LAPORAN PENDAHULUAN PENGUKURAN CVP dan JVP Oleh Riyan Idayati,1006770955 FIK UI A. CVP 1.

Pengertian tindakan Tekanan vena sentral ( CVP) adlah tekanan di dalam atrium kanan atau vena-vena besar dalam rongga toraks. Pemantauan tekanan vena sentral merupakan pedoman untuk pengkajian fungsi jantung kanan dan dapat mencerminkan fungsi jantung kiri apabila tidak terdapat penyakit kardiopulmonal. 2. Tujuan tindakan - Sebagai pedoman untuk penggantian airan pada klien dengan kondisi penyakit yang serius. - Memperkirakan kekurangan volume darah - Menentukan tekanan dalam atrium kanan dan vena sentral - Mengevaluasi kegagalan sirkulasi. 3. Kompetensi dasar lain yang harus dimiliki  Lokasi vena untuk CVP : - Vena subklavia - Vena jugularis eksternal atau internal - Vena basilica media  Manajemen Keperawatan pada pasien yang terpasang CVP : - CVP digunakan untuk mengukur tekanan pengisian jantung bagian kanan - Pada saat diastolic, dimana katub tricuspid membuka, darah mengalir dari atrium kanan ke ventrikel kanan, pada saat ini CVP merefleksikan sebagai Right Ventricular End Diastolic Pressure (RVEDP). - CVP normal berkisar antara 2-5 mmHg atau 3-8 cmH20 - Bila hasil pengukuran CVP dibawah normal, biasanya terjadi pada kasus hipovolemi, menandakan tidak adekuatnya volume darah di ventrikel pada saat akhir diastolic untuk menghasilkan stroke volume yang adekuat. Untuk mengkompensasinya guna meningkatkan cardiac output, maka jantung nmeningkatkan heart ratenya, meyebabkan tavhycardi, dan akhirnya juga akan meningkatkan konsumsi 02 miokard. - Bila hasil pengukuran CVP diatas normal, biasanya terjadi pada kasus overload, untuk mengkompensasinya jantung harus lebih kuat berkontraksi yang juga akan meningkatkan konsumsi O2 miokard. - Standar pengukuran CVP bisa menggunakan ukuran mmHg atau cmH2O, dimana I mmHg = 1,36 cmH2O.  Lokasi Pemantauan - Vena Jugularis interna kanan atau kiri (lebih umum pada kanan) - Vena subklavia kanan atau kiri, tetapi duktus toraks rendah pada kanan - Vena brakialis, yang mungkin tertekuk dan berkembang menjadi phlebitis - Lumen proksimal kateter arteri pulmonalis, di atrium kanan atau tepat di atas vena kava superior  Gelombang CVP Gelombang CVP terdiri dari, gelombang: a= kontraksi atrium kanan c= dari kontraksi ventrikel kanan x= enggambarkan relaksasi atrium triskuspid

Tromboplebitis .Emboli udara .Bengkok .Pipa U .Bekuan darah karena tertekuknya kateter .Set infuse 6.Set CVP Spuit 2.Antiseptik Obat anaestesi local .Insersi kawat pacemaker  Komplikasi .Pneumotoraks .v= penutupan katup trikuspid y= pembukaan katup trikuspid 4. kontraindikasi dan komplikasi  Indikasi .Hematoma .9% (25 ml) .Sebagai pilihan yang baik pada kasus penggantian cairan dalam volume yang banyak ( Thelan.Hemotoraks .Pasien dengan kelainan ginjal ( ARF.Tamponade jantung .Cairan NaCl 0. Alat dan bahan Persiapan untuk pemasangan : Persiapan alat: .Standar infuse . 1994) .Skala pegnukur .Three way stopcock .Pasien yang mengalami gangguan keseimbangan cairan .Nyeri dan inflamasi pada area penusukan .Sarung tangan steril .Selang penghubung (manometer line) .Disritmia jantung .Pembedahan leher . oliguria) . Indikasi.Koloni organic 5. Persiapan Alat .Plester Persiapan untuk pengukuran : a.5 cc .Digunakan sebagai pedoman penggantian cairan pada kasusu hipovolemi .Pasien dengan gagal jantung .Microshok .Kateter CVP .Mengkaji efek pemberian obat diuretic pada kasus overload cairan . Prosedur tindakan .Pasien terpasang nutrisi parenteral ( dextrose 20% aminofusin)  Kontraindikasi .

9% .Spuit 2. arteri pulmonal.Set instrumen steril untuk tindakan invasive .Spuit 1 cc . Persiapan untuk pemantauan .Monitor .Memberikan penjelasan kepada pasien .Obat anestesi lokal .Memberikan penjelasan ttg: tujuan pemasangan.Menghubungkan manometer line dengan three way stopcock . Cara Merangkai . adalah mensejajarkan letak jantung (atrium kanan) dengan skala pengukur atau tansduser o Letak jantung dapat ditentukan dg cara membuat garis pertemuan antara sela iga ke empat (ICS IV) dengan garis pertengahan aksila o Menentukan nilai CVP.Mengeluarkan udara dari selang infuse .Sarung tangan steril . kapiler arteri pulmonal.Alat flush .Bengkok . Cara Pengukuran .Memberitahu pasien bahwa tindakan telah selesai Pemantauan dengan Transduser Dilakukan pada CVP.Megatur posisi pasien o Lavelling. dengan memperhatikan undulasi pada manometer dan nilai dibaca pada akhir ekspirasi .Plester c.Spuit 5 cc/10 cc .Menghubungkan manometer line dengan kateter yang sudah terpasang c. dan prosedur yang akan dikerjakan .9% (1 kolf) . dan tekanan darah arteri sistemik. a.Menghubungkan skala pengukuran dengan threeway stopcock .Cairan NaCl 0.Tranduser . daerah pemasangan.Membereskan alat-alat .Menghubungkan set infus dg cairan NaCl 0.Pengukuran CVP b.Menghubungkan three way stopcock dengan selang infuse . Persiapan untuk penusukan .Antiseptik .Kantong tekanan .Manometer line .Kateter sesuai kebutuhan .Mengatur posisi pasien sesuai dengan daerah pemasangan b. Persiapan pasien .Heparin .Penyanggah tranduser/standar infus .Three way stopcock .Mengisi cairan ke skala pengukur sampai 25 cmH2O .Mengeluarkan udara dari manometer line .5 cc .

penumotorak.- Pipa U Infus set d. Cara Merangkai . Swan gans).Memantau perubahan hemodinamik setelah pemberian obat-obatan. Sebelum Pemasangan . . infeksi.Memastikan gelombang dan nilai tekanan terbaca dengan baik 7. . Emboli udara.Menghubungkan tranduser dg alat infuse .Menghubungkan kabel transduser dengan monitor .Menghubungkan cairan tsb dg infuse .hematom. Hal penting yang harus dierhatikan perawat 1. kelebihan cairan.Memberikan rasa nyaman dan aman pada klien. rupture arteri pulmonalis. atau gelombang tidak sesuai dg kondisi klien.Mencatat nilai tekanan dan kecenderungan perubahan hemodinamik.Memompa kantong tekanan sampai 300 mmHg .Memasang cairan infus pada kantong tekanan .Mempersiapkan pasien. & infark pulmonal). .Melakukan kalibrasi alat sebelum pengukuran d.Memasang threeway stopcock dg alat flush . memberikan penjelasan.Memelihara alat-alat selalu steril .Menutup threeaway ke arah pasien dan membuka threeway ke arah udara .Mengambil heparin sebanyak 500 unit kemudian memasukkannya ke dalam cairan infuse . 2) Zero balance: dilakukan pd setiap pergantian dinas . aritmia.Mempersiapkan alat untuk penusukan dan alat-alat untuk pemantauan . setiap shift.Mengkorelasikan nilai yg terlihat pada monitor dengan keadaan klinis klien. yaitu pertemuan antara garis ICS IV dengan midaksila.Menghubungkan bagian distal selang infus dengan alat flush .Menekan tombol kalibrasi sampai pada monitor terlihat angka nol .Lavelling .Memastikan letak alat2 yang terpasang pada posisi yang tepat dan cara memantau gelombang tekanan pada monitor dan melakukan pemeriksaan foto toraks (CVP.Memantau tanda dan gejala komplikasi yg dpt terjadi pada saat pemasangan spt gg irama jantung.Mencegah terjadi komplikasi & mengetahui gejala & tanda komplikasi (spt. perdarahan .Membuka threeway kearah klien dan menutup ke arah udara .Mengeluarkan cairan ke udara .Mengeluarkan udara dari selang infuse . tujuan pemantauan. . balon pecah.Mengeluarkan udara dari seluruh sistem alat pemantauan (untuk memudahkan beri sedikit tekanan pada kantong tekanan) . Saat Pemasangan .Membuat klien merasa nyaman dan aman selama prosedurdilakukan 3. 3) melakukan kalibrasi untuk mengetahui fungsi monitor/transduser. . dan mengatur posisi sesuai dg daerah pemasangan 2. Cara Kalibrasi . .Menghubungkan manometer dg threeway stopcock . ragu terhadap gelombang.Menghubungkan manometer dengan kateter yang sudah terpasang .Mendapatkan nilai yang akurat dengan cara: 1) melakukan Zero Balance: menentukan titik nol/letak atrium. . Setelah Pemasangan .

JVP 1.Suhu klien . kadang-kadang tidak adekuat untuk memeriksa tekanan vena yang sangat tinggi. tekanan bilateral yang diperoleh .Tricuspid reflux .Payah jantung kongestif . Tinggi sudut manubriosternal di atas mid-right atrium selalu konstan. 2008) Penyebab dan ciri-ciri peningkatan JVP Sering : . (Waskito. Peningkatan JVP yang tidak pulsatif. Pada saat pasien duduk tegak. yaitu gelombang sistoliknya besar sehingga dapat teraba dan tidak dapat hilang bila ditekan dengan jari. Hal penting yang harus didokumentasikan . 2008) 2. Maka pasien diminta untuk menaikkan tangan sampai vena di belakang tangan kolaps dan periksalah perbedaan tinggi tangan dengan atrium kanan atau sudut sternum. walaupun pasien dalam keadaan berbaring. Memperkirakan tekanan vena sentral (central venous pressure) 3. dengan leher fleksi dan pandangan lurus ke depan. 2008) Bentuk gelombang yang abnormal terjadi pada tricuspid regurgitation. dimana peningkatan tekanan vena menunjukkan kegagalan ventrikel kanan. (Waskito.(Waskito. pada pericardial tamponade atau constrictive pericarditis). Adapun tujuan dari pengukuran JVP antara lain: a. vena terisi penuh. Bila JVP terlihat di atas klavikula pada saat pasien duduk tegak. maka dianggap sama dengan tinggi pulsasi vena jugularis di atas sudut manubriosternal. 2008) Tekanan normal pada atrium kanan ekuivalen dengan tekanan kolom darah setinggi 10-12 cm.Tingkat kesadaran klien . maka pulsasi vena jugularis akan tampak tepat di atas klavikula. Sebaiknya tidak menegangkan muskulus sternomastoid. Pemeriksaan JVP menunjukkan keadaan ‘input’ jantung. Terdapat 2 buah vena jugularis pada leher yaitu vena jugularis interna dan vena jugularis eksterna. (Waskito. maka tentukan tinggi pulsasi di atas level atrial dan bentuk gelombang pulsasi vena jugularis. Pada pasien dengan JVP yang sangat tinggi (mis. dilihat keabnormalan yang tejadi missal edema . vena jugularis interna akan kolaps dan bila pasien berbaring. Kompetensi dasar Bila denyut vena jugularis telah ditemukan. maka artinya tekanan JVP meningkat. karena vena jugularis interna tepat berada di bawahnya. vena jugularis interna dapat terisi penuh saat pasien berbaring 45°. Vena jugularis yang biasa digunakan yakni vena jugluaris interna karena berhubungan langsung dengan vena cava superior dan atrium kanan. Karena tidak mungkin dapat melihat atrium kanan.8. menunjukkan kemungkinan adanya obstruksi vena kava superior. apabila pasien berdiri atau duduk tegak. 2008). (Waskito. Bila pasien berbaring sekitar 45°.Jam dan tanggal B. maka posisi ini digunakan untuk pemeriksaan denyut vena jugularis (JVP) .Pernapasan klien . Jadi.Penampakan fisik klien. Pengertian tindakan Distensibilitas vena-vena di leher dapat memperlihatkan adanya perubahan volume dan tekanan di dalam atrium kanan. Penyebab peningkatan tekanan JVP adalah payah jantung kongestif. Mengetahui ada tidaknya distensi vena jugular (JVD) b. Tujuan. JVP yang normal adalah kurang dari 4 cm di atas sudut manubriosternal.Hasil pengukuran. sehingga pasien perlu didudukkan untuk dapat melihat ujung pulsasi. duduk atau berdiri.Kepala pasien diletakkan pada bantal.

e. nutrisi parenteral.Peningkatan tekanan vena.Tricuspid stenosis 4.Memasang restrain 6. Indikasi. atau jika vena perifer tidak adekuat. b. Pasien dengan trauma mayor e. Pasien yg menerima operasi jantung sehingga status sirkulasi sangat penting diketahui. SCV sindrom Infeksi pada area insersi Koagulopati Insersi kawat pacemaker Disfungsi kontralateral diafragma Pembedahan leher - Komplikasi : a.Constrictive pericarditis . Pasien dengan distensi unilateral d. Prosedur . d. c.Memastikan leher dan toraks telah terbuka .Mengkaji tingkat kesadran pasien . Hematoma local Sepsis Disritmia Tamponade perikard Bakteriemia Emboli udara Pneumotoraks 5.Bantal sesuiai kebutuhan 7.Posisi pasien. b. Pasien yang mendapat obat vasoaktif. e. Pasien yan diberi cairan IV secara cepat Kontraindiasi : a. nyaman atau belum . c.Superior caval obstruction . c. b. Alat dan bahan . g. komplikasi Indikasi : a.Bad pasien . f. pola gelombang sulit ditentukan karena pasien menjadi hipotensi bila duduk Jarang .Senter . Aspek keamanan dan keselamatan .Bentuk gelombang normal Gelombang ‘V’ yang besar Agak jarang .2 buah penggaris (skala sentimeter) .Massive pulmonary embolism . f. kontraindikasi.Pericardial tamponade . d.Menghindari hiperekstensi atau fleksi leher . Pasien yang sering diambil darah venanya untuk sampel tes laboratorium f.

7.45° (LeMone & Burke. 2. 1993. mengindikasikan deplesi volume ekstrasel. 1188). 5. dan keamanan pasien . p.45° (Luckman & Sorensen. 1113). misalnya terjadi pada: . 6.Keruntutan prosedur dan tindakan Hasil Pengukuran dan Interpretasinya 1. mengindikasikan peningkatan tekanan atrium/ventrikel kanan. Distensi unilateral. 11. Anjurkan kepala klien menengok menjauhi arah pemeriksa. Gunakan lampu senter dari arah miring untuk melihat bayangan (shadows) vena jugularis. Gunakan bantal untuk menopang kepala klien dan hindari fleksi leher yang tajam. 141). o Penggaris ke-2 diletakan mendatar (horizontal). 4. jika tidak tampak gunakan vena jugularis eksterna.Perikardial tamponade 2. 3. p 1112). Lepaskan pakaian yang sempit/menekan leher atau thorak bagian atas. 12. mengindikasikan obstruksi pembuluh pada salah satu sisi. Lanros & Barber. 1993. dan ini adalah konstanta +2: hasilnya—meniscus 8.Ketelitian dalam melakukan inpeksi dan pengukuran . p. atau o 45° . 2000.Berdenyut ke dalam . sementara ujung lainnya ditempelkan pada penggaris ke-1. Perbedaan denyut vena jugularis dan arteri carotis venous Vena jugularis : . Tentukan titik tertinggi dimana pulsasi vena jugularis interna/eksterna dapat dilihat (Meniscus). Nilai lebih dari normal. Tempat tidur bagian kepala ditinggikan: o 15° . 3. atau o 30° . pada posisi tempat tidur bagian kepala ditinggikan 30° . Pakailah sudut sternum (sendi manubrium) sebagai tempat untuk mengukur tinggi pulsasi vena.1. Atur klien pada posisi supine dan relaks. 13. Menulis dan Membaca Hasil Misal = 5+2 5: adalah jarak dari atrium ka ke sudut manubrium. Nilai normal: kurang dari 3 atau 4 cm diatas sudut sternum.90° — pada klien yang mengalami peningkatan tekanan atrium kanan yang cukup bermakna (Luckman & Sorensen.30° (Luckman & Sorensen.Privacy klien .Regurgitasi trikuspid . Catat hasilnya.Gagal jantung kanan . Ukurlah jarak vertikal (tinggi) antara sudut sternum dan titik tertinggi pulsasi vena (meniscus). Hal penting yang harus diperhatikan . Titik ini ± 4 – 5 cm di atas pusat dari atrium kanan. Gunakan penggaris. dimana ujung yang satu tepat di titik tertinggi pulsasi vena (meniscus). keselamatan. p. 10. dimana salah satu ujungnya menempel pada sudut sternum. 1997. o Penggaris ke-1 diletakan secara tegak (vertikal). Identifikasi pulsasi vena jugular interna (bedakan denyutan ini dengan denyutan dari arteri karotis interna di sebelahnya). p 1112. 8.Kebersihan diri perawat saat melakukan pengukuran . 1993.Kenyamanan. 9. Nilai kurang dari normal.

Hasil pengukuran. Diagnosa Keperawatan . Saunder Company. Medical surgical nursing critical thinking in client care. Keperawatan Kritis Edisi VI Volume I. Anna Owen. (2nd ed. (1997). LeMone & Burke.Bentuk dan penampakan fisik vena jugularis . Connecticut: Appleton & Lange. Medical surgical nursing a psychophysiologic approach.Tingkat kesadaran klien . Emergency nursing with certification preparation & review.). 1997. (4th ed. (2000).- Dua puncak dalam satu siklus ( pd irama sinus) Dipengaruhi oleh kompresi abdomen Dapat menggeser earlobes ( bila tekanan vena meningkat) Arterial : Berdenyt keluar Dua puncak dalam satu siklus ( pada irama sinus) Tidak dipengaruhi oleh kompresi abdomen Tidak menggeser earlobes 9. Jakarta:EGC . Suzanne C. 1997. Ed 8. Smeltzer.Suhu klien . Buku ajar keperawatan medikal-bedah Brunner & Suddarth. Referensi : Lanros & Barber. Lynda Juall. Ellen Panggabean. Jakarta: EGC Hudak & Gallo.B. (4th ed. (1993). (2001). Editor edisi bahasa Indonesia Monica Ester. Pemantauan Perawatan Kritis. Hal penting yang harus didokumentasikan . Jakarta: EGC.). New Jersey: Prentice Hall Health. jam dan tanggal pengukuran. Jakarta: EGC Carpenito. Philadelphia: W. Luckmann & Sorensen.Penampakan fisik klien. dilihat keabnormalan yang tejadi missal edema . 2000. tekanan bilateral yang diperoleh.).Pernapasan klien .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful