You are on page 1of 7

Promotif, Vol.2 No.

1 Okt 2012 Hal 15-21

Artikel III

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GIZI KURANG PADA BALITA DI PUSKESMAS RANDOMAYANG Nani Afriani Gani, Abd. Hakim. L, Nurdin Bagian Gizi FKM Unismuh Palu ABSTRAK Masalah gizi kurang dan buruk hingga kini masih menjadi masalah serius di Indonesia. Krisis ekonomi, merosotnya nilai rupiah dan bencana alam yang beruntun, menjadi pemicu meningkatnya masalah ini. Secara umum terdapat 4 masalah gizi utama di Indonesia yakni KEP (Kekurangan Energi Protein), KVA (Kekurangan Vitamin A), Kurang Yodium (gondok endemik) dan kurang zat besi (anemia zat besi). Akibat dari kurang gizi ini merupakan kerentanan terhadap penyakit-penyakit infeksi dan dapat menyebabkan meningkatnya angka kematian. Penelitian ini bertuuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi kurang pada balita di Puskesmas Randomayang. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan menggunakan pendekatan Case Control Study, yaitu rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan natara paparan (faktor penelitian dan penyakit) dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok control berdasarkan status paparannya. Pengambilan sampel dilakukan terhadap 50 kasus dan 50 kontrol. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara engetahuan dengan gizi kurang pada balita dengan nilai p=0,001, tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan gizi kurang pada balita dengan nilai p=0,523 dan ada hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan gizi kurang pada balita dengan nilai p=0,025. Penelitian ini menyarankan agar pihak Puskesmas hendaknya menyediakan sarana berupa poster-poster dan buku bacaan yang berkaitan dengan status gizi sehingga baik petugas maupun ibu dapat lebih mudah memperoleh informasi. Daftar Pustaka Kata Kunci : 24 (2005-2011) : Pengetahuan, Pendidikan, Pendapatan, Gizi Kurang meningkatnya angka kematian (Suhardjo, 2006). Anak balita (1-5 tahun) merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi atau termasuk salah satu kelompok masyarakat yang rentan gizi (Djaeni, 2009). Penundaan pemberian perhatian, pemeliharaan gizi yang kurang tepat terhadap balita akan menurunkan nilai potensi mereka sebagai sumber daya pembangunan masyarakat dan ekonomi nasional. Mereka memerlukan penggarapan sedini mungkin apabila kita menginginkan peningkatan potensi 15

PENDAHULUAN Masalah gizi kurang dan buruk hingga kini masih menjadi masalah serius di Indonesia. Krisis ekonomi, merosotnya nilai rupiah dan bencana alam yang beruntun, menjadi pemicu meningkatnya masalah ini. Secara umum terdapat 4 masalah gizi utama di Indonesia yakni KEP (Kekurangan Energi Protein), KVA (Kekurangan Vitamin A), Kurang Yodium (gondok endemik) dan kurang zat besi (anemia zat besi). Akibat dari kurang gizi ini merupakan kerentanan terhadap penyakit-penyakit infeksi dan dapat menyebabkan

Promotif, Vol.2 No.1 Okt 2012 Hal 15-21

Artikel III

mereka untuk pembangunan bangsa dimasa depan (Suhardjo, 2006). Di negara berkembang anakanak umur 0-5 tahun merupakan golongan yang paling rawan terhadap gizi. Kelompok yang paling rawan disini adalah periode pasca penyapihan khususnya kurun umur 1-3 tahun.Anakanak biasanya menderita bermacammacam infeksi serta berada dalam kasus gizi rendah (Suhardjo, 2006). Pengetahuan ibu tentang kesehatan dan gizi kurang yang berperan nyata dalam resiko gizi kurang. Bentuk kepedulian pada gizi anak merupakan salah satu tanggung jawab dari keluarga dalam hal ini ibu rumah tangga dan secara tidak langsung merupakan tanggung jawab masyarakat. Dalam masyarakat, kegiatan-kegiatan yang menyangkut perbaikan gizi banyak melibatkan kaum ibu, maka ibu merupakan tokoh utama yang harus peduli pada gizi anak (Anis, 2009). Pendidikan ibu merupakan modal utama dalam menunjang ekonomi keluarga juga berperan dalam penyusunan makan keluarga, serta pengasuhan dan perawatan anak. Pengetahuan gizi dipengaruhi oleh berbagai faktor, disamping pendidikan yang pernah dijalani, faktor lingkungan sosial dan frekuensi kontak dengan media massa juga mempengaruhi pengetahuan gizi. Bagi keluarga dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih mudah menerima informasi kesehatan khususnya bidang gizi, sehingga dapat menambah pengetahuannya dan mampu menerapkan dalam kehidupan seharihari (Suhardjo, 2006). Secara nasional prevalensi balita kurang gizi (balita yang mempunyai berat badan kurang) pada tahun 2010 adalah sebesar 17,9% diantaranya 4,9% yang gizi buruk. Untuk prevalensi balita pendek sebesar 35,6% dan prevalensi balita kurus sebesar 13,3% (RISKESDAS, 2010). 16

Di Kabupaten Mamuju Utara tahun 2009 jumlah balita sebanyak 15.041 balita. Balita dengan status gizi kurang yaitu sebanyak 1.494 balita dan balita dengan status gizi buruk yaitu sebanyak 45 balita (Anonim, 2009). Sedangkan pada tahun 2010 jumlah balita sebanyak 12.898. Balita dengan status gizi kurang yaitu sebanyak 382 balita dan balita dengan status gizi buruk yaitu sebanyak 40 balita (Anonim, 2010). Di Puskesmas Randomayang tahun 2009 jumlah balita sebanyak 2.384 balita. Balita dengan gizi kurang sebanyak 96 balita dan balita dengan gizi buruk sebanyak 8 balita (Nani,2009). Pada tahun 2010 jumlah balita yang tercatat di Puskesmas Randomayang sebanyak 2.548 balita.Balita dengan gizi kurang sebanyak 174 balita dan gizi buruk sebanyak 8 balita. Terjadi kenaikan kasus gizi kurang sebanyak 78 balita dari tahun 2009 ke tahun 2010 (Nani, 2010). Jumlah balita yang ada di Puskesmas Randomayang pada tahun 2011 adalah 2.487 balita. Untuk balita dengan status gizi kurang yaitu sebanyak 101 balita dan balita dengan status gizi buruk yaitu sebanyak 5 balita (Nani, 2011). Salah satu faktor penyebab masalah gizi yang terjadi yaitu tingkat pengetahuan gizi, pendidikan dan pendapatan keluarga. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul :”Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Kejadian Gizi Kurang pada Balita di Puskesmas Randomayang”. BAHAN DAN METODE Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Randomayang pada bulan Mei- Juni 2012.Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan Case Control Study, yaitu rancangan studi epidemiologi yang mempelajari

Promotif, Vol.2 No.1 Okt 2012 Hal 15-21

Artikel III

hubungan antara paparan (faktor penelitian dan penyakit) dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Penelitian ini berusaha untuk mendapatkan adanya hubungan sebab akibat antara dua variabel dalam penelitian.

Populasi Dan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian adalah semua balita yang menderita gizi kurang yang tercatat di Puskesmas Randomayang berjumlah 101 balita pada tahun 2011. 2. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki balita gizi kurang berjumlah 50 kasus dan 50 kontrol. HASIL 1) Hubungan Pengetahuan dengan Gizi Kurang

Analisis Data a. Analisis Univariat Dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dari masing - masing variabel, variabel independen (pengetahuan, pendidikan dan pendapatan keluarga) dan variabel dependen (kejadian gizi kurang). b. Analisis Bivariat Analisis Bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Uji yang digunakan analisis bivariat adalah Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat kemaknaan 0,05.

Pengetahuan Rendah Tinggi Total

Tabel 1 Hubungan Pengetahuan dengan Gizi Kurang di Puskesmas Randomayang Tahun 2012 Gizi Kurang Total P Kasus Kontrol Value n % n % n % 32 64,0 15 30,0 47 100,0 18 50 36,0 50,0 35 50 70,0 50,0 53 100 100,0 100,0 0,001

OR 95% CI 4,148 (1,795)

Sumber : Data Primer, 2012 Hasil analisis hubungan antara pengetahuan dengan gizi kurang diperoleh bahwa ada sebanyak 15 (30%) responden yang memiliki pengetahuan rendah tidak menderita gizi kurang pada anak balita. Sedangkan diantara responden yang memiliki pengetahuan tinggi, ada 35 (70,0%) anak balita tidak menderita gizi kurang. Hasil uji statistik diperoleh 17 nilai p=0,001 maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan gizi kurang. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=4,148, artinya responden yang memiliki anak balita dengan pengetahuan rendah mempunyai peluang 4,148 kali untuk memperoleh gizi kurang dibanding dengan responden yang pengetahuannya tinggi.

Promotif, Vol.2 No.1 Okt 2012 Hal 15-21

Artikel III

2) Hubungan Pendidikan dengan Gizi Kurang Tabel 2 Hubungan Pendidikan dengan Gizi Kurang di Puskesmas Randomayang Tahun 2012 Status Gizi balita Total Kasus Kontrol n % n % n % 46 51,7 43 48,3 89 100,0 4 36,4 7 63,6 11 100,0 50 50,0 50 50,0 100 100,0

Pendidikan Rendah Tinggi Total

P Value

0,523

Sumber : Data Primer, 2012 Hasil analisis hubungan antara pendidikan dengan gizi kurang diperoleh bahwa ada sebanyak 43 (48,3%) responden yang memiliki pendidikan rendah tidak menderita gizi kurang pada anak balita. Sedangkan diantara responden yang

memiliki pendidikan tinggi, ada 7 (63,6%) anak balita tidak menderita gizi kurang. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,523 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan gizi kurang.

3) Hubungan Pendapatan dengan Gizi Kurang Tabel 3 Hubungan Pendapatan dengan Gizi Kurang di Puskesmas Randomayang Tahun 2012 Gizi Kurang Total P Kasus Kontrol Value n % n % n % 47 55,3 38 44,7 85 100,0 3 50 20,0 50,0 12 50 80,0 50,0 15 100 100,0 100,0 0,025

Pendapatan Rendah Tinggi Total

OR 95% CI 4,947 (1,318,8)

Sumber : Data Primer, 2012 Hasil analisis hubungan antara pendapatan dengan gizi kurang diperoleh bahwa ada sebanyak 38 (44,7%) responden yang memiliki pendapatan rendah tidak menderita gizi kurang pada anak balita. Sedangkan diantara responden yang memiliki pendapatan tinggi, ada 12 (80%) anak balita tidak menderita gizi kurang. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,025 maka dapat disimpulkan 18 15

ada hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan gizi kurang. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=4,947, artinya responden yang memiliki anak balita dengan pendapatan rendah mempunyai peluang 4,947 kali untuk memperoleh gizi kurang dibanding dengan responden yang pendapatannya tinggi

Promotif, Vol.2 No.1 Okt 2012 Hal 15-21

Artikel III

PEMBAHASAN Hubungan Pengetahuan dengan Gizi Kurang Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,001 maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan gizi kurang. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=4,148, artinya responden yang memiliki anak balita dengan pengetahuan rendah mempunyai peluang 4,148 kali untuk memperoleh gizi kurang dibanding dengan responden yang pengetahuannya tinggi. Menurut peneliti, kurangnya pengetahuan dan salah konsep tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan menyebabkan kurangnya pengetahuan tentang gizi yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Faktor tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Wilayah Puskesmas Randomayang menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden terhadap gizi kurang baik dikarenakan responden kurang memperoleh informasi tentang asupan gizi yang dikonsumsi setiap hari. Penyebab lain kurangnya pengetahuan responden adalah pemberian asi yang kurang tepat, kurangnya baiknya kualitas lingkungan (sanitasi) kurangnya menu seimbang. Masalah gizi kurang juga disebabkan susunan konsumsi makanan yang salah, baik secara kualitas dan kuantitas. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Irman (2005) di RW 05 Desa Bojong Gede Bogor bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan status gizi balita dengan nilai p=0,001. Dan sejalan pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Juliati (2010) yang menyatakan terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan ibu dengan status gizi balita serta ibu yang 15 19

mempunyai tingkat pengetahuan kurang mempunyai risiko 2,5 kali balita gizi kurang. Menurut Suhardjo (2009) pengetahuan tentang gizi akan berpengaruh terhadap perilaku pemenuhan gizi bagi seseorang. Pengetahuan gizi merupakan pemahaman seseorang tentang gizi yang meliputi sumber bahan makanan bergizi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kesehatan tubuh. Tidak adanya informasi yang memadai tentang gizi akan mengurangi kemampuan untuk berperilaku menerapkan gizi. Hubungan Pendidikan dengan Gizi Kurang Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,523 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan gizi kurang. Menurut peneliti, pendidikan menjadi dasar yang penting bagi seseorang karena kemajuan pengetahuan dan teknologi, dan tingkat pendidikan ibu yang lebih tinggi, meningkatkan kemampuan ibu akan pentingnya gizi bagi keluarga. Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Imran (2005) bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan gizi kurang pada balita nilai p= 0,408. Dan penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mulyaningsih (2007) di Kecamatan cililin Kabupaten Bandung bahwa terdapat hubungan yang bermakna pada ibu yang memiliki pendidikan rendah dengan status gizi kurang. Menurut Notoatmodjo (2007), semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin banyak bahan

Promotif, Vol.2 No.1 Okt 2012 Hal 15-21

Artikel III

materi atau pengetahuan yang diperoleh untuk mencapai perubahan tingkah laku yang baik. Hubungan Pendapatan dengan Gizi Kurang Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,025 maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan gizi kurang. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=4,947, artinya responden yang memiliki anak balita dengan pendapatan rendah mempunyai peluang 4,947 kali untuk memperoleh gizi kurang dibanding dengan responden yang pendapatannya tinggi. Menurut peneliti, setiap keluarga mempunyai masalah gizi yang berbedabeda tergantung tingkat ekonominya. Pada keluarga yang kaya yang tinggal diperkotaan, masalah gizi yang sering dihadapi adalah masalah kelebihan gizi. Sedangkan pada keluarga yang tingkat sosial ekonominya rendah atau sering disebut keluarga miskin, umumnya sering menghadapi masalah kekurangan gizi yang disebut gizi kurang. Semakin meningkatnya harga-harga pokok akibat kenaikan BBM, membuat daya beli masyarakat menurun, hal ini berakibat pada penyajian gizi makanan yang dikonsumsi pada suatu keluarga. Bertambahnya beban keluarga memaksa ibu rumah tangga harus memangkas sebagian uang belanja untuk kebutuhan gizi keluarga untuk keperluan yang lain. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuliati (2008) bahwa tingkat pendapatan keluarga merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada bayi di Kecamatan Mandonga tahun 2008. Menurut Suhardjo (2009) dengan meningkatnya uang saku terjadi perubahan dalam susunan makanan, akan tetapi pengeluaran uang yang lebih banyak untuk pangan tidak menjamin lebih beragamnya konsumsi pangan. Kadang-kadang perubahan utama yang 16 20

terjadi dalam kebiasaan makanan adalah makanan yang dimakan itu lebih mahal. KESIMPULAN 1. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan gizi kurang di Puskesmas Randomayang. 2. Tidak ada hubungan antara pendidikan dengan gizi kurang di Puskesmas Randomayang. 3. Ada hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan gizi kurang di Puskesmas Randomayang. SARAN 1. Pada pihak Puskesmas hendaknya menyediakan sarana be rupa posterposter dan buku bacaan yang berkaitan dengan status gizi sehingga baik petugas maupun ibu dapat lebih mudah memperoleh informasi. 2. Ibu harus selalu menambah wawasan berkaitan dengan status gizi, informasi tersebut dapat diperoleh dengan cara membaca buku, menggali dari sumber lain seperti media internet dengan harapan bisa memperoleh informasi yang lebih baik mengenai status gizi. DAFTAR PUSTAKA Almatsier, 2009, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Anis, 2009, Pengetahuan Gizi Kurang pada Balita. http://www.nhsynyste. blog.uns .ac.id.2011/06/03/63/,Diunduh 03 Agustus 2011 Anonim, 2005, Status Gizi Balita, http:wwww.koalisi.org/dokumen , Diunduh 03 Juni 2011 Anonim, 2009, Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju Utara, Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju Utara,Mamuju Utara Anonim, 2010, Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju Utara, Dinas Kesehatan

Promotif, Vol.2 No.1 Okt 2012 Hal 15-21

Artikel III

Kabupaten Mamuju Utara,Mamuju Utara Hardinsyah, 2005, Pendapatan Perkapita, http://wartawarga. Gun adarm a.ac.id. pendapatanperkapita, Diunduh 12 Agustus 2011 Hendra.AW, 2008, Pendidikan .http://nhsynyste.blog.uns.ac.id. 2011/06/03/63/. Diunduh 03 Agustus 2011 Nani, 2009, Laporan PWS Gizi Puskesmas Randomayang Tahun 2009, Puskesmas Randomayang, Mamuju Utara. Nani, 2010, Laporan PWS Gizi Puskesmas Randomayang Tahun 2010, Puskesmas Randomayang, Mamuju Utara. Nani, 2011, Laporan PWS Gizi Puskesmas Randomayang Tahun 2011, Puskesmas Randomayang, Mamuju Utara. Notoatmodjo, 2007a. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta. , ,2007b.PromosiKesehatanTeorid anAplikasi,RinekaCipta. Jakarta Rahman.dkk, 2008, Gizi Buruk Tewaskan 3,5 Juta balita Pertahun. www. Lifestyle.okexone.com, Diunduh 15 September 2011 Reksodikusumo.dkk, 2009, Kekurangan Gizi pada Balita, http://wartawarga. gunadarma.ac.id.kekurangangizi-pada-balita, Diunduh 12 Agustus 2011

RisKesdas, 2010, Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 20062010, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Sayogya, 2006, Kesehatan dan Gizi, Rhineka Cipta, Jakarta Soetjiningsih, 2005,Faktor-Faktor yang MempengaruhiBalitaBerkunjung di Posyandu.http://www.nhsynyste. blog.uns.ac.id, Diunduh 23 April 2011 Suhadjo, 2006, Perencanaan Pangan dan Gizi, Bumi Aksara, Jakarta. http://digilib.unnes.ac.id.pdf, Diunduh 20 Juni 2011 Suhartono, 2008, Penanggulangan Gizi Buruk, http:/nhsynyste.blog.uns.ac.id, Diunduh 6 September 2011 Suriasmantri, 2007,Tingkat Pengetahuan Manusia, Infomedika, Jakarta. Tajudin.S, 2008, Gizi Kurang dan Gizi Lebih, Sebab , Akibat dan Manifestasinya, http://downloadgratis-ktiskripsi.blogspot.com/2011/08, Diunduh 16 agustus 2011 Taufik, 2007, Kesehatan dan Gizi, http://download-gratis-ktiskripsi.blogspot.com/2011/08, Diunduh 16 agustus 2011 Widyakarya Pangan dan Gizi, 2005, Pangan dan Gizi. http:/nhsynyste.blog.uns.ac.id, Diunduh 6 September 2011

21 17