APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM PENATAGUNAAN LAHAN HUTAN

Penyusun: Siti Latifah S,Hut. MSi Ph.D

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2010

Universitas Sumatera Utara

hutan produksi. sistem penginderaan jauh memperoleh informasi (data) dari foto udara dan citra satelit. Dalam kegiatan penatabatasan kawasan hutan harus merujuk kepada kriteria-kriteria penetapan kawasan hutan yang meliputi kelerengan/kemiringan lahan. Salah satu bentuk metode pemantauan dan pengawasan hutan yang digunakan saat ini adalah dengan sistem penginderaan jauh (inderaja) (Howard. kelestarian lingkungan. hutan perlu dikelola secara bijaksana sesuai dengan kondisi fisik hutan dan potensi hutan. jenis tanah dan curah hujan harian sehingga didapatkan batas deliniasi kawasan hutan yang sebenarnya dan sesuai dengan kriteria fungsi hutan yang telah ditetapkan. suaka margasatwa) dan hutan wisata (taman wisata. sumber pemenuhan kebutuhan kayu dan hasil hutan lainnya. 1996). wisata. Kegiatan penatabatasan hutan merupakan salah satu bentuk kegiatan pengelolaan hutan yang sangat penting. ilmu pengetahuan. misalnya sebagai pengatur air. yaitu sebagai hutan lindung. suaka alam (cagar alam. Informasi yang diturunkan dari analisis citra penginderaan jauh dilakukan untuk diintegrasikan dengan data yang disimpan dalam bank data SIG. Penatagunaan hutan Universitas Sumatera Utara . Agar hutan memberikan manfaat yang optimal dan lestari. Penatagunaan hutan Penatagunaan hutan adalah penataan batas dari bagian-bagian kawasan hutan menurut fungsinya. melindungi tanah. taman buru).Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam Penatagunaan Lahan Hutan Siti Latifah Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian USU PENDAHULUAN Hutan merupakan sumberdaya alam yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Dalam pemanfaatannya. Terkait dengan hal diatas maka pemanfaatkan data citra melalui SIG sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam kegiatan pengelolaan kawasan hutan .

analisis visual merupakan aktivitas visual untuk mengkaji citra yang menunjukkan gambaran muka bumi yang tergambar di dalam citra tersebut untuk tujuan identifikasi objek. Pengenalan target merupakan kunci dari interpretasi dan Universitas Sumatera Utara . Dengan demikian. SIG merupakan sistem komputer yang memiliki empat kemampuan berikut dalam menangani data yang bereferensi geografi : (a) masukan. dapat dilakukan secara digital dan visual. Sistem Informasi Geografis (SIG) Menurut Arnoff (1989) dalam Prahasta (2002) SIG adalah sistem yang berbasikan komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi-informasi geografi. tanah. yaitu monitor. Menurut Howard (1996). menyimpan dan menganilisis objek-objek dan fenomena dimana lokasi geografi merupakan karakterisitik yang penting atau kritis untuk dianalsis. Radiasi ini kemudian diukur dan direkam oleh sensor yang pada akhirnya digambarkan sebagai sebuah produk citra seperti foto udara dan citra satelit. (b) peralatan untuk menyimpan dan pengelolaan seperti komputer dan perlengkapannya. iklim. floppy-disk. yaitu digitizer. (d) keluaran. Objek/target dapat dikenal dalam pengertian caranya melepaskan radiasi dari energi yang diterimanya. SIG dirancang untuk mengumpulkan. unit pusat pengelolaan (CPU-central processing unit). Tujuan penatagunaan hutan adalah untuk mencapai pemanfaatan hutan secara maksimal dan lestari dan dilakukan atas semua hutan yang meliputi hutan negara dan hutan milik (Pamulardi. dan (c) peralatan untuk mencetak hasil seperti printer dan plotter.. Analisis dan Interpretasi Citra Dalam melakukan analisis citra. dan keadaan serta perkembangan sosial ekonomi masyarakat. keyboard. (c) analisis dan manipulasi data. (b) manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data). 1996). baik yang berda di sekitar hutan maupun di lahan-lahan di luar kawasan hutan serta ketentuanketentuan lain. Komponen dasar untuk perangkat keras SIG sesuai dengan fungsinya antara lain adalah (a) peralatan untuk pemasukan data.didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan yang bersangkutan dengan keadaan topografi. harddisk. disket dan lain-lain.

sehingga bentuk dan ukuran sering berasosiasi sangat erat. Bentuk Merupakan variabel kualitatif yang memberikan konfigurasi atau kerangka suatu objek. iklim dan komunitas tanaman. 3. 4. Asosiasi Keterkaitan antara objek yang satu dengan yang lain dan adanya suatu objek merupakan petunjuk adanya objek yang lain. 7. Kontras warna dan rona citra yang tegas dalam foto udara penting untuk identifikasinya. Rona dan Warna Merupakan unsur dalam analisis citra digital penginderaan jauh dan merupakan tingkat kecerahan atau tingkat kegelapan objek. tinggi. Universitas Sumatera Utara . Tekstur Yaitu frekuensi perubahan rona pada citra atau pengulangan rona kelompok objek yang telalu kecil untuk dibedakan. bentuk. sehingga sering dinyatakan dengan halus atau kasar.pengambilan informasi. Pola Merupakan sebuah karakteristik makro yang digunakan untuk mendeskripsi tata ruang pada citra. tekstur. lereng dan volume dan harus selalu dikaitkan/dihubungkan dengan skala. dan tanpa kontras unsur-unsur pengenalan yang lain yaitu ukuran. 5. tanah. 6. Bayangan Bersifat menyembunyikan detail atau objek yang berada di daerah gelap dan bayangan merupakan kunci pengenalan yang penting. dan pola tidak akan bermanfaat. Pola sering diasosiasikan dengan geologi. Pengamatan perbedaan diantara objek dengan lingkungannya melibatkan satu atau beberapa dari unsur-unsur visual. Adapun unsur-unsur diagnotik pada analisis visual menurut Howard (1996) dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. topografi. Istilah kolerasi sering digunakan untuk menggantikan istilah asosiasi. Ukuran Adalah atribut objek yang antara lain berupa luas. 2. termasuk didalamnya pengulangan kenampakan-kenampakan alami.

semuanya merupakan faktor yang penting dalam mengkaji situs hutan pada citra. jenis tanah dibagi ke dalam kelas-kelas sebagai berikut : Universitas Sumatera Utara . geologi. jenis tanah menurut kepekaan terhadap erosi dan intensitas hujan dari wilayah bersangkutan. Adapun kriteria yang ditetapkan adalah sebagai berikut : a. Dimana nilai bobot untuk masing-masing faktor adalah 20 untuk kelas lereng lapangan. dan karakteristik alami dari vegetasi. Jenis Tanah Menurut kepekaannya terhadap erosi. Analisis data SIG dalam Penatagunaan Hutan dengan Metode Skoring Menurut SK Menteri Pertanian No. ialah berkonotasi terhadap gabungan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan pohon.8. Lereng Lapangan Lereng lapangan dibagi dalam kelas-kelas sebagai berikut : Tabel 1. Klasifikasi lereng lapangan Kelas Lereng 1 2 3 4 5 Lereng (%) 0–8 9 – 15 16 – 25 26 – 40 > 40 Klasifikasi Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam Bobot 20 20 20 20 20 Nilai Timbang 20 40 60 80 100 Sumber : SK Mentan No. kata situs banyak digunakan dalam kajian foto udara untuk menjelaskan tentang posisi muka bumi dari citra yang diamati dalam kaitannya dengan kenampakan-kenampakan yang ada disekitarnya. Arti yang lebih penting. tanah. Situs Situs memiliki dua buah arti yang berbeda. Nilai timbang adalah perkalian nilai kelas masing-masing faktor dengan bobotnya. 837/Kpts/Um/11/1980 Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam penetapan fungsi hutan adalah lereng lapangan. 15 untuk kelas jenis tanah dan 10 untuk kelas intensitas curah hujan. lereng. 837/Kpts/Um/11/1980 b. Pertama.

non calcis 3 brown. renzina 5 Sumber : SK Mentan No. Universitas Sumatera Utara . Klasifikasi kepekaan jenis tanah terhadap erosi Kelas Tanah 1 Jenis Tanah Klasifikasi Tidak peka Agak peka Kurang peka Peka Sangat Peka Bobot 15 15 15 15 15 Nilai Timbang 15 30 45 60 75 Aluvial.7 – 27. 837/Kpts/Um/11/1980 Untuk jenis tanah kompleks. 837/Kpts/Um/11/1980 Dengan menggunakan teknik overlay.7 – 34. Intensitas Curah Hujan Intensitas hujan yaitu rata-rata curah hujan dalam mm setahun dibagi dengan ratarata jumlah hari hujan setahun.6 – 20. kelasnya adalah sama dengan kelas dari jenis yang terpeka terhadap erosi yang terdapat dalam jenis tanah kompleks tersebut.8 > 34.Tabel 2.8 Klasifikasi Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Bobot 10 10 10 10 10 Nilai Timbang 10 20 30 40 50 Sumber : SK Mentan No. laterita air tanah Latosol 2 Brown forest soil. litosol. frumusol. tanah glei planosol. Klasifikasi intensitas curah hujan Kelas 1 2 3 4 5 Intensitas Hujan < 13. podsol. ketiga peta tersebut yaitu peta kelas lereng lapangan.6 13. dibagi kedalam kelas-kelas sebagai berikut : Tabel 3.7 20. hidroworf. leterits. peta jenis tanah dan peta intensitas curah hujan ditumpang tindihkan sehingga dapat diketahui pada setiap areal berapa nilai totalnya. Tahapan penatagunaan lahan hutan menurut fungsinya dengan SIG dapat dilihat pada Gambar 1.7 27. 4 padsolik Regosol. mediteran Andosol. c. organozol.

Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) Peta Jenis Tanah Peta Curah Hujan Citra Landsat TM Terkoreksi Permodelan DEM/TIN Overlay Pembuatan slope map / peta kelerengan Peta intersect Jenis Tanah + Curah Hujan Klasifikasi Citra pada Layar Overlay Peta Hasil Skoring (Model SIG) Peta Penutupan Lahan Overlay Hasil Analisis Penentuan fungsi Hutan Gambar 1. Diagram alir tahapan penentuan fungsi hutan dengan SIG Universitas Sumatera Utara ..

Wilayah yang mempunyai jumlah nilai skor ≤ 124 termasuk kriteria hutan produksi tetap. Etika dan Praksis Kebijakan. Akademika Presindo. 2001. Ilmu Tanah. S. Philippines. kriteria yang digunakan adalah kelerengan.1995. Erlangga. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. M. Barus. B. S. Remote Sensing and Geographic Information System for Natural Resource Management. 2. Semakin tinggi nilai skoring tersebut maka nilai tersebut dapat menerangkan bahwa lahan tersebut memiliki kepekaan terhadap erosi yang tinggi. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Utara. Jakarta. Hardjowigeno. Wilayah yang mempunyai jumlah nilai skor 125 – 174 termasuk kriteria hutan produksi terbatas. B. 2003. Berdasarkan analisis tersebut didapat tipe-tipe lahan yang menyusun suatu kawasan.Ketentuan penetapan fungsi hutan berdasarkan nilai totalnya adalah sebagai berikut : 1. S. Pengelolaan Sumberdaya Alam Indonesia : Perspektif Ekonomi. Ottawa. Peraturan Daerah (Perda) Propinsi SumateraUtara Nomor 7 Tahun 2003 Tentang Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumtera Utara. Rajan. Universitas Sumatera Utara . Asian Development Bank. 2001. WDL Publications. dimana setiap tipe lahan memiliki nilai/skor tersendiri. jenis tanah dan curah hujan. Wilayah yang mempunyai jumlah nilai skor ≥ 175 termasuk kriteria hutan lindung. DAFTAR PUSTAKA Aronoff. 3. Laboratorium Penginderaan Jauh dan Kartografi. 1989. Bogor. 1996. dan U. Geographic Information System : A Management Perspective. 837/Kpts/Um/11/1980 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan Lindung. Canada. Jakarta. S. Sistem Informasi Geografis SaranaManajemen Sumberdaya. Arifin. Kesimpulan Pembuatan peta peruntukan kawasan dilakukan dengan analisis skoring menurut SK Mentan No. Wiradisastra.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful