You are on page 1of 8

BioSMART ISSN: 1411-321X

Volume 2, Nomor 1 April 2000


Halaman: 20 - 27

Karyotipe Kromosom pada Allium sativum L. (Bawang Putih)


dan Pisum sativum L. (Kacang Kapri).

AHMAD DWI SETYAWAN1, SUTIKNO2


1
Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
2
Fakultas Biologi UGM Yogyakarta

ABSTRAK

This experiment was done rising the roots of Allium sativum L. (garlic) and Pisum sativum L. (pea). Aspects
investigated in the research are the steps of mitotic division and karyotiping. Semi permanent method is used on
making preparation with pre-treatment of 0.2% colchicines, fixation using 45% glacial acetic acid, hydrolysis using
1N chloride acid and dying with acetoorcein. The results suggest that pro-metaphase (c-metaphase) step is the most
suitable step for cytological observations (number, shape and size of chromosome) and karyotyping. The karyotype
formulae of Allium sativum is 2n = 16 = 16m, while for Pisum sativum is 2n = 14 = 14m. The size of chromosome of
both species is relatively large and disperse, it thus suitable for studying mitotic division.

Key words: Allium sativum, Pisum sativum, mitosis, karyotipe

PENDAHULUAN lurus, jarang ditemukan pada tumbuhan.


Levan dkk., 1964 membagi kromosom menjadi
Kromosom merupakan unit dasar kehidupan. Di tiga kelompok berdasarkan posisi relatif sentromer,
dalamnya terdapat materi genetik DNA dan RNA dimana bentuk metasentris memiliki indeks
yang mengontrol semua aktifitas hidup, termasuk sentromer 50-37,5; submetasentris (sm) dengan
metabolisme dan penurunan sifat. DNA merupakan indeks sentromer 37,5-25 dan subtelosentris dengan
materi genetik utama pada sebagian besar indeks sentromer 25-12,5.
organisme, sedang RNA umumnya terbatas pada Ukuran panjang absolut kromosom berbeda-
virus (Bennett dan Leitch, 1995; DuPraw, 19 70). beda antar genus dalam satu familia, meskipun
Bentuk, ukuran dan jumlah kromosom setiap jumlah dasarnya sama. Ukuran ini bervariasi antara
spesies pada dasarnya selalu tetap, sehingga sangat satu hingga 20 kali. Sedang ukuran relatif berbeda-
bernilai untuk tujuan taksonomi, mengetahui beda dalam satu spesies, terlihat dalam jajaran
keanekaragaman, hubungan kekerabatan dan kromosom pada peta karyotipe. Perbedaan ukuran
evolusi, meskipun dalam keadaan tertentu dapat kromosom menunjukkan perbedaan kandungan gen
pula terjadi variasi (Lewontin, 1974; Lindsey and dan protein (Darnaedi, 1991; Darnaedi dkk., 1989).
Grell, 1967). Berdasarkan bentuk, jumlah dan Perbedaan jumlah kromosom menunjukkan
ukuran kromosom dapat dibuat peta standard yang perbedaan susunan duplikasi gen. Pada kasus
disebut karyotipe atau karyogram. Apabila aneuploid jumlah kromosom berbeda antar spesies
pasangan kromosom digambar tunggal, maka yang masih berkerabat dekat, disebabkan
disebut idiogram (Darnaedi, 1991; Soeryo, 1995). translokasi tidak seragam antara kromosom non-
Bentuk kromosom ditentukan oleh pola homolog. Aneuploid dapat menambah atau
kontriksi primer pada sentromer. Dalam hal ini mengurangi jumlah kromosom. Pada kasus
dikenal kromosom berbentuk (Soeryo, 1995; Klung poliploid, terjadi penambahan jumlah kromosom
dan Cummings, 1984): secara berkelipatan dari jumlah dasar (Darnaedi,
1. Metasentris: sentromer tepat di tengah, 1991; Darnaedi dkk., 1989; Soeryo, 1995).
kromosom berbentuk “huruf V”. Bahan yang umum digunakan dalam studi
2. Sub-metasentris: sentromer agak ke ujung, mitosis adalah ujung akar, ujung batang, primordia
kromosom berben-tuk “huruf J”. daun, petala muda, ovulum muda dan kalus. Namun
3. Akrosentris: sentromer mendekati bagian ujung, yang paling umum digunakan adalah ujung akar
kromosom berbentuk “huruf L” atau lurus. karena mudah tumbuh dan seragam, sedang untuk
4. Telosentris: sentromer di ujung, kromosom pembelahan meiosis sering digunakan anthera atau
© 2000 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
BioSMART, Vol. 2, No. 1, April 2000, hlm. 20 - 27 21

ujung tunas bunga (Darnaedi, 1991; Darnaedi dkk., pembelahan mitosis dan pembuatan peta karyotipe.
1989). Penelitian meiosis biasanya hanya Preparat dibuat dengan metode squash semi
digunakan untuk menghitung jumlah kromosom, permanen (Darnaedi, 1991; Gunarsa, 1989; Okada,
sedang penelitian mitosis dapat digunakan untuk 1981; Radford dkk, 1974; Robert dan Short, 1979).
membuat karyotipe (Riesenberg dkk., 1987). Sifat Karyotipe dibuat mengikuti Ruas dkk. (1995),
morfologi kromosom pada pembelahan mitosis Davina dan Vernandes (1989) serta Robert dan
lebih stabil dari pada meiosis. Struktur penanda Short (1979). Adapun bentuk kromosom merujuk
seperti satelit, penyempitan, letak sentromer dan pada Levan dkk. (1964).
panjang lengan lebih jelas (Min dkk., 1984).
Senyawa mutagen dapat menghambat Penanaman Sediaan
pembelahan sel dan menyebabkan poliploid. Di Sumber sel meristematis penelitian ini adalah
dalam nukleus, senyawa ini berikatan dengan ujung akar. Pada Allium sativum ujung akar
mikrotubuli α dan β, yang berperan dalam diperoleh dengan merendam pangkal umbi lapis
pembentukan, pertumbuhan, pembelahan dan sedalam kurang lebih seperempat dari titik akar
sitomorfogenesis (Fosket dan Morejohn, 1992). atau meletakkan umbi di atas kapas basah. Sedang
Senyawa mutagen yang paling terkenal dan efektif pada Pisum sativum ujung akar diperoleh dengan
adalah kolkisin. Senyawa ini berupa alkaloid dan merendam biji dalam air. Dua hari setelah
biasanya diperoleh dari ekstrak umbi Colchicum perendaman, kulit biji dibuang untuk memepercepat
autumnale L. (Familia Liliaceae), tetapi dalam perkecambahan.
kadar rendah dapat pula diperoleh dari umbi
Familia Liliaceae lain, seperti Colchicum luteum Studi Pendahuluan
dan Merendera perseca (Eigsti dan Dustin, 1957). Studi pendahuluan Allium sativum dilakukan
Perlakuan jaringan meristematik tumbuhan pagi hari mulai jam 08.00-13.00. Pemotongan akar
dengan kolkisin menghambat pembelahan sel dan dilakukan setiap 30 menit dan dibuat preparat
menghasilkan sel poliploid, sejalan dengan dengan metode squash semi permanen, serta
pembentukan dinding sel secara normal dan diamati. Prosedur yang sama dilakukan pula pada
depolarisasi sel-sel yang memanjang (Eleftheriou, Pisum sativum, namun karena tidak diperoleh
1994; Galatis, 1991; Murata dan Wada, 1989; waktu pembelahan optimum, maka prosedur ini di-
Nooden, 1971). Kolkisin dapat menginduksi ulangi lagi pada malam hari mulai jam 20.00-01.30.
pembentukan parakristal sitoplasma baik pada sel
hewan (Schechter dkk., 1976; Rosenbaum dan Pembuatan Kemikalia
Carlson, 1969) maupun pada sel tumbuhan Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian
(Apostalakos dkk, 1990; Bennett dan Smith, 1979). ini meliputi kolkisin 0,2% untuk pra-perlakuan,
Konsentrasi efektif kolkisin berkisar antara asam asetat glasial 45% untuk fiksasi, asam klorida
0,01-1,00% untuk lama perendaman 6-72 jam. 1N untuk hidrolisis dan asetoorsein 2% untuk
Konsentrasi yang terlalu tinggi atau waktu pewarnaan.
perendaman yang terlalu lama, menyebabkan Kolkisin 0,2%. Kolkisin 0,2 gram dilarutkan dengan 5 ml
kromosom mengerut bahkan menggumpal, karena etanol, lalu ditambah 95 ml akuades dan diaduk hingga larut.
reaksi kolkisin dengan protein dan asam nukleat Disimpan dalam botol tertutup rapat, berwarna gelap, dalam
lemari es bersuhu 5 oC.
(Eigsti dan Dustin, 1957). Senyawa ini dapat
Asam Asetat Glasial 45%. Asam asetat glasial 45 ml dan 55
digantikan senyawa mutagen lain seperti asenapten,
ml akuades diaduk hingga larut, lalu disimpan dalam botol
kloralhidrat, 8-hidroksiquinolin, p-diklorobenzen, tertutup pada suhu kamar.
indolasetat dan lain-lain. Secara umum kolkisin Asam klorida 1N. Asam klorida pekat 1 bagian ditambah 11
lebih efektif karena lebih mudah larut dalam air dan bagian akuades, digojok hingga larut dan disimpan dalam botol
tidak bersifat racun apabila kadarnya tepat. Akan tertutup pada suhu kamar.
tetapi pada dasarnya setiap spesies memiliki Asetoorsein 2%. Asam asetat glasial 45 ml dipanaskan hingga
kecocokan dengan senyawa mutagen tertentu hampir mendidih (90-100oC), ditambah 2 gram orsein,
(Karangiannidou dkk., 1995; Morejohn, 1991; dididihkan lagi selama 10 menit sambil diaduk. Didinginkan
pada suhu kamar dan ditambah 55 ml akuades, serta digojok
Grant, 1982).
hingga larut. Kemudian disaring dan disimpan dalam botol
tertutup, berwarna gelap, pada suhu kamar. Setelah tiga hari
BAHAN DAN METODE penyimpanan biasanya terbentuk endapan, untuk itu sebelum
digunakan sebaiknya digojok dan disaring lagi.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
kualitatif melalui tahap-tahap: penanaman sediaan, Pembuatan Preparat
pembuatan kemikalia, pembuatan preparat, studi Pra-perlakuan. Ujung akar dipotong 3-5 mm, dimasukkan ke
pedahuluan untuk mengetahui waktu optimum dalam botol flakon berisi 2-3 ml kolkisin 0,2%. Lalu
22 SETYAWAN dan SUTIKNO – Kromosom Allium sativun dan Pisum sativum

dibungkus kertas aluminium dan disimpan dalam lemari es pertumbuhan akar tergantung umur umbi. Sedang
selama 2-4 jam. pada Pisum sativum akar akan tumbuh setelah 4-7
Pencucian. kolkisin dibuang dan dicuci akuades tiga kali. hari. Sebelum digunakan biji sebaiknya dicuci
Fiksasi. Akuades dibuang, diganti asam asetat glasial 45% dan untuk menghilangkan fungisida dan bakterisida
disimpan dalam lemari es bersuhu 5 oC selama 15 menit. yang biasa dibubuhkan pada biji/bibit. Dalam
Pencucian. asam asetat glasial 45% dibuang dan dicuci medium air senyawa ini dapat menghambat
akuades tiga kali.
pertumbuhan akar.
Hidrolisis. Akuades dibuang, diganti asam klorida 1N dan
disimpan dalam oven bersuhu 60 oC selama ± 2 menit,
tergantung besarnya bahan.
Studi Pendahuluan
Setiap tumbuhan memiliki jam biologi yang
Pencucian. Asam klorida 1N dibuang dan dicuci akuades tiga
kali. mengatur waktu optimum pembelahan mitosis
Pewarnaan. Akuades dibuang, diganti asetoorsein 2% selama
(Johansen, 1940). Umumnya tumbuhan melakukan
1-3 jam, tergantung ukuran bahan dan kesegaran pewarna. pembelahan sel pada pagi hari. Dalam penelitian ini
Dilakukan pada suhu kamar. studi pendahuluan Allium sativum dilakukan pagi
Squashing. Diambil 1-2 buah ujung akar dengan kuas, hari mulai jam 08.00-13.00. Pemotongan akar
diletakkan di atas gelas benda dan dipotong hingga tersisa 1-2 dilakukan setiap 30 menit dan dibuat preparat
mm dari ujung. Ditetesi gliserin, ditutup gelas penutup dan dengan metode squash semi permanen, diperoleh
diketuk-ketuk, hingga hancur merata.
waktu pembelahan optimum jam 09.00. Prosedur
Penyegelan. Kelebihan gliserin di tepi gelas penutup yang sama dilakukan pula pada Pisum sativum,
dibersihkan dengan kertas tisu, lalu disegel dengan cat kuku
bening. namun karena tidak diperoleh waktu pembelahan
Pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan mikroskup
optimum, maka prosedur ini diulangi lagi pada
cahaya, untuk memperbaiki daya pisah digunakan filter dan malam hari mulai jam 20.00-01.30 dan diperoleh
minyak emersi. Preparat yang baik dipotret dengan kamera waktu pembelahan optimum jam 22.00.
mikrofotografi.
Teknik Preparasi
Pembuatan Karyotipe Eksperimen mitosis dapat menggunakan sel
Data sifat morfologi kromosom meliputi ukuran absolut meristem dari ujung akar, ujung batang, primordia
(µm), ukuran relatif (%) dan perbandingan panjang lengan.
daun, petala muda, ovulum muda dan kalus
Lalu dibuat indek asimetri karyotipe (assymetry index; AsI %)
dan rasio perbandingan pasangan kromosom terpanjang dan (Darnaedi, 1991; Okada, 1981). Ujung akar
terpendek (R). Jumlah, ukuran dan bentuk kromosom merupakan organ paling sering digunakan untuk
ditentukan dengan mengamati sekurangnya sepuluh sel yang mempelajari pembelahan mitosis, misalnya
sedang dalam tahap pembelahan prometafase (Ruas dkk., membuat peta karyotipe, karena merupakan organ
1995).
Indek asimetri karyotipe dihitung dengan rumus:
paling meristematis. Hal ini kerkaitan dengan
fungsinya sebagai alat pencari makan yang harus
AsI % = total lengan panjang pada kromosom set X 100% selalu bergerak “mengejar mangsa” serta harus
total panjang kromosom set permeabel untuk memungkinkan penyerapan air
dan unsur-unsur hara, sehingga ujung akar selalu
sedang rasio perbandingan pasangan kromosom dihutung
dengan rumus:
membelah dan dalam keadaan muda. Di samping
R = pasangan kromosom terpanjang itu ujung akar dapat diatur pertumbuhannya untuk
pasangan kromosom terpendek mendapatkan bahan yang seragam umur, bentuk
dan ukurannya.
Pembuatan karyotipe dilakukan dengan memproyeksikan Pra-perlakuan Kolkisin
setidaknya dua buah preparat foto mikrofotografi pembelahan
Kolkisin merupakan alkaloid mutagen poliploid,
mitosis tahap prometafase ke atas kertas. Kemudian dipisah-
pisahkan dan dikelompokkan berdasarkan bentuknya dengan bersifat permeabel terhadap dinding dan membran
urutan metasentris, submetasentris, akrosentris dan telosentris. sel, larut dalam cairan sitoplasma, serta dapat
Serta diurutkan berdasarkan ukuran lengan panjang, dimana menghambat pembelahan sel dan menyebabkan
lengan panjang diletakkan di bawah. Dengan demikian poliploid. Di dalam nukleus, kolkisin berikatan
diperoleh karyogram. Dapat pula disajikan dalam bentuk
idiogram dengan menyatukan pasangan kromosom tersebut.
dengan mikrotubuli α dan β, yang berperan dalam
pembentukan pertumbuhan, pembelahan dan
sitomorfogenesis. Benang-benang spindel tidak
HASIL DAN PEMBAHASAN terbentuk dan kromosom tidak dapat ditarik ke
bidang ekuator maupun kutub, sehingga tahap
Penanaman Sediaan. prometafase yang dalam kondisi normal hanya
Air harus diganti setiap hari untuk mencegah berlangsung beberapa menit, dapat dihentikan dan
tumbuhnya bakteri dan jamur. Pada Allium sativum diamati. Kolkisin menyebabkan kromosom
akar akan muncul setelah 2-3 hari. Kecepatan mengerut, sehingga ukurannya memendek,
BioSMART, Vol. 2, No. 1, April 2000, hlm. 20 - 27 23

terpencar-pencar, tidak terlalu tumpang tindih dan merupakan konsentrasi optimum. Pada konsentrasi
mudah diamati. Konsentrasi efektif kolkisin lebih rendah daya kerjanya kurang, sehingga harus
berkisar antara 0,01-1,00% untuk lama perendaman direndam lebih lama. Sedang pada konsentrasi lebih
6-72 jam. Konsentrasi tinggi atau perendaman tinggi dapat menguraikan nukleus beserta
lama, menyebabkan kromosom menggumpal. kromosom di dalamnya, sehingga bentuk inti
Tahap prometafase akibat pemberian kolkisin memanjang dan kromosom tidak dapat diamati
disebut juga c-metafase (colchicine (c-) metaphase) dengan sempurna. Kecepatan reaksi asam klorida
(Eigsti dan Dustin, 1957; Okada, 1981). meningkat sejalan dengan naiknya suhu. Suhu
tertinggi yang masih diperkenankan dalam prosedur
Fiksasi dengan Asam Asetat Glasial ini adalah 60oC.
Sel-sel meristematis yang dipotong dari organ Pewarnaan dengan Asetoorsein
hidup akan segera membentuk fase metabolik Kromosom mempunyai perbedaan mencolok
(interfase). Fiksasi bertujuan menghentikan proses dalam penyerapan warna. Hal ini sangat
ini serta mematikan sel dengan jalan mendenaturasi dipengaruhi jenis tumbuhan. Perbedaan tanggapan
protein dan asam nukleat. Kromosom yang terhadap reaksi warna ini menunjukkan perbedaan
terfiksasi akan mengkerut, mengeras dan gen dan protein yang dihasilkan. Asetoorsein sangat
mengendap sehingga tetap berada pada posisi cocok untuk ujung akar karena penetrasinya cepat,
semula seperti ketika masih hidup. Fiksasi yang serta tahan lama, namun dalam penyimpanan lama
terlalu lama atau terlalu asam akan menggumpalkan (misalnya setahun) penetrasinya turun, timbul
kromosom. Fiksasi juga menaikkan indek bias lapisan film di permukaan cairan dan mengendap.
komponen-komponen sel. Oleh karena itu dibutuhkan waktu lebih lama untuk
Asam asetat glasial 45% dipilih karena penetrasi serta harus digojok dan disaring sebelum
penetrasinya cepat, cukup 15 menit. Konsentrasi digunakan lagi. Endapan yang terbawa ujung akar
45% merupakan konsentrasi optimum. Pada menyebabkan terbentuknya bercak-bercak gelap
konsentrasi lebih rendah daya kerjanya berkurang, yang sangat mengganggu pengamatan di bawah
sehingga butuh waktu lebih lama dan pada mikroskop.
konsentrasi lebih tinggi dapat membengkakan Squash
kromosom. Fiksasi dengan asam asetat glasial Kualitas squash sangat menentukan kualitas
dilakukan dalam lemari es pada suhu 5oC. Suhu preparat. Squash yang baik menghasilkan preparat
rendah ini dimaksud untuk menghambat kerja yang hanya terdiri dari selapis sel, terpisah-pisah,
enzim-enzim pengurai menghidrolisis sel, misalnya tidak tumpang-tindih, tidak terpecah-pecah dan
lisosom. tidak terdenaturasi. Squash dilakukan dalam media
Pencucian dengan Akuades gliserin. Gliserin bersifat kental dan licin, sehingga
Pencucian dimaksudkan untuk menghilangkan memudahkan proses squash serta sulit menguap
pengaruh perlakuan sebelumnya dan sehingga mampu menjaga kesegaran bahan.
mengembalikan bahan pada suhu kamar sebelum Pengamatan
diperlakukan lagi. Misalnya setelah irisan ujung Kualitas mikroskop cahaya identik dengan
akar difiksasi dengan asam asetat glasial 45% pada kecilnya nilai daya pisah, yaitu jarak minimum
suhu 5oC, dicuci terlebih dahulu dengan akuades antara dua titik yang masih dapat dibedakan dengan
sebelum dihidrolisis pada suhu 60oC. Akuades jelas. Nilai daya pisah sebanding dengan nilai
dipilih karena larut dalam semua kemikalia yang panjang gelombang sumber cahaya. Sehingga untuk
digunakan dalam metode squash ini, sehingga daya meningkatkan daya pisah digunakan filter yang
kerjanya efektif. meloloskan cahaya dengan panjang gelombang
Hidrolisis dengan Asam Klorida rendah, yaitu biru (λ=435-535) dan hijau (λ=490-
Dasar pemikiran metode squash adalah 535). Filter juga berguna untuk mempertinggi detail
melarutkan lamela tengah sel-sel meristimatis yang dan mengurangi kesilauan. Daya pisah berbanding
belum kuat perlekatannya. Sehingga sel dapat terbalik dengan indek bias sehingga untuk
dipisah-pisahkan hingga ketebalannya tinggal memperkecil daya pisah, digunakan minyak emersi
selapis saja. Hidrolisis dapat menggunakan asam yang indek biasnya lebih besar dari pada udara.
atau enzim hidrolase. Salah satu asam yang biasa Nilai daya pisah juga berbanding terbalik dengan
digunakan adalah asam klorida. Hidrolisis yang nilai “Numerical Aperture” (NA), sehingga
terlalu lama dapat mengurangi affinitas pewarna digunakan lensa objek dengan NA tinggi.
terhadap kromosom dan menyebabkan kromosom
terurai karena denaturasi protein dan asam nukleat. Pembelahan Mitosis
Asam klorida memiliki kemampuan melarutkan Pembelahan mitosis terdiri dari profase,
lamela tengah sangat tinggi. Konsentrasi 1N metafase, anafase dan telofase. Tahap-tahap ini
24 SETYAWAN dan SUTIKNO – Kromosom Allium sativun dan Pisum sativum

dalam kondisi alami hanya berlangsung beberapa pada mikrotubuli. Pada Allium sativum letak
menit. Para pakar memberi istilah prometafase kromosom lebih tersebar dan bentuk lekukan
untuk tahap antara profase dan metafase. Tahap ini sentromer lebih jelas, sedang pada Pisum sativum
merupakan kondisi terpenting untuk studi sitologi, letak kromosom agak tumpang tindih sehingga
karena pada prometafase bentuk, jumlah dan menyulitkan penghitungan jumlah, pengukuran dan
ukuran kromosom sangat memungkinkan untuk pengamatan bentuknya. Tahap ini merupakan fase
diteliti. Pembelahan mitosis difasilitasi terutama paling jelas untuk membuat karyotipe.
oleh benang-benang spindel mikrotubulin. Pada Metafase
gambar-gambar mikrofotografi keberadaan benang- Pada tahap ini mikrotubuli kinetokor menarik
benang tersebut sering tidak terlihat, karena kromosom ke bidang ekuator. Posisi mikrotubuli
pengaruh pra-perlakuan kolkisin yang tegak lurus dengan benang spindel sehingga letak
menghancurkannya. Namun keberadaan dan peran kromosom cenderung mendatar di bidang ekuator.
benang-benang tersebut dapat diduga berdasarkan Tahap metafase merupakan indikator umum studi
posisi kromosom dalam pembelahan. pendahuluan untuk mengetahui waktu terjadinya
Ukuran sel-sel meristematis Allium sativum pembelahan sel. Metafase paling mudah ditemukan,
bervariasi. Hal ini disebabkan oleh tingkat vigoritas karena pada posisi ini kromosom mengumpul,
masing-masing sel yang berbeda-beda, tergantung sehingga biarpun ukurannya kecil tetap dapat
umur dan posisi sel. Sel-sel muda yang terletak dilihat. Duplikasi kromosom diawali pada tahap ini.
paling luar cenderung vigor dan besar, sedang sel Allium sativum memiliki ukuran kromosom lebih
yang lebih dalam cenderung lebih kecil. Pada saat panjang dari pada Pisum sativum, sehingga luasan
pembelahan, ukuran sel dapat mempengaruhi bidang ekuator yang tertutupi kromosom Allium
penyebaran kromosom. Sel yang ukurannya besar sativum lebih besar dari pada Pisum sativum.
cenderung memiliki cukup ruangan sehingga letak A n a f a s e
kromosom terpencar-pencar dan tidak tumpang Tahap anafase berlangsung secara cepat dan
tindih. Pada Pisum sativum vigoritas ini tidak tiba-tiba. Diawali terpisahnya pasangan kinetokor
banyak terjadi, sekalipun tetap ada beberapa sel pada masing-masing kromosom, lalu diikuti
yang higroskopis. Ukuran sel Pisum sativum jauh tertariknya kromatid secara pelan-pelan ke arah
lebih kecil dari pada ukuran rata-rata sel Allium kutub.
sativum, sehingga Allium sativum lebih mudah Telofase
diamati biarpun jumlah kromosomnya lebih Pada tahap telofase, dua kromatid anakan
banyak. mencapai kutub. Membran inti terbentuk kembali,
P r o f a s e menyelubungi masing-masing kelompok kromosom
Pada fase ini, kromatin yang larut dalam nukleus anakan. Kromatin yang mengecil menggembung
pada tahap interfase, secara bertahap terkumpul lagi. Nukleolus yang menghilang sejak profase
kembali membentuk kromosom yang jelas. terlihat kembali dan mitosis selesai dengan
Kemudian masing-masing mengalami duplikasi terbentuknya dua sel baru. Bentuk kromosom
membentuk pasangan kromatid, yang memiliki telofase pada Allium sativum dan Pisum sativum
urutan khas DNA di sentromer. Sentromer berperan tidak berbeda jauh. Hanya saja ukuran kelompok
penting pada pembelahan sel. Menjelang akhir kromosom Allium sativum lebih besar.
profase, mikrotubuli yang merupakan bagian
kerangka interfase dibongkar dan komponen Karyotipe Kromosom
utama mitosis, yaitu benang-benang spindel Dalam penelitian ini tata letak kromosom dalam
dibentuk. Benang-benang spindel membentuk dua sel Allium sativum lebih mudah diamati dari pada
kutub, terdiri dari mikrotubuli dan beberapa jenis Pisum sativum. Sebagian besar kromosom Allium
protein lain. sativum tidak mengalami pembengkokan/kontriksi
Prometafase (C-metafase) primer dan letaknya cenderung datar sejajar bidang
Prometafase dimulai secara mendadak karena pandang, sehingga bentuk, jumlah dan ukurannya
gangguan pada membran inti yang merusak dapat diamati dan diperkirakan dengan mudah.
kerangka interfase mikrotubuli, sehingga kantung Sebaliknya pada Pisum sativum kontriksi primer ini
membran inti robek. Dalam keadaan normal sisa- sangat kuat sehingga bentuk kromosom menyerupai
sisa kantung membran ini terlihat di sekitar benang huruf “V”, bahkan pada beberapa kromosom
spindel selama mitosis. Benang-benang spindel lengan-lengan ini hampir bersentuhan. Di samping
mikrotubuli yang terletak di luar dapat memasuki itu tata letak kromosom Pisum sativum sangat tidak
daerah inti. Pada saat yang sama protein majemuk beraturan, beberapa diantaranya terletak tegak lurus
khas yang disebut kinetokor di masing-masing terhadap bidang pandang, sehingga sangat
sentromer mencapai kematangannya dan menempel menyulitkan pengamatan.
BioSMART, Vol. 2, No. 1, April 2000, hlm. 20 - 27 25

10 µm
Gambar 1. Proyeksi kromosom Allium sativum.

10 µm
Gambar 2. Proyeksi kromosomPisum sativum
26 SETYAWAN dan SUTIKNO – Kromosom Allium sativun dan Pisum sativum

Gambar 3. Allium sativum: A. karyogram, B. idiogram; Pisum sativum: C. karyogram, D. idiogram.

Data karyotipe Allium sativum dan Pisum sativum sativum kontriksi ini sangat kuat. Pada Allium
disajikan dalam tabel 1 dan 2. Allium sativum sativum terdapat sepasang kromosom berbentuk
memiliki rumus karyotipe 2n = 16 = 16 m, sedang submetasentris. Ukuran kromosom Allium sativum
Pisum sativum: 2n = 14 = 14m. Perbedaan cenderung lebih besar dari pada Pisum sativum. Hal
karyotipe menunjukkan adanya perbedaan ini dapat dilihat dari perbedaan total panjang
segregasi dan rekombinasi kromosom. Bentuk kromosom keduanya, masing-masing 197,2µm dan
kromosom kedua spesies ini didominasi tipe 35,53 µm.
metasentris. Pada Allium sativum kontriksi primer
cenderung dapat diabaikan, namun pada Pisum
Tabel 2. Data morfometri kromosom Allium sativum dan Pisum sativum
Parameter Pasangan kromosom
1 2 3 4 5 6 7 8 HCL
Allium sativum
Ukuran absolut µm 30,26 27,36 26,46 25,92 24,88 24,60 18,94 18,82 197,2
Ukuran relatif % 13,87 13,87 13,41 13,14 12,61 12,47 9,60 9,54 100
Rasio lengan L/S 1,09 1,17 1,31 1,17 1,19 1,21 0,72 1,93
Pisum sativum
Ukuran absolut µm 6,58 5,92 5,53 5,26 4,74 3,82 3,68 - 35,5
Ukuran relatif % 18,52 16,66 15,56 14,80 13,34 10,75 10,35 - 100
Rasio lengan L/S 1,22 1,14 1,15 1,10 1,12 1,07 1,15 -
Keterangan: HCL = haploid chromosome length. L/S = ratio long arm/short arm.
BioSMART ISSN: 1411-321X
Volume 2, Nomor 1 April 2000
Halaman: 20 - 27
Tabel 1. Ciri-ciri karyotipe Allium sativum dan Pisum sativum ukuran kromosom keduanya tidak terlalu jauh.
Rumus
Spesies karyotipe AsI% R KESIMPULAN

Allium sativum 16 m 55,3 1,56 Tahap prometafase (c-metafase) merupakan


tahap paling sesuai untuk pengamatan sitologi
Pisum sativum 14 m 53,35 1,70
(jumlah, bentuk, ukuran kromosom) dan pembuatan
Keterangan: AsI% = Assymetry Index (%). R = Rasio karyotipe. Rumus karyotipe Allium sativum 2n =
longest pair/ shortest pair 16: 16 m, sedang Pisum sativum: 2n = 14: 14m.
Ukuran kromosom Allium sativum dan Pisum
Rasio perbandingan panjang lengan tiap-tiap sativum relatif besar dan terpencar-pencar sehingga
pasangan kromosom Allium sativum dan Pisum sangat cocok untuk studi eksperimental mitosis.
sativum berkisar pada angka 1 (satu). Hal ini
merupakan ciri khas karyotipe kromosom set yang
didominasi kromosom metasentris, dimana ukuran DAFTAR PUSTAKA
panjang kedua lengannya hampir sama. Pasangan
kromosom submetasentris pada Allium sativum Darnaedi, D. 1991. Kromosom dalam Taksonomi. Bogor:
memiliki rasio panjang lengan 1,93 artinya ukuran Herbarium Bogoriense-Puslitbang Biologi-LIPI.
Davina,J.R. dan A. Vernandes. 1989. Karyotype and Meiotic
lengan panjang hampir dua kali lipat lengan Behaviour in Zephyranthes (Amaryllidaceae) from South
pendek. America. Cytologia 54: 269-274.
Indek asimetris (AsI %) memiliki kegunaan DuPraw, E.J. 1970. DNA and Chromosomes. New York: Holt,
yang tidak jauh berbeda dengan rasio perbandingan Reinhalt and Winston.
Grant, W.F. 1982. Plant Mutagen Assay. Based upon
panjang lengan, hanya saja pada indek asimetri ini
Chromosome Mutation. Preager Publisher. New York.
dihitung untuk keseluruhan kromosom set. Indek Gunarsa. W. 1989. Penuntun Praktikum Sitogenetika. Pusat
asimetri yang besar (menuju angka 100%) Antar Universitas IPB. Bogor
menunjukkan besarnya ketidak-samaan panjang Johansen. D.A. 1940. Plant Microtechnique. New Delhi: Tata
kedua lengan kromosom, dimana bentuk McGraw-Hill Company
Karangiannidou, T.H., E.P. Elephteriou, I. Tsekos, B. Galatis
metasentris menjadi minoritas dalam kromosom set.
dan P.Apostolakos. 1995. Colchichine induced Paracrystals
Sebaliknya indek asimetri yang kecil (menuju in Root Cells of Weath (Triticum aestivum L.). Annals of
angka 50%) menunjukkan kecilnya tingkat Botany 76 (1): 23-30.
ketidaksamaan panjang kedua lengan kromosom, Lewontin, R.C. 1974. The analysis of variance and and the
dimana bentuk metasentris dominan. Dalam analysis of causes. American Journal of Human Genetics
26: 400-411.
pengamatan, nilai AsI% Allium sativum adalah Lindsley, D.C. and E.H. Grell. 1967. Genetics variation of
55,3% sedang Pisum sativum 53,35%. Hal yang Drosophilla melanogaster. Washington D.C.: Carnegie
tidak mengherankan karena kromosom set Institute of Washington.
keduanya kebanyakan berbentuk metasentris. Nilai Morejohn, L.C. 1991. The Molecular Pharmacology of Plant
AsI% Allium sativum sedikit lebih besar dari pada Tubulin and Microtubules. In: The Cytoskeletal Basis of
Plant Growth and Form, edited by C.W. Lloyd. London:
Pisum sativum. Hal ini mungkin disebabkan adanya Academic Press.
sepasang kromosom berbentuk submetasentris pada Okada. H. 1981. Report on Trainings and Investigations in
Allium sativum, hal yang tidak terdapat pada Pisum LBN-LIPI. Osaka: Departement of Biology Osaka
sativum. University. .
Nilai R (perbandingan pasangan kromosom Radford, A.E., W.C. Dickinson. J.R. Massey dan C.R. Bell.
1974. Vascular Plant Systematics. New York: Harper &
terpanjang dengan terpendek) menunjukkan variasi Row Publishers.
ukuran kromosom dalam satu set karyotipe. Roberts, A.V. dan K.C. Short. 1979. An Experimental Study of
Semakin besar nilai R berarti semakin besar variasi Mitosis. Journal of Biological Education 13 (3): 195-198.
ukuran kromosom, sedang semakin kecil nilai R Ruas, C.F., P.M. Ruas. N.I. Matzenbacher. G. Ross. C. Bernini
berarti semakin besarnya kesamaamnya. Dalam dan A.L.L. Vanzela. 1995. Cytogenetic Studies of Some
Hypochoeris Spesies (Compositae) from Brazil. American
pengamatan diperoleh nilai R Allium sativum Journal of Botany 82 (3): 369-375.
adalah 1,56, sedang Pisum sativum adalah 1,70. Suryo, 1995. Sitogenetika. Yogyakarta: Gadjah Mada
Angka-angka ini menunjukkan bahwa variasi University Press.

© 2000 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta