TINJAUAN PUSTAKA 2.1.

Definisi ISPA Infeksi Saluran Pernafasan Akut sering disingkat dengan ISPA, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut: 2.1.1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. 2.1.2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract). 2.1.3. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. 13 2.2. Etiologi ISPA Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus Streptococcus, Stafilococcus, Pnemococcus, Universitas Sumatera Utara 21 Hemofilus, Bordetella dan Corinebakterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Micsovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus. 14 Sumber : http://www.kcom.edu/faculty/chamberlain/website/lectures/intraurt.htm. 2.3. Gejala ISPA Penyakit ISPA adalah penyakit yang sangat menular, hal ini timbul karena menurunnya sistem kekebalan atau daya tahan tubuh, misalnya karena kelelahan atau stres. Pada stadium awal, gejalanya berupa rasa panas, kering dan gatal dalam hidung, yang kemudian diikuti bersin terus menerus, hidung tersumbat dengan ingus encer serta demam dan nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi kental dan sumbatan di

Bila tidak terdapat komplikasi. faringitis. Penentuan nafas cepat dilakukan dengan cara menghitung frekuensi pernafasan .16 2. bibit penyakit masuk kedalam tubuh melalui pernafasan. diagnosa bakteri penyebab pnemonia bagi balita di Indonesia mendasarkan pada hasil penelitian asing (melalui publikasi WHO). Di negara maju pnemonia pada balita disebabkan oleh virus. infeksi saluran tuba eustachii.14 Diagnosis pnemonia pada balita didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat) sesuai umur. oleh karena itu maka penyakit ISPA ini termasuk golongan Air Borne Disease. hanya biakan spesimen fungsi atau aspirasi paru serta pemeriksaan spesimen darah yang dapat diandalkan untuk membantu menegakkan diagnosis etiologi pnemonia. namun tidak jarang penyakit yang sebagian besar penularannya adalah karena menghisap udara yang mengandung unsur penyebab atau mikroorganisme penyebab. Penularan melalui udara dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda terkontaminasi. bahwa Streptococcus. Pnemonia dan Hemophylus influenzae merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada penelitian etiologi di negara berkembang. gejalanya akan berkurang sesudah 3-5 hari. Diagnosa ISPA Diagnosis etiologi pnemonia pada balita sulit untuk ditegakkan karena dahak biasanya sukar diperoleh. infeksi telinga tengah.15 2. Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab pnemonia.4. Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular melalui kontak langsung. namun disisi lain dianggap prosedur yang berbahaya dan bertentangan dengan etika (terutama jika semata untuk tujuan penelitian). Cara Penularan Penyakit ISPA Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah tercemar. hingga bronkhitis dan pneumonia (radang paru). Pemeriksaan cara ini sangat efektif untuk mendapatkan dan menentukan jenis bakteri penyebab pnemonia pada balita. Dengan pertimbangan tersebut. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis.hidung bertambah.5.

4. b. a.<1 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih. yaitu frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih.3. Pneumonia sangat berat: batuk atau kesulitan bernafas yang disertai dengan sianosis sentral. Kelompok umur 2 bulan . pharyngitis.1. tidak dapat minum. tonsilitis.6. diklasifikasikan atas : a. diklasifikasikan atas : b. rasa kantuk yang tidak wajar atau sulit bangun. Rujukan penderita pnemonia berat dilakukan dengan gejala batuk atau kesukaran bernafas yang disertai adanya gejala tidak sadar dan tidak dapat minum. tetapi tidak disertai sianosis sentral dan dapat minum. Pneumonia berat: batuk atau kesulitan bernafas dan penarikan dinding dada. pernafasan cepat 60 kali atau lebih per menit. adanya penarikan dinding dada.< 5 tahun. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa): batuk (atau kesulitan bernafas) tanpa pernafasan cepat atau penarikan dinding dada. kejang.1. Diagnosis pneumonia berat untuk kelompok umur kurang 2 bulan ditandai dengan adanya nafas cepat. serangan apnea. penarikan dinding dada berat. Pada anak usia 1 tahun .2. mengi. Kelompok umur < 2 bulan. b.5 ºC). Klasifikasi Berdasarkan Umur a. stridor pada anak yang tenang. demam (38ºC atau lebih) atau suhu tubuh yang rendah (di bawah 35.6. Pada anak usia 2 bulan . distensi abdomen dan abdomen tegang. b. b. Bukan pneumonia: jika anak bernafas dengan frekuensi kurang dari 60 kali per menit dan tidak terdapat tanda pneumonia seperti diatas. atau adanya penarikan yang kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam. anak kejang dan sulit dibangunkan. b. Pneumonia: batuk (atau kesulitan bernafas) dan pernafasan cepat tanpa penarikan dinding dada.3 2. . Batas nafas cepat adalah : a. Pada klasifikasi bukan pneumonia maka diagnosisnya adalah batuk pilek biasa (common cold). sianosis sentral (pada lidah).<5 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 40 kali per menit atau lebih. Pneumonia berat: bila disertai dengan tanda-tanda klinis seperti berhenti menyusu (jika sebelumnya menyusu dengan baik). c. Klasifikasi ISPA 3 2.1. otitis atau penyakit non-pnemonia lainnya.dengan menggunkan sound timer.2. Pada anak usia kurang 2 bulan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih.

5. Pneumonia persisten: anak dengan diagnosis pneumonia tetap sakit walaupun telah diobati selama 10-14 hari dengan dosis antibiotik yang adekuat dan antibiotik yang sesuai. faringitis. otitis media.7. didapatkan bahwa prevalensi penyakit ISPA berdasarkan umur balita adalah untuk usia <6 bulan (4. 36-47 bulan (9.1. 48-59 bulan (8. proses penyebaran penyakit pun menjadi lebih cepat.3 Berdasarkan hasil penelitian Djaja. seperti epiglotitis. biasanya terdapat penarikan dinding dada.6.2%). 24-35 bulan (9. 2.5%). diare dan kurang gizi merupakan penyebab utama morbiditas dan . 12-23 bulan (11. Distribusi Penyakit ISPA a. b.6 b. 6-11 bulan (11. pneumonia. sedangkan ISPA bawah pada umur < 6 tahun lebih sering pada anak lakilaki.b. seperti pilek.0%). laringotrakeitis. Distribusi Penyakit ISPA Berdasarkan Tempat ISPA.9%).7. dan demam ringan. Kalau di dalam satu rumah seluruh anggota keluarga terkena pilek. Klasifikasi Berdasarkan Lokasi Anatomi a. bronkitis. Dalam setahun seorang anak ratarata bisa mengalami 6-8 kali penyakit ISPA. Daya tahan tubuh anak sangat berbeda dengan orang dewasa karena sistim pertahanan tubuhnya belum kuat.4%) hampir sama dengan perempuan (9. dkk dengan menganalisa data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 1998. bronkiolitis.5%).8%). Distribusi Penyakit ISPA Berdasarkan Orang Penyakit ISPA lebih sering diderita oleh anak-anak. dkk (2001) prevalensi ISPA pada anak lakilaki (9.6 Berdasarkan hasil penelitian Ridwan Daulay di Medan pada tahun 1999 mendapatkan bahwa kejadian ISPA atas tidak ada bedanya antara laki-laki dan perempuan. laringitis. 18 Sesuai dengan penelitian Djaja. dinamakan sesuai dengan organ saluran nafas.3%). 2. Dengan kondisi tubuh anak yang masih lemah. frekuensi pernafasan yang tinggi. Infeksi Saluran Pernafasan atas Akut (ISPaA) Infeksi yang menyerang hidung sampai bagian faring. Epidemiologi Penyakit ISPA 2.2. anak-anak akan lebih mudah tertular. Infeksi Saluran Pernafasan bawah Akut (ISPbA) Infeksi yang menyerang mulai dari bagian epiglotis atau laring sampai dengan alveoli.

AS ditargetkan bahwa penurunan kematian akibat pneumonia balita sampai 33% pada tahun 1994-1999. Distribusi Penyakit ISPA Berdasarkan Waktu Berdasarkan hasil kesepakatan Declaration of the World Summit for Children pada 30 desember 1999 di New York.2%). tahun 2003 ada 30%.836 orang dan pada tahun 2007 mencapai 9. dkk (2001) didapatkan bahwa prevalensi ISPA di perkotaan (11.8%).4%).1%. Sedangkan di Indonesia sendiri oleh Dirjen PPM & PL menargetkan bahwa angka kematian balita akibat penyakit ISPA 5 per 1000 pada tahun 2000 akan diturunkan menjadi 3 per 1000 pada akhir tahun 2005. hal ini berarti bahwa adanya kecenderungan peningkatan jumlah balita penderita ISPA.5 Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2005.7%). sementara di luar Jawa-bali (7. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara waktu dengan jumlah penderita ISPA pada balita. dimana penderita penyakit ISPA pada tahun 2002 berjumlah 8. tahun 2005 ada 27.19 .17 Menurut penelitian Djaja.7%.1%. ISPA merupakan penyebab morbiditas utama pada negara maju sedangkan di negara berkembang morbiditasnya relatif lebih kecil tetapi mortalitasnya lebih tinggi terutama disebabkan oleh ISPA bagian bawah atau pneumonia. sementara di pedesaan (8.552 (>0. tahun 2004 ada 36%.mortalitas pada anak di negara maju dan berkembang.05). tahun 2000 ada 30.18 Penelitian Septri Anti (2007). terlihat bahwa cakupan pneumonia penderita dan pengobatan dari target (perkiraan penderita) masih relatif rendah. di Jawa-Bali (10. dari catatan bulanan program P2 ISPA Kota Medan tahun 2002-2006 didapatkan bahwa berdasarkan hasil uji regresi linier terdapat nilai signifikan sebesar 0. Hasil pantauan yang dilakukan ini belum menggambarkan kondisi yang sebenarnya oleh karena masih ada beberapa wilayah yang belum menyampaikan laporannya.7%). sementara di daerah tertinggal (8.17 c. tahun 2001 ada 25%.412 orang.4%). tahun 2002 ada 22.6 Berdasarkan klasifikasi daerah prevalensi ISPA untuk daerah tidak tertinggal (9.

diikuti oleh Enterobacter aerogens 19 galur sebesar 18.1.6%). Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit ISPA a.4%) dan bakteri gram negatif 49 galur (47. anak berusia dibawah 2 tahun mempunyai risiko mendapat ISPA 1. Dari hasil biakan terlihat bahwa yang terbanyak adalah bakteri Streptococcus viridans 38 galur sebesar 36.94%.2.4 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang lebih tua. merupakan penyakit virus yang paling sering terjadi pada manusia. pada dua penderita dijumpai tumbuh dua galur bakteri sedangkan yang lainnya hanya tumbuh satu galur. Coxsackie. Bakteri gram positif dijumpai sebanyak 54 galur (52. Pseudomonas aureginosa 16 galur sebesar 15. faringitis. dan Echo. yang paling sering adalah rinitis simpleks.45%. Klebsiella sp 14 galur sebesar 13.7.21 b.15 Berdasarkan hasil penelitian Isbagio (2003). dan Sreptococcus pneumonie 1 galur sebesar 0. Demikian pula di Arab Saudi dan Spanyol 60% S. dan sinusitis. Penyebabnya adalah virus Myxovirus.pneumococcus kehilangan sensitivitas paling sedikit pada satu antibiotika. Kejadiannya bisa secara akut atau kronis. mendapatkan bahwa bakteri Streptococcus pneumonie adalah bakteri yang menyebabkan sebagian besar kematian 4 juta balita setiap tahun di negara berkembang. tonsilitis.97%. yang meneliti spektrum dari 101 penderita infeksi saluran pernafasan bagian bawah di BP4 Medan didapatkan bahwa semua penderita terlihat hasil biakan positif.53%. di Pakistan didapatkan bahwa 95% S.2. Keadaan ini terjadi karena anak di bawah usia 2 tahun . Stapilococcus aureus 13 galur sebesar 12. Umur Berdasarkan hasil penelitian Daulay (1999) di Medan. Rinitis simpleks atau yang lebih dikenal sebagai selesma/common cold/koriza/flu/pilek. hampir 50% dari bakteri yang diperiksa resisten terhadap kotrimoksasol yang merupakan pilihan untuk mengobati infeksi pernafasan akut.62%.20 Berdasarkan hasil penelitian Parhusip (2004). Agent Infeksi dapat berupa flu biasa hingga radang paru-paru. pneumonie ditemukan resisten terhadap antibiotika. Pneumococcus 2 galur sebesar 1. Isbagio ini mengutip penelitian WHO dan UNICEF tahun 1996. Manusia b.59%.89%.

<5 tahun adalah 91.11 Berdasarkan hasil penelitian Dewi.24 b. dkk di Kabupaten Klaten (1996). didapatkan bahwa proporsi balita penderita pneumonia terbesar pada kelompok umur 2 bulan .03%. anak laki-laki lebih rentan terhadap ISPA yang lebih berat.17 Berdasarkan hasil penelitian Maya di RS Haji Medan (2004). dengan desain cross sectional didapatkan bahwa anak yang berstatus gizi kurang/buruk mempunyai risiko pneumonia 2. terutama anak usia muda.23 b.24 Hasil penelitian Mustafa di Kota Banda Aceh (2006).1%. Rendahnya daya tahan tubuh akibat gizi buruk sangat memudahkan dan mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam tubuh.3. dibawah 6 tahun.1%. Menurut Glenzen dan Deeny. sementara kelompok umur <2 bulan sebesar 17.2. Namun menurut beberapa penelitian kejadian ISPA lebih sering didapatkan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Akan tetapi anakanak yang meninggal karena penyakit infeksi itu biasanya didahului oleh keadaan gizi yang kurang memuaskan. sementara untuk anak perempuan sebesar 41. menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan prevalensi. didapatkan bahwa proporsi balita penderita pneumonia yang rawat inap dari tahun 1998 sampai tahun 2002 terbesar pada kelompok umur 2 bulan . insiden maupun lama ISPA pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.97%.5 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang berstatus gizi baik/normal.22 demikian juga penelitian Maafdi di RS Advent Medan tahun 2006. didapatkan bahwa sebagian besar kasus terjadi pada anak laki-laki sebesar 58.9%. berdasarkan hasil analisis bivariat antara penyakit ISPA dengan status gizi anak balita menunjukkan bahwa anak balita yang menderita penyakit ISPA . penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama kematian terutama pada anak dibawah usia 5 tahun. Jenis Kelamin Berdasarkan hasil penelitian Kartasasmita (1993). dibandingkan dengan anak perempuan. dengan desai cross sectional. dkk (1996) di Kabupaten Klaten. Status Gizi Di banyak negara di dunia.25 Hasil penelitian Dewi.<5 tahun sebesar 82.imunitasnya belum sempurna dan lumen saluran nafasnya masih sempit.

Pada enam bulan pertama. yaitu: 1) Gizi lebih : bila Z_Skor terletak > +2 SD 2) Gizi Baik : bila Z_Skor terletak diantara ≥ -2 SD s/d +2 SD 3) Gizi kurang : bila Z_Skor terletak pada < -2 SD s/d ≥ . Lisozim. bayi lebih baik hanya mendapatkan ASI .5. artinya anak balita yang menderita pneumonia risikonya 2. Status gizi diklasifikasikan menjadi 4. bayi dengan BBLR mempunyai angka kematian lebih tinggi dari pada bayi dengan berat ≥2500 gram saat lahir selama tahun pertama kehidupannya. 920/Menkes/SK/VIII/2002 untuk keperluan Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita dengan mengukur berat badan terhadap umur. Pneumonia adalah penyebab kematian terbesar akibat infeksi pada bayi baru lahir. yaitu ASI awal mengandung zat kekebalan (Imunoglobulin. Bayi (0-12 bulan) memerlukan jenis makanan ASI. Nilai OR 2. dan makanan padat. Status ASI Eksklusif Air Susu Ibu (ASI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang bayi kaya akan faktor antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri dan virus.26 b.didapatkan 2. terutama selama minggu pertama (4-6 hari) payudara akan menghasilkan kolostrum.28 b.4.2 kali lebih besar pada anak balita yang BBLR.500 gram sebesar 62.05). 1.038). Laktoperin.481-4.751).2%.19 kali mempunyai status gizi tidak baik dibandingkan dengan anak balita yang tidak menderita penyakit ISPA (p = 0. bifidus factor dan sel-sel leukosit) yang sangat penting untuk melindungi bayi dari infeksi.9 Salah satu penentuan status gizi adalah klasifikasi menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.500 gram. didapatkan bahwa proporsi anak balita yang menderita pneumonia dengan berat badan lahir <2.3 SD 4) Gizi Buruk : bila Z_Skor terletak < -3 SD. Menurut Tuminah (1999).27 Berdasarkan hasil penelitian Syahril di Kota Banda Aceh (2006). susu formula. Hasil uji statistik diperoleh bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian pneumonia dengan balita BBLR (p <0.2 (CI 95%. Berat Badan Lahir Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ditetapkan sebagai suatu berat lahir <2.

Jadwal pemberian imunisasi sesuai dengan yang ada dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) yaitu BCG : 0-11 bulan. Hepatitis B 3x : 0-11 bulan. Imunisasi bermanfaat untuk mencegah beberapa jenis penyakit seperti. Hasil uji statistik diperoleh nilai OR = 2. seperti ibu dengan komplikasi postnatal.28 b. Usia lebih dari enam bulan baru diberikan makanan pendamping ASI atau susu formula. 2. Polio 4x : 0-11 bulan. liver (hati).413). tetanus. difteri.05). Status Imunisasi Imunisasi adalah suatu upaya untuk melindungi seseorang terhadap penyakit menular tertentu agar kebal dan terhindar dari penyakit infeksi tertentu.929 – 4. Hasil uji statistik diperoleh bahwa anak balita yang menderita pneumonia risikonya 2 kali lebih besar pada anak balita yang tidak mendapat ASI eksklusif. POLIO (lumpuh layu). sedang yang tidak menderita pneumonia 38.2%.29 Berdasarkan hasil penelitian Syahril di Kota Banda Aceh (2006).6.5 kali lebih besar pada anak yang status imunisasinya tidak lengkap. Lingkungan . hasil uji chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara status imunisasi bayi dengan kejadian penyakit ISPA (p>0. didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kejadian pneumonia pada balita dengan status imunisasi. Selang waktu pemberian imunisasi yang lebih dari 1x adalah 4 minggu. Pentingnya imunisasi didasarkan pada pemikiran bahwa pencegahan penyakit merupakan upaya terpenting dalam pemeliharaan kesehatan anak.30 Berdasarkan hasil penelitian Syahril di Kota Banda Aceh (2006).5 (CI 95%. didapatkan bahwa proporsi balita yang tidak mendapat ASI eksklusif menderita pneumonia sebesar 56.11 c. DPT 3x : 2-11 bulan. TBC (batuk berdarah).8%. pertusis.28 Berbeda dengan hasil penelitian Afrida di Medan (2007). Bahkan imunisasi juga dapat mencegah kematian dari akibat penyakit-penyakit tersebut. Campak 1x : 9-11 bulan. artinya anak balita yang menderita pneumonia risikonya 2.saja (ASI Eksklusif) tanpa diberikan susu formula. kecuali pada beberapa kasus tertentu ketika anak tidak bisa mendapatkan ASI.

Ventilasi Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi.11 c. Berdasarkan hasil uji regresi. Suhu ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi faktor risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 4 kali.3. dkk di Perumnas Mandala Medan (2004). Fungsi pertama adalah menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar.1%.4. Suhu Ruangan Salah satu syarat fisiologis rumah sehat adalah memiliki suhu optimum 18300C. Kepadatan Hunian Rumah Kepadatan penghuni dalam rumah dibedakan atas 5 kategori yaitu.2.1.10 c. didapatkan bahwa prevalens rate ISPA pada bayi yang memiliki ventilasi kamar tidur yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebesar 69. jika suhu ruangan rumah dibawah 180C atau diatas 300C keadaan rumah tersebut tidak memenuhi syarat. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga.10 Berdasarkan hasil penelitian Afrida (2007).9%.9 .30 Sirkulasi udara dalam rumah akan baik dan mendapatkan suhu yang optimum harus mempunyai ventilasi minimal 10% dari luas lantai. Hal ini berarti.05). Hasil uji statistik diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara kondisi ventilasi dengan kejadian penyakit ISPA (p <0.10 c.097. optimum 60%. yang artinya kelembaban ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi faktor risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 28 kali. sedangkan untuk yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 30. ≤3. 829 tahun 1999 tentang kesehatan perumahan menetapkan bahwa kelembaban yang sesuai untuk rumah sehat adalah 4070%. Kelembaban Ruangan Berdasarkan KepMenKes RI No. Hasil penelitian Chahaya. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. dengan desain cross sectional didapatkan bahwa kelembaban ruangan berpengaruh terhadap terjadinya ISPA pada balita. diperoleh bahwa faktor kelembaban ruangan mempunyai exp (B) 28.c.

didapatkan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara penggunaan anti nyamuk dengan kejadian penyakit ISPA (p <0. Dikatakan padat jika luas lantai rumah ≤3.5.000 bahan kimia.9 m2/orang. prevalens rate ISPA pada bayi yang dirumahnya menggunakan bahan bakar untuk memasak adalah minyak tanah sebesar 76. Asap rokok terdiri dari 4. hal ini menimbulkan terjadinya peningkatan penyakit paru dan penyakit paru ini telah menyebabkan 1.05).32 Berdasarkan hasil penelitian Chahaya tahun 2004. Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan.9 m2/orang. 7-8 m2/orang. 5-6. ≥9 m2/orang. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara penggunaan bahan bakar memasak dengan kejadian penyakit ISPA (p < 0. Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dan lainlain.31 Menurut Gani dalam penelitiannya di Sumatera Selatan (2004) menemukan proses kejadian pneumonia pada anak balita lebih besar pada anak yang tinggal di rumah yang padat dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah yang tidak padat.3%. Bahan Bakar Untuk Memasak Bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari dapat menyebabkan kualitas udara menjadi rusak.3 juta kematian. dan tidak padat jika luas lantai rumah ≥4 m2/orang.9 m2/orang. Kualitas udara di 74% wilayah pedesaan di China tidak memenuhi standar nasional pada tahun 2002. 4-4. Penggunaan Anti Nyamuk Penggunaan Anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan karena menghasilkan asap dan bau tidak sedap.11 c.m2/orang.05). 200 diantaranya merupakan racun antara lain Carbon Monoksida (CO). sedangkan gas elpiji sebesar 33.7.33 Berdasarkan hasil penelitian Afrida (2007). .10 Berdasarkan hasil penelitian Afrida (2007).6%. Keberadaan Perokok Rokok bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok pasif.11 c.10 c.6. kepadatan hunian rumah dapat memberikan risiko terjadinya ISPA sebesar 9 kali.

33% atau 65.7 (CI 95%. Bedasarkan hasil uji statistik didapatkan bahwa ibu dengan status ekonomi tinggi 1.5%. Prevalensi perokok pasif pada laki-laki 32. didapatkan bahwa bila rasio pengeluaran makanan dibagi pengeluaran total perbulan bertambah besar. pada kelompok umur 5-9 tahun sebesar 70.680. Untuk bayi dan anak balita persepsi ibu sangat menentukan tindakan pengobatan yang akan diterima oleh anaknya.6 Berdasarkan hasil penelitian Djaja.2%.751) artinya anak balita yang menderita pneumonia risikonya 2. pada perempuan 1. Sedangkan prevalensi perokok aktif pada laki-laki umur 10 tahun ke atas adalah sebesar 54.560.481 – 4. akan lebih banyak membawa anak berobat ke fasilitas kesehatan. Status Ekonomi dan Pendidikan Persepsi masyarakat mengenai keadaan sehat dan sakit berbeda dari satu individu dengan individu lainnya.814 penduduk. dkk (2001).8.Berdasarkan hasil penelitian Pradono dan Kristanti (2003).6% dan kelompok umur muda 10-14 tahun sebesar 70. Ibu yang berpendidikan minimal tamat SLTP 2.28 c. Tingginya prevalensi perokok pasif pada balita dan umur muda disebabkan karena mereka masih tinggal serumah dengan orang tua ataupun saudaranya yang merokok dalam rumah. Prevalensi perokok pasif pada balita sebesar 69.879. persepsi terhadap penyakitnya merupakan hal yang penting dalam menangani penyakit tersebut.34 Berdasarkan hasil penelitian Syahril (2006).002 penduduk. secara keseluruhan prevalensi perokok pasif pada semua umur di Indonesia adalah sebesar 48. hal . dari hasil uji statistik diperoleh nilai OR = 2.188 penduduk dan pada perempuan 67. Bagi seseorang yang sakit.8 kali lebih banyak pergi berobat ke pelayanan kesehatan dibandingkan dengan ibu yang status ekonominya rendah.2 kali lebih banyak membawa anaknya ke pelayanan kesehatan ketika sakit dibandingkan dengan ibu yang tidak bersekolah. sedangkan ibu dengan pendidikan rendah lebih banyak mengobati sendiri ketika anak sakit ataupun berobat ke dukun.6 Ibu dengan pendidikan lebih tinggi.5%.67% atau 31.5%.7 kali lebih besar pada anak balita yang terpapar asap rokok dibandingkan dengan yang tidak terpapar. maka jumlah ibu yang membawa anaknya berobat ke dukun ketika sakit lebih banyak. 1.9% atau 97.

pengobatannya meliputi : a. c.2 Bukan Pneumonia: terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan.1. tidak dapat minum. Pencegahan Penyakit ISPA Penyelenggaraan Program P2 ISPA dititikberatkan pada penemuan dan pengobatan penderita sedini mungkin dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat terutama kader. terapi antibiotik dengan memberikan benzilpenisilin dan gentamisin atau kanamisin. d.8. dengan dukungan pelayanan kesehatan dan rujukan secara terpadu di sarana kesehatan yang terkait. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah. Penyuluhan. penyuluhan imunisasi. memberi ASI secara sering. 2.1. Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi malnutrisi. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani masalah polusi di dalam maupun di luar rumah. Pneumonia Berat: rawat dirumah sakit. penyuluhan bahaya rokok. dan bersihkan sumbatan pada hidung jika sumbatan itu menggangu saat memberi makan. b. Termasuk disini ialah : a.6 2.35 2. Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA. penyuluhan ASI Eksklusif. a. yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka kesakitan (insiden) pneumonia. penyuluhan kesehatan lingkungan rumah. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention) Upaya penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan sedini mungkin. defisiensi vitamin A. nasihati ibu untuk menjaga agar bayi tetap hangat. Upaya pengobatan yang dilakukan dibedakan atas klasifikasi ISPA yaitu : a. Untuk kelompok umur < 2 bulan. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention) Intervensi yang ditujukan bagi pencegahan faktor risiko dapat dianggap sebagai strategi untuk mengurangi kesakitan (insiden) pneumonia. . penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan anak.8. terdapat penarikan dinding dada yang hebat). e. dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. beri oksigen (jika anak mengalami sianosi sentral.8.2. Imunisasi.ini disebabkan karena ibu yang tamat SLTP ke atas lebih mengenal gejala penyakit yang diderita oleh balitanya.

nasihati ibu untuk memberikan perawatan di rumah. obati demam. terapi antibiotik dengan memberikan kloramfenikol secara intramuskular setiap 6 jam. b. periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloksasilin ditambah gentamisin jika diduga suatu pneumonia stafilokokus. demam berkurang. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention) Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita penderita ISPA agar tidak bertambah parah dan mengakibatkan kematian. pemberiannya diubah menjadi kloramfenikol oral. nilai ulang setiap hari. 3 2. hati-hati dengan pemberian terapi cairan. nilai ulang setelah 2 hari. perawatan suportif. pengobatannya meliputi : b.3. berikan oksigen. b.3 Pneumonia: obati di rumah. obati demam. Pneumonia Sangat Berat: jika anak semakin memburuk setelah pemberian kloram fenikol selama 48 jam. obati mengi. c.4.5.b. terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol. Pneumonia: Coba untuk melihat kembali anak setelah 2 hari dan periksa adanya tanda-tanda perbaikan (pernafasan lebih lambat. perawatan suportif.2 Pneumonia Berat: rawat di rumah sakit. b. terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan. terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol dosis tinggi untuk mengobati kemungkinan adanya infeksi pneumokistik. Nilai kembali dan kemudian putuskan jika anak dapat minum. obati demam. ampisilin.8. amoksilin oral. Jika anak masih menunjukkan tanda pneumonia setelah 10 hari pengobatan antibiotik maka cari penyebab pneumonia persistensi. obati sebagai pneumonia berat atau pneumonia sangat berat. terapi antibiotik dengan memberikan benzilpenesilin secara intramuskular setiap 6 jam paling sedikit selama 3 hari. hati-hati pada pemberian terapi cairan. Pneumonia Persisten: rawat (tetap opname). penilaian ulang. nafsu makan membaik. Untuk kelompok umur 2 bulan . perawatan suportif. b. nasihati ibu untuk memberikan perawatan di rumah. Bukan Pneumonia (batuk atau pilek): obati di rumah. Jika . Apabila pada anak terjadi perbaikan (biasanya setelah 3-5 hari). atau suntikan penisilin prokain intramuskular per hari. nilai ulang dua kali sehari. obati demam.<5 tahun. b. terapi spesifik lain (untuk batuk dan pilek). obati mengi.1 Pneumonia Sangat Berat: rawat di rumah sakit. a. terdapat penarikan dinding dada atau tanda penyakit sangat berat maka lakukan kegiatan ini yaitu rawat. obati mengi. berikan oksigen. Pneumonia Berat: jika anak tidak membaik setelah pemberian benzilpenisilin dalam 48 jam atau kondisinya memburuk setelah pemberian benzipenisilin kemudian periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloramfenikol.

9.anak tidak membaik sama sekali tetapi tidak terdapat tanda pneumonia berat atau tanda lain penyakit sangat berat. sehingga sulit untuk membedakan pneumonia dari sepsis dan meningitis. serta keahlian klinis yang lebih hebat. paling sering adalah pneumonia. maka ganti antibiotik dan pantau secara ketat. . antibiotik lini II. Langkah selanjutnya untuk mengurangi angka kematian karena pneumonia dapat dicapai dengan menyediakan perawatan rujukan untuk anak yang mengalami ISPbA berat memerlukan oksigen. Infeksi ini dapat cepat fatal pada bayi muda yang telah diobati dengan sebaik-baiknya di rumah sakit dengan antibiotik parenteral. Cara yang paling efektif untuk mengurangi angka kematian karena pneumonia adalah dengan memperbaiki manajemen kasus dan memastikan adanya penyediaan antibiotik yang tepat secara teratur melalui fasilitas perawatan tingkat pertama dokter praktik umum. Penanganan Penyakit ISPA Hampir seluruh kematian karena ISPA pada anak kecil disebabkan oleh ISPbA. Bayi baru lahir dan bayi berusia satu bulan atau disebut ’bayi muda’ yang menderita pneumonia dapat tidak mengalami batuk dan frekuensi pernfasannya secara normal sering melebihi 50 kali permenit. Infeksi bakteri pada kelompok usia ini dapat hanya menampakkan tanda klinis yang spesifik.3 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful