PENELITIAN KUANTITATIF

HALAMAN JUDUL

OLEH: 1. NOVITASARI 2. IGA ERIEANI LAILY 3. KHARITSA AULIA 4. YUNITA KURNIA W. 5. TRI SUTRISNO 2010A 103174001 103174024 103174028 103174036 103174044

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN MATEMATIKA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA / 2010A 2013

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii A. Pengertian Penelitian Kuantitatif ..................................................................... 1 1. Proses Penelitian Kuantitatif ..................................................................... 1 2. Masalah...................................................................................................... 2 3. Rumusan Masalah ..................................................................................... 3 4. Variabel Penelitian .................................................................................... 5 5. Paradigma Penelitian ................................................................................. 5 6. Menemukan Masalah................................................................................. 9 B. Penelitian Eksperimen ................................................................................... 10 C. Variabel Penelitian ........................................................................................ 12 D. Validitas Penelitian ........................................................................................ 14 E. Skala Pengukuran dan Instrumen Penelitian ................................................. 16 1. Macam-macam Skala Pengukuran .......................................................... 16 2. Instrumen Penelitian ................................................................................ 19 3. Cara Menyusun Instrumen ...................................................................... 20 4. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ....................................................... 20 F. Populasi dan Sampel...................................................................................... 21 1. Populasi ................................................................................................... 21 2. Sampel ..................................................................................................... 22 3. Teknik Sampling ..................................................................................... 23 4. Kesalahan penarikan simpulan ................................................................ 24 G. Landasan Teori dan Kerangka Berfikir ......................................................... 25 1. Pengertian Teori ...................................................................................... 25 2. Tingkat dan Fokus Teori ......................................................................... 26

ii

3. Kegunaan Teori dalam Pendidikan ......................................................... 26 4. Deskripsi Teori ........................................................................................ 27 5. Kerangka Berfikir .................................................................................... 28 H. Hipotesis ........................................................................................................ 28 I. Rancangan Penelitian Eksperimen ................................................................ 29 1. Rancangan Pra Eksperimen ..................................................................... 30 2. Rangcangan Eksperimen Semu ............................................................... 31 3. Rancangan Eksperimen Sebenarnya........................................................ 33 J. Teknik Pengumpulan Data ............................................................................ 36 1. Interview (Wawancara) ........................................................................... 37 2. Kuesiener (Angket) ................................................................................. 39 3. Observasi (Pengamatan) .......................................................................... 41 K. Analisis Data ................................................................................................. 43 1. Statistik Deskriptif dan Inferensial .......................................................... 43 2. Statistik Parametris dan Nonparametris .................................................. 44 3. Judul Penelitian dan Statistik yang Digunakan Untuk Analisis .............. 49 4. Konsep Dasar Pengujian Hipotesis ......................................................... 51 L. Pengujian Statistik ......................................................................................... 55

M. Penelitian Ex post Facto ................................................................................ 56 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 57

iii

memverifikasi atau menguji suatu gejala. Jawaban terhadap rumusan masalah yang menggunakan teori dinamakan hipotesis. dan bertujuan menyusun generalisasi. 1. pada penelitian eksperimen dilakukan intervensi atau perlakuan terhadap suatu variabel penelitian. Penelitian kuantitatif meliputi penelitian yang bersifat non eksperimen dan eksperimen. Akan tetapi dalam perkembangannya. Hipotesis masih merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah tersebut. pra-eksperimen. yaitu penelitian yang mendeskripsikan suatu gejala secara kuantitatif (memakai statistik) atau mendeskripsikan secara konseptual (kualitatif). Langkah penelitiannya dimulai dengan penetapan objek studi yang spesifik. Proses Penelitian Kuantitatif Dalam penelitian kuantitatif. Penelitian ini mengikuti paradigma empirisme dalam menjelaskan suatu gejala. Pengumpulan data dilakukan pada populasi tertentu yang telah 1 . masalah yang dibawa oleh peneliti harus sudah jelas. kerangka teori sesuai dengan objek studi. Penelitian kuantitatif menggunakan pola pikir kuantitatif yang terukur dan teramati. Sebaliknya. Penelitian kuantitatif non eksperimen termasug juga penelitian deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan.berbagai teori dalam penelitian kuantitatif ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah penelitian tersebut. Setelah masalah diidentifikasikan dan dibatasi. instrumentasi pengumpul data. Pengertian Penelitian Kuantitatif Penelitian kuantitatif pada awalnya merupakan penelitian untuk ilmu alam yang digunakan untuk menyelidiki fenomena-fenomena alam. selanjutnya akan dibuktikan kebenarannya secara empiris berdasarkan data dari lapangan. Berdasarkan rumusan masalah tersebut. dan teknik analisis. dimunculkan hipotesis. Penelitian non eksperimen dilakukan tanpa memberikan perlakuan (treatment) atau intervensi terhadap variabel-variabel yang diteliti. eksperimen semu (quasi- eksperimental). Penelitian eksperimen meliputi eksperimen sebenarnya. metode tersebut diterima ilmu sosial termasuk dalam pendidikan. maka selanjutnya masalah tersebut dirumuskan. teknik sampling. kerangka teori dirumuskan secara spesifik.A.

piechrat (diagram lingkaran) dan pictogram. Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. grafik batang. Penyajian data dapat menggunakan tabel.pedoman observasi dan wawancara. Emory (1985). 2. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis. Untuk itu peneliti perlu menggunakan instrumen penelitian. statistik inferensial dilakukan pada sampel yang diambil secara random.dana dan tenaga. Masalah Seperti telah dikemukakan bahwa pada dasarnya penelitian itu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang antara lain dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Meneliti adalah mencari data yang teliti/akurat. maka dapat digunakan untuk mengukur variabel yang telah ditetapkan untuk diteliti. Setelah hasil penelitian diberikan pembahasan. Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi. sedangkan peneliti memiliki keterbatasan waktu. Statistik yang digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial/induktif. maka harus diuji validitas dan relibilitasnya. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. maka selanjutnya dapat disimpulkan. maka peneliti berkewajiban untuk memberikan saran-saran yang harus berdasarkan kesimpulan hasil penelitian. antar teori dengan 2 . Bila populasi terlalu luas. Untuk instrumen yang berbentuk nontest. Instrumen untuk pengumpulan data dapat berbentuk test dan nontest. Karena peneliti melakukan penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah. bahwa baik penelitian murni maupun terapan. Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik. hanya untuk penelitian terapan hasilnya langsung dapat digunakan untuk membuat keputusan.ditetapkan oleh peneliti. Agar instrumen dapat dipercaya. Setelah instrumen teruji validitas dan relibilitasnya. dapat digunakan sebagai kuesioner. tabel distribusi frekuensi. Kesimpulan berisi jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah berdasarkan data yang telah terkumpul. grafik garis. Statistik inferensial dapat burupa statistik parametris dan statistik nonparametris. semuanya berangkat dari masalah.

pada tiga sampel) 3 . a. Rumusan masalah deskriptif Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri. Contoh rumusan masalahnya sebagai berikut:  Adakah perbedaan prestasi belajar antara murid dari Sekolah Negeri dan Swasta? (variabel penelitian adalah prestasi belajar pada dua sampel yaitu Sekolah Negeri dan Swasta )  Adakah perbedaan kompetensi profesional guru dan kepala sekolah antara SD. Stonner (1982). Masalah merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi. antara rencana dengan pelaksanaan. 3. SMP dan SLTA. baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Contoh rumusan masalahnya sebagai berikut:  Seberapa tinggi efektivitas kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia?  Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata per hari murid-murid sekolah di Indonesia? b. antara apa yang direncanakan. Rumusan Masalah Rumusan masalah berbeda dengan masalah. mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan. karena setiap rumusan masalah penelitian harus didasarkan pada masalah. atau pada waktu yang berbeda.praktek.antara aturan dengan pelaksanaan. (satu variabel untuk dua kelompok. Berikut ini adalah bentuk-bentuk rumusan masalah. adanya pengaduan dan kompetisi. Namun demikian terdapat kaitan erat antara masalah dan rumusan masalah. maka rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Rumusan masalah komperatif Rumusan komperatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda.

Disini dapat dinyatakan motivasi mempengaruhi prestasi tetapi juga prestasi dapat mempengaruhi motivasi. media pendidikan dan kualitas guru sebagai variabel independen dan kualitas SDM sebagai variabel dependen) 3) Hubungan interaktif/resiprocal/timbal balik Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi. 4 . Jadi disini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan dependen (dipengaruhi). Contoh masalahanya sebagai berikut:  Adakah pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar anak? (pendidikan orang tua variabel independen dan prestasi belajar variabel dependen)  Seberapa besar pengaruh kurikulum. Rumusan masalah asosiatif Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Contoh masalahanya sebagai berikut:  Adakah hubungan antara jumlah es yang terjual dengan jumlah kejahatan terhadap murid sekolah? (variabel pertama adalah penjual es dan ke dua adalah kejahatan)  Adakah hubungan antara banyaknya radio di pedesaan dengan jumlah penduduk yang sekolah? 2) Hubungan kausal Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Contoh masalahnya sebagai berikut:  Hubungan antara motivasi dan prestasi belajar anak SD di Kecamatan A.c. Disini tidak diketahui mana variabel independen dan dependen. media pendidikan dan kualitas guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah? (kurikulum. Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu: 1) Hubungan simetris Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama.

Berikiut ini macam-macam variabel. teori yang digunakan 5 . Kecerdasan dapat menyebabkan kaya. Variabel Independen Variabel independenden atau variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel Dependen Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat. e. b. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang. 4. Hubungan antara keceredasan dengan kekayaan. Variabel Kontrol Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. c. Variabel Moderator Variabel moderator adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen. obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. d. 5. karena adanya variabel bebas. a. Paradigma Penelitian Paradigma penelitian merupakan pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian. demikian juga orang yang kaya dapat meningkatkan kecerdasan karena gizi terpenuhi. Variabel Intervening Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur.

dan asosiatif ada satu Teori yang digunakan ada dua. 6 . Paradigma Sederhana Berurutan Dalam paradigma ini terdapat lebih dari dua variabel. X X X = Kualitas Guru    Y X Y = prestasi belajar murid Berdasarkan paradigma tersebut. yaitu teori tentang media pendidikan dan prestasi belajar Hipotesis yang dirumuskan ada dua macam. a. dengan persamaan Y = a + bX3. X1 X2 X3 Y X3 = Kualitas output Y = Kualitas outcome X1 = Kualitas input X2 = Kualitas proses Paradigma sederhana. Paradigma Sederhana Paradigma penelitian ini terdiri atas satu variabel independen dan dependen. menunjukkan hubungan antara satu variabel independen dengan satu variabel dependen secara berurutan. Naik turun harga Y dapat diprediksi melalui persamaan regresi Y atas X3. maka dapat ditentukan: Jumlah rumusan masalah deskriptif ada dua. Untuk mencari hubungan antar variabel (X1 dengan X2. dan teknik analisis statistik yang akan digunakan. X2 dengan X3 dan X3 dengan Y) tersebut digunakan teknik korelasi sederhana. jenis dan jumlah hipotesis.untuk merumuskan hipotesis. hipotesis deskriptif ada dua dan hipotesis asosiatif ada satu (hipotesis deskriptif sering tidak dirumuskan)  Teknik analisis data b. tetapi hubungannya sederhana.

c.X2. d. X1 Y X2 X1 = Kompetensi Guru X2 = Lingkungan Sekolah Paradigma ganda dengan dua variabel independen X1 dan X2. Untuk mencari besarnya hubungan antar X1 secara bersamasama dengan X2 dan X3 terhadap Y digunakan korelasi ganada. untuk mencari hubungan X1 dengan Y dan X2 dengan Y. X1 dengan X2. dan 4 rumusan masalah asosiatif (3 korelasi sederhana dan 1 korelasi ganda). Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Independen Dalam paradigma ini terdapat dua variabel independen dan satu dependen. Rumusan masalah deskriptif ada 4 dan rumusan masalah asosiatif (hubungan) untuk yang sederhana ada 6 dan yang ganda minimal 1. X2 dengan Y. X2 dengan X3. menggunakan teknik korelasi sederhana.X3) dan satu dependen (Y). Untuk mencari hubungan X1 dengan X2 secara bersama-sama terhadap Y menggunakan korelasi ganda. Dalam paradigma ini terdapat 3 rumusan masalah deskriptif. dan X1 dengan X3 dapat menggunakan korelasi sederhana. X3 dengan Y. Regresi 7 . dan satu variabel dependen Y . Paradigma Ganda dengan Tiga Variabel Independen Dalam paradigma ini terdapat tiga variabel independen (X1. X1 Y = Prestasi Belajar X2 Y X1 X1 = Kualitas Mesin X2 = Pengalaman kerja X3 = Etos belajar Y = Produktivitas kerja Untuk mencari besarnya hubungan antara X1 dengan Y.

X2) dan dua variabel dependen (Y1 dan Y2). r3. dan 6 rumusan masalah hubungan sederhana. r4. Hubungan antara X1 bersama-sama dengan X2 terhadap Y1 dan X1 dan X2 bersama-sama terhadap Y2 dapat dianalisis dengan korelasi ganda.sederhana. Terdapat 4 rumusan masalah deskriptif. Analisis regresi sederhana maupun ganda dapat juga digunakan untuk memprediksi jumlah tiket yang terjual dan kepuasan penumpang kereta api. dan X dengan Y2 digunakan teknik korelasi sederhana. dan ganda serta korelasi parsial dapat digunakan untuk analisis dalam paradigma ini. Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Dependen Y1 X1 Y2 X = Tingkat pendidikan Y2 = Disiplin kerja Paradigma ganda dengan satu variabel independen dan dua dependen. Korelasi dan regresi ganda juga dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antar . X1 Y1 Y1 = Karir ditempat kerja X2 Y2 X1 = Keindahan kampus X2 = Pelayanan sekolah Y1 = Jumlah pendaftar Y2 = Kepuasan pelayanan Hubungan antar variabel r1. Untuk mencari besarnya hubungan antara X dan Y1. Paradigma Ganda dengan Dua Variabel Independen dan Dua Dependen Dalam paradigma ini terdapat dua variabel independen (X1. r2. r5 dan r6 dapat dianalisis dengan korelasi sederhana. 8 . Analisis regresi juga dapat digunakan disini. e. f. Demikian juga untuk Y1 dengan Y2.

g. yang tidak penting dan juga dapat diketahui akar-akar permasalahannya.41) dan baru dapat mencapai prestasi Y (r = 0. maka pertama peneliti harus mampu mendudukkan masalah dalam konteks keseluruhan secara sistematik. Oleh karena itu bila masalah penelitian telah ditemukan. tidak bisa langsung mencapai prestasi belajar yang tinggi Y (korelasi 0. Menemukan Masalah Pada dasarnya setiap orang memiliki masalah. maka pekerjaan penelitian telah 50% selesai. Dengan analisis masalah. yang kurang penting. Dengan adanya variabel antara ini. akan dapat digunakan untuk mengetahui apakah untuk mencapai sasaran akhir harus melewati variabel antara itu atau bisa langsung kesasaran akhir. Paradigma Jalur X1 X3 X2 Y X1 = Status Soial Ekonomi X3 = Motivasi berprestasi X2 = IQ Y = Prestasi belajar Terdapat variabel yang berfungsi sebagai jalur antara (X3). Untuk dapat melakukan analisis masalah. Untuk menemukan masalah dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis masalah.50). Tetapi bila murid mempunyai IQ yang tinggi (X2) maka mereka langsung dapat mencapai prestasi (Y) dengan r = 0. bahkan orang yang tidak mempunyai masalah akan dimasalahkan oleh orang lain. yaitu dengan bantuan menyusun dalam pohon masalah. Dari gambar terlihat bahwa.57. (Kerlinger) 6. Dalam konteks tersebut akan terlihat hubungan antara satu masalah dengan 9 . maka permasalahan dapat diketahui mana masalah yang penting.33) tetapi harus melalui peningkatan motif berprestasinya X2 (r = 0. murid yang berasal dari status soial ekonomi tertentu X1.

peneliti perlu mengembangkan hipotesis yang akan diujinya. dan kecermatan pengukuran data lebih rendah daripada penelitian eksperimen yang dilaboratorium. biologi. baik masalah yang mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung. termasuk pendidikan matematika. Penelitian praeksperimen adalah penelitian awal yang dilakukan untuk menggali atau mendalami suatu masalah yang dapat dikembangkan untuk penelitian selanjutnya. perlakuan. Hipotesis adalah suatu jawaban sementara yang nantinya akan diuji melalui eksperimen. melakukan pemilihan sampel secara acak (random). B. kemudian mengamati pengaruh atau perubahan yang diakibatkan dari manipulasi secara sengaja dan sistematis. maka perbedaan yang berkembang diantara kedua situasi merupakan akibat elemen tambahan tadi. Konsep ini memang tepat untuk bidangbidang ilmu alam. seperti penelitian kimia. Jadi sifatnya probabilistik daripada kepastian. setelah masalah dibatasi dengan tegas dan operasional. Karena itu. Penelitian ini dilakukan untuk menguji hipotesis.masalah yang lain. Penelitian eksperimen itu didasarkan pada pemikiran John Stuart Mill pada tahun 1872 yang mengatakan bahwa jika kedua situasi serba sama dalam segala hal. atau fisika. Hasil pengujian dapat terjadi hipotesis diterima atau ditolak. maka peneliti melakukan kontrol yang cermat terhadap kemungkinan masuknya pengaruh faktor lain. atau kondisi-kondisi eksperimental. Penelitian ini biasanya dilakukan pada laboratorium-laboratorium. kemudian ditambah suatu elemen pada salah satu situasi tadi (situasi yang lain dibiarkan tetap). Penelitian eksperimen semu adalah penelitian eksperimen yang kontrolnya tidak dapat dilakukan secara ketat. Penelitian ini sering diterapkan pada bidang sosial. Penelitian Eksperimen Penelitian eksperimen sebenarnya dilakukan peneliti dengan mengontrol variabel-variabel secara ketat. Pada penelitian eksperimen. peneliti memanipulasi satu stimulus. derajat keacakan sampel lebih rendah daripada pada penelitian eksperimen sebenarnya. dan data terukur secara cermat (precise). tetapi tidak begitu mudah diterapkan untuk bidang sosial yang 10 . Untuk mendapatkan pengaruh yang sebenar-sebenarnya dari faktor-faktor yang dimanipulasi.

Pada penelitian eksperimen karena tujuannya melakuakan perbandingan suatu akibat perlakuan tertentu dengan suatu perlakuan lain yang berbeda atau dengan yang tanpa perlakuan. Wilhelm Wundt dalam Alsa (2004) mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian eksperimental. yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sebuah penelitian dapat berjalan baik dan memberikan hasil yang akurat jika dilaksanakan dengan mengikuti kaidah tertentu.berkaitan dengan tingkah laku manusia. 11 . dapat saja semua kelompok merupakan kelompok eksperimen yang diujikan. akan menghasilkan simpulan yangkurang memadai. sedang kelompok ketiga lebih dari empat kali tes pokok bahasan. Agar menghasilkan simpulan yang cukup meyakinkan. maka dikenal dua kelompok perbandingan. termasuk dalam pendidikan. Kemudian kedua kelompok tersebut diamati untuk melihat perbedaan atau perubahan pada kelompok eksperimen dengan membandingkan pada kelompok kontrol. Peneliti harus dapat menentukan secara sengaja kapan dan di mana ia akan melakukan penelitian. maka variabel-variabel yang mungkin berpengaruh perlu dipertimbangkan dengan menganalisis menggunakan analisis varian atau kovarian. satu kelompok dirancang satu sampai dua kali tes tiap pokok bahasan. Kejadian-kejadian sosial biasanya dipengaruhi interaksi berbagai variabel. Hasilnya nanti dibandingkan secara statistik. Pada kelompok eksperimen ini diberikan suatu perlakuan atau kondisi tertentu sedangkanpada kelompok kontrol tidak diberikan. Seperti halnya dengan penelitian eksperimen. kelompok kedua dirancang tiga sampai empat kali. Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sedapat mungkin “sama” atau mendekati ciri-ciri yang sama. Contoh pada penedidikan matematika untuk melihat efektivitas frekuensi pembereian tes (latihan). Hal tersebut karena sebab-akibat pada masalah sosial sering tidak terjadi karena sebab-sebab tunggal. akan memberikan hasil yang valid jika dilaksanakan dengan mengikuti syarat-syarat yang ada. Membatasi suatu variabel atau mengisolasinya dengan variabel-variabel lain yang berpengaruh. yaitu: 1. Berkaitan dengan hel tersebut. tidak harus perbandingan dari dua kelompok tersebut. Pada penelitian eksperimen.

variabel dibedakan menjadi dua kelompok. Adanya permasalahan yang signifikan untuk diteliti. 3. g. dikontrol. Langkah-langkah dalam penelitian eksperimen pada dasarnya hampir sama dengan penelitian lainnya. Eksekusi prosedur. Variabel Penelitian Variabel adalah kondisi-kondisi. yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Pemilihan subjek yang cukup untuk dibagi dalam kelompok eksperimen dan c. f. e. Penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalam kondisi yang sama. Dengan kata lain variabel terikat adalah suatu kondisi yang muncul sebagai akibat dari variabel bebas. a. C. Variabel bebas contohnya adalah metode. Pemilihan desain penelitian. mengontrol) variabel yang diteliti sesuai dengan yang dikehendakinya. atau model 12 . 4. Umumnya dalam eksperimen. Sedang variabel terikat adalah suatu kondisi atau karakteristik yang berubah atau muncul atau tidak muncul ketika peneliti memberikan manipulasi atau perlakuan. Diperlukan kelompok pembanding (control grup) selain kelompok yang diberi perlakuan (experimental grup). Variabel bebas adalah suatu kondisi atau karakteristik yang merupakan manipulasi atau perlakuan yang diberikan pada suatu kelompok untuk menerangkan hubungan dengan fenomena yang diobservasi. Melakukan analisis data. strategi. karakteristik-karakteristik atau atribut yang dimanipulasi. Pembuatan atau pengembangan instrumen. Peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah. h. Memformulasikan simpulan. atau menjadi pusat perhatian peneliti. kelompok kontrol. Menurut Gay (1982:201) langkah-langkah dalam penelitian eksperimen yang perlu ditekankan adalah sebagai berikut. d. b. diamati.2.

atau model penelitian tertentu. bahan belajar dengan model tertentu. Permasalahan seperti apakah siswa putra yang berumur 8 tahun menunjukkan kemampuan lebih tinggi dalam geometri dibandingkan siswa putri umur 8 tahun. usia. 13 . Variabel itu tidak dapat diabaikan. semuanya sudah sedimikian adanya tidak berubah. Variabel itu sekaligus berfungsi sebagai variabel bebas. antusias. variabel imbuhan (extraneous). suku atau lainnya yang serupa. Cara yang mungkin adalah menetralisir pengaruh variabel-variabel tersebut.pembelajaran tertentu. frekuensi pertanyaan. Dalam penelitian eksperimen. tetapi dapat memberi akibat atau pengaruh terhadap hubungan variabel bebas dan variabel terikat. Variabel terikat misalkan hasil belajar. Variabel organismik atau atribut mengacu pada karakteristik-karakteristik yang tak dapat diubah oleh peneliti. Variabel imbuhan adalah variabel yang tak dapat dikontrol atau dimanipulasi oleh peneliti yang mungkin mempunyai pengaruh berarti pada variabell terikat. atau perhatian yang sulit didefinisikan dalam istilah operasional tetapi sangat mungkin memberi pengaruh. variabel intervensi (intervening). Variabel bebas seperti umur. atau kesanggupan akademik siswa. motivasi. yaitu jenis kelamin. Variabel intervensi adalah suatu variabel yang tak dapat dikontrol atau diukur secara langsung. Ketika meneliti tentang efektivitas model pembelajaran tertentu. atau aktivitas siswa. minat. Dalam hubungan ini variabel intervensi misalkan kecemasan. Variabel ini mengintervensi hubungan sebab dan akibat dari variabel bebas dengan variabel terikat. Contoh variabel imbuhan seperti kompetensi guru. jenis kelamin. sangat sulit (bahkan tidak mungkin) mengeliminir keseluruhan variabel imbuhan. tingkat sosial ekonomi. kesalahan-kesalahan konsep. jika memungkinkan variabel-variabel itu dipertimbangkan atau dikendalikan. Contoh-contoh itu dinamakan variabel organismik yang dapat digunakan untuk studi eksperimen. Variabel lain yang perlu diperhatikan antara lain. keletihan. Misalkan seorang peneliti ingin meninjau pengaruh penggunaan media belajar kartu tanya terhadap kemampuan memecahkan masalah matematika. menunjukkan contoh adanya variabel organismik. variabel organismik atau atribut. terutama di ruang kelas. tetapi harus diperhatikan atau menjadi bahan diskusi pembahasan hasil penelitian.

Caranya adalah dengan meniadakan variabel, penjodohan kasus, penyeimbangan kasus, dan analisis kovarian. Meniadakan variabel imbuhan dilakukan dengan jalan menyamakan karakteristik dari variabel-variabel tersebut, contoh hanya memilih subjek-subjek yang laki-laki, sehingga variabel jenis kelamin dieliminir. Tetapi harus diingat bahwa tidak semua laki-laki mempunyai keseragaman karakteristik. Cara berikutnya dengan memilih pasangan-pasangan individu yang sama atau mendekati sama karakteristiknya, kemudian dikelompokkan sebagai kelompok kontrol. Kesulitannya mencari individu yang berkesamaan dalam lebih satu variabel. Beberapa individumungkin dikeluarkan dari eksperimen, karena tidak memenuhi persyaratan penjodohan. Kelemahan lain karena syarat acak dalam pemilihan kelompok eksperimen dapat tidak memuaskan. Penyeimbangan kasus terkait dengan pemilihan subjek pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yangdilakukan sedemikian rupa mendekati sama nilai rata-rata (mean) dan varians diantara kedua kelompok itu. Karena penyeimbangan itu tidak identik benar, maka peneliti harus menentukan seberapa besar penyimpangan yang dapat ditolerir sehingga tidak menghilangkan pengontrolan yang relatif memuaskan. Kesulitan dari cara ini adalah ketika menyamkan basis kelompok pada variabelvariabel itu. Cara terakhir dengan analisis kovarian merupakan cara dengan menggunakan metode statistik. Caranya dengan menggunakan pretes sebagai kovarian. D. Validitas Penelitian Validitas dalam penelitian dapat dikatakan sebagai kesesuaian antara hasil simpulan dalam penelitian dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Terdapat dua jenis validitas, yaitu validitas internal dan validitas eksternal. Validitas internal dapat diartikan sebagai validitas yang berkaitan hubungan antara faktor-faktor yang dimanipulasi dalam variabel bebas dengan fenomena-fenomena yang terjadi pada variabel terikat. Sedangkan yang dimaksud dengan validitas eksternal adalah validitas yang berkaitan dengan kekuatan suatu eksperimen untuk

digeneralisasikan penemuan-penemuannya atau hubungan-hubungannya pada populasi yang lebih luas. (Siswono, 2010:48).

14

Suatu penelitian dikatakan memberikan kontribusi yang berarti bagi pengetahuan jika memenuhi kedua jenis validitas tersebut, yaitu validitas internal dan eksternal. Siswono (2010:47) mengungkapkan bahwa pada bidang pendidikan terdapat kendala untuh memenuhi kedua validitas tersebut secara tepat. Validitas internal sulit untuk dicapai karena banyaknya variabel imbuhan yang harus dikontrol dan apabila dilakukan pengontrolan hasilnya belum tentu sempurna. Sedangkan validitas eksternal akan sulit dicapai jika pengontrolan tersebut dilakukan secara ketat karena hal tersebut dapat menimbulkan suatu kondisi yang tidak realistik. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mengganggu validitas internal. 1. Kematangan: Adanya perubahan baik secara biologis maupun secara fisik yang prosesnya dapat berpengaruh 2. Peristiwa yang tiba-tiba, seperti terjadinya bencana atau ada suatu kelompok yang tiba-tiba jatuh sakit. Hal ini dapat memengaruhi variabel internal. 3. Proses ujian, seperti pemberian tes awal. Hal ini akan memengaruhi validitas internal karena menyebabkan perilaku subyek penelitian akan berubah atau menjadi lebih siap dan terampil dalam menyelesaikan tugastugas yang merupakan perlakuan penelitian. 4. Instrumen pengumpulan data yang tidak stabil 5. Regresi statistik merupakan gejala yang terjadi pada pola pretes-postes. Pada situasi pretes-postes terdapat suatu regresi normal ke arah nilai ratarata, yang mulanya nilai tertinggi atau terendah bukannlah yang mendapat pencapaian tertingggi atau terendah tetapi yang tertinggi atau terendah pada pretes. 6. Pemilihan sampel yang tidak homogen 7. Hilangnya sampel (mortalitas) Sumber lain menyebutkan bahwa validitas internal juga dapat terganggu karena beberapa faktor berikut. 1. Sejarah (history), yaitu peristiwa yang terjadi di masa lampau. Hal ini dapat memengaruhi ketercapaian validitas internal

15

2. Seleksi (selection) adanya perubahan ciri-ciri atau sifat-sifat dari suatu populasi 3. Prosedur 4. Instrumen Sedangkan faktor-faktor yang dapat mengganggu validitas eksternal adalah sebagai berikut. 1. Latar eksperimen yang buatan Dengan dilakukannya control yang ketat terhadap variabel imbuhan menyebabkan kondisi eksperimen menjadi tidak realistik atau tidak serupa dengan kondisi yang ada di lapangan. 2. Efek placebo-hawthorne, merupakan efek yang menggambarkan suatu kondisi dimana subyek sampel mengetahui bahwa ia sedang diteliti. 3. Kontaminasi Hal ini dapat terjadi apabila peneliti mengetahui sebelumnya subyeksubyek yang masuk sebagai sampel eksperimen karena dapat

menyebabkan munculnya keputusan-keputusan yang tidak obyektif. 4. Campur tangan perlakuan sebelumnya 5. Pengujian 6. Pemilihan sampel yang bias E. Skala Pengukuran dan Instrumen Penelitian Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Karena intrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala. Berikut akan dipaparkan mengenai macam-macam skala. 1. Macam-macam Skala Pengukuran Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Dengan skala pengukuran ini variabel yang diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka sehingga akan lebih akurat, efisien,

16

dan lain-lain sehingga pada skala Guttman hanya ada dua interval saja. dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. “pernah-tidak pernah”. Skala yang dapat digunakan untuk penelitian Administrasi. Berikut ini contoh skala yang berupa kata-kata. Skala Guttman Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas. misalnya: a. Skala Guttman digunakan pada penelitian yang memerlukan suatu jawaban yang tegas. “benar-salah”. 4 3 2 1 17 . Misalnya untuk jawaban yang setuju diberi skor 1 dan tidak setuju diberi skor 0. Sangat tidak baik b. Kemudian dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dpaat berupa pernyataan atau pertanyaan. Pendidikan. maka jawaban itu dapat diberi skor. a. dan Sosial adalah sebagai berikut. Skala Likert Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap.dan komunikatif. Sangat baik b. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi sangat positif sampai sangat negatif. Untuk keperluan analisis kuantitatif. pendapat. Baik c. Dengan skala Likert. Tidak baik d. a. Baik c. maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Sangat baik b. Skala Guttman dapat dibentuk dalam bentuk pilihan ganda atau checklist. Tidak baik d. yaitu “ya-tidak”. Sangat tidak baik Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist atau pilihan ganda. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi adalah satu dan skor terendah adalah nol.

data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang diberikan. Semantic Differential Skala ini digunakan untuk mengukur sikap. Namun dengan rating scale. hanya bentuk tidak pilihan ganda atau checklist. Contoh: Bersahabat Tepat janji Bersaudara Memberi pujian Mempercayai d. 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 Tidak bersahabat Lupa janji Memusuhi Mencela Mendominasi 18 . data yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan atau dikualitatifkan.c. Dalam skala model ini. Contoh: Seberapa baik ruang kelas di sekolah ini? Berilah jawaban dengan angka: 4 3 2 1 bila tata ruang sangat baik bila tata ruang cukup baik bila tata ruang kurang baik bila tata ruang sangat tidak baik Selain instrumen seperti yang telah dijelaskan di muka. tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat positif” terletak di bagian kanan garis dan jawaban yang “sangat negatif” terletak di bagian kiri garis. Rating Scale Dari ketiga skala pengukuran yang telah dijelaskan di muka. atau sebaliknya. Hal yang penting bagi penyusun instrumen dengan model ini adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternative jawaban pada setiap item instrumen. Data yang diperoleh adalah data interval dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang. ada instrumen penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data nominal dan ordinal.

. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian...Guru 2. Meskipun instrumen dalam penelitian pendidikan memang ada yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya namun instrumen tersebut sulit untuk dicari atau dibeli.. Instrumen Penelitian Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran.. Untuk itu maka peneliti-peneliti dalam dunia pendidikan sering kali menyusun instrumen penelitian sendiri termasuk menguji validitas dan reliabilitasnya....a. Instrumen untuk menjaring data ordinal Contoh: Berilah rangking terhadap presentasi belajar sepuluh murid di kelas ini! Nama Murid A B C D E F G H I J Rangking Nomor .. 19 . Berapa jumlah guru di sekolah Anda? b.. Instrumen untuk menjaring data nominal Contoh: a. Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati.Guru ? .. Berapa jumlah guru yang dapat berbahasa Inggris b. maka harus ada alat ukur yang baik......

4. Kemudian instrumen yang reliable adalah instrumen yang bila digunakan bebrapa kali untuk mengukur objek sama. maka perlu digunakan “matrik penyusunan instrumen” atau “kisi-kisi instrumen”. akan menghasilkan data yang sama. dan konsultasi dengan orang yang dipandang ahli. maka diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang variabel yang diteliti dan teori-teori yang mendukungnya.3. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Dalam hal ini perlu dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliable dengan instrumen yang valid dan reliable. dan selanjutnya ditentukan indikator yang dapat diukur. Hal ini dikarenakan kondisi objek yang diteliti dan kemampuan orang yang menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data juga memengaruhi hasil penelitian. Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. jurna). Untuk bisa menetapkan indikator-indikator dari setiap variabel yang diteliti. Dengan menggunkan instrumen yang valid dan reliable dalam mengumpulkan data. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrumen. Hal ini tidak berarti bahwa dengan menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya maka otomatis hasil penelitian akan menjadi valid dan reliable. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya. membaca hasil penelitian sebelumnya yang sejenis. Cara Menyusun Instrumen Titik tolak dari penyusunan instrumen adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Selanjutnya hasil penelitian yang reliable bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Sedangkan instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Caranya dapat dengan membaca berbagai referensi (seperti buku. 20 . Penggunaan teori untuk menyusun instrumen harus secermat mungkin agar diperoleh indikator yang valid.

tetapi juga objek atau benda-benda alam yang lain. Populasi bukan hanya orang. populasi juga bukan 21 .Skema Tentang Instrumen dan Cara-cara Pengujian Validitas dan Reliabilitas F. Populasi dan Sampel 1. Selain itu. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.

 Semua televisi dari tipe yang sama yang diproduksi oleh suatu pabrik dalam satu tahun tertentu. Dapat menentukan presisi (precision) dari hasil penelitian dengan menentukan penyimpangan baku (standar) dari taksiran yang diperoleh c. sehingga mudah dilaksanakan d. Menurut Teken (dalam Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi) Ciri-ciri sample yang ideal adalah: a. b. Jumlah terhingga. Lebih efisien. Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya yang rendah. Adapun keuntungan jika penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel antara lain: a. Sampel jumlahnya lebih sedikit. Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Menurut Arikunto (2006:130) jika dilihat dari segi jumlah populasi dapat dibedakan antara lain: a. 2. Sampel digunakan apabila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi.  Semua mahasiswa yang terdaftar mengambil matakuliah tertentu. tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subjek/objek itu. Sederhana. contohnya:  Semua orang yang terdaftar dalam Angkatan Laut pada hari tertentu. terdiri dari elemen yang sulit dicari jumlahnya. seperti jumlah penonton sebuah stasiun tv. semua jenis senjata yang diperbolehkan oleh undang-undang. Dapat menghasilkan gambaran yang dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti b. c. Jumlah tak hingga. yang terdiri dari elemen dengan jumlah tertentu. b. khawatir akan ada yang terlewatkan. 22 . Jika populasi terlalu besar. dan sebagainya. Sampel yang diambil dari populasi tersebut harus benar-benar representative (mewakili).sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari.

Teknik Sampling Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel. Misalnya dengan siswa sebagai sampelnya. 23 . 1) Merumuskan populasi 2) Membuat daftar semua anggota populasi 3) Memilih sampel dengan prosedur bahwa hanya faktor kebetulan saja yang menentukan anggota sampel b. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai 3 orang lulusan S3. (Arikunto. maka perlu ada kalsifikasi siswa berdasar strata (misal kelas I. Simple random sampling adalah pengambilan sample secara acak sederhana. II dan III) c.d. Disproportional stratified random sampling adalah teknik yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel jika populasi berstrata tetapi kurang proporsional. e. Teknik ini meliputi: a. yaitu undian (digoncang seperti arisan). dan Lebih memungkinkan dilakukan. namun secara garis besar dapat dibagi menjadi dua:  Probability Sampling atau Random Sampling Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. dan tabel bilangan random. ordinal (angka kelipatan). Proportionate stratified random sampling adalah teknik yang digunakan apabila populasi mempunyai unsur atau anggota yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Metode yang dapat digunakan antara lain. Karena orang lulusan S3 dan S2 terlalu kecil disbanding kelompok yang lain. maka kedua kelompok tersebut diambil semuanya sebagai sampel. 2006:133) 3. Penelitian populasi bisa terjadi ketidak akuratan data. Sebuah sample yang diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elemen dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sample. 4 orang lulusan S2. Ada beberapa teknik dalam pengambilan sampel. dan 120 orang lulusan SMA. 2010:50) mengemukakan bahwa langkah-langkah penentuan sampel acak adalah sebagai berikut. 100 orang lulusan S1. (Siswono.

Kesalahan tersebut terjadi karena yang diamati pada dasarnya hanya sampel bukan populasi. dari semua anggota itu diberikan nomor urut. 4. Sampling insidental adalah teknik penentuan sample yang diambil berdasarkan kebetulan. f.  Non-Probability Sampling. Kesalahan penarikan simpulan Dalam penarikan simpulan kadang terjadi kesalahan. b. Misalkan mean populasi dilambangkan μ dan mean sampel acak dilambangkan ̅ . maka selisih antara keduanya dinamakan kesalahan penarikan simpulan yang dilambangkan dengan . Jika parameter populasi tidak diketahui sehingga pendekatan yang ditempuh dalam statistika 24 . Sampling jenuh (sensus) adalah teknik penentuan sampel apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Jadi ̅ .d. Sampling kuota (quota sampling) adalahteknik sampling yang didasarkan pada terpenuhinya jumlah sample yang diinginkan (ditentukan) c. Kesalahan penarikan simpulan dirumuskan sebagai perbedaan antara parameter populasi dan statistik sampel. Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang dimulai dari kelompok kecil dan kemudian membesar. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sample didasarkan atas tujuan tertentu. yaitu nomor 1 sampai 100. Mmisalnya dengan menanyai siapa saja yang ditemui dijalan untuk meminta pendapat tentang kenaikan harga sembako d. (orang yang dipilih betul-betul memiliki kriteria sebagai sampel) e. Misalnya penduduk dari suatu provinsi atau Negara. Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. a. teknik pengambilan sample berdasar wilayah adalah teknik yang digunakan untuk menentukan sampel apabila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas. Area Sampling. Non-probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsure atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Setiap penelitian selalu menggunakan teori. Landasan Teori dan Kerangka Berfikir 1. yaitu besarnya sampel dan simpangan baku dalam populasi. G. σ = simpangan baku populasi σ adalah suatu indeks derajat penyebaran individu-individu dalam suatu populasi.inferensial adalah dengan menduga variabilitas yang diharapkan terjadi dalam populasi yang sama. teori adalah seperangkat konstruk. maka langkah kedua dalam proses penelitian(kuantitatif) adalah mencari teori-teori. Cooper dan Schindler (dalam Sugiyono. 2010) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat konsep. sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Seperti dinyatakan oleh Neumen (2003). Pengertian Teori Setelah masalah penelitian dirumuskan. Penarikan simpulan dipengaruhi oleh dua hal. maka rumus dari simpangan baku kesalahan penarikan simpulan adalah: ̅ √ dengan ̅ ̅ salah baku mean adalah suatu indeks penyebaran harapan di antara mean-mean sampel yang ditarik acak dari sutu populasi. Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh. adalah jumlah setiap sampel. melalui spesifikasi hubungan antar variabel. Adanya landasan teoritis ini merupakan ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data. konsep-konsep dan generalisasigeneralisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian. Wiliam Wiersma (1986) menyatakan bahwa teori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik. definisi dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik. 25 . dan bukan sekedar perbuatan coba-coba.

dan meramalkan gejala yang ada. Hukum ini biasanya sifat hubungan yang deduktif. macro . c. Theory suggest which research approaches are likely to yield the greatest meaning 26 . 3. teori formal. Theory narrows the range of fact we need to study b. Fokus teori dibedakan menjadi tiga. bila ia lebih banyak dapat melukiskan. Selanjutnya Haditono (dalam Sugiyono. Mark (dalam Sugiyono. karena teori ini lebih focus berlaku untuk objek yang akan diteliti. 2. b. Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu. Tingkat dan Fokus Teori Numan (2003) mengemukakan tingkatan teori menjadi tiga. Teori yang fungsional Berdasarkan tiga pandangan ini. 2010) membedakan adanya tiga macam teori. Teori yang deduktif b. 2010) menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting. Teori menunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. meso. dan middle range theory. menerangkan. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan data adalah teori subtantif. Teori yang induktif c. dapatlah disimpulkan bahwa teori dapat di pandang sebagai berikut: a. yaitu: micro. 2010) menyatakan bahwa kegunaan teori dalam penelitian adalah: a. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain: a.definisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi. Kegunaan Teori dalam Pendidikan Cooper dan Schindler (dalam Sugiyono. yaitu: teori subtantif.

Teori pendidikan dapat dibagi menjadi 2: yaitu teori umum pendidikan dan teori khusus pendidikan. sehingga ruang lingkup. Oleh karena itu. Pendidikan adalah actual b. Tetapkan nama variabel yang diteliti. Pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan 4. dan jumlah variabelnya 27 . Sebuah teori ada yang berperan sebagai asumsi atau titik tolak pemikiran pendidikan.c. oleh karena itu semua peneiti harus berbekal teori. sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis. landasan teori dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang akan dipakai. teori yang digunakan haru sudah jelas. Deskripsi Teori Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori dan hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. 2010) mengemukakan bahwa sebuah teori pendidikan adalah sebuah system konsep yang terpadu. Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut: a. Dalam penelitian kuantitatif. dan ada pula yang berperan sebagai definisi atau keterangan yang menyatakan makna. Selanjutnya Mudyahardjo (dalam Sugiyono. karena teori disini akan berfungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti. Asumsi pokok pendidikan: a. Paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap terhadap variabel yang diteliti melalui pendefinisian. Theory summarizes what is known about object of study and states the uniformities that lie beyond immediate observation e. menerangkan dan prediktif tentang peristiwa pendidikan. Pendidikan adalah normative c. kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan relevan. Theory can be used to predict further fact that should be found Semua penelitian bersifat ilmiah. dan sebagai referensi untuk menyusun instrument penelitian. dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi. Theory suggest a system for the research to impose on data in order to classify them in the most meaningful way d.

Deskripsikan teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Lihat daftar isi setiap buku. Hipotesis digunakan sebagai upaya membangun pengetahuan yang dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu cara induktif dengan melalui pengamatan dan cara deduktif dengan melalui penalaran yang logis. Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang menumbuhan hipotesis. Hipotesis Salah satu yang berperan besar dalam penelitian yaitu hipotesis. lakukan analisa. Baca seluruh isi topik buku sesuai dengan variabel yang akan diteliti. dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan. e. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan H. d. yaitu hipotesis induktif dan deduktif. c. biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi maupun hubungan. 5. maka perlu dikemukakan kerangka berfikir. dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca. dalam rangka menyusun hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi. bandingkan antara satu sumber dengan sumber lainnya. dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti. Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih. renungkan. Hipotesis induktif adalah hipotesis 28 .b. Kerangka Berfikir Uma Sekaran mengemukakan bahwa: kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah di identifikasi sebagai masalah yang penting. Cari sumber-sumber bacaan yang sebanyaknya dan yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti. Hipotesis dibagi menjadi dua bagian. f. Cari definisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan. Oleh karena itu.

Hipotesis asosiatif Hipotesis menunjukkan tentang prosedur apa yang harus digunakan dan berjenis apakah datanya tersebut. adapun kegunaan hipotesis adalah sebagai berikut: 1. 5. Ciri-ciri hipotesis yang baik adalah sebagai berikut: 1. Hipotesis merupakan suatu pernyataan sementara yang diajukan untuk memecahkan masalah atau untuk menerangkan suatu gejala. Berikut ini bentuk-bentuk hipotesis: 1. Harus dapat diuji. 4. Memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang. I. Hipotesis mengemukakan pernyataan tentang harapan peneliti mengenai hubungan antara variable-variabel di dalam suatu masalah. Memberikan arah pada penelitian. Sedangkan hipotesis deduktif adalah hipotesis yang diperoleh dari teori atau hasil penelitian sebelumnya. Hipotesis komparatif 3. 2. 3. 2. 4. Jadi. Selanjutnya hipotesis tersebut diuji dalam penelitian sehingga diketahui apakah hipotesis diterima atau ditolak. Memberikan kerangka untuk melaporkan simpulan suatu penelitian. maka selanjutnya dilakukan perancangan penelitian yang di dalamnya terdapat pengujiannya secara empiric. Harus mempunyai daya pembeda yang jelas. Hipotesis deskriptif 2. 29 .yang diperoleh secara induktif dari mengamati tingkah laku individu. Hendaknya dinyatakan sederhana dan seringkas mungkin. Harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada diantara variable-variabel. Memberikan suatu pernyataan hubungan langsung yang dapat diuji dalam penelitian. Hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada. 3. Rancangan Penelitian Eksperimen Setelah hipotesis dirumuskan dengan baik.

Rancangan penelitian eksperimen juga berkaitan dengan masalah-masalah yang praktis. Rancangan Pra Eksperimen Rancangan ini kurang memadai.Rancangan penelitian eksperimen merupakan kerangka konseptual pelaksanaan eksperimen. tipe-tipe variable yang dimanipulasikan. Selain itu. Pemilihan suatu jenis eksperimen didasarkan pada tujuan eksperimen. atau tidak ekuivalen antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Adapun rancangan yang termasuk dalam rancangan pra eksperimen adalah sebagai berikut: a. Rancangan penelitian eksperimen dikelompokkan menjadi tiga bagian. dan factor-faktor atau kondisi-kondisi yang membatasi penanganan suatu eksperimen itu sendiri. Studi kasus bentuk tunggal (the one shot case study). karena tidak adanya suatu kelompok kontrol. b. Rancangan Pretes-Protes Kelompok Tunggal (The one group pretest-posttest design). yaitu: 1. Rancangan penelitian eksperimen ini menggambarkan tentang prosedur-prosedur yang memungkinkan peneliti menguji hipotesis penelitiannya untuk mencapai kesimpulan yang sevalid mungkin mengenai hubungan suatu variable bebas dan variable terikat. T1 X T2 Keterangan: X = manipulasi/perlakuan variable eksperimen T1 = Prates T2 = Pascates 30 . X T Keterangan: X = manipulasi/perlakuan variable eksperimen T = Tes atau observasi Bentuk ini kekuatannya sangat lemah untuk generalisasi dan variable luar dapat membahayakan validitas internal dan eksternal.

2. karena dilakukan kontrol. Dalam hubungan ini kelompok-kelompoknya menggunakan kelompok yang sudah ada. T1 = prates pada kelompok kontrol.pretestpostest design) T1X T1 Keterangan : X = manipulasi/perlakuan/treatment variable eksperimen. a. T2X= pascates pada kelompok eksperimen . Rancangan Perbandingan Kelompok Statik (the static group comparison design). Tetapi terdapat kelemahan karena umumnya ekuivalensi antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak ada. bukan buatan yang baru disengaja agar ekuivalen. karena dalam pemilihan kelompok tidak dilakukan pemilihan secara acak. X -T1 T2 Keterangan: X = manipulasi/perlakuan variable eksperimen T1 = Tes pada kelompok eksperimen T2 = Tes pada kelompok control Pada rancangan ini membandingkan suatu kelompok yang menerima perlakuan (kelompok eksperimen) dengan kelompok lainnya yang tidak mendapatkan perlakuan. tetapi belum ada pembandingan dengan kelompok control. T1X = prates pada kelompok eksperimen. Rancangan prates-pascates yang tidak Ekuivalen (the non ekuivalen. c.Rancangan ini lebih baik karena dampak suatu perlakuan didasarkan pada perbedaan antara pretes dan pascates. X -T2X T2 31 . Rangcangan Eksperimen Semu Rancangan berikut lebih baik daripada kelompok yang pertama.

seperti jadwal atau guru pengajarnya. Pemilihannya tidak secara acak. atau sebaliknya. maka dilakukan kelompok/kelas yang sama baik untuk eksperimen maupun kontrol. pascates pada kelompok control Karena kesulitan administrasi dalam mendapatkan kelompok kontrol dan eksperimen yang benar-benar ekuivalen kondisinya. pretest-postest design). b. tingkat kesulitan. Pada putaran pertama digunakan sebagai kelompok eksperimen (Pa) dan pada putaran kedua digunakan sebagai kelompok kontrol (Pb) . Rancangan ini biasanya menggunakan kelas-kelas yang sudah ada sebagai kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. prates pada kelompok control. Pa T1X X T2X Pb T1 -- T2 Keterangan : X T1X T2X T1 T2 = = = = = manipulasi/perlakuan/treatment variable eksperimen prates pada kelompok eksperimen.  Sering sulit mendapatkan materi pelajaran yang benar-benar setara dalam berbagai segi seperti daya tarik. penanganannya dapat dipadukan dengan kegiatan rutin kelas tersebut. Rancangan prates – pascates pada kelompok tunggal yang materinya ekuivalen (the equivalent material. Rancangan ini dapat mengurangi pengaruh dari luar. Rancangan ini mempunyai beberapa kelemahan antara lain. atau prasyarat materi sebelumnya   Pada putaran kedua sebenarnya siswa sudah lebih matang daripada putaran sebelumnya Kejadian-kejadian khusus (eksternal) belum tentu sama baik jenis maupun jumlahnya pada putaran satu maupun dua 32 . pascates pada kelompok eksperimen . tetapi diperkirakan yang kondisi/keadaannya sama. Perbedaan rata-rata T1 dan T2 dan rata-rata T1X dan T2X di tes apakah signifikan secara statistik.T2 = pascates pada kelompok kontrol. single group.

Untuk mengurangi keterbatasan ini. pascates pada kelompok kontrol P1. subjek penelitian dapat saja berkurang pada putaran kedua Ada bahaya kontaminasi penilaian karena pengetahuan hasil putaran pertama dapat mempengaruhi objektivitas penilaian di putaran kedua. prates pada kelompok kontrol. P4 : putaran ke satu. 3. pascates pada kelompok eksperimen . Rancangan Eksperimen Sebenarnya Berikut adalah rancangan eksperimen sebenarnya. P2.dua. P1 T1X X T2X P2 T1 -- T2 P3 T1X X T2X P4 T1 -- T2 Keterangan : X T1X T2X T1 T2 = = = = = manipulasi/perlakuan/treatment variable eksperimen prates pada kelompok eksperimen. karena pengalaman sebelumnya Bila dilakukan cukup lama. Dengan demikian tentu masih ada kelemahan dalam validitas eksternal.tiga dan empat pada kelas yang sama. 33 . karena prinsip ekuivalensi antara kelompok kontrol dan eksperimen dipenuhi melalui pemilihan acak dan dilakukan pengendalian. Eksperimen yang sebenarnya dalam pendidikan cukup sulit dilakukan karena berhadapan dengan manusia yang bukan benda mati seperti dilaboratorium. P3.    Bisa terjadi pengaruh perlakuan pertama ikut bercampur pada perlakuan kedua Prosedur tes pada putaran satu dapat mempengaruhi pencapaian pada putaran kedua. dapat dilakukan replikasi dengan putarannya menjadi empat putaran.

dan rancangan prates-pascates. c.hanya digunakan prates pada kedua kelompok. Rancangan prates-pascates pada kelompok-kelompok ekuivalen T1X T1 X -T2X T2 Rancangan ini mirip dengan sebelumnya. Pada rancangan ini. Rancangan hanya pascates pada kelompok ekuivalen X -T1 T2 Rancangan ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol mempunyai kesamaan kondisi-kondisinya dan dipilih secara acak. Namun demikian rancangan ini bisa terganggu karena pengaruh pelaksanaan tes. Pencapaian yang merupakan perbedaan atau selisih dari pascates dan prates antara nilai rata-rata kelompok eksperimen dan kontrol diuji menggunakan analisis varian. Bila digunakan analisis kovarian dengan nilai prates sebagai kovariatnya.a. rancangan ini akan lebih efektif dan cukup kuat validitas eksperimennya. Kalau ada perbedaan. kalau sampel diambil secara acak dari populasi yang sama. misal tes analisis varian. Asumsinya. maka nilai rata-ratanya akan sama. Rancangan Empat Kelompok Solomon T1X T1 X -T2X T2 X -- T3X T3 Rancangan ini sebenarnya perpaduan dari rancangan dua kelompok ekuivalen hanya pascates. biasanya karena kesalahan pengambilan sampel. maka perbedaan tersebut karena pengaruh variabel perlakuan. b. Rancangan ini memungkinkan untuk mengevaluasi efek utama variabel eksperimental dan juga 34 . perbedaan rata-rata hasil tes kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diuji signifikansinya melalui tes statistik tertentu. tetapi kalau perbedaannya begitu besar melampaui besar yang dimungkinkan karena kesalahan pengambilan sample.

Pada umumnya variabel lain merupakan variabel atribut. sedang lain menerima perlakuan B (kotak 4). Pada rancangan ini. Variabel Atribut (X2) Tingkat 1 Tingkat 2 Variabel eksperimen (X1) Perlakuan A Kotak 1 Kotak 2 Perlakuan B Kotak 3 Kotak 4 Variabel bebas yang dimanipulasi dinamakan variabel eksperimen. disamping pengaruh yang disebabkan interaksi antara variabelvariabel itu. seperti jenis kelamin. Misalnya pada masalah efektivitas suatu model pembelajaran tertentu mungkin bergantung pada sejumlah variable seperti tingkat kecerdasan. atau hasil belajar. Sebagai subjek tingkatan 2 menerima perlakuan A (kotak 2). sedangkan variabel bebas yang kedua yang dibagi menjadi beberapa tingkatan disebut variabel atribut. suasana kelas. Jadi pada rancangan ini. d. dan sebagainya. Pada bidang pendidikan yang kompleks terdapat beberapa variabel yang berinteraksi secara simultan. Rancangan ini cukup sulit dilakukan kalau sampelnya besar. Pengaruh variabel ini diteliti dan sekaligus dikendalikan dengan jalan 35 . ras. peneliti tertarik pada pengaruh satu variabel bebas saja. sehingga diperlukan rancangan yang lebih efektif. status sosial ekonomi.mengetahui efek faktor-faktor yang mengancam validitas eksperimen. kecerdasan. kepribadian guru. tetapi mempertimbangkan variabel-variabel lain yang mungkin berpengaruh pada variabel terikat. beberapa subjek tingkatan 1 menerima perlakuan A (kotak 1). Pengaruh perlakuan eksperimental pokok terhadap variabel terikat dinilai pada setiap tingkatan variabel yang lain. sedang yang lain menerima perlakuan B (kotak 3). Rancangan Faktorial Desain yang disajikan sebelumnya dirancang untuk variabel yang tunggal. Rancangan faktorial digunakan untuk mengetahui dua atau lebih variabel yang dimanipulasi secara simultan memberi efek pada variabel terikat.

Bila dilihat dari sumber datanya. dijalan.memasukkan variabel atribut pada rancangan faktorial. Oleh karena itu. diskusi. pada suatu seminar. Bila dilihat dari setting-nya. di rumah dengan berbagi responden. pada laboratorium dengan metode eksperimen. 36 . data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting). dan gabungan ketiganya. belum tentu dapat menghasilkan data yang valid dan realibel. peneliti menilai pengaruh variabel bebas yang utama. observasi (pengamatan). apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya. Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting. Di setiap “tingkatan” variabel atribut. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Memberikan kesempatan untuk menyelidiki interaksi yang begitu penting dalam penelitian pendidikan. dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Kelebihan rancangan ini adalah :    Dapat menyelesaikan dalam satu kali eksperimen. instrumen yang telah teruji validitas dan reabilitasnya. Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data. Teknik Pengumpulan Data Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian. dan berbagai cara. Memberikan pengujian yang lebih kuat terhadap hipotesis. yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. dan lain-lain. misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan reabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatam cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. kuesioner (angket). J. mungkin desain lain bisa lebih dari dua studi yang terpisah. berbagai sumber. maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara).

Pada bab ini hanya akan dijelaskan pengumpulan data berdasarkan tekniknya. kuesioner (angket). Dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama. Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur. ii. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report. pengumpul data dapat menggunakan beberapa pewawancara sebagai pengumpul data. Bahwa interpretasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti. dan pengumpul data mencatatnya.Supaya setiap pewawancara 37 . dan observasi (pengamatan). Oleh karena itu. bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya. iii. 1. yaitu melalui interview (wawancara). Hadi (1986) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan metode interview dan juga kuesioner (angket) adalah sebagai berikut. a. Interview (Wawancara) Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti. Wawancara Terstruktur Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data. dalam melakukan wawancara pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawbannya pun telah disiapkan. i. Dengan wawancara terstruktur ini pula. dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil. Bahwa subjek (responden)adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri.

sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceriterakan oleh responden. brosur. Dalam wawancara tidak terstruktur. maka peneliti perlu melakukan wawancara kepada fihak-fihak yang mewakili berbagai tingkatan yang ada dalam obyek. Informasi atau data yang diperoleh dari wawancara sering bias. gambar. Oleh karena itu. maka diperlukan training kepada calon pewawancara. Bias adalah menyimpang dari yang seharusnya. b. Wawancara tidak terstruktur atau tebuka. Situasi 38 . Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. peneliti jangan memberi pertanyaan yang bersifat bias. maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder. sehingga peneliti dapat menentukansecar pasti permaslahan atau variabel apa yang harus di teliti. Kebiasan data ini akan bergantung pada pewawancara. selain harus membawa instrumen sebagai pedoman untuk wawancara. dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar. Pada penelitian pendahuluan. yang diwawancarai (responden) dan situasi dan kondisi pada saat wawancara. peneliti berusaha mendapatkan informasi awal tentang berbagai isu atau permaslahan yang ada pada obyek. sehingga dapat dinyatakan data tersebut subyektif atau tidak akurat. bila responden tidak dapat menangkap dengan jelas apa yang ditanyakan peneliti atau pewawancara. Dalam melakuan wawancara.mempunyai keterampilan yang sama. peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diproleh. Wawancara Tidak Terstruktur Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Untuk mendapatkan gambaran permaslahan yang lebih lengkap. Berdasarkan analisis terhadap setiap jawaban dri responden tersebut. maka peneliti dapat mengajukan berbagai pertanyaan berikutnya yang lebih terarah pada suatu tujuan. Responden akan memberikan data yangbias. sering digunakan dalam penelitian pendahuluanatau malahan untuk penelitian yanglebih mendalam tentang responden.

dan bentuknya dapat menggunakan kalimat positif atau negatif. dan “frame of reference” dari responden. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisienbila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. yaitu  Isi dan Tujuan Pertanyaan Yang dimaksud disini adalah apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan? Kalau berbentuk pengukuran. Prinsip Penulisan Angket Prinsip ini menyangkut beberapa faktor.dan kondisi seperti itu sangat mempengaruhi proses wawancar.  Tipe dan Bentuk Pertanyaan Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup. setiap pertanyaan harus disusun dalam skala pengukuran dan jumlah itemnyamencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti. 2. pengukuran. dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos atau internet.  Bahasa yang Digunakan Bahasa yang digunakan dalam penulisan kuesioner (angket) harus disesuaikan dengan kemampuan berbahas responden. Selain itu. Jadi bahas yang digunakan dalam angket harus memperhatikan jenjang pendidikan responden. Kuesiener (Angket) Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. a. Sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data. Kuesioner dapat berupa pertanyaan atau pernyataan tertutup atau terbuka. keadaan sosial budaya. maka dalam membuat pertanyaan harus teliti. dan penampilan fisik. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang mengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya berbentuk uraian tentang sesuatu hal. yaitu prinsip penulisan. kuesioner juga ccocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi validitas data. Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang 39 .

Kalau awalnya sudah diberikan pertanyaan yang sulit. Bila jumlah variabel banyak.  Tidak Menanyakan yang Sudah Lupa Setiap pertanyaan dalam instrumen angket.  Urutan Pertanyaan Urutan pertanyaan dalam angket. sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi.mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia. atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit. dan juga memudahkan peneliti dalam melakukan analisis data terhadapseluruh angket yang telah terkumpul.  Pertanyaan Tidak Menggiring Pertanyaan dalam angket sebaiknya juga tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau ke yang jelek saja. dan ratio. ordinal. Pertanyaan tertutup akan membantu responden untuk menjawab dengan cepat.  Pertanyaan Tidak Mendua Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua (double barreled) sehingga menyulitkan responden untuk memberikan jawaban. dan tidak mekanistis. sehingga memerlukan instrumen banyak. dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik. model skala pengukuran yang digunakan. maka responden akan patah semangat untuk mengisi 40 . dan cara mengisinya. atau pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan berfikir berat. Pertanyaan atau pernyataan dalam angket perlu dibuat kalimat positif dan negatif agar responden dalam memberikan jawaban setiap pertanyaan lebih serius. atu diacak. adalah bentuk pertanyaan tertutup. maka instrumen itu dibuat bervariasi dalam penampilan.  Panjang Pertanyaan Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang. Hal ini perlu dipertimbangkan karana secara psikologis akan mempengaruhi semangat responden untuk menjawab. sebaiknya juga tidak menanyakan hal-hal yang sekirany responden sudah lupa. Disarankan empirik jumlah pertanyaan yang memadai adalah anatara 20 s/d 30 pertanyaan. interval. atau yang spesifik. Setiap pertanyaan angket yang mengharapkan jawabna beebentuk data nominal.

Observasi (Pengamatan) Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain. dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. maka observasi tidak terbatas pada orang. penelitian berkenaan dengan perilaku manusia. Selanjutnya dari segi instrumen yang digunakan.angket yang telah diterima. instrumen angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variabel yang di ukur. gejala-gejala alam. yaitu wawancara dan kuesioner. proses kerja. Instrumen yang tidak valid dan reliabel bila digunakan untuk mengumpulkan data. maka sebelum instrumen angket tersebut diberikan kepada responden. Kalau wawancara dan kuesioner. Hadi (1986) mengemukakan bahwa. selalu berkomunikasi dengan orang. 3. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila. observasi dapat dibedakan menjadi participant observation (observasi berperan) dan nonparticipant observation. bila dibandingkan angket yang dicetak dikertas yang bagus dan berwarna. b. Prinsip Pengukuran Angket yang diberikan kepada responden merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. akan menghasilkan data yang tidak valid dan reliabel pula. c. Oleh karena itu. Angket yang dibuat dikertas buram. Dua diantara yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan. Tetapi angket yang dicetak dikertas yang bagus dan berwarna akan menjadi mahal. akan mendapat respon yang kurang menarik bagi responden. perlu melakukan uji validitas dan reabilitasnya terlebih dalu. observasi merupakan suatu proses yang kompleks. Prinsip Penampilan Fisik Angket Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket. Urutan pertanyaan yang diacak perlu dibuat bila tingkat kematangan responden terhadap masalah yang ditanyakan sudah tinggi. Supaya diperoleh data penelitian yang valid dan reliabel. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data. 41 . tetapi juga obyek-obyek alam yang lain. suatuproses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis.

dan selanjutnya dapat membuat kesimpulan. Observasi Nonpartisipan Kalau dalam observasi partisipan. tentang apa yang akan diamati. maka dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat hanya sebagai pengamat independen.maka observasi dapat terstruktur. peneliti terlibat langsung dengan aktivitas orang-orang yang sedang diamati. yang terucapkan dan yang tetulis. tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan. 42 . Dengan observasi partisipan ini. menganalisis. maka data yang diperoleh akan lebih lengkap. Jadi observasi terstruktur dilakukanapabila peneliti telahtahu dengan pasti tentang variabel apa yang akan diamati. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakuakan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku. dan ikut merasakan suka dukanya. peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan.  Observasi Terstruktur Observasi struktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis. kapan dan dimana tempatnya. Pengumpulan data dengan observasi nonpatisipan ini tidak akan mendapatkan data yang mendalam. dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak a. peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan oleh sumber data. dan tidak sampai pada tingkat makna. atau angket tertutup dapat juga digunakan sebagai pedomanuntuk melakukan observasi.  Observasi Tidak Terstruktur Observasi tidak terstruktur adalah observasiyang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Peneliti mencata. Observasi Berperanserta (Participant Observation) Dalam observasi ini. Makna adalah nilai di balik perilaku yang tampak. tajam. b. Dalam melakukan pengamatan peneliti menggunakan instrumen penelitian yang telah teruji validitas dan reabilitasnya. dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Pedoman wawancara terstruktur.

maka analisisnya dapat menggunakan statistik deskriptif maupun inferensial. dan tidak ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi dimana sampel diambil. perhitungan persentase. antar lain penyajian data melalui tabel. median. dan membuat perbandingan dengan membandingkan rata-ratadata sampel atau populasi. melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah. melakukan prediksi dengan analisi regresi. Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Penelitian yang dilakukan pada populasi (tanpa diambil sampelnya) jelas akan menggunakan statistik deskriptif dalam analisisnya. pictogram. Dalam statistik deskriptif juga dapat dilakukan mencari kuatnya hubungan anta variabel melalui analisis korelasi. Statistik deskriptif dapat digunakan bila peneliti hanya ingin mendeskripsikan data smapel. Termasuk dalam statistik deskriptif. grafik. 43 . Hanya perlu diketahui bahwa dalam analisis korelasi. 1. yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Terdapat dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian. persentil. diagram lingkaran.K. perhitungan modus. perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi. analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Analisis Data Dalam penelitian kuantitatif. perhitungan desil. mentabulasi daa berdasarkan variabel yang diteliti. mean(pengukuran tendensi sentral). Kegiatan dalam analisis data mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden.Statistik inferensial meliputi statistik parametris dan statisitik nonparametris. maka teknik analisis yang digunakan adalah statistik inferensial. Statistik Deskriptif dan Inferensial Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Tetapi bila penelitian dilakuakan pada sampel. dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Tetapi bila peniliti ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi.

Peluang kesalahan dan kepercayaan ini disebut dengan taraf signifikans. Misalnya uji-t akan digunkan tabel-t. bila peluang kesalahan 1%. simpangan baku σ (sigma). Statistik Parametris dan Nonparametris Pada statistik inferensial terdapat statistik parametris dan nonparametris. Suatu kesimpulan dari data sampel yang akan diberlakukan untuk populasi itu mempunyai peluang kesalahan dan kebenaran (kepercayaan) yang dinyatakan dalam bentuk prosentase. Jadi secara teknis dapat diketahui bahwa. Jadi signifikansi adalah kemampuan untuk digeneralisasikan dengan kesalahan tertentu. Pada setiap tabel sudah disediakan untuk taraf signifikansi berapa persen suatu hasil analisis dapat digeneralisasikan. Bila peluang kesalahan 5% maka taraf kepercayaan 95%. Statistik parametris digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik atau menguji ukuran populasi melalui data sampel. nyata. Ada perbedaan signifikan berarti perbedaan itu dapat digeneralisasikan. Ada hubungan signifikan berarti hubungan itu dapat digeneralisasikan. dan varians σ2 diuji melalui s2 . dan teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara random. sehingga tidak ada kesalahan generalisasi. Parameter populasi itu meliputi rata-rata dengan notasi μ (mu). tidak dapat diabaikan. Statistik ini disebut statistik probabilitas. Statistik inferensial (sering disebut juga statistik induktif atau statistik probabilitas) adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. 44 . karena peneliti tidak bermaksud membuat generalisasi. maka taraf kepercayaan 99%. uji F digunakan tabel F.regresi.(Pengertian statistik disini adalah data yang diperoleh dari sampel). Statistik ini akan cocok digunakan bila sampel diambil dari populasi yang jelas. tidak ada taraf kesalahan. karena kesimpulan yang diberlakukan untuk populasi berdasarkan data sampel itu kebenarannya bersifat peluang (probabbility). Signifikan sering diartikan dengan bermakna. ataumembandingkan dua rata-arata atau lebih tidak perlu diuji signifikansinya. Pengujian taraf signifikansi dari hasil suatu analisis akan lebih praktis bila didasarkan pada tabel sesuai teknik analisis yang digunakan. berarti. dalam statistik deskriptif tidak ada uji signifikansi. 2.

bila asumsi yang melandasi dapat terpenuhi. dalam regresiharus terpenuhi asumsi liniaritas.Sedangkan statistiknya adalah meliputi rata-rata ̅ (X bar). Macam Data: nominal. interval atau ratio b. Asumsi yang utama adalah data yang akan dianalisis harus berdistribusi normal. pengujian parameter melalui statistik (data sampel) tersebut dinamakan uji hipotesis statistik. dan σ2 diuji melalui s2. Dalam statistik hipotesis yang diuji adalah hipotesis nol. dan varians s2 . Penggunaan statistik parametris dan nonparametris tergantung pada asumsi dan jenis data yang akan dianalisis. karena tidak dikehendaki adanya perbedaan antara parameter populasi dan statistik (data yang diperolehdari sampel). dibedakan menjadi dua. Oleh karena itu penelitian yang berhipotesis statistik adalah penelitian yang menggunakan sampel. Oleh karena itu statistik nonparametris sering disebut “distribution free” (bebas distribusi). Dalam hipotesis komparatif. ada dua hal utama yang harus diperhatikan. yaitu macam data dan bentuk hipotesis yang diajukan. Statistik parametris memerlukan terpenuhi banyak asumsi. Jadi untuk menguji hipotesis dalam penelitian kuantitatif yang menggunakanstatistik. Jadi parameter populasi yang berupa μ diuji melalui ̅ . ordinal. 45 . sedangkan statistik nonparametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data nominal dan ordinal. a. Dalam statistik. yaitu komparatif untuk dua sampel dan lebih dari dua sampel. Selanjutnya dalam penggunaan salah satu tes mengharuskan data dua kelompok atau lebih yang diuji harus homogen. simpangan baku s. Penggunaan kedua statistik tersebut juga tergantung pada jenis data yang dianalisis. dan asosiatif. misalnya data yang akan dianalisis tidak harus berdistribusi normal. Statistik parametrik mempunyai kekuatan yang lebih daripada statistik nonparametris. selanjutnya σ diuji melalui s. Statistik parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data interval dan rasio. Statistik nonparametris tidak menuntut terpenuhi banyak asumsi. Bentuk Hipotesis Bentuk hipotesis ada tiga yaitu: hipotesis deskriptif. Statistik nonparametris tidak menguji parameter populasi tetapi menguji distribusi. komparatif.

dibandingkan dengan standar. Hipotesi komparatif merupakaan dugaan ada tidaknya perbedaan secara signifikan nilai-nilai dua kelompok atau lebih. PENGGUNAAN STATISTIK PARAMETRIS DAN NONPARAMETRIS UNTUK MENGUJI HIPOTESIS Deskripti f (Satu Variabel atau Satu Sampel)* * Binomial Nominal satu sampel 2 MACA M DATA BENTUK HIPOTESIS Komparatif Komparatif (Lebih dari Dua (Dua Sampel) Sampel) Related Independen Fisher Exact Probablity Mc Nemar dua sampel Median Test MannWhitney Utest Kolomogoro v Smirnov WaldWoldfowitz Friedman Two-Way Anova 2 Asosiatif (Hubungan) Releted Independen 2 Cochran Q untuk k sampel Contingency Coefficient C Sign test Ordinal Run Test Wilcoxo n matched pairs Median Extension Kruskal Wallis One Way Anova Spearman Rank Correlation Kendall Tau Interval Rasio t-test* t-test of Related t-test* Independent One-Way Anova* Two-Way Anova* One-Way Anova* Two-Way Anova* Korelasi Product Moment* Korelasi Parsial* Korelasi Ganda* 46 .Hipotesi deskriptif yang akan diuji dengan statistik parametris merupakan dugaan terhadap nilai dalam suatu sampel (unit sampel). Hipotesis asosiatif adalah dugaan terhadap ada tidaknya hubungan secara signifikan antara dua variabel atau lebih. sedangkan hipotesis deskriptif yang akan diuji dengan statistik nonparametris merupakan dugaan ada tidaknya perbedaan secara signifikan nilai antar kelompok dalam satu sampel.

Wald-Wolfowitz 47 . Untuk menguji hipotesis deskriptif satu variabel (univariabel) bila datanya berbentuk interval atau ratio. Untuk menguji hipotesis deskriptif satu sampel bila datanya berbentuk ordinal. 3. Untuk menguji hipotesis deskriptif satu sampel (unisampel) bila datanya berbentuk nominal. 4. Fisher exact probability b. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel independent bila datanya berbentuk nominal. maka digunakan t-test dua sampel. Chi kuadrat dua sampel 8. maka digunakan teknik statistik : a. maka digunakan teknik statistik : a. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel independent bila datanya berbentuk ordinal. Kolmorogrov smirnov d. Median Test b. maka digunakan teknik statistik : a. maka digunakan teknik statistik Mc Nemar. maka digunakan t-test satu sampel. Sederhana & Ganda* * ** Statistik Parametris Deskriptif untuk parametris artinya satu variabel dan untuk nonparametris artinya satu sampel Berdasarkan tabel diatas dapat dikemukakan disini bahwa: 1. Wilcoxon matched pairs 6. maka digunakan teknik statistik Run Test. Sign Test b. bila datanya berbentuk interval atau ratio. 5. 7.Regresi. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel yang berpasangan bila datanya berbentuk ordinal. Chi kuadrat satu sampel 2. Mann-Whitney U test c. maka digunakan teknik statistik : a. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel yang berpasangan bila datanya berbentuk nominal. Binomial b. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel yang berpasangan.

13. maka digunakan teknik statistik Chi kuadrat k sampel. b. maka digunakan teknik statistik : a. maka digunakan analisis varians satu jalan maupun dua jalan (One Way dan Two Way Anova). Untuk menguji hipotesis komparatif k sampel independent berbentuk ordinal. Korelasi Parsial digunakan untuk menguji hipotesis hubungan antara dua variabel atau lebih. bila datanya berbentuk interval atau ratio. Median extension b. c. Untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel yang berpasangan. Untuk menguji hipotesis komparatif k sampel yang berpasangan. Korelasi spearman rank b. Korelasi kendal tau 17. Untuk menguji hipotesis asosiatif atau hubungan (korelasi) bila datanya bila datanya berbentuk nominal. maka digunakan teknik statistik Friedman two-way anova. bila datanya bila datanya 48 . Kruskal-wallis one way anova 15. 10. Untuk menguji hipotesis komparatif k sampel independent bila datanya berbentuk nominal. maka digunakan teknik statistik : a. 11. bila datanya berbentuk interval atau ratio. Untuk menguji hipotesis komparatif k sampel yang berpasangan bila datanya berbentuk nominal. Untuk menguji hipotesis asosiatif atau hubungan (korelasi) berbentuk interval atau ratio. Untuk menguji hipotesis asosiatif atau hubungan (korelasi) berbentuk ordinal. maka digunakan t-test sampel berpasangan (related). 14. Korelasi Produk Momen: untuk menguji hipotesis hubungan antara satu variabel independen dengan satu responden. bila terdapat variabel yang dikendalikan.9. Untuk menguji hipotesis komparatif k sampel yang berpasangan bila datanya berbentuk ordinal. 16. Korelasi Ganda bila untuk menguji hipotesis tentang dua variabel independen atau lebih secarabersama-sama dengan satuvariabel dependen. maka digunakan teknik statistik Chocran Q. maka digunakan teknik statistik : a. 12. maka digunakan teknik statistik Koefisien kontingensi.

dan teknik statistik yang akan digunakan untuk pengujian hipotesis. terdapat dua rumusan masalah deskriptif. Judul Penelitian dan Statistik yang Digunakan Untuk Analisis Berikut ini diberikan contoh judul penelitian. pengujian hipotesismenggunakan SEM (Structural Equation Modeling). (Bilaterdapat kesulitan dalammerumuskan hipotesi deskriptif.d. 3. dan satu masalah asosiatif. a. dimana konsep dasar yang digunakan adalah analisis korelasi dan regresi yang berbentuk path analisis. Judul Penelitian PENGARUH KECERDASAN EMOTIONAL TERHADAP KECEPATAN MEMPEROLEH PEKERJAAN LULUSAN SMK DI PEMERINTAHAN PROVINSI MADUKARA. dan 49 . Penelitian yang tersusun dalam paradigmamodel struktural. maka hipotesis itu tidak perlu dirumuskan. bagaimana perubahan nilai variabel dependen bila nilaiindependen dinaikkan atau diturunkan nilainya (dimanipulasi). Dengan demikian juga terdapat dua hipotesis deskriptif dan hipotesis asosiatif. hipotesis. Dua hipotesis diuji dengan statistik yang sama. berbentuk paradigma. untuk judul penelitian yang terdiri atas satu variabel independen dan satu dependen. Bentuk Paradigma X = Kecerdasan Emosional X Y Y=Kecepatan memperoleh pekerjaan Berdasarkan paradigma tersebut terlihat bahwa. b. rumusan masalah. namun harus merumuskan masalahnya. Untuk mencari pengaruh varians variabel dapat digunakan teknik statistik dengan menghitung besarnya koefisien determinasi. Analisi Regresi digunakan untuk melakukan prediksi. Koefisien determinasi dihitung dengan mengkuadratkan koefisien korelasi yang telah ditemukan. Hipotesis penelitian yang akan diuji dalam penelitian berkaitan erat dengan rumusan masalah yang diajukan. tetapi rumusan masalahnya saja yang harus dijawab dengan perhitungan statistik). tetapi perlu diketahui bahwa setiap penelitian tidak harus berhipotesis.

Statistik untuk uji hipotesis Data yang terkumpul adalah data rtio. besarnya pengaruh kecerdasan emotional terhadap prestasi pegawai. DAN TEKNIK ANALISIS DATA YANG DIGUNAKAN (SATU VARIABEL INDEPENDEN) Rumusan Masalah Berapakah rata-rata kecerdasan emotional pegawaidi propinsi Madukara? Hipotesis Kecerdasan emotional (EQ) pegawai di pemerintahan propinsi Madukara paling tinggi 150. Dari contoh di atas. pertama-tama dihitung koefisien korelasinya. c. HIPOTESIS. sedangkan sisanya 51% ditentukan oleh faktor diluar variabel kecerdasan emotional. misalnya IQ.49. Berapakah rata-rata kecepatan memperoleh pekerjaan? Kecepatan memperoleh pekerjaan lulusan SMK paling lama 24 bulan. kedisiplinan. artinya makin tinggi kecerdasan emotional seseorang. Misalnya ditemukan korelasi positif dan signifikan antar kecerdasan emotional dengan prestasikerja pegawai sebesar 0.72 = 0. Bentuk hipotesisnya adalahdeskriptif maka teknik uji untuk hipotesis no 1 dan2 adalah sama.70. maka akan semakin tinggi prestasi kerja pegawai. Jadi dapat disimpulkan varians yang terjadi pada variabel prestasi kerja pegawai 49%. Koefisien determinasi (penentu) dinyatakan dalam persen. hal itu berarti koefisien determinasinya 0. t. yaitu t-test (untuk satu sampel).selanjutnya dikalikan dengan 100%.49.test satu sampel Adakah hubungan Terdapat hubungan Data ke dua variabel adalah 50 . Korelasi positif dan signifikan antara kecerdasan emotional dengan prestasi kerja pegawai sebesar 0. Rumusan Masalah. Atau dapat dinyatakan bahwa pengaruhkecerdasan emotional terhadap tinggi rendahnya prestasi kerja pegawai sama dengan 49%. dan lain-lain. dan Teknik statistik untuk analisis data RUMUSAN MASALAH. Hipotesis.

a. Oleh karena itu dalam statistik yang diuji adalah hipotesis nol. Koefisien diterminasi. oleh karena itu teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah Korelasi Pearson Product Momen Bagaimana pengaruh kecerdasan emotional terhadap prestasi kerja pegawai? Kecerdasan emotional berpengaruh positif terhadap kecepatan memperoleh pekerjaan. yang menyatakan ada perbedaan atara parameter dan statistik. Sedangkan secara statistik hipotesis diartikan sebagai pernyataan mengenai keadaan populasi (parameter) yangakan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian (statistik). Jadi hipotesis nol adalah pernyataan tidak adanya perbedaan antara parameter dengan statistik (data sampel). Kebenaran dari hipotesisi itu harus dibuktikan melalui data yang terkumpul. Konsep Dasar Pengujian Hipotesis Hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Hipotesis nol diberi notasi Ho dan hipotesis alternatif diberi notasi Ha. Taraf Kesalahan Pada dasarnya menguji hipotesis itu adalah menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel. dan analisis regresi sederhana. A point estimate (titik taksiran) adalah suatu taksiran 51 . Pengertian hipotesis tersebut adalah untuk hipotesis penelitian. yaitu a point estimate dan interval estimate. 4. Terdapat dua cara menaksair.yang positif dan signifikan antara kecerdasan emotional dengan kecepatan memperoleh pekerjaan lulusan SMK? yang positif dan signifikan antara kecerdasan emotional dengan kecepatan memperoleh pekerjaan data ratio. Lawan dari hipotesis nol adalah hipotesis alternatif.

Menaksir parameter populasi yang menggunakan nilai tunggal (point estimate) akan mempunyai resiko kesalahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan interval estimate. Makin besar interval taksirannya maka akan semakin kecil kesalahannya. 52 . Sedangkan interval estimate (taksiran interval) adalah suatu taksiran parameter populasi berdasarkan nilai interval rata-rat data sampel. b. berarti terjadi kesalah tipe II (β). Berdasarkan hal tersebut. yaitu : Kesalahan tipe I adalah suatu kesalahan bila menolak hipotesis nol (Ho) yang benar (seharusnya diterima). Tingkat kesalahan ini dinyatakan dengan β (baca beta). Keputusan menerima hipotesis nol yang salah. berarti tidak membuat kesalahan. maka hubungan antara keputusan menolak atau menerima hipotesis dapat ditabelkan sebagai berikut.parameter populasi berdasarkan suatu nilai dari rata-rata data sampel.  Kesalahan tipe II adalah kesalahan bila menerima hipotesis yang salah (seharusnya ditolak). HUBUNGAN ANTARA KEPUTUSAN MENOLAK ATAU MENERIMA HIPOTESIS Keputusan Terima Hipotesis Menolak Hipotesis Keadaan Sebenarnya Hipotesis Benar Tidak membuat kesalahan Kesalahan tipe I (α) Hipotesis Salah Kesalahan tipe II (β) Tidakmembuat kesalahan Dari tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:   Keputusan menerima hipotesis nol yang benar. kemungkinan akan terdapat dua kesalahan. Dalam hal ini tingkat kesalahan dinyatakan dengan α (baca alpha). Dua Kesalahan dalam Menguji Hipotesis Dalam  menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel.

maka hipotesis yang dirumuskan 100% diterima. Jadi tidak terdapat kesalahan. Keputusan menolak hipotesis nol yang salah. c.  Membuat keputusan menolak hipotesis nol yang benar. Kesalahan ini semakin besar bila nilai statistik jauh dari nilai parameter populasi. dan pihak kanan.Biasanya tingkat signifikansi (tingkat kesalahan) yang diambil adalah 1% dan 5%. Dalam prakteknya tingkat signifikansi telah ditetapkan oleh peneliti terlebih dahulu sebelum hipotesis diuji. maka akan terdapat satu kesimpulan salah yang diberlakukan untuk populasi. yaitu uji dua pihak (two tail). Suatu hipotesis terbukti dengan mempunyai kesalahan 1% berarti bila penelitian dilakukan pada 100 sampel yang diambil dari populasi yang sama. pihak kiri. Macam Penguji Hipotesis Terdapat tiga macam bentuk pengujian hipotesis. (data dari satu sampel tersebut tidak dapat diberlakukan ke populasi dimana sampel tersebut diambil) Dalam hipotesis kebanyakan digunakan kesalahan tipe I yaitu berapa persen kesalahan untuk menolak hipotesis nil (Ho) yang benar (yang seharusnya diterima).  Uji Dua Pihak (Two Tail Test) Uji dua pihak digunakan bila hipotesis nol (Ho) berbunyi “sama dengan” dan hipotesis alternatifnya (Ha) berbunyi “tidak sama dengan” (Ho= . Tetapi bila nilai statistik di luar nilai parameter populasi akan terdapat kesalahan. Tingkat kesalahan ini selanjutnya dinamakan level of significant atau tingkat signifikansi. Ha ≠) Contoh hipotesis deskriptif (satu sampel) : Hipotesis nol : Daya tahan lampu merk X = 400 jam Ho : µ = 400 jam Hipotesis alternatif : Daya tahan lampu merk X ≠ 400 jam 53 . berarti tidak kesalahan. Jenis uji mana yang akan dipakai tergantung pada bunyi kalimat hipotesis. Bila nilai statistik (data sampel) yang diperoleh dari hasil pengumpulan membuat data sama dengan nilai parameter populasi atau masih berada pada nilai interval parameter populasi. berarti terjadi kesalah tipe I (α).

kata lebih kecil atau sama dengan sinonim “kata paling sedikit atau paling kecil”. Contoh hipotesis deskriptif (satu sampel) : Hipotesis nol : Daya tahan lampu merk A paling rendah atau sedikit 400 jam atau lebih besar dan sama dengan Hipotesis alternatif : Daya tahan lampu merk A lebih kecil 400 jam Ho : µ ≥ 400 jam Ha : µ 400 jam : Tidak ada hubungan antar X dengan Y : Terdapat hubungan antara X dengan Y = 0 (berarti tidak ada hubungan) ≠ 0 (berarti ada hubungan) Contoh hipotesis komparatif (dua sampel) : Hipotesis nol : Daya tahan lampu merk A paling sedikit sama dengan lampu merk B. Hipotesis alternatif Ho : µ1 ≥ µ2 Ha : µ1 µ2 : Daya tahan lampu merk A lebih kecil dari merk B µ1 : lampu merk A dan µ2 : lampu merk B 54 .Ha : µ ≠ 400 jam Ho : µ = 400 jam Ha : µ ≠ 400 jam Contoh hipotesis komparatif (dua sampel) : Hipotesis nol : Daya tahan lampu merk A = merk B Ho : µ1 = µ2 (tidak ada) Hipotesis alternatif : Daya tahan lampu merk A ≠ merk B Ha : µ1 ≠ µ2 (berbeda) Ho : µ1 = µ2 (tidak ada) Ha : µ1 ≠ µ2 (berbeda) Contoh hipotesis asosiatif Hipotesis nol Hipotesis alternatif Ho : Ha :  Uji Pihak Kiri Uji pihak kiri digunakan apabila hipotesis nol (Ho) berbunyi “lebih besar sama dengan” (≥) dan hipotesis alternatifnya berbunyi “lebih kecil” ( ).

Ho : Ha : L. kata lebih besar atau sama dengan sinonim “kata paling sedikit atau paling besar”. : Daya tahan lampu merk B lebih besar dari 400 jam : Hubungan antara X dengan Y lebih kecil dari 0.65 0.65 0.65.65 Ho : µ ≤ 400 jam Ha : µ 400 jam Contoh hipotesis komparatif (dua sampel) : Hipotesis nol : Daya tahan lampu merk A paling besar (tinggi) sama dengan lampu merk B. Hipotesis alternatif Ho : µ1 ≤ µ2 Ha : µ1 Contoh hipotesis asosiatif Hipotesis nol : Hubungan antara X dengan Y paling besar (tinggi) 0.65.maka hasil tersebut akan di uji ≤ 0.65.Contoh hipotesis asosiatif Hipotesis nol : Hubungan antara X dengan Y paling sedikit (kecil) 0.65. Pengujian Statistik Dalam melakukan penelitian eksperimen. Hipotesis alternatif : Hubungan antara X dengan Y lebih besar dari 0. Contoh hipotesis deskriptif (satu sampel) : Hipotesis nol Hipotesis alternatif : Daya tahan lampu merk A paling lama 400 . ≥ 0.setelah rancangan dibuat dan dilakukan pengambilan data yang sesuai . Hipotesis alternatif Ho : Ha :  Uji Pihak Kanan Uji pihak kanan digunakan apabila hipotesis nol (Ho) berbunyi “lebih kecil sama dengan” (≤) dan hipotesis alternatifnya berbunyi “lebih besar” ( ).65 µ2 : Daya tahan lampu merk A lebih besar dari merk B µ1 : lampu merk A dan µ2 : lampu merk B 55 .

seperti pada penelitian eksperimen yang membandingkan dua kelompok. yang sama pada semua ciri yang relevan kecuali satu. Jika hipotesis nol salah. Untuk menghindari kesalahan jenis pertama dan kedua peneliti sebelum eksperimen perlu menetapkan ukuran seberapa kuat bukti itu sebelum menolak hipotesis nol.01 berarti bahwa hipotesis nol itu akan ditolak apabila kemungkinan hubungan yang disebabkan oleh faktor kebetulan saja adalah satu dalam seratus.01 dan 0. Penelitian ex post facto dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang hubungan antara variabel bebas dan terikat. Taraf signifikasi adalah resiko terjadinya kesalahan jenis pertama yang siap di ambil oleh peneliti dalam penolakan hipotesis nol. Alat utamanya sering disebut hipotesis. Maka peneliti benar jika menerimanya dan salah jika menolaknya. Hipotesis nol adalah suatu poernyataan bahwa tidak ada hubungan antara variabel-variabel yang dibicarakan dan setiap hubungan-hubungan yang tampak hanyalah kebetulan saja.05. peneliti dalam mengambil kesimpulan bisa jadi menolak atau menerima hipotesis. Yaitu ilmu yang membuat keputusan yang masuk akal dengan menggunakan keterangan yang terbatas. Kalau peneliti menetapkan taraf signifikasi 0. Penerimaan hipotesis nol yang salah dinamakan kesalahan jenis kedua. Ukuran itu dinamakan taraf signifikasi.ilmu yang diterapkan adalah statistik inferensial. M.penolakan hipotesis nol yang benar dinamakan kesalahan jenis pertama. guna mengukur pengaruh ciri itu.taraf signifikasi yang lazim dalam pendidikan adalah 0.menggunakan uji statistik.peneliti salah jika menerimanya dan benar kalau menolaknya. 56 . Penelitian Ex post Facto Penelitian ex post facto adalah suatu penyelidikan empiris yang sistematis dengan tanpa pengendalian variabel bebas secara langsung karena variabel tersebut telah terjadi atau karena variabel tersebut pada dasarnya memang tidak dapat dimanipulasi. Keputusan yang diambil bisa salah dan bisa benar.

W Lawrence. Gay. 2010. Carbondale: Southern illinois University. Research Methods for Business. Arikunto. 2010. Siswono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wiersma Wiliam. Boston.R. 1983. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.Forth Edition. L. dan R&D. Ohio: A Bell & Howell Company. Sugiyono. Suharsimi. Social Research Methods. 2003. Surabaya: Unesa University Press. Jakarta: Rineka Cipta. Penelitian Pendidikan Matematika. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. New York: AB. An Introduction. Uma Sekaran. Toronto. 2nd Edition. Allyn and Bacon Inc. Research methods in Education. 1984. London. 1986. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI). Sydney. 57 . 1985.DAFTAR PUSTAKA Alsa. Asmadi. Qualitative and Quantitative Approach. Tatag Yuli Eko. Sutrisno. Hadi. Metodologi Research Jilid 4. Kualitatif. Boston. Neuman. Bandung: Alfabeta. Educational Research Competencies for Analsis & Application. 2004. Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. 2006.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful