You are on page 1of 16

Gelombang

Gelombang adalah gerakan dari permukaan air yang dihasilkan oleh tiupan angin diatasnya.
Bascom (1959) dalam Bird (1984). Menurut Triatmodjo (1999) berdasarkan gaya pembangkitnya
gelombang dikelompokkan sebagai berikut: gelombang yang dibangkitkan oleh angin (gelombang
angin), gelombang yang dibangkitkan oleh gaya tarik matahari dan bulan (gelombang pasang
surut), gelombang yang dibangkitkan oleh letusan gunung berapi dan gempa dilaut (tsunami) dan
gelombang yang disebabkan oleh pergerakan kapal. Dari berbagai bentuk gelombang, yang paling
dominan pengaruhnya terhadap pantai adalah gelombang angin, gelombang angin menghasilkan
energi yang dapat membentuk pantai, menimbulkan arus, dan transport sedimen dalam arah tegak
lurus dan sepanjang pantai.
Menurut Triatmodjo (1999) gelombang yang merambat dari laut dalam (offshore) menuju
pantai mengalami perubahan bentuk karena pengaruh dari perubahan topografi dasar laut.
Berkurangnya kedalaman laut menyebabkan berkurangnya panjang gelombang dan bertambahnya
tinggi gelombang, pada saat perbandingan tinggi gelombang dan panjang gelombang mencapai
batas maksimum, gelombang akan pecah. Gelombang pecah tersebut akan melewati breaker zone,
surf zone, swash zone. Gelombang yang ditimbulkan oleh angin diatas permukaan laut dan
sebagian lagi oleh tekanan tangensial dari partikel-partikel air. Angin yang bertiup dipermukaan
laut mula-mula menimbulkan riak gelombang (rippies), mempunyai puncak-puncak (crest), dan
lembah-lembah.


Gambar 3.1
Karakteristik Gelombang. (Triatmodjo, 1999)

Beberapa notasi yang digunakan adalah :
d : jarak antara muka air rerata dan dasar laut
q(x,t) : fluktuasi muka air terhadap muka air rerata
a : amplitudo gelombang
H : tinggi gelombang = 2a
L : panjang gelombang
T : periode gelombang
C : kecepatan rambat gelombang = L/T
k : angka gelombang
o : frekuensi gelombang

Klasifikasi gelombang menurut kedalaman relatif
Berdasarkan ( Ippen, 1996 ) kedalaman relatif, yaitu perbandingan antara kedalaman air d dan
panjang gelombang L, ( d/L ), gelombang dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu :

a. gelombang di laut dangkal, jika d/L s 1/20
b. gelombang di laut transisi, jika 1/20 < d/L < ½
c. gelombang di laut dalam, jika d/L >1/2

Cepat rambat dan panjang gelombang
Apabila kedalaman relatif d/L adalah adalah lebih besar dari 1/2 maka :
C

=
T
gT
56 , 1
2
=
t


L =
T
gT
56 , 1
2
2
=
t
2

Untuk kondisi gelombang di laut transisi, yaitu jika 1/20 < d/L < ½, cepat rambat dan panjang
gelombang dihitung dengan menggunakan :
C = kd
gT
L
d gT
tanh
2
2
tanh
2 t
t
t
=
L = kd
gT
L
d gT
tanh
2
2
tanh
2
2 2
t
t
t
=

Apabila kedalaman relatif kurang dari 1/20, nilai tanh ( 2td/L ) = 2td/L, maka menggunakan
rumus :
C = gd
L = gd T

Perpindahan partikel
Selama penjalaran gelombang dari laut dalam ke laut dangkal, orbit partikel mengalami
perubahan bentuk.








Gambar 3.2 Gerak orbit partikel air di laut (Triatmodjo,1999)
Laut Dangkal
d/L s 1/20
Laut Transisi
1/20 < d/L < 1/2
Laut Dalam
d/L > 1/2
Gelombang di Pantai
Gelombang pecah yang menjalar dari laut dalam menuju pantai mengalami perubahan bentuk
karena adanya pengaruh perubahan kedalaman laut. Di laut dalam profil gelombang adalah sinusoidal,
semakin menuju ke perairan dangkal puncak gelombang semakin tajam dan lembah gelombang semakin
datar.
Gelombang dari laut dalam yang bergerak menuju pantai akan bertambah kemiringannya sampai
akhirnya tidak stabil dan pecah pada kedalamn tertentu, yang disebut dengan kedalaman gelombang
pecah d
b
. Tinggi gelombang pecah diberi notasi Hb.
Menurut Pratikto, dkk (1997), bahwa gelombang pecah menyebabkan turbulensi yang membawa
material dari dasar pantai atau terkikisnya bukit pasir (sand dunes) di pantai, karakteristik gelombang ini
tergantung pada kecepatan angin, durasi dan jarak seret gelombang. Percampuran dari gelombang
pecah terbentuk karena bentuk gelombang berbeda mendekati garis pantai dan saling berinteraksi pada
dasar perairan dangkal. Secara umum klasifikasi gelombang pecah yang terjadi dipantai adalah Spilling,
Plunging, Collapsing, surging. Spilling dan Plunging terjadi pada perairan yang mempunyai kelerengan
pantai yang landai dan bentuk puncak gelombang tidak stabil hingga mendekati pantai, bentuknya baik
dan semakin lama semakin berkurang. Plunging Breakers, gelombangnya lebih dahsyat karena puncak
gelombang lebih melengkung dan membentuk badan air yang luas atau melebar. Gambar 3.10.a. dan
Gambar 3.10.b. menyajikan bentuk-bentuk gelombang pecah. Menurut Dahuri dkk., (1999) daya
penghancur gelombang terhadap pantai dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain keterjalan garis
pantai, kekerasan batuan, rekahan pada batuan, kedalaman laut depan pantai, bentuk pantai terdapat
dimuka pantai.

Gelombang pecah
Gelombang pecah yang menjalar dari laut dalam menuju pantai mengalami perubahan bentuk
karena adanya pengaruh perubahan kedalaman laut. Di laut dalam profil gelombang adalah sinusoidal,
semakin menuju ke perairan dangkal puncak gelombang semakin tajam dan lembah gelombang semakin
datar.
Gelombang dari laut dalam yang bergerak menuju pantai akan bertambah kemiringannya sampai
akhirnya tidak stabil dan pecah pada kedalamn tertentu, yang disebut dengan kedalamn gelombang
pecah d
b
. Tinggi gelombang pecah diberi notasi Hb. Munk (1949, dalam CERC 1984) memberikan
persamaan untuk tinggi dan kedalam gelombang pecah adalah sebagai berikut :

1,28
Dimana H
b
: tinggi gelombang pecah

: tinggi gelombang di lokasi
L
0
: panjang gelombang di laut dalam
db : kedalaman gelombang pecah

Guna mendapatkan nilai Hb dan db lebih mudah menggunakan graik daripada persamaan diatas. Tabel
grafik hubungan antara

dengan

. Sedangkan penilaian titik terjadinya pecah gelombang,

didapatkan dengan menggunakan tabel grafik hubungan

dengan

Gambar 4. Grafik perbandingan H
b
/H

0
dengan H’
0
/gT
2
(Triatmodjo,1996)


Gambar 3.1
Klasifikasi Gelombang Pecah (Pratikto, dkk, 1997)


Gambar 3.2
Pengaruh Bentuk Pantai terhadap Daya Penghancur Gelombang (Pratikto, dkk, 1997)



Gambar 3.3
Gambar Dua Dimensi Longhore Current (Thurman, 2009)

Pasang Surut

Pasang surut adalah suatu gerakan naik turun secara teratur dari permukaan laut, yang
disertai pula dengan gerakan mendatar yang disebut arus pasang surut. Gerakan tersebut
disebabkan oleh gaya tarik dari benda-benda angkasa, terutama bulan dan matahari (Rahardjo dan
Sanusi, 1983). Nontji (1993) menjelaskan definisi pasang surut sebagai gerakan naik turunnya muka
air laut secara bersamaan yang disebabkan oleh gaya tarik matahari dan bulan. Letak matahari,
bumi, bulan yang selalu berubah setiap saat menyebabkan keadaan pasang surut di bumi juga akan
selalu berubah. Menurut Manurung (2002), pasang surut laut berlangsung teratur seperti siang dan
malam.
Pengaruh pasut yang masuk ke estuari dapat menyebabkan kenaikan muka air, baik pada
waktu air pasang maupun pada waktu air surut. Selama periode pasang, air dari laut dan dari
sungai masuk ke estuari dan terakumulasi dalam jumlah yang sangat besar. Sedangkan pada
periode surut, volume air yang sangat besar tersebut mengalir ke luar dalam periode waktu
tertentu yang tergantung pada tipe pasut. Dengan demikian kecepatan arus selama air surut
tersebut besar, yang cukup potensial membentuk muara sungai (Triatmodjo, 1999).

3.1.1 Mekanisme Pasang Surut
Pasang surut timbul karena tarik-menarik Bumi terhadap Bulan dan Matahari, termasuk
planet-planet lainnya, tetapi pengaruhnya cukup kecil. Besar naik turunnya permukaan laut
tergantung pada kedudukan Bumi terhadap Bulan dan Matahari (Triatmodjo, 1999).



Bulan
Air Pasang
Gay a Sentrif ugal Bumi
Air Surut
G
aya Tarik B
ulan






.
Gambar 3.4
Gambaran Sederhana Terjadinnya Pasang Surut (Triatmodjo, 1999)

Pada Bulan Purnama, Bumi berada segaris dengan Bulan dan Matahari. Hal ini akan
menyebabkan besar gaya tarik Bulan dan Matahari terhadap Bumi akan maksimum dan akibatnya
permukaan laut akan mencapai pasang tertinggi. Sebaiknya, pada Bulan sabit, kedudukan Bumi,
Matahari dan Bulan persis membentuk sudut siku-siku sehingga besar gaya tarik Bulan dan
Matahari terhadap Bumi akan saling melemahkan dan permukaan laut akan turun mencapai titik
terendah (Rahardjo, 1982).
Pada posisi tertentu gaya tarik Matahari dan Bulan terhadap massa air di Bumi akan saling
melemahkan, yang menimbulkan pasang kecil dikenal sebagai pasang perbani. Sedang bila gaya-
gaya tersebut saling menguatkan akan menimbulkan pasang besar yang dikenal dengan pasang
purnama (Nontji, 1993). Black (1986) menambahkan bahwa pasang purnama disebut juga dengan
spring tides dan pasang perbani disebut juga dengan neap tides.
Teori Pasang Surut
Teori pasang surut yang dikenal sekarang ini berasal dan teori gravitasi Newton (1642-1727)
dan persamaan gerak yang dikembangkan oleh Euler. Kedue teori tersebut kemudian disintesa oleh
Laplace (1749-1822) yang menurunkan teori pasut secara matematik (Pariwono, 1985).
Mihardja (1994) mengatakan bahwa pasut setimbang akan terjadi di permukaan bumi,
hanya bila bumi memenuhi syarat-syarat kondisi bumi ideal. Namun permukaan bumi tidaklah
menunjukan keadaan ideal seperti pernyataan tersebut, karena :
1. Permukaan bumi tidaklah sepenuhnya ditutupi oleh air. Adanya permukaan daratan bumi
mengurangi aliran horizontal air laut sehingga mempengaruhi kondisi pasut.
2. Massa air yang menutupi permukaan bumi bukanya tidak memiliki gaya inertial. Adanya
gaya ini mempengaruhi amplitudo dan fasa dari respon muka laut terhadap gaya
pembangkit pasut.
3. Adanya gaya gesekan antara massa air laut maupun massa air dengan gaya dasar laut yang
mempengaruhi kondisi pasut setimbang.
4. Kedalaman air laut yang menutupi bumi tidaklah merata dan umumnya jauh lebih kecil dari
kedalaman yang diperlukan untuk menghasilkan kondisi pasang surut setimbang.
Teori Dinamika Pasang Surut
Pada teori pasang surut seimbang dianggap bahwa permukaan laut memberikan respon
yang segera terhadap potensial pasut. Pada kenyataannya tidaklah demikian, hal ini dikarenakan
beberapa hal seperti ; Adanya daratan, Efek dari inersia massa air, Pengaruh gesekan baik di dalam
massa air sendiri maupun gesekan dengan dasar, Kedalaman air yang besar untuk membangkitkan
penjalaran gelombang panjang, berhubung pasut adalah gelombang panjang atau gelombang air
dangkal.
Menurut Mihardja, (1994) teori pasang surut seimbang hanya meninjau gaya pembangkit
pasang surut dan gravitasi, di dalam teori dinamika pasang surut kita berusaha untuk memasukkan
semua gaya yang berperan dalam gerak pasang surut. Gaya yang dimaksud adalah gaya
pembangkit pasang surut, gaya gravitasi, gradien tekanan, dan gaya gesekan. Hal tersebut juga
merupakan dari efek rotasi bumi yang lazim disebut gaya Coriollis.
Teori Kesetimbangan
Menurut Ilahude (1999), pada teori ini bumi diandaikan sebagai bola besar yang seluruh
permukaannya tertutup oleh selapis air ( yaitu : lapisan hidrosfer) yang terhadapnya bekerja gaya-
gaya tarik astronomi, khususnya bulan dan matahari. Pasang surut akan timbul karena gaya-gaya ini
dan denyut dari gerakan pasang surut akan ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1. Edaran bulan (Moon Revolution), menurut orbit ekliptik sekeliling bumi dalam jangka 29 ½
hari.
2. Edaran bumi (Earth Revolution), menurut orbit ekliptik sekeliling matahari dalam jangka 365
¼ hari.
3. Putaran bumi (Earth Rotation) pada sumbunya sendiri dalam jangka 24 jam (1 hari).
Newton (1642 – 1772) membuktikan bahwa pergerakan pasang surut adalah akibat gaya
tarik bulan yang berbeda besarnya untuk setiap titik di permukaan bumi. Perbedaan tersebut
disebabkan oleh jarak yang berbeda disetiap titik terhadap bulan (Lisitzin,1974). Berdasarkan
hukum Newton tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
2
2 1
R
m m G
F
× ×
=

dimana : F = gaya tarik menarik G = konstanta gravitasi
R = jarak antara m
1
dan m
2
m
1
= massa benda 1

Mihardja (1994) mengatakan bahwa pasang surut setimbang akan terjadi di permukaan
bumi, hanya bila bumi memenuhi syarat-syarat kondisi bumi ideal. Namun permukaan bumi
tidaklah menunjukkan keadaan ideal seperti pernyataan tersebut, karena:
1. Permukaan bumi tidak sepenuhnya ditutupi oleh air. Adanya permukaan daratan di bumi
mengurangi aliran horizontal air laut sehingga mempengaruhi kondisi pasang surut.
2. Massa air yang menutupi permukaan bumi memiliki gaya inersia. Adanya gaya ini
mempengaruhi amplitudo dan fase dari respon muka laut terhadap gaya pembangkit pasang
surut.
3. Adanya gaya gesekan antara massa air laut maupun massa air dengan gaya dasar laut yang
mempengaruhi kondisi pasang surut setimbang.
4. Kedalaman air laut yang menutupi bumi tidak merata dan umumnya jauh lebih kecil dari
kedalaman yang diperlukan untuk menghasilkan kondisi pasang surut setimbang.
Komponen pasang surut
Untuk memperkirakan keadaaan pasut, maka terdapat 9 komponen-komponen penting
yang mempengaruhi pasut. Komponen utama adalah sebagai akibat gaya tarik bulan dan matahari
(Lunar and Solar component). Komponen lainya adalah non astronomi (Karmadibrata, 1985).
Berdasarkan sifat pasang surut yang periodik, maka hal tersebut dapat diramalkan. Untuk
meramalkan pasut, diperlukan data amplitudo dan beda fase dari masing-masing komponen
pembangkit pasut.
Komponen harmonik pasang merupakan komponen yang menyebabkan terjadinya pasang
di laut, karena sifatnya yang harmonik terhadap waktu maka komponen tersebut dinamakan
konstanta harmonik. Hal ini sesuai dengan gaya penyebabnya yang periodik pula. Adapun
komponen-komponen tersebut adalah M
2
, S
2,
K
1
, O
1,
N
2
, K
2
, P
1
, M
4
, MS
4
. Komponen-komponen
pasang diatas dibagi menjadi komponen utama dan komponen bukan utama. Komponen utama
adalah sebagai akibat gaya tarik bulan dan matahari. Sedang komponen bukan utama adalah
sebagai akibat dari faktor non astronomis, seperti penguapan, tekanan atmosfer, curah hujan dan
pengaruh arus laut (Karmadibrata, 1985).

Tabel 3.1
Komponen-komponen Pasang Surut

No Komponen Simbol Keterangan
Periode
(Jam)
ω
(rad/jam)
1
Utama bulan M
2
Semi diurnal (tengah harian) 12:42 0.5059
2
Utama matahari S
2
Semi diurnal (tengah harian) 12:00 0.5236
3
Bulan, karena jarak bumi-
bulan
N
2
Semi diurnal (tengah harian) 12:66 0.4964
4
Matahari-bulan, karena
perubahan deklinasi
K
2
Semi diurnal (tengah harian) 11:97 0.5250
5
Matahari-bulan K
1
Diurnal (harian) 23:;93 0.2625
6
Utama bulan O
1
Diurnal (harian) 25:82 0.2434
7
Utama matahari P
1
Diurnal (harian) 24:07 0.2611
8
Utama bulan M
4
Seperempat harian 6:21 1.0117
9
Matahari-bulan MS
4
Seperempat harian 6:10 1.0295

Keterangan:
M
2
=

Pasang surut semi diurnal dipengaruhi oleh bulan
S
2
= Pasang surut semi diurnal dipengaruhi oleh gaya tarik matahari
N
2
= Pasang surut semi diurnal karena pengaruh perubahan jarak akibat lintasan bulan yang elips
K
2
= Dipengaruhi oleh perubahan jarak revolusi bumi terhadap matahari.
K
1
= Pasut diurnal yang dipengaruhi oleh perubahan deklinasi bulan dan matahari
O
1
= Pasut diurnal yang dipengaruhi oleh perubahan deklinasi bulan
P
1
= Pasut diurnal yang dipengaruhi oleh perubahan deklinasi matahari
M
4
= Kecepatan sudutnya dua kali M
2
dan termasuk kelompok perairan dangkal
MS
4
= Hasil interaksi S
2
dan M
2
dimana kecepatan sudutnya sama dengan sudut S
2
dan M
2
termasuk perairan
dangkal.

Tipe Pasang Surut
Menurut Nontji (1993) tipe pasang surut dapat dibedakan menjadi :
1. Pasang Surut Harian Ganda (Semi Diurnal Tide)
Pasang harian ganda yaitu pasang yang memiliki sifat dalam satu hari terjadi dua kali pasang
dan juga dua kali surut dengan tinggi yang hampir sama dan pasang surut terjadi berurutan
secara teratur.
2. Pasang Surut Harian Tunggal (Diurnal Tide)
Dalam satu hari hanya terjadi satu kali pasang tinggi dan satu kali pasang rendah.
3. Pasang Surut Campuran Condong ke Harian Ganda (Mixed Tide Prevailing Semi diurnal).
Dalam satu hari terjadi dua kali pasang tinggi dan dua kali pasang rendah tetapi periodenya
berbeda.
4. Pasang Surut Campuran Condong ke harian Tunggal (Mixed Tide Prevailing Diurnal).
Dalam satu hari terjadi satu kali pasang dan satu kali pasang rendah tetapi kadang-kadang
untuk sementara waktu terjadi dua kali pasang tinggi dan dua kali pasang rendah dengan
tinggi dan periode yang sangat berbeda.
Menurut Lisitzin (1974) sifat pasang di perairan dapat ditentukan dengan rumus Formzahl,
yang berbentuk:
2 2
1 1
0
S M
K
F
+
+
=
Keterangan:
F : Konstanta pasang harian utama
K
1
dan O
1
: Konstanta pasang harian utama
M
2
dan S
2
: Konstanta pasang ganda utama
Dari rumus tersebut sifat pasang dibagi menjadi :
1. Pasang ganda : F ≤ 0.25
2. Pasang campuran (dominasi ganda) : 0.25 < F ≤ 1.5
3. Pasang campuran (dominasi tunggal) : 1.5 < F ≤ 3
4. Pasang tunggal : F > 3









Gambar 3.5
Tipe pasang surut (Wyrtki, 1961).

Contoh-Contoh PERHITUNGAN PASANG SURUT
Setelah amplitudo (A) dan kelambatam fase (g
0
) diketahui, tahap berikutnya adalah menghitung duduk
tengah, air rendah terendah, air tinggi tertinggi, tipe pasang surut dan tunggang air.
Tabel . Nilai Amplitudo (A) Dan Kelambatan Fase (gº) Perairan Tanjung Pasir, Tangerang, Banten.
S
0
M
2
S
2
N
2
K
1
O
1
M
4
MS
4
K
2
P
1

A(cm) 103 1 6 4 23 12 0 1 2 7
g (º) - 24 277 196 142 199 272 218 277 142

Penentuan tipe pasang surut rumus Formzahl, yang berbentuk:
2 2
1 1
0
S M
K
F
+
+
=
Keterangan:
F : Konstanta pasang harian utama
K
1
dan O
1
: Konstanta pasang harian utama
M
2
dan S
2
: Konstanta pasang ganda utama

Dari rumus tersebut sifat pasang dibagi menjadi :

Pasang ganda : F ≤ 0.25
Pasang campuran (dominasi ganda) : 0.25 < F ≤ 1.5
Pasang campuran (dominasi tunggal) : 1.5 < F ≤ 3
Pasang tunggal : F > 3

Contoh :
23 + 12 45
F = --------------------- = ---------- = 6, 4 > 3 pasang tunggal
1 + 6 7
a. MSL (Duduk tengah)
MSL = S
0

b. Lowest Lower Water Level (LLWL)
2 1 1 1 2 2
( K P O K S M A AS LLWL
o
+ + + + + ÷ = )
c. Highest High Water Level (HHWL)
2 1 1 1 2 2
( K P O K S M A AS HHWL
o
+ + + + + + = )
Data Perhitungan Perairan Tanjung Pasir
a. MSL (Duduk tengah)
MSL = S
0
= 103 cm
b. Lowest Lower Water Level (LLWL)
2 1 1 1 2 2
( K P O K S M A AS LLWL
o
+ + + + + ÷ = )
= 103 – (1+6+23+12+7+2)
= 52 cm
c. Highest High Water Level (HHWL)

2 1 1 1 2 2
( K P O K S M A AS HHWL
o
+ + + + + + = )
= 103 + (1+6+23+12+7+2)
= 154 cm




Sedimen

Menurut Pipkin (1977) dalam Setiawan (2004), sedimen adalah pecahan batuan, mineral,
atau material organik yang ditransportasikan dari berbagai jarak dan sumber, kemudian
didepositkan oleh udara, angin, es dan air. Sedimen lain diendapkan dari materi yang melayang
dalam air atau dalam bentuk kimia pada suatu tempat.
Pettijohn (1975) mendefinisikan deposit sedimen sebagai bentuk material padat yang
diakumulasikan pada atau dekat permukaan bumi pada temperatur atau tekanan rendah yang
merupakan karakteristik dari lingkungan. Lebih jauh diterangkan bahwa bentuk sedimen tidak
selalu didepositkan dari larutan yang biasanya menjadi material dari dalam bentuk batuan atau
padatan.
Krumbein dan Sloos (1963) dalam Setiawan (2004), menyatakan bahwa sedimentasi
merupakan proses pembentukan sedimen atau endapan atau batuan sedimen yang diakibatkan
oleh pengendapan atau akumulasi dari material pembentukan asalnya pada lingkungan
pengendapan (delta, danau, pantai, laut dangkal sampai laut dalam). Proses–proses yang
menyangkut di dalam sedimentasi adalah pelapukan, pengangkutan, pengendapan, dan
pemampatan dari batuan.
Siebold dan Berger (1993) menyebutkan bahwa sumber sedimen laut berasal dari angin,
vulkanik dan masukan dari sungai yang sebagian besar dihasilkan dari pelapukan batuan diatas
daratan.
Hutabarat dan Evans (1984) mengklasifikasikan sedimen berdasarkan pada asal sedimen
kedalam tiga kelompok yaitu :
1. Sedimen Lithogenous
Sedimen lithogenous adalah sedimen yang berasal dari sisa pengikisan batu-batuan yang berasal
dari darat. Hal ini terjadi karena adanya suatu kondisi yang ekstrim, seperti adanya proses
pemanasan dan pendinginan terhadap batu-batuan yang terjadi secara berulang-ulang dan
kemudian diangkut oleh sungai yang merupakan salah satu media yang mengangkut partikel
batu-batuan dari darat ke laut.
2. Sedimen Biogenous
Sedimen biogenous tersusun oleh sisa rangka dan cangkang yang berasal dari organisme hidup.
Sedimen biogenous membentuk endapan partkel-partikel halus sampai kasar dapat mengendap
di pantai sampai laut dalam
3. Sedimen Hydrogenous
Sedimen hydrogenous adalah partikel yang dibentuk sebagai hasil reaksi kimia dalam air laut.
Sebagai contoh adalah manganes nodule yang berasal dari besi dan mangan. Reaksi dapat
bersifat sangat lambat, dimana untuk membentuk suatu nodule yang besar dibutuhkan waktu
selama berjuta-juta tahun dan akan berhenti sama sekali jika nodule telah terkubur oleh
sedimen.
Nybakken (1992) menyatakan bahwa muara keberadaannya didominasi oleh substrat
berlumpur, yang sering kali sangat lunak. Substrat berlumpur ini berasal dari sedimen yang dibawa
ke muara baik oleh air laut maupun air tawar. Mengenai air tawar, sungai mengangkut partikel
lumpur dalam bentuk suspensi. Cara pengangkutan sedimen dalam aliran sungai menurut Selley
(1988) dalam Martoyo (2004) ada tiga macam, yaitu :
a. Sedimen merayap (bed load) yaitu material yang terangkut secara menggeser dan
menggelinding ke dasar sungai.
b. Sedimen loncat (saltation load) yaitu material yang meloncat-loncat bertumpu pada dasar
sungai.
c. Sedimen layang (suspended bed) yaitu material yang terbawa arus dengan cara melayang-
layang dalam air.

Ukuran Butir Sedimen
Dyer (1990) menyatakan bahwa salah satu faktor penting yang menentukan pengendapan
dan transport sedimen adalah ukuran partikelnya. Sedimen berukuran lebih kecil akan lebih mudah
berpindah dibandingkan dengan sedimen berukuran besar, oleh karena itu banyak informasi yang
diperoleh dengan mengetahui ukuran butir dan proporsi butir. Penyebaran ukuran butir sedimen
mencerminkan kondisi lingkungan pengendapan, yaitu proses yang berperan dan besarnya energi
pengendapan tersebut.

Tabel 3.3
Klasifikasi Ukuran Butir Menurut Skala Wentworth

Jenis partikel
Kisaran ukuran butir (mm) phi (Φ)
Bongkahan >256 -8
Berangkal 64-256 -8 – (-7)
Kerakal 4-64 -7 – (-2)
Kerikil 2-4 -2 – (-1)
Pasir sangat kasar 1-2 -1 – 0
Pasir kasar 1-0,5 0-1
Pasir sedang 0,5-0,25 1-2
Pasir halus 0,25-0,125 2-3
Pasir sangat halus 0,125-0,0625 3-4
Lanau 0,0039-0,0625 4-7
Lempung <0,0039 >8
Sumber : Folk (1954) dan Wentworth(1922) dalam Dyer (1990)

Menurut Dyer (1990), analisa distribusi ukuran butir diperlukan untuk menginterpretasi
proses berlangsungnya sedimentasi. Penyebaran ukuran butir sedimen mencerminkan kondisi
lingkungan pengendapan, yaitu proses yang berperan dan besarnya energi proses pengendapan
tersebut. Dalam mempelajari distribusi ukuran butir umumnya menggunakan skala phi. Batas antar
kelas skala phi dapat diekspresikan dengan logaritma negatif dari dimensi dengan basis 2.
d phi 2 log ) ( ÷ = u
d merupakan ukuran partikel dalam mm.
Mean (Rata-rata)
Mean merupakan nilai statistik rata-rata dari ukuran butir. Pethick (1984) menyatakan
bahwa mean akan memperhatikan energi yang disebabkan oleh air atau angin dalam mentransport
sedimen, disamping itu penyebaran frekwensi besar butir akan sensitif terhadap proses lingkungan
pengendapan. Rata-rata memperlihatkan besarnya energi yang disebabkan air atau angin yang
menggerakkan sedimen
Menurut Folk dan Ward (1957) dalam Dyer (1990), pengolahan data dari hasil analisa
ukuran butir meliputi perhitungan mean, dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

M =
3
84 50 16
Q Q Q + +

Dimana Q ke-n = menunj ukkan ni l ai per s ent i l ur ut an/ bes ar n yang di ukur
dalam satuan phi (φ).

Sortasi (Pemilahan)
Sortasi atau pemilahan adalah penyebaran ukuran butir terhadap ukuran butir rerata.
Pemilahan yang baik ditandai dengan rendahnya harga pemilahan, dengan kata lain dihasilkan
oleh aksi yang selektif dari angin atau gelombang yang mentransport dan mendeposisikan ukuran
butir dengan kisaran yang pendek. Nilai sortasi juga menggambarkan kondisi selama pengendapan.
Sortasi dikatakan baik bila batuan sedimen mempunyai penyebaran ukuran butir terhadap ukuran
butir rata-rata pendek, sebaliknya apabila sedimen mempunyai penyebaran ukuran butir terhadap
ukuran butir panjang disebut sortasi jelek (Dyer, 1990).
Menurut Folk dan Ward (1957) dalam Dyer (1990), pengolahan data dari hasil analisa
ukuran butir meliputi perhitungan sortasi, dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
+
Dimana Q ke-n = menunj ukkan ni l ai per s ent i l ur ut an/ bes ar n yang di ukur
dalam satuan phi (φ).

Tabel Klasifikasi Tingkat Pemilahan (Sortasi)

No. Klasifikasi Pemilahan (Sortasi) Harga Pemilahan (Sortasi)
1 Terpilah sangat baik < 0,35
2 Terpilah baik 0,35 – 0,50
3 Terpilah sedang 0,50 – 1,00
4 Terpilah jelek 1,00 – 2,00
5 Terpilah sangat jelek 2,00 – 4,00
6 Terpilah sangat jelek sekali > 4,00


Skewness (Kepencengan)
Folk (1954) dalam Dyer (1974) menyatakan bahwa kepencengan adalah penyimpangan
distribusi ukuran butir terhadap distribusi normal. Distribusi normal adalah suatu distribusi ukuran
butir dimana pada bagian tengah dari sampel mempunyai jumlah butir paling banyak. Butiran yang
lebih kasar dan lebih halus tersebar di sisi kanan dan kiri dengan jumlah sama. Kepencengan
bernilai positif yang menandakan lebih banyaknya butiran halus dan ini dapat disebabkan oleh
perombakan butiran halus pada deposit atau perpindahan secara selektif dari butiran kasar.
Menurut Folk dan Ward (1957) dalam Dyer (1990), pengolahan data dari hasil analisa
ukuran butir meliputi perhitungan skewness dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Kepencengan (Skewness)
+

Dimana Q ke-n = menunj ukkan ni l ai per s ent i l ur ut an/ bes ar n yang di ukur
dalam satuan phi (φ).

Tabel Klasifikasi Tingkat Kepencengan (Skewness)

No. Tingkat kepencengan (Skewness) Harga Kepencengan (Skewness)
1 Menceng sangat kasar (-)1,00 – (-)0,30
4
16 84
Q Q
So
÷
=
6 . 6
5 95
Q Q ÷
) ( 2
2
16 84
50 16 84
Q Q
Q Q Q
Sk
÷
÷ +
=
) ( 2
2
5 95
50 5 95
Q Q
Q Q Q
÷
÷ +
Sumber : Folk dan Ward dalam Dyer (1990)

2 Menceng kasar (-)0,30 – (-)0,10
3 Menceng simetris (-)0,10 – (+)0,10
4 Menceng halus (+)0,10 – (+)0,30
5 Menceng sangat halus (+)0,30 – (+)1,00
Sumber : Folk dan Ward dalam Dyer (1990)

Kurtosis (Keruncingan)
Menurut Darlan (1996) dalam Swastihayu (2005), kurtosis merupakan kedataran lengkung
sebaran kekerapan. Kurtosis dapat dihitung melalui grafik kurtosis serta menggambarkan hubungan
antara sortasi, bagian tengah kurva dengan bagian bawah kurva. Bila kurva keruncingan relatif
(>1,00) disebut Leptokurtic sedang kurva tumpul (<1,00) adalah Platykurtic. Perhitungan m kurtosis
dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Keruncingan (Kurtosis)
K =
) ( 44 . 2
25 75
5 95
Q Q
Q Q
÷
÷

Dimana Q ke-n = menunj ukkan ni l ai per s ent i l ur ut an/ bes ar n yang di ukur
dalam satuan phi (φ).


Tabel Klasifikasi Tingkat Keruncingan (Kurtosis)

No. Tingkat Keruncingan (Kurtosis) Harga Keruncingan (Kurtosis)
1 Puncak sangat tumpul < 0,67
2 Puncak tumpul 0,67 – 0,90
3 Puncak cukup runcing 0,90 – 1,11
4 Puncak runcing 1,11 – 1,50
5 Puncak sangat runcing 1,50 – 3,00
6 Puncak sangat runcing sekali > 3,00
Sumber : Folk dan Ward dalam Dyer (1990)




Gambar 3.6
Sistem Trianguler Penamaan Sedimen (Buchanan, 1984 dalam Mcintyre and Holme, 1984)