LAPORAN KASUS SKABIES DENGAN IMPETIGANISATA

Pembimbing : Dr. Rudy Herawan, Sp.KK

Di Susun Oleh :
Disty Andryani Andre Azhar Kharisma E. M. Ratu Balqis A. F. 110.2005.071 110.2007. 110.2007. 110.2007.225

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT KULIT & KELAMIN RUMAH SAKIT DAERAH KABUPATEN BEKASI FEBRUARI 2013

1

PRESENTASI KASUS IDENTITAS PASIEN Nama Umur Alamat Pekerjaan Agama Suku No. RM : An. L : 8 tahun : Cibitung :: Islam : Sunda :-

Jenis Kelamin : Laki-laki

Status marital : Belum menikah

ANAMNESIS ( Autoanamnesa dan Alloanamnesis ) Keluhan Utama Beruntus – beruntus kemerahan di bibir, perut, tangan dan kaki yang kelilingi dengan luka yang sudah mengering di sekitarnya. Anamnesis Khusus Pasien mengeluh beruntus-beruntus kemerahan di bibir, perut, tangan dan kaki sejak dua bulan sebelum masuk rumah sakit. Keluhan tersebut disertai dengan rasa gatal yang semakin lama semakin gatal terutama terasa pada saat malam hari. Keluhan pertama kali muncul pada daerah tangan, kaki kemudian muncul pula di perut dan di daerah bibir dan sekelilingnya. Awalnya pasien hanya merasa tangan dan kakinya gatal-gatal. Karena tidak tahan, pasien terus menerus menggaruk bagian tubuhnya yang gatal hingga tanpa pasien sadari daerah-daerah yang digaruk menjadi koyak, berair dan lama-kelamaan menjadi koreng. Daerah yang gatal juga bertambah ke perut dan ke daerah wajah terutama bibir dan sekelilingnya. Pasien tinggal di sebuah pesantren di daerah jawa barat. Menurut keterangan orang tua pasien, penyakit seperti yang pasien alami memang sedang mewabah di pesantren tersebut. Riwayat penyakit yang serupa di keluarga tidak ada.

2

Orang tua pasien tidak tahu nama obat yang telah diberikan oleh dokter. ataupun kaligata pada pasien maupun keluarga disangkal.) Mukosa tenang Sekret ( . Pasien sebelumnya sudah berobat ke dokter umum satu kali.) Concha eutrofi Mukosa mulut Gigi geligi Faring Tonsil : Tenang : Karies (+) M1 ka-ki : Tidak hiperemis : T1 – T1 tenang : KGB tidak teraba membesar : Bentuk dan gerak simetris 3 . Riwayat bersin – bersin pada pagi hari. PEMERIKSAAN FISIK Kesadaran Kesan sakit Gizi TD Nadi Respirasi Suhu : Compos mentis : Tampak sakit ringan : Baik : 110/70 mmHg : 88 x/menit : 20 x/menit : Affebris Status Generalis Kepala : Mata Telinga Hidung Mulut dan Orofaring Leher Thoraks Konjungtiva tidak anemis Sklera tidak ikterik Sekret ( . bengek. Riwayat alergi makanan dan obat – obatan juga disangkal.) Serumen ( . Riwayat digigit serangga disangkal oleh pasien.Riwayat demam diakui orang tua pasien ada saat luka-luka mulai timbul. namun tidak ada perubahan yang dialami pasien.

lien tidak teraba Bising usus : (+) N Ekstremitas : lihat status dermatologis Status Dermatologikus Distribusi Lokasi : Generalisata : Bibir dan daerah perioral. sebagian kering dan sebagian basah. bentuk sebagian teratur dan sebagian 4 . Efloresensi : Makula plaque eritem dan hiperpigmentasi disertai krusta-krusta merah kehitaman.3 cm dan ukuran terbesar 1.3x0. murmur (-) : Datar. Karakteristik : Multipel sebagian diskret dan konfluens. ronkhi -/: bunyi jantung murni reguler. lesi berbatas tegas dan menimbul.5x1 cm. tangan dan kaki lain tidak teratur. perut.Pulmo Cor Abdomen : sonor. ukuran terkecil 0.5x1.3x0. lembut Hepar. wheezing -/-.

Daerah yang gatal juga bertambah ke perut dan ke daerah wajah terutama bibir dan sekelilingnya. kaki kemudian muncul pula di perut dan di daerah bibir dan sekelilingnya.Ektima . DIAGNOSIS KLINIS Impetigo Krustosa DIAGNOSIS BANDING . Riwayat penyakit yang serupa di keluarga tidak ada. berair dan lama-kelamaan menjadi koreng. tangan dan kaki sejak dua bulan sebelum masuk rumah sakit. Edukasi tentang penyakit skabies dan penularannya 5 . Riwayat demam diakui orang tua pasien ada saat luka-luka mulai timbul. namun tidak ada perubahan yang dialami pasien. Pasien tinggal di sebuah pesantren di daerah jawa barat.Skabies Impetiganisata . perut.RESUME Pasien mengeluh beruntus-beruntus kemerahan di bibir.Creeping Eruption PENATALAKSANAAN • Umum : 1. penyakit seperti yang pasien alami memang sedang mewabah di pesantren tersebut. Karena tidak tahan. pasien terus menerus menggaruk bagian tubuhnya yang gatal hingga tanpa pasien sadari daerah-daerah yang digaruk menjadi koyak. Orang tua pasien tidak tahu nama obat yang telah diberikan oleh dokter. Keluhan tersebut disertai dengan rasa gatal yang semakin lama semakin gatal terutama terasa pada saat malam hari.Dermatitis Perioral . Pasien sebelumnya sudah berobat ke dokter umum satu kali. Menurut keterangan orang tua pasien. Awalnya pasien hanya merasa gatal-gatal pada ujung-ujung tangan dan kakinya. Keluhan pertama kali muncul pada daerah tangan.

Kortikosteroid krim dioleskan 2 x 1 4. Dextromin syrup 2 x I Cth 2.9% pada luka 3. Edukasi pasien mengenai higienitas pribadi 3. Permethrin 5% ( 1 minggu sekali ) 2. Gentamisin salep dioleskan 2 x 1 Sistemik PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : ad bonam : ad bonam : dubia ad bonam 1. Cefixime syrup 2 x I Cth 6 . bantal dan guling Sering mencuci dan mengganti sprei tempat tidur 4. Kompres NaCl 0. Edukasi tentang cara pemakaian obat • Khusus : Topikal 1.2. Edukasi orang tua pasien mengenai higienitas umum : Pakaian di rendam dalam air panas Menjemur kasur.

Secara umum. leher.aureus umumnya patogen terbanyak antara kedua impetigo bulosa dan nonbulosa pada United States dan Eropa. erisipelas.6. Menyerang epidermis.IMPETIGO KRUSTOSA I. diantaranya impetigo. Pendahuluan Impetigo ialah pioderma superfisialis (terbatas pada epidermis)1 atau infeksi piogenik superfisialis yang mudah menular yang terdapat di permukaan kulit dan disebabkan oleh Staphylococcus dan/atau Streptococcus2.Impetigo krustosa merupakan bentuk pioderma yang paling sederhana. Antibiotik yang diberikan pada pioderma bisa berupa antibiotik topikal dan atau sistemik. impetigo vulgaris. tergantung dari berat ringannya penyakit6 II. Walaupun impetigo dapat merupakan pioderma primer. infeksi jamur. skabies. dan kadang tangan)9.pyogenes umumnya terdapat di beberapa negara. tapi biasanya kecil dan dalam beberapa kasus hanya beberapa bagian tubuh yang terkena (wajah. eritrasma. Impetigo krustosa juga dikenal sebagai impetigo kontagiosa. Penyakit kulit yang biasa menyertai adalah pedikulosis. Nama impetigo berasal dari bahasa latin yaitu impetere (menyerang)4. Pioderma memiliki banyak bentuk. selulitis. Namun dalam kepustakaan ini hanya akan dibahas tentang impetigo. impetigo krustosa umumnya disebabkan oleh Streptococcus ß hemolyticus grup A (Streptococcus pyogenes)1. dimana gambaran yang dominan ialah krusta yang khas. penyakit pioderma merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. meskipun S. folikulitis. 10 Impetigo krustosa biasanya tanpa gelembung cairan dengan krusta/keropeng/koreng . oleh karena itu ditatalaksana dengan menggunakan antibiotik. Pada umumnya infeksi berawal sebagai infeksi streptokokal. atau impetigo Tillbury Fox1. karena impetigo merupakan bentuk pioderma yang paling sering dijumpai disamping folikulitis6. Etiologi atau penyebabnya Impetigo krustosa umumnya disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan jarang disebabkan oleh grup A streptococcus tapi untuk negara berkembang. tetapi setelah itu stafilokokus selalu menggantikan streptokokus12. furunkel. Impetigo krustosa terkadang terdapat berbagai ukuran (inch) diameter. telinga. Khususnya yang akan lebih dibahas mendalam adalah impetigo non-bulosa (impetigo krustosa). dan pada insect bites5.3. abses dll. Berdasarkan fakta tahun 2005 bahwa S. 7 . tapi dapat juga timbul sebagai infeksi sekunder yang mengikuti penyakit kulit atau trauma kulit yang telah ada (secondary infection) dan itu dikenal sebagai dermatitis impetigenisata12. berwarna kuning kecoklatan seperti madu yang berlapis-lapis8.

tapi Streptococcus grup C dan grup G kadang ikut terlibat2. hyaluronidase. Organisme grup A biasanya merupakan penyebabnya. Selain itu dapat mengenai semua bangsa. Impetigo krustosa adalah infeksi kulit yang mudah menular dan terutama mengenai anak-anak yang belum sekolah (antara umur 2-5 tahun).12. Lebih sering pada daerah tropis8. Di Amerika Serikat impetigo merupakan 10% dari masalah kulit yang dijumpai pada klinik anak dan terbanyak pada daerah yang jauh lebih hangat. maka paling sering ditemukan saat musim panas2. Streptococcus merupakan bakteri gram positif berbentuk bulat. eksotoksin pirogenik.10.Gambar 2. Sekitar 70% merupakan impetigo krustosa10.1 Staphylococcus aureus Gambar 2. dan hemolisin5.6% pada anak usia 5-15 tahun. laki-laki dan perempuan.8% pertahun dan 1. Impetigo merupakan penyakit yang sangat menular. disphosphopyridine nucleotidase. sama banyak. Pada dasarnya keberadaan impetigo streptokokal (pioderma streptokokal) tidak diragukan. streptodornase.12. III. Epidemiologi atau penyebarannya Impetigo terjadi di seluruh negara di dunia dan angka kejadiannya selalu meningkat dari tahun ke tahun. yang mempunyai karakteristik dapat berbentuk pasangan atau rantai selama pertumbuhannya. Penyakit ini bisa tertular secara 8 . Lebih dari 20 produk ekstraseluler yang antigenik termasuk dalam grup A (Streptococcus pyogenes) diantaranya adalah Streptokinase. Biasanya Streptokokus tumbuh dalam suasana yang hangat dan lembab. Penyakit ini mengenai kedua jenis kelamin.2 Streptococcus pyogenes Staphylococcus grup II dalam jumlah yang banyak lebih sering menyebabkan impetigo bulosa dibandingkan dengan impetigo non-bulosa2. yaitu pada daerah Amerika tenggara5. Di Inggris (1995) kejadian impetigo pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2.

teman satu kelas. Bakteri Stafilokokus dan Streptokokus dapat melalui pertahanan kulit yang utuh jika kulit rusak. maka pada luka yang kecil. Faktor predisposisi terjadinya ialah kebersihan yang kurang.8. Pada orang dewasa. cuaca panas maupun kondisi lingkungan yang lembab. tapi dengan gigitan yang kecil dari binatang genus Hippelates dapat menularkan infeksi streptokokus dalam daerah tropis dan subtropis2 IV. teman sekelompok) yang mempunyai infeksi kulit karena GABHS atau yang membawa organisme ini. Streptococcus ß hemolyticus grup A (GABHS) dan Staphylococcus aureus timbul dengan frekuensi yang sama sebagai agen kausatif pada impetigo nonbulosa. atau pakaian pasien impetigo. hampir 20-45% kasus terdapat kombinasi S. tempat tinggal yang padat penduduk. Etiopatofisiologi/Patofisologi Impetigo non-bulosa merupakan jenis impetigo yang paling sering dan timbul hampir 70% pada anak-anak di bawah usia 15 tahun dengan infeksi. Hal ini 9 . Pada negara yang sedang berkembang. meskipun mereka tidak terdapat gejala-gejala dari faringitis streptococcal. terutama dermatitis atopik5. telah dilaporkan sebanyak 50-60% kasus.aureus dan S. pasien dengan dermatitis. dapat ditularkan melalui nafas penderita. GABHS ( hidup Bersih dan sehat) tetap merupakan penyebab utama. gulat. sekarang ini S. Selain itu. Streptokokus kering yang terdapat di udara tidak menginfeksi kulit yang normal. selimut.pyogenes. seperti asrama dan penjara. Selain itu juga. gigitan. Jika seorang individu mengadakan kontak dekat dengan yang lainnya (anggota keluarga. atau penyakit cacar air (chickenpox)7.aureus merupakan patogen utama untuk impetigo non-bulosa. panas dan terdapatnya penyakit kulit (terutama yang disebabkan oleh parasit)2. seperti robek (terpotong). Masa inkubasi 1-3 hari. Tetapi dengan gesekan dapat memperberat lesi11. dll. GABHS dapat ditemukan pada hidung dan tenggorokan pada beberapa individu 2-3 minggu setelah timbul lesi. Pada kenyataannya.aureus memproduksi racun bakteriotoksin pada streptococcus. Gigitan serangga mungkin dapat menularkan penyakit ini. maka individu yang mempunyai kulit utuh dapat terkontaminasi oleh bakteri ini. Jika pada kulit yang terkolonisasi oleh bakteri ini. seperti luka lecet atau tergigit serangga akan timbul lesi impetigo antara 1-2 minggu. dapat juga terjadi melalui kontak tidak langsung melalui handuk. S.kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi atau kontak dengan benda-benda yang sudah terinfeksi7. impetigo ini sering terdapat pada mereka yang tinggal bersama-sama dalam satu kelompok. Bakteriotoksin inilah yang menjadi alasan mengapa hanya S.aureus yang terisolasi pada lesi tersebut walaupun disebabkan oleh bakteri Streptococcus. kegiatan/olahraga dengan kontak langsung antar kulit seperti rugby. higiene yang jelek (anemia dan malnutrisi).

yakni di sekitar lubang hidung dan mulut karena dianggap sumber infeksi dari daerah tersebut. lembut tetapi tebal dan lengket yang berukuran < 2 cm (honey colored) dengan kulit di sekitar dan di bawah krusta berwarna kemerahan dan basah. Lesi tersebut akan bergabung membentuk daerah krustasi yang lebar. tetapi tidak disertai gejala konstitusi (demam. Gambar 1 impetigo nonbulosa (krusta) Biasanya mengenai anak yang belum sekolah. lesi paling dini ditandai vesikel dengan halo eritematus1. Lalu dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu tanpa jaringan parut. Tempat lain yang mungkin 10 . Impetigo sering muncul pada musim panas7. malaise.B. Impetigo biasanya merupakan rantai D. Impetigo bulosa disebabkan oleh Staphylococcus. mual). Kelainan kulit didahului warna kemerahan pada kulit (makula) atau papul (penonjolan padat dengan diameter < 0. dermatitis atopi) dan dapat menyebar dengan cepat. Sering krusta menyebar ke perifer dan sembuh di bagian tengah.10.disebabkan karena perbedaan rantai pada bakterinya. sedangkan faringitis disebabkan rantai A.6. kecuali bila kelainan kulitnya berat3. Pembesaran kelenjar limfe regional lebih sering disebabkan oleh Streptococcus5.5. Tempat predileksi tersering pada impetigo krustosa adalah di muka.3.5 cm) yang berukuran 2-5 mm. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan timbul saat bakteri tersebut digaruk dan gigitan serangga. dan C.10. Gatal dan rasa tidak nyaman dapat terjadi. biasanya disertai lesi satelit. V. Walaupun tidak jarang terlihat. atau kedua organisme tersebut bersamasama2. Sedangkan impetigo non-bulosa mungkin disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Gejala Klinis Terdapat 2 bentuk klinik yang dapat dikenali. varisela.10. Kemudian segera terbentuk vesikel atau pustul (papul yang berwarna keruh/mengandung nanah/pus) berdinding tipis yang mudah pecah dan menjadi papul dengan krusta/keropeng/koreng berwarna kuning madu. Eksudat dengan mudah menyebar ke daerah sekitarnya dengan sendirinya secara autoinokulasi5. Kadang kelenjar getah bening dapat membesar dan dapat nyeri pada wajah atau leher7. Jika dibiarkan tidak diobati maka lesi dapat menyebar terus karena tindakan diri sendiri (digaruk lalu tangan memegang tempat lain sehingga menegenai tempat lain). Streptococcus. yaitu impetigo non-bulosa (impetigo krustosa) dan impetigo bulosa. Jika krusta dilepas tampak erosi di bawahnya. Lesi dapat muncul pada kulit yang normal atau kulit yang kena trauma sebelumnya atau mengikuti kelainan kulit sebelumnya (skabies.

terutama pada infeksi yang disebabkan streptokok. IgM. dan IgG juga dapat dilakukan untuk mengetahui imunodefisiensi yang lain12. b. Pemeriksaan level serum IgA. cylindruria merupakan indikator terlibatnya ginjal12. kecuali telapak tangan dan kaki). leher dan badan (dada bagian atas)1. Kultur bakteri Kultur akan memperlihatkan S. Pemeriksaan Penunjang untuk memastikan diagnosa 1.aureus karier yang negatif dan tidak mempunyai faktor predisiposisi dapat dilakukan pemeriksaan level serum IgM.pyogenes atau GABHS yang lain. 3. jika ada glomerulonefritis poststreptokokus. c. yaitu daerah tubuh yang sering terbuka (tungkai dan lengan.2. Urinalisis perlu dilakukan untuk mengevaluasi glomerulonefritis poststreptokokus jika pada pasien timbul edema dan hipertensi. tetapi kadang timbul sendiri4. Kultur bakteri juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). maka kultur bakteri harus dilakukan pada aksila. Level Anti DNAase (Antideoksiribonuklease) B meningkat cukup signifikan pada pasien impetigo streptokok. Wajah.3. Impetigo krustosa pada: a. daerah belakang telinga. Lutut. e. 11 . Kultur bakteri pada lubang hidung terkadang dibutuhkan untuk menentukkan seseorang S. Hematuria. Bisa dilanjutkan dengan tes katalase dan koagulase untuk membedakan antara Staphylokokus dan Streptokokus. Belakang telinga.13.10.14. Pada penderita dengan status S. Pada pewarnaan gram akan memperlihatkan neutrofil dengan kuman gram-positif di dalam rantai atau kelompok3.5. jika lesi imeptigo pecah. Lubang hidung. Pemeriksaan Laboratorium Pada darah tepi terdapat leukositosis pada hampir 50% kasus impetigo.aureus.4. proteinuria. Gram-stain Bila diperlukan dapat memeriksa isi vesikel dengan pengecatan gram untuk menyingkirkan diagnosa banding dengan gangguan infeksi gram negatif. faring dan perineum. Eksudat diambil dari bawah krusta untuk dilakukan kultur.14. Jika pada kultur tersebut negatif dan penderita persisten terhadap timbulnya impetigo. d. Mulut.terkena. Gambar 2.aureus karier atau bukan.7. kebanyakan merupakan kombinasi dengan S. 2.

yang biasanya anak-anak. Pada lapisan dermis didapatkan reaksi peradangan ringan berupa dilatasi pembuluh darah. sediaan apus. . edema. Gambaran Histopatologi Berupa peradangan superfisial folikel pilosebasea bagian atas. biakan dan tes resistensi kuman. Gambar Histopatologi Impetigo VII. Untuk menegakkan diagnosis impetigo di samping temuan klinik juga perlu dilakukan pewarnaan Gram (Gram-stain). dengan erupsi vesikel yang mengeluarkan sekret. tapi ini jarang dilakukan. dilanjutkan dengan tes resistensi.4. Terbentuk bula atau vesikopustula subkornea yang berisi kokus serta debris berupa leukosit dan sel epidermis.Streptozyme : positif untuk Streptokokus. dan krusta yang melekat ke dasarnya. dan infiltrasi PMN. lengan dan tungkai. berwarna kuning madu. Tes yang lainnya berupa : .Titer Antistreptolysin-O (ASO) memberikan positif lemah terhadap streptokokus. tapi jarang dilakukan4 5. Pemeriksaan lainnya Selain itu dapat juga dilakukan biakan bakteriologis eksudat besi. serta distribusi di muka. Biopsi dapat diindikasikan8. Diagnosis Diagnosis didasarkan pada umur penderita. biakan sekret dalam media agar darah. 12 . kultur.

Dermatitis kontak : gatal pada daerah sensitif yang kontak dengan zat-zat yang mengiritasi Gambar Dermatitis kontak 13 . Lebih sering menimbulkan limfadenitis dan kadang merupakan komplikasi dari impetigo Gambar Ektima 2.VIII. Diagnosis Banding atau penyakit yang mirip 1. penebalan pada lipatan kulit terutama pada dewasa (likenifikasi). lebih dalam dan peradangan lebih hebat ditutupi krusta yang keras (luka dengan dasar dan dinding). umumnya di daerah selaput lendir atau daerah lipatan. dapat menetap selama beberapa minggu dan sembuh dengan jaringan parut bila infeksi sampai jaringan kulit dalam (dermis). pada anak seringkali melibatkan daerah wajah atau tangan bagian dalam. Gambar 8. jika diangkat akan berdarah secara difus.3 Kandidiasis 4. basah. dasarnya ialah ulkus. Lesi lebih besar. Gambar Dermatitis atopik 3. Kandidiasis (infeksi jamur candida) : Dengan gambaran klinisnya berupa :papul merah. Ektima : predileksi di tungkai bawah. Dermatitis atopik : keluhan gatal yang berulang atau berlangsung lama (kronik) dan kulit yang kering.

Skabies : vesikel yang menyebar. Diskoid lupus eritematosa : lesi datar (plak) berbatas tegas yang mengenai sampai folikel rambut. kecil. terdapat terowongan. dapat nyeri. Gambar Insect bite 8. Gambar Diskoid lupus eritomatosa 6. pada sela-sela jari. gatal pada malam hari. Herpes simplex : vesikel berkelompok dengan dasar kemerahan yang pecah menjadi lecet tertutupi oleh krusta.5. biasanya pada bibir dan kulit. Gigitan serangga : terdapat papul pada daerah gigitan. Gambar Herpes simpleks 7. Gambar Skabies 14 .

prosesnya menahun sering masih tampak penyakit dasarnya. Serum dan krusta yang kadang bersamaan dengan vesikel. Pemfigus foliaseus sering terdapat pada orang dewasa.9. Sweet’s syndrome : timbul/onset tiba-tiba dengan konsistensi lembut disertai plak atau nodul yang nyeri dan kadang-kadang timbul vesikel atau pustul. krusta berwarna kuning kehijauan. skuama. Terdapat pus. vesikel pecah dan membentuk krusta. dada. Lesi lebih kecil. Gambar Sweet’s Syndrome 15 . biasanya dimulai pada wajah dengan bentuk/distribusi seperti kupu-kupu atau pada kepala. Gambar Varisela 10. umbilikasi vesikel. berbatas tegas. lesi terdapat pada beberapa tahap (vesikel. pembesaran KGB regional. Varisela : vesikel pada dasar kemerahan bermula di badan dan menyebar ke tangan. dan punggung bagian atas dengan gambaran klinik eritema. krusta) pada saat yang sama. Gambar Pemfigus foliaseus 12. krusta atau terkadang terdapat bula. kaki dan wajah. Pemfigus foliaseus : mempunyai gambaran klinik dan histopatologi yang serupa dengan impetigo. 11. dapat pula disertai demam. Impetigenisasi : pioderma sekunder. pustul. leukositosis.

Dapat dengan menutup daerah yang lecet dengan perban tahan air (kasa) dan memotong kuku anak. Higiene yang baik.PENGOBATAN IMPEGTIGO KRUSTOSA Tujuan pengobatan impetigo adalah menghilangkan rasa tidak nyaman dan memperbaiki kosmetik dari lesi impetigo.9%. disertai mengelupaskan krusta dengan handuk basah Jika krusta banyak. e. terutama apabila terkena luka b. lalu diberi salep antibiotik Mencegah anak untuk menggaruk daerah lecet. Lanjutkan pengobatan sampai semua luka lecet sembuh Tindakan yang bisa dilakukan guna pencegahan impetigo diantaranya a. Terapi non Medika mentosa/perawatan tanpa obat • • Dapat dilakukan kompres dengan menggunakan larutan Sodium kloride 0. Pengobatan harus efektif. Antibiotik topikal (lokal) menguntungkan karena hanya diberikan pada kulit yang terinfeksi sehingga meminimalkan efek samping. 16 • • • • . dilepas dengan mencuci dengan H2O2 dalam air. 1. tidak mahal dan memilki sedikit efek samping. lesi lebih luas atau dengan penyakit penyerta yang berat. mencakup cuci tangan teratur. Jangan menggunakan pakaian yang sama dengan penderita. Maka dari itu. Penggunaan desinfektan topikal tidak direkomendasikan dalam pengobatan impetigo. namun dapat mengiritasi pada sebagian kulit orang yang sensitif) c. menjaga kuku jari tetap pendek dan bersih d. mencegah penyebaran infeksi ke orang lain dan mencegah kekambuhan. Cuci tangan segera dengan menggunakan air mengalir bila habis kontak dengan pasien. Mandi teratur dengan sabun dan air ( sabun antiseptik dapat digunakan. Menghilangkan krusta dengan cara mandikan anak selama 20-30 menit. Jauhkan diri dari orang dengan impetigo. Kadangkala antibiotik topikal dapat menyebabkan reaksi sensitifitas pada kulit orang-orang tertentu. antibiotik oral disimpan untuk kasus dimana pasien sensitif terhadap antibiotik topikal.

handuk. Pada orang yang terinfeksi agar lukanya diperban dengan perban yang steril (kasa) j. • Mupirocin (Bactroban) mupirocin (dalam bentuk salap) merupakan salah satu antibiotik yang sudah mulai digunakan sejak tahun 1980an. Gunakan sarung tangan saat mengoleskan antibiotik topikal di tempat yang terinfeksi dan cuci tangan setelah itu. Sayangnya. tapi obat topikal ini hanya digunakan pada kasus dengan lesi yang kecil atau tidak terlalu banyak jumlahnya. Mainan yang dipakai dapat dicuci dengan desinfektans h. i. 2. Penggunaan mupirocin topikal dapat dilihat di bawah ini : 17 . Orang yang kontak dengan orang yang terkena impetigo segera mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir g. Terapi medikamentosa Pengobatan yang diberikan pada impetigo krustosa terdiri dari pengobatan topikal dan pengobatan secara sistemik TERAPI LOKAL Obat-obat topikal ini mempunyai potensi yang lebih rendah dibandingkan dengan antibiotik sistemik atau obat oral.f. dan sprei dari anak dengan impetigo terpisah dari yang lainnya. Kombinasi mupirocin dan obat cephalexin lebing unggul daripada bacitracin.aureus dan MRSA resisten terhadap mupirocin dengan penafsiran antara 5-10%. Cuci pakaian. Cuci dengan air panas dan keringkan di bawah sinar matahari atau pengering yang panas. Penderita sebaiknya tinggal di dalam rumah/ruangan untuk beberapa hari untuk menghindari masuknya bakteri ke dalam luka. Obat ini digunakan untuk beberapa lesi yang kecil tanpa limfadenopati. Dan obat ini sudah dibuktikan dimana lebih unggul dibandingkan polymiksin B dan neomisin topikal dan keefektifannya sama dengan obat cephalexin (oral). Mupirocin ini bekerja dengan menghambat sintesis RNA dan protein dari bakteri. S.

Jika penyakit tinbul kembali atau recurens maka oleskan pada lubang atau cuping hidung 2x/hari untuk 5 hari selama sebulan Anak -Anak Pengobatannya di gunakan sama seperti orang dewasa • Retamapulin (Altabax) Retamapulin ini sudah terbukti pada US Food and Drug Administration (FDA) tahun 2007 untuk digunakan sebagai pengobatan impetigo secara topikal pada orang dewasa dan anak-anak (>9 bulan) yang disebabkan oleh S. Indikasinya untuk impetigo yang disebabkan oleh S. Penggunaan retamapulin topikal dapat dilihat di bawah ini : Dewasa Oleskan tipis pada daerah yang terkena ± 5 hari untuk total area < 100 cm2 . selama 1 minggu. Pada penelitian yang dilakukan terhadap 1900 pasien. Penelitian yang lain. dengan sedikit efek samping. Retamapulin mempunyai spektrum aktifitas yang luas. Obat ini digunakan untuk mencegah kembalinya aktifitas bakteri dimana sudah resisten terhadap banyak obat antibiotik.Dewasa Mupirocin 2% cream/salap 5/10 g Oleskan tipis pada daerah yang terkena 3-5 kali /hari. sebelumnya di bersihkan lukanya. azithromycin. seperti metisilin. retamapulin terbukti sama efektifnya dengan fusidic acid dan cephalexin oral.aureus atau S. and levofloxacin. eritromisin.pyogenes. fusidic acid. Retapamulin berikatan dengan subunit 50S ribosom pada protein L3 dekat dengan peptidil transferase yang pada akhirnya akan menghambat protein sintesis dari bakteri. jauh melebihi mupirocin.aureus dan methicillin-susceptible S aureus. daerah yang terkena harus ditutup dengan penutup yang steril setelah pemakaian Anak 18 . retamapulin 1% (salap) ternyata lebih efektif dibandingkan fusidic acid 2% (salap) untuk pengobatan impetigo. Obat ini merupakan kelas antibiotik baru yang pertama kali disebut pleuromutilins. mupirocin.

tapi reaksi hipersensitifitas telah dilaporkan pada beberapa produk dengan campuran yang lainnya.1% salap atau krim 10 g 2-3 kali sehari selama ≤ 4 minggu. • Clindamycin 1% cream.5-50%. namun akhir- akhir ini penggunaan dicloxacillin mulai tergeser oleh penggunaan retamapulin topikal karena diketahui retamapulin memiliki lebih sedikit efek samping bila dibandingkan dengan dicloxacillin. Meskipun potensi sensitisasinya rendah. Obat ini telah banyak digunakan di beberapa negara untuk infeksi gram-positif oleh spesies Staphylococcus. total area untuk pengobatan harus < 2% dari total BSA pada pasien usia 9 bulan sampai 18 tahun. Gentamisin 0.Digunakan pada anak umur > 9 bulan. gunakan sama seperti orang dewasa. foam dan gel 10 g 2-3 kali sehari. tapi diakui sebagai terapi first-line di Eropa dan negara bagian lainnya. Fusidic acid telah dilaporkan dapat mengakibatkan resisten yang tinggi dengan persentase 32.Anak Sama seperti orang dewasa • Dicloxacillin (Peridex) Penggunaan dicloxacillin merupakan First line untuk pengobatan impetigo. dan telah dibandingkan mempunyai sifat bekterisidal tetapi masa kerjanya lebih panjang daripada hydrogen peroksida 1% larutan encer in vitro. lotion. termasuk impetigo dan pioderma • • Hidrogen peroksida 1% krim. tersedia di banyak negara. Obat ini digunakan 2-3 x sehari selama 3 minggu. • Fusidic acid Fusidic acid sekarang ini tidak tersedia di United States. Obat ini digunakan pada beberapa infeksi MRSA. 19 . Penggunaan fusidic acid topikal dapat dilihat di bawah ini : Dewasa Fusidic acid 2% cream/salap 5 g 2-3 x sehari selama 7 hari. Anak.

5 mg/dosis 4 kali/hari a. Obat ini berkhasiat untuk kuman negatifGram.000-1. Meskipun kelihatannya obat ini bekerja. tetapi jarang dianjurkan karena mempunyai potensi risiko terjadinya reaksi fotosensitifitas pada kulit.000-50.2 juta U IM 1-2 x hari selama 7 hari Anak : 25. dengan dosis tinggi.• Tetrasiklin 3% salep 15 g 1 kali atau lebih per hari.5% krim 5 g 2-3 kali sehari. selama 10 hari Anak • Penisilin G Dewasa : 600.2 juta U 2) Penisilin semisintetik (untuk Staphlococci yang kebal Penisilin) • Cloxacillin 20 : 7.c.m. penisilin semisintetik. 1) Penisilin • Penisilin V (fenoksimetil penisilin) Dewasa : 250-500 mg 3-4 x sehari a.5-12. • Benzathine penisilin G Anak-anak < 6 tahun : 600. disebabkan kondisi yang tidak infeksi pada awalnya. • Neomisin 0. Di negara Barat dikatakan sering menyebabkan sensitisasi.000 U IM 1-2 x sehari Obat ini jarang dipakai karena tidak praktis. . dan makin sering terjadi syok anafilaktif. Sefalosporin. atau kombinasi inhibitor ß laktamase umumnya merupakan digunakan sebagai terapi First line. Sekarang obat ini tidak begitu efektif. menurut pengalaman penulis jarang TERAPI SISTEMIK ATAU SECARA ORAL Pengobatan antibiotik sistemik diindikasikan untuk penyakit-peyakit kulit. diberikan i.c. Obat ini telah digunakan untuk lokal impetigo. • Basitrasin atau Neosporin 250 iu salep 5 g beberapa kali sehari.000 U IM Anak-anak > 7 tahun : 1.

Dewasa : 250-500 mg 4 kali sehari a. kadang digunakan sebagai terapi jika diduga infeksi staphylococcus. Anak : 20 mg/kgBB Kelebihan obat ini dapat diberikan setelah makan. Digunakan untuk pengobatan infeksi akibat penisilin-produksi staphlococcus.c. selain itu juga menghambat sintesis dinding sel.c. selama 10 hari Anak • : 10-25 mg/kgBB/dosis 4 x sehari a. selama 10 hari Anak : 4-8 mg/kg/dosis (neonatus). 125 mg (2-5 tahun) 4 kali/hari. Juga cepat diabsorbsi dibandingkan ampisilin sehingga konsentrasi dalam plasma lebih tinggi. <40 kg : 12.c. 3) Aminopenicililins • Amoksisilin Dewasa : 250-500 mg 3 kali/hari selama 8 hari. Dynapen) Dewasa : 250-500 mg 3-4 kali sehari a. • Amoxicillin plus asam klavulanat (ß-laktamase inhibitor) Dewasa : 875/125 mg 2 kali/hari selama 10 hari Anak • : 20 mg/kgBB/hari 3 kali/hari Ampicillin Dewasa : 250-500 mg 4 kali/hari (sejam sebelum makan) selama 7-10 hari Anak : 125-250 mg (5-10 tahun). Obat ini sangat efektif tapi kurang toleransi daripada cephalexin. 4) Sefalosporin • Cephalexin (Keflex) Dewasa : 250-500 mg 4 kali/hari selama 10 hari Anak : 40-50 mg/kgBB selama 10 hari 21 . Dicloxacillin (Dycill.5-50 mg/kg/hari >40 kg : 125-500 mg/hari Mengikat satu atau lebih penisilin dengan protein.

selama 10 hari Anak berat. 5) Eritromisin (EES. daerah yang terkena luas. selama 7-14 hari. bersifat bakterisidal dan efektif melawan secara cepat pembentukan dinding sel. dan hebatnya infeksi menentukkan dalam hal pemberian dosis.c. tidak lebih dari 3g/hari. diduga menghalangi uraian t-RNA peptida dari ribosom. 6) Klindamisin (Cleocin) Dewasa : 150 mg/hari untuk 3 bulan (profilaksis) 150-300 mg/hari selama 7-10 hari (treatment) Anak-anak lebih dari 1 bulan : 8-20 mg/kgBB/hari 3-4 kali/hari selama 10 hari. • Cephradine Dewasa : 250-500 mg 4 kali/hari selama 7-14 hari.Obat ini menghambat pertumbuhan bakteri dengan menghambat sintesis dinding sel. umur. Efektif untuk infeksi kulit. dosis ganda jika penyakit bertambah 22 . Pada anak-anak. Menghambat pertumbuhan bakteri. Terutama aktif melawan bakteri di kulit. Selain itu juga dapat digunakan untuk profilaksis impetigo. Digunakan untuk pengobatan infeksi Staphylococcus dan Streptococcus. atau terdapat limfadenopati regional. Erythrocin. Merupakan obat pilihan untuk kasus yang banyak menimbulkan lesi. tidak lebih dari 4g/hari. Anak • : 25-50 mg/kgBB selama 7-14 hari. : 30-50 mg/kgBB 4 kali/hari p.c. Ery-Tab) Dewasa : 250-500 mg 4 kali/hari p. sering digunakan untuk memperbaiki stuktur kulit dan sebagai profilaksis pada prosedur minor. mengikat subunit 50S ribosom serta mengganggu sintesis protein. berat badan. Biasanya terjadi resisten dan sering memberi rasa tak enak di lambung. menyebabkan sintesis protein dependen-RNA berhenti. Obat ini juga diberikan pada orang alergi terhadap penisilin. Sefadroksil ( dosis : 2 x 500 mg sehari per os).

Dewasa : 5 mg/hari po Anak • : <12 tahun : tidak dianjurkan >12 tahun : gunakan sama seperti orang dewasa. Vistaril) Merupakan reseptor H1 antagonis. Dewasa : 5-10 mg/hari po Anak : 6 bln-2 tahun : 2. Dapat menyembuhkan kongesti nasal dan efek sistemik pada alergi musim. Metabolisme utama dari loratadin adalah secara luas untuk mengaktifkan metabolit 3-hydroxydesloratadine. Sering digunakan sebelum tidur karena mempunyai efek sedatif.Antihistamin Jika gatal / pruritus sangat dikeluhkan. Cetrizine (Zyrtec) Obat ini merupakan long acting selektif histamin H1 reseptor antagonis.5-5 mg/hari po : 5-10 mg/hari po Hidroksin (Atarax. Dewasa : 10 mg/hari po Anak : <2 tahun : tidak dianjurkan 2-6 tahun : 5 mg/hari po >6 tahun : gunakan sama seperti orang dewasa. maka antihistamin dapat diberikan untuk meminimalkan terjadinya garukan.5 mg/hari po 2-5 tahun 6-11 tahun • : 2. • Desloratadin (Clarinex) Obat ini merupakan antagonis selektif histamin trisiklik untuk reseptor H1 yang long-acting. Menghindarkan trauma pada kulit dapat mencegah atau membatasi penyebaran impetigo secara autoinokulasi. Obat ini dapat menekan aktifitas histamin di area subkortikal pada CNS. • Loratadin (Claritin) Nonsedatif dan secara selektif menghambat reseptor histamin H1. Dewasa : 25-100 mg po 23 .

radang paruparu (pneumonia).5-25 mg po dibagi menjadi 3-4 dosis. radang pembuluh limfe atau kelenjar getah bening. dapat timbul komplikasi sistemik berupa glomerulonefritis (radang ginjal) pasca infeksi streptokokus dengan sero tipe tertentu terjadi pada 2-5% pasien terutama usia 2-6 tahun dan hal ini tidak dipengaruhi oleh pengobatan antibiotik. 24 . psoriasis. Prognosis impetigo krustosa Impetigo biasanya sembuh tanpa penyulit dalam dua minggu walaupun tidak diobati. Keadaan ini umumnya sembuh secara spontan walaupun gejala-gejala tadi muncul. pada sepertiga terdapat urin seperti warna teh. Namun. selulitis.Anak : <6 tahun : 2 mg/kgBB/hari po dibagi menjadi 3-4 dosis 6-12 tahun : 12. Staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS). dan eritema multiformis. scarlet fever. Gejala berupa bengkak pada kaki dan tekanan darah tinggi. Komplikasi lainnya yang jarang terjadi adalah infeksi tulang (osteomielitis). urtikaria.

25 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful