BAB 1 PENDAHULUAN Ikterus atau yang disebut juga sebagai jaundice yang berasal dari bahasa Perancis jaune

yang juga berarti kuning. Dalam hal ini menunjukan peningkatan pigmen empedu pada jaringan dan serum. Ikterus merupakan suatu sindroma yang dikarakteristikkan oleh adanya hiperbilirubinemia dan deposit pigmen empedu pada jaringan termasuk kulit dan membran mukosa. Secara garis besar ikterus dapat digolongan menjadi ikterus fisiologis maupun patologis. Ikterus patologis sering didapatkan pada dewasa, dan terbagi menjadi beberapa tipe, yaitu yaitu ikterus pre hepatika (hemolitik), ikterus hepatika (parenkimatosa) dan ikterus post hepatika (obstruksi). Terdapat dua bentuk ikterus obstruksi yaitu obstruksi intra hepatal dan ekstra hepatal. Ikterus obstruksi intra hepatal dimana terjadi kelainan di dalam parenkim hati, kanalikuli atau kolangiola yang menyebabkan tanda-tanda stasis empedu sedangkan ikterus obstruksi ekstra hepatal terjadi kelainan diluar parenkim hati (saluran empedu di luar hati) yang menyebabkan tanda-tanda stasis empedu. Yang merupakan kasus bedah adalah ikterus obstruksi ekstra hepatal sehingga sering juga disebut sebagai “surgical jaundice”, ikterus obstruksi ini terbanyaknya disebabkan oleh batu kandung empedu, dimana morbiditas dan mortalitas sangat tergantung dari diagnosis dini dan tepat.

1

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA A. IKTERUS I. Definisi Ikterus adalah gejala kuning pada sklera, kulit, dan mata akibat bilirubin yang berlebihan di dalam darah dan jaringan. Normalnya bilirubin serum kurang dari 9 µmol/L (0,5mg%). Ikterus nyata secara klinis jika kadar bilirubin meningkat di atas 35 µmol/ L (2 mg)(1). II. Fisiologi Metabolisme Bilirubin Berikut ini akan dijelaskan mengenai metabolisme pembentukan bilirubin, meliputi(2): 1. Eritrosit yang sudah tua akan difagosit oleh monosit dan makrofag dan sebagiannya lagi akan didestruksi/katabolisasi di sistem retikuloendotelial (SRE) seperti hati dan limfa, sementara sel darah yang telah difagosit itu akhirnya juga akan dibawa menuju SRE untuk mengalami katabolisasi lebih lanjut. 2. Didalam SRE hemoglobin, suatu bentuk protein yang terdapat dalam eritrosit, akan dipecah menjadi 3 komponen yaitu Heme, Ferum (besi), dan globin. Globin akan menuju siklus metabolisme yang lain sedangkan besi akan digunakan kembali oleh tubuh untuk pembentukan eritrosit baru dan akhirnya heme akan dikonversi menjadi biliverdin yang berwarna kehijauan. 3. Biliverdin akan keluar dari SRE menjadi bentuk bilirubin tak terkonjugasi atau bilirubin indirek (BI), karena sifatnya yang tidak larut air maka untuk ditranspor didalam plasma, dibutuhkan suatu pembawa yaitu albumin. Bersama dengan albumin BI akan bersirkulasi dan akan mengalami ambilan oleh hepatosit. 4. BI akan diikat oleh suatu protein yang dihasilkan hati yaitu protein Y, lalu BI + Protein Y akan mengalami reaksi enzimatik, yaitu oleh enzim glukuronil transferase dan kemudian mengalami pengikatan lagi dengan protein Z, maka

2

Metabolism bilirubin (www. 3 . 5. Ikterus pre hepatika (hemolitik). dan kemudian memasuki saluran cerna 6. bilirubin akan dikeluarkan dari hati melalui traktus biliaris dan nantinya akan bercampur dengan garam . Gambar 1.bilirubin tersebut menjadi bentuk terkonjugasi/bilirubin direk yang memiliki sifat larut dalam air. Klasifikasi Berikut ini merupakan klasifikasi ikterus secara garis besar antara lain. sebagai berikut(1).google.garam empedu. didalam saluran cerna bilirubin akan dimetabolisme lebih lanjut oleh bakteri usus menjadi sterkobilin (dan juga urobilin) yang mewarnai faeces sebagian kecil akan diserap dan dibawa ke dalam sirkulasi portal. dan kemudian ke ginjal dimana bilirubin ini akan mewarnai urine (disini namanya berganti menjadi urobilin) dan dikeluarkan bersama dengan urine (serta faeces) dari tubuh.com) III. 1.

atresia bawaan. karbontetraklorid • Tumor hati multiple (kadang) 3. misalnya pada kasus anemia hemolitik menyebabkan terjadinya pembentukan bilirubin yang berlebih. batu. tumor maligna primer atau sekunder • Obstruksi di dalam lumen saluran empedu. abses hati. tumor saluran empedu • Kempaan saluran empedu dari luar. tumor kaput pancreas. sirosis hepatis. Gangguan konjugasi bilirubin dapat disebabkan karena defisiensi enzim glukoronil transferase sebagai katalisator(3). 4 . pankreatitis. metastasis ke kelenjar limfe di ligamentum hepatoduadenale. striktur traumatik. Ikterus yang disebabkan oleh hiperbilirubinemia tak terkonjugasi bersifat ringan dan berwarna kuning pucat. Kegagalan tersebut disebabkan rusaknya sel-sel hepatosit. hepatitis akut atau kronis dan pemakaian obat yang berpengaruh terhadap pengambilan bilirubin oleh sel hati. Ikterus hepatika (parenkimatosa) • Hepatitis A. anestetik lain. leptospirosis. kloroform. malaria tropika berat. atau transfuse darah yang tidak kompatibel 2. seperti sferositosis. anemia pernisiosa. askaris • Kelainan di dinding saluran empedu. Ikterus prahepatik terjadi karena adanya kerusakan RBC atau intravaskular hemolisis. Bilirubin yang tidak terkonjugasi bersifat tidak larut dalam air sehingga tidak diekskresikan dalam urin dan tidak terjadi bilirubinuria tetapi terjadi peningkatan urobilinogen. Hal ini menyebabkan warna urin dan feses menjadi gelap. hepatokolangitis. C. tumor ampula vater. Ikterus pascahepatik (obstruksi) • Obstruksi saluran empedu di dalam hepar.• Kelainan hemolitik. Sedangkan pada ikterus hepatik jenis ini terjadi di dalam hati karena penurunan pengambilan dan konjugasi oleh hepatosit sehingga gagal membentuk bilirubin terkonjugasi. mononucleosis • Sirosis hepatis • Kolestasis karena obat (klorpromazin) • Zat yang meracuni hati seperti fosfor. atau E. B.

Oleh karena adanya sumbatan maka akan terjadi dilatasi pada saluran empedu Karena adanya obstruksi pada saluran empedu maka terjadi refluks bilirubin direk (bilirubin terkonyugasi atau bilirubin II) dari saluran empedu ke dalam darah sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan kadar bilirubin direk dalam darah. Yang merupakan kasus bedah adalah ikterus obstruksi ekstra hepatal sehingga sering juga disebut sebagai surgical jaundice. 2.(4) IV. Urobilin feses 5 . Hal ini disebut ikterus obstruksi intra hepatal. Oleh karena kelarutan dan ikatan yang lemah pada albumin maka bilirubin direk dapat diekskresikan melalui ginjal ke dalam urine yang menyebabkan warna urine gelap seperti teh pekat. Terjadi sumbatan pada saluran empedu ekstra hepatal.Ikterus obstruksi (post/pascahepatika) adalah ikterus yang disebabkan oleh gangguan aliran empedu antara hati dan duodenum yang terjadi akibat adanya sumbatan (obstruksi) pada saluran empedu ekstra hepatika. Hal ini disebut sebagai ikterus obstruksi ekstra hepatal.6): 1. Terdapat dua bentuk ikterus obstruksi yaitu obstruksi intra hepatal dan ekstra hepatal. Obstruksi ini bukan merupakan kasus bedah. Ikterus obstruksi intra hepatal dimana terjadi kelainan di dalam parenkim hati. kanalikuli atau kolangiola yang menyebabkan tanda-tanda stasis empedu sedangkan ikterus obstruksi ekstra hepatal terjadi kelainan diluar parenkim hati (saluran empedu di luar hati) yang menyebabkan tanda-tanda stasis empedu. Terjadinya gangguan ekskresi bilirubin dari sel-sel parenkim hepar ke sinusoid. Biasanya tidak disertai dengan dilatasi saluran empedu. Bilirubin direk larut dalam air. Ikterus obstruksi terjadi bila(2. Bila kadar bilirubin sudah mencapai 2 – 2. Patogenesis Hiperbilirubinemia adalah tanda nyata dari ikterus. tidak toksik dan hanya terikat lemah pada albumin.5 mg/dl maka sudah telihat warna kuning pada sklera dan mukosa sedangkan bila sudah mencapai > 5 mg/dl maka kulit tampak berwarna kuning(5). Ikterus obstruksi disebut juga ikterus kolestasis dimana terjadi stasis sebagian atau seluruh cairan empedu dan bilirubin ke dalam duodenum.

Nyeri perut terutama di regio perut kanan atas. menjadi pucat seperti dempul dalam minimal 3x pemeriksaan berturut-turut. sehingga terjadi jaundice (sakit kuning) karena menyumbat aliran empedu yang normal ke usus. laboratorium dan pemeriksaan penunjang diagnostik. muntah. pemeriksaan fisis. VI. Waktu munculnya nyeri pada obstruksi bilier terutama dirasakan setelah makan makanan berlemak yang diikuti mual.(1) V. Batu kandung empedu bisa menyumbat aliran empedu dari kandung empedu. scapula dextra. Riwayat anemia.berkurang sehingga feses berwarna pucat seperti dempul (akholis) Karena terjadi peningkatan kadar garam-garam empedu maka kulit terasa gatal-gatal (pruritus). urine jadi gelap seperti warna teh. • • • • • Gambaran Klinis(7. Perubahan warna urine. dan leher. • Gejala anoreksia dan kaheksia lebih sering terjadi pada keganasan (Ca caput pankreas atau Ca hepar) daripada obstruksi batu bilier. lebih sering diakibatkan oleh obstruksi mekanis. terkadang kolelitiasis dapat disertai dengan anemia hemolitik. 6 .5 mg/dl. dan menyebabkan nyeri (kolik bilier) atau peradangan kandung empedu (kolesistitis). Diagnosis Diagnosis ikterus obstruksi beserta penyebabnya dapat ditegakan berdasarkan Anamnesis (gambaran klinis). Batu juga bisa berpindah dari kandung empedu ke dalam saluran empedu. Penyumbatan aliran empedu juga bisa terjadi karena adanya suatu tumor. Perubahan warna feses. Kolik bilier merupakan gejala yang umum terjadi berupa nyeri hilang timbul pada area epigastrium (subxyphoid) yang menjalar ke subcostal dextra.8) Anamnesa Riwayat ikterus yang terlihat dalam inspeksi bila kadar bilirubin serum > 2.

koledokolelitiasis terinfeksi. Pada obstruksi mekanik muncul setelah nyeri timbul. Gatal-gatal. Sedangkan pada inflamasi demam muncul bersamaan dengan nyeri Usia. Positif bila kantung empedu tampak membesar. pitting edema). Ikterus: sklera atau kulit Dicari stigmata sirosis (rontoknya rambut aksila dan pubis. alkohol. asites. tatoo. kolesistitis. scratch effect. • Murphy’s sign. jarang pada keganasan.• • • Demam. makanan tinggi kolesterol juga akan merangsang pembentukan batu empedu. sedangkan usia tua lebih sering keganasan Riwayat tansfusi darah. gynekomastia. liver nail. caput medussae. penggunaan jarum suntik bergantian. • Kandung empedu membesar atau tidak (Courvoisier sign(6)). biasanya pada keganasan karena dilatasi kandung empedu. Karena penumpukan bilirubin direk pada kolestasis. • Makanan dan obat. pembedahan sebelumnya. promiskuitas. Pada usia muda kebanyakan hepatitis. spider naevi. bendungan hepar akibat kegagalan jantung. Negatif bila kantung empedu tidak tampak membesar. Hepar mengecil pada sirosis. 7 . CCl4. palmar eritem. obstruksi bilier. pekerjaan beresiko tinggi terhadap hepatitis B. Positif pada kolangitis. Disamping itu alkohol juga akan menyebabkan fatty liver disease. Hepar membesar pada hepatitis. Ca hepar. Contohnya Clofibrate akan merangsang pembentukan batu empedu. • • • • Gejala-gejala sepsis lebih sering menyertai ikterus akibat sumbatan batu empedu. biasanya pada obstruksi batu karena adanya proses inflamasi pada dinding kantung empedu. Pemeriksaan Fisik • Hepar teraba atau tidak.

d. Bentuk kandung empedu yang normal adalah lonjong dengan ukuran 2 – 3 X 6 cm. Pemeriksaan laboratorium • Pemeriksaan darah lengkap. Bila tidak ditemukan tanda-tanda dilatasi saluran empedu berarti menunjukan adanya ikterus obstruksi intra hepatal. Pemeriksaan penunjang(6. AFP. amilase. Pemeriksaan USG Pemeriksaan USG perlu dilakukan untuk menentukan penyebab obstruksi. Alkali Fosfatase. Besar. γ-Glutamil Transpeptidase) • • Urinalisis terutama bilirubin direk (terkonjugasi) dan total. serum transaminase (SGOT/SGPT). Saluran empedu yang normal mempunyai diameter 3 mm. VIII. dan ikut bergerak pada perubahan posisi. albumin. Bila ditemukan dilatasi duktus koledokus dan saluran empedu intra hepatal disertai pembesaran kandung empedu menunjukan ikterus obstrusi ekstra hepatal bagian distal. e. b. Pada tumor akan terlihat massa padat pada ujung saluran empedu dengan densitas rendah dan heterogen. Sedangkan bila hanya ditemukan pelebaran saluran empedu intra hepatal saja tanpa disertai pembesaran kandung empedu menunjukan ikterus obstruksi ekstra hepatal bagian proksimal artinya kelainan tersebut di bagian proksimal duktus sistikus. Bertujuan untuk mencari dan menentukan ukuran lumen saluran bilier serta mencari ada atau tidaknya massa dalam kandung empedu. faktor pembekuan. bentuk dan ketebalan dinding kandung empedu.7) 1. Yang perlu diperhatikan adalah : a.VII. Marker serologis hepatitis untuk hepatitis. Ada tidaknya massa padat di dalam lumen yang mempunyai densitas tinggi disertai bayangan akustik (acustic shadow). c. dengan ketebalan sekitar 3 mm. Bila diameter saluran empedu lebih dari 5 mm berarti ada dilatasi. hal ini menunjukan adanya batu empedu. 8 . LDH.

yang dapat dilakukan antara lain(5). indikasi awal hanya pasien dengan batu empedu simptomatik tanpa adanya kolesistitis akut. diikuti oleh kolesistitis akut. Pemeriksaan CT scan Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat adanya dilatasi duktus intra hepatik yang disebabkan oleh oklusi ekstra hepatik dan duktus koledokus akibat kolelitiasis atau tumor pankreas. Cara ini dapat digunakan setelah ERCP kemudian dilanjutkan dengan papilotomi. dapat dilakukan sfingterotomi/papilotomi untuk mengeluarkan batunya. Tindakan ini digolongkan sebagai surgical Endoscopy Treatment (SET). Pembedahan terhadap batu sebagai penyebab obstruksi. • Kolesistektomi terbuka Adalah mengangkat kandung empedu beserta seluruh batu. dilakukan tindakan pembedahan. Biopsi Hepar biasanya untuk memastikan etiologi obstruksi intrahepatal. ERCP memberi gambaran langsung tentang keadaan duktus biliaris dan sangat berguna mencari etiologi obstruksi ekstrahepatal dan mengekstraksi batu empedu. IX.ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography) Pemeriksaan ERCP dilakukan untuk menentukan penyebab dan letak sumbatan. Sfingterotomi/papilotomi. Bila letak batu sudah pasti hanya dalam duktus koledokus. Selain itu juga ditujukan untuk mencari dan menentukan ukuran lumen saluran bilier serta mencari ada atau tidaknya massa dalam kandung empedu. 9 .2. Bila penyebabnya adalah batu. • • Kolesistektomi laparaskopik. Penatalaksanaan Pada dasarnya penatalaksanaan penderita ikterus obstruksi bertujuan untuk menghilangkan penyebab obstruksi atau mengalihkan aliran empedu. Bila penyebabnya adalah tumor dan tindakan bedah tidak dapat menghilangkan penyebab obstruksi karena tumor tersebut maka dilakukan tindakan drainase untuk mengalihkan aliran empedu tersebut. Indikasi paling umum untuk kolesistektomia adalah biliaris rekuren. 4. 3.

Tindakan yang dilakukan yaitu : Mengoreksi striktur atau stenosis dengan cara dilatasi atau sfingterotomi.• Pembedahan terhadap striktur/ stenosis. Hasil reseksi perlu dilakukan pemeriksaan PA. apakah itu intra hepatik atau ekstra hepatik. • Pembedahan terhadap tumor. tumor sebagai penyebab obstruksi maka perlu dievaluasi lebih dahulu apakah tumor tersebut dapat atau tidak dapat direseksi. KANDUNG EMPEDU I. Bila tumor tersebut dapat direseksi perlu dilakukan reseksi kuratif. B.com) 10 . Bila tumor tersebut tidak dapat direseksi maka perlu dilakukan pembedahan paliatif saja yaitu terutama untuk memperbaiki drainase saluran empedu misalnya dengan anastomosis bilo-digestif atau operasi by-pass. Google picture. striktur atau stenosis dapat terjadi dimana saja dalam sistem saluran empedu. Anatomi dan Fisiologi kandung Empedu Gambar 2. Dapat juga dilakukan tindakan dilatasi secara endoskopi (Endoscopic Treatment) setelah dilakukan ERCP. Bila cara-cara di atas tidak dapat dilaksanakan maka dapat dilakukan tindakan untuk memperbaiki drainase misalnya dengan melakukan operasi rekonstruksi atau operasi biliodigestif (by-pass). Anatomi kandung empedu (www.

Infundibulum. Rangsangan motoris untuk kontraksi kandung empedu dibawa melalui cabang vagus dan ganglion seliaka. Berjalan dari leher kandung empedu dan bersambung dengan duktus hepatikus membentuk saluran empedu ke duodenum. bentuknya bulat. elektrolit.Kandung empedu merupakan kantong kecil yang berfungsi untuk menyimpan empedu (cairan pencernaan berwarna kuning kehijauan yang dihasilkan oleh hati). merupakan bagian terbesar dari kandung empedu. didalamnya berisi getah empedu. sekresinya berjalan terus menerus. Getah emepedu adalah suatu cairan yang disekresi setiap hari oleh sel hati yang dihasilkan setiap hari 500-1000 cc. Kandung empedu ini terdiri dari garam-garam empedu. • • Kolum. saluran yang membawa empedu ke duodenum. saluran yang keluar dari leher. • Duktus sistikus. Terletak didalam fossa dari permukaan visceral hati. Aliran limfe masuk secara langsung kedalam hati dan juga masuk ke nodus-nodus di sepanjang permukaan vena porta.9): • • Fundus vesikafelea. merupakan bulbus divertikulum kecil yang terletak pada permukaan inferior dari kandung kemih. • • Duktus hepatikus. bagian yang sempit dari kandung empedu yang terletak antara korpus dan daerah duktus sistika. dikenal juga sebagai kantong Hartmann. pigmen 11 . Pasokan darah ke kandung empedu adalah melalui arteri kistika. secara khas merupakan cabang dari arteri hepatika kanan. Sensasi nyeri diperantai oleh serat visceral. Korpus vesikafelea. biasanya ke dalam cabang kanan dari vena porta. simpatis. yang menghubungkan kandung empedu ke duktus koledokus. Sistem persarafan terletak disepanjang arteri hepatika. Bagian-bagian dari kandung empedu terdiri dari(5. Kandung empedu memiliki bentuk seperti buah pir dengan panjang 7-10 cm dan merupakan membran berotot. merupakan bagian kandung empedu yang paling akhir setelah korpus vesikafelea. jumlah produksi meningkat sewaktu mencerna lemak. Drainase vena ini dari kandung empedu bervariasi. Duktus koledokus.

Insiden kolelitiasis yang pernah dilaporkan di negara Barat adalah 20%. Perubahan ini diduga karena perubahan gaya hidup. Hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dirubah menjadi bilirubin (pigmen utama dalam empedu) dan dibuang ke dalam empedu. lebih banyak pada multipara. Insidens Penyakit kandung empedu lebih banyak dijumpai pada wanita dengan perbandingan 2:1 dengan pria. lebih banyak pada orang. lebih sering ditemukan pada orang gemuk. antara lain(2. sehingga membantu penyerapannya dari usus. 2.obatan tertentu (food). dan banyak menyerang orang dewasa dan lanjut usia. dan sesuai dengan angka di negara tetangga seperti Singapura. sering memberikan gejala-gejala saluran cerna (Flatulen)(11). Berbagai protein yang memegang peranan penting dalam fungsi empedu juga disekresi dalam empedu. Garam empedu menyebabkan meningkatnya kelarutan kolesterol. lemak dan vitamin yang larut dalam lemak.empedu (misalnya bilirubin). 12 . bertambah dengan tambahnya usia. II. lemak. Kandung empedu memiliki beberapa fungsi. Cairan empedu ini adalah cairan elektrolit yang dihasilkan oleh sel hati. berkurangnya infeksi parasit. Sedangkan di Asia timur. Malaysia. pola makanan. Kolelitiasis Definisi Kolelitiasis merupakan penyakit batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam duktus koledokus atau pada keduanya.orang dengan diet tinggi kalori dan obat. Untuk membuang limbah tubuh tertentu (terutama pigmen hasil pemecahan sel darah merah dan kelebihan kolesterol) serta membantu pencernaan dan penyerapan lemak. dan menurunnya frekuensi infeksi empedu. Tempat menyimpan cairan empedu dan memekatkan cairan empedu yang ada didalamnya dengan cara mengabsorpsi air dan elektrolit. dan banyak ditemukan pada perempuan. Di negara Barat. kolesterol.5): 1. termasuk Indonesia angka kejadian batu pigmen lebih tinggi dibandingkan dengan angka yang terdapat di negara Barat. tetapi angka kejadian batu empedu pigmen meningkat akhir-akhir ini. 80% batu empedu adalah batu kolesterol.

Apabila terjadi ketidakseimbangan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor infeksi empedu oleh kuman gram negatif E. besifat kolik.com) Gambaran klinis Kurang lebih 10 % penderita batu empedu bersifat asimptomatik. Gambar 3. maka akan terjadi presipitasi dari kolesterol (empedu litogenik) dan terbentuk batu empedu (segitiga SMALL)(10). Filipina. Kolelitiasis (www. Kelarutan kolesterol di dalam cairan empedu dipengaruhi asam empedu dan fosfolipid. Nyeri sering timbul karena rangsangan 13 . Dalam perjalanannya batu kandung empedu dapat berpindah ke dalam duktus koledokus melalui duktus sistikus. coli ikut berperan penting dalam timbulnya batu pigmen(1). Kalau batu terhenti di dalam duktus sistikus karena diameternya terlalu besar dan tertahan oleh striktur. Di dalam perjalannya melalui duktus sistikus. Patogenesis 80% batu empedu terdiri dari kolesterol. batu akan tetap berada di sana sebagai batu duktus sistikus(1). mulai daerah epigastrium atau hipokondrium kanan dan menjalar ke bahu kanan. batu tersebut dapat menimbulkan sumbatan aliran empedu secara parsial atau komplet sehingga menimbulkan gejala kolik empedu. Kolesterol tidak larut dalam air. Pasase batu empedu berulang melalui duktus sistikus yang sempit dapat menimbulkan iritasi dan perlukaan sehingga dapat menimbulkan peradangan dinding duktus sistikus karena diameternya terlalu besar atau tertahan oleh striktur.Muangthai. Gejala yang timbul dapat berupa: • Nyeri (60%).google.

Pemeriksaan khusus pada ikterus obstruksi: kolangiografi perkutan transhepatik (PTC). • • • Kolesistografi oral. Selain itu. Nyeri dapat terus. Dengan USG juga dapat dilihat dinding kandung empedu yang menebal karena fibrosis atau udem karena peradangan maupun sebab lain. Ikterus obstruksi terjadi bila ada batu yang menyumbat saluran empedu utama (duktus hepatikus/koledokus). Pemeriksaan laboratorium Pada ikterus obstruksi terjadi: • • • • Adanya peningkatan kadar dalam darah dari bahan-bahan: bilirubin direk dan total. lebih bermakna pada penilaian fungsi kandung empedu. Tatalaksana non bedah dapat terdiri atas lisis batu dan pengeluaran secara endoskopik.(1.10. bila terjadi penyumbatan atau keradangan. Foto polos perut biasanya tidak memberikan gambaran yang khas karena hanya sekitar 10-15% batu kandung empedu bersifat radioopak. computerized tomography scanning (CT Scan). alkali fosfatase. timbul bila terjadi keradangan. • • Demam. Pemeriksaan fisik Bila terjadi penyumbatan duktus sistikus atau kolesistitis dijumpai nyeri tekan hipokondrium kanan.makanan berlemak. Ikterus. gama glukuronil transferase Bilirubinuria Tinja akolis USG: mempunyai derajat spesifisitas dan sensitivitas yang tinggi untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intrahepatik maupun ekstrahepatik.11) Penatalaksanaan Tatalaksana kolelitiasis dapat ditangani baik secara non bedah maupun dengan pembedahan (kolesistektomi). terutama pada waktu penderita menarik nafas dalam (Murphy’s Sign). Sering disertai menggigil. dapat dilakukan pencegahan Pemeriksaan penunjang 14 . kolesterol. Endoscopic retrograde cholangio pancreatography (ERCP).

Peradangan bakteri yang mungkin berperan pada 50-85% pasien kolesistitis akut. sedangkan kolesistitis kronik hampir selalu disertai batu. Peradangan kimiawi akibat pelepasan lisolesitin (akibat kerja fosfolipase pada lesitin dalam kandung empedu) dan faktor jaringan lokal lainnya. 3. Kolesistitis Definisi Kolesistitis adalah peradangan akut pada dinding kandung empedu yang terjadi akibat sumbatan duktus sistikus oleh batu empedu. Terbagi 2 tipe. atau bahu. Faktor pencetus 1. Peradangan mekanis akibat tekanan intralumen dan regangan yang menimbulkan iskemia mukosa dan dinding kandung empedu 2. Mual muntah Demam ringan 15 . Penyebab paling sering adalah Escherichia coli. kolesistitis akut sebagian besar disebabkan adanya obstruksi di duktus sistikus oleh batu. III. sedangkan kurang lebih 10% tanpa disertai batu. Stapilococcus sp. Nyeri kolesistitis dapat menyebar ke antarscapula. hanya akan tampak bila ada hambatan aliran empedu. Streptococcus grup D. dan Clostridium sp. scapula kanan. Gambaran klinis • • • • • • Serangan kolik biliaris (awal) Nyeri abdomen kanan atas sesudah makan-makanan yang mengandung banyak lemak. Ikterus (jarang). Klebsiela sp.kolelitiasis pada orang yang cenderung memiliki empedu litogenik dengan mencegah infeksi dan menurunkan kadar kolesterol serum dengan cara mengurangi asupan atau menghambat sintesis kolesterol. Obat golongan statin dikenal dapat menghambat sintesis kolesterol karena menghambat enzim HMGCoA reduktase.

yang dapat terjadi pada saluran intra hepatik dan/atau ekstra hepatik. demam. leukositosis berkisar antara 10. Penyakit hati alkoholik c. Sirosis bilier primer d. peningkatan sedang aminotransferase serum (dari 5 kali lipat). USG. Hepatitis b. gambaran batu (9095%).obatan 16 . sedangkan terapi medik hanya dianjurkan untuk pasien dengan risiko operasi tinggi atau yang menolak operasi. pemberian cairan parenteral. Pada sebagian besar pasien dengan kolesistitis kronik tindakan kolesistektomi akan memberikan hasil yang sangat baik dengan komplikasi yang sangat rendah(12. IV.000-15. dengan pergeseran ke kiri. Penatalaksanaan Pengobatan umum meliputi: istirahat. jauh lebih mahal dibanding USG.13). cepat dan non-invasif. diit ringan tanpa lemak serta obat menghilangkan nyeri seperti petidin dan antispasmodik.000 sel/µL. Terapi definitif kolesistitis akut yang sekarang banyak dianjurkan adalah kolesistektomi dini dalam 72 jam pertama. Pemeriksaan penunjang 1. Etiologi Penyebab kolestasis dibagi menjadi dua kelompok sebagai berikut: 1. Berasal dari hati: a.5 µmol/L). 2. dan komplikasi perforasi. Pemeriksaan Laboratorium Pada hitung jenis. bilirubin serum sedikit meningkat (<85. keuntungan relatif mudah dikerjakan. CT Scan. dapat mendeteksi adanya penebalan dinding kandung empedu. Akibat obat.Pemeriksaan fisik Triad nyeri kuadran kanan atas abdomen. Kolestasis Definisi Kolestasis adalah berkurangnya atau terhentinya aliran empedu dari hati ke usus.

Peradangan pancreas Manifestasi klinis 1. Kanker pancreas e. Feses terkadang tampak pucat karena kurangnya bilirubin dalam usus. muntah atau demam. 3. bisa berupa nyeri perut. 2. hilangnya nafsu makan. Batu di saluran empedu b. 5. Kanker saluran empedu d.gatal (disertai penggarukan dan kerusakan kulit). Feses juga bisa mengandung terlalu banyak lemak (steatore) karena dalam usus tidak terdapat empedu untuk membantu mencerna lemak dalam makanan.bahan yang diperlukan untuk pembekuan darah sehingga pasien cenderung mudah mengalami perdarahan. Terdapatnya empedu dalam sirkulasi darah bisa menyebabkan gatal. 6. Jaundice dan urine yang berwarna gelap merupakan akibat dari bilirubin yang berlebihan di dalam kulit dan urine. 7. menyebabkan kulit berwarna gelap dan di dalam kulit terdapat endapan kuning karena lemak. Jaundice yang menetap lama sebagai akibat dari kolestasis. Berkurangnya empedu dalam usus juga menyebabkan berkurangnya penyerapan kalsium dan vitamin D. Gejala lainnya bergantung pada penyebab kolestasis. 8. 4. Terjadi gangguan penyerapan dari bahan. Akibat perubahan hormon selama kehamilan (kolestasis pada kehamilan). 2.e. Berasal dari luar hati: a. Jika kolestasis menetap. 17 . kekurangan kalisium dan vitamin D akan menyebabkan pengeroposan tulang dan dapat menyebabkan rasa nyeri di tulang serta patah tulang. Penyempitan saluran empedu c. 9.

Penegakkan diagnosis 1. Penatalaksanaan 1. 18 . Jika penyebabnya adalah penyakit hati. a. maka konsumsi obat harus dihentikan. 6. Penyumbatan di luar hati biasanya dapat di obati dengan cara pembedahan atau endoskopi terapeutik 2. bergantung pada penyebabnya. Pembuluh darah yang memberikan gambaran seperti laba-laba b. Kadar enzim alkalin fosfatase sangat tinggi 4. 3. Nyeri yang berasal dari saluran empedu atau pancreas c. b. Jika penyebabnya adalah hepatitis. Penyumbatan di dalam hati bisa diobati dengan berbagai cara. 2. diberikan per-oral (ditelan). Jika penyebabnya adalah obat. Pemberian vitamin K bisa memperbaiki proses pembekuan darah. Pengumpulan cairan dalam perut (asites). 5. tetapi tidak terlalu efektif dalam mencegah penyakit tulang. bisa ditemukan: a. maka hampir selalu dilakukan pemeriksaan USG atau CT scan untuk membantu membedakan penyakit hati dengan penyumbatan pada saluran empedu. Obat ini terkait dengan produk empedu tertentu dalam usus. Cholestyramine. 4. Pembesaran limfa c. maka dilakukan biopsi hati. Kalsium dan vitamin D tambahan sering diberikan jika kolestasis menetap. Jika hasil pemeriksaan darah menunjukkan adanya kelainan. sehingga tidak dapat diserap kembali dan menyebabkan iritasi kulit. 5. maka dilakukan pemeriksaan endoskopi. Pembesaran kandung empedu 3. Jika penyebabnya adalah penyakit hati. Jika penyebabnya di luar hati. maka pada pemeriksaan fisik akan ditemukan. Jika penyebabnya adalah penyumbatan saluran empedu. Demam b. a. bisa digunakan untuk mengobati gatal-gatal. maka biasanya kolestatis dan jaundice akan menghilang sejalan dengan membaiknya penyakit.

Diagnosa banding Diagnosa bandingnya adalah kolesistolitiasis dan kolesistitis kronik. V. Patogenesisnya masih belum jelas. Ini adalah jenis kanker yang paling umum melibatkan traktus biliaris ekstrahepatik. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik dapat diraba massa di daerah kandung empedu. dan sering terjadi penyebaran. Jika terlalu banyak lemak yang dibuang ke dalam feses. Kebanyakan berhubungan dengan batu kandung empedu. Pada pemeriksaan penunjang USG dan CT scan dapat membantu menemukan tumor dan batu. Tatalaksana Pencegahan dengan melakukan kolesistektomi pada penderita kolelitiasis merupakan cara yang paling baik. Resiko timbulnya keganasan sesuai dengan lamanya menderita batu kandung empedu. dan paru. akan timbul kolesistitis akut. Kadang karsinoma ditemukan secara tidak sengaja sewaktu melakukan kolesistektomi untuk kolelitiasis. mirip kolik bilier. Cara ini terbukti menurunkan angka kejadian karsinoma kandung empedu. Apabila terjadi obstruksi duktus sistikus. Tumor ganas primer kandung empedu adalah jenis adenokarsinoma dengan penyebaran invasi langsung ke dalam hati dan porta hati(1). harus dilakukan kolesistektomi dan reseksi baji hepar selebar 19 . Metastasis terjadi ke kelenjar getah bening regional. hati. Gejala lain yang dapat terjadi adalah ikterus obstruksi dan kolangitis akibat invasi tumor ke duktus koledokus.6. Apabila ditemukan karsinoma kandung empedu sewaktu laparatomi. maka diberikan tambahan trigliserida(11). Biasanya didapatkan pada usia lanjut. terutama apabila ada dinding yang fibrotik. Tumor ganas kandung empedu Karsinoma kandung empedu jarang ditemukan. Kandung empedu yang berkalsifikasi atau seperti porselen berkaitan dengan insiden 20% dari kanker kandung empedu(5). Gambaran klinis Sering ditemukan nyeri menetap di perut kuadran kanan atas.

20 .3-5 cm disertai diseksi kelenjar limfe regional di daerah ligamentum hepatoduodenale(1). Pasien dengan lesi kecil yang ditemukan secara kebetulan pada saat kolesistektomi. Prognosis Prognosis jangka panjang dengan karsinoma kandung empedu adalah buruk. mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk kelangsungan hidup jangka lama(5). dengan angka kelangsungan hidup 5 tahun yang dilaporkan adalah kurang dari 5%.

In: Sulaiman HA. 1994. Ikterus Obstruksi. hal 90-117 12. de JW.info/ikterus- obstruksi-diagnosis-penatalaksanaan-20110204.DAFTAR PUSTAKA 1.p. Principles of Surgery. dkk. 2000. 1996.198-200 2.57-59.101-115 13. Edisi 3. Bagian IPD FKUI Jakarta: Sagung Seto.blogspot.71-73 5. Medical IT FKUI. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Artikel kedokteran. Anatomi dan fisiologi. Jakarta: Salemba Medika. New York: McGawHill. Jakarta: EGC. 8-11. Artikel Bedah. McGrawHill. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Brunicardi F. Yast.h. Charles. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah. 455-469 6. Edisi dua. Proses Pembentukan Dan Sekresi Empedu. h. 2005. Halimun EM.h.html) 11. 2001: (www.h.. Lab/UPF Ilmu Bedah. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Fisiologi dan Pemeriksaan Biokimiawi Hati. 2010 (http://www.com/2010/12/. Spencer SS. 8th ed. Sjamsuhidajat R.h. 2011 (http://ilmubedah. html) 4. Jakarta: EGC. 294-296 21 . 1994.2005. Halaman 225-226 9.com/2009/10/08/proses-pembentukan-dan-sekresiempedu) 3. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Metabolisme. Cholestasis. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. Ikterus. Surabaya: Rumah Sakit Daerah Dokter Soetomo. Jakarta : Balai Penerbit FKU. Anonymous. 2005. Batticaca FB. Surabaya: Rumah Sakit Daerah Dokter Soetomo. Edisi 2.h. Husadha. Keperawatan Medika Bedah. Jakarta: EGC. 2009 (http://www.com) 10. merckmanual. 17th edition.1187-1193 7. 1990.71-73 8. Swearingen RN. Lab/UPF Ilmu Bedah. et al. Gastroenterology Hepatologi.jevuska.

22 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful