ANALISIS KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR

DYAH ARUM ISTININGTYAS A14303046

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN
DYAH ARUM ISTININGTYAS. Analisis Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor. Di bawah bimbingan ACENG HIDAYAT. Adanya kebijakan otonomi telah mengarahkan kebijakan pembangunan Kota Bogor pada upaya peningkatan taraf hidup masyarakat dengan potensinya pada sektor perdagangan dan jasa. Kebijakan yang dilakukan Pemda Kota Bogor untuk meningkatkan kontribusi sektor perdagangan adalah meningkatkan aktivitas pasar-pasar tradisional. Program khusus bagi pengembangan pasar tradisional, yaitu pemindahan Pasar Ramayana ke Pasar Jambu Dua, Pasar Induk Kemang dan Pasar Cimanggu dan pembangunan empat unit pasar tradisional yaitu Pasar Tanah Baru, Pasar Pamoyanan, Pasar Katulampa dan Pasar Bubulak. Namun hasil program tersebut ternyata hanya Pasar Kemang yang berfungsi sebagai pasar induk dan ketiga pasar yang telah dibangun (Pasar Tanah Baru, Pasar Bubulak dan Pasar Pamoyanan) tidak berfungsi sama sekali. Penelitian ini menggunakan tiga analisis. Analisis stakeholders dilakukan untuk mengetahui tingkat keterlibatan, kepentingan dan pengaruh dari seluruh stakeholders yang terkait dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui penyebab kegagalan kebijakan, apakah proses penyusunannya yang tidak tepat atau penerapannya yang tidak berjalan dengan baik. Analisis PHA digunakan untuk merumuskan strategi pengembangan pasar tradisional yang tepat di Kota Bogor sehingga dapat menjadi masukan bagi pemerintah. Berdasarkan hasil analisis stakeholders, stakeholders yang terkait dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional, yaitu Bapeda, Disperindagkop, masyarakat pedagang, UPTD, pengelola swasta, Dispenda, DLHK dan DTKP. Stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan tertinggi adalah Bapeda dan Disperindagkop sedangkan masyarakat pedagang dan UPTD memiliki kepentingan tinggi namun pengaruhnya rendah. Dispenda, DLHK dan DTKP memiliki kepentingan yang rendah dan pengaruh yang tinggi. Pengelola pasar swasta memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang rendah. Hasil dari analisis deskriptif menunjukkan bahwa kegagalan kebijakan disebabkan karena proses penyusunan dan perencanaan kebijakan yang kurang tepat sehingga menyebabkan penerapannya yang kurang tepat pula. Kriteria utama yang menyebabkan proses pembuatan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat yaitu keterlibatan stakeholders dan proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional yang benar. Kriteria utama yang menyebabkan penerapan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat yaitu penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien. Berdasarkan hasil kajian, maka dapat ditarik kesimpulan secara khusus bahwa dari hasil analisis stakeholders menunjukkan bahwa tidak semua stakeholders yang berkepentingan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional dilibatkan dalam proses perencanaan dan penerapan kebijakan. Sehingga adanya kegagalan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional disebabkan karena tidak dilibatkannya seluruh stakeholders yang berkepentingan terhadap kebijakan ini.

Hasil analisis PHA menunjukkan bahwa aspek yang paling penting dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional secara berurutan yaitu aspek ekonomi, aspek manajemen, aspek sosial dan aspek teknis. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek ekonomi yaitu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat dan meningkatkan PAD. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek manajemen yaitu penataan dan pembinaan PKL, meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek sosial yaitu terciptanya kondisi pasar yang aman, nyaman dan bersih bagi konsumen, menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif dan mengurangi potensi konflik dengan masyarakat. Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek teknis yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar dan kondisi fisik pasar yang lebih bersih dan rapi. Prioritas alternatif strategi dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu pembentukan PD. Pasar, pemberdayaan pedagang dan pengelola pasar, pendistribusian PKL ke pasar-pasar yang telah dibangun, pembangunan pasar lingkungan, menjalin kemitraan dengan UKM dan koperasi, pemberian bantuan kredit dan pembentukan forum komunikasi.

ANALISIS KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR Oleh : DYAH ARUM ISTININGYAS A14303046 SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA PERTANIAN pada FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

NIP. NIP.Judul Skripsi : Analisis Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Nama NIM : Dyah Arum Istiningtyas : A14303046 Menyetujui. Ir. 131 124 019 Tanggal Kelulusan: ________________________ .Agr. Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dosen Pembimbing Dr. Dr. Didy Sopandie. Aceng Hidayat. 132 007 149 Mengetahui. M. Ir. MT.

Bogor. Januari 2008 Dyah Arum Istiningtyas A14303046 .PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Penulis diterima di IPB melalui jalur USMI pada tahun 2003 pada Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi. Pendidikan Tingkat Atas diselesaikan penulis di SMU Negeri 3 Semarang pada tahun 2003. Penulis mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri X Semarang pada tahun 1997 kemudian penulis melanjutkan pendidikan lanjutan di SLTP Negeri 21 Semarang pada tahun 1997-2000. keluarga Bapak Totok Djoko Winarto dan Ibu Kisnani. Penulis juga aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM A) periode 2004 – 2005 dan berbagai kepanitiaan di IPB. Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif menjadi asisten mata kuliah Pengantar Ilmu Kependudukan (2005/2006). SmPh. Fakultas Pertanian. . Jawa Tengah pada tanggal 3 November 1985 sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara. Penulis juga menjadi Finalis dalam Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa (KPKM) Tahun 2007 dengan judul tulisan “Ketidakmampuan Kinerja Subsidi Pupuk Urea dalam Mewujudkan Kesejahteraan Petani di Provinsi Jawa Barat”.RIWAYAT PENULIS Penulis dilahirkan di Kota Semarang.

Skripsi ini merupakan salah satu syarat kelulusan Sarjana Pertanian pada Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.KATA PENGANTAR Puji Syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan rizkiNya sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor” dengan menggunakan analisis kualitatif deskriptif dapat diselesaikan. Januari 2008 Dyah Arum Istiningtyas . Fakultas Pertanian. Harapan penulis adalah agar karya ini dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak khususnya yang terkait dengan penulisan ini. Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pihak yang terlibat dalam kebijakan dan penyebab dari belum berhasilnya kebijakan serta merumuskan strategi pengembangan yang tepat untuk pasar tradisional di Kota Bogor.

A. 4. Ir. I Believe in you always. hidayah. Ir. 9. serta telah memberikan arahan. 8. Faroby Falatehan. Alan Tandiyar dari DTKP Kota Bogor. 11. Pada akhirnya kita akan menapaki jalan masing-masing. Msp atas kesediaannya menjadi dosen penguji utama pada sidang ujian skripsi dengan arahan pada substansi penelitian. Mas Daya dan Mbak Eni atas segala kasih sayang dan curahan doa yang terus mendukung saya selama ini. 6. MT selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dengan sabar. berkah. Nindyantoro. We can do it sis. S. Dessy dan Fahma. Naufal Isnaeni. tapi kalian selalu menjadi teman terbaikku. Mbak Pini atas kesabarannya membantu saya menyelesaikan semuanya. doa. SP. motivasi. Kedua orangtua yaitu Bapak dan Mami tersayang atas cinta. 5. Irwan Riyanto dan Anwar Yuswadi dari Disperindagkop Kota Bogor. Ok. dari Bapeda Kota Bogor. ME atas kesediaannya menjadi dosen penguji akademik pada sidang skripsi dengan kritik sarannya. It’s time for you to take the way. Tuti.Si. dorongan dan kesabaran yang telah diberikan selama membesarkan saya. Tidak lupa penulis ingin mengucapkan terima kasih atas segala dukungan moril maupun materiil. 7. 2. serta kerjasama yang telah diberikan selama ini kepada: 1. Dyah.UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan rasa syukur yang sebesar-besarnya kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat. Aceng Hidayat. Yayat Sukrina beserta staf dari UPTD Jambu Dua atas data-data dan informasi yang diberikan. 3. 10. Kakak saya Mbak Wening atas ketegarannya menghadapi hidup dan mimpimimpinya yang telah membuka jalan untukku. Sahabat sejatiku ’Genk Gonjrenk’ : Adis. saran dan kritik yang membangun dalam penyelesaian skripsi. . Mas Erwien atas kesabaran dan kebaikannya telah menemani hari-hari turun lapang. dan rizki yang telah membuat penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 12.. Dr. Terimakasih.. Rike Ratina dari Dispenda Kota Bogor.

Rekan-rekan EPS 40 atas pengalaman dan kekompakannya (Fitrina. Wiwik. INMTers. Dara. Hamna. Ari. Prista. Ira. Dewi. Iin. Faiq. Silvi. Mbak Uwie. .13. Teman-teman di ’Tri Regina’ : Ochie. Puri. 15. Andi. Mbak Lury. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Angke. Hanum. Yudha dan Ainun). Reni. Mbak Aida. Mbak Dhona. Dattu. 14.

..................................... III.........................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI .................... Otonomi Daerah ....................................... VI.......... 1............... 5............ IV................2.. 3........................3... 3..... 3......................2........................... 4...................................................................................................................2........................................ 1........... 4... Analisis Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional................................. Analisis Kebijakan .............. Program Pendukung Lainnya .................2............. 4...............5..............................4.....................................3............................................... Proses Hierarki Analisis .........................2................................. Perumusan Masalah ................1...... GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ................3 Kebijaksanaan Pengelolaan Pasar di Wilayah Kota Bogor .............2 Visi dan Misi Kota Bogor .......... .......... Struktur Hierarki Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional ......5........................................................................................................... Metode Analisis Data ........................................................................ V..... Lokasi dan Waktu Penelitian .....5.. 3................................. Pemindahan Pasar Induk Ramayana ..................... 4.......1 Keadaan Perekomian Wilayah Kota Bogor ............2..........................4....... xiii I........ Pasar Tradisional ................... 2................ Metode Pemilihan Responden ................................ KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL ... TINJAUAN PUSTAKA ............................................ 2..........4..............3 Pasar Kecil ...... Pembangunan Pasar Tradisional ..... 4............... PENDAHULUAN ................ METODOLOGI PENELITIAN .................2.......... 1................. 3................ 4................. Analisis Stakeholders ................................2..............................1 Pasar Besar ........... Studi Terdahulu .....5....3.... 3..1 Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional 5......................1......................................................... 5.... 3............. xii DAFTAR GAMBAR ...... Tujuan Penelitian .......... Kerangka Pemikiran Operasional .1..................................................4....... Jenis dan Sumber Data ................................2 Penerapan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional ............ 1..1..2................... ANALISIS STAKEHOLDERS ......2 Pasar Sedang ................................ 5......................................2.......3.................3.........5................................................ 2..................................... x DAFTAR TABEL .................. 3.........................................................................1..... 2.. 5................................. Latar Belakang .................. 3.............. Kegunaan Penelitian ..... 1 1 4 6 6 8 8 9 10 12 15 15 17 18 19 20 20 26 26 33 38 38 40 42 43 44 45 48 48 50 50 54 58 60 II.........2.............................................

........................................ DAFTAR PUSTAKA .VII.................. 71 71 81 86 87 87 88 88 89 90 91 92 95 99 99 101 102 105 ...................2.............2....................... 9...................... 8................................4........... 8........... LAMPIRAN .............................. IX......................................................................................... 9....................2...............................3............ 7............2...............3 Hubungan antara Analisis Proses dan Analisis Penerapan ..................2........................ 8...........STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL ...........................................2...... KESIMPULAN DAN SARAN ......................... Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional ... 7....................................... 8.................... Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan Pasar Tradisional ........................... 8.................. VIII..........2 Saran .......................... Aspek Manajemen ........................................................... 8...........3........................................... ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL .................................2 Analisis Penerapan Kebijakan ............ 8... 7. Prioritas Kriteria Pengembangan Pasar Tradisional ......... Aspek Teknis ........ Aspek Ekonomi ............................................1 Kesimpulan .... Aspek Sosial ................. Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional .........................1.....1 Analisis Proses ............................ 8.............................4........1................

........... 82 .... Tabel Analisis Stakeholders ................ Tabel Analisis Hasil Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional .......... 61 12............... 30 8....................................... Tabel Matriks Pendapat Individu ............... 74 13............... 23 5.......... 2 2....... Tabel Pertumbuhan Penduduk dan Persebaran Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Bogor Tahun 2005 ................................ 38 10..................... 19 4......................................DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1.................... Tabel PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (Tahun 2000) Tahun 2001 – 2005 ............. 76 14............... 32 9...... Tabel Jumlah Pedagang di Pasar Tradisional Kota Bogor ............................. Tabel Besarnya Tarif Retribusi Pasar di Wilayah Kota Bogor ....................... 47 11............................... 30 7.................................. Tabel Hasil Analisis Stakeholders dalam Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ........ Tabel Analisis Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional ........................... 5 3...... Tabel Pengumpulan Data ............................. Tabel Matriks Pendapat Gabungan ................................... Tabel Daftar Nilai Random Indeks .......... Tabel Nilai Skala Banding Berpasangan ...................... Tabel Laju Pertumbuhan PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004-2005 .................................... 29 6........................

.................. Gambar Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ...... 96 19b............................................ Gambar Label Jenis Komoditi yang Dijual pada Tiap Lorong di Pasar BSD ........................ Gambar Kondisi Pasar Tradisional yang Kotor........ Gambar Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional dari Segi Proses Pembuatan Kebijakan ................................................................................ Becek dan Tidak Rapi .................................................................... 58 9a..................... 52 4........ 81 12......................................................................... 96 19d............. 92 17......... 57 8........ Gambar Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders pada Kondisi Ideal dalam Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ....................................................... Gambar Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders .... Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Sosial dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ........... Nyaman dan Rapi................... Gambar Kondisi Pasar Modern yang Bersih........................... 62 9b............................. 56 7................................... 54 6.. Gambar Pasar Pamoyanan ... Gambar Pasar Induk Jambu Dua............... Gambar Pasar Induk Kemang ................................................. 95 19a..................DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1......... Gambar Diagram Alir Kerangka Pemikiran ...... 68 10...................................................................................................... 17 2............. 72 11..... 91 16................................... 23 3................................................. Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Teknis dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ...... 96 19c...................................... 89 15........... Gambar Pasar Modern BSD dari Depan Tampak Bersih dan Menarik ...... Tidak Becek dan Rapi................................. Gambar Pasar Bubulak. Gambar Interaksi Sosial antara Penjual dan Pembeli di Pasar BSD 96 ................................................. Gambar Pasar Grosir Cimanggu ........................................................................................................................... 93 18a.... Gambar Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders dalam Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ............................ Gambar Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor .. Gambar Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional dari SegiPenerapan Kebijakan ................. Gambar Pasar Tanah Baru .... Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Ekonomi dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ......... 87 13..................................... 88 14........... 53 5.............. 95 18b.. Gambar Kondisi Pasar BSD yang Bersih..... Gambar Prioritas Kriteria pada Aspek Manajemen dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor ..................................................

nilai-nilai sosial. Salah satu potensi yang dominan dalam menunjang pembangunan Kota Bogor adalah sektor perdagangan.20 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto . Hal ini menuntut adanya peran aktif pemerintah daerah dalam berbagai kebijakan untuk menggali. baik dalam kelembagaan. Masing-masing daerah diberi kesempatan untuk melaksanakan proses pembangunan yang didasarkan pada ideide. teknologi serta potensi sumberdaya lokal. PENDAHULUAN 1. Pemerintah daerah harus dapat menggali seluruh potensi yang ada di dalam pengelolaan keuangan melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sumber-sumber keuangan lainnya untuk menunjang pelaksanaan pembangunan sehingga diharapkan daerah dapat berkembang secara mandiri. Kebijakan pembangunan Kota Bogor berdasarkan otonomi daerah diarahkan pada upaya peningkatan taraf hidup masyarakat dengan titik berat pada pembangunan ekonomi.1. pemanfaatan dan penggalian sumber daya alam. Sektor ini mampu mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Kota Bogor dan memberikan kontribusi sebesar 31. sumber daya manusia serta sumber-sumber kegiatan ekonomi di berbagai bidang. Latar Belakang Kebijakan otonomi daerah yang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 telah memberikan arah baru dalam pembangunan nasional yang bersifat top down menjadi bottom up. mengembangkan dan mengelola potensi sosial ekonominya dalam rangka memperkuat pembangunan yang berkelanjutan. Perkembangan otonomi daerah telah membawa sejumlah implikasi terhadap perubahan fungsi-fungsi pemerintah daerah dalam berbagai kebijakan.I.

925. Salah satu strategi yang dilaksanakan oleh Pemda Kota Bogor yaitu dengan meningkatkan aktivitas pasar-pasar tradisional sebagai basis kekuatan ekonomi rakyat.002.132.26 322.68 0.58 234.64 Jasa-jasa 221. nasional dan internasional (Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor.986.279.33 398.29 255.062.65 Produk Domestik Regional Bruto 2.565. Pembenahan aspek ekonomi diarahkan pada upaya mewujudkan Kota Bogor sebagai bursa perdagangan komoditi penting di tingkat regional.18 358. Persewaan.571.410. PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (Tahun 2000) Tahun 2001 – 2005 (Jutaan Rupiah) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan* Listrik.20 3.491.758. Tabel 1.718.430.93 2005** 12.303.61 255.44 344.671.55 Perdagangan.193. .00 827.438.361.12 489.512.371.567.95 105.525.83 244.09 Pengangkutan dan Komunikasi 264.575.82 441.071. dan Jasa Perusahaan 325.608.716.087.00 1.37 Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Bogor 2005 *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara 2001 10.697.570.98 0.823.84 0.(PDRB) Kota Bogor (Badan Pusat Statistik Kota Bogor.072.266. 2000).414.67 988.668.66 2003 11.168. Gas dan Air Bersih 85. Kebijakan yang dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda) Kota Bogor untuk meningkatkan kontribusi sektor perdagangan dan jasa adalah melalui peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana perekonomian yang ada di Kota Bogor.094.02 0.18 2002 11.27 91. Hotel dan Restoran 908.205.837.21 949.318.21 2.07 281.24 1.185. hotel dan restoran khususnya sektor perdagangan besar dan eceran yang terus mengalami peningkatan dari tahun 2001 sampai tahun 2005.466.720.139.91 Tabel 1 menunjukkan bahwa kegiatan perekonomian di Kota Bogor didominasi oleh sektor perdagangan.58 112. 2003).05 Bangunan 227.00 940. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1. Pengembangan pasar-pasar tradisional diarahkan pada penyediaan lahan.99 3.11 1.21 3.037.26 301.755.40 0.110.49 98.846.54 2004* 12.99 243.90 Keuangan.00 779.230.24 268.642.029.00 881.32 232.187.743.684.06 266.

Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu berfungsi sebagai pasar pengecer. hanya Pasar Kemang yang berfungsi sebagai pasar induk.pembangunan dan pemanfaatan pasar tradisional di setiap kecamatan sebagai sentra ekonomi. Pada kenyataannya pelaksanaan program yang ditetapkan Pemda Kota Bogor tidak berjalan secara optimal. Tetapi setelah kepindahan lokasi Pasar Induk Ramayana ke ketiga lokasi pasar induk alternatif. dan dengan pengembangan kegiatan perdagangan lokal di tiap kecamatan akan membantu tercapainya pemerataan kegiatan ekonomi di seluruh kota. Pasar Induk Kemang dan Pasar Grosir Cimanggu serta pembangunan pasar tradisional minimal terdapat satu unit pasar di tiap kecamatan (Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor. Kegagalan program tersebut di antaranya adalah tidak berfungsinya Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu sebagai pengganti Pasar Induk Ramayana. 2005). Program ini dibuat supaya kegiatan perdagangan regional di Kota Bogor tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota namun juga di daerah pinggiran yang memiliki tingkat aksesibilitas tinggi. Implementasi dari program tersebut adalah pemindahan Pasar Induk Ramayana yang berada di pusat kota ke Pasar Induk Jambu Dua. Cimanggu dan Kemang. Pasar Induk Ramayana yang berada di tengah kota telah menimbulkan kemacetan lalu lintas sehingga pemerintah kemudian menutup Pasar Induk Ramayana dan memindahkan para pedagang di pasar tersebut ke Pasar Jambu Dua. Pemerintah Daerah Kota Bogor telah melaksanakan program khusus bagi pengembangan pasar tradisional selama periode tahun 1999 sampai tahun 2004. yaitu pemindahan pusat perdagangan regional dari pusat kota ke daerah pinggiran dan pengembangan pasar-pasar tradisional di setiap kecamatan. Dampak dari perpindahan lokasi .

Bogor Selatan dan Bogor Utara. Sampai tahun 2001 dari empat pasar tradisional yang akan dibangun yaitu Pasar Tanah Baru. Pasar Pamoyanan.63 persen dan 82. karena kios yang terisi di Pasar Tanah Baru hanya sepuluh kios dari 120 kios yang ada. Meskipun pada kenyataannya perkembangan tersebut belum optimal. Pasar Cimanggu dan Pasar Jambu Dua mengalami penurunan volume penjualan yang paling besar yaitu sebesar 86. Hal ini disebabkan karena sepinya pembeli di kedua pasar tersebut (Kartini. Perda No 1 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor Tahun 1999-2009 menyatakan bahwa salah satu fungsi utama Kota Bogor adalah sebagai kota perdagangan. 2002). 1. Perumusan Masalah Letak Kota Bogor yang dekat dengan Jakarta menyebabkan Bogor mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang pesat yaitu sebesar 20. perlu adanya evaluasi dari rencana dan implementasi kebijakan Pemda Kota Bogor untuk mengetahui penyebab kegagalan kebijakan tersebut. Kebijakan lain yang ditempuh sebagai upaya untuk memeratakan pembangunan ekonomi yaitu pembangunan empat unit pasar tradisional di empat kecamatan yaitu di Bogor Timur. Pasar Katulampa dan Pasar Bubulak. baru dua pasar saja yang telah terealisasi yaitu Pasar Tanah Baru dan Pasar Pamoyanan dan hanya satu pasar saja yang sudah berfungsi yaitu Pasar Tanah Baru.Pasar Induk Ramayana secara umum menyebabkan penurunan volume penjualan di pasar-pasar pengecer Kota Bogor sehingga penerimaan pedagang pun menurun. Sampai saat ini belum ada pemungutan tarif retribusi yang dilakukan oleh pihak pengelola pasar. Untuk mengimbangi . Oleh karena itu.2. Bogor Barat. 2005).41 persen pada tahun 2003 dengan kegiatan utamanya adalah sektor perdagangan (Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor.53 persen.

Kebijakan pengembangan pasar tradisional yang dilaksanakan tersebut ternyata tidak berjalan secara optimal. Pasar-pasar tersebut di antaranya yaitu Pasar Jambu Dua.79 .250 1. Salah satu kebijakan yang ditempuh Pemda Kota Bogor dalam mengembangkan sektor perdagangan yaitu dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional. sehingga dapat disimpulkan bahwa program pengembangan pasar tradisional yaitu pembangunan pasar tradisional baru belum mencapai hasil yang diharapkan. Tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat beberapa pasar tradisional di Kota Bogor yang jumlah pedagangnya kurang dari 50 persen dari total kios dan los yang disediakan di pasar tersebut. Pasar Merdeka dan Pasar Tanah Baru. Tabel 2. Jumlah Pedagang di Pasar Tradisional Kota Bogor PASAR JUMLAH KIOS JUMLAH KIOS TERISI Pasar Kebon Kembang 2.61 51 97.laju pertumbuhan Kota Bogor yang sedemikian pesat khususnya pada sektor perdagangan dan jasa maka prioritas pembangunan yang perlu diutamakan yaitu meningkatkan aktivitas perdagangan melalui pembangunan dan perbaikan sarana publik.27 97.872 4452 Sumber: UPTD Pasar Tradisional Kota Bogor. Kios yang terisi paling sedikit terjadi pada Pasar Tanah Baru.168 Pasar Bogor 2.33 60. Hal ini dapat ditunjukkan dari jumlah pedagang yang mengisi kios-kios yang tersedia di pasar-pasar tradisional Kota Bogor.31 34.58 64.54 8. 2003 (diolah) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 (%) 92.343 2.4 44.179 Pasar Jambu Dua 756 335 Pasar Merdeka 601 208 Pasar Sukasari 275 140 Pasar Padasuka 220 214 Pasar Gunung Batu 203 198 Pasar Tanah Baru 120 10 Pasar Kemang 104 63 TOTAL 6.53 52.

1. Bagaimana rencana dan strategi pengembangan pasar tradisional yang tepat untuk Kota Bogor? 1. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengidentifikasi kepentingan dan pengaruh dari stakeholders yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk : 1. Bagaimana kepentingan dan pengaruh dari stakeholders yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor? 2. Menganalisis rencana dan strategi pengembangan pasar tradisional yang tepat untuk Kota Bogor. Apa penyebab dari belum berhasilnya kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor? Apakah hal ini disebabkan oleh proses penyusunan program pengembangan pasar tradisional yang kurang tepat? Atau penerapannya yang tidak berjalan dengan baik? 3.Berdasarkan fakta yang diuraikan di atas. maka untuk itu perlu diketahui: 1.4. 2.3. Bagi Pemerintah Daerah Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan dalam rangka pengembangan pasar tradisional serta sebagai bahan pertimbangan . 3. Menganalisis penyebab dari belum berhasilnya kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor.

2. . 3. Bagi Ilmu Pengetahuan Penelitian ini diharapkan dapat menambah kekayaan pengetahuan terkait dengan kebijakan pengembangan dan pengelolaan pasar tradisional. Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan berpikir.dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. merumuskan dan menganalisis masalah yang berkaitan dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional. daya nalar dan daya analitis dalam mengidentifikasi.

yaitu : 1. (2) fakta yang keberadaannya dapat membatasi atau meningkatkan pencapaian nilai-nilai. 1994). akibat dan kinerja kebijakan publik. .II. Terdapat 3 (tiga) pendekatan dalam analisis kebijakan. Pendekatan evaluatif adalah pendekatan yang berkenaan dengan penentuan bobot atau nilai dari beberapa kebijakan. Analisis kebijakan tidak diciptakan untuk membangun dan menguji teoriteori deskriptif yang umum namun mengkombinasikan dan mentransformasikan substansi dan metode beberapa disiplin ilmu sehingga menghasilkan informasi yang relevan dengan kebijakan yang digunakan untuk mengatasi masalah-masalah publik. Kebijakan didasarkan pada masalah yang ada di daerah. Analisis kebijakan diharapkan untuk menghasilkan informasi mengenai : (1) nilai yang pencapaiannya merupakan tolok ukur utama untuk melihat apakah masalah telah teratasi. TINJAUAN PUSTAKA 2. Analisis kebijakan meneliti sebab. Pendekatan empiris adalah pendekatan yang menjelaskan sebab dan akibat dari suatu kebijakan publik. Analisis Kebijakan Analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian rupa sehingga dapat memberi landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan (E.S.1. Analisis kebijakan juga meliputi evaluasi dan rekomendasi kebijakan. selanjutnya kebijakan harus secara terus menerus dipantau. dan (3) tindakan yang penerapannya dapat menghasilkan pencapaian nilai-nilai. Quade dalam Dunn. direvisi dan ditambah agar tetap memenuhi kebutuhan yang terus berubah. 2.

Otonomi daerah tidak hanya dipahami sebagai pemindahan sentralisasi kekuasaan dari pusat kemudian diberikan ke daerah (dekonsentrasi kekuasaan). Otonomi daerah membuat pemerintah semakin dekat. yaitu: deskriptif.3. Gagasan otonomi tidak lepas dari gagasan demokratisasi. 2. evaluasi. 32 Tahun 2004). prediksi. digunakan sebelum tindakan diambil. dan rekomendasi. Pada hakekatnya penerapan prinsip ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada pusat bagi pelaksanaan pembangunan di daerah.2. Sebagai proses penelitian analisis kebijakan menggunakan prosedur analisis umum yang biasa dipakai untuk memecahkan masalah-masalah kemanusiaan. Tujuan pemberian otonomi daerah adalah untuk memungkinkan daerah yang bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat. yaitu memfasilitasi kebebasan dan otonomi rakyat sehingga bisa berkembang semaksimal mungkin sesuai dengan potensi dan konteksnya. . Dari segi waktu dalam hubungannya dengan tindakan maka prediksi dan rekomendasi. Otonomi Daerah Otonomi daerah merupakan pemberian kewenangan seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan (UU No. Pendekatan normatif adalah pendekatan yang ditekankan pada rekomendasi serangkaian tindakan yang dapat menyelesaikan masalah-masalah publik. sedangkan evaluasi digunakan setelah tindakan terjadi.

bank. beras.mengenali. bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai. sayursayuran. Penduduk minimum yang dapat mendukung sarana ini adalah 30. buah-buahan. Lokasinya mengelompok dengan pusat kecamatan dan 1 Dikutip dari situs Wikipedia Indonesia. Pasar Tradisional Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang ditandai dengan adanya transaksi penjual dan pembeli secara langsung. Pasar Kawasan 120. pakaian barang elektronik. Pasar Kawasan 30.000 penduduk.org/wiki/Pasar pada tanggal 20 Januari 2008 .500 m2. 2. pakaian. 2003). alat-alat pendidikan. daging. sebagian besar pasar menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan. kain.3. buah. tepungtepungan.wikipedia. jasa dan lain-lain. alat-alat rumah tangga dan lain-lain. dan memahami masyarakat sehingga fungsi sebagai fasilitator dapat berjalan dengan baik (Ismawan. yaitu : 1. Lokasinya berada pada jalan utama lingkungan dan mengelompok dengan pusat lingkungan dan mempunyai terminal kecil untuk pemberhentian kendaraan. los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. http://id. telur. barang-barang kelontong. ikan. 2. bahan-bahan pakaian. daging. Luas tanah yang dibutuhkan adalah 13.000 Penduduk (Pasar Kecamatan) Fungsi utama sama dengan pasar lingkungan lain hanya dilengkapi saranasarana niaga lainnya seperti kantor-kantor.000 Penduduk (Pasar Kelurahan/Desa) Fungsi utama sebagai pusat perbelanjaan di lingkungan yang menjual keperluan sehari-hari termasuk sayur.1 Hierarki pasar dibagi menjadi tiga. industri-industri kecil seperti konveksi dan lain-lain.

Pasar menurut Pengelolanya : a. Hierarki pasar menurut Perda Kota Bogor Nomor 7 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Pasar dibedakan berdasarkan pengertian menurut pengelola.000 penduduk.000 penduduk. yaitu pasar yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.000 m2. tingkat pelayanan dan kelas mutu pelayanan. yaitu pasar dengan komponen bangunan-bangunan yang lengkap. Lokasinya dikelompokkan dengan pusat wilayah dan mempunyai terminal bis. 2. yaitu : 1. Pasar Pemerintah. Pasar Kawasan 480. dan melayani perdagangan tingkat regional.mempunyai pangkalan transportasi untuk kendaraan-kendaraan jenis angkutan penumpang kecil. Penduduk minimum yang dapat mendukung sarana ini adalah 480. Pasar menurut Tingkat Pelayanannya : a. 2005). Pasar Swasta. oplet dan kendaraan-kendaraan jenis angkutan penumpang kecil lainnya. Luas tanah yang dibutuhkan adalah 36.000 m2 (Rahayu. sistem arus barang dan orang baik di dalam maupun di luar bangunan.000 Penduduk (Pasar Kabupaten/Kota) Fungsi utama sama dengan pasar yang lebih kecil dengan skala usaha yang lebih besar dan lengkap. yaitu pasar yang diselenggarakan atau dikelola oleh orang pribadi atau badan. 3. Jumlah minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini adalah 120. b. Luas tanah yang dibutuhkan adalah 96. Pasar Regional. .

keamanan dan penataan gerai akan dapat meningkatkan jumlah pengunjung/pembeli di pasar-pasar tradisional Kota Medan. dan melayani perdagangan tingkat kota. sistem arus barang dan orang baik di dalam maupun di luar bangunan. d. Hasil analisis menunjukkan bahwa menurut persepsi responden pengembangan pasar tradisional dalam aspek kebersihan. didukung dengan teknologi modern serta mengutamakan pelayanan dan kenyamanan berbelanja. kios. yaitu pasar dengan komponen bangun-bangunan. Studi Terdahulu Penelitian mengenai pengembangan pasar tradisional pernah dilakukan oleh Rangkuti (2005) di Kota Medan. . Pasar Wilayah. c. yaitu pasar yang dibangun dan dikelola dengan menggunakan metode manajemen modern. yaitu pasar dengan komponen bangun-bangunan. 2. b. dan melayani perdagangan tingkat kota. Pasar Tradisional. Tesis tersebut menganalisis pengaruh pengembangan pasar tradisional terhadap pembangunan wilayah.4. Pasar Lingkungan. ataupun tenda yang diisi oleh pedagang kecil. dan melayani perdagangan tingkat lingkungan. sistem arus barang dan orang baik di dalam maupun di luar bangunan. dikelola dengan manajemen sederhana dengan tempat usaha berupa toko. Pasar Kota. menengah dan koperasi dengan proses jual beli melalui tawar menawar. yaitu pasar yang dibangun dengan fasilitas sederhana. los. yaitu pasar dengan komponen bangun-bangunan. Pasar Modern. 3. Pasar menurut Kelas Mutu Pelayanan : a. sistem arus barang dan orang terutama di dalam bangunan.b.

ternyata hanya Pasar Induk Kemang yang betul-betul berfungsi sebagai pengganti Pasar Ramayana.Pengembangan pasar-pasar tradisional di Kota Medan dapat menyebabkan terjadinya pengembangan wilayah dengan bertambahnya aktivitas sosial ekonomi masyarakat dan peningkatan pendapatan pedagang sehingga retribusi yang diperoleh PD. sebagai acuan bagi pembangunan pasar tradisional baru di Kota Bogor. Penelitian tersebut bertujuan untuk menganalisis dampak perpindahan lokasi terhadap sistem pemasaran sayur-mayur di Kota Bogor. aglomerasi dan threshold population dari segi keruangan. Pasar dapat digunakan untuk pembangunan dan pengembangan sarana-sarana fisik pasar-pasar tradisional di Kota Medan. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan kajian terhadap faktor penentu pendukung perkembangan Pasar Tanah Baru. Hasil analisis menunjukkan bahwa perkembangan Pasar Tanah Baru dipengaruhi oleh variabel market area. Penelitian mengenai pemindahan lokasi pasar induk pernah dilakukan oleh Kartini (2002) di Kota Bogor. Perpindahan tersebut berdampak pada peningkatan biaya transfer dan penurunan volume penjualan. meskipun pada kenyataannya perkembangan tersebut belum . Penelitian mengenai pembangunan pasar tradisional di Kota Bogor pernah dilakukan oleh Tandiyar (2002). Kegiatan pemasaran sayur-mayur menjadi lebih efisien dengan Pasar Induk Kemang sebagai pasar acuan dan barometer harga dalam pemasaran sayurmayur di Kota Bogor. Hasil penelitian mengemukakan bahwa dari ketiga alternatif pasar induk yang ditawarkan oleh Pemda Kota Bogor. ketersediaan sarana angkutan umum dan besarnya nilai rupiah yang dibelanjakan dari segi konsumen serta jenis jualan dan besarnya nilai transaksi yang terjadi dari segi pedagang.

mencapai perkembangan yang menggembirakan. terutama dalam aglomerasi dan ketersediaan sarana angkutan umum. sedangkan yang lainnya harus ditunda atau dipindahkan lokasinya ke tempat lain yang lebih memenuhi persyaratan. Berdasarkan hasil acuan tersebut ternyata dari ketiga lokasi pasar yang dibangun. Peningkatan perkembangan Pasar Tanah Baru direkomendasikan dengan pembangunan jalan tembus ke lokasi perumahan yang ada di Kelurahan Tegal Gundil dan penataan rute angkutan kotanya. sedangkan Pasar Pamoyanan dan Bubulak masih dianggap belum memenuhi. hanya Pasar Katulampa yang memenuhi semua kriteria. . Pasar Katulampa direkomendasikan untuk ditindaklanjuti dengan pembangunan.

Kerangka Pemikiran Operasional Otonomi daerah memberikan kewenangan bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan sebagai upaya untuk menggali seluruh potensi yang ada dalam pengelolaan keuangan melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sumber-sumber keuangan lainnya untuk menunjang pelaksanaan pembangunan. Sektor ini merupakan penyumbang kontribusi terbesar terhadap PDRB. Eksistensi sektor perdagangan terutama subsektor perdagangan besar dan eceran telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan PDRB Kota Bogor. Pasar Pamoyanan. METODOLOGI PENELITIAN 3. Hal ini dapat ditunjukkan dari kegagalan program tersebut dalam mencapai target.III. Implementasi dari program ini yaitu pemindahan Pasar Ramayana ke Pasar Induk Kemang. Program tersebut belum memperlihatkan hasil seperti yang diharapkan. Pasar Kemang merupakan satu-satunya pasar yang berfungsi sebagai pasar induk sedangkan Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu berfungsi sebagai pasar . Kota Bogor memiliki potensi dalam sektor perdagangan dan jasa yang besar untuk dikembangkan menjadi sektor unggulan.1. Pemerintah Daerah Kota Bogor menetapkan kebijakan pengembangan pasar tradisional untuk meningkatkan kontribusi sektor perdagangan. Kebijakan ini dilaksanakan dalam dua program yaitu pemindahan pusat perdagangan regional dari pusat kota ke daerah pinggiran dan pengembangan pasar-pasar tradisional di tiap kecamatan. Pasar Katulampa dan Pasar Bubulak. Pasar Induk Jambu Dua dan Pasar Grosir Cimanggu serta pembangunan pasar tradisional di empat kecamatan yaitu Pasar Tanah Baru.

Hal ini dapat ditunjukkan dengan peranan serta keterlibatan masing-masing stakeholders dalam program pengembangan pasar tradisional.pengecer. atau penerapannya yang tidak berjalan dengan baik (Lampiran 2). . Selain itu dari empat pasar tradisional yang dibangun. Untuk mengidentifikasi penyebab dari belum optimalnya hasil dari program pengembangan pasar tradisional dilakukan menggunakan analisis deskriptif. Untuk menganalisis strategi pengembangan pasar tradisional digunakan metode Proses Hierarki Analisis/PHA (Lampiran 3). apakah hal ini disebabkan oleh proses penyusunan program pengembangan pasar tradisional yang kurang tepat (Lampiran 1). Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pemerintah daerah untuk mengambil keputusan dalam merumuskan kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. Masing-masing stakeholders yang terlibat memiliki kepentingan dan pengaruh yang berbeda-beda terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional. Oleh karena itu dalam penelitian ini menggunakan analisis stakeholders untuk mengidentifikasi stakeholders yang terlibat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1. Dalam pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional ini banyak melibatkan stakeholders. terkait dengan kepentingan dan pengaruhnya terhadap kebijakan. hanya satu pasar yang berfungsi yaitu Pasar Tanah Baru meskipun hasilnya belum optimal. Kondisi ini dapat mempengaruhi keberhasilan proses perencanaan dan penerapan kebijakan pengembangan pasar tradisional dalam mencapai tujuannya.

Pasar Pamoyanan) Analisis Stakeholders Identifikasi/Analisis Penyebab Kegagalan Kebijakan Proses Deskriptif Strategi Pengembangan Pasar Tradisional Rekomendasi Pemda Penerapan PHA Gambar 1.2. Diagram Alir Kerangka Pemikiran 3. Pasar Cimanggu. Hal ini membutuhkan kebijakan pengembangan sektor perdagangan khususnya dalam hal pengembangan pasar tradisional untuk mengimbangi pertumbuhan sektor . Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kota Bogor merupakan kota satelit bagi Jakarta sehingga mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi terutama di sektor perdagangan. Propinsi Jawa Barat. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kota Bogor.Otonomi Daerah Potensi Perdagangan Kota Bogor Program Pengembangan Pasar Tradisional Pemindahan Pusat Perdagangan Regional dari Pusat Kota ke Daerah Pinggiran Pengembangan Pasar-Pasar Tradisional di Setiap Kecamatan Berhasil (Pasar Induk Kemang) Belum Berhasil (Pasar Jambu Dua. Pasar Tanah Baru.

. Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bogor.perdagangan yang pesat. Data sekunder diperoleh dari Dinas Perindustrian. dan (3) strategi pengembangan pasar tradisional. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka dan data penunjang yang relevan dengan penelitian. (2) penerapan program. jurnal. Waktu penelitian berlangsung dari bulan Juli sampai dengan Oktober 2007. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Dinas Tata Kota dan Pertamanan (DTKP) Kota Bogor.3. Data primer mencakup: (1) proses perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional. baik kualitatif maupun kuantitatif (Tabel 3). Data primer diperoleh dari hasil kuesioner melalui wawancara langsung dengan para pengambil kebijakan yang berasal dari Lembaga/Instansi Pemerintah. Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Bogor. Swasta dan para pedagang. Unit Pelaksana Teknis Dinas Pasar Tradisional (UPTD) Kota Bogor. Data penunjang diperoleh dari laporan hasil penelitian terkait. buletin. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda) Kota Bogor. internet serta sumber-sumber lainnya. 3. Tokoh Masyarakat.

Persepsi responden tentang pengembangan pasar tradisional terdiri dari tujuan. . Disperindag. Pengumpulan Data No 1 Tujuan Penelitian Mengidentifikasi stakeholders yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional Data yang dikumpulkan Tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholders terhadap keberhasilan program Sumber Data Data Primer: Wawancara dengan instansi terkait Data Sekunder: Visi dan Misi. DTKP. Pengkajian dilakukan secara mendalam untuk setiap stakeholders terkait dengan peran dan keterlibatannya dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional serta untuk analisis kebijakan pengembangan pasar tradisional terkait dengan pemahaman stakeholders terhadap setiap tahapan proses dan penerapan kebijakan. RDTR Data Primer: Wawancara dengan instansi terkait Analisis Stakeholders 2 Mengidentifikasi penyebab kurang berhasilnya program pengembangan pasar tradisional: • Proses • Penerapan 3 Mengidentifikasi strategi pengembangan pasar tradisional • Rencana Strategi (Renstra) • Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bogor • Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) • Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) • Perda Tata Ruang • Perda lainnya.Tabel 3. Tupoksi Data Sekunder: Renstra Kota Bogor. DLHK. aspek. RTRW. kriteria dan alternatif strategi kebijakan Deskriptif Data Primer: Wawancara dengan pihak pengambil kebijakan (Pemda). UPTD PHA 3. Jika keterangan dari setiap stakeholders tidak menyebutkan stakeholders yang baru lagi. Metode Pemilihan Responden Identifikasi stakeholders yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional dilakukan dengan teknik bola salju (snow ball) yaitu dengan melacak keterangan dari setiap stakeholders untuk mengetahui keberadaan stakeholders lainnya. berarti semua stakeholders sudah diidentifikasi.4.

kelompok atau lembaga yang kepentingannya dipengaruhi oleh isu atau pihak yang tindakannya secara kuat mempengaruhi isu. Stakeholders dapat diartikan sebagai individu. Analisis Data 3. Stakeholders dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan besar kecilnya pengaruh atau kepentingan terhadap suatu kebijakan yaitu: a. diperlukan suatu analisis stakeholders yang terkait dengan kebijakan tersebut. dan DLHK. Dalam hal ini adalah . Bapeda. Disperindagkop. Analisis Stakeholders Untuk menilai kebijakan pengembangan pasar tradisional. DTKP. Analisis stakeholders adalah sebuah proses sistematis untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi secara kualitatif untuk menentukan kepentingan siapa yang harus diperhitungkan ketika mengembangkan atau menerapkan suatu kebijakan atau program (Schmeer. yaitu metode pengambilan contoh responden tidak secara acak tetapi pemilihan secara sengaja dengan pertimbangan baik individu atau lembaga sebagai responden yang mengerti permasalahan yang terjadi dan memiliki pengaruh dalam pengambilan kebijakan baik langsung maupun tidak langsung pada pelaksanaan kebijakan atau memberi masukan kepada para pengambil kebijakan yaitu Pemerintah.1.5. 2007). 3. Non Pemerintah.Pemilihan responden untuk analisis PHA dilakukan dengan metode Purposive Sampling.5. Stakeholders utama. mempunyai pengaruh yang lemah terhadap lahirnya suatu kebijakan/keputusan tetapi kesejahteraan mereka sangat penting dipertimbangkan bagi pengambil kebijakan/keputusan. Responden antara lain: Staf atau Pejabat Pemda. dan Masyarakat. Dispenda.

adalah individu atau grup yang dapat menggunakan pengaruhnya misalnya dengan melakukan lobi kepada pembuat keputusan. Yang digolongkan pada stakeholders eksternal adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerhati lingkungan (Brown et al. Stakeholders sekunder (tingkat kedua). c. Membuat tabel stakeholders (Tabel 4) • Membuat daftar semua stakeholders yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh program. yang menjadi stakeholders sekunder adalah pihak pemerintah daerah atau pihak swasta. Stakeholders eksternal.masyarakat yang berada di sekitar areal yang akan dikembangkan serta pihak lain yang memanfaatkan wilayah tersebut. Menuliskan sikap stakeholders terhadap kebijakan atau program. • Menilai sikap dari stakeholders terhadap kebijakan sebagai berikut : . 2006). • • Menuliskan kepentingan utama stakeholders minimal dua.. Pada program pengembangan pasar tradisional ini. Kepentingan stakeholders mengacu pada motif dan perhatian mereka pada kebijakan atau program. yaitu mereka yang mempengaruhi keputusan/kebijakan pada saat kebijakan dibuat (pembuat kebijakan) dan pihak yang terkait dengan implementasi kebijakan tersebut. 2001 dalam Dharmayanti. Langkah-langkah dalam melakukan analisis stakeholders yaitu : 1. b. • Menuliskan kepentingan stakeholders (yang tertutup maupun terbuka) dalam kaitannya dengan program dan tujuannya. Sikap mengacu pada reaksi utama dari berbagai stakeholders dalam memutuskan pandangan terhadap kebijakan.

• Menentukan tingkat keterlibatan stakeholders. 3 = rata-rata. finansial dan politik di mana : 5 = sangat kuat. di mana jika total < 10 maka stakeholders dapat diabaikan. • Menentukan nilai total yaitu perkalian antara sikap dengan pengaruh untuk setiap stakeholders. finansial dan politik. . Untuk analisis ini. • Memutuskan kebutuhan keterlibatan stakeholders dalam kebijakan atau program. 2 = lemah. Kekuatan stakeholders mengacu pada kuantitas sumberdaya yang dimiliki stakeholders yaitu sumberdaya manusia (SDM). stakeholders dibagi dalam tiga grup yaitu : Grup 1 dengan total = 10 – 20 maka stakeholders akan menjadi pihak penerima informasi. • Menentukan nilai tingkat kekuatan stakeholders dengan kriteria SDM.3 = sangat mendukung/menyetujui 2 = cukup mendukung/menyetujui 1 = netral -2 = cukup menentang/menolak -3 = sangat menentang/menolak • Membuat penilaian awal tentang tingkat kekuatan dan pengaruh dari masingmasing stakeholders. dan jika total > 10 maka stakeholders harus dilibatkan dalam kebijakan atau program. 1 = sangat lemah • Menentukan tingkat pengaruh yaitu jumlah dari tingkat kekuatan (SDM + finansial + politik) dari masing-masing stakeholders. 4 = kuat.

Tinggi C (KEEP SATISFIED) *1 *4 *6 B (MANAGE CLOSELY) *2 Tingkat Pengaruh * Stakeholders D (MONITOR) *7 *8 A (KEEP INFORMED) *3 Rendah Tingkat Kepentingan Sumber: DFID (2006) Tinggi Gambar 2. Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders . Tabel 4. • Membahas bersama stakeholders mengenai peranan yang harus mereka lakukan. • Membuat ringkasan matriks partisipasi untuk mengklarifikasi peranan yang harus dilaksanakan oleh semua stakeholders pada berbagai tahapan siklus program.Grup 2 dengan total = 20 – 30 maka stakeholders akan menjadi pihak pemberi pertimbangan. Analisis Stakeholders Stakeholders Kepentingan Sikap Kriteria Evaluasi Kekuatan SDM Finansial Politik Pengaruh Total Keputusan Tingkat Keterlibatan Keterlibatan Sumber: Abdrabo dan Hassaan (2007) 2. sehingga diketahui posisinya bila ditempatkan dalam matriks. Identifikasi partisipasi stakeholders yang tepat (lihat Gambar 2). Grup 3 dengan total > 30 maka stakeholders merupakan pihak pengambil keputusan kebijakan.

maka akan memiliki . tapi pengaruhnya rendah. karena dapat mempengaruhi hasil kebijakan. tapi tidak memiliki minat terhadap kebijakan. tapi juga sangat penting bagi pencapaian keberhasilan. Usaha nyata diperlukan untuk membuat mereka tetap puas dengan hasil kebijakan. Kotak B : Pihak yang sangat penting bagi kebijakan. Dalam kondisi yang ideal seharusnya stakeholders yang memilki tingkat kepentingan yang tinggi. Mereka membutuhkan inisiatif khusus jika ingin melindungi kepentingan mereka. Tingkat kepentingan dan pengaruh yang berbeda dari masing-masing stakeholders memberikan pengaruh terhadap pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Stakeholders yang termasuk pihak ini harus dilibatkan secara penuh dalam setiap proses maupun penerapan kebijakan.Berdasarkan Gambar 2 menunjukkan keterangan sebagai berikut : Kotak A : Pihak yang sangat penting bagi kebijakan. Penyusun kebijakan dan donor perlu membina hubungan kerja yang baik dengan para pihak ini untuk memastikan adanya dukungan terhadap program. Mereka tidak mungkin menjadi subyek kebijakan. Pihak ini harus terus diberikan informasi yang cukup mengenai kebijakan serta meyakinkan mereka bahwa tidak ada masalah besar yang timbul. Pihak ini seringkali sangat berguna bagi proses penyusunan kebijakan secara terperinci. tapi membutuhkan monitoring dan evaluasi yang terbatas. Kotak D : Pihak yang berada pada prioritas rendah. Kotak C : Pihak yang berpengaruh besar.

pengaruh yang tinggi pula terhadap pelaksanaan kebijakan. Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Dinas Tenaga Kerja dan Sosial. Dinas Pemadam Kebakaran. Analisis stakeholders dilakukan dengan cara mengolah data dan informasi yang berhubungan dengan stakeholders yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Selain itu terdapat beberapa stakeholders yang terkait seperti masyarakat konsumen. begitu juga sebaliknya. Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Bogor. 2006). Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor. Stakeholders ini tidak dimasukkan dalam kajian penelitian karena kepentingannya terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional tergolong rendah sekali serta stakeholders ini bukan merupakan pihak yang benar-benar memahami kebijakan pengembangan pasar tradisional. Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Bogor. Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bogor. . Sehingga penyebaran stakeholders dalam matriks akan membentuk garis diagonal (DFID. Pada penelitian ini dibatasi untuk mengkaji tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholders di atas. Pihak-pihak yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu pedagang. Dinas Tata Kota dan Pemukiman (DTKP) Kota Bogor dan pihak pengelola pasar baik swasta maupun UPTD. karena stakeholders tersebut memiliki kepentingan yang nyata terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional dan memiliki pemahaman yang tinggi terhadap kebijakan.

3. Menurut Saaty (1993) kerangka kerja PHA terdiri dari delapan langkah utama sebagai berikut : (b) Mendefinisikan persoalan dan merinci pemecahan persoalan yang diinginkan.3. . Metode ini dimaksudkan untuk membantu memecahkan masalah kualitatif yang komplek dengan memakai perhitungan kuantitatif. karena yang menjadi perhatian adalah pemilihan tujuan.5. melalui proses pengekspresian masalah dimaksud dalam kerangka berpikir yang terorganisir. sehingga mendorong dipercepatnya proses pengambilan keputusan terkait. Metode ini memiliki keunggulan tertentu karena membantu menyederhanakan persoalan yang komplek menjadi persoalan yang berstruktur. Analisis dilakukan dengan membandingkan kesesuaian antara proses perencanaan kebijakan dengan pelaksanaan kebijakan serta tujuan yang ingin dicapai dari kebijakan dengan hasil yang dicapai dan manfaat kebijakan bagi stakeholders yang terlibat. Analisis meliputi tahapan pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional mulai dari tahap perencanaan. penerapan kebijakan hingga hasil yang diperoleh dari kebijakan yang telah dilaksanakan. Analisis Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menggabungkan semua informasi yang diperoleh dari stakeholders.2.3. Hal yang perlu diperhatikan dalam langkah ini adalah penguasaan masalah secara mendalam. sehingga memungkinkan dilakukannya proses pengambilan keputusan secara efektif. Proses Hierarki Analisis Proses analisis yang dikembangkan tahun 1970-an ini dimaksud untuk dapat mengorganisasikan informasi dan berbagai keputusan secara rasional (judgement) agar dapat memilih alternatif yang paling disukai.5. proses penyusunan program.

pilihan atau skenario. Pembandingan berpasangan pertama dilakukan pada elemen tingkat kedua terhadap fokus yang ada di puncak hierarki. sub-sub tujuan. tersusun dari sasaran utama. (d) Menyusun matriks banding berpasangan. Penyusunan hierarki ini berdasarkan jenis keputusan yang akan diambil. suatu elemen yang ada di sebelah kiri diperiksa perihal dominasi atas yang ada di sebelah kiri suatu elemen di puncak matriks. yaitu sasaran keseluruhan yang bersifat luas. Struktur hierarki ini mempunyai bentuk yang saling berkaitan. Matriks banding berpasangan dimulai dari puncak hierarki yang merupakan dasar untuk melakukan pembandingan berpasangan antar elemen yang terkait yang ada di bawahnya. Pada tingkat puncak hierarki hanya terdiri dari satu elemen yang disebut dengan fokus. Tidak terdapat prosedur yang pasti untuk mengidentifikasikan komponen-komponen sistem. pelaku-pelaku yang memberi dorongan. (c) Membuat struktur hierarki dari sudut pandang manajemen secara menyeluruh. seperti tujuan. Komponen-komponen sistem dapat diidentifikasikan berdasarkan kemampuan pada analisa untuk menemukan unsur-unsur yang dapat dilibatkan dalam suatu sistem. kriteria dan aktivitas-aktivitas yang akan dilibatkan dalam suatu sistem hierarki. faktor-faktor pendorong yang mempengaruhi sub-sub sistem tujuan tersebut. . agar dapat dibandingkan dengan elemen-elemen yang berada pada tingkat sebelumnya.kriteria dan elemen-elemen yang menyusun struktur hierarki. tujuan-tujuan pelaku dan akhirnya ke alternatif strategis. Menurut perjanjian. Tingkat di bawahnya dapat terdiri dari beberapa elemen yang dibagi dalam kelompok homogen.

Pembandingan berpasangan antar elemen tersebut dilakukan dengan pertanyaan : ”Seberapa kuat elemen baris ke-i didominasi atau dipengaruhi. Apabila elemen-elemen yang diperbandingkan merupakan suatu peluang atau waktu. Angka satu sampai sembilan digunakan bila F. kurang mendominasi atau kurang mempengaruhi sifat X dibandingkan Fj maka digunakan angka kebalikannya. . Untuk mengisi matriks banding berpasangan. Matriks di bawah garis diagonal utama diisi dengan nilai-nilai kebalikannya. Pengisian matriks hanya dilakukan untuk bagian di atas garis diagonal dari kiri ke kanan bawah. maka nilai elemen F42 adalah 1/7. Sedangkan bila F. digunakan skala banding yang tertera pada Tabel 5. (f) Memasukkan nilai-nilai kebalikannya beserta bilangan sepanjang diagonal utama. dibandingkan dengan kolom ke-i?”. Angka-angka yang tertera menggambarkan relatif pentingnya suatu elemen dibanding dengan elemen lainnya sehubungan dengan sifat atau kriteria tertentu. dipenuhi. maka pertanyaannya adalah : ”Seberapa lebih mungkin suatu elemen baris ke-i dibandingkan dengan elemen kolom ke-j sehubungan dengan elemen di puncak hierarki?”.(e) Mengumpulkan semua pertimbangan yang diperlukan dari hasil melakukan perbandingan berpasangan antar elemen pada langkah tiga. Setelah itu dilakukan perbandingan berpasangan antar setiap elemen pada kolom ke-i dengan setiap elemen pada baris ke-j. diuntungkan oleh fokus di puncak hierarki. Contoh: bila elemen F24 memiliki nilai tujuh. lebih mendominasi atau mempengaruhi sifat fokus puncak hierarki (X) dibandingkan dengan Fj.

maka memiliki nilai kebalikannya (1/x). empat dan lima. MPI adalah matriks hasil pembandingan yang dilakukan individu. Elemen yang satu sangat penting daripada elemen yang lainnya.Tabel 5.6. 5 Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat menyokong satu elemen atas yang lainnya. yaitu elemen matriks pada baris ke-i dan kolom ke-j. berkenaan dengan kriteria elemen di atasnya.4. 3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya. Matriks pendapat individu dapat dilihat pada Tabel 6. di antara dua 9 2. Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka (x) jika dibandingkan dengan aktivitas j. untuk semua tingkat dan gugusan dalam hierarki tersebut. 7 Satu elemen dengan kuat disokong dan dominasinya telah terlihat dalam praktek. 1993 Kebalikan (g) Melaksanakan langkah tiga. Bukti yang menyokong elemen yang satu atas yang lainnya memiliki tingkat penegasan yang tertinggi yang mungkin menguatkan. Sumber: Saaty.8 Nilai-nilai antara di antara dua pertimbangan yang berdekatan. Matriks pembandingan dalam metode PHA dibedakan menjadi : (1) Matriks Pendapat Individu (MPI) dan (2) Matriks Pendapat Gabungan (MPG). Pengalaman dan pertimbangan sedikit menyokong satu elemen atas yang lainnya. Satu elemen mutlak lebih penting daripada elemen yang lainnya. Nilai Skala Banding Berpasangan Intensitas Pentingnya 1 Definisi Kedua elemen sama pentingnya. . Satu elemen jelas lebih penting daripada elemen yang lainnya. MPI memiliki elemen yang disimbolkan dengan a. Penjelasan Dua elemen menyumbang sama besar pada sifat tersebut. Pembandingan dilanjutkan untuk semua elemen pada setiap tingkat keputusan yang terdapat pada hierarki. Kompromi diperlukan pertimbangan.

...... A2 a31 ai2 aij ain ........ .......... Ai . ai.. aj : angka pembanding elemen baris ke-i terhadap elemen kolom ke-j yang diperoleh dengan menggunakan skala berbanding berpasangan................... Ai..... gn1 Gn Sumber: Saaty........ ......... .. Matriks Pendapat Gabungan X A1 g11 G1 g21 G2 g31 Gi .. Matriks Pendapat Individu X A1 A2 Aj . An g1n g2n gin .... 1993 MPG adalah susunan matriks baru yang elemen (gij) berasal dari rata-rata geometrik pendapat-pendapat individu yang rasio inkonsistensinya lebih kecil atau sama dengan sepuluh persen dan setiap elemen pada baris dan kolom yang sama dari MPI yang satu dengan MPI yang lain tidak terjadi konflik.....Tabel 6..................... a1n a11 A1 a21 a22 a2j a2n .. gnn Rumus matematika yang digunakan untuk memperoleh rata-rata geometrik adalah: g ij = m π (aij )k k =1 m di mana : g ij = elemen MPG baris ke-i kolom ke-j ....... Aj : elemen-elemen pembanding.. . Tabel 7. ... An Keterangan: X : kriteria sebagai dasar pembanding........... ....... gn2 Aj g1j g2j gij ............... Persyaratan MPG yang bebas dari konflik adalah : (1) Pendapat masing-masing individu pada baris dan kolom yang sama memiliki selisih kurang dari empat satuan antara nilai pendapat individu yang tertinggi dengan nilai yang terendah.... ....... 1993 A2 g12 g22 gi2 ....................... ... ....... An a12 a1j ........ (2) Tidak terdapat angka kebalikan (resiprokal) pada baris dan kolom yang sama. MPG dapat dilihat pada Tabel 7............. an1 an2 anj Ann ............ Sumber: Saaty. ............ . gnj ..........

n) (2) Perhitungan Vektor Prioritas (VP) atau Eigenvektor adalah : n VPi = k =1 π aij k =1 n ∑ i =1 n n π aij n VP = (Vpi).. dimana MPI dan MPG harus memenuhi persyaratan inkonsistensi. Tahapan perhitungan yang dilakukan pada pengolahan horisontal ini adalah : (1) Perkalian baris (Z) dengan rumus : Zi = k =1 π aij n (i. yaitu (1) pengolahan horisontal dan (2) pengolahan vertikal. 2. 2. . Pengolahan vertikal dilakukan setelah MPI dan MPG diolah secara horisontal.(aij )k = elemen baris ke-i kolom ke-j dari MPI ke-k m k =1 m = jumlah MPI yang memenuhi persyaratan = perkalian dari elemen k = 1 sampai k = m = akar pangkat m π m (h) Mensintesis prioritas untuk melakukan pembobotan vektor-vektor prioritas. yaitu penentuan Vektor Prioritas (Vektor Eigen). Pengolahan matriks pendapat terdiri dari dua tahap.. . Kedua jenis pengolahan tersebut dapat dilakukan untuk MPI dan MPG. untuk i = 1. terdiri dari tiga bagian. Menggunakan komposisi secara hierarki untuk membobotkan vektor-vektor prioritas itu dengan bobot kriteria-kriteria dan menjumlahkan semua nilai prioritas terbobot yang bersangkutan dengan nilai prioritas dari tingkat bawah berikut dan seterusnya . 3.3.j = 1. n) . uji konsistensi dan revisi MPI dan MPG yang memiliki Rasio Inkonsistensi tinggi. a.. Pengolahan Horisontal..

n λmaks = 1 n ∑ vbi n i =k (4) Perhitungan Indeks Konsistensi (CPI) dengan rumus : CI = λ maks − n n −1 (5) Perhitungan Rasio Inkonsistensi (CI) adalah : CR = CI RI Tabel 8.45 1.59 Nilai rasio inkonsistensi (CR) yang lebih kecil atau sama dengan 0.1 merupakan nilai yang mempunyai tingkat konsistensi yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan.41 1. Daftar Nilai Random Indeks Ordo Matriks (n) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Sumber: Oak Ridge National Indeks Random (RI) 0 0 0.51 1. b.(3) Perhitungan Nilai Eigen Maks (Maks) dengan rumus : VA = (aij ) × Vp VB = VA VP dengan VA = (vai) dengan VB = (vbi) untuk i = 1.48 1.56 1.24 1.32 1. 1993). yaitu menyusun prioritas pengaruh setiap elemen pada tingkat hierarki keputusan tertentu terhadap sasaran utama atau fokus.12 1.. 3. Apabila . .90 1.. Hal ini dikarenakan CR merupakan tolok ukur bagi konsistensi atau tidaknya suatu hasil perbandingan berpasangan dalam suatu matriks pendapat (Saaty. Pengolahan Vertikal.5 0.57 1.19 1. 2.

. Struktur Hierarki Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional Penentuan struktur hierarki dalam Proses Hierarki Analisis (Lampiran 3) didasarkan pada literatur-literatur dan didiskusikan bersama dengan narasumber.Cvij didefinisikan sebagai nilai prioritas pengaruh elemen ke-j pada tingkat kei terhadap sasaran utama. t = 1. 2. yang diperoleh dari hasil pengolahan horisontal nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat ke (i-t) terhadap sasaran utama.4. n.. sehingga diperlukan suatu uji konsistensi. yang sesuai dengan dimensi masingmasing matriks. 3. 2.. 3... Struktur hierarki ini terdiri dari empat level sebagai berikut : . j = 1. Untuk memperoleh hasil yang baik. 3. yang diperoleh dari hasil perhitungan horisontal jumlah tingkat hierarki keputusan jumlah elemen yang ada pada tingkat ke-i jumlah elemen yang ada pada tingkat ke (i-t) c. Langkah ini dilakukan dengan mengalikan setiap indeks konsistensi dengan prioritas-prioritas kriteria yang bersangkutan dan menjumlahkan hasil kalinya. maka : CVij = ∑ CH ij (t .. Dalam PHA penyimpangan diperbolehkan dengan toleransi Rasio Inkonsistensi di bawah sepuluh persen. n. i − 1) = nilai prioritas elemen ke-i terhadap elemen ke-t pada tingkat di VWt (i − 1) P r s = = = = atasnya (i-1). . .5. 3. Hasil ini dibagi dengan pernyataan sejenis yang menggunakan indeks konsistensi acak. rasio inkonsistensi hierarki harus bernilai kurang dari atau sama dengan sepuluh persen. i − 1) × VWt (a − 1) Untuk . . n di mana : CH ij (t. Mengevaluasi inkonsistensi untuk seluruh hierarki. i = 1. Pada pengisian judgement pada tahap MPB (Matriks Banding Berpasangan) terdapat kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam membandingkan elemen satu dengan elemen yang lainnya. 2.

2. terdiri dari : • Aspek ekonomi. Level ketiga merupakan kriteria dari aspek-aspek pada level kedua. • Aspek teknis. kriterianya yaitu meningkatkan PAD. 3. penentuan aspek ini didasarkan pada kebijakan pembangunan di Kota Bogor yang dititikberatkan pada pembangunan ekonomi. yaitu : Aspek ekonomi. menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat. menarik dan rapi sehingga aspek ini penting untuk diperhitungkan. Level pertama merupakan tujuan dari dilakukannya proses hierarki analisis yaitu pengembangan pasar tradisional. • Aspek manajemen. membentuk pasar tradisional menjadi . Level kedua yaitu penentuan aspek yang paling diutamakan dalam tujuan pengembangan pasar tradisional. • • Aspek manajemen.1. penentuan aspek ini didasarkan pada kondisi riil di mana pasar tradisional mulai tersaingi oleh keberadaan pasar modern yang lebih bersih. penentuan aspek ini didasarkan pada kebutuhan akan pengelolaan manajemen pasar secara lebih profeional. • Aspek sosial. kriterianya yaitu meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional. penentuan aspek ini didasarkan pada keberadaan pasar tradisional yang tidak lepas dari kehidupan sosial masyarakat karena adanya proses pertemuan langsung antara pembeli dan penjual. Tujuan ini ditetapkan terkait dengan hasil analisis kebijakan sehingga dapat digunakan sebagai masukan untuk pemerintah daerah bagi kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. sehingga tujuan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dapat diarahkan untuk pertumbuhan ekonomi.

pemilihan strategi ini didasarkan untuk mendorong pedagang supaya lebih berkembang dan mandiri dalam usahanya. Pemberdayaan pengelola pasar dilakukan dengan pemberian pelatihan atau diklat tentang manajemen usaha yang profesional. Pemberdayaan pedagang dilaksanakan dengan memberikan penyuluhan kepada para pedagang mengenai kewirausahaan.usaha yang efisien. terciptanya kondisi pasar yang aman. kriterianya yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar dan kondisi fisik pasar lebih bersih dan rapi. Oxalis Subur. pemilihan strategi ini didasarkan pada rekomendasi dari penelitian yang dilakukan oleh Balitbangdiklat dan PT. Pasar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pasar tradisional di Kota Bogor layak untuk dijadikan sebagai PD. . meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. kriterianya yaitu mengurangi potensi konflik dengan masyarakat. Pasar bagi seluruh pasar tradisional yang ada di Kota Bogor. Pasar dilihat dari potensi dan peluangnya. • Pemberdayaan pedagang dan pengelola pasar. penataan dan pembinaan PKL. pengelolaan usaha sehingga lebih efisien dan sistem pemasaran. 4. Level keempat merupakan alternaif strategi bagi pengembangan pasar tradisional yang terdiri dari : • Pembentukan PD. nyaman dan bersih bagi konsumen dan menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif. Penelitian ini menyatakan bahwa upaya untuk mengembangkan pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilakukan dengan pembentukan PD. • Aspek teknis. • Aspek sosial.

Adanya UKM maka pasar tradisional dapat menjadi tempat pemasaran bagi produk-produk UKM sehingga akan lebih berkembang.• Pendistribusian PKL ke pasar-pasar yang telah dibangun. • Menjalin kemitraan dengan UKM dan koperasi. pemilihan strategi ini didasarkan pada upya untuk meningkatkan pertumbuhan pasar tradisional melalui kemitraan yang dijalin dengan UKM dan koperasi. . Akibatnya mereka lebih memilih menjadi PKL yang tersebar di sekitar Pasar Kebon Kembang. Salah satu kendala dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu banyaknya pedagang yang tidak mau menempati kios-kios yang ada di pasar-pasar yang baru dibangun. Meskipun bangunannya tidak permanen bukan berarti kondisinya tidak baik. Koperasi dapat membantu para pedagang di pasar tradisional terutama dalam hal permodalan. Maka strategi ini dapat menjadi alternatif dengan mendistribusikan seluruh PKL ke pasar-pasar yang belum terisi seperti Pasar Jambu Dua. Akibat sepinya pedagang maka konsumen pun enggan berbelanja di pasar tersebut. di Jalan Surya Kencana dan di Jalan Otista. Pasar lingkungan merupakan pasar yang berskala pemukiman dan lebih bersifat tidak permanen. Pasar Baru Bogor. karena basis kegiatan dari pasar tradisional merupakan usaha yang bersifat kerakyatan. Hal tersebut berdampak pada pasar-pasar yang baru dibangun oleh Pemerintah. hal ini pula dapat menjadi insentif bagi pedagang karena harga kios yang jauh lebih murah. Pasar Tanah Baru dan Pasar Pamoyanan. penentuan strategi ini didasarkan pada kondisi geografis dan budaya masyarakatnya yang lebih suka berbelanja di tempat yang dekat dengan rumahnya. Pasar Cimanggu. • Pembangunan pasar lingkungan.

maka pemberian bantuan kredit kepada para pedagang sangat diperlukan. Pemerintah Kelurahan. . Sehingga tujuan yang ingin dicapai melalui kebijakan dapat mengakomodir semua kepentingan dari stakeholders. pemilihan strategi ini karena salah satu permasalahan utama yang dimiliki pedagang yaitu kepemilikan modal. pihak pengelola pasar baik UPTD maupun swasta dan pedagang serta masyarakat sekitar pasar. Alternatif ini dipilih karena untuk merencanakan suatu kebijakan dalam pengembangan pasar tradisional perlu dibuat forum komunikasi di mana semua pihak yang berkepentingan terlibat. Forum komunikasi yang dilaksanakan harus melibatkan instansi Pemerintah Daerah. Pemerintah Kecamatan. Pemerintah dapat memfasilitasi pedagang dengan kredit bunga kecil melalui koperasi.• Pemberian bantuan kredit. Seringkali terjadi banyak pedagang yang mengalami kebangkrutan akibat tidak memiliki modal dan terpaksa menjadi pengangguran. • Pembentukan forum komunikasi. Untuk pengembangan pasar tradisional.

27 13. Pada Tabel 9 terlihat bahwa laju pertumbuhan ekonomi Kota Bogor mencapai 30.62 6.28 1 Pertambangan & Penggalian 2 Industri Pengolahan 18.82 6.12 *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara Sektor perdagangan.10 6 Angkutan dan Komunikasi 22.05 4 Bangunan 12.95 7. Gas dan Air Bersih 13.02 7.10 4.32 20.67 12.33 persen pada tahun 2005. Oleh karena itu berdasarkan Perda No.33 4.21 10.93 BRUTO Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Bogor 2005 9 9.82 4.41 26.850 km2.86 persen.93 PRODUK DOMESTIK REGIONAL 25.76 10. yaitu sebesar 41. Jarak dari Jakarta kira-kira sejauh 60 km2. Angka relatif ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2004. Hotel dan Restoran 41.15 41. Tabel 9. Laju Pertumbuhan PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004-2005 PDRB Atas Dasar PDRB Atas Dasar Kode Lapangan Usaha Harga Berlaku Harga Konstan Sektor 2004*) 2005**) 2004*) 2005**) Pertanian 11.10 4.1. 1 Tahun 2000 tentang Rencana . dengan sub sektor perdagangan besar dan eceran sebagai kontributor terbesar. hotel dan restoran merupakan sektor yang memberikan kontribusi paling besar dalam menunjang pembangunan di Kota Bogor.72 4.IV. Hal ini mengakibatkan Kota Bogor memiliki potensi yang strategis untuk menjadi pusat perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi.09 7.02 6.85 7 Keuangan. Persewaan & Jasa 14.24 5 Perdagangan.41 4.86 8 Perusahaan Jasa-jasa 7.63 3 Listrik.73 4. Sektor yang memiliki kontribusi paling besar pada pertumbuhan perekonomian Kota Bogor adalah sektor perdagangan.86 30.32 27.62 10.13 6.88 6. Keadaan Perekonomian Wilayah Kota Bogor Kota Bogor memiliki luas wilayah 11.86 4. hotel dan restoran. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.

peternakan. makanan-makanan khas dan hasil kesenian dengan membuat pasar-pasar induk. dan pusat-pusat pameran untuk memaksimumkan kapasitas perdagangan pada tingkat regional dan nasional. Pembenahan aspek fisik dan lingkungan untuk mendukung fungsi kota sebagai kota perdagangan. industri. ekonomi dan politik. Penyediaan pasar-pasar induk harus didukung oleh mekanisme pengaturan penggunaan sebagai pasar massif yang hidup 24 jam dengan pembagian siang hari sebagai pasar eceran dan malam hari sebagai pasar grosir (Pemerintah Kota Bogor. kompleks pergudangan. Kota Bogor memiliki fungsi sebagai kota perdagangan. pasarpasar modern. Strategi pembangunan dalam mewujudkan fungsi kota tersebut antara lain melalui pembenahan aspek fisik dan lingkungan. 2002). Pembenahan aspek ekonomi diarahkan pada upaya mewujudkan Kota Bogor sebagai bursa perdagangan komoditi penting di tingkat regional. nasional dan internasional melalui peningkatan aktivitas pasar-pasar tradisional. industri kecil.Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor 1999-2009. Pemda Kota Bogor membangun dua pasar tradisional di Kecamatan Bogor Utara yaitu Pasar Tanah Baru dan di Kecamatan Bogor Selatan yaitu Pasar Pamoyanan. pemukiman dan wisata ilmiah. memberdayakan ekonomi rakyat dan mewujudkan pemerataan kesejahteraan masyarakat. yaitu Pasar Jambu Dua. maupun pasar maya di internet dalam rangka memasyarakatkan pertumbuhan ekonomi. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain menjadikan Kota Bogor sebagai big station yang menjadi tempat transit semua arus barang dan jasa di bidang pertanian. Pasar Cimanggu dan Pasar Induk Kemang. berupa penataan fasilitas perdagangan dan jasa meliputi penyelesaian pembangunan tiga unit pasar induk. . Pada tahun 1999 – 2004.

40 persen. baik aktivitas budaya.76 persen. harus merupakan pendukung bagi berkembangnya sektor jasa. ekonomi. jasa angkutan dan komunikasi. jasa keuangan. sektor sekunder 38. hotel dan restoran. dibandingkan sektor primer sebesar 0. Sektor jasa yang perlu diprioritaskan untuk mendorong pertumbuhan perekonomian Kota Bogor ke depan terutama sektor tersier pada jasa perdagangan. penataan fisik kota. indah. tertib. dibandingkan sektor primer sebesar 0. dan aman. serta jasa-jasa lainnya.39 persen. visi Kota Bogor sebagai berikut : “KOTA JASA YANG NYAMAN DENGAN MASYARAKAT MADANI DAN PEMERINTAHAN AMANAH” Visi tersebut mengandung makna bahwa Kota Bogor akan diarahkan untuk menjadi suatu kota yang aktivitas masyarakatnya terutama bergerak di sektor jasa. Kondisi ini ditandai oleh tingkat kebersihan kota yang tinggi yang diukur dengan tingkat cakupan pelayanan kebersihan dan tingkat pencemaran . Kota Bogor sebagai kota jasa harus menjadi suatu kota yang nyaman yang berarti bersih. Hal ini sesuai dengan peranan sektor tersebut kepada PDRB Kota Bogor yang sangat dominan pada tahun 2003 yaitu atas dasar harga berlaku sebesar 61. serta berwawasan lingkungan sehingga di setiap sudut manapun di Kota Bogor setiap orang dapat merasakan kenyamanan sesuai yang diharapkan. maupun penanganan masalah kota. Visi dan Misi Kota Bogor Berdasarkan Perda No 1 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor (Tahun 1999-2009). Terwujudnya kota jasa ditandai dengan tingginya PDRB Kota Bogor pada sektor jasa serta tingginya jumlah penduduk yang bekerja pada sektor ini. persewaan dan jasa perusahaan. Sedangkan kontribusi sektor tersier atas dasar harga konstan sebesar 60. sektor sekunder 37.85 persen. Aktivitas-aktivitas lainnya yang ada di masyarakat.4.85 persen.75 persen.2.

lingkungan yang rendah terutama pencemaran air dan udara/kebisingan. Untuk dapat mewujudkan kondisi ini harus ada dukungan dari pemerintahan. selaku regulator. Sebagai penjabaran dari visi tersebut di atas. serta tingkat pelanggaran terhadap peraturan daerah yang rendah. produktif dan berdaya saing. dirumuskan misi-misi Kota Bogor sebagai berikut : Misi Pertama : Mengembangkan perekonomian masyarakat dengan titik berat pada jasa yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada. jasa keuangan. dan aman dengan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai dan berwawasan lingkungan. Selain itu juga. yang amanah dan memegang teguh komitmen yang ditandai dengan terwujudnya pelayanan publik yang prima di segala bidang dengan indikator menurunnya pengaduan atas pelayanan. kesehatan. hotel dan restoran. serta jasa-jasa lainnya. diarahkan untuk pengembangan sektor jasa agar lebih efisien. Sektor jasa yang perlu diprioritaskan untuk mendorong pertumbuhan perekonomian Kota Bogor kedepan terutama sektor tersier pada jasa perdagangan. Pemerintahan yang amanah yaitu pemerintahan yang baik yang senantiasa mengacu kepada kepentingan masyarakat. pendidikan dan keterampilan. Masyarakat madani berarti bahwa masyarakat Kota Bogor harus memiliki derajat kualitas kehidupan yang tinggi baik dari segi keimanan. dan daya beli masyarakat. persewaan dan jasa perusahaan. indah. Misi Kedua : Mewujudkan kota yang bersih. tertib. Misi ini mengandung makna bahwa pembangunan diarahkan kepada peningkatan kemampuan ekonomi rakyat yang memprioritaskan pembangunan ekonomi dalam rangka penanggulangan kemiskinan. . jasa angkutan dan komunikasi.

menyatakan bahwa pasar adalah tempat yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sebagai tempat bertemunya pihak penjual dan pihak pembeli untuk . 4. Kebijaksanaan Pengelolaan Pasar di Wilayah Kota Bogor Menurut Perda Kota Bogor Nomor 7 Tahun 2005 tentang penyelenggaraan pasar.3. Misi ini mengandung makna bahwa penyelenggaraan pemerintahan diarahkan kepada pelaksanaan otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab dengan menerapkan prinsip-prinsip good governance dan clean government. Misi Ketiga : Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan berketerampilan. indah.Misi ini mengandung makna bahwa Kota Bogor akan diarahkan kepada penampilan kota yang bersih. tertib. dengan memprioritaskan kepada penanganan masalah transportasi. Misi Keempat : Mewujudkan pemerintahan kota yang efektif dan efisien serta menjunjung tinggi supremasi hukum. dan Pedagang Kaki Lima (PKL). sehingga mampu memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat dengan disertai penegakkan supremasi hukum. Misi ini mengandung makna bahwa pembangunan akan diarahkan kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia sehingga masyarakat Kota Bogor memiliki tingkat pendidikan dan derajat kesehatan yang tinggi dengan tetap memiliki kadar keimanan disertai keterampilan yang memadai agar mampu menjadi masyarakat yang mandiri. sampah. dan aman. Kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana perkotaan juga akan terus ditingkatkan untuk dapat mengarah kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat dengan tetap memperhatikan konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan sehingga masyarakat kota dapat merasa kenyamanan kotanya.

Pada tahun 2001. 1. Pasar Besar Pasar besar terdiri atas Pasar Kebon Kembang dan Pasar Baru Bogor.326 orang yang terdiri atas 744 pedagang kios.3.757 m2 sehingga jumlah pedagangnya pun paling banyak yaitu 2. Bagan struktur organisasi Disperindagkop dan UPTD dapat dilihat pada Lampiran 4 dan 5. DPP diubah menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas Pengelolaan Pasar (UPTD Pengelolaan Pasar) yang berada di bawah wewenang Dinas Perindustrian. Pengelolaan pasar di Kota Bogor saat ini dilaksanakan oleh UPTD yang berada di bawah Kepala Disperindagkop.melaksanakan transaksi di mana proses jual beli barang atau jasa terbentuk. Pembentukan UPTD Pengelolaan Pasar berdasarkan Surat Keputusan Walikota Nomor 2 Tahun 2001 dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2001 tentang perubahan pertama organisasi dan tata kerja UPTD.424 pedagang los dan 158 pedagang kaki lima (PKL). Sampai saat ini telah ada 7 unit pasar yang berada di bawah pembinaan dan pengawasan UPTD dengan kondisi sebagai berikut : 4. Pasar Kebon Kembang merupakan pasar yang terluas yaitu 26. Kedua pasar ini terletak di Kecamatan Bogor Tengah. Pemerintah Daerah Kota Bogor mendirikan Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) yang bertanggung jawab langsung kepada Walikota. dan menjadi tempat masyarakat sekitar memenuhi kebutuhan hidupnya.1. Pada tahun 1991 berdasarkan Perda Nomor 13 Tahun 1991 tentang Peraturan Pasar di Wilayah Kota Bogor. . sedangkan pelayanan pasar adalah fasilitas pasar berupa kios atau los yang dikelola Pemerintah Daerah dan khusus disediakan untuk pedagang. Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop).

obat dan barang-barang yang kering. Jumlah pedagang di Pasar Jambu Dua sebanyak 425 orang terdiri dari pedagang di kios 304 orang. Pasar Jambu Dua baru berdiri selama kurang lebih tujuh tahun. Jumlah kios dan los yang ada sebanyak 756 buah dan hampir separuhnya masih kosong karena menurut para pedagang pasar ini belum terlalu ramai sehingga keuntungan yang diperoleh belum memadai. Lantai dasar banyak digunakan untuk berjualan sayuran. ikan. sembako dan lainnya. Para pedagang ini tersebar di dua lantai yaitu lantai dasar dan lantai satu. F. E. sehingga pada malam hari pasar ini selalu ramai. C.Pasar ini mempunyai dua lantai yaitu basement dan lantai satu dan dibagi atas blok-blok A. Kegiatan pasar ini dimulai pagi hari hingga sore hari. sembako.091 orang. Pedagang di pasar ini umumnya pedagang yang berasal dari Pasar Ramayana yang telah ditutup. 4. dan G. Lantai dasar diisi oleh kios dan los. buah-buahan. 31 orang pedagang los dan 90 orang PKL.529 orang yang terdiri dari pedagang kios sebanyak 1. Blok C dan D tidak dikelola oleh Pemerintah tetapi dikelola oleh pihak swasta yaitu PT. Di lantai satu tidak disediakan tempat berdagang berupa los. beras.00 WIB.2. daging. D. Malam hari di sekitar pasar bermunculan para pedagang sayur mayur yang berjualan mulai jam 19. Jumlah pedagang di Pasar Baru Bogor sebanyak 1. Pasar Jambu Dua terdiri dari dua lantai. pedagang los 88 orang dan PKL sebanyak 350 orang. Lantai satu umumnya digunakan untuk berjualan pakaian.3. Pasar Baru Bogor beroperasi pagi hari hingga sore hari. Lantai satu sebagian besar merupakan los PKL yang .00 hingga jam 07. Merdeka dan Sukasari. B. Pasar Sedang Pasar sedang terdiri dari Pasar Jambu Dua. Propindo Mulia Utama.

76 pedagang los dan 50 PKL. Pasar ini beroperasi mulai pagi hingga sore hari. Pasar Devries yang terletak di daerah Panaragan.tersebar di pelataran pasar dan baru terlihat aktifitasnya pada sore hingga malam hari. Unit Pasar Merdeka mengelola kios atau los yang tersebar di daerah yang berbeda yaitu Pasar Merdeka sendiri. Pasar Kecil Pasar kecil terdiri atas Pasar Gunung Batu dan Pasar Padasuka. Pasar ini beroperasi pada pagi hari hingga sore hari. Pasar Sukasari terdiri dari dua lantai dan beroperasi pada pagi hingga sore hari tetapi pada tengah hari biasanya sudah banyak kios dan los yang tutup karena pengunjung mulai berkurang. Mayo Waya dan PT.3. Pasar ini beroperasi pada pagi hingga sore hari. Pasar Padasuka terletak di Kecamatan Bogor Barat. Galvindo Ampuh sehingga . Kios dan los yang ada seluruhnya berjumlah 601 buah dengan pedagang 436 orang. kios di jalan Pejagalan dan kios yang ada di sekitar Taman Kencana.3. 150 orang pedagang los dan 160 orang PKL. Adapun Pasar Cimanggu dan Pasar Induk Kemang masih dikelola oleh pihak swasta. 32 orang pedagang los dan 33 orang PKL. Jumlah kios dan los sekitar 220 buah dengan jumlah pedagang 374 orang terdiri dari 64 pedagang kios. Jumlah kios dan los sekitar 203 buah dengan jumlah pedagang 248 orang terdiri dari 122 pedagang kios. antara lain oleh PT. Kios dan los yang ada berjumlah 275 buah dengan jumlah pedagang 173 orang terdiri dari 108 pedagang kios. 4. Pasar Gunung Batu terletak di Kecamatan Bogor Barat. terdiri atas dua lantai yaitu lantai dasar dan lantai atas.

Pengelolaan administrasi keuangan dan administrasi umum di lingkungan UPTD pasar. Besarnya tarif retribusi mengacu pada Perda Kota Bogor Nomor 3 Tahun 2006 tentang retribusi pelayanan pasar. pengendalian dan pengawasan kegiatan dalam penggunaan sarana dan prasarana pasar. UPTD Pengelolaan Pasar memiliki tugas pokok. Penyusunan rencana program dan rencana kerja UPTD pasar. Pelaksanaan koordinasi.kedua pasar tersebut tidak bertangung jawab kepada UPTD. . yaitu melaksanakan pengelolaan pasar. b. tugas UPTD di bidang pendapatan adalah melaksanakan pengelolaan pemungutan retribusi pasar serta melaksanakan pelayanan terhadap pedagang maupun pengunjung pasar terutama dalam menciptakan situasi aman dan nyaman. seperti yang tercantum pada Tabel 10. Perumusan kebijaksanaan teknis di bidang pengelolaan pasar. Sedangkan fungsi UPTD antara lain : a. Kontribusi dari kedua pihak swasta tersebut terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) berupa pajak yang dibayarkan kepada Dinas Pendapatan Daerah selama masa kontrak. c. d. Secara khusus. Hal ini dikarenakan kedua pasar tersebut masih berstatus tidak aktif karena sepinya pedagang dan pembeli. Pasar Tanah Baru dan Pasar Pamoyanan belum memberikan kontribusi terhadap PAD Kota Bogor karena tidak adanya pemungutan retribusi oleh UPTD.

Pedagang tetap adalah mereka yang memiliki kios dan los di dalam pasar. Besarnya Tarif Retribusi Pasar di Wilayah Kota Bogor (Tarif Rp/M2/hari) KELAS PASAR Pasar Regional Pasar Kota Pasar Wilayah Pasar Lingkungan KIOS 0 – 5 m2 600 550 500 450 > 5 m2 650 600 550 500 0 – 5 m2 550 500 450 400 LOS > 5 m2 600 550 500 450 Sumber : Perda Kota Bogor Nomor 3 Tahun 2006 Para pedagang yang melakukan kegiatan jual beli terdiri dari pedagang tetap dan pedagang musiman. .Tabel 10. Ada juga pedagang yang berjualan di depan kios orang lain. Sedangkan pedagang tidak tetap atau yang bersifat musiman umumnya berjualan di pelataran jalan atau tempat parkir. Sedangkan pedagang kaki lima tidak dikenakan tarif retribusi. Pedagang-pedagang tersebut dikenakan tarif retribusi sesuai ketentuan yang berlaku.

juga mengakibatkan menumpuknya arus orang dan barang ke pusat kota yang pada akhirnya menimbulkan dampak seperti kemacetan lalu lintas dan pencemaran lingkungan. Pasar Pamoyanan di Kecamatan Bogor Selatan Salah satu program yang berkaitan dengan RTRW Kota Bogor 1999-2009 yaitu memindahkan pasar tradisional yang lokasinya terletak di tengah kota ke daerah pinggiran. Kondisi ini selain menimbulkan ketidakmerataan hasil pembangunan. Pasar tradisional yang akan dibangun sebagai berikut : a.V. Keberadaan Pasar Ramayana . Kebijakan ini dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi di daerahdaerah pinggiran. Pasar Ramayana terletak di Kecamatan Bogor Tengah dan bekas lokasinya sekarang dibangun Bogor Trade Mall. Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional Keberadaan pasar tradisional yang berada di tengah kota telah menyebabkan ketimpangan pertumbuhan pembangunan ekonomi yaitu masih terpusatnya kegiatan perekonomian di pusat kota. dalam RTRW Kota Bogor 1999-2009 telah direncanakan untuk merelokasi pasar dari pusat kota ke daerah pinggiran dan membangun pasar-pasar di setiap kecamatan. Atas dasar itu. Pasar Bubulak di Kecamatan Bogor Barat e. Hal ini kemudian menjadi salah satu dasar dari perumusan kebijakan perdagangan. Pasar ini merupakan pasar induk untuk sayur mayur yang melayani wilayah Kota Bogor dan sekitarnya. Pasar Katulampa di Kecamatan Bogor Timur b. Pasar Tanah Baru di Kecamatan Bogor Utara d.1. Pasar Cimanggu di Kecamatan Tanah Sareal c. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL 5. Pasar yang dipindahkan adalah Pasar Ramayana.

Kesepakatan antara Pemerintah dan pihak swasta berupa sistem sewa kontrak. kemudian terdapat tawaran dari pihak swasta untuk membangun dan mengelola Pasar Kemang dan Pasar Cimanggu. Adanya pasar ini telah menimbulkan kemacetan lalu lintas dan menebarkan bau yang tidak sedap bagi lingkungan sekitar akibat sampah yang menumpuk. Pemerintah melalui pihak pengelola pasar melaksanakan sosialisasi terhadap pedagang di Pasar Ramayana dan warga sekitar pasar. Pihak pengelola pasar mendata pedagang yang mau direlokasi ke pasar lain.yang berada di tengah kota menimbulkan banyak keluhan dari warga Bogor yang tinggal di sekitar pasar tersebut2. Pasar Induk Kemang dan Pasar Grosir Cimanggu. Pemerintah melakukan suatu uji kelayakan yang dilaksanakan oleh Bapeda Kota Bogor untuk menentukan apakah lokasi yang akan menjadi tujuan pemindahan merupakan lokasi strategis. Sebelum pemindahan Pasar Ramayana dilaksanakan. yaitu pihak swasta menyerahkan biaya sewa dan pajak selama masa kontrak dan apabila masa kontrak telah habis maka pengelolaan pasar diserahkan kembali kepada Pemerintah. Pedagang yang mau direlokasi harus membayar uang muka terlebih dahulu untuk pembayaran kios. Pada mulanya lokasi yang menjadi tempat pemindahan Pasar Ramayana hanya Pasar Jambu Dua. Pasar Jambu Dua disiapkan dengan dibangun kios dan los sejumlah 750 buah sesuai dengan data pedagang yang mau pindah. 2 Berdasarkan pernyataan dari narasumber di Bapeda Kota Bogor dan Disperindagkop Kota Bogor . Pada akhirnya ditetapkan bahwa Pasar Ramayana akan direlokasi ke tiga tempat yaitu Pasar Induk Jambu Dua. Pemda Kota Bogor menetapkan kebijakan untuk memindahkan lokasi Pasar Ramayana.

Sosialisasi mengenai pembangunan pasar tradisional di empat kecamatan dilakukan oleh Dinas Informasi, Pariwisata dan Kebudayaan melalui media massa, sedangkan pada desa-desa sekitar pasar yang akan dibangun sosialisasi dilakukan oleh aparat kelurahan dan kecamatan untuk menyampaikan maksud dan tujuan pembangunan pasar tradisional.

5.2. Penerapan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional 5.2.1. Pemindahan Pasar Induk Ramayana
Relokasi Pasar Ramayana dilaksanakan setelah pembangunan dan persiapan Pasar Jambu Dua, Pasar Kemang dan Pasar Cimanggu selesai. Pemindahan pedagang Pasar Ramayana ke ketiga pasar tersebut dilakukan dengan undian. Pedagang akan mendapatkan kios baru di pasar yang sesuai dengan undian yang diperolehnya. Pedagang yang tidak mau pindah ke ketiga pasar tersebut lebih memilih menjadi pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Bogor pada malam hari dan Pasar Kebon Kembang. Tidak semua pedagang eks Ramayana menempati kios di Pasar Jambu Dua, karena sebagian ada yang menempati Pasar Kemang dan Cimanggu. Pemindahan pedagang Pasar Ramayana ke Pasar Jambu Dua dilakukan pada tanggal 28 Juli – 9 Agustus 2000. Pasar Ramayana ditutup secara resmi pada tanggal 10 Agustus 2000. Kondisi Pasar Induk Jambu Dua, Pasar Induk Kemang dan Pasar Grosir Cimanggu pasca relokasi Pasar Ramayana sebagai berikut: a) Pasar Induk Jambu Dua Pasar Induk Jambu Dua (Gambar 3) dibangun oleh PT. Graha Agung Wibawa tahun 1995 dan mulai beroperasi pada Agustus 2002. Pasar Jambu Dua terletak di Jl. Ahmad Yani, Kecamatan Bogor Utara, yang memiliki luas lahan dan bangunan

sebesar 9.780 m2 terbagi menjadi dua blok, yaitu blok A dan B dengan luas masing-masing 2.472 m2 dan 3.108 m2, sedangkan sisanya adalah luas jalan sebesar 4.200 m2. Pembangunan Pasar induk Jambu Dua telah sesuai dengan rencana yaitu los dengan ukuran 1,5 m x 2 m yang jumlahnya mencapai 756 los. Pedagang yang memiliki tempat berdagang berupa los membuat sekat sendiri sehingga bentuknya mirip dengan kios. Semua pedagang yang menempati los telah membeli los tersebut. Pembelian tempat untuk los tersebut ditangani oleh PT. Graha Agung Wibawa. Pengelolaan pasar ditangani oleh pihak Pemda, yang meliputi pemungutan tarif retribusi dan penanganan sampah. Sebagian pedagang Pasar Jambu Dua merupakan pedagang grosir tetapi masih banyak juga yang merupakan pedagang eceran. Di pasar ini hanya blok A yang aktif dalam kegiatan jual beli sayuran, sembako, daging dan beberapa keperluan rumah tangga lainnya, sedangkan di blok B hanya terdapat beberapa orang pedagang yang berjualan. Los yang tersedia tidak terisi semuanya. Pembelinya pun masih berasal dari satu sisi yaitu dari Cibinong dan Depok serta penduduk sekitar pasar. Keramaian Pasar Jambu Dua masih relatif sepi dan komoditi yang diperjualbelikan masih kurang lengkap. Hal ini mengakibatkan banyak los yang tidak aktif atau tidak dipergunakan pemiliknya. Total los yang disediakan pemerintah sebanyak 756 los, tapi hanya sebanyak 335 los yang terisi dan sekitar 45 los yang aktif. Pedagang-pedagang di Pasar Jambu Dua sebagian besar berasal dari Pasar Ramayana. Aktivitas pasar dimulai pada pukul 15.00 WIB – 23.00 WIB dengan keramaian pasar hanya sekitar 3 – 4 jam saja. Akibatnya banyak pedagang Jambu

Dua yang menjadi PKL di sekitar Pasar Kebon Kembang dan Pasar Baru Bogor pada pagi hari dan baru berjualan di Pasar Jambu Dua sore harinya. Tetapi ada juga yang berjualan pagi hari di Pasar Jambu Dua namun malamnya mereka menjadi PKL di Pasar Baru Bogor dan di sekitar jalan Surya Kencana.

Gambar 3. Pasar Induk Jambu Dua
b) Pasar Grosir Cimanggu Pasar Cimanggu (Gambar 4) terletak di Jl. Raya Kemang, Kecamatan Tanah Sareal dengan luas sekitar 3,3 ha. Pasar ini dibangun oleh PT. Mayo Waya. Pembangunan Pasar Cimanggu telah sesuai dengan rencana berupa los, kios dan ruko. Los terdiri dari dua ukuran yaitu 2 m x 3 m dan 2 m x 6 m, sedangkan kios berukuran 3 m x 5 m. Adapun ukuran ruko adalah sebesar 4,5 m x 10 m. Pasar Cimanggu dibangun untuk menampung pedagang Pasar Ramayana yang tidak dapat ditampung oleh Pasar Jambu Dua. Kegiatan operasional pasar dimulai setelah para pedagang di Pasar Ramayana dipindahkan. Keramaian Pasar Cimanggu hanya bertahan hingga tiga bulan. Awal mula kegiatan pasar dioperasionalkan masih banyak pedagang yang berdagang di Pasar Cimanggu, akan tetapi pembeli yang berkunjung sedikit karena hanya berasal dari penduduk sekitar kompleks Taman Yasmin. Hal ini mengakibatkan banyak pedagang yang gulung tikar, sehingga mereka pindah ke Pasar induk Kemang.

27 blok untuk los yang terdiri dari 1. Desa Cibadak. Pedagang yang memiliki kios sekitar 60 orang dan pedagang yang . Pasar Induk Kemang berada di bawah pengelolaan PT. Pasar ini dibangun oleh PT. Sampai saat ini belum ada pemungutan tarif retribusi yang dilakukan oleh pihak pengelola pasar. Kecamatan Tanah Sareal dengan luas 3. Gambar 4.5 m x 2 m. Galvindo Ampuh. Pedagang yang aktif sebanyak 600 orang terdiri dari sebagian besar pedagang Pasar Ramayana. pasar lainnya dan pedagang baru.516 buah dengan ukuran 2 m x 3 m serta los mini sebanyak 895 buah dengan ukuran 1. Pada tahun 1999. artinya tidak ada puncak-puncak keramaian. Teknik Umum bekerja sama dengan PT. Soleh Iskandar.Pasar Cimanggu beroperasi selama 24 jam dengan kondisi yang stabil sepanjang waktu. Kelurahan Kayu Manis. Pedagang hanya dipungut tarif listrik dan kebersihan masing-masing sebesar Rp 1000 dan Rp 500 setiap harinya. Pasar Induk Kramat Jati. Kegiatan operasionalnya mulai berjalan tanggal 11 Agustus 2000 dengan jumlah kios sebanyak 104 buah. Pasar Grosir Cimanggu c) Pasar Induk Kemang Pasar Induk Kemang (Gambar 5) terletak di Jl. Kyai H. Fradanita Sakti pada tahun 1996. dibagi menjadi 4 blok dengan ukuran 3 m x 4 m per kios.7 ha.

Hal ini terlihat dari pedagang yang terdapat di Pasar Induk Kemang merupakan pedagang grosiran. Tangerang. Pemerintah Kota Bogor menetapkan untuk membangun pasar tradisional di empat kecamatan.2. Ciputat. terlihat dari konsentrasi pembeli berasal dari berbagai daerah seperti Kabupaten Bogor. Kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Gambar 5. Dengan demikian terdapat kios dan los yang tidak aktif. Pasar Induk Kemang 5. Pembangunan Pasar Tradisional Untuk mendukung pemerataan pertumbuhan ekonomi. Serang dan Jakarta.2. Pasar Induk Kemang beroperasi dari pukul 13.00 WIB – 23. Sampai saat ini belum ada pemungutan tarif retribusi terhadap para pedagang. Pedagang hanya dipungut untuk membayar keamanan dan kebersihan masingmasing sebesar Rp 500 dan Rp 1000 setiap harinya. Pasar ini merupakan pasar yang benar-benar berfungsi sebagai pasar induk di antara kedua pasar induk baru lainnya. Hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut adalah tersedianya sarana perekonomian sebagai salah satu wadah untuk menggerakkan dan .00 WIB sampai pagi hari dengan keramaian pada pukul 16. Pasar Induk Kemang relatif ramai dibandingkan pasar induk baru lainnya.00 WIB.memiliki los sekitar 500 orang.

buah-buahan dan sayuran. kelontong.menumbuhkan ekonomi wilayah sehingga kegiatan ekonomi masyarakat dapat berkembang dengan baik serta terbukanya kesempatan. maka mulailah dilakukan penataan-penataan dengan melakukan penyekatan dengan kayu. Pemerintah pada awalnya hanya membangun emplacement dengan penutup asbes. Namun setelah APBD disetujui. Namun setelah los tersebut dimiliki oleh para pedagang. bahkan ada pula yang sudah memakai pintu rolling door. Lokasi pasar ditetapkan pertama kali di Desa Cibuluh. masing-masing sebanyak 24 los yang dibuat berderet per baris.000.400 m2 dengan anggaran Rp 385. Pasar ini dibangun pada tahun 1999-2000 pada lahan seluas ± 2. Jumlah kios dan los yang telah dibangun adalah sebanyak 120 los dengan ukuran 2 x 2 meter yang dikelompokkan atas pedagang sembako. berdekatan dengan lokasi rencana pembangunan terminal type B. Kepemilikan kios dilakukan tanpa adanya uang muka. Hingga saat ini baru tiga pasar yang telah direalisasikan pembangunannya yaitu sebagai berikut : a) Pasar Tanah Baru Pasar Tanah Baru (Gambar 6) dibangun atas keinginan warga sekitar Desa Tanah Baru yang disampaikan oleh aparat kelurahan melalui kegiatan musyawarah pembangunan desa (musbangdes). Sampai saat ini los yang telah dimiliki pedagang sebanyak 94 los dan yang terisi sebanyak 46 los. Namun yang benar-benar aktif berjualan hanya sebanyak 10 los saja.267. ternyata harga lahan di tempat tersebut sudah melebihi anggaran yang disiapkan sehingga pemerintah mengalihkan ke lokasi baru yaitu di pinggir Jalan Tanah Baru sesuai usulan Pemerintah Desa Tanah Baru. antar los satu dengan lainnya hanya dibatasi oleh garis saja. pakaian. harga jual akan .00.

ditentukan setelah pasar benar-benar berkembang.282. Pasar Tanah Baru b) Pasar Pamoyanan Selain di Kelurahan Tanah Baru.355. Pemda Kota Bogor telah berupaya untuk memperbaiki kondisi fisik pasar yaitu dengan program Penataan Pasar Tradisional Tanah Baru dengan anggaran dana sebesar Rp 12. toilet serta perbaikan atap dan sekat los.500. Gambar 6.00. Untuk meningkatkan aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Baru. Penentuan kios dilakukan secara undian dengan mendahulukan warga sekitar pasar dengan perbandingan 60 persen warga Kelurahan Tanah Baru dan 40 persen penduduk luar. Daerah ini merupakan daerah dengan penduduk yang masih jarang namun didukung dengan kondisi jalan yang cukup baik dan adanya angkutan perkotaan.000. Pengembangan Pasar Pamoyanan menghabiskan dana sebesar Rp 404.00. Program ini bertujuan untuk menyempurnakan sarana penunjang di Pasar Tanah Baru seperti fasilitas mushola. pemerintah juga telah membangun pasar tradisional di Kelurahan Pamoyanan. Pada tahun 2001 dilakukan pengadaan tanah dan pembangunan . Pasar Pamoyanan dibangun dengan tujuan untuk menampung pedagang yang belum memiliki kios/los. Lokasi Pasar Pamoyanan (Gambar 7) berada di jalan alternatif Bogor – Sukabumi melalui Caringin.

dan sampai dengan akhir .pasar tradisional di Kelurahan Pamoyanan yang menghabiskan dana sebesar Rp 199. sembako dan kebutuhan pokok lainnya di pasar ini. hanya sekitar 2 buah kios yang berjualan.200 m2 dengan jumlah kios sebanyak 72 buah. Pasar Pamoyanan c) Pasar Bubulak Rencana lokasi Pasar Bubulak (Gambar 8) berada di lintasan Jalan Baru Kemang – Sindang Barang.720. dan barang yang diperdagangkan berupa alat-alat listrik dan barang-barang kebutuhan pokok.000. namun dengan adanya jalan tersebut dan pembangunan Terminal Bubulak menjadikan wilayah ini berpotensi untuk berkembang lebih cepat. Pasar Pamoyanan dibangun dengan luas sekitar ±1. yang merupakan jalan baru hasil pembangunan. Sampai saat ini tidak ada kegiatan jual beli sayuran. Kios tersebut dimiliki oleh penduduk sekitar pasar.00.000. Pembeli yang datang ke pasar ini pun hanya sebatas penduduk sekitar pasar saja. Status pasar saat ini masih tidak aktif dalam kegiatan jual beli karena sepinya pedagang. Pembangunan Pasar Bubulak mendapat alokasi dana Rp 500. Kondisi wilayahnya pada waktu itu merupakan daerah jarang penduduk.00. Gambar 7.000. Penduduk sekitar pasar lebih memilih membeli kebutuhan pokok langsung ke Pasar Sukasari karena harga yang lebih murah dan barang yang lebih lengkap.

sehingga bangunan pasar tidak dimanfaatkan sama sekali. Program Pendukung Lainnya Berbagai upaya lain yang telah dilaksanakan oleh pemerintah untuk meningkatkan peran dan fungsi pasar sebagai salah satu media bagi berlangsungnya kegiatan perdagangan di tingkat masyarakat antara lain: . kegiatan operasional pasar tidak berjalan. ketiga pasar tradisional tersebut belum dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) karena sepinya pedagang sehingga belum bisa memberikan kontribusi PAD berupa retribusi. pengelolaan pasar masih ditangani oleh aparat kelurahan dan kecamatan. Saat ini bangunan pasar telah dialihfungsikan sebagai terminal bis Trans Pakuan. 5.3. pembangunan talud sepanjang 256 m dan pembangunan saluran air sepanjang 196 m. Pembangunan Pasar Bubulak didukung dengan adanya pembangunan jalan masuk ke areal pasar sepanjang 1. Hal ini karena tidak ada pedagang yang mau menempati los di pasar ini. Sejak dibangun hingga saat ini. Gambar 8. Dengan demikian.460 m. pembuatan pagar pembatas dengan panjang 220 m. Pasar Bubulak Sampai saat ini.2.Desember 2003 telah terealisasi satu unit pasar dengan kapasitas 72 unit los dengan ukuran 2 m x 2 m.

. serta sebagai upaya pengendalian stock barang. d) Optimalisasi pemanfaatan kios dan los berupa anjuran kepada pemilik kios untuk segera menempati kios dan losnya. c) Pengembangan sistem informasi dan pemasaran dengan tujuan untuk menciptakan informasi pasar. harga dan hasil produk serta mempromosikan produk dalam rangka perluasan pasar. bertujuan untuk meminimalisasi jumlah PKL yang terkonsentrasi di pusat kota sehingga dapat disebar ke berbagai wilayah Kota Bogor.a) Memantau lalulintas barang dan jasa. penertiban pemanfaatan kios serta peningkatan kemampuan SDM pengelola pasar melalui diklat atau pelatihan. b) Penataan dan penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL). untuk mengetahui tingkat perkembangan harga bahan kebutuhan pokok masyarakat sebagai bahan penghitungan inflasi.

Intensitas pengaruh dan kepentingan stakeholders didasarkan pada bentuk interaksi. Perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dipengaruhi oleh tingkat kepentingan dan tingkat pengaruh stakeholders. keuntungan dan dampak yang dihasilkan terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional serta posisi yang kuat dalam setiap pengambilan keputusan yang akan dilakukan. Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Bogor. ANALISIS STAKEHOLDERS Hasil analisis stakeholders yang dilakukan menunjukkan terdapat beberapa stakeholders yang terkait dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. Pihak yang tergolong stakeholders sekunder adalah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor. Penggolongan stakeholders dibuat berdasarkan tingkat kepentingannya terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional. Stakeholders sekunder merupakan mereka yang terkait dengan kebijakan secara tidak langsung dalam proses pengembangan pasar tradisional.VI. . Dinas Tata Kota dan Pemukiman (DTKP) Kota Bogor dan pengelola pasar swasta. yaitu kelompok pedagang. Masing-masing stakeholders memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang berbeda-beda. Hasil analisis stakeholders ditunjukkan pada Tabel 11. baik secara positif (penerima manfaat) atau negatif (terkena dampak negatif) akibat pengembangan pasar tradisional. Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Bogor. Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Bogor dan pihak pengelola pasar pemerintah (UPTD). Stakeholders primer merupakan mereka yang dipengaruhi secara langsung.

Hasil Analisis Stakeholders dalam Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Kriteria Evaluasi Stakeholders Masyarakat Pedagang Kepentingan Meningkatkan aktivitas ekonomi (berdagang) Meningkatkan kesejahteraan hidup Pelaksanaan penyusunan perumusan kebijakan perencanaan daerah. penyusunan program serta kebijakan keuangan Mengatur koordinasi antar instansi Pemda dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis Pelaksanaan kebijakan teknis operasional di bidang perdagangan (pasar tradisional) Pembinaan terhadap pedagang Pelaksana teknis dalam pengelolaan pasar Pembinaan terhadap pedagang Pelaksana teknis dalam pembangunan fasilitas umum (termasuk pasar tradisional) Pengendalian tata kota Menjaga kualitas lingkungan dan kebersihan kota termasuk lingkungan pasar tradisional Sikap 2 SDM 2 Kekuatan Finansial Politik 2 1 Pengaruh 5 Total 10 Keterlibatan Terlibat Keputusan Tingkat Keterlibatan Penerima informasi Bapeda 3 5 5 5 15 45 Terlibat Pengambilan keputusan kebijakan Disperindagkop UPTD DTKP 3 2 2 5 3 5 5 3 5 4 2 4 14 8 14 42 16 28 Terlibat Terlibat Terlibat Pengambilan keputusan kebijakan Pemberi pertimbangan Pemberi pertimbangan DLHK Dispenda 2 5 5 4 14 28 Terlibat Terlibat Tidak terlibat Pemberi pertimbangan Pemberi pertimbangan Tidak terlibat Pembukuan dan pelaporan PAD termasuk retribusi pasar tradisional Pengelola Pasar Meningkatkan pengelolaan pasar secara Swasta profesional Sumber: Data primer (diolah) 2 1 5 3 5 3 4 1 14 7 28 7 .Tabel 11.

DTKP Kota Bogor 8. Stakeholders yang memiliki kepentingan tinggi merupakan stakeholders primer yaitu yang kepentingannya dipengaruhi secara langsung oleh kebijakan. DLHK Kota Bogor 7.Tabel 11 memperlihatkan tingkat pengaruh dan kepentingan masingmasing stakeholders dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. birokrasi dan struktural. Kepentingan stakeholders dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional dipengaruhi oleh faktor sosial. Masyarakat pedagang 4. Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders dalam Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor . Pengelola pasar swasta 6. Stakeholders yang memiliki kepentingan rendah merupakan stakeholders sekunder yang kepentingannya dipengaruhi secara tidak langsung terhadap kebijakan. Pengaruh stakeholders yang berbeda-beda dalam kebijakan ini dipengaruhi oleh politik. Dispenda Kota Bogor Rendah Tingkat Kepentingan Tinggi Sumber: Data primer (diolah) Gambar 9a. Disperindagkop Kota Bogor 3. Bapeda Kota Bogor 2. Tinggi C *8 *6 *7 B *1 *2 Tingkat Pengaruh D A *4 *5 *3 Keterangan: 1. ekonomi dan budaya. UPTD 5. Hasil dari kajian pada Tabel 11 digunakan sebagai dasar dalam penyusunan matriks kepentingan dan pengaruh stakeholders dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor seperti yang ditunjukkan pada Gambar 9a.

Gambar 9a menunjukkan bahwa stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan tertinggi adalah Bapeda Kota Bogor dan Disperindagkop Kota Bogor terkait dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Bapeda merupakan lembaga pemerintah yang bertugas mengumpulkan semua data dan program yang direncanakan oleh semua instansi-instansi pemerintah di wilayah Kota Bogor. Seluruh data dan program tersebut bersumber mulai dari tingkat masyarakat desa, kelurahan, kecamatan dan disampaikan dalam Musyawarah Rencana

Pembangunan (Musrenbang). Penentuan hasil dan keputusan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan harus berdasarkan program prioritas pembangunan nasional yang tertuang pada rancangan awal rencana kerja pembangunan. Hasil yang didapat oleh Bapeda dituangkan dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK). Melalui RTRW dan RDTRK, Bapeda menuangkan apa yang menjadi keinginan dari masing-masing instansi pemerintah dengan tujuan untuk menciptakan kesinergisan dan tidak terjadi tumpang tindih kepentingan masing-masing instansi. Bapeda memiliki peran dan pengaruh yang kuat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Peran Bapeda yaitu merencanakan pembangunan wilayah Kota Bogor dalam skala makro di semua bidang kerja Kota Bogor termasuk di bidang perdagangan. Pada kebijakan pengembangan pasar tradisional ini, Bapeda yang merencanakan kebijakan pemindahan Pasar Ramayana dan pembangunan pasar tradisional di setiap kecamatan dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di setiap wilayah. Bapeda juga menentukan

lokasi pasar yang akan jadi pasar pengganti dan lokasi yang akan dibangun pasar tradisional. Tingkat kepentingan Bapeda Kota Bogor terhadap kebijakan

pengembangan pasar tradisional tinggi karena berdasarkan pada tugas pokoknya dalam upaya perencanaan dan pembangunan daerah serta mengkoordinasikan progam kegiatan seluruh instansi pemerintah kedinasan Kota Bogor agar berjalan sesuai dengan prioritas pembangunan daerah. Bapeda merupakan pihak yang memiliki pengaruh tertinggi dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional berdasarkan tingkat kewenangannya dalam merencanakan suatu kebijakan. Bapeda memiliki wewenang dalam mempengaruhi dan mengarahkan kebijakan mulai dari perencanaan lokasi hingga tahap implementasi. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Bogor memiliki tugas pokok yaitu melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang perdagangan, perindustrian dan koperasi serta melaksanakan program yang telah ditetapkan oleh Bapeda. Fungsi Disperindagkop di antaranya yaitu di bidang perdagangan dengan melakukan pengawasan terhadap barang-barang yang dijualbelikan di pasar, baik pasar tradisional maupun pasar modern.

Disperindagkop juga berfungsi dalam melakukan pembinaan dan pemberdayaan terhadap pedagang, usaha kecil menengah (UKM) dan koperasi dalam hal permodalan, kebutuhan fasilitas kredit serta melaksanakan program untuk peningkatan sarana dan prasarana pasar. Oleh karena itu, Disperindagkop memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang tinggi. Pada kebijakan pengembangan pasar tradisional, Disperindagkop

merupakan instansi pemegang tanggungjawab dalam pelaksanaan program

pemindahan Pasar Ramayana dan pembangunan pasar tradisional. Disperindagkop memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keputusan yang diambil terkait dengan pengambilan keputusan kebijakan karena Disperindagkop memiliki wewenang dalam mengelola dana proyek serta menentukan bentuk kegiatan yang dapat dilakukan atau tidak dapat dilakukan dalam kebijakan ini. Masyarakat sebagai sasaran program dalam hal ini khususnya pedagang memiliki kepentingan tertinggi, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk

mempengaruhi kebijakan pengembangan pasar tradisional. Mereka memiliki kepentingan tertinggi karena pasar tradisional merupakan tempat mereka bekerja sehingga kebijakan pengembangan pasar tradisional akan mempengaruhi tingkat pendapatan mereka. Namun tingkat kekuatan pedagang dalam kebijakan ini rendah sehingga mereka tidak memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan kebijakan. Mereka hanya dilibatkan dalam proses perencanaan yaitu ketika Pasar Ramayana akan dipindah melalui musyawarah antara kelompok pedagang dan pejabat pemerintah. Keluhan-keluhan pedagang selama ini disampaikan kepada pihak pengelola pasar, yang kemudian akan disampaikan oleh pihak pengelola pasar kepada Disperindagkop. Pihak pengelola pasar pemerintah (UPTD) memiliki kepentingan tinggi terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional. Hal ini didasarkan pada tugas pokok UPTD sebagai pengelola pasar pemerintah yang berkaitan langsung dengan pedagang yaitu melakukan pengelolaan pasar terutama dalam hal pendataan pedagang dan penarikan retribusi. UPTD tidak memiliki kekuatan untuk ikut mengambil keputusan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional karena secara struktural dan birokrasi UPTD berada di bawah Kepala Disperindagkop,

DLHK dan DTKP Kota Bogor. Kepentingan mereka terhadap kebijakan ini hanya terbatas pada tugas pokok dan fungsi masing-masing instansi. Dispenda memiliki kepentingan rendah karena hanya berkaitan dengan pembukuan dan laporan penerimaan retribusi pasar tradisional. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan memiliki tugas untuk menjaga kebersihan lingkungan Kota Bogor. Pada pembahasan rencana kebijakan. Ketiga stakeholders tersebut memiliki tingkat pengaruh yang tinggi dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional karena secara birokrasi dan struktural ketiga instansi tersebut memiliki posisi yang sama dengan Bapeda dan Disperindagkop. sedangkan DTKP berfungsi sebagai pelaksana teknis yaitu pemegang proyek untuk pembangunan pasar tradisional.sehingga kekuatan pengaruh UPTD dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional tergolong rendah yaitu terbatas pada usulan-usulan yang tercantum dalam laporan pertanggungjawaban UPTD. sehingga masalah sampah pasar menjadi tanggung jawab dari DLHK. Instansi lain yang ikut terlibat dalam kebijakan ini yaitu Dispenda. Kepentingan rendah pada tiga stakeholders tersebut karena ketiga instansi ini tidak terlibat secara langsung dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Padahal pihak UPTD yang menerima keluhan langsung dari para pedagang. sehingga tugasnya terbatas pada pembangunan fisik pasar sesuai rencana yang telah ditentukan oleh Bapeda. . Ketiga instansi ini memiliki tingkat pengaruh yang tinggi namun tingkat kepentingannya terhadap kebijakan rendah. mereka dapat memberikan pertimbangan sesuai dengan fungsi masing-masing instansi yang dapat mempengaruhi hasil perencanaan kebijakan.

Akibatnya dalam . sehingga mereka tidak dilibatkan dalam proses kebijakan pengembangan pasar tradisional. Tindakan yang perlu dilakukan bagi stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan tinggi adalah pelibatan stakeholders dalam setiap pengambilan keputusan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Tindakan bagi stakeholders yang memiliki kepentingan tinggi dengan pengaruh rendah adalah dilibatkan dalam hal penyaluran data dan informasi mengenai potensi pasar tradisional dan upaya pengembangannya. Pedagang dan pihak pengelola pasar yang memiliki kepentingan tinggi terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak memiliki tingkat pengaruh yang tinggi dalam pengambilan keputusan. Stakeholders yang memiliki kepentingan yang tinggi. tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholders memiliki hubungan yang erat. Pada kenyataannya stakeholders yang memiliki kepentingan tinggi justru tidak memiliki kekuatan dalam mempengaruhi kebijakan pengembangan pasar tradisional. Sedangkan bagi stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan rendah maka tindakan yang perlu dilakukan cukup dengan melakukan pengawasan (monitor) tanpa perlu terlibat secara langsung dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. Pada kondisi ideal (Gambar 9b). akan memiliki kekuatan yang tinggi pula dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional.Pihak swasta sebagai pengelola pasar memiliki kepentingan dan pengaruh yang rendah karena kepentingan mereka hanya terbatas pada pasar yang mereka kelola saja. Stakeholders yang memiliki kepentingan rendah dengan pengaruh tinggi dapat dilibatkan untuk memberi pertimbangan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional.

kebijakan yang dihasilkan pun akhirnya menjadi tidak tepat karena lebih mementingkan kepentingan dari pemerintah saja tanpa mengakomodir kepentingan pedagang dan masyarakat. Pengelola pasar swasta 6. DTKP Kota Bogor 8. UPTD dan pengelola swasta. Oleh karena itu. Tinggi C *8*6 *7 B *1 *2 *3 *4 Tingkat Pengaruh D A *5 Keterangan: 1. DLHK Kota Bogor 7. Disperindagkop Kota Bogor 3. Masyarakat pedagang yang memiliki kepentingan tertinggi seharusnya memiliki tingkat pengaruh yang tinggi pula dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional.perencanaan dan penyusunan kebijakan. Bapeda Kota Bogor 2. Dispenda Kota Bogor Rendah Tingkat Kepentingan Sumber: Data primer (diolah) Tinggi Gambar 9b. Hal ini dikarenakan kebijakan pengembangan pasar tradisional disusun untuk mengakomodir kepentingan pedagang sehingga dengan adanya kebijakan ini pedagang tidak akan . UPTD 5. Matriks Kepentingan dan Pengaruh Stakeholders pada Kondisi Ideal dalam Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Gambar 9b menunjukkan kondisi yang seharusnya terjadi dari tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholders yang terlibat dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. Masyarakat pedagang 4. pemerintah kurang mendapat informasi mengenai kondisi riil di lapangan karena tidak dilibatkannya pedagang.

Pihak swasta dapat mengelola pasar milik pemerintah secara profesional sehingga pasar tradisional dapat berkembang secara mandiri dan tidak tergantung pada anggaran pemerintah. Keterlibatan masyarakat pedagang dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional ini yaitu dengan keterlibatan komunitas pedagang pasar melalui asosiasi pedagang untuk menjadi mitra pemerintah dalam mengelola pasar. Pihak swasta sebagai pengelola pasar juga seharusnya dilibatkan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. namun mereka memiliki potensi untuk berpengaruh terhadap kebijakan pengembangan pasar tradisional. sehingga dengan dilibatkannya pedagang dalam mengelola pasar maka mereka juga akan ikut menjaga kebersihan dan kenyamanan pasar sehingga lebih bersih dan rapi. . Meskipun peran mereka hanya terbatas pada pasar yang mereka kelola saja. dengan dilibatkannya pedagang akan lebih menarik konsumen karena pedaganglah yang mengerti kondisi riil konsumennya. Selain itu. Dengan demikian kemungkinan kebijakan ini untuk berhasil dilaksanakan akan semakin besar. maka dukungan terhadap kebijakan akan bertambah dalam artian tidak ada pedagang yang akan menolak kebijakan. Pihak UPTD sebagai pengelola pasar pemerintah juga seharusnya memiliki tingkat pengaruh yang tinggi dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional. dengan dilibatkannya para pedagang dalam perencanaan kebijakan. Keterlibatan UPTD dalam penyusunan kebijakan akan sangat berguna dalam perumusan kebijakan yang tepat sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.merasa dirugikan. karena pihak UPTD-lah yang benar-benar berhubungan dengan para pedagang dan konsumen di pasar sehingga mereka mengerti kondisi riil di lapangan. Selain itu.

Diskusi ini dilakukan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan kepentingan antara pemerintah. Adanya diskusi bukan hanya mengenai sosialisasi kebijakan kepada pedagang saja namun pemerintah juga harus mendengarkan keberatan-keberatan dari pihak pedagang dan mencari solusi bersama. Apabila kesepakatan telah tercapai maka seluruh pihak harus mau menaati kebijakan dan ditetapkan sanksi bagi yang melanggar kebijakan yang telah disepakati. . Studi kelayakan yang dilakukan dapat berupa diskusi atau musyawarah dengan warga dan pedagang untuk mengetahui kondisi riil di lapangan melalui suatu forum komunikasi. Studi kelayakan ini merupakan salah satu bentuk partisipasi dari keterlibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakan. pengelola pasar dan pedagang sehingga pada akhirnya seluruh pihak dapat dipuaskan dengan adanya kebijakan.Sebelum pemerintah melakukan suatu kebijakan pengembangan pasar tradisional maka seharusnya dilakukan studi kelayakan yang komprehensif terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi riil di lapangan. Pengelola pasar (UPTD) perlu diberikan pelatihan khusus agar dapat mengelola manajemen pasar secara lebih profesional. Dinas ini memiliki kewajiban untuk menindaklanjuti keluhan pedagang. Pedagang juga memiliki hak atas informasi apapun yang berkaitan dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Perlu dibentuk dinas atau lembaga yang menangani keluhan pedagang/masyarakat selama proses perencanaan sampai dengan pelaksanaan kebijakan.

24 persen. Penyebab kegagalan kebijakan dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilihat dari dua aspek. Proses dalam perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional dapat mempengaruhi penerapan kebijakan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi hasil kebijakan. Adanya penyimpangan dalam tahapan proses perencanaan dan perumusan kebijakan dapat memberikan petunjuk dalam menganalisis penyebab ketidakberhasilan kebijakan. Apabila dalam penyusunan kebijakan itu sendiri kurang tepat maka akan berdampak pada implementasi kebijakan. ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL Analisis kebijakan pengembangan pasar tradisional dilakukan untuk mengetahui penyebab ketidakberhasilan kebijakan di Kota Bogor. yaitu proses dan penerapan. 7.1.18 persen. Faktor yang menyebabkan proses pembuatan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat berdasarkan persepsi responden secara berurutan yaitu keterlibatan stakeholders sebesar 16. Proses perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor dianalisis sesuai dengan kriteria dan indikator yang telah ditentukan (Lampiran 1). Analisis Proses Analisis proses dimaksudkan untuk mengetahui tahapan-tahapan perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional serta keterlibatan stakeholders. partisipasi publik sebesar 13. akuntabilitas sebesar 12.20 persen. proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional yang benar sebesar 14.72 persen. responsivitas .VII. kemudian baru dikaji mengenai penyebab ketidakberhasilan kebijakan.

Sosialisasi Kebijakan E. Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional dari Segi Proses Pembuatan Kebijakan Gambar 10 memperlihatkan urutan kriteria penyebab kurang berhasilnya kebijakan pengembangan pasar tradisional dari segi proses pembuatan kebijakan yaitu : .24 I J 13.18 D E F G H 10.06 14.64 persen.61 Keterangan : A. Hasil selengkapnya mengenai peringkat faktor penyebab ketidakberhasilan kebijakan pengembangan pasar tradisional dari segi proses pembuatan kebijakan dapat dilihat pada Gambar 10. 7.64 16. Proses Penyusunan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional yang Benar B.61 persen.sebesar 10. Kebijakan Lain yang Tidak Tumpang Tindih dari Pengembangan Pasar Tradisional Gambar 10. Transparansi G. transparansi sebesar 9.15 persen. Responsivitas H.11 9. kebijakan lain yang tidak tumpang tindih dari pengembangan pasar tradisional sebesar 7.14 4. sosialisasi kebijakan sebesar 7. Akuntabilitas C.15 9. Tersedianya Dana yang Memadai dan Berkelanjutan I.11 persen dan terakhir yaitu tersedianya dana yang memadai dan berkelanjutan sebesar 4. Ego Sektoral J.14 persen.20 7. ego sektoral sebesar 9.06 persen. Keterlibatan Stakeholders D. Partisipasi Publik F.72 A B C 12.

Hal ini dikarenakan Bapeda yang merumuskan perencanaan dan menentukan lokasi tempat yang akan menjadi pengganti Pasar Ramayana serta menetapkan lokasi di setiap kecamatan di mana pasar tradisional akan dibangun. ternyata tidak semua stakeholders yang terkait dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional terlibat dalam proses pengambilan keputusan dalam perencanaan kebijakan. Pihak pengelola pasar pada waktu itu masih berupa Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) yang bertugas untuk menyampaikan sosialisasi kepada pedagang Pasar Ramayana mengenai rencana pemindahan dan mendata jumlah pedagang yang akan dipindah. yaitu PT. juga menilai apakah lokasi tersebut layak untuk dibangun pasar tradisional. Kriteria ini merupakan faktor utama yang menyebabkan kebijakan kurang berhasil mencapai tujuannya berdasarkan persepsi responden. wewenang dan tanggungjawab dari stakeholders yang terlibat.7. pemahaman fungsi. Pihak swasta berperan sebagai developer. pihak swasta dan pedagang. Mayo . Hal tersebut dapat dilihat dari indikator keterlibatan seluruh pihak dalam proses perencanaan kebijakan ini. Bapeda memiliki peran utama. dan stakeholders yang terlibat memahami program dengan baik.1. Indikatornya yaitu melibatkan seluruh stakeholders yang berkepentingan dalam proses perencanaan. Proses perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional ini seharusnya melibatkan tiga stakeholders utama yaitu pemerintah daerah diwakili oleh Bapeda dan UPTD. Keterlibatan stakeholders. Hasil analisis stakeholders terlihat bahwa pedagang yang memiliki kepentingan tinggi tidak dilibatkan dalam proses perencanaan kebijakan. Pada proses perencanaan kebijakan ini.1. teridentifikasinya kepentingan setiap stakeholders.

pengelola pasar Stakeholders yang terlibat Bapeda. Pedagang hanya disosialisasikan mengenai rencana pemindahan pasar tetapi tidak ikut dilibatkan dalam proses penentuan tempat sebagai pasar pengganti. dominasi paling tinggi terdapat pada pihak Bapeda. DLHK. Dispenda. DTKP. Bapeda. Tabel 12. Dispenda Disperindagkop. Disperindagkop. Dispenda. pedagang. UPTD. Disperindagkop. Dispenda. Teknik Umum yang membangun Pasar Cimanggu. DLHK. pedagang UPTD. pengelola pasar Keterangan Kebijakan diusulkan dari tingkat desa untuk dibahas instansi pemerintah bersama Walikota Terdapat dominasi peran Bapeda 2 Perencanaan kebijakan 3 Pelaksanaan kebijakan UPTD. Bapeda. pedagang. developer Bapeda. Disperindagkop. Pemdes. DTKP. Pasar Kemang dan Pasar Cimanggu. DTKP. Disperindagkop. UPTD. Bapeda. Pemkec. DLHK. UPTD. . DTKP. Pemdes. developer Pada pelaksanaan program hanya melibatkan sebagian pedagang Sumber : Data primer (diolah) Tabel 12 menunjukkan bahwa pada proses perencanaan kebijakan. Disperindagkop. DTKP. akan tetapi setelah Pemerintah menetapkan bahwa Pasar Ramayana akan dipindah ke tiga lokasi yaitu Pasar Jambu Dua. Adanya dominasi yang tinggi oleh Bapeda mengakibatkan proses perencanaan hanya didasarkan pada pandangan pihak Pemerintah dan kurang memahami kepentingan pedagang. Pemkec. DLHK. DTKP. Analisis Proses Perencanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional No 1 Kegiatan Penyusunan kebijakan Stakeholders yang seharusnya terlibat Bapeda. Dispenda. banyak pedagang yang menolak untuk pindah. Pada mulanya para pedagang setuju untuk dipindahkan ke Pasar Jambu Dua. pedagang. pedagang.Waya yang menangani relokasi Pasar Ramayana ke Pasar Jambu Dua dan Pasar Kemang serta PT. developer. DLHK.

Akibatnya Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu. kurang berhasil menjadi pasar induk karena sepinya pedagang di ketiga pasar tersebut. penyusunan kebijakan berdasarkan informasi yang akurat. Alasan lain. penentuan tempat pemindahan dilakukan secara undian sehingga pedagang harus mau menempati kios baru di pasar yang sesuai dengan undian yang diambilnya. Proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Uji kelayakan yang dilakukan hanya sebatas menilai apakah lokasi tersebut strategis atau tidak tanpa .2. Indikatornya yaitu penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap warga yang membutuhkan. terdapat kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil dan sesuai dengan visi yang dirumuskan dan misi yang diemban. Para pedagang berpendapat dengan dipindahkannya Pasar Ramayana ke tiga lokasi akan mengurangi keramaian ketiga pasar tersebut karena seluruh pedagang yang ada di Pasar Ramayana terpisah-pisah ke tiga lokasi.Selain itu. terbaru dan lengkap. Pasar Kebon Kembang dan di sekitar Jalan Surya Kencana.1. ternyata dalam proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak didasarkan pada informasi yang akurat dan lengkap. Ketika Bapeda merencanakan suatu kebijakan pengembangan pasar tradisional yaitu pembangunan pasar tradisional. tidak dilakukan suatu uji kelayakan secara tepat terlebih dahulu. pedagang yang menolak untuk pindah lebih memilih menjadi PKL di pasar-pasar lain seperti di Pasar Baru Bogor. Banyak pedagang yang semula menempati kios di Pasar Cimanggu lebih memilih pindah ke Pasar Induk Kemang karena tempat yang lebih ramai. 7. Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden.

Pada waktu pembangunan Pasar Bubulak.569 5.958 52.142 74.594 41. Tabel 13 menunjukkan bahwa dua kecamatan tersebut merupakan kecamatan di wilayah Kota Bogor yang memilki kepadatan penduduk paling rendah di antara kecamatan lainnya.187 103.386 8. 2005 Pasar Pamoyanan terletak di wilayah Kecamatan Bogor Selatan dan Pasar Bubulak berada di Kecamatan Bogor Barat.33 17.441 5.578 166.215 Sumber : BPS.333 431.088 423.579 81. ternyata dua pasar tidak layak untuk dibangun yaitu Pasar Bubulak dan Pasar Pamoyanan.07 8. sarana pendukung lainnya seperti sarana transportasi di sekitar pasar dan kondisi sosial ekonomi lainnya.5 Jml RT (KK) 35.187 39.507 12. Pertumbuhan Penduduk dan Persebaran Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Bogor Tahun 2005 No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Tanah Sareal Bogor Tengah Bogor Utara Bogor Selatan Bogor Timur Bogor Barat KOTA BOGOR Luas Wil (km2) 21.753 194. Hal ini dikarenakan kepadatan penduduk sekitar pasar yang masih rendah serta kedua lokasi tersebut bukan merupakan lokasi pusat pemukiman penduduk. Hal ini dapat ditunjukkan dari ketiga pasar yang dibangun oleh Pemerintah.15 32.999 85.745 86.72 28.61 10.864 P 78.517 24.357 Jumlah Penduduk L 79.256 35. akibatnya pasar tradisional yang dibangun di dua kecamatan ini tidak berkembang.221 Tot 158.176 149.034 74.233 51.085 Kep Pddk (/km2) 7.199 7.627 43. sedangkan di Pasar Tanah Baru meskipun saat ini termasuk lokasi pusat pemukiman penduduk.mempertimbangkan jumlah penduduk di sekitar areal.486 96.828 8. Tabel 13. belum ada angkutan umum yang dapat mencapai ke pasar ini sehingga tidak ada pedagang yang mau menempati Pasar Bubulak. akan tetapi angkutan umum yang tersedia masih merupakan kendaraan plat hitam (odong-odong) dengan waktu .492 94.62 18.421 855.058 43.050 18.978 190. Dengan jumlah penduduk yang sedikit maka daya beli masyarakat di Kecamatan Bogor Barat dan Bogor Selatan pun rendah.

Dalam kriteria akuntabilitas. terdapat akses terbuka dan bebas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dalam proses penyusunan kebijakan.00 sampai dengan 18.00.4. terdapat beberapa indikator yaitu penyusunan kebijakan memenuhi standar etika.3. terdapat mekanisme yang menjamin bahwa prinsip dan nilai yang berlaku telah terpenuhi. prinsip-prinsip administrasi yang benar dan nilai-nilai yang berlaku di stakeholders. Selama ini keluhan pedagang disampaikan kepada pemerintah melalui forum komunikasi yang difasilitasi oleh pengelola UPTD. jelas arahnya. sasaran dan tujuan pengembangan ditetapkan berdasarkan konsesus antara pemerintah dan masyarakat.operasional terbatas yaitu dari pukul 06. 7. Akuntabilitas. Hal . Kemudian oleh pengelola UPTD akan disampaikan kepada Kepala Disperindagkop. 7. Ketika penyusunan dan perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional dilakukan. Partisipasi publik. Akibatnya keluhan pedagang selama ini kurang mendapat respon dari dinas terkait karena pihak UPTD sendiri tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mempengaruhi pengambilan keputusan kebijakan sehingga kepentingan pedagang dan masyarakat tidak terakomodir secara optimal. pemahaman tanggungjawab dari pembuat kebijakan terhadap publik dan lembaga stakeholders lain. Indikatornya yaitu adanya forum untuk menampung partisipasi masyarakat yang representatif.1. Kendaraan umum lainnya tidak ada yang melewati Pasar Tanah Baru sehingga jangkauan pasar menjadi terbatas karena konsumennya hanya penduduk di sekitar pasar saja.1. penyusunan kebijakan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sosial. dapat dikontrol dan bersifat terbuka. dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika tidak terpenuhi. prinsip akuntabilitas tidak diterapkan pada waktu itu.

Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah yaitu dengan memindahkan Pasar Ramayana ke tempat lain. terdapat aturan hukum yang menjamin kemudahan stakeholders lain dan masyarakat untuk mengakses informasi kebijakan secara . Selama ini upaya yang dilakukan Pemerintah untuk merelokasi para PKL tersebut belum berhasil.ini dikarenakan prinsip akuntabilitas belum terlalu dipahami oleh para stakeholders sehingga penyusunan dan perencanaan kebijakan menggunakan prosedur yang biasa dilakukan. Transparansi.6.5. proses dan biaya perencanaan kebijakan. Responsivitas. Hal ini sudah menjadi keluhan bagi pedagang di Pasar Jambu Dua karena keberadaan PKL tersebut telah mengurangi keramaian Pasar Jambu Dua. Indikator-indikator yang terdapat pada kriteria transparansi yaitu tersedianya informasi yang jelas tentang prosedur. kepekaan stakeholders dalam menanggapi kepentingan masyarakat. terdapat upaya dari stakeholders untuk merespon pendapat masyarakat. sehingga para PKL masih berjualan dengan bebas di sekitar tempat-tempat tersebut. Pasar Kebon Kembang dan Jalan Surya Kencana. 7. banyak pedagang eks Ramayana yang menjadi PKL di sekitar Pasar Baru Bogor. Dengan demikian tidak ada mekanisme yang menjamin bahwa proses penyusunan kebijakan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sosial. 7. Indikator-indikator dalam kriteria responsivitas yaitu perumusan kebijakan sesuai dengan kebutuhan publik dan perubahan lingkungan. Namun ternyata pasca pemindahan Pasar Ramayana. Pemerintah telah melakukan upaya yang cukup baik dalam menanggapi kepentingan masyarakat seperti keluhan masyarakat terhadap keberadaan Pasar Ramayana di tengah kota yang menimbulkan kemacetan dan pencemaran lingkungan.1.1.

bebas. Ego sektoral. Hal ini masih belum dapat diselesaikan oleh pemerintah hingga saat ini. Pasca relokasi Pasar Ramayana justru terjadi konflik antara pedagang yang mau pindah dengan pedagang yang tidak mau pindah. Pasar Pamoyanan dan Pasar Cimanggu.1. .7. Pada awalnya kebijakan pemindahan Pasar Ramayana tidak menimbulkan konflik yang besar antara pedagang dengan pemerintah karena kebijakan ini merupakan upaya Pemerintah dalam merespon keluhan masyarakat. Tidak tersedianya informasi yang jelas mengenai prosedur. Meskipun terdapat beberapa konflik dengan pedagang yang awalnya tidak mau dipindah namun pada akhirnya dapat terselesaikan setelah disosialisasikan mengenai maksud dan tujuan pemindahan. pembeli tidak akan sebanyak seperti di Pasar Ramayana sehingga mereka khawatir bahwa pendapatan mereka akan berkurang. Sebagian pedagang yang menolak pindah lebih memilih menjadi PKL. proses dan biaya perencanaan kebijakan menjadi salah satu faktor penyebab ketidakberhasilan kebijakan pengembangan pasar tradisional. 7. Indikatornya yaitu pembangunan pasar tradisional memperhatikan kepentingan sektor dan kawasan lain. Akibatnya pembeli di Pasar Jambu Dua menjadi sepi karena mereka lebih memilih lokasi pasar yang ramai penjualnya maupun PKL-nya seperti di Pasar Anyar dan Pasar Baru Bogor. karena mereka beranggapan di pasar baru yang akan menjadi pengganti Pasar Ramayana. Tidak semua masyarakat dapat mengakses informasi tersebut secara bebas. karena para PKL tersebut menolak untuk dipindahkan ke pasar-pasar yang belum penuh seperti Pasar Tanah Baru. dan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak menimbulkan konflik antar sektor atau antar kawasan maupun antara masyarakat dengan pemerintah.

10. karena biaya dan sumber dana yang digunakan untuk kebijakan ini telah teridentifikasi dengan baik dan dana yang digunakan telah sesuai dengan besarnya dana yang dianggarkan serta pembangunan pasar tradisional telah sesuai dengan rencana yang ditetapkan.1. Kriteria ini merupakan peringkat terendah dari kriteria yang menjadi penyebab ketidakberhasilan kebijakan pengembangan pasar tradisional. 7. Kebijakan lain yang tidak tumpang tindih dari pengembangan pasar tradisional. Indikatornya antara lain penyebarluasan informasi mengenai program pengembangan pasar tradisional melalui media massa maupun elektronik pada publik. Indikatornya adalah tujuan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak menimbulkan konflik dengan alternatif program perekonomian wilayah. Program perekonomian wilayah ini tidak menimbulkan konflik dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional.1.8. Sosialisasi dilaksanakan melalui musyawarah dengan pedagang atau tokoh masyarakat. Namun sosialisasi yang dilakukan langsung oleh aparat pemerintah cukup diterima oleh pedagang dan masyarakat.7. . terdapat upaya untuk meningkatkan arus informasi melalui kerjasama dengan media massa dan lembaga non pemerintahan.1. adanya seminar/workshop oleh dinas terkait. 7. Sosialisasi kebijakan pengembangan pasar tradisional dilakukan oleh pihak pengelola pasar dan aparat kelurahan dan kecamatan. Alternatif program perekonomian wilayah di antaranya yaitu program pengembangan ekspor dan sistem distribusi. Sosialisasi kebijakan. Tersedianya dana yang memadai dan berkelanjutan. Pemerintah tidak melakukan sosialisasi melalui media massa maupun elektronik terhadap publik. Indikator dalam kriteria ini yaitu teridentifikasinya biaya atau dana untuk pengembangan pasar.9.

Penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien B.35 persen. Faktor yang menyebabkan penerapan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat berdasarkan persepsi responden secara berurutan yaitu penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien sebesar 11.18 A B 3.32 9. dan terakhir yaitu keterlibatan swasta sebesar 3. ketepatan sebesar 5.59 11.18 persen. Monitoring dan evaluasi program C. Legalitas kebijakan G. Keadilan Gambar 11.32 persen. keadilan sebesar 6. legalitas kebijakan sebesar 7. transparansi sebesar 9. Peringkat (%) Faktor Penyebab Ketidakberhasilan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional dari Segi Penerapan Kebijakan .07 G H I 9.2.35 C D E 7. 6.94 Keterangan : A.73 persen.45 persen.07 persen. monitoring dan evaluasi program sebesar 4. Transparansi F.94 persen.45 F 8. Ketepatan I. Keterlibatan swasta H. Analisis Penerapan Kebijakan Analisis penerapan dimaksudkan untuk mengetahui apakah pelaksanaan kebijakan telah sesuai dengan rencana.59 persen. responsivitas sebesar 8. akuntabilitas sebesar 9.7. Responsivitas D.21 5. Akuntabilitas E. sesuai dengan kriteria dan indikator yang telah ditentukan (Lampiran 2).73 4.21 persen.

Penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien. sasaran atau hasil yang diinginkan telah tercapai. Meskipun sebagian program atau kegiatan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional telah dilaksanakan namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. konsistensi pelaksanaan program sesuai target operasional yang telah ditetapkan. Pasar Kemang dan Pasar Cimanggu Pembangunan Pasar Tanah Baru Pembangunan Pasar Pamoyanan 4 5 Pembangunan Pasar Bubulak Pembangunan Pasar Katulampa 6 Meningkatkan potensi wilayah supaya lebih berkembang Peningkatan pertumbuhan Pembangunan Pasar ekonomi di wilayah Katulampa dibatalkan Katulampa Sumber : Data primer (diolah) . Hasil pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional dapat dilihat pada Tabel 14.Gambar 11 menunjukkan urutan kriteria penyebab kurang berhasilnya kebijakan pengembangan pasar tradisional dari segi penerapan kebijakan yaitu : 7. Analisis Hasil Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional No 1 Program Pemindahan Pasar Ramayana Kondisi ideal Seluruh pedagang eks Ramayana pindah ke Pasar Jambu Dua. Kemang dan Cimanggu Ketiga pasar dapat berfungsi sebagai pasar grosir Wilayah Tanah Baru menjadi berkembang akibat adanya pasar PKL di pusat kota berkurang dan tersedianya fasilitas pasar tradisional di wilayah Bogor Selatan Kenyataan di lapangan Sebagian pedagang menolak pindah dan memilih menjadi PKL Hanya Pasar Kemang yang berfungsi sebagai pasar grosir Pasar Tanah Baru masih berstatus non aktif Pasar Pamoyanan tidak dimanfaatkan karena pedagang tidak mau pindah dan masyarakat lebih suka berbelanja di Pasar Sukasari Pasar Bubulak tidak berjalan sama sekali 2 3 Pembangunan Pasar Induk Jambu Dua.2. ketepatan alokasi sumberdana. yaitu program atau aktivitas telah dilaksanakan.1. program atau aktivitas dilaksanakan secara efektif dan efisien. Indikatornya. Tabel 14.

. Tidak semua program kebijakan dilaksanakan yaitu dibatalkannya pembangunan Pasar Katulampa. 7.2. Hal ini dikarenakan ketidakberhasilan tiga pasar sebelumnya yang telah dibangun oleh Pemerintah. kebijakan pengembangan pasar tradisional yang dilaksanakan oleh pemerintah belum berhasil mencapai sasarannya. Hal ini karena belum adanya sanksi yang tegas bagi para pelaku pelanggar kebijakan sehingga pelaksanaan dan hasil kebijakan belum dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Upaya yang dilakukan hanya sebatas mengusir keberadaan PKL pada waktu-waktu tertentu saja. selain itu banyaknya pedagang yang menolak pindah dan lebih memilih menjadi PKL telah menimbulkan masalah baru bagi upaya pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. keesokan harinya para pedagang kaki lima tersebut kembali berjualan di pinggir jalan.2. Keberadaan PKL di tengah kota telah mengambil jalan-jalan utama di Kota Bogor sehingga menyebabkan kemacetan seperti di Jalan Surya Kencana dan Otista dan secara tidak langsung telah mempengaruhi tingkat keramaian Pasar Jambu Dua dan Cimanggu.Berdasarkan Tabel 14. Selama ini belum ada tindakan tegas dari aparat pemerintah untuk melarang mereka berjualan di pinggir jalan. Akuntabilitas merupakan kriteria yang menempati urutan kedua. Warga Bogor lebih suka berbelanja di Pasar Kebon Kembang dan Pasar Bogor karena banyaknya PKL yang memberikan konsumen pilihan yang lebih banyak. Hal ini mengakibatkan Pasar Jambu Dua dan Cimanggu kekurangan konsumen dan banyak pedagang yang memutuskan untuk pindah ke Pasar Kemang atau menjadi PKL juga. Setelah proses penggusuran selesai. Hal ini dapat ditunjukkan dari keberadaan PKL yang telah menganggu ketertiban umum.

2. Dengan demikian sangat besar kemungkinan bahwa pengaduan dari masyarakat dan pedagang tidak tersampaikan ke instansi yang lebih tinggi .4. proses tender. sasaran yang diharapkan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional belum tercapai sehingga kebijakan ini belum memuaskan kebutuhan publik. 7.5.2. Indikatornya yaitu hasil kebijakan memuaskan kebutuhan publik. Pedagang dan masyarakat hanya disosialisasikan mengenai program-program yang akan dilaksanakan dan jadwal pelaksanaan program saja.3. Selama ini pengaduan dari masyarakat hanya disampaikan kepada aparat kelurahan dan kecamatan. sedangkan alokasi dana dan sumberdaya serta proses tender yang digunakan dalam pelaksanaan kebijakan tidak dapat diakses secara bebas oleh masyakat. Responsivitas. tersedianya mekanisme pengaduan masyarakat. Transparansi. Indikatornya antara lain terdapat dasar hukum yang jelas dalam pelaksanaan program kebijakan pengembangan pasar. Legalitas kebijakan. adanya peraturan mampu menjawab permasalahan pengembangan pasar tradisional.2. 7. adanya sanksi yang tegas bagi pelaku pelanggar kebijakan.7. Para pedagang di Pasar Jambu Dua dan Pasar Cimanggu masih mengeluhkan mengenai kondisi pasar yang relatif lebih sepi dibandingkan dengan pasar-pasar lain. dan dari pedagang disampaikan kepada pengelola pasar. Pada Tabel 14. Seluruh informasi terkait dengan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak disampaikan kepada masyarakat dan pedagang. Indikatornya yaitu keterbukaan informasi dalam pelaksanaan kebijakan terkait sumberdaya. Tidak tersedianya mekanisme pengaduan dan sanksi yang tegas terhadap pelanggar kebijakan menjadi faktor utama dalam kriteria ini. alokasi dana. jadwal pelaksanaan proyek dan hasil yang dicapai.

7. Indikatornya yaitu hasil kebijakan yang dicapai dapat memberikan manfaat kepada kebutuhan publik dan hasil kebijakan yang dicapai dapat memecahkan masalah. Kegiatan monitoring dan evaluasi program dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional dilaksanakan Disperindagkop yang dibantu oleh UPTD. Keterlibatan swasta. Indikatornya yaitu manfaat kebijakan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh pihak dan keikutsertaan pedagang dalam pelaksanaan dan pengawasan program. 7. sedangkan sebagai pengelola pasar . Pihak swasta sebagai developer hanya melaksanakan pembangunan pasar sesuai dengan yang telah direncanakan oleh Bapeda. 7. Pedagang hanya dilibatkan dalam pelaksanaan program tapi tidak dilibatkan dalam pengawasan program. Namun masyarakat kurang dilibatkan dalam pemantauan dan pengawasan program kebijakan pengembangan pasar tradisional. Berdasarkan Tabel 14 menunjukkan bahwa hasil kebijakan yang dicapai belum memberikan manfaat kepada masyarakat dan justru terdapat beberapa masalah yang timbul setelah kebijakan dilaksanakan.7. 7. Sanksi yang tidak tegas juga terlihat dari rendahnya hukuman pada para aparat pemerintah yang tidak melakukan kegiatan operasi terhadap para PKL.wewenangnya.9.6.2.8. Keberadaan aparat tersebut hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Keadilan. yaitu keberadaan PKL di sekitar pasar yang telah mengganggu ketertiban umum.2. Ketepatan. Monitoring dan evaluasi program. Dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional ini pihak swasta dilibatkan sebagai developer dan sebagai pengelola pasar swasta. sehingga PKL masih bebas berjualan di pinggir jalan dan sekitar pasar.2.2.

. Hal ini disebabkan karena dalam proses penyusunan dan perencanaan kebijakan yang kurang tepat sehingga menyebabkan implementasinya yang kurang tepat pula.pihak swasta lebih berprinsip pada profit oriented sehingga pasar yang mereka kelola relatif lebih berkembang dibandingkan dengan pasar yang dikelola pemerintah. Meskipun penerapan yang dilakukan telah sesuai dengan rencana yang ditetapkan. 7. Perencanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional lebih mempertimbangkan pada aspek teknis saja yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah pinggiran dengan membangun sebuah pusat perdagangan Pada proses perencanaan tidak diperhitungkan pula bahwa faktor demografi dan ekonomi sangat berpengaruh terhadap perkembangan suatu wilayah. Selain itu dalam proses perencanaan tidak melibatkan seluruh stakeholders yang betkepentingan. Akibatnya dalam proses penerapan mengalami banyak ketidakberhasilan dalam mencapai tujuannya. sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih banyak mengakomodir kepentingan Pemerintah tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat dan pedagang.3. Hubungan antara Analisis Proses dan Analisis Penerapan Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak mencapai keberhasilan. Stakeholders yang dilibatkan seluruhnya hanya berasal dari Pemerintah Daerah.

195 Teknis 0.421 Sosial 0. DLHK.253 Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0. Disperindagkop. keempat aspek dominan ini teridentifikasi bahwa secara keseluruhan aspek ekonomi (0. 8. Dispenda dan pihak UPTD. STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL Pasar tradisional merupakan basis ekonomi rakyat yang memberikan kontribusi nyata dalam perekonomian nasional.01 Gambar 12.131 Manajemen 0.1. Penentuan prioritas strategi merupakan pendapat gabungan dari 6 responden yang mewakili stakeholders yaitu dari Bapeda. Pasar tradisional merupakan sarana dalam rangka pemberdayaan masyarakat sehingga penyusunan strategi maupun pengembangan pasar tradisional merupakan hal yang sangat penting.421) . Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Berdasarkan penilaian pendapat gabungan dari responden. DTKP. Pemilihan prioritas strategi pengembangan pasar tradisional dilakukan dengan menggunakan teknik AHP. Prioritas Aspek Pengembangan Pasar Tradisional Hasil analisis pendapat gabungan responden mengenai prioritas aspek yang paling penting dalam pengembangan pasar tradisional dapat dilihat pada Gambar 12.VIII. Ekonomi 0.

merupakan aspek yang paling penting, kemudian aspek manajemen (0,253), sosial (0,195) dan terakhir aspek teknis (0,131). Hasil ini menunjukkan bahwa pendapat para responden sesuai urutan prioritas di atas sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai pada penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional. Kebijakan pengembangan pasar tradisional disusun dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi di masing-masing wilayah sehingga terjadi pemerataan perekonomian di seluruh wilayah Kota Bogor. Kebijakan ini disusun dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pasar tradisional sehingga aspek manajemen dalam hal pengelolaan pasar penting, dan untuk mengakomodir kepentingan seluruh pihak yang terkait maka aspek sosial juga penting. Terakhir, aspek teknis terkait dengan kondisi fisik pasar yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan pasar.

8.2. Prioritas Kriteria Pengembangan Pasar Tradisional 8.2.1.Aspek Ekonomi
Hasil analisis mengenai prioritas kriteria pada aspek ekonomi dapat dilihat pada Gambar 13.

PAD

0.250

Kerja

0.482

Kesejahteraan

0.269

Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0,02

Gambar 13. Prioritas Kriteria pada Aspek Ekonomi dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor

Pada Gambar 13 terlihat bahwa kriteria yang memiliki bobot relatif atau memiliki faktor paling dominan adalah menciptakan lapangan kerja (0,482) kemudian diikuti oleh meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat (0,269) dan terakhir yaitu meningkatkan PAD (0,250). Hal ini menunjukkan bahwa hal yang paling utama dalam pengembangan pasar tradisional adalah untuk menciptakan lapangan kerja. Untuk meningkatkan tingkat perekonomian yaitu dengan memberikan kesempatan kerja pada penduduk Kota Bogor. Apabila kesempatan kerja telah ada maka peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pedagang semakin tinggi, dengan semakin banyaknya jumlah pedagang maka PAD pun akan meningkat.

8.2.2.Aspek Manajemen
Hasil analisis mengenai prioritas kriteria pada aspek manajemen dapat dilihat pada Gambar 14.

Profesional

0.288

Usaha Efisien

0.090

Pelayanan

0.253

Penataan PKL

0.370

Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0,01

Gambar 14. Prioritas Kriteria pada Aspek Manajemen dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor

Gambar 14 menunjukkan dari keempat kriteria ini teridentifikasi bahwa secara keseluruhan kriteria penataan dan pembinaan PKL merupakan faktor yang paling penting dalam aspek manajemen (0,370), diikuti oleh kriteria

meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional (0,288), meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (0,253) dan terakhir membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien (0,090). Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan pasar tradisional di Kota Bogor maka penataan dan pembinaan PKL merupakan kriteria yang paling penting pada aspek manajemen. PKL yang tersebar di sekitar pasar dan di pinggir jalan menjadi kendala utama bagi pertumbuhan pasar tradisional, sehingga pengembangan pasar tradisional diarahkan untuk menata PKL dan merelokasi ke pasar-pasar yang ada. Manajemen pengelolaan pasar harus ditingkatkan supaya pasar tradisional dapat menjadi usaha yang profitable sehingga dapat mengatur sendiri keuangannya tanpa tergantung dari anggaran Pemerintah. Untuk memuaskan kebutuhan masyarakat maka kriteria berikutnya yang penting yaitu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sehingga masyarakat tidak beralih ke pasar modern, dan terakhir yaitu membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien.

8.2.3.Aspek Sosial
Hasil analisis mengenai prioritas kriteria pada aspek sosial dapat dilihat pada Gambar 15.

8. .274 Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0. mini market dan pasar swalayan maka pasar tradisional harus menjadi usaha yang kompetitif supaya tidak kalah dari usaha lainnya. bersih dan nyaman sehingga konsumen lebih suka berbelanja di pasar tradisional dibandingkan di tempat lain.227).01 Gambar 15.Aspek Teknis Hasil analisis prioritas kriteria pada aspek teknis dapat dilihat pada Gambar 16.498).Mengurangi Konflik 0. Untuk menghadapi usaha-usaha lain seperti toko serba ada. Prioritas Kriteria pada Aspek Sosial dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Gambar 15 menunjukkan bahwa urutan kriteria yang paling penting dalam aspek sosial yaitu terciptanya kondisi pasar yang aman.274). nyaman dan bersih bagi konsumen (0.498 Kompetitif 0.4. menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif (0. Pada pengembangan pasar tradisional yang dapat mendukung pertumbuhan pasar tradisional yaitu dengan menciptakan kondisi pasar yang aman.2. Keberadaan pasar tradisional di tengah masyarakat juga harus dapat meminimalisasi konflik dengan masyarakat agar tidak terjadi benturan kepentingan antar stakeholders.227 Aman dan Nyaman 0. mengurangi potensi konflik dengan masyarakat (0.

Bangunan fisik pasar juga harus diperbaiki supaya lebih bersih dan rapi sehingga dapat menarik orang untuk berbelanja di pasar. 8. Prioritas Kriteria pada Aspek Teknis dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Gambar 16 menunjukkan bahwa kriteria yang paling penting pada aspek teknis yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar (0.567) diikuti oleh kondisi fisik pasar yang lebih bersih dan rapi (0.3.567 Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0. .433). Supaya pedagang mau menempati kiosnya di pasar maka fasilitas pasar harus ditingkatkan sehingga pedagang betah berjualan di pasar tersebut. Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan Pasar Tradisional Berdasarkan hasil analisis dari pendapat responden ahli maka untuk mencapai tujuan pengembangan pasar tradisional maka prioritas alternatif strategi dapat dilihat pada Gambar 17.433 Peningkatan Fasilitas 0.Bersih dan Rapi 0.00 Gambar 16.

pembentukan PD.243 0.155 0.136 Gambar 17.Pembentukan PD.1 0.093 0. Usaha pasar tradisional dapat lebih berkembang serta efisien tanpa tergantung pada sumber dana dari pemerintah serta dengan manajemen yang lebih profesional diharapkan pasar tradisional dapat menjadi usaha yang bersaing. Selama ini pasar tradisional yang ada di Kota Bogor masing-masing dikelola oleh Kepala UPTD dan bawahannya yang bertanggungjawab langsung kepada Kepala .115 0. Alternatif ini menduduki peringkat tertinggi sebagai strategi dalam pengembangan pasar tradisional. Pasar diharapkan pengelolaan pasar dilakukan dengan sistem profit oriented.133 0. Pasar. Pasar dapat menjadi jalan untuk pertumbuhan dan perkembangan pasar tradisional. Menurut pendapat responden. Seluruh pasar yang ada di Kota Bogor akan berada di bawah satu pengelolaan yaitu dalam bentuk PD. Pasar sehingga kebijakan yang akan ditetapkan pun akan memperhatikan kepentingan seluruh pasar sehingga tidak tumpang tindih antar masing-masing program kegiatan.125 0. Pasar Pembangunan Pasar Lingkungan Menjalin Kemitraan Pemberdayaan Pemberian Bantuan Kredit Pembentukan Forum Komunikasi Pendistribusian PKL Keterangan : Rasio Inkonsistensi = 0. Prioritas Alternatif Strategi dalam Pengembangan Pasar Tradisional di Kota Bogor Gambar 17 memperlihatkan prioritas alternatif strategi utama dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu Pembentukan PD. dengan adanya PD.

Adanya PD. Pasar diharapkan dapat mengelola pasar secara komersial. UPTD juga meminta uang keamanan kepada pedagang yang tidak memiliki kios/los dan berjualan di pelataran parkir atau di depan pasar (PKL). Pasar akan membawahi seluruh UPTD pasar tradisional yang ada di Kota Bogor sehingga diharapkan konflik antar UPTD dapat diselesaikan karena pengelolaan manajemen pasar berada di bawah satu organisasi. . terutama di pasar yang memiliki banyak PKL dan yang sepi pedagang sepeti Pasar Anyar dan Pasar Jambu Dua. salah satu penyebab pasar tidak berkembang adalah kurangnya aspek promosi dan pemasaran pasar kepada masyarakat. Selain itu. Pemerintah dalam hal ini UPTD kurang memasarkan pasar ke masyarakat sehingga hanya sedikit masyarakat yang membeli kios/los. PKL sendiri juga merasa memiliki hak untuk berjualan di pasar tersebut karena merasa telah membayar uang kepada pihak UPTD. Pembentukan PD. Hal ini menyebabkan ketujuh UPTD tersebut berdiri secara sendiri-sendiri dan tidak saling berkaitan. Dengan demikian di Kota Bogor sendiri terdapat tujuh UPTD. Upaya pemasaran dapat dilaksanakan melalui iklan sehingga keberadaan pasar tradisional dikenal secara luas oleh masyarakat. Masalah ini telah menimbulkan konflik antar UPTD di Kota Bogor. Uang yang ditarik dari PKL ini telah memberikan penerimaan sendiri untuk UPTD sehingga pengelola UPTD kurang tegas dalam mengatur PKL.Tugas harian yang dilakukan oleh UPTD yaitu penarikan retribusi dari pedagang. Sehingga terdapat beberapa konflik antar UPTD itu sendiri.Disperindagkop. Selain uang retribusi. UPTD merupakan instansi pemerintah yang mengelola pasar pemerintah. Selama ini.

tidak tertata. produk yang beragam serta keamanan yang terjamin menjadi keunggulan dari pasar modern dibandingkan pasar tradisional. becek. akibatnya banyak konsumen yang enggan berbelanja di pasar tradisional karena kondisinya yang tidak nyaman bagi pembeli. Pada Gambar 18a menunjukkan pasar tradisional yang terkesan becek. Berkaitan dengan kondisi tersebut. bau. sedangkan pada pasar modern (Gambar 18b) terkesan rapi. Hal ini sangat berbeda dengan pasar modern seperti minimarket. Hal utama yang membedakan antara pasar modern dan pasar tradisional yaitu adanya pengelolaan manajemen pasar secara profesional pada pasar modern. dan tidak rapi.8. Gambar 18a Gambar 18b Gambar 18 menunjukkan dua kondisi yang berbeda antara pasar tradisional dan pasar modern.4. Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional Selama ini pasar tradisional identik dengan pasar yang kumuh. dan banyak PKL. Pasar modern lebih bersifat profit oriented sehingga manajemennya lebih efektif dan efisien. maka upaya pengembangan pasar tradisional dapat dilakukan melalui pembenahan pasar tradisional dengan mengadopsi konsep pasar modern tetapi tetap mempertahankan ciri khas transaksi antara penjual dan pembeli. swalayan dan supermarket. . kotor. Tempat yang bersih dan nyaman. nyaman dan bersih.

Pasar tradisional ini berada di dalam bangunan beratap dan berlantai keramik serta tempatnya di dalam gedung . Gambar 19d. keamanan serta keteraturan dan kedisiplinan pedagang menjadi fokus utama dari pengelola pasar dengan tetap mempertahankan karakteristik pasar tradisional (tawar menawar). Gambar 19c. Tangerang (Gambar 19). supermarket atau swalayan dari aspek kebersihan dan kerapiannya.Salah satu contoh pasar tradisional yang telah menerapkan konsep manajemen modern adalah Pasar Modern di Bumi Serpong Damai (BSD). Gambar 19b. Pasar ini layak menjadi acuan bagi pengembangan dan pembenahan pasar tradisional di Indonesia karena pengelolaannya sangat profesional meski dilakukan pihak swasta. Gambar 19a. Kebersihan. Konsep pasar tradisional dengan manajemen modern ini telah berhasil menampilkan pasar tradisional yang menyerupai mal.

maka pedagang akan mendapat sanksi pemutusan perjanjian sewa kios/lapak secara sepihak. Pada bagian depan bangunan merupakan toko-toko modern seperti restoran. lantai pasar akan dibersihkan oleh petugas kebersihan sehingga pasar akan selalu terlihat bersih. sehingga bangunan pasar terlihat bersih dan menarik dari luar (Gambar 19b).pertokoan (Gambar 19a). Sampah harus dimasukkan ke dalam kantong plastik dan meletakkan di areal yang ditentukan. pengelola pasar menetapkan peraturan yang harus dipatuhi pedagang. Setiap pedagang dikelompokkan sesuai dengan jenis komoditi yang dijual di masing-masing lorong. Para pedagang juga harus menata dan mengatur dagangannya hingga terlihat menarik. Selain itu perlu adanya upaya pemberdayaan pengelola pasar dan pedagang tradisional dengan perbaikan prasarana umum pasar tradisional oleh pemerintah. mendorong asosiasi pedagang untuk ikut mengelola pasar. barang dagangan akan diambil atau dibawa ke kantor pengelola. dan . kantor dan butik/toko pakaian. sampai petugas kebersihan mengambilnya pada jam tertentu. Apabila kegiatan operasional pasar sudah selesai. tetapi di pasar ini masih menggunakan sistem pasar tradisional yaitu adanya interaksi sosial antara pembeli dan penjual melalui proses tawar menawar (Gambar 19d). Untuk menjaga ketertiban dan kerapian. Jika terbukti telah dua kali melakukan pelanggaran. Meskipun menggunakan konsep pasar modern. Apabila melanggar. Para pedagang dilarang meletakkan barang dagangan di jalan atau lorong. Pedagang tidak diperbolehkan membiarkan sampah berceceran. Pada setiap lorong diberi label komoditi yang dijual sehingga memudahkan pembeli untuk berbelanja (Gambar 19c).

adanya insentif bagi swasta untuk mendanai renovasi pasar atau kredit kepada pedagang tradisional. . Pasar tradisional dengan konsep modern ini adalah salah satu solusi untuk pengembangan pasar tradisional sehingga diharapkan pasar tradisional dapat tumbuh dan berkembang.

dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. pengelola swasta.IX. Disperindagkop. • Masyarakat pedagang dan UPTD memiliki kepentingan tinggi namun pengaruhnya rendah. DLHK dan DTKP memiliki kepentingan yang rendah dan pengaruh yang tinggi. • Dispenda. Terdapat beberapa stakeholders yang terkait dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor. DLHK dan DTKP. Dispenda. dengan kondisi sebagai berikut : • Stakeholders yang memiliki pengaruh dan kepentingan tertinggi adalah Bapeda dan Disperindagkop. . • Pengelola pasar swasta memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh rendah. 2. UPTD.1. masyarakat pedagang. yaitu Bapeda. Kesimpulan Berdasarkan uraian dari pembahasan sebelumnya. KESIMPULAN DAN SARAN 9. • Kriteria utama yang menyebabkan proses pembuatan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat yaitu keterlibatan stakeholders dan proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional yang benar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak mencapai keberhasilan yang disebabkan karena : • Proses penyusunan dan perencanaan kebijakan yang kurang tepat sehingga menyebabkan implementasinya yang kurang tepat pula.

• Kriteria utama yang menyebabkan penerapan kebijakan pengembangan pasar tradisional kurang tepat yaitu penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien. • Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek manajemen secara berurutan yaitu penataan dan pembinaan PKL. nyaman dan bersih bagi konsumen. Sehingga adanya kegagalan disebabkan karena dalam kebijakan pengembangan tidak dilibatkannya seluruh pasar tradisional yang stakeholders berkepentingan terhadap kebijakan ini. 3. • Hasil analisis stakeholders menunjukkan bahwa tidak semua stakeholders yang berkepentingan dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional dilibatkan dalam proses perencanaan dan penerapan kebijakan. meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat dan meningkatkan PAD. meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional. . Strategi pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yang diolah dengan analisis PHA menunjukkan bahwa : • Aspek yang paling penting dalam kebijakan pengembangan pasar tradisional secara berurutan yaitu aspek ekonomi. • Kriteria-kriteria yang penting secara berurutan dalam aspek sosial yaitu terciptanya kondisi pasar yang aman. aspek sosial dan aspek teknis. aspek manajemen. • Kriteria-kriteria yang penting dalam aspek ekonomi secara berurutan yaitu menciptakan lapangan kerja. meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien.

menjalin kemitraan dengan UKM dan koperasi.menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif dan mengurangi potensi konflik dengan masyarakat. Pemerintah seharusnya melaksanakan suatu studi kelayakan sesuai dengan kondisi riil di lapangan sebelum menyusun suatu perencanaan kebijakan. pemberian bantuan kredit dan pembentukan forum komunikasi. • Kriteria-kriteria yang penting secara berurutan dalam aspek teknis yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar dan kondisi fisik pasar yang lebih bersih dan rapi.. pembangunan pasar lingkungan. 4. Untuk meningkatkan kekuatan pengaruh dari masyarakat pedagang maka perlu dibentuk suatu asosiasi atau paguyuban pedagang untuk memperkuat posisi tawar mereka dalam proses pengambilan keputusan kebijakan. Pasar yang dapat menaungi seluruh pengelolaan pasar tradisional yang berada di Kota Bogor. pendistribusian PKL ke pasar-pasar yang telah dibangun.2. Upaya pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilakukan dengan pembentukan PD. • Prioritas alternatif strategi dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu pembentukan PD. 9. . Saran 1. 2. sebagai salah atu bentuk partisipasi masyarakat. pemberdayaan pedagang dan pengelola pasar. Pemerintah sebaiknya baik dalam proses penyusunan maupun pelaksanaan kebijakan melibatkan seluruh stakeholders yang benar-benar memiliki kepentingan terhadap kebijakan. 3. Pasar.

Universitas Gajah Mada. Program Sarjana.com. Mohamed A. 2003. Fakultas Pertanian. ---------------------------------------------------------------------. Dwijowijot. Bogor. PT. Badan Pusat Statistik Kota Bogor. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 7 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Pasar. 2003. 2002.DAFTAR PUSTAKA Abdrabo. www. Hakim. Elex Media Komputindo. Yogyakarta. Bogor. Dzulfikar Ali. Yogyakarta. Bogor. -----------------------------------------------------. Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor. Fakultas Ekonomi. 2006. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. 2006. Jakarta. 2005. Ismawan. Bogor. William N. Indrani. Riant Nugroho. Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor. Institut Pertanian Bogor. Dunn. Hassaan. Kartini. 2003. Rini. 2006. . Pasar di Kota Bogor. 2007. dan Mahmoud A. Tidak Dipublikasikan. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Dinas Perindustrian. Balitbangdiklat Kota Bogor dan PT. Tesis. 2006. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Stakeholder Analysis. 2006.deliveri. [30 Agustus 2007]. Analisis Prospek Permintaan Jasa Pasar dan Studi Kelayakan Pembangunan Pasar Tradisional Kecamatan Cicantayan Kabupaten Sukabumi. DFID. Kebijakan Publik. Bogor. B. Penerjemah: Samodra Wibawa.wadi-unifi. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 3 Tahun 2006 tentang Retribusi Pelayanan Pasar. Skripsi. Skripsi. Formulasi. BPS. Fakultas Pertanian. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Dharmayanti. Bogor. Laporan Penelitian. Sekolah PascaSarjana.org [30 Agustus 2007]. Studi Kelayakan PD. Dampak Perpindahan Lokasi Pasar Induk terhadap Sistem Pemasaran Sayur Mayur di Kota Bogor. Manajemen Daur Proyek dan Penggunaan Kerangka Kerja Logis. Kota Bogor Dalam Angka 2005. Oxalis Subur. Peran Lembaga Keuangan Mikro dalam Otonomi Daerah. http://www. Bogor. 2007. Gajah Mada University Press. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Implementasi dan Evaluasi. Kajian Reklamasi Pantai Dadap Kabupaten Tangerang (Sebuah Analisa Persepsi Stakeholder). Perdagangan dan Koperasi.

Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran Walikota Bogor Tahun 2001. Institut Pertanian Bogor. Kajian Perkembangan Pasar Tanah Baru Sebagai Acuan Bagi Pembangunan Pasar Tradisional Baru di Kota Bogor. Program Pasca Sarjana. Universitas Sumatera Utara. 2005. Fakultas Kehutanan. Tesis. Universitas Diponegoro. Evaluasi Pelaksanaan Kesepakatan Konservasi Desa (KKD) dalam Kerinci Seblat-Integrated Conservation and Development . Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Stakeholder Analysis at a Glance. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. 2004. Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran Walikota Bogor Tahun 2003. Analisis Penentuan Lokasi Optimal Pasar Tradisional sebagai Pusat Perdagangan di Kota Bekasi dalam Pengembangan Wilayah. ----------------------------. Sekolah Pasca Sarjana. Thomas L. Jakarta. Bogor. 2003. Kebijakan Pembangunan Wilayah: Dari Penataan Ruang Sampai Otonomi Daerah. Saaty. www. Fathoni. 2002. Analisis Pengembangan Pasar Tradisional dan Dampaknya Terhadap Pembangunan Wilayah (Studi Kasus Pasar Tradisional di Kota Medan). Sri. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Schmeer. Tesis. Program Sarjana. 1993. Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan. PT. Satish C. 2005. Bogor. Strategi Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Agroindustri di Kabupaten Bogor. Pembuatan Kebijakan Demokratis dalam Konteks yang Berubah.lachsr. Skripsi. Analisis Respon Stakeholders terhadap Kebijakan Perluasan Kawasan di Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (Studi Kasus Kabupaten Lebak. Program Sarjana. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Rangkuti. Mishra. Pertanggungjawaban Akhir Tahun Anggaran Walikota Bogor Tahun 2002.Lamadlauw.org [7 Januari 2008]. Penerjemah: Liana Setiono. 2006. 2002. Kammi. United Nations Support Facility for Indonesian Recovery. Magister Teknik Pembangunan Kota. Untoro. Rahayu. Jakarta. Bogor. Khairunnisa. Fakultas Pertanian. Pemerintah Kota Bogor. Semarang. Alan. Benny. Pustaka Binaman Pressindo. Nindyantoro. 2007. Tesis. Safitri. ----------------------------. Bogor. Bogor. Bogor. 2006. Provinsi Banten). Meidina Trijadi. Bogor: Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 2005. 2004. Institut Pertanian Bogor. Tandiyar.

Program Sarjana.Project (KS-ICDP) melalui Analisis Stakeholders (Studi Kasus Kabupaten Meranging. Bogor. Fakultas Kehutanan. . Skripsi. Provinsi Jambi). Institut Pertanian Bogor. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata.

LAMPIRAN .

Terdapat kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil. Pemahaman tanggungjawab dari pembuat kebijakan terhadap publik dan lembaga-lembaga stakeholders lain atau sektor lain 8. dapat (5) Tidak paham (1).Lampiran 1. cukup (3). konsekuensi tidak terlaksana (3). sangat jelas (5) A Proses penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional yang benar B Akuntabilitas C Keterlibatan stakeholders . wewenang dan tanggungjawab dari stakeholders yang terlibat 10. sangat jelas (5) Tidak (1). Stakeholders yang terlibat memahami program dengan baik 12. dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika tidak terpenuhi 6. seluruhnya (5) Tidak paham (1). cukup paham (3). cukup diidentifikasi (3). konsekuensi terlaksana (5) Tidak dapat (1). Terdapat kejelasan koordinasi antar stakeholders yang terlibat NILAI Tidak tertulis dan tidak tersedia (1). Terdapat mekanisme yang menjamin bahwa prinsip dan nilai yang berlaku telah terpenuhi. Melibatkan seluruh stakeholders yang berkepentingan dalam proses perencanaan 9. prinsip-prinsip administrasi yang benar dan nilainilai yang berlaku di stakeholders 5. Penyusunan kebijakan pengembangan pasar tradisional dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap warga yang membutuhkan 2. sangat paham (5) Tidak (1). Pemahaman fungsi. terbaru dan lengkap 4. Penyusunan kebijakan berdasarkan informasi yang akurat. Penyusunan kebijakan memenuhi standar etika. perpaduan lama dan baru (3). Matriks Kriteria. sangat memenuhi (5) Tidak ada (1). tertulis dan tersedia (5) Tidak jelas (1). diidentifikasi (5) Tidak paham (1). cukup paham (3). sangat paham (5) Tidak jelas (1). dan sesuai dengan visi yang dirumuskan dan misi yang diemban 3. tertulis dan tidak tersedia (3). cukup paham (3). Penyusunan kebijakan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sosial 7. sangat paham (5) Tidak diidentifikasi (1). cukup memenuhi (3). ya (5) Tidak memenuhi (1). sebagian (3). ada. ada. Indikator dan Nilai Proses Pembuatan Kebijakan NO KRITERIA INDIKATOR 1. Teridentifikasinya kepentingan setiap stakeholders terhadap kebijakan sesuai dengan tupoksi-nya 11. cukup jelas (3). cukup jelas (3).

ada tapi tidak bebas (3). ada tapi tidak berhasil (3). ada tapi jarang (3). cukup diidentifikasi (3). ada sering dilakukan (5) D Sosialisasi kebijakan Tidak ada (1). ada dan menjamin seluruhnya (5) Tidak tersedia (1). sebagian (3). ada tapi tidak semuanya (3). diidentifikasi (5) E Partisipasi publik F Transparansi G Responsivitas H Tersedianya dana yang memadai dan berkelanjutan . Kepekaan stakeholders dalam menanggapi kepentingan masyarakat dan lembaga stakeholders lain 24. ada dan semuanya (5) Tidak diidentifikasi (1). ada berhasil (5) Tidak ada (1). Terdapat akses terbuka dan bebas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dalam proses penyusunan kebijakan 19. Terdapat aturan hukum yang menjamin kemudahan stakeholders lain dan masyarakat (pedagang pasar) untuk mengakses informasi kebijakan secara bebas 21. Adanya forum untuk menampung partisipasi masyarakat yang representatif. ada sering dilakukan (5) Tidak ada (1). Sasaran dan tujuan pengembangan ditetapkan berdasarkan konsensus antara pemerintah dan masyarakat 18. ada tapi jarang (3). cukup sesuai (3). Perumusan kebijakan sesuai dengan kebutuhan publik dan perubahan lingkungan 23. sangat sesuai (5) Tidak peka (1).Lanjutan Lampiran 1. NO KRITERIA INDIKATOR 13. ada tapi belum menjamin sepenuhnya (3). jelas arahnya. Tersedianya informasi yang memadai sehingga mudah dimengerti 22. Penyebarluasan informasi mengenai program pengembangan pasar tradisional melalui media massa maupun elektronik pada publik 14. ya (5) Tidak ada (1). Tersedianya informasi yang jelas tentang prosedur. tersedia sebagian (3). cukup peka (3). ada tapi kurang efektif (3).. tersedia sebagian (3). tersedia seluruhnya (5) Tidak sesuai (1).. sangat peka (5) Tidak ada (1). Terdapat upaya dari stakeholders untuk merespon pendapat masyarakat 25. Terdapat upaya untuk meningkatkan arus informasi melalui kerjasama dengan media massa dan lembaga non pemerintahan 16. Teridentifikasinya biaya atau dana untuk pengembangan pasar NILAI Tidak ada (1). Adanya seminar/workshop oleh dinas terkait 15. dapat dikontrol dan bersifat terbuka 17. ada dan sangat efektif (5) Tidak (1). proses dan biaya perencanaan kebijakan 20. ada dan bebas (5) Tidak tersedia (1). tersedia seluruhnya (5) Tidak ada (1).

ada alternatif program yang tumpang tindih tapi cukup diatasi (3). Kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak menimbulkan konflik antar sektor atau antar kawasan maupun antara masyarakat dengan pemerintah 28.. Tujuan kebijakan pengembangan pasar tradisional tidak menimbulkan konflik dengan alternatif program perekonomian wilayah J Kebijakan lain yang tidak tumpang tindih dari pengembangan pasar tradisional . tidak timbul dampak (5) Terdapat konflik. ada alternatif program tapi tidak tumpang tindih (5) I Ego sektoral 27. tidak terselesaikan (1). Pembangunan pasar tradisional memperhatikan kepentingan sektor dan kawasan lain NILAI Tidak memperhatikan. memperhatikan. tidak terdapat konflik (5) Tidak ada alternatif program (1). NO KRITERIA INDIKATOR 26. dampak ringan (3).Lanjutan Lampiran 1. terselesaikan (3). terdapat konflik. dampak berat (1).. tidak memperhatikan.

cukup (3). cukup konsisten (3). sangat tepat (5) Tidak konsisten (1). tersedia sering dilakukan Tidak tersedia (1). Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pemantauan dan pengawasan 10. ya (5) A Penerapan perencanaan pengembangan pasar tradisional secara efektif dan efisien 2. jadwal pelaksanaan proyek dan hasil yang dicapai terhadap segenap stakeholders dan masyarakat B Monitoring dan evaluasi program C Responsivitas D Akuntabilitas E Transparansi . cukup (3). alokasi dana. dilaksanakan sesuai sasaran dan tujuan (5) Tidak (1). sangat memuaskan (5) Tidak dapat (1). Arsip dan dokumen dari laporan kegiatan monitoring dan evaluasi tersedia 9. Program atau aktivitas dilaksanakan secara efektif dan efisien 3. proses tender. Matriks Kriteria. cukup tepat (3). cukup tersedia (3). sangat efektif dan efisien (5) Tidak tercapai (1). Indikator dan Nilai Penerapan Kebijakan NO KRITERIA INDIKATOR 1. cukup terlibat (3).Pelaksanaan dan hasil kebijakan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan sosial 12.Keterbukaan informasi dalam pelaksanaan kebijakan terkait sumberdaya. cukup memuaskan (3). cukup efektif dan efisien (3).Hasil kebijakan memuaskan kebutuhan publik 11. sangat terlibat (5) Tidak memuaskan (1). tersedia lengkap (5) Tidak terlibat (1). Konsistensi pelaksanaan program sesuai target operasional yang telah ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut 6. Ketepatan alokasi sumberdana 5.Lampiran 2. Program atau aktivitas telah dilaksanakan NILAI Tidak dilaksanakan (1) dilaksanakan (3). Sasaran/hasil yang diinginkan telah tercapai 4. tersedia tapi jarang dilakukan (3). sangat konsisten (5) Tidak ada (1). tercapai seluruhnya (5) Tidak tepat (1). sebagian sasaran tercapai (3). ada sering dilakukan (5) Tidak tersedia (1). Terdapat kegiatan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan program pengembangan pasar tradisional 7. dapat (5) Tidak (1). Tersedianya lembaga/dinas/badan yang malaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi 8. ada tapi jarang dilakukan (3).

Adanya sanksi yang tegas bagi pelaku yang menyimpang dari kebijakan 16.Pelaksanaan program pengembangan pasar tradisional melibatkan pihak swasta 18. cukup (3).. tersedia tapi pengaduan tidak ditanggapi (3). cukup mampu (3).Keterlibatan pihak swasta memberi pengaruh terhadap keberhasilan pengembangan pasar tradisional 19. sanksi cukup tegas (3).Manfaat kebijakan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh pihak yang berkepentingan sehingga tidak ada pihak yang dimarginalkan 22. tersedia ditanggapi (5) F Legalitas kebijakan Tidak ada sanksi (1). NO KRITERIA INDIKATOR 13. terlibat sepenuhnya (5) G Keterlibatan swasta H Ketepatan I Keadilan . cukup bermanfaat (3).Hasil kebijakan yang dicapai dapat memecahkan masalah 21. berpengaruh kecil (3). sanksi tegas (5) Tidak mampu (1). dapat (5) Tidak dapat (1). didistribusikan tidak merata (3).Tersedianya mekanisme pengaduan masyarakat jika ada peraturan yang dilanggar maupun penyimpangan tindakan aparat publik (misalnya menerima uang suap) di dalam pelaksanaan program 15.Adanya peraturan mampu menjawab permasalahan pengembangan pasar tradisional 17. ada sangat jelas (5) Tidak tersedia (1). terlibat seluruhnya (5) Tidak berpengaruh (1). didistribusikan merata (5) Tidak terlibat (1). mampu (5) Tidak terlibat (1). terlibat sebagian (3).Hasil kebijakan yang dicapai dapat memberikan manfaat kepada kebutuhan publik 20. terlibat sebagian (3). berpengaruh besar (5) Tidak bermanfaat (1).Terdapat dasar hukum (UU/Perda) yang jelas dalam pelaksanaan program kebijakan pengembangan pasar 14.Lanjutan Lampiran 2. sangat bermanfaat (5) Tidak dapat (1)..Keikutsertaan pedagang dalam pengelolaan dan pelaksanaan program NILAI Tidak ada (1). ada cukup jelas (3).

498) Menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif (0. Pasar (0.136) .253) Teknis (0.090) Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (0.227) Terciptanya kondisi pasar yang aman.567) Kondisi fisik pasar lebih bersih dan rapi (0. Struktur Hirarki AHP Pengembangan Pasar Tradisional (1.421) Manajemen (0.115) Pembentukan forum komunikasi (0.370) • • Peningkatan sarana dan prasarana pasar (0.433) • • • Mengurangi potensi konflik dengan masyarakat (0. nyaman dan bersih bagi konsumen (0.000) Tujuan Aspek Ekonomi (0.155) Pemberian bantuan kredit (0.131) Sosial (0.243) Pembangunan pasar tradisional skala lingkungan di lokasi strategis dekat pemukiman (0.Lampiran 3.133) Menjalin kemitraan dengan UKM dan Koperasi (0.274) Alternatif Pembentukan PD.482) Meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat (0.125) Pemberdayaan pedagang dan pengelola pasar (0.253) Penataan dan pembinaan PKL (0.195) • Kriteria • • Meningkatkan PAD (0.053) Pendistribusian PKL ke pasarpasar yang telah dibangun (0.250) Menciptakan lapangan kerja (0.269) • • • • Meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional (0.288) Membentuk pasar tradisional menjadi usaha yang efisien (0.

Bagan Struktur Organisasi Diperindakop KEPALA BAGIAN TU SUBBAG UMUM SUBBAG KEU BIDANG PERINDUSTRIAN BIDANG PERDAGANGAN BIDANG PM & PROMOSI BIDANG KOPERASI & UKM SEKSI BINA IKKR SEKSI PEMBINAAN USAHA PERDAGANGAN SEKSI PENANAMAN MODAL SEKSI BINA LEMB & USAHA KOPERASI SEKSI BINA LKA SEKSI PEMASARAN & EKSPOR IMPOR SEKSI PROMOSI SEKSI BINA UKM & PKL 7 UPTD PASAR Sumber : Disperindagkop Kota Bogor.Lampiran 4. 2005 .

Tahun 2005 .Lampiran 5. Gambaran Umum Struktur Organsisasi UPTD KEPALA KOORDINATOR STAF/PELAKSANA KOORDINATOR HARTIB KOORDINATOR RETRIBUSI KOORDINATOR PENGOLAHAN & PEMELIHARAAN STAF/PELAKSANA HARTIB STAF/PELAKSANA RETRIBUSI STAF/PELAKSANA PENGOLAHAN & PEMELIHARAAN PETUGAS Sumber : Laporan Tahunan 7 UPTD Pasar Kota Bogor.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful