BAB I PENDAHULUAN

Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian usia subur disebabkan hal berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitasnya. Tahun 2005, WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu per tahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. Di Asia Selatan, wanita berkemungkinan 1 : 18 meninggal akibat kehamilan / persalinan selama hidupnya; di banyak negara Afrika 1 : 14; sedangkan di Amerika Utara hanya 1 : 6.366. Lebih dari 50 % kematian di negara berkembang sebenarnya dapat dicegah dengan teknologi yang ada serta biaya relatif rendah. (1) Angka kematian ibu di negara berkembang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di negara maju seperti Amerika. Angka kematian ibu di negara berkembang di ketahui sampai 450/100.000 kelahiran hidup, sedangkan di Amerika hanya 30 / 100.000 kelahiran hidup. (2) Tingginya angka kematian ibu diduga sebagian akibat kurangnya mutu pelaksanaan pelayanan antenatal selama dilakukan pemeriksaan kepada ibu hamil. Target internasional pada tahun 2005, angka kematian ibu (AKI) dibawah 125/100.000 kelahiran hidup dan 75/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, dan angka kematian bayi (AKB) ditargetkan menjadi 15/1.000 kelahiran hidup (Depkes, 2005). (3) Di Indonesia, masalah kematian dan kesakitan ibu merupakan masalah besar. Pada tahun 2006, angka kematian ibu (AKI) masih menduduki urutan tertinggi di Negara ASEAN yaitu 307/100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi (AKB) sebesar 35/1.000 kelahiran hidup. (3) Tingginya AKI di Indonesia yang menduduki urutan tertinggi di ASEAN, menempatkan upaya penurunan AKI sebagai program prioritas. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia, seperti halnya negara lain adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Dalam perdarahan dan infeksi sebagai penyebab kematian, sebenarnya tercakup pula kematian akibat abortus terinfeksi dan partus lama. Hanya sekitar 5 % 1

kematian ibu di sebabkan oleh penyakit yang memburuk akibat kehamilan, misalnya penyakit jantung dan infeksi yang kronis. Banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian ibu dan anak seperti halnya yang terdapat di negara berkembang lainnya, ada 3 faktor penyebab yaitu: keadaan sarana pelayanan kesehatan ibu dan anak belum memadai, penggunaan sarana pelayanan kesehatan ibu dan anak yang masih kurang dan karakteristik ibu hamil yang buruk terutama berupa multiparitas, umur tua, anemia dan jarak antara dua kehamilan yang terlalu pendek. (4) Penyebab Obstetrik langsung dari kematian ibu sudah diketahui dan dapat ditangani, meskipun pencegahannya terbukti sulit. Berbagai strategi dalam dekade terakhir mengarah kepada pelajaran yang dapat dipetik sebagai berikut: 1. Kehamilan yang tidak diinginkan 2. Aborsi yang tidak aman 3. Pelayanan antenatal 4. Manajemen komplikasi obstetri yang memadai 5. Keterampilan kebidanan 6. Dukun bayi terlatih 7. Pelayanan Obstetri esensial Kebijakan Departemen kesehatan dalam upaya mempercepat penurunan AKI pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategi “Empat Pilar Safe motherhood yang terdiri atas Keluarga Berencana (KB), pelayanan antenatal, persalinan yang aman, serta pelayanan obstetri esensial. Pelayanan obstetri esensial pada hakekatnya adalah tersedianya pelayanan secara kontinu dan terus menerus dalam waktu 24 jam untuk: • Bedah caesar • Pengobatan penting termasuk anestesi, antibiotika dan cairan infus • Transfusi darah • Pengeluaran plasenta secara manual

2

3 .• Aspirasi vakum intuk abotrus inkomplit Idealnya pelayanan obstetri esensial juga mencakup kemampuan memberikan pelayanan kontraseptif bedah. Perubahan parilaku masyarakat amat pentng dalam upaya penurunan angkakematian ibu.

kondisi kesehatan lingkungan. tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil. (6) Aborsi yang tidak aman bertanggung jawab terhadap 11% kematian ibu di Indonesia (rata-rata dunia 13%). (5) Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan.2 Penyebab Kematian Ibu Penyebab kematian yaitu perdarahan. Kematian ini sebenarnya dapat dicegah jika 4 . eklampsia atau gangguan akibat tekanan darah tinggi saat kehamilan.BAB II PEMBAHASAN 2. (5) 2. Sebagian besar kasus perdarahan dalam masa nifas terjadi karena retensio plasenta dan atonia uteri. pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas.000 kelahiran hidup. Pemantauan kehamilan secara teratur sebenarnya dapat menjamin akses terhadap perawatan yang sederhana dan murah yang dapat mencegah kematian ibu karena eklampsia. komplikasi aborsi. partus lama. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu.1 Angka Kematian Ibu Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan. AKI berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat. (6) Hal ini mengindikasikan kurang baiknya manajemen tahap ketiga proses kelahiran dan pelayanan emergensi obstetrik dan perawatan neonatal yang tepat waktu. Eklampsia merupakan penyebab utama kedua kematian ibu. yaitu 13% kematian ibu di Indonesia (rata-rata dunia adalah 12%). melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100. dan infeksi. status gizi dan kesehatan ibu.

Perbandingan dengan hasil survei SDKI bahwa persalinan yang ditolong oleh tenaga medis profesional meningkat dari 66% dalam SDKI 2002-2003 menjadi 73% dalam SDKI 2007. apabila hal ini tidak menjadi perhatian kita semua maka diperkirakan angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 90 % pada tahun 2010 tidak akan tercapai. Malaysia. Angka ini relatif rendah apabila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura. (5) 5 . (6) kelainan letak.perempuan mempunyai akses terhadap informasi dan pelayanan kontrasepsi serta perawatan terhadap komplikasi aborsi.3 Pertolongan Persalinan oleh Petugas Kesehatan Terlatih Salah satu faktor tingginya AKI di Indonesia adalah disebabkan karena relatif masih rendahnya cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan. Sepsis ini berkontribusi pada 10% kematian ibu (rata-rata dunia 15%). Thailand di mana angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan hampir mencapai 90%. dan tentunya disparitas antar daerah akan berbeda satu sama lain. gangguan kontraksi uterus. (6) Sepsis sebagai faktor penting lain penyebab kematian ibu sering terjadi karena kebersihan (hygiene) yang buruk pada saat persalinan atau karena penyakit menular akibat hubungan seks yang tidak diobati. konsekuensi lebih lanjut bisa berimbas pada resiko angka kematian ibu meningkat. Deteksi dini terhadap infeksi selama kehamilan. persebaran penduduk dan sosial budaya merupakan beberapa faktor penyebab rendahnya aksesibilitas terhadap tenaga pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. (5) Apabila dilihat dari proyeksi angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan nampak bahwa ada pelencengan dari tahun 2004 dimana angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dibawah dari angka proyeksi. sering disebabkan oleh disproposi sefalopelvik. (6) Partus lama. yang berkontribusi bagi sembilan persen kematian ibu (rata-rata dunia 8%). Kondisi geografis. Departemen Kesehatan menetapkan target 90% persalinan ditolong oleh tenaga medis pada tahun 2010. dan perawatan semasa nifas yang benar dapat menanggulangi masalah ini. dan 2. persalinan yang bersih.

melahirkan.2. menanggulangi KEK. meningkatkan pemberantasan penyakit menular dan imunisasi. (6) Kehamilan yang aman sebagai kelanjutan dari program safe motherhood. MPS terfokus pada pendekatan perencanaan sistematis dan terpadu dalam intervensi klinis dan sistem kesehatan serta penekanan pada kemitraan antar institusi pemerintah. dan menanggulangi anemia gizi besi pada wanita usia subur dan pada masa kehamilan. masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang mendukung upaya ini antara lain meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi.4 Kebijakan dan Program untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu Menurunkan kesakitan dan kematian ibu telah menjadi salah satu prioritas utama dalam pembangunan sektor kesehatan sebagaimana tercantum dalam Propenas. dengan tujuan untuk mempercepat penurunan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. lembaga donor. dan keluarga. Perhatian khusus diberikan pada penyediaan pelayanan yang memadai dan 6 . dan peminjam. swasta. meningkatkan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. dan nifas.

Ketiga. penggunaan kontrasepsi. yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. mengingat besarnya masalah. meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dan cost effective. (6) 2. diperlukan juga penanganan dalam konteks yang lebih luas di mana kematian ibu terjadi. Selain itu. mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan perilaku sehat.5 Safe Motherhood (Usaha Keselamatan Ibu) Safe Motherhood adalah usaha-usaha yang dilakukan agar seluruh perempuan menerima perawatan yang mereka butuhkan selama hamil dan bersalin. Pelayanan kesehatan reproduksi remaja harus ditangani dengan benar. Program Kesehatan Gratis yang telah dimulai sejak 2007 telah menyediakan pelayanan kesehatan dasar dan bidan di desa secara gratis bagi penduduk miskin perlu dipertahankan dengan berbagai cara. setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapatkan pelayanan yang memadai. dan persalinan yang aman. isu gender dan hak-hak reproduksi baik untuk laki-laki maupun perempuan perlu terus ditekankan dan dipromosikan pada semua level. mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjamin penyediaan dan pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi baru lahir. Keempat. (7) 7 . lintas sektor. dan mitra lainnya. (5) Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok masyarakat berpendapatan rendah baik di perkotaan dan pedesaan serta masyarakat di daerah terpencil. Pertama. Terdapat korelasi yang jelas antara pendidikan. Ada tiga pesan kunci. dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. membangun kemitraan yang efektif melalui kerja sama lintas program. (6) Ada empat strategi utama bagi upaya penurunan kesakitan dan kematian ibu. Kematian ibu sering disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks yang menjadi tanggung jawab lebih dari satu sektor.berkelanjutan dengan penekanan pada ketersediaan penolong persalinan terlatih. (6) Terlepas dari kebijakan dan program dengan fokus pada sektor kesehatan. Aktivitas masyarakat ditekankan pada upaya untuk menjamin bahwa wanita dan bayi baru lahir memperoleh akses terhadap pelayanan. Kedua.

dan alat untuk memberikan pertolongan yang bersih dan aman. bersalin. edema. (8) Pilar Safe Motherhood. ketrampilan. Keluarga Berencana Konsep Keluarga Berencana pertama kali diperkenalkan di Matlab. mengatur jarak kehamilan. Pelayanan Obstetri Esensial 8 . Pelayanan Antenatal Pelayanan antenatal sangat penting untuk mendeteksi lebih dini komplikasi kehamilan dan sarana edukasi bagi perempuan tentang kehamilan. menentukan jumlah anak.Tujuan utama dari Safe Motherhood adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil. meliputi 4 program penting di antaranya: (8) 1. serta kapan dan bagaimana cara memperoleh pelayanan rujukan 3. • Penyuluhan tentang komplikasi yang potensial. Tujuan dari program KB ini antara lain adalah merencanakan waktu yang tepat untuk hamil. pemberian pelayanan obstetri esensial tingkat dasar guna menghindari kegawatdaruratan & komplikasi yang berkaitan dengan kematian ibu 4. dan pre-eklampsia. Deteksi dan penanganan komplikasi seperti kelainan letak. 2. serta memberikan pelayanan nifas pada ibu dan bayi. Persalinan yang Aman Persalinan yang aman bertujuan untuk memastikan bahwa setiap penolong persalinan mempunyai kemampuan. hipertensi. malaria. Bangladesh pada tahun 1976. Komponen penting pelayanan antenatal meliputi: • • Skrining dan pengobatan anemia. dan penyakit menular seksual. Yang kegiatannya terdiri dari Pelayanan dan Konseling. nifas di samping menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir terutama di negara berkembang.

Intervensi Dukungan pelaksanaan Safe Motherhood: (8) 1. Prediksi terjadinya kompilasi persalinan 3. dukungan suami memegang peranan penting di antaranya seperti merencanakan keluarga. Prevensi melakukan pencegahan pro-aktif. mendukung penggunaan kontrasepsi. Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) 4.Kegiatan Safe Motherhood memiliki 6 kegiatan pelaksanaan utama yaitu: (8) 1. menjaga serta menyelamatkan kesehatan ibu dan anak. Deteksi dini dalam skrining Antenatal. 2. ibu resiko tinggi 2. antisipasif terhadap ibu dan bayi. dan juga menjadi ayah yang bertanggung jawab. Antisipasi 6. yaitu komitmen dan dukungan dari pimpinan wilayah 9 . 5. Dukungan suami Sebagai salah satu orang terdekat dengan ibu. Kebijakan politis. mempersiapkan perawatan terlatih selama persalinan. mengenal faktor resiko.

Data menunjukkan bahwa seperempat dari wanita usia reproduktif di negara berkembang mengalami kesakitan yang berhubungan dengan kehamilan. sebagai 10 . Prilaku paradigma sehat melalui pendekatan pencegahan. 4. kecamatan. pro-aktif antisipatif oleh upaya kuratif rehabilitatif.dengan sector terkait (Tingkat kabupaten / kota. MPS bertujuan untuk menjamin agar SM tetap merupakan prioritas dalam agenda kesehatan dan pembangunan. masyarakat. dan nifas. Puskesmas dan Rumah sakit) dalam peningkatan pelayanan kesehatan ibu berbasis masalah keluarga dalam kegiatan deteksi dan kendali. (8) 2. (8) Pemerintah telah mencanangkan Gerakan Nasional Kehamilan yang Aman atau Making Pregnancy Safer (MPS) sebagai Strategi Pembangunan Kesehatan Masyarakat menuju Indonesia Sehat 2010 pada tangal 12 Oktober 2000. Ada dua alasan yang menyebabkan Safe Motherhood perlu mendapat perhatian. Pertama. Secara luas tujuan Program Safe Motherhood sama dengan Making Pregnancy Safer. baik bagi keluarga. persalinan. maupun angkatan kerja di suatu negara. Kedua. 3. Persepsi sama. Dampak sosial dan ekonomi kejadian ini sangat besar. Safe Motherhood pada hakikatnya merupakan intervensi yang efisien dan efektif dalam menurunkan angka kematian ibu. besarnya masalah kesehatan ibu dan bayi baru lahir serta dampak yang diakibatkannya. disemua tingkat pelayanan (Polindes. dan pedesaan) yang berkesinambungan dan berkelanjutan dalam pembinaan dan peningkatan untuk pelayanan kesehatan ibu yang terjangkau dalam wadah Gerakan Sayang Ibu. Keberadaan seorang ibu merupakan tonggak utama untuk tercapainya keluarga yang sejahtera dan kematian seorang ibu merupakan suatu bencana bagi keluarganya. dengan memfokuskan pada intervensi yang efektif berdasarkan bukti-bukti ilmiah. (8) Making Pregnancy Safer WHO mengutamakan upaya sektor kesehatan.6 Making Pregnancy Safer (MPS) MPS menegaskan kembali komitmen WHO terhadap Program Safe Motherhood (SM).

yaitu asuhan antenatal dan persalinan bersih dan aman. transfusi darah). Pelayanan obstetri esensial meliputi kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan untuk melakukan tindakan dalam mengatasi risiko tinggi dan komplikasi kehamilan/persalinan. merupakan bagian dari pelayanan kebidanan dasar. keempat tonggak tersebut merupakan bagian dari pelayanan kesehatan primer.7 Pelayanan Obstetri Esensial Pelayanan obstetri esensial adalah tersedianya pelayanan secara terus-menerus dalam 24 jam untuk bedah sectio caesarea. khususnya wanita dan pelaksanaan pelayanan setempat. (9) Strategi berbasis masyarakat yang akan mendukung tercapainya tujuan upaya keselamatan ibu meliputi : (9) • • • Melibatkan anggota masyarakat. (9) Tujuan Safe Motherhood dan Making Pregnancy Safer sama. pengobatan penting (anestesi. antibiotik intravena. Menyediakan pendidikan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang komplikasi obstetri serta kapan dan dimana mencari pertolongan. wanita. Pelayanan obstetri esensial bagi ibu yang mengalami kehamilan risiko tinggi atau komplikasi diupayakan agar berada dalam jangkauan setiap ibu hamil. (9) 2. Khusus untuk obstetri harus mampu melakukan : POED dan PONED. dan dukun / pengobat untuk mengubah sikap terhadap keterlambatan mendapat pertolongan. pengeluaran plasenta secara manual serta ekstraksi vakum untuk abortus inkomplet. dalam upaya memperbaiki kesehatan ibu. dan 11 . Secara keseluruhan. Sebagai dasar/fondasi yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan upaya ini adalah pemberdayaan wanita. keluarga. Dua di antaranya.bagian dari program Safe Motherhood. Bekerjasama dengan masyarakat. yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan cara mengurangi beban kesakitan. kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. (10) Peranan Puskesmas sebagai pilar pelayanan obstetri esensial yaitu diantaranya adalah dengan memberikan pelayanan kesehatan untuk semua macam penyakit obstetrik.

12 . sedang. (11) Merupakan pelayanan POED ditambah dengan melakukan pelayanan neonatus yang mengalami asfiksia ringan.juga mampu melaksanakan konsep sayang ibu dan sayang bayi. dan berat. Bila tidak memungkinkan. (11) • Pelayanan obstetri esensial darurat (POED): (11) o melakukan pertolongan persalinan sungsang o melakukan pertolongan persalinan vakum ekstraks o melakukan plasenta manual o memasang infus dan memberikan obat parenteral o meneruskan sistem rujukan bila fasilitas tidak memadai • Pelayanan Obstetri dan Neonatus Esensial Darurat (PONED). segera melakukan rujukan.

sedangkan angka kematian bayi (AKB) sebesar 35/1. antibiotik intravena. Tujuan utama dari Safe Motherhood adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil. pengeluaran plasenta secara manual serta ekstraksi vakum untuk abortus inkomplet. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke-5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu adalah salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Program Safe Motherhood ini memiliki empat pilar yang terdiri dari: Keluarga Berencana (KB).BAB III KESIMPULAN Masalah kematian dan kesakitan ibu masih merupakan masalah besar di Indonesia. Pelayanan obstetri esensial adalah tersedianya pelayanan secara terus-menerus dalam 24 jam untuk bedah sectio caesarea. pengobatan penting (anestesi. Angka kematian ibu (AKI) atau angka kematian maternal di Indonesia masih menduduki urutan tertinggi di negara ASEAN yaitu 307/100. transfusi darah). 13 . nifas di samping menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir terutama di negara berkembang. persalinan yang aman. serta pelayanan obstetri esensial. Pelayanan obstetri esensial bagi ibu yang mengalami kehamilan risiko tinggi atau komplikasi diupayakan agar berada dalam jangkauan setiap ibu hamil.000 kelahiran hidup. Peranan Puskesmas sebagai pilar pelayanan obstetri esensial yaitu diantaranya adalah dengan memberikan pelayanan kesehatan untuk semua macam penyakit obstetri. bersalin. Safe Motherhood adalah usaha-usaha yang dilakukan agar seluruh wanita menerima perawatan yang mereka butuhkan selama hamil dan bersalin. pelayanan antenatal. Pelayanan obstetri esensial meliputi kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan untuk melakukan tindakan dalam mengatasi risiko tinggi dan komplikasi kehamilan atau persalinan. Departemen Kesehatan RI mengeluarkan kebijakan dalam upaya mempercepat penurunan AKI yang pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategi “Safe Motherhood”.

[cited 2012 July 23]. Jakarta: Bakti Husada.healthrepository. 2007. Safe Motherhood. Pelayanan Obstetri Esensial. Esensial Obstetri dan Ginekologi. 14 . Pelayanan Obstetri Esensial. 2. Departemen Kesehatan RI. Available: http://whoindonesia.id/index. 2008. 2007. Available: http://www.safemotherhood. 2007.id/up_prod_kepmenkes/KMK.go.org/bitstream/.org/. Yatim F. 2009.wordpress. 6.depkes.unfpa. 2008. Prawirohardjo S. 2009. [cited 2012 July 24]. Available: http://www. 4. Pelayanan Obstetri Esensial. 8. [cited 2012 July 24]. 2009. 10.who.go. Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.pdf. 2010. 11.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta: Hipokrates.searo. Available: http://www. Angka Kematian Ibu.org/public/mothers/. 3. [cited 2012 July 25]. Available: http://gash5. 2011. [cited 2012 July 24]. 2008. 9. 5. Available: Hacker NF.com/tag/depkes/.int/LinkFiles/Reporductive_Health_Profile_abbreviatio nsino. Angka Kematian Ibu. http://www.hukor.kesehatanibu. Jakarta: Pustaka Populer Obor. 7. Safe Motherhood. [cited 2012 July 24]. Available: http://www.php?. [cited 2012 July 24]. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.depkes. Penyakit Kandungan. Evaluasi Mutu Pelayanan Antenatal.

kejahatan dan peperangan). nafsu manusia tak dapat ditahan dan pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dari bahan makanan. Possitive checks (bencana alam. Pengikut Malthus (Neo Malthusionism). penanaman modal dan perencanaan produksi.LATAR BELAKANG KB Latar Belakang Dasar pemikiran lahirnya KB di Indonesia adalah adanya permasalahan kependudukan. Dalam “Essay on Population”. berpendapat: untuk mencegah laju cepatnya peningkatan penduduk dilakukan Methode Birth Control dengan menggunakan alat kontrasepsi. Pengikut Malthus 15 . karena mengabaikan peningkatan teknologi. faktor pencegah dari ketidakseimbangan penduduk dan manusia antara lain Preventive checks (penundaan perkawinan. Aspek-aspek yang penting dalam kependudukan adalah : Jumlah besarnya penduduk Jumlah pertumbuhan penduduk Jumlah kematian penduduk Jumlah kelahiran penduduk Jumlah perpindahan penduduk Teori Malthus Malthus adalah orang pertama yang mengemukakan tentang penduduk. wabah penyakit. mengendalikan hawa nafsu dan pantangan kawin). Kontroversi Teori Malthus Salah sama sekali. Malthus beranggapan bahwa bahan makanan penting untuk kelangsungan hidup. Menurut pendapatnya.

Sejarah Lahirnya Keluarga Berencana Sebelum abad XX. Di Inggris. dr. pijet. KB di Indonesia dimulai pada awal abad XX. yang berusaha menggugurkan kandungan yang tidak diinginkan. Richard Callihie (1790 – 1843) : menulis buku “What’s love ?” (Apakah Cinta Itu?). Any C. Maria Stopes. di negara barat sudah ada usaha pencegahan kelangsungan hidup anak karena berbagai alasan. George Drysdale : keluarga berencana dapat dilakukan tanpa merugikan kesehatan dan moral. Hal tersebut merupakan tonggak permulaan sejarah berdirinya KB. Perkembangan birth control di daerah – Berdiri klinik YKK (Yayasan Kesejahteraan Keluarga) di Yogyakarta. Menggunakan cara-cara sederhana (kondom. Besant (1847-1933) : menulis buku berjudul “Hukum Penduduk. pantang berkala). melakukan abortus dan mencegah/ mengatur kehamilan. Margareth Sanger. Memperoleh pengalaman dari Saddie Sachs. Ia menulis buku “Family Limitation” (Pembatasan Keluarga). Akibatnya dan Artinya Terhadap Tingkah Laku dan Moral Manusia”. Upaya yg ditempuh u/ perbaikan ekonomi keluarga buruh dg mengatur kelahiran. Perkembangan KB di Indonesia Periode Perintisan dan Peloporan Periode Persiapan dan Pelaksanaan Periode Perintisan dan Pelaporan Sebelum 1957 – Pembatasan kelahiran secara tradisional (penggunaan ramuan. Amerika Serikat. absistensi/ wisuh/ bilas liang senggama setelah coitus). Di Semarang : berdiri klinik BKIA dan terbentuk PKBI 16 .Pengikut teori Malthus antara lain Francis Flace (1771 – 1854) : menulis buku yang berjudul “Illustration And Proofs of The Population” atau penjelasan dari bukti mengenai asas penduduk. Caranya adalah dengan membunuh bayi yang sudah lahir.

H. Hanifa Wiknjosastro serta Dr. dr. 29 Jakarta. BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1970 tentang pembentukan badan untuk mengelola program KB yang telah dicanangkan sebagai program nasional. Bermunculan proyek KB sehingga mulai diselenggarakan latihan untuk PLKB (Petugas Lapangan keluarga Berencana). Jawa dan luar pulau Jawa (Bali. Periode Persiapan dan Pelaksanaan Terbentuk LKBN (Lembaga Keluarga Berencanan Nasional) yang mempunyai tugas pokok mewujudkan kesejahteraan sosial. Jakarta : Prof. Visi PKBI Mewujudkan masyarakat yang sejahtera melalui keluarga. Atas prakarsa dari dr. Sarwono P. Organisasi KB PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Terbentuk tanggal 23 Desember 1957. Sarwono Prawirohardjo. dr.M. Misi PKBI Memperjuangkan penerimaan dan praktek keluarga bertanggungjawab dalam keluarga Indonesia melalui pengembangan program. pengembangan jaringan dan kemitraan dengan semua pihak pemberdayaan masyarakat di bidang kependudukan secara umum. Palembang. dan secara khusus di bidang kesehatan reproduksi yang berkesetaraan dan berkeadilan gender. Hurustiati Subandrio. Medan). pemeriksaan dan pengobatan kemandulan dalam perkawinan dan pengaturan kehamilan. di jalan Sam Ratulangi No. keluarga dan rakyat. Pelayanan yang diberikan berupa nasehat perkawinan termasuk pemeriksaan kesehatan calon suami isteri. Judono. memulai di poliklinik bagian kebidanan RSUP. Soeharto yang didukung oleh Prof. 17 .tahun 1963.

Jawa Tengah. 3) Program keluarga berencana ini perlu diselenggarakan secara teratur dan terencana kearah terwujudnya tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Jawa Timur dan Bali). 5) Mengatur penampungan dan mengawasi penggunaan segala jenis bantuan yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh pemerintah. 4) Mengadakan kerja sama antara Indonesia dengan negara-negara asing maupun badan-badan internasional dalam bidang keluarga berencana selaras dengan kepentingan Indonesia dan sesuai dengan prosedur yang berlaku. DI Yogyakarta. Jawa Barat. Berdasar Keppres 38 tahun 1978 BKKBN bertambah besar jangkauan programnya tidak terbatas hanya KB tetapi juga program Kependudukan. Dasar pertimbangan pembentukan BBKBN 1) Program keluarga berencana nasional perlu ditingkatkan dengan jalan lebih memanfaatkan dan memperluas kemampuan fasilitas dan sumber yang tersedia. integrasi dan sinkronisasi terhadap usaha-usaha pelaksanaan program keluarga berencana nasional yang dilakukan oleh unit-unit pelaksana.Penanggung jawab umum penyelenggaraan program ada pada presiden dan dilakukan sehari-hari oleh Menteri Negara Kesejahteraan Rakyat yang dibantu Dewan Pembimbing Keluarga Berencana. Tahun 1974 muncul program-program integral (Beyond Family Planning) dan gagasan tentang fase program pencapaian akseptor aktif. 2) Mengajukan saran-saran kepada pemerintah mengenai pokok kebijaksanaan dan masalah-masalah penyelenggaraan program Keluarga Berencana Nasional. 2) Program perlu digiatkan pula dengan pengikut sertaan baik masyarakat maupun pemerintah secara maksimal. Tugas pokok BBKBN 1) Menjalankan koordinasi. Perkembangan BBKBN dimasa sekarang 18 . Pelita I yaitu tahun 1969-1974 daerah program Keluarga Berencana meliputi 6 propinsi yaitu Jawa Bali (DKI Jakarta. 3) Menyusun Pedoman Pelaksanaan Keluarga Berencana atas dasar pokokpokok kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Merupakan daerah perintis dari BKKBN.

22/1999 ttg OTODA. 21/1994 ttg PEMBANGUNAN KS. MISI: Membangun setiap keluarga Indonesia untuk memiliki anak ideal. pendekatan lintas . penyediaan layanan promosi. 32/2004 ttg PEMERINTAHAN DAERAH. 4) Meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga melalui pelayanan KB. PP No. 2) Menata kembali pengelolaan program KB. Landasan hukum TAP MPR No.VISI : keluarga berkualitas 2015. energik. serta penguatan kelembagaan dan jejaring KB. 3) Memperkuat SDM operasional program KB. Tugas pokok: Melaksanakan tugas pemerintahan dibidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pendekatan kemandirian. 25/2000 ttg PROPENAS. kreatif/ inovatif Kebijakan dari adanya grand strategi adalah pndekatan pemberdayaan. 10/2001. 5) Meningkatkan pembiayaan program KB. berketahanan dan terpenuhi hak-hak reproduksinya melalui pengembangan kebijakan. profesional kompeten. perlindungan. KEPPRES No. pendekatan desentralisasi. IV/1999 ttg GBHN.BKKBN No. 103/2001.BKKBN No. sejahtera. 70/2001 Filosofi BBKBN adalah menggerakkan peran serta masyarakat dalam keluarga berencana. 27/1994 ttg PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN. Grand Strategi: 1) Menggerakkan dan memberdayakan seluruh masyarakat dalam program KB. 10/1992 ttg PKPKS. sehat. UU No. partisipatif. pendekatan segmentasi sasaran. KEPMEN/Ka. Strategi 19 pendekatan kemitraan. konsisten. sektor. fasilitasi. KEPMEN/Ka. 110/2001. UU No. Nilai-nilai yang terkandung dalam grand strategi adalah integritas. PP No. UU No. organisasi pembelajaran. UU No. 9/2004. berpendidikan. KEPPRES No. informasi kependudukan dan keluarga. pendekatan pemenuhan hak (rightbased). KEPPRES No.

2) Keluarga sehat. 5) Keluarga berketahanan. 1981. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BKKBN. 6) Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya.Re-Establishment adalah mmbangun kembali sendi-sendi pogram KB nasional sampai ke tingkat lini lapanngan pasca penyerahan kewenangan.id 20 . Jakarta. 2005. Makalah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. 3) Keluarga berpendidikan. www. 7) Penduduk tumbuh seimbang (PTS ) Program KB Keluarga berencana Kesehatan reproduksi remaja Ketahanan dan pemberdayaan keluarga Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas Keserasian kebijakan kependudukan Pengelolaan SDM aparatur Penyelenggaran pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara Referensi Arjoso. Sustainability adalah memantapkan komitmen program dan kesinambungan dukungan oleh segenap stakeholders dari tingkat pusat sampai dengan tingkat daerah. S. Tujuannya adalah : 1) Keluarga dengan anak ideal.bkkbn. 4) Keluarga sejahtera. Maret. Sejarah Perkembangan Keluarga Berencana dan Program Kependudukan. Rencana Strategis BKKBN.go.