You are on page 1of 14

EPIDIDIMITIS

1. Definisi

Epididimitis merupakan suatu proses inflamasi yang terjadi pada epididimis. Epididimis merupakan suatu struktur berbentuk kurva (koil) yang menempel di belakang testis dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan sperma yang matur.3

1: Epididymis 2: Head of epididymis 3: Lobules of epididymis 4: Body of epididymis 5: Tail of epididymis 6: Duct of epididymis 7: Deferent duct (ductus deferens or vas deferens)

Etiologi Bermacam penyebab timbulnya epididimitis tergantung dari usia pasien.4. dewasa dengan usia lebih dari 35 tahun dan homoseksual. Infeksi yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae and N meningitides sangat jarang terjadi. and Mima polymorpha juga dapat ditemukan pada golongan penderita tersebut. Ureaplasma urealyticum. Trichomonas dan Gardnerella vaginalis juga sering terjadi pada populasi ini.15. Virus .4 2. Treponema pallidum. Mycoplasma. sehingga penyebab dari timbulnya epididimitis dibedakan menjadi :3. Infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Corynebacterium. Proteus. Penyakit Menular Seksual Chlamydia merupakan penyebab tersering pada laki-laki berusia kurang dari 35 tahun dengan aktivitas seksual aktif. Klebsiella) menjadi penyebab umum terjadinya epididimitis pada anak-anak.Berdasarkan timbulnya nyeri. epididimitis dibedakan menjadi epididimitis akut dan kronik. Pseudomonas. timbulnya nyeri dan peradangan pada epididimis telah berlangsung sedikitnya selama enam minggu disertai dengan timbulnya indurasi pada skrotum.16 Infeksi bakteri non spesifik Bakteri coliforms (misalnya E coli. Epididimitis akut memiliki waktu timbulnya nyeri dan bengkak hanya dalam beberapa hari sedangkan pada epididimitis kronik.

Penggunaan Amiodarone dosis tinggi ini (lebih dari 200 mg/hari) akan menimbulkan antibodi amiodarone HCL yang kemudian akan menyerang epidididmis sehingga timbullah gejala epididimitis. Penyebab infeksi lain (seperti brucellosis. blastomycosis. candidiasis. Pada epididimitis yang disebabkan oleh virus tidak didapatkan adanya pyuria. Bagian yang sering terkena adalah bagian cranial dari epididimis dan kasus ini terjadi pada 3-11 % pasien yang menggunakan obat amiodarone. cytomegalovirus [CMV]. Mumps merupakan virus yang sering menyebabkan epididimitis selain coxsackie virus A dan varicella Tuberkulosis Epididimitis yang disebabkan oleh basil tuberkulosis sering terjadi di daerah endemis TB dan menjadi penyebab utama terjadinya TB urogenitalis. Penggunaan Amiodarone dosis tinggi Amiodarone adalah obat yang digunakan pada kasus aritmia jantung dengan dosis awal 600 mg/hari – 800 mg/ hari selama 1 – 3 minggu secara bertahap dan dosis pemeliharaan 400 mg/hari. . coccidioidomycosis. CMV pada HIV) dapat menjadi penyebab terjadinya epididimitis namun biasanya hanya terjadi pada individu dengan sistem imun tubuh yang rendah atau menurun. malformasi urogenital) memicu terjadinya refluks.Virus menjadi penyebab yang cukup dominan pada anak-anak. Vaskulitis (seperti Henoch-Schönlein purpura pada anak-anak) sering menyebabkan epididimitis akibat adanya proses infeksi sistemik. Obstruksi (seperti BPH.

demam dan menggigil. ampula dan vas deferens. dari uretra pars prostatika menuju epididimis melalui duktus ejakulatorius vesika seminalis. Prostatektomi dapat menimbulkan epididimitis karena terjadinya infeksi preoperasi pada traktus urinarius. Kateterisasi dan instrumentasi Terjadinya epididimitis akibat tindakan kateterisasi maupun pemasangan instrumentasi dipicu oleh adanya infeksi pada urethra yang menyebar hingga ke epididimis. penyumbatan yang terjadi di prostat dan uretra serta adanya anomali kongenital pada bagian genito-urinaria sering menyebabkan timbulnya epididimitis karena . daerah antara penis dan anus serta punggung bagian bawah. 3. Gejala yang juga sering menyertai adalah nyeri di selangkangan. menyebabkan timbulnya epididimitis dengan rasa nyeri yang hebat. Oleh karena itu. pembengkakan.Prostatitis Prostatitis merupakan reaksi inflamasi pada kelenjar prostat yang dapat disebabkan oleh bakteri maupun non bakteri dapat menyebar ke skrotum. Tindakan pembedahan seperti prostatektomi. Pada pemeriksaan colok dubur didapatkan prostat yang membengkak dan terasa nyeri jika disentuh. Hal ini terjadi pada 13% kasus yang dilakukan prostatektomi suprapubik. Patofisiologi Patofisiologi terjadinya epididimitis masih belum jelas. dimana diperkirakan terjadinya epididimitis disebabkan oleh aliran balik dari urin yang mengandung bakteri. kemerahan dan jika disentuh terasa sangat nyeri.

4. dan rasa perih dan terbakar saat miksi (akibat infeksi pada prostat yang disebut prostatitis).4. Gejala yang sering berasal dari sumber infeksi asli seperti duh uretra dan nyeri atau itching pada uretra (akibat uretritis). nyeri pada daerah perineum. Biasanya hanya mengenai salah satu skrotum saja dan tidak disertai dengan mual dan muntah. Tanda Klinis .17 Infeksi berawal di kauda epididimis dan biasanya meluas ke tubuh dan hulu epididimis. Kemudian mungkin terjadi orkitis melalui radang kolateral. skrotum dan kadangkala ke daerah inguinal disertai peningkatan suhu badan yang tinggi. frekuensi miksi yang meningkat.tekanan tinggi sewaktu miksi. Jarang sekali epididimitis disebabkan oleh refluks dari jalan kemih akibat tekanan tinggi intra abdomen karena cedera perut. nyeri panggul dan frekuensi miksi yang meningkat.6 Gejala lokal pada epididimitis berupa nyeri pada skrotum. Tidak jarang berkembang abses yang dapat menembus kulit dorsal skrotum. Gejala Klinis Gejala yang timbul tidak hanya berasal dari infeksi lokal namun juga berasal dari sumber infeksi yang asli.17 4. urgensi. Setiap kateterisasi maupun instrumentasi seperti sistoskopi merupakan faktor resiko yang sering menimbulkan epididimitis bakterial. demam dan nyeri pada regio flank (akibat infeksi pada ginjal yang disebut pielonefritis).17 5. dan rasa terbakar saat miksi (akibat infeksi pada vesika urinaria yang disebut Cystitis). Nyeri mulai timbul dari bagian belakang salah satu testis namun dengan cepat akan menyebar ke seluruh testis. demam.

ukuran kedua testis sama besar. Biasanya didapatkan eritema dan selulitis pada skrotum yang ringan Pada anak-anak. merah dan bengkak karena adanya udem dan infiltrat. Namun pemeriksaan ini kurang spesifik. Pembesaran kelanjar getah bening di regio inguinalis. epididimis dan testis tidak dapat diraba terpisah karena bengkak yang juga meliputi testis. Setelah beberapa hari.16. vas deferens ektopik. Pada colok dubur mungkin didapatkan tanda prostatitis kronik yaitu adanya pengeluaran sekret atau nanah setelah dilakukan masase prostat. dll.17 Pada pemeriksaan ditemukan testis pada posisi yang normal.4.Tanda klinis pada epididimitis yang didapat saat melakukan pemeriksaan fisik adalah :3.15. Hasil pemeriksaan refleks kremaster normal Phren sign bernilai positif dimana nyeri dapat berkurang bila skrotum diangkat ke atas karena pengangkatan ini akan mengurangi regangan pada testis. Funikulus spermatikus juga turut meradang menjadi bengkak dan nyeri. dan tidak terdapat peninggian pada salah satu testis dan epididimis membengkak di permukaan dorsal testis yang sangat nyeri. epididimitis dapat disertai dengan anomali kongenital pada traktus urogenitalis seperti ureter ektopik. Pemeriksaan Laboratorium . Kulit skrotum teraba panas.

6. Pemeriksaan Radiologis Sampai saat ini.Pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya suatu infeksi adalah:4.000/µl) Kultur urin dan pengecatan gram untuk kuman penyebab infeksi Analisa urin untuk melihat apakah disertai pyuria atau tidak Tes penyaringan untuk klamidia dan gonorhoeae.18 1. • Keefektifan pemeriksaan ini dibatasi oleh nyeri dan ukuran anatomi pasien (seperti ukuran bayi berbeda dengan dewasa) .17 Pemeriksaan darah dimana ditemukan leukosit meningkat dengan shift to the left (10.16. Kultur darah bila dicurigai telah terjadi infeksi sistemik pada penderita 6.00030. pemeriksaan radiologis yang dapat digunakan adalah :4. Color Doppler Ultrasonography • Pemeriksaan ini memiliki rentang kegunaan yang luas dimana pemeriksaan ini lebih banyak digunakan untuk membedakan epididimitis dengan penyebab akut skrotum lainnya.16.

• Pemeriksaan menggunakan ultrasonografi dilakukan untuk melihat aliran darah pada arteri testikularis. Pada epididimitis. Gambar 3. • Kronik epididimitis dapat diketahui melalui pembesaran testis dan epididimis yang disertai penebalan tunika vaginalis dimana hal ini akan menimbulkan gambaran echo yang heterogen pada ultrasonografi. Nuclear Scintigraphy • Pemeriksaan ini menggunakan technetium-99 tracer dan dilakukan untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan aliran darah yang meragukan dengan memakai ultrasonografi. akan terlihat gambaran peningkatan penangkapan kontras • Memiliki sensitivitas dan spesifitas 90-100% dalam menentukan daerah iskemia akibat infeksi. aliran darah pada arteri testikularis cenderung meningkat. • Ultrasonografi juga dapat dipakai untuk mengetahui adanya abses skrotum sebagai komplikasi dari epididimitis. Hasil Color Doppler sonogram di atas menunjukkan peningkatan aliran darah epididimis akibat adanya proses inflamasi 4 2. • Pada epididimitis akut. • Pada keadaan skrotum yang hiperemis akan timbul diagnosis negatif palsu • Keterbatasan dari pemeriksaan ini adalah harga yang mahal dan sulit dalam melakukan interpretasi .

15.19 1. Pemeriksaan penunjang lainnya 8. Vesicouretrogram (VCUG). Seminoma testis 5. dan USG abdomen Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui suatu anomali kongenital pada pasien anakanak dengan bakteriuria dan epididimitis. Pemeriksaan fisik c. 7. Torsio testis 4. Diagnosis Banding Diagnosis banding epididimitis meliputi :4. cystourethroscopy. Anamnesa b.3. Diagnosis Diagnosis epididimitis dapat ditegakkan melalui :4 a. Trauma testis . Hernia inguinalis inkarserata 3. Orkitis 2.17. Pemeriksaan Laboratorium d.

6. Penatalaksanaan Medis Antibiotik digunakan bila diduga adanya suatu proses infeksi.15. azithromycin. Penatalaksanaan Penatalaksanaan epididimitis meliputi dua hal yaitu penatalaksanaan medis dan bedah. dan tetrasiklin digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri non gonokokal lainnya Penanganan epididimitis lainnya berupa penanganan suportif.4.9. seperti :16 Pengurangan aktivitas Skrotum lebih ditinggikan dengan melakukan tirah baring total selama dua sampai tiga hari untuk mencegah regangan berlebihan pada skrotum.20 Fluorokuinolon. Antibiotik yang sering digunakan adalah :3. namun penggunaannya telah dibatasi karena terbukti resisten terhadap kuman gonorhoeae Sefalosforin (Ceftriaxon) Levofloxacin atau ofloxacin untuk mengatasi infeksi klamidia dan digunakan pada pasien yang alergi penisilin Doksisiklin. . berupa : a.

4 . Diagnosis tentang gangguan intrascrotal baru dapat ditegakkan saat dilakukan orchiectomy. maupun terjadinya infark pada testis. Penatalaksanaan Bedah Penatalaksanaan di bidang bedah meliputi :4. 10. Komplikasi Komplikasi dari epididimitis adalah :3. Epididymectomy Tindakan ini dilaporkan telah berhasi mengurangi nyeri yang disebabkan oleh kronik epididimitis pada 50% kasus.Kompres es Pemberian analgesik dan NSAID Mencegah penggunaan instrumentasi pada urethra e.19 Scrotal exploration Tindakan ini digunakan bila telah terjadi komplikasi dari epididimitis dan orchitis seperti abses. Epididymotomy Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan epididimitis akut supurativa. pyocele.

Testicular Torsion. 2008. Anonymous.org 4. Epididimitis kronis dan orchalgia 4.com Testicular pain/Scrotal Pain.com 6.emedicine. 3. Infertilitas sekunder sebagai akibat dari inflamasi maupun obstruksi dari duktus epididimis 5. Swierzwieski. Epididimitis. Stanley J. 2008.emedicine. 2008. Atrofi testis yang diikuti hipogonadotropik hipogonadism 6. Epididimitis. Fistula kutaneus 11. Yusuf Hakan Çavusoglu.urologyhealth. http://www.1.com 5. Ind J Pediatrics 2005.72(3):201-4 .com Orchitis. http://www. 2007. Edmund S Sabanegh.urologychannel. Kekambuhan epididimitis pada seorang pasien adalah hal yang biasa terjadi. http://www. http://www. Infark pada testis 3. .6 DAFTAR PUSTAKA 1. Epididimitis and http://www. Abses dan pyocele pada skrotum 2. 2.wikipedia. Anonymous. Acute scrotum : Etiology and Management. Eugene Minevich. Prognosis Epididimitis akan sembuh total bila menggunakan antibiotik yang tepat dan adekuat serta melakukan hubungan seksual yang aman dan mengobati partner seksualnya. American Urology Association. 2007.

Testicular Torsion.org 11. Abnormalities of the testis and scrotum and their surgical management.gov. Anonymous. Anonymous.h267-77 17.S. US Acute Scrotal Trauma: Optimal Technique. Jack W.h89-95 . 2008. Laris E. O’Brein. American Urology Association. Krieger. Galejs and Evan J. http://www. Picture Torsio Testis. Findings and Management.org 24. 2002. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi revisi.222-31 25.27:357-69 9. 2008. Epididimitis and http://www. L. Valerie J.747-755 20. Acute Scrotal Pain. Kass.com 14. 2003. Anonymous.h222-35 26. Hernias in Washington Manual Surgery. http://www. Miller. Anonymous. G. 19. Wim de Jong. 22. 2007. Acute Scrotum. Injuries to the scrotum in Smith’s General Urology 6th ed.h189-95 16.com 21. Schneck. Vincenzo Li Marzi. MD. 2007. Gerald H.com Orchitis.imagingpathways. http://www. Testicular Torsion in Glenn’s Urology Surgery 5th ed. Timothy J Rupp. 2001. BJU Int. John N.com 8. Epididimitis. 1998. 1998.87. Dalam: Smith’s General Urology 6th ed. 2007. Imaging. Bellinger. Anonymous.wikipedia. Diagnosis and Treatment of Acute Scrotum.urologyweb. Oren F. Corinne Deurdulian. Swierzwieski. Scrotal Trauma. T. Michael Brunt. 2002.com Testicular pain/Scrotal Pain. 2007. http://www. Stanley J.70-5 23.urologyhealth. Acute Epididymitis.wa. Giovanni Grechi.A Luzz. Jordan. Pediatric Urology of Oklahoma 2006 13. Sjamsuhidayat R.medicastore. http://www.urologychannel. Evaluation of the Acute Scrotum.health. et al. 2006. Scrotal Trauma in Glenn’s Urology Surgery 5th ed. 1997. Mark F.7.emedicine. Testicular Torsion. http://www. http://www.com 10. Robert A Mevorach. 1999. AAFP J 1999.wikipedia.au 15. Dalam: Walsh : Campbell’s Urology 8th ed.19(4) 12. 2003. McAnich. Radiographics 2007. http://www. Hernia. h. EGC Jakarta 18. Halpin. Francis X.emedicine. h. Anonymous. 2007.

Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius.313. Arif. Mansjoer.27.383 . Jakarta. 2000. h.