You are on page 1of 31

PRESENTASI KASUS Anestesi Umum pada Operasi Timpanoplasty

DISUSUN OLEH : Amanda Prahastianti Tiara Rahmawati Syarifah Zawani Bt Tuan S. 030.08.020 030.08.240 030.08.307

PEMBIMBING : Dr. Nurgani Aribinuko, Sp.An (KIC)

KEPANITERAAN KLINIK SMF ANESTESI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI

PERIODE 21 JANUARI 2013 – 22 FEBRUARI 2013
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pertama-tama penyusun mengucapkan puji syukur kepada Tuhan YME, karena atas berkat, rahmat, dan anugerah-Nya, maka kasus yang berjudul Anestesi Umum pada Operasi Timpanoplasty ini dapat diselesaikan. Adapun penyusunan presentasi kasus ini adalah dalam rangka memenuhi salah satu tugas kepaniteraan klinik Ilmu Anestesi RSUP Fatmawati periode 21 Januari 2013 – 22 Februari 2013. Pada kesempatan ini pula penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr. Nurgani Aribinuko, Sp.An(KIC) selaku pembimbing dalam pembuatan presentasi kasus ini. 2. Para konsulen, dokter, paramedik, dan seluruh staf di SMF Anestesi, serta semua pihak yang turut serta membantu baik dalam penyusunan referat maupun membimbing serta menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam penyelesaian tugas ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Demikian presentasi kasus ini dituliskan. Semoga presentasi kasus ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Penyusun memohon maaf apabila pada penulisan masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu penyusun menghimbau agar para pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang membangun dalam perbaikan presentasi kasus ini.

Jakarta , 13 Februari 2013

Penyusun

2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………2 DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………..3 BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………..4 BAB II ILUSTRASI KASUS …………………………….……………………………...5 BAB III ANALISA KASUS Analisa pre-operasi…………………………………………….……………….….9 Analisa intra-operasi ………………………………………….…………………..9 Analisa post-operasi …………………………………………………………..…12 BAB IV TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………………15 Teori Anestesi Umum ……………………………………………………………16 Tujuan Anestesi Umum ………………………………………………………….17 Syarat, Kontraindikasi, dan Komplikasi Anestesi Umum ……………………….17 Persiapan untuk Anestesi Umum ………………………………………………...18 Metode Pemberian Anestesi Umum ……………………………………………..20 Stadium Anestesi ……………………………………………………………...…21 Teknik Anestesi Umum ………………………………………………………….22 Obat-obat dalam Anestesi Umum ………………………………………………..25 Skor Pemulihan Pasca Anestesi ………………………………………………….27 BAB V KESIMPULAN ……………………………………………………………...…30 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………..…31

3

analgesia. tanpa" dan aesthētos. curah jantung. zat anestesi. dan suhu). dan relaksasi otot. 4 . Karena anestesi modern saat ini menggunakan obat-obat selain eter. sirkulasi. dan per inhalasi. secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh.BAB I PENDAHULUAN Anestesi (pembiusan. yaitu hipnotik. Berbagai factor yang mempengaruhi anestesi umum adalah faktor respirasi. "persepsi.Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846. Dengan anestesi umum akan diperoleh trias anesthesia. kemampuan untuk merasa"). analgesia. jaringan. Anestesi umum yang sempurna menghasilkan ketidaksadaran. Metode anestesi umum terdiri dari parenteral. maka trias anestsei diperoleh dengan menggabungkan berbagai macam obat. per rectal. Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat reversible. berasal dari bahasa Yunani an-"tidak. relaksasi otot tanpa menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien. dan faktor lain (ventilasi. Hanya eter yang memiliki trias anesthesia.

IDENTITAS PASIEN No. Jabar Status pernikahan : Belum menikah Penddkn terakhir : Tamat SLTP Pasien merupakan pasien rawat jalan THT sejak 8 Januari 2012 2. Akhzan Umri W. batuk. Telinga kiri dirasakan nyeri dan pendengaran berkurang. Os mengaku pernah mengalami hal serupa ± 6 bulan yang lalu. ANAMNESIS   Keluhan utama Keluar cairan dari telinga kiri Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke poli THT RSUP Fatmawati dengan keluhan keluar cairan berwarna putih dan berbau dari telinga kiri sejak 20 hari sebelum masuk rumah sakit.BAB II ILUSTRASI KASUS 1. RM Nama Umur Berat Badan Jenis kelamin Alamat : 01131558 : An. Bogor. Demam. pilek. Kab. : 18 tahun 5 bulan : 55 kg : Laki-laki : Pondok Pesantren Nal Asriyah Nurul. telinga berdenging disangkal oleh pasien. Parung.  Riwayat Penyakit Dahulu Keluhan yang sama sebelumnya (+) Asma (-) Hipertensi (-) Diabetes Melitus (-) Penyakit jantung (-) Alergi obat dan makanan tertentu (-) riwayat operasi sebelumnya (+)  appendiktomi ± 8 bulan yang lalu Riwayat TB (-) 5 .

murmur (-). Hipertensi (-). Tonsil T1-T1 : 130/90 mmHg : 80 x/mnt : 18 x/menit : afebris : 55 kg : tampak sakit sedang : compos mentis tenang.  Riwayat Penyakit Keluarga Asma (-). sekret (+) mukoid. warna putih berbau. bising usus (+) normal Ekstremitas : akral hangat +/+ 6 . membran timpani intak. refleks cahaya (+) jam 5 Kiri : liang telinga sempit. jaringan granulasi (+) • • • • • • • Hidung : liang hidung lapang. penyakit jantung (-) Riwayat Kebiasaan Merokok (-) 3. dinding faring posterior tidak hiperemis Leher Jantung Paru Abdomen : KGB dan kelenjar tiroid tidak teraba membesar : bunyi jantung I-II reguler. sklera ikterik -/: : liang telinga lapang. mukosa hiperemis (-/-) Tenggorokan : arkus faring simetris. gallop (-) : suara nafas vesikuler +/+. Diabetes Melitus (-). supel. wheezing -/: datar. septum deviasi (-). sekret (-/-). sekret (-). rhonki -/-. perforasi sentral membran timpani (+). hepar dan lien tidak teraba. uvula di tengah. serumen minimal. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Tanda Vital : • TD • N • Napas • Suhu Berat Badan Status generalis • • Mata Telinga Kanan : konjungtiva anemis -/-.

Puasa 6-8 jam pre-operasi (2) Penatalaksanaan Anestesi Diagnosa Pre Op : Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) auricularis sinistra tipe tenang Jenis Operasi Teknik Status Fisik Premedikasi Induksi : Timpanoplasty : General Anestesi Semi-closed System ETT no. 7. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium • • • • • • • • • • • • • • Hb Ht Leukosit : 14.5 cuff (+) : ASA I : Fentanyl : Propofol 7 .9 mg/dl Masa perdarahan : 1. PERENCANAAN ANESTESI a.4.0 menit PT APTT : 13.000 rb Eritrosit GDS SGOT SGPT Ureum : 5. Keadaan Intraoperasi 8 Januari 2013 (Catatan Anestesia) (1) Persiapan Anestesi Informed consent .08 juta/dL : 89 mg/dl : 18 U/I : 7 U/I : 21 mg/dl Kreatinin : 0. DIAGNOSIS KERJA Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) auricularis sinistra tipe tenang 6.1 detik 5.700 rb Trombosit : 356.3 g/dl : 44 % : 6.3 detik : 31.5 menit Masa pembekuan : 4.

O2 : Napas kendali (CMV) VT 550 ml.Pelemas Otot Inhalasi Respirasi Posisi Infus : Rocuronium Bromide : Isoflurane. N2O. RR 12x/mnt : Supine : Ringer laktat 8 .

Dosis propofol 2-3 mg/kgBB. B. Sebelum operasi. TB.2 Dosis yang diberikan sesuai. Untuk induksi digunakan propofol intravena dengan kepekatan 1% 200 mg. DM. yakni ketika pasien diminta membuka mulut semaksimal mungkin uvula. Fentanyl diberikan sebagai analgetik narkotik. maupun riwayat alergi. Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien tidak memiliki riwayat asma. dan palatum molle dapat terlihat jelas. Premedikasi yang diberikan adalah Fentanyl 150 mcg. hipertensi. datang dengan keluhan keluar cairan dari telinga kiri sejak 20 hari SMRS. Pasien termasuk Mallampati kelas 1. tonsil. oleh karena itu pada pasien dapat dilakukan tatalaksana preoperasi.BAB III ANALISA KASUS A. Dari hasil anamnesis. propofol 200 mg dan rocuronium bromide 30mg sebagai induksi. pasien dianjurkan berpasa dahulu selama enam sampai delapan jam karena pengosongan lambung untuk makanan padat pada orang dewasa sehat adalah enam jam. Karena operasi timpanoplasty bukan termasuk operasi cito. dan pemeriksaan penunjang didapatkan bahwa pasien mengalami OMSK tipe tenang dan dijadwalkan operasi tanggal 8 Februari 2013. Hal ini mengecilkan kemungkinan untuk terjadi kesulitan intubasi pada pasien. Pemberian propofol sebagai obat induksi sudah tepat karena obat 9 . Pada penatalaksanaan preoperasi salah satu penilaian klinik yang dapat dilakukan untuk menilai kemungkinan terjadinya kesulitan intubasi adalah tes Mallampati. ANALISA INTRAOPERASI Pada pasien ini dilakukan teknik general anestesi dengan menggunakan obat premedikasi fentanyl 150 mcg. penyakit jantung. Pasien memiliki riwayat operasi appendiktomi ± 8 bulan yang lalu. ANALISA PREOPERASI Pasien laki-laki usia 18 tahun dengan BB 55 kg. Dosis fentanyl untuk premedikasi adalah 1-3 mcg/kgBB. Pasien dilakukan operasi timpanoplasty. Kondisi fisik pasien dinyatakan sebagai ASA I. pemeriksaan fisik. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya regurgitasi cairan lambung selama operasi yang dapat mengakibatkan aspirasi ke saluran napas.

menghilangkan spasme laring dan refleks jalan napas atas selama operasi. Monitoring Saat Operasi: Jam 08. Relaksasi otot ini dimaksudkan untuk membuat relaksasi otot selama berlangsungnya operasi. selain itu porpofol juga diharapkan dapat menurunkan tekanan darah supaya dapat mengurangi perdarahan.15 10. Propofol memiliki efek depresi nafas. Pemberian Roculax sudah sesuai dengan dosis.00 10.30 08. Untuk relaksasi saat intubasi diberikan Roculax yang berisi Rocuronium bromide 30 mg.45 11. diberikan sebagai obat relaksasi otot dengan kerja singkat.45 10. Sehingga sebaiknya diberikan dosis pemeliharaan 0.15 09. Saturasi pasien tetap stabil yaitu 100% selama dilakukan tindakan intubasi.15 08.1-0.30 10.2 mg/kgBB setelah 30 – 60 menit. Dosis Rocuronium untuk intubasi adalah 0.6 – 1.00 Tekanan Darah (mmHg) 100/50 98/50 105/60 100/48 100/50 100/48 100/50 98/48 90/45 98/48 98/50 108/52 Nadi (x/min) 80 78 68 60 63 58 60 58 60 65 65 82 Saturasi (%) 100 100 100 100 99 99 99 99 99 100 100 100 10 . Semua peralatan yang dibutuhkan untuk general anestesi dipersiapkan dengan lengkap.ini memiliki onset yang cepat yaitu 30-60 detik dan durasi kerja yang singkat. Rokuronium merupakan relaksan otot skelet nondepolarisasi (intermediate acting).5 ke dalam trakea. Lama aksi obat ini adalah 30-60 menit. intubasi dapat dilakukan dengan mudah dan tidak ada kesulitan untuk memasukkan ETT ukuran 7. dan memudahkan pernapasan terkendali selama anestesi.2 mg/kgBB.00 09.45 09.30 09.

5 = 567. Isoflurane memiliki efek minimal terhadap kontraktilitas otot jantung pada konsentrasi inspirasi yang rendah. cardiac output menurun dan tekanan darah menurun. Anestesi dengan teknik hipotensi terkendali merupakan suatu teknik pada anestesi umum dengan menggunakan agen hipotensi kerja cepat untuk menurunkan tekanan darah serta perdarahan saat operasi. Keuntungannya adalah meningkatkan dosis isoflurane tidak hanya menghasilkan efek vasodilatasi dan hipotensi. Pada kasus ini dapat dilihat napas pasien diatur dengan ventilator dengan volume tidal sebesar 550 ml. volume tidal untuk orang dengan BB 55 kg adalah ± 440 ml.15 11. tetapi juga menekan sistim saraf pusat sehingga meminimalkan reflek vasokonstriksi atau takikardi akibat stimulasi baroreseptor. dimana tekanan sistole pasien tidak lebih dari 100 mmHg.00 108/52 98/45 88/40 85/45 85 75 80 60 100 100 100 100 Hemodinamik pasien selama operasi cenderung stabil. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan tekanan positif intrathoraks sehingga akan mengurangi aliran balik vena.30 11. BALANS CAIRAN KEBUTUHAN CAIRAN (BB 55 kg) Jenis operasi : 6 cc/kg x 55 kg = 330 ml Maintenance : (4 cc x 10) + (2 cc x 10) + (1 cc x 35) = 40 + 20 + 35 = 95 ml Puasa : 6 jam x 95 cc = 570 ml : M + O + ½ P = 95 + 330 + 285 = 710 ml : M + O + ¼ P = 95 + 330 + 142. dan pasien dibuat dalam keadaan hipotensi. Penggunaan isoflurane sebagai maintenance digunakan secara luas untuk menginduksi hipotensi karena onset kerja cepat. dengan MAP tidak kurang dari 60 mmHg. Pada operasi telinga. teknik anestesi yang dipilih harus dapat memberikan kondisi operasi yang baik pada operator. mudah dikontrol dan efek kardiovaskuler cepat pulih setelah obat dihentikan. Prosedur ini memudahkan operasi sehingga membuat pembuluh darah dan jaringan terlihat serta mengurangi kehilangan darah.11.5 ml 11 1 jam pertama 1 jam kedua .45 12.

dengan tujuan oksigen akan mengisi tempat yang sebelumnya ditempati obat anestesi inhalasi di alveoli yang berangsur-angsur keluar mengikuti udara ekspirasi.5 ml + 425 ml + 600 ml = 2870 ml Cairan masuk Infus Cairan keluar Urin Perdarahan ` IWL : :± 160 ml 200 ml + 360 ml : (15 cc x 55 kg) x 4 jam = ± 130 cc 24 Balans cairan : 1000 – 360 – 130 = + 510 ml Estimate Blood Volume (EBV) = 70 cc/kg x 55 kg = 3850 cc : RL 500 ml x2 : 1000 ml Pemberian cairan intraoperasi sebanyak 1000 cc. Sementara cairan keluar sebanyak 360 cc. Kadar zat anestesi di darah lama kelamaan menurun sehingga kesadaran pasien berangsur pulih.5 ml + 567. dengan komposisi RL 1000 cc. Dilakukan ekstubasi setelah pasien sadar. dan insensible water loss ± 130 cc sehingga didapatkan balans cairan operasi +510 cc. anestesi diakhiri dengan menghentikan pemberian obat anestesi.5 ml Setiap 1 jam selanjutnya : M + O = 425 ml Penggantian cairan akibat perdarahan : 200 ml digantikan kristaloid 600 ml Operasi dan anestesi berlangsung 3 jam 45 menit  Intake cairan seharusnya durante operasi : 710 ml + 567. dengan komposisi urin 160 cc.5 = 567. Anestesi inhalasi dihentikan dan oksigen dinaikkan. perdarahan ± 200 cc. Pada akhir operasi. C.1 jam ketiga : M + O + ¼ P = 95 + 330 + 142. ANALISA POST-OPERASI Keadaan Akhir Pembedahan: Tekanan Darah Nadi : 100 / 70 mmHg : 82 x / menit 12 .

napas 18x/menit. Pasien datang ke poli THT RSUP Fatmawati dengan keluhan keluar cairan berwarna putih dan berbau dari telinga kiri sejak 20 hari sebelum masuk rumah sakit. Telinga kiri dirasakan nyeri dan pendengaran berkurang. suhu afebris. telinga berdenging (-). 18 tahun. RESUME Pasien Tn. Lamanya tindakan anastesi dan operasi timpanoplasty yang dialami pasien ± 3 jam 45 menit. Saat di RR pasien mual dan muntah sehingga diberikan ondancentron sebagai anti-emetik 4 mg intravena. D. GDS 89 mg/dl. TD 13/90 mmHg. Pemeriksaan fisik pasien sebelum dilakukan operasi didapatkan BB pasien 55 kg. nadi 80 x/mnt. pilek (-). Saat keluar dari ruang pemulihan didapatkan Aldrete score 10 sehingga pasien sudah bisa dipindahkan ke ruangan. dan keseimbangan cairan. Napas pasien dikendalikan oleh ventilator 13 . dan relaksasi menggunakan rocuronium bromide 30 mg. Pasien diberikan oksigenasi sambil dilakukan pemantauan tekanan darah. trombosit 356 ribu/ul. Ht 44 vol %. saturasi. A. nadi.3 g/dl. Os mengaku pernah mengalami hal serupa ± 6 bulan yang lalu. Demam (-). Pasien menggunakan teknik general anestesi dengan premedikasi menggunakan fentanyl 150 mcg. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 14. diagnosis pada pasien ini adalah Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) tipe tenang dan akan dilakukan timpanoplasty. leukosit 6700/ul.Muntah Mual Sianosis Diagnosis post-op : (+) : (+) : (-) : OMSK AS tipe tenang Penilaian “ALDRETTE SCORE” Aktivitas Sirkulasi 2 2 Pernafasan 2 2 Kesadaran 1 2 Warna kulit 2 2 Total 8 10 Saat masuk Ruang Pemulihan Saat keluar Ruang Pemulihan 1 2 Saat pasien dibawa ke ruang pemulihan didapatkan Aldrette score 8. batuk (-). induksi menggunakan propofol 200 mg.

menggunakan infus pada tangan kiri ukuran 18 G.dengan volume tidal 550 ml dan frekuensi napas 12x/menit.cairan yang keluar . Cairan yang keluar selama operasi sebanyak 360 ml yang berasal dari urin 160 ml serta perdarahan ± 200 ml. Hemodinamik pasien ini selama operasi cenderung stabil dalam keadaan hipotensi dari awal hingga akhir.IWL). Pasien menggunakan obat-obatan adjuvant berupa ondancetron 4 mg. 14 . Cairan yang masuk selama operasi sebanyak 1000 ml yang berasal dari cairan infuse Ringer Laktat sebanyak 1000 ml. dan ketorolac 30 mg. Rumatan menggunakan isoflurane 1. Pasien dioperasi dengan posisi terlentang. rocuronium bromide 20 mg. fentanyl 50 mcg. Jenis operasi yang dialami pasien termasuk kedalam operasi kecil sehingga setelah dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus kebutuhan cairan didapatkan hasil bahwa kebutuhan cairan pasien yang harus dipenuhi selama operasi sebanyak 1830 cc. Balans cairan pasien adalah +510 ml (cairan masuk .5vol%.

dan relaksasi. sakit tenggorokan. asidosismetabolik. Anestesi umum menggunakan agen intravena. sehingga pasien tidak merasakan atau mengingat sesuatu yang terjadi. pernapasan. lokal atau anestesi regional mungkin lebih tepat. Dalam anestesi umum. intramuskular dan per rektal. hiperkarbia. Komponen anestesi yang ideal terdiri dari hipnotik. Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa anestesi umum mungkin tidak selalu menjadi pilihan terbaik. menggigil. Penyedia anestesi bertanggung jawab untuk menilai semua faktor yang mempengaruhi kondisi medis pasien dan memilih teknik anestesi yang optimal. Keuntungan anestesi umum : Mengurangi kesadaran pasien intraoperatif Memungkinkan relaksasi otot yang tepat untuk jangka waktu yang lama Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas. dan hiperkalemia. dan sirkulasi Dapat digunakan dalam kasus sensitivitas terhadap agen anestesi local Dapat disesuaikan dengan mudah untuk prosedur durasi tak terduga Dapat diberikan dengan cepat Dapat diberikan pada pasien dalam posisi terlentang Kekurangan anestesi umum : Memerlukan beberapa derajat persiapan pra operasi pasien Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual atau muntah. dan memerlukan masa untuk fungsi mental yang normal Terkait dengan hipertermia di mana paparan beberapa (tetapi tidak semua) agen anestesi umum menyebabkan kenaikan suhu akut dan berpotensi mematikan. Anestesi umum adalah tindakan yang menimbulkan keadaan tidak sadar selama prosedur medis dilakukan. sakit kepala. inhalasi. 15 . analgesia. pasien akan mengalami keadaan tidak sadar dan hilangnya refleks pelindung yang dihasilkan dari satu atau lebih agen anestesi umum.BAB IV TINJAUAN PUSTAKA Anestesi umum adalah tindakan menghilangkan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversible. tergantung pada keadaan pasien.

16 . karena aspirasi adalah penyebab morbiditas yang cukup tinggi dalam anestesi. Ini hanya berlaku pada obat inhalasi (volatile anaesthetics). Meyer dan Overton (1989) mengemukakan teori kelarutan lipid (Lipid Solubity Theory). b. Potensi analgesia gas – gas yang lembab dan menguap terbalik terhadap tekanan gas – gas dengan syarat tidak ada reaksi secara kimia. Ferguson (1939) mengemukakan teori efek gas inert (The Inert Gas Effect). Pasien akan kehilangan reflex-reflex nya termasuk reflex batuk yang berfungsi untuk mencegah adanya aspirasi. penggunaan muscle relaxan pada anestesi umum dapat menyebabkan tidak adekuatnya sphincter pada lambung yang bisa menyebabkan adanya aspirasi yang berisiko menyebabkan aspirasi. Selain kehilangan reflex. Untuk mencegah hal ini.Indikasi anestesi umum : Infant dan anak usia muda Dewasa yang memilih anestesi umum Pembedahan luas Penderita sakit mental Pembedahan lama Pembedahan dimana anestesi local tidak praktis atau tidak memuaskan Riwayat penderita toksik/alergi obat anestesi local Penderita dengan pengobatan antikoagulan Hal yang harus diperhatikan dalam anestesi umum adalah hilangnya upaya mempertahankan diri dari pasien. Efeknya berhubungan langsung dengan kelarutan dalam lemak. Obat anestetika larut dalam lemak. diantaranya : a. tidak pada obat anestetika parenteral. TEORI ANESTESI UMUM Ada beberapa teori yang membicarakan tentang kerja anestesi umum. pasien yang akan dilakukan anestesi umum harus dipuasakan untuk mengosongkan lambung dan mencegah adanya regurgitasi dan aspirasi. Jadi tergantung dari konsentrasi molekul – molekul bebas aktif. makin kuat daya anestesinya. Makin mudah larut di dalam lemak. I.

relaksasi dan stabilisasi otonom. Trudel (1963) mengemukakan molekul obat anestetika mengadakan interaksi dengan membrana lipid meningkatkan keenceran (mengganggu membran). DM tak terkontrol. SYARAT. analgesik. Pauling (1961) mengemukakan teori kristal mikrohidrat (The Hidrat Microcrystal Theory). Memberi induksi yang halus dan cepat b. yang pertama kali terpengaruh adalah jaringan yang banyak vaskularisasinya seperti otak. harus dihindarkan pemakaian obat yang bersifat hepatotoksik.Pada pasien dengan gangguan jantung. Timbulkan relaksasi otot skeletal. KONTRAINDIKASI DAN KOMPLIKASI ANESTESI UMUM Adapun syarat ideal dilakukan anestesi umum adalah : a. II.Pada pasien dengan gangguan hepar. Obat anestetika berpengaruh terutama terhadap interaksi molekul – molekul obatnya dengan molekul – molekul di otak. Memberikan keadaan pemulihan yang halus dan cepat dan tidak menimbulkan ESO yang berlangsung lama. Kontraindikasi mutlak dilakukan anestesi umum yaitu dekompresi kordis derajat III – IV. TUJUAN ANESTESI UMUM Tujuan anestesi umum adalah hipnotik. Kecepatan dan kekuatan anestesi dipengaruhi oleh faktor respirasi. infeksi akut. sirkulasi. Hambatan persepsi rangsang sensorik sehingga timbul analgesia yang cukup untuk tindakan operasi f. obat – obatan yang mendepresi 17 . dan sifat fisik obat itu sendiri. III. yang mengakibatkan kesadaran dan rasa sakit hilang.c. tapi bukan otot pernapasan e. GNA. Tergantung pada efek farmakologi pada organ yang mengalami kelainan. Timbul situasi pasien tak sadar atau tak berespoons c. sepsis. AV blok derajat II – total (tidak ada gelombang P). Timbulkan keadaan amnesia d. Kontraindikasi Relatif berupa hipertensi berat/tak terkontrol (diastolik >110). Obat anestesi yang diberikan akan masuk ke dalam sirkulasi darah yang selanjutnya menyebar ke jaringan. d.

Komplikasi kardiovaskular berupa hipotensi dimana tekanan sistolik kurang dari 70 mmHg atau turun 25 % dari sebelumnya. masa pendarahan. radiologi. obat – obatan yang diekskresikan melalui ginjal harus diperhatikan. PERSIAPAN UNTUK ANESTESI UMUM Kunjungan pre-anestesi dilakukan untuk mempersiapkan pasien sebelum pasien menjalani suatu tindakan operasi. dilakukan pemeriksaan gigi – geligi.Komplikasi dapat dicetuskan oleh tindakan anestesi ataupun kondisi pasien sendiri. Komplikasi lain berupa gelisah setelah anestesi.Komplikasi dapat timbul pada waktu pembedahan ataupun setelah pembedahan. EKG. sedangkan pada bagian endokrin hindari obat yang meningkatkan kadar gula darah.Pada saat kunjungan.Perhatikan pula hasil pemeriksaan laboratorium atas indikasi sesuai dengan penyakit yang sedang dicurigai. tidak sadar . saluran napas.miokard atau menurunkan aliran koroner harus dihindari atau dosisnya diturunkan. obat yang merangsang susunan saraf simpatis pada penyakit diabetes basedow karena dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. leher kaku dan pendek. ASA I ASA II : Pasien dalam keadaan normal dan sehat. hindarkan obat yang memicu sekresi paru. misalnya pemeriksaan darah (Hb. IV. Pasien dengan gangguan ginjal. Contohnya: pasien 18 . Dari hasil kunjungan ini dapat diketahui kondisi pasien dan dinyatakan dengan status anestesi menurut The American Society Of Anesthesiologist (ASA). leukosit. : Pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai sedang baik karena penyakit bedah maupun penyakit lain. dilakukan wawancara (anamnesis) sepertinya menanyakan apakah pernah mendapat anestesi sebelumnya. Komplikasi ini dapat membahayakan khususnya pada penyakit jantung karena jantung bekerja keras dengan kebutuhan – kebutuhan miokard yang meningkat yang dapat menyebabkan iskemik atau infark apabila tidak tercukupi kebutuhannya. Pada paru. tindakan buka mulut. masa pembekuan).Kemudian pada pemeriksaan fisik. hipertensi dimana terjadi peningkatan tekanan darah pada periode induksi dan pemulihan anestesi. adakah penyakit – penyakit sistemik. ukuran lidah. hipersensitifitas ataupun adanya peningkatan suhu tubuh. dan alergi obat. Sedangkan komplikasi kadang – kadang tidak terduga walaupun tindakan anestesi telah dilakukan dengan sebaik – baiknya.

menghilangkan rasa khawatir. periksa ulang apakah pasien atau keluarga sudah memberi izin pembedahan secara tertulis (informed concent). menekan refleks yang tidak diharapkan.1 jam sebelum induksi anestesia dengan tujuan melancarkan induksi. Antikolinergik 19 . ASA V : Pasien tak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun dioperasi atau tidak. Pada pembedahan darurat pengosongan lambung dapat dilakukan dengan memasang pipa nasogastrik atau dengan cara lain yaitu menetralkan asam lambung dengan memberikan antasida (magnesium trisilikat) atau antagonis reseptor H2 (ranitidin). Pada pembedahan elektif. potensi donor organ.membuat amnesia.Kandung kemih juga harus dalam keadaan kosong sehingga boleh perlu dipasang kateter. ASA III : Pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat yang diakibatkan karena berbagai penyebab. Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda darurat ( E = EMERGENCY ). Obat – obat premedikasi yang bisa diberikan antara lain :  Gol. atau pasien appendisitis akut dengan lekositosis dan febris. mengurasi sekresi saliva dan saluran napas. pengosongan lambung dilakukan dengan puasa : anak dan dewasa 4 – 6 jam. Contohnya: pasien tua dengan perdarahan basis kranii dan syok hemoragik karena ruptur hepatik. Contohnya: Pasien dengan syok atau dekompensasi kordis.batu ureter dengan hipertensi sedang terkontrol. ASA VI : Pasien mati batang otak. bayi 3 – 4 jam. misalnya ASA IE atau IIE Pengosongan lambung untuk anestesia penting untuk mencegah aspirasi lambung karena regurgutasi atau muntah.Sebelum pasien masuk dalam kamar bedah. ASA IV : Pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara langsung mengancam kehidupannya. rumatan dan bangun dari anestesia. atau pasien ileus obstrukstif dengan iskemia miokardium. Premedikasi sendiri ialah pemberian obat ½ . memberikan analgesia dan mencegah muntah. Contohnya: pasien appendisitis perforasi dengan septisemia.

penyempitan bronkus pada pasien asma.Dosis dewasa 100 – 200 mg.Obat ini dapat diberikan secara oral atau IM. Dosis 0.Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah.Merupakan golongan benzodiazepine.  Gol.  Gol. mual dan muntah pasca bedah ada.Pethidin juga berguna mencegah dan mengobati menggigil pasca bedah.6 mg IM bekerja setelah 10 – 15 menit.Dosis premedikasi dewasa 10 – 20 mg. pasien disuruh tarik nafas dalam kemudian berikan anestesi perinhalasi secara perlahan. tablet.  Gol. Analgetik narkotik Morfin.Pemberian dosis rendah bersifat sedatif sedangkan dosis besar hipnotik.2 mg/kgBB IM. perektal (melalui anus) biasanya digunakan pada bayi atau anak-anak dalam bentuk suppositoria. 20 . antimual dan muntah.Dosis premedikasi dewasa 25 – 100 mg IV.Dosis premedikasi dewasa 0.Atropin. Transquilizer Diazepam (Valium). Intramuscular). Pethidin.Diberikan untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan menjelang operasi. Hipnotik – sedatif Barbiturat (Pentobarbital dan Sekobarbital).4 – 0.Diberikan untuk sedasi dan mengurangi kekhawatiran sebelum operasi. semprotan yang dimasukan ke anus. METODE PEMBERIAN ANESTESI UMUM Obat obat anestesi umum bisa diberikan melalui Perenteral (Intravena. melemaskan tonus otot polos organ – organ dan menurunkan spasme gastrointestinal. V. Kerugian penggunaan morfin ialah pulih pasca bedah lebih lama. pada bayi dan anak 3 – 5 mg/kgBB.Perinhalasi melalui isapan.Diberikan untuk menekan tekanan darah dan pernapasan serta merangsang otot polos.Keuntungannya adalah masa pemulihan tidak diperpanjang dan efek depresannya yang lemah terhadap pernapasan dan sirkulasi serta jarang menyebabkan mual dan muntah.

Stadium I Stadium I (St. tonus otot meninggi dan diakhiri dengan hilangnya reflekss menelan dan kelopak mata. seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar. Analgesia/ St. stadium 3 dan stadium 4 sampai henti napas dan henti jantung. St. dapat dilakukan pada stadium ini. lakrimasi (+).Stadium ini berakhir dengan ditandai oleh hilangnya reflekss bulu mata (untuk mengecek refleks tersebut bisa kita raba bulu mata). hilangnya reflekss kelopak mata dan dapat digerakkannya kepala ke kiri dan kekanan dengan mudah.Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit).VI. Stadium III Stadium III yaitu stadium sejak mulai teraturnya lagi pernapasan hingga hilangnya pernapasan spontan. pupil melebar dengan reflekss cahaya (+).Tindakan pembedahan ringan. Eksitasi. Cisorientasi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya kesadaran.Stadia ini ditandai oleh hilangnya pernapasan spontan. Delirium) Mulai dari akhir stadium I dan ditandai dengan pernapasan yang irreguler. Stadium IV Ditandai dengan kegagalan pernapasan (apnea) yang kemudian akan segera diikuti kegagalan sirkulasi/ henti jantung dan akhirnya pasien meninggal. stadium 2 sampai respirasi teratur. Stadium II Stadium II (St. Pasien sebaiknya tidak mencapai stadium ini karena itu berarti terjadi kedalaman anestesi yang berlebihan. 21 . pergerakan bola mata tidak teratur. STADIUM ANESTESI Tahapan dalam anestesi terdiri dari 4 stadium yaitu stadium pertama berupa analgesia sampai kehilangan kesadaran.

TANDA REFLEKS PADA MATA Refleks pupil Pada keadaan teranestesi maka refleks pupil akan miosis apabila anestesinya dangkal. midriasis maksimal menandakan pasien mati.1 jam) Keadaan umum baik (ASA I – II) Lambung harus kosong Prosedur : Siapkan peralatan dan kelengkapan obat anestetik Pasang infuse (untuk memasukan obat anestesi) Premedikasi + / . Refleks kelopak mata Pengecekan refleks kelopak mata jarang dilakukan tetapi bisa digunakan untuk memastikan efek anestesi sudah bekerja atau belum. analgesia: opioid. dll 22 . kalau tidak berarti menandakan pasien sudah masuk stadium 1 ataupun 2. Refleks cahaya Untuk refleks cahaya yang kita lihat adalah pupilnya. VII. ada / tidak respon saat kita beri rangsangan cahaya. TEKNIK ANESTESI UMUM a.Apabila saat dicek refleks bulu mata (-) maka pasien tersebut sudah pada stadium 1.(apabila pasien tidak tenang bisa diberikan obat penenang) efek sedasi/anti-anxiety :benzodiazepine. caranya adalah kita tarik palpebra atas ada respon tidak. Sungkup Muka (Face Mask) dengan napas spontan Indikasi : Tindakan singkat ( ½ . Refleks bulu mata Refleks bulu mata sudah disinggung tadi di bagian stadium anestesi. midriasis ringan menandakan anestesi reaksinya cukup dan baik/ stadium yang paling baik untuk dilakukan pembedahan. non opioid.

Pipa trakea. Stilet atau mandrin untuk pemandu agar pipa trakea mudah dimasukkan C S : Connector.kira 1 mnt 23 . Usia >5 tahun dengan balon(cuffed) : Airway. Penyambung pipa dan perlatan anestesia : Suction. operasi lama. sulit mempertahankan airway (operasi di bagian leher dan kepala) Prosedur : Sama dengan diatas. Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. Intubasi Endotrakeal dengan napas spontan Intubasi endotrakea adalah memasukkan pipa (tube) endotrakea (ET= endotrakeal tube) kedalam trakea via oral atau nasal.- Induksi Pemeliharaan b. LaringoScope T A : Tubes. Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap 2. Indikasi. Bila fasikulasi (-) → ventilasi dengan O2 100% selama kira . berikan suksinil kolin → fasikulasi (+) 3. Pipa mulut faring (orofaring) dan pipa hidung faring (nasofaring) yang digunakanuntuk menahan lidah saat pasien tidak sadar agar lidah tidak menymbat jalan napas T I : Tape. Plester untuk fiksasi pipa agar tidak terdorong atau tercabut : Introductor. hanya ada tambahan obat (pelumpuh otot/suksinil dgn durasi singkat) Intubasi setelah induksi dan suksinil Pemeliharaan Untuk persiapan induksi sebaiknya kita ingat STATICS: S : Scope. Induksi sampai tidur. Penyedot lendir dan ludah Teknik Intubasi 1.

menyelusuri kanan lidah. sedikit demi sedikit. Cari epiglotis → tempatkan bilah didepan epiglotis (pada bilah bengkok) atau angkat epiglotis ( pada bilah lurus ) 7. Intubasi Endotrakeal dengan napas kendali (kontrol) Pasien sengaja dilumpuhkan/benar2 tidak bisa bernafas dan pasien dikontrol pernafasanya dengan kita memberikan ventilasi 12-20 x permenit.Setelah operasi selesai pasien dipancing dan akhirnya bisa nafas spontan kemudian kita akhiri efek anestesinya. Masukan ET melalui rima glottis 10. Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah kanan. tangan kanan mendorong kepala sedikit ekstensi → mulut membuka 5. Batang laringoskopi pegang dengan tangan kiri. Cari rima glotis ( dapat dengan bantuan asisten menekan trakea dar luar ) 8. Temukan pita suara → warnanya putih dan sekitarnya merah 9. Teknik sama dengan diatas 24 . Hubungkan pangkal ET dengan mesin anestesi dan atau alat bantu napas( alat resusitasi ) Klasifikasi Mallampati : Mudah sulitnya dilakukan intubasi dilihat dari klasifikasi Mallampati : c. menggeser lidah kekiri 6.4.

atropine like effect.45 mg/kg IV. cepat melewati barier plasenta.Midazolam : induksi : 0. amnesia anterograd. b. Propofol Merupakan salah satu anestetik intravena yang sangat penting. Kontraindikasi : porfiria dan hamil. Dosis : 2 – 2. OBAT – OBAT DALAM ANESTESI UMUM Jenis obat anestesi umum diberikan dalam bentuk suntikan intravena atau inhalasi. dan waktu pemulihan yang lebih cepat. .- Obat pelumpuh otot non depolar (durasinya lama) Pemeliharaan. 1. Propofol dapat menghasilkan anestesi kecepatan yang sama dengan pemberian barbiturat secara inutravena. VIII.  Dosis : 25 . obat pelumpuh otot dapat diulang pemberiannya.6 mg/kg IV .Diazepam : induksi 0.15 – 0.2 – 0. Benzodiazepine  Sifat  : hipnotik – sedative. Anestetik intravena Penggunaan : Untuk induksi Obat tunggal pada operasi singkat Tambahan pada obat inhalasi lemah Tambahan pada regional anestesi Sedasi Cara pemberian : Obat tunggal untuk induksi atau operasi singkat Suntikan berulang (intermiten) Diteteskan perinfus Obat anestetik intravena meliputi : a. pelemas otot ringan.5 mg/kg IV.

Keuntungannya :induksi mudah.N2O mempunyai efek analgesic yang baik. Dosis pemakaian ketamin untuk bolus 1. brom.Halotan bereaksi dengan perak. Anestetik tunggal N2O digunakan secara intermiten untuk mendapatkan analgesic pada saat proses persalinan dan Pencabutan gigi.Indikasi pemakaian ketamin adalah prosedur dengan pengendalian jalan napas yang sulit. tidak berbau.gas ini sering digunakan pada partus yaitu diberikan 100% N2O pada waktu kontraksi uterus sehingga rasa sakit hilang tanpa mengurangi kekuatan kontraksi dan 100% O2 pada waktu relaksasi untuk mencegah terjadinya hipoksia. Kadar optimum untuk mendapatkan efek analgesic maksimum ± 35% . dan untuk mengatasi kejang. 2. Anestetik inhalasi a. Ketamin Ketamin adalah suatu rapid acting nonbarbiturat general anaesthetic. tidak ada iritasi mukosa jalan napas. karet dan 26 .2 mg/kgBB dan pada pemberian IM 3 – 10 mg/kgBB. pasien resiko tinggi dan asma. Dosis 5 mg/kg IV. d. Indikasi pemberian thiopental adalah induksi anestesi umum. baja. magnesium. berbau enak. tindakan ortopedi. dalam kombinasi dengan zat lain b.N2O biasanya tersimpan dalam bentuk cairan bertekanan tinggi dalam baja. Halotan Merupakan cairan tidak berwarna. hamil 3 mg/kg IV. H2O digunakan secara umum untuk anestetik umum. sedasi anestesi regional.c. tidak berasa dan lebih berat daripada udara. operasi singkat. prosedur diagnosis. cepat. Thiopentone Sodium Merupakan bubuk kuning yang bila akan digunakan dilarutkan dalam air menjadi larutan 2. tidak mudah terbakar dan tidak mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen.5%atau 5%. tekanan penguapan pada suhu kamar ± 50 atmosfir. N2O Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna. dengan inhalasi 20% N2O dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg morfin. tembaga. aluminium.

c. SKOR PEMULIHAN PASCA ANESTESI Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang menggunakan general anestesi. sesudah hipoksia atau hipertemia diatasi terlebih dulu.Efek analgesic halotan lemah tetapi relaksasi otot yang ditimbulkannya baik. Dengan kadar yang aman waktu 10 menit untuk induksi sehingga mempercepat digunakan kadar tinggi (3-4 volume %). titanium dan polietilen tidak sehingga pemberian obat ini harus dengan alat khusus yang disebut fluotec. Penurunan volume semenit dapat diatasi dengan mengatur dosis. tetapi secara farmakologi berbeda. Isofluran berbau tajam sehingga membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap oleh penderita karena penderita menahan nafas dan batuk.Pada anestesi yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan SSP seperti pada pemberian enfluran. Isofluran meningkatkan aliran darah otak pada kadar labih dari 1. sedangkan nikel. Sevofluran Obat anestesi ini merupakan turunan eter berhalogen yang paling disukai untuk induksi inhalasi. Setelah pemberian medikasi preanestetik stadium induksi dapat dilalui dengan lancer dan sedikit eksitasi bila diberikan bersama N2O dan O2.1 mg fentanil). Kadar minimal untuk anestesi adalah 0.22 mg atau dosis kecil narkotik (8-10 mg morfin atau 0.1 MAC (minimal Alveolar Concentration) dan meningkatkan tekanan intracranial.plastic. Tendensi timbul aritmia amat kecil sebab isofluran tidak menyebabkan sensiitisasi jantung terhadap ketokolamin.Karet larut dalam halotan. Isofluran Merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar. 27 .76% volume.Secara kimiawi mirip dengan efluran. Peningkatan frekuensi nadi dan takikardiadihilangkan dengan pemberian propanolol 0. Isofluran merelaksasi otot sehingga baik untuk intubasi. d. IX. maka perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi di ruang Recovery room (RR).

2 Tekanan darah menyimpang 20-50 % dari normal. Steward Score (anak-anak) Pergerakan    Gerak bertujuan 2 Gerak tak bertujuan 1 Tidak bergerak 0 Pernafasan    Batuk. 1 Sianosis. Aldrete Score Nilai Warna    Merah muda. 1 Tekanan darah menyimpang >50% dari normal. menangis 2 Pertahankan jalan nafas 1 Perlu bantuan 0 28 . 0 Sirkulasi    Tekanan darah menyimpang <20% dari normal. siaga dan orientasi. penderita dapat dipindahkan ke ruangan B. 0 Aktivitas    Seluruh ekstremitas dapat digerakkan. 2 Pucat. 0 Pernapasan    Dapat bernapas dalam dan batuk. 2 Dua ekstremitas dapat digerakkan. 1 Tidak berespons. 1 Apnoea atau obstruksi. 2 Dangkal namun pertukaran udara adekuat. 0 Jika jumlahnya > 8. 0 Kesadaran    Sadar.1 Tidak bergerak.A. 2 Bangun namun cepat kembali tertidur.

penderita dapat dipindahkan ke ruangan 29 .Kesadaran    Menangis 2 Bereaksi terhadap rangsangan 1 Tidak bereaksi 0 Jika jumlah > 5.

Lamanya tindakan anastesi dan operasi timpanoplasty yang dialami pasien ± 3 jam 45 menit. Selama di ruang pemulihan juga tidak terjadi hal yang memerlukan penanganan serius. Dalam kasus ini selama operasi berlangsung tidak ada hambatan yang berarti baik dari segi anestesi maupun tindakan operasinya. pasien akan mengalami keadaan tidak sadar dan hilangnya refleks pelindung yang dihasilkan dari satu atau lebih agen anestesi umum. pasien datang ke poli THT RSUP Fatmawati dengan Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) tipe tenang dan akan dilakukan timpanoplasty. 30 . Secara umum pelaksanaan operasi dan anestesi berlangsung dengan baik. Dalam anestesi umum. Komponen anestesi yang ideal terdiri dari hipnotik. Anestesi umum adalah tindakan yang menimbulkan keadaan tidak sadar selama prosedur medis dilakukan. A. analgesia. sehingga pasien tidak merasakan atau mengingat sesuatu yang terjadi. 18 tahun.BAB V KESIMPULAN Pasien Tn. Pasien menggunakan teknik general anestesi. Anestesi umum adalah tindakan menghilangkan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversible. Pemeriksaan fisik pasien sebelum dilakukan operasi dalan batas normal. dan relaksasi.

Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. New York: McGraw Hill. Semarang: Ikatan Dokter Spesialis Anestesi dan Reanimasi (IDSAI) Cabang Jawa Tengah. Anestesiologi. et al.4. 2001. Gangguan Pendengaran Akibat Bising (noise induced hearing loss) dalam Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Latief SA. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi Kedua. 2010. Clinical Anesthesiology. Ed. Morgan GE. et al. 2. Suryadi KA. Soetirto I. Edisi 6. 2008. Terapi Cairan dan Elektrolit. Leksana.DAFTAR PUSTAKA 1. 2004. 31 . Murray MJ. E. Bashiruddin J. 2006. Mikhail MS. 4. 5. Jakarta : Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia . editor Soepardi I. 3. Soenarjo. et al. Jatmiko HD. Semarang: Bagian Anestesi dan Terapi Intensif FK UNDIP.