You are on page 1of 29

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil pengamatan Percobaan Titrasi 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 Waktu (s) 0 240 480 720 960 1200 0 600 1200 1800 2400 3000 0 600 1200 1800 Volume Na2S2O3 (mL) 2,3 2,2 1,7 1,0 0,7 0,1 3,1 2,9 1,7 1,3 1,0 0,6 22,8 17,0 12,0 5,4

4.2 Reaksi I2 + 2e 2 IS4O62- + 2e 2 I+ I2 + S4O62Na2S4O6 + 2 NaI

2 S2O32I2 + 2 S2O32-

Reaksi lengkap : 2 Na2S2O3 CH3COCH3 + I2

CH3COI + CH3I

4.3 Perhitungan 4.3.1 Perhitungan mol I2 mmol I2 2 mmol Na2S2O3

mmol Na2S2O3 = [ Na2S2O3 ] x vol Na2S2O3 mmol I2 = x mmol Na2S2O3 mmol I2 = x [ Na2S2O3 ] x mL Na2S2O3 1. Percobaan A mmol [ I2 ]1 = x 0,1 M x 2,3 mL

= 0,115 mmol mmol [ I2 ]2 = x 0,1 M x 2,2 mL = 0,11 mmol mmol [ I2 ]3 = x 0,1 M x 1,7 mL = 0,085 mmol mmol [ I2 ]4 = x 0,1 M x 1,0 mL = 0,05 mmol mmol [ I2 ]5 = x 0,1 M x 0,7 mL = 0,035 mmol mmol [ I2 ]6 = x 0,1 M x 0,1 mL = 0,005 mmol

2. Percobaan B mmol [ I2 ]1 = x 0,1 M x 3,1 mL

= 0,155 mmol mmol [ I2 ]2 = x 0,1 M x 2,9 mL = 0,145 mmol mmol [ I2 ]3 = x 0,1 M x 1,7 mL = 0,085 mmol mmol [ I2 ]4 = x 0,1 M x 1,3 mL = 0,065 mmol mmol [ I2 ]5 = x 0,1 M x 1,0 mL = 0,05 mmol mmol [ I2 ]6 = x 0,1 M x 0,6 mL = 0,03 mmol 3. Percobaan C mmol [ I2 ]1 = x 0,01 M x 22,8 mL = 0,114 mmol mmol [ I2 ]2 = x 0,01 M x 17,0 mL = 0,085 mmol mmol [ I2 ]3 = x 0,01 M x 12,0 mL = 0,06 mmol

mmol [ I2 ]4 = x 0,01 M x 5,4 mL = 0,027 mmol 4.3.2 Perhitungan konsentrasi I2 Volume total = V CH3COONa + V amilum + V cuplikan + V Na2S2O3 = 10 mL + 0,5 mL + 25 mL + ... mL Na2S2O3 1. Percobaan A Volume total = V CH3COONa + V amilum + V cuplikan + V Na2S2O3 = 10 mL + 0,5 mL + 25 mL + ... mL Na2S2O3

[I2]1 = [I2]2 = [I2]3 =

0,115 mmol 3,0423 x 10-3 M (35,5 mL 2,3 mL) 0,11 mmol 2,9178 x 10-3 M (35,5mL 2,2 mL) 0,085 mmol 2,2849 x 10-3 M (35,5 mL 1,7 mL)

[I2]4 = [I2]5 = [I2]6 =

0,05 mmol 1,3699 x 10-3 M (35,5 mL 1,0 mL) 0,035 mmol 9,6685 x 10-4 M (35,5 mL 0,7 mL) 0,005 mmol 1,4045 x 10-4 M (35,5 mL 0,1 mL)

2. Percobaan B

[I2]1 = [I2]2 =

0,155 mmol 4,0155 x 10-3 M (35,5 mL 3,1 mL) 0,145 mmol 3,776 x 10-3 M (35,5mL 2,9 mL)

[I2]3 = [I2]4 = [I2]5 = [I2]6 =

0,085 mmol 2,2849 x 10-3 M (35,5 mL 1,7 mL) 0,065 mmol 1,7663 x 10-3 M (35,5 mL 1,3 mL) 0,05 mmol 1,3699 x 10-3 M (35,5 mL 1,0 mL) 0,03 mmol 8,3102 x 10-4 M (35,5 mL 0,6 mL)

3. Percobaan C

[I2]1 = [I2]2 = [I2]3 = [I2]4 =

0,114 mmol 1,9554 x 10-3 M (35,5 mL 22,8 mL) 0,085 mmol 1,619 x 10-3 M (35,5mL 17,0 mL) 0,06 mmol 1,2632 x 10-3 M (35,5 mL 12,0 mL) 0,027 mmol 6,6015 x 10-4 M (35,5 mL 5,4 mL)

4.3.3 Kecepatan reaksi

1. Percobaan A

V1 =

I 2 2 I 2 1
t 2 t1

(2,9178 10 -3 - 3,0423 10 -3 ) M = 5,1875 x 10-7 M/s (240 0) s (2,2849 10 -3 - 3,0423 10 -3 ) M = 1,5779 x 10-6 M/s (480 0) s (1,3699 10 -3 - 3,0423 10 -3 ) M = 2,3228 x 10-6 M/s (720 0) s

V2 =

I 2 3 I 2 1
t 3 t1

V3 =

I 2 4 I 2 1
t 4 t1

V4 =

I 2 5 I 2 1
t 5 t1

(9,6685 10 -4 - 3,0423 10 -3 ) M = 2,1619 x 10-6 M/s (960 0) s (1,4045 10 -4 - 3,0423 10 -3 ) M = 2,4182 x 10-6 M/s (1200 0) s

V5 =

I 2 6 I 2 1
t 6 t1

2. Percobaan B

V1 =

I 2 2 I 2 1
t 2 t1

(3,776 10 -3 - 4,0155 10 -3 ) M = 3,9917 x 10-6 M/s (600 0) s

V2 =

I 2 3 I 2 1
t 3 t1

(2,2849 10 -3 - 4,0155 10 -3 ) M = 1,4422 x 10-6 M/s (1200 0) s

V3 =

I 2 4 I 2 1
t 4 t1

(1,7663 10 -3 - 4,0155 10 -3 ) M = 1,2496 x 10-6 M/s (1800 0) s

V4 =

I 2 5 I 2 1
t 5 t1

(1,3699 10 -3 - 4,0155 10 -3 ) M = 1,1023 x 10-6 M/s (2400 0) s

V5 =

I 2 6 I 2 1
t 6 t1

(8,3102 10 -4 - 4,0155 10 -3 ) M = 1,0615 x 10-6 M/s (3000 0) s

3. Percobaan C

V1 =

I 2 2 I 2 1
t 2 t1

(1,619 10 -3 - 1,9554 10 -3 ) M = 5,6067 x 10-7 M/s (600 0) s

V2 =

I 2 3 I 2 1
t 3 t1

(1,2632 10-3 - 1,9554 10 -3 ) M = 5,7683 x 10-7 M/s (1200 0) s

V3 =

I 2 4 I 2 1
t 4 t1

(6,6015 10 -4 - 1,9554 10 -3 ) M = 7,1958 x 10-7 M/s (1800 0) s

4.3.4 Penentuan hukum kecepatan reaksi 1. untuk percobaan A [I2] 2,917810-3 2,284910-3 1,369910-3 9,668510-4 1,404510-4 log [I2] -2,5349 -2,6411 -2,8633 -3,0146 -3,8525 v (M/s) 5,187510-7 1,577910-6 2,322810-6 2,161910-6 2,418210-6 log v -6,2850 -5,8019 -5,6340 -5,6652 -5,6165 log vreg -5,9489 -5,9136 -5,8397 -5,7894 -5,5110

Grafik sebelum regresi


-5.4 -5.5 0 -5.6 y= -5.7-0.3323x - 6.7913 -5.8 -5.9 -6 -6.1 -6.2 -6.3 -6.4

-5

-4

-3

-2

-1

log V

log [I2]

Grafik setelah rergresi


-5.4 -5 -4 -3 -2 -1 -5.5 -5.6 log V -5.7 -5.8 -5.9 log [I2] -6 0

y = -0,332x - 6,791 a = slope = -0,332 b = intercept = -6,791 v = k [ I2 ]b

log v = log k + b log [ I2 ] log k = - 6,791 k = 1,6181 10-7 b = -0,332 v = 1,6181 x 10-7 [ I2 ]-0,332

2. untuk percobaan B [I2] 3,77610-3 2,284910-3 1,766310-3 1,369810-3 8,310210-4 log [I2] -2,4230 -2,6411 -2,7529 -2,8633 -3,0804 v (M/s) 3,991710-7 1,442210-6 1,249610-6 1,102510-6 1,061510-6 log v -6,3988 -5,8410 -5,9032 -5,9576 -5,9741 log vreg -6,1884 -6,0735 -6,0146 -5,9560 -5,8420

Grafik sebelum regresi


-5.7 -3.5 -3 -2.5 -2 -1.5 -1 -0.5 -5.8 -5.9 log V -6 y = -0.527x - 7.4654 -6.1 -6.2 -6.3 -6.4 -6.5 log [I2] 0

Grafik setelah regresi


-5.8 -0.5 -5.85 0 -5.9 -5.95 log V -6 -6.05 -6.1 -6.15 -6.2 log [I2] -6.25

-3.5

-3

-2.5

-2

-1.5

-1

y = -0,527x - 7,465 a = slope = -0,527 b = intercept = -7,465 v = k [ I2 ]b

log v = log k + b log [ I2 ] log k = - 7,465 k = 3,4277 10-8 b = -0,527 v = 3,4277 x 10-8 [ I2 ]-0,527

3. untuk percobaan C [I2] 1,61910-3 1,263210-3 6,601510-4 log [I2] -2,7908 -2,8985 -3,1804 v (M/s) 5,606710-7 5,768310-7 7,195810-7 log v -6,2513 -6,2390 -6,1429 log vreg -6,2561 -6,2253 -6,1447

Grafik sebelum regresi


-6.12 -3.2 -3.1 -3 y = -0.2908x - 7.0709 -2.9 -2.8 -6.14 -2.7 -6.16 log V -6.18 -6.2 -6.22 -6.24 -6.26 log [I2] -6.28

Grafik setelah regresi


-6.12 -3.2 -3.1 -3 -2.9 -2.8 -6.14 -6.16 -6.18 log V -6.2 -6.22 -6.24 -6.26 log [I2] -6.28 -2.7

y = -0,290x - 7,070 a = slope = -0,290 b = intercept = -7,070 v = k [ I2 ]b

log v = log k + b log [ I2 ] log k = -7,070 k = 8,5114 x 10-8 b = -0,290 v = 8,5114 x 10-8 [ I2 ]-0,290

4.4 Pembahasan Pada percobaan ini akan ditentukan hukum kecepatan reaksi iodinasi aseton dalam air yang terkatalis asam. Percobaan dimulai dengan mencampurkan larutan aseton yang berfungsi sebagai reaktan yang akan ditentukan berapa kecepatan reaksinya terhadap larutan iodin dengan larutan asam sulfat yang berfungsi sebagai katalis untuk mempercepat reaksi iodinasi aseton sebelum direaksikan dengan larutan iodin. Larutan iodin disini sebagai larutan yang akan ditentukan kecepatan reaksinya dengan melihat perubahan warna larutan dari biru menjadi bening. Setelah larutan aseton dan asam sulfat dicampurkan, larutan diaduk dengan menggunakan magnetik stirrer agar kedua larutan dapat bercampur dengan baik, bersamaan dengan diaduknya campuran kedua larutan tersebut, dimasukkan larutan iodin kedalam larutan. Larutan iodine tersebut yang akan dilihat reaksinya dengan aseton. Reaksi iodin dengan aseton tersebut diamati dengan cara menentukan konsentrasi iodin sebagai fungsi waktu. Dalam percobaan, pada tiap selang waktu tertentu, cuplikan-cuplikan larutan diambil kemudian dicampurkan dengan larutan Natrium tiosulfat dan indikator amilum 1% untuk mengetahui konsentrasi iod yang tidak terikat oleh aseton, kemudian larutan tersebut dititrasi dengan larutan Natrium tiosulat (Na2S2O3) hingga terjadi perubahan warna menjadi bening. Amilum digunakan sebagai indikator karena amilum dapat mengikat iod bebas membentuk kompleks iodin-kanji yang berwarna orange. Titik akhir titrasi ditandai ketika larutan cuplikan yang dititrasi berubah warna menjadi bening. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, dapat dilihat bahwa semakin lama waktu pengambilan cuplikan, semakin kecil volume Na2S2O3 yang diperlukan

utuk menitrasi larutan. Hal ini disebabkan karena semakin lama, semakin banyak iodin yang bereaksi dengan aseton, sehingga semakin kecil konsentrasi iodin yang tidak terikat oleh aseton dalam larutan tersebut. Dari hasil perhitungan, diperoleh persamaan laju reaksi sebagai berikut: pada prosedur pertama diperoleh V= 1,6181 x 10-7 [ I2 ]-0,332, untuk prosedur kedua diperoleh V= 3,4277 x 10-8 [ I2 ]-0,527 dan untuk prosedur ketiga diperoleh V = 8,5114 x 10-8 [ I2 ]-0,290.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ada begitu banyak reaksi yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Reaksi itu ada yang berlangsung secara cepat, ada juga yang berlangsung secara lambat. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh faktor-faktor baik dari dalam maupun dari luar (lingkungan). Kinetika kimia adalah bagian ilmu kimia fisika yang mempelajari laju reaksi kimia, faktor-faktor yang mempengaruhinya serta penjelasan hubungannya terhadap mekanisme reaksi. Kinetika kimia disebut juga dinamika kimia, karena adanya gerakan molekul, elemen atau ion dalam mekanisme reaksi dan laju reaksi sebagai fungsi waktu. Mekanisme reaksi dapat diramalkan dengan bantuan pengamatan dan pengukuran besaran termodinamika suatu reaksi, dengan mengamati arah jalannya reaktan maupun produk suatu sistem. Reaksi antara aseton dan iod dalam air adalah sebuah contoh reaksi yang berjalan lambat. Dengan penambahan katalis bersuasana asam, reaksi ini dapat berlangsung cepat dan hukum laju reaksinya dapat ditentukan. Bila pada reaksi dan suhu yang sama digunakan aseton dan asam dalam jumlah berlebih, maka orde reaksinya dapat ditentukan, yaitu orde reaksi terhadap iod dengan menentukan konsentrasi I2 sebagai fungsi waktu. Berdasarkan tinjauan di atas, maka dianggap perlu untuk melakukan percobaan ini untuk mengetahui metode kinetika dalam menentukan kecepatan suatu reaksi kimia.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1.2.1 Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari metode penentuan hukum kecepatan reaksi dengan metode kinetika kimia serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. 1.2.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan hukum dan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi iodinasi aseton dalam larutan air, yang terkatalisis dengan asam.

1.3 Prinsip Percobaan Prinsip dari percobaan ini adalah menitrasi larutan iod dalam asam dengan Na2S2O3 dengan indikator amilum sampai larutan berubah warna dari biru menjadi tidak berwarna dengan pengambilan cuplikan dalam selang waktu tetentu sehingga dapat ditentukan berapa jumlah iod yang tidak terikat oleh aseton yang akan bereaksi dengan Na2S2O3, kemudian menentukan konsentrasi zat penyusun cuplikan berdasarkan volume Na2S2O3 yang digunakan untuk menentukan konstanta kecepatan reaksi dan orde reaksi. 1.4 Manfaat Percobaan Manfaat dari percobaan ini adalah kita dapat menentukan tetapan laju reaksi dan orde reaksi terhadap I2, aseton, dan H+.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Chemical kinetics is the study of rates of chemical reactions and what factors affect the rate of reactions. These factors include concentration, temperature, pressure, surface area, and the effect of a catalyst. Many chemical reactions are required to be sped up or slowed down depending on the nature of the reaction. For example, when food is placed in the refrigerator the temperature is decreased to keep the food from decomposing. The rate of reaction is slowed down by decreasing the temperature. Chemical kinetics plays an important role both in industry and in our daily lives (Bewick, 2009). Kinetika kimia adalah studi tentang tingkat reaksi kimia dan apa faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Faktor-faktor termasuk konsentrasi, temperatur, tekanan, luas permukaan, dan efek katalis. Banyak reaksi kimia yang diperlukan untuk mempercepat atau memperlambat tergantung pada sifat reaksi. Sebagai contoh, ketika makanan ditempatkan di lemari es suhu dikurangi untuk menjaga makanan dari pembusukan. Laju reaksi diperlambat dengan menurunkan suhu. Kinetika kimia memainkan peran penting baik dalam industri dan dalam kita kehidupan sehari-hari (Bewick, 2009). Tahap pertama dalam analisis kinetika tentang reaksi adalah menentukan stoikiometri reaksi dan mengenali setiap reaksi samping. Dengan demikian, data dasar tentang kinetika kimia adalah konsentrasi reaktan dan produk pada waktu yang berbeda-beda setelah reaksi dimulai. Karena laju reaksi kimia umumnya peka terhadap temperatur, maka temperatur campuran reaksi harus dijaga supaya

konstan selama reaksi berlangsung. Jika tidak, maka laju yang diamati akan merupakan laju rata-rata pada temperatur yang berbeda-beda, yang tidak berarti. Syarat ini menyebabkan tuntutan yang keras pada perancangan eksperimen (Atkins, 1997). Hukum laju mempunyai dua penerapan utama. Penerapan praktisnya: setelah kita mengetahui hukum laju dan konstanta laju, kita dapat meramalkan laju reaksi dari komposisi campuran. Penerapan teoritis hukum laju ini adalah hukum laju merupakan pemandu untuk mekanisme reaksi. Setiap mekanisme yang diajukan harus konsisten dengan hukum laju yang diamati (Atkins, 1997). Laju reaksi didefenisikan sebagai perubahan konsentrasi per satuan waktu. Satuan yang umum digunakan adalah mol dm-3. Umumnya laju reaksi meningkat dengan meningkatnya konsentrasi. Konstanta laju didefenisikan sebagai laju reaksi bila konsentrasi dari masing-masing jenis adalah 1. Satuannya tergantung pada orde reaksi. Orde dari suatu reaksi menggambarkan bentuk matematik dimana hasil percobaan dapat ditunjukkan. Orde reaksi hanya dapat dihitung secara eksperimen, dan hanya dapat diramalkan jika suatu mekanisme reaksi diketahui keseluruh orde reaksi yang dapat ditentukan sebagai jumlah dari eksponen untuk masing-masing reaktan, sedangkan harga eksponen untuk masing-masing reaktan dikenal sebagai orde reaksi untuk komponen itu (Dogra dan Dogra, 1990). Ada sejumlah variabel yang mempengaruhi laju reaksi, yang utamanya adalah sebagai berikut (Siregar, 2008): 1. Konsentrasi Paling sedikit ada satu reaktan dalam suatu reaksi. Untuk terbentuknya suatu produk akibat reaksi katalisis atau auto-katalisis. Adakala suatu produk

boleh menghambat suatu reaksi, hal ini tidak diinginkan, karena reaksi tidak menyajikan hasil yang sempurna. Suatu katalis dapat mempengaruhi laju reaksi. Salah satunya membuat semua usaha untuk mengetahui apakah suatu katalis penting adanya. Pengaruh pengotoran tidak dapat diperhitungkan tanpa pengontrolan percobaan. 2. Kondisi Fisika. Suhu dan tekanan mempengaruhi laju reaksi. Kedua-duanya biasanya dijaga konstan. 3. Intensitas Radiasi. Sinar matahari atau sinar lampu juga dapat mempengaruhi laju reaksi. Umumnya pengaruh ini sedikit diperhatikan hanya untuk mempelajari pengaruh fotokimia. Kekuatan sinar di dalam spektrofotometri yang menggunakan sinar monokromatik tidak diharapkan. Tetapi jika berkas sinar putih jatuh lurus ke atas sampel seperti di dalam dioda spektrofotometer perlu diperhatikan. 4. Sifat-Sifat Pelarut. Laju reaksi tergantung dari kepolaran pelarut, viskositas, jumlah donor elektron, dan sebagainya. Penambahan suatu elektrolit dapat memperkecil atau menaikkan suatu laju reaksi (pengaruh garam), dan demikian pula adanya buffer. Penentuan orde reaksi secara praktek dapat dilakukan dengan metode: a. Metode Integrasi Salah satu cara untuk menentukan orde reaksi adalah dengan jalan mencocokkan persamaan laju reaksi. Masalah utama yang terdapat dalam metode ini adalah reaksi samping dan reaksi kebalikan yang dapat mempengaruhi hasil percobaan. Tetapi cara ini merupakan cara penentuan orde reaksi yang paling tepat.

b. Metode Laju Reaksi Awal Dengan metode ini, masalah reaksi samping dan reaksi kebalikan yang dapat mempengaruhi hasil percobaan dapat ditiadakan. Pada metode ini, prosedur yang dilakukan adalah mengukur laju reaksi awal dengan konsentrasi awal reaktan yang berbeda-beda. c. Metode Waktu Paruh Secara umum, untuk suatu reaksi yang berorde n, waktu paruh reaksi sebanding dengan 1/c0 n-1, dimana c0 adalah konsentrasi awal reaktan. Jadi, data hasil percobaan dimasukkan ke dalam persamaan diatas, kemudian dibuat kurva yang berbentuk garis lurus dengan cara yang sama seperti pada metode integrasi, adanya reaksi samping mempengaruhi ketepatan metode ini (Bird, 1993). Reaksi antara aseton dan iod dalam larutan air : CH3COCH3 + I2 CH3COCH2I

Berjalan lambat tanpa katalis. Dalam suasana asam reaksi ini berlangsung dengan cepat dan hukum laju reaksinya dapat dinyatakan sebagai :

d I2 k '[aseton]a [ I 2 ]b [ H ]c dt

dengan menggunakan aseton dalam asam dalam jumlah berlebih, persamaan diatas dapat diubah menjadi :

d I2 k '[ I 2 ]b dengan k = k [aseton]a[H+]c dt

Reaksi ini dapat dimonitor dengan cara menentukan konsentrasi I2 sebagai fungsi waktu. Dari data ini ditentukan nilai b, yaitu orde reaksi terhadap iod. Orde reaksi

terhadap aseton

dan terhadap asam dapat ditentukan dengan cara mengubah

konsentrasi awal kedua zat tersebut (Taba, dkk., 2007).

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah aseton, larutan iod 0,1 M, larutan Na2S2O3 0,1 M, larutan Na2S2O3 0,01 M, larutan H2SO4 1 M, larutan CH3COONa 10%, larutan indikator amilum, aquadest, aluminium foil dan tissue roll.

3.2 Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah erlenmeyer 300 mL, erlenmeyer 100 mL, labu ukur 250 mL + tutup, gelas ukur 10 mL, gelas kimia 250 mL, buret 50 mL, stopwatch, botol semprot, bulb, stirrer + magnet bar, statif, klem, pipet volume 5 mL, pipet volume 10 mL, pipet volume 25 mL, dan pipet tetes.

3.3 Prosedur Percobaan A. Aseton 25 mL dan 10 mL larutan asam sulfat Sebanyak 25 mL aseton dan 10 mL larutan asam sulfat dimasukkan ke dalam labu ukur 250 mL lalu diencerkan sampai tanda batas. Kemudian larutan tersebut dipindahkan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan 25 mL larutan iod ke dalam erlenmeyer tersebut. Segera setelah reaksi terjadi, stopwatch dijalankan dan dipipet larutan sebanyak 25 mL kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi 10 mL larutan CH3COONa 10 % dan 0,5 mL amilum. Selanjutnya larutan tersebut kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 M

yang sebelumnya telah diisi pada buret, sampai larutan tidak berwarna (bening). Lalu volume Na2S2O3 yang telah digunakan dicatat. Selanjutnya cuplikancuplikan berikutnya diambil dalam selang waktu 4 menit. B. Aseton 10 mL dan 10 mL larutan asam sulfat Sebanyak 10 mL aseton dan 10 mL larutan asam sulfat dimasukkan ke dalam labuukur 250 mL lalu diencerkan sampai tanda batas. Kemudian larutan tersebut dipindahkan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan 25 mL larutan iod ke dalam erlenmeyer tersebut. Segera setelah reaksi terjadi, stopwatch dijalankan dan dipipet larutan sebanyak 25 mL kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi 10 mL larutan CH3COONa 10 % dan 0,5 mL amilum. Selanjutnya larutan tersebut kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 M yang sebelumnya telah diisi pada buret, sampai larutan tidak berwarna (bening). Lalu volume Na2S2O3 yang telah digunakan dicatat. Selanjutnya cuplikancuplikan berikutnya diambil dalam selang waktu 10 menit. C. Aseton 25 mL dan 5 mL larutan asam sulfat Sebanyak 25 mL aseton dan 5 mL larutan asam sulfat dimasukkan ke dalam labuukur 250 mL lalu diencerkan sampai tanda batas. Kemudian larutan tersebut dipindahkan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan 25 mL larutan iod ke dalam erlenmeyer tersebut. Segera setelah reaksi terjadi, stopwatch dijalankan dan dipipet larutan sebanyak 25 mL kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi 10 mL larutan CH3COONa 10 % dan 0,5 mL amilum. Selanjutnya larutan tersebut kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,01 M yang sebelumnya telah diisi pada buret, sampai larutan tidak berwarna (bening). Lalu volume Na2S2O3 yang telah digunakan dicatat. Selanjutnya cuplikan-

cuplikan berikutnya diambil dalam selang waktu 10 menit.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan kesimpulan bahwa persamaan laju reaksi pada prosedur pertama adalah V= 1,6181 x 10-7 [ I2 ]-0,332, untuk prosedur kedua diperoleh V= 3,4277 x 10-8 [ I2 ]-0,527 dan untuk prosedur ketiga diperoleh V = 8,5114 x 10-8 [ I2 ]-0,290.

5.2 Saran 1. Untuk Laboratorium Alat- alat yang digunakan sebaiknya yang masih baik, dan bahanbahannya juga diperbaharui agar tidak terjadi kesalahan dalam pengukuran. 2. Untuk Praktikum Untuk percobaan berikutnya agar bahan yang digunakan disesuaikan dengan prosedur dan sebaiknya alat yang disediakan seperti erlenmeyer dan buret diperbanyak agar praktikum dapat berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Atkins P.W., 1997, Kimia Fisika Jilid 2, Erlangga, Jakarta. Bewick S., Edge, J., Forsythe T., dan Parsons R., 2009, Chemical Kinetics, CK-12 Foundation, America. Bird T., 1993, Kimia Fisika untuk Universitas, Gramedia, Jakarta. Dogra S. K., dan Dogra, S., 1990, Kimia Fisika dan Soal-Soal, UI-Press, Jakarta. Siregar T., Kinetika Kimia (Online, www.usupress.ac.id, diakses tanggal 08 November 2010 pukul 18.00 WITA). Taba P., Zakir M., dan Fauziah St., 2007, Penuntun Praktikum Kimia Fisika, Laboratorium Kimia Fisika Jurusan Kimia-UNHAS, Makassar.

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 11 November 2010

Asisten

Praktikan

(Tiur Mauli)

(Denesya Natalia)

BAGAN KERJA

25 mL aseton + 10 mL asam sulfat Diencerkan dengan air hingga volume menjadi 250 mL Dipindahkan kedalam labu erlemeyer 300 mL dan dibiarkan sampai mencapai suhu kamar Ditambahkan 25 mL larutan Iod dan diguncang dengan kuat sementara stopwatch dijalankan Diambil 25 mL larutan Dimasukkan kedalam 10 mL larutan Na-asetat Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 dan ditambahkan amilim 10 mL sebagai indikator Diambil cuplikan-cuplikan berikutnya dalam selang waktu 4 menit sampai campuran reaksi tidak berwarna Hasil o Diulangi prosedur di atas dengan 10 mL aseton dan 10 mL asam sulfat dan cuplikan diambil setiap 10 menit o Diulangi prosedur di atas dengan 25 mL aseton dan 5 mL asam sulfat dan cuplikan diambil setiap 10 menit

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PERCOBAAN IX PENENTUAN PERSAMAAN LAJU (KINETIKA KIMIA)

NAMA NIM KELOMPOK / REGU HARI / TGL PERCOBAAN ASISTEN

: DENESYA NATALIA P. : H31108257 : II/4 : KAMIS / 04 NOVEMBER 2010 : TIUR MAULI

LABORATORIUM KIMIA FISIKA JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2010