PAJAK DIPOTONG ATAU DIPUNGUT PIHAK LAIN (WITHHOLDING TAX)-21, 22, 23, 26 1. PEMOTONG PAJAK A.

PENGERTIAN PPH PASAL 21 Pajak penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh wajib pajak dalam negeri orang pribadi yang disingkat PPh Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan orang pribadi. Pemotong PPH Pasal 21 (KEP-545/PJ/2000) 1. Pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan, baik merupakan pusatmaupun

cabang, perwakilan atau unit yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan dan prmbayaran lain dengan nama dan bentuk apapun. 2. Bendahara atau pemegang kas pemerintah termasuk bendahara atau pemegang kas pada

Pemerintah pusat. 3. Dana pensiun, badan penyelenggaran jaminan sosial tenaga kerja, dan badan-badan lain

yang membayar uang pensiun dan tunjangan hari tua atau jaminan hari tua. 4. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan yang

membayar. 5. Penyelenggara kegiatan termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat nasional dan

internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya. Tidak termasuk sebagai pemberi kerja yang wajib melakukan pemotongan, penyetoran, dan pelaporan pajak adalah badan atau organisasi internasional yang tidak termasuk subjek pajak penghasilan. Badan atau organisasi internasional yang tidak termasuk subjek pajak penghasilan diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan RI No. 601/KMK.03/2005. B. PENGERTIAN PPH PASAL 22 PPh Pasal 22 merupakan pajak yang dipungut oleh bendaharawan pemerintah baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga negara lain, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang; dan badan-badan tertentu

baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan dengan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain. PPh Pasal 22 dibayar dalam tahun berjalan melalui pemotongan atau pemungutan oleh pihakpihak tertentu. Pemungutan PPh Pasal 22 ada yang bersifat final dan tidak final. Jika pemungutan PPh pasal 22 bersifat final maka jumlah pajak yang telah dibayar dalam tahun berjalan tersebut dapat dikreditkan dari total PPh terutang pada akhir tahun saat pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan. Pemotong Pajak PPh Pasal 22: 1. 2. Bank Devisa dan direktorat jendral bea cukai atas impor barang. Direktorat jendral perbendaharaan, bendahara Pemerintah baik di tingkat pusat maupun

tingkat daerah. 3. 4. 5. BUMN dan BUMD. Bank Indonesia, BULOG, TELKOM, PLN, PPA (Perusahaan Pengelolaan Aset), Pertamina. Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri, semen, industri kertas, industri baja

dan industri otomotif. 6. Produsen atau importir bahan bakar minyak gas, dan pelumas atas penjualan bahan bakar

minyak, gas, dan pelumas. 7. Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian dan

perikanan yang ditunjuk oleh Direktur Jendral Pajak. 8. Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah.

Sejak tanggal 1 Mei 2001, Bulog tidak lagi ditunjuk sebagai Pemungut PPh 22 atas penyaluran gula pasir dan tepung terigu (SE-13/PJ.43/2001) C. PENGERTIAN PPH PASAL 23 Pajak Penghasilan Pasal 23 mengatur mengenai pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap yang berasal dari modal, penyertaan modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan, selain yang dipotong pajak penghasilan pasal 21.

PENGERTIAN PPH PASAL 26 Pajak Penghasilan yang diperoleh wajib pajak luar negeri (orang pribadi maupun badan). Pemotong PPh Pasal 26: 1. 2. 4. Badan Pemerintah Subyek Pajak Badan dalam negeri Penyelenggara kegiatan Bentuk Usaha Tetap (BUT) atau perwakilan perusahaan luar negeri Orang pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak. a. 3. D. Badan Pemerintah Subjek Pajak dalam Negeri Penyelenggaran kegiatan Bentuk Usaha Tetap Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya . Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan atas pembayaran berupa sewa. 4. dokter. 5.Pemotong PPh Pasal 23: PPh Pasal 23 merupakan salah satu jenis uang muka PPh yang dibayar selama tahun berjalan oleh Wajib Pajak dalam negeri dan BUT melalui sistem pemotongan oleh pihak lain. selain bentuk usaha tetap dalam PPh pasal 26 adalah pajak atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia. 5. yang melakukan pekerjaan bebas. konsultan. 3. b. pengacara. yaitu: Akuntan. 1. arsitek. Penerima penghasilan yang dipotong PPh pasal 26 berdasarkan Keputusan ini adalah orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan serta badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap. 2. notaris. PPAT (kecuali Camat).

Distributor perusahaan multilevel marketing atau kegiatan sejenis lainnya PPH PASAL 22 Pihak yang dipungut PPh Pasal 22: . penyuluh. elektronika. pemahat. penceramah. b. e. dan moderator. Petugas dinas luar asuransi. bintang sinetron. foto model. pembawa acara. pelatih. bintang film. pengajar. penari. termasuk penerima pensiun. h. akuntan. konsultan. peragawan/peragawati. Pengarang. Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik komputer dan sistem aplikasinya. c. Penerima Penghasilan Bukan Pegawai antara lain meliputi: a. fotografi. yang terdiri dari pengacara. Pemain musik. Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara. PENERIMA PENGHASILAN YANG DIPOTONG PPH PASAL 21 Orang pribadi dengan status sebagai Subjek Pajak dalam negeri yang menerima atau memperoleh penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun. dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan g. penyanyi. ekonomi. penilai. Pengawas atau pengelola proyek. f. arsitek. dan penerjemah. peneliti. Agen iklan. baik itu sebagai pegawai maupun bukan pegawai. kru film. dan aktuaris. telekomunikasi. Petugas penjaja barang dagangan. sepanjang tidak dikecualikan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak. dokter. Olahragawan Penasihat. notaris. bintang iklan.6. j. l. Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas. sutradara. i. Pembeli yang ditunjuk sebagai pemotong PPh Pasal 26 2. pelawak. pelukis. pemain drama. dan seniman lainnya. k. d.

dan grosir semen. dan Bank Indonesia atas penyerahan/ penjualan barang yang pembayarannya berasal dari dana APBN/ APBD. rokok putih dan rokok kretek. atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong pajak PPH PASAL 26 Wajib Pajak luar negeri dari Indonesia. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap. Bendaharawan Pemerintah Pusat/Daerah. dealer. Penyalur. Penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara teratur berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya. 6. baik berupa penghasilanyang bersifat teratur maupun tidak teratur. Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas. PPH PASAL 23 Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap yang berasal dari modal. 3. 4. berupa upah harian. Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan sehubungan dengan pensiun yang diterima secara sekaligus. 4. dan otomotif. 5. . serta pembeli lainnya yang langsung dari Bulog. 3. Penyalur dan agen gula pasir dan tepung terigu dari Bulog. BUMN/BUMD BPPN. atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri. upah mingguan. OBJEK PAJAK PPH PASAL 21 Objek Pemotongan 1. Mereka yang melakukan kegiatan impor barang Rekanan yang menerima pembayaran dari Direktorat Jenderal Anggaran. upah borongan atau upah yang dibayarkan secara bulanan. kertas. baja. 3. upah satuan. Penyalur atau agen Pertamina.1. Penyalur atau agen badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas. 2. agen.pemberian jasa. 2.

asuransi dwiguna. iuran taspen yang dibayar pemberi kerja kepada Badan Penyelenggara Taspen. 4. 2. asuransi jiwa. iuran THT/tunjangan hari tua yang dibayar pemberi kerja kepada dana pensiun. Iuran pensiun yang dibayar pemberi kerja kepada dana pensiun. Kenikmatan berupa pajak yang ditanggung oleh pemberi kerja Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan nama apapun yang diberikan oleh Pemerintah.5. PPH PASAL 22 Obyek Pemotongan PPh 22 1. 3. 7. asuransi kecelakaan. Bukan Obyek Pemotongan PPh Pasal 21 (KEP-545/PJ/2000) 1. antara lain berupa honorarium. dan imbalan sehubungan dengan pekerjaan. fee. Penerimaan dalam bentuk natura dan atau kenikmatan lainnya dengan namadan dalam bentuk apapun. 2. dan kegiatan yang dilakukan. (pengenaan pajaknya akan dilakukan pada saat penerimaan uang pensiun atau tunjangan hari tua).hadiah atau penghargaan dengan nama apapun. uang rapat. baik asuransi kesehatan. Pembayaran klaim asuransi dari perusahaan asuransi. kecuali : yang diberikan oleh bukan subyek pajak. atau diberikan oleh pemerintah. honorarium.Bendaharawan Pemerintah baik di tingkat pusat daerah maupun pusat. 6. . 6. jasa. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah. Imbalan kepada bukan pegawai. uang representasi. Impor barang Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Anggaran. 5. maupun asuransi beasiswa. komisi. Imbalan kepada peserta kegiatan antara lain berupa uang saku. diberikan di daerah terpencil. iuran jamsostek yang dibayar pemberi kerja kepada Badan Penyelenggara Jamsostek. Imbalan dalam bentuk natura.

Penjualan hasil produksi yang dilakukan oleh Pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis dan gas. 7.03/2001 Jo 392/KMK. perlengkapan militer. 5. industri kertas. industri rokok. dan tempat sejenis untuk kepentingan umum. Penjualan hasil produksi di dalam negeri yang dilakukan oleh badan usaha yang bergerak di bidang industri semen. Barang untuk keperluan tuna netra dan penyandang cacat lainnya. sosial. yaitu terdiri dari: Barang perwakilan negara asing dan pejabatnya yang bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal balik.43/2001) 1. agama. amunisi. Pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan. industri baja dan industri otomotif. Barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. · · · · · Barang untuk musium. 6. 2. pertanian dan perikanan dari pedagang pengumpul. Bukan Obyek Pemotongan PPh Pasal 22 (254/KMK. industri semen. Impor barang atau penyerahan barang di dalam negeri yang berdasarkan Peraturan Perundang-undangan tidak terutang Pajak Penghasilan. · Barang untuk keperluan badan internasional dan pejabatnya yang bertugas di Indonesia yang dinyatakan sebagai bukan subyek pajak. perkebunan.03/2003 Jo SE-13/PJ. suku cadang untuk keperluan pertahanan dan keamanan Negara. kebun binatang. Barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum. . Persenjataan. Penjualan barang yang tergolong sangat mewah. Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah. 4.3.03/2001 Jo 236/KMK. dan kebudayaan. · Impor barang yang dibebaskan dari bea masuk.

5. Barang pindahan Barang pribadi penumpang. listrik. kapal angkutan danau. 3. benda-benda pos (tanpa penerbitan SKB).· umum · · · · Barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah untuk kepentingan Peti mati atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah. . · Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta prasarana yang diimpor dan digunakan oleh PT Kereta Api Indonesia. air PAM. peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional. 4. gas. barang kiriman (sampai nilai pabean tertentu).00 (tanpa penerbitan SKB). Impor sementara yang semata-mata untuk diekspor kembali Pembayaran oleh Bendaharawan Pemerintah (beban APBN/APBD) atas pembelian barang/jasa yang nilainya paling banyak Rp 1.000. kapal penangkap ikan. pelintas batas.000. kapal angkutan sungai. kapal tunda. · · Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan Imunisasi Nasional (PIN). telepon. Pembayaran oleh Bendaharawan Pemerintah (beban APBN/APBD) atas pembelian bahan bakar minyak. · Barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan barang bagi keperluan pertahanan dan dan keamanan negara. Kapal laut. awak sarana pengangkutan. · Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat keselamatan manusia. Buku-buku pelajaran umum. · Peralatan yang digunakan untuk Penyediaan data batas dan photo udara wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia. kitab suci dan buku-buku pelajaran agama. kapal pandu. dan kapal angkutan penyeberangan. dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan penangkapan ikan nasional. kapal tongkang.

Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. penghargaan bonus. Yayasan atau sejenisnya. Pembayaran/pencairan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) oleh Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (tanpa SKB). dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong. sepanjang : a. diskonto. Emas batangan yang diproses untuk menghasilkan barang perhiasan emas untuk tujuan ekspor. 7.6. Pembayaran untuk pembelian gabah dan/atau beras oleh BULOG PPH PASAL 23 Obyek Pemotongan PPh 23 1. Dividen tersebut berasal dari cadangan laba yang ditahan . dan imbalan karena jaminan pengembalian utang. dengan nama dan dalam bentuk apapun. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik. yang merupakan wajib pajak dalam negeri dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia. BUMN/BUMD. 9. dan sejenisnya. 3. 2. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank Sewa yang dibayar atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi (capital lease). 3. jasa manajemen. jasa konstruksi. dan pembagian hasil usaha koperasi. Deviden. pengerjaan dan pengujian sepanjang memenuhi syarat yang ditentukan oleh Dirjen Bea dan Cukai. Hadiah. 2. termasuk deviden dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis. 5. Dividen yang dibayarkan atau terutang kepada Perseroan Terbatas (PT). Bunga termasuk premium. Koperasi. kecuali sewa tanah dan/atau bangunan. Impor kembali (re-impor) atas barang-barang yang telah diekspor atau barang yang diimpor kembali untuk perbaikan. 4. Bukan Obyek Pemotongan PPh Pasal 23 (Pasal 23 Undang. dan 6. jasa konsultan.Undang Nomor 17 Tahun 2000) 1. Royalti. 8.

Bunga simpanan Koperasi yang tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan (Rp 240. 2. Deviden. dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. BUMN. Dalam hal penerima dividen adalah perseroan terbatas. 6. PENGURANGAN YANG DIPERBOLEHKAN Pengurangan yang diperbolehkan untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak Pengurangan-pengurangan yang diperobolehkan untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak untuk pegawai tetap: . prem. kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia. 3.b. dan BUMD. sewa. 5. Bunga obligasi yang dibayar atau terutang kepada reksa dana selama 5 tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian ijin usaha.pensiun dan pembayaran berkala lainnya. pekerjaan dan kegiatan. kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor dan harus memiliki usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut 4.00) yang dibayar oleh Koperasi kepada anggotanya. Penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di indonesia. royalti. 4. yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. keuntungan karena pembebasan utang. Penjualan atau pengalihan saham antara yang didirikan atau bertempat kedudukan di negara yang memberikan perlindungan pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia atau Bentuk Usaha tetap di Indonesia. Premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri.000. Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh Koperasi kepada angotanya. imbalan sehubungan jasa. Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia pajak sebesar 20%. 4. hadiah dan penghargaan. PPH PASAL 26 Obyek Pemotongan PPh 26 1. 5. bunga termasuk premium diskonto. dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang.

00 per bulan. c. Rp 15.000.000.400.000.00 per tahun atau Rp 36. yang pendiriannya disahkan Menteri Keuangan. . maksimum Rp 6. maksimum Rp 432.000. yang menjadi tanggungan sepenuhnya.1. d. b. 2.00 per bulan. maksimal Rp 2.000.00 (tiga belas juta dua ratus ribu rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP): Rp 15. paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga. 3.000.00 (satu juta dua ratus ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat. PTKP yang dikurangkan hanya untuk dirinya sendiri.00 (satu juta dua ratus ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin.000.00 per bulan.840. paling banyak 3 (tiga) orang.00 per tahun. b.00 (tiga belas juta dua ratus ribu rupiah) tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). Biaya jabatan sebesar 5% dari penghasilan bruto.000. Iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh pegawai ke dana pensiun atau penyelenggara Tabungan Hari Tua atau Jaminan hari Tua.840.00 per tahun.000. yang menjadi tanggungan sepenuhnya. Rp 1.000. dan dalam hal tidak kawin pengurangan PTKP selain untuk dirinya sendiri juga ditambah dengan PTKP keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat. Untuk pensiunan pengurangan yang diperbolehkan dikurangkan dalam menghitung Penghasilan Tidak Kena Pajak adalah: a.320. atau Rp 500. biaya pensiun adalah sebesar 5% dari jumlah pensiun bruto. Rp 1. Untuk pegawai tidak tetap pengurangan yang diperkenankan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak adalah hanya Penghasilan Tidak Kena Pajak. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). atau Rp 200.000. a.320. Catatan: Dalam hal karyawati kawin.

dan pegawai tidak tetap lainnya pengurangan yang diperkenankan adalah pengurang sebesar Rp 150. Rp 15. dengan syarat penghasilan dalam satu bulan takwim tidak melebihi Rp 1. Rp 1. Untuk kasus yang upahnya dibayar bulanan PTKP yang dikurangkan PTKP sebenarnya. pemagang. 23. Besarnya PTKP tersebut adalah: Rp 15. 22.000.000.000.000. disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan bruto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam negeri dalam menghitung penghasilan kena pajak yang menjadi objek pajak penghasilan yang harus dibayar wajib pajak di Indonesia.00 atau upahnya dibayarkan secara bulanan.Untuk pegawai harian.320. Besaran PTKP menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 ini berlaku mulai 1 Januari 2009. 5. Dalam hal penghasilan dalam satu bulan takwim melebihi Rp 1. mingguan. Untuk kasus penghasilannya melebihi Rp 1.00 per hari.00 PTKP yang dikurangkan adalah PTKP sebenarnya dibagi dengan 360.00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah) tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami. PTKP diatur dalam pasal 7 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK Penghasilan Tidak Kena Pajak.320. 26 .320. yang menjadi tanggungan sepenuhnya. Rp 1. paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.320. maka PTKP yang dapat dikurangkan adalah PTKP sebenarnya.00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat.000.00 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin.000. 6.840.00 (lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi. PERHITUNGAN PPh 21.000.000.840.320.00 dan upahnya tidak dibayarkan secara bulanan.

00 Diatas Rp 50.00 PPh yang harus dipotong bagi Wajib Pajak yang memiliki NPWP: 5% x Rp 50.500.PPH PASAL 21 Tarif PPh Orang Pribadi a. Tarif 5% (lima persen) Tarif 15% (lima belas persen) Tarif khusus Tarif Pajak 5% 10% 15% 30% Tarif pajak penghasilan pasal 21 yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang tidak memiliki NPWP menjadi lebih tinggi 20% daripada tarif yang ditetapkan terhadap Wajib Pajak yang dapat menunjukkan NPWP.000.000.00 15% x Rp 200.000. d.00 Rp 62.00 Rp 2.000.500.000.000.000.00 Rp 30.000. dengan ketentuan sebagai berikut: Lapisan Penghasilan Kena Pajak Sampai dengan Rp 50.00 25% x Rp 250.000. Tarif pasal 17 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.00 b.000.000.000.000.00 Rp 3.000.000.000.00 Diatas Rp 500.00 PPh yang harus dipotong bagi Wajib Pajak yang tidak memiliki NPWP: 5% x 120% x Rp 50.000.00 Rp 125.00 Diatas Rp 250.00 s/d Rp 250.000.000.000.000.00 s/d Rp 500.000.000.000.00 30% x Rp 100.00 Rp 30.000.000. c.000. Contoh: Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp 600.000.00 .000.000.000.000.000.000.

15% x 120% x Rp 200.00 Rp 150. kecuali atas impor kedelai.000.000. sebesar 2. .00 Rp 36. Atas penjualan bahan bakar minyak. dan pelumas oleh produsen atau importir bahan bakar minyak.000. bendahara pengeluaran. dikenakan tarif sebesar 1. 0. Jadi berapapun penghasilan kena pajaknya.000.000. Atas pembelian barang yang dilakukan oleh bendahara pemerintah. 3.00 Tarif PPh Badan Mulai tahun pajak 2009. tarif yang dikenakan adalah satu yaitu 28% atau 25%.000.25% (nol koma dua puluh lima persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai untuk penjualan kepada SPBU Pertamina.00 Rp 75.5% (tujuh setengah persen) dari nilai impor. 2.00 25% x 120% x Rp 250.000. dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).00 30% x 120% x Rp 100.5% (setengah persen) dari nilai impor.000.000. Khusus untuk perusahaan terbuka yang memenuhi syarat tertentu.000. gandum dan tepung terigu sebesar 0.5% (dua setengah persen) dari nilai impor.000. gas dan pelumas adalah sebagai berikut: 1) Bahan Bakar Minyak sebesar: a.000. Atas impor: 1) yang menggunakan Angka Pengenal Impor (APl).000. tarif PPh Badan nya adalah 5% lebih rendah dari tarif umum.000. gas. sebesar 7.00 Rp 36.5% (tujuh setengah persen) dari harga jual lelang. PPH PASAL 22 Besarnya Pungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 ditetapkan sebagai berikut: 1. tarif PPh Badan menganut sistem tarif tunggal atau single taxyaitu 28% dan akan menjadi 25% pada tahun 2010. 2) yang tidak menggunakan Angka Pengenal Impor (API). sebesar 7. dan/atau 3) yang tidak dikuasai.5% dari harga pembelian dan tidak final.

penjualan semua jenis semen di dalam negeri sebesar 0. 5. b. industri baja. penghargaan dan bonus selain yang sudah dipotong PPh Pasal 21.1% (nol koma satu persen) dari dasar pengenaan pajak Pajak Pertambahan Nilai.3% (nol koma tiga persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai.b. penjualan semua jenis kendaraan bermotor beroda dua atau lebih di dalam negeri sebesar 0. dan perikanan yang ditunjuk sebagai pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22 dari pedagang pengumpul sebesar 0.45% (nol koma empat puluh lima persen) dari dasar pengenaan pajak Pajak Pertambahan Nilai.25% (nol koma dua puluh lima persen) dari dasar pengenaan pajak Pajak Pertambahan Nilai. Sebesar 2% (dua persen) dari jumlah bruto atas: . struktur tarif PPh pasal 23 adalah: a. perkebunan. dan industri otomotif: a. bunga.3% (nol koma tiga persen) dari dasar pengenaan pajak Pajak Pertambahan Nilai. industri kertas. Atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor oleh badan usaha industri atau eksportir yang bergerak dalam sektor kehutanan. royalti dan hadiah. b.3% (nol koma tiga persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai untuk penjualan kepada SPBU bukan Pertamina dan Non SPBU. Tarif 15% x Penghasilan Bruto dan bersifat tidak final dikenakan terhadap penghasilan berupa dividen. pertanian. penjualan baja di dalam negeri sebesar 0.25% (nol koma dua puluh lima persen) dari harga pembelian tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai. PPH PASAL 23 Dalam ketentuan baru Undang-undang Pajak Penghasilan.3% (nol koma tiga persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai. 4. 3) Pelumas sebesar 0. c. penjualan kertas di dalam negeri sebesar 0. Atas penjualan hasil produksi di dalam negeri oleh badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen. d. 0. 2) Bahan Bakar Gas sebesar 0.

diskonto. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. PPH PASAL 26 1.1. sewa. imbalan sehubungan dengan jasa teknik. dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2). jasa konsultan. dan 2. maka besarnya tarif pemotongan PPh Pasal 23 adalah lebih tinggi 100% (seratus persen) daripada tarif PPh Pasal 23 umumnya. dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang 2. jasa konstruksi. yaitu: · 20% x 50% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi di Luar Negeri . Berdasarkan Pasal 23 ayat (1a) Undang-undang Pajak Penghasilan yang baru. Dikenakan PPh Pasal 26 = 20% dari jumlah bruto penghasilan wajib pajak luar negeri berupa: Dividen Bunga. pekerjaan. dan kegiatan Hadiah dan penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun Pensiun dan pembayaran berkala lainnya Dikenakan PPh Pasal 26 = 20% dari Perkiraan Penghasilan Netto atas penghasilan wajib pajak luar negeri berupa: Penghasilan dari penjualan harta di Indonesia Penghasilan berupa premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi di luar negeri. dan imbalan lain sehubungan dengan penggunaan harta Imbalan sehubungan dengan jasa. jasa manajemen. Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23 dan tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Royalti. termasuk premium.

pengacara. yaitu: Akuntan. Badan Pemerintah Subyek Pajak Badan dalam negeri Penyelenggara kegiatan Bentuk Usaha Tetap (BUT) atau perwakilan perusahaan luar negeri Orang pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak. Pemotong PPh Final: 1) 2) 3) 4) 5) a. konsultan. dokter. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek penghasilan dari pengalihan harta berupa . notaris. arsitek. PPAT (kecuali Camat). Sewa dan Imbalan Jasa Konsultan dan Jasa Konstruksi yang diatur dengan Peraturan Pemerintah (PPh Pasal 4 ayat 2) Pasal 4 ayat 2 Undang-undang Pajak Penghasilan menyebutkan. kecuali jika ditanamkan kembali di Indonesia. B. penghitungan besarnya PPh Pasal 26 didasarkan pada Tax Treaty tersebut (dibebaskan dari pengenaan PPh Pasal 26 atau dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif yang lebih rendah) 7. dan tabungan-tabungan lainnya. yang melakukan pekerjaan bebas. bahwa: ”Atas penghasilan berupa bunga deposito. PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PPh FINAL A. Dalam hal telah dilakukan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda antara Pemerintah RI dengan negara lain (treaty partner). Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan atas pembayaran berupa sewa. Jenis-jenis dan Obyek Pemotongan PPh Final: Pajak Penghasilan atas Bunga.· 20% x 10% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi LN oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia · 20% x 5% x Premi yang dibayarkan kepada perusahaan reasuransi LN oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia Dikenakan PPh Pasal 26 sebesar 20% dari Laba Neto setelah pajak dari suatu BUT di Indonesia (Branch Profit Tax). b.

Bunga tabungan pada bank yang ditunjuk pemerintah dalam rangka pemilikan rumah sederhana dan sangat sederhana. dikenakan taruf khusus. pengenaan pajaknya diatur dengan Peraturan Pemerintah”. Jenis penghasilan tersebut antara lain: 20%) Penghasilan dari transaksi penjualan saham. Bunga deposito dan tabungan. 3.64%) Penghasilan dari jasa penerbangan dalam negeri (tarif final 1. sepanjang jumlah deposito dan tabungan serta Sertifikat Bank Indonesia tersebut tidak melebihi Rp 7.tanah dan atau bangunan serta penghasilan tertentu lainnya.00 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah) dan bukan merupakan jumlah yang terpecah-pecah. baik saham pendiri maupun bukan saham Penghasilan berupa bunga deposito/ tabungan. Bunga dan diskonto yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia.1%) Penghasilan dari transaksi penjualan obligasi Penghasilan dari penyerahan hadiah undian (tarif final 25%) Penghasilan dari sewa tanah dan bangunan (tarif final 10%) Penghasilan dari penyerahan jasa konstruksi Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah/ dan bangunan Penghasilan dari jasa pelayaran atau penerbangan luar negeri (tarif final 2.000. kaveling siap bangun untuk rumah sederhana dan sangat . serta diskonto SBI yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. Bunga deposito dan tabungan serta Serifikat Bank Indonesia.2%) Dikecualikan dari Pemotongan Pajak penghasilan: 1. 2.500. Penghasilan tertentu sebagaimana dimaksud dalam UU PPh Pasal 4 ayat 2. 4. diskonto SBI dan jasa giro (tarif final pendiri (tarif final 0.8%) Penghasilan dari jasa pelayaran dalam negeri (tarif final 1.

PENCATATAN AKUNTANSI ATAS PAJAK DIPOTONG/DIPUNGUT PPH PASAL 21 Dalam hal ini perusahaan sebagai pihak pemotong PPh 21. 5. dan kegiatan usaha di bidang-bidang tertentu (seperti penyerahan barang oleh rekanan kepada bendaharawan pemerintah). timbul utang kepada pemerintah sampai dilakukan penyetoran ke kas Negara. dibuatkan jurnal sebagai berikut: Pada saat pemotongan (dilakukan saat pembayaran gaji) Biaya Gaji Utang PPh Pasal 21 Kas(gaji yang dibayarkan) Pada saat menyetor ke kas Negara Utang PPh Pasal 21 Kas PPH PASAL 22 PPh pasal 22 adalah pemungutan pajak yang dilakukan oleh pihak ketiga sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang. untuk dihuni sendiri. impor barang. atau rumah susun sederhana sesuai dengan ketentuan yang berlaku.sederhana. Jurnal pencatatan PPh Pasal 22 oleh Importir pada saat barang impor diterima adalah sebagai berikut: Pembelian xxx xxx xxx xxx xxx xxx Pajak dibayar dimuka (PPh Pasal 22) xxx Kas PPH PASAL 23 xxx . terjadi pemotongan yang telah dilaksanakan. Bunga deposito dan tabungan. 8. serta diskonto SBI yang diterima atau diperoleh bukan Subjek Pajak.

PPh pasal 23 adalah pemotongan pajak yang dilakukan oleh pihak ketiga sehubungan dengan penghasilan tertentu (seperti deviden. sewa. royalti. Jurnal Pencatatan PPh Pasal 23 oleh pemotong pajak adalah sebagai berikut: Pada saat pemotongan (dilakukan pada saat pembayaran imbalan jasa) Beban Jasa Utang PPh Pasal 23 Kas Pada saat penyetoran ke kas Negara Utang PPh Pasal 23 Kas xxx xxx xxx xxx xxx Sedangkan jurnal PPh Pasal 23 oleh penerima imbalan jasa adalah sebagai berikut: Kas xxx Pajak dibayar dimuka (PPh Pasal 23) xxx Pendapatan Jasa xxx . bunga. dan jasa) yang diterima WP badan dalam negeri dan BUT.

Edisi 4. 2008. Perpajakan.blogspot.htm#21 .html http://www.dannydarussalam.com/Words/Ind/faqpotput. Yogjakarta : Andi.com/2011/07/objek-pajak-pph-pasal-21.DAFTAR RUJUKAN Mardiasmo. Jakarta : Salemba Empat.php?artid=590 http://stanpajak. Perpajakan: Teori dan Kasus. Siti Resmi. Undang-Undang PPh Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh) http://www.pajak-indonesia.com/engine/artikel/art. Edisi Revisi. 2008.