You are on page 1of 19

TINJAUAN PUSTAKA I. DEFINISI Kanker hati (hepatocellular carcinoma) adalah suatu kanker yang timbul dari hati.

Ia juga dikenal sebagai kanker hati primer atau hepatoma. Hati terbentuk dari tipe-tipe sel yang berbeda (contohnya, pembuluh-pembuluh empedu, pembuluhpembuluh darah, dan sel-sel penyimpan lemak). Bagaimanapun, sel-sel hati (hepatocytes) membentuk sampai 80% dari jaringan hati. Jadi, mayoritas dari kankerkanker hati primer (lebih dari 90 sampai 95%) timbul dari sel-sel hati dan disebut kanker hepatoselular (hepatocellular cancer) atau Karsinoma (carcinoma)(4). Hepatoma (karsinoma hepatoseluler) adalah kanker yang berasal dari sel-sel hati. Hepatoma merupakan kanker hati primer yang paling sering ditemukan. Tumor ini merupakan tumor ganas primer pada hati yang berasal dari sel parenkim atau epitel saluran empedu atau metastase dari tumor jaringan lainnya(5). II. EPIDEMIOLOGI Kanker hati adalah kanker kelima yang paling umum di dunia. Suatu kanker yang mematikan, kanker hati akan membunuh hampir semua pasien-pasien yang menderitanya dalam waktu satu tahun. Pada tahun 1990, organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa ada kira-kira 430,000 kasus-kasus baru dari kanker hati diseluruh dunia, dan suatu jumlah yang serupa dari pasien-pasien yang meninggal sebagai suatu akibat dari penyakit ini. Sekitar tiga per empat kasus-kasus kanker hati ditemukan di Asia Tenggara (China, Hong Kong, Taiwan, Korea, dan Japan). Kanker hati juga adalah sangat umum di Afrika Sub-Sahara (Mozambique dan Afrika Selatan). Frekwensi kanker hati di Asia Tenggara dan Afrika Sub-Sahara adalah lebih besar dari 20 kasus-kasus per 100,000 populasi. Berlawanan dengannya, frekwensi kanker hati di Amerika Utara dan Eropa Barat adalah jauh lebih rendah, kurang dari lima per 100,000 populasi. Bagaimanapun, frekwensi kanker hati diantara pribumi Alaska sebanding dengan yang dapat ditemui pada Asia Tenggara. Lebih jauh, data terakhir menunjukan bahwa frekwensi kanker hati di Amerika secara keseluruhannya meningkat. Peningkatan ini disebabkan terutama oleh hepatitis C kronis, suatu infeksi hati yang menyebabkan kanker hati(4).
1

Di samping dapat menimbulkan kanker hati. b. pasien-pasien dengan virus hepatitis B yang berada pada risiko yang paling tinggi untuk kanker hati adalah pria-pria dengan sirosis. Infeksi Hepatitis B Hepatitis B adalah penyebab tertinggi timbulnya kanker hati di daerah yang tinggi prevalensinya seperti di Cina dan Indonesia. ia ada diantaranya. Infeksi Hepatitis C Infeksi virus hepatitis C (HCV) juga dihubungkan dengan perkembangan kanker hati. Hal ini dibuktikan pada penelitian di Taiwan. Golongan dengan risiko tinggi ini tampaknya terbanyak mengenai penderita yang tinggal di daerah endemi Hepatitis B seperti di Indonesia. sedangkan diantara orang-orang Amerika keturunan Afrika dan Hispanics.Di Amerika frekwensi kanker hati yang paling tinggi terjadi pada imigranimigran dari negara-negara Asia. dimana kanker hati adalah umum. Sebagai tambahan. III. dimana penularan lebih banyak terjadi secara vertical (dari ibu ke bayi) dibanding penderita yang memperolehnya secara horizontal pada saat dewasa. Seperti dengan virus hepatitis B. hepatitis B kronis juga dapat mengakibatkan Sirosis hati (pengerasan organ hati) akibat reaksi peradangan berulang. Di Jepang.000 pria diteliti secara prospektif untuk mengetahui terjadinya kanker hati. Ternyata risiko untuk terkena kanker hati pada penderita hepatitis B yang HbsAg-nya positif meningkat lebih dari 100 kali dibandingkan populasi normal(5). FAKTOR RISIKO a. virus hepatitis B dan riwayat kanker hati keluarga(4). Frekwensi kanker hati adalah tinggi diantara orang-orang Asia karena kanker hati dihubungkan sangat dekat dengan infeksi hepatitis B kronis. virus hepatitis C hadir pada sampai dengan 75% dari kasus-kasus kanker hati. Penderita hepatitis B kronis dan pembawa virus hepatitis B (carrier) memiliki risiko terkena kanker hati yang lebih tinggi dari populasi normal. Frekwensi kanker hati diantara orang-orang kulit putih (Caucasians) adalah yang paling rendah. kebanyakan dari pasien-pasien virus hepatitis C dengan kanker hati 2 . dimana lebih dari 20. Ini terutama begitu pada individu-individu yang telah terinfeksi dengan hepatitis B kronis untuk kebanyakan dari hidup-hidupnya(4).

Seperti diketahui. telah disarankan bahwa protein inti (pusat) dari virus hepatitis C adalah tertuduh pada pengembangan kanker hati. Pada sisi lain. Beberapa studi-studi prospektif Eropa melaporkan bahwa kejadian tahunan kanker hati pada pasien-pasien virus hepatitis C yang ber-sirosis berkisar dari 1.5% per tahun. d.000 individu di Amerika Serikat dengan masa pengamatan selama 16 tahun mendapat terjadinya peningkatan angka mortalitas sebesar 5 kali akibat kanker hati pada kelompok individu dengan berat badan tertinggi (IMT 35-40) dibandingkan dengan kelompok individu yang IMT-nya normal. ada beberapa individu-individu yang terinfeksi virus hepatitis C kronis yang menderita kanker hati tanpa sirosis. Kanker hati terjadi kira-kira 8 sampai 10 tahun setelah perkembangan sirosis pada pasienpasien ini dengan hepatitis C. Karena dari berbagai penelitian menunjukan bahwa konsumsi alkohol >50-70 gram per hari dan dalam jangka waktu yang lama ternyata tidak hanya meningkatkan risiko terbentuknya sirosis hati namun juga mempercepat terjadinya sirosis pada penderita hepatitis C dan kanker hati(5). Jadi. c. Akibat dari aksi-aksi ini adalah bahwa sel-sel hati terus berlanjut hidup dan reproduksi tanpa pengendalian-pengendalian normal.mempunyai sirosis yang berkaitan dengannya.4 sampai 2. waktu rata-rata untuk mengembangkan kanker hati setelah paparan pada virus hepatitis C adalah kira-kira 28 tahun. Alkohol Sirosis hati yang disebabkan konsumsi alkohol yang berlebih ternyata merupakan penyebab utama terjadinya kanker hati di usia lanjut. obesitas merupakan faktor resiko utama untuk non-alcoholic fatty liver disease 3 . Hal ini didukung oleh data yang dibuat di Amerika Serikat terhadap para veteran. Protein inti sendiri (suatu bagian dari virus hepatitis C) diperkirakan menghalangi proses alami kematian sel atau mengganggu fungsi dari suatu gen (gen p53) penekan tumor yang normal. Pada beberapa studi-studi retrospektif-retrospektif (melihat kebelakang dan kedepan dalam waktu) dari sejarah alami hepatitis C. Obesitas Suatu penelitian kohort prospektif pada lebih dari 900. yang adalah apa yang terjadi pada kanker(4).

Penelitian kohort besar oleh El Serag dkk yang melibatkan 173. f. Sebagai tambahan pada kondisi-kondisi yang digambarkan diatas (hepatitis B.(NAFLD). dipercaya dapat menyebabkan kerusakan sel hati yang luas yang pada akhirnya menimbulkan sirosis dan kanker hati(6). jenis kelamin dan ras(6). alkohol. e. Insidens juga semakin tinggi seiring dengan lamanya pengamatan (kurang dari 5 tahun hingga lebih dari 10 tahun). Diabetes Melitus (DM) Telah lama ditengarai bahwa DM merupakan faktor risiko baik untuk penyakit hati kronik maupun kanker hati melalui terjadinya perlemakan hati dan steatohepatitis non-alkoholik (NASH). Disamping itu. dan 4 .643 pasien DM dan 650. g.3.yang bukan disebabkan oleh alkohol (NASH = Non Alcohol Steato Hepatitis). meskipun diakui bahwa sebagian dari kasus DM sebelumnya sudah menderita sirosis hati. Idiopatik Antara 15-40% kanker hati ternyata tidak diketahui penyebabnya walaupun sudah dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh. rasio odd dari DM adalah 4. Beberapa penjelasan akhir-akhir ini menyebutkan peranan perlemakan hati . DM dihubungkan dengan peningkatan kadar insulin dan insulin-like growth factors (IGFs) yang merupakan factor promotif potensial untuk kanker.620 pasien bukan-DM menemukan bahwa insidens kanker hati pada kelompok DM lebih dari 2 kali lipat dibandingkan dengan insidens kanker hati kelompok bukan-DM. antara lain penelitian kasus-kelola oleh hasan dkk yang melaporkan bahwa dari 115 kasus kanker hati dan 230 pasien non-kanker hati. khususnya non-alcoholic steatoheptitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kemudian dapat berlanjut menjadi kanker hati(6). Indikasi kuat asosiasi antara DM dan kanker hati terlihat dari banyak penelitian.fatty liver disease . Sirosis Individu-individu dengan kebanyakan tipe-tipe sirosis hati berada pada risiko yang meningkat mengembangkan kanker hati. hepatitis C. DM merupakan faktor risiko HCC tanpa memandang umur.

Lebih dari 75% tidak memberikan gejala-gejala khas. yaitu: 5 . dan banyak tanpa keluhan. tidak bisa tidur. mual. Kriteria diagnosa Kanker Hati Selular (KHS) menurut PPHI (Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia). dan lain-lain(7). nyeri otot. Keluhan lain terjadinya perut membesar karena ascites (penimbunan cairan dalam rongga perut). bengkak kaki. GEJALA KLINIS Pada permulaannya penyakit ini berjalan perlahan. perdarahan dari dubur. Keluhan utama yang sering adalah keluhan sakit perut atau rasa penuh ataupun ada rasa bengkak di perut kanan atas dan nafsu makan berkurang.8 dan pendekatan laboratorium alphafetoprotein yang akurasinya 60 – 70%(8). bagaimanapun. Contohnya. gatal. berak hitam. Kanker hati juga dihubungkan sangat erat dengan kelainan biokimia pada masa kanak-kanak yang berakibat pada sirosis dini. Penyebab-penyebab tertentu dari sirosis lebih jarang dikaitkan dengan kanker hati daripada penyebab-penyebab lainnya. demam. DIAGNOSIS Dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dan maju pesat.hemochromatosis). Begitu juga biasanya diperkirakan bahwa kanker hati adalah jarang ditemukan pada primary biliary cirrhosis (PBC). suatu kondisi yang diturunkan/diwariskan yang dapat menyebabkan sirosis. V. kuning. IV.4. Studi-studi akhir ini. menunjukan bahwa frekwensi kanker hati pada PBC adalah sebanding dengan yang pada bentukbentuk lain sirosis(4). muntah. kekurangan alpha 1 anti-trypsin. dan rasa lemas. muntah darah. berat badan menurun. mungkin menjurus pada kanker hati. kanker hati jarang terlihat dengan sirosis pada penyakit Wilson (metabolisme tembaga yang abnormal) atau primary sclerosing cholangitis (luka parut dan penyempitan pembuluh-pembuluh empedu yang kronis). Ada penderita yang sudah ada kanker yang besar sampai 10 cm pun tidak merasakan apa-apa. maka berkembang pula cara-cara diagnosis dan terapi yang lebih menjanjikan dewasa ini. Kanker hati selular yang kecil pun sudah bisa dideteksi lebih awal terutamanya dengan pendekatan radiologi yang akurasinya 70 – 95%1.

Hasil biopsi atau aspirasi biopsi jarum halus menunjukkan KHS. : Satu fokal tumor berdiameter > 3 cm. ataupun Positron Emission Tomography (PET) yang menunjukkan adanya KHS. Nuclear Medicine. Tumor terbatas pada segement I atau multi-fokal terbatas pada lobus kanan/kiri Stadium III : Tumor pada segment I meluas ke lobus kiri (segment IV) atas ke lobus kanan segment V dan VIII atau tumor dengan invasi peripheral ke sistem pembuluh darah (vascular) atau pembuluh empedu (billiary duct) tetapi hanya terbatas pada lobus kanan atau lobus kiri hati. Alphafetoprotein Sensitivitas Alphafetoprotein (AFP) untuk mendiagnosa KHS 60% – 70%. 2. AFP (Alphafetoprotein) yang meningkat lebih dari 500 mg per ml. Magnetic Resonance Imaging (MRI). Diagnosa KHS didapatkan bila ada dua atau lebih dari lima kriteria atau hanya satu yaitu kriteria empat atau lima. Ultrasonography (USG). PEMERIKSAAN PENUNJANG a. VI. 3. Angiography. Computed Tomography Scann (CT Scann). artinya hanya pada 60% – 70% saja dari penderita kanker hati ini 6 . Peritoneoscopy dan biopsi menunjukkan adanya KHS. 4. • • atau tumor dengan invasi ke dalam pembuluh darah hati (intra hepaticvaskuler) ataupun pembuluh empedu (biliary duct) atau tumor dengan invasi ke pembuluh darah di luar hati (extra hepatic vessel) seperti pembuluh darah vena limpa (vena lienalis) • • atau vena cava inferior atau adanya metastase keluar dari hati (extra hepatic metastase). Hati membesar berbenjol-benjol dengan/tanpa disertai bising arteri. 5. STADIUM PENYAKIT Stadium I Stadium II : Satu fokal tumor berdiametes < 3cm yang terbatas hanya pada salah satu segment tetapi bukan di segment I hati.1. Stadium IV : Multi-fokal atau diffuse tumor yang mengenai lobus kanan dan lobus kiri hati. VII.

Bila ada kanker langsung dapat terlihat jelas berupa benjolan (nodule) berwarna kehitaman. Rendahnya nilai akurasi ini disebabkan walaupun 7 . dan terratoma(9). Sayangnya USG conventional hanya dapat memperlihatkan benjolan kanker hati diameter 2 cm – 3 cm saja. Ultrasonography (USG) Abdomen Dengan USG hitam putih (grey scale) yang sederhana (conventional) hati yang normal tampak warna ke-abuan dan texture merata (homogen). atau berwarna kehitaman campur keputihan dan jumlahnya bervariasi pada tiap pasien bisa satu. c. belum bisa dipastikan hanya mempunyai kanker hati ini sebab AFP juga dapat meninggi pada keadaan bukan kanker hati seperti pada sirrhosis hati dan hepatitis kronik. sehingga jelaslah hasil yang diperoleh mempunyai nilai diagnostik dan akurasi yang tinggi karena benar jaringan tumor ini yang diambil oleh jarum biopsi itu dan bukanlah jaringan sehat di sekitar tumor. ataukah satu nodule yang besar dan berkapsul atau tidak berkapsul. Spesifitas AFP hanya berkisar 60% artinya bila ada pasien yang diperiksa darahnya dijumpai AFP yang tinggi. aman. sedangkan pada 30% – 40% penderita nilai AFP nya normal. Cara melakukan biopsi dengan dituntun oleh USG ataupun CT scann mudah. namun nilai akurasi ketepatan diagnosanya hanya 60%.menunjukkan peninggian nilai AFP. b. Tapi bila USG conventional ini dilengkapi dengan perangkat lunak harmonik system bisa mendeteksi benjolan kanker diameter 1 cm – 2 cm. AJH (aspirasi jarum halus) Biopsi aspirasi dengan jarum halus (fine needle aspiration biopsy) terutama ditujukan untuk menilai apakah suatu lesi yang ditemukan pada pemeriksaan radiologi imaging dan laboratorium AFP itu benar pasti suatu hepatoma. kanker testis. Tindakan biopsi aspirasi yang dilakukan oleh ahli patologi anatomi ini hendaknya dipandu oleh seorang ahli radiologi dengan menggunakan peralatan ultrasonografi atau CT scann fluoroscopy sehingga hasil yang diperoleh akurat. dua atau lebih atau banyak sekali dan merata pada seluruh hati. dan dapat ditolerir oleh pasien dan tumor yang akan dibiopsi dapat terlihat jelas pada layar televisi berikut dengan jarum biopsi yang berjalan persis menuju tumor.

Lebih canggih lagi sekarang CT scann sudah dapat membuat gambar kanker dalam tiga dimensi dan empat dimensi dengan sangat jelas dan dapat pula memperlihatkan hubungan kanker ini dengan jaringan tubuh sekitarnya. Pada setiap pasien yang akan menjalani operasi reseksi hati harus dilakukan pemeriksaan angiografi. Selain operasi masih ada banyak cara misalnya transplantasi hati. VIII. Dengan angiografi ini dapat dilihat berapa luas kanker yang sebenarnya. Lebih lengkap lagi bila dilakukan CT angiography yang dapat memperjelas batas antara kanker dan jaringan sehat di sekitarnya sehingga ahli bedah sewaktu melakukan operasi membuang kanker hati itu tahu menentukan di mana harus dibuat batas sayatannya(14). injeksi tumor dengan etanol agar 8 .USG conventional ini dapat mendeteksi adanya benjolan kanker namun tak dapat melihat adanya pembuluh darah baru (neo-vascular). e. emboli intra arteri. CT scann yang saat ini teknologinya berkembang pesat telah pula menunjukkan akurasi yang tinggi apalagi dengan menggunakan teknik hellical CT scann. multislice yang sanggup membuat irisan-irisan yang sangat halus sehingga kanker yang paling kecil pun tidak terlewatkan. d. Kanker yang kita lihat dengan USG yang diperkirakan kecil sesuai dengan ukuran pada USG bisa saja ukuran sebenarnya dua atau tiga kali lebih besar. Pasien sirosis hati mempunyai toleransi yang buruk pada operasi segmentektomi pada hepatoma. PENGOBATAN Pengobatan hepatoma masih belum memuaskan. banyak kasus didasari oleh sirosis hati. kemoterapi. Angigrafi bisa memperlihatkan ukuran kanker yang sebenarnya. CT Scan Di samping USG diperlukan CT scann sebagai pelengkap yang dapat menilai seluruh segmen hati dalam satu potongan gambar yang dengan USG gambar hati itu hanya bisa dibuat sebagian-sebagian saja. Angiografy Dicadangkan hanya untuk penderita kanker hati-nya yang dari hasil pemeriksaan USG dan CT scann diperkirakan masih ada tindakan terapi bedah atau non-bedah masih yang mungkin dilakukan untuk menyelamatkan penderita.

tetapi hasil tindakan tersebut masih belum memuaskan dan angka harapan hidup 5 tahun masih sangat rendah(2). Subjek yang bilirubin normal tanpa hipertensi portal yang m bermakna. Kematian pasca transplantasi tersering disebabkan oleh rekurensi tumor di dalam maupun di luar transplan. serta derajat pemburukan hepatik. b. Transplantasi hati Bagi pasien kanker hati dan sirosis hati. asam asetat) atau dengan memodifikasi suhunya (radiofrequency.terjadi nekrosis tumor.kanker hati difus atau multifokal. nekrosis. cryoablation). Karena sirosis hati yang melatarbelakanginya serta seringnya multinodularitas. oklusi vaskular dan fibrosis. angka harapan hidup 5 atahun dapat mencapai 50%. c. a. Rekurensi tumor bahkan mungkin diperkuat oleh obat antirejeksi yang harus diberikan. Dasar kerjanya adalah menimbulkan dehidrasi. sirosis stadium lanjut dan penyakit penyerta yang dapat mempengaruhi ketahanan pasien menjalani operasi(6). harapan hidup 5 tahunnya dapat mencapai 70%. Untuk tumor kecil (diameter <5 cm) pada pasien sirosis Child-Pugh A. Kontraindikasi tindakan ini adalah adanya metastatis ekstrahepatik. transplantasi hati memberikan kemungkinan untuk menyingkirkan tumor dan menggantikan parenkim hati yang mengalami disfungsi. resektabilitas kanker hati sangat rendah. Parameter yang dapat digunakan adalah skor child plug dan derajat hipertensi portal atau kadar bilirubin serum dan derajat hipertensi portal saja. Reseksi hepatik Untuk pasien dalam kelompok non-sirosis yang biasanya mempunyai fungsi hati normal pilihan utama terapi adalah reseksi hepatik. Injeksi etanol perkutan (PEI) merupakan teknik terpilih untuk tumor kecil karena efikasinya tinggi. Ablasi tumor perkutan Destruksi dari sel neoplastik dapat dicapai dengan bahan kimia (alkohol. microwave. Tumor yang berdiameter kurang dari 3 cm lebih jarang kambuh dibandingkan dengan tumor yang diamternya lebih dari 5 cm(6). jumlah dan ukuran tumor. Namun untuk pasien sirosis diperlukan kriteria seleksi karena operasi dapat memicu timbulnya gagal hati yang harapan hidupnya menurun. Di samping itu kanker hati juga sering kambuh meskupin sudah menjalani reseksi bedah kuratih. Pilihan terapi ditetapkan berdasarkan atas ada-tidaknya sirosis. efek sampingnya rendah serta relatif murah. PEI bermanfaat untuk pasien 9 . laser.

kelompok terapi PEI atau reseksi kuratif 22%)(6). Jumlah diet garam yang dianjurkan biasanya sekitara dua gram per hati. yang tidak bisa diberi terapi radikal. oktreotid. radiasi internal. pemberian asam poliprenoik (polyprenoic acid) selama 12 bulan dilaporkan dapat menurunkan angka rekurensi pada bulan ke 38 secara bermakna dibandingkan dengan kelompok plasebo (kelompok plasebo 49%. pada stadium ini hanya TAE/TACE (transarterial embolization/chemo embolization) saja yang menunjukkan penuruanan pertumbuhan tumor serta dapat meningkatkan harapan hidup pasien dengan kanker hati yang tidak resektabel. namun tetap tidak berpengaruh terhadap harapan hidup pasien. Terapi paliatif Sebagian besar pasien kanker hati didiagnosis pada stasium menengah-lanjut (intermediate-advanced stage) yang tidak ada terapi standarnya. Asites dan edema Untuk mengurangu edema dan asites.dengan tumor kecil yang resektabilitasnya terbatas karena adanya sirosis hati nonChild A. Guna mencegah terjadinya rekurensi tumor. e. seperti imunoterapi dengan interferon. antiandrogen. Bila 10 . dan cairan sekitar satu liter sehari. d. terapi antiestrogen. pasien dianjurkan membatasi asupan garam dan air. RFA lebih mahal dan efek sampingnya lebih banyak dibandingkan dengan PEI. Adapun beberapa jenis terapi lain untuk kanker hati yang tidak resektabe. Kombinasi diuretik spironolakton dan furosemid dapat menurunkan dan menghilangkan edema dan asites pada sebagian besar pasien. Selain itu. TACE dengan frekuensi 3 hingga 4 kali setahun dianjurkan pada pasien yang fungsi hatinya cukup baik (Child-Pugh A) serta tumor multinodular asimtomatik tanpa invasi vaskular atau penyebaran ekstrahepatik. Tatalaksana komplikasi sirosis hati(10) 1. serangan iskemik akibat terapi ini dapat mengakibatkan efek samping berat. Namun bagi pasien yang dalam keadaan gagal hati (Child-Pugh B-C). Radiofrequency Ablation (RFA) menunjukkan angka keberhasilan yang lebih tinggi dari pada PEI dan efikasinya tertinggi untuk tumor yang lebih besar dari 3 cm. Berdasarkan meta analisis. kemoterapi arterial atau sistemik masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan penilaian yang meyakinkan(6).

laktulosa. antibiotika oral seperti neomisin atau metronidazol dapat ditambahkan. Untuk mendapat efek laktulosa. bertendensi perdarahan ulang dan setiap kali berdarah. pasien berisiko meninggal. dapat dilakukan parasintesis abdomen untuk mengambil cairan asites sedemikian besar sehingga menimbulkan keluhan nyeri akibat distensi abdomen. parasintesis dapat dilakukan dalam jumlah lebih dari 5 liter (large volume paracentesis = LVP). 2. ada tiga tindakan yang harus segera diberikan : 1) singkirkan penyebab enselopati yang lain. Propanolol atau nadolol. seperti : klisma. dosisnya harus sedemikian rupa sehingga pasien buang air besar dua sampai tiga kali sehari. merupakan obat penyekat reseptor beta nonselektif. perubahan kepribadian. maupun prosedur untuk merusak atau mengeradikasi varises. Pengobatan lain untuk asites refrakter adalah TIPS (Transjugular intravenous portosystemic shunting) atau transplantasi hati. atau tanda-tanda lain enselopati hepatik. metronidazol atau vankomisin). Ensefalopati hepatik Pasien dengan siklus tidur abnormal. dan atau kesulitan bernapas karena keterbatasan geralan diafragma. asam amino rantai cabang. Sekali varises mangalami perdarahan. Pada pasien enselopati hepatik yang semakin jelas. pasien sirosis berisiko mengalami perdarahan serius akibat pecahnya varises. 11 . gangguan berpikir. maupun prosedur untuk menurunkan tekanan vena porta. Karena itu pengobatan ditujukan untuk pencegahan perdarahan pertama maupun pencegahan perdarahan ulang dikemudian hari. dan dapat dipakai untuk mencegah perdarahan pertama maupun perdarahan ulang varises pasien sirosis. diet rendah atau tanpa protein. biasanya harus mulai diobati dengan diet rendah protein dan laktulosa oral.pemakaian diuretik tidak berhasil (asites refrakter). antibiotika (neomisin. Bila gejala enselopati masih tetap ada. Untuk tujuan tersebut. termasuk pemberian obat dan prosedur untuk menurunkan tekanan vena porta. 2) perbaiki atau singkirkan faktor pencetus dan 3) segera mulai pengobatan empiris yang dapat berlangsung lama. Perdarahan varises Bila varises telah timbul di bagian diatal esofagus atau proksimal lambung. ada beberapa cara pengobatan yang dianjurkan. 3. Efektif menurunkan tekanan vena porta.

Bila enselopati tetap ada. PENCEGAHAN Pencegahan terhadap kanker disini adalah suatu tindakan yang berupaya untuk menghindari segala sesuatu yang menjadi faktor resiko terjadinya kanker dan memperbesar faktor protektif untuk mencegah kanker.3 12 . preparat zenk. dan atau ornitin aspartat. dapat dipertimbangkan transplantasi hati.7 1.8 >2.8-3. child B=7. IX.9. atau timbul berulang kali dengan pengobatan empiris.5 2. child C=10-15 3 Berat/koma Masif >3 <2. X.bromokriptin.3 Ket : child A=5-6.7-2.5 PT <1. PROGNOSIS Klasifikasi child-plugh(6) Nilai 1 2 Ensefalopati Minimal Asites Nihil Minimal Bilirubin(mg/dl) <2 2-3 Albumin >3. Prinsip utama pencegahan kanker hati adalah dengan melakukan skrining kanker hati sedini mungkin(5).

Pentingnya Peranan Radiologi Dalam Deteksi Dini dan Pengobatan Kanker Hati Primer. Maglirisi C.. Hal 335-345. Babar Parvez. 2009. Soresi M. Carcinoma.23.html 5.Bab 55 Tumor Hati. Anonym. Sumatra. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 13 .. Kumpulan Kuliah Hepatologi. Karsinoma Hati. Singgih B. SubBagian Gastroentero-Hepatologi Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Diakses dari dari http://emedicine. Kumpulan Kuliah Hepatologi.1747-53.co. dan Kandung Empedu. 2009. 7. Hal 469-476.. Rifai A.blogspot. 10. Campgna P. 2008. Penyakit Pankreas. USU Press.Syadra. Diakses http://info- medis.com/2008/11/hepatoma-karsinoma-hepatoseluler. Hepatoma dan Sindrom Hepatorenal. Hepatocelluler Kanker Hepatoma.html 6.medscape.com/article/369226-overview 4. Bardiman.Syadra. Diakses dari http://www.kalbe.. dalam Soeparman (ed). Hati.. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 edisi ketiga. Diakses dari http://www. Jounal JCPSP September 2004 Volume 14 No.totalkesehatananda. Abdul Rasyad. 8. 2003.DAFTAR PUSTAKA 1.. Bardiman.id/files/cdk/files/08_150_HepatomaHepatorenal.. and Khurram Parvaiz et al... 1996. Datau E. et al.com/kankerhati. 9. Screening for Hepatocellular Carcinoma.html 3. 2006. 2.Bab 40 Sirosis Hati.A. Anticancer Research. Bangfad. dan Kandung Empedu. Tariq Parvez. 2006.pdf/08_150_He patomaHepatorenal. Alphafetoprotein in the diagnosis of hepatocellular carcinoma. Penyakit Pankreas. Jacobson R. SubBagian Gastroentero-Hepatologi Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 09.D.

.Mual (+) muntah (-).BAB seperti dempul (+) sejak 1 bulan yang lalu sampai 3 hari sebelum masuk rumah sakit.Riwayat penurunan BB (+) dalam 3 bulan ini Riwayat Penyakit Dahulu : . Riwayat BAB hitam disangkal . tidak menggigil.BAK seperti teh pekat (+) sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit . sekarang BAB berwarna kuning.Pasien belum pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya Riwayat Penyakit Keluarga : .awalnya kuning timbul pada kedua mata sehingga akhirnya muncul pada seluruh tubuh .Pembengkakan pada perut tidak diketahui pasien sebelum masuk rumah sakit .Demam saat ini (-).Riwayat konsumsi alcohol (+) 10 tahun yang lalu selama 5 tahun 14 .Nyeri pada perut kanan atas (+) bila ditekan .LAPORAN KASUS Telah dirawat seorang pasien laki-laki usia 40 tahun di bangsal penyakit dalam RSUD Lubuk Basung dengan : Keluhan Utama : Kuning seluruh tubuh sejak 1 ½ bulan sebelum masuk rumah sakit Riwayat Penyakit Sekarang : . riwayat demam sebelumnya (+).Riwayat muntah darah atau muntah berwarna hitam disangkal.Riwayat berkeringat malam (+) .Riwayat keluarga dengann penyakit yang sama (-) Riwayat Kebiasaan : .tidak tinggi .Kuning pada seluruh tubuh sejak 1 ½ tahun yang lalu.

tidak ada pembesaran KGB Dada : Cor : Inspeksi : iktus cordis tak terlihat Palpasi : Iktus teraba di 1 jari medial linea mid clavicula sinistra RIC V Perkusi : Batas Jantung kiri : 1 jari medial linea mid clavicula sinistra RIC V Batas jantung kanan : LSD Batas jantung atas : RIC II Auskultasi : Irama regular. NT(+).20 C Mata : Konjungtiva tidak anemis. Lien teraba di schuffner 3 Perkusi : Pekak di atas massa. spider nevi di lengan atas (-) 15 . bising (-) Pulmo : Inspeksi : Simetris kiri dan kanan Palpasi : Fremitus kiri=kanan Perkusi : Sonor Auskultasi : Vesikuler. pembengkakan perut (+) Palpasi : Hepar teraba 4 jari bawah arcus costarum.murni. sclera ikterik Leher : JVP 5-2 cmH2O.5 jari bawah prosesus xiphoideus konsistensi keras. edema (-).NL(-). wheezing (-) Abdomen : Inspeksi : vena kolateral (-). shifting dullness (-) Auskultasi : BU(+) Normal Ekstremitas : Akral hangat. ronkhi (-). caput medusa (-). palmar eritema (-). permuakaan tidak rata.Pemeriksaan Fisik : Kesadaran : CMC Keadaan Umum : sedang Tekanan Darah : 110/80 Nadi : 70x/menit Nafas : 20x/menit Suhu : 36.

79 T Protein : 4.1 Albumin/globulin : 2.490.9/1.2 LED : 60 Diff Count :Basofil : 0 Eosinofil : 0 Netrofil batang : 2 Netrofil segmen : 83 Limfosit : 12 Monosit : 3 .USG abdomen 16 .000 Kolesterol : 331 Trigliserida : 145 Creatinin : 0.Pemeriksaan Penunjang : Labor : Hb . 9.000 Trombosit : 379.1 g/dl Leukosit : 23000 Eritrosit : 3.

.Rontgen Thorak .EKG 17 .

Curcuma 3x1 tab 18 .Anemia Sedang Terapi : .Ceftriaxon 1x2 gr iv .IVFD Aminofusin : Triofusin : Na cl 0.Hepatoma .9% = 1:2:1 .Diagnosa : .

DISKUSI Pada Anamnesis ditemukan bahwa keluhan utama pasien merupakan kuning pada seluruh tubuh.hepatoma.Pasien juga merasa demam yang tidak tinggi serta adanya penurunan BAB dalam 3 bulan ini.Hal ini mengarahkan saya kepada hepatoma. 19 .anemia hemolitik. dan lain-lain.Pada BAK pasien juga mengaku berwarna seperti teh pekat serta BAB nya juga pernah seperti dempul.Pada perut kanan atas pasien merasa nyeri apabila ditekan.Dilakukanlah pemeriksaan penunjang dan didapatkan adanya hipoalbuminemia serta pada usg abdomen terlihat adanya tanda-tanda yang mengarahkan diagnosis ke hepatoma.sirosis.Hal ini menandakan adanya peningkatan bilirubin pada darah pasien yang dapat ditimbulkan oleh berbagai penyakit seperti hepatitis.Pada Pemeriksaan fisik didapatkan adanya hepatomegali dengan konsistensi yang keras dan tidak rata serta adanya splenomegali.