You are on page 1of 30

A. KONSEP DASAR 1. DEFINISI Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi/peradangan pada satu atau lebih dari sinus paranasal.

Sinus merupakan suatu rongga atau ruangan berisi udara dengan dinding yang terdiri dari membran mukosa. 2. ETIOLOGI

Sinusitis akut Penyebabnya dapat virus, bakteri, atau jamur. Menurut Gluckman, kuman penyebab sinusitis akut tersering adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae yang ditemukan pada 70% kasus. Dapat disebabkan rinitis akut; infeksi faring, seperti faringitis, adenoiditis, tonsilitis akut; infeksi gigi molar M1, M2, M3 atas, serta premolar P1, P2; berenang dan menyelam; trauma; dan barotrauma. Faktor predisposisi obstruksi mekanik, seperti deviasi septum, benda asing di hidung, tumor, atau polip. Juga rinitis alergi, rinitis kronik, polusi lingkungan, udara dingin dan kering. Sinusitis kronik Polusi bahan kimia, alergi, dan defisiensi imunologik menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. Perubahan ini mempermudah terjadinya infeksi. Terdapat edema konka yang mengganggu drainase sekret, sehingga silia rusak, dan seterusnya. Jika pengobatan pada sinusitis akut tidak adekuat, maka akan terjadi infeksi kronik.

7089-4764-4232-0623-3038-1682

3. MANIFESTASI KLINIK

Keluhan utama dari pasien bervariasi, akan tetapi semuanya berkaitan dengan nyeri dan tekanan pada sinus yang disertai dengan sakit kepala. Pada sinusitis akut, pasien akan mengalami nyeri yang amat sangat dan sifatnya menetap. Pada sinusitis kronis, sering tidak nyeri dan sifatnya bisa menetap atau bisa juga hilang timbul (intermiten). Tekanan dan nyeri yang dirasa akan semakin memberat dalam 3-4 jam setelah bangun tidur, karena akumulasi eksudasi pada sinus. Gejala lainnya menunjukkan adanya demam, sakit tenggorokan, postnasal drips, dan aliran sekret dari nasal. 4. PEMERIKSAAN PENUNJANG Diagnosa meliputi pemeriksaan dengan menggunakan transiluminasi yaitu dengan cara lampu senter yang menyala ditempelkan diatas sinus maksila dengan mulut dalam keadaan tertutup untuk mengamati cahaya terang pada ruangan sinus yang normal karena sinus normal hanya terisi udara. Apabila ditemukan daerah yang gelap menandakan adanya sekresi purulen dan penyumbatan sinus. Pemeriksaan dengan sinar-X pada sinus dan endoskopi nasal juga bisa dilakukan, akan tetapi ini lebih jarang dilakukan, kecuali pasien memiliki penyakit kronis dan berulang. Tomografi komputer diindikasikan untuk evaluasi sinusitis kronik yang tidak membaik dengan terapi, sinusitis dengan komplikasi, evaluasi preoperatif, dan jika ada dugaan keganasan. Magnetic Resonance Imaging (MRI) lebih baik daripada tomografi komputer dalam resolusi jaringan lunak dan sangat baik untuk membedakan sinusitis karena jamur, neoplasma, dan perluasan intrakranialnya, namun resolusi tulang tidak tergambar baik dan harganya mahal. 5. PENATALAKSANAAN Sinusitis akut Tujuan pengobatan sinusitis akut adalah untuk mengontrol infeksi, memulihkan kondisi mukosa nasal, dan menghilangkan nyeri. Antibiotik pilihan untuk kondisi ini adalah amoksisilin dan

ampisilin. Alternatif bagi pasien yang alergi terhadap penisilin adalah trimetoprim/sulfametoksazol (kekuatan ganda) (Bactrim DS, Spetra DS). Dekongestan oral atau topikal dapat saja diberikan. Kabut dihangatkan atau diirigasi salin juga dapat efektif untuk membuka sumbatan saluran, sehingga memungkinkan drainase rabas purulen. Dekongestan oral yang umum adalah Drixoral dan Dimetapp. Dekongestan topikal yang umum diberikan adalah Afrin dan Otrivin. Dekongestan topikal harus diberikan dengan posisi kepala pasien ke belakang untuk meningkatkan drainase maksimal. Jika pasien terus menunjukkan gejala setelah 7-10 hari, maka sinus perlu diirigasi. Sinusitis kronis Penatalaksanaan medis sinusitis kronik sama seperti penatalaksanaan sinusitis akut. Pembedahan diindikasikan pada sinusitis kronis untuk memperbaiki deformitas struktural yang menyumbat ostia (ostium) sinus. Pembedahan dapat mencakup eksisi atau kauterisasi polip, perbaikan penyimpangan septum, dan menginsisi serta mendrainase sinus. Sebagian pasien dengan sinusitis kronis parah mendapat kesembuhan dengan cara pindah ke daerah dengan iklim yang kering. B. ASUHAN KEPERAWATAN I. PENGKAJIAN Riwayat kesehatan pasien yang lengkap yang menunjukkan kemungkinan tanda dan gejala sakit kepala, sakit tenggorok, dan nyeri sekitar mata dan pada kedua sisi hidung, kesulitan menelan, batuk, suara serak, demam, hidung tersumbat, dan rasa tidak nyaman umum dan keletihan. Menetapkan kapan gejala mulai timbul, apa yang menjadi pencetusnya, apa jika ada yang dapat menghilangkan atau meringankan gejala tersebut, dan apa yang memperburuk gejala tersebut adalah bagian dari pengkajian, juga mengidentifikasi setiap riwayat alergi atau adanya penyakit yang timbul bersamaan. II. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d sekresi berlebihan sekunder akibat proses inflamasi. 2. Nyeri b/d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi. 3. Gangguan komunikasi verbal b/d iritasi jalan napas atas akibat infeksi atau pembengkakan. 4. Defisit volume cairan b/d peningkatan kehilangan cairan akibat diaforesis yang berkaitan dengan demam. 5. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi tentang penyakit yang diderita dan pengobatannya. III. INTERVENSI

1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d sekresi berlebihan sekunder akibat proses inflamasi. Tujuan: Potensi jalan napas dengan cairan sekret mudah dikeluarkan. Intervensi: 1) Tingkatkan masukan cairan. Tawarkan air hangat daripada dingin. R/ Cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan sekret. 2) Ciptakan lingkungan yang lembab dengan vaporizer ruangan atau menghirup uap. R/ Mengencerkan sekresi dan mengurangi inflamasi membran mukosa. 3) Instruksikan posisi yang terbaik, mis: posisi tegak. R/ Meningkatkan drainase dari sinus. 2. Nyeri b/d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi. Tujuan: Nyeri teratasi atau berkurang. Intervensi: 1) Kaji tingkat nyeri dengan skala 0-10. R/ Memudahkan perawat dalam menentukan tingkat nyeri dan alat untuk evaluasi keefektifan analgesik, meningkatkan kontrol nyeri. 2) Catat lokasi dan faktor-faktor pencetus nyeri. R/ Membantu dalam menentukan penanganan/manajemen nyeri dan keefektifan asuhan. 3) Sarankan pasien untuk istirahat. R/ Membantu menghilangkan rasa tidak nyaman umum atau demam. 4) Dorong pasien untuk menggunakan analgesik, seperti asetaminofen (Tylenol) dengan kodein, sesuai yang diresepkan. R/ Mempertahankan kadar obat lebih konstan menghindari puncak periode nyeri dan kenyamanan/koping emosi. 3. Gangguan komunikasi verbal b/d iritasi jalan napas atas akibat infeksi atau pembengkakan. Tujuan: Menyatakan kebutuhan dalam cara yang efektif. Intervensi: 1) Tentukan apakah pasien mempunyai gangguan komunikasi lain, contoh pendengaran, penglihatan, literasi. R/ Adanya masalah lain akan mempengaruhi rencana untuk pilihan komunikasi. 2) Berikan cara-cara yang cepat dan kontinu untuk memanggil perawat, contoh lampu/bel pemanggil. R/ Pasien memerlukan keyakinan bahwa perawat waspada dan akan berespon terhadap panggilan. 3) Berikan pilihan cara berkomunikasi yang tepat bagi kebutuhan pasien, mis:papan dan pensil, magic slate, papan alfabet/gambar, bahasa isyarat. R/ Memungkinkan pasien untuk menyatakan kebutuhan/masalah. 4) Instruksikan pasien untuk tidak berbicara / menghindari pembicaraan sedapat mungkin. R/ Regangan pita suara lebih lanjut dapat menghambat pulihnya suara dengan sempurna.

4. Defisit volume cairan b/d peningkatan kehilangan cairan akibat diaforesis yang berkaitan dengan demam. Tujuan: Menunjukkan keseimbangan cairan dengan parameter individual yang tepat, mis: membran mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, tanda vital stabil. Intervensi: 1) Kaji perubahan tanda vital, contoh: peningkatan suhu/demam memanjang, takikardia, hipotensi ortostatik. R/ Peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkatkan laju metabolik dan kehilangan cairan melalui evaporasi. TD ortostatik berubah dan peningkatan takikardia menunjukkan kekurangan cairan sistemik. 2) Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa (bibir, lidah). R/ Indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena napas mulut dan oksigen tambahan. 3) Pantau masukan dan haluaran, catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Waspadai kehilangan yang tak tampak. R/ Memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian. 4) Anjurkan pasien untuk minum 2 sampai 3 liter cairan sehari (kecuali ada kontraindikasi). R/ Pemenuhan kebutuhan dasar cairan, menurunkan risiko dehidrasi. 5. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi tentang penyakit yang diderita dan pengobatannya. Tujuan: Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan. Intervensi: 1) Berikan penjelasan pada pasien tentang proses penyakitnya. R/ Menambah pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya. 2) Tekankan pentingnya perawatan oral / kebersihan gigi. R/ Menurunkan pertumbuhan bakteri pada mulut, dimana dapat menimbulkan infeksi saluran napas atas. 3) Instruksikan pasien tentang pentingnya tindakan kesehatan yang baik, diet yang bergizi, olahraga yang sesuai, istirahat serta tidur yang cukup. R/ Mendukung daya tahan tubuh dan mengurangi kerentanan terhadap infeksi pernapasan. 4) Instruksikan pasien tentang cara mencegah infeksi silang pada anggota keluarga ataupun orang lain. R/ Mencegah penyebaran infeksi. IV. EVALUASI 1. Potensi jalan napas dengan cairan sekret mudah dikeluarkan. 2. Nyeri teratasi atau berkurang. 3. Menyatakan kebutuhan dalam cara yang efektif.

4. Menunjukkan keseimbangan cairan dengan parameter individual yang tepat, mis: membran mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, tanda vital stabil. 5. Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Vol 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Charles, J.Reeves, dkk. 2001. Buku 1 Keperawatan Medikal Bedah Ed. I. Salemba Medika. Jakarta. Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Ed.3.EGC. Jakarta.

Askep sinusitis Sinusitis A. Pengertian Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus.

B. Etiologi

1. Rinogen Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh :


Rinitis Akut (influenza) Polip, septum deviasi

2. Dentogen Penjalaran infeksi dari gigi geraham atas Penyebabnya adalah kuman :

Streptococcus pneumoniae Hamophilus influenza Steptococcus viridans Staphylococcus aureus Branchamella catarhatis

C. Tanda dan Gejala 1. 2.


Febris, pilek kental, berbau, bisa bercampur darah Nyeri pada : Pipi : biasanya unilateral Kepala : biasanya homolateral, terutama pada sorehari Gigi (geraham atas) homolateral. Hidung : buntu homolateral Suara bindeng

3.

D. Pemeriksaan Penunjang 1.

Rinoskopi anterior : Mukosa merah Mukosa bengkak Mukopus di meatus medius

2.

Rinoskopi postorior Mukopus nasofaring Nyeri tekan pipi yang sakit Transiluminasi : kesuraman pada ssisi yang sakit X Foto sinus paranasalis Kesuraman Gambaran airfluidlevel Penebalan mukosa

3. 4. 5.

E. Penatalaksanaan 1.

Drainage Medical : Dekongestan lokal : efedrin 1%(dewasa) %(anak) Dekongestan oral :Psedo efedrin 3 X 60 mg Surgikal : irigasi sinus maksilaris. Antibiotik diberikan dalam 5-7 hari (untk akut) yaitu : Ampisilin 4 x 500 mg Amoksilin 3 x 500 mg Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet Diksisiklin 100 mg/hari Simtomatik Prasetamol, metampiron 3 x 500 mg. Untuk kronis adalah : Cabut geraham atas bila penyebab dentogen Irigasi 1 x setiap minggu (10-20) Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi)

2.

3.

4.

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis A. Pengkajian 1. Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,,

2. Riwayat Penyakit sekarang : penderita mengeluah hidung tersumbat,kepala pusing, badan terasa panas, bicara bendeng. 3. 4.

Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, tenggorokan. Riwayat penyakit dahulu : Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma Pernah mempunyai riwayat penyakit THT Pernah menedrita sakit gigi geraham

5. Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang. 6.

Riwayat spikososial Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih) Interpersonal : hubungan dengan orang lain. Pola fungsi kesehatan

7.

Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping.

Pola nutrisi dan metabolisme Biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung

Pola istirahat dan tidur Selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek

Pola Persepsi dan konsep diri Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun

Pola sensorik Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).

8.

Pemeriksaan fisik status kesehatan umum : keadaan umum , tanda viotal, kesadaran.

Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinuskopi (mukosa merah dan bengkak). B. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri : kepala, tenggorokan , sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung

2. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis(irigasi sinus/operasi) 3. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi /adnya secret yang mengental 4. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hiidung buntu., nyeri sekunder peradangan hidung 5. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus 6. C. Intervensi 1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung Tujuan : Nyeri klien berkurang atau hilang Kriteria hasil :

Gangguan konsep diri berhubungan dengan bau pernafasan dan pilek

Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang Klien tidak menyeringai kesakitan.

Intervensi :

Kaji tingkat nyeri klien R/: Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya

Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya R/: Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri

Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi R/: Klien mengetahui tehnik distraksi dn relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri

Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien R/: Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien.

Kolaborasi dengan tim medis : Terapi konservatif : Obat Acetaminopen; Aspirin, dekongestan hidung Drainase sinus Pembedahan : Irigasi Antral : Untuk sinusitis maksilaris

Operasi Cadwell Luc R/: Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien 2. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis (irigasi/operasi) Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang Kriteria hasil:

Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya

Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya. Intervensi :

Kaji tingkat kecemasan klien R/: Menentukan tindakan selanjutnya


Berikan kenyamanan dan ketentaman pada klien : Temani klien

Perlihatkan rasa empati(datang dengan menyentuh klien) R/: Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan

Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan, tenang seta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti R/: Meingkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit tersebut sehingga klien lebih kooperatif

Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya :

Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang

Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan R/: Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan ketenangan klien.

Observasi tanda-tanda vital R/: Mengetahui perkembangan klien secara dini.

Bila perlu, kolaborasi dengan tim medis R/: Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien

3. Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi (penumpukan secret hidung) sekunder dari peradangan sinus Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret (seous, purulen) dikeluarkan Kriteria hasil :

Klien tidak bernafas lagi melalui mulut Jalan nafas kembali normal terutama hidung

Intervensi :

Kaji penumpukan secret yang ada R/: Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya

Observasi tanda-tanda vital R/: Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi

Koaborasi dengan tim medis untuk pembersihan sekret R/: Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret/masalah DAFTAR PUSTAKA Doenges, M. G. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 EGC, Jakarta 2000 Lab. UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan tenggorokan FK Unair, Pedoman diagnosis dan Terapi Rumah sakit Umum Daerah dr Soetom FK Unair, Surabaya Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) SINUSITIS BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sinusitis merupakan penyakit yang sangat lazim diderita di seluruh dunia, hampir menimpa kebanyakan penduduk Asia. Penderita sinusitis bisa dilihat dari ibu jari bagian atas yang kempot. Sinusitis dapat menyebabkan seseorang menjadi sangat sensitif terhadap beberapa bahan, termasuk perubahan cuaca (sejuk), pencemaran alam sekitar, dan jangkitan bakteri. Gejala yang mungkin terjadi pada sinusitis adalah bersin-bersin terutama di waktu pagi, rambut rontok, mata sering gatal, kaki pegal-pegal, cepat lelah dan asma. Jika kondisi ini berkepanjangan akan meimbulkan masalah keputihan bagi perempuan, atau ambeien (gangguan prostat) bagi laki-laki. Menurut Lucas seperti yang di kutip Moh. Zaman, etiologi sinusitis sangat kompleks, hanya 25% disebabkan oleh infeksi, sisanya yang 75% disebabkan oleh alergi dan ketidakseimbangan pada sistim saraf otonom yang menimbulkan perubahan-perubahan pada mukosa sinus. Suwasono dalam penelitiannya pada 44 penderita sinusitis maksila kronis mendapatkan 8 di antaranya (18,18%) memberikan tes kulit positif dan kadar IgE total yang meninggi. Terbanyak pada kelompok umur 21-30 tahun dengan frekuensi antara laki-laki dan perempuan seimbang. Hasil positif pada tes kulit yang terbanyak adalah debu rumah (87,75%), tungau (62,50%) dan serpihan kulit manusia (50%). Sebagian besar kasus sinusitis kronis terjadi pada pasien dengan sinusitis akut yang tidak respon atau tidak mendapat terapi. Peran bakteri sebagai dalang patogenesis sinusitis kronis saat ini sebenarnya masih dipertanyakan. Sebaiknya tidak menyepelekan pilek yang terus menerus karena bisa jadi pilek yang tak kunjung sembuh itu bukan sekadar flu biasa. Oleh karena faktor alergi merupakan salah satu penyebab timbulnya sinusitis, salah satu cara untuk mengujinya adalah dengan tes kulit epidermal berupa tes kulit cukit (Prick test, tes tusuk) di mana tes ini cepat, simpel, tidak menyakitkan, relatif aman dan jarang menimbulkan reaksi anafilaktik. Uji cukit (tes kulit tusuk) merupakan pemeriksaan yang paling peka untuk reaksireaksi yang diperantarai oleh IgE dan dengan pemeriksaan ini alergen penyebab dapat ditentukan.

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana anatomi dari sinus? 1.2.2 Apa definisi dari sinusitis?

1.2.3 Apa manifestasi klinis dari sinusitis? 1.2.4 Bagaimana etiologi dari sinusitis? 1.2.5 Bagaimana patofisiologi dari sinusitis? 1.2.6 Apa saja pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada penderita sinusitis? 1.2.7 Bagaimana penatalaksanaan dari sinusitis? 1.2.8 Apa saja komplikasi dari sinusitis? 1.2.9 Bagaimana woc (web of caution) dari sinusitis? 1.2.10 Bagaimana asuhan keperawatan yang harus dilakukan pada penderita sinusitis? 1.3 Tujuan 1.3.1 Dapat mengetahui anatomi sinus. 1.3.2 Dapat memahami definisi sinusitis. 1.3.3 Dapat mengetahui manifestasi klinis dari sinusitis. 1.3.4 Dapat mengetahui etiologi dari sinusitis. 1.3.5 Dapat memahami patofisiologi dari sinusitis. 1.3.6 Dapat memahami pemeriksaan diagnostic yang perlu dilakukan pada penderita sinusitis. 1.3.7 Dapat mengetahui penatalaksanaan dari sinusitis. 1.3.8 Dapat mengetahui komplikasi dari sinusitis. 1.3.9 Dapat memahami woc (web of caution) dari sinusitis. 1.3.10 Dapat memberikan asuhan keperawatan yang sesuai pada penderita sinusitis. 1.4 Manfaat Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami dan membuat asuhan keperawatan pada klien dengan sinusitis, serta mampu mengimplementasikannya dalam proses keperawatan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatoni Sinus Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit dideskripsi karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila,sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenid kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sfenoid dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat bayi lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian posterosuperior rongga hidung. Sinus sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun.

1. SINUS MAKSILA Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-8 ml,sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal,yaitu 15 ml saat dewasa. Sinus maksila berbentuk pyramid. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra-temporal mkasila, dinding medialnya ialah dinding dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid. Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah 1) dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu premolar (P1 dan P2), molar (M1 danM2), kadang kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar M3,bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis; 2) Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita; 3) Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drenase hanya tergantung dari gerak silia, lagi pula dreanase juga harus melalui infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis. 1. SINUS FRONTAL Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke empat fetus, berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun. Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar dari lainya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan kuran lebih 5% sinus frontalnya tidak berkembang. Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm dan dalamnya 2 cm. sinus fronta biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Taidak adanya gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen menunjukan adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relative tipis dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus fronta mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrenase melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal, yang berhubungan dengan infundibulum etmoid. 1. SINUS ETMOID Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhir-akhir ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan focus bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti pyramid dengan dasarnya di bagian posterior. Ukuran dari anterior

ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4 cm dan lebarnya 0,5 cm dibagian anterior dan 1,5 cm dibagian posterior. Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak diantar konka media dan dinding dinding medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi. Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Sel-sel sinus etmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya di depan lempeng yang menghubungkan bagian posterior konka media dengan dinding lateral ( lamina basalis), sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya dan terletak diposterior dari lamina basalis. Dibagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus frontal, yang berhubungan sinus frontal. Selo etmoid yang terbesar disebut bula etmoid. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang di sebut infundibulum, tempat bermuaranya ostium sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan diresesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila. Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribrosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid darirongga orbita. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid. 1. SINUS SFENOID Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm tingginya, dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. volumenya bervariasi dari 5 sampai 7,5 ml. saat sinus berkembang, pembuluh darah dan nervus dibagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indensitasi pada dinding sinus sfenoid. Batas-batasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan a.karotis interna (sering tampak sebagai indentasi) dan disebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior didaerah pons. 1. KOMPLEKS OSTIO-MEATAL Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius, ada muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior. Daerah ini rumit dan sempit, dan dinamakan kompleks ostio-meatal (KOM), terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila. 1. SISTEM MUKOSILIAR

Seperti pada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa bersilia dan palut lendir diatasnya. Di dalam sinus silia bergerak secara teratur untuk mengalirkan lendir menuju ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang sudah tertentu polanya. Pada dinding lateral hidung terdapat 2 aliran transport mukosiliar dari sinus. Lendir yang berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infundibulum etmoid dialirkan ke nasofaring di depan muara tuba Eusthacius. Lendir yang berasal dari kelompok sinus posterior bergabung diresesus sfenoetmoedalis, dialirkan ke nasofaring di posterior-superior muara tuba. Inilah sebabnya pada sinusitis di dapati secret pasca-nasal (post nasal drip), tetapi belum tentu ada secret di rongga hidung. 1. FUNGSI SINUS PARANASAL Sampai saat ini belum ada persesuaian pendapat mengenai fisiologi sinus paranasal. Ada yang berpendapat bahwa sinus paranasal ini tidak mempunyai fungsi apa-apa, karena terbentuknya sebagai akibat pertumbuhan tulang muka. Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain: 1. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning) Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban udara inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah karean ternyata tidak didapati pertukaran udara yang definitive antara sinus dan rongga hidung. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga di butuhkan beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus. Lagi pula mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung. 1. Sebagai penahan suhu (thermal insulators) Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi orbita dan fosa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataanya sinus-sinus yang besar tidak terletak di antara hidung dan organ-organ yang di lindungi. 1. Membantu keseimbangan kepala Sinus membantu keseimbanga kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya aka memberikan pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna. 1. Membantu resonasi suara Sinus ini mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonasi suara dan mempengaruhi kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus

berfungsi sebagai resonator yang efektif. Lagi pula tidaj ada kolerasi antara resonasi suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah. 1. Sebagai peredam perubahan tekanan udara Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus. 1. Membantu produksi mucus Mucus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan dengan mucus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang masuk dengan udara inspirasi karena mucus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling strategis. 2.2 Definisi Sinusitis Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktik dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia. Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Penyebab utamanya adalah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang paling sering terkena ialah sinus etmoid dan maksila, sedangkan sinus frontal lebih jarang dan sinus sphenoid lebih jarang lagi. Sinus maksila disebut juga antrum Highmore, letaknya dekat akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus, disebut sinusitis dentogen. Sinusitis dapat berbahaya karena menyebabkan komplikasi ke orbita dan intracranial, serta menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati. Sinusitis sendiri dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu 1. Sinusitis akut : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 3 minggu.

Macam-macam sinusitis akut, yaitu sinusitis maksila akut, sinusitis emtmoidal akut, sinus frontal akut, dan sinus sphenoid akut. 1. Sinusitis kronis : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 3-8 minggu tetapi dapat juga berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. 2.3 Etiologi 2.3.1 Pada Sinusitis Akut, yaitu 1. Infeksi virus Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus).

1. Bakteri Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae,Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut. 1. Infeksi jamur Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem kekebalan, contohnya jamur Aspergillus. 1. Peradangan menahun pada saluran hidung Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor. 1. Septum nasi yang bengkok 2. Tonsilitis yg kronik

2.3.2 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Pada Sinusitis Kronik, yaitu Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh. Alergi Karies dentis ( gigi geraham atas ) Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa. Benda asing di hidung dan sinus paranasal Tumor di hidung dan sinus paranasal.

2.4 Manifestasi Klinis 2.4.1 Sinusitis maksila akut Gejala : Demam, pusing, ingus kental di hidung, hidung tersumbat,m nyeri tekan, ingus mengalir ke nasofaring, kental kadang-kadang berbau dan bercampur darah. 2.4.2 Sinusitis etmoid akut Gejala : Sekret kental di hidung dan nasofaring, nyeri di antara dua mata, dan pusing. 2.4.3 Sinusitis frontal akut Gejala : Demam,sakit kepala yang hebat pada siang hari, tetapi berkurang setelah sore hari, sekret kental dan penciuman berkurang. 2.4.4 Sinusitis sphenoid akut

Gejala : Nyeri di bola mata, sakit kepala, dan terdapat sekret di nasofaring 2.4.5 Sinusitis Kronis Gejala : Flu yang sering kambuh, ingus kental dan kadang-kadang berbau,selalu terdapat ingus di tenggorok, terdapat gejala di organ lain misalnya rematik, nefritis, bronchitis, bronkiektasis, batuk kering, dan sering demam. 2.5 Patofisiologi Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam KOM. Mukus juga mengandung substansi antimicrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negative di dalam ronga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini biasa dianggap sebagai rinosinusitis non-bacterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Bila kondisi ini menetap, secret yang terkumpul dalam sinus merupakan media baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Secret menjadi purulen. Keadaan ini disebut sebagai rinosinusitis akut bacterial dan memerlukan terapi antibiotic. Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena ada factor predisposisi), inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bacteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan operasi. Klasifikasi dan mikrobiologi: Consensus international tahun 1995 membagi rinosinusitis hanya akut dengan batas sampai 8 minggu dan kronik jika lebih dari 8 minggu. Consensus tahun 2004 membagi menjadi akut dengan batas sampai 4 minggu, subakut antara 4 minggu sampai 3 bulan dan kronik jika lebih dari 3 bulan. Sinusitis kronik dengan penyebab rinogenik umumnya merupakan lanjutan dari sinusitis akut yang tidak terobati secara adekuat. Pada sinusitis kronik adanya factor predisposisi harus dicari dan di obati secara tuntas. Menurut berbagai penelitian, bacteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah streptococcus pneumonia (30-50%). Hemopylus influenzae (20-40%) dan moraxella catarrhalis (4%). Pada anak, M.Catarrhalis lebih banyak di temukan (20%). Pada sinusitis kronik, factor predisposisi lebih berperan, tetapi umumnya bakteri yang ada lebih condong ka rarah bakteri negative gram dan anaerob. 2.6 Pemeriksaan Penunjang Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan naso-endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah adanya pus di meatus medius (pada sinusistis maksila dan etmoid anterior dan frontal) atau di meatus superior (pada sinusitis etmoid posterior dan sphenoid).

Pada rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan di daerah kantus medius. Pemerikasaan pembantu yang penting adalh foto polos atau CT scan. Foto polos posisi Waters, PA dan lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, batas udara, cairan (air fluid level) atau penebalan mukosa. CT scan sinus merupakan golg standard diagnosis sinusitis karena mampu manila anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secacra keseluruhan dan perluasannya. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusistis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra-operasi sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus. Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan ini sudah jarang digunakan karena sangat terbatas kegunaannya. Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil secret dari meatus medius/superior, untuk mendapat antibiotic yang tepat guna. Lebih baik lagi bila diambil secret yang keluar dari pungsi sinus maksila. Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi. 2.7 Penatalaksanaan Tujuan terapi sinusitis ialah: 1. Mempercepat penyembuhan 2. Mencegah komplikasi 3. Mencegah perubahan menjadi kronik Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehinggan drenase dan ventilasi sinussinus pulih secara alami. Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bacterial, untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan maukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksilin. Jika diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat diberikan amoksilin-klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotic diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang. Pada sinusitis kronik diberikan antibiotic yang sesuai untuk kuman negative gram dan anaerob. Selain dekongestan oral dan topical, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan, seperti analgetik, mukolitik, teroid oral/topical, pencucian rongga hidung dengan NaCl atau pemanasan (diatermi). Antihistamin tidak rutin diberikan, karena sifat antikolinergiknya dapat menyebabkan secret jadi lebih kental. Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan antihistamin generasi ke-2. Irigasi sinus maksila atau Proetz displacement therapy juga merupakan terapi tambahan yang bermanfaat. Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang berat.

Tindakan operasi. Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk sinusitis kronik yang memerlukan operasi. Tindakan ini telah menggantikan hampir semua jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih memuaskan dan tindakan ringan dan tidak radikal. Indikasinya berupa: sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat; sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang irreversible; polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur. 2.8 Komplikasi Komplikais sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotic. Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronik dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intracranial. Kelainan orbita disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Yang paling sering adalah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra, selulitis orbita, asbes subperiostal, abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi thrombosis sinus kavernosus. Kelainan Intrakranial. Dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural, abses otak dan thrombosis sinus kavernosus. Komplikasi juga dapat terjadi padasinusitis kronis berupa: Osteomielitis dan abses suberiostal. Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi. Kelainan paru, seperti bronchitis kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga menyebabkan kambuhnya asma bronchial yang sukar dihilangkan sebalum sinusitisnya disembuhkan.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian a. Identitas/ biodata klien Nama : Tn. M Tempat tanggal lahir: Surabaya, 18 September 1964 Umur : 46 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Warga Negara : Indonesia Bahasa yang digunakan: Bahasa Indonesia Penanggung Jawab Nama : Ny. P Alamat : Jln. Argolawu no.49 Surabaya Hubungan dengan klien: istri

b. Keluhan Utama Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri kepala dan tenggorokan. c. Riwayat Kesehatan Sekarang Tuan M datang ke RS tanggal 18 November 2010 dengan keluhan nyeri kepala dan tenggorokan. Nyeri ini dirasakan sejak 7 hari yang lalu disertai pilek yang sering kambuh dan ingus yang kental di hidung. Nyeri dirasakan semakin hebat jika pasien menelan makanan dan menundukkan kepala. Pasien mengalami penurunan berat badan sebanyak 1 kg dari berat badan sebelumnya. Pasien mengaku pernah mempunyai riwayat penyakit THT sebelumnya. Setelah melakukan pemeriksaan pasien didiagnosa menderita sinusitis. d. Riwayat Kesehatan Masa Lalu Pasien mengaku pernah mempunyai riwayat THT. e. Riwayat Kesehatan Keluarga Keluarga tidak ada yang menderita sinusitis. g. Keadaan Lingkungan Pasien bertempat tinggal di lingkungan yang kurang bersih, ventilasi rumah kurang (tidak adekuat). 3.2 Observasi 3.2.1 Keadaan Umum 1. 2. 3. 4. 5. 6. Suhu : 38C Nadi : 84 /menit Tekanan Darah : 120/80 mmHg RR : 25 /menit BB : 62 kg Tinggi badan : 170 cm

3.2.2 Pemeriksaan Persistem B1 (breathing): Tidak teratur, suara nafas ronkhi berhubugan dengan adanya secret kental pada hidung B2 (blood) : Normal B3 (brain) : Pasien composmentis B4 (bladder) : Normal B5 (bowel) : Nafsu makan menurun ,porsi makan menurun dan BB turun B6 (bone) : Kelemahan otot dan malaise 3.3 Analisis Data No. Data Etiologi Masalah Keperawatan 1. Data subjektif: Inflamasi pada sinus frontal Nyeri Pasien mengeluh nyeri kepala. Data objektif: Peradangan

Pasien tampak gelisah, didapati skala nyeri 8, RR= 25 x/ menit. 2.

Nyeri pada kepala Bersihan jalan nafas tidak efektif

Data subjektif: Inflamasi pada sinus frontal Pasien mengeluh sesak nafas. Data objektif: Ada retraksi dinding dada, Produksi secret meningkat penggunaan pernafasan cuping hidung, suara nafas ronkhi, RR=25 x/menit. Akumulasi secret Bersihan jalan nafas tidak efektif

Ronkhi Sesak nafas Inflamasi

3.

Data subjektif: Pasien mengeluh tidak nafsu makan. Produksi secret meningkat Data objektif: Penurunan berat badan dari 63 kg menjadi 62 kg, makanan yang Secret disajikan tidak pernah dihabiskan. terakumulasi dihidung Hidung tersumbat Penciuman terganggu Tidak bisa mencium aroma makanan

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

Nafsu makan menurun

Nutrisi tidak terpenuhi 4. Data subjektif: Inflamasi Pasien mengeluh tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rasa tidak nyaman karena Data objektif: hidung Gelisah, lemas, mata cowong, tidur tersumbat kurang dari 6-8 jam perhari. (buntu) Gangguan istirahat; tidur berhubungan dengan hidung tersumbat (buntu)

5.

Data Subjektif: Pasien mengeluh kedinginan Data Objektif: Suhu tubuh= 38C

Tidur tidak nyenyak Infeksi saluran pernafasan atas Hipertermi Makrofag menangkap benda asing yang masuk ke tubuh

Merangsang pengeluaran mediator kimia

Prostalglandin Peningkatan set. point Hipotalamus Suhu tubuh meningkat 3.4 Diagnosa 1. Nyeri: kepala, tenggorokan berhubungan dengan peradangan pada hidung. 2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya secret yang mengental. 3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafsu makan menurun. 4. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung tersumbat. 5. Hipertermi berhubungan dengan reaksi infeksi. 3.5 Intervensi 1. Diagnosa : Nyeri (kepala, tenggorokan) berhubungan dengan peningkatan tekanan sinus sekunder terhadap peradanggan sinus paranasal.

Tujuan jam. Kriteria hasil menyeringai lagi.

: Nyeri yang dirasakan klien berkurang atau menghilang dalam waktu 1x24 : a) Klien mengungkapkan nyeri yang dirasakan berkurang atau menghilang b) RR=16-20 x/menit, Nadi=60-100x/menit, ekspresi wajah klien tidak c) Skala nyeri 2

No. Intervensi 1. Kolaborasi: Berikan obat analgesic 2. Mandiri: Ajarkan teknik distraksi atau pengalihan nyeri dan teknik relaksasi 3. Mandiri: Observasi tanda-tanda vital, keluhan klien serta skala nyeri

Rasional Obat analgesic dapat menurunkan atau menghilangkan rasa nyeri. Teknik distraksi diharapkan bisa menurunkan skala nyeri setelah pengobatan dengan obat analgesic. Observasi dilakukan untuk memastikan bahwa nyeri berkurang yang ditandai dengan RR dalam skala normal.

2. Diagnosa : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya secret yang mengental. Tujuan : Jalan nafas kembali efektif dalam waktu 10-15 menit. Kriteria hasil : a) Klien tidak lagi menggunakan pernafasan cuping hidung b) Tidak adanya suara nafas tambahan c) Ronkhi (-) d) RR= 16-20 x/menit e) Tidak adanya retraksi dinding dada No. Intervensi Rasional 1. Kolaborasi: Nebulizing dapat mengencerkan secret Berikan nebulizing. dan berperan sebagai bronkodilator untuk melebarkan jalan nafas. 2. Mandiri: Mengetahui letak secret dan Foto thoraks dada serta melakukan mengakumulasi secret di supsternal clapping atau vibrasi sehingga mudah untuk di drainase. 3. Kolaborasi: Mengeluarkan secret dari paru. Lakukan suctioning (pada px. yang mengalami penurunan kesadaran dan tidak mampu melakukan batuk efektif). 3. Mandiri: Mengeluarkan secret dari jalan nafas Ajarkan batuk efektif (pada px. yang khusunya pada pasien yang tidak tidak mengalami penurunan kesadaran mengalami penurunan gangguan dan mampu melakukan batuk efektif). kesadaran dan bisa melakukan batuk efektif.

4.

Mandiri: Untuk mengetahui perkembangan Observasi tanda tanda vital kesehatan klien. 3. Diagnosa : Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafsu makan menurun. Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien kembali terpenuhi dalam waktu 5x24 jam Kriteria hasil : a) Berat badan klien kembali seperti semula (63kg), BB normal= 63 kg b) Makanan yang disajikan selalu dihabiskan No. Intervensi Rasional 1. Kolaborasi: Dengan menu yang bervariasi, dapat Sajikan makanan secara menarik dengan menumbuhkan nafsu makan klien memperhatikan nutrisi yang diperlukan sehingga kebutuhan nutrisi klien oleh klien. kembali terpenuhi. 2. Mandiri: Mengetahui perkembangan pemenuhan Catat intake dan output makanan klien. kebutuhan nutrisi klien. 3. Mandiri: Dengan sedikit tapi sering dapat Anjurkan makan sedikit sedikit tapi mengurangi penekanan pada lambung. sering. 4. Mandiri: Dengan pemahaman yang baik tentang Berikan helath education pentingnya nutrisi akan memotivasi untuk makanan bagi proses penyembuhan. meningkatkan pemenuhan nutrisi.

1. Diagnosa

: Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung tersumbat.

Tujuan : Klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman. Kriteria hasil : a) Klien dapat tidur 6-8 jam perhari b) Tidak gelisah c) Mata tidak cowong d) Klien tidak lemas No. Intervensi Rasional 1. Mandiri: Mengetahui permasalahan klien dalam Kaji kebutuhan tidur klien pemenuhan kebutuhan ; istirahat klien. 2. Mandiri: Klien dapat tidur dengan tenang. Ciptakan suasana yang nyaman. 3. Kolaborasi: Agar klien dapat tidur. Berikan obat tidur 5. Diagnosa Tujuan : Hipertermi berhubungan dengan reaksi infeksi : Suhu tubuh kembali dalam keadaan normal

Kriteria Hasil: a) Suhu tubuh 36,5-37,5 C b) Kulit hangat dan lembab, membran mukosa lembab No. Intervensi Rasional 1. Mandiri: Suhu tubuh harus dipantau secara efektif Monitoring perubahan suhu tubuh guna mengetahui perkembangan dan kemajuan dari pasien. 2. Mandiri: Dapat membantu mengurangi demam. Berikan kompres hangat 3. Kolaborasi: Berikan antipiretik Mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus, meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme dan autodestruksi dari sel-sel terinfeksi.

DOWNLOAD : WOC SINUSITIS

BAB 4 PENUTUP 4.1 Simpulan Sinusitis merupakan penyakit inflamasi mukosa sinus paranasal yang sering ditemukan dalam praktik dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Infeksi virus ini, dapat dipengaruhi oleh lingkungan yang berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lamalama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia. Dalam Consensus International tahun 1995 membagi sinusitis hanya akut dengan batas sampai 8 minggu yang kebanyakan disebabkan oleh streptococcus pneumonia (30-50%) dan kronik yang lebih disebabkan oleh bakteri gram negative dan anaerob jika lebih dari 8 minggu. 4.2 Saran Banyak komplikasi yang terjadi pada penderita sinusitis, yakni menyebabkan komplikasi ke orbita dan intracranial, juga dapat menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati. Namun komplikasi ini dapat menurun dengan pemberian antibiotic dan dekongestan sejak dini (awal terjangkitnya sinusitis) untuk mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, dan perubahan menjadi kronik. DAFTAR PUSTAKA Anonim1. Asuhan Keperawatan Sinusitis. http://ilmukeperawatan.com/asuhan_keperawatan_ sinusitis.html, diakses tanggal 22 November 2010 Anonim2. Askep Sinusitis. http://putrisayangbunda.blog.com/2010/02/10/askep-sinusitis/, diakses tanggal 22 November 2010 Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC Higler, AB. 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC Soepardi, EA. 2007. Buku Ajar Ilmu Kersehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta: Gaya Baru