KEBUDAYAAN POSTMODERN MENURUT JEAN BAUDRILLARD

Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Tepat pukul 15.30, tanggal 15 Juli 1972, kompleks bangunan perumahan Pruitt Igoe St. Louis, Missouri, diledakkan. Kompleks bangunan yang dirancang dengan konsep arsitektur modern ortodoks oleh arsitek Jepang, Minoru Yamasaki pada tahun 1950 itu diledakkan karena dianggap sudah tidak lagi fungsional. Kerusakan konstruksi, pencurian listrik dan air, tunggakan kontrakan yang besar, vandalisme graffiti, wall painting dan pornographic painting yang dilakukan para penghuninya dianggap sudah kelewat batas. Hancurnya bangunan Pruitt Igoe yang merepresentasikan konsep arsitektur modern dengan karakter ruang isotropis, homogen, monoton, anti-ornamen, anti-metafor, anti-humor, mono-simbolik, dan berestetika mesin sekaligus menandai kematian era arsitektur modern dan segera lahirnya sebuah era baru: era arsitektur postmodern. Arsitektur postmodern, yang disuarakan oleh Charles Jenks, Heinrich Klotz dan Robert Venturi, hanyalah salah satu interpretasi wacana estetis-filosofis yang saat itu sedang membentuk dirinya:postmodernisme. Postmodernisme adalah wacana kesadaran yang mencoba mempertanyakan kembali batas-batas, implikasi dan realisasi asumsi-asumsi modernisme; kegairahan untuk memperluas cakrawala estetika,tanda dan kode seni modern; wacana kebudayaan yang ditandai dengan kejayaan kapitalisme, penyebaran informasi dan teknologi secara massif, meledaknya konsumerisme, lahirnya realitas semu, dunia hiperrealitas dan simulasi,serta tumbangnya nilai-guna dan nilai-tukar oleh nilai-tanda dan nilai-simbol. Serangkaian kesadaran dan keyakinan baru ini mencakup berbagai bidang kehidupan. Dalam dunia seni misalnya, terdapat nama Marcel Duchamp dengan readymade art dan Andy Warhol dengan seni pop kaleng sup. Dalam dunia arsitektur terdapat nama Charles Jenks dengan karya teoritisnya The Language of Postmodern Architecture (1984) dan Robert Venturi dengan Complexity and Contradiction in Architecture (1962) yang memproklamirkan semboyan less is bore (mengejek semboyan less is more dalam arsitektur modern yang dikumandangkan oleh Mies van der Rohe, salah seorang penggagas awal arsitektur modern) (Andy Siswanto, 1994: 36). Dalam dunia drama terdapat nama Bertold Brecht dengan konsep pengasingan dan Antonin Artaud dengan teater absurd. Dalam dunia musik terdapat nama Nicholas Cage dengan musik

alam dan Stockhausen dengan oriental music. Dalam dunia sinema terdapat nama David Lynch dengan Blue Velvet dan Quentin Tarantino dengan serangkaian film generasi baru (Denzin, 1988: 461). Dalam dunia sastra muncul nama Burroughs dengan cerita cut up dan Gabriel Marquez dengan novel realisme magis One Hundred Year of Solitude (1976). Dalam disiplin antropologi terdapat nama S.A Tyler, M.J Fischer dan kelompok Rice Circle dengan experimental ethnography. Dalam disiplin sosiologi terdapat nama Norman Denzin dengan kajian film dan Pierre Bordieu dengan theatrum politicum. Dan dalam wilayah filsafat terdapat nama Jean Francois Lyotard dengan konsep paralogi, disensus dan delegitimasi, Jacques Derrida dengan dekonstruksi, Michel Foucault dengan kajian tentang arkeologi pengetahuan, genealogi sejarah seksualitas dan teknologi kekuasaan, serta Jean Baudrillard dengan kajian budaya tentang dunia simulasi, hiperrealitas, simulacra dan dominasi kebudayaan dewasa ini nilai-tanda dan nilai-simbol dalam realitas

(Featherstone, 1988: 196).

Kesemarakan dan kegairahan kepada tema postmodernisme ini bukanlah tanpa alasan. Sebagai sebuah pemikiran, postmodernisme pada awalnya lahir sebagai reaksi kritis dan reflektif terhadap paradigma modernisme yang dipandang gagal menuntaskan proyek Pencerahan dan menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas. Pauline M. Rosenau, dalam kajiannya mengenai postmodernisme dan ilmu-ilmu sosial, mencatat setidaknya lima alasan penting gugatan postmodernisme terhadap modernisme (Rosenau, 1992: 10). Pertama, modernisme dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. Ketiga, terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Keempat, ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata keyakinan ini keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial. Kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menekankan atribut fisik individu. Dengan latar belakang demikian, modernisme mulai kehilangan landasan praksisnya untuk memenuhi janji-janji emansipatoris yang dahulu lantang disuarakannya. Modernisme yang dulu diagung-agungkan sebagai pembebas manusia dari belenggu mitos dan berhala kebudayaan abad pertengahan yang menindas, kini terbukti justru membelenggu manusia dengan mitos-mitos dan berhala-berhala baru yang bahkan lebih menindas dan memperbudak.

Pada titik inilah pemikiran tentang kebudayaan postmodern memiliki arti penting. Perubahan watak dan karakter modernisme dalam tampilannya yang paling kontemporer, telah mendorong lahirnya tanggapan kritis terhadap kebudayaan dewasa ini. Pemikiran kebudayaan postmodern Jean Baudrillard, sebagai salah satu kajian penting paradigma postmodernisme, adalah salah satu kunci untuk memahami pengertian dan watak postmodernisme.

B. Tujuan Penelitian
Studi ini memiliki beberapa tujuan : pertama, melakukan inventarisasi pemikiran Baudrillard melalui sumber-sumber pustaka yang ada, baik secara langsung ataupun tidak, yang berhubungan dengan tema kebudayaan postmodern. Kedua, melakukan tinjauan kritis dan sistematis terhadap pemikiran kebudayaan postmodern Baudrillard agar diperoleh pemahaman yang integral dan komprehensif pada dataran filsafat. Juga diupayakan pemaparan komentar, penilaian dan interpretasi, dukungan serta keberatan yang diajukan terhadap pemikiran Baudrillard. Ketiga, melakukan evaluasi kritis terhadap pemikiran Baudrillard dengan mengadakan refleksi dan interpretasi pemikiran dan kritik filsuf atau komentator lain agar didapatkan sebuah pemahaman baru berupa sintesis menuju dataran praksis yang konsisten.

C. Tinjauan Pustaka
Miletos, kota kecil di gugusan kepulauan Yunani abad ke-6 SM adalah tempat bermulanya cerita besar tentang penaklukan alam oleh manusia. Di kota itulah sebermula runtuhnya mitos-mitos arkhaik tentang alam yang berupa dongeng, fabel ataupun kepercayaan. Sejak saat itu manusia serta-merta memberontak dari kungkungan kebudayaan mitologis dan berusaha menggunakan akalnya untuk menjelaskan dunia. Sejarah penaklukan alam dibawah tatapan akal pikiran kemudian bergulir. Sokrates, filsuf besar Yunani, mempertegas usaha ini dengan semboyannya yang sangat terkenal, Kenalilah dirimu sendiri. Salah seorang murid Sokrates, Plato, seraya menggemakan pemikiran sang guru, menarik garis lebih tajam mengenai konsep manusia. Menurut Plato, manusia terdiri dari 3 tingkatan fungsi yakni, tubuh (epithymia), kehendak (thymos) dan rasio (logos). Rasio adalah tingkatan tertinggi, sekaligus mengatur dan melingkupi fungsi-fungsi yang lain. Pandangan Plato tentang manusia ini membawanya pada konsepsi negara ideal yang analog dengan tingkatan fungsi dalam diri manusia. Pertama, para pemimpin (analog dengan rasio). Kedua, para prajurit (analog dengan kehendak). Ketiga, para

.petani dan tukang (analog dengan tubuh) (Harun Hadiwijono. objektivitas. serta keinginan mengangkat harkat dan martabat manusia (Harun Hadiwijono. Dengan meragukan segala sesuatu. Aku berpikir maka aku ada. emansipasi serta oposisi biner. Menurutnya. Descartes ingin menemukan adanya hal yang tetap yang tidak dapat diragukan. Hegel dengan filsafat identitas (idealisme absolut) (Ahmad Sahal. 1994: 43-44). Kemampuan rasio inilah yang menjadi kunci kebenaran pengetahuan dan kebudayaan modern. Cogito ergo sum. Kant dengan ide-ide absolut yang sudah terberi (kategori). subjek. Dipicu oleh gerakan humanisme Italia abad ke-14 M. Dengan konsepsi seperti ini Plato memperteguh keyakinan subjektivitas manusia dengan konstruksi kebudayaan (negara) yang berpijak pada rasio. Dengan mengadopsi dan mensintesakan pemikiran filsuf-filsuf sebelumnya. Renaisans yang berarti kelahiran kembali. keberanian menerima dan menghadapi dunia nyata. 1994: 13). Renaisans lahir sebagai jawaban terhadap kejumudan dan kebekuan pemikiran abad pertengahan. keyakinan menemukan kebenaran dengan kemampuan sendiri. Bapak Rasionalisme. membawa semangat pembebasan dari dogma agama yang beku selama abad pertengahan. 1994: 11-12). kepastian kebenaran dapat diperoleh melalui strategi kesangsian metodis. Konstruksi kebudayaan modern kemudian tegak berdiri dengan prinsip-prinsip rasio. Rumusan terkenal dari pemikiran Descartes ini adalah diktum. Seorang filsuf besar yang menjejakkan pengaruhnya pada masa ini adalah Rene Descartes. Itulah kepastian bahwa Aku sedang ragu-ragu tentang segala sesuatu. sekaligus arsitek utama filsafat modern. Immanuel Kant dan Frederich Hegel. identitas. Sejarah filsafat berikutnya bergulir sampai pada satu titik yang memiliki makna penting bagi kelahiran era modernitas. rasio sekali lagi diyakini mampu mengatasi kekuatan metafisis dan transendental. ideide absolut. Descartes berambisi membangun metode pengetahuan yang berlaku untuk setiap bentuk pengetahuan. ego. totalitas. kemajuan linear. Dengan diktum ini. otonomi. Makna penting Renaisans dalam sejarah filsafat Barat adalah peranannya sebagai tempat persemaian benih Pencerahan abad ke-18 M yang menjadi embrio kebudayaan modern. Sejarah kematangan kebudayaan modern selanjutnya ditunjukkan oleh pemikiran dua filsuf Jerman. Melalui kedua pemikir inilah nilai-nilai modernisme ditancapkan dalam alur sejarah dunia. kebangkitan mempelajari kembali sastra dan budaya klasik.

Memang benar. kejayaan kapitalisme lanjut. justru menyebabkan reduksi dan totalisasi hakekat manusia. arsitektur. seni video. kebenaran ilmiah yang mutlak. rasisme. antropologi kesadaran. maraknya industri informasi televisi. diskriminasi. iklan. positivistik. merebaknya budaya massa. konsumerisme. Sementara itu dalam dunia ilmu dan kebudayaan. modernisme yang yakin secara fanatik pada kemajuan sejarah linear. paradigma Thomas Kuhn dan pemberontakan . Namun dalam penampilannya yang mutakhir tersebut. ekonomi. yakni modernisme yang tidak lagi kaya watak seperti saat awal kelahirannya. Lahirnya beragam bentuk realitas baru: seni bumi. Modernisme inilah yang telah mencapai status hegemonis semenjak kemenangan Amerika dan para sekutunya dalam Perang Dunia II (Ariel Heryanto. kemajuan teknologi. sastra. jurang perbedaan kaya dan miskin. 1995: 41). sosiologi. budaya populer. 1994: 80). Unsur-unsur utama modernisme: rasio. film. modernisme juga telah menyebabkan lahirnya berbagai patologi: dehumanisasi. namun modernisme yang bercorak monoton. modernitas ditandai dengan berkembangnya teknologi yang sangat pesat. politik. dua kali Perang Dunia. Namun di sisi lain. antropologi dan filsafat sebenarnya sudah dapat dilacak jauh ke alur sejarah modernisme sendiri. Seni modern hadir sebagai kekuatan emansipatoris yang menghantar manusia pada realitas baru (Awuy. materialisme. kecanggihan rekayasa masyarakat yang diidealkan. Jejak-jejak pemikiran yang bernaung di bawah payung postmodernisme dalam banyak bidang kehidupan: seni. industrialisasi. modernisme mulai menampakkan jati dirinya yang sesungguhnya: penuh kontradiksi. penegakan HAM serta demokratisasi. sastra yang terdiam. ilmu dan antropomorphisme. penemuan teori-teori fisika kontemporer.Sejarah pemikiran dan kebudayaan yang dibangun di atas prinsip-prinsip modernitas selanjutnya merasuk ke berbagai bidang kehidupan. koran. demokratisasi dan pluralisme. sastra marjinal. seni avant garde. pengangguran. serta pembakuan secara ketat pengetahuan dan sistem produksi. penyebaran informasi. di satu sisi modernisme telah memberikan sumbangannya terhadap bangunan kebudayaan manusia dengan paham otonomi subjek. Berbagai patologi inilah yang menjadi alasan penting gugatan pemikiran postmodernisme terhadap modernisme. konsumerisme. internet berkembangnya konsep nation-state(negara-bangsa). ancaman nuklir dan hegemoni budaya serta ekonomi. teknosentris dan rasionalistik. ideologis dan justru melahirkan berbagai patologi modernisme. arsitektur dekonstruksi. alienasi.

Cerita-cerita besar modernisme tersebut tak ayal hanyalah kedok belaka. tanpa ngotot untuk menang atau menaklukan realitas lain (Lash. 1990: 234).1995: 161). unsur. Paralogi berarti prinsip yang menerima keberagaman realitas. Lebih jauh Lyotard menyatakan prinsip-prinsip yang menegakkan modernisme: rasio. dimana setiap bidak memiliki aturan dan langkah tersendiri. totalitas. seperti dikatakan Susan Sontag seorang kritikus seni merupakan indikasi lahirnya sensibilitas baru: yakni sebuah kesadaran akan kemajemukan. Husserl.terhadap filsafat modern semenjak Nietzsche. . The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984). dalam dunia yang sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. tanpa harus mengganggu langkah bidak lain. yang bersifat ideologis. Lyotard secara radikal menolak ide dasar filsafat modern semenjak era Renaisans hingga sekarang yang dilegitimasikan oleh prinsip kesatuan ontologis (Awuy. 1994: 21). kebenaran-fiksi. Terutama dalam dunia filsafat. 1995: 158-161). teleologi. 1995: 158). mistifikasi. Kekuasaan telah dibagi-bagi dan tersebar berkat demokratisasi teknologi. eksploitatif. hingga Mahzab Frankfrut adalah benih-benih lahirnya pemikiran postmodernisme. postmodernisme mendapatkan pendasaran ontologis dan epistemologis. ego. prinsip kesatuan ontologis sudah tidak relevan lagi. permainan dengan logikanya masing-masing tanpa harus saling menindas atau menguasai (Awuy. Lebih jauh dekonstruksi hendak memunculkan dimensi-dimensi yang tertindas di bawah totalitas modernisme. Dekonstruksi adalah strategi untuk memeriksa struktur-struktur yang terbentuk dalam paradigma modernisme yang senantiasa dimapankan batas-batasnya dan ditunggalkan pengertiannya (Ahmad Sahal. melalui pemikiran Jean Francois Lyotard seorang filsuf Perancis. filsafat-puisi. kemajuan sejarah linear yang disebutnya Grand Narrative telah kehilangan legitimasi (Awuy. Menurut Lyotard. Kanada. bermain dan menikmati realitas secara bersama-sama. dirongrong dan disingkap sifat paradoksnya. Heidegger. Implikasi logis strategi ini adalah melumernya batas-batas yang selama ini dipertahankan antara konsep-metafor. ide absolut. Dari arah berbeda dengan fokus filsafat bahasa. oposisi biner. dominatif dan semu. cerita-cerita besar modernitas dipertanyakan. Dengan dekonstruksi. subjek. Jacques Derrida. Lewat bukunya yang merupakan laporan penelitian kondisi masyarakat komputerisasi di Quebec. Derrida mengajukan strategi pemeriksaan asumsi-asumsi modernisme yang seolah-olah sudah terberi itu dengan dekonstruksi. Kondisi ini. seorang filsuf Perancis yang lain. Karena itu prinsip kesatuan ontologis harus di delegitimasi dengan prinsip paralogi. Persis permainan catur. bersepakat dengan Lyotard.

sejarah modernisme hendak ditampilkan tanpa kedok. melainkan merupakan relasi kompleks yang menyebar dan hadir di mana-mana (Ahmad Sahal. Tema-tema tak jamak semisal penjara. Selanjutnya menurut Foucault kekuasaan tidaklah seperti yang dipahami kaum Weberian atau Marxian. punk. Ia memilih membaca realitas pada ukuran mikro. pabrik. Strategi yang sarat emansipasi ini pula yang mendorong seorang filsuf sejarawan Perancis Michel Foucault untuk menyingkap mistifikasi hubungan pengetahuan dan kekuasaan yang disodorkan modernisme. Wacana-wacana yang sebelumnya tertindas: kelompok etnis.serta keseriusan-permainan. 1994: 17). Dengan mengambil alih pemikiran Marcel Mauss. Karenanya Foucault sama sekali tidak berambisi membangun teoriteori yang universal. tidak mendominasi dan menyebar ini kemudian membawa Foucault untuk menolak asumsi rasio-kritis yang universal ala Kantian. atau gerakan peduli lingkungan kini mulai diperhatikan. hippies. Filsuf Perancis ini mengambil jalan agak berbeda dengan para pendahulunya. struktur atau kekuatan yang menundukkan. Dan dengan pilihan ini. kelompok gay. Karl Marx. sebuah suara lain yang mencoba membaca dan menyingkap perubahan watak modernisme adalah Jean Baudrillard. seorang penyair Perancis ada tanggapan lain terhadap modernisme yakni: ironi. Roland Barthes dan Marshal McLuhann Baudrillard memusatkan diri menganalisa modernisme dari ranah budaya. tidak memiliki. rumah sakit. kaum feminis. barak-barak tentara. Berbeda dengan pandangan modernisme yang menyatakan adanya distingsi antara pengetahuan murni dan pengetahuan ideologis. Georges Bataille. apa adanya. Kekuasaan tidak dimiliki. Tidak ada pengetahuan tanpa kekuasaan vice versa. Foucault menyatakan pengetahuan dan kekuasaan adalah dua sisi mata uang yang sama. sekali lagi Foucault meneguhkan semangat emansipasi kaum tertindas yang telah diawali oleh Lyotard dan Derrida. seks. dunia ketiga. pasien dan kriminal adalah pilihan yang disadarinya. Akhirnya. Bertitik tolak dari itu ia menunjukkan adanya diskontinuitas budaya dalam realitas masyarakat dewasa ini. Sementara kaum Marxian memahami kekuasaan sebagai artefak material yang bisa dikuasai dan digunakan untuk menindas kelas lain. kekuasaan bukan lagi institusi. Secara cerdas Foucault menyatakan bahwa di era yang dihidupi oleh perkembangan ilmu dan teknologi seperti saat ini. Dengan dekonstruksi. Kaum Weberian memahami kekuasaan sebagai kemampuan subjektif untuk mempengaruhi orang lain. orang gila. ras kulit hitam. . karena seperti disuarakan Charles Baudelaire. Baginya rasio tidak universal. Pandangan tentang kuasa/pengetahuan yang tidak berpusat.

dan model yang diatur sebagai produksi dan reproduksi dalam sebuah simulacra (Lechte. laserdisc dan internet menurut Baudrillard tidak saja dapat memperpanjang badan atau sistem syaraf . Pada tingkatan ini. manusia mendiami ruang realitas. tokoh Rambo. bila dalam ruang nyata. iklan televisi. Universal Studio. simulacra yang berlangsung semenjak era Renaisans hingga permulaan Revolusi Industri. semu. Dengan contoh yang gampang Baudrillard menggambarkan dunia simulasi dengan analogi peta. budaya. citra. Lewat televisi. telenovela. salah.Melalui bukunya Simulations (1983). 1994: 235). film dan iklan. manusia dijebak dalam ruang realitas yang dianggapnya nyata. 1987: 33). Peta mendahului wilayah. benar. fakta. Simulacra pada tingkatan ini merupakan wujud silang-sengkarut tanda. remote control. Doraemon atau Mickey Mouse adalah model-model acuan nilai dan makna sosial budaya masyarakat dewasa ini. 1987: 17). Realitas sosial. simulacra yang berlangsung seiring dengan perkembangan era industrialisasi. Dalam wacana simulasi. telecard. Baudrillard mengintrodusir karakter khas masyarakat Barat dewasa ini sebagai masyarakat simulasi. Ketiga. 1983:54-56). dalam mekanisme simulasi yang terjadi adalah sebaliknya. Las Vegas atau Beverlly Hills. Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini dengan micro processor. memory bank. terdapat tiga tingkatan simulacra (Baudrillard. dimana perbedaan antara yang nyata dan fantasi. yang menjadi model realitas-semu Amerika adalah representasi paling tepat untuk menggambarkan keadaan ini. dibangun berlandaskan model-model yang telah dibuat sebelumnya. Dalam dunia simulasi. produksi atau reproduksi semuanya lebur menjadi satu dalam silang-sengkarut tanda (Baudrillard. telah terjadi pergeseran mekanisme representasi akibat dampak negatif industrialisasi. representasi. simulacra yang lahir sebagai konsekuensi berkembangnya ilmu dan teknologi informasi. Selanjutnya dalam mekanisme simulasi. dunia simulasi tampil sempurna. yang asli dan palsu sangat tipis. melainkan model-model (Baudrillard. Dunia-dunia buatan semacam Disneyland. sebuah peta merupakan representasi dari suatu wilayah. bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan. Merujuk Baudrillard. Simulacra pada tingkatan ini merupakan representasi dari relasi alamiah berbagai unsur kehidupan. Menurutnya. China Town. referensi. Boneka Barbie. citra dan kode budaya yang tidak lagi merujuk pada representasi. bahkan politik. Inilah ruang yang tak lagi peduli dengan kategori-kategori nyata. Pertama. padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa. Inilah masyarakat yang hidup dengan silang-sengkarut kode. tanda. Kedua. Realitas semu ini merupakan ruang antitesis dari representasi semacam dekonstruksi representasi dalam wacana Derrida. Simulacra adalah ruang dimana mekanisme simulasi berlangsung.

serta melipat realitas ke dalam sebuah disket atau memory bank. 1983:2). 1994: 233). sudah tidak lagi bisa diyakini. Berdasarkan manfaatnya. era yang dituntun oleh model-model realitas tanpa asalusul dan referensi (Baudrillard. Ia menyatakan bahwa dalam masyarakat konsumeristik dewasa ini. Tokoh Rambo. nilai-tukar (exchange-value). menciptakan realitas baru dengan citra-citra buatan. realitas buatan (citra-citra) seolah lebih real dibanding realitas aslinya. Sementara itu dalam bukunya Symbolic Exchange and Death (1993) Baudrillard menyatakan bahwa sejalan dengan perubahan struktur masyarakat simulasi. fetishism of commodity. ilusi bahkan halusinasi menjadi kenyataan. Dalam kondisi seperti ini. pemikiran Baudrillard akhirnya menyempal dari pemikiran sang pendahulunya dan mengambil jalannya sendiri. social class. Hiperrealitas adalah realitas itu sendiri (Baudrillard. nilai-guna dan nilai-tukar. boneka Barbie. Inilah dunia hiperrealitas: realitas yang berlebih. Jurrasic Park. nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value). Berangkat dari analisa masyarakat produksi Marx dengan konsep-konsep:nilai-guna (use-value). Dengan televisi dan media massa misalnya. Nilai-guna merupakan nilai asali yang secara alamiah terdapat dalam setiap objek. teori gift (pemberian) Marcell Mauss dan teori expenditure (belanjaan) Georges Bataille. telah terjadi pergeseran nilai-tanda dalam masyarakat kontemporer dewasa ini yakni dari nilai-guna dan nilaitukar ke nilai-tanda dan nilai-simbol. 1983: 146). Baudrillard bersepakat bahwa aktivitas konsumsi manusia sebenarnya didasarkan pada prinsip non-utilitarian (Lechte. terdapat dua nilai-tanda dalam sejarah kebudayaan manusia yakni. namun selalu dan selalu direproduksi (Baudrillard. semu. realitas yang dihasilkan teknologi baru ini telah mengalahkan realitas yang sesungguhnya dan menjadi model acuan yang baru bagi masyarakat. Mengacu Marx. kebenaran. melainkan berdasarkan prestise dan makna simbolisnya (Lechte. adalah era kejayaan nilai-tanda dan nilai-simbol yang ditopang oleh meledaknya citra dan makna oleh media massa dan perkembangan teknologi. 1994: 234). Dan mimpi lebih dipercaya ketimbang kenyataan sehari-hari. Kini. namun bahkan lebih fantastis lagi. Lebih jauh. masa lalu dan nostalgia. meledak. Sesuatu tidak lagi dinilai berdasarkan manfaat atau harganya. fakta dan objektivitas kehilangan eksistensinya. mampu mereproduksi realitas.manusia. Citra lebih meyakinkan ketimbang fakta. Yakni. menyulap fantasi. yang nyata tidak sekedar dapat direproduksi. menurut Baudrillard. Dimana. realitas. atau Star Trek Voyager yang merupakan citra-citra buatan nampak lebih dekat dan nyata dibanding keberadaan tetangga kita sendiri. setiap objek dipandang . Sementara dari Mauss dan Bataille. seperti disarankan Marx. 1983: 183).

Nilai inilah yang mendasari bangunan kebudayaan masyarakat awal. lebih memandang makna simbolik sebuah objek ketimbang manfaat atau harganya. sirkulasi tanda mendominasi seluruh segi kehidupan. Lebih lanjut Baudrillard menyatakan kebudayaan . segala sesuatu dinilai berdasarkan nilaitukarnya. Objek dipahami secara alamiah dan murni berdasarkan kegunaannya. citra. Baudrillard menyatakan bahwa dalam masyarakat kapitalisme-lanjut (late capitalism) dewasa ini. Menurut Baudrillard. masyarakat hierarkis dan masyarakat massa. melainkan makna dan nilai-simbolnya (Baudrillard. namun juga objek-tanda. Selanjutnya dalam masyarakat hierarkis.memiliki guna bagi kepentingan manusia. sistem tanda dan bukan lagi pada manfaat dan harga komoditi. Sementara itu. yakni nilai-tanda dan nilai-simbol. Inilah saat ketika objek tidak lagi dilihat manfaat atau nilai-tukarnya. dalam masyarakat massa. media menciptakan ledakan makna yang luar biasa hingga mengalahkan realitas nyata. kemajuan ilmu dan teknologi. Berangkat dari analisa Marx diatas. lahir nilai baru yakni nilaitukar. menjadi masyarakat primitif. Fenomena kelahiran nilai-tanda dan nilai-simbol ini mendorong Baudrillard untuk menyatakan bahwa analisa komoditi Marx sudah tidak dapat dipakai untuk memandang masyarakat Barat dewasa ini. masyarakat kapitalis dan masyarakat komunis. dalam masyarakat primitif. ledakan media dan iklan. Dalam masyarakat massa. Masyarakat Barat dewasa ini adalah masyarakat konsumer: masyarakat yang haus mengkonsumsi segala sesuatu tidak hanya objek-real. menurut Baudrillard. nilai-guna dan nilai-tukar telah dikalahkan oleh sebuah nilai baru. perhatian utama lebih ditujukan kepada simbol. yang lahir bersamaan dengan semakin meningkatnya taraf ekonomi masyarakat Barat. Baudrillard mengubah periodisasi yang dibuat Marx mengenai tingkat perkembangan masyarakat dari: masyarakat feodal. Sejalan dengan itu. Saat inilah lahir prinsip nilai-tukar. Akhirnya. Nilai-tukar dalam masyarakat kapitalis memiliki kedudukan penting karena dari sanalah lahir konsep komoditi. Nilai-tanda dan nilai-simbol. tidak ada elemen tanda. telah terjadi perubahan dalam struktur masyarakat Barat dewasa ini. terdapat sedikit sirkulasi elemen tanda dalam suatu budaya simbol yang baru tumbuh. Inilah masyarakat yang hidup dengan kemudahan dan kesejahteraan yang diberikan oleh perkembangan kapitalisme-lanjut. Tanda menjadi salah satu elemen penting masyarakat konsumer. Hal ini karena dalam masyarakat kapitalisme-lanjut Barat. 1993: 68-70). Selanjutnya dengan perkembangan kapitalisme. Dengan konsep komoditi. serta dengan membaca kondisi masyarakat Barat dewasa ini.

kebudayaan postmodern adalah sebuah dunia simulasi. 1998: 109). Kelima. citra dan fakta melalui produksi maupun reproduksi secara tumpang tindih dan berjalin kelindan. kitsch (reproduksi gaya. Ketiga. Dalam konstruksi kebudayaan seperti inilah artefak-artefak budaya postmodern menemukan dirinya. kebudayaan postmodern adalah kebudayaan uang. Tidak ada lagi karya seni. budaya postmodern ditandai dengan sifat hiperrealitas. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya. D. telah memberikan peranan penting kepada pasar dan konsumen sebagai institusi kekuasaan baru menggantikan peran negara. Estetika seni postmodern ditandai dengan prinsipprinsip pastiche (peminjaman dan penggunaan berbagai sumber seni masa lalu). fiksi (fiction) ketimbang fakta(fact). yakni dunia yang terbangun dengan pengaturan tanda. dan lebih jauh lagi realitas semu (citra) mengalahkan realitas yang sesungguhnya (fakta). melainkan lebih dari itu merupakan simbol. bentuk dan ikon). kebudayaan postmodern lebih mengutamakan penanda (signifier) ketimbang petanda (signified). excremental culture. media (medium) ketimbang pesan (message). seni populer (popular art) dan seni murni (fine art). Tidak ada lagi mitos Sang Seniman dalam wacana seni modern yang berpretensi membebaskan dunia. Keempat. serta estetika (aesthetic) ketimbang etika (ethic).postmodern memiliki beberapa ciri menonjol. Uang mendapatkan peran yang sangat penting dalam masyarakat postmodern. Tidak ada lagi perbedaan antara seni rendah dan seni tinggi. Pertama. Landasan Teori Diskursus kebudayaan postmodern mendapatkan legitimasi sosio-kultural-filosofisnya justru dari kegamangan era modern dalam menuntaskan proyek Pencerahan. kecuali reproduksi dari berbagai unsur seni yang sudah ada. Kedua. serta camp (pengelabuan identitas dan penopengan) (Pilliang. sistem tanda(system of signs) ketimbang sistem objek (system of objects). budaya populer serta budaya media massa. 1989: 102). tanda dan motif utama berlangsungnya kebudayaan. dimana citra dan fakta bertubrukan dalam satu ruang kesadaran yang sama. fungsi dan makna uang dalam budaya postmodern tidaklah sekedar sebagai alat-tukar. Proyek modernisme yang dihidupi oleh semangat Pencerahan ini dengan keyakinan akan prinsip kemajuan sejarah . parodi (distorsi dan permainan makna). militer dan parlemen (Harvey. Kapitalisme lanjut yang bergandengan tangan dengan pesatnya perkembangan teknologi. kebudayaan postmodern ditandai dengan meledaknya budaya massa. sebagai konsekuensi logis karakter simulasi.

pada tahun 1888 mencatat mulai munculnya referensi pertama istilah modernisme dalam sejarah kebudayaan masyarakat Barat (Smart. 1990:18). Runtuhnya Era Modernisme Ricardo Contreras. istilah modernisme atau modernismo dalam bahasa Spanyol saat itu merupakan sebutan bagi gerakan-gerakan kebudayaan lokal di Amerika Latin yang memperjuangkan emansipasi dan otonomi budaya baru untuk melepaskan diri dari cengkeraman hegemoni kebudayaan Spanyol. Dengan mengadopsi dan mengembangkan pemikiran-pemikiran Karl Marx tentang nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value). semiologi Roland Barthes. Baudrillard menyatakan bahwa realitas kebudayaan dewasa ini menunjukkan adanya karakter khas yang membedakannya dengan realitas kebudayaan modern masyarakat Barat. Wacana kebudayaan inilah yang menawarkan tantangan sekaligus peluang bagi kita untuk mulai memperhatikan sisi lain realitas masyarakat dewasa ini. serta konsep global village dan medium is message Marshal McLuhan.yang linear. serta pembakuan tata pengetahuan dan sistem produksi yang keras saat ini tengah menghadapi ujian besar dengan menyebarnya berbagai patologi modernitas. simulacra dan simulasi. Postmodernisme mencoba mempertanyakan kembali posisi. Dalam kerangka kritis itulah Jean Baudrillard mencoba membaca realitas kebudayaan masyarakat Barat dewasa ini. MODERNISME DAN POSTMODERNISME A. sebagai sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditolak. batas dan implikasi asumsiasumsi modernisme yang kini telah menjelma menjadi mitos baru. Istilah modernisme saat itu tentu belum . Inilah kebudayaan postmodern yang memiliki ciri-ciri hiperrealitas. seorang penulis Meksiko. serta didominasi oleh nilai-tanda dan nilai-simbol. society of spectacle Guy Debord. Inilah wacana kebudayaan yang saat ini menghidupi dan sekaligus kita hidupi. Menurut Contreras. kebenaran ilmiah yang mutlak. keampuhan rekayasa bagi suatu masyarakat yang diidealkan.

Marshall Berman. Fase pertama. Ia baru muncul sebagai istilah kebudayaan yang menghendaki sesuatu yang baru. seperti halnya arti kata modern yang diadopsi dari bahasa Latin tersebut. Fase kedua. Inilah wajah modernisme yang mulai diwarnai oleh benih-benih konflik. menurut Toynbee. yakni era modern. adalah modernisme yang berkembang semenjak awal abad ke-16 M hingga akhir abad ke-18 M.merupakan epoch sejarah baru yang bermaksud memutuskan diri dari realitas sejarah sebelumnya. serta pesatnya perkembangan sosial. Dengan keberanian inilah manusia menyatakan telah memasuki era baru. ketidakpastian dan ancaman terhadap realitas dunia yang baru terbentuk Inilah puncak anomali realitas modern. Disisi lain. menyatakan bahwa era modern telah dimulai sejak era Renaisans abad ke-16 M dan berkembang dalam tiga fase sejarah modernisme. merupakan titik awal kedewasaan dan kematangan manusia untuk mulai berani menguasai alam dan melepaskan diri dari dogma-dogma institusi agama. Secara historis. Lenturnya ikatan sosial. runtuhnya keyakinan tradisional dan agama. Namun semenjak saat itu istilah modern dan modernisme beserta kata-kata turunannya: modernitas dan modernisasi telah mulai kerap digunakan sebagai kata kunci untuk menjelaskan telah lahirnya cahaya baru kebudayaan dan realitas sosial masyarakat Barat. 1990: 16). dimana orang baru mulai merasakan pengalaman kehidupan modern. Kedua fenomena sejarah tersebut. Bahkan Arnold Toynbee. yang berbeda. politik dan ekonomi yang seringkali dihubungkan dengan momentum Gelombang Revolusi Besar 1790. adalah modernisme yang dimulai ketika terjadi proses modernisasi global dan pembentukan kebudayaan dunia modern secara massal dimana semakin banyak terjadi kekacauan sosial dan politik. yang ternyata tidak mampu mewujudkan . memudarnya religiusitas dalam berbagai segi kehidupan. era pasca Abad Pertengahan. menyatakan bahwa awal Era Modern dalam Sejarah Kebudayaan Masyarakat Barat terjadi pada paruh kedua abad ke-15 M di daratan Eropa. melalui bukunya A Study of History (1947). dalam kajiannya tentang modernisme. adalah modernisme yang ditandai dengan Revolusi Perancis dan kekacauan sosial. keberanian menghadapi kehidupan secara nyata. dimana saat itu muncul fenomena pharisaisme budaya dan teknologi penguasaan samudera secara ekstensif (Smart. Fase ketiga. semangat dan jiwa modernisme sendiri sebenarnya bisa ditelusuri semenjak era Renaisans abad ke-16 M dan Pencerahan abad ke-18 M. telah mendorong munculnya berbagai masalah yang sebelumnya tidak diperhitungkan. serta lahirnya pemberontakan kreatif dalam dunia seni. perbedaan dan anomali. Modernisme pada tahap ini ditandai oleh mulai diyakininya rasio. seorang filsuf sejarawan.

modernisasi adalah pandangan dan sikap hidup yang dianut untuk menghadapi masa kini. realitas modern yang dicapai melalui proses modernisasi ini memiliki beberapa komponen utama. Modernitas sekaligus juga menjadi titik awal baru lantaran ia menawarkan hal-hal baru seperti: pengetahuan. berasal dari bahasa Latin modernus. yang berarti zaman baru. 1988: 197).impian menciptakan kehidupan yang lebih baik. lebih utuh dan mendasar dalam aspek-aspek rasio. pertumbuhan . dari bentuk lama ke bentuk baru. Dengan demikian. rasionalisasi administratif. Dan justru sebaliknya. urbanisasi. ilmu. moral. Modernisasi berarti proses berlangsungnya proyek mencapai kondisi modernitas yang digerakkan oleh semangat rasionalitas instrumental modern. menciptakan berbagai masalah besar yang menyengsarakan umat manusia (Smart. Istilah ini kemudian berkembang menjadi beberapa istilah turunan yang kesemuanya menunjuk pada suatu kurun sejarah setelah era Abad Pertengahan. kebudayaan. konsep negara-bangsa (nation-state). Istilah ini sekaligus menggambarkan hubungan antara masa kini dan masa silam yang tampil dalam bentuknya yang baru dengan jasa Renaisans abad ke-16 M dan Pencerahan abad ke-18 M sebagai kurun sejarah yang berbeda dan superior dalam alur sejarah kebudayaan masyarakat Barat. religi dan estetika dibanding era sebelumnya (Smart. Kembali merujuk Berman. Istilah modern sendiri. 1990: 16). yang telah digunakan pada abad ke-5 M untuk menunjuk batas antara era kekuasaan agama Kristen dan era Paganisme Romawi (Smart. diterima suatu kenyataan bahwa yang diacu oleh istilah-istilah ini adalah suatu era kebudayaan baru yang ditegakkan oleh rasio. Dalam penggunaannya. berkembangnya sistem ekonomi kapitalisme progresif. Modernitas inilah merujuk Calinescu yang merupakan era yang lebih dewasa. Ia juga menyiratkan adanya perubahan paradigma yang diperoleh dengan jalan pintas. karena modernitas pada hakekatnya mengambil posisi yang berlawanan dengan hal-hal lama demi terciptanya halhal baru. Modernisasi ditandai oleh pemutusan hubungan secara tegas terhadap nilai-nilai tradisional. modernisasi dan modernisme. seringkali terjadi tumpang tindih dan simplifikasi pengertian diantara berbagai istilah ini. politik serta seni. serta diferensiasi sosial dan budaya (Featherstone. struktur birokrasi. yakni industrialisasi. warisan masa lampau dan sejarah purbakala. Istilah modernitas diartikan sebagai kondisi sosial budaya masyarakat modern. 1990: 16). 1990: 15). Modernisasi mencakup proses pengucilan karya-karya klasik. Beberapa istilah tersebut adalah modernitas. Meskipun demikian. yakni pandangan dan sikap hidup dalam menghadapi kenyataan hidup masa kini. subjek dan wacana antropomorfisme.

. Dalam konteks ini. karakter pertama rasionalitas modernisme mengacu pada pengertian perhitungan yang masuk akal untuk mencapai sasaran berdasarkan pilihan-pilihan yang masuk akal dan dengan saranasarana yang efisien serta mengacu pada perumusan nilai-nilai tertinggi yang mengarahkan tindakan dan orientasi-orientasi yang terencana secara konsisten dari pencapaian nilai-nilai tersebut. Dalam wilayah seni. Merujuk Max Weber. serta Picasso. sosiolog Jerman yang mengkaji modernisme secara mendalam. Namun. Matisse dan Cezanne dalam seni lukis (Featherstone. sebagai rasionalitas nilai (Wertrationalitat). 1990: 123). Modernisme menjadi konservatif manakala proses subordinasi yang lama di bawah yang baru justru menyelamatkan yang lama dari kehancuran. Stravinsky.penduduk yang tinggi. Modernisme merupakan keyakinan yang cenderung mensubordinasikan yang tradisional di bawah yang baru. Modernisme konservatif seringkali terdapat dalam lapangan agama. Tokoh-tokoh seni yang dianggap mewakili gerakan modernisme misalnya adalah Kafka.sistem komunikasi dan kekuasaan baru. Schoenberg dan Berg dalam musik. Rasionalitas ini berwatak formal. Karakter kedua rasionalitas modernisme mengacu pada kesadaran akan nilai-nilai etis. Pirandelo dan Wedehind dalam drama. terutama seni. 1990: 137). modernisme dianggap bermula pada akhir abad ke-19 M (Lash. karena hanya mementingkan cara-cara mencapai tujuan dan tidak mengindahkan nilai-nilai yang dihayati sebagai intisari kesadaran. karena lebih mementingkan komitmen rasional terhadap nilai-nilai yang dihayati secara pribadi. Sebaliknya. Mann. Sementara itu modernisme umumnya dilihat sebagai paradigma kebudayaan. 1988: 202). Akibat praksis tindakan ini bisa terbagi dua: konservatif dan radikal. Rasionalitas ini berwatak substantif. Pertama.Rasionalitas modernisme yang berkembang semenjak era Renaisans abad ke-16 ini memiliki dua karakter mendasar. Ia mengacu pada gaya dan gerakan seni yang mula-mula muncul sebagai konsekuensi perlawanan terhadap seni Abad Pertengahan. khususnya seni. sebagai rasionalitas tujuan (Zweckrationalitat). modernisme menjadi radikal manakala proses subordinasi tadi mengambil bentuk pengingkaran bahkan penghapusan yang tradisional. 1990: 124). Sementara modernisme radikal banyak terdapat pada wilayah kebudayaan. dan Gide dalam dunia sastra. Strindberg. ia merupakan tindak diferensiasi terhadap dunia nyata yang bersifat nonreferensial dan anti-realis (Lash. serta pasar kapitalisme dunia (Turner. estetis dan religius. diantara kedua bentuk rasionalitas ini yang sangat dominan dalam realitas dunia modern adalah rasionalitas tujuan. Kedua.

subjektivitas yang reflektif. serta pembentukan konsep negara-bangsa (nation-state) abad ke-19 M (Turner. Oleh sebab itu. Modernitas juga menunjuk pada perubahan sosial budaya secara massif. Dengan kata lain. Kedua. birokratisasi ekonomi. 1990: 4). modernitas adalah sejarah penaklukan nilai-nilai lama Abad Pertengahan oleh nilai-nilai baru Modernisme (Turner. sekularisasi. subjektivitas yang berkaitan dengan kritik atau refleksi. pemutusan hubungan secara radikal terhadap tradisi dan kemapanan sosial peradaban yang mandeg. serta tumbuhnya moneterisasi nilai-nilai. Landasan utama argumen Weber ini adalah adanya fenomena otonomisasi wilayah-wilayah nilai terutama wilayah nilai estetis. yakni pengakuan akan kekuatan-kekuatan rasional dalam memecahkan masalahmasalah kehidupan. Modernitas lahir bersamaan dengan menyebarnya imperialisme Barat abad ke-16 M. Dengan merosotnya agama. Modernitas. pengakuan dan penerapan metode ilmiah Francis Bacon dan Isac Newton. kemudian mulai dipisahkan oleh rasionalisme Pencerahan. Karakter lain modernitas adalah. . Ketiga. klaim universalistik tentang rasionalitas instrumental. 1990: 157). etika. yang sebelumnya terstruktur dengan satu prinsip kesatuan dalam wilayah religius Abad Pertengahan. hukum dan estetika. diferensiasi bidang-bidang kehidupan. yakni kemampuan untuk menyingkirkan kendala-kendala kebebasan dari tradisi dan sejarah. khususnya di Inggris dan Belanda. tak terulangi dengan titik berat pada kekinian sebagai sumber sejarah. dimana realitas sosial berada di bawah bayang-bayang dan dominasi asketisme. bahwa waktu berlangsung secara linear. dominasi kapitalisme Eropa Utara. unik.1990: 12).Dalam kajian pentingnya tentang modernisme tersebut. kesadaran historis yang dimunculkan oleh subjek. selanjutnya Weber menyatakan bahwa pada dasarnya modernitas adalah gagasan yang menyangkut persoalan pemisahan bidangbidang nilai dan tatanan kehidupan. institusionalisasi keyakinan dan praktek-praktek Calvinisme di Eropa Utara. lapangan estetika seolah menjadi satu-satunya tempat pelarian dalam dunia yang sarat beban mencapai rasionalitas tujuan (Lash. praktek-praktek politik dan militer. Ia berpendapat bahwa wilayah-wilayah nilai ekonomi. Secara epistemologis. namun juga mendesakkan proses fragmentasi internal yang tak pernah berhenti dalam dirinya sendiri (Harvey. Pertama. pemisahan konsep keluarga dari kelompok kekerabatan yang umum. ia bukan hanya memutuskan hubungan dengan seluruh warisan historis masa lampau. menurut Weber merupakan konsekuensi proses modernisasi.1990: 6-10). modernitas meliputi empat unsur pokok.

kausalitas dan lain-lain. Melalui Kant. Idealisme absolut. dogmatis dan beku. Perkembangan modernisme dalam berbagai wilayah kehidupan lainnya tidak dapat dipungkiri merupakan implementasi pemikiran filosofis ketiga tokoh ini. Dengan kata lain. sifat normatif ini diaktualisasikan dalam gerakan Renaisans abad ke-16 M dan Pencerahan abad ke-18 M. hasrat emansipasi ini selanjutnya dibawa kepada kritisism yang menyarankan kategori-kategori sebagai batas-batas realitas yang terberi. Sementara itu dalam diskursus filsafat. Dengan universalisme dimaksudkan bahwa elemen-elemen modernitas bersifat normatif untuk masyarakat yang akan melangsungkan modernisasi. selanjutnya semakin memperkokoh keyakinan akan segera lahirnya era baru menggantikan era Abad Pertengahan yang dipandang telah jenuh. waktu. modalitas. Selanjutnya melalui Hegel. seolah-olah telah ditentukan batas dan nilainya. Keempat. legitimasi kekuasaan digugat melalui kritik dan kesahihan tradisi dipertanyakan berdasarkan harapan akan masa depan yang lebih baik. Dengan kata lain. dogmatis dan anti-perubahan. transformasi serta progresi. yang merangkul tese dan antitese ke dalam konsepsi Aufgehoben suatu filsafat identitas menjadi sebuah narasi utama modernisme. Dengannya setiap realitas tidak dapat lolos dari mekanisme pembacaan ini. Dengan modernisasi. pengalaman bahkan khayalan direkonstruksi dalam sebuah ruang pembacaan baku. semenjak suatu masyarakat menyatakan diri melaksanakan proses modernisasi. etis dan epistemologis.modernisme memiliki kata-kata kunci: revolusi. gagasan. kebenaran wahyu diuji di hadapan rasio. Kualitas. Secara historis. kemajuan (di atas kemapanan) dan kebaruan (diatas kelampauan). Immanuel Kant dan Hegel. Gerakan Renaisans. substansi. Sementara . Melalui pemikiran tokoh-tokoh inilah modernisme mulai memperkokoh diri dengan kebenarankebenaran ontologis. untuk kemudian meleburkan diri dalam suatu proyek sejarah umat manusia mencapai tujuan tertentu di masa depan. Rene Descarteslah yang menyadarkan manusia akan kedudukan rasio sebagai determinan pengetahuan dan pembacaan realitas dengan diktumnya Cogito ergo sum: aku berpikir maka aku ada. evolusi. realitas modernisme disempurnakan dengan ide gerak sejarah dialektis yang berpuncak pada rasio. Dengan kategorikategori ini setiap ide. universalisme yang mendasari ketiga unsur sebelumnya. yang mendapat ilham dari semangat Humanisme Italia pada abad ke-16 M. maka masyarakat tersebut harus siap meninggalkan sikap-sikap naif. modernisme mulai dibicarakan dan menemukan kematangannya melalui filsuf-filsuf Descartes. ruang. modernitas mendukung rasio (di atas wahyu). kuantitas.

dan lain-lain. telah mengakibatkan objektivasi alam secara berlebihan dan eksploitasi alam secara semena-mena. Modernisme yang rasional. adalah salah seorang pembaca modernisme dengan cara demikian. 1994: 16). Padahal. Cara membaca seperti diwakili Baudelaire inilah yang kini mulai menyingkap paradoks modernitas. serius. spiritual-material. pada waktu itu terdapat pula tanggapan menyimpang terutama dari kalangan seniman yang bernada ironi terhadap modernisme. untuk terlibat secara aktif dalam dunia kini dan disini (lokal-historis) tanpa harus menggantungkan diri pada kebenaran-kebenaran diluar diri manusia. dunia ketiga. Keempat. pandangan modern yang cenderung objektivistik dan instrumentalis-positivistik akhirnya jatuh pada pembendaan (reifikasi) manusia dan masyarakat. punk. Sebagai akibatnya modernisme yang dahulu emansipatif kini justru bersifat dehuman. merebaknya pandangan materialisme. hippies.Pencerahan (Aufklarung) abad ke-18 M menjadi landasan tegaknya era baru. Kedua. Kelima. budaya tanding mulai menggugat kesombongan modernisme yang dianggap gagal merampungkan proyek heroisme Pencerahan untuk membangun sebuah masa depan yang lebih baik. skin head. yakni era modern. Pertama. Ketiga. yang disertai kegetiran. ketat. gerakan lingkungan hidup. yakni prinsip hidup yang memandang materi dan segala strategi pemuasannya sebagai satu-satunya tujuan. lantaran pandangan dualistiknya yang membagi seluruh kenyataan menjadi subjek-objek. keyakinan. Setidaknya terdapat enam alasan ekses negatif proyek modernisme yang kini sedang digugat dan dipertanyakan. dominasi ilmu-ilmu empiris-positivistik terhadap nilai moral dan religi menyebabkan meningkatnya tindak kekerasan fisik maupun kesadaran keterasingan dan pelbagai bentuk depresi mental. masyarakat terasing. kaum gay. kaum feminis. Penyair Perancis Charles Baudelaire misalnya. manusia-dunia. sebagaimana diungkap Michel Foucault. realitas dan praktek-praktek sosial yang ternyata menyimpang dari rasionalitas era modern. sistematis dan tertib inilah wacana dominan yang mengisi diskursus sejarah filsafat Barat abad ke-18 M hingga sekarang. Ironi juga berarti menjalani hidup tanpa dibebani oleh prinsip-prinsip baku dan tidak berpretensi untuk menjadi juru selamat. Membaca modernisme dengan sikap ironi ini berarti menolak anggapan bahwa modernitas membawa nilai-nilai universal (Ahmad Sahal. Ironi adalah semacam keberanian. Semangat emansipasi. Suara-suara minoritas modernisme: subkultur. optimisme dan heroisme menghadapi situasi zaman seolah merupakan satu-satunya tanggapan terhadap proyek sejarah modernisme. berkembangnya militerisme karena moral dan agama tidak . Terdapat pelbagai nilai.

Pandangan modernis demikian mulai digugat karena tendensi universalisme dan kebenaran estetis yang seolah-olah merupakan sebuah keniscayaan. mencatat setidaknya lima alasan penting terjadinya krisis modernisme (Rosenau. kelelahan dan kering. Pertama. Rosenau. serta perpetual art. Gagasan seni populer. yang merupakan konsekuensi logis hukum survival of the fittest Charles Darwin (I. Keempat. ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. politik dan ekonomi. Keenam. ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. seni modernisme memiliki beberapa ciri utama yakni: kesadaran dan refleksi estetis yang cukup tinggi. Kedua.1988:202). konsep seni modernisme pun perlahan-lahan mulai menemui kondisi krisis. penolakan terhadap struktur narasi realitas dan penerimaan terhadap konsep simultanisme dan montase. dalam kajiannya mengenai postmodernisme dan ilmu-ilmu sosial. Pauline M. . Bambang Sugiharto.lagi memiliki kekuatan disiplin dan regulasi. Kelima. serta penolakan terhadap gagasan kepribadian yang utuh sembari merayakan gagasan subjek yang dehuman dan terbelah (Featherstone. terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Kondisi yang sama terjadi dalam wilayah kehidupan dan disiplin lmu yang ain: sastra. seni fashion yang merangkum pastiche. Para seniman dan kritikus seni mulai malas berbicara tentang seni modern yang beku. Merujuk Featherstone. kitsch dan camp. modernisme dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya. semangat rasisme dan diskriminasi. sebaliknya. mulai banyak dibicarakan. Ketiga. Namun ternyata keyakinan ini keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial. Sementara itu dalam dunia seni. ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menekankan atribut fisik individu. seni perpetual. bangkitnya kembali tribalisme. sejarah. parodi. antropologi. 1996: 29-30). arsitektur. sosiologi. ambigu dan terbuka.1992: 10). seni massa. eksplorasi terhadap hakekat realitas yang paradoks. Dampak negatif modernisme ini sekaligus menjadi senjata para seniman dan kelompok marjinal lainnya untuk menyerang dan mendesak dipikirkannya kembali Proyek Modernisme.

tepatnya pada kisaran tahun 1960-an. postmodernisme menawarkan ciri-ciri yang bertolak belakang dengan watak era pendahulunya. serta pembakuan secara ketat tata pengetahuan dan sistem produksi. Inilah postmodernisme yang menggugat watak modernisme lanjut yang monoton. perbedaan. sebagaimana diungkap Fredric Jameson dalam bukunya Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism (1984). kejenuhan dan kekecewaan terhadap semangat modernisme. sastra. Berbagai bidang kehidupan dan disiplin ilmu seperti: seni. deformasi. fiksi ketimbang fakta. arsitektur. kebenaran ilmiah yang mutlak. media ketimbang isi. modernisme yang yakin secara fanatik pada kemajuan sejarah yang linear. kemungkinan ketimbang kepastian. delegitimasi serta demistifikasi (Bertens. pemberontakan. disintegrasi. dekomposisi. kecanggihan rekayasa masyarakat yang diidealkan. Postmodernisme hadir setelah melalui perjalanan sejarah yang membentuknya hingga sampai pada keadaannya saat ini. estetika ketimbang etika dan narasi ketimbang teori (Ariel Heryanto. positivistik. antropologi. Ditambah oleh perkembangan kapitalisme lanjut yang luar biasa dahsyat. Karakter yang sering disuarakan postmodernisme antara lain adalah pluralisme. namun tema ini bukanlah lahir tanpa sejarah. heterodoks. dekonstruksi. keacakan. Postmodernisme dan Beberapa Tokohnya Semenjak awal paruh kedua abad ke-20 M. sosiologi. B. postmodernisme telah muncul sebagai diskursus kebudayaan yang banyak menarik perhatian. 1995: 44).Panorama modernisme yang terjebak heroisme inilah yang menurut Daniel Bell. maka menjadi wajarlah gugatan. de-definisi. dan modernisme yang tak lagi peka pada perbedaan dan keunikan (Ariel Heryanto. 1994: 80). eklektisisme. dekreasi. salah seorang pembicara awal postmodernisme. . modernisme yang kehilangan semangat emansipasi dan terperangkap dalam sistem yang tertutup. tanda ketimbang makna. yakni: menekankan emosi ketimbang rasio. rasionalistik dan teknosentris. Meskipun tidak mudah atau malah hampir tidak ada cara baku untuk mendefinisikan postmodernisme. sejarah. keterbukaan ketimbang pemusatan. pemencaran. yang lokal ketimbang yang universal. permainan ketimbang keseriusan. Sebaliknya. yang merupakan benih krisis modernitas. 1994: 80). diskontinuitas. kemajemukan ketimbang penunggalan. politik dan filsafat hampir secara bersamaan memberikan tanggapan terhadap tema postmodernisme. demistifikasi.

Keenam. Kedelapan. dalam bukunya Postmodernism and Islam (1992). Dengan kata lain. penulis dan krikitus seni seperti Hassan. terdapat delapan ciri karakter sosiologis postmodernisme. meledaknya industri media massa. munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Barthelme. munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan romantisme dengan masa lampau. Rauschenberg. sehingga bersifat paradoks (Ahmed. Ketiga. Kedua. semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban area) sebagai pusat kebudayaan dan sebaliknya. Ketujuh. teknologi dan filsafat modern yang dinilai gagal memenuhi janji emansipatoris untuk membebaskan manusia dan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Kondisi ini pada gilirannya menjadikan dunia dan ruang realitas kehidupan terasa menyempit. semakin terbukanya peluang bagi pelbagai kelas sosial atau kelompok minoritas untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas dan terbuka. Istilah postmodernisme. seorang kritikus seni. nilai. 1988: 202). Pertama. pada tahun 1930 dalam tulisannya Antologia de la Poesia Espanola a Hispanoamericana untuk menunjuk kepada reaksi minor terhadap modernisme yang muncul pada saat itu (Featherstone. Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju (Negara Dunia Pertama) atas negara berkembang (Negara Dunia Ketiga). munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya ekletisisme dan pencampuradukan berbagai diskursus. dipergunakan pertama kali oleh Federico de Onis. organ dan syaraf manusia. wilayah pedesaan (rural area) sebagai daerah pinggiran. merujuk Ihab Hassan. Lebih dari itu. Kelima.Merujuk Akbar S. Ahmed. Istilah ini kemudian sangat populer di tahun 1960-an ketika seniman-seniman muda. era postmodernisme telah turut mendorong proses demokratisasi. bahasa yang digunakan dalam diskursus postmodernisme seringkali mengesankan tidak lagi memiliki kejelasan makna dan konsistensi. memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden dan semakin diterimanya pandangan pluralisme-relativisme kebenaran. 1992:143-4). Cage. Keempat. Fenomena ini muncul sebagai reaksi manakala orang semakin meragukan kebenaran ilmu. sehingga sekarang sulit untuk menempatkan suatu objek budaya secara ketat pada kelompok budaya tertentu secara eksklusif. sehingga ia seolah merupakan perpanjangan dari sistem indera. Fielder dan Sontag menggunakannya sebagai nama gerakan penolakan terhadap seni modernisme lanjut. Seni postmodern memiliki ciri-ciri yang berbeda . timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas. keyakinan dan potret serpihan realitas. kekuatan media massa telah menjelma menjadi Agama dan Tuhan baru yang menentukan kebenaran dan kesalahan perilaku manusia.

Penggunaan istilah postmodernisme selanjutnya perlahan-lahan mulai menyentuh bidangbidang yang lain. insting dan kegairahan untuk membawa logika modernisme sampai ke titik terjauh yang mungkin bisa dicapai (Featherstone. Ketiga. naratif. istilah postmodernisme mengacu kepada perlawanan bentuk-bentuk arsitektur modern yang menonjolkan keteraturan. pastiche. ekuivokal. 1988: 202). Pertama. sebagai perubahan ruang budaya yang lebih luas mencakup bentuk-bentuk produksi. Merujuk Mike Featherstone. praktis. maka postmodernitas adalah kurun waktu sejarah yang seringkali dikaitkan dengan perubahan realitas dunia seusai Perang Dunia II (Featherstone. ruang isotropis dan estetika mesin. dimana prinsip bentuk mengikuti fungsi menjadi dewa. parodi. runtuhnya distingsi antara budaya tinggi dan budaya massa/populer. Doktrin bentuk mengikuti fungsi dibalik menjadi fungsi mengikuti bentuk. 1988: 197). Sementara itu.serta adanya asumsi seni sebagai pengulangan. sebagai perubahan bentuk teorisasi. Kedua. dengan hasrat. . terpiuh. postmodernisme memiliki tiga ruang pengertian yang berada dalam wilayah kebudayaan. rasionalitas. yakni: hilangnya batas antara seni dan kehidupan sehari-hari. presentasi dan diseminasi karya seni dan intelektual yang tidak dapat dipisahkan dari perubahan mikro dalam wilayah kebudayaan.dengan seni modernisme lanjut. sebaliknya menawarkan konsep bentuk asimetris. seorang sosiolog dan kritikus kebudayaan. merosotnya kedudukan pencipta seni. serta mengembangkan sarana-sarana baru bagi orientasi dan pembentukan identitas (Featherstone. serta terbentuknya masyarakat komputerisasi. munculnya kitsch. camp dan ironi. konsumsi dan sirkulasi tanda dan simbol yang dapat dikaitkan dengan perubahan yang lebih luas pula dalam relasi keseimbangan dan kekuasaan dalam masyarakat. Arsitektur postmodernisme. seorang sosiolog. objektif. 1988: 208). Daniel Bell. bahkan melihat postmodernisme sebagai puncak tendensi perlawanan terhadap modernisme. penuh kejutan dan variasi. simbolik. maraknya gaya eklektis dan campur aduk. Postmodernitas ditandai dengan lahirnya totalitas struktur sosial baru. perkembangan teknologi dan informasi yang pesat. metafor serta akrab dengan alam (Andy Siswanto. sebagai perubahan praktek dan pengalaman keseharian berbagai kelompok yang menggunakan rezim penandaan (regime of signification) dalam berbagai cara dan gaya. penuh ornamen. ambigu. dunia simulasi dan hiperrealitas. perpetual art (Featherstone. Dalam bidang arsitektur. 1994: 36). Jika modernitas dipahami sebagai kurun waktu sejarah yang berkembang semenjak era Renaisans.

salah seorang pembicara terdepan postmodernisme.1988: 202). intertekstualitas dan paradoks. dan menggambarkannya dalam realitas sosial yang ada dalam masyarakat kontemporer Barat dewasa ini (Featherstone.1988: 204). kapitalisme multinasional yang membawa akibat perluasan luar biasa dalam dunia sosial dan meledaknya budaya massa. membuka ironi. mencoba menemukan suatu teori masyarakat postmodern atau postmodernitas. 1995: 43): Modernisme Postmodernisme ---------------------------------------------------------Romantis/Simbolis Parafisik/Dadisme Bentuk/Berhubungan/Tertutup AntiBentuk/Tak Berhubungan/Terbuka Tujuan Permainan Desain Kesempatan Hierarki Anarki Master/Logos Kejenuhan/Kediaman Objek Seni/Karya Proses/Penampilan/Happening Berjarak Partisipasi Kreasi/Totalisasi/Sintesis Dekreasi/Dekonstruksi/Anti Sintesis Kehadiran Ketidakhadiran Pemusatan Tersebar Genre/Batas Teks/Interteks Semantik Retorik Paradigma Sintagma Hipotaksis Parataksis Metafor Metonimi Seleksi Kombinasi Akar/Kedalaman Rhizoma/Permukaan Interpretasi/Pembacaan Melawan-nterpretasi/Kesalahbacaan Petanda Penanda Terlihat/Terbaca Tercatat/Tertulis Narasi/Narasi Besar Anti-Narasi/Narasi Kecil Tanda Idiolek Simtom Hasrat Jenis Mutan Genital/Phalik Polimorphi/Androgini . Ihab Hassan mencoba menyusun sebuah tabel sistematis yang menggambarkan perbandingan prinsip kedua paradigma pemikiran tersebut (Harvey. Untuk memudahkan pemetaan prinsip dan kedudukan modenisme dan postmodernisme. Jean Baudrillard. memandang postmodernisme lebih sebagai strategi pembacaan realitas dengan objek sentral prinsip reproduksi tanda-tanda. Agak berbeda dengan Bell. Postmodernisme dengan demikian adalah metode analisa kritis yang mencoba membongkar mitos dan anomali paradigma modernisme.

Paranoia Schizophrenia Asli/Sebab Perbedaan/Jejak Tuhan Setan Metafisik Ironi Determinasi Indeterminasi Transenden Imanen Sementara itu Julia I. menyusun sebuah sistematika perbandingan paradigma modernisme dan postmodernisme dalam wilayah-wilayah kehidupan sebagai berikut (Suryakusuma. 1994: 47): Modernisme Postmodernisme --------------------------------------------------------Dalam Politik: Dalam Politik: Negara (nation-state) Relagion Totalitarian Demokratis Konsensus Konsensus yang Dipertanyakan Friksi Kelas Isu Agenda Baru Dalam Ekonomi: Fordisme Kapitalisme Kapitalisme Sentralisasi Dalam Masyarakat: Pertumbuhan Pesat Industrial Berstruktur Kelas Proletariat Dalam Kebudayaan: Kemurnian Elitisme Objektivisme Dalam Estetika: Harmoni Sederhana Estetika Newtonian Top-Down Terintegrasi Ahistoris Dalam Filsafat: Monisme Materialisme Utopian Dalam Media: Dalam Ekonomi: Pasca-Fordisme Monopoli Sosialis Desentralisasi Dalam Masyarakat: KestabilanyangBerkesinambungan Pasca-Industrial Berkelompok Kecil Kognitariat Dalam Kebudayaan: Double Coding Massa Naturalisme Dalam Estetika: Anti-Harmoni Estetika Big-Bang Semiosis Historis Dalam Filsafat: Pluralisme Semiotik Heterotopian Dalam Media: . Suryakusuma.

telah menyebabkan hilangnya otentisitas kehidupan dan kesejatian pengalaman manusia. Sebagai akibatnya manusia tidak lagi mampu mengalami dan menghayati kekayaan realitas kehidupan dengan segenap keunikannya masing-masing (Bertens. 1995: 21). kelahiran postmodernisme dapat dilacak jauh ke alur sejarah kegagalan modernisme.Dunia Cetak Berubah Cepat Dalam Ilmu: Mekanistis Linier Deterministik Mekanika Newton Dalam Agama: Atheisme Tuhan telah mati Patriarkis Kekecewaan Elektronik Mengubah Dunia Dalam Ilmu: Mengorganisasi Non-Linier Indeterministik Mekanika Kuantum Dalam Agama: Panentheisme Spiritualitas Kreatif Pasca-Patriarkis Terpesona Dalam Pandangan Hidup Dalam Pandangan Hidup:: Mekanistis Ekologis Reduktif Holistik Terpisah Berkaitan Hierarkis Heterarkis Kepastian Kebetulan Antroposentris Kosmologis Absurditas Manusia Optimisme Tragis --------------------------------------------------------Secara historis. ego individual. yang dipelopori oleh John Cage. ketika Charles Olson. dogmatis dan ideologis. gerakan anti-modernisme menyatakan sikap penolakan terhadap pandangan rasionalitas modern yang menjunjung tinggi universalitas. ini adalah gerakan yang mencoba membangun kesadaran untuk keluar dari kungkungan dan kuasa rasionalitas seni modern. Sebaliknya. karena orientasi ontologisnya yang membabi-buta terhadap rasionalitas modern. dan . Gerakan anti-modernisme. Benih-benih kekecewaan terhadap modernisme pertama kali muncul pada tahun 1950-an dalam dunia sastra. Dalam tulisannya Human Universe (1951). Olson menyatakan bahwa dunia kebudayaan Barat. subjek transenden. seorang penyair Amerika. Hal yang ada hanyalah sebuah realitas tunggal yang monolitik. 1995: 20). Para seniman dan penyair saat itu mulai merasa jenuh berada dalam ketertutupan dan kekakuan rasionalitas instrumental dunia modern. Robert Rauschenberg. Merce Cunningham. menggunakannya untuk menyebut gerakan anti-modernisme dan anti-rasionalitas modern dalam dunia puisi kontemporer Amerika (Bertens.

merayakan otentisitas kehidupan. Gerakan anti-modernisme hendak mencoba melawan keangkuhan nilai dan estetika sastra modern. Perbincangan mengenai postmodernisme selanjutnya berkembang dalam lapangan seni. Pada kurun waktu tahun 1960-an, muncul tulisan-tulisan tentang postmodernisme dengan artikulasi dan pemihakan yang lebih jelas. Dalam dunia sastra, Ihab Hassan dan Susan Sontag menyatakan mulai bangkitnya dunia sastra yang terdiam. Sontag juga menyatakan telah lahirnya sensibilitas baru, yaitu suatu sikap yang lebih terbuka menerima keberagaman gaya dan bentuk, serta tidak lagi menuntut penghormatan terhadap seniman dan karya seni. Selama rentang waktu tahun 1960 sampai 1970-an, perbincangan tentang postmodernisme mulai masuk ke dunia arsitektur. Diruntuhkannya bangunan perumahan Pruitt Igoe, St. Louis, Missouri, yang memiliki karakter arsitektur modern (arus arsitektur International Style yang dipelopori Mies van der Rohe) menandai lahirnya pemikiran arsitektur postmodernisme. Arsitektur postmodern membawa tiga prinsip dasar yakni: kontekstualisme, allusionisme dan ornamental. Prinsip kontekstualisme berarti adanya pengakuan bahwa gaya arsitektur suatu bangunan selalu merupakan bagian fragmental dari sebuah gaya arsitektur yang lebih luas. Prinsip allusionisme berarti adanya keyakinan bahwa arsitektur selalu merupakan tanggapan terhadap sejarah dan kebudayaan. Sementara prinsip ornamental berarti pengakuan bahwa bangunan merupakan media pengungkapan makna-makna arsitektural. Adalah Robert Venturi, arsitek sekaligus teoritisi awal konsep arsitektur postmodern, dalam bukunya Complexity and Contradiction in Architecture (1966), yang mulai membuka pembicaraan konsep arsitektur postmodern. Ia memaparkan bahwa arsitektur postmodern adalah konsepsi teoritis arsitektur yang memiliki beberapa karakter. Menurutnya, arsitektur postmodern lebih mengutamakan elemen gaya hibrida (ketimbang yang murni), komposisi paduan (ketimbang yang bersih), bentuk distorsif (ketimbang yang utuh), ambigu (ketimbang yang tunggal), inkonsisten (ketimbang yang konsisten), serta kode ekuivokal (ketimbang yang monovokal) (Bertens, 1995: 54). Sementara itu Charles Jencks, yang diakui sebagai mahaguru arsitektur postmodern, dalam bukunya The Language of Postmodern Architecture (1977), menyebut beberapa atribut konsep arsitektur postmodern. Beberapa atribut tersebut adalah metafora, historisitas, ekletisisme, regionalisme, adhocism, semantik, perbedaan gaya, pluralisme, sensitivisme,

ironisme, parodi dan tradisionalisme (Bertens,1995: 58). Lebih lanjut arsitektur postmodern, menurut Jencks juga memiliki sifat-sifat hibrida, kompleks, terbuka, kolase, ornamental, simbolis dan humoris. Jencks juga menyatakan bahwa konsep arsitektur postmodern ditandai oleh suatu ciri yang disebutnya double coding. Double coding adalah prinsip arsitektur postmodern yang memuat tanda, kode dan gaya yang berbeda dalam suatu konstruksi bangunan. Arsitektur postmodern yang menerapkan prinsip double coding selalu merupakan campuran ekletis antara tradisional/modern, populer/tinggi, Barat /Timur , atau

sederhana/complicated. Memasuki rentang tahun 1980-an, tema postmodernisme mulai mendapat perhatian yang lebih serius. Upaya membangun kerangka teoritis terhadap tema ini terutama berlangsung dalam lapangan filsafat. Dalam bidang filsafat, istilah postmodernisme kerap dipergunakan dengan acuan yang sangat beragam. Walaupun karya masterpiece Jean Francois Lyotard, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984), tetap menjadi acuan kunci, namun banyak kalangan mengaitkan istilah itu dengan teori dekonstruksi Derrida, semiologi Barthes, semiotika Eco, poststrukturalisme Foucault, hermeneutika Gadamer sampai kepada pemikiran holistisisme Capra, Prigogine dan Whitehead. Istilah postmodernisme juga sering dirujukkan pada berbagai fenomena realitas masyarakat kontemporer sebagai masyarakat post-industri (post-industrial society), masyarakat komputer (computer society), masyarakat konsumer (consumer society), masyarakat media (media society), masyarakat tontonan (spectacle society) atau masyarakat tanda (semiurgy society). Sementara kalangan memandang postmodernisme sebagai bagian dari proyek modernisme yang belum usai (misalnya Juergen Habermas dan Mahzab Frankfurt generasi kedua), sementara kalangan yang lain memandang postmodernisme sebagai penolakan radikal terhadap nilai-nilai dan asumsi-asumsi modernisme (misalnya Lyotard, Derrida, Foucault). Pauline M. Rosenau, dalam bukunya Postmodernism and Social Sciences (1992), membedakan postmodernisme menjadi dua bentuk. Pertama, postmodernisme sebagai paradigma pemikiran. Sebagai paradigma pemikiran, postmodernisme meliputi tiga aspek ontologi, epistemologi serta aksiologi. Ketiga aspek dasar ini menjadi kerangka berpikir dan bertindak penganut postmodernisme bentuk pertama (misalnya Lyotard, Derrida, Foucault). Kedua, postmodernisme sebagai metode analisis kebudayaan. Dalam konteks ini, prinsip dan pemikiran postmodernisme digunakan sebagai lensa membaca realitas sosial budaya masyarakat kontemporer (misalnya Rortry dan Baudrillard). Dari arah yang agak berbeda, Frederic Jameson menyatakan bahwa postmodernisme tak lain adalah konsekuensi logis

perkembangan kapitalisme lanjut. Melalui tulisannya Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism (1989), Jameson meyakinkan resiko tak terelakkan dari dominasi kapitalisme lanjut yang telah menyempurnakan dirinya, yakni kapitalisme yang telah berubah watak karena telah banyak belajar dari berbagai rongrongan dan kritik. Kapitalisme yang titik beratnya bergeser dari industri manufaktur ke industri jasa dan informasi. Kapitalisme yang, demi kepentingan jangka panjang, secara cerdas mengakomodasikan tuntutan serikat pekerja, kelangsungan hidup lingkungan, dan daya kreatif/kritis konsumen. Kapitalisme yang mengintegrasikan banyak unsur sosialisme ke dalam dirinya. Kapitalisme yang bekerja dengan prinsip desentralisasi dan deregulasi karena sistem terpusat tak sigap menghadapi perubahan cepat. Kapitalisme yang tidak menawarkan keseragaman gaya/citra kultural karena pasar dan tenaga kerja telah mengalami diversifikasi begitu jauh. Dengan perkembangan kapitalisme lanjut yang tampil dengan kehadiran perusahaan multinasional, jaringan informasi global dan teknologi telekomunikasi, maka whole new type of society pun lahir. Inilah masyarakat yang dihuni oleh subjek-subjek dengan ciri-ciri terbelah, kehilangan rantai hubungan pemaknaan, larut dalam citra-citra dan imaji serta gagal memahami latar belakang sejarah dirinya sendiri (Turner, 1990: 170). Namun untuk memahami postmodernisme secara mendasar terutama pada dataran ontologis dan epistemologis adalah mutlak untuk mengetahui asumsi-asumsi dasar serta argumentasi para penyuara postmodernisme dalam wilayah filsafat. Jean Francois Lyotard adalah filsuf kelahiran Versailles Perancis yang mulai meletakkan dasar argumentasi filosofis dalam diskursus postmodernisme. Melalui bukunya yang segera menjadi klasik, The Condition of Postmodern: A Report on Knowledge (1984), Lyotard mencatat beberapa ciri utama kebudayaan postmodern. Menurutnya, kebudayaan postmodern ditandai oleh beberapa prinsip yakni: lahirnya masyarakat komputerisasi, runtuhnya narasi-narasi besar modernisme, lahirnya prinsip delegitimasi, disensus, serta paralogi. Masyarakat komputerisasi adalah sebutan yang diberikan Lyotard untuk menunjuk gejala post-industrial masyarakat Barat menuju the information technology era. Realitas sosial budaya masyarakat dewasa ini seperti yang ditelitinya secara seksama di Quebec Kanada adalah masyarakat yang hidup dengan ditopang oleh sarana teknologi informasi, terutama komputer. Dengan komputerisasi, prinsip-prinsip produksi, konsumsi dan transformasi mengalami revolusi radikal. Penggunaan tenaga manusia yang semakin terbatas dalam sektor ekonomi, pelipatan ruang dalam dunia telekomunikasi, percepatan pengolahan data dan informasi yang mampu

berarti diakui adanya berbagai unsur realitas yang memiliki logikanya sendiri. prinsip legitimasi modernisme harus dibongkar dengan prinsip delegitimasi. yang disertai kegetiran. di luar diri manusia. Michel Foucault. mencatat beberapa karakter khas kebudayaan postmodern. Namun ia menolak anggapan Kant bahwa rasio berlaku universal. atau yang lainnya. Hal ini karena dalam masyarakat kontemporer. penyebaran pengetahuan dan kekuasaan secara massif. Menurutnya terdapat tanggapan lain terhadap Pencerahan seperti diwakili Baudelaire yaitu ironi. seorang filsuf poststrukturalis Perancis. subjek. otonomi. 1994: 16). menurut Lyotard. Realitas masyarakat seperti inilah yang menjadi wadah. Ironi adalah keberanian. Karena disensus adalah prinsip yang mengakui perbedaan dan keunikan setiap unsur dalam realitas. Berangkat dari Kant. Bahkan. baik atas nama Tuhan.mengubah bahkan memanipulasi realitas. sumber pengetahuan dan kebenaran pengetahuan tidak lagi tunggal. dan logi: tertib nalar) (Awuy. narasi besar. Lyotard selanjutnya menyatakan bahwa kebenaran yang dibawa oleh narasi-narasi besar (Grand Narratives) modernisme sebagai metanarasi kini telah kehilangan legitimasinya. yang sudah terpatok sebelumnya (Ahmad Sahal. majemuk. Realitas kontemporer tidak lagi homolog (homo: satu. adalah beberapa konsekuensi perkembangan teknologi (Sarup. realitas telah berubah sesuai dengan perubahan karakter masyarakat postmodernisme. untuk terlibat secara aktif dengan situasi kini dan disini. dan logi: tertib nalar). plural dan demokratis. nilai-nilai baru postmodernisme. Foucault menerima keyakinan . nilai-nilai serta asumsi dasar modernisme: rasio. Konsekuensinya. 1989: 118). ego. Dengan delegitimasi. Pengetahuan dan kebenaran kini menyebar dan plural. Dengan delegitimasi. arena perjuangan. Dengan ironi. tanpa harus mencantolkan diri pada status-status khusus dari kebenaran-kebenaran absolut. Baginya rasio hanyalah salah satu cara untuk menanggapi situasi zaman saat itu. prinsip lain yakni disensus menjadi lebih bisa diterima ketimbang prinsip konsensus seperti ditawarkan Juergen Habermas. melainkan paralog (para: beragam. hukum sejarah linear. Menggarisbawahi sifat transformatif masyarakat komputerisasi yang lebih terbuka. yang memiliki logika dan hak hidupnya sendiri. historis dan lokal (locally determined). Ironi juga berarti menjalani kehidupan tanpa dibebani oleh prinsip baku. Dalam masyarakat komputerisasi seperti ini. 1995: 161). Dengan titik perhatian yang berbeda namun sampai pada kesimpulan yang sama. logos. identitas tidak lagi mampu menggambarkan realitas. Foucault bersepakat bahwa Era Pencerahan adalah saat dimana rasio mendapatkan tempat istimewa dalam sejarah perkembangan kebudayaan.

jiwa/badan. kekuasaan adalah artefak material yang bisa dikuasai dan digunakan untuk mendominasi dan menekan kelas lain. Seorang filsuf lain yang mencoba menyingkap sifat paradoks modernisme adalah Jacques Derrida. yang pinggiran. pemihakannya terhadap persoalan-persoalan yang selama ini ditindas oleh rasionalitas modern. pengakuan dan penguasaan diri (Ahmad Sahal. the others. Ia menyebar dan hadir di mana-mana. pabrik. Dalam logosentrisme. normalisasi dan regulasi. namun sebenarnya palsu. mandiri dan mampu menentukan dirinya sendiri. marjinal dan dikucilkan agar lebih didengar dan diperhatikan. salah satu ciri yang menonjol adalah cara berpikir oposisi biner yang bersifat hierarkis (esensi/eksistensi. Bagi kaum Weberian. Foucault memberikan dua sumbangan besar terhadap postmodernisme. Lebih jauh ia menyingkapkan bahwa narasi-narasi besar modernisme hanyalah mistifikasi yang bersifat ideologis dan semu. yang universal. substansi/aksidensi. Kekuasaan adalah label nominal bagi relasi strategis yang kompleks dalam masyarakat. penjara. orang gila dan para kriminal menjadi titik perhatian utama selama karir kefilsafatannya. menolak pandangan para filsuf Pencerahan yang mengatakan bahwa manusia adalah subjek otonom. sekolah. harus . Dengan upaya ini. Cara berpikir ini mendorong sejarah filsafat Barat cenderung bersifat totaliter karena menganggap bahwa yang bukan pusat. Sebaliknya menurut Foucault. positif/negatif. makna/bentuk. ketimbang berusaha mengimami gagasan besar yang cenderung manipulatif. kekuasaan adalah kemampuan subjektif untuk mempengaruhi orang lain. konsep/metafor) dengan anggapan bahwa yang pertama adalah pusat. Melalui Derrida terbongkar karakter kekerasan dan teror yang disebar oleh modernisme semenjak diuarkannya prinsip logosentrisme. Tema-tema seperti rumah sakit. barak-barak tentara. Sementara bagi kaum Marxian. yang lain. institusi atau struktur yang bersifat menundukkan. dengan narasi besar yang monolog: rasionalitas. Ia misalnya. Foucault lebih memilih untuk menyibuki persoalan-persoalan kecil dan lokal yang seringkali tak jamak dibicarakan. pasien. dimiliki oleh siapa saja. 1994: 16-17). pinggiran. keberhasilannya menyingkap mitos-mitos modernisme yang menampilkan dirinya sebagai kebenaran absolut. tersisih. Kekuasaan dalam pandangan Foucault ini berbeda sama sekali dengan yang dipahami oleh kaum Weberian dan Marxian.bahwa sejarah modernitas bukanlah sejarah tunggal. Kedua. lisan/tulisan. manusia modern sebagai subjek ataupun objek sebenarnya tidak lebih dari individu yang lahir dan diciptakan oleh multiplisitas kekuasaan melalui disiplin. kekuasaan bukanlah kekuatan. Untuk itu. Pertama. seks. Menurut Foucault. sedang yang kedua adalah derivasi. transenden/imanen.

disubordinasikan ke dalamnya. Mencermati hal itu. . dan antara keseriusan dan permainan. Implikasinya adalah mulai melumernya batas-batas antara konsep dan metafor. ia harus berusaha keras untuk mencapai cita-citanya dengan berkali-kali gagal memperoleh agregation de philosophie. Meskipun untuk itu. Ia mengambil pilihan itu bukan tanpa tujuan. Perancis Barat. Dekonstruksi adalah strategi untuk memeriksa sejauh mana struktur-struktur yang terbentuk hendak dimapankan batas-batasnya dan ditunggalkan pengertiannya. Jean Baudrillard dan Beberapa Karyanya Salah seorang pemikir postmodernisme yang menaruh perhatian besar pada persoalan kebudayaan dalam masyarakat kontemporer adalah Jean Baudrillard. pada 5 Januari 1929. Derrida lantas melakukan strategi dekonstruksi terhadap cara berpikir oposisi biner. antara filsafat dan puisi. Ia adalah orang pertama dalam keluarganya yang bekerja sebagai ilmuwan secara serius. Bersama saudarasaudaranya yang lain Baudrillard hidup dalam tradisi keluarga petani urban yang sederhana. yakni melalui pembalikan hierarki oposisi biner secara terusmenerus (Ahmad Sahal. Jean Baudrillard dilahirkan di kota Riems. antara kebenaran dan fiksi. Keluarganya bukanlah keluarga berpendidikan. Melalui dekonstruksi Derrida mencoba meletakkan kembali kedudukan struktur dalam keadaan asalinya. yakni keadaan dimana relasi antara pusat dan pinggiran belum lagi mengeras. Baudrillard lebih memilih kebudayaan sebagai medan pengkajian. Baudrillard ingin mengungkapkan transformasi dan pergeseran yang terjadi dalam struktur masyarakat Barat dewasa ini yang disebutnya sebagai masyarakat simulasi dan hiperrealitas. Ia sempat mengalami masa kejayaan dan kebangkrutan Fasisme. Agak berbeda dengan filsuf-filsuf postmodernisme lainnya yang memusatkan diri pada metafisika dan epistemologi. 1994: 21). Kedua orang tuanya berasal dari keluarga petani yang kemudian pindah ke kota Paris dan bekerja sebagai pegawai di Dinas Pelayanan Masyarakat. C. Dengan dekonstruksi hendak dimunculkan kembali dimensidimensi metaforis dan figuratif dari bahasa yang menjadi pembentuk realitas. Dengannya diinginkan pluralitas dan heterogenitas kehidupan yang membeku dan tertindas selama masa modernisme kembali terhampar.

Ia mengadopsi pendapat Mauss dan Bataille bahwa dalam institusi semacam Kula dan Potlach dalam masyarakat primitif. Selain dari Marx. secara jelas juga menunjukkan kekritisannya terhadap gagasan Marx mengenai nilai-guna dan nilai-tukar. Setelah setahun mengajar di Universitas Nanterre. Marcel Mauss seorang antropolog strukturalis mengenai gift atau pemberian. Baudrillard mengambil alih pemikiran Barthes mengenai semiologi. Ia masih meminjam dan mempergunakan beberapa istilah strukturalis dalam pemikirannya.Pada tahun 1966 Baudrillard menyelesaikan tesis sosiologinya di Universitas Nanterre di bawah bimbingan Henry Lefebvre. Selama menjadi mahasiswa. Ia juga banyak dipengaruhi oleh para pemikir strukturalis. dan Georges Bataille mengenai (Lechte. Bersepakat dengan dua pemikir terakhir. Baudrillard aktif dalam organisasi mahasiswa Sosialis dan mengakui sebagai pengikut Marxisme. 1994: 233). Pada tahun 1968 ia mulai menulis buku The Object System yang sangat dipengaruhi oleh karya Barthes The Fashion System (1967) Dalam buku itu yang belum terlihat minatnya secara serius terhadap persoalan kebudayaan postmodern saat itu Baudrillard mencoba mengadopsi metode semiologi Barthes untuk membongkar hubungan dan mistifikasi objek-subjek dalam realitas masyarakat modern. Karya-karya terjemahannya tentang Bertolt Brecht dan Arnold Weiss yang banyak dipengaruhi Marx. Baudrillard tidak menolak sama sekali strukturalisme. Sedikit berbeda dengan Lefebvre. selanjutnya Baudrillard bergabung dengan Roland Barthes mengajar di Ecole des Hautes Etudes. sebuah buku yang membahas struktur komunikasi tanda dalam masyarakat Barat dewasa ini. Ia mulai terpengaruh pemikiran Barthes. 1993: 68). Ia mencoba menggabungkan pemikiran Marx dengan strukturalisme Perancis. Ia lulus dengan membawa kebanggaan besar bagi keluarganya. Semenjak berada di sanalah Baudrillard mulai aktif menulis disamping sibuk berpartisipasi dalam praksis gerakan sosialisme Perancis. selain tentu saja pemikiran Karl Marx. Inilah prinsip yang . seorang anti-strukturalis Perancis kondang saat itu. Setahun setelah lulus. ia kemudian masuk ke Universitas Nanterre. menunjukkan bahwa ia adalah seorang penganut sekaligus kritikus brillian terhadap pemikiran Karl Marx. kebiasaan memberi sesuatu dan membelanjakan sesuatu ternyata didasarkan pada prestise dan kebanggaan simbolik. Setahun berikutnya ia menulis buku Communications (1969). Tulisan-tulisan awal Baudrillard di majalah Calvino dan Les Temps Modernes milik Jean Paul Sartre. expenditure atau belanjaan Baudrillard menolak prinsip nilai-guna dan nilai-tukar Marx dan menyatakan bahwa aktivitas konsumsi manusia pada dasarnya merupakan aktivitas non-utilitarian (Baudrillard. bukan pada kegunaan. untuk mengajar disana.

Nama Jean Baudrillard mulai dikenal luas dalam diskursus filsafat kontemporer ketika tulisannya The Mirror of Production (1975) dipublikasikan di Amerika. Bersamaan dengan itu. Dalam karyanya ini Baudrillard mengkritik prinsip nilai-guna dan nilai-tukar Marx yang dianggapnya sudah tidak relevan lagi digunakan sebagai kerangka memandang realitas masyarakat dewasa ini. kedua tanda tersebut saling menumpuk dan berjalin kelindan membentuk satu kesatuan. yang semu. Lebih jauh. Dengan gaya menulisnya yang khas dan orisinal deklaratif. dan mana yang palsu. Ia banyak diundang berceramah di dalam maupun di luar negeri. aforistik. nihilis. Tahun-tahun berikutnya nama dan gagasan Baudrillard semakin bersinar. yakni dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak. Nilai tanda (sign-value) dan nilai-simbol(symbolic-value) telah menggantikan nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value). skeptis. karyanya For a Critique of The Political Economy of The Sign (1981) diterbitkan oleh Telos Press. kecuali simulacra itu sendiri. perhatian terhadap tema postmodernisme semakin besar.kini semakin transparan berlangsung dalam aktivitas konsumsi masyarakat dewasa ini. fatalis. yang real. Menurutnya. citra dan kode. Tahun 1983. Baudrillard kemudian mengajukan prinsip nilai-tanda dan nilai-simbol sebagai kerangka membaca realitas dewasa ini yang ditegakkan oleh konsumsi dan reproduksi. serta tanda semu (citra) yang tercipta melalui proses reproduksi. Kesatuan inilah yang disebut Baudrillard sebagai simulacra atau simulacrum. karya magnum opus-nya. Realitas tak lagi punya refernsi. namun tajam dan cerdas karya-karyanya segera memiliki arti tersendiri. kebudayaan Barat dewasa ini adalah sebuah representasi dari dunia simulasi. fakta. Simulations (1983). termasuk Baudrillard. Dalam kebudayaan simulasi. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta) yang tercipta melalui proses produksi. diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris. dan mendorong minat terhadap pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh postmodernisme. tanpa referensi relasional yang jelas. serta menulis di berbagai media. Semuanya menjadi bagian realitas yang dijalani dan dihidupi masyarakat Barat dewasa ini. hiperbolik. Enam tahun berikutnya. sebuah dunia yang terbangun dari sengkarut nilai. Karya-karyanya pun semakin banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Tidak dapat lagi dikenali mana yang asli. misalnya di surat kabar Liberation yang secara berkala memuat tulisannya. tanda. . Dalam buku yang segera menjadi klasik ini. Baudrillard mengintrodusir sebuah karakter khas kebudayaan masyarakat Barat dewasa ini.

America (1989). oleh penerbit Semiotext. The Evil Demon of Images (1987). dimana realitas asli dikalahkan oleh realitas buatan. Simulacra and Simulacrum (1989). kebaruan. Inilah era hiperrealitas. The Transparency of Evil (1992). Baudrillard juga kerap menulis artikel di berbagai jurnal ilmiah baik yang berbahasa Perancis maupun Inggris dan media massa umum. Revenge of Crystal (1990). ekstasi kekerasan (teror). Baudrillard menyatakan bahwa dalam wacana simulasi realitas yang sesungguhnya (fakta) tidak hanya bercampur dengan realitas semu (citra). Sementara melalui karyanya The Ecstasy of Communication (1987). Selected Interviews (1993) oleh Routledge. Selected Writing (1989) oleh Cambridge Press. . Jean Baudrillard: From Marxisme to Postmodernism and Beyond (1989) oleh Cambridge Press. terbit karyanya. Symbolic Exchange and Death (1993). Karya-karya utamanya yang lain kemudian berturut-turut diterbitkan seperti: Forget Foucault (1987). Fatal Strategies (1990). ekstasi tubuh (kegemukan). hampir seluruh dimensi kehidupan masyarakat Barat dituntun oleh logika ekonomi kapitalis yang menawarkan keterbukaan. Seduction (1990). Dengan menganalisa masyarakat dan kebudayaan Amerika. Lebih jauh. dan ekstasi informasi (simulasi) (Baudrillard. Baudrillard menyatakan bahwa dengan transparansi makna dan informasi. Cool Memories II (1991). dalam edisi bahasa Inggris. 1987: 82). Sementara itu tanggapan serius terhadap pemikiran-pemikiran Baudrillard pun semakin besar dengan ditandai oleh terbitnya buku-buku kajian kritis seperti: Baudrillard Live. Cool Memories (1990). Tahun 1989. citra lebih dipercaya ketimbang fakta. serta Baudrillard Reader (1993) oleh Routledge. Selain menulis buku.Pada tahun ini juga diterbitkan In The Shadow of Silent Majorities (1983). Dalam karyanya tersebut. Baudrillard mengembangkan gagasannya tentang masyarakat hiperrealitas. Dalam keadaan demikian. yang merupakan kelanjutan karya monumentalnya Simulations (1983). Saat ini. Baudrillard and Culture (1991) oleh Routledge. ekstasi seks (kecabulan). kearifan dan kesederhanaan. mode dan penampilan menjadi nilai baru yang menggantikan nilai kebijaksanaan. Ia sering mengisi kolom di surat kabar harian Liberation dan Guardian. serta The Illusion of The End (1994). perubahan dan percepatan konstan. masyarakat Barat dewasa ini telah melampaui ambang batas menuju keadaan permanent ecstasy: ekstasi sosial (massa). serta menulis di jurnal-jurnal semisal Spring. Baudrillard: Critical and Fatal Theory (1991) oleh Routledge. namun bahkan telah dikalahkan oleh citra. Baudrillards Bestiary. persoalan gaya hidup.

produksi menjadi faktor dominan yang membentuk pasar kapitalisme kompetitif. Art and Text. Bila dalam era kapitalisme awal. On The Beach. kini . kedudukan dominan faktor konsumsi bahkan tidak hanya dalam kawasan ekonomi. jurnal milik filsuf eksistensialis Perancis Jean Paul Sartre. signs ? Is that all you have to say (Tanda. maka dalam era kapitalisme lanjut.October. Nilai Tanda dan Nilai Simbol Signs. Calvino serta Les Temps Modernes. New Literary History. Sejak tahun 1960-an. konsumsi adalah determinan pasar kapitalisme yang juga berubah semakin bersifat monopoli. Kebudayaan Postmodern Jean Baudrillard A. tanda ? Apakah cuma itu yang ingin kau katakan ?) Perkembangan kapitalisme lanjut semenjak tahun 1920-an menunjukkan perubahan dramatis karakter produksi dan konsumsi dalam masyarakat konsumer. Lebih dari era-era sebelumnya.

Nilai-tanda dan nilai-simbol. Namun sebelum sampai kesana. pemikiran Mauss dan Bataille tentang sifat non-utilitarian aktivitas konsumsi manusia. Namun lebih dari itu ia kini menandakan status. Dalam masyarakat konsumer. teknologi kemasan. The System of Fashion (1967) Baudrillard menyatakan bahwa di bawah kejayaan era kapitalisme lanjut. ekspresi gaya dan gaya hidup.konsumsi menjadi motif utama dan penggerak realitas sosial. Dalam bukunya For a Critique of The Political Economy of The Sign (1981). 1994: 3). untuk menyatakan bahwa konsep nilai-guna dan nilai-tukar yang disarankan Marx. Melalui objek-objek atau komoditi-komoditi itulah seseorang dalam masyarakat konsumer menemukan makna dan eksistensi dirinya. yang menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan. yakni objek konsumsi yang berupa komoditi. Pergeseran nilai yang terjadi seiring dengan perubahan karakter masyarakat postmodern inilah yang kemudian menarik perhatian Baudrillard untuk mengkajinya secara lebih mendalam. segala upaya ditujukan pada penciptaan dan peningkatan kapasitas konsumsi melalui pemassalan produk. yang berupa status. prestise. prestise dan kehormatan (nilai-tanda dan nilai-simbol). Dalam bukunya yang pertama yang terinspirasi oleh buku Roland Barthes. objek-objek konsumsi yang berupa komoditi tidak lagi sekedar memiliki manfaat (nilai-guna) dan harga (nilai-tukar) seperti dijelaskan Marx. yang merupakan judul buku Baudrillard. Konsumsi inilah yang kemudian menjadikan seluruh aspek kehidupan tak lebih sebagai objek. pameran. Inilah awal lahirnya masyarakat konsumer. media massa dan shopping mall merupakan ujung tombak strategi baru era konsumsi. kini telah digantikan oleh nilai-tanda dan nilai-simbol. budaya bahkan politik (Kellner. Baudrillard menggabungkan semiologi Barthes. Iklan. diferensiasi produk dan manajemen pemasaran. mode of production kini telah digantikan oleh mode of consumption (Bertens. adalah sebuah sistem klasifikasi yang membentuk makna dalam kehidupan masyarakat kapitalisme lanjut. Sistem-sistem objek. Dalam era ini. Baudrillard terlebih dahulu mengkaji kondisi masyarakat Barat yang tengah memasuki era masyarakat konsumer. fungsi utama objek-objek konsumer . dengan hasrat selalu dan selalu mengkonsumsi. serta konsep the society of spectacle Guy Debord. Baudrillard memulai proyek genealogi masyarakat konsumer ini dengan dua bukunya yang pertama. Menurut Baudrillard. kemewahan dan kehormatan adalah motif utama aktivitas konsumsi masyarakat konsumer. masyarakat yang dibentuk dan dihidupi oleh konsumsi. 1995: 146). The System of Objects (1968) dan Consumer Society (1970). pemikiran ekonomi politik Marx.

status dan identitas melalui sebuah mekanisme penandaan. yang kemudian tampil sebagai fenomena perubahan dari yang Alamiah (nature) menjadi produk Budaya (culture). is precisely the generalized reorganization of this primary level in a system of signs which appears to be a particular mode of transition from nature to culture. Sambil menyanggah pendapat Galbraith yang menyatakan bahwa manusia adalah homo psychoeconomicus. melainkan lebih pada fungsi sebagai nilai- tanda atau nilai-simbol yang disebarluaskan melalui iklan-iklan gaya hidup berbagai media (Baudrillard. Dengan pernyataan ini Baudrillard samasekali tidak bermaksud menafikan pentingnya kebutuhan. Selanjutnya dalam Consumer Society (1970). perhaps the specific mode of our era (Baudrillard. 1969: 19). Apa yang kita beli. prestise. (Apa yang secara sosiologis penting bagi kita. 1970: 47). Ia hanya ingin mengatakan bahwa dalam masyarakat konsumer. 1970: 29). sebenarnya adalah sebuah fenomena umum tentang pengaturan kembali faktor konsumsi sebagai aspek primer dalam suatu sistem penandaan. dan bukan karena kebutuhan atau hasrat mendapat kenikmatan (Baudrillard. and what marks our era under the sign of consumption.bukanlah pada kegunaan atau manfaatnya. kelas dan prestise tertentu adalah maknamakna yang jamak ditanamkan ke dalam objek-objek konsumsi. Dengan kata lain. konsumsi sebagai sistem pemaknaan tidak lagi diatur oleh faktor kebutuhan atau hasrat mendapat kenikmatan. dan apa yang menjadi tanda zaman bahwa kita tengah berada dalam era konsumsi. yang mungkin merupakan wajah khas zaman kita sekarang). Baudrillard menyatakan bahwa mekanisme sistem konsumsi pada dasarnya berangkat dari sistem nilai-tanda dan nilai-simbol. Tema-tema gaya hidup tertentu. yang membedakan pilihan pribadi orang yang satu dengan yang lainnya. . tidak lebih dari tanda-tanda yang ditanamkan ke dalam objek-objek konsumsi. konsumsi kini telah menjadi faktor fundamental dalam ekologi spesies manusia (Baudrillard. objek-objek konsumsi kini telah menjelma menjadi seperangkat sistem klasifikasi status. Baudrillard mengembangkan lebih jauh gagasannya tentang kedudukan konsumsi dalam masyarakat konsumer. namun oleh seperangkat hasrat untuk mendapat kehormatan. Dalam bukunya Baudrillard menjelaskan: What is sociologically significant for us. prestise bahkan tingkah laku masyarakat. Menurutnya. 1970: 47).

Pemikiran tentang fenomena masyarakat konsumer dan kemenangan nilai-tanda serta nilai-simbol ini selanjutnya mencapai titik kematangannya pada For a Critique of the Political Economy of the Sign (1981). Berdasarkan manfaatnya. Dalam bukunya ini Baudrillard memisahkan diri dari Marx dengan menyatakan bahwa dalam masyarakat konsumer dewasa ini. which occurred throughout the nineteenth century (Baudrillard. We dont realize. yang berlangsung pada abad kesembilan belas). Individu menerima identitas mereka dalam hubungannya dengan orang lain bukan dari siapa dan apa yang dilakukannya. bersamaan dengan perubahan prinsip masyarakat feodal menuju masyarakat kapitalis. dari proses indoktrinasi masyarakat pedesaan sebagai buruh-buruh industri. (Kita tidak menyadari bagaimana proses indoktrinasi konsumsi yang sistematik dan terorganisir di abad keduapuluh ini sebenarnya adalah sama dan sekaligus merupakan perluasan. sebagaimana disarankan Marx. setiap objek dianggap memiliki manfaat atau kegunaan bagi kepentingan manusia. of the great indoctrination of rural populations into industrial labor. muncul konsep komoditi yang merupakan konsekuensi logis dominannya logika produksi dalam era kapitalisme. Dalam masyarakat konsumer. adalah era kejayaan nilai-tanda dan nilai-simbol yang ditopang oleh meledaknya makna serta citra oleh perkembangan teknologi dan media massa (Lechte. nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value). Kini. in the twentieth century. tanda adalah cerminan aktualisasi diri individu paling meyakinkan. namun dari tanda dan makna yang mereka konsumsi. . Nilaiguna. miliki dan tampilkan dalam interaksi sosial. how much of the current indoctrination into systematic and organized consumption is the equivalent and the extension.Lebih lanjut Baudrillard menyatakan. Masyarakat konsumer yang berkembang saat ini adalah masyarakat yang menjalankan logika sosial konsumsi. menurut Baudrillard. 1994: 234). Melainkan lebih kepada produksi dan manipulasi penanda-penanda sosial. dimana kegunaan dan pelayanan bukanlah motif terakhir tindakan konsumsi. Komoditi adalah objek produksi yang didalamnya memuat dua nilai dasar yakni. adalah nilai yang secara alamiah terdapat dalam setiap objek. 1970: 50). menurut Marx. sudah tidak bisa lagi digunakan sebagai sarana analisa kondisi sosial masyarakat. nilai-guna dan nilai-tukar. Mengacu Marx.

lahir nilai baru yang menyertai konsep komoditi. that am I. Bahwa apa yang bisa saya miliki dengan sarana uang. which money can buy. maka uang sebagai alat tukar pun semakin mendapat tempat penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat kapitalis. Bertambah besarnya kekuasaan uang adalah bertambah besarnya kekuasaan saya. Nilai tukar adalah nilai yang diberikan kepada objek-objek produksi berdasarkan ukuran nilai-gunanya. yang memiliki kedua nilai dasar tersebut. one can possess various human qualities. 1994: 43). The extent of the power of money is the extent of my power. saya bisa bayar. Dengan kata lain. uang adalah tujuan akhir dengan komoditi sebagai sarananya (Kellner. That which exists for me through the medium of money. bukan tidak mungkin memiliki nilai-tukar yang sama dengan sebuah mobil. Sementara itu seiring dengan perkembangan struktur masyarakat feodal menuju masyarakat kapitalis. itulah saya. meskipun keduanya barangkali memiliki nilai-guna yang berbeda (Lechte. dan uang bisa membelinya. budaya dan politik masyarakat feodal. si pemilik uang tersebut. Seekor sapi misalnya. Uang menjadi bahasa baru yang membentuk dan memberi makna realitas. 1994:235). With money. seperti yang dikutip Kellner. Dalam bahasa Marx. tidak mustahil memiliki nilai-tukar yang sama.Nilai-guna menjadi prinsip interaksi sosial. Moneys properties are my properties and essential powers the properties and powers of its possessor (Kellner. Dengan konsep komoditi. 1994: 44) (Dengan uang. that which I can pay for. uang hanyalah sarana tukar pemenuhan kebutuhan. menurut Marx. Dengan uang misalnya. Perkembangan kapitalisme lanjut kemudian menempatkan kedudukan uang (sebagai alat tukar) sebagai satu-satunya sarana penilaian komoditi yang bersifat independen. seseorang dapat membeli dan memiliki berbagai kualitas hidup manusia yang diinginkannya. Dan komoditi diciptakan bukan untuk nilai-gunanya. the possessor of money. Apa yang bisa dimiliki uang adalah milik dan kekuasaan utama saya si pemilik uang). Dalam masyarakat kapitalis. melainkan demi nilai tukar yang berupa uang. nilai-tukar menjadi lebih penting dibanding nilai-guna. Marx menyatakan bahwa bila dalam era kapitalisme awal. maka dalam era kapitalisme lanjut. seseorang dapat memiliki berbagai kualitas hidup manusia. yakni nilai-tukar. Dengan hadirnya konsep komoditi. barang yang memiliki manfaat berbeda. setiap objek adalah komoditi. Lebih jauh. . ekonomi.

iklan dan fashion misalnya. Dengan tontonan komoditi ditampilkan secara lebih halus dan menyenangkan. dalam masyarakat tontonan. selanjutnya Guy Debord mencoba membaca realitas masyarakat dewasa ini. (Maka siapa saya dan apa keahlian saya tidaklah ditentukan oleh individualitas saya. dimana tindakan-tindakan kreatif direduksi sekedar menjadi . for the effect of ugliness its determinant power is nullified by money. Segala sesuatu yang anda tidak dapat lakukan. but I can buy for myself the most beautiful of women. Masyarakat tontonan adalah masyarakat yang hampir di segala aspek kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan. politik bahkan agama dikemas sebagai tontonan pula. what money cannot do. Saya bertampang jelek. maka benda pulalah (uang) yang akan menggantikan kekuasaan manusia. Berangkat dari kerangka analisa komoditi Marx ini. namun dalam bentuknya yang lebih sublim dan abstrak. And conversely. Tontonan memanipulasi dan mengeksploitasi nilai-guna dan kebutuhan manusia sebagai sarana memperbesar keuntungan dan kontrol ideologis atas manusia. seemingly cannot be done (Kellner. what I am and am capable of is by no means determined by my individuality.Thus. Therefore. Tontonan adalah juga komoditi. All the things which you cannot do. karena efek kejelekan tersebut sebagai faktor determinan telah dihapuskan oleh uang. I am ugly. adalah aparat-aparat ideologis masyarakat tontonan yang paling representatif. I am not ugly. uang anda bisa melakukannya. Bersama kelompoknya Situasionist International Debord menyatakan bahwa telah terjadi pergeseran dalam struktur sosial masyarakat. segala sesuatu kebudayaan. dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup. 1994: 45). maka ia juga tidak dapat dilakukan). olahraga. namun saya bisa membeli wanita tercantik yang saya inginkan. apa yang uang tidak dapat melakukannya. Uang sebagai ukuran nilai-tukar adalah segala-galanya. Televisi. Dalam masyarakat dimana manusia telah berubah menjadi benda. pendidikan. Guy Debord menjelaskan bahwa jika Marx menyatakan adanya degradasi prinsip ada (being) menjadi memiliki (having). Saya kini tidak lagi jelek. dari masyarakat komoditi (commodity society) ke masyarakat tontonan (society of spectacle). Marx hendak menyatakan bahwa nilai-tukar (exchangevalue) kini telah mengalahkan nilai-guna (use-value). Dan sebaliknya. Lebih jauh. In a society where human beings powers. Dengan penjelasan demikian. your money can do.

Dan nilai-tukar memiliki kesamaan dengan penanda (signifier). Sementara semiologi memandang tanda terdiri dari penanda (signifier) dan petanda (signified). adalah juga berarti kejayaan penanda (signifier) atas petanda (signified). Kejayaan nilai-tukar ini. Dengan menambahkan semiologi sebagai pisau analisa baru. mutlak membutuhkan sistem penanda sebagai prinsip pendukungnya. Bagi Baudrillard. sementara perasaan direduksi sekedar menjadi sifat tamak. merujuk Marx. Baudrillard mencoba menunjukkan bahwa telah lahir nilai baru . yakni nilai-tanda (sign-value) dan nilai-simbol (symbolic-value) dalam struktur masyarakat dewasa ini. sebagai nilai yang ditanamkan di dalam objekobjek (Kellner. Baudrillard menyatakan terdapat kesamaan diantara keduanya. Lebih jauh bahkan menurut Debord. Dalam perkembangan kapitalisme lanjut. seperti dijelaskan Marx. Baudrillard menarik garis lebih jauh pemikiran kedua tokoh pendahulunya tersebut. maka kini telah terjadi degradasi dari prinsip memiliki (having) menjadi penampakan (appearing).hasrat kepemilikan atas objek-objek. memiliki nilai-guna dan nilai-tukar. dimana tanda dan citra mengambil peran penting untuk membentuk struktur dunia. 1994: 48). 1994: 78). penanda telah tampil sebagai elemen independen dalam bentuk tontonan. Keduanya merupakan nilai yang terdapat di dalam objek. Dalam kata-kata Debord sendiri . the spectacle is affirmation of appearance and affirmation of all human life. Considered in its own terms. as mere appearance (Kellner. Dalam masyarakat yang mengedepankan penampakan ketimbang kedalaman maka segala sesuatu ditampilkan sebagai citra-citra yang bahkan nampak lebih real dibanding realitas sebenarnya. nilai-guna memiliki kesamaan dengan petanda (signified). segala sesuatu dalam realitas masyarakat dewasa ini berfungsi sebagai nilai-tukar untuk memperoleh keuntungan. Tontonan yang mengedepankan penampakan. Dengan membandingkan konsep komoditi Marx dan konsep penandaan Saussure. Dengan prinsip ini segala sesuatu direduksi sekedar menjadi tanda dan citra-citra penampakan. namely social life. sejalan dengan pemikiran semiologi. Penampakan yang berupa tontonan adalah ciri dominan era ini (Kellner. 1994 50) . nilai-tukar kemudian mendominasi nilai-guna. Inilah awal lahirnya masyarakat hiperrealitas. Komoditi. Melalui komoditi dan uang.

nilai-guna dan pekerja hanyalah jalan sejarah menuju kondisi semiurgi radikal yang bertujuan menghilangkan konsep masyarakat dan realitas. Menurut Marx. kini telah digantikan oleh nilai tanda. di era masyarakat konsumer. dalam masyarakat konsumer yang mengkonsumsi tanda. Dalam dunia penampakan tanda menjadi prinsip utama realitas. Baudrillard menerima pendapat bahwa aktivitas konsumsi pada dasarnya bukan dilakukan karena alasan kebutuhan. All the repressive and reductive strategies of power systems are already present in the internal logic of the sign (Baudrillard. Dengan latar belakang demikian. 1981: 70). Komoditi. status dan prestise. nilai-simbol menjadi motif utama aktivitas konsumsi. dan bukan karena harga atau manfaatnya (Lechte. Objek komoditi dibeli karena makna simbolik yang ada di dalamnya. kini tak lebih dari permainan tanda-tanda. Dengan merujuk Marcel Mauss. (Dunia referensial komoditi kebutuhan. Lebih jauh. their displacement through structural codes and signs. use-value and labor was only a historical passageway of a radical semiurgy which aims at the liquidation of society and the real. kemewahan dan status sosial pemiliknya. Masyarakat feodal. prestise. masyarakat kapitalis dan masyarakat komunis. Komoditi diperjualbelikan karena makna yang ditanamkan di dalamnya. Sejalan dengan pemikirannya tentang perubahan prinsip dari nilai-guna dan nilai-tukar ke nilai-tanda dan nilai-simbol. bukan karena manfaat atau kegunaannya. Kelahiran nilai-tanda selanjutnya diikuti oleh nilai simbol. 1994: 236). Baudrillard kemudian mengubah pula periodisasi sejarah masyarakat yang dibuat Marx. yakni masyarakat feodal. merujuk . Dalam ungkapan Baudrillard . Baudrillard menyatakan bahwa nilai-guna dan nilai-tukar. dinilai bukan karena manfaatnya sebagai alat transportasi atau harganya yang mahal. The referential world of the commodity needs. seperti dijelaskan Marx. terdapat tiga tahap struktur masyarakat. melainkan karena ia menjadi simbol gaya hidup.(Berdasarkan pengertiannya. yakni kehidupan sosial. tontonan berarti pengakuan akan penampakan dan pengakuan terhadap seluruh aspek kehidupan manusia. Semua strategi sistem kekuasaan yang represif dan reduktif kini tampil dalam lingkaran logika tanda). namun lebih kepada alasan simbolis: kehormatan. dan menuju susunan kode-kode dan tanda-tanda. sebagai sekedar penampakan belaka). Sebuah mobil Porsche atau BMW misalnya.

lahir elemen tanda yang beroperasi masih dalam lingkup yang terbatas. Berangkat dari kerangka ini. masyarakat primitif ditandai dengan tidak adanya elemen tanda dalam interaksi seluruh aspek kehidupan masyarakatnya. terbentuklah masyarakat massa. B. yakni masyarakat komunis. Individu dalam masyarakat massa berperan sebagai konsumen tanda tanpa memiliki status kelas tertentu. 1993: 122). Dalam masyarakat feodal beroperasi prinsip Kesatuan berbagai unsur kehidupan. adalah konstruksi masyarakat yang berlangsung semenjak zaman Yunani hingga Renaisans. Menurut Baudrillard. Objek dipahami secara murni dan alamiah berdasarkan kegunaannya. Baudrillard memanfaatkan semiologi sebagai alat analisa. adalah masyarakat yang tidak lagi mengenal kelas. Akhirnya. Berbeda dengan Marx yang mempergunakan pisau analisa ekonomi politik. pada tahapnya yang tertinggi. Dalam era ini belum terbentuk pembagian kerja dan kelas berdasarkan struktur produksi masyarakat. Simulacra/Simulacrum dan Simulasi All that is solid melts into air (Karl Marx) All that is solid melts into glass (Charles Jencks) All that is real becomes simulation (Jean Baudrillard) . masyarakat hierarkis dan masyarakat massa (Lechte. Tanda juga mulai menggantikan kedudukan objek murni. konflik berkepanjangan antara kelas kapitalis dan proletar ini pada akhirnya akan menimbulkan krisis yang memungkinkan terjadinya revolusi menuju era masyarakat baru. kecuali komune-komune dengan kedudukan yang sama. menurut Marx. Masyarakat komunis. Selanjutnya dalam masyarakat hierarkis. Tanda dipahami sebagai makna yang ditanamkan oleh segolongan kelas kepada kelas yang lain. Dalam masyarakat yang diidealkan oleh Marx inilah diharapkan tercapai kesejahteraan dan kebahagiaan yang sejati (Harun Hadiwijono. Dalam masyarakat massa. kecuali objek tanda. Masyarakat kapitalis melahirkan dua kelas besar yakni kelas kapitalis (pemilik) dan kelas proletar (buruh) yang senantiasa berada dalam situasi konflik. dengan seluruh alat produksi dikuasai oleh masyarakat yang diwakili oleh negara.Marx. yang kini memiliki nilai-tukar. mulai terjadi pembagian kerja dan kelas bersamaan dengan munculnya konsep hak milik. Menurut Marx. Baudrillard mengajukan periodisasi perubahan struktur masyarakat. yakni dari masyarakat primitif. 1994: 238). Selanjutnya dalam era masyarakat kapitalis. tanda mendominasi seluruh aspek kehidupan. Tidak ada lagi objek murni.

realitas kini dapat dibuat. realitas simulasi ini. fetishism commodity Marx. Ketika media elektronik televisi ditemukan dalam sekejab terjadi sebuah revolusi kesadaran tentang dunia yang mengecil. Ia berucap tentang sebuah kekecewaan zaman. tapi bahkan realitas itu sendiri. segala sesuatu berita politik. bencana alam. Dengan mengambil alih dan mengembangkan gagasan para pendahulunya: semiologi Saussure. Di dalam layar kaca televisi. dan yang utama adalah uang. Dalam realitas buatan. Dunia inilah yang menggantikan peran komoditi tradisional Marx. Semua yang padat melebur dalam layar kaca. nilai moral. Tak ada lagi kekudusan. Ketika demi nilai-tukar segala sesuatu harus dikorbankan. Marx pernah berbicara tentang betapa semua yang padat segera menguap ke udara. menurut Baudrillard. bersilang-sengkarut. teori differance Derrida. segala sesuatu bercampur-baur. kerinduan terhadap makna luhur dan kedalaman. Kini. Lalu seiring dengan perkembangan zaman. direkayasa dan disimulasi. Dimensi ruang dilipat dalam sebuah kotak layar kaca. simulacrum dan simulasi.Semua yang nyata kini menjadi simulasi. Inilah dunia yang terbangun dari konsekuensi relasi . sebagai pusat gravitasi baru menawarkan kegembiraan. dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dahsyat. Semua yang beranjak memadat segera diubah kembali menjadi kepingan-kepingan objek barang dagangan demi uang. transendensi dan aura otentik yang tersisa. Baudrillard mencoba membaca karakter khas masyarakat Barat (Rojek. ketika segala sesuatu adalah komoditi. Tak ada lagi kekhusukan. dan mengubahnya. Baudrillard memaparkan kondisi sosial-budaya masyarakat Barat yang disebutnya tengah berada dalam dunia simulacra. direpresentasikan dan disebarluaskan. serta genealogy Foucault. ilmu dan teknologi. Melalui bukunya yang banyak menarik perhatian. tidak hanya nilai-nilai sublim dan luhur yang menguap. Maka tak ada lagi nilai-nilai sublim nilai religi. acara keagamaan dikemas dalam kerangka tontonan yang menghibur. Lebih jauh. opera sabun. Realitas-realitas buatan adalah ciri zaman ini. maka berubah pulalah arah angin peradaban. film telenovela. Ungkapan bernada hiperbolik tersebut barangkali merupakan satu-satunya cara untuk menggambarkan realitas masyarakat Barat dewasa ini seperti yang dikemukakan oleh Baudrillard. Televisi. Simulations (1983). sebuah tanda zaman tengah menjelangnya sebuah era kebudayaan baru: kebudayaan postmodern. kegairahan dan mimpi indah yang tak dialami Marx. 1993: 125). Dalam aras dunia seperti inilah kemudian Marshal Berman mengulang diktum Marx. Dua ratus tahun sebelumnya. mythologies Barthes. Realitas kini tidak sekedar dapat diceritakan.

sementara permainan tanda dan citra mendominasi hampir seluruh proses komunikasi manusia. era modern ditandai dengan logika produksi. segala sesuatu ditentukan oleh relasi tanda. Era kematian produksi. Dalam era postmodern. yang mengikuti teori semiologi Saussurean memiliki dua unsur. maka prinsip-prinsip modernisme pun tengah menghadapi saat-saat kematiannya. The end of linear discourse. era postmodern. Bersamaan dengan lahirnya era postmodern. dan sintakma linear serangkaian diskursus. The end of simultaneously of the dialectic of exchange value/use value which alone previously made possible capital accumulation and social production. dimana reproduksi (dengan teknologi informasi. Baudrillard mengumandangkan kematian modernisme dengan logika produksinya sebagai . The end of linear merchandising. yang ditandai dengan logika simulasi. Ungkapan Baudrillard ini sekaligus menandakan keyakinannya akan datangnya era baru.perkembangan ilmu dan teknologi. (Era kematian pekerja. Era kematian mekanisme perdagangan linear. and of a linear syntagma of cumulative discourse. konsumerisme. komunikasi dan industri pengetahuan) menggantikan prinsip produksi. Era kematian diskursus linear. Dalam bahasanya yang khas. yakni era postmodern. serta runtuhnya narasi-narasi besar modernisme. The end of political economy. Citra adalah . kejayaan kapitalisme lanjut. Era kematian era klasik imperium tanda. The end production of the classic era of the sign. 1983: 20). Era kematian era produksi). Tanda adalah segala sesuatu yang mengandung makna. prinsip simulasi menjadi panglima. Dalam masyarakat simulasi seperti ini. Era kematian dialektika penanda/petanda yang memproduksi akumulasi pengetahuan dan makna. Era kematian dialektika simultan antara nilai tukar/nilai guna yang memungkinkan proses akumulasi kapital dan produksi. Baudrillard menyatakan bahwa paradigma modernisme yang berdiri di atas logika produksi seperti disuarakan Marx kini sudah tidak relevan lagi. The end of the era of (Baudrillard. The end of the dialectic signifier / signified which permitted an accumulation of knowledge and meaning. menurut Baudrillard. maka kini tengah menjelang sebuah era baru. Jika era pra-modern ditandai dengan logika pertukaran simbolik (symbolic exchange). The end of production. Era kematian ekonomi politik. yakni penanda (bentuk) dan petanda (makna). citra dan kode. The end of labor.

1983: 54-56). Realitas simulacra memiliki tiga tingkatan periode historis. yakni simulacra Orde Pertama. mana hasil produksi dan mana hasil reproduksi. yang menjadi wacana dominan kesadaran masyarakat Barat dewasa ini. Identitas kini lebih ditentukan oleh konstruksi tanda. papar Baudrillard. hierarki alamiah serta bersifat transenden. Sementara kode adalah cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara sosial. semenjak era Renaisans hingga sekarang. untuk memungkinkan satu pesan dapat disampaikan dari seseorang kepada orang yang lain (Piliang. 1998: 13). 1998: 196). Dunia simulacra. ia adalah duplikasi dari duplikasi. identitas seseorang misalnya. sebenarnya telah ada semenjak era Renaisans. Dalam dunia simulasi. serta kode dimensi ruang dan waktu yang sama yang silang-sengkarut). Tanda-tanda yang diproduksi dalam orde ini adalah tanda-tanda yang mengutamakan integrasi antara fakta dan citra secara serasi dan seimbang. politik. tanda. Hal ini berkaitan erat dengan kehendak manusia zaman itu untuk . sosial dan budaya. realitas dunia dipahami berdasarkan prinsip hukum alam. Dalam ruang ini tidak dapat lagi dikenali mana yang asli dan mana yang palsu. baik nyata maupun semu. Ruang realitas kebudayaan dewasa ini. kesemuanya diatur oleh logika simulasi ini. Ruang simulacra ini memungkinkan seseorang menjelajahi berbagai fragmen realitas. berlangsung semenjak era Renaisans-Feodal hingga permulaan Revolusi Industri. menurut Baudrillard merupakan cerminan apa yang disebutnya sebagai simulacra atau simulacrum. citra dan kode yang membentuk cermin bagaimana seorang individu memahami diri mereka dan hubungannya dengan orang lain. sehingga perbedaan antara duplikasi dan yang asli menjadi kabur. merekayasa dan mensimulasi segala sesuatu sampai batasannya yang terjauh. realitas-realitas ekonomi. Simulacra tidak memiliki acuan. dimana kode dan model-model menentukan bagaimana seseorang harus bertindak dan memahami lingkungannya.segala sesuatu yang nampak oleh indera. mana objek dan mana subjek. fakta. simulacra Orde Kedua dan simulacra Orde Ketiga (Baudrillard. atau mana penanda dan mana petanda. mereproduksi. namun sebenarnya tidak memiliki eksistensi substansial. Dalam orde ini. tidak lagi ditentukan oleh dan dari dalam dirinya sendiri. keselarasan. Simulacra Orde Pertama. Alam menjadi pendukung utama sekaligus determinan kebudayaan. Simulacra adalah ruang realitas yang disarati oleh proses reduplikasi dan daur-ulang berbagai fragmen kehidupan yang berbeda (dalam wujud komoditas citra. Lebih lanjut. dalam satu (Piliang. dengan ciri ketertiban.

Dalam era simulasi ini. Namun disisi lain. membuat pembedaan antara representasi dan realitas. Sebuah realitas yang tak lagi memiliki referensi. Mengikuti Walter Benjamin. pada orde ini relasi berbagai unsur dan struktur budaya mengalami perubahan mendasar. bahasa. lahir sebagai konsekuensi logis perkembangan ilmu dan teknologi informasi. Bahasa. di satu sisi telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan kebudayaan. kode dan subjek budaya tidak lagi merujuk pada referensi dan realitas yang ada. yang menjadi prinsip simulacra Orde Kedua. 1994: 103). Sebagai tiruan. Realitas telah melebur menjadi satu dengan tanda. There are only simulacra is the (Baudrillard. Revolusi Industri juga telah menimbulkan ekses-ekses negatif bagi kebudayaan. 1983: 86) . objek dan tanda masih memiliki jarak dengan objek aslinya (Kellner. prinsip komoditi dan produksi massa menjadi ciri dominan era simulacra Orde Kedua. komunikasi global. dalam esainya. Simulacra Orde Kedua. Dengan demikian. Inilah era yang disebut Baudrillard sebagai era simulasi. Revolusi Industri. berlangsung bersamaan dengan semakin gemuruhnya era industrialisasi yang merupakan konsekuensi logis Revolusi Industri. prinsip dominan yang menjadi ciri simulacra Orde Pertama adalah prinsip representasi. Dengan kemajuan teknologi reproduksi mekanik inilah. telah mendorong perkembangan teknologi mekanik sampai pada batasannya yang terjauh. Tanda membentuk struktur dan memberi makna realitas. Lebih dari masa-masa sebelumnya. Tanda. Yang ada hanyalah campur aduk diantara semuanya. konsumerisme dan kapitalisme pada era Pasca Perang Dunia II. realitas tak lagi memiliki eksistensi. Tidak mungkin lagi kita menemukan referensi yang real. objek dan tanda adalah tiruan dari realitas alamiah yang dibentuk secara linear dan tunggal. citra dan kenyataan. Dalam bahasanya yang khas Baudrillard menyatakan . What we now have disappearance of the referent. One is not the simulacrum and the other the reality. Logika produksi. Simulacra Orde Ketiga. serta yang semu dan yang nyata. tanda dan ide.mempertahankan struktur dunia yang alamiah. Objek kini bukan lagi tiruan yang berjarak dari objek asli. Simulacra Orde Ketiga ini ditandai dengan hukum struktural. The Work of Art in The Era of Mechanical Reproduction (1969). melainkan sepenuhnya sama persis seperti yang asli. citra. Baudrillard menyatakan bahwa dengan teknologi reproduksi mekanik sebagai media dan prinsip produksi objek-objek alamiah telah kehilangan aura dan sifat transendensinya. media massa. citra dan modelmodel reproduksi.

Lebih detail. Realitas. Model-biner digital yang paling sering ditemui adalah kode-kode yang hanya dapat dibaca menggunakan komputer. Orde Fraktal menunjuk pada suatu kondisi keacakan dimana batas-batas antara berbagai hal melebur dan berubah menjadi sekedar permainan bebas diantara berbagai hal tersebut. menurut Baudrillard. Istilah fraktal. yang kini sudah memasuki wilayah-wilayah lain seperti ekonomi. kini harus didefinisikan kembali sebagai segala sesuatu yang mungkin dan dapat direproduksi secara sempurna. melalui bukunya Transparency of Evil (1993). Dengan kode-kode digital maka proses reproduksi beranjak ke batasannya yang paling ekstrem pula. dapat disimulasi (Baudrillard.(Bukan yang satu simulacrum dan yang lain realitas. Baudrillard mengemukakan satu orde baru yang disebutnya sebagai Orde Keempat atau Orde Fraktal. maka objek-objek menjadi tidak dapat dibedakan satu sama lain. teknologi dan seni. Baudrillard menyatakan bahwa dewasa ini masalah seksualitas tidak lagi sebatas berada dalam wilayah seksualitas. bahkan dari model-model yang menjadi sumbernya. semua realitas ditransformasikan ke dalam realitas kode digital dalam komputer. Baudrillard menyatakan . Dalam perkembangannya kemudian. Lebih lanjut. yakni media yang berupa kode-kode digital. dalam Simulacra Orde Ketiga ini. Teori Orde Simulacra Baudrillard ini. 1983: 146). dengan acuan oposisi biner antara 0 dan 1. dipinjam Baudrillard dari bidang matematika. Gagasan McLuhan tentang medium is message ditariknya sampai ke batasannya yang paling ekstrem. Apa yang kita alami sekarang adalah hilangnya acuan segala sesuatu. Ketika objek-objek direproduksi dengan teknologi model-biner. . dalam beberapa tingkatan. Sebagai contoh paling umum. namun dapat ditemukan hampir di semua aspek kehidupan. Atau masalah politik. Berbeda dengan Simulacra Orde Kedua yang ditopang oleh teknologi mekanik. Yang ada hanyalah simulacra). Dengan model oposisi biner seperti ini. sosial. Baudrillard memandang berkembangnya teknologi digital yang bertumpu pada modelbiner ini sebagai suatu dasar proses transformasi sosial masyarakat kapitalisme lanjut. yakni sebuah proses perkembangbiakan nilai-regular dalam keacakan matematis. realitas menjadi kehilangan referensi. Demikian pula dengan masalah-masalah yang lain. mekanisme simulasi terbangun melalui proses reproduksi objek dengan bantuan teknologi digital model-biner. bisa dipandang sebagai suatu konsepsi baru proses perkembangan sosial yang berakar pada prinsip perubahan karakter objek-objek reproduksi.

without reference to anything whatsover. A new particles does not replace those discovered earlier. mengacu pada prinsip kesetaraan. of course reminiscent of the distinctions between the particles physicists are always coming up with. and structural stages of value comes the fractal stage. The second was founded on a general equivalence. tahap produksi-komoditi (yang bertumpu pada prinsip nilai-tukar). This is the pattern of the fractal and hence the current pattern of our culture (Baudrillard. occupying all interstices. tidak ada lagi acuan. and value developed by reference to a logic of the commodity. 1993: 72). dan nilai menyebar ke segala arah. commodity. kini lahir tahap baru yakni tahap fraktal. I propose a tripartite account of value: a natural stage (use-value). komoditi dan struktural. out of some obscure need to classify. sekarang ijinkan saya untuk memperkenalkan satu tahap baru dalam realitas simulacra. the fractal (or viral or radiant) stage of value. For after the natural. (Dahulu. sekali lagi tanpa . tanpa bermaksud membuat klasifikasi yang justru bisa mengaburkan. dan tahap struktural (yang bertumpu pada prinsip nilai-tanda). Satu tahap tidak dapat menggantikan tahap lain yang ada sebelumnya. At the fourth. Maka pada tahap keempat. and value develops here by reference to a set of models. and a structural stage (sign-value). Periodisasi formal ini mengingatkan kita pada pembagian tahap-tahap sejarah secara berurutan.Once. and value radiates in all directions. it simply joints their ranks. Tahap kedua. take it place in a hypothetical series. Nah. So let me introduce a new particle into the microphysics of simulacra. melainkan menyatu dalam suatu rangkaian tahap yang bersifat hipotetis. The third is governed by a code. Setelah tahap alamiah. Kita tahu. dan nilai yang berkembang berada dalam kerangka model-model. Tahap ketiga mengacu pada kode-kode. These distinctions are formal ones. dan nilai yang berkembang berada dalam kerangka komoditi.The first of these stages had a natural referent and value developed on the basis of the natural use of the world. a commodity stage (exchange-value). mengisi semua celah. saya mengemukakan tiga tahapan perkembangan sejarah. tahap pertama mengacu pada prinsip referensi alamiah. dan nilai yang berkembang dalam dunia ini pun bersifat alamiah. yakni: tahap alamiah (yang bertumpu pada prinsip nilai-guna). by virtue of pure contiguity. tahap fraktal (atau viral atau radiant). tidak ada lagi prinsip referensi. there is no point of reference at all.

however. Ketiga adalah tahap kesatuan baru. Dengan penjelasan demikian. Orde komoditi (proses produksi) dalam orde simulacra. sama dengan tahap kesatuan baru yang harmonis diantara berbagai macam unsur yang hadir dalam bentuknya yang khusus (Kellner. All historical developments passed through three phases. Kedua adalah tahap hubungan yang berbeda diantara unsur-unsur tersebut. Inilah era fraktal. sama dengan tahap kesatuan yang utuh diantara berbagai macam unsur. Dan orde struktural (proses simulasi) dalam orde simulacra. maka dapat dinyatakan secara ringkas bahwa terdapat hubungan erat diantara keduanya. Hal ini dapat dilihat secara jelas dalam perbandingan diantara keduanya melalui pernyataan Simmel yang dikutip oleh Kellner. . yakni saling hubungan yang harmonis diantara berbagai macam unsur yang hadir dalam bentuknya yang khusus). The first is the undifferentiated unity of manifold elements. in their specific characters (Simmel. that have become alienated from one another. 1994: 171). menggambarkan hubungan tak langsung antara penanda-petanda. menggambarkan hubungan diantara penandapenanda. Pertama adalah tahap kesatuan yang utuh diantara berbagai macam unsur. the harmonious interpenetration of the elements that have been preserved. dibawah ini . (Setiap proses perkembangan sejarah masyarakat senantiasa melalui tiga tahap. sekaligus dunia dimana kita sekarang berada). nampak bahwa sebenarnya pemikiran Baudrillard juga terpengaruh oleh pemikiran Simmel mengenai perkembangan sejarah masyarakat dalam sosiologi formal. yang kemudian saling berjarak satu sama lain.acuan apapun. Dari sini nampak bahwa teori Orde Simulacra Baudrillard cenderung merefleksikan kembali tiga tahap perkembangan sejarah Simmel. The second is the differentiated articulation of these elements. Tahap komoditi Baudrillard. tanpa petanda. Tahap alamiah Baudrillard. menggambarkan relasi hubungan langsung antara penanda-petanda dalam teori semiologi. The third is a new unity. Inilah era simulasi. 1968: 11). Orde alamiah (proses imitasi) dalam orde simulacra. sama dengan tahap hubungan yang berbeda diantara unsur-unsur tersebut. Dan tahap struktural Baudrillard. Dalam kaitannya dengan teori Orde Simulacra sebagai suatu proses penandaan (semiologi). kecuali sekedar hubungan murni belaka.

semua model yang nyaris mendekati fakta. The territory no longer precedes the map. Simulasi menyandarkan diri pada prinsip ketiadaan dan negasi. Adalah realitas nyata. of all models around the merest fact the model come first. dan bukan peta. (Dibangun berdasarkan model-model yang begitu cermat. It is the real. Is characterized by a precession of the model. Sebuah gurun realitas itu sendiri). Simulation is no longer that of a territory. Fakta kini tidak lagi memiliki alur sejarahnya sendiri. yang bekas-bekasnya masih nampak dimanamana. Simulasi. petalah yang hadir sebelum teritori sebuah acuan simulacra petalah yang membentuk teritori. sebuah dunia hiperreal. it would be the territory whose shreds are slowly rotting across the map. bahkan bisa jadi sebuah fakta diproduksi oleh model-model. di sebuah gurun. a referential being or a substance. Dalam ungkapan Baudrillard . Simulasi tidak berkaitan dengan sebuah teritori. it is the map that precedes the territory precession of simulacra it is the map that engenders the territory and if we were to revive the fable today. and not the map. they arise at the intersection of the models. dalam bahasa Baudrillard . in the deserts which are no longer those of the Empire. bukan bekas sebuah kerajaan. ia hadir dalam silang sengkarut bersama model-model. Simulasi adalah era yang dibangun oleh model-model realitas tanpa asal-usul. melainkan bekas kita sendiri. dengan cara mengaburkan bahkan menghilangkan referensi. maka artinya saat ini adalah saat dimana teritori yang sedang membusuk secara perlahan-lahan membentang di atas sebuah peta. a hyperreal. dan dimana model tampil mendahului fakta. 1983: 32). Teritori tidak lagi hadir sebelum peta. but our own. nor survives it. serta mengedepankan penampakan sebagai prinsip kebenaran ontologis. sebuah acuan atau pun substansi. Facts no longer have any trajectory of their own. Sebaliknya. realitas dan kebenaran. a single fact may even be engendered by all the models at once. Dan jika saat ini kita masih ingin menghidup-hidupkan bahasa fabel. It is the generation by models of a real without origin or reality. The desert of the real itself (Baudrillard. Henceforth. whose vestiges subsist here and there. .Lebih lanjut Baudrillard menjelaskan apa yang dimaksudnya sebagai simulasi. atau membentuknya.

Hiperrealitas dengan demikian berbeda sama sekali dari yang real maupun yang imajiner. and all combinatory algebra. (Dengan demikian. yakni suatu proses untuk menghalangi setiap proses real dengan mekanisme operasi ganda. budaya atau politik. manusia dijebak dalam satu ruang yang dianggapnya nyata. prinsip-prinsip representasi modernisme menjadi tidak lagi relevan. all binary oppositions. kini . era simulasi berawal dari proses penghancuran segala acuan referensi dan bahkan lebih buruk lagi: dengan merajalelanya acuan-acuan semu dalam sistem penandaan. terprogram. perfect descriptive machine which provides all the signs of the real and short-circuits all its vicissitudes. an operation to alter every real process by its operational double. Realitas-realitas teritorial sosial. padahal sesungguhnya semu belaka. penanda dan petanda. that is. Pembedaan antara objek dan subjek. Dengan contoh yang gampang Baudrillard menggambarkan dunia simulasi dengan sebuah analogi peta. sebuah peta merupakan representasi dari sebuah teritori. It is rather a question of substituting signs of the real for the real itself. bagi realitas itu sendiri. a more ductile material than meaning in that it lends itself to all systems of equivalence. Era simulasi lebih tertarik mempersoalkan proses penggantian tanda-tanda real. yakni suatu tempat bagi pengulangan secara kontinyu model-model dan perbedaan). sebagai sebuah mesin penggambaran yang sempurna yang menyediakan semua tanda real dan serangkaian kemungkinan perubahannya. dalam paradigma modernisme tidak bisa lagi dilakukan. real dan semu.The age of simulation thus begins with a liquidation of all referentials worse: by their artificial resurrection in systems of signs. Era simulasi tidak lagi berkaitan dengan persoalan imitasi. maka sifat material ketimbang makna merasuk ke dalam semua sistem kesetaraan. Menurutnya. bila dalam ruang nyata. Dalam dunia simulasi seperti ini. nor even of parody. sebuah konsep metastabil. Peta mendahului teritori. Ruang realitas semu ini merupakan ruang antitesis dari representasi semacam dekonstruksi representasi itu sendiri. nor of reduplication. It is no longer a question of imitation. maka dalam mekanisme simulasi yang terjadi adalah sebaliknya. A hyperreal therefore is sheltered from the real and imaginary. a metastable. dalam wacana Derrida. Dalam mekanisme simulasi. 1983: 4). oposisi biner dan semua bentuk kombinasi aljabar. programmatic. reduplikasi atau bahkan parodi. leaving room only for the orbital recurrent of models and the simulated generation of difference (Baudrillard.

produksi. moral dan agama dalam membantu manusia menemukan citra diri dan makna hidupnya (Piliang. Bahkan. Doraemon atau iklan shampoo Sunsilk di televisi seolah lebih ampuh dari ajaran budi pekerti. pada kenyataannya sama nyatanya dengan pelajaran Sejarah atau Etika di sekolah sebab keduanya sama-sama menawarkan informasi dan membentuk pandangan serta gaya hidup manusia. Lewat televisi. Dalam ungkapannya Baudrillard mengatakan . iklan celana Levis atau jam tangan Guess. melainkan model-model yang ditawarkan televisi. benar. dimana perbedaan antara yang nyata dan fantasi. Realitas-realitas simulasi menjadi ruang kehidupan baru dimana manusia menemukan dan mengaktualisasikan eksistensi dirinya. Dengan televisi realitas tidak hanya diproduksi. manusia mendiami suatu ruang realitas. budaya serta politik masyarakat dewasa ini (Piliang. representasi. nilai moral.dibangun berlandaskan model-model dari peta yang sudah ada. sejarah. film telenovela Maria Mercedes atau Esmeralda. nilai dan makna dalam kehidupan sosial. Televisi yang disebut Baudrillard sebagai artefak postmodernisme yang paling meyakinkan atau juga Disneyland. . Ia kini kehilangan nilai informasinya dan justru sebaliknya menimbulkan keterasingan sosial. kebenaran. yang asli dan yang palsu sangat tipis. bahkan juga dimanipulasi. dunia simulasi tampil secara sempurna. tokoh boneka Barbie. iklan atau tokoh-tokoh kartun. reproduksi semuanya lebur menjadi satu dalam silang sengkarut tanda. citra. salah. Adalah tempat-tempat seperti Disneyland. Dalam bukunya In The Shadow of Silent Majorities (1988). kartun Doraemon atau Mickey Mouse yang kini menjadi model-model acuan dalam membangun citra. Inilah ruang yang tak lagi peduli dengan kategori-kategori nyata. black hole. Baudrillard menganalogikan kumpulan massa yang diam ini sebagai lubang hitam. 1997: 194). disebarluaskan atau direproduksi. bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan. Berbagai informasi yang disampaikan kepada massa yang diam seperti ini. yang menerima segala apa yang diberikan padanya. Realitas simulasi seperti ini membentuk sebuah kesadaran baru bagi masyarakat dewasa ini. fakta. Dalam wacana simulasi. Dalam dunia simulasi. nilai agama terserap ke dalamnya tanpa meninggalkan bekas apapun juga. manusia tak lebih sebagai sekumpulan massa mayoritas yang diam. Dalam realitas simulasi seperti ini. pada akhirnya justru tidak lagi berfungsi sebagai informasi. dimana berbagai hal informasi. referensi. semu. bintang film seperti Madonna atau Leonardo de Caprio. Manusia kini hidup dalam ruang khayali yang nyata sebuah fiksi yang faktual. 1998: 194). atau Universal Studio. misalnya.

seperti yang dinyatakan didepan. citra. karena tidak ada lagi referensi sosial klasik rakyat. maka ide sosial saat ini sebenarnya bisa dikatakan telah hilang. Instead of informing as it claims. information produces even more mass. Namun yang terjadi sebenarnya sungguh berlainan sama sekali. Satu-satunya referensi yang masih berfungsi kini adalah the silent majorities itu sendiri. kelas. kode dan model-model realitas tanpa referensi. informasi dan pesanpesan ternyata cuma menghasilkan massa pasif yang lebih banyak lagi. Ketimbang memberi informasi. more and more it creates an inert mass impermeable to the classical institutions of the social. serta kecanggihan teknologi rekayasa elektronik menurut Baudrillard mengemban misi untuk menyebarkan kepercayaan tentang dunia simulasi dan hiperrealitas. informasi sebaliknya bahkan telah menimbulkan proses pengosongan wilayah sosial menjadi semakin parah. Baudrillard secara khusus mempergunakannya sebagai contoh yang sempurna bagi eksistensi dunia simulasi. and to the very contents of information (Baudrillard. Dalam bahasa Baudrillard diungkapkan . ketimbang memberi bentuk dan struktur sosial. 183: 25). desain arsitektur seni yang sempurna. Quite the contrary. Ketimbang membentuk massa menjadi sekumpulan energi sosial. proletar. instead of giving form and structure. Inilah dunia buatan yang dipenuhi permainan tanda. yang tidak bisa direpresentasikan karena ia memang tak berkaitan dengan prinsip representasi. information neutralises even further the social field. Disneyland yang hadir melalui penggabungan imajinasi simbolik. Lebih jauh. borjuis atau bahkan kondisi objektif kecuali massa yang bersifat pasif. (Seringkali dinyatakan bahwa massa dapat diatur dengan cara menanamkan informasi kepada mereka. individu. Informasi telah membentuk sekumpulan massa yang tak berdaya dan tertutup terhadap berbagai institusi sosial klasik dan terhadap kandungan informasi yang terdalam). Instead of transforming the mass into energy. Mengenai Disneyland. Mengikuti alur pemikiran ini. their captive social energy is believe to be released by means of information and messages. dan energi sosial dapat dibentuk melalui sarana penanaman informasi dan pesan-pesan. .It is thought that the masses may be structured by injecting them with information. ia hadir sebelum realitas yang sebenarnya ada.

bioskop. Disneyland hadir sebagai suatu imajinasi untuk menanamkan kepercayaan kepada kita bahwa keberadaannya benar-benar nyata. Disneyland is presented as imaginary in order to make us believe that the rest is real. dimana justru dalam kesemuannya itulah ia lebih menyenangkan dibanding realitas sebenarnya (Piliang. in its banal omnipresence. which is Disneyland (just as prison are there to conceal the fact it is the social in its entirety. salon. but of concealing the fact that the real is no longer real. Toko. Namun lebih dari sekedar tempat belanja. which is carceal). dan dengan demikian berkaitan dengan persoalan penyelamatan prinsip-prinsip realitas). melainkan persoalan bagaimana menyembunyikan kenyataan bahwa yang real kini tidak lagi real. yang lebih real dari realitas yang sebenarnya. shopping mall hadir sebagai pusat gravitasi baru aktivitas masyarakat konsumer. Dalam konteks inilah. bank. segala sesuatu direduksi. Disneyland merupakan realitas buatan yang tampil sebagai realitas baru. realitas nyata menjadi kehilangan daya tarik dan bahkan sebaliknya dianggap bukan lagi realitas. biro perjalanan dan objek-objek lain dalam shopping mall semuanya disuntik dengan tema-tema. sementara dalam kenyataan. Sebagai konsekuensinya. 1983: 25) (Disneyland hadir untuk menyembunyikan kenyataan bahwa ia adalah real. Amerika yang paling real (seperti halnya penjara hadir untuk menyembunyikan kenyataan bahwa ia bersifat sosial dalam hubungan dengan lingkungan sekitarnya). Disneyland tidak berkaitan dengan persoalan representasi realitas yang keliru (ideologi). 1998: 238). and thus of saving the reality principle (Baudrillard. It is no longer a question of a false representation of reality (ideology). Los Angeles dan seluruh Amerika justru tidak lagi nyata. melainkan hiperreal dan merupakan produk mekanisme simulasi. Dalam dunia shopping mall. dimanipulasi dan disimulasi demi kenyamanan dan kesenangan belanja. shopping mall adalah sebuah dunia simulasi yang menampilkan realitas-realitas buatan yang bersifat semu. Dengan kata lain. restoran. of all real America. seperti eksklusif.Disneyland is there to conceal the fact that it is the real country. . Bersamaan dengan merebaknya konsumerisme. when in fact all of Los Angeles and the America surrounding it are no longer real. budaya belanja menjadi salah satu ciri masyarakat dewasa ini. but of the order of the hyperreal and of simulations. Realitas simulasi lain yang menonjol adalah dunia shopping mall.

televisi dan media massa lainnya. yakni semacam permainan retorika perang atau skenario imajiner yang melampaui batas-batas perang dunia-nyata dan semua kemungkinan yang nyata. Selanjutnya Baudrillard menyatakan . Perang Teluk tak lebih hanyalah perang simulasi televisi. Dalam dunia shopping mall kita diajak bertamasya di dalam suatu sirkuit. sekaligus perang simulasi kekalahan Amerika (sindrom Vietnam) melawan kemenangan Amerika (sindrom Perang Teluk). jiwa muda. sampai pada proses saling bunuh yang terkesan menjadi lebih manusiawi. Mulai dari pendaratan pasukan Amerika ke medan perang. jaringan komunikasi global dan satelit transmisi yang mampu menyebarluaskan informasi pada saat yang bersamaan dengan kejadian. sekedar khayalan mekanisme simulasi media massa. sistem penyadap informasi. Dengan kemampuan reproduksi elektroniknya yang sempurna. kosmopolitan. yang semakin menjauhkan kita dari makna-makna luhur (Piliang. Teknologi kamera ultra-violet yang mampu menangkap objek dalam kondisi gelap. Sementara dengan teknologi simulasi. lebih efektif. through faking. Secara kontroversial. perang simulasi semu antara Amerika melawan Irak. through . dari satu lingkungan tema ke lingkungan tema yang lain. baku tembak antara kedua belah pihak. 1998: 239). The true belligerents are those who thrive on the ideology of the truth of this war. Baudrillard menyatakan bahwa Perang Teluk sebenarnya tidak pernah terjadi. selanjutnya Baudrillard mencoba memberikan contoh tengah berlangsungnya mekanisme simulasi. televisi menjadikan Perang Teluk tidak sekedar sebagai sebuah peristiwa perang biasa. lebih dahsyat dan lebih heroik bila dibandingkan dengan realitas Perang Teluk yang sebenarnya. hingga pada tingkat taktik di lapangan. natural atau citra country. pengambilan keputusan tingkat tinggi. Dengan mempergunakan kerangka pandang simulasi. menjadikan realitas Perang Teluk segera dapat diketahui di seluruh penjuru dunia. Perang Teluk adalah cyber war. Perang Teluk dalam simulasi televisi nampak seolah lebih nyata. despite the fact that the war itself exerts its ravages on another level. lebih halus dan lebih dapat diterima. The Gulf War Has Not Taken Place (1991). dalam sebuah esainya. Perang Teluk kemudian menjadi semacam arena pertarungan antara tontonan perang (beritainformasi perang dari lokasi kejadian) melawan perang tontonan (berlombanya setiap jaringan televisi dalam memberikan tontonan perang yang paling aktual). di dalam suatu ekologi fantasi yang nyata namun dangkal. menjadikan realitas perang sebagai hiperrealitas.eksekutif.

hiperrealitas. of virtual time over real time. boneka Barbie sebenarnya juga menggemakan sebuah fenomena baru dalam masyarakat konsumerisme dan simulasi. Hiperrealitas adalah sebuah gejala di mana banyak bertebaran realitas-realitas buatan yang bahkan nampak lebih real dibanding realitas sebenarnya. sebuah kebutuhan kesekian (tersier). . suatu pencampuradukkan diantara keduanya). beberapa pihak menyebut hal ini sebagai simbol awal terseretnya Indonesia ke dalam arena masyarakat konsumerisme dunia. yang tak lebih dari sekedar mainan anak-anak.hyperreality. Perang Teluk menjadi kolase dari berbagai fragmen kamera televisi dan sekaligus peristiwa perang yang nyata. meskipun faktanya bahwa perang itu sendiri mengakibatkan kehancuran. the simulacrum. tidak hanya bagi anak-anak namun bahkan orang dewasa. C. waktu virtual di atas waktu yang nyata. yakni fenomena hiperrealitas. 1991: 193). Dengan kesimpulan demikian Baudrillard menegaskan bahwa dengan pernyataannya that Gulf War has not taken place. simulacra. membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Hasrat membeli dan mengkonsumsi boneka Barbie kemudian dapat dibaca sebagai suatu gejala kebiasaan baru. melalui penipudayaan. bukan berarti Perang Teluk tidak pernah terjadi dalam realitas yang sebenarnya. Ia hanya ingin menyatakan dan menyadarkan bahwa di balik perang tersebut. with the precession of the virtual over the real. tiba-tiba menjadi rebutan dan bahan perbincangan yang ramai. (Negara sebagai aktor perang yang sejati adalah mereka yang berjuang di atas kebenaran perang ini. dengan prioritas realitas virtual di atas yang nyata. semua strategi psikologis yang mempermainkan fakta dan citra. Lebih dari itu. Nilai-guna digantikan nilai-tanda. batas antara realitas media dan realitas yang sebenarnya telah lebur dalam suatu mekanisme simulasi. and inexorable confusion between the two (Baudrillard. through all those strategies of psychological deterrence that make play with facts and images. Postmodernisme: Sebuah Dunia Hiperrealitas Ketika boneka Barbie pertama kali masuk ke Indonesia pada dekade tahun delapan puluhan. Sebuah boneka.

seperti yang dikemukakan oleh Baudrillard. menuju perpanjangan sistem syaraf (Kellner. Baudrillard menyatakan bahwa dalam realitas kebudayaan dewasa ini tengah merajalela sebuah gejala lahirnya realitasrealitas buatan yang bahkan lebih nyata dibanding realitas yang sebenarnya. bintang film. McLuhan mencoba memahami proses dan akibat Revolusi Gutenberg. McLuhan meramalkan bahwa peralihan teknologi dari era teknologi mekanik ke era teknologi elektronik akan membawa peralihan pula pada fungsi teknologi sebagai perpanjangan badan manusia dalam ruang. The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962) dan Understanding Media: The Extensions of Man (1964). Dengan berangkat dari analisa ekonomi politik tanda dan berlangsungnya mekanisme simulasi. Makna-makna yang ditanamkan ke dalam sosok Barbie ini merupakan silang-sengkarut tanda. guru taman kanak-kanak. Barbie yang benar-benar ada dengan segala keleluarbiasaannya. adalah contoh nyata hiperrealitas.Boneka Barbie. Barbie juga melampaui ukuran kehidupan manusia dengan peran-peran yang ditanamkan padanya sebagai wanita karier. Dibuat tanpa referensi proporsi tubuh dan kecantikan yang wajar. aktivis lingkungan hidup dan lain sebagainya pada saat yang sama. ketika suatu realitas buatan telah melampaui realitas yang sebenarnya. 1994: 139). Fenomena hiperrealitas yang ditunjukkan Barbie adalah salah satu karakter kebudayaan postmodern dewasa ini. fotomodel. yang telah diproduksi dan terus diproduksi oleh Mattel Toys sejak tahun 1959. Barbie yang hidup. duta kehormatan PBB. dengan pernyataannya yang sangat terkenal bahwa medium is the message (media adalah pesan itu sendiri). Dengan representasi seperti ini Barbie seolah lahir sebagai Barbie yang real. Berangkat dari diskursus teoritis kebudayaan media yang menjadi wajah dominan budaya Barat dewasa ini. Barbie tampil sebagai boneka dengan kecantikan dan kesempurnaan tubuh yang melebihi gambaran kecantikan manusia. Singkat kata. Adalah Marshall McLuhan sebenarnya yang pertama-tama membuka pembicaraan mengenai gagasan hiperrealitas dalam kebudayaan masyarakat Barat dewasa ini. Dalam bukunya yang membahas secara mendalam dampak teknologi percetakan . citra dan kode-kode yang sengaja diciptakan untuk menjaga eksistensinya sebagai simbol wanita modern. Ia menyebut gejala itu sebagai hiperrealitas. ia adalah figur manusia sempurna. Melalui dua bukunya. Ia bahkan lebih jauh menjadi model bagi manusia untuk menentukan dan membentuk ukuran kecantikan dan kesempurnaan penampilan tubuhnya.

dimana segala sesuatu dapat disebarluaskan.terhadap kehidupan manusia dalam era kapitalisme awal. Dengan perkembangan teknologi komunikasi dan media yang demikian khususnya televisi. Pesan itu sendiri. sebuah desa besar. diinformasikan dan dikonsumsi dalam dimensi ruang dan waktu yang seolah mengkerut. Menurut McLuhan perpanjangan ini bersesuaian dengan tahap-tahap sejarah. radio adalah perpanjangan telinga manusia. telah memungkinkan umat manusia hidup dalam dunia yang disebutnya global village. dalam bentuknya yang paling canggih dan massif. Kini setiap orang dapat melihat. Namun perkembangan teknologi media elektronik saat ini. dan teknologi televisi. telah mereduksi kandungan pesan media itu sendiri dan menggantikannya dengan permainan bahasa tanda yang bersifat simbolik. komputer dan internet menurut McLuhan. Teknologi percetakan merujuk pada era modernitas. media cetak adalah perpanjangan mata manusia. dilipat dalam sebuah kotak layar kaca televisi. dibalik pandangan optimisnya tersebut. McLuhan menyatakan bahwa pada hakekatnya semua media adalah perpanjangan badan manusia dalam dimensi ruang dan waktu di dunia (Kellner. Lebih lanjut. The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962). komputer serta internet adalah perpanjangan pusat sistem syaraf manusia (Piliang. menurut McLuhan. Batas-batas ruang dan waktu pun seolah lenyap. mobil adalah perpanjangan kaki manusia. 1998: 196). Media menjadi sekedar perpanjangan badan manusia. McLuhan melupakan satu akibat penting dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. dan teknologi media elektronik merujuk pada era postmodernitas. Ia gagal melihat konsekuensi lanjut terbangunnya global village yang ditandai dengan meluruhnya dimensi ruang dan waktu yang di kemudian hari . mesin ketik adalah perpanjangan tangan manusia. dalam bukunya yang sudah menjadi klasik. Namun. Understanding Media: The Extensions of Man (1964). Karena. namun tanpa pesan. pemikiran mekanistik dan deterministik Newtonian yang bersifat sentralistik yang diejawantahkan dalam praksis komunikasi sosial. kini tak lebih dari media-media yang lain. secara optimis. McLuhan menyatakan bahwa inilah titik awal perubahan paradigma sejarah dari masa Abad Pertengahan ke Era Modern. makna dan kedalaman. Dengan pandangan humanismenya. 1998: 192). menurutnya. kini telah digantikan oleh sistem komunikasi media elektronik yang bersifat desentralistik dan plural (Piliang. disket ataupun internet. Dalam logika perpanjangan badan manusia. mendengar dan mengkonsumsi informasi dari segala penjuru dunia. 1994: 143). McLuhan membaca fenomena ini sebagai kemenangan manusia modern untuk menguasai ruang dan waktu yang dalam perspektif Newtonian bersifat linear dan simultan.

olahraga catur dan lomba kecerdasan). Realitas-realitas hiper. Baudrillard menarik garis tajam pemikiran McLuhan sampai batasannya yang terjauh. Disneyland. memory bank. Inilah wajah kebudayaan Barat dewasa ini yang merupakan interpretasi pemikiran McLuhan pada titiknya yang terjauh. menyulap fantasi. ilusi bahkan halusinasi menjadi kenyataan. laser disc dan internet menurut pandangan Baudrillard. Lebih jauh. telecard. yang disebut Baudrillard sebagai realitas mediascape (Baudrillard. Dengan pandangannya yang cenderung fatalis dan nihilis. Dalam dunia hiperrealitas. yang dewasa ini telah menjelma menjadi desa besar yang disebut Baudrillard sebagai hiperreal village (Baudrillard. Gagasan inilah yang selanjutnya diambil alih dan dikembangkan oleh Baudrillard. Ia mengangkat pandanganpandangan McLuhan tentang perpanjangan badan manusia dan global village ke dalam konteks perkembangan mutakhir dunia Barat. realitas yang dihasilkan teknologi baru ini telah mengalahkan realitas yang sesungguhnya dan bahkan menjadi model acuan yang baru bagi masyarakat. 1983: 14). masa lalu dan nostalgia. media kini tak lagi sebatas sebagai perpanjangan badan manusia ala McLuhan. seperti media massa. dimana model. Dengan media massa. Dalam realitas mediascape media massa menjadi produk budaya paling dominan. remote control. yang pada awalnya diciptakan sebagai perpanjangan badan dan sistem syaraf manusia. objek-objek asli yang merupakan hasil produksi bergumul menjadi satu dengan objek-objek hiperreal yang merupakan hasil reproduksi. Robot misalnya.ternyata menyimpan dampak-dampak patologis modernitas. menciptakan realitas baru dengan citracitra buatan. mampu mereproduksi realitas. kini telah menjelma menjadi pesaing manusia (misalnya dalam bidang lapangan kerja. serta melipat realitas sehingga tak lebih dari sebuah layar kaca televisi. tidak saja dapat memperpanjang badan atau pusat sistem syaraf manusia. Citra lebih meyakinkan ketimbang fakta dan mimpi lebih dipercaya ketimbang kenyataan sehari-hari. disket ataupun internet (Piliang. Pemikiran Baudrillard mendasarkan diri pada beberapa asumsi hubungan manusia dan media. namun bahkan lebih fantastis lagi. 1983: 16). shopping mall dan televisi nampak lebih real daripada kenyataan yang sebenarnya. 1998: 197). Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini dengan micro processor. namun media kini sekaligus merupakan ruang bagi manusia untuk membentuk identitas dirinya. citra-citra dan kode hiperrealitas bermetamoforsa sebagai pengontrol . Inilah dunia hiperrealitas: realitas yang lebih nyata dari yang nyata. semu dan meledak-ledak.

maka kenyataan pun kini tak lagi real sama sekali. It is a hyperreal. Simulations (1983). realitas buatan (citra-citra) kini tidak lagi memiliki asal-usul. it is irradiating no longer real at all. Baudrillard menjelaskan lebih detail kondisi hiperrealitas ini sebagai . yang ada adalah miniaturisasi genetik sebagai ciri dimensi simulasi. kebenaran. 1983: 2). Lebih jauh. yang nyata tidak sekedar dapat direproduksi. Kenyataan pun kini tak lagi harus rasional. 1983: 183). namun nampak lebih dekat dan nyata dibanding keberadaan tetangga kita sendiri. No more imaginary coextensity: rather. of the real and its concept. karena ia tak lagi dapat diukur dengan ukuran-ukuran ideal. 1983: 146). It no longer has to be rational. No more mirror of being and appearances. Kenyataan kini tak lebih dari apa yang beroperasi. Jurrasic Park. memory bank dan model-model acuan dan dengannya kenyataan dapat direproduksi sampai jumlah yang tak terhingga. (Tak ada lagi cermin diri. It is nothing more than operational. Hiperrealitas adalah realitas itu sendiri (Baudrillard. Kenyataan adalah hiperrealitas itu sendiri. Yakni. Kenyataan kini dibentuk dari unitunit miniatur. Dan karena ia tak lagi dibungkus oleh imajinasi-imajinasi. 1983: 3). the product of an of combinatory models in a hyperspace without atmosphere synthesis (Baudrillard. fakta dan objektivitas kehilangan eksistensinya. referensi ataupun kedalaman makna. memory banks and command models and with these it can be reproduced an infinite numbers of times. In fact. Tak ada lagi pengembaraan imajiner: lebih dari itu. era yang dituntun oleh model-model realitas tanpa asal-usul dan referensi (Baudrillard. Dengan televisi dan media massa misalnya. realitas. dari matriks. namun selalu dan selalu direproduksi (Baudrillard. from matrices. Dalam kondisi seperti ini. Tokoh Rambo. kenyataan dan konsep-konsep yang dikandungnya. produk sintesa model-model gabungan dalam ruang hiperspace tanpa atmosfer). Dimana. penampakan. atau Star Trek Voyager yang merupakan citra-citra buatan adalah realitas tanpa referensi. realitas buatan (citra-citra) seolah lebih real dibanding realitas aslinya. . boneka Barbie. genetic miniaturization is the dimension of simulation. since it is no longer measured against some ideal or negative instance. since it is no longer enveloped by an imaginary. 1994: 8). Dalam bukunya yang sudah menjadi klasik.pikiran dan tindak-tanduk manusia (Kellner. The real is produced from miniaturized units.

artifisial. 5. 4. yaitu: Hypercare: yakni gejala upaya perawatan dan penyempurnaan daya kerja serta penampilan tubuh secara berlebihan lewat bantuan kemajuan teknologi kosmetik dan medis. misalnya kegiatan seks melalui jaringan komputer jarak jauh. 1998: 16). indifferent things. dan memperdaya kita dengan kehidupan yang penuh kepura-puraan. a house or an apple tree or a grapevine has nothing in common with the house. buah apel atau anggur tidak memiliki makna apa-apa . Hypermarket: yakni bentuk pasar yang mengkonsentrasikan dan merasionalisasikan waktu. Bagi citarasa Amerika. dan cenderung memusatkan perhatian pada makna-makna personal dan sosial. D. lalu lintas dan praktek sosial. or the grape in which our ancestors have invested their hopes and cares (Rilke. 2. In the American sense. (Piliang. artificial things that deceive us by simulating life. misalnya melalui penggunaan teknologi elektronik dalam dunia musik. the fruit. rumah. Hypercommodity: yakni gejala merebaknya komoditi di hampir seluruh aspek kehidupan dan menjadi agen bagi penyebaran makna-makna dan reproduksi relasi-relasi sosial. dan akhirnya menjadi pusat aktivitas sosial dan referensi nilai baru. berbeda. Hyperspace: yakni keadaan runtuhnya makna ruang sebagaimana dipahami berdasarkan prinsip geometri Euclidian (ruang 2 dan 3 dimensi) dan hukum mekanika Newton (kecepatan adalah daya dibagi massa). 6. Yasraf Amir Piliang. 3. Hypersensibility: yakni gejala peningkatan atau penyempurnaan secara berlebihan kepuasan inderawi. dalam bukunya Sebuah Dunia Yang Dilipat (1998). 1950: 898) (Amerika tiba-tiba muncul di hadapan kita sebagai sesuatu yang kosong.Fenomena hiperrealitas ini selanjutnya diikuti oleh serangkaian fenomena hiper-hiper yang lain. yang melampaui nilai-guna benda. memaparkan beberapa bentuk fenomena hiper ini 1. Hypersexuality: yakni gejala pengumbaran kepuasan seks yang melampaui wilayah seksualitas itu sendiri. Hyperconsumption: yakni kondisi aktivitas konsumsi secara berlebihan. dengan berkembangnya ruang semu dan simulasi elektronik. 7. Mitos Impian Amerika From America have come to us now empty.

jaringan media global. Cruising America (1993). Baudrillard melanjutkan upaya membaca realitas simulasi dan hiperrealitas Amerika dengan gayanya yang khas. 1993: 53). fakta dan citra. Melalui bukunya. buah apel atau anggur yang ditanam oleh nenek moyang kita dengan penuh perhatian dan harapan). bercerita tentang Amerika. menurut Eco. Rainer Maria Rilke. yang kecewa melihat wajah kebudayaan modern Eropa yang semakin kering dan teknosentris. masakan fast food dan film Hollywood. . batas-batas antara benar dan salah. Dalam kebudayaan Amerika. realitas dan fantasi. Televisi kabel. kepura-puraan dan penampakan semata (Rojek. Melalui bukunya tersebut Eco menyatakan bahwa Amerika kini tengah berada di ambang erosi. secara ironis Amerika justru terjebak ke dalam kedangkalan. Bagi Eco. perusahaan multinasional. Dengan nada yang hampir sama. dengan berbagai kelebihannya. Dengan titik berangkat yang hampir sama. Americans Dream. harapan dan impian digantungkan. impian Amerika.sebagaimana rumah. bursa efek. melalui bukunya Travels in Hyperreality (1983). Mitos impian Amerika adalah harapan semu belaka. tempat kaki diayunkan. yang dikutip dari esai Bryan S. kekosongan dan kehampaan. Amerika bahkan seolah nampak lebih nyata dan otentik dibanding Eropa yang ditirunya. Pasasi diatas. Kebudayaan Amerika. produksi dan reproduksi secara perlahan-lahan meluruh. dan representasi yang otentik dari kebudayaan Eropa. menyerbu dengan cepat di seluruh sudut kehidupan Eropa. Inilah wajah hiperrealitas Amerika. Rilke menganggap Eropa saat ini mulai tertular kebudayaan dominan Amerika yang kosong. Amerika adalah kiblat yang keliru untuk diikuti karena utopia yang ditawarkannya hanyalah kepura-puraan. Dengan menyebut Amerika sebagai the simulated life. Sebaliknya. Namun dimata Rainer Maria Rilke dan sejumlah kritikus Eropa yang lain Amerika menjadi semacam kesalahan besar. tak lebih sebagai dunia yang kehilangan referensi. peniruan yang nyata. artifisial dan memperdaya tersebut. internet. dengan kecanggihan ilmu dan teknologi yang dimilikinya. sebuah replika budaya yang sempurna. ditulis oleh seorang wanita sastrawan Inggris. otentik dan tiruan. Turner. Amerika ternyata tidak mampu membangun suatu kebudayaan baru yang unggul dan otentik. Lebih jauh. tempat cita-cita. konsumerisme. ambang kebangkrutan budaya yang otentik. begitulah fantasi yang kerap didengung-dengungkan lewat berbagai cara untuk menjadikan Amerika sebagai kiblat baru tempat mata diarahkan. entertainment. Umberto Eco.

yakni kebudayaan sebagai sebuah khayalan dan pengulangan simulacra). but the deserts here are not part of a Nature defined by contrast with the town. tanpa referensi. . gunung-gunung. secara metaforis Baudrillard mengatakan . sebuah kondisi transparan radikal yang menjadi latar belakang setiap institusi manusia sebagai kelanjutan dari gurun. Dengan bahasa aforismenya yang khas selanjutnya Baudrillard menggambarkan Amerika sebagai . the safeways. (Daerah tujuan perburuan saya adalah gurun-gurun. 1988: 63). culture as a mirage and as the perpetuity of simulacrum (Baudrillard. Rather they denote the emptiness. sunyi sepi. tanpa sejarah. (Saya ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan sosial Amerika yang sebenarnya dari gurun. Bagi Baudrillard. kota hantu dan downtown. the radical nudity that is the background to every human institutions as a metaphor of that emptiness and the work of man as the continuity of the deserts. intensi dan pretensi dalam kebudayaan. bukan dari mimbar pengkajian intelektual. Gurun adalah simbol metafisik tentang Yang Lain sebagai ekses proses penandaan. hampa.America (1988). the freeway. American culture is heir to the desert. My hunting grounds are the deserts. Lebih dari itu. jalan layang. jalan bebas hambatan. the ghost towns or the downtowns. Amerika adalah sebuah gurun: asing. 1988: 63). Kebudayaan Amerika kini nampaknya sedang diwariskan ke sebuah gurun. gurun disini menyiratkan suatu kekosongan. Baudrillard menyatakan bahwa Amerika adalah contoh yang paling meyakinkan dari realitas simulasi dan hiperrealitas. Los Angeles. bukan gurun yang merupakan bagian alam yang bisa dibedakan dengan kota. ruang simulasi. yang merupakan laporan perjalanan sebuah travellogue ke Amerika. Mengenai tujuan perjalanannya ke Amerika. sebuah ruang semu. Lebih lanjut Baudrillard menyatakan . I get to know more about the concrete social life of American from the desert than I ever would from official or intellectual gatherings. hanya hamparan ruang kosong tak berbatas. the mountains. Los Angeles. not lectures at the university (Baudrillard. bukan mengajar di universitas).

Eropa terlalu dibebani dengan tradisi. kini tidak lagi memiliki peran dan fungsi yang sama. Dunia liris penuh kata-kata pujian dari sebuah sirkulasi murni. sisa-sisa feodalisme. (Kebudayaan anoreksi. adalah kebudayaan yang mencampuradukkan dan sekaligus merayakan kegairahan serta permainan nilai-nilai. 1989: 39). overabundance (Baudrillard. Dengan prinsip-prinsip hiperrealitas. budaya penolakan. 1988:81). penjenuhan dan kelimpahan yang berlebihan). (Bintang-bintang Amerika. Kebudayaan Amerika. geologically by deserts (Baudrillard. Amerika. yakni kegagalannya dalam mencapai cita-cita idealnya yang berupa demokrasi. Sebaliknya. Dicirikan oleh karakter kegemukan yang periodis. Menurut Baudrillard. sebuah budaya kejijikan. Eropa kini sekedar menjadi kekuatan peripheral. kebebasan dan rasio (Baudrillard. pengenyahan dengan paksa. menurut Baudrillard. Baudrillard membaca Amerika dengan berangkat dari perbandingan kebudayaan dua benua. anthropoemia. 1988: 80). ide tentang kaum borjuis dan gagasan-gagasan revolusi yang justru menghambatnya menuju kondisi modernitas seperti yang diharapkan (Baudrillard. Pandangan menyamping. Amerika menjelma menjadi utopia sekaligus paranoia. Lebih jauh Baudrillard mengatakan . Sideration. Eropa saat ini adalah Eropa yang tidak lagi memiliki peran sebagai kekuataan pendorong. sumber dan model kemajuan peradaban. horizontally by the car. of anthropoemia. . of expulsion. yang berbatas cakrawala sebuah mobil. berbatas ketinggian pesawat terbang dan berbatas geologi sebuah gurun). Eropa juga tengah menghadapi persoalan melankolik. saturation. Eropa yang dahulu pernah menjadi pusat kebudayaan modern. Bagi Baudrillard. Characteristic of a period of obesity. Eropa dan Amerika. etika serta estetika. aristokrasi. Peledakan-Bintang. Anorexic culture: a culture of disgust.Astral America. Di sanalah kebanalan. serta Imperium Tanda yang maha dahsyat menggempur setiap ruang kehidupan yang ada. of rejection. simulasi. kevulgaran dan kecabulan bersanding dengan kesopanan. 1989: 27). Starblasted. The lyrical nature of pure circulation. simulacra. altitudinally by the plane. intelektualitas. benua pinggiran yang telah kehilangan semangat modernitas dan secara perlahan namun pasti tengah tertinggal oleh saudara mudanya.

hal ini menjadi rintangan besar bagi kita ketika Eropa hendak melangkah menuju era modernitas radikal. yang diungkapkan Baudrillard dengan gaya bahasanya yang deklaratif bahwa. menurut Baudrillard adalah model sempurna modernitas (Baudrillard. all the myths of modernity are American (Baudrillard. this is a world that has shown genius in its irrepressible developmnet of equality. Amerika seolah menyihir dunia untuk menengok dan berkiblat kepadanya. (Di Eropa kita dikungkung oleh kebiasaan lama pemujaan terhadap perbedaan. banality. menurut Baudrillard. all sexuality. era yang kehilangan watak perbedaan. Sementara di sisi lain. Kita bahkan tidak pernah memiliki evil genius modernitas. Dengan sangat segan kita akhirnya menjadi modern dan sekaligus acuh tak acuh. the desert is a sublime form that banishes all socially. karakter yang dapat mendorong lahirnya inovasi-inovasi ke arah sifat kebebasan dan keluarbiasaan). Di sanalah kini orang menitipkan harapan dan impiannya. tuntutan Amerika adalah keharusan menghadapi dunia kini dan disini dengan perubahannya yang cepat. this leaves us with a great handicap when it comes to radical modernity. which is founded on the absence of difference. America is neither dream nor reality. impian Amerika adalah untuk menemukan kembali nostalgia masa lalunya. that genius which pushes innovation to tha point of extravagance and in so doing rediscovers a kind of fantastical liberty (Baudrillard. Only very reluctantly do we become modern and indifferent. Amerika kini. yang dilawankan dengan prinsip durasi dan permanensi. This is why our understandings lack the modern spirit. 1989: 87). Inilah mengapa pemahaman kita menjadi kehilangan semangat modernitas.In Europe we are stuck in the old rut of worshipping difference. Namun bukan berarti Amerika tidak memiliki persoalan. Keadaan ini menimbulkan sebuah paradoks. Sementara itu. Di satu sisi. 1988: 97). 1988: 77). all sentimentality. Watak dasar Eropa inilah yang menurut Baudrillard menyebabkan Eropa kini tengah berada dalam krisis besar. and indifference. . We do not even have evil genius of modernity. adalah krisis pencapaian utopia. Eropa tertinggal jauh mengikuti gerak zaman yang melaju cepat tanpa mengenal kompromi. Persoalan Amerika.

Realitas Amerika sebagai simulasi dan hiperrealitas. Modernisme bagi Amerika kini tak lebih sebagai nostalgia yang pucat. salon mobil sampai senam seks dan sederet ikon gaya hidup adalah kosakata baru budaya massa dan budaya populer. Tak heran bila dalam masyarakat yang dihidupi budaya massa dan budaya populer masyarakat konsumer tumbuh simbol-simbol dan aktivitas kebudayaan baru. iklan. permainan dan kenikmatan ketimbang kekhusukan. Merujuk Leo Lowenthal seorang tokoh mahzab Frankfurt generasi kedua yang dikutip Dominic Strinati dalam bukunya An Introduction to Theories of Popular . maka tak pelak. Seni Poppuler dalam Era Postmodernisme A. cat rambut. pusat kebugaran.(Amerika bukanlah mimpi ataupun kenyataan. body building. serta mengejar keuntungan ketimbang kemanfaatan. budaya massa dan budaya populer pun membawakan nilai-nilai baru. tuntutan mengejar keuntungan adalah satu-satunya pegangan. facial cream. Budaya Massa dan Budaya Populer Salah satu fenomena penting yang menandai lahirnya era postmodern adalah tumbuhnya budaya massa dan budaya populer. penuh kepedihan. nilai-tanda dan nilai-simbol mengalahkan nilai-guna dan nilai-tukar. kebanalan dan ketakacuhan. alis palsu. kartun. seluruh mitos modernitas adalah Amerika). inilah dunia yang telah memperlihatkan kecerdasannya dalam mengembangkan tema-tema kesetaraan. shopping mall. menurut Baudrillard. Lebih dari era-era sebelumnya. kegairahan baru dan etos kerja baru. era postmodern adalah kurun sejarah yang memuja bentuk dan penampakan ketimbang kedalaman. merayakan kebebasan. Dalam realitas kebudayaan dimana konsumsi mengalahkan produksi. operasi plastik. budaya massa dan budaya populer adalah jawaban bagi masyarakat yang demikian. kursus kecantikan. adalah contoh sekaligus model masyarakat Barat dewasa ini yang tengah menjelang pada era postmodernisme. Televisi. sentimental dan seksual. Sebagai semangat zaman baru. Amerika menjadi pusat gravitasi baru era postmodernisme. Lahirnya budaya massa dan budaya populer sendiri sebenarnya telah melalui sebuah proses sejarah yang panjang. penampilan menjadi tujuan. gurun adalah sebentuk keagungan yang kehilangan nilai-nilai sosial. video game. menggantikan Eropa yang pernah tampil sebagai pusat era modernisme. sementara postmodernisme adalah zaman baru yang menawarkan harapan dan impian yang lebih baik. komik.

Culture (1995), sejarah budaya massa dan budaya populer setidaknya dapat dilacak semenjak era "Roti dan Sirkus" dalam masa kekaisaran Romawi. Budaya massa dan budaya populer pada saat itu muncul dalam bentuk pelbagai permainan, olahraga dan pesta rakyat yang diselenggarakan setiap tahun untuk seluruh penduduk Roma. Ia bersifat massal dan populer karena tidak hanya terbatas bagi kalangan keluarga kekaisaran Romawi. Budaya massa dan budaya populer kemudian semakin berkembang dengan awal kebangkitan era ekonomi pasar pada abad ke-17 M. Dalam kurun ini, budaya massa dan budaya populer telah menjadi bagian ekonomi politik kapitalisme yang dituntun oleh prinsip kemajuan, keuntungan dan perluasan produksi. Prinsipprinsip seperti mass production (produksi massal), minimization of cost (pembiayaan yang rendah), standarization (standarisasi), homogenization of taste (penyeragaman selera dan citarasa), differenziation (diferensiasi) dan constan acceleration (percepatan konstan) menjadi hukum baru proses produksi (Ibrahim, 1997: 19). Dengan prinsip-prinsip ini budaya massa dan budaya populer seolah memperoleh pembenaran untuk hidup dan berkembang. Kini segala sesuatu disulap menjadi budaya massa dan budaya populer demi tujuan memperbesar keuntungan. Dalam pengertian ini, budaya massa dipahami sebagai budaya populer yang diproduksi melalui teknik produksi massal dan diproduksi demi keuntungan. Budaya massa adalah budaya komersial, produk massal untuk pasar massal. Budaya massa, dengan demikian tidak lain dari metamoforsa komoditi dalam bentuknya yang lebih canggih, lebih halus dan lebih memikat (Strinati, 1995: 10). Sementara itu budaya populer adalah sebuah kategori bagi budaya rendah (lowbrow culture) yang biasa dibedakan dengan budaya tinggi (highbrow culture). Budaya populer, atau dalam pengertian awalnya biasa disebut budaya rakyat (folk culture), lahir dari bawah, dari rakyat kebanyakan, sementara budaya tinggi, dibentuk dari atas, dari kalangan aristokrat. Budaya populer ditandai oleh sifatnya yang massal, terbuka untuk siapapun dan lebih mengakar kepada khalayak pemiliknya. Sementara budaya tinggi dicirikan oleh sifatnya yang khusus dan tertutup, terbatas bagi kalangan tertentu dan tidak mengakar ke bawah (Strinati, 1995: 10). Dalam kaitan antara ketiga bentuk kebudayaan ini, MacDonald salah seorang teoritisi awal budaya massa dan budaya populer memberi batasan sebagai berikut ;

Folk culture grew from below. It was a spontaneous, autochthonous expression of the people, shaped by themselves, pretty much without the benefit of High Culture, to suit their own needs. Mass Culture is imposed from above. It is fabricated by technicians

hired by businessmen; its audiences are passive consumers, their participation limited to the choice between buying and not buying. Folk culture was the peoples own institution, their private little garden walled off from the great formal park of their masters High Culture. But Mass Culture breaks down the wall, integrating the masses into a debased from of High Culture and thus becoming an instrument of political domination (MacDonald, 1957: 60). (Budaya rakyat tumbuh dari bawah. Ia adalah ekspresi otonom dan spontan rakyat yang dibuat oleh mereka sendiri, tanpa pengaruh budaya tinggi, untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Budaya massa sebenarnya ditumbuhkan dari atas. Ia diproduksi oleh tenaga-tenaga teknis yang dipekerjakan oleh produsen; khalayaknya adalah konsumerkonsumer pasif, dimana partisipasi mereka terbatas pada pilihan membeli atau tidak membeli. Budaya rakyat adalah milik rakyat sendiri, kebun mungil pribadi mereka yang dipisahkan dari kebun besar Budaya Tinggi. Namun budaya massa merobohkan dinding pemisah ini, menyatukan massa ke dalam budaya tinggi yang telah diturunkan statusnya dan kemudian menjelma menjadi instrumen dominasi politik). Pernyataan MacDonald ini merujuk budaya massa dan budaya populer sebagai bagian ekonomi politik kapitalisme, yang sekaligus menandai lahirnya era postmodernisme, yang mengaburkan batas-batas pengertian antara budaya-tinggi dan budaya-populer ke dalam satu karakter budaya massa. Dalam realitas kebudayaan dewasa ini, tak ada lagi budaya-tinggi yang murni, agung dan luhur, sebagaimana tak ada lagi budaya-rendah pinggiran dan inferior. Budaya-tinggi kini telah berubah menjadi komoditi, produk budaya yang dikomersialkan. Sementara budaya populer kini ternyata semakin wajar diterima dan dihargai (Shuker, 1994: 5). Perbedaan hirarkis yang ketat demikian kini tak lebih sebagai nostalgia masa lampau yang borjuis-feodal. Realitas kebudayaan dewasa ini adalah realitas kebudayaan yang tunduk pada hukum ekonomi kapitalisme, dalam bentuk budaya massa dan budaya populer. Dalam diskursus sejarah kebudayaan, perkembangan budaya massa dan budaya populer yang mengiringi kelahiran era postmodern setidaknya dapat ditelusuri semenjak era masyarakat primitif. Masyarakat primitif dipandang sebagai masyarakat komunal organik yang utuh, dengan seperangkat nilai dan norma yang mengatur anggota-anggotanya secara efektif. Dalam struktur masyarakat ini, ikatan sosial diantara anggotanya masih terjalin kuat. Bentuk-bentuk kebudayaan terutama seni yang lahir dalam masyarakat ini, sepenuhnya adalah kebudayaan

rakyat (folk culture). Kebudayaan inilah yang secara langsung merefleksikan pengalaman dan kehidupan masyarakat awal. Bentuk-bentuk kesenian rakyat, kesenian tradisional dan primitif, pada awalnya lahir untuk menjawab kebutuhan menjaga keutuhan nilai masyarakat awal. Kondisi ini berubah ketika bersamaan dengan mulai berkembangnya kapitalisme awal, terbentuk struktur masyarakat borjuis-feodal. Dalam masyarakat ini, sekelompok golongan menduduki kelas borjuis, dan sekelompok yang lain menempati kelas proletar. Klasifikasi sosial ini pada gilirannya melahirkan klasifikasi budaya. Kelas borjuis dengan kebudayaannya yang khas terbatas, tertutup, bernilai sakral, eksklusif dan mewah yang disebut sebagai budaya

tinggi. Dan kelas proletar dengan kebudayaan yang bersifat terbuka, imanen, massal dan mengakar ke bawah yang disebut budaya rendah. Seiring dengan perkembangan kapitalisme ke arah kapitalisme lanjut, struktur masyarakat pun kembali mengalami perubahan. Dari masyarakat primitif, masyarakat borjuis-feodal ke masyarakat massa. Dengan industrialisasi dan urbanisasi serta perkembangan teknologi percetakan, secara perlahan-lahan terjadi proses transformasi sosial. Perubahan ini didorong oleh, di satu sisi, perkembangan teknologi mekanik berskala massal dan peningkatan populasi penduduk di kota-kota besar yang menyebabkan perubahan pola hidup masyarakat dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Dan di sisi lain, sebagai akibat perubahan diatas, terjadi erosi dan kegoncangan struktur nilai sosial masyarakat, luruhnya ikatan sosial dalam komunitas pedesaan, turunnya status agama dan merebaknya proses sekularisasi serta diabaikannya nilai-nilai moral. Dalam kerangka sosial seperti inilah kemudian muncul apa yang disebut sebagai proses atomisasi (Strinati, 1995: 6). Proses atomisasi terjadi ketika suatu masyarakat terdiri dari individu-individu yang berhubungan dengan individu lain menurut hubungan atom dalam wacana dunia ilmu kimia atau fisika. Masyarakat massa terdiri dari individu-individu atom seperti ini, individu yang berhubungan dengan individu lain tanpa didasari oleh nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakatnya. Individu atom adalah manusiamanusia yang berhubungan atas dasar kontrak, berjarak dan bersifat sementara ketimbang sebagai ikatan komunal yang erat. Proses atomisasi, seperti telah disebut di depan, juga disebabkan oleh runtuhnya peran lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat sebagai akibat meledaknya industrialisasi dan urbanisasi. Keluarga, desa dan gereja yang dahulu pernah memberikan perasaan identitas psikologis, kepastian moral dan sosial, kini digantikan perannya oleh media massa dan pelbagai bentuk budaya populer. Dalam kondisi ketika tidak ada lagi

merupakan hasil duplikasi dan reproduksi. Budaya massa dan budaya populer tidak lagi dipandang sebagai budaya rendah. tentu saja adalah untuk kepentingan memperoleh keuntungan. death. budaya dominan. trivial culture that voids both the deep realities (sex. budaya massa adalah . A narcotized acceptance of Mass Culture and of the commodities it sells as a substitute for the unsettling and unpredictable (hence unstable) joy. moral dan sosial demikian. since the realities would be too real and the pleasures too lively to induce. luhur dan sakral. Merebaknya budaya massa dan budaya populer ini selanjutnya didukung oleh perkembangan kapitalisme lanjut yang mengintegrasikan ilmu dan teknologi sebagai tulang punggungnya serta peran pendidikan dan demokrasi. tragedy) and also the simple.yang diterima.kepastian psikologis. originality and beauty of real life. sepele dan sentimental. sebagai pemberi pegangan nilai moral dan sosial dalam masyarakat. It is a debased. semakin banyak anggota masyarakat yang memiliki kemampuan baca tulis untuk mendapat lebih banyak informasi tanpa harus tergantung kepada lembaga-lembaga tradisional. change. spontaneous pleasures. wit. maka semakin besar kapital yang dapat dikeruknya. Dalam kerangka kapitalisme lanjut. Budaya massa merupakan salah satu strategi budaya yang disodorkan kapitalisme untuk menciptakan produk-produk massal. melalui industri produksi massal untuk konsumer yang massal pula. Semakin luas jangkauan penyebaran budaya massa dan budaya populer. tujuan utama budaya massa. citarasa dan budaya dengan memberi tempat kepada massa untuk menentukan keputusan-keputusan politik. Sementara lewat pendidikan. failure. Karakter budaya massa dicirikan oleh sifatnya yang baku. Peran inilah yang diisi oleh budaya massa dan budaya populer. Demokrasi dipandang berjasa dalam merobohkan hierarki tradisional mengenai kelas. melainkan sebaliknya.1995: 7). standar. Lewat produk-produk budaya massa. Menarik dicatat bahwa demokrasi dianggap sebagai pendorong merebaknya budaya massa dan budaya populer. (Strinati. Budaya massa merayakan kesenangan yang dangkal. Mengutip kembali MacDonald. tragedy. didengar dan diikuti secara luas dalam realitas masyarakat dewasa ini. The masses. individu membutuhkan acuan moralitas baru. sembari menolak nilai-nilai yang otentik. . Maka kini budaya massa dan budaya populer pun menjadi institusi baru yang menggantikan peran lembaga-lembaga tradisional. kapitalisme berusaha memperbesar margin keuntungannya sampai batas yang tak terhingga.

dan kenikmatan-kenikmatan menjadi terlampau hidup untuk disentuh. adalah budaya yang sangat. tradisi dan citarasa. Maka budaya massa adalah budaya yang miskin rangsangan dan tantangan intelektual. Maka budaya massa adalah .debauched by several generations of this sort of thing. anything or anybody (MacDonald. 1957: 62). It thus destroys all values. 1957: 71). Ia adalah kebudayaan yang kehilangan semangat pemikiran dan penciptaan yang otentik. Penerimaan terhadap budaya massa yang membius dan komoditi-komoditi yang dijual sebagai pengganti kegembiraan. It mixes and scrambles everything together. Massa yang telah dikotori oleh hal-hal demikian. and dissolving all cultural distinctions. orisinalitas dan keindahan hidup sebenarnya yang sudah tidak dapat ditetapkan dan diramalkan. pada gilirannya menjadi massa yang mabuk oleh produk-produk budaya yang remeh-temeh namun memberi rasa nyaman). tragedi kecerdasan. A dynamic. yang meruntuhkan sekat-sekat lama tentang kelas. or between. karena penilaian mengasumsikan adanya diskriminasi. memproduksi apa yang mungkin disebut sebagai kebudayaan yang homogen. Budaya massa. baik realitas sublim (seks. since value judgements imply discrimination. (Sebentuk kebudayaan yang rendah. revolutionary force. individu-individu . serta meluruhkan semua perbedaan budaya. tradition. namun kaya fantasi dan ilusi kesenangan. sangat demokratis: ia benar-benar menolak untuk melakukan diskriminasi terhadap atau antara sesuatu hal atau orang). tragedi) maupun realitas sederhana. Ia mengaduk dan mencampur-baurkan segala sesuatu secara bersama-sama. Sejalan dengan karakter khas budaya massa. revolusioner. perubahan. breaking down the old barriers of class. kenikmatankenikmatan spontan. very democratic: it absolutely refuses to discriminate against. kematian. Ia dengan demikian meluluhlantakkan semua nilai. Khalayak budaya massa adalah para konsumen pasif. terbentuklah konsepsi khas khalayak konsumer budaya massa. in turn come to demand trivial and comfortable cultural products (MacDonald. Mass culture is very. (Sebuah kekuatan dinamis. namun sebaliknya membawakan semangat pluralitas dan demokrasi. karena realitas-realitas itu kini telah menjadi terlalu nyata. taste. kegagalan. producing what might be called homogenized culture. budaya remeh-temeh yang kehilangan.

nonhuman: a football game or bargain sale in the case of crowd. bahwa Amerika merupakan representasi paling tepat untuk menggambarkan fenomena atomisasi dalam realitas budaya massa. A Theory of Mass Culture (1957). selanjutnya dapat dibaca mengimplikasikan dua hal. Kedua. seperti ungkapan David Reisman ketika menyebut masyarakat Amerika). tunduk pada daya tarik hasrat untuk selalu dan selalu membeli. Inilah massa yang nyaris tanpa pikiran. yang dikutip MacDonald dalam tulisannya. ungkapan bernada satire tersebut . mereka samasekali tidak berhubungan satu sama lain melainkan sekedar berhubungan dengan sesuatu yang abstrak. menikmati kesenangan semu konsumsi massa dan merupakan objek eksploitasi komersial. sistem produksi industrial atau pun massa partai atau negara. Pertama. Ungkapan David Reisman. Karena massa adalah keramaian: sejumlah besar individu yang tak mampu mengekspresikan dirinya sebagai manusia. uniform with and undifferentiated from thousands and millions of other atoms who go to make up the lonely crowd as David Reisman well calls American society (MacDonald. they are not related to each other at all. abstract. mereka kehilangan kualitas dan identitas kemanusiaannya. As masses. sesuatu yang bersifat non-human: seperti keramaian permainan sepakbola atau penjualan obral. but only to something distant. a system of industrial production.yang rentan terhadap manipulasi dan bujukan media massa. 1957: 69). berjarak. a party or a state in the case of masses. karena berhubungan dengan orang lain tidak dalam kerangka individu ataupun anggota suatu komunitas bahkan. Manusia massa adalah semacam atom yang teralienasi. For the masses in historical time are what a crowd is in space: a large quantity of people unable to express themselves as human beings because they are related to one another neither as individuals nor as members of communities indeed. seragam dan nyaris tak bisa dibedakan dengan ribuan bahkan jutaan atom lain yang membentuk "keramaian yang sunyi". (Sebagai massa. tentang "keramaian yang sunyi" masyarakat Amerika. selain hasrat yang besar untuk mengkonsumsi dan mengkonsumsi. Dalam salah satu tulisannya yang sangat penting. tanpa kemampuan bernalar secara kritis. they lose their human identity and quality. The mass man is a solitary atom. tanpa kemampuan berefleksi. MacDonald memaparkan pandangannya tentang khalayak budaya massa ini .

citra-citra iklan. American popular culture Hollywood films. Dengan kemampuan teknologi industri massal yang canggih dan dukungan sistem kapitalisme serta demokrasi. packaging. di mata Hebdige. And the meaning of each selections is transformed as individual objects jeans. Ancaman penyebaran budaya massa melalui proses Amerikanisasi ini dilatarbelakangi oleh anggapan bahwa Amerika adalah kiblat budaya massa. seperangkat simbol. Tony Curtis hair styles. rock records. objects and artefacts which can be assembled and reassembled by different groups in a literally limitless number of combinations. Amerika adalah . Pada titik ini. melainkan aktif mengolah kembali menjadi konstruksi kebudayaan baru. Penyebaran budaya massa melalui proses Amerikanisasi. model kaos kaki pendek dicabut dari konteks sejarah dan budayanya yang asli dan disejajarkan dengan tanda-tanda dari sumber-sumber lain). serta meningkatnya kenakalan dan kejahatan remaja. Dick Hebdige mencoba menguraikan karakter budaya Amerika sebagai berikut . bobby socks are taken out of their original historical and cultural contexts and juxtaposed against signs from other sources (Hebdige. proses Amerikanisasi menemukan gemanya dalam pemikiran Baudrillard. a set of symbols. objek dan artefak yang dapat dirangkai dan dirangkai-ulang oleh kelompok-kelompok yang berbeda dalam kombinasi yang tak terbatas. kemudian menjadi proses yang tidak sekedar secara pasif menerima. Baudrillard menyatakan bahwa sebagai penggerak utama budaya massa dan budaya populer. (Budaya populer Amerika film Hollywood. yang lebih dikenal sebagai proses Amerikanisasi. gaya rambut Tony Curtis. clothes and music offers a rich iconography. teknologi kemasan. 1987: 74). Dan makna pada setiap pilihan ini kemudian diterjemahkan sebagai objek-objek individual celana jeans. runtuhnya otoritas dan legitimasi lembaga moral tradisional. Dengan menyebut proses Amerikanisasi sebagai gejala "Impian Amerika". musik rock. Amerikanisasi tetaplah dipandang sebagai ancaman luruhnya nilai-nilai budaya khas-otentik setiap bangsa. advertising images. bahkan identitas nasional suatu bangsa. pakaian dan musik adalah sebuah ikonografi yang kaya.sekaligus mengungkapkan ketakutan terhadap pengaruh Amerika dalam pelipatgandaan budaya massa ke seluruh penjuru dunia. Namun demikian. wajar bila ditarik kesimpulan bahwa Amerika adalah ancaman bagi setiap nilai estetika dan budaya.

impian namun sekaligus mitos. Karakter khas budaya massa dan . dan shopping mall dengan dunia belanja yang menawarkan pelbagai macam tema bahkan seolah lebih nyata dan hidup ketimbang tokoh-tokoh pahlawan dalam buku-buku sejarah. mana yang asli dan mana yang tiruan. dan tak lebih dari kumpulan puing-puing budaya yang diperoleh dari proses duplikasi dan reproduksi. dengan realitas-realitas buatan semacam Disneyland. mana yang benar dan mana yang salah. Pelbagai simbol dan artefak budaya massa menjadi ruang pergulatan yang paling konkret dari apa yang disebut Baudrillard sebagai kebudayaan postmodern. Disneyland dengan tokoh-tokoh fiktifnya Mickey Mouse. Dalam wacana televisi. realitas dan ilusi. Amerika seolah menjadi kiblat era baru yang disebut sebagai era postmodern. yang direkayasa. masa kini dan masa depan dalam konteks kekinian yang juga semu. Namun dibalik semua itu. Universal Studio dengan miniatur kota-kota buatan. sebagaimana Eropa pernah menjadi kiblat era modern. Realitas dalam televisi. Melalui film. Donald Duck ataupun Guffi. eklektis. tak memiliki otentisitas. Amerika sebenarnya menyimpan pelbagai bibit penyakit yang parah. disimulasi sehingga seolah-olah nyata. Dalam realitas budaya massa dan budaya populer Amerika inilah pemikiran-pemikiran Baudrillard mendapatkan kebenarannya. film dan video game pada gilirannya menjadi realitas simulasi: realitas buatan yang dihasilkan melalui proses produksi dan reproduksi pelbagai unsur sehingga tidak mungkin lagi diketahui mana yang real dan mana yang palsu. Budaya massa dan budaya populer yang dangkal. Lebih jauh. Universal Studio ataupun shopping mall yang sekaligus menjadi simbol paling tepat bagi budaya massa dan budaya populer realitas yang sebenarnya kini telah dikalahkan oleh realitas-realitas buatan. papar Baudrillard. pemikiran Baudrillard tentang dunia simulasi dapat dijelaskan secara gamblang. Amerika adalah wajah sebuah budaya yang szhizophrenis. Selanjutnya budaya massa dan budaya populer juga membawakan gagasan meledaknya nilai-tanda dan nilai-simbol di atas nilai-guna dan nilai-tukar. Melalui artefak-artefak budaya massa ini pulalah gagasan Baudrillard tentang fenomena hiperrealitas menjadi mudah dipahami. televisi dan video game misalnya. miskin makna dan orisinalitas yang justru berkembangbiak di Amerika seolah menegaskan sifat paradoks Amerika. kebenaran dan kepalsuan. mengedepankan penampakan. Ketiga artefak budaya massa tersebut juga sekaligus mencampurbaurkan masa lampau. film dan video game mengikuti Baudrillard bergumul pelbagai unsur: fiksi dan fakta. Dengan kekuatan daya tariknya yang luar biasa.

mengutip Baudrillard. Konsumen adalah. kecuali semata dorongan memikat untuk mengkonsumsi apa yang ditawarkan. 1998: 279). Dalam mekanisme komunikasi seperti ini. "mayoritas yang diam" (the silent majorities). pakaian. Dalam wacana estetika seni modern. adalah beberapa bukti lebih dominannya nilai-tanda dan nilai-simbol dalam realiatas budaya massa dan budaya popular. Merebaknya persaingan gaya hidup dengan pelbagai simbol budaya pendukungnya: mobil. Estetika Seni Postmodern Sejarah estetika seni modern pada dasarnya adalah sejarah tentang kemajuan (progress) dan keotentikan (authenticity). tak ada lagi makna. diserbunya pusat-pusat kebugaran. Lebih jauh. mengutip Baudrillard. prestise. dangkal. konsumen dirayu untuk mengkonsumsi lebih dan lebih banyak lagi. handphone. dan bahkan hanyut dalam gelombang deras budaya massa dan budaya populer yang menghadang tepat di depannya. mengutip Habermas dalam karyanya Modernity: An Incomplete Project (1988). adalah prinsip "sesuatu yang baru". Inilah prinsip yang mencerminkan kerinduan manusia modern terhadap keindahan dan keotentikan (Piliang. sampai merebaknya paket wisata-budaya yang mengemas upacara adat. maka kini komunikasi dipahami sebagai proses bujuk-rayu objek (konsumen) oleh subjek (produsen) untuk mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkan. melalui budaya massa dan budaya populer inilah lahir suatu prinsip komunikasi baru yang disebutnya sebagai prinsip bujuk-rayu (seduction). B. sebuah karya disebut otentik bila menyiratkan adanya kemunculan sesuatu yang baru dan keterputusannya dengan yang lama. kesenian tradisional dan keunikan budaya etnis lokal. kampanye. . tayangan talk show. Bila sebelumnya proses komunikasi dipahami sebagai proses penyampaian pesan dari pemberi pesan (addressee) kepada penerima pesan (address) untuk diperoleh suatu makna tertentu. mengedepankan penampakan ketimbang makna dan kedalaman sekaligus mengisyaratkan lebih diterimanya simbol status. dan gempuran pelbagai informasi melalui media massa. kursus kecantikan atau bahkan iklan operasi plastik sebagai simbol dominannya penampilan. penampilan dan gaya ketimbang manfaat atau maknanya. credit card.budaya populer yang bersifat massal. yang pasif menerima segala apapun yang masuk ke dalam tubuh dan pikirannya. Melalui iklan. menelannya mentahmentah tanpa pernah mampu merefleksikannya kembali dalam kehidupan yang sebenarnya. tak ada lagi pesan. Tanda yang mencolok dari prinsip estetika seni modern.

Keharusan selalu beralih dari satu komoditi ke komoditi yang lain dalam proses konsumsi merupakan manifestasi paling sederhana dari sistem kapitalisme. . setiap orang merasa perlu memperbarui dirinya setiap tahun. Sementara itu realitas kebudayaan modern yang didominasi oleh budaya massa dan budaya populer mendesakkan kesadaran yang sama akan kemajuan dan kebaruan. 1995: 61). Penjelajahan artistik modernitas ke masa depan yang bersifat progresif. yang memang tidak pernah membawa manusia ke batas keindahan absolut. dan ketika dalam penjelajahan itu yang ditemukan tak lain adalah jalan buntu. tampil menawan dan berbeda dalam wacana budaya massa mendapatkan jawabannya dengan mekanisme daur-ulang fashion. Ketika seluruh sudut bingkai seni telah dijelajahi. setiap bulan atau setiap musim. tak ada lagi ruang baru untuk dikuasai. tak ada lagi kebaruan yang lebih baru. melalui barang-barang baru. Pada titik inilah terjadi apa yang disebut Adorno sebagai proses industrialisasi budaya (the culture industry). wacana fashion adalah wacana kemajuan semu. yang sudah dibuat. Dalam fashion. Bila ini tidak dilakukan. ketika segala sesuatu dipandang dalam kacamata komoditi. Dengan model daur-ulang fashion. Dalam pandangan Adorno. maka yang dapat dilakukan kini hanyalah mengkombinasikan kembali dan bermain-main dengan bentuk-bentuk seni yang sudah ada. dengan daurulang fashion sebagai model penciptaan produk-produk budaya (Strinati. utopis dan tanpa batas telah berakhir dengan sebuah jalan buntu: tidak ada lagi daerah baru untuk dijelajahi. menjadi komoditi industri. Semacam dialog dengan masa lalu (Piliang. ketika tak ada lagi yang dapat dikatakan sebagai sesuatu yang baru. bahkan budaya. Dengan kata lain. 1998: 281). maka seseorang dianggap belum dapat menjadi anggota masyarakat konsumer yang sejati. wacana semacam ini sebenarnya bukanlah satu bentuk kemajuan. Segala bentuk seni. seni modern kini juga tengah terseret dalam mekanisme fashion. berganti-ganti. di luar norma dan prinsip seni yang ada maka seni telah sampai pada satu titik dimana kebaruan dalam seni tidak lagi merupakan shock of the new.Namun. Ketika bidang di dalam bingkai gambar telah dijelajahi sampai ke sudut terakhirnya. berputar dan tidak menambah apa-apa pada nilai seorang individu. tengah mengalami semacam kebekuan dalam tiga dekade terakhir ini. yang sudah diwariskan. bahkan ketika seni telah menyeberang jauh di luar bingkai seni di luar medium yang biasa. maka seni dapat diproduksi secara massal dan kontinyu sesuai kehendak produsen. Kehendak untuk selalu tampil baru. Namun. sejarah kemajuan dan keotentikan seni modern. sebab fashion senantiasa berubah.

silang-sengkarut dan saling menetralisasi satu sama lain. terdapat beberapa ungkapan yang berasal dari teks-teks lain. seorang pemikir Rusia. Sifat-sifat tontonan. tidak ada satu pun ungkapan seni yang dapat dikatakan sebagai ekspresi murni dan asli sang seniman. Model Dialogisme dan Intertekstualitas Istilah dialogisme adalah istilah wacana tekstual yang dikembangkan oleh Mikhail Bakhtin. Konsep yang setara dengan dialogisme Bakhtin telah digunakan untuk menjelaskan wacana tekstual postmodernisme. model perversitas dan abnormalitas. Desire in Language: A Semioric Approach to Literature and Art (1979). bila di dalam ruang teks tersebut. 1. yang diklaim oleh modernisme. Menurut Bakhtin. Kristeva menjelaskan di dalam karyanya. 1998: 303). dua ungkapan verbal. Dalam dialog dengan masa lalu ini. . untuk menjelaskan kebergantungan satu ungkapan dengan ungkapan-ungkapan yang telah ada sebelumnya. Menurut pandangan Bakhtin. Menurut Kristeva. sebab bagaimana pun sang seniman telah menerima warisan-warisan yang berupa bahasa. 1998: 304). seperti pengkodean berganda Charles Jenck (double code). bahwa sebuah teks dapat disebut interteks. Sementara itu bersamaan dengan berkembangnya media massa dan komoditi massa. Karya intertekstual postmodern dengan demikian adalah tempat perlintasan dari satu sistem tanda ke sistem tanda lainnya (Piliang. teks-teks estetika seni postmodern adalah semacam permainan dan mosaik kutipan-kutipan dari pelbagai teks masa lalu. memasuki semacam hubungan semantik tertentu yang disebut dialogis. maka sesungguhnya secara ideologis telah terjadi semacam pertarungan antara nilai dan maknamakna ideologis yang dibawa oleh media massa tersebut dengan nilai dan makna-makna tradisional. kesenangan dan penampakan pada media massa dan komoditi. untuk menjelaskan jaringan dialogis satu karya seni dengan karya sebelumnya. penampilan dan fashion. fakta-fakta yang pernah diamati sebelumnya (Piliang. 1998: 303-305). (atau postmodern). secara bersama-sama.Pengembaraan estetika ke masa lalu ini pulalah yang menjadi tawaran seni postmodern untuk menjawab kebutuhan masyarakat konsumer akan kebaruan. bricolage Dick Hebdige dan intertekstualitas Julia Kristeva. serta model simulasi dan hiperrealitas (Piliang. seperti dikutip Yasraf Amir Piliang. Hubungan dialogis adalah hubungan-hubungan di antara semua ungkapan dalam komunikasi verbal. pendidikan. Dua karya. setidaknya terdapat tiga model wacana seni postmodern yang dominan yakni: model dialogisme dan intertekstualitas.

bersamaan dengan perkembangan kapitalisme lanjut yang pesat. atau palsu: feminin palsu. yang ditandai dengan fenomena-fenomena simulasi. realitas kebudayaan kini tengah menuju ke ambang era postmodern. sebenarnya berasal dari wacana seksualitas. serta meluruhnya nilai dan paradigma modernisme. tabu. Kaplan. 2. Di dalam estetika perversi-abnormalitas. Model Simulasi dan Hiperrealitas Model wacana seni simulasi dan hiperrealitas merupakan penjabaran pemikiran Baudrillard tentang karakteristik kebudayaan postmodern. tata cara dan penggunaan benda-benda yang mengelabuhi orang yang melihat yang nyata atau yang imajinatif tentang makna yang sebenarnya dari tidak-tanduk tersebut (Piliang. dan sebagainya. simulacra. pembajakan tanda. Di dalam ruang perversi. pembalikan norma. dalam bukunya Female Perversion (1991). pelanggaran tabu. Louise J. Dalam kerangka seperti inilah muncul model wacana seni perversitas dan abnormalitas. Kaplan menjelaskan bahwa tindaktanduk yang tipikal disebut perversi adalah berupa pengembangan skenario di dalam gaya. maskulin semu objek-objek yang disebut sebagai objek-objek postmodern. seolah-olah klasik. atau penopengan tanda. misalnya homoseksual. 1998: 305). menjadi seakan-akan normal disebabkan absennya hukum atau kodekode yang ada. yakni dalam bentuk prinsip abnormalitas. spiritual. dunia seni ditandai oleh objek-objek semu. adat-istiadat dan mitologis. khususnya seni postmodern. Menurut Baudrillard. masokisme. berkembangnya budaya massa dan budaya populer. penyalahgunaan. 3. penemuan pelbagai sarana teknologi informasi dan komunikasi yang canggih. sadisme. pemutarbalikan bahasa. menggunakan istilah perversi untuk menjelaskan fenomena penyimpangan dari norma dan praktek seksual yang normal. perusakan kode-kode yang ada sedikit berbeda dengan surealisme adalah melalui pembajakan. dominasi nilai-tanda dan nilai-simbol serta prinsip komunikasi bujuk-rayu . Di dalam ruang perversiabnormalitas seni. Model Perversitas dan Abnormalitas Istilah perversi. hiperrealitas. Namun dewasa ini di Barat istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan fenomena estetik. seolah-olah. Prinsip perversi dalam wacana seksual ini ternyata berkembang dalam model yang serupa di dalam dunia seni.dalam beberapa sisi telah mengendurkan nilai dan makna moralitas. penopengan makna.

Haim Steinbach. Dalam salah satu resensi lukisan Simon Linke. 1988: 27). sel dan sirkuit simulasi. fraktal. in the words of Baudrillard. semacam proses yang tidak . dan hiperrealitas-simulasi.B. transparansi. a short of trickster who is not going to get us out of the mess were in. which is. teror. sampai Jeff Koons. the chance. manipulatory play of signs without meaning (Gablik. merupakan manifestasi prinsip simulasi Baudrillard. but who will engage in the only legitimate cultural practice possible for our time. the labyrinthine. Peter Halley misalnya. his art baits us with its indifference. pematung. kecabulan. (Dengan lukisan iklan galeri komersial karya Simon Linke yang dikopi langsung dari halaman majalah Artforum. menyepakati gagasan strategi fatalistik dan realitas transparan Baudrillard. estetika dan kebudayaan setidaknya semenjak tahun 1980-an. 1994: 210). Baudrillard menggambarkan realitas estetika postmodern ini sebagai: ekstasi. Dinyatakan dengan sifat keterbukaannya yang tanpa batas. Sherrie Levine. we cannot really know if this is radical criticism or inspired clowning. Baudrillard sendiri mulai memberikan pengaruhnya dalam dunia seni. kita kini tidak lagi tahu apakah ini sebentuk kritisisme radikal ataukah sekedar kloning yang mencerahkan. keterpesonaan. the artist openly adopts the posture of a chariation. sang seniman secara terbuka mengadopsi gaya-sikap keculasan. Jenny Holzer. mulai dari Peter Halley. Ashley Bickerton. Pada tahun-tahun itulah ia kerap banyak dibicarakan oleh kelompok-kelompok seniman.(seduction). praktisi media massa dan studio seni yang mencoba mengadopsi gagasan-gagasannya ke dalam karya-karya mereka. Blue Cell with Triple Conduit (1986) dan Two Cells with Organizing Conduit (1986). Simon Linke. Pelukis. para seniman performance arts. With Simon Linkes paintings of commercial gallery advertisements copied straight from the pages of Artforum. Dalam realitas seperti inilah lahir model wacana seni simulasi dan hiperrealitas. fatal. seperti Jim Beam J. Robert Longo dan Barbara Kruger adalah sederet nama-nama yang mencoba mengekspresikan pemikiran kritis Baudrillard ke dalam wilayah seni (Kellner. mencatat keterkaitan pemikiran Baudrillard dengan perkembangan seni postmodern di tahun 1980-an menyebut . Suzi Gablik seorang kritikus seni misalnya. karyanya memikat kita dengan aura keacuhannya. Turner Train (1986) atau Bear and Policeman (1988). dengan dua karyanya yang memanfaatkan aliran listrik. Sementara Jeff Koons dengan karya-karya duplikasi objek-objek kitsch. Declaring its pointlessness openly.

papar Baudrillard. pertanda dan realitas. pemikiran Baudrillard tentang lenyapnya semua acuan dan referensi diadopsi secara langsung sebagai kosakata kunci dunia seni kontemporer (Kellner. "adalah semacam kesempatan. memaparkan bagaimana seni bekerja sebagaimana bentuk-bentuk gaya yang unik menggunakan nilai-tanda yang diterjemahkan dalam seni baik secara komersial maupun semiotik. namun menikmati praktekpraktek budaya yang mungkin bagi zaman kita. yang diambil alih oleh permainan bebas penanda. Dalam esai yang kedua. yang merupakan konsekuensi logis prinsip simulasi. Baurillard memaparkan bagaimana kompetisi percepatan dan kemewahan dalam dunia seni telah mengubah ekonomi politik nilai dengan menciptakan ekonomi nilai-nilai kemewahan. citra dan kode seni. Model wacana seni simulasi dibangun oleh model-model produksi dan reproduksi dari pelbagai macam tanda. 1994: 210). semacam labirin. Seni bukan lagi ungkapan radikal penciptaan bebas dalam bentuk karya-karya kreatif. Dalam karya Simon Linke. Esai yang pertama. Sementara hiperrealitas adalah kondisi atau pengalaman kebendaan. saat ini seni tidak lagi dituntut untuk mengambil peran demikian. Bagi Baudrillard. seni tak lebih dari sekedar variasi. Terdapat dua esai yang secara eksplisit membahas seni dan praktek-praktek dalam dunia seni yang ditulis Baudrillard dalam karyanya For a Critique of The Political Economy of The Sign (1981). Sementara seni modern berhasrat menjadi sesuatu yang baru menentang bentuk-bentuk seni yang sudah ada. Dunia hiperrealitas adalah dunia yang disarati oleh silih bergantinya reproduksi apa yang disebut Baudrillard sebagai simulacra objek-objek yang tak memiliki . permainan manipulasi tanda tanpa makna"). 1981: 117). isyarat dan tema-tema yang berbeda yang mendapatkan maknanya. Awal dari era hiperrealitas ditandai dengan bangkrutnya makna. Gesture and Signature: The Semiurgy of Contemporary Art. hal ini merupakan awal merebaknya nilai-tanda dan nilaisimbol dalam bentuk nilai kemewahan dalam dunia seni dewasa ini (Baudrillard. yang dalam kata-kata Baudrillard. dari gaya.hendak membawa kita keluar dari tempat dimana kita berada. menurut Baudrillard mengakibatkan dominasi pemaknaan nilai seni oleh sekelompok kelas yang dominan terhadap kelas yang lain. nilai-nilainya dan identitasnya dari pengulangan produk-produk seni itu sendiri (Baudrillard. Saat ini. 1981: 110). The Art Auction: Sign Exchange and Sumptuary Value. Penguasaan proses pertandaan dalam aktivitas lelang seni.

mana yang amoral. Reproduksi nostalgia mencerminkan kepanikan era postmodern disebabkan tanda dan realitas yang hilang. dalam karyanya Travels in Hyperreality (1973). 1988: 185). mana yang bermoral. objek-objek yang dibuat di atas kerangka meleburnya realitas dengan fantasi. kini tak lebih sebagai sebuah wacana. sehingga perbedaan satu sama lainnya sulit diketahui. atau dengan menyajikan dimensidimensi yang selama ini tabu. dapat dikatakan bahwa wacana estetika postmodern kini justru mencari yang terjelek diantara yang jelek. Berikut ini akan dipaparkan beberapa bentuk bahasa estetika seni postmodernisme yang dominan dalam praktek-praktek penciptaan karya seni dewasa ini (Piliang. Estetika dalam wacana postmodern tidak lagi membedakan mana yang indah. disebabkan oleh diutamakannya permainan tanda. mengikuti batas ekstrimnya. . dan sebuah karya seni telah kehilangan dimensi auranya. mana yang jelek. ketimbang makna-makna ideologis yang bersifat stabil dan abadi. halusinasi dan nostalgia. fiksi. Estetika postmodern juga tidak lagi membedakan mana yang kelihatan. mendua dan plural. Wacana estetik seni kini menceburkan dirinya ke dalam hutan rimba citra-citra dan tanda-tanda yang tanpa batas. Wacana estetika postmodern. Umberto Eco. lebih jauh menurut Baudrillard. di mana realitas telah kehilangan dimensi rahasianya. keterpesonaan pada penampakan dan diferensiasi. sebatang tubuh telah kehilangan dimensi seksualnya: sebuah informasi telah kehilangan dimensi maknanya. 1998: 307). Segala wacana termasuk wacana seni kini tengah berupaya mencari jalannya sendiri-sendiri untuk menghindarkan diri dari dialektika makna. Inilah yang menurut istilah semiotik disebut sebagai model yang menjadi modus operandi dalam wacana estetik postmodernisme. dengan cara menghancurkan makna-makna. kecabulan dan imoralitasnya. mana yang tersembunyi. Estetika postmodern mencari yang lebih tersembunyi diantara yang paling tersembunyi (Baudrillard. Dalam kaitannya dengan model wacana seni postmodern inilah pada gilirannya berkembang bahasa estetik postmodernisme yang khas dan unik.referensi sosial. Bahasa estetika seni postmodern yang tampil dalam tanda-tanda dan makna-makna seni bersifat tidak stabil. sebagai akibat dari kondisi modernitas yang menjadikan manusia teralienasi dari akar kebudayaannya sendiri. menyatakan bahwa untuk memahami masa lalu kita harus memiliki di depan mata kita sesuatu yang sedekat mungkin menyerupai model-model asli. Secara ekstrim. dari dialektika komunikasi dan proses sosialisasi.

Pastiche. atau arsitek dari masa lalu. parodi juga selalu memperalat wacana pihak lain. Oleh sebab itu. seniman atau arsitektur.Pastiche. seniman. kritik. pastiche adalah satu bentuk imitasi murni. Kitsch. pastiche mempunyai konotasi negatif sebagai praktek penciptaan yang miskin orisinalitas. Pastiche adalah perang menentang kemajuan dan sejarah. Peniruan ini bersifat ironis dan kritis. Dengan demikian. kekurangannya. Sebagai karya yang mengandung unsur-unsur pinjaman. Pastiche adalah salah satu bentuk imitasi yang tanpa beban kritik. pengarang. yaitu dua teks atau lebih bertemu dan berinteraksi satu sama lain dalam bentuk dialog: debat. merupakan satu bentuk dialogisme tekstual. Pastiche adalah karya sastra. Sebuah teks baru dihasilkan dalam kaitan politisnya dengan teks rujukan yang bersifat serius. Menurut Linda Hutcheon. mencabut dari semangat zamannya dan menempatkannya dalam konteks masa kini. seni atau arsitektur yang disusun dari elemenelemen yang dipinjam dari pelbagai sumber. atau gaya tertentu diimitasi sedemikian rupa untuk membuatnya bersifat humoristik atau bahkan absurd. pengungkapan dalam bahasa yang telah mati. mengutip Baudrillard. gaya atau karya yang menjadi sasarannya (kelemahannya. istilah kitsch . seni atau arsitektur yang di dalamnya kecenderungan pemikiran dan ungkapan khas dalam diri seorang pengarang. Ia menyiratkan suatu upaya dialog dengan sejarah dan membangun masa kini dengan merujuk pada seperangkat tanda dengan pretensi ideologis. Pastiche mengambil pelbagai gaya dan bentuk dari pelbagai keping sejarah. humor. Parodi dalam postmodernisme. Hutcheon menyebut bentuk wacana intertekstual seni semacam ini sebagai neologism atau transkontekstualism. Kitsch berakar dari bahasa Jerman verkitschen (membuat jadi murahan) dan kitschen. tanpa pretensi politis seperti parodi. keseriusannya atau kemasyhurannya). menurut Mikhel Bakhtin. merupakan suatu wacana untuk mempertanyakan kembali subjek pencipta sebagai satu-satunya sumber makna. adalah titik balik sejarah. yang secara literal berarti memungut sampah dari jalan. Parodi. Sebagai satu bentuk wacana. sebab sejarah tak dapat diulangi namun sejarah harus dibuat. Parodi merupakan sebuah relasi bentuk atau struktur antara dua teks. parodi selalu mengambil keuntungan dari bentuk. Sementara Fredrich Jameson secara metaforis menyebut pastiche sebagai penggunaan topeng sejarah. mengutip Linda Hutcheon. Parodi adalah sebuah komposisi dalam karya sastra. Efek-efek kelucuan atau absurditas biasanya dihasilkan dari distorsi atau plesetan ungkapan yang ada. Parodi. bahkan bermuatan politis dan ideologis. Pastiche mengimitasi karya masa lalu dalam kerangka menghargai dan mengapresiasinya.

binatang atau tumbuhan kerap kali digunakan. Kitsch dikatakan sebagai selera rendah disebabkan lemahnya ukuran atau kriteria estetik. jam meja berbentuk gitar). permukaan sensual dan gaya. konsumsi. Camp juga menolak pembedaan seksual dan merayakan bentuk androgini dan perversi. Strategi kitsch adalah mensimulasi dan mengkopi elemen-elemen gaya dari seni tinggi atau sebaliknya dari objek sehari-hari untuk kepentingannya sendiri. tekstur. Kitsch mengimitasi bentuk. sebagai akibat berkembangnya teknologi produksi. Camp bukanlah selera rendah atau sampah artistik. sering diidentifikasikan dengan kitsch. Jacques Lacan. yakni peleburan gaya dan citra seksual yang tak jelas rujukannya. dengan mengorbankan isi. dengan pengertian ingin menjadi berlebihan. Oleh Hal Foster. melainkan satu model estetisisme bukan dalam pengertian keindahan. gaya.sering ditafsirkan sebagai sampah artistik. arsitektur toko berbentuk sepatu). kitsch menjadi salah satu kategori bahasa estetik yang sangat dominan. atau reproduksi ikonis (misal. meskipun kriteria ini berbeda dari satu zaman dan tempat ke zaman dan tempat lainnya. yang produksinya didasarkan pada semangat memassakan atau mendemitologisasi seni tinggi. Camp sering menekankan dekorasi. Di dalam The Concise Oxford Dictionary of Literary Terms (1990). camp berbeda sekali dengan kitsch. yaitu rangkaian sintagmatik penanda yang . Camp dicirikan oleh upaya-upaya melakukan sesuatu yang luar biasa. Hal ini karena postmodernisme sering dikatakan miskin akan kriteria estetik. Camp. seorang ahli psikoanalisis. spesial. dalam pengertiannya yang lebih luas. sehingga postmodernisme. makna dan orisinalitas. atau glamour. Dalam seni postmodern. adalah suatu bentuk dandyism dan karenanya menjunjung tinggi kevulgaran. keberadaan kitsch pada awalnya memang sangat didorong oleh semangat reproduksi. Schizophrenia. Camp dengan kata lain. Camp menjadikan prinsip artifisialitas sebagai ideal proses penciptaan seni. ramping. Kitsch menggunakan kebanalan dan produk konsumer sebagai bahan baku reproduksi ikonik seni. Objek-objek manusia. estetika postmodernisme bahkan disebut sebagai anti-estetika. akan tetapi dalam pengertian keartifisialan dan penggayaan (stylization) yang mencirikannya. namun secara ekstrim dibuat lebih kurus. kitsch didefinisikan sebagai segala jenis seni palsu (pseudo art) yang murahan dan tanpa selera. Camp anti alam. atau sering juga didefinisikan sebagai selera rendah (bad taste). Meskipun sering dikelirukan dengan kitsch. mendefinisikan skizofrenia sebagai fenomena terputusnya rantai pertandaan. atau objek untuk tujuan dan fungsi palsu (misal. jangkung atau gendut. dan komunikasi massa. Menurut Greenberg.

ditujukan untuk mengeruk keuntungan sebesar(Baudrillard. Dalam kerangka seperti inilah film postmodern mendapatkan dirinya. konsep atau petanda tidak dikaitkan dengan penanda dengan cara yang stabil. Membaca Film There is no more fiction that life could possibly confront 148). Film adalah tidak semata karya seni. yakni ideologi postmodernisme. prinsip dan nilai estetika. C. film postmodern merupakan bagian dari budaya massa dan budaya populer yang disodorkan oleh kapitalisme. masa kini dan masa depan dalam bahasa disebabkan adanya gangguan pertandaan maka kita juga tidak dapat membedakan antara masa lalu. menciptakan ruang estetika seni tersendiri dan menanamkan pelbagai nilai dan pandangan hidup. seni dan sekaligus juga ideologi. Lewat film pula paradigma kebudayaan postmodern ditebar ke seluruh penjuru dunia.bertautan dan membentuk satu ungkapan atau makna. Bahasa estetika skizofrenik. bila kita tidak mampu membedakan antara tensis masa lalu. Dengan perkataan lain. Sebagai produk budaya massa. Bagi seorang skizofrenik. persimpangsiuran kata atau penanda untuk menyatakan satu konsep dimungkinkan. teori dan keyakinan kebudayaan postmodern tampil secara utuh sekaligus memikat. Lebih lanjut. Lewat film. tumpang-tindihnya masa lalu. Televisi dan Iklan 1. masa kini dan masa depan dalam pengalaman kehidupan psikis kita. namun juga komoditi barang dagangan yang sama dengan komoditi lainnya. Kekacauan pertandaan selain dalam kalimat juga terjadi dalam gambar. seni dan sekaligus ideologi. film merangkum dalam dirinya kemampuan menjelajah setiap sudut dan ruang yang ada. Dengan demikian. (Tidak ada lagi fiksi yang dapat dibedakan dengan kenyataan) Film merupakan salah satu pilar bangunan estetika postmodern selain televisi dan media seni lainnya. Film postmodern adalah komoditi. teks atau objek-objek seni. prinsip-prinsip kebudayaan postmodern dapat dibaca dengan mudah. dengan demikian ditandai oleh kekacauan dan silang sengkarut pelbagai tanda. berdasarkan teori psikoanalisis Lacan. Membaca Film. Film adalah komoditi. masa kini dan masa depan dalam satu ruang seni yang sama. Melalui film. 1983: . Sebagai komoditi. semua kata atau penanda dapat digunakan untuk menyatakan satu konsep atau petanda.

Sementara sebagai ideologi. film-film postmodern sadar akan kedudukannya sebagai komoditi. Dalam salah satu bagian dalam bukunya. An Introduction to Theories of Popular Culture (1995). ketimbang materi cerita. film postmodern mencoba menjelajah ruang-ruang kreatifitas estetik baru yang masih tersisa. nilai-nilai dan keyakinan wacana postmodernisme. Sebagai karya seni. Diangkat dari cerita komik. dalam realitas kebudayaan dewasa ini prinsip nilai-guna dan nilai-tukar telah digantikan kedudukannya oleh nilai-tanda dan nilai-simbol. ataupun merefleksikan kondisi sosial. tampilan gambar-suara. kedua film ini secara jelas mengedepankan prinsip penampakan ketimbang materi cerita. Film Dick Tracey dan Batman menampilkan realitas komik dalam film hero-detektif tahun 1940-an melalui . Gema pemikiran postmodern Baudrillard tentang dominannya nilai-tanda dan nilai-simbol ini misalnya dapat ditemukan pada film-film seperti Dick Tracey (1990) ataupun Batman (1993). yang tak lebih dari barang dagangan. Penampakan. karakterisasi. film-film postmodern seolah menyuarakan pergeseran prinsip ekonomi politik seperti dikemukakan Baudrillard. yang menuntutnya untuk memenuhi kebutuhan hukum kapitalisme akan keuntungan. alur narasi atau pun realitas sosial (Strinati. film postmodern membawakan ciri-ciri dan karakteristik yang berbeda dengan film-film di era modernisme. penokohan ataupun narasinya. citra-citra. tidak lagi berpretensi menemukan makna-makna. media dan tanda-tanda yang ada. teori dan model-model estetika seni postmodern yang ada untuk digunakan sebagai media kreatifitas. Daripada bersikap heroik demikian. film postmodern memilih untuk sekedar bermain-main dengan gaya-gaya. film postmodern tampil untuk menyuarakan prinsip-prinsip. Film postmodern secara sadar mengeksploitasi kemungkinan-kemungkinan penjelajahan estetik sebagai kekuatan dan daya tariknya. melalui cerita. berbeda dengan film-film modern. Dibaca dari perspektif ini. Dominic Strinati menyatakan bahwa salah satu karakter menonjol film-film postmodern adalah sifatnya yang mengedepankan penampakan. 1995: 229). penampilan. film-film postmodern sekaligus ingin membuka cakrawala estetika baru dengan memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk bereksperimen. Di satu sisi. Dengan peran demikian. Merujuk Baudrillard. Namun di sisi lain. Film postmodern bergumul dengan pelbagai prinsip. gaya dan citra-citra ketimbang makna dan realitas sosial. gaya dan teknik-teknik khusus (special effects). citra-citra.besarnya. citra-citra dan tanda lebih utama ketimbang makna. film adalah hasil cipta dan kreatifitas seniman yang ditampilkan dalam bentuk gambar dan citra-citra bergerak. isi dan kedalaman. Sebagai produk seni. simbol status. Film postmodern.

impian. Ia dengan demikian bersifat multi-narasi. cerita fiksi-ilmiah. kekerasan. homoseksual). Indiana Jones (1989). 1988: 461). Film-film seperti Back to The Future (1990). Film dalam pengertian ini. Makna. dalam pandangan Baudrillard. kedalaman dan realitas sosial sama sekali tak lagi diperhitungkan. Kartun. nilai-nilai agama. pornografi. serta masa lalu. Pulp Fiction (1992). Tidak ada lagi fiksi yang dapat dibedakan dengan kenyataan. yang menyatukan dua genre yang berbeda film kartun dan film detektif manusia dalam satu film. musik populer dan pengaturan alur cerita yang sederhana. musik pop. film-film yang memanfaatkan tanda-tanda budaya populer ini berkehendak untuk nampak seolah lebih nyata ketimbang realitas yang sebenarnya. Blade Runner (1982). pencahayaan yang berlebih dan vulgar. tragedi serta bahkan surealisme dalam satu ruang yang sama. Sementara itu. . gaya fashion dan iklan menjadi sumber inspirasi kreatif yang dominan (Strinati. Film-film postmodern juga dicirikan oleh sifatnya yang mengaburkan. batas-batas antara realitas dan imajinasi. multi-tema dan diskontinyu. serta mencampuradukkan arsitektur dua abad yang berbeda: abad ke-21 M dan abad ke-18 M. fakta dan fiksi. dalam pengertian ini menjadi semacam representasi dunia simulacra dan simulasi dalam terminologi Baudrillard. masa kini dan masa depan. 1995: 230). kekerasan (adegan pemotongan telinga) dan kedamaian (setting kota kecil Lumberton) dalam satu cerita (Denzin. komedi. yakni sebuah dunia buatan dimana realitas dibentuk. Inilah sebuah dunia hiperrealitas. Melalui film postmodern. cerita petualangan. narasi dan setting diskontinuitas tiga cerita berbeda yang disatukan. Lebih jauh. menjadi tak lebih sebatas hiburan. kini There is no more fiction that life could possibly confront (Baudrillard. futuristic-setting. masa kini dan masa depan. adalah beberapa contoh film yang menyuarakan prinsip simulacra dan simulasi postmodernisme. misteri pembunuhan. special effects yang dahsyat. fantasi. 1983: 148). film-film postmodern juga ditandai oleh keinginannya untuk mengeksploitasi tanda-tanda dan ikon-ikon budaya populer. komik. Film postmodern. yang mengeksploitasi cerita aksi-petualangan. bahkan mencampur-baurkan. yang mengaburkan dan mencampur-baurkan batas-batas masa lalu. special effect. Blue Velvet (1987). seni. yang mengeksplorasi tema. teknologi. dan kehilangan segala referensi realitas yang sebenarnya. produksi dan reproduksi. direkayasa. Film postmodern adalah juga silangsengkarut berbagai hal: moralitas. Film-film seperti Who Framed Roger Rabbit ? (1986). yang menggunakan ikon dan tanda dari beberapa masa yang berbeda.karakterisasi non-human. yang menjumbuhkan moralitas (nilai-nilai agama dan tradisi) dan kecabulan (adegan sado-masochism.

kini dipertontonkan secara terbuka (Baudrillard. parodi. 1988: 472). dengan demikian berarti bersiap memasuki dunia yang tak lagi punya referensi. film-film postmodern tak ubahnya seperti sebuah tamasya di antara puing-puing masa lalu dan permainan pelbagai mosaik sumber seni dan imajinasi yang bisa dijangkau manusia. Film postmodern adalah ruang dimana segala prinsip realitas dan kebenaran modernisme kini dirongrong. betapapun absurdnya. Tepat seperti ungkapan Norman Denzin. yang mengisahkan romantisme percintaan. dalam salah satu kritik filmnya. tanda dan tema sebuah dunia permainan dan imajinasi dalam batasannya yang terjauh. digugat dan bahkan ditolak. kekerasan dalam realitas sosial dan kesenangan dalam realitas budaya. carut-marut. film-film postmodern juga mencoba menampilkan hal-hal yang sebelumnya tabu ditampilkan. Yang diimpikan kini semata-mata hanyalah terpenuhinya hasrat bereksperimentasi. Culture and Society (1988). (Nampaklah bahwa individu-individu postmodern menginginkan film seperti Blue Velvet karena dengan film itu mereka bisa mendapatkan hasrat seks mereka. It seems that postmodern individuals want films like Blue Velvet for in them they can have their sex. semuanya pada saat yang sama). yang bahkan nampak lebih nyata dibanding realitas sebenarnya. Merujuk Baudrillard. Pada titik ini. memanipulasi dan memenuhi ruangruang imajinasi manusia dengan segala yang dapat dibayangkan. Membaca film postmodernisme. kita dibuat lupa bahwa tokoh-tokoh itu hanyalah fiktif belaka. film-film postmodern semakin mendapatkan ruang penjelajahan yang lebih luas. 2. secara jelas merujuk tanda-tanda budaya populer sebagai acuan realitas baru. impian-impian mereka. Kecabulan dalam realitas seksual. kekerasan dan keyakinan politik mereka. mengeksploitasi. camp dan skizofrenia secara sadar dieksploitasi sampai pada titik yang terjauh. Dengan tokoh-tokoh dalam film-film tersebut. silang-simulang dan campur-baur antara pelbagai citra. dalam jurnal Theory. their violence and their politics. 1988: 51). kitsch. Blue Velvet (1986). Selanjutnya melalui model-model estetika seni postmodern. Membaca Televisi . Prinsip-prinsip pastiche. their myths. all at the same time (Denzin.atau film komik-kartun Beauty and The Beast (1994).

simulacra. kelaparan dan bencana alam di Sudan. elite media politics as its ideological formula. tontonan sebagai tanda emblematik komoditasnya. Perang di wilayah Teluk Persia. dan wujud ikatan sosial. citra. (Televisi adalah dunia yang sebenarnya dari kebudayaan postmodern. 1987: 32). citra-citra elektronik sebagai sifatnya yang paling dinamis. dalam penampilannya yang paling menawan dan menggiurkan.Television is the world (Baudrillard. Dunia televisi. aktivitas jual-beli abstrak sebagai dasar rasionalitas pasarnya. kampanye presiden Amerika. serta etika dan moralitas dibaurkan dengan kecabulan dan brutalitas: sebuah dunia postmodern. cynicism as its dominant cultural sign. electronic images as its most dynamic. televisi kini mampu menghadirkan informasi. realitas dikemas dan dijadikan komoditi (tontotan). hiburan dan mimpi pada saat yang sama secara seketika. Turner . lifestyle advertising as popular psychology pure. the buying and selling of abstracted attention as the locus of its marketplace rationale. ruang dan waktu dilipat dalam satu dimensi (kekinian). manipulasi. Television is the real world of postmodern culture which has entertainment as its ideology. bujuk-rayu (seduction) dan hiperrealitas. seperti diungkapkan Baudrillard. media politik tingkat tinggi sebagai formula ideologisnya. Lebih dari eraera sebelumnya. the spectacle as the emblematic sign of the commodity form. 1990: 169). dan segalanya dilipat dalam sebidang kotak layar kaca. dengan hiburan sebagai ideologinya. empty seriality as the bond which unites the simulacrum of the audience. bertubrukan dengan tayangan opera . Dalam televisi. form of social cohesion. simulasi. (Televisi adalah dunia) Dalam derap gemuruh budaya massa dan budaya populer dewasa ini tak ayal televisi adalah artefak simbolis postmodernisme paling representatif dan berpengaruh. and only. tayangan serial yang kosong sebagai pengikat yang menyatukan simulacrum para penontonnya. iklan gaya hidup sebagai psikologi populernya. demonstrasi mahasiswa di Jakarta. menjadi sebuah dunia dimana realitas dan pelbagai hal melebur. Televisi memuat segala karakter dunia postmodernisme: reproduksi. sinisme sebagai tanda budayanya yang dominan. Mengutip Bryan S. and the difussion of network of relational power as its real product (Turner. dan penyebaran jaringan kekuasaan yang saling berhubungan sebagai produknya yang utama). Televisi sekaligus menjadi ruang praksis meleburnya berbagai macam tanda. impian dan kenyataan.

Dalam arus kapitalisme lanjut yang dikejar prinsip kemajuan. 1987: 33). Menurutnya. Sifat simulasi dalam media televisi telah mampu menyuntikkan makna-makna yang seolah-olah ada pada pada kehidupan nyata. konser musik Madonna. segala sesuatu didaulat sebagai komoditi. film kartun Mickey Mouse dan talk show Oprah Winfrey. iklan. Dalam ruang semu televisi. Dalam ruang semu televisi dengan tayangan berkedok informasi dan hiburan penonton tidak lagi sadar bahwa dirinya tengah menjadi objek indoktrinasi. berita. talk show ataupun tayangan kesenian tradisional. Identitas. Sifat fragmentasi dalam dunia semu televisi inilah dunia yang terpotong-potong. telenovela. kemudian ke tayangan videoclip Michael Jackson.sabun Dallas. Bahkan. proses indoktrinasi nilai. dialami sebagai tontonan yang semata untuk dinikmati tanpa harus bersusah payah berpikir kritis. sebuah realisme semu. tayangan olahraga. impian. dengan kemampuan teknologisnya. Untuk itu. percepatan dan perbedaan (diferensiasi). merupakan ruang yang dipilih untuk menancapkan nilai-nilai semu tersebut. kebaruan. tema dan identitas diri itu sendiri dirasakan dan dialami sebagai sebuah kenikmatan. penonton seolah didaulat sebagai subjek otonom yang dapat memilih. Dan televisi. gaya hidup. Ia dapat memindah-memindah dan menciptakan realitas dari tayangan yang satu ke tayangan yang lain tanpa adanya referensi tunggal yang saling berkaitan. kisah penemuan televisi bukanlah sekedar cerita tentang revolusi demokratisasi informasi dan hiburan. namun lebih dari itu televisi telah menciptakan revolusi pemahaman tentang dunia secara radikal (Baudrillard. lalu kelaparan di Irian Jaya dan seterusnya. memindah atau menyeleksi suguhan apa yang akan ditontonnya. meskipun sebenarnya hanyalah sebuah fantasi. Dalam bukunya Simulations (1983) dan The Ecstasy of Communication (1987). Dari berita politik tentang Pemilu di Rusia. videoclip. pendek- . ideologi kapitalisme merasa perlu menyusun strategi pembentukan konsep citra diri semu ini secara sempurna. dan semuanya kini dapat dinikmati pada saat yang sama hanya dengan menekan tombol remote control. Namun komoditi disini tidaklah semata barang dagangan. semuanya menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah komoditi. Ruang dan waktu seolah terlipat dalam sebuah kotak kaca yang bernama televisi. Komoditi dalam masyarakat konsumer adalah juga representasi citra diri konsumen. berpindah lagi ke film drama Inggris yang bersetting abad ke-18 M. sekaligus menawan. prestise. Baudrillard mengelaborasi karakter postmodern televisi dalam kerangka masyarakat konsumer yang digerakkan oleh kapitalisme lanjut. ke telenovela Meksiko. Film.

fetishisme gol atau fetishisme kostum. tetap ditunggu dan ditonton meskipun harus menunggu hingga tengah malam. penonton dengan demikian tak lebih dari sekumpulan mayoritas yang diam (Baudrillard. dalam wacana televisi. sex (obscenity). yang dicari bukanlah makna. Mereka menyerap semuanya dan hanya mampu memamahnya mentah-mentah. Itulah kepanikan seks (misal. ekstasi tubuh . melainkan fetishisme bintang. 1998: 202). impian dan fantasi. tanpa memiliki jati diri yang hakiki. that of permanent ecstasy: the ecstasy of the social (the masses). akan tetapi tak mampu merefleksikannya kembali. bahwa piliha dan otonomi penonton televisi sebenarnya tak lebih dari pilihan semu. kepanikan uang (misal. film Gigolo and The Murder). tontonan televisi yang berkarakter simulasi dan hiperrealitas dengan kemampuan menyuguhkan simulacrum kekerasan. kriminalitas dan seksualitas yang bahkan lebih keras. menjuju keadaan ekstasi permanen: ekstasi sosial (massa). and information (simulation) (Baudrillard. Otonomi yang dibatasi dan diatur oleh pilihan yang sudah ada (Baudrillard. Lebih jauh. kasus mega-korupsi Bapindo). 1987: 82). menurut Baudrillard. Menurut Baudrillard. Itulah mengapa tayangan siaran langsung sepakbola misalnya. 1987: 16). semua ini hanyalah mistifikasi yang dijejalkan ideologi kapitalisme demi produksi dan konsumsi. violence (terror). Penonton. yang semakin menjauhkannya dari makna-makna luhur (Piliang. kepanikan ekstase (misal. Kebenaran yang sesungguhnya. akan tetapi tak mampu lagi memantulkannya. Massa yang panik ini menyerap segala energi sosial. (Dengan desakan makna. 1983: 19). the body (obesity). tak lebih dari objek mengalirnya berbagai fakta. and transparence our societies have passed beyond the limit point. merebaknya pil ecstasy) (Pilliang. hal ini karena televisi samasekali tidak berpretensi menawarkan makna luhur atau transenden. kecuali ecstasy dan kedangkalan ritual. lebih kriminal dan lebih seksual dari yang dapat dibayangkan akal sehat telah membentuk penontonpenonton yang lebih banyak hidup dalam kepanikan massal. informasi dan transparasi. Khalayak penonton televisi menyerap setiap tanda dan makna. berubah dan berpindah yang menjadikan para penontonnya terbuai oleh mitos tentang subjek yang otonom. citra. Dalam tayangan sepakbola. masyarakat kita telah melampaui ambang batas. Padahal. By dint of meaning. information. Dengan bahasanya yang khas Baudrillard menyatakan .pendek. sebuah terminal pelbagai jaringan tanda-tanda. Dalam wacana televisi. 1998: 237).

bukan lagi televisi yang menjadi cermin masyarakat. ia disebut secara negatif sebagai Tabung kebodohan yang menawarkan mimpi. Televisi memiliki satu kekuasaan untuk mengontrol dan memastikan bahwa massa penontonnya dapat diatur jadwal aktivitasnya (misal. Pada sisi wajahnya yang satu. Karakter khas televisi ini tak ubahnya seperti Dewa Janus. Dalam pengertian ini. Semuanya ditembus dan dijangkau televisi. maka tidurlah di siang harinya). kekeringan. billboard. ataupun film kartun dari segala penjuru dunia kini langsung menyelusup ke kamar paling pribadi. kekacauan Pemilu. sifat totalitas televisi telah menjadikannya sebagai suatu bentuk kekuasaan baru dalam suatu komunitas. 1998: 237). Kini tidak ada lagi batas yang jelas antara kamar tidur dan arena drive in atau taman kota. Sementara pada sisi wajahnya yang lain. Kini. Berita tentang perang. ekstasi kekerasan (teror). iklan hadir kapanpun dan dimanapun dan menjadi kebutuhan kita sehari-hari. melainkan sebaliknya masyarakatlah yang menjadi cermin televisi. spanduk sampai internet. Inilah dunia hiperrealitas dalam terminologi Baudrillard. hati dan kesadaran kita. ia disebut secara positif sebagai Panduan baru. Kehadiran televisi pada gilirannya menjadi sebuah mekanisme kontrol sosial yang ampuh.(kegemukan). radio. bahkan tanpa perantara. menyentuh tubuh. lagu baru. Televisi lalu seolah menjelma menjadi Ratu Adil yang memberikan semacam demokratisasi informasi bagi siapapun. karena massa penonton terisolasi dalam wacana yang tanpa respon (Piliang. kapanpun dan dimanapun. serta ekstasi informasi (simulasi). bila ingin menonton acara sepakbola dini hari. bahwa mereka tidak lagi dapat bercengkerama satu sama lain seakrab dahulu. 1988: 22). bahwa telah terjadi pembentukan identitas diri melalui televisi. film. Ruang publik dan ruang pribadi telah menyatu dalam suatu ruang baru: ruang hiperrealitas televisi (Baudrillard. jendela untuk melihat dunia. ekstasi seks (kecabulan). yang berwajah ganda. Citra-citra yang ditawarkan televisi telah membentuk ketidaksadaran massal. Melalui televisi. Sebagai anak cucu kapitalisme. 1987: 77). iklan mengepung . Membaca Iklan Iklan memainkan peran dominan dalam kehidupan kita dewasa ini. 3. tayangan iklan. sebuah dunia buatan yang justru lebih nyata dan real dibanding realitas yang sebenarnya (Baudrillard. media cetak. Akhirnya Baudrillard menyatakan bahwa dalam wacana televisi telah terjadi peleburan bahkan penghancuran ruang publik dan ruang pribadi.

cara makan. Lebih dari masa-masa sebelumnya. video clip. model rambut. kartun. komik. 1989: 57). 1983: 61). harapan dan identitas diri. namun bahkan lebih jauh berperan sebagai pencipta dan pembentuk realitas. Dalam iklan. Advertising as Religion: The Dialectic of Technology and Magic (1989). era postmodern. miliki lebih banyak dan nikmati lebih banyak (Ewen. idiom. Iklan adalah juga campur aduk antara citra. bahan gurauan dan idiom-idiom populer yang dipersoalkan bukanlah makna dan kedalaman . Seseorang dipandang berhasil. Inilah saat ketika iklan hidup dalam realitas kebudayaan baru. Ia merayu. menawarkan sekaligus memanipulasi. diberi semangat. idiom dan kode-kode pelbagai budaya. Dengan iklan kita dihibur. Pada titik inilah iklan mengambil peran sebagaimedia informasi pelbagai kebutuhan konsumsi. penyampai pesan tentang produk-produk. bernilai dan berkualitas dari kemampuannya mengkonsumsi. individu dinilai dari apa yang ia miliki. bahkan telah menggeser peran agama dalam memberi pengertian tentang kebahagiaan dan kehormatan diri. cara bicara. 1989: 225). Semakin banyak ia mengkonsumsi. simbol dan kode produk komoditi yang bersilang-sengkarut.dan menguasai kesadaran kita. Dalam masyarakat konsumer seperti ini. Dengan kata lain. cara berdandan. simbol. gaya hidup. Iklan bersama televisi. televisi. iklan dan televisilah yang membentuk realitas dan bukan sebaliknya. Tanpa sadar kita pun hanyut dalam sebuah dunia dengan budaya baru: budaya konsumer. Iklan bersifat nyata sekaligus semu. iklan adalah representasi pelbagai karakter masyarakat simulasi. pakaian. iklan menggoda kita untuk mengkonsumsi. video game. semakin tinggi kedudukannya dalam masyarakat konsumer. seperti halnya dalam kebanyakan bentuk budaya populer musik. tanda. iklan benar-benar telah menjadi legislator yang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu. iklan kini tidak lagi berfungsi sekedar sebagai media aktivitas konsumsi. real sekaligus hiperreal. Dalam perspektif postmodernisme. Singkat kata. simbolis sekaligus superfisial. Kita pun terpukau dengan godaan ideologi iklan yang selalu menyerbu Beli lebih banyak. membius dan memaksa kita untuk mengkonsumsi. gaya hidup dan struktur masyarakat (Baudrillard. konsumsi menjadi sebuah kosakata baru yang dominan dan mengambil alih kedudukan produksi. Iklan. Dengan iklan pula kita didorong atau dilarang untuk berbuat sesuatu. fungsi yang pada awalnya dibawakan agama (Jhally. mengutip Sut Jhally dalam tulisannya. Dalam masyarakat konsumer. Dengan kemampuan membangun citra melalui tanda. sebagai representasi ruang simulacra dan hiperrealitas kini telah menjadi acuan dan model citra diri. aksesoris. film.

kemewahan. Lebih radikal lagi.melainkan penampilan dan kenyamanan. Nilai. Dalam bukunya An Introduction to Theories of Popular Culture (1995). Dominic Strinati menyatakan bahwa penampakan dan gaya visual dalam iklan-iklan postmodern merepresentasikan konsepsi gaya hidup konsumennya (Strinati. kehormatan. pastiche. Prinsip yang dipercaya adalah. 1987: 100). objek-objek tersebut seolah-olah disihir menjadi ide-ide otonom bagi dirinya sendiri. Citra inilah sebenarnya yang dijual. 1995: 232). Di sini. namun juga bahkan menaturalisasikannya (Hebdige. Iklan postmodern juga memanfaatkan pelbagai citra dan tanda sebagai acuan dunia yang dibangunnya. Inilah dunia yang dibangun di atas prinsip komunikasi bujuk-rayu (seduction). hubungan penanda-penanda iklan dengan tema-tema yang dibangunnya kesuksesan. Iklan adalan pesan itu sendiri. objekobjek asli menjadi tidak lebih penting dari citra yang dibentuk atas dirinya. citra hasil proses glamorisasi ini menjadi lebih nyata dan real ketimbang objek aslinya. Dengan glamorisasi. bukanlah untuk mencapai makna atau pesan yang disampaikan pengirim pesan (addressee) kepada penerima pesan (address). seperti dikatakan Baudrillard. seringkali kita anggap sebagai bagian dari kenyataan. camp dan skizofrenia proses glamorisasi menjadi semakin berkembang. Glamorisasi adalah proses pelepasan suatu objek dari konteksnya. iklan postmodern tidak semata-mata merepresentasikan gaya hidup. bukan lagi produknya. Prinsip komunikasi dalam iklan. Bahkan. dalam istilah Barthes. Merujuk Roland Barthes. Kita juga seringkali kehilangan kontrol untuk menyadari bahwa dunia iklan adalah dunia citra yang sengaja diciptakan untuk merayu dan menggoda. Iklan kini lebih tertarik dengan teknik-teknik manipulasi pelbagai hasrat dan citarasa konsumer melalui permainan citra. melainkan untuk membujuk dan merayu penerima pesan (address) agar mengkonsumsi citra-citra yang berupa produk komoditi dari pengirim pesan (addresee). Iklan postmodern tidak lagi peduli dengan peran pemberi informasi tentang nilai dan kualitas produk yang ditawarkannya. parodi. Seorang wanita yang memerankan sosok wanita karir dalam iklan terkena proses glamorisasi keanggunan dan keaktifan dunia bisnis modern. kecantikan. 1990: 78). Iklan menjadi sebuah dunia hiperrealitas. kemudaan telah melalui sebuah proses yang disebutnya glamorisasi. medium is message. Iklan adalah dunia retorika citra (rhetoric of the image). tema dan klasifikasi gaya hidup konsumer . seperti diuarkan Marshall McLuhann. seperti dipaparkan Baudrillard (Baudrillard. Kita lupa bahwa citra-citra yang ditawarkan iklan hanyalah hasil rekayasa teknologi media. Melalui upaya eksplorasi wacana estetika seni postmodern kitsch. Tayangan iklan di televisi misalnya.

filsafat dan kajian kebudayaan dewasa ini. dikendalikan oleh apa yang disebutnya logika hawa nafsu (Baudrillard. Dalam kondisi seperti ini. Kehadiran iklan tak pelak merupakan perpanjangan praksis prinsip komodifikasi. iklan telah ikut mendiktekan tema-tema citrasemu: ideal-ideal kecantikan. termasuk iklan. melainkan citra-citra netral yang mudah untuk diimitasi setiap orang (Piliang. misalnya. hasrat untuk selalu mengkonsumsi tanda yang ditawarkan iklan ini. 1987: 51). Di masa kini. seni. benar dan alamiah dalam iklan. menjadi seolah nyata. melalui televisi. daripada karena alasan ketidakcukupan alamiah (Baudrillard. produsen budaya citra. lebih sering karena dorongan perasaan ketidakcukupan yang kita produksi sendiri. Beberapa Catatan Kritis Tidak bisa dipungkiri. Iklan postmodern. radio maupun surat kabar. keluarga bahagia. dikonstruksi keinginan yang tak bisa dipenuhi: sebuah dunia mimpi yang dalam dirinya sebenarnya hanyalah khayalan. ideologi. masa depan yang cerah. sebagai era kemenangan imagology. iklan kini tidak lagi menekankan citra kelas atau status yang kaku. Istilah ini menggambarkan sebuah mekanisme ketidakcukupan yang diproduksi seseorang dalam dirinya sendiri. Pemikiran- . norma-norma keindahan tubuh. dengan demikian adalah perpaduan yang cerdas pelbagai kepentingan: komoditi. Dalam era ini. Artinya. ketika segala sesuatu dinilai semata sebagai objek eksploitasi. gaya hidup menjadi lebih beragam. cita-cita kesuksesan. Seseorang kini dapat dengan mudah masuk dalam pelbagai kategori gaya hidup tanpa harus menjadi anggota kelas sosial tertentu. Inilah saat yang disebut Milan Kundera. yang selalu ingin mendapatkan lebih dan merasakan lebih. Tindakan mengkonsumsi sebuah produk. menurut Baudrillard.yang diciptakan tanpa acuan dalam realitas. Sementara itu di sisi lain. gaya hidup kini tidak lagi dapat diklaim menjadi milik eksklusif kelas tertentu dalam masyarakat seperti di waktu-waktu yang lalu. citracitra. menurut Baudrillard. adalah produsen realitas dan sekaligus mimpi Dengan kemenangan imagology. Melalui iklan. dalam bentuknya yang paling memikat dan menggoda kita untuk selalu dan selalu mengkonsumsi. 1987: 51). Baudrillard adalah salah seorang pemikir postmodern paling penting dalam wilayah sosiologi. 1998: 254). plural dan yang terpenting lebih mengambang bebas. Terdapat perbedaan antara cara iklan masa kini merepresentasikan gaya hidup dibandingkan yang sebelumnya.

kebudayaan. Sementara dalam era postmodern. sebagaimana pemutusan era modern dari era pramodern. konsumsi. dan opera sabun. Dunia postmodern. Baudrillard banyak mendapat pujian karena ketajaman dan kecemerlangan analisisnya terhadap realitas kebudayaan dewasa ini. Baudrillard dianggap berhasil menggambarkan perubahan karakter kebudayaan dari modernisme ke postmodernisme. Dengan gayanya yang khas. iklan. seni. simulasi adalah mekanisme kebudayaan dominan dewasa ini. yang tak nampak namun stabil dan utuh. Merebaknya budaya massa dan budaya populer. feminisme. lahirnya dunia simulasi video game. menjamurnya pusat-pusat kebugaran dan kursus kecantikan yang mengedepankan penampilan. namun sangat tidak stabil (Baudrillard. Saussure. politik. dengan simbol-simbol shopping mall. Barthes. Simmel. sejarah dan tentu saja postmodernisme. Pendapatnya bahwa nilai-tanda dan nilai-simbol kini telah mengalahkan nilaiguna dan nilai-tukar.pemikiran Baudrillard tentang sisi-sisi utama karakter kebudayaan postmodern telah membuka cakrawala baru bagi pemahaman realitas kebudayaan kontemporer dewasa ini. seakan mendapatkan kebenarannya pada pelbagai fenomena sosial budaya dewasa ini. dalam karyanya Symbolic Exchange and Death (1993). Di satu sisi. dimana segala sesuatu nampak jelas. Secara semiotik menurut Baudrillard. papar Baudrillard. titik ekstrem. adalah deretan tema-tema yang menjadi objek kajian kritis Baudrillard. adalah dunia tanpa makna. Beranjak dari pemikiran-pemikiran para pendahulunya mulai dari Marx. McLuhan sampai Derrida Baudrillard akhirnya menyempal dan membangun keyakinan teoritis baru yang radikal dan orisinal. 1993: 38). tanpa ada titik sauh apa pun. Ia menarik pemikiran-pemikiran para pendahulunya sampai pada titik yang terjauh. dan kemudian menggunakannya sebagai kacamata untuk membaca realitas kebudayaan kontemporer dewasa ini. dimana teori-teori berlalu-lalang dalam ruang hampa. Baudrillard menyatakan telah terjadinya pemutusan mendasar era postmodern dari era modern. eksplisit dan transparan. yang mengimplikasikan kedalaman. sebagaimana halnya pemikiran yang dilontarkan kepada publik Baudrillard pun mendapat banyak pujian sekaligus kritikan. simulasi perang dan televisi serta dunia hiperrealitas Disneyland dan Universal Studio adalah beberapa contoh kebenaran analisa Baudrillard. Mauss. Dengan pemikiran-pemikirannya yang segar dan orisinal tersebut. Secara tajam. makna tidak lagi ada. tak pelak Baudrillard adalah pemikir tentang kebudayaan postmodern . Modernisme. Debord. Dengan pemikirannya yang orisinal dan radikal ini. sebuah dimensi yang tersembunyi. realitas kini tak lebih adalah hiperrealitas dan Amerika adalah agen postmodernisme. era modern ditandai dengan diterimanya makna.

ketimbang menghadapkannya sebagai dialektika positif dan negatif. Theres a little theoretical science fiction in it (Gane. pemutarbalikan. Ia sekedar menyatakan dirinya sebagai "teroris intelektual". Its not postmodern. 1993: 82). Saya tidak tahu apa yang dimaksud orang dengan istilah itu. But Im no longer part of modernity. Rather its provocative.yang terpenting saat ini. namun modernitas dalam pengertian dialektis: positif dan negatif. Ini sedikit mirip dengan teori-fiksi. 1994: 227). I dont know what one means by that. (Ini bukan postmodern. There is a sense of positive and negative. Sementara Marshal Berman menggambarkannya sebagai "Pembela postmodern paling gigih dan sekaligus sosok yang banyak dipuja dalam dunia seni dan akademik di universitas-universitas Amerika saat ini". Tapi yang pasti saya juga bukan lagi bagian era modern. reversible. dengan bahasanya yang lugas cuma mengatakan. Dimana terdapat sedikit unsur teori sains-fiksi di dalamnya). Mengenai posisinya ini Baudrillard sendiri menyatakan. yang secara sadar bermaksud menyerang watak ortodoks era modern. Karena cara saya merefleksikan segala sesuatu tidaklah bersifat dialektis. "I have nothing to do with postmodernism !" (Saya tidak ada urusan dengan postmodernisme!) (Gane. 1990: 331). My way of reflecting on things is not dialectic. Ini adalah suatu cara dengan mengikuti sampai ke titik ekstrem untuk melihat apa yang terjadi. "Ia kini telah mencapai status guru dalam perbincangan postmodernisme dewasa ini" (Kellner. Baudrillard sendiri dalam salah satu wawancaranya. Baudrillard menyatakan bahwa teori-fiksi yang dibangunnya bukanlah sebuah teori estetika. Its a bit like a theory-fiction. atau pun sosiologi . a kind of dialectic in modernity. . filsafat. not in the sense where modernity implies a kind of critical distance of judgement and argumentation. its a way of raising things to their N power. menyebut Baudrillard sebagai "Pemikir postmodern paling awal". Melainkan lebih bersifat provokasi. suatu cara membawa segala sesuatu sampai pada tingkat kekuatan "N" mereka. Its a way of following through the extremes to see what happens. rather than a way of dialectizing them. tidak dalam pengertian dimana modernitas dipandang sebagai suatu bentuk argumentasi dan penilaian kritis. Dan menurut Steven Best. Arthur Kroker misalnya.

tanpa harapan akan masa depan yang lebih baik. Nihilisme Baudrillard adalah fatalisme. dengan sifat melankolis sebagai karakter dasarnya . Jika menjadi nihilis berarti menjadi orang yang terobsesi dengan caracara pelenyapan dan tidak lagi dengan cara-cara produksi. If being nihilist is to be obsessed with the mode of disappearance. maka saya adalah seorang nihilis). The form of my language is almost more important than what I have to say it. Perhaps this corresponds to a certain kind of floating instability with more in common with the contemporary imagination than with any real philosophy. Ini adalah teori yang sedikit-sedikit berubah. 1984: 39). its a little volatile. 1993: 166). Its not a question of ideas there are already too many ideas (Gane. makasaya adalah seorang nihilis. its not a sociology. Nihilisme Baudrillard adalah nihilisme tanpa gairah. (Jika menjadi nihilis berarti menjadi orang yang bertanggungjawab terhadap sikap ketakberdayaan dan analisa sistem yang tak ada jalan kembalinya. yang pertama kali ditulis sebagai bahan kuliah. then I am a nihilist (Baudrillard. adalah sebuah pilihan sadar yang diambil Baudrillard. Bentuk pengucapan saya lebih penting ketimbang apa yang saya ungkapkan. and no longer with the mode of production. Mungkin ini ada hubungannya dengan semacam ketidakstabilan mengambang dalam pengertian imajinasi kontemporer. programming and information. its not a philosophy. Melancholy is the fundamental tonality of functional systems. Sudah terlampau banyak gagasan-gagasan yang ada). Dan ini bukan berupa gagasan-gagasan. Dalam esainya. Penjelasan ini secara konsekuen dibawa Baudrillard dalam setiap karya-karyanya. (Tidak terlalu tepat bila disebut estetika. atau filsafat. tanpa keriangan. atau mungkin sosiologi. pada gilirannya.Its not really an aesthetic. bukan dalam pengertian filsafat yang sesungguhnya. of the present systems of simulation. Baudrillard menegaskan sikap fatalis dan nihilisnya . Melancholy isthe quality inherent in the mode . Karakter fatalis dan nihilis. If being nihilist is to privilege this point of inertia and the analysis of this irreversibility of systems to the point of no return. tanpa optimisme. On Nihilism (1981). then I am a nihilist.

metaforistik. 1993: ix). Dying is nothing. aforistik. by any means whatever. in the mode of volatilization of meaning in operational systems (Baudrillard. The ultimate achievement is to live beyond the end. Lebih parah. demikian pula halnya dengan Perang Vietnam. Baudrillard tak kurang juga mendapat kritikan-kritikan tajam dari para komentatornya. retoris dan ganjil (whimsical). pemrograman dan informasi. pernyataannya bahwa Perang Teluk sebenarnya tidak pernah terjadi. repetitif. anti-struktur dan penuh dengan kta-kata tak jamak. nilai-tanda dan nilaisimbol adalah satu-satunya realitas. dan cara-cara penguapan makna dalam suatu sistem operasional). yang memikat namun dibutakan oleh gelombang deras budaya massa (Rojek. misalnya. sistem simulasi. 1990: 34). Dengan suara senada. membingungkan. Melankoli adalah kualitas inheren yang ada dalam mekanisme cara-cara pelenyapan makna-makna. hiperbolik. Mike Gane misalnya. Amerika adalah utopia. sehingga nampak tak lebih sebagai sensasi murahan. The ultimate end is to live beyond achievement. Sementara itu.of disappearance of meaning. All you have to know is how to disappear. 1984: 39). Gaya tulisannya aneh sekaligus memusingkan mereka yang terbiasa dengan teks-teks modern deklaratif. massa kini telah lenyap dan manusia adalah sekedar terminal hilir-mudiknya tanda-tanda menurut Gane sama sekali tidak berdasar. 1993: xi). Pernyataannya bahwa segala sesuatu tak lebih sebagai simulasi dan simulacra. bombastik. menyatakan bahwa banyak pemikiran Baudrillard yang menggelikan dan konyol (Rojek. salah seorang komentatornya yang paling tajam. Gane menyatakan bahwa banyak argumentasi Baudrillard yang tak berdasar. Dalam Cool Memories (1990). SkandalWatergate dan kerusuhan Los Angeles kecuali semata-mata sebagai bukti berlangsungnya mekanisme simulasi melalui rekayasa media massa menurut Gane adalah klaim Baudrillard yang paling konyol sekaligus menggelikan. Sambil mengakui Baudrillard sebagai pemikir yang tajam dan cerdas. All you have to know is how to appear. anti-sistem. . puitik. Robert Hughes seorang kritikus seni majalah Time dengan berapiapi menggugat sosok Baudrillard sebagai sekedar pencari-sensasi murahan. (Melankoli adalah nada dasar sistem fungsi ini. di sisi lain. Living is everything. by any means whatever (Baudrillard. terdapat penyataan puitis sebagai berikut .

sepertiseolah-olah tidak ada hal yang lain dalam realitas sosial dewasa ini. Baudrillard menafikan kenyataan bahwa terdapat keuntungankeuntungan dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. dengan cara apa saja. Yang perlu kau tahu adalah bagaimana cara untuk terlihat. media massa dan . dengan sendirinya. Baudrillard dianggap tidak mampu menjelaskan pengertian istilah-istilah kunci yang ada dalam karya-karyanya. Keempat. dan menolak untuk mengubah atau membatasi pemikirannya. hampir sama dengan Gane dan Hughes Poster memandang gaya menulis Baudrillard yang aneh dan ganjil seringkali tidak dibarengi dengan argumentasi yang sistematik dan logis. Kali yang lain.(Kematian bukanlah apa-apa. Suara kritis lain yang lebih sistematis dikemukakan oleh Mark Poster. hiperrealitas dan konsumsi. Akhir yang tertinggi adalah untuk hidup dibalik segala pencapaian. Dalam salah satu tulisannya yang mencoba membandingkan pemikiran Baudrillard dan Habermas. Argumentasi kalaupun ada yang mendasari pemikirannya pun dipenuhi kelemahan. Baudrillard terkesan hendak mentotalisasikan ideide pemikirannya. 1994: 83). namun tak masuk akal. dunia simulasi. Baudrillard sama sekali menolak struktur dan sistem. Juga pendapatnya bahwa Perang Teluk sebenarnya tidak pernah terjadi meskipun kenyataan membuktikan perang itu sungguh-sungguh terjadi tetap dipertahankannya. Karya-karyanya menjadi tak lebih sebagai cerita fiksi kehidupan yang bersemangat dan penuh warna. Itulah mengapa tidak sedikit komentatornya. Poster mencatat setidaknya terdapat lima kelemahan pemikiran Baudrillard (Kellner. Ketiga. Yang perlu kau tahu adalah bagaimana cara untuk menghilang. Pertama. Televisi. membiarkan pernyataan-pernyataannya serba mengambang dan terpenggal-penggal. Hal ini mengakibatkan kekaburan pemahaman akan gagasan-gagasan orisinal yang dikemukakannya. menjadikan pemikiran-pemikiran Baudrillard kehilangan dasar argumentasi yang rasional. 1993: xi). yang menyatakan karya-karya Baudrillard sebagai fiksi-sains dan bukan teks sosiologi atau filsafat (Rojek. Kedua. misalnya Chris Rojek. ia menyamakan istilah kode dengan tanda dan citra sebagai istilah-istilah khusus semiotika. Pencapaian tertinggi adalah untuk hidup setelah akhir segalanya. Ia menulis tentang pengalaman.pengalaman khusus. serta lebih mengutamakan spekulasi. Kadangkala ia menggunakan istilah kodemodel dan binari-digital dalam pengertian yang sama secara bergantian tanpa pernah merumuskan pengertian yang sesungguhnya. seperti dunia televisi. bahkan sampai perang itu sendiri usai. terutama istilah kode. Hidup adalah segalanya. dengan cara apa saja). Kelemahan ini.

sikap fatalis dan nihilis yang secara sadar dipilihnya. dalam Jurnal Kebudayaan Kalam Edisi 1. Genealogi dan Dekonstruksi. Jakarta. F. bahwa hidup haruslah dijalani begitu saja dengan sikap acuh tak acuh. Pendapatnya bahwa tak ada lagi jalan kembali. Kemudian Dimanakah Emansipasi ? Tentang Teori Kritis. 1994. Jentera Wacana Publika. dari banyak kelemahan tersebut. Routledge.1994. yang dapat menjadi pilihan alternatif bagi proses pembacaan realitas kebudayaan dewasa ini yang tengah berubah cepat. dalam Jurnal Kebudayaan Kalam Edisi 1.internet dalam tampilannya yang positif juga memberikan manfaat seperti misalnya mempercepat penyebaran informasi tentang pendidikan. Jakarta. mengutip Rojek. Postmodernisme Dalam Arsitektur dan Desain Kota. Yogyakarta. dalam Jurnal Kebudayaan Kalam Edisi 1. Demikian pula halnya dengan pendekatannya yang orisinal dan kritis. Postmodernism and Islam. Namun bukan berarti Baudrillard tidak memberikan arti apapun dalam pengembangan tubuh-pengetahuan (body of knowledge) ilmu sosiologi.. Postmodernisme: Yang Mana ? Tentang Kritik dan Kebingungan dalam Debat Postmodernisme di Indonesia. Wacana Tragedi dan Dekonstruksi Kebudayaan. Awuy. . New York. Ariel Heryanto. serta nilai-nilai transendental. 1995. S. Oleh Medhy Aginta Hidayat Daftar Pustaka Ahmad Sahal. Menyangkal Totalitas dan Fungsionalisme. filsafat dan kajian kebudayaan. Jakarta. Singkat kata. Baudrillard lebih banyak salah ketimbang benar. 1992. tak ada lagi kebenaran. Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang dibuatnya. Tommy. pada gilirannya membawa Baudrillard jatuh ke dalam jurang pesimisme-ekstrim. kesucian. menjadikan pemikiran-pemikiran Baudrillard jauh dari nilai-nilai moral dan agama. Kelima. 1994. menyampaikan berita peristiwa-peristiwa aktual yang tengah terjadi dan lebih membuka pemahaman akan sifat pluralisme dan humanisme kebudayaan dewasa ini. pemikiran-pemikiran Baudrillard tetap sangat berguna bagi pemahaman realitas kebudayaan dewasa ini. HAM dan lingkungan. Ia tidak mampu melihat moralitas dan agama sebagai sumber acuan nilai dan prinsip kehidupan. Ahmed. Akbar. Andy Siswanto..

Hans. Idi. London. Culture and Society Vol. Postmodernisme. Semiotext(e). Gane. I. Semiotext(e). America. New York. Hal. New York. A. dalam Idi Subandi Ibrahim. Blackwell. David. Ecstasy Gaya Hidup. 1993. Symbolic Exchange and Death. Sage. Routledge. Sub-culture: The Meaning of Style. Sage. 1988. 1987. (ed). Simulations. ----------------------. Mike. Anton dan Zubair. 1983. dalam Foster. London. Cultural Politics in Contemporary America. --------------------. 5. . 1988. Subandi. Verso. Yogyakarta. 1994. dalamTheory. Baudrillard. 1990. Methuen. Oxford. --------------------. --------------------. Foster. 1990. Washington. dalam Angus. London. --------------------. 1993. 1979. Seduction. Yogyakarta. K. Tantangan Bagi Filsafat. Routledge. London. Postmodernism: A Preface. Dancing with Baudrillard. Mike. Bertens. Blue Velvet: Postmodern Contradictions. 1996. dalam Theory. Denzin. 1983. Ian and Jhally Sut. Gablik. Macmillan. Stuart. 5.(ed). New York.Bakker. Harun Hadiwijono. Yogyakarta. Sage. The Anti-Aesthetic. Ewen. Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. The Condition of Postmodernity. Yogyakarta. --------------------. New York. Baudrillard Live: Selected Interviews. --------------------. 1995. London. The Idea of The Postmodern: A History. Sari Sejarah Filsafat Barat II. 1990. Cool Memories. Suzi. Dick. Featherstone. (ed). 1989. dalam Jurnal On The Beach 6. 1989. Harvey. Kanisius.London. 1988. London. In Pursuit of The Postmodern: An Introduction. Jean. Kanisius. New York. Hebdige. Kanisius. Bay Press. Bandung. Charris. 1989. dalam Jurnal Art in America. Routledge. Ibrahim. The Ecstasy of Communication. Metodologi Penelitian Filsafat. Routledge. Sari Sejarah Filsafat Barat I. 1990. Culture and Society Vol. Bambang Sugiharto. 1984. On Nihilism. Kanisius. New York. Advertising and The Development of Consumer Society. Norman. New York. 1997. Essay on Postmodern Culture. Hal. Mizan.

dalam Rojek. 1994. Suryakusuma. Free Press.. Cambridge.(ed). Forget Foucault. 1995. Critical Theory and Technoculture: Habermas and Baudrillard. I. Postmodernism and Social Sciences: Insight. The University of Georgia Press. Baudrillard Reader. Princeton University Press. Poster. London. Routledge. Roy. Piliang. London. Bryan.. London. dalam Majalah Horison. An Introduction to Theories of Popular Culture. Princeton. Dean and MacCannell. 1994. Dwight. Routledge. Europe/America: Baudrillards Fatal Comparison. MacCannell. Bryan. 1994. Lechte. London. Postmodernism and TheCritique of Mass Culture. Chris and Turner. An Introduction Guide to Post-Structuralism and Postmodernism. 1993. (ed). Fifty Key Contemporary Thinkers. dalam Rojek. Routledge. Blackwell. Nostalgia. Yasraf. Dominic.. Glencoe. Cambridge. London. 1992. Kellner. dalam Theory. Cultural Politics in Contemporary America. Sage. 1957. Social Class in Postmodernity: Simulacrum or Return of The Real ?. Theories of Modernity and Postmodernity. 1989.. S. Douglas. (ed). From Structuralism to Postmodernism. Sebuah Dunia Yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Postmodernisme. S. dalam Rosenberg. Understanding Popular Music. Inroads and Intrusion. Scott. John. Bryan. Julia. Advertising as Religion: The Dialectic of Technology and Magic. Postmodernity and The Present. 1990. Madan. London. Pascamodernisme dan Feminisme: Les Liaisons Dangereuses. dalam Angus. Chris and Turner.. Culture and Society Vol. Ben and White. Barry. S. Modernity. 5. Routledge. Strinati. Mass Culture. Sarup. (ed). Sut. S. Amir. Forget Baudrillard. (ed). Chris and Turner. 1994. 1993. MacDonald. (ed). Baudrillard Reader. Georg and Turner. Routledge. Mizan. London. A Theory of Mass Culture. New York. Forget Foucault. 1993. London. S. Blackwell. Ian and Jhally... Pauline M. Lash. 1988.Sage. Routledge. 1994. Sociology of Postmodernism. dalam Turner. London. 1989. 1998. Dennis. . Routledge. Shuker. Sut. Bandung. Mark. Stauth. Jakarta. Rosenau. Rojek.Jhally. Bryan. Juliet Flower. (ed). Athens. 1990. Routledge. Smart. Nomor 2. ---------------. Bryan. dalam Kellner. Douglas.

--------------------. London. dalam Turner. Patung Kuno Singa yang Membuat Ilmuwan Heran Mumi 'Perawan' Inca Menderita Infeksi Paru Sebelum. Free Download Cyberlink YouCam 5 Deluxe KEBUDAYAAN POSTMODERN MENURUT JEAN BAUDRILLARD KEMANDIRIAN DESA DI INDONESIA Free Download Real Player 15 Mantan Agen CIA Ungkap Rahasia UFO STRATEGI PEMASARAN KERAPU SUNU TEKNIK PENDEDERAN TIRAM MUTIARA (Pinctada Maxima) KEHIDUPAN DI DUNIA INI Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gela. Bryan. Nicholas. Bryan. Baudrillard Reader. Zurbrugg.... Juli 16. London. Sage... Blackwell.Turner.... DOSA ORBA TERHADAP PELAJAR Putri Duyung Itu Tidak Ada. Periodization and Politic in The Postmodern. 1994. dalam Kellner. 2012 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Label: Pengetahuan                                 Dalam Ruang Pribadi Penonton: Romantisme dan Ekono. Chris and Turner. Douglas. Bryan. Cambridge. Theories of Modernity and Postmodernity. Baudrillard. dalam Rojek.. Routledge. Menurut Siapa? Website Pinrang Fisikawan Indonesia Terlibat Dalam Penemuan Partik. Cruising America.. TEORI KRITIS Awards From Oto Website REVOLUSI KUBA BONAPARTISME KAUM PROLETAR REVOLUSI CINA PERAN PARTAI-PARTAI KOMUNIS REVOLUSI PERMANEN PERAN KELAS PEKERJA . Forget Foucault.. 1990. S. Mimpi Basah Setelah Sahur The Dark Knight Rises Aquran Terjemahan Bahasa Madura Aplikasi Android Untuk Ramadhan Ini Robot itu Bisa Digerakkan dengan Pikiran Tes Phsikologi Dengan Warna Cara Halaman Facebook Mengungkap Kepribadian Anda TEKNIK PEMBENIHAN NILA GIFT SECARA MASSAL DAN PE. (ed). S. Modernism and Postmodernism.. 1993.. (ed). (ed). Diposkan oleh Nurdin Rahman Pada Senin. S.

.. Ucapan Selamat Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1433 .    BEBAN HUTANG Marxisme dan Perjuangan Melawan Imperialisme Jadwal Imsyakiah 1433 H Seluruh Daerah di Indonesi... .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful