasi ekslusif negara. Meskipun Pengumuman Pemerintah tentang Negara kepaulauan bersifat melawan prinsip Hukum Internasional. Pengumuman Pemerintah tentang Negara Kepulauan bersifat memperluas wilayah negara yang berarti juga memperluas wilayah negara yang berarti juga memperluas ruang lingkup berlakunya kedaulatan negara. Sementara Pengumuman Pemerintah tentang landas Kontinen adalah sesuai dengan aspirasi masyarakaat internasional yang telah tumbuh menjadi hukum kebiasaan internasional. prinsip Negara Kepulaaun dapat diterima oleh masyarakat internasional. Apa yang dilakukan Indonesia melalui Pengumuman Pemerintah tanggal 17 Februari 1969 itu telah sinkron dengan apa yang terlihat dalam konferensi Jenewa mengenai landas Kontinen. . Persoalannya kini adalah bagaimanakah sikap Indonesia menghadapi adanya dua Konvensi yakni konvensi Jenewa 1958 dan UNCLOS 1982 yang sama – sama mengatur tentang Landas Kontinen tetapi satu sama lain isinya berbeda. Terhadap persoalan ini kiranya dapat dijelaskan sebagai berikut. namun berkat pejuangan yang gigih dari Indonesia bersama-sama dengan Negara-Negara kepulauan lainya. lebih jaudgh diperlukan penuangan dalam bentuk tertulis berupa Konvensi Internasional.34 Indonesia. Disisi lain. akhirnya melalui Konvensi Jamaica (UNCLOS) 1982. pengumuman tentang landas Kontinen tidak memerlukan dukungan internasional kerana Pengumuman itu dikeluarkan setelah berlangsungnya konferensi Jenewa 1958. Singkatnya konsep Negara Kepulauan adalah konsep yang sama sekali baru dan waktu itu belum terjelma dalam hukum kebiasaan internasional. 2) Secara politis. Dalam konferensi tersebut terlihat aspirasi dunia untuk menjadikan ketentuan tentang Landas Kontinen sebagai aturan hukum tertulis.

Kemudian batansan yang hampir dengan ketentuan pasal tersebut di atas adalah batasan yang diberikan oleh Pasal 2 UU No.35 Adalah memang benar Indonesia telah meratifikasi Konvensi Jenewa 1958 yaitu Konvensi tentang Laut Lepas (High Seas). Pengertian ZEE Indonesia Menurut Konvensi Hukum Laut yang baru. tentang Perikanan dan Perlindungan Sumber Hayati di Laut Lepas (Fishing And Conservation of The Living Resources of the High Seas). Dengan demikian./1960. Sementara itu. yang menetapkan bahwa. yang tunduk kepada rezim hukum khusus sebagaimana yang ditetapkan pada bagian ini yang meliputi hak-hak dan yurisdiksi negara pantai dan hak-hak serta kebebasan-kebebasan dari pada Negara-negara lain yang ditentukan sesuai dengan konvensi ini. subject to the specific legal rezim established in this part under which the rights and jurisdiction of the coastal State and the rights and freedom of other States are governed by the relevant provisions of this Convention”. Indonesia telah meratifikasi UNCLOS 1982 dengan undang-undang No. 5 tahun 1983. No. maka secara juridis sepanjang tentang landas Kontinen. yang diterima hanyalah ratifikasi tentang Laut Lepas saja. Berlainan dengan sifat dari jurisdiksi atau Landas Kontinen yang hanya memberikan pengaturan tentang dasar laut beserta tanah dibawahnya. Ini berarti Indonesia hanya tunduk pada UNCLOS 1982 saja. Maksudnya adalah ZEE adalah jalur diluar dan dengan laut wilayah. tentang Landas Kontinen (Continental Shelf). Namun ratifikasi yang dilakukan dengan Undang – Undang No. “ZEE Indonesia adalah jalur di luar dan berbatasan .19 Tahun 1961 sepanjang mengenai perikanan dan Landas Kontinen telah ditolak ole Sek Jen PBB berhubung dimuatnya persyaratan (reservation) oleh Indonesia bertalian dengan garis pangkal sesuai dengan UU. 4/Prp/1960 tentang wilayah Perairan Indonesia. maka pada tanggal 21 Maret 1980 Pemerintah Republik Indonesia telah mengumumkan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia selebar 200 mil (yang diukur dari garis pangkal laut territorial Indonesia sesuai dengan ketentuan UUD No. 4/Prp. Indonesia tidak terikat pada konvensi Jenewa 1958. 17 Tahun 1985. yang dimaksud dengan ZEE adalah: “The exlusive Economic Zone is a are a beyond and adjacent to the territorial sea. Berhubung dengan hal itu.

Tindakan Presiden Amerika serikat ini bertujuan mencadangkan kekayaan alam pada dasar laut dan tanah dibawahnya yang berbatasan dengan pantai Amerika Serikat untuk kepentingan rakyat dan bangsa Amerika Serikat. ternyata bahwa pasal ini hanya menegaskan dan mengukuhkan definisi geografis ZEE Indonesia sebagaimaan yang tercantum dalam pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang ZEE Indonesia tertanggal 21 Maret 1980. Tindakan sepihak Amerika Serikat mengenai landas Kontinen dan perikanan sebagaimana disebutkan di atas. seyogyanya kekuasaan untuk mengaturnya ada pada negara pantai yang berbatasan dengan daratan yang bersangkutan”. Hal tersebut sesuai dengan isi dari proklamasi tersebut yang pada pokoknya adalah : Sudah selayaknya tindakan demikian diambil oleh negara pantai karena “continental shelf” dapat dianggap sebagai kelanjutan alamiah daripada wilayah daratan dan bagaimanapun juga usaha-usaha untuk mengelola kekayaan alam yang terdapat didalamnya memerlukan kerjasama dan perlindungan dari pantai. tanah dibawahnya dan air diatasnya dengan batas terluar 200 (dua ratus) mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia. ‘Policy of the United States with respect to the Natural Resources of the Subsoil and Seabed of the Continental Shelf”. Dengan proklamasi Presiden Truman tahun 1945 di atas dimulailah suatu perkembangan dalam hukum Laut yakni pengertian geologi “continental shelf” atau daratan kontinen. terutama kekayaan mineral khususnya minyak dan gas bumi. Dnagn demikian maka demi keamanan penguasaaan sember daya alam yang terdapat dari dalam continental shelf. Sejarah perkembangan rezim hukum ZEE 200 mil Pada tanggal 28 September 1945 Presiden Amerika Seriakt “Harry S.” Dari ketentuan pasal tersebut. berpengaruh terhadap perkembangan rezim hukum ZEE 200 mil tersebut. Hal ini terbukti bahwa negara-negara Amerika Latin dalam mengajukan tuntutan mereka telah mengemukakan beberapa argumentasi yang bertujuan untuk melindungi sumber-sumber kekayaan alam . Truman” telah mengeluarkan suatu proklamasi No.36 dengan laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan undangundang yang berlaku tentang perairan iNdonesia yang meliputi dasar laut. 2667.

walaupun Negara-negara seperti Benin.E. melainkan juga meluas sampai pada negara-negara asia Afrika. Guinea. Klaim-klaim ini berkembang (meluas) sekitar tahun 1960-1970. El Salvador. Ekuador. Honduras (1950). menjelaskan bahwa dalam lingkaran sejauh 200 mil itu hak-hak lintas damai (innocent passage) tidak terganggu (inoffensive) dan tetap diakui sebagaimana mestinya. yakni Meksiko (1946). Uruguay dan Amerika serikat mengajukan klaim mereka yang sejalan dan selaras dengan tuntunan yang telah diajukan oleh Negara-negara peserta deklarasi Santiago tahun 1952 (Chili. Nicaragua. Bangladesh. Peru).37 yang banyak terdapat diperairan sejauh 200 mil. Perlu dijelaskan dalam studi ini bahwa dalam perkembangannya. Costa Rica (1950). termasuk dasar laut dan tanah di abwahnya. Chili. Siera Leone dan Somalia tetap mengklaim jurisdiksi 200 mil laut sebagai laut wilayah. terutama yang mengklaim jurisdiksi 200 mil dan tidak terbatas hanay pada Nnegara-negara Amerika Latin saja. Ekuador. Sumber-sumber mana sangat bermanfaat bagi pelaksanaan pembangunan di negara-negara peserta deklarasi tersebut. Menurut Winston C. India. yang selanjutnya diikuti oleh negaranegara Amerika Latin lainnya. El Salvador (1950).E. terutama bertujuan untuk menetapkan lebar laut wilayah. Ekuador dan Peru: sebagai motivasi utama tuntutan ketiga Negara peserta deklarasi Santiago ini adalah pelaksanaan jurisdiksi ekslusif terhadap sumber-sumber kekayaan alam (daya hayati maupun non hayati) yang terdapat diperairannya yang sejauh 200 mil laut. Peru. Kegagalan ini mengakibatkan meluasnya praktek Negara-negara dalam mengklaim kedaulatan mereka di laut yang berbatasan dengan pantainya. Guatemala. Iceland. Sehubungan dengan klaim beberapa negara mengenai ZEE 200 mil laut ini. Argentina menagjukan teori “Epi Continental Sea”. Meksiko. Sebagai tindak lanjut dari tuntutan negara-negara Amerika Latin maka pada tahun 1952 lahirlah suatu deklarasi baru yakni “Deklarasi Santiago” yang ditandatangani oleh Negara-Negara : Chili. kemudian Ekuador. Brazilia. Selanjutnya Winston C. panama. Chili dan Peru mengemukakan teori “Bloma”. Honduras. Termasuk klaim yurisdiksi 200 mil.. namun usaha PBB tersebut ternyata gagal. Costa Rica. negara-negara seperti: Argentina. PBB telah menyelenggarakan Konferensi Hukum Laut (UNCLOS) 1 tahun 1958 UNCLOS II tahun 1960 di Jenewa. delegasi Kenya secara resmi .

seperti Amerika Serikat. masing-masing negara dengan gigih mempertahankan kepentingannya yang menjadi latar belakang klaimnya itu. Dalam hal ini negara-negara maritim yang kuat. tetap terjamin bagi semua bangsa. Perdebatan dimaksud merupakan bagian laut bebas. dalam hal ini negara-negara yang tergolong landlocked dan geographically disanvantage yang . termasuk kebebasan menggunakannya untuk kepentingan militer. Dengan demikian negara-negara yang tergabung dalam kelompok 77 tersebut tetap menentang dipertahankannya status laut bebas bagi ZEE. yang selanjutnya dimasukkan dalam List of Subjects and Issues dan dibahas dalam UNCLOS III 1974.38 telah mengajukan usul draft article yang mengatur tentang ZEE dalam persidangan Seabed Committee 18 Agustus 1972. walaupun mengakui beberapa kebebasan dilaut lepas dengan ketentuan bahwa hak-hak tersebut harus diperinci secara jelas dan tegas. Kebebasan lautan. Sedangkan Negara-negara pantai terutama negara-negara yang tergabung dalam kelompok 77 dengan gigih pula tetap mempertahankan pendapatnya bahwa konsep ZEE merupakan suara konsepsi suigeneris yang memiliki rezim khusus mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban negaranya. Negara-negara pantai diberi wewenang tertentu kekayaan alamnya. negara-negara tak berpantai (landlocked States) dan negar-negara secara geografis tidak beruntung (geographically disadvantaged States) menuntut hak-hak yang sama dengan negara-negara pantai. Hal ini terbukti dengan terjadinya perdebatan sengit diantara negara-negara peserta UNCLOS III. b. Namun negara-negara pantai hanya bersedia memberikan surplus perikanan yang tidak dapat diambil oleh negara-negara pantai. ataukah memiliki rezim hukum spesifik. Meyatakan bahwa. Jepang dan Jerman Barat bersitegang dengan pendapatnya bahwa ZEE 200 mil harus merupakan laut bebas dengan ketentuan bahwa : a. tidak saja dibidang perikanan tetapi juga terhadap sumber-sumber kekayaan laut lainnya di dasar laut. Menurut Hasjim Djalal dalam bukunya “Perjuangan Indonesia dibidang Hukum Laut”. Ternyata diantara negara-negara yang mengklaim yurisdiksi laut 200 mil tersebut mempunyai pendapat-pendapat yang berbeda tentang apa yang telah dideklarasikan sebelumnya. Inggris. Uni Soviet.

Kemudian setelah mengalami amandemen-amandemen dalam Informal Single Negotiating Text (INST) dan Revised Singel Negotiating Text (RSNT). Komperensi Hukum Laut PBB telah berhasil .39 mendasarkan tuntutan mereka atas dasar prinsip “common heritage of mankind” yang mengklaim hak yang sama dengan negara-negara pantai untuk mengambil kekayaan alam di ZEE tersebut. dewasa ini telah menjadi Hukum Laut Internasional yang abru. kepentingan semua pihak dapat dapat ditampung tanpa saling merugikan. (ICNT). tealh menegaskan bahwa walaupun ketentuan-ketentuan tentang ZEE dalam bab V ICNT ini belum berhasil diresmikan menjadi suatu konvensi Hukum Laut Internasional. ketentuan-ketentuan mengenai ZEE 200 mil dimuat dalam pasal 55-75 Bab V Informal Composite Negotiating Text. ZEE 200 mil dengan demikian tidak dikualifikasikan sebagai laut bebas dan tidak pula sebagai laut wilayah. sampai akhirnya sidang ke 11 di New York yang lalu. Sebagai ilustrasi disini. sedangkan ketiga lainnya yang termasuk dalam ketegori “distant”. dengan jalan perundingan dan mufaakt kemudian dapat dipertemukan. yang diartikan ZEE mempunyai ketentuan hukum sendiri. maka rezim itu melalui proses pembentukan hukum kebiasaan internasional. Penyelesaian yang selalu menjadi tujuan hukum pada akhirnya perbedaan dan pertentangan pendapat yang pada mulanya tegang itu. sehingga perjuangan mengenai rezim hukum ZEE 200 mil akhirnay dapat dirumuskan. namun sebagai suatu rezim sul generis. Konvensi Hukum laut III ini telah ditandatangani di Montego Bay. Meskipun negara-negara tetangga menganut prinsip penarikan batas yang sama tentang rezim ZEE. dengan makin banyaknya negara-negara yang mengumumkan ZEE 200 mil. Menlu RI Mochtar Kusumaatmadja. Penentuan batas ZEE Salahsatu masalah yang cukup rumit untuk diselesaikan adalah penentuan batas ZEE dengan negara-negara tetangga. namun dalam masalah penetapan batas ini masih beluma da kesepakatan. negara-negara tak berpantai dan secara geografis tidak beruntung misalnya Singapura. Jamaika tanggal 10 Desember 1982. dan Zambia. Nepal. dalam penjelasannya mengenai Pengumuman Pemerintah tentang ZEE Indonesia pada tanggal 21 Maret 1980.

Persetujuan Bilateral tentang Akses Negara ketiga . karena patokan-patokan yang dipakai. Selain itu Indonesia berpendirian bahwa batas ZEE tersebut tidak perlu identik dengan batas landas kontinen. factor-faktor yang mempengaruhinya pun adalah berbeda. batas ZEE 200 mil laut dengan negara-negara tetangga dimaksud tetap harus ditentukan berdasarkan pada “asas sama jauh” (equidistant principle) dengan memperhitungkan keadaan-keadaan khusus (special circumstances). dapat diketahui bahwa pasal ini memberikan ketentuan bahwa prinsip sama jarak (equidistant) digunaakn untuk menetapkan batas ZEE antara Indonesia dengan negara tetangga. Apabila ZEE Indonesia tumpang tindih dengan ZEE Negara-negara yang pantainya saling berhadapan ataupun ataupun berdampingan (opposite or adjacent coastal) dengan pantai Indonesia. Akan tetapi bagi Indonesia. Selama persetujuan sebagaimana dimaksud di atas belum ada dan tidak terdapat keadaan-keadaan khusus yang perlu dipertimbangkan. maka batas ZEE antara Indonesia dengan Negara-negara tersebut ditetapkan dengan persetujuan antara Republik Indonesia dan Negara yang bersangkutan. Dari ketentuan-ketentuan di atas. kecuali jika terdapat keadaan-keadaan khusus (special circumstances) yang perlu dipertimbangkan sehingga tidak merugikan kepentingan nasional. maka batas ZEE antara Indonesia dan negara tersebut adalah garis tengah atau garis sama jarak (middle line or equidistant) antara garis-garis pangkal laut wilayah Indonesia atau titik-titik terluar negara tersebut telah tercapai persetujuan tentang peraturan sementara yang berkaitan dengan batas ZEE termaksud. khususnya mengenai penentuan batas ZEE yang menyangkut kepentingan dua negara atau lebih baik yang letaknya berdampingan maupun yang berhadapan (opposite or adjacent coastals) harus dilakukan secara damai menurut Hukum Internasional yang berlaku umum dan khususnya tidak bertantangan dengan ketentuanketentuan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Keadaan khusus tersebut adalah misalnya terdapatnya suatu pulau dari negara lain yang terletak dalam jarak kurang dari 200 (dua ratus) mil laut dari garis pangkal untuk menetapkan lebarnya Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.40 mencapai kesepakatan dalam merumuskan penetapan batas ZEE ini.

Sesuai dengan ketentuan Kovensi Hukum laut yang baru. yang memuat syarat-syarat tentang akses-akses tersebut. Dalam hal ini negara Singapura dan Zambia. bahwa berdasarkan prioritas. Kemudian Negara-negara ketiga lainnya termasuk kedalam distant fishing countries yaitu Korea dan Jepang. karena Indonesia sebagai negara pantai yang tergolong dalam negara yang sedang berkembang. Surplus yang demikian aka nada jika tiba musim panen (harvesting capacity). Indonesia sebagai salah satu Negara pantai berkewajiban untuk memberikan akses kepada Negara ketiga atas sebagian dari surplus perikanan yang ada di ZEE Indonesia. Oleh karena itu. Pemerintah Republk Indonesia juga perlu segera merumuskan model persetujuan induk yang mengatur secara umum masalah akses tersebut. Selanjutnya ditegaskan bahwa sebagaimana yang dilakukan oleh negaranegara yang secara geografis kurang beruntung dan yang letaknya berhadapan ataupun berdekatan (adjenct) mengadakan tindakan demikian dapat berarti bahwa . negara-negara yanag secara geografis kurang beruntung (geographically disvantages States). Sebagaimana yang dianjurkan (sarankan) oleh Dimyati Hartono bahwa : “persetujuan yang dimaksud dapat menyangkut masalah tindakan maslah perlindungan yang berupa pembatasan terhadap jenis. jumlah ikan yang boleh ditangkap oleh masing-masing Negara. Hal ini sudah digariskan dalam konvensi yakni negaranegara yang tak berpantai (landlocked States). dengan masih mempergunakan alat-alat yang tradisional dalam rangka mengelola penangkapan dalam hasil perikanan laut yang hamper mencapai 75% terdiri dari laut Indonesia dapat diperkirakan akan mempunyai surplus yang harus diberikan kepada negara ketiga tertentu.41 Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Konvensi Hukum Laut yang baru. Indonesia berada dibawah “Total Allowable Catch” (TAC) atau suatu jumlah yang diperkenankan untuk ditangkap. Tidak dapat kita ingkari bahwa lazimnya kesulitan untuk menentukan TAC dan harvesting capacity akan timbul. baik bilateral maupun regional. negara ketiga yang dapat menerima akses yang dimaksud. Sesuai dengan ketentuan Konvensi Hukum laut yang baru akses dimaksud harus diberikan berdasarkan persetujuan. atau mengenai waktu dan cara-cara penangkapan ikan yang semuanya didasarkan pada rujukan untuk menjamin kelestarian sumber daya hayati di wialyah perairan tersebut”. Hal ini adalah logis.

27 Oktober 1969. Adanya penangkapan-penangkapan ikan secara tradisional oleh rakyat kedua negara sehingga perlu pula pendekatan serupa terhadap Negara tetangga kita Papua Nugini mengenai kegiatan perikanan di Pantai utara dan selatan Irian Jaya. yang antara lain adalah sebagai berikut: a. Perjanjian tentang Common Point di Selat Mlaka. 1. 21 Desember 1971. Australia. license. pengawasan dan sebagainya. Adanya usaha serupa ini sudah tentu dapat mengisi gagasan-gagasan ekonomi ASEAN yang saat ini sedang digalakkan. Filipina dan Malaysia dengan memanfaatkan beberapa pendapat yang ada hubungannya dengan persoalan penetapan batas-batas dimaksud. Vietnam. . tidak bertentangan dengan ketentuanketentuan yang termuat dengan konvensi Hukum Laut yang baru. antara lain adalah dengan Papua Nugini. Tentunya. Tindkan serupa perlu diadakan untuk wilayah perairan Indonesia di sekitar laut Sulawesi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina. Indonesia . serta aturan kebiasaan internasional dan prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradab. baik mengenai laut wilayah maupun landas kontinen telah diadakan. Perjanjian mengenai Lands Kontinen di Selat Malaka dan laut Cina Selatan. mengenai hukuman. Berdasarkan persetujuan-persetujuan demikian dapatlah dibuat persetujuan-persetujuan pelaksanaan yang akan mengatur secara terperinci syarat-syarat akses. fee serta masalah berlakunya perizinan bagi daerah yang ditentukan.Malaysia Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa sudah terdapat beberapa perjanjian antara Indonesia dan Malaysia. Sifat khusus sebagai Negara Kepulauan yang berimpit batas dengan negara tetangga tidak boleh diabaikan. persetujuan bilateral tersebut harus disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan perundang-undangan tentang perairan di ZEE Indonesia khususnya.42 suatu peraturan secara regional. khususnya tentang masalh menjamin kelestarian sumber-sumber daya alam laut. seperti: mengenai quota. b. Selanjutnya dibawah ini akan dikemukakan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam penetapan batas-batas laut wilayah serta batas ZEE 200 mil laut dengan beberapa negara tetangga baik yang sudah dilakukan.

gambaran (penjelasan) tersebut diberitakan antara lain: . Dengan demikian baik mengenai batas laut wilayah maupun batas landas kontinen serta ZEE 200 mil laut Indonesia Malaysia sudah diwujudkan dalam bentuk persetujuan / perjanjian. d. dimana masing-masing pihak telah melakukan pembebasan terhadap draft article persetujuan dan counter draftnya. Perjanjian tentang Garis Batas laut Wilayah di Selat Malaka. pemerintah Malaysia telah memberikan gambaran-gambaran yang positif dalam hubungannya dengan pihak Indonesia. Sehubungan dengan dihukumnya ZEE 200 mil Malaysia pada 28 April 1980. Indonesia telah mengajukan protes. Perjanjian tentang Rezim Hukum Negara Kepulauan. Pihak Malaysia diberitakan telah menyatakan dukungannya terhadap rezim hukum negara kepulauan (Wawasan Nusantara) Indonesia. Perundinganperundingannya sudah dilakukan sejak bulan Februari 1981 di Kuala Lumpur dan di Jakarta awal bulan Juli 1981. Adanya pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang ZEE pihak Indonesia telah menegaskan bahwa materi pengumuman dengan tersebut tidak akan mempengaruhi hak-hak Malaysia kepentingan nasionalnya. Perjanjian yang disebutkan terakhir merupakan tindak lanjut daripada “Memorandum of Understanding” antara kedua negara mengenai pengakuan hak-hak dan kepentingan Malaysia berdasarkan sejarah di perairan laut Cina Selatan yang memisahkan Malaysia Barat dan Timur.43 c. Akan tetapi pihak Indonesia dikejutkan dengan adanya tindakan sepihak (unilateral act) Malaysia yang mengumumkan peta baru landas kontinen Malaysia dalam mana Pulau Sipadan dan Ligitan yang termasuk wilayah Indonesia telah dicantumkan dalam peta tersebut. yang selanjutnya dalam pertemuan Presiden Soeharto dengan Perdana Menteri Datok Husain Onn di Kuantan 26 Maret 1980 untuk menyelesaikan masalah tersebut telah dibicarakan cara-cara menyelesaikannya secara hubungan baik. Kamis 25 Februari 1982 di Jakarta. sedangkan pihak Malaysia telah pula menyatakan dukungannya terhadap Wawasan Nusantara kita. 17 Maret 1970.

tidak hanya menyangkut kepentingan Malaysia dan Indonesia saja melainkan juga dengan Thailand. Diperairan tersebut antara Indonesia Thailand sudah dicapai persetujuan mengenai batas landas kontinen. 2. tealh mengumkan ZEE 200 milnya. Dengan terjadinya penetapan batas ZEE 200 mil laut oleh masing- . dapat disimpulkan bahwa perjuangan Indonesia dalam menegakkan rezim hkum ZEE 200 mil ini sudah merupakan perjuanagn yang keberhasilannya tidak dapat diragukan dan dan disangsikan lagi. maka di perairan tersebut Indonesia masih harus mengadakan penetapan batas ZEE 200 mil. Tentu saja penetapan batas ZEE diperairanyang diseut terakhir diatas. termasuk dibagian utara Selat Malaka. Sistem yang dianut Filipina dalam penetapan batas landas kontinennya adalah sistem yang sama dengan yang dianut oleh Indonesia yakni “middle line atau equidistant”. Indonesia .Filipina Filipina pada bulan Mei 1979. namun lebih dari 24 mil laut. Menteri Hukum Abdul Kadir Yusuf menjelaskan bahwa sebagai dampak dari pengumuman tersebut akan terjadi wilayah-wilayah yang dpat dipersengketaan dengan negara-negara tetangga-tetangga (termasuk Indonesia). sebagaimana halnya sewaktu mengadakan perjanjian mengenai penentuan “Common Point” diSelat Malaka pada tanggal 21 Desember 1971 tempo hari. Malaysia akan memperhatikan hak-hak negara tetangga yang bersangkutan Dari penegasan yang disebut dalam point b diatas. baik di Indonesia maupun Filipina keduanya adalah negara kepulauan.44 a. Dibagian utara Selat Malaka dsan bagian-bagian tertentu Laut Cina Selatan. Kemudian dicapai kesepakatan yang dituangkan dalam persetujuan tiga Negara (trilateral) antara Indonesia India dan Thailand mengenai batas landas kontinen dilaut Andaman tahun 1978. tidak saja di Selat Malaka ytahun 1971. Malaysia bersedia untuk menyelesaikannya secara damai melalui perundingan dan menetapkan batas-batas ZEE sesuai dengan batas-batas ZEE sesuai dengan Hukum Internasional b. tetapi juga dibagian utara dan barat laut Selat Malaka tahun 1975. Dari ketentuan dan penegasan diatas. dimana diperkirakan yang lebarnya kurang dari 400 mil.

. b. Tumpang tindihnya wilayah tersebut di atas diperkirakan akan terjadi dibagian selatan Mindanao. Indonesia sangat berkeberatan dan menolak prinsip penarikan garis batas yang dipergunakan oleh pihak Vietnam yakni prinsip “trench” Indonesia menginginkan sistem penarikan sistem penarikan garis tengah (middle line) sebagai batas landas kontinennya.Vietnam Penetapan garis batas landas kontinen dengan pihak vietnam ternyata mengalami kesulitan pula.45 masing yang mengelilingi masing-masing kepulaunnya. maka dibagian selatan Filipina (selatan Mindanao) dan bagian utara Indonesia (laut Sulawesi dan Sangir Talaud) perlu diadakan penetapan batas-batasnya. prinsip lazim dipergunakan untuk menentukan garis batas negara yang berbatasan dengan sungai di mana alur-alur terdalamnya sangat diperhatikan. Pihak Indonesia: bagi penetapan batas landas kontinen ini. keadaan demikian perlu segera diselesaikan. Sejalan dengan prinsip tersebut. Dengan belum adanya kesepakatan mengenai masalah ini. perbedaan yang dimaksud adalah terdapatnya perbedaan prinsip sebagai berikut : a. masing-masing pihak telah menyatakan itikad baik sehingga diperoleh kemajuan-kemajuan yang positif. 3. Pihak Vietnam: bagi penetapan batas landas kontinennya menghendaki agar prinsip “thalweg” dipergunakan sebagaimana mestinya. sedangkan di perairan laut Sulawesi hanya akan terjadi perhimpitan garis batas. pihak Hanoi menuntut agar suatu trench (palung laut) yang membentang sejak Pulau Anambas sampai Pulau Natuna merupakan batas landas kontinennya. bahkan dalam perundingan yang keenam di Jakarta pada pertengahan Mei 1981 pihak Vietnam telah meninggalkan sistem thalweg-nya dan pihak Indonesia telah memberikan konsensi-konsensi tertentu pula. jelas telah menggambarkan adanya batas wilayah yang masih tumapng tindih dan demi keamanan serta ketertiban masing-masing negara. dikarenakan adanya perbedaan pendapat mengenai system penarikan garis batas tersebut. Dari keenam kali perundingan yang telah dilaksanakan oleh kedua belah pihak. terutama dengan adanya pergeseranpergeseran dari posisi masing-masing yang semula. Indonesia .

1980 menyebutkan bahwa pihak Indonesia tetap berpendirian bahwa tidak ada wilayah yang tumpang tindih dengan pihak Vietnam. dan tidak mengubah formula tersebut dengan sistem sgalwe.46 Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Vietnam telah mengeluarkan pernyataannya mengenai wilayah perairannnya pada tanggal 12 Mei 1977 dan menetapkan Undang-undang Maritimnya pada bulan Januari 1980. Juga dalam pernyataan bersama tersebut disebutkan bahwa tindakan-tindakan yang diambil oleh pihak Papua Nugini untuk menetapkan zona perikanan 200 mil serta kebijaksanaannya dalam pengelolaan sumber-sumber daya hayati zona tersebut diakui. Undangundang tersebut antara lain ditetapkan bahwa wilayah maritim Vietnam adalah sejauh 200 mil laut. Sesuai dengan kebiasaan dan ketentuan Hukum Internasional yang berlaku. 4. sehingga tumpang tindih wilayah akan terjadi. jika pihak vietnam tetap mempergunakan formulanya yang pertama yakni “normal baseline”. dan tidak mengubah formula tersebut dengan sistem thalweg-nya garis pangkal yang ditetapkannya akan berada lebih jauh dari apntai dan lebih jauh dari pada normal baselines tersebut.Papua Nugini Masalah penetapan batas ZEE 200 mil laut antara Indonesia dengan Papua Nugini sesungguhnya tidak banyak menimbulkan masalah. Namun menurut Guy Sacerdotti dalam tulisannya yang berjudul “Flexing an Economic Muscle (FEER). Indonesia . dengan perincian 12 mil laut territorial. perlu diadakan pembaharuan perjanjian batas antara kedua negara. 2 mil wilayah menjangga dan selebihnya adalah ZEE. Sehubungan dengan penetapan batas ZEE 200 mil laut Indonesia dan adanya perntyataan seperti tersebut di atas dari pihak Vietnam dalam hal penetapan batas ZEE sesungguhnya tidak akan terjadi tumpang tindih batas. Hal ini dikarenakan bahwa perjanjian-perjanjian antara Indonesia Australia sebelum wialyah itu merdeka masih tetap diakui dan berlaku. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perjanjian-perjanjian terdahulu tetap mempunyai daya laku dan akan diadakan persetujuan final mengenai penetapan batas kedua negara. Kedua negara sudah membicarakan lagi (dalam hal ini sebelumnya yakni pada bulan Mei 1978 telah dikeluarkan pernyataan bersama (joint declaration) kedua negara. .

diberbagai harian umum telah diberitakan bahwa usaha-usaha melalui perundingan untuk menetapkan batas landas kontinen di sebelah selatan Timor Timur itu kurang lancar dan mengalami ‘gap” antara garis batas bagian barat dan timur debagai hasil perjanjian 1971 dan 1972. maka pada tanggal 29 Mei sampai dengan 6 Juni 1980 telah diadakan perundingan antara kedua negara di Port Moresby. dinyatakan bahwa dengan diumumkannya ZEE 200 mil laut Indonesia tanggal 21 Mei 1980. Menurut Feter Rodgers persetujuan-persetujuan tersebut di atas adalah melengkapi perjanjian-perjanjian yang telah diadakan oleh kedua negara sebelumnya. Dengan timbulnya integrasi Timor Timur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah merupakan keharusan bagi Indonesia dan Australia untuk menyelesaikan penentuan batas landas kontinen di sebelah selatan pulau tersebut. Pada awal bulan Januari 1985. . Di Port Mosbey mengenai batasbatas kedua Negara. menyebutkan bahwa pernyataan bersama kedua Negara yang dikeluarkan pada tanggal 18 Oktober 1979 di Port Moresby disebabkan bahwa telah dilangsungkan perundingan mengenai rancangan persetujuan perbatasan laut dan dasar laut dibagian utara Papua Nugini. perlu diadakan penetapan batas ZEE kedua Negara. Penetapan batas antara Indonesia-Australia di bagian barat dan timur yang berdasarkan suatu formula yang telah dirimuskan semula.Australia Perairan di sebelah selatan Timor-timor terdapat masalah yang pada waktunya harus diselesaikan antara kedua negara bertetangga yang bersangkutan. terutama sebhubungan denagan tindakan sepihak Papua Nigini dalam menetapkan zona perikanan pada bulan Maret 1978. 5. Dalam rangka mencari penyelesaian mengenai hal-hal tersebut di atas.S Roosman dalam tulisannya yang berjudul “Persetujuan Perbatasan Indonesia Papua Nugini”.47 Menurut R. Berada dibawah pengawasan pihak Australia. telah mengakibatkan ¾ landas kontinen diperairan tersebut. Selanjutnya menurut Press Release Departement Luar Negeri Republik Indonesia tentang perundingan Indonesia Papua Nugini. Indonesia . Masalah ini adalah menyangkut batas landas kontinen bagian sebelah timor-timur dan barat Timor Timur telah diselesaikan sewaktu wilayah itu masih merupakan bagian Portugal.

perundingan antara Indonesia Australia mengenai masalah ini telah berulang kali diadakan. Bagi Australia.48 Sesungguhnya pada waktu Portugal masih menguasai Tim-Tim tersebut. jika Pihak Indonesia memenuhi permintaan tersebut memenuhi permintaan tersebut dan mengubah formula perjanjian 1971 dan 1972 maka izin konsesi itu akan memotong enam wilayah konsesi Australia. Sedangkan pihak Portugal menganggap hanay ada satu landas kontinen yang berlanjut (one continous continental shelf) dan middle line seharusnya ditarik antara Australia dan Timor Timur. Pihak Australia mengemukakan bahwa ada dua landas kontinen yang berbeda yang dipisahkan oleh lembah Timor (Timor Trough) yang terletak 60 mil Selatan Pulau Timor dan 300 mil di sebelah utara Darwin. antara Portugal dan Australia tealh tibul perbedaan pendapat mmengenai garis batas landas kontine dirairan itu. Menurut Michael Richardson dalam tulisannya yang berjudul “Drawing The Seabed Line” 1978. dalam hal ini dirasakan telah mendesak untuk menetapkan garis batas ZEE 200 mil di wilayah tersebut melalui perjanjian bilateral. . karena dikabarkan bahwa pihak Australia pada tanggal 1 November 1979 telah mengumumkan zona perikanan 200 mil laut. pihak perusahaan minyak OEC mengharapkan agar Indonesia dapat memberi izin konsesi seperti yang diberikan oleh Portugal. Sepanjang pengetahuan penulis. yang ternyata tindakan ini diprotes oleh Australia karena perizinan itu memotong dan melampaui wilayah konsesi berbagai perusahaan minyak asing yang telah diberi izin konsesi oleh Australia sampai pada garis batas yang telah diklaimnya. di Jakarta pada bulan Mei 1979. Pihak Australia mengharapkan agar Indonesia melanjutkan penarikan garis batas straight archipelagic baselines joining the outermost points of the outermost islands and drying reefs of the archipelago provided that…. yang telah dicapainya. Namun hasilnya sampai saat ini belum dapat diselesaikan secara tuntas. kedua. tercatat bahwa pertama di Canberra pada bulan Februari 1979.sehubungan dengan usaha-usaha penetapan landas kontinen antara Indonesia dan Australia. Pada tahun 1974 Portugal memberi izin konsesi perusahaan minyak Amerika “Oceanic Exploration Company” (OEC) sampai garis batas yang diklaimnya. ketiga di Canberra.

. seperti pembangkit tenaga air. Di zona Ekonomi Eksklusif tersebut. antara kedua negara. Hak berdaulat. Telah diketahui bahwa ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam undang-undang tersebut adalah sebagian besar merupakan ketentuan yang telah disesuaikan (accommodation) dengan Konvensi Hukum Laut yang baru (1982) khususnya mengenai ZEE 200 mil tersebut. 2. perlindungan dan pelestarian lingkungan laut (the protection and preservation of the marine environment). installations and structures). bahkan akan menjadi dampak positif terhadap ubungan bilateral kedua negara di berbagai kepentingan. Penelitian ilmiah mengenai kelautan (marine scientifific research). Indonesia merupakan salah satu negara pantai mempunyai dan melaksanakan: a. instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan lainnya (the estabilishment and use of artificial island. yurisdiksi dan kewajiban Indonesia di ZEE 200 mil Hak berdaulat (sovereign rights) dan yurisdiksi (jurisdiction) dan kewajibankewajiban (duties) Indonesia atas laut selebar 200 mil dari garis dasar di sekeliling kepulauan Indonesia berlaku berdasarkan Pengumuman Pemerintah tanggal 21 Maret 1980. yang kemudian dituangkan ke dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1983 tentang ZEE Indonesia. arus dan angin b. Pembuatan dan penggunaan pulau-pulau buatan. Tercapainya kesepakatan mengenai penetapan batas landas kontinen dibagian selatan Timor Timur nanti sudah tentu akan memudahkan tercapainya kesepakatan mengenai penetapan batas ZEE. Yurisdiksi yang berhubungan dengan : 1. pengelolaan dan konservasi sumber daya alam hayati dan nonhayati dari dasar laut dan tanah di bawahnya serta air diatasnya dan kegiatan-kegiatan lainnya untuk ekplorasi dan eksploitasi ekonomis zona tersebut. 3. hak-hak lain. hak berdaulat untuk melakukan ekplorasi dan eksploitasi.49 Hingga kini baik Indonesia maupun pihak Australia masih menyatakan hasratnya untuk bertanding kembali dan menyelesaikan persoalan batas landas kontinen ZEE 200 mil masing-masing.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka sanksi-sanksi yang diancam di ZEE Indonesia berbeda dengan sanksi-sanksi yang diancam diperairan yang berada dibawah kedaulatan Republik Indonesia tersebut. Hak berdaulat Indonesia sebagai negara pantai yang dimaksudkan di atas tidak sama atau tidak dapat disamakan dengan kedaulatan penuh yang dimilki dan dilaksanakan oleh Indonesia atas laut wialyah. hak berdaulat. Jelaslah bahwa ketentuan tersebut di atas menginginkan bahwa sepanjang menyangkut sumber daya alam dhayati dan non hayati didasar laut dan tanah dibawahnya yang terletak didalam batas-batas ZEE Indonesia hak berdaulat Indonesia dilaksanakan dan diatur berdasarkan perundang-undangan Indonesia yaitu yang berlaku di bidang landas kontinen serta persetujuan-persetujuan internasional tentang landas kontinen yang menetapkan batas-batas landas kontinen antara Indonesia dengan negara-negara tetangga yang pantainya saling berhadapan atau saling berdampingan dengan Indonesia. Hak-hak lain dan kewajiban-kewajiban lainnya berdasarkan konvensi Hukum laut yang berlaku (other rights and duties provided for ini this convention). misalnya kewajiban pelayaran dan penerbangan (freedom of navigation and overflight) dan kebebasan pemasangan kebal-kabel dan pipa-pipa dibawah laut (freedom of the laying of submarine cables and pipelines). hak-hak lain berdasarkan Hukum Internasional adlah hak Republik Indonesia untuk melaksanakan penegakan hukum (law enforcement) dan hot pursuit terhadap kapal-kapal asing yang melakukan perlanggaran atas ketentuan-keetntuan peraturan perundang-undangan Indonesia mengenai ZEE. yurisdiksi dan kewajiban-kewajiban Indonesia sebagaimana dimaksud di atas dilaksanakan menurut perundang-undangan landas kontinen (this rights set out in this article with respect to the seabed and subsoil shall be exerciased in accordance with part VI) Indonesia.50 c. . Kewajiban lainnya berdasarkan Hukum Internasional adalah kewajiban Republik Indonesia untuk menghormati hak-hak negara lain. serta persetujuan-persetujuan antara republik Indonesia dengan negara-negara tetangga dan ketentuan-ketentuan hukum Internasional yang berlaku (pasal 4 ayat 2). Sepanjang yang bertalian dengan dasar laut dan tanah dibawahnya. hak-hak lain. perairan Nusantara dan perairan pedalaman Indonesia.

Menentukan jumlah ikan yang boleh ditangkap (the coastal State Shall determine the allowable catch of the living resources in its exclusive economic zone). baik negara pantai maupun negara tak berpantai (landlocked States) dan negara secara geografis kurang beruntung (geographically disanvantaged States). menikmati kebebasan pelayaran penerbangan Internasional serta kebebasan pemasangan kabel dan pipa bawah laut. peletakan kabel dan pipa dibawah laut dan kebebasan-kebebasan internasional lain yang berhubungan dengan pengoperasian kapal-kapal.51 Di ZEE Indonesia. jika terjadi perselisihan antara negra Indonesia dengan Negra-negara lain di ZEE Indonesia harus diselesaikan atas dasar keadilan (equitable solution) dengan memperhatikan semau keadaan yang berkaitan (Pasal 59). penerbangan. Dalam rangka pelestarian sumber daya alam hayati di Zona Ekonomi Eksklusif. b. akan diperinci sebagai berikut: 1. Konvensi Hukum laut III (1982) mewajibkan Indonesia untuk: a. seperti yang tumbuh dari praktek negara dan dituangkan dalam konvensi Perserikatan BangsaBangsa tentang Hukum Laut yang dihasilkan oleh UNCLOS III di ZEE setiap negara. Dengan menggunakan data-data ilmiah (the best scientific evidence available to it) terbaik yang dapat disediakan harus mencegah ekploitasi yang berlebihan (over exploitation) dengan tindakan pelestarian dan pengelolaan yang benar atas sumber daya alam hayati.2) 2. Untuk lebih mudah pemahamannya maka hak-hak dan kewajiban Indonesia sebagai negara pantai menurut hukum yang mengatur tentang ZEE ini. Semua nNegara bebas dalam pelayaran. kebebasan pelayaran dan penerbangan internasional serta kebebasan pemasangan kabel dan pipa bawah laut diakui sesuai dengan prinsip-prinsip Hukum Laut Internasional yang berlaku dimaksud. Juga semua Negara dalam melaksanakan hak dan kewajiban di ZEE Indonesia harus menghormati hak dan Negara Indonesia dalam bidang-bidang yang diatur oleh konvensi Huku Laut yang baru atau Hukum Internasional lainnya (Pasal 58 ayat 1. serta pengunaan laut yang bertalian dengan kebebasan-kebebasan tersebut seperti pengoperasian kapal-kapal pesawat udara dan pemeliharaan kabel dan pipa bawah laut. jika perlu disarankan (dianjurkan) . pesawat terbang dan kabel serta pipa dibawah laut.

shall co-operate to this end). b. including payment of fish and other forms of remuneration. Lisensi nelayan. it shall. Penentuan jenis ikan yang boleh ditangkap. which. may consist of adequate compensation in the field of fishing industry). the coastal State and competent international organization. in the case of developing coastal State. Menetukan kapasitas (kemampuan) penangkapan pihak Indonesia sebagai Negara pantai di ZEE (the coastal State shall determine its capacity to harvest the living resources of the ZEE). fishing vessels and equipment. c. regional or global. antara lain menyangkut : a. dalam hal pihak Indonesia tidak mempunyai kemampuan memanen seluruh ‘allowable catch” harus mengizinkan negara atau nelayan negara lain yang mengambil suplusnya (where the coastal state does not have the capacity to harvest the entire allowable catch. 2. and fixng quotas of catch pervesser over a period of time). Selanjutnya Konvensi Hukum Laut yang baru mewajibkan Indonesia sebagai Negara pantai untuk mengusahakan pemanfaatan secara optimum sumber daya alam hayati di ZEE (the coastal State shall promote the objective of optimum utilization of the living resources in the ZEE without prejudice). Melaksanakan tindakan untuk memelihara dan mengembalikan populasi (restoring populations) jenis-jenis ikan tertentu sampai “maximum sustainable yield” dan memelihara serta meningkatkan jenis-jenis yang akan punah. termasuk pembayaran uang perizinan yang dapat berupa perlengkapan (alat) atau teknologi yang berhubungan dengan industri pengelolaan ikan (licensing of fisherman. dengan cara-cara sebagai berikut: 1. whetever subregional. . Pihak asing yang menangkap ikan di ZEE Indonesai harus tunduk kepada aturan-aturan untuk pelestarian sumber alam hayati yang (akan) dibuat oleh pemerintah Indonesia. jenis kapal dan perlengkapannya. regional maupun global (as appropriate. througt agreements or other arrangements and pursuant to the terms). quota penagkapan dan waktu penangkapan (determining the species which may be caught.52 bekeja sama dengan negara atau organisasi internasional lain baik subregional.

k. h. d. Dengan perkataan lain Negara-negara pantai harus memperhatikan tentang pelestarian dan peraturan-peraturan tersebut di atas hendaknya diummukan secara layak terlebih dahulu (coastal States shall give due notice of conservation and management laws and regulations). (terms and conditions relations relating to joint ventures or other cooperative arrangements). Keharusan memberikan informasi mengenai hasil dan kegiatan penangkapan serta laporan posisi kapal (specifying information required of fishing vessels. e. f. Peraturan-peraturan procedures). the types. sizes and amount of gear. penegakan hukum di laut (enforcement . sizes and number of fishing vessels that may be used).53 c. including catch and effort statistics and vessel posisition reports). Pelaksaan program penelitian perikanan tertentu dan pelaporan hasilnya (the conduct of specified fisheries research programmes and regulating the conduct of the such research and reporting associated). serta jumlah ukuran dan tipe kapal ikan (regulating seasons and ares of fishing. Penempatan pengawasan atau pelajar praktek dikapal (the pacing of observesof traines on board). and the types. termasuk meningkatkan kemampuan Indonesia (negara pantai) untuk melakukan penilitian perikanan (requirements for the training of personnel and the transfer of fisheries technology. Terhadap semua ketentuan dan/atau peraturan tersebut di atas harus diumumkan terlebih dahulu. Syarat-syarat “joint venture” atau bentuk kerja sama yang lain. Pendaratan sebagian atau seluruh hasil tangkapan di pelabuhan Indonesia sebagai negara pantai (the landing of all of any part of the catch by such vessels in the ports of the coastal State). i. j. including enchancement of the coastal state’s capability of undertaking fisheries research). Keharusan melatih personal dan alih teknologi. pengaturan musim dan daerah penagkpan. Penentuan umur dan ukuran ikan serta jenis lain yang boleh ditangkap (fixing the age and size of fish and other species that may be caught). g.

Benis ikan beruaya (highly migratory species) . jenis ikan yang menetap di laut (sedentary species). pengaturan pada hakikatnya tentang perundang-undangannya pelaksanaan ekonomi eksklusif ini sebagian telah dibahas pada uraian-uraian sebagaimana yang telah dikemuakakan di atas. arus dan angin di ZEE Indonesia yang dilakukan oleh warga Negara Indonesia atau badan hukum Indonesia harus berdasarkan izin dari Pemerintah Republik Indonesia. d.54 Selanjutnya Konvensi Hukum laut yang baru mewajibkan Indonesia sebagai negara pantai untuk mengadakan kerjasama dengan negara-negara lain mengenai pengelolaan jenis-jenis ikan tertentu yakni sebagai berikut : a. yang melakukan kegiatan eksplorasi dan / atau eksploitasi ekonomis seperti pembangkitan tanaga dari air. apakah perusahaan negara maupun berupa perusahaan swasta. bahwa baik orang perseorangan maupun perusahaan. arus dan angin di ZEE Indonesia. Jenis ikan yang bertelur di laut (catadromous species). e. c. orang atau badan hukum asing harus berdasarkan persetujuan internasional antara Pemerintah Republik Indonesia dengan negara asng yang bersangkutan. Jenis ikan yang ada di ZEE dua atau tiga negra atau lebih (stradling stock). harus berdasarkan izin dari pemerintah Republik Indonesia dan dilaksanakan menurut syarat-syarat perizinan atau persetujuan internasional tersebut. Di Indonesia. Maksudnya adalah kegiatan-kegiatan lainnya untuk eksplorasi dan / atau eksploitasi ekonomis seperti pembangkitan tenaga dari air. Binatang laut yang yang menyusi (marime mammals) . Oleh sebab itu uraian berikut ini hanya tinggal melihat bagaimana dan sejauh mana pengaturan hukumnya yang telah ditetapkan. sebagaimana yang telah ditetapkan didalam undang-undang Nomor 5 tahun 1983 tentang ZEE Indonesia). b. Dalam syarat-syarat perjanjian atau persetujuan internasional dicantumkan hak- . Sedangkan kegiatan-kegiatan tersebut di atas yang dilakukan oleh negara asing. Jenis ikan yang bertelur di sungai (anadromous species/stock). melalui Namun kegunaannya. Pelaksanaan (kegiatan) ZEE Indonesia Dasar pertimbangan peraturan tentang Zona Ekonomi Ekskusif mempunyai sifat serba daya guna (multifunctional) maka tinjauan tentang pelaksanaan ekonomi eksklusif ini akan di diuraikan Indonesia. f.

Indonesia berkewajiban pula menetapkan jumlah tangkapan sumber daya alam hayati yang diizinkan (allowable catch). antara lain kewajiban untuk membayar pungutan kepada Pemerintah Republik Indonesia. eksplorasi dan / atau eksploitasi sumber daya alam hayati harus menaati ketentuan tentang pengelolaan dan konservasi yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia (pasal 5 ayat 2) dalam arti yang diatas diamksudkan adalah sumber daya alam hayati pada dasarnya memiliki daya pulih kembali (to maintain resources) namun tidak berarti tak berbatas. negara asing dapat diizinkan jika jumlah tangkapan yang diperbolehkan oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk jenis tersebut melebihi kemampuan Indonesia untuk memanfaatkannya. Indonesia berkewajiban pula untuk menjamin batas panen lestari tersebut. Pemerintah Republik Indonesia menetapkan tingkat pemanfaatan baik disebagian atau keseluruhan daerah di ZEE Indonesia. Misalnya jumlah tangkapan yang diperbolehkan antara 1000 (seribu) ton sedangkan jumlah kemampuan tangkap Indonesia baru mencapai 600 (enam ratus) ton. maka negara lain boleh ikut memanfaatkan dari sisa 400 (empat ratus) ton tersebut dengan izin Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan persetujuan Internasional. boleh dimanfaatkan oleh negara lain dengan izin Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan persetujuan internasional. Dari uraian di atas dapatlah ditegaskan bahwa dalam rangka konservasi sumber daya alam hayati. Dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Selisih antara jumlah tangkapan yang diperbolehkan dan jumlah kemampuan tangkap (capacity to harvest) Indonesia. 5/1983 ekplorasi dan eksploitasi suatu sumber daya alam hayati di daerah tertentu di ZEE Indonesia oleh orang atau badan hukum atau pemerintah. Asal tidak bertentangan maupun mengurangi ketentuan sebagaimana yang diatur dalam pasal 4 ayat (2) UU. Penunjukan pada pasal 4 ayat (2) dimaksudkan untuk menegaskan . Indonesia berkewajiban untuk menjamin batas panen lestari tersebut. Dalam hal usaha perikanan. No.55 hak dan kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi oleh mereka yang melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di zone tersebut. Indonesia belum dapat sepenuhnya memanfaatkan seluruh jumlah tangkapan yang diperbolehkan. dalam melaksanakan pengelolaan dan konvensi sumber daya alam hayati. Dengan adanya sifat-sifat yang demikian.

fiskal. Selanjutnya ditetapkan pula bagi siapa saja yang melakukan kegiatan penelitian ilmiah (marine scientific research) kelautan ZEE Indonesia harus memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari dan dilaksanakan berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan oelh Pemeritah Republik Indonesia. Dari ketentuan pasal tersebut dapatlah ditegaskan bahwa setiap penelitian ilmiah kelautan di ZEE Indonesia hanya dapat dilaksanakan setelah permohonan untuk penilitian disetujui terlebih dahulu oleh Pemerintah Republik Indonesia. Meskipun Indonesia mempuntai yurisdiksi eksklusif namun pulau-pulau buatan. dapatlah dijelaskan bahwa sesuai dengan pasal 4 ayat (1). keselamatan dan imigrasi. Republik Indonesia mempunyai hak eksklusif untuk membangun. Kemudian ditetapkan pula bahwa bagi siapa saja yang . Suatu proyek penelitian ilmiah kelautan dapat dilakukan 6 (enam) bulan sejak diterimanya permohonan penelitian oleh Pemerintah Republik Indonesia (penjelasan pasal 7). Bahwa keterangan-keterangan yang diberikan oleh Pemohon tidak sesuai dengan kenyataan atau kurang lengkap. c.56 bahwa jenis-jenis sedenter (sedentary species) yang terdapat pada dasar laut ZEE tunduk pada ketentuan ayat ini. Selanjutnya ditetapkan pula bahwa bagi siapa saja yang membuat dan/ atau instalasi-instalasi atau bangunan-bangunan lainnya di ZEE Indonesia harus berdasarkan izin dari Pemerintah Republik Indonesia dan dilaksanakan menurut syarat-syarat perizinan tersebut (pasal 6). ZEE Indonesia atau landas kontinen Indonesia. mengizinkan dan mengatur pembangunan. pengoperasian dan penggunaan pulau-pulau buatan. Jika dalam janga waktu 4 (empat) bulan setelah diterimanya permohonan tersebut pemerintah Republik Indonesia tidak menyatakan : a. Dari ketentuan tersebut di atas. b. instalasi dan bangunan-bangunan tersebut tidak memiliki laut territorial sendiri dan kehadirannya tidaklah mempengaruhi batas laut teritoria. Menolak permohonan tersebut. instalasiinstalasi dan bangunan-bangunan tersebut termasuk yurisdiksi yang berkaitan dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang bea cukai. Bahwa permohonan belum memenuhi kewajiban atas proyek penelitiannya yang terdahulu. kesehatan.

yang sekarang yang diterima pula dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang hukum laut. Pembuangan meliputi limbah pembuangan bahan-bahan lainnya yang menyebabkan pencemaran lingkungan laut. tetapi juga landas kontinen dan zona Ekonomi eksklusif Indoensia selebar 200 mil laut. Pembuangan (dumping) di laut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan laut. mengendalikan dan menaggulangi peraturan pencemaran lingkungan laut. Dari ketentuan ketentuan tersebut di atas. terhubung dengan itu perlu diatur tempat. Penegakan Hukm (law enforcement) Masalah yang tidak kalah pentingnya dari ZEE ini adalah aspek “law enforcement” atau penegakan hukumnya. Di lain pihak. kadar dan jumlah bahan yang dibuangkan melalui perizinan. membatasi. kita semua menyadari bahwa bagaimana sulitnya penegakan hukum di daerah laut yang sangat luas tersebut yang merupakan bahan tambahan. tetapi kita sendiri tidak dapat menegakkan hukum disana.57 melakukan kegiatan-kegiatan di ZEE Indonesia. wajib melakukan langkah-langkah untuk mencegah. sedangkan secara nasional landasan terdapat di dalam Undang-undang Nomor 4 1982 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolahan Lingkungan Hidup. dapatlah dijelaskan bahwa wewenang perlindungan dan pelestarian sumber daya alam di ZEE Indonesia secara Internasional didasarkan pada praktek negara. Sebagaimana disebutkan di atas. . disamping itu penegakan hukum di perairan Indonesia yang sudah amat luas. Bertambah luasnya wilayah laut dan daerah-daerah kewenangan Indonesia tentu saja memerlukan perjuangan perluasan kemampuan untuk mengamankannya. Pembuangan ZEE Indonesia hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin dari Pemerintah Republik Indonesia. cara dan frekuensi pembuangan serta jenis. bahwa masalah penegakan hukum ataupun pengawasan ini menjadi lebih berat lagi jika diperhitungkan bahwa daerah-daerah yang diliputi pengawasan tersebut tidak hanya terbatas pada perairan Nusantara dan laut wilayah 12 mil itu. pembuangan limbah yang lazimnya dilakukan oleh kapal selama pelayaran tidak memerlukan izin. akan tidak ada artinya sama sekali jika kita mempunyai hak-hak berdaulat dari yurisdiksi di ZEE.

dan b.58 Penegakan hukum (law enforcement) disini diartikan sebagai bagian dari jurisdiksi negara. Jurisdiction to enforce the law (wewenang menegakkan aturan hukum yang berlaku. negara dan lainlainnnya demi eksistensi dan kelangsungan hidup dan kegidupan bangsa dan negara. Tap. wilayah. dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan penegakan hukum adalah merupakan usaha atau kegiatan negara berdasarkan kedaulatan negara atau berdasarkan ketentuan- . benda. MPR. Kedaulatan. Sovereignty of State yang mendasari / melandasi segala aktivitas segala aktivitas negara baik terhadap orang. undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya. Di samping kedaulatan ini merupakan kekuasaan tertinggi dari negara maka kedaulatan juga merupakan hak dasar (fundamental rights) daripada negara yang perwujudannya berupa hak-hak dan kewenangan-kewenangan tertentu yang dituangkan dalam UUD. Jurisdiksi dimaksud meliputi dan mempunyai pengertian yang antara lain adalah : a. maka berdasarkan ketentuan Hukum Internasional baik ketentuan hukum internasional yang berupa “conventional law/treaty” maupun kebiasaankebiasaan internasiona dan/atau prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa-bangsa / negara yang beradab. Dasar hukum berlakunya (adanya) wewenang penegakan hukum ini dapat bersumber pada: a. Ketentuan hukum Internasional. maka negara sebagai subjek hukum internasional adalah pendukung hak dan kewajiban hukum yang tertentu dapat juga dimilki negara sepeti halnya hak berdaulat dan yurisdiksi tertentu yang dimiliki negara pantai pada zona-zona tertentu dilaut atau objek-objek tertentu di laut Dari pengertian sebagaimana disebutkan di atas. Selain hak-hak dan wewenangan yang bersumber pada kedaulatan negara. b. Jurisdiksi of legislation atau jurisdiction to prescribe (wewenang membuat aturan-aturan hukum untuk mengatur berbagai kepentingan. pada umumnya setiap hak dan kewenangan ini dibarengi pula dengan kewajiban serta tanggung jawab tertentu pula.

as may necessary to ensure compliance with the laws and regulations adopted by it in conformity with this convention. dalam rangka memenuhi kepentingannya namun tidak sampai mengganggu kepentinagn pihak lain. exploit. menginspeksi. penuntutan hukum sesuai kebutuhan untuk menegakkan hukum negaranya dengan mempertimbangkan ketentuanketentuan daripada konvensi (ayat 1) . dapat diindahkan oleh setiap orang dan/atau badan-badan hukum. throght appropriate channels. d. In cases of arrest or detention of foreign vessel the coastal State shall promptly notify the flag state. maka secara garis besarnya dapat diperincikan sebagai berikut : a. including boarding. Kalau kita hubungkan masalah penegakan hukum ini ketentuan-ketentuan penegakan hukum ZEE berdasarkan pada Konvensi Hukum Laut yang baru. menahan dan melakukan. inte absence of agreements to the contarary by the states concerned. Maksudnya bilamana sampai melakukan . arrest and judicial proceedings. negara pantai dapat mengambil tindakan-tindakan seperti menaiki kapal. Arrested vessels and their crews shall be promotly released upon the posting of reasonable bond or ather security. baik aturan hukum nasional negara itu sendiri maupun aturan Hukum internasional.59 ketentuan Hukum Internasional agar segala segala aturan yang berlaku. Artinya adalah kurang lebih adalah tindakan / hukuman yang boleh dijatuhkan terhadap nelayan asing di ZEE oleh Negara pantai tidak termasuk hukum penjara (ayat 3). inspection. dalam melaksanakan hak kedaulatannya untuk mengekplorasi. Coastal state pinalties for violations of fisheries laws and regulations in the ZEE may not include imprisonment. take such resources. c. bahkan negara-negara lain. Artinya kapal dan anakanak-anak buah kapal yang ditahan harus dilepaskan setelah tanggungan dibayarkan atau jamian keamanan lainnya (ayat 2). conserve and manage the living resources in the ZEE. Maksudnya. The coastal State may. in the exerciase if its sovereign rights to explore. b. melestarikan dan mengelola sumber daya alam hayati di ZEE. of the any penalties subsequently imposed. or any other form of cuporal punishment.

Penangkapan tersebut tidak selalu dapat dilaksanakan sesuai dengan batas waktu penangkapan yang ditetapkan dalam UU No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa terhadap kapal-kapal dan/atau orang-orang yang diduga melakukan itndak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup dilaut khususnya bagi kaapl dan/atau orang-orang tersebut. selanjutnya akan kita lihat bagaimana pengaturan penegakan hukum menurut perundang-undangan nasional kita. b.60 penahanan. ditetapkan bahwa dalam rangka melaksanakan hak berdaulat. UU No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP. Menurut ketentuan pasal 13 UU No. hak-hak lain. tindak pidana yang diatur dalam pasal 16 dan pasl 17 termasuk dalam golongan tindak pidana sebagimana diamksudka pasal 21 ayat (4) huruf b. Jangka waktu maksimal untuk menarik / . c. aparatur penegak hukum Republik Indonesia yang berwenang. negara pantai harus segera memberitahukan hal tersebut kapada perwakilan Negara bendera kapal (ayat 4). Pengkapan terhadap kapal dan/atau orang-orang yang diduga melakukan pelanggaran di ZEE Indonesia meliputi tindakan penghentian kapal sampai dengan diserahkannya kapal dan/atau orang-orang tersebut di pelabuhan dimana perkara tersebut dapat diproses lebih lanjut. Penyerahan kapal dan/atau orang-orang tersebut harus dilakukan secepat mungkin dan tidak boleh melebihi jangka waktu 7 (tujuh) hari. yurisdiksi dan kewajibankewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1).5 tahun 1983. Untuk kepentingan penahanan. Demikianlah mengenai penegakan hukum yang berkaitan dengan rezim hukum ZEE menurut Konvensi Hukum laut yang baru. dapat mengambil tindakan-tindakan penegakan hukum sesuai dengan UU No. dengan pengecualian sebagai berikut : a. yaitu satu hari. Oleh karena itu untuk tidak tindakan penangkapan di laut perlu diberi waktu yang memungkinkan para aparat penegak hukum di laut membawa kapal dan dan atau orang-orang tersebut kepelabuhan atau penangkalan. kecuali apabila terdapat keadaan force majeure. terhadap kapal-kapal dan atau orang-orang yang berkebangsaan Indonesia dapat diperintahkan (perintah ad-hoc) ke suatu pelabuhan atau pangkalan yang ditunjuk oleh penyidik dilaut untuk diproses lebih lanjut. 8 tahun 1981 tentang kitab Undangundang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

8 tahun 1981 tentang KUHAP. Dari ketentuan tersebut maka dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan laut yang dapat ditunjuk sebagai penyelidik adalah misalnya komandan kapal. sekalipun ancaman pidana yang dapat dijatuhkan adalah pidana denda tersebut perlu dimasukkan dalam golongan tindak pidana sebagaiman dimaksud pasal 21 ayat (4) huruf b. dapat dilakukan setiap waktu sebelum ada keputusan dari Pengadialn Negeri yang berwenang. 8 tahun 1981 tentang KUHAP.61 menyeret suatu kapal dari jarak yang terjauh dari ZEE Indonesia sampai ke suatu pelabuhan atau pangkalan. 20 Tahun 1982 tentang ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia dan pasal 17 Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. Dalam ayat (2) ditetapkan bahwa penuntut umum adalah jaksa pada pengadilan Negeri sebagaimanadimaksud dalam ayat (3). UU No. Kemudian penetapan besarnya uang jaminan ditentukan berdasarkan harga kapal. Kemudian ditetapkan pula bahwa permohonan untuk membebaskan kapal dan atau orang-orang yang ditangkap akarena didakwa melakukan perlanggaran terhadap UU ini. sedangkan terhadap tindak pidana tersebut penahanan adalah merupakan satu upaya untuk dapat memproses perkara lebih lanjut. alat-alat . Panglima daerah Angkatan Laut. Pengadilan yang berwenang mengadili perlanggaran terhadap ketentuan UU ini adalah Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi pelabuhan dimana dilakukan penahanan terhadap kapal dan atau orang-orang sebagimana yang dimaksud dalam pasal 13 huruf a. Komandan Pangkalan dan Komandan Stasiun Angkatan Laut sebagai aparat penyidik di ZEE Indonesia adalah sesuai dengan ketentuan pasal 30 ayat (2) UU No. dari ketentuan di atas. Ketentuan mengenai penahanan terhadap tindak pidana menurut UU ini belum belum diatur dalam UU No. dapat dijelaskan bahwa permohonan membebaskan kapal/orang yang ditangkap karena melakukan perlanggaran sesuai dengan praktek yang berlaku diajukan oleh perwakilan negara dari kapal asing yang bersangkutan. Selanjutnya ditetapkan pula bahwa aparatur penegak hukum dibidang penyidikan di ZEE Indonesia adalah perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut yang ditunjuk oleh Panglima Bersenjata Republik Indonesia (pasal 14 ayat (1)). 8 tahun 1981. Berhubung dengan hal tersebut.

Menurut hasil penelitian “Ocean Education Project” dari Universitas VillanovaPensylvania Amerika Serikat. bahwa ketika Konperensi Hukum Laut PBB III melangsungkan sidangnya yang ke 9 di New York.000 mil persegi. masih segar dalam ingatan kita. Menurut perhitungan tersebut. khususnya dengan makin mantapnya formulasi ketentuan-ketentuan tentang ZEE dalam part V. Pengumuman yang dilakukan oleh Indonesia memberikan implikasi bertambah luasnya wilayah nasional Indonesia dengan segala isi dan kekayaannya yang menjadi milik dan modal dasar pembangunan bangsa.62 perlengkapan dan hasil dari kegiatannya ditambah besarnya jumlah denda maksimum. Kesimpulan dan Rekomendasi Apabila diinventarisasi kembali uraian-uraian mengenai ZEE di atas. Perlu digarisbawahi bahwa salah satu ciri khas dalam Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang ZEE tersebut adalah bahwa ZEE Indonesia ditetapkan ukuran lebarnya dan cara pemanfaatannya berdasarkan pada UU No. luas wilayah ZEE di seluruh dunia yang diperebutkan oleh semua negara adalah hampir sama dengan luas daratan muka bumi. 4/Prp/1960 dan UU No. Pasal 55 sampai dengan Pasal 75 Konvensi Hukum Laut III (1982). Terdapat 10 negara yang . 1 tahun 1973. Oleh karena itu pula dirasakan bahwa situasi dan kondisinya telah mendesak Indonesia untuk juga mengumumkan ZEE-nya. Hal tersebut dilakukan guna meneguhkan hak kedaulatan mereka atas sumber-sumber daya alam yang terdapat di ZEE. dapat disimpulkan bahwa ditengah-tengah meningkatnya kegiatan pengimplementasian Wawasan Nusantara secara lebih mantap dan terpadu. Indonesia memperoleh kekayaan alam dalam ZEEnya yang meliputi luas 764. Hingga tahun 1982 kurang lebih tercatat ada 90 negara yang telah mengumumkan ZEE-nya. Tentunya. pada tanggal 21 Maret 1980 “Pemerintah Republik Indonesia mengumumkan ZEE Indonesia” dengan mengunakan landasan “Rumusan baku tentang ZEE” sebagimana yang tercantum dalam UNCLOS III. Pemerintah Republik Indonesia dengan cara seksama memperhatikan perkembangan Hukum laut secara keseluruhannya.

Indonesia juga harus mengakui hak-hak negara lain yang ada di ZEE tersebut.63 mendapat bagian yang tergolong besar. Australia. pabean. Perlu ditegaskan dalam kesimpulan ini bahwa yang dimaksud dengan ZEE Indonesia adalah jalur diluar laut wilayah Indonesia. Kebebasan menangkap ikan sebagai salah satu kebebasan yang ada di laut lepas. Aspek dalam negeri tentunya yang menyangkut kebijakan-kebijakan nasional tentang perikanan. kesehatan (zona tambahan) dan mempunyai hak berdaulat atas kekayaan alam di ZEE selebar 200 mil laut yang diukur garis pangkal laut wilayahnya. Sedangkan aspek luar negeri antara lain adalah yang menyangkut pelaksanaan dalam kaitannya dengan hukum Internasional. sebagiman ditetapkan berdasarkan UU No. Meskipun klaim-klaim tersebut dihubungkan dengan kegiatan-kegiatan tertentu. Namun hal itu. hak-hak tertentu negra-negara yang tidak berpantai (landlocked-States) dan negara-negara secara geografis kurang beruntung (geographically disadvantaged States). dimaksudkan untuk menguatkan kedudukan negara pantai di wilayah dan perairan Nusantaranya ditambah 12 mil laut untuk zona pengawasan terhadap imigrasi. dan Indoensia. baik dilihat dari segi perkembangan teknologi modern tentang peggunaan laut maupun tuntutan . 4/Prp/1960 tentang perairan Indonesia yang lebarnya 200 mil laut diukur dari garis pangkal laut wialyah Indonesia (pasal 2 UU No. perlindungan dan pelestarian laut serta penelitian ilmiah tentang kelautan. Perlu pula diperhatikan bahwa pelaksanaan ZEE Indonesia ini selalu mengandung dua aspek penanganan yaitu aspek dalam negeri dan aspek luar negeri. Sesuai dengan ketentuan-ketentuan Konvensi hukum laut PBB III 1982. juga perumusan persetujuan-persetujuan bilateral tentang kerjasama di keempat bidang tersebut. disamping mempunyai hak berdaulat atas kekayaan alam di ZEE. memang pada prinsipnya tetap berlaku. antara lain kebebasan berlayar dan terbang diatasnya. pencegahan polusi laut. lingkungan laut dan penelitian ilmiah. penelitian ilmiah kelautan dan lain sebagainya. telah mempunyai beberapa pembatasan. yang selalu terdapat dalam perumusan peraturan perundangan-undangan tentang aspek perikanan.5/1983). namun kebebasan ini sesuai dengan perkembangan yang ada dewasa ini. antara lain adalah Amerika Serikat. yang ditentukan oleh instansi-instansi yang yang bersangkutan. misalnya pengambilan kekayaan alam.

agar pemenuhan kebutuhan protein hewani untuk bahan makanan rakyat Indonesia akan lebih terjamin. perlu diperhatikan beberapa hal yang dirasakan mendesak.64 negara-negara pantai terhadap suatu jalur laut yang cukup luas yang berbatasan dengan pantainya untuk kepentingan ekonomis. b. sehingga pada suatu saat akan mengakibatkan kurangnya persediaan sumber protein hewani bagi kehidupan manusia di masa mendatang. Dalam kaitan inilah maka apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam pengumuman pada tanggal 21 Maret 1980 tentang ZEE Indonesia seluas 200 mil laut yang diukur dari garis pangkal laut wilayah kemudian dituangkan dalam Undang-undang No. c. Diingatkan pula bahwa penanganan di bidang penciptaan alat-alat ataupun prasarana dan sarana perundang-undangan bidang laut dihubungkan dengan perkembangan teknologi serta perkembangan asas-asas hukum laut Internasional sangat penting . Kemudian dalam hal penegakan hukum laut. Karena melihat kemungkinan akan terjadinya kian yang ditangkap itu berlebihan. dan tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa ZEE Indonesia adalah benar-benar merupakan “jaminan masa depan bangsa’. sehingga negara pantai mendapat jaminan bahwa sumber protein yang cadangkan bagi bangsa dan generasi berikutnya akan tetap terpelihara. 5 tahun 1983 adalah merupakan suatu tindakan yang sangat tepat. Sistem penegakan hukum yang efektif dan terpadu. antara lain mengenai : a. Alasan kedua adalah sebagai konsekuensi logis dari alasan pertama. Peningkatan kemampuan fisik. baik perjanjian bilateral maupun multilateral. dan kepastian yang kini diperoleh dengan batas-batas yang jelas didalam mana negara yang bersangkutan mempunyai hak berdaulat untuk mengeksploitasi sumber-sumber day alam hayati yang beraneka ragam didalamnya. yang mampu menjamin mobilitas yang akan mencakup khususnya peralatan-peralatan untuk pengawasan (surveillance) dan armada-armada kapal yang akan dipergunakan untuk melakukan tindakan-tindakan operasional pergerakan hukum itu sendiri. Sehingga perlu diadakan pembatasan dalam bentuk perjanjian. Kini semua hal yang disebut di atas sebagian besar sudah mampu dilakukan. Untuk melindungi sumber-sumber daya alam hayati yang berada di luar laut territorial.

Ketentuan-ketentuan mengenai rezim hukum laut Bebas yang tercantum dalam konvensi Hukum Laut yang baru adalah terdapat pada part VII. Pemanfaatan laut bebas dilaksanakan berdasarkan prinsip “warisan bersama umat manusia” (common heritage of mankind). both for coastal and landlocked States. pengejaran tidak terputus (hot pursuit) dan pelestarian lingkungan laut. yang berarti bahwa manfaat laut bebas. whether coastal or landlocked. segera diratifikasi dan disebarluaskan kepada masyarakat. It comprises. The high seas are open to all States. (Laut bebas terbuka untuk semua negara. seperti menyedikan sarana pencarian dan penyelamatan (search and rescue). Namun pelaksanaan negara-negara itu harus diperhatikan kepentingan negara lain menurut ketentuan konvensi atau aturan Hukum Internasional lain. baik negara pantai maupun negara yang tidak berpantai). Pasal 86 sampai dengan Pasal 120. Ketentuan-ketentuan yang dimaksud adalah : 1. Prinsip tersebut melahirkan hak dan kewajiban umum tiap negara terhadap laut bebas serta hak dan kewajiban khusus dilaut bebas tertentu tersebut. yang memadai. 4. Laut Bebas (Laut Lepas) Laut di luar yurisdiksi nasional negara-negara disebut laut bebas atau “high seas”. berlaku semua bagian laut di luar laut pedalaman. Pada hakekatnya ketentuan-ketentuan tersebut sama dengan yang tercantum dalam “Convention on the High Seas” dari Konvensi Jenewa tahun 1958. baik aspek navigasi maupun aspek sumber daya alam yang diakndungnya. yang sering disingkat “SAR”. harus dapat dinikmati oleh seluruh ummat manusia dan tidak boleh dimonopoli oleh satu atau beberapa negara kuat saja. laut wilayah dan ZEE. freedom of the high seas is exercised under the conditions laid down by this convention and by other rules or international law. Konvensi-konvensi internasional yang berhubungan dengan hukum laut yang ada relevansinya dengan kepentingan Indonesia. kebebasankebebasan baik bagi negara pantai maupun bagi negara-negara tak berpantai terdri dari : .65 d. “inter alia”.

c. Usaha masyarakat internasional untuk mengatur masalah kelautan melalui Konperensi PBB tentang hukum Laut yang .66 a. Selama dalam pelayaran atau disuatu pelabuhan dilarang ganti bendera kecuali karena pindah. f. pasal 89). has the rights to sail ships flying its flag on the high seas: pasal 90) b. 2. Kebebasan terbang (freedom of over flight). Tanggal 31 Desember 1985. secara umum konvensi Hukum Laut PBB 1982. Setiap kapal mendapatkan kebangsaan dari benderanya (every State shall fix the conditions for the grant of its nationally to ships : pasal 91 ayat 1) c. Kebebasan melakuakn penelitian ilmiah kelautan (freedom of scientific researches). Kebebasan meletakkan kabel dan pipa dibawah laut (freedom to lay submarine cables and pipelines) . b. Kebebasan menangkap ikan (freedom of fishing). Hak atau kebebasan berlayar (rights of navigation) dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut : a. Tidak satu negara pun boleh mengklaim setiap bagian laut bebas menjadi miliknya atau berada dibawah kedaulatannya (no State may validly purport to subject any part of the high seas to its sovereignty. 17 tahun 1985. Kemudian Konvensi Hukum laut baru ini telah mengingatkan bahwa laut bebas hanya boleh digunakan unutk keperluan damai (the high seas shall be reseved for peaceful purposes). e. Setiap kapal dengan bendera suatu Negara berada dalam yurisdiksi Negara bendera.Presiden Republik Indonesia di Jakarta mengesahkan sertifikasi Indonesia terhadap konvensi perserikaatn PBB tentang Hukum Laut dengan undang-undang No. merupakan usaha masyarakat Internasional untuk mengatur masalah kelautan tersebut. d. Kebebasan berlayar (freedom of navigation) . whether coastal or landlocked. Sebagai negara (coastal atau landlocked) mempunyai hak berlayar dengan mengibarkan benderanya (every State. Kebebasan membangun pulau-pulau buatan dan instalasi-instalasi lain yang diizinkan oleh hukum Internsional (freedom to construct artificial islands and other installations promoted under international law).

67

ketiga telah berhasil mewujudkan United Nations Convention on the Law of the sea (Konvensi Perserikatan Bangsa – Bangsa tentang hukum Laut), telah ditandatangani oleh 117 (seratus tujuh belas) negara peserta termasuk Indonesia dan 2 satuan bukan Negara di Montego Bay, Jamaica, pada tanggal 10 Desember 1982. Dibandingkan dengan konvensi – konvensi Jenewa 1958 tentang hukum laut, Konvensi PBB tentang hukum Laut tersebut mengatur rejim–rejim hukum laut secara lengkap dan menyeluruh, yang rejim–rejimnya satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Ditinjau dari isinya, Konvensi PBB tentang hukum laut tersebut : a. Sebagian merupakan kodifikasi ketentuan – ketentuan hukum laut yang sudah ada, misalnya kebebasan–kebebasan di laut lepas dan hak lintas damai di laut teritorial; b. Sebagian merupakan pengembangan hukum laut yang sudah ada, misalnya ketentuan mengenai lebar laut Teritorial menjadi Maksimun 12 mil laut dan criteria landas kontinen. Menurut konvensi Jenewa 1958 tentang hukum Laut kriteria bagi penentuan lebar landas kontinen adalah kedalaman air dua ratus meter atau kriteria kemampuan eksploitas. Kini dasarnya adalah kriteria kelanjutan alamiah wilayah daratan sesuatu Negara hingga pinggiran luar tepian kontinennya (Natural prolongation of its land territory to the outer edge of the continental margin) atau kriteria jarak 200 mil laut, dihitung dari garis dasar untuk mengukur lebar laut Teritorial jika pinggiran luar tepian kontinen tidak mencapai jarak 200 mil tersebut;. c. Sebagaian melahirkan rejim– ejim hukum baru, seperti asas Negara Kepulauan, Zona Ekonomi Ekslusif dan penambangan di dasar laut Internasional. Bagi bangsa dan Negara Republik Indonesia, konvensi ini mempunyai arti yang penting karena untuk pertama kalinya asas Negara Kepulauan yang selam dua puluh lima tahun secara terus menerus diperjuangkan oleh Indonesia, telah berhasil memperoleh pengakuan resmi masyarakat

internasional. Pengakuan resmi asas Negara kepulauan ini merupakan hal ynag penting dalam rangka mewujudkan satu kesatuan wilayah sesuai dengan deklarasi Djuanda 13 Desember 1957, dan Wawasan Nusantara sebagaimana

68

termaktubdalam ketetapan majelis Permusyarawatan Rakyat tentang Garis – garis Besar haluan Negara, yang menjadi dasar perwujudan bagi kepulauan indonesai sebagai satu kesatuan politik, ekonomi sosial budaya dan pertahanan keamanan. “Negara Kepulauan” menurut konvensi ini adalah suatu negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih gugusan kepulauan dan adapat mencakup pulau–pulau lain. Konvensi menentukan pula bahwa gugusan kepulauan berarti suatu gugusan pulau–pulau termasuk bagian pulau, perairan diantara gugusan pulau–pulau tersebut dan lain–lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lainnya demikian eratnya sehingga gugusan pulau– pulau, perairan dan wujud alamiah lannya tersebut meruapkan kesatuan geografi dan politik yang hakiki, atau secara historis telah diangggap sebagai satu kesatuan demikian. Negara kepulauan dapat menarik garis dasar / pangkal lurus kepulauan yang manghubungkan titik – titik terluar pulau – pulau dankarang kering terluar kepulauan itu, dengan ketentuan bahwa : a. Di dalam garis dasar/pangkal demikian termasuk pulau–pulau utama dan suatu dearah dimana perbandingan antara derah perairan dan daerah daratan, termasuk atol, adalah antara satuberbanding satu ( 1 : 1 ) dan Sembilan berbanding satu ( 9:1). b. Panjang garis dasar/pangkal demikian tidak boleh melebihi 100 mil laut, kecuali bahwa hingga 3 % dari jumlah seleuruh garis dasar/pangkal yang mengelilingi setiap kepualaun dapat melebihi kepanjangan tersebut, hingga pada suatu kepanjangan maksimun 125 mil laut; c. Penarikan garis dasar/ pangkal demikian tidak boleh penyimpang dari konfirugasi umum Negara Kepulauan. Negara Kepulauan berkewajiban menetapkan garis–garis dasar/pangkal kepulauan pada peta dengan skala yang cukup untuk menetapkan posisinya. Peta atau daftar koordinat geografi demikian harus diumumkan sebagaimana mestinya dan satu salinan dari setiap peta atau daftar demikian didepositnya pada Sekretaris Jenderal PBB. Dengan diakuinya asas Negara kepulauan maka perairan yang dahulu merupakan bagian dari laut lepas kini menjadi “ perairan kepulauan” yang berarti menjadi wilayah perairan Republik Indonesia.

69

Disamping ketentuan–ketentuan sebagaimana telah disebutkan, syarat– syarat yang penting bagi pengakuan internasional atas asas Negara Kepulauan adalah ketentuan–ketentuan sebagaimana diuraikan dibawah ini. Dalam “perairan kepulauan” berlaku hak lintas damai (right of innocent passage) bagi kapal–kapal negara lain. Namun demikian Negara Kepulauan dapat menangguhkan untuk semenatara waktu hak lintas damai tersebut pada bagian– bagian tertentu dari “perairan kepulaunnya” apabila dianggap perlu untuk melindungi kepentingan keamanannya. Negara kepulauan dapat menetapkan alur laut kepulauan dan rute penerbaangan di atas alur laut tersebut. Kapal asaing dan pesawat udara asing menikmati hak lintas laur laut kepulauan melalui alur laut dan rute penerbangan tersebut untuk transit dari suatu bagian laut lepas atau Zona Ekonomi Ekslusif ke bagian lain dari laut Lepas atau Zona Ekonomi Eksklusif. Alur laut kepulauan dan rute penerbagangan tersebut tidak boleh berlayar atau terbang melampaui 25 mil laut sisi kiri dan sisi kanan garis poros tersebut. Sekalipun kapal dan pesawat udara asing menikmati hak lintas jalur laut kepulauan melalui laur laut dan rite penerbangan tersebut, namun hal ini di bidang lain dari pada pelayaran dan penerbangan tidak boleh mengurangi kedaulatan Negara Kepulauan atas air serta ruang udara di atasnya, dasr laut dan tanah di bawahnya dan sumber kekayaan di dalamnya. Dengan demikian hak lintas alur kepulauan melalui rute penerbangan yang diatur dalam konvensi ini hanyalah mencakup hak lintas penerbangan melewati udara di atas alur laut tanpa mempengaruhi kedaulatan negara untuk mengatur penerbangan di atas wilayahnya sesuai dengan konvensi Chicago 1944 tentang penerbangan sipil ataupun kedaulatan Negara kepulauan atas wilayah udara lainnya diatas perairan Nusantara. Sesuai dengan ketentuan konvensi, disamping harus menghormati perjanjian–perjanjian internasional yang sudah ada, Negara kepulauan

berkewajiban pula menghormati hak–hak tradisioanal penangkapan ikan dan kegiatanlain yang sah dari negara–negara tetangga yang langsung berdampingan, serta kabel laut yang telah ada dibagian tertentu perairan kepulauan yang dahulunya merupakan laut lepas. Hak–hak tradisional dan kegiatan lain yang sah tersebut tidak boleh dialihkan kepada atau dibagi dengan Negara ketiga atau warganegaranya.

70

Konvensi perserikatan Bangsa – bangsa tentang hukum Laut ini mengatur pula rejim sebagai berikut : 1. Laut Teritorial dan Zona Tambahan a. Laut tertorial Konferensi PBB tentang hukum laut yang pertama (1958) dan kedua

(1960) di Jenewa tidak dapat memecahkan masalah lebar laut teritorial Karena pada waktu itu praktek negara menunjukkan keanekaragaman dalam masalah lebar laut teritorial, yaitu dari 3 mil laut hingga 200 mil laut. Konferensi PBB tentang hukum laut ketiga pada akhirnya berhasil menentukan lebar laut Teritorial maksimal 12 mil laut sebagai bagian dari keseluruhan paket rejim – rejim hukum laut, khususnya : 1) Zona ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebih 200 mil laut dihitung dari garis dasar/pangkal darimana lebar laut territorial diukur dimana berlaku kebebasan pelayaran; 2) Kebebasan transit kapal – kapal asing melalui selat yang digunakan untuk pelayran internasioanal; 3) Hak akses Negara tanpa pantai ked an dari laut dan kebebasan transit; 4) Tetap dihormati hak lintas laut damai melalui laut territorial. Rejim laut teritorial memuat ketentuan sebagai berikut: 1) Negara pantai mempunyai kedaulatan penuh atas Laut territorial, ruang udara diatasnya, dasar laut dan tanah dibawahnya serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. 2) Dalam laut Teritorial berlaku hak lintas laut damai bagi kendaraan– kendaraan air asing. Kendaraan air asing yang menyelenggarakan lintas laut damai di laut teritorial tidak boleh melakukan ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah atau kemrdekaan politik negara pantai serta tidak boleh melakukan pencemaran dan melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungan langsung dengan lintas laut damai. Pelayaran lintas laut damai tersebut harus dilakukan secara terus menerus, langsung serta secepatnya, sedangkan berhenti membuang jangkar hanya dapat dilakukan bagi

keperluan navigasi yang normal atau karena keadaan memaksa (force

fiskal keimigrasian dan kesehatan yang berlaku di wilayah darat dan laut teritorial negara pantai. 3) Negara pantai berhak membuat peraturan tentang lintas laut damai yang berkenaan dengan keselamatan pelayaran dan penngaturan lintas laut. untuk : 1) Mencegah pelanggaran terhadap peraturan perundang – undangannya di bidang bea cukai. b.71 majeure) atau dalam keadaan bahaya atau untuk tujuan memberikan bantuan pada orang. lebar Zona Tambahan adalah maksimal 24 mil laut diukur dari garis dasar laut teritorial. 2) Menindak pelanggaran–pelanggaran atas peraturan perundang– undangan tersebut yang dilakukan di wilayah darat dan laut teritorial negara pantai. maka Konvensi PBB III 1982 kini menentukan bahwa. dengan tidak mengurangi pelaksanaan kedaulatan dan yuridiksi negara– egara pantai dibidang lain dari pada lintaslaut dan lintas udara. perlindungan alat bantuan serta fasilitas navigasi. fiskal imigrasi dan kesehatan. pelestarian lingkungan hidup dan pencegahan. kapal atau pesawat udara yang berada dalam kedaan bahaya. perlindungan kabel dan pipa bawah laut. konservasi kekayaan alam hayati. 3) Selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. lebar Zona Tambahan pada lebar tritorial diukur. Penetapan lebar laut Teritorial maksimal 12 mil laut membawa akibat bahwa perairan dalam selat yang semula merupakan bagian dari laut lepas berubah menjadi bagian dari laut teritorial maksimal 12 mil laut. pencegahan terhadap pelanggaran atas peraturan perikanan. negara pantai dapat melaksanakan pengawasan dan pengendalian yang perlu. Zona Tambahan Jika dalam Konvensi jenewa 1958. kendaraan air asing pesawat udara asing mempunyai hal intas laut/udara melalui sutu selat yang digunakan untuk pelayaran . pengurangan dan pengendalian pencemaran. Di zona tambahan. penelitian ilmiah kelautan dan survey hidrografi dan pecegahan pelanggaran peraturan bea cukai. Oleh karena itu. dengan ditentukannya lebar laut Teritorial maksimal 12 mil laut.

pemasangan kabel atau pipa bawah laut menurut prinsip hukum internasional yang berlaku di Zona Ekonomi Eksklusif. eksploitasi. arus dan angin.instalasi dan bangunan–banguanan lainnya. d. Masalah Zona Ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebihi 200 mil laut tersebut erat kaitannya dengan masalah penetapan lebar laut Teritorial 12 mil laut. dapat membuat perundang–undangan mengenai lintas laut transit melalui selat tersebut bertalian dengan : a. termasuk penyimpanan alat penangkapan ikan dalam palka. 3. pengelolaan dan konservasi sumber kekayaan alam baik hayati maupun non hayati diruang air dan kegiatan–kegiatan lainnya untuk eksploirasi dan eksploitasi ekonomi Zona tersebut seperti pembangkitan tenaga dari air. b. pengurangan dan pengendalian pencemaran. c. d. Hak berdaulat untuk tujuan eksploirasi. Pencegahan penangkapan ikan. penelitian ilmiah dan perlindungan serta pelestarian lingkungan laut. karena : a.72 internasional. baru dapat menerima penetapan lebar laut teritorial maksimal 12 mil laut . Negara pantai mempunyai : a. kewajiban untuk memberikan kesemapatan terutama kepada Negara tidak berpantai atau Negara yang secara geografis taidak beruntung untuk turut serta memanfaatkan surplus dari jumlah tangkapan ikan yang diperbolehkan. yang menganut lebar laut teritorial 200 mil laut. Beberapa negara pantai. kewajiban untuk menghormati kebebasan pelayaran dan penerbanngan internasional. dengan memperhatikan ketentuan– ketentuan Konvensi. instalasi. Zona Ekonomi Eksklusif Dizona Ekonomi Eksklusif. Keselamatan pelyaran dan pengaturan lintas laut. c. mata uang atau orang – orang. fiscal. Memuat atau membongkar komoditi. imigrasi dan kesehatan. bertentangan dengan peraturan perundang – undangan bea cukai. b. Jurisdiksi yang berkaitan dengan pembuatan dan penggunaan pulau– pulau buatan. Penecegahan. Negara-negara selat.

Kriteria kelanjutan alamiah wilayah daratan di bawah laut hingga tepian luar kontinen yang ditentukan dalam konvensi ini pada akhirnya dapat diterima negara–negara bukan negara pantai. Jarak sampai 200 mil laut jika tepian luar tidak mencapai jarak 200 mil laut tersebut. atau c. b. 3) Negara-negara maritim baru dapat menerima rejim Zona Ekonomi Eksklusif jika negara pantai tetap menghormati kebebasan pelayaran/ penerbangan melalui Zona Ekonomi Eksklusif. Tidak boleh melebihi 100 mil laut dari garis kedalaman (isobaths) 2500 meter. Kelanjutan alamiah wilayah daratan dibawah laut hingga tepian luar kontinen yang lebarnya tidak boleh melebihi 350 mil laut yang diukur dari garis dasar laut teritorial jika diluar 200 mil masih terdapat daerah dasar laut yang merupakan kelnjutan lamiah dari wilayah daratan dan jika memenuhi criteria kedalaman sdimentasi yang ditetapkan dalam konvensi.73 dengan adanya rejim Zona Ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebihi 200 mil laut b. Berbeda dengan Konvensi Jenewa 1958 tentang Landas Kontinen yang menetapkan lebar landas kontinen berdasrkan pada kriteria kedalaman atau kriteria kemampuan eksploitasi. 4) Landas Kontinen. maka Konvensi 1982 ini mendasarkan pada berbagai kritria : a. 2) Mereka mempunyai hak transit ke dan dari laut melalui wilayah negara pantai/negara transit. khususnya negara–negara tanpa pantai atau negara–negara yang geografis tidak beruntung setelah konvensi juga menentukan bahwa negara pantai . pada sisi lain : 1) Negara–negara tanpai pantai dan negara–negara secara geografis tidak beruntung baru dapat menerima penetapan lebar Laut teritorial maksimal 12 mil laut dan Zona Ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebihi 200 mil laut dengan ketentuan bahwa mereka memperoleh kesempatan untuk turut serta memanfaatkan surplus dari jumlah tangkapan yang diperbolehkan.

Kebebasan–kebebasan tersebut harus dilaksanakan oleh setiap negara dengan mengindahkan hak negara lain dalam melaksanakan kebebasan di lautLepas. namun dalam Konvensi ini Landas Kontinen diatur dalam Bab tersendiri . Laut territorial perairan pedalaman dan perairan kepualauan. Rejim Pulau Rejim pulau diatur dalam Bab tersendiri dalam konvensi ini yang dihubungkan dengan masalah Laut Teritorial. khususnya negara–negara yang pekembangannya masih paling rendah dan negara–negara tanpai pantai.74 mempunyai kewajiban untuk memebrikan pembayaran atau kontribusi dalam natura yang berkenaan dengan eksploitasi sumber kekayaan non–hayati Landas Kontinen di luar 200 mil laut. pada dasarnya tidak terdapat perbedaan antara Konvensi Jenewa 1958 tentang laut Lepas dan Konevensi PBB tentang hukum Laut mengenai hak–hak dan Kebebasan–kebebasan dilaut lepas. Zona Ekonomi Eksklusif dan . 5. Disamping mengatur hak–hak kebebasan– kebebasan di Laut Lepas. Kecuali perbedaan–perbedaan tersebut di atas. yang memungkinkan lebar landas kontinen melebihi lebar Zona Ekonomi Eksklusif. hal ini berkaitan dengan diterimanya criteria kelanjutan alamiah wilayah daratan hingga parkiran luar tepian kontinen. Konvensi ini juga mengatur masalah konservasi dan pengelolaansumber kekayaan hayati di laut lepas yang dahulu diatur dalam Konvensi Jenewa 1958 tentang Perikanan dan konservasi sumber kekayaan hayati dilaut lepas. Laut Lepas Berbeda dengan konvensi Jenewa 1958 tentang Laut Lepas yang menetapkan laut lepas dimulai dari batas terluar laut territorial. Konvensi ini menetapkan bahwa laut Lepas tidak mencakup Zona Ekonomi Eksklusif. 6. Pembayaran atau kontribusi tersebut harus dilakukan melalui Otorita Dasar Laut Internasional yang akan membagikannya kepada Negara peserta Konvensi di dasarkan pada criteria pembagian yang adil dengan memperhatikan kepentingan serta kebutuhan negara–negara berkembang. Sekalipun Landas Kontinen pada mulanya termasuk dalam rejim Zona Ekonomi Eksklusif.

kekayaan alam hayati dan perlindungan serta pelestarian lingkungan laut tersebut. Rejim Laut tertutup / setengah tertutup. Menganjurkan antara lain agar negara negara yang berbatasan kerjasama dengan Laut Tertutup/setengah konservasi tertutup sumber mengadakan mengenai pengelolaan. 8. Kawasan Dasar laut Internasional Kawasan Laut Internasional adalah dasar laut/samudra yang terletak di luar landas Kontinen dan berada di bawah Laut Lepas. Rejim akses Negara tidak berpantai ked an dari laut serta kebebasan transit Jika dalam Konvensi Jenewa 1958 tentang Laut Lepas masalah hak akses negara tanpai pantai diatur dalam salah satu pasal. tidak mempunyai Zona Ekonomi Eksklusif atau Landas KOntinen sendiri dan hanya berhak mempunyai Laut Teritorial saja. Rejim ini berkaitan dengan hak negara–negara tersebut untuk ikut memanfaatkan sumber kekayaan alam yang terkandung dalam Zona Ekonomi Eksklusif dan Kawasan dasar laut internasional. Sesuai ketentuan– ketentuan dalam konvensi. Penetapan lebar laut Teritorial maksimal 12 mil laut dan Zona Ekonomi Eksklusif yang lebarnya tidak melebih 200 mil diukur dari garis laut territorial.75 Landas Kontinen. Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen dengan ketentuan bahwa pulau/ karang yang tidak dapat mendukung habitat manusia atau kehidupan ekonominya sendiri. mengakibatkan bahwa perairan Laut Tertutup/ setengah yang dahulunya merupakan laut Lepas menjadi lautTeritorial atau Zona Ekonomi Eksklusif negara–negara disekitar atau berbatasan dengan laut tertutup/ setengah tertutup tersebut. Konvensi ini menngatur masalah rejim akses negara tanpa pantai ked an dari laut serta kebebasan transit melalui negara transit secara lebih terperinci dalam satu bab tersendiri. Konvensi menentukan bahwa pulau / karang mempunyai Laut Teritorial. pelaksnaan hak akses Negara tidak berpantai serta kebebasan transit melalui wilayah Negara transit dan di Zona Ekonomi Eksklusif perlu diatur dengan perjanjian bilateral subregional dan regional. Konvensi menetapkan bahwa kawasan Dasar Laut Internasional dan kekayaan alam yang . Rejim laut tertutup/ setengah tertutup diatur dalam satu bab tersendiri dalam konvensi ini. 9. 7.

Perlindungan dan pemeliharaan lingkunga laut. yang pada akhirnya menggerakkan PBB untuk meyelenggarakan konferensi . yang memungkinkan penangkapan ikan dalam skala besar. sekalipun laut itu sangat luas tetapi sumber–sumber kekayaan yang terkandung didalamnya tidak tanpa batas kelestarian. Pengembangan teknologi dibidang perikanan. Penangkapan hidup jenis ikan selalu mengandung suatu resiko bahwa kelangsungan hidup jenis ikan tersebut dapat terancam dengan kepunahan. dapat mengakibatkan tidak hanya kepunahan jenis–jenis ikan akan tetapi juga kemunduran besar bagi perusahaa-perusahaan yang tergantung dari penangkapan jenis – jenis ikan tersebut. Adapun pengelolaannya di dasarkan pada suatu sistem. yaitu Otorita Dasar Laut Internasional (International Seabed Authority). Demikian pula tidak satu negarapun atau badan hukum atau orang boleh melaksanakan pemilikan atas salah bagian dari kawasan tersebut semua kegiatan di kawasan Dasar Laut Internasional dilaksanakan untuk kepentingan umat manusia secara keseluruhan. yakni selama Perusahaan (Enterprises) sebagai wahana otorita belum dapat beroperasi secara penuh. yaitu sistem parallel. 10. menetapkan pula pembentukan Komisi Persiapan (Preparatory Commission) yang tugasnya adalah untuk mempersiapkan antara lain pembentukan otorita Dasar Laut Internasional dan Pengadilan Internasional untuk hukum laut. maka pengelolaannya dilaksanakan oleh suatu badan internasional. negara–negara peserta Konvensi termasuk perusahaan negara dan swastanya dapat melakukan penambangan dikawasan Dasar Laut Internasional tersebut berdasarkan suatu hubungan keraj atau asosiasi dengan otorita. Konvensi PBB tentang hukum Laut ketiga dengan suatu revolusi I. Disamping itu tumbuh kesadaran mengenai kelestarian lingkungan hidup.76 terkandung di dasar laut dan tanah di bawahnya merupakan warisan bersama umat manusia. Walaupun perlahan–lahan akan tetapi pada akhirnya tumbuh kesadaran bahwa. Tidak ada satu negarapun boleh menuntut atau melaksanakan kedaulatan atau hak berdaulat atas bagian dar kawasan Dasar laut Internasional atau kekayaan alam yang terdapat didalamnya.

12. Pembuangan limbah secara tidak terkendali ke dalam lautan membawa akbat kerusakan yang parah pada lingkungan laut. Pengembangan dan Alih Teknologi a. b. Negara-negara secara langsung atau melalui organisasi internasional yang berwenang. Hal tersebut berarti bahwa setiap penelitian ilmiah kelautan yang dilaksanak dalam laut teritorial/perairan kepulauan hanya dapat dilaksanakan dengan seizin negara pantai. pencemaran yang diakibatkan oleh kecelakaan tangker – tangker raksasa. Untuk penelitian ilmiah kelautan yang dilakukan di Laut Lapas berlaku kebebasan penelitian dengan ketentuan bahwa penelitian ilmiah yang dilakuakan di Landas Kontinen tunduk pada rejim penelitian Landas Kontinen. semua negara wajib memajukan pengembangan kemampuan ilmiah dann teknologi kelautan negara–negara yang memerlukan bantuan teknik . 11. Demikian juga bagi penelitin ilmiah di Kawasan Dasr laut International berlaku prinsip kebebasan penelitian ilmiah yang tunduk pada rejim Kawasan Dasr Laut Internasional. Konvensi menetapkan pula bahwa negara pantai mempunyai yurisdiksi untuk penelitian ilmiah oleh kelautan ZEE dan Landas Kontinen.77 mengenai lingkungan hidup di Stockholm dalam tahun1972. harus mengadakan untuk kerjasama secara sesuai dengan kemampuan masing–masing aktif memajukan pengembangan dan pengalihan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan. konvensi menentukan bahwa setiap negara mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber–sumber kekayaan alamnya sesuai dengan kewajibannya untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut. Demikian pula. seperti Torrey Canyon dalam tahun 1967 dan Amoco Cadits dalam tahun 1978. membawa kerusakan yang sangat parah pada lingkungan hidup. Penelitian ilmiah kelautan Konvensi menentukan bahwa kedaulatan negara pantai mencakup pula pengaturan penelitian ilmiah kelautan di Laut territorial atau perairan kepulauan. Berdasarkan kenyataan–kenyataan sebagaimana tersebut di atas. Penelitian ilmiah oleh negara asing atau organisasi internasinal sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan–ketentuan sebagaiman diatur dalam konvensi supaya diizinkan oleh negara pantai.

perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. penelitian ilmiah kelautan. kecuali sengketa mengenai penafsiran dan penerapan BabXI konvensi mengenai Kawasan Dasar laut internasional beserta lampiran. Ketentuan Penutup .78 dalam bidang tersebut. 14.lampiran Konvensi yang bertalian dengan masalah Kawasan dasar laut Internasional. termasuk negara–negara tanpai pantai dan yang secara geogarfis tidak beruntung. yang memerlukan bantuan di bidang eksplorasi dan eksploitasi. konservasi dan pengelolaan sumbe –sumber kekayaan laut.J). Setiap sengketa mengenai penafsiran dan penerapan Konvensi dapat diajukan untuk diselesaikan oleh salah satu dari ke empat macam lembaga penyelesaian sengekta tersebut diatas. Penyelesaian Sengketa Konvensi menentukan bahwa setiap negara peserta Konvensi harus menyelesaikan suatu sengketa mengenai penafsiran dan penerapan Konvensi melalui jalan damai sesuai dengan ketentuan pasal 2 ayat 3 Piagam PBB. agar dapat segera berfungsi setelah Konvensi mulai berlaku.C. dengan tujuan untuk mempercepat pembangunan sosial dan ekonomi negara–negara berkembang. khususnya negara–negara berkembang. Sejalan dengan masalah persaiapan pembentukan organ–organ otorita dasar laut international. maka pembentukan pengadilan–internasional untuk hukum laut beserta kamar kamar di dalamnya harus dipersiapkan pula oleh Komisi persiapan sesuai dengan ketentuan Resolusi I yang diambil oleh konperensi PBB tentang hukum laut ketiga. dimana Negara – Negara peserta berkewajiban untuk tunduk pada salah satu daripada lembaga penyelesaian sengketa sebagai berikut: Mahkamah Internasional (I. yang merupakan yurisdiksi mutlak kamar sengketa dasar laut. 13.. Konvensi ini mengatur sistem penyelesaian sengketa. Konvensi 1982 ini membentuk pengadilan internasional untuk hukum laut sebagai mahkamah tetap (standing tribunal) dan Arbitrasi umum serta arbitrasi khusus sebagai mahkamah ad hoc (ad hoc Tribunal). Arbitrasi Umum atau Rbutrasi khusus. Pengadilan Internasional untuk hukum Laut.

79 Sebagaimana lazimnya. Beberapa ketentuan penutup yang penting yang terdapat konvensi ini antara lain adalah : a. Mengapa pengumuman pemerintah mengenai suatu obyek hukum selalu diikuti dengan undang–undang ? 3. pengesahan dan konfirmasi formal. Apa implikasi dari ratifikasi Indonesia terhadapa konverensi hukum laut PBB 1982 ? . konvensi memuat ketentuan–ketentuan penutup yang mengatur masalah–masalah prosedural seperti penandatanganan. b. amandemen depositori dan lain–lainnya. Konvensi ini tidak membenarkan terhadap negara–negara mengadakan dalam pensyaratan (reservation) ketentuan–ketentuan konvensi pada eaktu mengesahkan karena seluruh ketentuan konvensi ini merupakan satu piket yang ketentuan– etentuannya sangat serta hubungannnya satu dengan yang lain. C. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran ke 3 dilakukan dalam bentuk penulisan kuis diakhir perkuliahan yang dikemas dalam beberapa pertanyaang seperti : 1. c. Mengapa asas Negara kepulauan harus diimplementasikan dalam berbagai peraturan perundang Republik Indonesia ? 2. aksesia dan berlakunya konvensi. dan oleh keran itu hanya dapat dipisahkan sebagai satu kebulatan yang utuh. Konvensi ini menggantikan (prevail) konvensi – konvensi Jenewa 1958 mengenai hukum laut bagi para pihaknya. Konvensi dimulai berlaku 12 bulan setelah tercapai pengesahan oleh 60 negara.

CV. 17 / 1985 tentang Pengelolaan Konvensi Hukum Laut 1982. Bandung: Mandar Maju. 8 / 1992 tentang Lalu lintas Damai Kendaraan air asing. 2005 ------------------. UU No. UU No. Landas Kontinen Dalam Hukum Laut Indonesia. UU No. Bandung: Mandar Maju. 1988. Analisis Negara Kepulauan dan Landas Kontinen Dalam Perspektif Kepentingan Indonesia. Bandung: Bina Cipta. Denpasar. Made Pasek Diantha. AK. 2005. . Karya MasAgung. 1993. 6 / 1996 tentang Wilayah Perairan Indonesia. Wayan Parthiana.80 Daftar Bacaan : I. PP No. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. UU No. Syahmin. 1 /1973 tentang Landas Kontinen Indonesia. Beberapa Perkembangan dan Masalah Hukum Laut International. 5/ 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik. “perairan pada sisi darat garis .” Karena Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS III) sudah mengakui konsep negara kepulauan (archpelagic state). Perairan Pedalaman Dalam pasal 8 ayat (1) United Nations Conventions on the Law of the Sea (UNCLOS 1982) disebutkan bahwa yang dinamakan Perairan Pedalaman adalah perairan pada sisi darat garis pangkal laut teritorial. maka perairan kepulauan Indonesia juga masuk kedalam perlindungan hukum laut internasional sebagaimana halnya negara-negara kepulauan lainnya. dan diskusi. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu IV bahwa “Mahasiswa dapat menjelaskan berbaga jalur-jalur laut pada wilayah perairan Indonesia sebagai negara nusantara”. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning melalui small group work. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait jalur-jalur laut.. B. Kerjasama tim. Uraian: Jalur-jalur laut Indonesia sebagai negara nusantara atau negara kepulauan: 1. 2.81 BAB 5 BAHAN PEMBELAJARAN 4 A.Partisipasi dalam diskusi. Perairan Kepulauan Dalam pasal 3 ayat 3 undang-undang perairan Indonesia disebutkan bahwa.. Pasal tersebut selengkapnya berbunyi. “Perairan Kepulauan Indonesia adalah semua perairan terletak pada sisi dalam garis pangkal lurus kepulauan yang tanpa memperhatikan kedalaman atau jaraknya dari pantai. Penguasaan individu. kuliah interaktif.

Perairan Pedalaman Indonesia terdiri atas: laut pedalaman. laut wilayah dan perairan pedalaman.14 hukum laut secara tradisional mengadakan pembagian laut atas laut lepas. tidak ada persoalan karena telah merupakan suatu ketentuan yang telah diterima dan dijamin oleh hukum internasional. pembagian perairan Indonesai agak sedikit berbeda dengan negara-negara lain. perairan Indonesia terdiri dari laut wilayah dan perairan Pedalaman. Dilaut wilayah perairan Indonesia. 6 Tahun 1996). dilaut wilayah berlaku rezim lintas damai bagi kapal-kapal asing dan diperairan pedalaman hak lintas damai ini tidak ada. 4/Prp tahun 1960 (sekarang UU No. Selanjutnya. UU No 5/1983 tentang ZEEI dan UU No 6/1996 tentang Perairan Indonesia 14 13 . “Perairan Pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah dari pantai-pantai Indonesia. termasuk kedalamnya semua bagian dari perairan yang terletak pada sisi darat dari suatu garis penutup sebagaimana dimaksud dalam pasal 7. Perincian dari Perairan Indonesia berdasarkan ketentuan-ketentuan dari UU No. kecuali pada mulut sungai perairan darat adalah segala perairan yang terletak pada sisi darat dari garis penutup mulut sungai. Sedangkan bagi Indonesia. 4 /Perp Tahun 1960 tersebut. Mengenai hak lintas damai di laut wilayah.82 pangkal laut territorial merupakan bagian perairan pedalaman negara tersebut”. 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia disebutkan bahwa. laut pedalaman menurut pengertian undang-undang ini adalah bagian laut yang terletak pada sisi darat dari garis penutup. Di laut lepas. karena adanya bagian-bagian laut lepas atau laut wilayah yang menjadi laut pedalaman karena penarikan garis dasar lurus dari ujung ke ujung. menikmati hak lintas damai Pasal 8 (1) UNCLOS 1982 Sekarang tidak berlaku lagi karena sudah diganti dengan UU No1/1974 tentang Landas Kontinen Indonesia. pada sisi laut dan gari air rendah.13 Sedangkan dalam pasal 3 (4) UU No. terdapat rezim kebebasan berlayar bagi semua kapal. dan perairan darat. kapal semua negara baik berpantai atau tidak berpantai. Sesuai dengan UU No. Perairan pedalaman ini dibagi pula atas laut pedalaman dan perairan daratan. Sedangkan Perairan Darat adalah segala perairan yang terletak pada sisa darat dari garis air rendah.

laut pedalaman ini dulunya adalah bagian-bagian laut lepas atau laut wilayah dan sudah sewajarnya kita berikan hak lintas damai kepada kapal-kapal asing. dan yang ditegaskan pula oleh pasal 8 Konvensi 1982. muara-muara sungai. 2. Perairan pedalaman yang sebelum berlakunya Undang-Undang No.83 melalui laut teritorial (pasal 17 konvensi). Perairan pedalaman yang sebelum berlakunya UU No. Perairan pedalaman ini disebut laut pedalaman atau internal seas. dan lain-lainnya. Selanjutnya. Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global. Di perairan daratan tidak ada hak lintas damai. selanjutnya dinamakan perairan daratan atau coastal waters. khususnya yang membahas tentang laut teritorial dan jalur tambahan dalam era yang berbeda. Konvensi Jenewa 1957 yang membahas tentang Laut Territorial dan Jalur Tambahan meneguhkan beberapa azas tentang laut territorial yang telah berkembang sejak lahirnya hukum laut internasional dan memperoleh 15 Boer Mauna. pelabuhan-pelabuhan. Ketentuan yang juga dinyatakan oleh Konvensi Jenewa.15 Sebagai tambahan. Pengertian. pemerintah Indonesia menjamin hak lintas damai kapal-kapal asing. Hukum Internasional. Sebagaimana kita ketahui. Ini adalah suatu hal yang wajar karena kedekatannya dengan pantai seperti anak-anak laut. Di laut pedalaman ini. (Bandung: PT Alumni. 383-384. yaitu: 1. hlm. pemerintah Indonesia pada tahun 1985 telah meratifikasi UNCLOS III/1982 ini dengan mengeluarkan UU No 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea yang ketiga. 4/Prp Tahun 1960 ini merupakan laut pedalaman yang dahulu. 2005). . Indonesia membedakan perairan pedalaman (perairan kepulauan atas dua golongan). Sebagai bahan perbandingan dalam mempelajari perkembangan wacana hukum laut. berikut ini kita akan mengkaji perbedaan antara Konvensi Jenewa 1957 dengan United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 (UNCLOS III 1982) yang khusus membahas tentang Laut Territorial dan Jalur Tambahan . teluk-teluk yang mulutnya kurang dari 24 mil. 4/Prp Tahun 1960 merupakan laut wilayah atau laut bebas.

Ditempat-tempat dimana pantai banyak liku-liku tajam atau laut masuk jauh kedalam. (ayat 2).84 perumusannya yang jelas dalam konferensi kodifikasi Den Haag tahun 1930. 2. Pasal 1: menyatakan bahwa laut teritorial yang merupakan suatu jalur yang terletak disepanjang pantai suatu negara berada dibawah kedaulatan negara. 4. Yang terpenting diantaranya adalah ketentuan-ketentuan dalam pasal 3. Dalam beberapa hal.. 3. yakni: 1. Ayat selanjutnya (2. Pasal 3: memuat ketentuan mengenai garis pasang surut (low water mark) sebagai garis pangkal biasa (“normal” base-line) Pasal 4: mengatur garis pangkal lurus dari ujung ke ujung (straight baselines) sebagai cara penarikan garis pangkal yang dapat dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu. Pasal 2: menyatakan bahwa kedaulatan negara atas laut teritorial hanya meliputi juga ruang udara diatasnya dan dasar laut serta tanah dibawah dasar laut. Syarat kedua adalah bahwa garis-garis lurus tidak boleh diantara dua pulau atau bagian daratan yang hanya timbul diatas permukaan air . Konvensi ini memuat ketentuan-ketentuan yang merupakan perkembangan baru dalam hukum laut internasional publik. dan 5 mengenai penarikan garis pangkal. Dalam penjabarannya. dan 5) memuat syarat-syarat yang harus diperhatikan di dalam menggunakan penarikan garis pangkal menurut sistem garis pangkal lurus dari ujung ke ujung. Apabila terdapat deretan pulau yang letaknya tak jauh dari pantai. Syarat pertama adalah bahwa garis-garis lurus tidak boleh menyimpang terlalu banyak dari arah umum daripada pantai dan bahwa bagian laut yang terletak pada sisi dalam (sisi darat) garis-garis demikian harus cukup dekat pada wilayah daratan untuk dapat diatur oleh rezim perairan pedalaman. ayat (1) menetapkan dalam hal-hal mana dapat dipergunakan sistem penarikan garis pangkal lurus.

tidak mengikat kecuali terhadap pihak-pihak yang bersengketa dan berkenaan dengan perkara yang bersangkutan”... (Bandung: Binacipta. Syarat ketiga adalah bahwa penarikan garis pangkal tidak boleh dilakukan sedemikian rupa hingga memutuskan hubungan laut wilayah negara lain dengan laut lepas.. kini telah diakui menjadi suatu cara penarikan garis pangkal yang – dengan syaratsyarat tertentu – berlaku umum.. Ketentuan dalam ayat 1 yang menyatakan”. Dengan dimuatnya ketentuan mengenai penarikan garis pangkal lurus ini dalam konvensi mengenai “Laut Territorial dan Zona Tambahan”...... Sebagaimana diketahui keputusan-keputusan Konvensi I mengenai garis pangkal lurus ini didasarkan atas keputusan Mahkamah Internasional tanggal 28 Desember 1951 dalam perkara Sengketa Perikanan antara Inggeris dan Norwegia (Anglo-Norwegian Fisheries Case). ditempat-tempat dimana..... Hukum Laut Internasional..16 16 Mochtar Kusumaatmadj.. Ayat 4 dapat dianggap sebagai tambahan pada ketentuan ayat 1 mengenai penetapan garis lurus sebagai garis pangkal..” menunjukan bahwa sistem garis pangkal lurus adalah cara penarikan garis pangkal istimewa yang dapat dipergunakan oleh suatu negara.85 diwaktu pasang surut (low-tide elevations) kecuali apabila diatasnya telah didirikan mercusuar-mercusuar atau instalasi-instalasi serupayang setiap waktu ada diatas permukaan air (ayat 3).. Ketentuan ini berarti suatu negara dapat emnggunakannya disebagian pantainya yang memenuhi syarat-syarat ayat (1).. dan seterusnya. Tanggal 10 Desember 1982 (UNCLOS 1982) belum .. (ayat 5). Konferensi Internasional Hukum Laut III. maka isi keputusan Mahkamah Internasional tersebut yang berdasarkan pada pasal 59”. 1978).. hlm 129133... Ayat ini menetapkan bahwa dalam menetapkan garis pangkal lurus demikian dapat diperhatikan kebutuhan-kebutuhan istimewa yang bersifat ekonomis daripada suatu daerah yang dapat dibuktikan dengan kebiasaan-kebiasaan dan kebutuhan yang telah berlangsung lama.. Sifat istimewa daripada garis pangkal lurus tampak dengan lebih jelas apabila kita hubungkan ayat (1) ini dengan pasal 3 yang menyatakan garis pasang surut sebagai garis pangkal biasa (normal baseline).

garis pangkalnya adalah garis pasang surut dari sisi karang ke arah laut. jaraknya diperluas selebar 12 mil laut diukur dari batas laut teritorial. Mengenai zona tambahan. mulut sungai. Pengawasan atas keluar masuknya orang asing (imigrasi).86 Sedangkan ketentuan mengenai laut teritorial yang tercantum dalam UNCLOS IIII/1982 menjelaskan bahwa. suatu negara mempunyai kedaulatan yang penuh dalam perairan teritorialnya dan dapat menyelenggarakan serta menjalankan tindakan-tindakan seperlunya untuk menjamin antara lain: a. Artinya. kedaulatan negara pantai selain diwilayah daratan dan perairan pedalamannya. e. fiskal. juga meliputi laut teritorial. penentuan lebar laut 3 mil yang tercantum dalam “Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie tahun 1939” yang dalam dilaksanakan. Oleh karena itu. imigrasi. ruang udara diatasnya dan dasar laut serta lapisan tanah dibawahnya. Tetapi kurang lebih sebagai perbandingan dalam menganalisa dinamika perkembangan antara Konvensi Jenewa tahun 1958 dengan UNCLOS 1982 yang juga saling berkaitan. Sebagaimana pernah disebutkan diatas. perairan kepulauannya. Batas laut teritorial tidak melebihi batas 12 mil laut diukur dari garis pangkal normal. menentukan bahwa negara pantai dalam zona tersebut bisa melaksanakan pengawasan yang diperlukan guna mencegah pelanggaran undang-undang menyangkut bea cukai. c. teluk. Bagian ini juga membahas tentang perairan kepulauan. Pertambangan dan hasil-hasil alam lainnya. Untuk negara-negara kepulauan yang mempunyai karangkarang disekitarnya. penetapan garis batas laut teritorial antara negara-negara yang pantainya berhadapan atau berdampingan serta lintas damai. d. b. dan saniter dalam wilayahnya. untuk zona tambahan. namun tidak boleh lebih dari 24 mil laut. Pekerjaan dilapangan kesehatan (karantina). Kepentingan perikanan f. . Baca juga hasil-hasil Konvensi Hukum Laut Jenewa 1957. Pertahanan keselamatan negara terhadap gangguan/ serangan dari luar. instalasi pelabuhan. Penyelenggaraan peraturan fiskal (bea dan cukai).

Pasal 5 yang dimaksud adalah tentang ketentuan dan tata cara penarikan garis pangkal kepulauan Indonesia. imirasi... Toto Pandoyo. dengan Singapura serta dengan Philipina.17 3.87 pasal 1 ayat 1 a. Definisi laut teritorial yang terdapat dalam UU No. hlm. yang berlaku di wilayah atau laut wilayah RI. menyatakan bahwa “laut territorial Indonesia itu lebarnya 3 mil diukur dari garis air rendah (laagwaterlijn) daripada pulau-pulau dan bagian pulau yang merupakan bagian dari wilayah daratan (grondgebied) dari Indonesia.. NKRI mempunyai kewenangankewenangan tertentu untuk: 1. Serta . perpajakan (fiskal)... Menurut ICNT.. yang lebarnya tidak lebih dari 24 mil laut dihitung dari garis dasar. 1985). Menindak pelanggaran atas peraturan-peraturan hukum tersebut diatas yang dilakukan di wilayah atau laut wilayah RI. Laut teritorial Dalam pasal 3 ayat 2 undang-undang perairan Indonesia disebutkan bahwa. Mencegah pelanggaran atas peraturan-peraturan hukum tentang keBea-an. Oleh karena itu. Dengan adanya lebar perairan yang kurang dari 24 mil laut yang membatasi wilayah RI dengan Malaysia. Pada jalur tambahan tersebut..l.. maka dengan perairan-perairan tertentu negara kita tidak memiliki ”Jalur Tambahan”.. Wawasan Nusantara dan Implementasinya Dalam UUD 1945 Pembangunan Nasional. 2. 17 S. (Jakarta: PT Bina Aksara. maupun ”sanitary”. dari mana lebar laut wilayah diukur. yang dimaksud dengan ”Jalur Tambahan” adalah suatu daerah laut yang berdekatan dengan laut wilayah.” dirasakan tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang dan dirasakan sudah tidak cukup lagi untuk menjamin dengan sebaik-baiknya kepentingan rakyat dan negara Indonesia yang biasanya diselenggarakan dalam batas lautan territorial suatu negara. “Laut Teritorial adalah jalur laut selebar 12 (dua belas) mil laut yang diukur dari garis pangkal kepulauan Indonesia sebagaimana dimaksud pasal 5”. 84-85. pada tahun 1996 pemerintah RI mengeluarkan UU No 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia sebagai tindak lanjut dari kesepakatan UNCLOS III/1982 yang menetapkan batas laut teritorial seluas 12 mil laut..

garis pangkalnya adalah garis pasang surut dari sisi karang ke arah laut.88 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia ini adalah mengikuti ketentuan yang tercantum dalam UNCLOS 1982. keimigrasian (imigration). penetapan garis batas laut teritorial antara negara-negara yang pantainya berhadapan atau berdampingan serta lintas damai. Untuk negara-negara kepulauan yang mempunyai karang-karang di sekitarnya. instalasi pelabuhan. Menurut pasal 33 ayat 2 Konvensi Hukum Laut 1982. mulut sungai. Hal ini berarti bahwa zona tambahan itu hanya mempunyai arti bagi negara-negara yang mempunyai lebar laut teritorial kurang dari 12 mil laut (ini menurut konvensi Hukum Laut Jenewa 1958). dan sudah tidak berlaku lagi setelah adanya ketentuan baru dalam Konvensi Hukum Laut 1982. dan kesehatan atau saniter. Laut Tambahan Zona tambahan didalam pasal 24 (1) UNCLOS III dinyatakan bahwa suatu zona dalam laut lepas yang bersambungan dengan laut teritorial negara pantai tersebut dapat melaksanakan pengawasannya yang dibutuhkan untuk: 1. perpajakan (fiskal). batas laut teritorial tidak melebihi batas 12 mil laut diukur dari garis pangkal normal. Dalam ketentuan ini (UNCLOS III). Mencegah pelanggaran-pelanggaran perundang-undangannya yang berkenaan dengan masalah bea cukai (customs). teluk. Menghukum pelanggaran-pelanggaran atau peraturan-peraturan perundangundangannya tersebut di atas. Bagian ini juga membahas tentang perairan kepulauan. diukur dari garis pangkal. . Berikut ini beberapa hal guna memperjelas tentang letak zona tambahan itu: Pertama. Didalam ayat 2 ditegaskan tentang lebar maksimum dari zona tambahan tidak boleh melampaui dari 12 mil laut diukur dari garis pangkal. tempat atau garis itu adalah garis pangkal. Tempat atau garis dari mana lebar jalur tambahan itu harus diukur. dari garis pangkal dari mana lebar laut teritorial itu diukur. zona tambahan itu tidak boleh melebihi 24 mil laut. Kedua. 4. Lebar zona tambahan itu tidak boleh melebihi 24 mil laut. 2.

Keempat. Dalam ZEE. 5. maka secara praktis lebar zona tambahan itu adalah 12 mil (24-12) mil laut.89 Ketiga. instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum laut tentang Landas Kontinen dan ZEE. Oleh karena zona laut selebar 12 mil laut diukur dari garis pangkal adalah merupakan laut teritorial. Yurisdiksi untuk: (a) Mendirikan. Menetapkan dalam persetujuan-persetujuan dengan negara tetangga tentang batas-batas dan ZEE Indonesia yang mungkin tumpang tindih . (2) Hak meletakkan kabel dan pipa-pipa. instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan lainnya (Pasal 56 dan 60). 3. 2. (3) Kebebasan-kebebasan laut lepas yang disebut dalam pasal 88 sampai 115. (c) Perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. negara-negara lain mempunyai: (1) Kebebasan berlayar dan terbang. mengatur dan menggunakan pulaupulau buatan. Di ZEE. surplus perikanan yang tidak dimanfaatkan oleh negara pantai. itu diukur dari garis atau batas luar laut territorial. Indonesia mempunyai: 1. Hak dan kewajiban-kewajiban lain yang ditetapkan dalam konvensi. (b) Mengatur penyelidikan ilmiah kelautan. dengan kata lain zona tambahan selalu terletak diluar dan berbatasan dengan laut teritorial. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) Indonesia berhak dan telah menetapkan ZEE-nya selebar 200 mil dari garis-garis pangkal nusantara (Pasal 48 dan 57). Menetapkan batas terluar ZEE Indonesia dalam suatu peta yang disertai koordinat dan titik-titiknya. Hal ini tentu saja berbeda dengan laut teritorial dimana negara pantai di laut teritorial memiliki kedaulatan sepenuhnya dan hanya dibatasi oleh hak lintas damai. (4) Akses terhadap. Sovereign rights atas seluruh kekayaan alam yang terdapat di dalamnya. negara pantai hanya memiliki yurisdiksi yang terbats seperti yang ditegaskan dalam pasal 33 ayat 1 Konvensi Hukla 1982. Pada zona tambahan. Tindakan-tindakan yang diperlukan adalah: 1. 2. yang mencakup berbagai bidang yang ada hubungannya dengan kapal dan pelayaran.

Mengumumkan secara wajar pembangunan dan letak pulau-pulau buatan. 69. penentuan umur dan ukuran ikan yang boleh ditangkap dan lain-lain. agar sumber-sumber perikanannya tidak over-exploited demi untuk menjaga maximum sustainable yield. Mengatur dengan negara-negara yang bersangkutan regional/internasional yang atau dengan tentang organisasi-organisasi wajar . Indonesia harus menetapkan allowable catch dan sumber-sumber perikanan ZEE-nya (Pasal 61). penentuan jenis ikan yang boleh ditangkap. berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ada. terutama negara-negara tidak berpantai dan negara-negara yang secara geografis kurang beruntung. Indonesia sebagai negara pantai juga berkewajiban memelihara.90 dengan ZEE negara tetangga. Indonesia harus menetapkan its capacity to harvest dan memberikan kesernpatan kepada negara lain di kawasannya. untuk memanfaatkan the surplus of the allowable catch yang tidak dimanfaatkan oleh Indonesia (Pasal 62. dan 72 mengatur soal pemanfaatan surplus). 7. 5. 8. Mengumumkan dan mendepositkan copy dan peta-peta atau daftar koordinat-koordinat tersebut pada Sekjen PBB (Pasal 75). instalasi dan bangunan-bangunan lainnya. Untuk maksud-maksud ini. Untuk mencapai optimum utilization dan kekayaan alam tersebut. 4. 3. 70. serta safety zonenya dan membongkarnya kalau tidak dipakai lagi (Pasal 60 mengatur soal ini secara terperinci). Indonesia dirasa perlu bekerja sama dengan negara-negara lain yang berkepentingan dan dengan organisasi-organisasi internasional yang kompeten. 6. Untuk mengatur pemanfaatan kekayaan alam di ZEE. Batas-batas landas kontinen yang telah ditetapkan dengan negara-negara tetangga dalam berbagai persetujuan belum tentu dapat dianggap sama dengan batas ZEE. misalnya tentang izin penangkapan ikan. 71. Indonesia perlu mengeluarkan peraturan-peraturan perikanan yang diperkenankan oleh konvensi (Pasal 62 ayat 4). pembagian musim dan daerah penangkapan ikan. karena kedua konsepsi mi (ZEE dan landas kontinen) adalah 2 konsepsi yang berbeda dan masing-masing merupakan konsep yang sui generis.

91 pemeliharaan dan pengembangan sumber-sumber perikanan yang terdapat di ZEE 2 negara atau Iebih (shared stocks). Berlainan dengan hak negara pantai atas ZEE (yang memungkinkan surplus perikanan diambil oleh negara lain) hak-hak berdaulat negara pantai atas kekayaan alam. 6. Batas terluar dan landas kontinen di continental margin yang terletak di luar 200 mil ditetapkan maksimum 350 mil dan garis pangkal atau 100 mill dan kedalaman air 2500 meter. negara pantai harus menyumbangkan sebagian dan hasil kekayaan alam landas kontinen yang diambilnya di luar batas 20 mil kepada Badan Otorita Internasional yang akan didirikan. Tindakan-tindakan lanjutan yang perlu dilakukan oleh pemerintah RI adalah: . Besarnya sumbangan itu adalah 1 persen dan produksi mulai tahun ke-6 produksi dan kemudian setiap tahun naik dengan 1 persen sehingga kontribusi tersebut maksimum menjadi 7 persen mulai tahun produksi ke-12. highly migratory species dan memperhatikan ketentuan-ketentuan tentang marine mammals. landas kontinennya adalah exclusive dan tidak perlu dibagi-bagi dengan negara lain. Negara pantai harus menctapkan batas terluar dan continental marginnya jika continental margin tersebut berada di luar batas 200 mil. kecuali seperti tersebut di bawah. anadromous dan catadromous species dan sedentary species. Batas itu harus ditetapkan dengan garis-garis lurus yang masing-masing panjangnya tidak boleh lebih dari 60 mil. Landas Kontinen Negara pantai termasuk Indonesia berhak mempunyai landas kontinen di luar laut wilayahnya throughout the natural prolongation of its land territory to the outer edge of the continental margin atau sampai 200 mil dan garis-garis pantai (Pasal 76 ayat 1). Selanjunya dijelaskan. Batas itu dapat diperiksa oleh suatu Commission on the Limit of the Continental Shelf yang akan didirikan dan harus diumumkan dan didepositkan pada Sekjen PBB (Pasal 76 ayat 9). walaupun negara-negara yang bersangkutan belum memanfaatkannya.

2. Pengertian.92 1. 1985. S. pengamanan instalasiinstalasi. Jelaskan jalur-jalur laut Indonesia sebagai negara Kepulauan? 2. 1978. 4. terutama dengan Vietnam. Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global. 2005. Toto Pandoyo. 7/1973 kiranya harus diperbaharui untuk disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan baru landas kontinen mi. seperti: 1. Jika ada. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran keempat dilakukan dalam bentuk kuis diakhir perkuliahan yang dikemas dalam beberapa pertanyaaan. Dalam hal apakah ZEEI dapat dieksplorasi dan eksploitasi semaksimal mungkin oleh Indonesia? Daftar bacaan Boer Mauna. masalah-rnasalah perdata dan pidana di landas kontinen Indonesia. bea cukai. pemeliharaan lingkungan. Perlu ditata kembali UU/ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan penyelidikan ilniah. eksploitasi dan explorasi di landas kontinen serta penentuan jurisdiksi imigrasi. C. Indonesia harus menyelidiki apakah secara geologis Indonesia mempunyai continental margin di luar batas 200 mil. Hukum Laut Internasional. Wawasan Nusantara dan Implementasinya Dalam UUD 1945 Serta Pembangunan Nasional. Bandung: Binacipta. maka kita harus menetapkan batas tersebut sesuai dengan ketentuan-ketentuan konvensi dan mendepositkan peta disertai koordinat batas-batasnya pada Sekjen PBB dan International Authority (Pasal 84) yang pembentukannya pada waktu ini sedang dirundingkan. Mochtar Kusumaatmadja. Bandung: PT Alumni. Indonesia masih harus menyelesaikan batas landas kontinennya dengan negara-negara tetangga. Hukum Internasional. Juga UU Landas Kontinen Indonesia No. 3. . Philipina dan Malaysia di Kalimantan Timur. Australia. Jakarta: PT Bina Aksara.

Partisipasi dalam diskusi. yaitu garis air rendah di sepanjang pantai.93 BAB 6 BAHAN PEMBELAJARAN 5 A. Garis air rendah dan fringing reefs tersebut harus di perlihatkan dalam peta-peta yang diakui secara resmi oleh negara bersangkutan. Garis pangkal biasa. hlm. secara lurus tanpa mengikuti garis air rendah di pantai. negara pantai diperkenankan Mochtar Kusumaatmadja. delta. dan diskusi.”. (Bandung: Binacipta. Dalam hal ini garis air rendah dan fringing reefs (batu-batu karang) yang terluar juga dapat dipergunakan. kuliah interaktif. Kerjasama tim. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). yaitu garis lurus yang ditarik untuk menutup pantaipantai yang terlalu melekuk. bangunan-bangunan pelabuhan. Penguasaan individu. B. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu IV bahwa “Mahasiswa dapat menjelaskan berbagai macam garis pangkal yang dapat diterapkan oleh Indonesia sebagai negara kepulauan. 2. teluk. yaitu18: 1. Uraian: Ada bermacam-macam garis pangkal. 1978). 18 . Dalam hal-hal negara berdampingan atau berhadapan. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik. Garis pangkal lurus. Dalam hal:-hal mi. 2007. (Pasal 5 dan 6)... Hukum Laut Internasional. mulut sungai. 46-54. laut wilayah masing-masing perlu ditetapkan dengan perjanjian antara negara-negara tersebut (Pasal 15). Makassar: Fakultas Hukum Unhas. low-tide elevations. Roadsteds (tempat kapal-kapal buang jangkar di laut di depan pelabuhan) dianggap termasuk dalam laut wilayah. Lihat Juga Abdul Rasal Rauf. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait berbagai macam garis pangkal pada umumnya. Di luar laut wilayah. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning melalui small group work. garis dasar dapat ditarik.

yang diukur dan garis pangkal yang dipergunakan untuk mengukur laut wilayah. Innocent Passage melalui Laut Wilayah. ketertiban atau keamanan negara pantai. (b) Garis batas laut wilayah RI-Malaysia di pantai timur Kalimantan. guna mendukung ketentuan tersebut. Pemeliharaan lingkungan dan pencegahan polusi. Merundingkan penyelesaian batas laut wilayah Indonesia dengan negaranegara tetangga khususnya: (a) Garis batas segitiga RI-MalaysiaSingapura di selat Singapura. Perlindungan sarana bantu pelayaran dan fasilitas atau instalasi lainnya. Pasal 21 memperkenankan negara pantai untuk membuat undangundang/ketentuan-ketentuan tentang lintasan laut damai tersebut. Perlindungan kabel-kabel dan pipa-pipa di dasar laut. imigrasi dan kesehatan sesuai dengan Pasal 33. baik dengan ketentuan-ketentuan dalam laut wilayah maupun ketentuan ketentuan dalam negara-negara Nusantara. keuangan. . Oleh karena itu. Mendirikan/mengumumkan zone tambahan Indonesia untuk keperluankeperluan pengawasan pabean. (c) Garis batas laut wilayah RI-Philipina. Mendepositkan peta-peta dan koordinat-koordinat dan garis batas tersebut pada Sekjen PBB sesuai dengan Pasal 16 ayat 2. Kapal semua negara menikmati hak untuk lewat secara damai (innocent passage) melalui laut wilayah (Pasal 17) selama tidak membahayakan perdamaian. tetapi terbatas kepada hal-hal yang terperinci dalam pasal 21 tersebut yaitu: Keselamatan pelayaran dan lalu lintas laut. Pasal 19 memperinci tindakan-tindakan kapal yang lewat yang dapat dianggap membahayakan perdamaian. Pelestarian kekayaan hayati laut.94 mempunyai Lajur Tambahan (Contiguous Zone) sebesar 24 mil (12 mil di luar laut wilayah). ketertiban atau keamanan negara pantai tersebut. maka tindakantindakan yang perlu dilakukan adalah: Meninjau kembali garis-garis pangkal laut wilayah Indonesia dan menyesuaikannya dengan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi. Pencegahan pelanggaran ketentuan-ketentuan perikanan.

Menata kembali dan mengembangkan perundang-undangan Indonesia tentang innocent passage terutama tentang 8 hal tersebut di atas.Di mana perlu menetapkan sealanes dan TSS dan mengumumkan sealanes dan TSS yang telah ditetapkan melalui laut wilayah tersebut. - Untuk keselamatan pelayaran. Jika perlu RI boleh menangguhkan hak lalu lintas laut damai melalui laut wilayah tersebut pada waktu-waktu dan di bagian-bagian tertentu untuk keperluan keamanan. dan Pencegahan pelanggaran aturan-aturan pabean. Penangguhan mi baru berlaku setelah diumumkan (Pasal 25 ayat 3). 196-197. imigrasi dan kesehatan. Pasal 22 dan 23 mengatur cara-cara penetapan sealanes dan TSS melalui wilayah laut tersebut. Agoes. negara pantai juga boleh menetapkan sealanes dan traffic separation scheme (TSS) melalui laut wilayah dan mewajibkan kapal-kapal tertentu seperti tanker dan kapal yang digerakkan dengan tenaga nuklir atau membawa muatan nuklir untuk hanya lewat melalui sealanes tersebut. Rights Over Natural Resources: The Indonesian Experience. keuangan. Khusus bagi Indonesia sealanes dan TSS dalarn laut wilayah haruslah sinkron dengan sealanes dan TSS melalui perairan Nusantara.95 - Penyelidikan ilmiah dan survey hydrografis. 2002). Garis Pangkal Lurus Kepulauan Negara nusantara boleh menarik garis pangkal lurus nusantara yang menghubungkan titik-titik terluar dan pulau-pulau dan batu-batu karang yang terluar dan kepulauan tersebut dengan ketentuan-ketentuan seperti tersebut dalam Pasal 46 dan 4719. P. Perlu dicatat bahwa innocent passage melalui selat yang dipakai bagi pelayaran internasional tidak boleh ditangguhkan (Pasal 45 ayat 2). . . misalnya jika ada weapons exercises. (Bandung: Alumni.Mengumumkan dangers to navigation yang diketahui yang ada di laut wilayah. Tindakan-tindakan yang diperlukan diantaranya adalah: . .Mengumumkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan tentang halhal tersebut. Laut wilayah. landas kontinen dan 19 Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. 3. zone tambahan. .

Jadi negaranegara nusantara dapat menetapkan sealanes dan TSS melalui perairan nusantara tersebut. Perairan di sebelah dalarn dan GPLN yang mengelilingi kepulauan nusantara tersebut dinamakan perairan nusantara di mana pada umumnya berlaku ketentuan pelayaran innocent passage seperti dalam laut wilayah (Pasal 52 ayat 1). Dalam perairan nusantara itu. Pasal 53 mengatur tentang cara-cara penentuan sealanes dan TSS di perairan nusantara. negara nusantara seperti Indonesia rnasih diperkenankan menetapkan perairan pedalaman (internal waters) di mana hak innocent passage tidak diakui misalnya pada perairan-perairan mulut sungai. 4. Selama sealanes dan air routes belum ditetapkan maka hak lintas nusantara (archipelagic sealanes .96 ZEE Indonesia diukur ke laut dan garis pangkal lurus nusantara (GPLN) tersebut (Pasal 48). 5. 3. Indonesia harus mengakui traditional fishing rights dan “kegiatan-kegiatan lainnya yang sah” dari negara tetangga yang langsung berdekatan di bagian-bagian tertentu dan perairan nusantara. Seperti telah dipaparkan di muka. 2. Kapal-kapal semua negara mempunyai hak innocent passage untu1 melewati perairan nusantara. Semua kapal dan kapal terbang menikmati hak archipelagic sealane passage melalui archipelagic sea lanes dan air rutes di atas seaIane tersebut. bahwa di perairan nusantara negara-negara lain juga mempunyai hak-hak seperti: 1. dengan ketentuan bahwa hak innocent passage tersebut dapat ditangguhkan untuk sementara waktu di bagian-bagian tertentu karena alasan-alasan keamanan (suspendable innocent passage). Hak archipelagic sealanes passage adalah lebih longgar dari hak innocent passage dan kira-kira sama bebasnya dengan hak trantti passage melalui selat yang dipakai untuk pelayaran internasional. Axis dan sea/tines dan TSS tersebut harus diumumkan secara terbuka. Indonesia harus menghormati kabel-kabel laut yang sudah ada yang diletakkan oleh negara lain dan harus mengizinkan pemeliharaan/penggantian kabel-kabel tersebut. Indonesia harus menghormati existing agreements dengan negara-negara lain. teluk dan pelabuhan (Pasal 50).

khususnya Singapura. Karena Indonesia berwenang penuh atas perairan nusantara. Sampai sekarang hal-hal ini baru diselesaikan dengan Malaysia.97 passage) dapat dilaksanakan through the routes normally used for international navigation (Pasal 53 ayat 12). namun negaranegara tetangga mempunyai hak-hak tertentu di perairan Indonesia seperti traditional fishing rights dan other legitimate activities (Pasal 51 ayat 1). Untuk kewenangan Indonesia yang lebih kuat di perairan nusantara. maka untuk pembangunan Indonesia perlu diatur dan diambil tindakantindakan yang terkoordinir dan efektif dalam: a) Usaha-usaha untuk memanfaatkan kekayaan alam di laut. 6. dan diumumkan sesuai dengan ketentuan Pasal 53 Konvensi. ditetapkan. Untuk lebih meluaskan pengawasan dan pengamanan laut Indonesia maka sea/tines dan TSS dalam perairan nusantara dan laut wilayah perlu disiapkan. 4 Prp 1960 dan PP No. 8/1962 tentang innocent passage melalui perairan Indonesia. 2. hal ini masih harus dirundingkan dan diatur. baik perikanan maupun pertambangan. . Memeriksa kembali titik-titik terluar dan pulau-pulau atau batu-batu karang kering Indonesia yang terluar apakah sudah cocok dengan ketentuan-ketentuan Konvensi sebagai titik-titik tenluar dan garis-ganis pangkal Indonesia dan menggambarkan titik-titik ganis pangkal tensebut dalam peta yang wajar atau membuat tersebut daftar dan koordinatnya. Dengan negara-negara tetangga yang lain. 5. Semua hal-hal di atas memerlukan review dan re-adjustment dan UU No. kiranya Indonesia perlu merumuskan dan menetapkan perairan-perairan pedalaman (internal waters) dalam perairan nusantara tersebut sesuai dengan Pasal 50. 4. Tindakan-tindakanyang diperlukan untuk mendukung hal ini adalah: 1. Walaupun Indonesia mempunyai kedaulatan atas perairan nusantara dan semua kekayaan alam yang terdapat di dalamnya. 3. mendepositkan mengumumkan peta-peta/koordinat copynya pada Sekjen PBB sesuai dengan Pasal 47.

4. a. d) Usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan keselamatan pelayaran. c) Usaha-usaha dan izin untuk melaksanakan penyelidikan ilmiah. garis pangkal untuk mengukur lebar laut territorial adalah garis penutup teluk. Garis Penutup Muara Sungai. dan Kuala Pada muara sungai atau terusan. 20 . garis pangkal untuk mengukur lebar laut territorial adalah garis penutup muara sungai atau terusan. f) Usaha-usaha untuk mengatur dan membagi yuridiksi pengadilan atas wilayah laut Indonesia. yang dibedakan kedalam garis penutup teluk.98 b) Usaha-usaha peningkatan penegakan hukum dan kedaulatan di laut. Garis Penutup Dalam konteks garis pangkal kepulauan dilakukan dengan menggunakan garis penutup. Apabila pada teluk terdapat pulau-pulau yang membentuk lebih dari satu muara teluk. e) Usaha-usaha pemeliharaan lingkungan laut Indonesia. penyelidikan oceanologis dan hydrografis. garis penutup muara sungai. Dalam hal ini. garis penutup muara sungai atau terusan dimaksud ditarik antara titik terluar pada garis air rendah yang menonjol dan berseberangan. maka jumlah panjang garis penutup teluk dari berbagai mulut teluk maksimum 24 mil laut. dan garis penutup pada pelabuhan.20 Garis penutup teluk yang dimaksud adalah garis lurus yang ditarik antara titik titk teluar pada garis air rendah yang paling menonjol dan berseberangan pada muara teluk. Dalam hal garis Lihat Pasal 6 PP Nomor 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia telah diubah dengan PP No. Terusan. garis penutup teluk tersebut adalah seluas atau lebih luas dari pada luas ½ lingkaran tengahnya adalah garis penutup yang ditarik pad muara teluk. Garis Penutup Teluk Pada lekukan pantai yang berbentuk teluk. b. terusan dan kuala. g) Usaha-usaha untuk menata kembali dan melengkapkan perundangundangan Indonesia di bidang kelautan. 37 tahun 2008 tentang Daftar Koordinat Titiktitik garis pangkal kepulauan Indonesia (Maore masuk dalam titik 35 dan 36 sedangkan Miangas dalam titik 38 dan 39).

Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Bandung: Alumni. 37 tahun 2008 tentang Daftar Koordinat Titiktitik garis pangkal kepulauan Indonesia (Maore masuk dalam titik 35 dan 36 sedangkan Miangas dalam titik 38 dan 39). 21 . Bandung: Binacipta. 1978. yang meliputi bangunan permanen terluar yang merupakan bagian integral sistem pelabuhan sebagai bagian dari pantai. seperti: 1. Makassar: Fakultas Hukum Unhas. 2. 37 tahun 2008 tentang Daftar Koordinat Titiktitik garis pangkal kepulauan Indonesia (Maore masuk dalam titik 35 dan 36 sedangkan Miangas dalam titik 38 dan 39).21 c. Rights Over Natural Resources: The Indonesian Experience. Daftar Bacaan Abdul Rasal Rauf. Garis lurus dimaksud ditarik antara titik-titik terluar pada garis air rendah pantai dan titik-titik terluar bangunan permanen terluar yang merupakan bagian integral system pelabuhan. Lihat Pasal 7 PP Nomor 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia telah diubah dengan PP No. Praktek Indonesia dalam penerapan Garis Pangkal Lurus Kepulauan. Garis Penutup Pelabuhan Pada daerah pelabuhan. Hukum Laut Internasional. garis pangkal untuk mengukur lebar laut territorial adalah garis-garis lurus sebagai penutup daerah pelabuhan. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran kelima dilakukan dalam bentuk makalah dengan merumuskan beberapa judul/topik. Kontroversi penerapan Garis pangkal normal dan garis pangkal lurus kepulauan dalam praktek negara-negara.99 lurus tidak dapat diterapkan karena adanya kuala pada muara sungai. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). Agoes. 2007. 2002. 22 Lihat Pasal 8 PP Nomor 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia telah diubah dengan PP No. Mochtar Kusumaatmadja. sebagai garis penutup kuala dipergunakan garis-garis lurus yang menghubungkan antara titik-titik kuala dengan titik-titik terluar pada air garis rendah tepian muara sungai.22 C.

1. ketepatan menggunakan teori dalam menganalisis fakta terkait lintas pelayaran serta partisipasi individual dalam diskusi kelas. Kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu kemampuan mengemukakan dan menjelaskan fakta mengenai lintas pelayaran. 2.100 BAB 7 BAHAN PEMBELAJARAN 6 A. merupakan pokok sengketa yang fundamental dalam masalah penggunaan laut. studi kasus dan diskusi kelas. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan bagi peserta didik: 1. Hak lintas alur laut kepulauan. Hak lintas damai. dan 3. zaman dahulu dapat dikatakan hanya ada satu pola pandangan terhadapa kegunaan laut sebagai alat transportasi dan komunikasi. Selanjutnya. B. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu ke 6 bahwa mahasiswa dapat menjelaskan pengaturan hukum tentang lintas pelayaran internasional di wilayah perairan Indonesia. Sasaran pembelajaran hendak dicapai dengan strategi pembelaran berupa kuliah interaktif. kehadiran kapal-kapal asing pada jalur-jalur perairan sepanjang pantai menimbulkan suatu akibat yang menganggu kedudukan negara pantai sebagai . HAK LINTAS DAMAI Perluasan jurisdiksi nasional atas laut dan tantangan yang timbul terhadap hal tersebut dari negara–negara maritim yang ingin mempertahankan prinsip keebebasan dilautan. Uraian Untuk itu uraian selanjutnya akan memberi gambaran tentang bagaimana ketentuan-ketentuan Konvensi Hukum Laut 1982 mengatur ketiga jenis hak lintas bagi kapal-kapal asing tersebut secara umum. Hak lintas transit. mengidentifikasi ketiga jenis pengaturan tersebut dengan selat-selat yang berada dalam perairan Indonesia.

Kebijakan umum yang berkembang kemudian adalah untuk sedapat mungkin untuk mengadakan pembatasan terhadap kehadiran atau kapal-kapal asing pada wilayah laut yang terletak berdampingan dengan pantai suatu negara.101 suatu negara yang berdaulat. karena gagal mencapai dukungan mayoritas suara yang diperlukan. serta dasar laut dan tanah dibawahnya. Salah satu kelemahan atau kegagalan KHL I ini adalah bahwa rejim hak lintas damai yang dihasilkannya dianggap tidak memadai untuk dipakai mengatur pelayaran didunia dewasa ini. Pada KHL I di Jenewa tahun 1958. Rancangan Pasal 24 tentang lintas bagi kapal perang ini ditolak. termasuk ruang udara diatasnya. dua kepentingan yang berada tersebut akhirnya dicoba untuk diselesaikan melalui rumusan pasal–pasal 14 s/d 23 dari KHL I tentang Laut Teritorial dan jalur tambahan (untuk selanjutnya disebut sebagai Konvensi Laut Teritorial 1958). dalam bentuk aturan umum tentang hakhak kapal asing. Oleh karenanya hak lintas damai bagi kapal perang tidak akan dapat ditemui dalam naskah konvensi. Sayangnya. Namun. . Rancangan Pasal-pasal yang dihasilkan oleh Konperensi ini kemudian dipakai oleh panitia Hukum Internasional sebagia rancangan pasalpasal untuk disampaikan pada Konprensi laut hukum Jenewa 1958 . kedaulatan Negara pantai ini masih dibatasi oleh ketentuan–ketentuan Konvensi itu sendiri maupun ketentuan-ketentuan hukum Internasional lainnya. Sebetulnya masalah lintas bagi kapal perang melalui laut terrtorial suatu negara telah menjadi bahan pembicaraan pada konferensi Kodifikasi Deg Haag tahun 1930. yaitu pemberian suatu hak kepada kapal-kapal asing untuk melintasi wilayah laut yang berada dalam juridiksi (dan dengan demikian kedaulatan) suatu negara dengan pembatasan–pembatasan tertentu. Kompromi yang dihasilkan dari adanya pertentangan diantara dua kepentingan yang sama kuatnya ini akhirnya melahirkan suatu doktrin baru yang lahir dalam bentuk konsepsi lintas damai. Ketentuan tersebut juga merumuskan wewenang yang diberikan kepada negara pantai untuk mengatur pelaksanaannya. terutama karena konfrensi tidak berhasil merumuskan ketentuan-ketentuan tentang lintas oleh kapal perang. Konvensi Jenewa tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan 1958 telah memperkuat kedaulatan negara pantai atas laut territorialnya.

yaitu selat yang terletak antara suatu pulau dan daratan utama Nnegara yang berbatasan dengan selat. Kapal-kapal dagang dan kapal-kapal pemerintah yang dioperasikan untuk tujuan komersil (pasal 27 – 28). Bagian II) juga berlaku pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. Satu-satunya ketentuan mengenai Hak lintas damai bagi kapal–kapal asing melalui selat yang digunakan untuk pelayaran Internasional secara umum diatur dalam pasal 45. Menurut kententuan Pasal 45 selanjutnya. yang apabila pada sisi kearah laut pulau itu terdapat suatu rute melalui laut lepas atau melalui suatu zona ekonomi ekslusif yang sama fungsinya bertalian denga sifat-sifat navigasi dan hidrografis (untuk selanjutnya akan disebut sebagai “selat dengan kategori Pasal 38 ayat 1)”. 2.Selat yang dikecualikan dari ketentuan Pasal 37. Ketentuan– ketentuan tentang hak lintas damai dalam Konvensi Hukum Laut 1982 tetap mempertahankan bentuk yang sama seperti dalam Konvensi Jenewa tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan 1958. Akibatnya Konvensi Jenewa tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan 1958 ini tidak memuat satu ketentuan apapun tentang lintas damai bagi kapal perang.102 Menurut Mochtar Kusumaatmadja. atau sedikit-dikitnya harus terlebih dahulu memberitahukan maksudnya tersebut kepada negara pantai. hak lintas damai ini hanya dapat diterapkan pada: (1). naskah Pasal 24 ini sebenarnya berisi ketentuan yang menetapkan bahwa kapal perang asing yang hendak lewat di laut territorial. yang menetapkan bahwa kertentuan-ketentuan tentang hak lintas damai di laut territorial (seksi 3. . Selat –selat yang terletak antara bagian laut lepas atau zona ekonomi ekslusif dan laut territorial suatu Negara asing (untuk selanjutnya akan disebut sebagai “selat dengan kategori Pasal 45 ayat 1(b)”). dan (3) kapal–kapal perang dan kapal–kapal pemerintah lainnya yang dioperasikan untuk tujuan non-komersial (pasal 29-32). terlebih dahulu memerlukan izin Negara pantai. dengan membedakan pengaturan bagi kapalkapal asing ke dalam tiga kategori : (1) (2) Semua jenis kapal (pasal 17 – 26). Ketentuan diatas menetapkan juga bahwa hak lintas damai dapat diterapkan pada selat-selat dimana lintas transit tidak berlaku.

lintasan dianggap membahayakan perdamaian. (7). good order or security of the coastal state. Peluncuran. Kegiatan riset atau survey. mata uang atau orang secara bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. atau dengan cara lain apapun yang merupakan pelanggaran asas hukum internasional sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB. keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara pantai. imigrasi atau saniter Negara pantai. Setiap ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan. (2).103 a. . pendaratan atau penerimaan setiap peralatan dan perlengkapan militer. Setiap perbuatan propaganda yang bertujuan mempengaruhi pertahanan dan keamanan negara pantai. (11). Arti dan Maksudnya Dalam konvensi Jenewa tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan 1958. Peluncuran. Setiap perbuatan propaganda yang bertujuan mempengaruhi pertahanan dan keamanan Negara pantai. Perbedaanya baru dapat ditemukan dalam bagian berikutnya yang merinci tentang kegiatan kegiatan yang dianggap tidak damai. ketertiban dan keamanan Negara pantai. pendaratan atau penerimaan setiap pesawat udara diatas kapal. (6). Setiap perbuatan yang bertujuan mengganggu setiap system komunikasi atau setiap fasilitas atau instalasi lainnya Negara pantai. Konsepsi yang sama masih dapat ditemukan dalam pasal 19 dari Konvensi Hukum Laut 1982. kriteria damai bagi suatu lintasan ditetapkan sebagai so long as it not prejudicial to the peace. Setiap latihan atau praktek dengan senjata macam apapun. (8). Bongkar atau muat setiap komoditi. bea cukai. (3). Setiap perbuatan pencemaran dengan sengaja dan parah yang bertentangan dengan ketentuan Konvensi ini. fiskal. (5). Setiap kegiatan perikanan. adalah sebagai berikut: (1). (10). Menurut pasal 19 ayat 2. (4). (9).

ketentuan yang paling akhir (Pasal 19 ayat 2(1)). Disamping itu. Meskipun usaha untuk lebih memantapkan ketentuan-ketentuan tentang lintas damai ini ditujukan untuk mendapatkan pengaturan yang lebih objektif. Pasal 19 ayat 2 ini lebih menegaskan hubungan antara kegiatan-kegiatan tersebut dengan Negara pantai. memberikan suatu formula tentang sifat damai dari suatu lintasan sebagai tidak Prejudical to the peace. Formula ini menurut Burke memerlukan perubahan yang more precise and less susceptible to the discretionary power of the coastal state. Setiap kegiatan lainnya yang tidak berhubungan langsung dengan lintasan. Pasal 14 konvensi jenewa tentang Laut territorial dan Jalur Tambahan 1958. Dibandingkan dengan ketentuan pasal 14 tersebut diatas. Kegiatan-kegiatan yang dilarang tersebut diatas ditujukan untuk mencegah kegiatan–kegiatan yang berbau militer. kecuali sesuai dengan ketentuan tentang kekecualian ini. Mengadakan diskriminasi formal atau diskriminasi nyata terhadap kapal yang mengankut muatan ke. Formula ini mengehendaki suatu pembuktian oleh Negara pantai bahwa lintasan yang akan dilakukan dapat merugikan Negara pantai. dari atau atas nama negara mana pun. Hal yang terakhir ini dapat dilakukan pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. dapat menimbulkan tafsiran yang subjektif. Negara pantai tidak dibenarkan untuk : (1). Dengan demikian satu-satunya wewenang yang tinggal pada negara pantai dalam hal ini adalah untuk mengambil langkah langkah yang diperlukan untuk . melalui suatu pedoman dalam bentuk daftar kegiatan yang dapat dipakai oleh Negara pantai untuk menentukan tentang sifat damai dari suatu lintasan oleh kapal asing. Konvensi Hukum laut 1982 juga menjamin hak lintas damai bagi semua jenis kapal. Menetapkan persyaratan-persyaratan bagi kapal asing yang secara praktis akan mengakibatkan penolakan atau paengurangan atas hak lintas damai.104 (12). Pasal 24 membebani Negara pantai dengan suatu kewajiban untuk tidak menolak dan menghalangi lintas damai. atau (2). good order or security of the coastal state.

dan pencegahan pengurangan dan pengendalian pencemaran. kontruksi. (2). fiskal. Kewajiban-kewajiban yang terdapat dalam padal 24. Pencegahan pelanggaran peraturan perundang-undangan Negara pantai dibidang bea cukai. (5). Seperti telah diuraikan di atas adalah kurang tepat untuk menganggap penangguhan sebagai salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh negara pantai. Keselamatan pelayaran dan pengaturan lalu-lintas maritim. kecuali kalau hal tersebut dilakukan sebagai pelaksanaan dari suatu peraturan atau standar internasional yang diterima secara umum. (7). Lalu. (2). pengawakan atau peralatan kapal-kapal asing. Konservasi kekayaan hayati laut. (8). Pencegahan negara pantai. pelanggaran peraturan perundang-undangan perikanan Menurut Pasal 22 negara pantai juga diberi wewenang untuk menetapkan alur-alur laut dan skema pemisah lalu-lintas. Konvensi sendiri tidak memberikan suatu batasan atau pedoman pelaksanaan bagi ketentuan tersebut. mengenai: (1).105 mencegah lintasan yang tidak damai. Peraturan perundang-undangan tersebut tidak boleh mengatur tentang desain. Penelitian ilmiah kelautan dan survey hidrografi. Perlindungan atas sarana bantu navigasi dan fasilitas navigasi serta fasilitas – fasilitas dan instalasi lainnya. apa saja yang dapat dilakukan oleh negara pantai? b. Hak dan kewajiban Negara Pantai Pasal 21 memberi wewenang kepada negara pantai untuk menyusun peraturan perundang-undangannya. imigrasi dan saniter. Pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional jelas hal itu tidak diperkenankan. (4). Perlindungan kabel dan pipa laut. Pelestarian lingkungan negara pantai. Wewenang yang diberikan kepada Negara pantai tersebut dibatasi dalam beberapa hal yaitu : (1). (3). (6). Juga bagi tanker-tanker dan kapal- . Ketentuan ini ditujukan utnuk mencegah agar Negara pantai tidak menetapkan suatu standar bagi bentuk atau jenis kapal dan tidak memaksakan suatu persyaratan bagi pengawakannya.

Negara pantai dapat mencegah pelaksanaan lintas tadi. Dalam hal penetapan alur laut dan skema pemisah lalu lintas untuk pelaksanaan hak lintas damai ini. Disamping hal-hal tersebut diatas. Rekomendasi yang diberikan oleh organisasi internasional yang berwenang. yaitu bahwa Negara pantai diminta untuk memperhatikan.106 kapal yang mengangkut bahan-bahan nuklir. (1). Kewajiban kapal pada waktu melakukan lintasan Pada garis besarnya kewajiban kapal pada waktu melakukan lintasan sudah tercakup dalam pengertian lintasan damai yang diberikan oleh pasal 19 ayat 1. jadi bukan . Peraturan perundang-undangan tersebut meliputi antara lain pengaturan tentang keselamatan pelayaran. Apabila suatu kapal melakukan perbuatan yang apabila dihubungkan dengan pengertian lintas damai tersebut diatas merupakan suatu pelaggaran terhadap ketentuan tersebut. Di samping itu setiap kapal yang sedang melakukan lintasan wajib untuk mematuhi peraturan perundangundangan Negara pantai yang ditetapkan untuk melaksanakan hak lintas damai tersebut. Negara pantai juga tidak dibenar–benarkan untuk membeda-bedakan kapal-kapal asing satu sama lainnya negara pantai diwajibkan untuk mengumumkan secara tepat segala hal yang diketahuinya akan membahayakan pelayaran.dan Kepadatan lalu lintas. c. seperti tercantum pada ayat–ayatnya. dapat mewajibkan untuk menggunakan alur-alur laut yang ditetapkan khusus untuk itu. alur-alur laut dan skema pemisah lalu-lintas. ada satu hal yang cukup menarik. atau bahan-bahan yang berbahaya lainnya. (2). pencemaran. Akan tetapi apabila perbuatan yang dianggap suatu pelanggaran tersebut tidak ada kaitannya dengan ketentuan tentang pengertian lintas damai. Negara pantai juga dibebani dengan kewajiban untuk menjaga agar pelaksanaan hak lintas damai oleh kapal-kapal asing tersebut tidak dikurangi atau dihalangi oleh peraturan perundang–undangan atau persyaratan–persyaratan yang ditetapkan oleh negara pantai. yang kemudian secara rinci digambarkan dalam bentuk kegiatan–kegiatan yang terlarang. sifat-sifat khusus dari kapal-kapal dan alur-alur terterntu. (3) (4) Setiap alur yang biasa digunakan untuk pelayaran internasional.

ketentuan–ketentuan konvensi itu sendiri. apabila pada tahun 1958 Konperensi Hukum Laut I masih ragu–ragu untuk membicarakan masalah itu. Negara pantai tidak mempunyai hak untuk mencegahnya. Selain dari itu. Konvensi Hukum laut 1982 memberikan perhatian yang cukup untuk membicarakan masalah hak lintas bagi kapal perang. Meskipun kapal–kapal perang mempunyai imunitas yang dijamin oleh konvensi ini. maupun terhadap peraturan perundang-undangan negara pantai pada umumnya.107 merupakan hal yang dilarang oleh ketentuan pasal 19 ayat 2. bertanggung jawab atas segala kerugian atau kerusakan yang diderita oleh negara pantai. dan mengibarkan benderanya. Kapal selam serta alat-alat angkut dibawah air lainnya diharuskan untuk berlayar dipermukaan air. Kapal – kapal bertenga nuklir dan kapal-kapal yang mengangkut bahan–bahan nuklir maupun bahan– bahan lainnya dapat diminta untuk berlayar melalui alur laut yang ditetapkan khusus untuk itu. Yang diakibatkan oleh tidak dipatuhinya peraturan perundang– undangan tersebut. Ketentuan tersebut tampaknya disediakan untuk mengakomodasikan kekhawatiran Negara pantai akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kapal–kapal jenis demikian. Disamping itu. namun tidak lepas dari kewajiban untuk mematuhi peraturan perundang-undangan Negara pantai tentang pelaksanaan hak lintas damai. maupun ketentuan– ketentuan hukum internasional lainnya. Negara mantai mempunyai wewenang untuk memerintahkan kapal tersebut untu meninggalkan laut teritorialnya (yang dalam hal ini selat). . Konvensi Hukum Laut 1982 menjamin hak lintas damai bagi semua jenis kapal asalakan kapal yang melakukan lintasan tersebut tidak melakukan salah satu perbuatan yang dilarang oleh pasal 19 ayat 2 (b). apabila terbukti suatu kapal perang melakukan pelanggaran terhadap peraturan tersebut. Berbeda dengan konvensi Jenewa tentang laut territorial dan jalur tambahan 1958. Negara bendera dari kapal perang atau kapal pemerintah yang dioperasikan untuk tujuan yang non komersial. dapat mengakibatkan penggusiran kapal tersebut dari laut territorial atau selatnya. maka keragu-raguan tersebut berhasil dihapuskan dalam konperensi Hukum Laut III. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut khususnya. Meskipun telah diberi peringatan terlebih dahulu. khususnya mengenai latihan atau praktek dengan menggunakan senjata macam apapun.

Negara pantai mempunyai hak untuk mencegah lintasan yang tidak damai Tidak ada penangguhan terhadap pelakasanaan hak lintas damai pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. Kesimpulan Dari uraian tersebut dinatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri utama dari hak lintas damai bagi kapal asing pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional adalah: (1). meskipun telah diberi peringatan. Kapal selam harus berlayar dipermukaan air. Negara pantai mempunyai wewenang terbatas untuk mengatur lintas damai. (6). d. menurut pasal 22 apabila dianggap perlu Negara pantai dapat menetapkan alur laut khusus bagi lintasan oleh kapal nuklir dengan alasan untuk menjamin keselamatan pelayaran. HAK LINTAS TRANSIT Hak lintas transit bagi kapal-kapal melalui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional diatur dalam seksi 2 dari bagian III (pasal 37-44). hak lintas transit hanya diatur oleh Seksi 2 ini saja. (2). Namun dalam hal ini. .108 Konvensi hukum laut 1982 ini dengan demikian telah berhasil menetapkan sesuatu pengaturan yang lebih jelas tentang pelaksanaan hak lintas damai. (5). (4). (3). Sebagai contoh misalnya. Satu hal yang masih belum jelas dalam hal ini adalah cara pelaksanaan hak tersebut dengan memperhatikan hak serta peraturan perundang–undangan negara pantai. dan negara pantai tidak dibenarkan untuk mengurangi atau menghalangi pelaksanaan hak tersebut. Berlainan dengan hak lintas damai yang diatur oleh Bagian lain tentang lintas melalui laut territorial. Lintasan oleh kapal asing dianggap sebagai lintas damai selama tidak melakukan kegiatan–kegiatan yang dicantumkan dalam pasal 19 ayat 2. 2. Negara pantai dapat meminta kapal perang untuk meniggalkan selat apabila terbukti melakukan pelanggaran. negara pantai tidak dapat mencegah kapal tersebut untuk melaukan lintasan.

ruang lingkup berlakunya ketentuan-ketentuan ini dikecualikan bagi : (1). strategis maupun ekonomis. dan Selat-selat yang termasuk dalam kategori Pasal 45 ayat 1(b). . Selat–selat yang termasuk dalam kategori Pasal 38 ayat 1. b. Arti dan maksudnya Pasal 38 ayat 2 memberi pengertian tentang lintas transit sebagai pelaksanaan dari kebebasan pelayaran dan penerbangan berdasarkan bagian ini. berlaku hak lintas damai. Terlebih-lebih karena pada arah laut tersedia rute yang sama fungsinya dilihat dari segi navigasi dan hidrografis. Perlu diperhatikan bahwa yang dimaksudkan dengan convenience disini adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat-sifat navigasi dan hidrografis. maupun bagi selat dengan kategori kedua. Pasal 34 mengakui bahwa selatr yang digunakan untuk pelayaran internasional berada dibawah kedaulatan penuh dari Negara pantai. disamping juga pasal 39 yang menetapkan bahwa kapal dan pesawat udara harus mematuihi ketentuan–ketentuan dari bagian ini. transit passage shall not apply if there exist seaward of the island a route through an exclusive economic zone of similar convenience with respect to navigantional and hydrographical characteristics”. yaitu bahwa pada selat yang : “…. Adalah kurang tepat untuk memberlakukan lintas transit bagi selat yang termasuk ke dalam kategori pasal 38 ayat 1. khususnya Pasal 37 yang menetapkan bahwa: “This Section applies to straits which are used for international navigation between one part of the high seas or an exlusive economic zone and another part of the high seas or an exlusive economic zone.” Pemisahan pengaturan tentang lintas transit ini juga tampak dalam ketentuan pasal 34 yang menggambarkan dengan jelas perbedaan antara lintas damai dan lintas transit. (2).Formed by an island of a State bordering the strait and its mainland. meskipun demikian lintasan melalui wilayah perairan tersebut harus tunduk pada ketentuan-ketentuan bagian ini.109 a. yaitu yang terletak diatara laut lepas atau zona ekonomi ekslusif denga laut territorial suatu negara. Ruang Lingkupnya Perbedaan antara hak lintas transit dan hak lintas damai akan segera terlihat dengan jelas dalam ketentuan–ketentuan Seksi 2. Jadi apabila tidak tepat apabila ada Negara pemakai selat yang mengkehendaki diberlakukannya lintas transit karena alasanalasan militer. Bagi selat demikian.

dan harus mematuhi ketentuan-ketentuan untuk memasuki negara tersebut. karena masih dimungkinkan juga berlakunya rejim lintas damai selama lintasan tersebut bukan merupakan salah satu dari ketiga bentuk lintasan tersebut diatas. Perlu diperhatikan bahwa untuk dapat disebut sebagai suatu lintas transit. Persyaratan tersebut tidak menutup kemungkinan bagi kapal–kapal atau pesawat udara asing yang mempunyai maksud untuk memasuki. dan (3). maupun kewajiban untuk meminta izin maupun memberitahukan terlebih dahulu. dalam lintas transit tidak ada keharusan untuk meminta izin maupun memberitahukan terlebih dahulu. langsung dan secepat mungkin. Lintasan melalui selat tanpa berhenti dari kedua arah. Lintasan dari Negara pantai melalui sebagian dari selat menuju ke laut lepas atau zona ekonomi ekslusif. tidak terdapat persyaratan– persyaratan untuk pelaksanaan lintas itu sendiri. . Lintasan melalui sebagaian dari selat untuk memasuki atau meninggakkan Negara pantai.110 semata-mata untuk tujuan transit yang terus-menerus. suaut lintasan harus dimulai dan/atau berakhir pada satu bagian dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa pada selat demikian hanya berlaku rejim lintas transit saja. Oleh karena itu untuk dapat dianggap sebagai lintas transit. Dengan demikian lintas transit berlaku juga bagi kapal-kapal perang maupun pesawat udara militer. Dengan demikian lintas transit hanya berlaku untuk : (1). meninggalkan atau kembali dari suatu negara yang berbatasan dengan selat tersebut. faktor utama yang menentukan adalah kedudukan selat sebagai perairan yang menghubungkan satu bagian dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif dengan bagian dari lain dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif. (2). pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional yang menghubungkan dua wilayah laut sebagaimana yang digambarkan dalam pasal 37. Demikian juga. Berbeda dengan lintas damai. untuk lintas transit tidak ada perbedaan pengaturan berdasarkan jenis kapal. pasal 38 ayat 1 menjamin lintas perbedaan berdasarkan jenis ataupun kategori. Meskipun demikian. Disamping itu.

(3).111 c. Karena hak lintas transit ini merupakan pelaksanaan dari kebebasan pelayaran. yang dalam pelaksanaannya akan member akbit praktis sebagai penolakan. Pencegahan. konvensi membebani negara pantai yang berbatasan dengan selat (Negara tepi selat) suautu kewajiban untuk tidak menghambat lintas transit. fiskal imigrasi atau seniter. Ketentuan–ketentuan pokok tentang hak negara pantai untuk menetapkan peraturan perundang-undangan tentang lintas transit tercantum dalam pasal 42. dengan persyaratan–persyaratan sebagai berikut : . Disamping itu negara pantai juga harus mengumumkan dengan tepat setiap adanya bahaya bagi pelayaran maupun penerbangan yang diketahuinya. Keselamatan pelayaran dan pengaturan lalu-lintas dilaut sebagaimana ditentukan oleh pasal 41. Wewenang lain yang diberikan kepada Negara pantai adalah untuk menetapkan alur-alur laut dan skema pemisah lalu-lintas pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. dan pengendalian pencemaran dengan melaksanakan peraturan internasional yang berlaku tentang pembuangan minyak. pengurangan. (4). yang terbatas hanya pada hal–hal sebagai berikut : (1). yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dari Negara tepi selat tentang bea cukai. Di samping pembatasan-pembatasan tersebut diatas. penghambatan atau pengurangan pelaksanaan hak lintas transit. Hak dan kewajiban Negara Pantai Sesuai dengan ketentuan padal 44. Meneaikkan keatas kapal atau menurunkan dari kapal setiap komoditi. Bagi kepala penangkap ikan. negara pantai tidak diperkenankan untuk menangguhkan pelaksanaannya. (2). mata uang atau orang. limbah berminyak dan bahan beracun lainnya di selat. Negara pantai juga dikenakan persyaratan untuk tidak melakukan diskriminasi secara formal maupun nyata diatara kapal–kapal asing. pencegahan penangkapan ikan termasuk cara penyimpanan alat penangkap ikan.

Setiap penentuan atau pergantian alur laut dan skema pemisah lalulintas harus berdasarkan penerimaan oleh organisasi internasional yang berwenang dan disepakati bersama dengannya. terutama setelah ketiga negara tepi selat tersebut berhasil mencapai persetujuan bersama untuk mengatur lalu-lintas pelayaran pada wilyah tersebut. yang disampaikan pada sidang keenam Konperensi sebelum dikeluarkannya naskah ICNT pada tahun 1977. yang meskipun tidak termasuk ke dalam seksi 2 dari bagian III ini. .112 (1). Harus sesuai dengan peraturan internasional yang diterima secara umum. dan ketentuan Konvensi Hukum Laut 1982 tentang perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. (3). Sesuai dengan ketentuan pasal 236. Pasal 236 memberikan jaminan hak kekebalan (imunitas) bagi kapal-kapal perang dan kapal-kapal lainnya serta pesawat udara pemenrintah yang dioperasikan untuk tujuan yang non komersial. (2).5 meter bagi kapal–kapal yang akan melintasi selat tersebut. Pada sidang Konperensi Hukum Laut III yang ke 11 tahun 1982. untuk memaksakana penataan oleh kapal-kapal asing terhadap peraturan perundang-undangan negara pantai mengenai keselamatan pelayaran dan pencegahan serta pengawasan pencemaran yang dibuat sesuai dengan ketentuan Pasal 42 ayat 1 (a) dan (b). antara lain dengan menetapkan UKC (Under Keel Clearance) setinggi 3. Khususnya mengenai tindakan-tindakan pencegahan pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. ketentuan pasal 233 tersebut tidak berlaku bagi kapal perang. Pasal ini merupakan hasil usaha dari Malaysia yang didukung oleh Indonesia da Singapura. Usul ini diaujukan oleh Malaysia mengingat pentingnya pengaturan seperti itu bagi Selat Malaka – Singapura. Harus mencantumkannya secara jelas pada peta yang diumumkan sebagai mestinya. Pasala 233 ini pada pokoknya memberikan wewenang pada negara pantai yang berbatasan dengan selat yang digunakana utntuk pelayaran internasional. ketiga negara menegaskan lagi pentingnya hal tersebut yang kemudian juga mendapatkan dukungan dari beberapa Negara maritim. adalah ketentuan Pasal 233.

refrain from any activities other than those incident to their normal modes of continous and expeditious transit unless rendered necessary by force majeure or by distress. Disamping itu juga tidak . d.menguraikan secara rinci rangkaian kewajiban yang harus dipenuhi tersebut. Pokok kedua menetapkan kewajiban bagi kapal-kapal dan pesawat udara untuk mengihindarkan diri dari penggunaan ancaman kekerasan atau kekerasan dalam bentuk apapun dalam bentuk kedaulatan. Disamping itu kapal-kapal perang juga dianggap bukan merupakan jenis kapal yang dapat membahayakan lingkungan laut. Selain dari itu dikhawatirkan bahwa apabila ketentuan tersebut diterapkan kepada kapal-kapal perang.113 Pasal 236 ini disusun dengan beberapa alasan. Hal ini sudah barang tentu merupakan suatu hal yang tidak dikehendaki untuk terjadi pada kapal-kapal perang. (c). Kewajiban kapal pada waktu melakukan lintasan Kewajiban kapal-kapal dan pesawat udara pada waktu melaksanakan lintas transit diatur oleh Pasal 39 dan 40 Pasal 39 . (d). Ketentuan–ketentuan tersebut di atas adalah ketentuan-ketentuan yang berlaku umum baik bagi kapal-kapal maupun pesawat udara. kepada kapal-kapal perayng yang mempunyai konfigurasi dan misi tertentu. sebagai berikut : (a). territorial integrity or political independence of states bordering the strait. atau kemerdekaan politik dari negara pada tepi selat. comply with other relevant provisions of this part. akan mengakibatkan dampak timbulnya wewenang Negara pantai untuk melakukan pemeriksaan. Adalah tidak tepat untuk menerapkan peraturan-peraturan internasional. misalnya saja berlayar mondar mandir tidak diperkenankan. refrain from any thereat or use of force against the sovereignty. or in any other manner in violation of the principles of international of law embodied in the charter of the united Nations. (b). keutuhan wilayah. Pokok utama dari kewajiban tersebut adalah bahwa dalam melakukan lintasan harus berjalan tampa terhambat (delay). proceed without delay through or over the sraits.

procedures and practices for the prevention. yaitu untuk : (a). yang tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan-kegiatan penelitian tanpa mendapat izin terlebih dahuludari Negara pantai. (b). Pasal 39 juga menetapkan ketentuan-ketentuan khusus yang berlaku bagi kapal.114 diperkenankan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan asas-asas hukum internasional sebagaiman yang tercantum dalam piagam PBB. including the intenational regulation for preventing collisions at sea. hanya kepada cara yang normal untuk melakukan lintasan yang langsung. Berbeda dengan ketentuan Pasal 19 tentang kegiatan-kegiatan yang dapat menyebabkan suatu lintasan menjadi tidak damai. state aircraft will normally comply with such safety measures and will at all time operate with due regard for the safety of navigation. reduction and control of pollution form ships. Sedangkan pokok yang terakhir menunjuk kepada kewajiban untuk mematuhi ketentuan-ketentuan lain dari bagian ini. dan secepat mungkin. procedures and practices for safety at sea. Keadaan force mejure atau apabila sedang dalam kesulitan. untuk memusatkan kegiatan. Kewajiban-kewajiban khusus baik bagi kapal-kapal maupun pesawat udara tersebut diatas menunjuk kepada ketentuan-ketentuan atau standard yang telah diterima secara international bagi keselamatan pelayaran maupun penerbagangan. padal 39 dan 40 ini tidak . dan secepat mungkin.” Sedangkan bagi pesawat udara. (b) at all times monitor the radio frequency assigned by the competent intenationally designet air traffic control authority or the apporiete international distress radio frequency. Pasal 40 mengatur tentang kapal-kapal yang digunakan untuk penelitian ilmiah atau survey hidrografis. kewajiban-kewajiban khusus itu berupa: (a) observes the rules of air established by the international civil aviation organization as they apply to civil aircraft. comply with generally accepted international regulations. Pokok yang ketiga dari pengaturan ini menunjuk kepada kewajiban kepalkapal dan pesawat udara selama transit. Comply with generally accepted international regulations. terusmenerus.

Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 39 dan 40 tersebut diatas. dengan demikian tidak dapat dianggap sebagai perbuatan yang tidak sesuai dengan ketentuan pasal 38 ayat 2. terus menerus dan secepat mungkin. pengertian lintas transit menurut konvensi adalah pelaksanaan dari kebebasan pelayaran yang langsung.115 menetapkan jenis atau bentuk kegiatan yang akan menyebabkan suatu lintasan tidak merupakan lintasan transit. jadi bukan merupakan lintas transit. Pasal 39 tidak memberikan penjabaran seperti pasal 19. Negara pantai tidak mempunyai hak untuk menghalangi lintas transit yang dilakukan oleh kapal asing. yang digambarkan pada pasal 39 ayat 1 sebagai “lewat dengan cepat” (proceed without delay). Masalahanya kemudian adalah apakah suatu pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan pasal 39 dan 40 tersebut diatas dapat menyebabkan suatu lintasan menjadi bukan lintas transit. Sebaliknya. Lintasan oleh sebuah kapal yang tidak cepat dan terputus-putus dapat dianggap sebagai tidak continous. Karena ketentuan serupa tidak ada dalam . meskipun dikaitkan dengan suatu tujuan khusus untuk “transit secara terus menerus dan langsung” tersebut. karena ke dalam pengertiannya tercakup kebebasan pelayaran dan penerbangan. atau kembali kewilayah Negara tepi selat. apabila kapal yang sedang melakukan lintasan bermaksud untuk memasuki. atau apakah Negara pantai dapat melakukan tindakan-tindakan pencegahan? Kalau lintas damai memakai sebagi ukuruan adalah kegiatan kapal sewaktu melakukan lintasan . dan lintasan nya tetap akan dianggap sebagai lintas transit. Apabila hal yang serupa terjadi dalam pelaksanaan hak lintas damai. Akan tetapi apakah keadaan demikian tidak menutup kemungkinan bagi Negara pantai untuk bertindak? Tolak ukur yang dapat dipakai oleh negara pantai untuk menentukan apakah suatu lintasan tersebut dapat dianggap seabagai suatu lintas transit adalah : apakah lintasan tersebut dapat dianggap sebagai suatu lintasan “terus menerus dan langsung”. apakah Negara pantai dapat melakukan suatu tindakan untuk mencegah atau menghalanginya? Kalau dihubungkan dengan ketentuan pasal 44. atau meninggalkan. Dalam keadaan demikian. pasal 25 ayat 1 justru secara pasti memberikan wewenang kepada Negara pantai untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah lintas yang tidak damai.

in part. Ada dua cara penafsiran yang dilakukan para ahli tersebut. masing-masing dengan interpretasinya sendiri. and permanently vessel specific. kedua-duanya dari Amerika Serikat Resiman mengajukan suatu masalah seperti berikut : “Do the word ‘normal modes of continous and expedettious transit’ in article 39 (1) (c) amount to a non suspandable license to traverse straits submerged? In order to reach this result ‘normal mode must be construed as non contextual’ non normative. But in the text and in general. Di satu pihak ada yang berpendapat bahawa dalam pelaksanaan lintas transit sifat lintasan tersebut adalah lintasan bebas. e. yang dalam perjalanan Konperensi Hukum Laut III mengambil bentuk baru yang sangat berlainan dengan Konperensi Hukum Laut Jenewa 1985. ‘in the normal mode’ would seem an . Modeles of transit of different vessels is. this interpretation is forced and unreal. but it also has normative and contextual. Masalah Kapal Selam Suatu hal yang menarik dalam pengaturan tentang lintas transit ini adalah tidak adanya keharusan bagi kapal selam layar untuk berlayar dipermukaan air.. ” Keragu-raguan REISMAN tersebut dijawab oleh MOORE dengan mengemukakan cara lain untuk melakukan penafsiran.116 pelaksanaan hak lintas transit. a factual question. negara pantai tampaknya tidak mempunyai wewenang apapun untuk mencegah lintasan yang tidak memenuhi persyaratan Pasal 38 tersebut di atas. this provision.hal ini jelas berbeda dengan ketentuan pasal 20 tentang lintas damai uang pelaksanaannya juga berlaku bagi lintas damai melalui selat. Masalah ini menimbulkan suautu perdebatan akademis yang cukup menarik diatanra pada ahli hukum laut. including the legal environtment.” Mengenai hal ini menarik untuk kita ikuti perbedaan penafsiran yang dilakukan oleh Jhon Norton MOORE dan Michael REISMAN. Kewajiban seperti itu tidak ada dalam bagian 2 ini.refrain from any activities other than those incident to their normal modes of continous and expeditious transit…. Disamping itu diberikan alasana lain bahwa salah satu kewajiban kapal selam adalah untuk “…. Dikemukakan oleh MOORE bahwa : “Taken alone as a textual issue without benefit of a textual setting or the negotiating context. maka bagi kapal selam tidak ada keharusan untuk berlayar dipermukaan air.

which only an incidental indication of its exsistence. walaupun tidak ada keharusan untuk itu. atau tapatnya tidak mencantumkannya dalam ketentuan-ketentuan tentang lintas transit.” Oleh karena itu perlu diperhatikan konteks dari ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal lain. KOH pun memakai ketentuan Pasal 39 ayat 1 (c) dan pasal 87 untuk memperkuat kesimpulannya bahwa konfensi hukum laut 1982 tidak mengenal adanya kewajiban bagi kapal selam untuk berlayar dipermukaan air pada waktu melaksanakan hak lintas transit. akan tetapi Koh juga tidak menyangkal suatu kemungkinan bahwa pada wilayah perairan tertentu. Alasan demikian dapat dipakai oleh Negara pantai untuk berargumentasi bahwa dalam memantau apakah pada waktu melaksanakan lintasannya suatu kapal selam tidak menimbulkan ancaman atau menggunakan kekerasan terhadap Negara pantai. mungkin dapat ditarik . Menurut pendapatnya yang menjadi pokok masalah dalam hal lintas oleh kapal sealam adalah kenayataan dalam pengaturan lintas damai ada keharusan bagi kapal selam untuk berlayar dipermukaan air kedalam ketentuan-ketentuan bagi lintas damai. which I believe makes abundantly clear that this pharase includes submerged transit”. Argumentasi tentang ada atau tidaknya keharusan untuk berlayar dipermukaan air ini dapat juga dilihat dari sudut lain. the most important textual bases for such a right.117 unsatisfactory basis on which to rely for a right of submerged transit. demi keselamatan pelayaran kapal selam akan “terpaksa” berlayar dipermukaan air. Dengan menggunakan alasan ini. dan kemudian mengeluarkannya. however.” Oleh karena itu dalam penafsiran demikian. Lebih lanjut menurut KOH “The argument of inclusion and exelsio cannot ipso facto suffice to lend the interpretation that submerged passage was clearly contemplated by the drafters. Pasal 39 ayat 1(b) mewajibkan kapal untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang menimbulkan ancaman atau menggunakan kekerasan dalam bentuk apapun dalam Negara pantai. Di lain pihak seorang sarjana lain KL KOH menganalisa masalah ini secara berbeda. tidak mungkin dilakukan apabila kapal selam tersebut berlayar dibawah permukaan air. MOORE mengajukan agar “recourse may be had to the negotiating context. are not rooted in this provision. Seperti juga halnya MOORE dan REISMAN.

f. Kapal perang diwajibkan untuk mematuhi peraturan perundang-undangan Negara pantai mengenai hak lintas transit. (3). Berdasarkan imunits kapal perang. Negara bendera kapal atau tempat terdaftarnya suatu pesawat udara. Selanjutnya menurut MORE. ketentuan-ketentuan tentang pencegahan pencemaran dan pelestarian lingkungan laut tidak berlaku bagi kapal-kapal perang.118 kesimpulan bahwa ada keahrusan bagi kapal selam untuk berlayar dipermukaan air. seperti kemukakan oleh MORE. Akan tetapi. Negara pantai tidak berhak untuk menghalangi atau mencegah lintasan yang dilakukan oleh kapal-kapal asing. HAK LINTAS ALUR LAUT KEPULAUAN Konsepsi perairan kepualuan (archipelagic waters) merupakan konsepsi baru yang dimuat dalam konvensi hukum laut 1982. 3. Tidak ada keharusan untuk meminta izin atau memeberitahukan terlebih dahulu. (6). Tidak ada keharusan bagi kapal selam untuk berlayar dipermukaan air. (8). Kesimpulan Pada akhirnya dapat disimpulkan disini bahwa pokok-pokok utama pengaturan tentang hak lintas transit bagi kapal asing melalui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional adalah sebagai berikut : (1) tidak terdapat persyatatan – persyaratan dalam bentuk kegiatan-kegiatan tertentu bagi kapal-kapal yang melakukan lintasan. (9). Tidak ada penangguhan terhadap hak lintas transit. Hak lintas penerbangan bagi pesawat-pesawat udara diakui. (7). (2). bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pelaksanaan lintas transit pada Negara pantai. (5). (4). agar memudahkannya untuk memantau lintasan oleh kapal selam tersebut. ketentuan tersebut tidak dengan begitu saja menimbulkan hak bagi Negara pantai untuk meminta agar kapal selam berlayar diatas permukaan air. pasa 39 ayat 1 ini merupakan ketentuan yang berisi kewajiban bagi kapal-kapal selama melakukan lintas transit. Sebelumnya wilayah-wilayah .

Kedua. expeditious and unobstructed transit between one part of the high seas or an exlusive economic zone and another part of the high seas or an exlusive economic zone. Pokok ketiganya menetapkan bahwa lintasan tersebut harus dilakaukan antara satu bagian dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif dengan bagian lain dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif dengan bagian lain dari laut lepas atau zona ekonomi ekslusif.119 perairan dimana Negara pantai harus memberikan akomodasi dalam bentuk hak untuk melakukan lintasan bagi kapal-kapal asing. ” Jadi pokok utama dari pengaturan tentang hak lintas alur laut kepualauan adalah bahwa lintasan ini selain dalam bentuk lintas pelayaran juga mencakup lintas penerbagan. seabgai berikut : “Archipelagic sealens pessage means the exescise in accordance with this Convention of the rights of navigations and overflight in the normal mode solely for the purpose of continous. yang dilakukan dalam cara normal. arti dan maksudnya Jika dibandingkan dengan ketentuan tentang hak lintas damai yang memeberikan batasan dalam bentuk larangan untuk melakukan kegiatan–kegiatan tertentu. dan ketentuan tentang hak lintas transit yang memberikan wewenang terbatas kepada Negara pantai untuk menaturnya. dan disebut perairan kepualaun ini kapal-kapal asing selain mempunyai hak untuk melakukan lintas damai juga berhak untuk melaksanakan hak lintas alur laut kepulauan (archipelagic sealanes passages). pasal ini menyebutkan adanya keharusan bahwa lintas pelayaran atau penerbangan tersebut hanya dimaksudkan untuk suatu lintasan yang terus menerus. secepat mungkin dan tidak terhalang. a. Konvensi hukum Laut 1982 menyebutkan bahwa kedaulatan dari suatu Negara kepulauan (archipelagic baselines) yang ditarik pada ketentuan pasal 47. . maka Pasal 53 ayat 3 Konvensi Hukum Laut 1982 memberikan pengertian bagi hak lintas alur laut kepualauan. Kalau diperhatikan pengertian ini lebih mendekati pengertian yang diberikan oleh Konvensi terhadap hak lintas Transit. Perbedaannya tampak pada pembebanan persyaratan-persyaratan bagi pelaksanaan kedua macam lintasan bagi kapal asing tersebut. hanya terbatas pada laut territorial dan selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. langsung.

diwajibkan untuk tidak menghalangi pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan kerena ini merupakan bagian dari pelayaran internasional. Oleh karena itu perluasan yurisdiksi . dalam hal ini Negara kepulauan. Dilain pihak ketentuan tentang hak lintas alur laut kepulauan ini meletakkan beban persyaratan baik kepada kapal-kapal yang melakukan lintasan maupun kepada Negara kepaulauan itu sendiri. Ironisnya. kapal-kapal asing dibebani persyaratan “transit yang terus menerus dan langsung”. Masalah lintas melalui selat uang digunakan untuk pelayaran internasional dan lintas melalui perairan kepulauan mempunyai latar belakang yang sama. Dilain pihak pasal pasal 49 ayat 4 memeberikan jaminan bahwa hak lintas alur laut kepualauan ini tidak akan mempengaruhi pelaksanaan kedaulatan Negara kepualauan untuk mencegah pelaksanaan hak lintas alur laut kepualauan merupakan hal yang membawa akibat bagi kedaulatan Negara kepualauan itu sediri? Perbedaan lain yang tampak adalah pada pengertian tentang lintasan. hak lintas transit diartikan sebagai pelaksananaan dari kebebasan pelayaran. Negara kepulauan dibebani kewajiban untuk menjamin bahwa lintasan tersebut “tidak terhalang”. Konsensepsi tersebut dianggap “mengambil” sebagai besar dar wilayah laut yang tadinya merupakan bagian dari laut lepas. serung dituduh bertentangan dengan kepentingan umat manusia. dan merupakan kepentiangan bersama masyarakat internasional. Konsepsi Negara kepulauan (archipelagic state) menurut Hasjim Djalal. disatu pihak Negara pantai. yaitu terus menerus dan langsung untuk memungkinkan kapal-kapal melakukan haknya tersebut. lintas alur laut kepualauan diartikan sebagai hak pelayaran (berlayar) Kalau kita tinjau sejarah penyusunan Konvensi Hukum Laut 1982 sama dengan proses perumusan hak lintas transit. Disini terlihat bahwa pada dasarnya ketentuan-ketentuan tentang hak lintas bagi kapal-kapal yang dirumuskan kedalam Konvensi Hukum laut 1982 ini merupakan suatu usaha kompromi. sedangkan dilain pihak.120 Dalam pelaksanaan hak lintas transit. Disatu pihak. hak lintas alur laut kepualauan lahir sebagai suatu kompromi (trade off) antara Negara sedang berkembang dengan Negara-negara maritim. Kapal-kapal diwajibkan melakukan lintasan-lintasan yang mempunyai tujuan yang serupa dengan hak lintas transit.

hak lintas damai dijamin pada perairan kepulauan. dengan pengertian bahwa hak lintas damai akan dijamin pada alur-alur laut yang akan ditetapkan oleh NegarK.121 nasional yang dilakukan oleh Negara sedang berkembang ini dianggap telah “menggerogoti”prinsip kebebasan dilautan (freedom of the seas). Argumentasi yang muncul kemudian dari negara-negara maritim adalah bahwa konsepsi Negara kepulauan ini akan menganggu (kelancaran) pelayaran internasional. Pada akhirnya kelompok negara-negara kepulauan mengusulkan agar pengaturan yang diterapkan adalah dalam bentuk pengaturan yang bersifat dualistis. Seperti pengaturan pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. Usul tersebut dengan segera menimbulkan reaksi dari negara-negara maritim. hak lintas damai dijamin pada perairan kepualauan. Pada Konvensi Hukum Laut III perundingan tentang Negara kepulauan dimulai dengan munculnya usul dari negara-negara kepulauan agar pada perairan kepualauan tersebut berlaku rejim hak lintas damai bagi kapal-kapal asing seperti pada laut territorial. sikap Negara-negara maritim pu berkembang dan bergerak sehingga mencapai pandangan yang hampir mendekati pandangan Negara-negara kepulaauan. yang dinamakan perairan kepulauan tersebut. Usul tersebut dengan segera menimbulkan reaksi dari negara–negara maritim. Kekhawatiran ini terletak pada masasalah status hukum dari perairan yang sekarang tertutup oleh garis pangkal. kecuali pada alur-alur khusus di mana akan berlaku hak lintas alur laut kepualauan. Usul ini kemudian berkembang menjadi suatu gabungan antara pengaturan dilaut territorial dan perairan pedalaman. Perbedaannya adalah bahwa negara-negara maritim mengusulkan agar rejim lintas yang berlaku pada alur-alur laut khusus tersebut bukannya hak lintas alur . Pada lahirnya kelompok negara-negara kepulauan mengusulkan agar pengaturan yang diterapkan adalah dalam bentuk pengaturan pada selat yang digunakan untuk pelayaran inernasional. Sudah dapat diduga bahwa negara-negara maritim tetap berusaha untuk mempertahankan hak lintas bebas bagi kapal-kapalnya dalam perkembangannya kemudian. yaitu berupa pembentukan suatu rejim yang dualistis juga. kecuali pada alur-alur khusus dimana berlaku hak lintas laut kepualauan.

the safety of navigation and regulation of maritim traffic. fiscal. (2). yaitu pelayaran. Wewenang Negara pantai ini terbatas hanya pada : (a). immigration or sanitary laws and regulations of States bordering straits. Ketentuan di atas membatasi wewenang Negara kepulauan hanya pada pengaturan empat masalah utama. currency or person in contravention of the customs. pencegahan penangkapan ikan. Tidak menghambat pelaksanaan lintas alur laut kepulaan . oily wates and other noxious substance in the strait. yaitu : (1). yaitu melainkan ketentuan-ketentuan tentang hak lintas damai Pasal 52 dan hak lintas alur laut kepulauan pasal 53 b. pencegahan dan pengendalian pencemaran. as provided in article 41. (b). . (c) with respect to fishing vessels. the prevention. the prevention of fishing. Hak dan kewajiban Negara kepulauan Seperti halnya dalam pengaturan tentang hal lintas transit melalui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. ketentuan Pasal 44 tentang kewajiban negara pantai berlaku juga bagi Negara kepualauan menurut ketentuan ini Negara Kepualauan mempunyai tiga kewajiban pokok. (d) the loading and unloading of any commodity. by giving the effect to applicable international regulations regarding the discharge of oil.122 laut kepualauan melainkan hak lintas bebas. Dalam menetapkan peraturan perundang-undangan ini. Pada akhirnya hasil yang dicapai tidak jauh bebeda dengan perundingan tentang rejim pelayaran melaui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. reduction and control of pollution. including the stowage of fishing gear. Sesuai dengan ketentuan Pasal 54 itu pula Negara kepulaan dapat menetapkan peraturan perundang-undangan untuk mengatur pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan oleh kapal-kapal maupun pesawat udara asing. dan (3). Harus mengumumkan secara tepat setiap adanya bahaya bagi pelayaran maupun penerbangan yang diketahuinya. Tidak diperkenankan untuk melakukan penangguhan pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan. serta beacukai. imigrasi dan saniter.

Negara kepulauan harus memenuhi persyaratan-persyaratan seperti dibawah ini: (1). Apabila diperlukan Negara Keperluan dapat mengubah atau mengganti alur-alur laut maupun skema pemisah lalulintas yang telah ditetapkannya. (3). (4). Perubahan atau pergantian tersebut harus terlebih dahulu diumumkan sebagaimana mestinya. Mencakup semua alur navigasi yang biasa digunakan oleh kapalkapal. . Setiap penetapan atau penggantian tersebut harus berdasarkan kepada penerimaan oleh organisasi internasional yang berwenang dan disepakati bersama dengan Negara Kepulauan. Negara kepualauan diberi wewenang untuk menetapkan alur-alur laut dan rute penerbangan demukian harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut : (1). penghambatan. atau pengurangan terhadap pelaksanaan hak lintas alur laut kepualauan. Ditetapkan melalui suatu rangkaian garis poros (garis sumbu) yang bersambungan dan membentang mulai dari titik-titik keluar rute lintasan tersebut. apabila dengan prakteknya hal tersebut akan mengakibatkan dengan yang lainnya. Seperti juga dalam pelaksanaan hak lintas transit melalui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. sepanjang tidak mengakibatkan duplikasi bagi alur keluar dan masuk untuk satu arah yang sama. (2). apabila dalam prakteknya hal tersebut akan mengakibatkan penolakan. Dalam penetapan alur-alur laut dan skema pemisah lalu lintas tersebut. Harus melalui perairan kepualauab dan laut territorial yang berbatasan dengannya. Harus sesuai dengan aturan internasional yang diterima secara umum. Merupakan rute-rute lintasan yang biasa digunakan untuk pelayaran dan penerbangan internasional. (2).123 Negara kepulauan tidak diperkenankan untuk bersikap diskriminatif dengan membeda-bedakan pengaturan dari kapal-kapal dan pesawat udara asing antara satu dengan yang lainnya. Disamping itu Negara Kepulauan juga diberi wewenang untuk menetapkan skema pemisah lalu-lintas bagi keselamatan lintasan oleh kapal-kapal asing pada bagian-bagian yang sempit dari alur-alur tersebut.

124 (3). Dengan demikian hak ini juga dapat dinikmati oleh kapal-kapal perang maupun pesawatpesawat militer. Pasal 39 memberikan perincian tentang rangkaian kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh kapal-kapal dan pesawat udara. setiap kapal maupun pesawat udara diwajibkan untuk: (1). Kewajiban-kewajiban yang berlaku bagi kapal-kapal dan Kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi oleh pesawat udara. Pada waktu melaksanakan hak lintas alur laut kepulauan. Mengenai hal ini. c. yang dibedakan antara : (1). (2). Lewat dengan cepat melalui atau diatas selat : Menghindarkan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan apapun terhadap kedaulatan. Pokok utama dari pengaturan ini adalah bahwa semua kapal dan pesawat udara dapat melakukan hak lintas alur laut kepualauan melaului alur-alur laut dan rute penerbangan yang telah ditetapkan. ketentuan yang dapat dipakai adalah ketentuanketetuan dari padal 39 dan 40. (3). Hak dan kewajiban kapal yang melakukan lintasan Sesuai dengan ketentuan pasal 54. Kewajiban-kewajiban yang berlaku umum baik bagi kapal-kapal maupun pesawat udara. Dengan sendirinya setiap referensi terhadap “selat” harus diubah menjadi perairan tersebut. Ketentuan–ketentuan tersebut di atas dibatasi lagi dengan satu ketentuan khusus dimana apabila Negara kepulauan tidak penetapkan alur-alur laut atau rute penerbangan bagi pelaksanaan hak lintas alur laut kepualauan ini. maka pelaksanaan hak tersebut dapat dilakukan melalui rute-rute yang biasa digunakan untuk pelayaran maupun penerbangan internasional. atau dengan cara lain apa pun yang melanggar . Harus mencantumkan secara jelas sumbu dari alur-alur laut dan skema pemisah lalu-lintas yang telah ditetapkannya tersebut pada peta-peta yang harus diumumkan sebagaimana mestinya. hak dan kewajiban bagi kapal-kapal yang melakukan lintasan juga tunduk pada pengaturan yang sama seperti dalam pelaksanaan hak lintas transit. keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik Negara keterbatasan dengan selat. (2).

Memenuhi peraturan internasional yang diterima secara umum. Bagi pesawat udara dikenakan ketentuan yang berbeda yaitu pada waktu melakukan hak lintas penerbangan di atas perairan kepulauan. . langsung dan secepat mungkin dalam cara normal. Pokok-pokok utama dari pengaturan yang dapat dirinci oleh ketentuanketentuan tersebut diatas dapat digambarkan dalam bentuk kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi baik oleh kapal-kapal maupun pesawat udara. Menghindarkan diri dari kegiatan apapun selain dari transit secara terusmenerus. (2). (2). prosedur praktek tentang keselamatan dilaut termasuk Peraturan Internasional tentang pencegahan Tubrukan dilaut. (4). (3). Setiap waktu memantau frekuensi radio yang ditunjuk oleh Otorita Pengawas Lalu Lintas Udara (Air Traffic Controller) yang berwenang yang ditetapkan secara internasional atau oleh frekuensi radio darurat internasional yang tepat. pesawat udara pemerintah biasanya memenuhi tindakan keselematan demikian dan setiap waktu beroperasi dengan mengindahkan keselamatan penerbangan sebagaimana mestinya. yaitu untuk: (1). diharuskan untuk : (1). (2). Memenuhi aturan hukum internasional yang diterima secara umum. Menaati Peraturan Udara yang ditetapkan oleh Organisasi Penerbangan Internasional (internasional Civil Aviation Organization) sepanjang berlaku bagi pesawat udara sipil. Mencegah timbulnya ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap Negara kepulaun. ketentuan-ketentuan dibawah ini harus dipatuhi. Melakukan lintasan yang cepat. yaitu : (1). Memenuhi ketentuan lain dari Bagian ini yang relevan. pengurangan dan pengendalian pencemaran yang berasal dari kapal. kecuali karena force majeure atau karena kesulitan.125 asas-asas hukum internasional seperti tercantum dalam Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa. pada waktu melakukan hak lintas alur laut kepulauan. Khusus bagi kapal-kapal. prosedur dan praktek tentang pencegahan.

Pasal 40 mensyaratkan adanya izin terlebih dahulu dari Negara kepulauan. terus menerus dan secepat mungkin. Mematuhi peraturan maupun standar internasional yang telah diterima secara umum tentang keselamatan pelayaran atau penerbangan serta tentang pencegahan pencemaran. d. untuk dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan penelitian dan surveinya. Tidak melakukan tindakan – tindakan yang bertentangan dengan asas-asas umum hukum internasional seperti yang tercantum dalam Piagam Perserikatan bangsa-bangsa. Masalah Kapal Selam Seperti telah diuraikan pada bagian tentang hak lintas transit. Memusatkan kegiatan selama melakukan lintasan hanya kepada maksud untuk melakukan lintasan yang langsung. Kewajiban–kewajiban lain yang harus dipatuhi oleh kapal-kapal maupun pesawat udara adalah bahwa dalam melaksanakan haknya ini kapal-kapal dan pesawat udara tersebut hanya dapat berlayar pada alur laut dan rute penerbangan yang telah ditetapkan oleh Negara Kepulauan. kewajibankewajiban yang dibebankan kepada kapal dan pesawat udara asing ini tidak secara otomatis melahirkan hak-hak bagi Negara kepulauan. Disamping itu kapal-kapal tidak diperkenankan untuk berlayar mendekati pantai pada jarak kurang dari 10% dari jarak antara titik-titik terdekat pada pulau-pulau yang berbatasan dengan alur-alur laut tersebut. . Seperti juga halnya dengan hak lintas transit.126 (3). Bagi kapal-kapal yang digunakan untuk penelitian ilmiah dan survey hidrografis. hak Negara Kepulauan untuk mengatur pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan melalui perairan kepulauannya terbatas hanya kepada hal-hal yang tercantum dalam pasal 42 ayat 1. Dengan demikian pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan Pasal 39 dan 40 ini tidak dapat dianggap sebagai perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan pasal 53 ayat 3. Selama melakukan lintasan tidak diperkenankan untuk menyimpang lebih dari 25 mil laut ke arah dua sisi dari garis sumbu alur-alur tadi. dan (5). (4).

Jadi pada hakekatnya hak lintas alur laut kepulauan. Perbedaan yang dapat segera dilihat adalah bahwa Konvensi memberikan pengertian untuk hak lintas transit sebagai pelaksanaan dari “kebebasan pelayaran dan penerbangan. dalam penerapannya hak lintas alur laut kepulauan dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda. terutama apabila hal tersebut dikaitkan dengan hak kapal selam untuk berlayar dibawah permukaan air. Pokok utama dari perbedaan ini terletak pada batasan pengertian yang diberikan oleh Konvensi seperti tercantum dalam pasal 53 ayat 3 tersebut diatas. Dilain pihak. Pokok utama dari perbedaan ini terletak pada batasan pengertian yang diberikan oleh konvensi meskipun tidak dapat dikatan bertentangan sama sekali. meskipun mempunyai pengertian berbeda. tidak ada bedanya dengan hak lintas transit melalui selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. dapat melahrikan tafsiran yang berbeda-beda.” . Negara pantai dapat mencegah suatu lintasan dengan berpedoman kepada serangkaian kegiatan– kegiatan yang tidak dianggap “damai” seperti yang tercantum pada pasal 19 ayat 2. Dengan demikian setiap pelanggaran terhadap ketentuan pasal 53 ayat 3. meskipun tidak dapat tidak dapat dikatakana bertentangan sama sekali. Tampaknya para ahli hukum lautpun mempunyai pendapat yang beraneka ragam. kalau dihubungkan dengan pengertian tersebut diatas.” Sedangkan hak lintas alur laut kepualauan diartikan sebagai pelaksanaan dari “hak pelayaran dan penerbangan dalam cara normal. wewenang Negara pantai untuk mengatur hak lintas transit dengan wewenang Negara kepualauan untuk mengatur hak lintas damai. Disamping itu Negara kepulauan mempunyai kewajiban untuk tidak menghalangi pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan karena lintas tersebut harus unobstructed. Dalam pelaksanaannya hak lintas alur laut kepulauan tunduk pada pengaturan yang sama dengan hak lintas transit. tidak dapat dipakai sebagai alasan oleh Negara-negara kepualauan untuk mencegah suatu lintasan melalui alur-alur laut pada perairan kepulauannya. jika dibandingkan dengan hak lintas transit.127 Dibandingkan dengan ketentuan pasal 21 yang memberikan wewenang yang luas kepada negara pantai dalam mengatur pelaksanaan hak lintas damai. Meskipun demikian. terutama mengenai hak dan kewajiban bagi kapal. pesawat udara maupun bagi Negara kepulauan itu sendiri.

MOORE menyimpulkan bahwa naskah ICNT yang telah disetujui pada waktu itu merupakan suatu pencerminan dari apa yang telah terjadi dalam perundingan tentang Negara kepualauan tersebut. . mengemukakan argumentasi yang berbeda dengan menyatakan bahwa pada garis besarnya kedua konsepsi tentang hak lintas itu adalah sama. Seorang penulis lain. termasuk juga hak untuk melakukan lintas penerbagan. dapat diinterpretasikan sebagai hanya memperkenankan lintasan diatas permukaan air. dan hak bagi kapal selam untuk berlayar dibawah permukaan air. Akan tetapi apabila dilihat perbedaan wilayah perairan yang sempit sedangkan yang satunya lagi cukup luas. pelaksanaannya dalam praktek tentu akan menimbulkan perbedaan.128 Memang ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa perbedaan ini tidak akan menimbulkan pelaksanaan yang berbeda dalam praktek. hak lintas alur laut kepulauan yang menggunakan istilah in the normal mode. Hal tersebut lebih ditegaskan lagi oleh penulis-penulis yang menggaris bawahi istilah in the normal mode dan menyimpulkannya bahwa kapal selam secara normal berlayar dibawah permukaan air. oleh karena hak lintas transit mengadung unsur kebebasan pelayaran. morris F.MADURO. dan dengan demikian meluangkan hak kapal selam untuk berlayar dibawah permukaan air. Ketentuan – ketentuan tentang Negara kepulauan sepertu yang tercantum dalam ICNT menunjukkan bahwa Konperensi Hukum Laut III tidak akan begitu saja menerima konsepsi mid-ocean archipelago yang kemudian melahirkan konsepsi Negara kepulauan. Terlebih – lebih dengan adanya hak Negara kepulauan untuk menetapkan pengaturan tentang keselamtan pelayaran. Jhon Norton MOORE misalnya. maka hal yang samapun dapat dibenarkan pada pelaksanaan hak lintas alur laut kepulauan. karena pada dasarnya rejim yang dimaksudkan adalah unimpeded passage. Akan tetapi tampaknya akan lebih banyak penulis yang berpendapat bahwa hak lintas alur laut kepulauan mempunyai derajat yang sama dengan hak lintas transit. memberikan penafsiran yang berbeda dan menganggap bahwa kalau disatu pihak hak lintas transit mengandung pengertian yang mencakup pelayaran (lintasan) dibawah permukaan air. tanpa adanya jaminan hak istimewa bagi kapal selam.

Tidak ada keharusan untuk meminta izin atau memberitahukan terlebih dahulu. (5). Negara pantai tidak mempunyai hak untuk mencegah atau menghalangi lintasan oleh kapal-kapal asing. Tidak terdapat ketentuan yang secara eksplisit mengharuskan kapal selam untuk berlayar dipermukaan air. (2). (6). Apa perbedaan antara ke tiga lintas pelayaran yang berlaku di Indonesia 2. Kapal-kapal perang mempunyai imunitas terhadap ketentuan-ketentuan konvensi tentang pencegahan pencemaran dan pelestarian lingkungan laut. Hak lintas penerbangan bagi pesawat udara diakui. Tidak ada penangguhan terhadap hak lintas alur laut kepualaun. dapat disimpulkan bahwa keduanya mengandung pokok pengaturan yang berbeda. Negara bendera kapal atau Negara tempat pesawat undara terdaftar bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh pelaksanaan hak lintas alur laut kepualauan. Kapal-kapal diwajibkan untuk mematuhi peraturan perundang-undangan Negara kepulauan tentang hak lintas alur laut kepualauan. Penutup evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas pembelajaran ke 6 dilakukan dalam bentuk penulisan kuis diakhir perkuliahan yang dikemas dalam beberapa pertanyaan seperti : 1. seperti tampak dalam pokok-pokok pengaturan tentang hak lintas alur laut kepulauan dibawah ini: (1). (3). sehingga hak lintas alur lau kepulauan tidak selalu identik dengan hak lintas transit. c. Tidak ada persyaratan untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. (8). (4). Hak lintas alur laut kepulauan hanya dapat dilaksanakan pada laur-alur laut yang ditetapkan oleh Negara kepulauan untuk itu. Kesimpulan Oleh karena adanya persamaan pengaturan dalam pelaksanaan kedua hak lintas tersebut di atas. (9).129 e. Setiap penyimpangan (deviasi) dari garis sumbu pada alur-alur laut tersebut dikenakan persyaratan-persyaratan teknis. (10). (7). Apa saja persyaratan untuk melakukan lintas akan laut kepulauan? .

Bandung: Bina cipta. R.130 3. Abardin 1991. 1986. Mochtar Kusumaatmadj. Masalah Pengaturan Hak Lintas Kapal Asing. Hukum Laut Internasional. Agoes. Konvensi Hukum Laut 1982. . Selat mana saja di Indonesia yang dapat dilayari dengan lintas transit 4. Apa latar belakang munculnya lintas transit? Daftar Bacaan Etty.

” Sasaran pembelajaran demi aktual hendak dicapai dengan menggunakan afrategi pembelajaran berupa kuliah interaktif dan diskusi kelas serta studi kasus (case study). Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengamatan yang diberikan bagi peserta didik. standard penempakan awak. daya tahan dan teknik merupakan bagian dari konstruksi kapal dan pemeliharaan melanjutkan. B.131 BAB 8 BAHAN PEMBELAJARAN 7 A. ketetapan menggunakan teori dalam menganalisis fakta terkait dengan ISPS dan penerapannya. Uraian Pelayaran merupakan salah satu penggunaan laut yang paling tua dan tetap menjadi salah satu unsure yang penting. Kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik adalah kemampuan mengemukakan dan menjelaskan fakta mengenai keselamatan pelayaran. yang memiliki kemampuan untuk berdiri bahaya unsur-unsur yang dapat cukup ditemui atau diharapkan selama pelayaran tanpa kehilangan atau kerusakan pada kargo . Sasaran Pembelajaran Sasaran pembeljaran yang hendak di capai pada minggu ke 9 bahwa “mahasiswa dapat menjelaskan pengaturan hukum keselamatan pelayaran (safety of navigation). secara umum dipahami sebagai suatu keterampilan kekuatan. Kelayakan Kapal Standar kelayakan merupakan aspek. bersama dengan awak kapal yang kompeten. Kebutuhan akan pengaturan dibidang pelayaran meliputi aspek kelayakan kapal untuk berlayar. serta partisipasi individual dalam diskusi kelas. Tapi. sarana bantuan pelayaran. yang pasti karena fakta bahwa laut dan angin (bahaya laut) dapat mengerahkan pasukan tak terpikirkan. dan pencegahan tubrukan dan trayek kapal.

g.23 Oleh karena itu. operator dan manajer. c.24 Telah dibentuk International safety management (ISM Code) dalam kaitannya dengan pengoperasian kapal yang telah menyebabkan keraguan dan kecemasan di antara pemilik kapal. kapal berubah nama. hal terpenting yang harus dikedepankan mengenai suatu kapal yaitu kelayakan kapal tersebut untuk berlayar. The Law of the Sea. status hukum kapal. tidak melaksanakan pengukuhan sertifikat (endorsement). khususnya lingkungan laut. masa berlaku sudah berakhir. f. g. Kode ini ditujukan untuk mewujudkan 23 R. garis muat kapal dan pemuatan. f. manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari kapal. atau i. 1999). e. efek hukum ISM Code dan tindakan yang diperlukan pemilik kapal lokal untuk mematuhi Kode Etik. e. kapal ditutuh (scrapping). dan menghindari kerusakan lingkungan. Pemenuhan setiap persyaratan kelaiklautan kapal sebagaimana dimaksud di atas harus dibuktikan dengan sertifikat dan surat kapal. b. kapal tidak sesuai lagi dengan data teknis dalam sertifikat keselamatan kapal. dan properti. d. Churchill & A. 24 Sertifikat kapal tidak berlaku apabila: a. ISM Code dimaksudkan untuk memastikan keselamatan di laut.V. kapal tenggelam atau hilang. sebagai Negara Pihak pada Konvensi. R. mencegah cedera manusia atau hilangnya nyawa. kapal mengalami perombakan yang mengakibatkan perubahan konstruksi kapal. 255-256. p. d. . kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan penumpang. manajemen keamanan kapal. b. seperti: a. kapal rusak dan dinyatakan tidak memenuhi persyaratan keselamatan kapal. pengawakan kapal. perubahan ukuran utama kapal. Sebuah kapal yang laik laut tidak berarti bahwa kapal tersebut tidak memiliki kemungkinan untuk tidak tenggelam. c. Dalam konteks ini. Kode ini telah ditambahkan sebagai Bab IX dari Konvensi Internasional untuk Keselamatan Jiwa di Laut (SOLAS) 1974. dan memiliki akibat hukum di tanah. (Manchester: Manchester University Press. Beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan kelayakan dimaksud. perubahan fungsi atau jenis kapal. dan h. h. pencegahan pencemaran dari kapal. Lowe. kapal berganti bendera. keselamatan kapal.132 tertentu dari sebuah kapal.

Disamping beberapa prasyarat yang harus terpenuhi sebagaimana disebutkan di atas. 344-69 (1960). termasuk apakah hukum internasional atau aturan lainnya berlaku untuk keadaan di mana suatu negara menjamin nasionalitas kapal dimaksud. termasuk didalamnya negara mana yang bertanggung jawab atas kapal apabila terjadi kasus dimana tindakan yang dilakukan di atau oleh kapal tersebut merupakan atribusi negara. Nasionalitas kapal memainkan peranan yang vital dalam pelayaran karena menyoal tentang jurisdiksi negara mana yang berlaku atas kapal tersebut. dapat dikatakan bahwa dalam konteks kelayakan kapal untuk berlayar. negara pendaftar atau bendera kapal memiliki kesamaan bagi negara dimana nasionalitas kapal berlaku. International Maritime Organization (IMO). Pinto.25 Negara biasanya dan menjamin nasionalitas kapal kapal tersebut dengan dengan cara cara mendaftarkannya mengotorisasi mengibarkan bendera di atas kapal (bendera kapal). dan  Terus meningkatkan keterampilan manajemen keselamatan personil darat dan kapal kapal. Pasal 5 Konvensi mengenai Laut Lepas 1958 menyebutkan 25 R. . dan perlindungan diplomatic atas nama kapal dimaksud. 87 Journal du Droit International. termasuk kesiapan untuk keadaan darurat baik tentang perlindungan keselamatan dan lingkungan. telah menerapkan International Ships and Port Facility Security (ISPS) Code atau Kode Internasional yang mengatur tentang keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan. ISPS inilah yang menjadi rambu dalam mengatur tentang keselamatan kapal. hal lain yang tidak dapat diabaikan dalam praktek adalah nasionalitas kapal. Setiap pemilik kapal atau organisasi yang telah mengambil tanggung jawab atas pengoperasian kapal dari pemilik kapal diperlukan untuk menetapkan aturan untuk pencegahan keselamatan dan polusi dan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan (SMS) oleh:  Mendirikan praktek yang aman dalam operasi kapal dan menyediakan lingkungan kerja yang aman. Desember 2002. Flag of Convenience. Dalam hal ini. Secara garis besarnya.  Membangun perlindungan terhadap semua risiko yang teridentifikasi.133 suatu standar internasional untuk pengelolaan yang aman dan pengoperasian kapal dan untuk pencegahan polusi.

147 tahun 1976 tentang Standar Minimum Awak Kapal disebutkan bahwa “setiap negara naggota Konvensi harus menjamin bahwa awak kapal yang dipekerjakan atas kapal yang terdaftar dalam wilayahnya memiliki kualifikasi atau keahlian atas pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Certification and Watchkeeping for Seafarers (the STCW Convention).26 Hal yang sama juga disebutkan pada Pasal 94 ayat 4 Konvensi Hukum Laut yang menyebutkan bahwa negara bendera harus menjamin bahwa setiap kapalnya memiliki nahkoda dan awak kapal yang berkualitas (appropriate qualifications).134 bahwa “harus terdapat hubungan yang murni antara negara dankapal. Churchill & A. Namun karena alasan usia mereka. Bahkan staf ruang mesin tidak kompeten. op. sehingga kapal dinyatakan layak Menurut Konvensi ILO No. mesin harus dipertahankan oleh staf. Dalam ranah yang dimaksud. p.cit. Sarana Bantu Pelayaran 26 R. dengan mesin kepala kecanduan minuman keras. dan persoalan-persoalan lain atas kapal dimana bendera dikibarkan”. Kawasaki Kisen Kaisha Ltd. Hal itu terlihat dalam kasus Hong Kong Shipping Co Ltd Fir v. STCW Convention meletakkan syaratsyarat wajib minimum yang mesti dipunyai oleh nahkoda dan awak kapal dalam melaksanakan dan mengawasi pelayaran. . mesin-mati dan memadai kamar. Dalam kasus ini terlihat bahwa mesin diesel kapal bersama dengan mesin lain dalam rangka cukup baik. telah dibuat suatu Konvensi yang membidangi standar pelatihan yang disebut dengan Convention on Standards of Training. khususnya suatu negara harus secara efektif memberlakukan jurisdiksinya dan mengkontrol administrasi. Crew Kapal Salah satu komponen pelayaran yang sangat berarti penting yaitu awak kapal. R. Kondisi ini menjadi salah satu faktor prinsip dalam menentukan kelayakan kapal.V. teknik. 269. Para kru harus menjadi awak yang efisien dan kompeten. berpengalaman kompeten. Lowe.

Hal tersebut juga disebutkan dalam Konvensi Hukum Laut dan Laut Teritorial dimana negara pantai memiliki kewajiban untuk memberikan informasi yang cukup atas bahaya yang dihadapi dalam pelayaran. konstruksi. Sarana bantuan navigasi sebagaimana disebutkan diatur dalam Konvensi SOLAS yang mengatur negara-negara anggota untuk mengatur pemeliharaan dan pengadaan bantuan-bantuan navigasi. d. Penutup . material. b. bangunan. tata susunan serta perlengkapan termasuk perlengkapan alat penolong dan radio. permesinan dan perlistrikan. f. C. Pencegahan Tubrukan dan Trayek Kapal Dibutuhkan suatu pengaturan yang jelas untuk mencegah terjadinya tabrakan di laut. Aturan hukum internasional yang membidangi masalah dimaksud yaitu the Convention on the International Regulations for Preventing Collisions at Sea of 1972. Secara detail dapat dilihat dalam Pasal 15 ayat (2) dan Pasal 24 ayat (2) dari Konvensi Hukum Laut dan Laut Teritorial. stabilitas. termasuk didalamnya menyediakan informasi yang berhubungan dengan bantuan navigasi yang dibutuhkan. e. elektronika kapal.135 Keselamatan pelayaran juga menyoal persoalan bantuan navigasi seperti: a. Konvensi ini pada prinsipnya mengatur bahwa suatu kapal berkewajiban untuk menghindari tabrakan dengan kapal lainnya. dan g. c. khususnya ketika jarak pandang di laut sangat buruk sehingga diperlukan standar yang berlaku umum dalam konteks pengadaan suara dan tanda lampu.

1999. Churchill & A. R.V. R. 344-69 (1960). seperti: 1.136 Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran ketujuh dilakukan dalam bentuk makalah dengan merumuskan beberapa judul/topik. Flag of Convenience. . 87 Journal du Droit International. Jelaskan arti penting nasionalitas kapal? Daftar Bacaan R. The Law of the Sea. Pinto. Manchester: Manchester University Press. Sebutkan beberapa contoh kasus terkait dengan keselamatan pelayaran? 2. Lowe.

Penutup Kriteria evaluasi adalah makalah individu. dan Ketepatan waktu.137 BAB 9 BAHAN PEMBELAJARAN 8 A. Organisasi makalah. Sasaran Pembelajaran Ujian tengah Semester B. Kesesuaian antara teori dan kasus serta analisis. Adapaun criteria penilaian berupa Isi Makalah. . Uraian: Pelaksanaan ujian tengah semester dilaksanakan dengan memberikan tugas berupa makalah individu yang dipilih dari materi hukum laut yang telah dipelajari. C.

penyelundupan/ senjata dan perdagangan Obat manusia. perompakan. serta partisipasi individual dalam diskusi kelas. Kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik adalah kemampuan mengemukakan dan menjelaskan fakta mengenai standar keamanan kapal dan pelabuhan. . penyelundupan/perdagangan manusia. terlarang.” Sasaran pembelajaran demi actual hendak dicapai dengan menggunakan afrategi pembelajaran berupa kuliah interaktif dan diskusi kelas serta studi kasus (case study). International Maritime Organization (IMO). Sasaran Pembelajaran Sasaran pembeljaran yang hendak di capai pada minggu ke 9 bahwa “mahasiswa dapat menjelaskan keselamatan atau keamanan kapal maupun pelabuhan (international ship and port facilities security code). Negara maju terutama Amerika Serikat gencar melaksanakan kampanye untuk memerangi tindakan teroris dan segala aspeknya. lima diantaranya terjadi dan dilaksanakan melalui laut seperti peredaran perompakan. B. penyeludupan terorisme. Peraturan baru ini bertujuan mendeteksi ancaman keamanan. telah menerapkan International Ships and Port Facility Security ( ISPS ) Code atau Kode Internasional yang mengatur tentang keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan. obat terlarang.138 BAB 10 BAHAN PEMBELAJARAN 9 A. sekaligus mencegah insiden kemanan dilaut dan pelabuhan. Kejahatan lintas Negara yang memiliki delapan kategori. Hal ini pun dilakukan dibidang maritime. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengamatan yang diberikan bagi peserta didik. Desember 2002. Uraian Pasca serangan bom di WTC New York pada tanggal 11 september 2001. ketetapan menggunakan teori dalam menganalisis fakta terkait dengan ISPS dan penerapannya. penyelundupan senjata dan terorisme.

perusahaan pelayaran mempunyai kewajiban untuk menyiapkan sertifikat keamanan dari badan khusus yang ditunjuk pemerintah. Palembang. Terminal Peti Kemas Surabaya. Secara ringkas. Mengenai ISPS Code Menurut IMO (International Maritime Organization). dan sistem sinyal pengamanan (Ship Security Alert System/SSAS). persiapan untuk ISPS Code adalah sebagai berikut : Bagi perusahaan pelyaran.139 Ketentuan Internasional tersebut telah disepakati oleh 62 negara anggota IMO. harus mendapat sertifikat kemanan internasional ( Internasional Ship Security Certificate/ISSC) dari IMO. 33 tahun 2003 tanggal 14 Agustus 2003 tentang pemberlakukan Amandemen SOLAS 1974 tentang Pengamanan kapal dan Fasilitas Pelabuhan (International Ships and Port Facility Security/ ISPS Code) di wilayah Indonesia. Sedangkan bagi pelabuhan. kapal juga harus dilengkapi dengan sistem identifikasi otomatis (Automatic Identification System/AIS). harus melakukan : . Pelabuhan–pelabuhan yang dipersiapkan adalah Tanjung Priok. disertai dengan perencanaan dan petugas keamanan yang handal. Indonesia sendiri telah meratifikasinya dan Kementerian Perhubungan selaku administrator harus mengumumkan pelaksanaan ISPS Code secara Nasional. Alat ini dalam keadaan bahaya tertentuakan terhubung dengan sentral stasiun pemancar yang ada di pelabuhan internasional. JICT. Pontianak. termasuk Indonesia. Kapal. Tanjung Perak. dan PT. Cirebon Banten. Teluk Bayur. Jambi.selain itu. harus mempunyai sistem pengaman yang bagus. AIS merupakan peralatan modern di kapal yang harganya sangat mahal. dan selanjutnya menunjuk seorang perwira yang bertanggung jawab atas kemanan di atas kapal ( Ship Security Officer/SSo ). Juklaknya sendiri telah dikeluarkan sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan No. sehingga aparat kemanan segera datang member bentuan. Perusahaan pelayaran juga harus segera menetapkan p[ejabat yang bertanggung jwabsoal keamanan di perusahaan (Company Security Officer/CSO) lalu membuat rencana pengamanan kapal (Ship Security Assement/SSA).

pemerintah harus menetapkan Designated Authority dan menunjuk Recognized Security Organization (RSo). Declaration of Security ( DOS ). Port Facility Security Assessement ( PPSA ). 5. untuk pemeriksaan orang. Ship Security Plan ( SSP ) 4. Ship Security Assement ( SSA ) 3. Automatic Identification System ( AIS ). InternationalShip Security Certificate dan Statement of Compliance of port Facility. Operational and Physical Security Measures. Verfication and Certification for Ship. Port State Control Additional Control Measures. 3. Ship Security Alert System ( SSAS ) . Persiapan Pelabuhan : 1. Port Facility Security Plan ( PFSP ). Mengenai lingkup dan tanggung jawab dari penerapan ISPS Code. Apporoval Ship Security Plant. Company Security Officer ( CSO ) 2. barang dan muatan/ Kontainer. Training. 3. Declaration of Security. Konsekuensi Pelaksanaan ISPS Code bagi Pemerintah Koneskuensi dar pelaksanaan peraturan ini cukup besar bagi pemerintah harus menambah anggaran biaya negara dalam mempersiapkan pelabuhan/terminal dan kapal memberikan pelayanan dalam perdagangan internasional dan mempersiapkan peralatan minimum sebagaimana dipersyaratkan dalam ISPS Code 2002. 2. 2. 4. . Port Facility Security Assesment.140 1. Kelengkapan kapal : 1. Communication of Information. menetapkan Security Level. 6. 4. Port Facility Security Officer( PFCO ). International Ship Security ( ISSC ). Training.

 Untuk memastikan bahwa tindakan – tindakan maritime security yang diambil sudah tepat dan proporsional. Denganterus dilakukannya upaya – upaya pembenahan. yakni pelabuhan tersebut tidak akan disinggahi kapal dari luar negeri dan kapal–kapal ( berbendera Indonesia ) tidak akan diperkenankan masuk pelabuhan diluar negeri.  Menyiapkan metode untuk melakukan penyelidikan awal tentang kemanan agar dapat disusun rencana dan prosedur yang tepat unutk menanggulangi setiap perubahan situasi kemanan. .  Membentuk peran dan tanggung jawab antara Contracting government. maka sanksi internasional yang akan dijatuhkan sangat berat. diharapkan di masa mendatang. government agencies. pengelolaan keamanan di pelabuhan dapat menumbuhkan kondisi pelabuhan yang lebuh kondusif dan tidak menimbulkan ekonomi biaya tinggi.141 Adalah tugas berat bagi Pemerintah dengan berbagai kewenangan sektoral yang ada untuk melakukan pembenahan berkenaan dengan pemberlakukan peraturan ini.  Menciptakan sistem pengumpulan data dan informasi yang cepat danefisien serta pertukaran informasi berkaitan dengan kemanan. Sanksi Bila pelabuhan–pelabuhan Indonesia ( dan kapal–kapal berbendera Indonesia ) tidak menerapkan ISPS Code. Tujuan International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code  Menyusun kerangka kerja sama internasional menyangkut kerja sama antara Contracting government. local administration. dan shipping serta port industries untuk mendeteksi adanya ancaman keamanan dan mengambil tindakan – tindakan preventif terhadap insiden yang melibatkan kapal atau fasilitas pelbuhan yang digunakan dalam international trade. local administration dan shipping serta port industries pada tingkat nasional dan internasional untuk menjamin keamanan maritim. government agencies.

pemberian rambu warna merah ( sebagai tanda restricted area ) dipagar area Lini I. PT. CabangTanjung Priok sedang melakukan Inventarisasi pendataan dan penataan ulang terhadap seluruh kapal – kapal domestic ( dalam negeri ) dan ocean going ( International ). Prosedur pengiriman kebutuhan barang kapal. DOK dan Perkapalan Kodja dan PT. prosedur masuk Lini I. Manajemen PT (Persero) pelabuhan Indonesia II. Ketentuan yang diatur di dalam Rancangan Pengamanan Fasilitas Pelabuhan (PFSP) antara lain memuat sistem dan prosedur pengamanan yang meliputi prosedur pengamanan masuk Lini II. JICT. sesuai persyaratan dalam ISPS Code ) yang panjangnya 3 km lebih ( catatan sementara pagar yang ada saat ini ketinggiannya baru sekitar 2 meter ) Lini I maupun Lini II.142 Penerapan ISPS Code di Pelabuhan Tanjun Priok Berkenaan dengan implementasi ISPS Code dimaksud. PT TPK Koja. pada tahap awal dititikberatkan di area Pelbuhan Nusantara. Untuk penerapan Rancangan Pengaman Fasilitas Pelabuhan ( PFSP ) dimaksud. PT. prosedur pengawasan keamanan fasilitas pelabuhan dan prosedur masuk gedung PT. pemasangan tanda peringatan”area terbatas” diseluruh pintu masuk area Lini I. telah menunjuk PT. . Berau Veritas Indonesia sebagai Recognized Security Organization (RSO) untuk melakukan Assement terhadap Pengamanan fasilitas Pelbuhan (PSFA) dan membuat Rancangan Pengamanan Fasilitas Pelabuhan PFSP) untuk diserahkan dan disetujui oleh Pemerintah Republik Indonesia.5 meter. Dari aspek kesisteman manajemen. PT. Pelabuhan I. pengadaan pass orang (berupa pass tamu sebanyak 500 buah). dalam hal ini Kementerian Perhubungan sebagai Designated Authoruty (DA ). Pertamina Unit Pemsaran III. ( Persero ) Pelabuhan Indonesia II. Pelabuhan II dan gedung PT ( persero ) Pelbuhan Indonesia II yang kemudian akan diperluas ke area Lini II dengan sistem dan prosedur pengamanan yang sama dengan area Lini I. Dharma Karya Perdana. Berdasarkan hasil Assement Pengamanan Fasilitas Pelbuhan. Pelabuhan Tanjung Priok di bagi menjadi 7 wilayah pengamanan yang terdiri atas terminal Konvensional Pelabuhan Tanjung Priok. Hasil Assessment Pengamanan Fasilitas Pelbuhan ( PFSA ) di Terminal Konvensional Pelabuhan Tanjung Priok. manajemen Tanjung Priok telah melakukan pembenahan pos–pos dan pagar area ( dilakukan pemagaran area dengan ketinggian minimal 2. PT. Indofod Sukses Makmur Bogasari Flour Mills.

alamat. nomor identitas (KTP/SIM/Passport)). tujuan serta waktu tiba dan keluar serta meninggalkan kartu identitas dan kepadanya diberikan pass tamu (pass visitor). di area Lini I juga dilakukan patrol rutin kemananan baik daerah area daratan (sisi darat) dan perairan (sisi laut). nama perusahaan. Untuk kendaraan truk yang masuk. Prosedur Akses Masuk Prosedur akses masuk ke fasilitas pelbuhan di derah Lini I mengatur tentang lalu lintas barang. manajemen Pelbuhan Tanjung Priok telah menyiapkan . dan orang akan dapt teridentifikasi dengan jelas terkendali. handheld search mirror. Sesuai persyaratan ISPS Code. kendaraan dan orang. Petugas pengamanan akan memriksa berang. waktu masuk dan keluarnya serta meninggalkan kartu identitas dan kepadanya diberikan pass tamu ( pass visitor ). harus dilengkapi dengan dokumen pendukung barang. serta fasilitas penting (vital) yang berada di area pelabuhan tanjung Priok dan unsure keamanan terkait di pelabuhan. kendaraan. Bagi para pengemudi dan pembantu pengemudi yang tidak dilengkapi dengan pss pelabuhan akan di catat jati dirinya (nama. sehingga lalu lintas barang.143 perlengkapan pengamanan (berupa metal detector. delivery order dan SP2/PEB/PE identitas pengemudi dan pembantu pengemudi. sedangkan tidak memiliki pass pelabuhan. ropmi petugas pengamanan). nomor identitas(KTP/SIM)). Bagi orang yang memasuki area LiniI ( restricted area ) harus memilki pass pelabuhan yang masih berlaku. yang bersangkutan akan di catat jati dirinya (nama. kondisi pengaman di Pelabuhan Tanjung Priok terbagi dalam 3 (tiga) tingkatan keamanan yakni Level I keadaan normal. Level II ada ancaman keamanan dan Level III kondisi keamanan menjadi kewenangan DA (pemerintah). Disamping pengawasan dan pengamanan. kendaraan. tujuan kunjungan. serta alat komunikasi (handly talky. mega phone dan transmitter radio VHF). nomor kendaraan. dan orang yang memasuki wilayah kerja pelabuhan sesuai dengan tingkatan keamanan. anatara lain : surat jalan. Guna menunjang kelancaran penerapan ISPS Code .

Begitu juga terhadap kapal barang diatas GT 500 yang melakukan pelayaran internasional. fasilitas monitor yang dimiliki Pelabuhan Tanjung Priok baru 9 unit. Sehingga tetap dapat memonitor dalam suasana gelap sekalipun. mobile offshore drilling unit. Alat Bantu Pengamanan Disamping pengawasan keamanan yang dilaksanakan secara rutin oleh petugas keamanan pelabuhan. Penempatan 26 unit CCTV (bantuan dari Jepang) tersebut rencananya akan dipasang di pos – pos pintu masuk ( pos 1. Selain itu. CCTV tersebut memiliki keunggulan dari pada monitor biasa yang telah ada antara lain. gudang dan lapangan penumpukan sedangkan VTIS di gunakan untuk memonitor lalu lintas kapal diperairan pelabuhan. 69 tahun 2001 . II. 21 tahun 1992 joPeraturan PemrintahNo. juga dilengkapi dengan sinar’ Infra red”. CCTV digunakan untuk memonitor kegiatan bongkar muat dermaga. ISPS Code diberlakukan secara penuh pada 1 juli 2004 terhadap kapal penumpang termasuk kapal berkecepatan tinggi (high–speed craft) yang melakukan pelayaran internasional. pergerakan atau manuvernya bisa berputar hingga 340 derajat. Peranan Pelabuhan Secara Ekonomis Peranan pelabuhan tidak saja sebagai terminal point kegiatan perdagangan tetapi telah meningkat dan berfungsi sebagai sentra–sentra produksi.3. manajemen juga menyiapkan peralatan bantu pengawasan berupa CCTV (Circuit Close Television) dan VTIS (Vessel Traffic Informatio ). Pelabuhan ( menurut Undang – undang No.8 dan 9 ) 5 pos pintu masuk pos LIni I sepanjang dermaga kolam Pelbuhan I.144 saluran hotline service sementara di nomor 4301080 ext 2020 atau fax 439222 untuk melayani apabila terjadi kendala/hambatan atas pelaksanaan ISPS Code ini. area pelayanan transportasi dan sentra kegiatan ekonomi. (catatan: saat ini. fasilitas pelabuhan –pelabuhan yang melayani kapal – kapal yang melakukan pelyaran internasional. dan III serta Dermaga 009 dan lapangan penumpukan. Kamera–kamera ini dilengkapi dengan infra merah yang mempunyai kemampuan memonitor diwaktu malam. dengan kemampuan putar hanya 180 derajat ).

dengan batas–batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah dan kegaiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar. Sebagai informasi honorarium FSO/ Konsultan di Pelabuhan Tanjung Perak. Apa konsekuensi pelaksanaan ISPS code bagi pemerintah ? Daftar Bacaan Chandra Motik yusuf Djemaah. 1 M. 3 April 2005. Halaman 15.bagi kapal dagang dan penumpang di seluruh dunia telah diatas dalam Internasional Safety af Live at Sea ( SOLAS ) 1974? 2. naiuk turun penumpang dan atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatn pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra danantar moda transportasi. namun masih mempunyai banyak sekali kelemahan – kelemahan yang harus ditiadakan bila mematuhi ketentuan internasional mengenai ISPS Code. meskipun Tanjung Priok yang menjadi pelabuhan terdepan di Negara ini.145 tentang kepelabuhanan) adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan sekitarnya. Mengapa ISPS Code dibutuhkan padahal menyangkut keselamatan. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas meteri pembelajaran ke 9 dilakukan dalam bentuk penulisan kuis diakhiri perkuliahan yang dikumas dalam beberapa pertanyaan seperti : 1. vol 2 No. . terutama di bidang dana (yang sangat tidak sedikit) untuk membeli sarana–sarana dan peralatan yang canggih. SOLAS Convention 1974 Kompas 22 Juni 2004. C. belum lagi harus menyiapkan petugas–petugas pengamanan yang terlatih. Dari uraian di atas. dapatlah disimpulakan (meskipun sementara) bahwa merupakan suatu pekerjaan yang besar untuk dapat mewujudkan diterapkannya ISPS Code (dipelabuhan). Surabaya adalah Rp. Mungkinkah? Jurnal Hukum Internasional. Apa sanksi bila pelabuhan Indonesia dan kapal – kapal berbendara Indonesia tidak menerapkan ISPS Code ? 3. ISPS Code Diterapkan Di Pelabuhan Perikanan Samudra Jakarta. berlabuh.

Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu X bahwa “Mahasiswa dapat menjelaskan prinsip-prinsip dasar mengenai perlindungan dan pelestarian lingkungan laut”. . mengurangi dan mengawasi pencemaran lingkungan laut {Pasal 194 (ayat 1)} dan harus mengambil segala tindakan yang perlu agar perbuatan-perbuatan yang dilakukan di bawah yurisdiksinya tidak menimbulkan polusi terhadap negara lain atau terhadap daerah di luar yurisdiksinya {Pasal 194 (ayat 2)}. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik. Negara-negara harus berkewajiban secara global atau regional untuk merumuskan aturan-aturan. Penguasaan individu. 419-455. Harris. (London: Sweet & Maxwell. disamping hak negara-negara tersebut untuk mengeksplosit kekayaan alam mereka (pasal 193). kuliah interaktif. Negara-negara harus 27 D. Kerjasama tim.27 Ketentuan ini memuat peraturan-peraturan pelestarian lingkungan laut dan pencegahan pencemaran lingkungan laut. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning dengan small group work.. dan diskusi.146 BAB 11 BAHAN PEMBELAJARAN 10 A. 1998). B. Cases nd Materials on International Law. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Uraian: Perlindungan dan pelestarian lingkungan diatur dalam pasal 145 UNCLOS 1982. Konvensi ini menyebutkan bahwa negara-negara berkewajiban untuk melindungi dan memelihara lingkungan laut (pasal 192). Partisipasi dalam diskusi. standar dan praktek yang direkomendasikan untuk melindungi lingkungan laut (Pasal 197). Negara-negara berkewajiban untuk mengambil segala tindakan guna mencegah.J. p.

(Bandung: Alumni. hlm. Komar Kantaatmadja.28 Setiap negara berkewajiban untuk membuat UU/aturan-aturan untuk mencegah. dan usaha-usaha kegiatan-kegiatan di dasar laut di bawah yurisdiksinya (Pasal 208 {ayat 1}). Aturan-aturan juga perlu dibuat untuk menanggulangi polusi yang berasal dan atmosphere (Pasal 212). 13-27. 28 . Bunga Rampai Hukum Lingkungan Laut Internasional. misalnya: Banjir Floods Sumber: Patricia Parkinson. Perubahan Iklim dan Hukum Lingkungan Internasional. Negaranegara juga berkewajiban agar kapal-kapal mematuhi ketentuan-ketentuan antipolusi internasional dan aturan-aturan yang telah dibuatnya sesuai dengan Konvensi Hukum Laut ini. mengurangi dan mengawasi polusi lingkungan laut dan sumbersumber yang berasal dan darat (Pasal 207 {ayat 1}).147 mengembangkan contingency plans untuk mengatasi bahaya polusi (Pasal 199) dan harus berkerjasama untuk mengembangkan penyelidikan laut untuk dapat menilai hakikat yang sebenarnya dan polusi (Pasal 200). Beberapa gambaran apabila lingkungan yang tidak dijaga dan atau dilestarikan. dan kapal-kapal atau instalasi-instalasinya yang beroperasi di dasar laut internasional (Pasal 209). atau polusi yang berasal dan kapal yang berlayar di bawah benderanya (Pasal 211). 2007. 1982). serta kejahatan dumping (Pasal 210). Negara-negara juga dapat membuat aturan-aturan anti-polusi terhadap kapal-kapal yang berlayar di laut wilayah atau ZEE-nya sesuai dengan ketentuan-ketentuan Pasal 211.

148 • Melambatnya “Aliran Teluk” •Slow down of the Gulf Stream Sumber: Patricia Parkinson. Walaupun kawasan ini cenderung lebih baru ditetapkan dibandingkan dengan kawasan konservasi di daerah daratan. 2007. Konservasi sumberdaya hayati laut merupakan salah satu implementasi pengelolaan ekosistem sumberdaya laut dan kerusakan akibat aktivitas manusia. Ketentuan-ketentuan pelestarian lingkungan laut yang telah dirumuskan dalam KHL 1982 kemudian harus ditindaklanjuti dalam konteks pemeliharaan dan atau konservasi laut dengan cara merumuskan kawasan konservasi laut. mendirikan. dan itu harus dilakukan secara terpadu. Kawasan konservasi laut mempunyai peranan penting dalam program konservasi sumberdaya alam di wilayah laut. dan mengelolanya. Perubahan Iklim dan Hukum Lingkungan Internasional. Definisi kawasan konservasi laut pernah dikembangkan pada acara the 4th World Wilderness . sehingga sering disebut pula sebagai kawasan lindung. namun dibutuhkan keahlian tertentu untuk mengidentifikasi. Mengenai keterkaitan disiplin ilmu dan konsep keterpaduan pengelolaan tersebut dapat dilihat dan definisi kawasan konservasi laut. Hal ini karena banyaknya cabang ilmu atau departemen yang terkait dalam pengelolaanya. Kawasan konservasi ini biasanya dilindungi oleh hukum.

terutama pengawetan habitat untuk kelangsungan hidup mereka. dan lainnya. kawasan konservasi terdiri atas: (i) kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawah (hutan lindung. yaitu:29 1. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). Untuk melindungi penurunan. resapan air). hutan bakau. 490. Abdul Rasal Rauf.dan telah dilindungi oleh hukum atau peraturan lainnya untuk melindungi sebagian atau seluruhnya lingkungan tersebut. dan (iii) kawasan suaka alam dan cagar budaya (suaka alam. yaitu upaya penangkapan ikan yang melebihi stok alami ikan. 1995). Kegiatan penangkap ikan dan biota laut tersebut termasuk pula penangkapan yang berlebih. Birnie & Alan E. sekitar danau atau waduk. misalnya pelarangan kegiatan seperti penambangan minyak dan gas bumi. 29 . 2. ada beberapa istilah yang selama digunakan untuk menamakan kawasan konservasi laut.149 Congress dan diadopsi oleh IUCN pada 1 7th general Assembly pada tahun 1988. Boyle. sanctuaries. Berkaitan dengan kawasan konservasi.fauna. p. serta perusakan lingkungannya untuk menjamin perlindungan yang lebih baik. Pemanfaatan sumberdaya alam di lingkungan konservasi laut biasanya diatur melalui zona-zona. Menurut IUCN ada beberapa tujuan kawasan konservasi atau konservasi laut. mata air). sungai. 32 tahun 1990. Lihat juga Patricia W. (Oxford: Clarendon. 2007. termasuk perairan yang menutupinya. cagar budaya dan ilmu pengetahuan). Berdasarkan Keppres No. 203-205. sisi sejarah dan budaya. Melindungi dan mengelola sistem laut dan estuaria supaya dapat dimanfaatkan secara terus menerus dalam jangka panjang dan mempertahankan keanekaragaman genetik. park. yaitu sebagai berikut: Suatu kawasan laut atau paparan subtidal. yang telah ditetapkan kegiatan-kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. taman nasional. tekanan. hlm. Namun yang jelas kesemua nama atau istilah tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu penyelamatan ekosistem sumberdaya laut. di antaranya adalah reserve.flora. penangkapan ikan dan biota laut lain dengan alat yang merusak lingkungan. yang terkait di dalamnya.. (ii) kawasan per-lindungan setempat (sempadan pantai. Makassar: Fakultas Hukum Unhas. populasi dan species langka. International Law and the Environment. bergambut.

pendidikan. dan mengelola daerah-daerah mulut sungai dan estuaria yang mempunyai nilai sejarah dan budaya. untuk tujuan konservasi ekosistem dan rekreasi. Taman Nasional. III. melindungi. Perlindungan Bentang Alam atau Bentang Laut. untuk generasi sekarang dan masa yang akan datang. Menyediakan pengelolaan yang sesuai. untuk tujuan konsetvasi beritang lahan/bentang laut dan rekreasi. 4. Kawasan Cagar Alam. II. termasuk pengaruh langsung dan tidak langsung daripada pembangunan dan pemanfaatan lahan di daratan. Melindungi dan mengelola kawasan yang secara nyata merupakan siklus hidup spesis ekonomis penting. Memberikan kesejahteraan yang terus menerus kepada masyarakat dengan menciptakan kawasan konservasi laut. serta nilai-nilai estetika alam. yang mempunyai spektrum luas bagi aktivitas manusia dengan tujuan utamanya adalah penataan laut dan estuaria. untuk tujuan perlindungan yang ketat (strict protection). Mempermudah dalam menginterpretasikan sistem laut dan estuaria untuk tujuan konservasi. untuk tujuan konservasi melalui pengelolaan yang aktif. Apabila disimak dengan cermat. yang pada akhirnya mencerminkan ciri atau tipe dan kawasan konservasi tersebut. Untuk mengklarifikasi tujuan konservasi yang beraneka ragam tersebut. .150 3. Monumen Alam. 7. dan untuk pemantauan pengaruh aktivitas manusia terhadap lingkungan. V. Mencegah aktivitas luar yang memungkinkan kerusakan kawasan konservasi laut. maka IUCN melalui Commission on National Parks and Protected Areas. yaitu: I. kemudian menyusun suatu daftar pengelolaan kawasan konservasi sesuai dengan peruntukannya. Kawasan Pengelolaan Habitat/Species. maka terlihat bahwa tujuan konservasi laut itu sangat beranekaragam. 5. IV. 6. Menyediakan sarana untuk penelitian dan pelatihan. menyelamatkan. untuk tujuan konservasi keistimewaan alam. 8. dan pariwisata.

30 Bank Dunia melalui the Global Environmental Facility menyediakan dana penelitian untuk mengetahui sejauh mana peran MPA (Kawasan Konservasi Laut) dalam konservasi keanekaragaman hayati laut secara global. dan manfaat dan MPA tersebut. Suaka alam laut terdiri atas Cagar Alam (10 lokasi) dan Suaka Margasatwa (4 lokasi). rencana pengelolaan lebih lanjut. mulai dan pemilihan lokasi. Taman Hutan Raya/Taman Wisata Alam Pantai (9 lokasi) dan Taman Wisata Alam Laut (7 lokasi). namun sebaliknya mungkin program mi akan ditutup bila MPA gagal dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati laut di sekitarnya. Kawasan konservasi tersebut tersebar di seluruh wilayah perairan Indonesia. maka jumlah MPA tersebut akan dikembangkan pada masa mendatang. Sedangkan Pelestarian Alam Laut terdiri atas Taman Nasional Laut (7 lokasi). Asian Development Bank. sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan atau ekosistem. Keberhasilan program konservasi pada kawasan konservasi laut terhadap penyelamatan keanekaragaman hayati laut sangat menentukan kelangsungan pengembangan kawasan konservasi laut pada masa-masa mendatang. untuk tujuan pengelolaan ekosistem alam dengan pemanfaatan yang cocok. Jumlah ini direncanakan akan dikembangkan sampai 30 juta ha. yaitu (a) Suaka Alam Laut dan (b) Pelestarian Alam Laut. dengan total area 5. Untuk penyelamatan kawasan konservasi. Saat ini ada 14 kawasan konservasi laut lainnya yang sedang dikaji kelayakannya. peran serta masyarakat. khususnya ekosistem terumbu karang. sampai saat ini ada sekitar 37 kawasan konservasi laut yang telah beroperasi.151 VI. telah dilakukan pengelolaan melalui program CORMAP (Coral Reef Management Program) dengan bantuan dana dan luar. Menurut statusnya kawasan konservasi laut tersebut dibedakan atas dua macam. . peraturan perundangan yang berlaku. 208-210. Karenanya untuk pendirian suatu MPA diperlukan rencana matang. antara lain World Bank.805. Program tersebut 30 Ibid. Apabila program MPA cukup efektif dalam penyelamatan keanekaragaman hayati laut. Kawasan Konservasi Sumberdaya Alam yang Terkelola. hlm. Di Indonesia. terutama ditinjau dan aspek ekonomisnya.85 ha.753.

. Bunga Rampai Hukum Lingkungan Laut Internasional. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara. Kasus tumpahan minyak di perairan Natuna. 2007. Boyle. Untuk tiga tahun pertama. International Law and the Environment. Oxford: Clarendon. Kepulauan Taka Bone Rate (Propinsi Sulawesi Selatan) dan Kepulauan Padaido (Propinsi Irian Jaya). Birnie & Alan E. 1982. 1998. Bandung: Alumni. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran kesepuluh dilakukan dalam bentuk makalah dengan menganalisis beberapa kasus seperti: 1. 2. Cases nd Materials on International Law. ujicoba pengelolaan dikembangkan di kawasan konservasi. Harris. Komar Kantaatmadja. Nusa Tenggara Barat. Aktivitas CORMAP di kedua lokasi tersebut. Kasus Showa Maru.J. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). Papua. 2000. 1995. Riau. Patricia W. Daftar Bacaan Abdul Rasal Rauf. C. yang dilakukan di 10 propinsi. Hasil dan studi mi diharapkan dapat dikembangkan di kawasan konservasi lainnya di Indonesia. Sulawesi Selatan. Maluku. baru dalam taraf mencari alternatif kemungkinan upaya penanggulangan perusakan terumbu karang. yaitu Jakarta. 1975. London: Sweet & Maxwell. D. khususnya di kedelapan lokasi atau kawasan wilayah studi CORMAP. dan Sumatera Barat.152 rencananya dikerjakan selama 15 tahun. Makassar: Fakultas Hukum Unhas. Sumatera Utara.

Hukum Lingkungan : Sistem Hukum Pencemaran. kuliah interaktif. istilah pencemaran ini digunakan dalam pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 16 Agustus 1972 di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. pencemaran laut. Partisipasi dalam diskusi. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 100 menit dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik.31 yang merupakan terjemahan atas istilah asing “pollution”. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning dengan small group work. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. B. akan tetapi ia memiliki makna yang luas. (Bandung: Bina Cipta. pencemaran air. Secara garis besar pencemaran dalam konteks hukum lingkungan dapat dibedakan atas pencemaran lingkungan. Pengertian dan Sumber Pencemaran Laut Sebelum menjelaskan tentang pengertian pencemaran secara detail. dan diskusi. pencemaran daratan. Pencemaran tidak hanya diartikan dalam arti yang sempit. hlm. Secara resmi..153 BAB 12 BAHAN PEMBELAJARAN 11 A. 31 . pencemaran Munadjat Danusaputro. 1986). Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu X bahwa “Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian dan sumber-sumber pencemaran laut”. hal menarik yang penting untuk diuraikan terlebih dahulu yaitu istilah pencemaran pertama kali digunakan dalam studi literatur Indonesia yakni pada seminar Biologi II di Ciawi Bogor pada tahun 1970. Uraian: 1.32 Pencemaran memiliki banyak dimensi yang melingkupinya. Kerjasama tim. 30 32 Ibid. Penguasaan individu.

Kapal berupa pembuangan minyak yang merupakan pembuangan rutin. lihat juga Alma Manuputty. dan atau tabarakan kapal. berasal dari pembersihan tangki kapal. dan pencemaran angkasa. hlm.35 Pencemaran laut yang dimaksudkan disini yaitu terjadinya peruban pada lingkungan laut yang terjadi sebagai akibat dimasukkannya oleh Komar Kantaatmadja. 35 Ibid. 24. Pembuangan sampah ke laut (dumping). dan d. pencemaran laut adalah masuknya ke laut zat zat pencemaran dari lautan sendiri dan yang dibawa dan berasal dari darat. Pemahaman tentang pengertian pencemaran laut juga penting untuk diselaraskan. hlm. Dalam konteks ini yang menjadi fokus pembelajaran disini yaitu pencemaran laut. Pembuangan air buangan sungai. 1981). Stakeholders pada dasarnya merupakan subyek pencemaran laut yang dalam hal ini sebagai pelaku pencemaran laut yang secara hukum dapat dikenai dan dimintai pertanggungjawaban dari akibat-akibat pencemaran laut. Menurut Komar Kantaatmadja33. b. kecelakaan kapal yang berakibat kapal menjadi pecah. Ganti Rugi Internasional Pencemaran Minyak di Laut. Dalam hal ini. (Bandung: Alumni. 33 . Vol. Pembuangan air buangan industri. b. Adapun pencemaran laut yang berasal dari darat dapat berupa: a. kapal menjadi kandas. 34 Ibid. Jurnal Hukum Internasional “Jurisdictionary”. 1 Juni 2009. pencemaran laut yang bersumber dari pencemaran laut sendiri dapat berasal dari dari:34 a. hlm. 14. 16. Instalasi minyak di lautan yang mungkin mengalami kebocoran atau rusak. Pemahaman mengenai efek yang ditimbulkan dari pencemaran laut sangatlah penting untuk diketahui oleh seluruh stakeholders. Pencemaran melalui udara. tetapi lebih dari itu pelaku pencemaran laut memahami dampak hukum yang timbul akibat aktifitas pencemaran yang dilakukannya. V No.154 udara. State Cooperation In Combating Transboundary Air Pollution. kebocoran kapal. Bukan hanya memahami gambaran sumber-sumber pencemaran laut sebagaimana telah dijelaskan di atas. c.

Beberapa kasus yang relevan. 18.. op. bahaya terhadap kesehatan manusia. (Bandung: Universitas Padjajaran. 1977). 37 Komar Kantaatmadja. hlm.155 manusia secara langsung atau tidak langsung bahan-bahan atau energi ke dalam lingkungan laut (termasuk muara sungai) yang menghasilkan akibat yang demikian buruknya sehingga merupakan kerugian bagi kekayaan hayati.. pemburukan daripada kualitas air laut dan menurunnya kualitas tempat pemukiman dan rekreasi. misalnya kebocoran alami yang sering terjadi dari lapisan bumi sendiri baik dalam bentuk minyak bumi maupun dalam bentuk mineral-mineral lain yang secara terus menerus mengalir ke lautan (baik bersumber dari daratan maupun dari lautan itu sendiri. 36 . hlm. C. 5. Kasus Newmont dan kasus Tumpahan minyak di Kepulauan Natuna diberikan dalam bentuk powerpoint yang diekstraksi dari data yang bersumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan power point dari Prof.37 3.36 Pengertian di atas tentunya menimbulkan perdebatan panjang khususnya menyoal tentang pelaku pencemaran laut yang hanya difokuskan pada aktifitas manusia.cit. Padahal faktanya. penggunaan laut yang wajar. Dalam hal ini analisisnya diletakkan pada upaya eksaminasi atas putusan kedua kasus yang telah mendapat memperoleh kekuatan hukum yang tetap (incraht). gangguan terhadap kegiatan di laut termasuk perikanan dan lain-lain. Daud Silalahi yang menggambarkan bagaimana kedua kasus ini terjadi dan akibat yang timbulkannya. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran kesebelas dilakukan dalam bentuk makalah dengan menganalisis beberapa kasus Newmont dan Kasus tumpahan minyak di perairan Natuna. Mochtar Kusumaatmadja. Pencemaran Laut dan Pengaturan Hukumnya. pencemaran laut dapat saja disebabkan oleh aktifitas alam itu sendiri.

Hukum Lingkungan : Sistem Hukum Pencemaran. . State Cooperation In Combating Transboundary Air Pollution. Bandung: Alumni. Munadjat Danusaputro. 1 Juni 2009 : 24.156 Daftar Bacaan Alma Manuputty. 1977. Jurnal Hukum Internasional “Jurisdictionary”. Vol. Komar Kantaatmadja. Ganti Rugi Internasional Pencemaran Minyak di Laut. V No. Bandung: Universitas Padjajaran. 1981. 1986. Bandung: Bina Cipta. Pencemaran Laut dan Pengaturan Hukumnya. Mochtar Kusumaatmadja.

deelen of groepen van zaken. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa kuliah interaktif. die in hoofdzaakkourder zijn dan 50 jaar of tot een ten minste 50 jaar oude stijil – periode behooren en voor de praehistorie. kejelasan dalam mengungkapkan pendapat dan ketepatan dalam menguraikan teori pembelajaran akan dilaksanakan selama 100 menit untuk masing – masing pembelajaran dengan media modul bagi masing– masing pembelajaran sebagai pengantar yang diberikan bagi peserta didik. “ Onder monument worden in deze ordonnantie verstaan : a. Uraian Peraturan perundang–undangan yang ada kaitannya dengan pengangkatan dan pemanfaatan benda–benda berharga di dasar laut perairan Indonesia. studi kasus dan diskusi kelas. budaya.157 BAB 13 BAHAN PEMBELAJARAN 12 dan 13 A. Peraturan perundan –undangan yang ada kaitannya dengan penangkatan dan pemanfaatan benda–benda berharga di dasar laut perairan Indonesia yaitu Monument Ordonnantie STb. B. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu partisipasi dalam diskusi.238 tahun 1931 dengan berbagai implementasinya berupa instruksi–instruksi pimpinan–pimpinan kita ketahui bahwa dalam KEPPRES Nomor 43 tahun 1981 pasal 1 yang dimaksudkan dengan benda berharga adalah benda yang mempunyai nilai sejarah. Door menschenhand tot stand gekomen ontroerende of roerrende zaken. ekonomi dan lainnya. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu ke 12 dan 13 adalah mahasiswa dapat menjelaskan pengertian harta karena serta berbagai istilah terkait serta pengaturannya baik pengaturan internasional maupun nasional. (terjemahan bebas) . dan wel overblif selen daarvan. gescheidenis of kunst van groot belang worden geacht”. Dari pengertian tersebut jelas dapat kita kaitkan dengan apa yang menjadi kriteria dalam pasal 1 ayat (1a ) Monument Ordonnantie Stb. 238 tahun 1931 sebagaiman kami kutip di bawah ini.

peniggalan sejarah dan purbakala. Benda–benda bergerak maupun tidak bergerak yang dibuat oleh tangan manusia.158 “ Yang dimaksud sebagai monumen dalam ordonnantie ini : a. cultural property. Namun jika yang dimaksud berupa benda–benda logam yang tidak mengandung nilai seni sama sekali misalnya emas balokan mungkin benda– benda tersebut dapat dianggap hanya mempunyai nilai ekeonomi. on religious or secular ground. bagian atau kelompok benda–benda dan juga sisa sisanya yang sedikit–sedikitnya berumur 50 tahun dan dianggap mempunyai nilai penting bagi presejarah. Unesco. maka jelaslah bagi kita bahwa hubungan atau kaitannya amat erat. . sejarah atau kesenian. Sebagai contoh kami kutip pengertian cultural property dari Covention yang disebut belakangan yaitu sebagai berikut : “The term cultural property menas property which. Karena sesungguhnya jika benda–benda yang mempunyai nilai penting bagi prasejarah dan kesenian seperti dinyatakan dalam MO. cultural heritage. kami mecoba menyebutnya juga Cagar Budaya atau lebih tepatnya Benda Cagar Budaya. juga dinilai dengan uang jelas akan mempunyai nilai ekonomis yang relative tinggi. Jika kita simak apa yang dimaksud benda berharga seperti kemukakan dalam KEPPRES Nomor 43 tahun 1989 tersebut di atas dengan pengetian dari sudut Monumenten Ordonantie Stb. sekali pun dalam KEPPRES tersebut ada makna yang dikandung mempunyai nilai ekonomi. Apa yang dimaksud dengan monumen dalam pengertian MO tersebut di atas biasanya ada persamaan dengan pengertian cultural heritage atau cultural property dalam berbagai International Convention dan Recommendation misalnya dalam “Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage” tahun 1972.” Pengertian – pengertian seperti monument. prehistory.1970 dan lain. Sebutan Benda Cagar Buadaya disesuaikan dengan apa yang dicantumkan pada pasal 14 undang– undang Republik Indonesia nomor 4 tahun 1982 tentang “ ketentuan–pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup” yang antara lain menyatakan bahwa : “ Ketentuan tentang perlindungan cagar budaya ditetapkan dengan Undang–undang”. Convention on the means of Probibiting nada Preventing the Illicit Import. history. 14 Nov. 238 tahun 1931 tau konvensi–konvensi internasioanl UNESCO. sekali.art or science and wich belongs to the following categories: …….lainnya. is specially designated by each State as being of importance for archaeology. literature. Export dan Transfer of Cultural Property.

alat–alat perang. sejarah atau kesenian. Australia. termasuk eksploitasi perdagangan melalui sisa–sisa kapal–kapal yang hilang : penelitian mengenai lambung–lambung kapal. Dibawah spronsor CAN dilaksanakan juga penyelenggaraan pendidikan berupa kursus–kursus tentang under water archaeology di School for Nautical Archaeology di Plymouth (SNAP) di bawah pimpinan Lt – Cmdr Alam Bax dan Mr. Pada waktu itu tidak ada bandingnya badan atau komite tersebut di Inggris. Jepang dan Prancis dan lain–lainnya. . Suatu contoh di London baru sejak tahun 1964 dibentuk suatu Committee for Nautical Archaeology yang bertujuan mengkoordinasikan penyelam–penyelam dengan ahli ahli purbakala daratan (land Archaeologist). Kelompok yang disebut GRASP yaitu Groupe de Recherche Archaeologique Sous Marine Post Medievale.159 Jika benda–benda seperti keramik jumlahnya ribuan dan jenisnya sama apalagi kualitasnya kurang baik mungkin contoh yang disimpan dimuseum beberapa saja. telah melakukan penelitian–penelitian dan penggalian–penggalian kapal–kapal dari abad 16 dan awal abad 19 dengan maksud mendapatkan dokumen sejarah ekspansi bangsa Eropa dilautan. Berkembangnya underwater archaelogi baru–baru saja kira–kira tahun 1960 an. Sejak itu maka ternyata penyelam–penyelam mempunyai sumbangan yang penting bagi dunia Arkeologi. Oleh karena itu yang penting dalam masalah ini penilaian seksama apa yang dimaksud dengan nilai penting bagi prasejarah. Permasalahan Hingga Terbit Kepres Nomor 43 Tahun 1989 Dari sejumlah pasal–pasal dan ayat–ayat dalam Monument Ordonantie memang tidak ada satupun yang secara eksplisit dihubungkan dengan benda– benda atau monumen yang dikaitkan dengan masalah underwater Archaeology. Masalah ini baiklah kita bicarakan kemudian. komite tersebut seringkali didengar dengan singkatan CAN. maka sisa yang jumlahnya ribuan tersebut dapat dianggap mempunyai nilai ekonomis bila dijual. Kemudian tumbuh berkembang perhatian terhadap underwater archaeology di beberapa Negara yang sudah maju. Hal itu dimungkinkan bahwa apad tahun–tahun tiga puluhan belumlah ada suatu undang–undang keterbukaan di hampir seluruh dunia mengkaitkan atau mencantumkan masalah underwater archaeloyi atau arkeologi bawah air. seperti Amerika Serikat. Jim Gill.

Dari segi MO yang dapat diakibatkan secara tidak langsung ada beberapa pasal misalnya pasal 6 ayat (1) dan (2) tentang pembawaan. Pada tanggal 14 agustus 1989 Presiden Republik Indonesia melalui KEPRES Nomor 43 tahun 1989 menetapkan . Benten. perdagangan dan lain sebagainya yang perlu untuk melengkapi kegelapan–kegelapan sejarah tersebut. Sementara tetap kita sebagai bangsa perlu mengembangkan ilmu purbakala bawah air. Aceh. Delauze. Dengan kejadian–kejadian pencurian seperti pernah dilakukan oleh orang– orang yang tidak bertanggung jawab. barang–barang yang d ipakai sehari hari dan muatannya. Pasal–pasal tersebut biasanya diterapkan benda–benda dar daratan. Mataram. VOC. Witte Leeuw. Kegiatan GRASP tersebut sejak tahun 1967 dan dapat bantuan dari perusahaan COMEX di Marseille. Di samping itu pula berbicara tentang peraturan perundang–undangan yang ada seperti Monumenten Ordonantie atau undang–undang lainnya belum secara khusus mengatur perlindungan benda–benda berharga bawah air. navigasi dan peralatan lainnya. Bahkan sejarah teknologi pembuatan kapal–kapal pada masa kerajaan–kerajaan kita di masa lampau seperti Sriwijaya. karena tanah air kita jelas memerlukan untuk diteliti benda– benda bersejarah apa dan kapal – kapal apa yang tenggelam dilautan kita itu. hilang di Pulau St. hilang di Yeil ( Sheland ) 1653. Danish Asiatic Company tenggelam di Feltar (Shetland) 1937. Goa dan lainnya akan memberikan bukti tentang kebaharian bangsa kita. Majapahit. maka pemerintah merasa perlu membentuk Panitia Nasional untuk mengurusi masalah–masalah pengangkatan benda–benda berharga di dasar laut perairan Indonesia. Demikian pula tentang penemuan benda–benda di dasar lautan biasanya dikaitkan dengan pasal–pasal tersebut di atas. Henry G. Lastdrager. Helena (South Atlantic Ocean) 1613 dan masih banyak kapal lagi yang tidak perlu disebutkan disini. Slotter Hooge. dibawah Presiden Direktur Jenderal yaitu Mr. Ilmu purbakala bahwa air amat perlu bagi mengungkapkan peristiwa–peristiwa sejarah: pelayaran. pengambilan benda cagar budaya atau monument menurut pengertian MO sedang pasal 9 hanya menyatakan masalah penggalian yang mungkin dikaitkan apabila terjadi penggalian didasar laut. VOC hilang di Porto Santo ( Madeira Archipelogi )1724. VOC.160 perabotannya. pemindahan. GRASP telah berhasil mengangkut kapal– kapal dagang dan kapal perang seperti Wedela.

ook al zijnzij niet in genoemd register ingeschreven”. meskipun tidak tercatat pada daftar tersebut. welke voorlooping of difinitief in het openbaar central monumentenregister zijn geschreven of ingevolve artikel 8 lid (2). 62/MK/III/2/1970:Nomor : KEP. Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Central Nomor : 27 a/ Kpb/II/1970. mengenai benda–benda bersejarah yang mempunyai nilai budaya. Mengenai perijinan pembawaan keluar negeri tersbut juga diingatkan oleh SKB Menteri Perdagangan.3/GBI/1970 tentang pembawaan/ pengiriaman b arang – barang keluar daerah pabean secara bebas dari ketentuan – ketentuan Devias. Butir–butir tersebut diatas sesuai dengan peraturan perundang–undangan yaitu dengan Monumenten Ordonantie St. Nomor Kep. 34 serta JUKLAK – nya maka setiap Departemen dan Instansi masing – masing yang mempunyai peraturan .161 pembentukan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfataan benda Berharga Asal Muatan Kapal Yang Tenggelam. masalah criteria nilai sejarah dan pasal 6 ayat (1) tentang keharusan ada ijin atau rekomnedasi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk membawa benda – benda cagar buadaya atau “monument” keluar Indonesia sebagaimana dapat kami kutip di bawah ini : “ He is verboden zonder vergunning van het hootd van den oud heidkundige dienst uit Nederlandsch. geacht worden daarin voorlooping te zijn ingeschreven. Dalam hubungan ini sudah jelas ada kaitan erat antara Deparatemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan Departemen Perdagangan dan Departemen Keuangan. dan pada butir (1. dateernde uit den voor Mohammadens chen tijd.4) Departemen Perdagangan. Dalam hubungan dengan KEPRES No. (Terjemahan bebas) “ Dilarang mengeksport dari Hindia Belanda (Kini Republik Indonesia) tanpa ijin Kepala Dinas Purbakala (kini direktur Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan sejarah Purbakala) benda–benda yang dicacat sementara atau tetap di dalam daftar monument umum pusat atau yang sesuai dengan pasal 8 ayat (2) dianggap di catat sementara maupun benda – benda yang berasal dar jaman sebelum Islam. Beberapa Kepmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan butir 1. 238 tahun 1931 pasal–pasal 1 ayat (1) a. zoo mede voorwerpen.2 “ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. terutama penegasan pasal 7. mengenai ijin ekspor dan penjualan / pelelangan benda berharga dengan rekomendasi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Indie uit to voeren : voor werpe.

Namun demikian tentu masih ada beberapa hal yang masih merupakan masalah karena dalam KEPRES No. Ming. masing–masing Departemen atau Instansi di haruskan membuat keputusan tentang cara pelaksanaan di bidangnya masing–masing tetapi yang jelas harusbersifat koordinatif dan interagtif. 43 tahun 1989 agaknya lebih masalah–masalah benda–benda berharga koordinasikan hal–hal atau masalah–masalah benda–benda berharga termasuk benda–benda historis atau arkeologis itu. Dengan terkoordinasikan adanya hal–hal KEPRES atau No. 9834/O/1989 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengangkatan Benda–benda Berharga khususnya yang berhubungan dengan Benda Cagar Budaya di Wilayah Perairan Indonesia. Karen itu terkoordinasi maka untuk pelaksanaan JUKLAK Ketua Panitia Nasional. Dengan demikian di harapakan kepentingan dunia pengetahuan dan sejarah. Pasal 4. Hal ini dicantumkan pada surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bab IV. Ching dan sebagainya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam hubungan ini telah menerbitkan surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. Kecuali untuk penelitian terhadap benda hasil pengangkatan benda berharga dilakukan oleh suatu Tim Penilaian Benda Cagar Budaya. dan kapal lain waktu perang Dunia II tenggelam di dasar laut di Wilayah Perairan Indonesia. Dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut tentang penelitian Arkeologi bawah air ditegaskan bahwa ijin penelitian arkeologi bawah air ditujukan kepada Panitia nasional tetapi dengan rekomendasi dar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. arkeologi bawah air akan lebih diperhatikan.162 perundang–undangan yang sudah ada tetap berlaku. Dari alinea itu masih dapat menimbulkan pertanyaan: bagaiman dengan kapal–kapal diluar yang disebut. 43 tersebut terutama bagi dunia arkeologi bawah air dan kaitannya juga dengan peraturan perundang –undangan lainnya belum mantap betu. yang tenggelam. Yuang. Majapahit. Bagaimanakah jika kerangka kapal–kapal yang ditetapkan tersebut tidak boleh diangkat? Padahal untuk penelitian arkeologi bawah air bentuk–bentuk kapal diperlukan untuk . Suatu contoh dalam KEPRES Pasal 1 butir b disebutkan kapal yang tenggelam adalah kapal VOC. Mataram dan lain sebagainya ? bahkan bagaiman dengan kapal Cina dari masa dinasti T’ang. Spanyol. Portugis. misalnya kapal–kapal zaman sriwijaya.

Masalah lainnya ialah bagaiman mengatur benda – benda arkeologis yang terdapat diperairan diluar territorial kita.(2) Unsur Komunikasi.163 meneliti sejauh mana teknologi pembuatan perkapalan itu. kelautan memerlukan penerapannya dalam bentuk atau cara antar lain mengadakan penelitian kandungan dasar lautan kita terutama dari segi marine archeology. Yang harus dilakukan kini adalah penjbaran dan pemanfataannya dari pad aide pembinaan bangsa – bangsa berdasarkan konsepsi kesatuan di setiap bidang kehidupan Nasional. sudah sejauh mana pelaksanannya khususnya mengenai pasal 149 benda – benda purbakala dan bersejarah yang berbunyi : “ semua benda – benda purbakala dan yang mempunyai nilai sejarah yang ditemukan di kawasan harus dipelihara atau digunakan untuk memanfaatkan umat manusia sebagai suatu keseluruhan. Mochtar Kusumaatmadja 11 tahun yang lalu sampai dimana sudah dimplementasikan oleh kita semuanya? persoalan lain dari segi hokum kelautan khususnya mengenai benda berharga dalam hal ini benda– benda bersejarah belum diimplementasikan dalam bentuk perundang–undangan. Beliau berkata dalam kesimpulannya: “ Bahwa segala unsure bagi diwujudkannya Wawasan Kesatuan Bangsa dan Negara itu kini telah tersedia yakni : (1) Unsur kesatuan wilayah.d 2 Maret 1979 di Jakarta.” Apa yang dinyatakan Prof. dan kesempatan adalah pada underwater archeology. .dan (3) Unsur Perencanaan. Konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1982. Jika ditemukan sebuah kapal dan muatannya dari zaman Sailendra atau Sriwijaya maka penting diketahui bagaimana sebenarnya bentuk dan teknik pembuatnnya? Apakah sama dengan apa yang terdapat pada gambaran atau relief kapal di Candi Borobudur ? hal–hal itu semuanya kita perlukan untuk mengadakan terus menerus penelitian. Kita sadar bahwa Wawasan Nusantara yang tidak terlepas dari masalah kemaritiman. Dr. dengan memperhatikan secara khusus hak – hak yang didahulukan dari negar asal kepurbakalan”. Kemanfaatan yang besar bukan hanya metrinya tetapi juga dari segi keilmuwan yang dapat menjadi dan membntuk Wawasan Kebaharian yang kuat pada bangsa sesuai apa yang pernah dihimbau oleh Mochtar Kusumaatmadja dalam ceramahnya “Bahan ceramah Menteri Luar negeri: Dalam Pengimplemantasian Wawasan Nusantara” pada rapat Rektor Universitas / Instuti Negri seluruh Indonesia tanggal 28 Februari s.

Perdagangan rempah–rempah terjadi antara Nusantara dengan Eropah yang tadinya melalui perantara pedagang Timur Tengah tidak dapat berlangsung seperti sediakala. pemanfataannya terutama hubungannya dengan perkembangan dunia arkeologi bawah air. tanpa persetujuan Negara pantai bersangkutan merupakan suatu pelanggran dalam wilayah atau laut teritorialnya.” Kecuali sampai sejauh mana pelaksanaannya maka sampai sejauh man pula akan dikaitkan dengan hukum – hukum laut nasional kita. Misalnya apabila masalah tersebut dicantumkan pada stu perundang–undangan maka jelas diperlukan cantumkan kaitannya dengan hukum–hukum yang berlaku bagi kelautan.hak para pemilik yang dapat dikenal. belumlah mantap secara tercantumkan pada perundang–undangan. Saran kami tentunya yang utama bagaimana mengatur tersebut dalam suatu undang – undang dan kaitannya dengan Undang – undang lain. 2.benda purbakala dan benda .benda bersejarah. Pasal ini tidak mengurangi arti daripada perjanjian . terhadap hokum dan peraturan-peraturan perundang. menaggap bahwa diambilnya benda benda tersebut dari dasar laut dalam daerah yang dimaksudkan dalam pasal yaitu. baik pengambilan. Negara –negara berkewajiban untuk melindungi benda–benda purbakala dan bersejarah yang ditemukan dilaut dan harus bekerjasama untuk tujuan ini. Semenjak . 4. kerna berkecamuknya perang Salib di kawasan itu. Dari uraian di atas maka semuanya kita dapat mengambil kesimpulan pokok bahwa masalah benda– benda berharga. Tiada satupun dalam pasal ini mempengaruhi hak.undangan benda . penelitian. Untuk mengendalikan peredaran benda–benda demikian negara pantai dapat. ditemukan di laut : benda–benda purbakal dan benda–benda bersejarah yang 1.perjanjian internasional dan peraturan hukum internasional lainnya perihal perundang . termasuk masalah kewenangan security. 3. dalam menerapkan pasal 33. hokum pengangkatan kerangka kendaraan air atau lain -lain peraturan tentang pelayaran atau hukum dan praktek yang berkenaan dengan pertukaran kebudayaan.164 Pasal 303.undangan yang dimaksudkan dalam pasal tersebut.

salah satu hasil jarahan Portugis di kawasan ini semasa jayanya di masa silam. Persoalan pertama yang harus dipecahkan ialah benda – benda berharga yang dilihat dari nilai historis. Lokasi dan penemuan kembali kapal – kapal yang tenggelam di Nusantara ini kini hampir dapat ditentukan. sutera dan sebagainya. Hal ini tidak lain karena hasil riset di arsip-arsip pelbagai Negara yang juga menggunakan peralatan canggih seperti komputer. Terungkaplah posisi Flor de la Mar yang tenggelam diselat Malaka dengan barang-barang berharga di antaranya emas permata dan harta benda lainnya dari kerajaan Malaka. mengambil dan menjual benda – benda berharga dari kapal Geldermalsen telah bekerja belasan tahun dimulai tahun 1972 di antaranya menyelenggarakan riset dimuseum dan perpustakaan negeri Belanda. budaya. Demikian pula halnya dengan peristiwa penemuan kapal De Geldermalsen yang pemberitannya dimuat dalam waktu yang cukup lama. jumlahnya tidak kecil. .Portugis dan Spanyol di masa silam. Dengan demikian maka persoalan pokoknya adalah bagaimana status hukum benda–benda berharga di dasar laut dan perairan Indonesia. Dan setelah diangkat. Permasalahannya timbul setelah diketahui dan disadari potensi kekayaan benda–benda yang terpendam di dasar laut dan di perairan Indonesia yang tenggelam bersama kapal dagang VOC. arkeologinya dan nilai ekonominya itu milik siapa. Ratusan kapal bermuatan benda–benda berharga yang tenggelam tergelatak di dasar laut di Nusantara kita ini dan sekitarnya. piring dan mangkok serta jembatan terbuat dari tembikar dan porselin. Selanjutnya untuk dapat melakukan pengangkatannya dari dasar laut siapa yang berwenang mengeluarkan ijin. tetapi juga benda budaya dan seni dari Timur seperti hiasan emas permata. Diantara armada dagang yang melaksanakan misinya itu tidak sedikit yang terdampar dan tenggelam dan tenggelam karena ganasnya laut. Armada dagang yang berlayar kemabli menuju Eropah bermuatan tidak hanya rempahrempah. dan juga bagaiman tata cara penangkatannya. dan dijual manfaatnya untuk siapa. Demikian pula halnya falan survey dan eksplorasi di laut peralatan mutakhir dan canggih dipergunakan.165 itu 5 abad yang lalu para pedagang Eropah dengan Armada lautnya mengirim mis misi dagang langsung ke sumber asalnya rempah-rempah di Nusantara. Michael Hatcher sebelum mengangkat.

meliputi perairan kepulauan dan laut wilayah serta dasar laut dan tanah di bawahnya. d. b. ekonomi. Pengangkatan adalah kegiatan yang meliputi penelitian. yang di dalamnya mengandung asas persatuan kesatuan nasional. asas kepentingan nasional dan asas integritas wilayah nasional. dan hokum perdata Indonesia. Zona ekonomi Eksklusif Indonesia dan Landas Kontinen Indonesia. Beberapa pengertian : a. ekonomi. Hal ini berarti Indonesia mempunyai wewenang yang mutlak atas benda–benda . seperti halnya dengan Indonesia. Karena itu pendekatan masalahnya menggunakan pendekatan Ketahanan Nasional dan Wawasan Nusantara. Konvensi Hukum Laut Tahun 1982 Konvensi Hukum laut Tahun 1982 yang telah diratifikasi Indonesia dengan undang – undang Nomor 17 Tahun 1985 (selanjutnya disingkat KHL 1982 menentukan bahwa kedaulatan suatu Negara kepulauan. Zona Tambahan Indonesia. Status hukum benda–benda berharga yang terdampar di dasar laut dalam perairan Indonesia menyangkut masalah pemilikan yang terkait pula dengan lokasi dimana benda–benda berharga tersebut dapat dilihat dar ketentuan–ketentuan dan asas–asas hukum internasional Indonesia. Laut adalah perairan yang berada dalam yurisdiksi nasional Indonesia yaitu perairan Indonesia Indonesia. budaya. asas keterpaduan. juga udara di atasnya ( video pasal 2 dan pasal 49 KHL 1982 ). c. survey pengangkatan benda berharga asal muatan kapal tenggelam selama dan sebelu perang dunia kedua serta kegeiatan lainnya sebelum pemenfaatan. arkeologi. seyogyanya ditinjau dari ketentuan–ketentuan dan asas hukum tersebut. Pemanfaatan adalah kegiatan yang meliputi penjualan dan pemanfaatan lain seperti penyimpanan di Museum. Benda berharga adalah benda yang mempunyai nilai sejarah.166 Persoalan–persoalan tersebut tidaklah mudah di samping saling terkait juga karena menyangkut pelbagai kepentingan baik politik. sosial budaya maupun Hankam yang kaitannya tidak hanya nasional tetapi juga regional dan internasional. dan lainnya. Demikian pula hanya dengan pemilikan kapal yang mengangkut dan kemudian tenggelam bersama muatannya.

nya. dan saniter. Sedangkatan pengangkatan dan pemanfataan benda–benda berharga di Zona Tambahan. Bahwa benda berharga letaknya berada di dasar laut. kita mempunyai yurisdiksi eksklusif guna melindungi kepentingan nasional dalam kebecukaian. keimigrasian. harus dengan ijin dan kerja sama dengan Pemerintah Indonesia. fiskal.167 berharga yang terpendam di dasar lautnya. Sumber daya alam yang terkait dengan rejim Landas Kontinen tidak . namun dengan diratifikasinya KHL 1982 maka Zona tambahan Indonesia dianggap telah ada. Pengangkatan dan pemanfaatan benda–benda tersebut haruslah seijin dan kerja sama dengan Indonesia. Pernyataan mengenai status hukum benda–benda berharga yang berada di perairan Indonesia sebagai milik Indonesia merupakan tindakan sebagai Negara yang berdaulat terhadap sumber alam dan kekayaan lainnya yang ada di situ. Di Zona Tambahan Indonesia. fiskal. Eksplorasi dan aksploitasi dalam rangka pengangkatan dan pemanfataan benda – benda berharga di Zona Tambahan tersebut karenanya haruslah seijin Pemerintah RI. Di ZEE hak berdaulat Negara di pantai ditujukan guna kepentingan eksplorasi. maka dalam kaitan ini sebaiknya rejim Landas Kontinen yang di utamakan. imigrasi ataupun saniter di dalam wilayah ataupun laut wilayahnya. eksploaitasi. tetapi juga didukung oleh ketentuan–ketentuan dan asas hukum lainnya diuraikan di bawah nanti. seiring dengan ketentuan Pasal 303 ayat 2 jo Pasal 33 KHL 1982. konservasi dan manajemen terhadap sumber daya alamsaja. maka tidak pihak atau seorang pun juga boleh melakukan kegiatan dimaksud di Landas Kontinen. bukan rejim ZEE. Pernyataan yang demikian. Kemudian dari pada itu bagaimana perlaukan ataupun status hokum benda benda berharga di dasar laut di ZEE Indonesia ataupun di Landas Kontinen. tetapi juga untuk mengeksplorasi landas kontinennya itu sendiri yang dikaitkan dengan “ sumber daya alam” ataupun untuk kepreluan lain. Lagi pula jika Negara pantai tidak mengeksplorasi dan tidak mengeksplotasinya. bukan hanya merupakan perwujudan pelaksanaan kedaulatannya. Pengangkatan benda–benda berharga tersebut dari dasar laut tanpa persetujuan Indonesia akan merupakan pelanggaran peraturan perundang – undangan beacukai. Walaupun saat ini Indonesia belum secara resmi mengumumkan adanya Zona Tambahan berupa lajur laut selebar 12 mil di luar dan berdekatan dengan laut wilayahnya.

dengan memeprhatikan masing masing keutamaan kepentingan pihak–pihak yang terlibat maupun masyarakat internasional keseluruhannya. maka penyelesainnya akan dilakukan yang ditetapkan sesuai ketentuan pasal 59. Pasal 59 KHL 1982 sebagai hasil ‘Castaneda Formula”menyatakan bahwa dalam hal–hal Konvensi Hukum Laut tidak jelas menentukan hak–hak atau yurisdiksi kepada Warga Negara pantai atau kepada Negara lain di ZEE.168 hanya terbatas pada mineral saja tetapi meliputi sumber daya non hayati lainnya pada dasar laut (Other non living resources of the sea bed and subsoil ) dan tanah di bawahnya ( vide Pasal 77 KHL 1982 ). Dengan demikian termasuk benda–benda berharga di dasar laut yang diatasnya Negara pantai mempunyai hak berdaulat. . kata sementara penulis. Semua Negara berkewajiban untuk melindungi benda–benda arkeologi dan sejarah yang ditemukan di laut di manapun di temukan dan semua Negara berkewajiban untuk melindungi bendabenda arkeologi dan sejarah yang ditemukan di laut di manapun ditemukan dan semua Negara harus bekerja sama untuk maksud tersebut (vide pasal 303 ayat 1 KHL). paling tidak dengan maksud untuk melindungi benda – benda berharga di Landas Kontinennya.benda berharga di ZEE dan Landas Kontinen. Indonesia sebagai negara yang sangat berkepentingan dalam hal ini berkewajiban untuk mengaturnya. Siapa yang berwewenang mengatur hal–hal yang tidak jelas diatur dalam konvensi. Dengan demikian pengangkatan benda–benda berharga di Landas Kontinen Indonesia haruslah dengan persetujuan dan setidak– tidaknya kerjasama dengan Pemerintah Indonesia. Sehubungan dengan hal ini patut dikemukakan selama Konperensi Hukum Laut PBB – III. maka Negara pantai dapat menentukan ketentuan–ketentuan mengenai benda. Dan jika nanti ada yang mempermasalakn sah atau tidaknya ketentuan yang ditetapkan itu. Dalam hubungan dengan “resource” ini termasuk dalamnya pengertian archaeological and historical objects. maka jika kelak timbul sengketa itu harus diselesaikan berdasrkan keadilan dan dengan pertimbangan segala keadaan yang relevan. Karena ZEE dan Landas Kontinen bukan lagi merupakan bagian dari laut yang mempunyai ketentuan – ketentuan tersendiri. (Kemudian menghasilkan KHL 1982) ialah “residual power” Negara pantai atas ZEE.

169

Dengan demikian tidak ada kelirunya kita memikirkan pengaturan benda– benda berharga di ZEE dan di Landas Kontinen sesuai dengan arah KHL 1982 (vide pasal 303 KHL 1982), minimal untuk melindunginya. Hukum Perdata International Hukum perdata International dalam menentukan hukum apa yang berlaku terhadap suatu benda telah mengalami perubahan. Di masa yang lalu factor menentukan hukum kebendaan manakah yang berlaku adalah hukum dari letaknya benda tersebut berada (lex, situs, lexrel sitae) hanya berlaku untuk benda bergerak (movaebles) yang berlaku adalah adagium ”mbilia personam sequenter” (benda bergerak mengikuti status dar orang). Namun kini sudah umum diterima baik oleh para penulis maupun praktek hokum, bahwa kaidah “lex rei sitae” juga berlaku baik terhadap benda bergerak maupun tak bergerak, terhadap kedua jenis benda dimaksud (movables and Immobales) berlaku hukum kebendaan dimana benda tersebut terletak. Hukum perdata Internasional Indonesia kini juga mengikuti asas ini, meskipun ketentuan Pasal 17 A.B hanya memperlakukan untuk benda tak bergerak saja. Dalam lalu lintas hukum internasional kini dan di masa datang ketentuan seperti yang termuat dalam pasal 17 A.B telah lama ditinggalkan. Pakar hokum Indonesia dalam hal ini menegaskan’. Diwaktu sekarang asas inipun dipergunakan untuk benda – benda yang tak bergerak. Juga hak – hak kebendaan (zakelyke rechten) atas benda – benda bergerak tunduk kepada hukum dimana benda–benda itu berada’. Pemikiran kepentingan nasional dengan memperhatikan perkembangan internasional kiranya mau tidak mau membawa kita kea rah pemikiran dan tindakan yang demikian. Oleh karena itu terhadap benda – benda berharga yang berada di dasar laut dalam perairan Indonesia berlakukalah hukum kebendaan dimana benda berharga tersebut terletak yaitu hukum Indonesia yang disesuaikan dengan rejim hukum. Hukum Agraria Nasional Bahwa kewenagan mutlak Indonesia terhadap benda harga yang berada di laut dalam perairannya diperkuat pula filsofi Hukum Agraria Nasional kita yang

170

dalam Penjelasan UU No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar pokok–pokok Agraria antara lain menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia merupakan kesatuan tanah air dari seluruh rakyat Indonesia yang bersatu sebagai bangsa Indonesia.dan seluruh bumi air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya, merupakan kekayaan nasional. Karena itu pemilikan terhadap benda–benda, apabila dilihat dari ketentuan– ketentuan perundang –undangan perairan nasional kita yang ada saat ini belum secara resmi dinyatakan sebagai milik Indonesia; maka undang–undang perairan Indonesia yang akan datang kiranya penuangnya perlu mendapat perhatian yang sungguh – sungguh.

Hukum Perdata Pemilikan ataupun penguasaan benda–benda berharga dasar laut dan perairan Indonesia oleh Pemerintah Indonesia cukup pula kuatnya dasarnya. Ketentuan–ketentuan tentang Daluwarsa dalam Bab ke Tujuh KUH Perdata memuat ketentuan yang dapat digunakan untuk menguatkan dasar kepemilikan Negara RI. Penguasaannya dari dahulu kala, terus–menerus dan dengan itikad baik, setidak–tidaknya Indonesia telah menguasai benda–benda berharga di dasar laut dan perairannya lebih dari 30 tahun. Penguasaannya dapat ditunjuk dengan penguasaan perairan Indonesia. Dengan menggunakan TZMKO 1939. Dan jik perairan Indonesia cukup pula kuat dasarnta. Ketentuan–ketentuan tentang Daluwarsa dalam Bab ketujuh KUH Perdata memuat ketentuan yang dapat digunakan untuk menguatkan dasar kepemilikan Negara RI. Penguasaannya dar dahulu kala, terus menerus dan dengan itikad baik, setidak–tidaknya Indonesia telah mengusai benda–benda berharga di dasar laut dan perairannya lebih dari 30 tahun. Penguasannya dapat ditunjuk dengan penguasaan perairan di Indonesia dengan menggunakan TZMKO 1939. Dan jika perairan Indonesia dimaksud kini sudah jauh berbeda dengan perairan pada saat lahirnya TZMKO, dihitung sejak lahirnya Deklarasi Djuanda 1957 juga cukup alasan untuk itu. Pemilikan Dan Penguasaan Kapal Yang Tenggelam Demikian pula pemilikan dan penguasaan kapal yang tenggelamdi masa silam itu atasnya berlaku pula ketentuan – ketentuan dan asas – asas yang

171

diuraikan dalm butir – butir 7,8,9 dan 10 diatas. Juga apabila dilihat dari segi pewarisan penguasa di negeri ini ataupun ada pihak yang merasa mengaku berhak atasnya, maka alasannya untuk itu adalah alasan yang mengada – ada. Mekanisme Pengangkutan dan Pemanfaatan Benda – Benda Berharga. Mekanisme bagaiman tata cara yang harus ditempuh guna mengangkat dan memanfaatkan benda–benda berharga di dasar laut dalam perairan Indonesia sudah terutang di dalam Keputusan Presiden RI Nomor 43 tahun 1989 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal MUtan Kapal Tenggelam, kemudian diikuti Keputusan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam Nomor : Kep–4 / PN/BMKT/12/1989 tentang Cara Pemberian Izin/ Security Clearance Dalam Rangka Kegiatan Pengambilan Dan Pemanfaatan Benda – Benda Berharga Yang Merupakan Muatan Kapal–Kapal Yang Tenggelam Dalam Perairan Indonesia. Bila kita simak ketentuan–ketentuan yang ada tentang tata cara pengangkatan dan pemenfaatan benda–benda berharga dimaksud diatas berulah benda–benda berharga di maksud di atas barula meliputi benda–benda tenggelam di masa silam dan yang merupakan muatan kapal–kapal VOC, Spanyol, Portugal dan dari kapal–kapal ex Perang Dunia ke II, yang telah tenggelam dalam perairan Indonesia. Namun suatu hal yang perlu menjadi catatan bahwa keputusan– keputusan dimaksud di atas jika kita pelajari dengan seksama bagaiman caranya menangani masalah pengangkatan dan pemanfataan benda–benda berharga tersebut telah melakukan pendekatan dengan menganut asas perbuatan kesatuan nasional, asas keterpaduan, asas kepentingan nasional dan asas integritas wilayah nasional. Bagaimana sikap kita terhadap benda–benda berharga di Zona tambahan Indonesia, di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia/Landas Kontinen Indonesia belumlah ada. Dari uraian di atas tadi cukup alasan bagi pemerintah RI untuk menetapkan pengaturan pengangkatan dan pemanfaatannya, setidak – tidaknya dalam upaya melindungi benda – benda berharga tersebut baik untuk kepentingan Indonesia sendiri maupun kepentingan umat manusia seleuruhnya. Di Zona tambahan jelas sudah, bahwa pengangkatan dan pengangkutan benda–benda

172

tersebut minimal harus seijin dan kerja sama dengan Pemerintah RI karena pengankatan dan tentunya nanti juga pengangkutannya berada dalam yurisdiksi RI berkaitan dengan imigrasi, fiscal, bea cukai dan sanietr sedangkan bagi benda– benda berharga di Zona Ekonomi Eksklusif setidak–tidaknya akan menyangkut masalah izin mengadakan riset dan survey dikawasan itu dalam upaya eksplorasinya atau mengeksploitasnya maka tidak seorang pun dapat melakukan kegiatan dimaksud tanpa persetujuan yang jelas tegas dari pemerintah RI ( vide pasal 77 ayat 2 KHL 1982 ). Pemilikan ataupun penguasaan benda–benda berharga yang terdapat di dasar laut dalam perairan Indonesia adalah sepenuhnya di tangan Pemerintah RI sebagai wakil Negara dan bangsa Indonesia tidak dapat dipungkiri. Tata cara pengangkatan dan pemanfaatannya telah cukup diatur dalam Keppres RI No. 13 Tahun 1989. Keputusan Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang tenggelam Nomor : Kep – 4 / PN/BMKT/12 1989 dan Keputusan Menhankam RI Nomor : Kep/12/VI/1989 tentang tata cara Pemberian ijin/Security Clearance Dalam Rangka Kegiatan Pengambilam dan Pemanfaatan benda – benda berharga di Zona Tambahan dan di Landas Kontinen belumlah ada dan pemikirankita tidak ada kelirunya diarahkan bagi terwujudnya pengaturan yang demikian. Pengangkatandan pemanfaatan benda – benda berharga di Zona Tambahan harus seijin dan kerjasama dengan pemerintah RI, yurisdiksi nasional Indonesia di Zona tambahan terkait dengan ketentuan imigrasi, fiskal, bea cukai dan saniter. Di ZEE Indonesia/ landas Kontinen Indonesia pengangkatan dan pemanfaatannya harus dengan ijin dan kerja sama pemerintah RI minimal untuk perlindungannya bagi kepentingan Indonesia dan umat manusia seluruhnya memerlukan pengaturan.

C. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas meteri pembelajaran 12 dan 13 dilakukan dalam bentuk penulisan kuis diakhir perkuliahan yang dikemas dalam beberapa pertanyaan, seperti : 1. Sampai sejauh mana hak Negara Republik Indonesia atas benda – benda tersebut ? 2. Benda – benda itu milik siapa ?

Uka Tjandrasasmita.d 2 Maret 1979 di Jakarta. London. Siapa yang berwenang mengeluarkan izin untuk melakukan pengangkatan dari dasar laut ? 4. New Ton Abbot: David & Charles. Kewenangan Derah dan Eksploitasi Sumber Daya Non Hayati ( Paper ) Uka Tjandrasasmita. Konvensi Hukum laut PBB 1982 Keppres RI N0. Manfaatnya untuk siapa ? Daftar Bacaan Bill ST John Wilkes. Perlindungan Benda Cagar Budaya Nasional (Protection Of National Vultural Heritage). New York. Peangkatan dan Pemanfaatan Benda – Benda Purbakala di Dasar Laut Perairan Indonesia (Paper). Harper Colophon Books. Sejarah Perkembangan Hukum Laut dan Kaitannya dengan Hukum Internasional. Mochtar Kusumaatmadja. George F. 43 tahun 1989 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam Beserta Implementasinya.1985. The Ceramic Load of the Witte Leeuw (1613). Nautical Archaelogy A Handbook. Bahan ceramah Menteri Luar Negeri Dalam Pengimplementasian Wawasan Nusantara”. KEPPRES No.. Tanpa tahun. 1975. 43 Tahun 1989 tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam.L van der pijl–Ketel (editor). C. Safri Burhanuddin. Archaelogy Beneat The Sea. Pada rapat kerja Rektor Universitas /Institut Negeri Seluruh Indonesia. Amsterdam: Rijkmuseum Amsterdam.173 3. Makalah untuk peserta Kursus Perundang–undangan Lingkungan Hidup di Puncak. Kementerian Kelautan dan Perikanan. tanggal 28 Februari s. 1971. Bass. .

rezim pengelolaan sumberdaya. ada dua koor yang sangat kontras. kuliah interaktif. sehingga siapapun boleh menangkap ikan dimana saja. Uraian 1. Otonomi Daerah (Otoda) hanya akan merusak ciri laut yang bersifat open access tersebut. Desentralisasi Kelautan: Evaluasi dan Proteksi Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22/1999 (sebelum diganti dengan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemda). Padahal. ikan tidak punya “KTP”. Laut adalah pemersatu dan bukan pemisah. Pertama. Tidak ada istilah laut daerah. Argumentasi lainnya. dan pemerintah propinsi. Cukup kuat anggapan bahwa laut adalah milik negara (state property). Menurut kelompok ini. dan diskusi. B. Sehingga. yang menolak pasal 3 dan pasal 10 yang mengatur kewenangan daerah dalam pengelolaan laut. serta mengganggu konsep keutuhan bangsa. Sasaran pembelajaran dimaksud hendak dicapai dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa discovery learning dengan small group work. Kelompok ini dimotori HNSI. prinsip-prinsip pengelolaan perikanan Indonesia”. Argumentasi yang mengemuka tidak jauh dari beberapa isu. khususnya seputar property right. dan konflik nelayan. lanjut kelompok ini. bahwa Otda hanya membuka ruang bagi nelayan untuk mengkavling wilayahnya. Kerjasama tim. dan lalu nelayan pun punya hak untuk “mengusir” nelayan lain (exclusion rights). Partisipasi dalam diskusi. beberapa ahli hukum laut. anggapan .. Pembelajaran ini akan dilaksanakan selama 200 menit (2 kali tatap muka) dengan media modul sebagai pengantar yang diberikan pada peserta didik. Penguasaan individu. Sasaran Pembelajaran Sasaran pembelajaran yang hendak dicapai pada minggu XIV dan XV bahwa “Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian.174 BAB 14 BAHAN PEMBELAJARAN 14 dan 15 A. Adapun kriteria yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik yaitu Kemampuan menyajikan fakta-fakta terkait perlindungan dan pelestarian lingkungan laut.

Umumnya sumberdaya akibat mereka berangkat dari fakta rusaknya kelautan. sentralisasi itu memang merupakan kecenderungan negara-negara di dunia pasca perang dunia II. Konsep community based management (CBM) dan co-management merupakan turunan dari konsep desentralisasi tersebut. 2007. pada saat desentralisasi dihujat habis-habisan di Indonesia. Beberapa kalangan akademisi berada dibelakang konsep ini. Di sisi lain.38 Kedua. pasca-kolonialisme banyak negara di dunai memiliki semangat baru 38 Abdul Rasal Rauf. Sehingga. Hal ini terlihat dari adanya kecenderungan sebagian bupati hanya mengejar pendapatan asli daerah (PAD) dari sumberdaya laut. Bagaimana sesungguhnya sejarah lahirnya keinginan terwujudnya desentralisasi kelautan ini? Secara historis. kalangan pengusaha sebagian anti desentralisasi karena berkaitan dengan iklim investasi yang tidak kondusif. sentralisasi manajemen sumberdaya Sentralisasi telah mengurangi sense of stewardship para nelayan dan pemerimntah daerah terhadap lautnya. Sementara kalangan bupati yang juga mendukung desentralisasi lebih disebabkan adanya “hadiah” kewenangan baru yang cukup besar dalam pengelolaan sumberdaya laut. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). enforcement cost pengelolaan oleh negara sangatlah tinggi. Sementara itu. Isi revisinya mengakomodasi suarasuara yang anti desentralisasi kelautan. Sementara itu. dan belum sampai pada sebuah kesadaran bahwa desentralisasi adalah jembatan bagi terwujudnya keberlanjutan sumberdaya (resources sustainability). desentralisasi dianggap memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sumberdaya. Jadi.175 bahwa otoda hanya menyebabkan konflik nelayan pun berkembang. yang seringkali berseberangan dengan perjuangan nelayan kecil. dan ternyata negara pun tak mampu menanggung beban itu. yang telah menyiapkan konsep revisi UU tersebut. di jurnal-jurnal dan forum internasional konsep demokrasi kelautan justeru disanjung-sanjung. 239-250. mendorong masyarakat untuk turut bertanggung jawab terhadap keberlanjutan sumberdaya kelautan. . Kelompok ini lalu diperkuat oleh Departemen Dalam Negeri. hlm. Makassar: Fakultas Hukum Unhas.

5. Pengaturan Pengelolaan Sumber Daya Alam Perikanan39 1. ditentukan bentuk-bentuk dan tata urutan perundang-undangan.yang tidak memberikan kesempatan bagi hal-hal yang berbau tradisional untuk berkembang. /Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Sudirman Saad. sebagaimana diatur dalam Ketetapan MPRS No.176 sebagai bangsa yang merdeka yang menganggap perlu segera menasionalisasi banyak hal. Hlm. Kombinasi nasionalisasi dan modernisasi semakin mengukuhkan peran pemerintah pusat dalam mengelola laut. XX/MPRS/1966 tentang Memorandum Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Perundangundangan. 2. Peraturan Pemerintah (PP). termasuk sumberdaya lautnya. Keputusan Presiden (Keppres). sementara masyarakat lokal dianggap tidak bisa mengelola sumberdaya karena orang lokal dianggap tidak punya ilmu untuk itu. Undang-Undang (UU/Perpu). Jadi. 67-83. sebagai berikut : 1. pertama-tama harus dicari dalam UUD 1945 sebagai sumber hukum yang berkedudukan di puncak piramida hirearki perundang-undangan. Dalam Ketetapan MPRS ini. kalangan yang pro sentralisasi kelautan secara ideologis masih terperangkap ideologi modernisme yang memang tumbuh subur selama Orde Baru. 3. Aspek pemanfaatan. 2003). 39 . Politik Hukum Perikanan Indonesia. 4. (Jakarta: Dian Pratama Printing. Kemudian proyek nasionalisasi ini kemudian dimanfaatkan dunia barat untuk menyukseskan proyek modernisme. Norma hukum tentang pemanfaatan sumber daya alam perikanan. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR). 2. Ternyata ilmu manajemen sumberdaya pun dimonopoli pusat. Ruang Lingkup Hukum Nasional a. Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

ditentukan kerangka normatif tentang bagaimana seharusnya sumber daya alam (termasuk di dalamnya sumber daya alam perikanan) dimanfaatkan. cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasiai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. yaitu produksi dikerjakan oleh semua dan untuk semua di bawah pimpinan anggota-anggota perseorangan. Bentuk perusahaan yang sesuai dengan karakteristik demokrasi ekonomi ini ialah koperasi. Agar koperasi tersebut memperoleh status badan hukum. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. Pengelolaan dilakukan secara demokratis. Ketiga norma hukum tersebut.177 6. sebagaimana halnya lembaga keuangan. koperasi juga dapat melaksanakan kegiatan usaha simpan pinjam. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Terdapat tiga norma hukum yang ditetapkan. 2. Dalam menjalankan kegiatan. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. Pengesahan akta pendirian ini diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. Pertama. koperasi dibentuk oleh sekurang-kurangnya 20 orang dengan akta pendirian yang memuat anggaran dasar. prinsip koperasi dijalankan sebagai berikut : 1. Koperasi sebagai badan hukum dapat melakukan berbagai usaha yang berkaitan langsung dengan kepentingan anggota. Di dalam UUD 1945 Pasal 33. seperti Peraturan Menteri dan Instruksi Menteri. kegiatan simpan pinjam ini hanya terbatas dalam lingkungan anggota. Kedua. Peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Selain itu. Karena itu. dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun. maka akta pendiriannya harus mendapatkan pengesahan dari pemerintah. dalam penjelasan resminya diterngkan bahwa pasal 33 mengandung dasar demokrasi ekonomi. 3. Ketiga. 4. negara memiliki hak menguasai atats segenap sumber daya alam. . perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

seperti desa di Jawa dan Bali. Negeri di Minangkabau. terutama mengenai hak ulayat.178 5. Dengan cara demikian. Diterangkan lebih jauh dalam penjelasan resmi pasal 33 UUD 1945 bahwa demi mengamankan demokrasi ekonomi yang bertujuan mewujudkan kemakmuran bagi semua orang. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa didalam wilayah Negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 zelfbestuterende landschappen dan volksgemeenschappen. Ketentuan sistam pemerintahan tersebut di atas. Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daereahdaerah istimewa tersbut. maka cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak. Pasal tiga UUPA menyebutkan bahwa pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak serupa itu dari masyarakat hukum adat. Pengakuan ini dilatarbelakangi oleh . Penjelasan umum UUPA (II-3). dan segala peraturan negara mengenai daerahdaerah istimewa tersebut. Berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam. UUD 1945 juga mengatur mengenai sistem pemerintahan daerah (pasal 18). Karena itu. dan segala peraturan negara mengenai daerahdaerah itu akan memperhatikan hak-hak asal-usul daerah yang bersangkutan. keberadaan hak ulayat diakui dalam hukum agraria nasional. sektor-sektor yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orang-seorang Bumi. Kemandirian. air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah sumber-sumber kemakmuran rakyat. harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara. menerangkan bahwa pengakuan hak ulayat didasarkan pada dua pangkal pikiran. diharapkan tampuk produksi tidak jatuh ke tangan orang seorang yang berkuasa. dan rakyat yang banyak ditindasnya. memiliki arti penting manakala dihubungkan dengan UUPA. sepanjang menurut kenyataannya masih ada. Hanya. dusun serta marga di Palembang. Pertama. harus dikuasai oleh negara. yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi. segenap sumber daya alam tersebut harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Kepentingan masyarakat hukum adat harus tunduk pada kepentingan nasional dan negara. seperti pemberian HGU. akan diperhatikan. pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat.179 pengalaman masa penjajahan. Selama ini (sebelum tahun 1960). berlaku. Misalnya ketika akan diberikan HGU kepada suatu badan usaha. air. Pertama-tama mengenai pengertian istilah air. Hak menguasai dari negara ini. dengan pengaturan hak ulayat dalam UUPA. yang mencakup baik perairan pedalaman maupun wilayah laut (pasal 1 ayat 5). Konsekuensinya. pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah swatantra dan masyarakat hukum adat. pembangunan di daerah-daerah sering terhambat karena mendapat kesukaran dari masyarakat hak ulayat. Pangkal pikiran kedua yang melatarbelakangi pengakuan hak ulayat dalam UUPA adalah kenyataan yang berkenaan dengan pembangunan daerah. sesuai keperluan (pasal 2 UUPA). Selain ketentuan hak ulayat. Namun tidak berarti kepentingan masyarakat adat terabaikan sama sekali. tetapi tidak satupun peraturan perundang-undangan mengakuinya secara resmi. meski hak ulayat nyata-nyata ada. dalam pelaksanaan hukum. hak ulayat lebih sering diabaikan. Wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari negara tersebut digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam arti kebangsaan. mengandung makna bahwa kepentingan masyarakat hukum yang menjadi pendukung hak ulayat itu. Pengakuan secara resmi hak ulayat dalam UUPA. dalam UUPA juga masih dijumpai beberapa ketentuan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya perikanan. Kemudian diatur lebih lanjut bhwa bumi. ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya. dan diperhatikan pula di dalam keputusan-keputusan hakim. . yang ketika itu. maka masyarakat hukum yang bersangkutan sebelumnya akan didengarkan pendapatnya dan akan diberikan recognitie sebagai tanda pengakuan dan perlindungan hukum bagi masyarakat pendukung hak ulayat. maka masyarakat hukum adat yang menjadi pendukung hak ulayat tidak dibenarkan menghalang-halangi pelaksanaan pembangunan sektoral. Oleh karena itu. kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia.

serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam undangundang ini dan peraturan perundang-undangan lainnya. air. Untuk pernyataan ini. yang berasaskan keseimbangan serta diliputi oleh suasana keagamaan. Ikhwal defenisi hukum adat tersebut. menegaskan bahwa sesuai asas yang diletakkan dalam pasal 5. hukum adat harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan masyarakat dalam negara modern dan dalam hubungan negara Internasional. maka hukum agraria tersebut harus didasarkan pada hukum adat sebagai hukum asli. dan karena rakyat sebagian besar tunduk pada hukum adat. Seminar Hukum Adat dan Pembangunan Hukum Nasional tahun 1975 di Yogyakarta menyimpulkan : Maka tidak ada alasan meragukan bahwa yang dimaksudkan UUPA dengan hukum adat itu adalah : hukum aslinya golongan rakyat pribumi. Ketentuan ini mencerminkan politik hukum agraria nasional yang meskipun bertujuan untuk menciptakan suatu kesatuan dan kesederhanaan hukum. Namun demikian. penting karena hukum adat dalam pertumbuhannya tidak terlepas dari pengaruh politik karena hukum adat dalam pertumbuhannya tidak terlepas dari pengaruh politik dan masyarakat kolonial yang kapitalistis dan masyarakat swapraja yang feodal. dengan sosialisme Indonesia. yaitu sifat kemasyarakatan dan kekeluargaan. Di dalam penjelasan umum (III-1). dinyatakan bahwa hukum agraria harus sesuai dengan kesadaran hukum rakyat. maka penentuan hak-hak atas tanah dan air didasarkan pula atas sistematika hukum adat. perlu diberikan catatan bahwa di berbagai daerah dijumpai hukum adat yang tertulis dalam aksara-aksara . Penjelasannya pasal 16. yang berdasarkan atas persatuan bangsa. Permasalahannya kemudian adalah hukum adat manakah yang sesuai dengan politik hukum agraria nasional tersebut. Hal yang terakhir ini. tetapi tetap memberi ruang hidup bagi hukum adat yang pada kenyataannya sanga majemuk. sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara. antara lain. tercermin pula dalam berbagai pasal lainnya. Karakteristik politik hukum agraria tersebut.180 Hukum agraria berlaku di atas bumi. segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama (pasal 5 UUPA). yang merupakan hukum yang hidup dalam bentuk tidak tertulis dan mengandung unsur-unsur nasional asli. dan ruang angkasa adalah hukum adat. seperti pasal 16 dan penjelasan umum UUPA.

Perkanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan. 3. Makassar: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara. di dalam UU Perikanan. 2. mendinginkan atau mengawetkan ikan untuk tujuan komersial. 4.D. atau mengawetkannya. Sementara itu. Tobing. Penangkapan ikan adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun. mengolah. 40 . mengangkut. bahwa UUPA menyebutkan suatu bentuk hak yang berkaitan langsung dengan masalah perikanan. termasuk kegiatanyang menggunakan kapal untuk memuat. yaitu HPPI (pasal 16 ayat 2b dan pasal 47 ayat 2). Alat penangkap ikan adalah sarana dan perlengkapan atau benda-benda lainnya yang dipergunakan untuk menangkap ikan. Ph. 5. aspek pemanfaatan sumber daya alam perikanan sudah lebih teknis.L.40 Segala usaha bersama di sektor agraria didasarkan pada kepentingan bersama dalam rangka kepentingan nasional. Usaha perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum untuk menangkap atau membudidayakan ikan. Beberapa istilah akan dikemukakan sebagai berikut (pasal 1): 1. termasuk kegiatan menyimpan. mendinginkan. menyimpan. Negara dapat bersama-sama dengan pihak lain menyelenggarakan usaha-usaha di sektor agraria (pasal 12 UUPA). Secara khusus. Sebagai contoh dapat disebutkan hukum pelayaran dan perniagaan Ammanagappa yang berlaku dikalangan saudagar dan pelaut Bugis di Sulawesi Selatan. Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amana Gappa.181 daerah. Pemanfaatan sumber daya ikan adalah kegiatan penangkapan ikan dan / atau pembudidayaan ikan. dalam bentuk koperasi atau bentuk-bentuk gotong royong lainnya. 1961. 6. Pengelolaan sumber daya ikan adalah semua upaya yang bertujuan agar sumber daya ikan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berlangsung terus menerus.

termasuk didalamnya semua bagian dari perairan yang terletak pada sisi darat dari suatu garis penutup (pasal 3). dan genangan air lainnya di dalam wilayah Republik Indonesia. dan berbentuk pelebaran alur/badan/palung/sungai (pasal 1 ayat 3). sungai didefenisikan sebagai tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan air mulai dari mata air sampai muara dibatasi kanan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan (pasal 1 ayat 1). Laut teritorial (territorial sea) Indonesia adalah jalur laut selebar 12 mil yang diukur dari garis pangkal kepulauan Indonesia. Sementara wilayah perairan Indonesia. 27 Tahun 1991 tentang rawa. waduk. pengertian sungai. dalam hal ini bangunan bendungan. dan waduk diatur dalam PP Nomor 35 Tahun 1991 tentang sungai. Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan. bersesuaian dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam konvensi Perserikatan BangsaBangsa dalam Hukum Laut. Ketentuan-ketentuan tersebut. 6 Tahun 1996 tentang perairan Indonesia meliputi laut teritorial. danau. Kapal perikanan adalah kapal atau perahu atau alat apung lainnya yang dipergunakan untuk mrlakukan penangkapan ikan. Rawa. rawa. perairan kepulauan. danau. Wilayah perikanan Indonesia meliputi (1) perarian Indonesia. menurut Undang-Undang Nomor. dan (3) zona ekonomi ekslusif (pasal 2 UU perikanan). (2) sungai. 8.182 7. Dalam PP ini. Waduk didefenisikan sebagai wadah air yang terbentuk sebagai akibat dibangunnya bangunan sungai. Selanjutnya. Perairan pedalaman (internal waters) Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah dari pantai-pantai Indonesia. termasuk untuk melakukan survai atau eksplorasi perikanan. Adapun danau didefenisikan sebagai bagian dari sungai yang dalam dan kedalamannya secara alamiah jauh melebihi ruas-ruas lain sungai yang bersangkutan (pasal 1 ayat 2). dan perairan pedalaman. adalah lahan genangan air secara alamiah secara terus menerus atau . sebagaimana diatur dalam PP No. Perairan kepulauan (archipelagic waters) Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi garis pangkal lurus kepulauan tanpa memperhatikan kedalaman atau jaraknya dari pantai.

Apabila izin itu diperoleh dengan itikad baik. Diantaranya.5 Tahun 1983 tentang ZEEI. Masih berkaitan dengan aspek pemanfaatan sumber daya alam perikanan. sumber daya buatan (pasal 1 ayat 8). sumber daya manusia. dapat dimintakan penggantian yang layak (Pasal 26). Zona ekonomi ekslusif Indonesia (ZEEI) diatur secara khusus dalam undang-undang No.183 musiman akibat drainase alamiah yang trerhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisik. Setiap usaha perikanan di wilayah perikanan Indonesia. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. sepanjang hal tersebut menyangkut kewajiban negara Republik Indonesia berdasarkan ketentuan persetujuan internasional atau hukum internasional yang berlaku (pasal 9 UU Perikanan). maka terhadap kerugian yang timbul akibat pembatalan izin tersebut. mengenai pembagian kawasan. dinyatakan batal oleh instansi yang memberikan izin tersebut. tanah dibawahnya dan air diatasnya dengan batas terluar 200 mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah Indonesia (pasal 2). sedangkan kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi atau potensi sumber daya alam. dalam undang-undang Penataan Ruang. disebutkan bahwa ZEEI adalah jalur diluar dan berbatasan dengan laut wilayah Indonesia. Pemanfaatan ruang harus selalu mengikuti rencana tata ruangyang telah ditetapkan. baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (Pasal 15. terdapat beberapa ketentuan yang relevan. kimiawi. yang meliputi dasar laut. Pengecualian terhadap ketentuan ini hanya dapat diberikan dalam bidang penangkapan ikan. Dalam undang-undang ini. hanya boleh dilakukan oleh warga negara Republik Indonesia atau badan hukum Indonesia. dan biologis (pasal ayat 1). Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup. yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan (pasal 1 ayat 7). . Pasal 19-23). yang segi fungsi utamanya dibagi menjadi kawasan lindung dan kawasan budi daya.

kewenangan itu dibagi lagi. nyata. maka kewenangan keuangan yang melekat pada setiap kewenangan pemerintah pusat menjadi kewenangan daerah (Penjelasan Umum 8 butir 2). Bahkan. Di dalam UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. dan bertanggung jawab (Penjelasan Umum 1 butir h). 2.184 Khusus wilayah laut sejauh 12 mil dari garis pantai. Berkaitan dengan pengelolaan laut sejauh 12 mil. maka dalam UU Pemerintahan Daerah ini. disebutkan bahwa sumber-sumber penerimaan daerah dalam pepelaksanaan desentralisasi adalah : 1. Untuk tidak mengulangi kesalahan pelaksanaan otonomi daerah masa lalu. Pinjaman daerah. 4. Dijelaskan lebih lanjut bahwa 80 % dari pungutan pengusahaan perikanan dan pungutan hasil . Sementara itu. yang lebih merupakan kewajiban daripada hak. di dalam PP Nomor 25 Tahun 2000 telah diatur secara lebih spesifik bahwa kewenangan pemerintah pusat terbatas pada aspek-aspek kelautan diluar 12 mil (Pasal 2 ayat (3) butir 2). Pendapatan asli daerah. maka dapat ditafsirkan bahwa seluruh penerimaan keuangan dari sumber daya alam tersebut merupakan pendapatan asli daerah. Penjelasan ini memiliki implikasi bagi pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. yakni sepertiga dari luas wilayah menjadi kewenangan daerah kabupaten atau daerah kota dan duapertiga sisanya merupakan kewenangan daerah provinsi (Pasal 10 UU Pemerintahan Daerah). Dana perimbangan. pemberian otonomi kepada daerah kabupaten dan daerah kota didasarkan pada asas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas. 3. Dijelaskan pula bahwa dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. penerimaan negara yang bersumber dari pengelolaan laut di luar 12 mil. sejauh menyangkut sektor perikanan. dibagi dengan imbangan 20 % untuk pemerintah pusat dan 80 % untuk daerah (Pasal 6 ayat 5). Pada tingkat daerah. maka kewenangan eksplorasi dan eksploitasi berada di tangan pemerintah daerah. Lain-lain penerimaan yang sah (Pasal 3).

yang meliputi kebijaksanaan penataan. pemulihan. termasuk sumber daya alam perikanan. Aspek konservasi. yang penjabarannya masih memerlukan peraturan perundang-undangan lebih rendah. stabilitas. pemeliharaan. dan produktivitas lingkungan hidup (Pasal 1 angka 4). dan pengendalian lingkungan hidup (Pasal 1 angka 2). dan/atau komponen lain . Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan. dan sumber daya buatan (Pasal 1 angka 10). kelembagaan dan kewenangannya serta mekanisme penyelesaian sengketa yang muncul. diatur kerangka dan arah kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan (Pasal 1 angka 3). baik hayati maupun nonhayati. maka beberapa aspek yang diatur dalam UUPPLH tersebut. dapat ditemukan dalam Undang-undang No. sumber daya alam. zat.185 perikanan dibagikan secara merata kepada seluruh kabupaten dan kota di Indonesia (Penjelasan Pasal 6 ayat (5) butir c). yang memadukan lingkungan hidup. Ketentuan-ketentuan umum mengenai konservasi sumber daya alam. pemanfaatan. 3. termasuk sumber daya. Pertama-tama diawali dengan penjelasan beberapa konsep yang relevan. 4. Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup. pengawasan. 32 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan dan perlindungan Lingkungan Hidup (selanjutnya disingkat UUPPLH). 5. seperti konsep-konsep yang digunakan. akan diberi perhatian khusus. ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana. Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia. Sesuai dengan keperluan. pengembangan. b. energi. 2. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup. sebagai berikut : 1. Di dalam UUPLH ini.

serta sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya. 6. peruntukan. 2. penggunaan. yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan (Pasal 1 angka 14). Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan (Pasal 1 angka 16). Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat. 7. 1. Mengatur penyediaan. 8. Di dalam pasal 8 ayat (2) dirinci kebijaksanaan yang dapat diambil pemerintah. yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup (Pasal 1 angka 22). Mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya (Pasal 1 angka 12). Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya. Untuk melaksanakan ketentuan ini. . pengelolaan lingkungan hidup. termasuk sumber daya genetika. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana. sebagai berikut. dan pemanfaatan kembali sumber daya alam. pemerintah menetapkan kebijaksanaan yang berhubungan dengan pengelolaan lingkungan hidup.186 ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu. 9. Ikhwal kelembagaan dan kewenangannya dalam pengelolaan lingkungan hidup. dalam UUPPLH ditentukan bahwa segenap sumber daya yang merupakan unsur lingkungan hidup dikelola oleh pemerintah sebagai institusi yang mewakili negara. dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya (Pasal1 angka 15).

Selain itu. diupayakan melalui lekanisme perizinan. Mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/atau subyek hukum lainnya serta perbuatan hukum terhadap sumber daya alam dan sumber daya buatan. Segenap kebijaksanaan yang akan ditetapkan pemerintah. Mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. bahan berbahaya. pengawasan. . Pelaksanaan kebijaksanaan yang sudah ditetapkan. 5. bagi usaha dan kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting bagi lingkungan hidup (Pasal 15). Untuk menjamin kelestarian fungsi lingkungan hidup. Kewenangan pemerintah pusat tersebut. penjatuhan sanksi dan audit lingkungan hidup (Pasal 18-29). Mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial. dapat dilimpahakan-sesuai dengan keperluannya-kepada perangkat pemerintahan di bawahnya. Bahkan. atau beracun hasil dari usaha atau kegiatannya (Pasal 16 dan 17). Dapat juga mengikutsertakan peran pemerintah daerah untuk membantu pemerintah pusat dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup (Pasal 12). penyelesaiannya dapat dilakukan di luar pengadilan dan melalui pengadilan (Pasal 30). masyarakat. serta pelaku pembangunan lainnya (Pasal 9 ayat 1 dan 2). pada tingkat nasional di-koordinasikan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Apabila terjadi sengketa lingkungan hidup. dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. termasuk sumber daya genetika. pemerintah pusat dimungkinkan pula menyerahkan sebagian urusan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup kepada pemerintah daerah (Pasal 13). maka setiap usaha atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup (Pasal 14). adat istiadat. setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah. dan melibatkan instansi pemerintah terkait. Efektifitas kewajiban dan tanggung jawab tersebut di atas. Demikian juga. 4. harus memperhatikan nilai-nilai agama.187 3.

2. Keppres ini secara yuridis tetap berlaku. Adapun kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 13 dan 14). Untuk kawasan sekitar danau/waduk. yaitu kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup. Perlindungan terhadap sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah pantai dari kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi pantai. diatur kriteria tertantu sehingga suatu kawasan ditetapkan sebagai kawasan lindung. untuk sungai yang berada di kawasan permukiman. sempadan sungai diperkirakan antara 10-15 meter. kawasan sekitar danau/waduk. diantaranya. kawasan lindungnya ditentukan antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 18).188 UUPLH kemudian dijabarkan lebih lanjut. sempadan sungai. yakni (Pasal 16): 1. serta kawasan pantai berhutan bakau (Pasal 5 dan 6). di dalam UUPPLH diambil pendekatan lain. Berkaitan dengan sumber daya alam perikanan. yaitu dibuka kesempatan menyelesaikan sengketa . terdapat beberapa jenis kawasan lindung yang ditentukan dalam Keppres ini. Mengenai penyelesaian sengketa lingkungan. Dengan fungsi yang sama. sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya didasarkan pada kriteria keunikan kawasan tersebut berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistemnya (Pasal 25). sempadan pantai. Meskipun Keppres ini semula dimaksudkan sebagai pelaksanaan UndangUndang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup-yang dibatalkan berdasarkan Pasal 51 UUPLH-tetapi melalui ketentuan penutup (Pasal 50) UUPLH. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. Di dalam Keppres tersebut di atas. ditetapkan pula dua kriteria sempadan sungai. antara lain melalui Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

Selanjutnya. ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam. yaitu upaya mencapai kata sepakat antara pihak penderita. Selain itu. Penjelasan Pasal 32 UUPPLH. mulai dikembangkan di Amerika Serikat pada permulaan tahun 1970-an. pada tahun 1985. Tabel 6 memberikan gambaran perbandingan antara MSY dan TAC yang berlaku di ZEE Indonesia. yang disebut mediasi ini.189 lingkungan di luar pengadilan. pencemar. mengenai konservasi sumber daya alam hayati. Untuk kepentingan konservasi sumber daya alam perikanan. yang saling tergantung dan tergantung dan pengaruh mempengaruhinya (Pasal 1). baik hayati maupun nonhayati. Sementara itu. yang di dalamnya termuat MSY sebagai acuan bagi kegiatan masyarakat. Perbandingan antara MSY dan TAC di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia Jenis MSY TAC . para pihak yang berkepentingan dapat meminta jasa pihak ketiga netral dengan dua bentuk pilihan. telah diundangkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. pada tahun 1997 Menteri Negara Lingkungan Hidup menerbitkan dokumen Agenda 21 Indonesia. Upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup. Konservasi sumber daya alam hayati diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Tabel 1. khususnya perikanan laut. Melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 473a/1985. Pendekatan baru ini dilatarbelakangi oleh kenyataan. yakni pihak ketiga netral yang berwenang mengambil keputusan dan pihak ketiga netral yang tidak berwenang mengambil keputusan. menyatakan bahwa untuk memperlancar jalannya perundingan di luar pengadilan. dan pihak pemerintah (tripihak). betapa sulitnya penyelesaian sengketa lingkungan melalui prosedur yang dimungkinkan khususnya sebagaimana dicantumkan di dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982. pemerintah menetapkan TAC di ZEE Indonesia. pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan tentang total allowance catch (TAC) yaitu total sumber daya ikan yang diperbolehkan untuk dieksploitasi.

cakalang. ikan demersal.780 (ton/tahun) 75. Pada periode 2003-2020. 23-24. Laut Sulawesi. Gramedia Pustaka Utama.225 1. 473a/1985. hlm. 2010).123 100. diagendakan untuk mengkaji ulang MSY ikan tuna. udang. Konsep Hukum Perikanan Pada saat ini pengelolaan sumber daya ikan tunduk pada domain Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan (selanjutnya disingkat UUP). 41 . penelitian diperluas untuk menetapkan MSY di wilayah pesisir dan lautan di seluruh Indonesia bagian Barat dan Timur.432 21000 2. cakalang.462.863. terutama bagi ikan tuna.323. yag merupakan acuan bagian peraturan teknis perikanan. dan udang di wilayah pesisir dan lautan dalam wilayah ZEE di Laut Cina Selatan. Hukum Perikanan Nasional dan Internasional. dan spesies-spesies lain yang secara lokal penting. Salahsatu pertimbangan disusunnya UUP bahwa pengelolaan sumber daya ikan perlu dilakukan sebaik-baiknya berdasarkan keadilan dan pemerataan dalam pemanfaatannya dengan mengutamakan perluasan kesempatan kerja dan peningkatan hidup nelayan. Laut Timor.73 1 582.26 1 Sumber: Data MSY bersumber dari Agenda 21 Indonesia. 4. antara lain. pembudidayaan ikan. dan Laut Arafura. Laut Banda. Samudera Hindia.731 1.000 653. (Jakarta: PT. ikan demersal. maka di dalam agenda 21 Indonesia diusulkan rencana kegiatan periode 1998-2003 dan periode 2003-2020. data TAC dari SK Mentari No.884 1.115. Untuk kepentingan pemanfaatan sumber daya laut yang berkesinambungan. dan/atau pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan perikanan dan bahwa kelestarian sumber daya ikan dan lingkungan perlu dibina. tentunya tetap mendasarkan argumentasi pada fakta sosiologis bahwa wilayah hukum perikanan Indonesia Marhaeni Ria Siombo.915 88.190 Ikan Tuna Cakalang Pelagis kecil Demersal Udang Total (ton/tahun) 87. Pada periode 19982003.41 Pertimbangan yang melatarbelakangi UUP dibuat sebagaimana disebutkan di atas.

43 Seorang nelayan dapat menggunakan haknya untuk menangkap ikan sebagai mata pencahariannya. Troadec (1981). 44 Ibid. pemanfaatan sumber daya ikan dapat dilakukan oleh siapa saja sepanjang ia tunduk dan mematuhi norma dan atau kaidah sebagaimana disebutkan dalam Konstitusi Republik Indonesia dan UUP. manajemen. Pasal ini dimaksudkan untuk memberian guideline kepada pemerintah sebagai penyelenggara pemerintahan agar dalam pengelolaan. (Makassar: Fakultas Hukum Unhas.cit. hlm. 29. laut kepulauan.cit. dan regulasi. pedalaman. Semuanya mengusulkan jalan keluar berupa kontrol atas akses dan penggunaan sumber daya. Marhaeni Ria Siombo. hlm. Hak Penggunaan Wilayah untuk Perikanan 1. 45 Abdul Rasal Rauf.44 Dalam konteks yang lebih umum kemudian.191 meliputi perairan nasional. op. dan Panayotou (1982). pemanfaatan sumber daya ikan merupakan hakhak tiap warga negara. akan tetapi dalam melaksanakan haknya. Oleh karena itu. loc. mulai dari laut tertorial. Apabila kewajibannya dilanggar maka nelayan akan mendapatkan sanksi hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang mengatur. 28. keberadaan masyarakat lokal dengan kearifannya tentap mendapat pengakuan. nelayan tersebut wajib memperhatikan aspek-aspek kelestarian dari sumber daya ikan yaitu melakukan penangkapan ikan yang tidak merusak lingkungan abiotik dan biotik lainnya. 242. Hak penggunaan Sudirman Saad. laut. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). 43 42 .42 Dalam konteks UUP. khususnya di daerah perikanan tropis. 2007). Pasal UUP menyatakan bahwa “pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudidayaan ikan harus mempertimbangkan hukum adat dan/atau kearifan lokal serta memperhatikan peran serta masyarakat”. hlm. sebagaimana diamantkan dalam Pasal 27 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.45 5. sampai wilayah laut ZEEI. telah dibahas oleh Smith (1979). Peluang dan Tantangan Situasi terkuncinya sumber daya alam perikanan.

akan ditangkap oleh nelayan lain pada hari itu juga. kerapkali melampaui titik keseimbangan akses terbuka (open-access equilibrium). sesudah pengelolaan sumber daya alam perikanan di bawah rezim ”milik bersama” atau ”keterbukaan akses” terbukti. hlm. akibat tidak ada pembatasan keikutsertaan (modal dan tenaga kerja) dalam sistem pengelolaan di bawah rezim ”milik bersama”. maka pemborosan dalam artiekonomis tak terhindarkan. berapa pun yang disisakannya hari ini dalam rangka tujuan-tujuan jangka panjang tersebut. Di berbagai tempat terjadi kecenderungan investasi yang lebih besar daripada yang sesungguhnya dibutuhkan. memang tidak semata-mata sebagai akibat dari manajemen sumber daya alam perikanan berbasis ”milik 46 Christy dalam Abdul Rasal Rauf. dengan demikian. Persediaan sumer daya alam perikanan. cenderung untuk digunakan hingga melampaui titik hasil lestari maksimum (MSY). Setidaknya. keadaan ”milik bersama” telah merangsang bangkitnya naluri serakah para nelayan sehingga tidak seorang pun di antara mereka bersedia membatasi hasil tangkapannya demi tujuan-tujuan yang lebih besar. seperti untuk kelestarian sumber daya alam. Kemiskinan nelayan ini.46 Pertama. Kedua. . mengalami berbagai kegagalan. Jumlah ikan yang sama atau bahkan lebih banyak sebenarnya dapat ditangkap dengan investasi yang lebih kecil daripada yang telah ditanam secara nyata. upaya yang dilakukan telah melampaui titik hasil ekonomi maksimal (MEY). Paling sedikit. dampak dari pemborosan investasi telah menyebabkan pendapatan rata-rata nelayan kecil berada pada atau di sekitar titik terendah.192 wilayah untuk perikanan (HPWP). 265. serta Delmendo (1993).yang merupakan terjemahan dari territorial use rights in fisheries (TURFs)-adalah solusi konkret yang disarankan oleh kalangan ahli perikanan. Dalam benak mereka. ibid. Smith dan Panayotou (1984). 43. Ketiga. saran yang demikian itu tercermin dalam tulisan-tulisan Christy (1982). Bahkan. Dalam bahasa manajemen dikatakan. terdapat empat akibat nyata yang timbul dari situasi ”milik bersama”.

sedikitnya dua persoalan hukum sangat relevan. dan (3) anatara nelayan yang menangkap jenis ikan dan menggunakan alat tangkap yang tidak sama. yaitu (1) antara nelayan yang menangkap jenis ikan yang sama dan menggunakan alat tangkap yang sama pula. seperti antara nelayan kecil dengan nelayan besar. seperti faktor sosial dan kultural. Keadaan buruk yang ditimbulkan manajemen perikanan berbasis ”milik bersama” inilah yang merupakan latar belakang ditawarkannya HPWP sebagai solusi yang patut dipertimbangkan dengan sunguhsungguh. Pertikaian itu berwujud dalam berbagai bentuk. tetapi melakukan kegiatan penangkapan di daerah yang sama. rezim ”milik bersama” juga telah menyebabkan pertikaian di antara nelayan. Namun. seperti antara nelayan pukat harimau yang bergerak (mobile trawlers) dengan nelayan jaring menetap (fixed nets) atau perangkap (pots). mereka akan meninggalkan sektor perikanan.193 bersama”. 266. yakni siapa subjek dan bagaimana bentuk-bentuk haknya. Keempat. keuntungan ini hanya bersifat jangka pendek sebab begitu kesempatan kerja di sektor lain terbuka kembali. . ialah bagaimana HPWP itu dilembagakan dalam perundangundangan yang akan mengikat semua orang. Namun. hlm. adalah dapat menyediakan kesempatan kerja ketika alternatif pekerjaan di sektor lain sudah tertutup sama sekali. Bunga ekonomi ini-yang merupakan selisih antara penerimaan total (total revenues) dan biaya total (total costs)-akan dibagi di antara nelayan sehingga pendapatan mereka meningkat.47 Satu-satunya akibat positif dari manajemen perikanan yang berbasis ”milik bersama”. sekiranya keikutsertaan dalam perikanan itu dibatasi dengan menghilangkan keadaan ”milik bersama”. Dalam konteks ini. 47 Ibid. maka akan diperoleh suatu bunga ekonomi (economic rent) atau bunga sumber daya (resource rent). Ada faktor lain yang juga memberi kontribusi terhadap keadaan tersebut. Perdebatan yang kemudian mengemuka di kalangan ahli perikanan. (2) antara nelayan yang menangkap jenis ikan yang tidak sama. tetapi menggunakan alat tangkap yang sama.

umumnya. dengan aturan yang pasti. seperti tercermin dalam kutipan berikut : This discussion of the rights distinguishes TURFs from common property proceeds from an economic point of view.194 Sepanjang penelusuran kepustakaan yang telah dilakukan. Di satu pihak. Pertama. penegakan HPWP bukannya tanpa kesukaran. Namun demikian. the rights that are mentioned are those that are considered necessary to achieve economic efficiency.48 Penjelasan-penjelasan selanjutnya. 268 . Di pihak lain. Gagasan-gagasan yang berkembang saat ini. That is. sering kurang cermat dan tidak konsisten. belum satupun ahli hukum yang menaruh perhatian serius berkaitan dengan persoalan tersebut di atas. kini tidak dapat ditunda lagi. dari segi ekonomi umumnya dikatakan bahwa kesukaran untuk memberlakukan HPWP karena biaya (costs) untuk memperoleh dan mempertahankannya lebih besar daripada kegunaan (benefits) yang diperoleh. jika biaya dan kegunaan semata-mata 48 Ibid. terutama karena arus investasi dan modal akan meningkat serta menyebar secara adil kepada segenap pelaku dan pengguna sumber daya alam perikanan. Hal ini secara terus terang diakui oleh mereka. ekonomi perikanan akan semakin bergairah. akan menunjukkan bahwa intervensi ahli hukum dalam upaya merumuskan aspek hukum dan kelembagaan dari sistem pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam perikanan. Keadaan ini berlaku. baik dari segi ekonomi maupun dari segi karakteristik biologis sumber daya alam perikanan. hlm. The author is fully aware that the discussion maybe legally faulty and has deficiencies but hopes that the faults and deficiencies will provoke legal scholars to address the problem of providing property rights to the users of marine fisheries. Secara umum terdapat tiga faktor yang menjadi hambatan dalam upaya penegakan sistem HPWP. formulasi hukum yang akan dirumuskan tentu lebih komprehensif sehingga besar kemungkinan akan memberikan kepastian hukum bagi pelaku dan pengguna sumber daya alam perikanan. Keterlibatan ahli hukum diharapkan bermakna jamak. datang dari para ahli sosial ekonomi perikanan sehingga penggunaan terminologi hukum yang ditawarkan.

kelompok masyarakat. hambatan penegakan HPWP diperkirakan bersumber dari persepsi masyarakat. siapa pun mempunyai hakkerapkali bahkan diklaim sebagai hak asasi-untuk menangkap ikan di mana saja yang disukainya. Demikian . dan kultural dapat diperhitungkan. Prosedur perancangan dan pembahasan produk hukum. dan karena itu tidak boleh dibatalkan dengan cara pengaturan. Kedua. seperti beberapa jenis ikan karang atau rumput laut. Tidak ada suatu negara. bersumber dari prosedur produksi dan subtansi hukum. faktor ini hanya berlaku terhadap sumber daya alam perikanan yang bergerak sehingga peluang penerapan HPWP masih tetap terbuka bagi sumber daya alam perikanan yang relatif menetap. Keadaannya mungkin akan lain sama sekali apabila aspek sosial. Dalam doktrin masyarakat Atlantik Utara. khususnya pihak-pihak yang memiliki otoritas dalam proses produksi hukum. dari sisi karakter sumber daya alam perikanan yang berpindah-pindah (fugitive resources). Ketiga. politik. Hambatan yang lain. telah terbukti menaikkan tingkat efisiensi ekonomi penggunaan sumber daya sekaligus memberikan kontribusi berarti terhadap peningkatan pendapatan daerah setempat. Sistem konsesi penangkapan bibit ikan (milkfish) yang diterapkan di beberapa profinsi di Filipina. seperti beberapa jenis ikan tuna. Tradisi ini. seperti pembatasan keikutsertaan atau kuota nelayan. Secara historis. faktor kepentingan negara Atlantik Utara untuk mempertahankan konsep ”milik bersama”. niscaya mempengaruhi para penasihat perikanan dari negaranegara Atlantik Utara untuk memberi dorongan supaya mengabaikan sistem hak-hak khusus yang mereka ketahui ada di negara-negara berkembang. yang masih dominan melihat sumber daya laut sebagai aset ”milik bersama”. Sementara itu. belum membuka peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi. khususnya UU dan PP. dan perorangan yang mampu mencegah orang untuk menggunakan persediaan suatu kelompok ikan yang berenang sejauh beribu-ribu mil. konsep ”milik bersama” merupakan tradisi yang tumbuh dari kebudayaan Atlantik Utara. Tentu saja.195 didekati secara ekonomi. dari sisi hukum.

Merumuskan ruang lingkup HPWP. 2. Hak yang lainnya lagi ialah hak untuk mengambil kegunaan (benefits) dari pemanfaatan sumber daya alam dalam wilayah HPWP. Sumber daya alam itu harus cukup besar sehingga penggunaan di luar wilayah itu tidak mengurangi secara nyata nilai penggunaan di dalam wilayah HPWP. HPWP tidaklah menyangkut pemilikan sumber daya alam (ownership of the resource). atau melalui persewaan atau penjualan hak-hak itu. Elemen HPWP tersebut. Oleh karena itu. beberapa jenis hak tertentu perlu diberlakukan agar HPWP berhasil guna. Juga terdapat kesukaran membuat generalisasi. Namun. Hak lainnya ialah kewenangan menetapkan banyaknya dan jenis penggunaan sumber daya alam dalam wilayah HPWP. dasar. Ruang lingkup HPWP HPWP hingga tahap tertentu menghilangkan keadaan ”milik bersama”. melainkan pemilikan suatu haka penggunaan (ownership of a right of use). Kegunaan tersebut. Akan tetapi.196 pula. baik secara implisit maupun eksplisit. Wilayah itu hendaknya dengan mudah dapat dipertahankan dan dilindungi oleh hukum serta kelembagaan negara. Wilayah yang tercakup dalam suatu HPWP. Hak-hak tertentu tersebut adalah hak untuk menghalangi atau mengawasi keikutsertaan orang lain dalam wilayah HPWP. atau seluruh lajur air pada suatu daerah tertentu. hingga kini belum ada satu produk hukum pun yang mengatur mengenai HPWP. dapat mengenai permukaan. mengingat tanggapan budaya yang berbeda-beda mengenai pemilika pada masyarakat yang berlainan. Suatu . batas-batas wilayah HPWP harus diberi tanda yang jelas dan mudah dikenali. bukan pekerjaan mudah karena sifat laut yang bermatra tiga dan cairnya perantara dan sumber dayanya. pada tarap permulaan. dapat diambil melalui penarikan pungutan dari pengguna sumber daya alam. Luas wilayah berbeda menurut jenis sumber daya alam yang dimanfaatkan dan sifat-sifat geografisnya. tidak perlu berarti bahwa wilayah itu harus mencakup seluruh persediaan ikan sepanjang gerakan migrasinya.

tetapi kemungkinannya belum tertutup sama sekali.197 HPWP bersifat khusus untuk tempatnya. serta sistem pemerintahan dan institusi hukum. Demikian pula. dapat menjadi dasar HPWP yang berhasil guna. teknologi yang digunakan. Umpamanya. Dengan sistem pengawasan melalui suatu kerjasama di antara pemilik-pemilik HPWP yang bertetangga. Pembentukan dan pemeliharaan HPWP memang akan mengalami kesulitan terhadap jenis-jenis ikan lainnya. jenis ikan yang bermigrasi sepanjang suatu garis pantai dapat menjadi dasar pembentukan dan pemeliharaan HPWP. penentuan batas-batas. Terdapat sejumlah keadaan penting yang berkaitan erat dengan upaya pembentukan dan pemeliharaan HPWP. Jenis ikan lainnya yang memudahkan pembentukan dan pemeliharaan HPWP ialah jenis ikan yang tertarik pada sarana buatan dan berkumpul di sekitarnya. serta jenis ikan yang memijah ke hulu sungai (anadromous) dan ke hilir (catadromous). Unsur penting disini bukanlah tingkat wilayah cakupan dari persediaan sumber daya alam perikanan (the degree of conslure of the stock). Jenis ikan yang menetap dapat dengan mudah dijadikan pokok pembentukan HPWP. terhadap jenis ikan yang dapat dipelihara pada tempat tertutup. Ada beberapa sifat sumber daya alam yang mempunyai pengaruh terhadap efektifitas potensial dan nyata dari HPWP. yaitu sifat sumber daya alam. tetapi tingkat terdapatnya nilai yang berkaitan di wilayah itu (the degree to which there is a value associated with the territory). distribusi kekayaan. seperti ikan salem dan sidat yang bermigrasi ke air tawar. faktor kebudayaan. suatu wilayah yang ditempati memasang alat pengumpul ikan. seperti kurungan ikan dan keramba. Misalnya. sifat sumber daya alam perikanan. walaupun jaring tersebut dipakai untuk menangkap persediaan ikan pelagis yang bermigrasi sepanjang pesisir. Pertama. peluang itu menjadi mungkin. Demikian pula. melalui cara kerja sama di antara mereka untuk membatasi dan mengatur . walaupun wilayah itu hanya meliputi beberapa mil persegi saja untuk persediaan ikan yangberenang dalam daerah ribuan mil. hak menggunakan jaring pantai dapat merupakan dasar bagi HPWP yang berhasil guna.

penentuan batas-batas HPWP. muara sungai. kemudian diproyeksikan ke arah laut sejauh jarak tertentu. Berbagai jenis alat tangkap yang terpancang di dasar laut. Kedua. Seperti alat penghimpun ikan. Keempat. hampir dapat dipastikan bahwa sebagian besar kebudayaan masyarakat menerima pemberian hak (secara pribadi atau kelompok) atas sumber daya berupa tanah. Akan tetapi. Atau ditentukan dengan menggunakan tanda yang berhubungan dengan alat tangkap buatan yang ditempatkan secara menetap di laut. Pembagian HPWP jelas mempunyai akibat terhadap distribusi kekayaan. Satu hal yang jelas dari keadaan ini adalah perlunya perhatian dicurahkan pada keadaan kebudayaan sebelum dimulai usaha menetapkan suatu sistem HPWP. teknik penangkapan yang memerlukan operasi di laut yang luas. Kelima. seperti bubu (pots). Besar kemungkinan sebagian besar kebudayaan mengizinkanperluasan hak-hak itu ke laut. tersedia berbagai cara untuk menandai batas-batas tersebut. faktor kebudayaan. Cara-cara penangkapan dan peralatan yang berbeda juga mempunyai akibat penting terhadap pembentukan dan pemeliharaan HPWP. Tentu saja. seperti ditandai oleh meluasnya sistem penguasaan laut tradisional. distribusi kekayaan. dan pancing ulur (trot lines). seperti pukat harimau (trawls) atau pukat pancing (purse seines). Namun. Dapat juga batas-batas itu ditentukan sepanjang garis pantai. Lokasi untuk menempatkan jenis-jenis alat atngkap ini dapat menjadi dasar untuk menentukan wilayah HPWP. tidak dapat diberikan HPWP. dapat menjadi avuan pembentukan HPWP. atau keistimewaan geografis yang rrelatif kecil dan jelas.198 dengan pengawasan bersama mengenai jumlah alat tangkap atau hasil tangkap masing-masing. Tanggapan kebudayaan berbagai masyarakat terhadap pembentukan HPWP sangat bervariasi. Ketiga. jaring tetap (set nets). HPWP itu memberikan nilai kepada pemiliknya tetapi mengurangi nilai penangkapan mereka yang bukan . Batas-batas dapat dihubungkan dengan sebuah pulau kecil atau terumbu karang. perangkap (traps). Keadaan wilayah perairan memang akan menyulitkan penentuan batas-batas HPWP. teknologi penangkapan ikan.

individu (swasta).199 pemilik. juga sering tidak konsisten. tidak satu pun versi itu berasal dari ahli hukum sehingga penggunaan terminologi hak. harus pula ada peraturan dan lembaga yang mengizinkan pemerintah untuk melaksanakan wewenang yang diperlukan dan yang mendukung perlindungan dan pemeliharaan HPWP. Keenam. Sumber daya pantai sebagai kekayaan nasional merupakan hak milik negara. Bentuk dan Subjek HPWP Bentuk yang dimaksudkan sebagai penjelmaan kongkret berupa jenis-jenis hak. proses pembentukan dan pemeliharaan HPWP pada dasarnya bersifat politis. Konsekuensinya kemudian adalah sumber daya alam perikanan pantai kembali menjadi terbuka bagi setiap orang (open-accsees). Karena itu. status kepemilikan tersebut saat ini tidak efektif karena negara tidak mampu mengelola dan menegakkan hukum yang mengatur masalah perikanan. yang terjadi sesungguhnya bunga sumber daya itu hanya dinikmati oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu sehingga apa yang disebut bunga . Namun. Selain itu. Anonuevo (1993) berpendapat bahwa secara teoritis dan hukum. Pemberian hak milik pada negara (property rights to the state) tetap menimbulkan perdebatan. sedangkan subyek adalah kepada siapa hak-hak itu diberikan. sistem pemerintahan dan institusi hukum. Merujuk pada pengalaman budaya dan sejarah Filipina. negara beerhak atas seluruh bunga sumber daya (resources rent). maka pemerintah harus mempunyai wewenang penuh untuk dapat membuat keputusan tentang distribusi dan melaksanakannya. Merujuk pada kondisi di atas. atau suatu masyarakat. tetapi seperti sudah dikemukakan sebelumnya. 3. subyek yang dapat mempunyai hak milik (property rights)atas sumber daya adalah negara. Ketimpangan ini mungkin dapat diatasi dengan intervensi pemerintah melalui mekanisme pembagian kembali hasil yang dipungut pemerintah dari pemberian dan pengelolaan HPWP. Beberapa versi dapat dijumpai. Di bawah rezim kepemilikan negara (state property rezimes). Akan tetapi. selain kurang komprehensif dari perspektif hukum.

Banyak pendapat menilai bahwa ini merupakan pilihan paling rasional karena akan mendorong optimalisasi sumber daya melalui mekanisme hukum ekonomi. Bahkan. Dengan demikian. Dalam konteks hak milik negara atas sumber daya perikanan pantai. kekuasaan negara berbeda sekali dengan kekuasaan rakyat. Kenyataannya. Pilihan berikutnya adalah pemberian hak milik atas sumber daya kepada masyarakat yang langsung tergantung kehidupannya pada sumber . khususnya Filipina. Bahkan di daerah daratan tinggi telah terjadi pemusatan pemilikan sumber daya di tangan beberapa orang. Kelemahan rezim kepemilikan negara hanya dapat direduksi dengan memperkuat masyarakat madani (civil society). Namun. mengukuhkan hak milik negara atas sumber daya perikanan pantai bertentangan dengan nilai demokrasi yang dianut masyarakat modern secara universal. Padahal. pengalaman sejarah panjang swastanisasi dan privatisasi di negara berkembang. Idealnya. Pemberian hak milik atas sumber daya perikanan pantai kepada pribadi atau swasta dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat masyarakat madani. sering penguasa oligarkis mengatasnamakan negara untuk menyingkirkan kepentingan sosial atau ekologi. Masyarakat madani yang kokoh dan kuat akan berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang (counterbalance) terhadap kekuasaan negara. seharusnya kekuasaan negara merupakan penjelmaan dari kekuasaan rakyat. membalikkan optimisme terhadap efektifitas hukum ekonomi dalam mengontrol perilaku usaha swasta dan perorangan. pemberian hak milik kepada swasta atau pribadi atas sumber daya perikanan pantai. secara teoretis-normatif. selain akan memperkuat masyarakat madani juga sebagai pengejawantahan kebebasan berusaha (free enterprise) dan doktrin ”tangan tersembunyi” (invisible hand) memainkan peran penting. jurang kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin semakin lebar karena berhimitnya kepentingan ekonomi dan politik.200 sumber daya itu tidak lebih dari sekadar bunga oligarkis (oligarchic rent). dan telah mengakibatkan kerusakan sumber daya yang sangat parah serta semakin menyengsarakan rakyat.

3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di 21 daerah tropis India. antara 84 sampai 100 persen penduduk miskin pribumi menggantungkan hidupnya secara subsistensi pada lahan ”milik bersama”. 10 sampai 24 persen dari keluarga kaya menggunakan lahan tersebut untuk kolam pengendapan dari perkayuan. pada derajat tertentu. . 4. Meski demikian. yang berarti kehilangan besar bagi penduduk pribumi. Rezim milik bersama (common own property rezims). Skenario yang sama juga terjadi ketika lahan ”milik bersama” dikonversi menjadi milik negara.49 Mereka sesungguhnya tidak berbicara khusus tentang sumber daya alam perikanan. seperti nasionalisasi hutan di Nepal. sistem pengelolaan sumber daya berbasis kerakyatan (CBCRM) akan berkembang dengan baik. hlm. Merujuk pada hasil penelitian Jodha di India. 271. Bromley dan Cernea mengajukan empat rezim (rezimz) yang dapat dijadikan dasar pengelolaan sumber daya alam. Rezim milik swasta (private own property rezims). 2. Rezim milik negara (state own property rezims). justru merupakan awal malapetaka bagi penduduk pribumi. Pendapat kedua tentang bentuk dan subyek HPWP datang dari Bromley dan Cernea. Rezim tanpa milik (non-property rezims atau open accsess). tetapi jalan pikiran yang dikemukakannya. dapat diproyeksikan pula ke dalam sistem pengelolaan sumber daya alam perikanan. 49 Ibid. selama 30 tahun terakhir 26 sampai 63 persen lahan ”milik bersama” beralih menjadi lahan perorangan. Jika tujuan pembangunan untuk pemberdayaan rakyat dan keadilan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Keempat rezim itu adalah sebagai berikut : 1. mereka berpendapat bahwa privatisasi terhadap sumber daya ”milik bersama”. Akibatnya. Di bawah rezim pemilikan masyarakat. Kedua ahli ekonomi tersebut termasuk pembela-pembela konsep ”milik bersama”. maka satu-satunya pilihan ialah pemberian hak milik kapada masyarakat (community property rights). Pada saat yang sama.201 daya alam perikanan tersebut.

sekelompok petani tak bertanah atau marginal diberikan petak-petak tanah untuk perkebunan. Bahkan. seperti yang terjadi di Bengala Barat (India) dalam bentuk tree growing associations.202 Di bawah rezim milik negara. Perubahan dari rezim milik negara ke rezim lain atau sebaliknya. Terdapat pandangan bahwa hak milik swasta sangat memadai untuk saat ini. Secara yuridis dan sosiologis. Namun. menurut Bromley dan Cernea. . Ada pula contoh menarik mengenai mekanisme pengelolaan sumber daya alam yang diserahkan oleh negara kepada kelompok masyarakat tertantu. tetapi hak kepemilikannya tetap pada negara. banyak perampasan tanah terjadi di berbagai bagian dunia bukan sebagai akibat kelangkaan persediaan tanah secara fisik. Petani hanya mempunyai hak garap atau hak milik atas hasil dari tanah tersebut. Individu dan kelompok boleh menggunakan sumber daya alam. Termasuk dalam rezim milik swasta adalah hak milik individu (individual property) dan hak milik perusahaan (corporate property). Meskipun tanah berada di bawah kekuasaan petani. Hak milik atas tanah tetap pada negara. subjek hak milik swasta dapat mengusir orang lain. dalam upaya pemanfaatan tersebut. merupakan contoh perubahan dari rezim milik bersama ke rezim milik negara. Nasionalisasi hutan desa di Nepal pada tahun 1957 oleh pemerintah. Pertama. Melalui sistem ini. Selanjutnya mengenai rezim milik swasta. Negara bisa langsung mengelolan sumber daya alam melalui lembaga pemerintah. terdapat dua fenomena yang harus dijawab oleh penganut pandangan tersebut. dapat saja terjadi. Secara umum. sudah diakui bahwa hak milik swasta (private property) merupakan rezim yang paling jelas di antara rrezim-rezim lainnya. tidak berarti hak milik atas tanah juga beralih kepadanya. Bisa juga disewakan kepada kelomok masyarakat atau perorangan untuk jangka waktu tertentu. pemilikan dan kontrol atas sumber daya berada di tangan negara. tetapi karena terjadinya konsentrasi pemilikan tanah di tangan keluarga-keluarga kuat. hak milik swasta memungkinkan pemiliknya untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan tidak melibatkan orang lain. Bahkan.

yang termasuk kategori public domain adalah state property. Fenomena Amerika Latin-sebagian besar tanah subur menjadi padang penggembalaan. rezim tanpa milik muncul akibat gagaglnya ketiga rezim sebelumnya. yaitu hak untuk membatasi atau menghalangi keikutsertaan dalam wilayah tertentu yang telah dijadikan objek hak. 50 Ibid. dan open-accsess (res nullius). open-accsess diartikan sebagai suatu situasi tanpa hak milik. Menurutnya. 275 . sementara tanaman pangan berada di tanah kurus-merupakan contoh mengenai hal ini. sebagaimana telah diuraikan pada bagian terdahulu. Dalam pandangan Bromley dan Cernea. dikemukakan oleh Christy. Common property. Dengan kata lain. hlm. Kedua. Hak untuk menetapkan jenis dan jumlah penggunaan sumber daya alam dalam wilayah tersebut.50 Bahkan. 2. tanah terbaik telah diswastakan. Situasi ini muncul umumnya karena tidak adanya atau gagalnya sistem pengolahan dan wewenang yang bertujuan menerapkan norma tingkah laku yang berhubungan dengan sumber daya alam. sebagai langkah awal diperlukan sedikitnya tiga macam hak yang bersifat spesifik. Pendapat ketiga tentang bentuk dan subyek HPWP. hak milik swasta seringkali mengarah pada apa yang disebut highest and best use of land. dapat dikatakan bahwa Christy lah yang pertama kali memperkenalkan terminologi territorial use rights in fisheries (TURFs) disertai penjelasan yang relatif komprehensif. Sementara itu.203 fenomena seperti ini terjadi di sebagian beasr negara-negara Amerika Latin. Dengan latar belakang ini pula. Hak untuk menghalangi orang lain (the rights of exclusion). Berlainan dengan para ahli lainnya. common property (res communis). yakni sebagai berikut: 1. sedangkan tanah yang terburuk dibiarkan menjadi public domain. menurut mereka esensinya adalah hak milik swasta dalam kelompok dan kelompoklah yang menentukan siapa yang tidak diperkenankan mengambil manfaat dari sumber daya alam ”milik bersama”. Bromley dan Cernea membedakan antara common property dan open-accsess.

pemerintah suatu negara. Sebutkan ruang lingkup Hak Penggunaan Wilayah Untuk Perikanan (HPWP)? 3. Sebutkan bentuk dan subjek HPWP? Daftar Bacaan Abdul Rasal Rauf. Gramedia Pustaka Utama. Selain itu. Khusus HPWP yang subjeknya masyarakat. relatif sukar untuk ditetapkan secara pasti. atau kepada perusahaan multinasional. koperasi. Bisa juga melalui penarikan pajak atau sewa maupun penjual-an dari hak-hak itu. atau masyarakat. 2007. Hukum Perikanan Nasional dan Internasional. Mengenai subyek HPWP. Jakarta: PT. 2010. HPWP dapat pula diberikan kepada cabangcabang politik. Namun. Sebutkan UU yang terkait dengan pengelolaan perikanan disertai dengan penjelasannya? 2. melalui penarikan pungutan dari pemakai sumber daya alam. Penutup Evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran keempatbelas dan kelimabelas dilakukan dalam bentuk kuis. setidaknya harus cukup lama agar memungkinkan pemilik hak memperoleh pendapatan yang memuaskan atas setiap modal yang ditanamkan. Marhaeni Ria Siombo.204 3. jangka waktunya mungkin tidak dibatasi. Hak untuk mengambil derma (the rights of extract benefits). seperti: 1. . Makassar: Fakultas Hukum Unhas. seperti suatu kota atau propinsi. perusahaan swasta. Adapun tentang jangka waktu HPWP. yakni mengangakt beberapa pertanyaan yang dilengkapi dengan penjelasan dan dilakukan pada tatap muka kelimabelas. Christy berpendapat bahwa HPWP dapat diberikan kepada perorangan. Bahan Ajar Hukum Laut Internasional (Pengantar). Derma dapat diperoleh antara lain. Beberapa pertanyaan yang dikemukakan. C.

Tobing. Politik Hukum Perikanan Indonesia. Sudirman Saad. 1961. Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amana Gappa.L. 2003. Makassar: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara. .205 Ph. Jakarta: Dian Pratama Printing.D.

. Pilihan makalah atau ujian tertulis oleh peserta didik akan bersifat individu yang dipilih dan atau diberikan dari materi hukum laut yang telah dipelajari. Organisasi makalah. C. Kesesuaian antara teori dan kasus serta analisis. Sasaran Pembelajaran Ujian Akhir Semester B.206 BAB 16 BAHAN PEMBELAJARAN 16 A. Penutup Kriteria evaluasi adalah makalah individu dan ujian tertulis. Sedangkan ujian tertulis didasarkan pada kemampuan peserta didik menjelaskan materi yang dipertanyakan dilengkapi dengan analisis dan contoh. Adapun kriteria penilaian makalah berupa Isi Makalah. Uraian: Pelaksanaan ujian akhir semester dilaksanakan dengan memberikan pilihan pada mahasiswa untuk mengikuti ujian akhir yang diberikan dapat bentuk makalah atau ujian tertulis. dan Ketepatan waktu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful