BAB I PENDAHULUAN

Seorang wanita, usia 24 tahun datang ke IGD RSUD Raden Mattaher pada tanggal 13 April 2012, pukul 20.00 WIB rujukan bidan dengan keluhan nyeri perut sampai ke pinggang, lendir darah dari jalan lahir (+) sejak pagi hari SMRS keluar air (-). Saat tiba di IGD RSUD Raden Mattaher pasien dalam keadaan sakit sedang, dan dengan tingkat kesadaran compos mentis. Pasien diturunkan ke ruangan VK untuk diobservasi dan diberi terapi untuk memacu timbulnya kontraksi. Setelah diberi terapi pemicu timbulnya kontraksi dan diobservasi hasilnya tidak menunjukkan kemajuan dalam persalinan. Pasien akhirnya disarankan untuk operasi pada jam 22.00 WIB dan pasien menyetujuinya. Pada Kunjungan Pra Anastesi (KPA) sesaat sebelum operasi tidak ditemukan kelainan fisik, oleh karena itu pasien digolongkan ke dalam ASA I emergency

1

BAB II KUNJUNGAN PRA ANESTESI

A.

IDENTITAS PASIEN Tanggal Nama : 13 April 2012 : Ny. P

Jenis Kelamin : Perempuan Umur TB/BB Ruang No. MR Diagnosis Tindakan : 24 tahun : 80 Kg/160cm : Mayang : 680060 : G2P1A0 inpartu kala I memanjang + bekas SC 1 kali : Sectio cesaria trans peritonel

B.

HASIL KUNJUNGAN PRA ANESTESI Anamnesis Keluhan Utama : Keluar lendir darah sejak pagi hari SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang

: Os datang ke rujukan bidan dengan keluhan nyeri perut sampai ke pinggang, lendir darah dari jalan lahir (+) sejak pagi hari SMRS. Keluar air-air (-).

Riwayat Operasi

: Operasi SC tahun 2008

Riwayat Penyakit Penyerta

: Penderita mengaku tidak ada riwayat darah tinggi. Riwayat asma (-), kencing manis (-), penyakit jantung (-)

Riwayat Alergi

: Os mengaku tidak alergi terhdap makanan maupun obatobatan tertentu

2

38 gr % : 37. murmur(-). malampati 1. sclera ikterik (-/-). hepar dan lien tidak teraba Ekstremitas : Akral hangat. gallop (-) : vesikuler. reflex cahaya (+/+). oedema (-) : pembesaran kelenjar getah bening (-) : Baik : Compos Mentis. bising usus (+).gigi goyang (-).Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Kesadaran Vital sign TD Respirasi Nadi Suhu Kepala : 128/83 mmHg : 19x/ menit : 71 x/ menit : 36° C : pupil isokor kanan dan kiri. Darah :B STATUS FISIK : ASA I Emergency 3 . nyeri tekan (-).II regular. GCS 15 (E4 M6 V5) Laboratorium Darah rutin HB Ht Leukosit Trombosit : 13. gigi palsu (-) Leher Thorak Jantung Paru Abdomen : BJ I.2 % : 161 mm3 Clotting Time : 2 menit Bleeding Time : 4 menit Gol.6 % : 15. wheezing (-) : Soepel. ronkhi (-). conjungtiva anemis (-/-).

RENCANA TINDAKAN ANESTESI Diagnosis Pra Bedah : G2P1A0 inpartu kala I memanjang + bekas SC 1 kali Tindakan Bedah Status ASA Jenis/tind.5 % 12. anestesi : Sectio cesaria trans peritonel : I emergency : Regional Anestesi Premedikasi : Ranitidin 50 mg Ondancetron 4 mg Induksi Adjuvant : Bupivacain 0.5 mg : Catapress (Clonidine Hydroxiclorida) 0.075 mg 4 .

AN Tindakan R. Sp.2 / mm3 : 161/ mm3 : 4. Penyakit penyerta 4. KETERANGAN PRA BEDAH 1.OG : dr. Anastesi : Sectio cesaria trans peritonel Operator Ahli Anastesi I.5°C Golongan darah 3. Laboratorium Hb Ht BT : 13.BAB III ANASTESI Tanggal Nama Jenis Kelamin Umur BB/TB Ruang No.6% : 2 menit :B : : I Emergency :Leukosit Trombosit CT : 15. pengobatan Pra Bedah 5 . Keadaan Umum Kesadaran TD Pernafasan Nadi Suhu 2. MR Diagnosis : 13 April 2012 : Ny. Isrun Masari Sp. Hanif. P : Perempuan : 24 tahun : 80 Kg/160 cm : Paviliun mayang : 680060 : G2P1A0 inpartu kala I memanjang + bekas SC 1 kali : dr.3 gr% : 37. Status Fisik 5. menit : Tampak sakit ringan : Compos Mentis : 128/83 mmHg : 19 x/ menit : 71 X/ menit : 36.

II. Keadaan Umum Kesadaran : Compos Mentis. Obat anestesi local : Bupivacain 0. Jumlah Perdarahan : Supine :::: 1 jam 30 menit : ± 100ml V. TINDAKAN ANASTESI 1.075 m :Metilergometrin 0. Medikasi : 12.30 .5% d. Penyulit Intubasi 4. ANASTESI REGIONAL a. Adjuvant f. Intubasi 3. Metode 2. Tekhnik anastesi b. RUANG PEMULIHAN 1. KEADAAN SELAMA OPERASI 1. GCS 15 6 : 23. letak penderita 2. Jumlah e. Masuk Jam 2. Lama Anastesi 6.5 mg : Catapress (klonidin) 0. Penyulit Waktu Anastesi 5. Premedikasi : Regional Anastesi : Ranitidin 50 mg Ondancetron 4 mg III. Lokasi Tusukan : Spinal Anastesi : L3-L4 Analgesi setinggi segmen (dermatom) T4 c.4 mg Oxcitoxyn 20 IU Midazolam 1 mg Tramadol 100 mg (drip) Ketorolac 30 mg (drip) Ketopren suppositoria 200 mg IV.

30 INSTRUKSI ANASTESI . Pernafasan 3. Kesadaran Jumlah :1 :2 :2 :2 :2 :9 Penyulit Pindah Ruangan :: Paviliun mayang jam 23. OG 7 .Tidur terlentang memakai bantal selama 1x24 jam post operasi .lanjutkan terapi sesuai dengan dr. Pernafasan : 126/77 mmHg : 59 x/ menit : 20x/menit : 36°C : Baik Skoring Aldrette 1.TD Nadi Pernafasan Suhu 3.Awasi tanda-tanda vital tiap 15menit .Boleh minum bertahap ½ gelas selama 1 jam . Aktivitas 2. Sirkulasi 5. Hanif. Warna Kulit 4. Sp.

Bedah abdomen bawah. 3. 6. Bedah panggul. 4. Tindakan sekitar rektum-perineum.1. Terjadi blok saraf yang reversibel pada radik anterior dan posterior.2 8 . Anestesia spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. 1. Bedah obstetri-ginekologi. 5. Bedah urologi. radik ganglion posterior dan sebagian medula spinal yang akan menyebabkan terjadinya hilangnya aktivitas sensoris.1 Kontraindikasi: Kelainan pembekuan darah. motoris dan otonom3 Indikasi: Untuk pembedahan daerah tubuh yang dipersarafi cabang T4 kebawah (daerah papilla mammae kebawah). infeksi kulit daerah pungsi (punggung). blok subaraknoid) adalah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid di daerah antara vertebra L2-L3 atau L3-L4 atau L4L5. 2. septisemia. hipovolemia (syok). Pengertian Analgesia spinal (anestesi lumbal.2 Nama lain Spinal anestesi disebut pula spinal analgesia subarachnoid nerve block terjadi karena obat anestesi lokal di dalam ruangan subaraknoid. Bedah ekstremitas bawah.BAB IV TEORI DAN PEMBAHASAN A. penderita menolak/tidak kooperatif. tekanan intrakranial yang meninggi.

Kelainan neurologis 4. Hipovolemia berat. 5 lumbal. 2. Kelainan psikis 5. 4. bakteremi) 2. Infeksi sistemik (sepsis.1 Anatomi Terdapat 33 ruas tulang vertebra yakni 7 servikal. Infeksi sekitar tempat suntikan 3. L2-L3. 7. 6. L3-L4. karena ditakutkan menusuk medulla spinalis saat penyuntikan maka spinal anestesi umumnya dilakukan setinggi L4. 12 torakal. Hipovolemia ringan 8. Penyakit jantung 7. Fasilitas resusitasi minim. Ruang epidural berakhir di vertebra S2. Infeksi pada tempat suntikan 3. Bedah lama 6. Nyeri punggung kronis. Pasien menolak. Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan 5. syok. Kontraindikasi absolut: 1.3 9 . Medula spinalis berakhir di vertebra L2. Kurang pengalaman/ tanpa didampingi konsultan anestesi. 5 sakral dan 4 coccygeal. Tekanan intrakranial meninggi.  Kontraindikasi relatif : 1.

3. Selain itu perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini: 1. Informed consent (izin dari pasien) Kita tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui anestesi spinal. 2. misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan prosessus spinosus.1 Peralatan analgesia spinal 1. oksimetri denyut (pulse oximeter) dan EKG. Pemeriksaan laboratorium anjuran Hemoglobin. PT (prothrombine time) dan PTT (partial thromboplastine time). Jarum Spinal Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bambu runcing. nadi. hematokrit. 2. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan. Pemeriksaan fisik Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung dan lain-lainnya.1 10 .Persiapan analgesia spinal Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan anestesi umum. Peralatan resusitasi/ anestesia umum 3. Quincke Babcock) atau jarum spinal dengan ujung pinsil (pencil point. Peralatan monitor Tekanan darah. Whitecare).

Tentukan tempat tusukan misalnya L2-L3 atau L4-L5. Beri bantal kepala.Teknik Analgesia Spinal Inspeksi : garis yang menghubungkan 2 titik tertinggi krista iliaka kanan – kiri akan memotong garis tengah punggung setinggi L4 atau L4-L5. 3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alkohol. 1. 4. Posisi lain adalah duduk. L4-L5 atau L5-S1. Palpasi : Untuk mengenal ruang antara dua vertebra lumbalis. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan. Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat. (1) 11 . Pungsi lumbal hanya antara: L2-L3. L3-L4. Setelah dimonitor. Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. tidurkan pasien misalnya dalam posisi dekubitus lateral. Biasanya dikerjakan diatas meja operasi tanpa dipindahkan lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3 ml. Tusukan pada L1-L2 atau di atasnya beresiko trauma terhadap medula spinalis. 2. Buat pasien membungkuk maksimal agar prosesus spinosus teraba. selain enak untuk pasien juga supaya tulang belakang stabil. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka dengan tulang punggung ialah L4 atau L5. Posisi pasien : duduk atau berbaring lateral dengan punggung fleksi maksimal.

Tusukan intraduser sedalam kira-kira 2 cm agak sedikit kearah sefal. Sedangkan untuk yang kecil 27 G atau 29 G. 23 G atau 25 G dapat langsung digunakan. Jika menggunakan jarum tajam (Quincke-Babcock) irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan serat duramater.Gambar 3. Untuk jarum spinal besar 22 G. untuk menghindari kebocoran likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri 12 . Posisi pasien duduk atau berbaring lateral dengan punggung fleksi maksimal untuk analgesia spinal (2) 5. yaitu jarum suntik biasa spuit 10 cc. kemudian masukkan jarum spinal berikut mandrinnya ke lubang jarum tersebut. yaitu pada posisi tidur miring bevel mengarah keatas atau kebawah. Cara tusukan median atau paramedian. dianjurkan menggunakan penuntun jarum (intoduser).

Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perianal misalnya bedah hemoroid (wasir) dengan anestetik hiperbarik. Volume obat anestesi lokal: makin besar makin tinggi daerah analgetik. Kalau anda yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan likuor tidak keluar. Untuk analgesia spinal kontinyu dapat dimasukkan kateter. pasang semprit berisi obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0. yang terakhir duramater-subarachnoid.5 ml/detik) diselingi aspirasi sedikit. Jarum lumbal menembus berturut-turut beberapa ligamen. 13 .(2) Tinggi blok analgesia spinal: Faktor yang mempengaruhi: 1.kepala pasca spinal. Setelah resistensi menghilang. putar arah jarum 90O biasanya likuor keluar. 6. Jarak kulit-ligamentum flavum dewasa ± 6 cm. Konsentrasi obat: makin pekat makin tinggi batas daerah analgetik. 2. (1) Gambar 4. hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. mandrin jarum spinal dicabut dan keluar likuor.

5. Kecepatan: penyuntikan yang cepat menghasilkan batas analgesia yang tinggi. 7. Tempat pungsi: pada L4-L5 obat hiperbarik cenderung berkumpul ke kaudal (Saddle block) pungsi L2-L3 atau L3-L4 obat lebih mudah menyebar ke kranial. Tekanan abdominal yang meninggi. Berat jenis larutan: hipebarik. Tinggi pasien: makin tinggi makin panjang kolumna vertebralis.008.3. Anestetik lokal dengan berat jenis lebih kecil dari CSS disebut hipobarik. 8. Anestetik lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut isobarik. Waktu: setelah 15 menit penyuntikan. Maneuver valsava: mengejan. Barbotase: penyuntikan dan aspirasi berulang-ulang meninggikan batas daerah analgetik.003 – 1.2 Anestetik lokal untuk analgesia spinal Berat jenis cairan serebrospinal (CSS) pada suhu 30OC ialah 1. umumnya larutan analgetik sudah menetap atau tidak berubah sehingga batas analgesia tidak dapat di ubah lagi dengan mengubah posisi pasien. makin besar pula dosis yang diperlukan.3 14 .Anestetik lokal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik1. isobarik atau hipobarik. meninggikan tekanan likuor serebrospinalis dengan akibat batas analgesia bertambah tinggi. Anestetik lokal dengan berat jenis lebih besar dari CSS disebut hiperbarik. 9. 10. 6. Kecepatan penyuntikan yang dianjurkan adalah 3 detik untuk 1 ml larutan. 4.

Hindari mengejan. 2. Hidrasi adekuat. 3. 4. Lama kerja anestesi lokal tergantung 1. faktor utama    Berat jenis anestesi lokal Posisi pasien (kecuali isobarik) Dosis dan volume anestesi lokal (kecuali isobarik) 2. Keadaan fisik pasien. A. Ukuran jarum. Posisi berbaring terlentang minimal 24 jam. Faktor tambahan      Ketinggian suntikan Kecepatan suntikan/ barbotase. Besarnya penyebaran anestetik lokal. jenis anestesi lokal 2. Ada tidaknya vasokonstriktor. Besarnya dosis 3.Penyebaran anestesi lokal tergantung 1. Tekanan intraabdominal.1 Pengobatan: 1. 15 .

Retensio urin 5. Bila cara diatas tidak berhasil.2 Komplikasi pasca tindakan: 1. Cara ini ummnya memberi hasil yang nyata/segera (dalam waktu beberapa jam) pada lebih dari 90% kasus. Nyeri punggung 3.  Blok yang tinggi di atas thorak 4-5 → terjadi blockade simpatis yang menginervasi jantung → penurunan HR → penurunan kontraktilitas dan venous return → penurunan cardiac output dan tahan perifer → hipotensi  Blockade simpatis anastesi spinal menyebabkan hilangnya fungsi control tekanan darah dan venous return tergantung gravitasi→ vena dilatasi→ pooling vena→ penurunan venous return.4. Meningitis. Nyeri tempat suntikan 2. Nyeri kepala karena kebocoran likuor 4. Sistem Kardiovaskular  Terjadinya hipotensi akibat blockade pada serabut saraf simpatis preganglionik yang berhubungan dengan kecepatan obat local anastesi ke dalam ruang subarachnoid dan meluasnya blockade simpatis.1 B. dipertimbangkan pemberian ”epidural blood patch” yakni penyuntikan darah pasien sendiri 5-10 ml kedalam ruang epidural. Manifestasi Fisiologi pada Anastesi Spinal 1. cardiac output dan tahanan perifer→ hipotensi  Hipovolemia → depresi serius system kardiovaskular selama spinal anastesi→ kontraindikasi relative anastesi spinal 16 .

2. tarikan nervus dan pleksus terutama vagus.73 liter Pasien dengan penyakit paru kronik berat. Sistem Resirasi  Efek anastesi spinal pada fungsi respirasi berhubungan dengan level blockade anastesi spinal yang meluas sampai level thorak tengah/ lebih rendah. menurunkan 5-10% GFR Blockade simpatis efferent (T5-L1) berakibat peningkatan tonus spinchter dan retensi urin 17 . Sistem Genitourinaria   Pengaruh spinal pada fungsi ginjal adalah karena hipotensi. Respiratory arrest dapat terjadi pada anastesi spinal total .  Mual dan muntah dapat terjadi karena hipotensi. Tekanan darah sistolik < 80 mmHg dan diastolic < 50 mmHg harus diperhatikan. pengosongan lambung tidak dipengaruhi. peristaltic yang meningkat. jarang menyebabkan perubahan fungsi respirasi. analgesi narkotik. empedu di lambung. blockade motorik harus di pelihara di bawah T7. peristaltic meningkat. karena paralisis otot respirasi atau iskemik brainstem sekunder dari hipotensi berat  Respiratori arrest disebabkan aliran darah meduller tidak adekuat karena cardiac output tidak adekuat. hipoksia 4. efek toksik obat local anastesi.   VT tidak berubah dan kapasitas vital menurun minimal dari 4. jika tekanan darah turun >1/3 di bawah level preoperative perlu dilakukan koreksi. tekanan dalam lumen bowel meningkat. total spinal dengan seluruh otot respirasi. spinchter relaksasi.05 menjadi 3. Sistem Gastrointestinal  Blockade simpatis (T5-L1) → anastesi spinal → kontraksi usus halus. psikologik. efek injeksi obat narkotik analgesi. 3.

lidocaine. Temperatur Tubuh   Anastesi spinal sekresi katekolamin di tekan sehingga produksi panas berkurang Vasodilatasi anggota tubuh bawah merupakan predisposisi terjadinya hipotermi C. nupercain. sehingga terjadi polarisasi:    Menghambat transmisi impuls saraf atau blockade konduksi → mencegah peningkatan permeabilitas membrane saraf terhadap ion Na Mekanisme kerja: keadaan istirahat. prilocaine.5. etidocaine. ropivacaine) Ester ( chloroprocaine. procaine. repolarisasi. tetracaine) Mekanisme Kerja Obat Anastesi local Obat anastesi local bekerja pada pompa Na dan K. mepivacaine. polarisasi penuh Obat local anastesi mencegah proses depolarisasi membrane saraf dengan memblok aliran ion Na → hambatan transmisi impuls saraf (blockade konduksi) 18 . Sistem Endokrin   Anastesi spinal tidak merubah fungsi endokrin aktivitas metabolic Anastesi spinal torakal tinggi berhubungan dengan blockade jalur otonom ke medulla adrenal 6. depolarisasi. Obat Lokal Anastesi Dibedakan menjadi 2 golongan:   Amida ( Bupivacaine. cocaine.

25% dekstrosa Ropivacaine 0. hipoventilasi Depresi respirasi terjadi akibat penyebaran opioid ke dalam batang otak sehingga terjadi depresi respirasi. Adjuvant Obat Anastesi Lokal 1.21-1 % 8-12 12-16 16-18 90 D.75% dalam 8. retensi urin. di duga bekerja melalui reseptor opioid 19 . sehingga harus di observasi derajat sedasi dan tingkat kesadaran 2.5% glukosa 1% dalam 10% glukosa Level T10 75 25-50 6-8 6-10 Level T6 125 50-75 8-14 8-14 Level T4 200 75-100 12-20 12-20 Durasi 30-45 45-60 60-90 90-120 Bupivacaine 0.Dosis Obat Lokal Anastesi Obat Procaine Lidocaine Tetracaine Persiapan 10% 5% dalam 7. Dapat terjadi dalam 12 jam pertama setelah pemberian morfin. cortex limbic system.muntah. thalamus bagian medial. Opioid  Reseptor opiate ditemukan di CNS seperti cortex cerebri. Midazolam   Bekerja melalui reseptor GABA benzodiazepine yang juga terdapat di medulla spinalis terutama di lamina II cornu dorsalis Efek antinosiseptik ini dapat dihilangkan dengan pemberian nalokson. pruritus. midbrain substansia gelatinosa saraf simpatis preganglionik    Contoh: fentanyl akan memperlama masa kerja blok sensoris tanpa memperpanjang blok simpatis Efek samping seperti mual.   Penggunaan opioid lain seperti fentaniyl tidak menunjukkan depresi respirasi karena sifat lipofilik obat tersebut Hipoventilasi dapat juga disertai dengan somnolen. biasanya akibat morfin.

20 . Klonidin memperpanjang durasi blok.075 mg . Mekanisme lain efek analgesia pada pemberian intratekal adalah dengan adanya vasokonstriksi local. muntah. penyebaran impuls melalui serabut saraf dihambat dengan masuknya ion Na dalam membrane saraf. Epinefrin   Epinefrin memperpanjang analgesia akan tetapi efek ini kurang menonjol bila dengan bupivacaine atau ropivacaine Epinefrin (0. Selain itu apabila ditambahkan dengan bupivacaine hiperbarik 7. juga meningkatkan masa pulih dari 172 menit menjadi 220 menit. dapat menimbulkan analgesia tanpa blok motorik dan propioseptif Efek samping : hipotensi.2 µg) ditambahkan pada bupivacain atau lidocaine akan memperpanjang durasi anastesi sensorik pada anggota bawah dan abdominal. Acetylcholinestrase Inhibitor  Neostigmin merupakan reseptor acetylcholinestrase yang menghambat pemecahan neurotransmitter asetilkolin endogen di tingkat medulla spinalis. kelemahan ekstremitas bawah Penambahan neostigmin dengan bupivacaine akan menyebabkan peningkatan mual dan muntah 4. Adjuvant yang di gunakan adalah klonidin sebanyak 0. sehingga menghasilkan analgesia   Efek samping utama mual. bupivacaine merupakan golongan amide local anastesi yang dapat memberiakan blockade reversible.5 mg akan meningkatkan masa anastesi pembedahan dari 103 menit menjadi 172 menit.3. 5. bradikardi dan sedasi Pembahasan: Pada kasus ini digunakan pbat anastesi regional yaitu bupivacaine 20 mg. klonidin dipakai dalam anastesia untuk menimbulkan analgesia tanpa blok motorik dan propioseptif. Alpha 2 Adrenergik Agonis   Contoh : klonidin.

Pukul 23. N Pasien masuk ruangan OK 22. apabila LCS (+) dan tidak di jumpai darah maka lokasi penusukan sudah tepat.075 mg. Lakukan insersi jarum pada lokasi tusukan di L3-L4 dengan jarum spinal no. Pukul 22. Selama operasi jumlah cairan yang telah diberikan adalah RL 2000 ml sebanyak 4 kolf dan fimahes 500 ml sebanyak 1 kolf.1200 ml (± 3 kolf). Streilkan tempat tusukan dengan betadine dan alcohol.00. tidur terlentang dengan memakai bantal 1x24 jam post operasi. dan jumlah pengeluaran dari urin sebanyak 250 ml dan perdarahan ± 100 ml Pukul 24. N: 86 x/ menit.5 mg dan klonidin 0. Berarti sekitar 800 .2 gr apgar score 9-10 kemudian diberikan metilergometrin 0. Tahapan anastesi dimulai dengan pemasangan IV line sebanyak 1buah di vena metacarpal sinistra. Dan ketrofen supositoria 200 mg. diberiakan ketorolac 30 mg dan tramadol 100 mg di drip bersamaan cairan RL.4 mg IV dan oxitocyn 20 IU drip. Kemudian diberikan obat premedikasi yaitu ondancetron 4 mg dan ranitidine 50 mg drip bersama larutan RL.26. Hanif. inhalasi menggunakan O2 sebanyak 2 L.Teknik Pelaksanaan Anastesi Spinal pada Kasus Ny. serta lanjutkan terapi dari dr. pemberian cairan RL 500 ml sebanyak ± 3 kolf hal ini dilakukan untuk mencegah komplikasi tindakan dari anastesi hipotensi. sebelumnya penderita dianjurkan untuk duduk dan membungkuk badan dengan maksimal sambil memeluk bantal. pasang tensimeter dan saturasi 02. Kemudian hidupkan monitor. OG. Saran dari bagian anastesi yaitu pantau vital sign tiap 15 menit. Tentukan tekanan darah basal dan nadi dasar pasien.00 menit dengan TD 135/74 mmHg. pernafasan 20 x/ menit.45 dilakukan anastesi spinal.30 operasi selesai. Untuk mencegah perdarahan yang berlebihan pada pukul 23. Operasi dilakukan pukul 23. Sp.10 bayi lahir jenis kelamin perempuan berat 3.00 pasien di bawa ke paviliun mayang. Pasang kateter folley untuk melihat output cairan yaitu sebanyak 200 ml. identifikasi cairan yang keluar. boleh minum bertahap ½ gelas selama 1 jam. Ke dalam LCS masukkan obat anastesi local yang digunakan yaitu bupivacaine 12. 21 . Secara teori hidrasi dengan kristaloid yaitu 10-15 ml/kgBB 30 spinal menit yaitu sebelumnya. Total cairan yang masuk adalah 2500 ml. Maintance cairan dengan tambahan cairan fimahes sebanyak 1 kolf.

BAB V KESIMPULAN Seorang wanita . dan dengan tingkat kesadaran compos mentis.00 WIB rujukan bidan dengan keluhan nyeri perut sampai ke pinggang. Tidak ada masalah berarti selama proses anestesi.2 kg dan APGAR score 9-10. usia 24 tahun datang ke IGD RSUD Raden Mattaher pada tanggal 13 April 2012. Anak os hidup dengan berat 3. Paien merupakan ASA 1 emergency karena kala I memanjang dan ada riwayat SC sehingga disarankan untuk dilakukan section caesaria. 22 . Saat tiba di IGD RSUD Raden Mattaher pasien dalam keadaan sakit sedang. lendir darah dari jalan lahir (+) sejak pagi hari SMRS keluar air (-). pukul 20.

Jakarta. 3. 1989. Latief. Sunatrio S. Anestesiologi.wordpress. Bagian Anastesiologi dan Intensif.A. S. Petunjuk Praktis Anastesiologi. Bagian Anestesiologi dan terapi Intensif FK-UI. Thaib M R. Muhiman M. Diunduh dari http://meryana79.S.com/2009/07/11/anastesia-analgesia-dalam-obstetriginekologi/ 23 . Anastesia/Analgesia dalam obstetri ginekologi.et all.Disusun Staf Pengajar.DAFTAR PUSTAKA 1. FK UI 2001 2. Adjie. Edisi ke-2. Dahlan R.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful