You are on page 1of 36

BAB I PENDAHULUAN Penyakit skizofrenia telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu, namun baru kirakira seratus

tahun terakhir uraian penyakit ini dapat ditemui dalam kepustakaan kedokteran. Menurut catatan sejarah terdapat empat ilmuan (dokter) yang merupakan tokoh konseptor Skizofrenia, yaitu Hughlings Jackson (1887), Eugen Bleuier (1908), Emil Kraepelin (1919), dan Kurt Schneider (1959), yang masing-masing mendefinisikan Skizofrenia ini dari sudut pandang yang berbeda. Tapi dikemudian hari diketahui bahwa ternyata pandangan mereka merupakan suatu kesatuan. 1.1. Definisi Skizofrenia merupakan penyakit kronis otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamine, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra) 1.2. Insidensi Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. (Wikipedia Indonesia). Menurut DSM-IV-TR insiden pertahun dari skizofernia berkisar 0.5 sampai 5.0 per 10.000 dengan variasi geografis. Ditemukan disemua tempat di dunia, insiden dan prevalensinya secara kasar sama . Walaupun insidensi pada lelaki dan wanita sama, gejala muncul pada lelaki lebih awal. 75% Penderita skizofrenia lelaki mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun dan wanita biasanya antara 20 -30 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri .

1

1.3. Gejala dan Klinis Pada masa ini, tidak ada pemeriksaan fisik maupun lab yang bisa mendiagnosa skizofrenia. Seorang dokter biasanya mencapai diagnosanya berdasarkan gejala-gejala klinis. Dengan pemeriksaan fisik biasanya kita dapat menyingkirkan penyakit lain yang mungkin menyebabkan keadaan sakit yang serupa pada pasien (epilepsi, metabolik, disfungsi tiroid, tumor otak, zat psikoaktif, lain-lain). Saat ini beberapa penelitian telah mengklasifikasikan skizofrenia menurut kombinasi 5 buah gejala yang muncul, yaitu: 1. Gejala positif 2. Gejala negatif 3. Kognitif 4. Agresif/ hostile 5. Depresif / cemas Jaras dopamin, mesolimbik, suatu projeksi dari area ventral tegmental ke arah daerah limbik, termasuk nukleus akumbens. Pada hipotesis dopamin, terjadi pelepasan dopamin yang berlebihan di jaras tersebut yang akan menyebabkan gejala positif psikosis, yaitu:  Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional.  Halusinasi, yaitu pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan.  Kekacauan alam pikir, dilihat dari isi pembicaraannya, bicaranya kacau.  Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat dan gembira berlebihan.  Merasa dirinya ’Orang Besar”, merasa serba mampu, serba hebat dan sejenisnya.  Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya.  Menyimpan rasa permusuhan. Jaras mesokortikal, berasal dari area ventral tegmental di batang otak, berprojeksi ke kortex limbik. Apabila terjadi defisiensi dopamin, atau terjadi blokade dopamin, maka akan muncul gejala negatif, yaitu: 2

 Afek tumpul dan mendatar, yaitu wajahnya tidak ada ekspresi.  Menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawn), tidak mau bergaul atau kontak dengan orang lain, suka melamun (day dreaming)  Kontak emosional amat ’miskin’, sukar diajak bicara, pendiam.  Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.  Sulit untuk pikir abstrak  Pola pikir stereotip.  Tidak ada/kehilangan dorongan kehendak (avoilition) dan tidak ada spontanitas, monotron serta tidak ingin apa-apa dan serba malas. Problema kognitif juga ditemui seperti, gangguan berpikir, inkoheren, assosiasi longgar, neologisme, hendaya perhatian, hendaya dalam meproses informasi. Sedangkan gejala agresif, seperti hostility, acting out kepada diri sendiri (bunuh diri), orang lain (menyerang), dan benda (menghancurkan), kasar, buruknya kontrol impulse, dan akting out seksual. Gejala depresif dan cemas juga berhubungan dengan skizofrenia, seperti rasa bersalah, tension, iritabel, dan rasa cemas .

3

stres psikologis. migrasi abnormal neuron di sepanjang glia radial selama perkembangan). sehingga disfungsi pada salah satu daerah mungkin melibatkan patologi primer di daerah lainnya. jika dikenai oleh suatu pengaruh lingkungan yang menimbulkan stres. memungkinkan perkembangan gejala skizofrenia. respon pengobatannya. seperti penyalahgunaan zat. dan ganglia basalis.BAB II ETIOLOGI dan PATOFISIOLOGI Skizofrenia kemungkinan merupakan suatu kelompok gangguan dengan penyebab yang berbeda dan secara pasti memasukkan pasien yang gambaran klinisnya. korteks frontalis. Atau dalam degenerasi neuron setelah perkembangan (sebagai contoh. kemungkinan bahkan pada sebagian besar. dan trauma. pasien skizofrenik. Dasar biologis untuk suatu diatesis dibentuk lebih lanjut oleh pengaruh epigenetik. kematian sel terprogram yang 4 . dan perjalanan penyakitnya adalah bervariasi. Penyebab skizofrenia tidak diketahui. infeksi) atau psikologis (sebagai contoh. Pada model diatesis-stres yang paling umum diatesis atau stres dapat biologis atau lingkungan atau keduanya. situasi keluarga yang penuh ketegangan atau kematian teman dekat). 2. Dasar untuk timbulnya abnormalitas mungkin terletak pada perkembangan abnormal (sebagai contoh. Model ini mendalilkan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis) yang. dua tipe penelitian adalah pencitraan otak pada orang yang hidup dan pemeriksaan neuropatologi pada jaringan otak postmortem. Komponen lingkungan dapat biologis (sebagai contoh. termasuk sistem limbik. Waktu suatu lesi neuropatologis tampak di otak dan interaksi lesi dengan lingkungan dan stresor sosial masih merupakan bidang penelitian yang aktif. Tentu saja ketiga daerah tersebut adalah saling berhubungan. Tetapi dalam dekade yang lalu semakin banyak penelitian telah melibatkan peranan patofisiologis untuk daerah tertentu di otak. Dua jenis penelitian telah melibatkan sistem limbik sebagai suatu tempat potensial untuk patologi primer pada sekurangnya suatu bagian. Model Diatesis-Stres Satu model untuk integrasi faktor biologis dan faktor psikososial dan lingkungan adalah model diatesis-stres.1.

walaupun kembar monozigotik mempunyai informasi genetika yang sama. terlalu banyaknya reseptor dopamin. Neuron dopaminergik di dalam jalur tersebut berjalan dari badan selnya di otak tengah ke neuron dopaminoseptif di sistem limbik dan korteks serebral. jadi menyatakan bahwa terdapat interaksi yang tidak dimengerti antara lingkungan dan perkembangan skizofrenia. Teori tersebut timbul dari dua pengamatan. dan beberapa peneliti tertarik dalam menggunakan agonis D1 sebagai pendekatan pengobatan untuk gejala tersebut. walaupun jalur meoskortikal dan mesolimbik paling sering terlibat. Faktor-faktor yang mengatur ekspresi gen baru saja mulai dimengerti. yang paling jelas adalah amfetamin. kemungkinan melalui regulasi gen yang berbeda. 2. Hipotesis Dopamin Rumusan yang paling sederhana dari hipotesis dopamin untuk skizofrenia menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan dari terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik. pengaturan ekspresi gen saat mereka menjalani kehidupan yang terpisah adalah berbeda.2. sedangkan yang lainnya tidak. satu kembar monozigotik menderita skizofrenia. Satu bidang spekulasi adalah bahwa reseptor dopamine tipe 1 (D1) mungkin memainkan peranan dalam gejala negatif. Suatu penjelasan lain adalah. Reseptor dopamin tipe 5 (D5) yang baru ditemukan adalah berhubungan dengan reseptor D1 dan dapat meningkatkan penelitian. Teori dasar tidak memperinci apakah hiperaktivitas dopaminergik adalah karena terlalu banyaknya pelepasan dopamin. atau kombinasi keduanya. Dalam cara yang sama reseptor dopamin tipe 3 (D3) dan dopamin tipe 4 (D4) adalah berhubungan dengan reseptor D2 dan akan merupakan sasaran penelitian karena 5 . Kedua. Pertama. kecuali untuk clozapine. obat-obatan yang meningkatkan aktivitas dopaminergik.awal secara abnormal. Teori dasar juga tidak menyebutkan apakah jalur dopamin di otak mungkin terlibat. Tetapi ahli teori masih memegang kenyataan bahwa kembar monozigotik mempunyai angka ketidak sesuaian 50%. Hipotesis dopaminergik tentang skizofrenia terus diperbaiki dan diperluas. seperti yang tampak terjadi pada penyakit Huntington). yang merupakan salah satu psikotomimetik. khasiat dan potensi antipsikotik adalah berhubungan dengan kemampuannya untuk bertindak sebagai antagonis reseptor dopaminergik tipe 2 (D2).

antagonis dopamin adalah efektif dalam mengobati hampir semua pasien psikotik dan pasien yang teragitasi berat. konsentrasi menurun secara mantap. Penelitian tersebut telah melaporkan suatu hubungan positif antara konsentrasi homovanilic acid praterapi yang tinggi dan dua faktor: keparahan gejala psikotik dan respon terapi terhadap obat antipsikotik. Sekurangnya satu penelitian telah melaporkan suatu peningkatan reseptor D4 dalam sampel otak postmortem dari pasien skizofrenik. Secara spesifik. Data tersebut menyatakan bahwa abnormalitas awal pada pasien skizofrenia mungkin melibatkan keadaan hipodopaminergik. Beberapa penelitian sebelumnya telah menyatakan bahwa. hipotesis tersebut memiliki dua masalah. ritanserin). antagonis dopamin juga digunakan untuk mania akut. Kedua beberapa data elektrofisiologis menyatakan bahwa neuron dopaminergik mungkin meningkatkan kecepatan pembakarannya sebagai respon dari pemaparan jangka panjang dengan obat antipsikotik. Penelitian homovanilic acid plasma juga telah melaporkan bahwa. clozapine.3. Dengan demikian. Sebagai contoh. tidak tergantung pada diagnosis. Suatu peranan penting bagi dopamin dalam patofisiologi skizofrenia adalah konsisten dengan penelitian yang telah mengukur konsentrasi plasma metabolit dopamin utama. 2. setelah peningkatan sementara konsentrasi homovanilic acid plasma. yaitu homovanilic acid. Serotonin Serotonin telah mendapatkan banyak perhatian dalam penelitian skizofrenia sejak pengamatan bahwa antipsikotik atipikal mempunyai aktivitas berhubungan dengan serotonin yang kuat (sebagai contoh. Penurunan tersebut dihubungkan dengan perbaikan gejala pada sekurangnya beberapa pasien. Pertama.agonis dan antagonis spesifik adalah dikembangkan untuk reseptor tersebut. risperidone. Walaupun hipotesis dopamin tentang skizofrenia telah merangsang penelitian skizofrenia selama lebih dari dua dekade dan masih merupakan hipotesis neurokimiawi yang utama. adalah tidak mungkin untuk menyimpulkan bahwa hiperaktivitas dopaminergik adalah unik untuk skizofrenia. dalam kondisi eksperimental yang terkontrol cermat. konsentrasi homovanilic acid plasma dapat mencerminkan konsentrasi homovanilic acid di sistem saraf pusat. antagonisme pada reseptor serotonin (5-hydroxytryptamine) tipe 2 (5-HT2) telah disadari 6 .

Seperti yang juga telah dinyatakan dalam penelitian tentang gangguan mood. Hilangnya neuron inhibitor GABA-ergik secara teoritis dapat menyebabkan hiperaktivitas neuron dopaminergik dan noradrenergik. semakin banyak data yang menyatakan bahwa sistem noradrenergik memodulasi sistem dopamminergik dalam cara tertentu sehingga kelainan sistem noradrenergik mempredisposisikan pasien untuk sering relaps. walaupun hubungan antara aktivitas dopaminergik dan noradrenergik masih belum jelas. Asam Amino Neurotransmiter asam amino inhibotro gamma-aminobutyric acid (GABA) juga telah terlibat dalam patofisiologi skizofrenia. Suatu rentang hipotesis telah diajukan untuk glutamat. 2. Norepinefrin Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa pemberian antipsikotik jangka panjang menurunkan aktivitas neuron noradrenergik di lokus sereleus dan bahwa efek terapetik dari beberapa antipsikotik mungkin melibatkan aktivitasnya pada reseptor adrenergik-1 dan adrenergik-2.5.penting untuk menurunkan gejala psikotik dan dalam menurunkan perkembangan gangguan pergerakan berhubungan dengan antagonisme-D2. aktivitas serotonin telah berperan dalam perilaku bunuh diri dan impulsif yang jug adapat ditemukan pada pasien skizofrenik. Neurotransmiter asam amino eksitasi glutamat telah juga dilaporkan terlibat dalam dasar biologis untuk skizofrenia. dan hipotesis neurotoksisitas akibat glutamat. 2. Data yang tersedia adalah konsisten dengan hipotesis bahwa beberapa pasien dengan skizofrenia mengalami kehilangan neuron GABA-ergik di dalam hipokempus.4. hipoaktivitas. 7 . termasuk hipotesis hiperaktivitas.

6.2. kelainan yang dilaporkan pada penelitian CT pada pasien skizofrenik juga telah dilaporkan pada keadaan neuropsikiatrik lainnya. penurunan volume serebelum. Sejumlah penelitian telah berusaha untuk menentukan apakah kelainan yang terdeteksi oleh CT adalah progresif atau statik. Tetapi. penelitian telah menimbulkan kesan bahwa semakin banyak bukti neuropatologi yang ada. apakah proses patologis aktif adalah terus berkembang pada pasien skizofrenik adalah masih belum pasti. Banyak penelitian CT telah menghubungkan adanya kelainan pemeriksaan CT dengan adanya gejala negatif atau defisit. gangguan neuropsikiatrik. Jadi. perubahan tersebut kemungkinan tidak spesifik untuk proses patofisiologis skizofrenia dasar. Penelitian tersebut telah secara konsisten menunjukkan bahwa otak pasien skizofrenik mempunyai pembesaran ventrikel lateral dan ventrikel ketiga dan suatu derajat penurunan volume kortikal. Temuan tersebut dapat diinterpretasikan sebagai konsisten dengan adanya jaringan otak yang lebih sedikit dari biasanya pada pasien yang terkena. Beberapa penelitian telah menyimpulkan bahwa lesi yang diamati pada CT ditemukan pada onset penyakit dan tidak berkembang. 8 . dan perubahan densitas otak pada pasien skizofrenik. termasuk gangguan mood. peningkatan gejala neurologis. gangguan berhubungan alkohol. telah menyimpulkan bahwa patologi yang divisualisasikan oleh CT terus berkembang selama penyakit. Pencitraan Otak 2.6. Tetapi penelitian lain. Jadi. dan demensia. Penelitian CT lainnya telah melaporkan asimetrisitas serebral yang abnormal. Walaupun tidak semua penelitian CT telah menegakkan anggapan tersebut. dan penyesuaian pramorbid yang buruk. Tomografi Komputer Penelitian awal yang menggunakan tomografi komputer (CT) pada populasi skizofrenik mungkin telah menghasilkan data yang paling awal dan paling meyakinkan bahwa skizofrenia dapat dipercaya sebagai penyakit otak. gejala ekstrapiramidalis yang sering dari antipsikotik.1. semakin serius gejalanya. apakah penurunan jumlah jaringan otak tersebut disebabkan kelainan perkembangan atau karena degenerasi adalah masih belum terpecahkan.

Satu penelitian terakhir menemukan suatu penurunan spesifik dari daerah otak tersebut di hemisfer kiri. 2. beberapa data menyatakan bahwa ventrikel lebih besar pada pasien dengan tardive dyskinesia daripada pasien yang tidak menderita tardive dyskinesia. sebagai contoh. walaupun sebagian besar kembar yang terkena mempunyai ventrikel serebral di dalam suatu rentang normal. yang didapatkan dengan menggunakan berbagai urutan signal untuk mendapatkan citra T1 atau T2 yang diperkuat. Resolusi unggul dari MRI telah menghasilkan beberapa laporan bahwa volume kompleks hipokampus-amigdala dan girus parahipokampus adalah menurun pada pasien skizofrenik. beberapa data menyatakan bahwa pembesaran ventrikel adalah lebih sering ditemukan pada pasien laki-laki daripada wanita. walaupun penelitian lain telah menemukan penurunan volume bilateral. Dengan demikian. Beberapa penelitian telah menghubungkan penurunan volume sistem limbik dengan derajat psikopatologi atau parameter lain keparahan penyakit.6. Penelitian menunjukkan bahwa hampir semua kembar yang menderita skizofrenia mempunyai ventrikel serebral yang lebih besar daripada kembar yang tidak terkena. perbedaan antara orang yang terkena dan tidak terkena adalah bervariasi dan biasanya kecil. khususnya yang diukur di daerah frontalis dan temporalis. Peneliti yang menggunakan MRI dalam riset skizofrenia telah menggunakan sifatsifat resolusi yang unggul.Walaupun pembesaran ventrikel pada pasien skizofrenik dapat ditunjukkan jika digunakan kelompok-kelompok pasien dan kontrol. dan bukan di hemisfer kanan. Pencitraan Resonansi Magnetik Pencitraan resonansi magnetik (MRI) awalnya digunakan untuk memperjelas temuan pada pemeriksaan CT tetapi selanjutnya digunakan untuk memperluas pengetahuan tentang patofisiolofi skizofrenia. dan informasi kualitatif.2. penggunaan CT dalam diagnosis skizofrenia adalah terbatas. Satu penelitian MRI yang paling penting adalah pemeriksaan kembar monozigotik yang tidak sama-sama menderita skizofrenia. Jugatelah terdapat laporan waktu relaksasi T1 dan T2 yang berbeda pada pasien skizofrenik. Tetapi. 9 . Juga. dibandingkan dengan CT.

3. Kelainan pada gelombang P300 juga telah dilaporkan lebih sering pada anak-anak yang berada pada 10 . Pada pasien skizofrenik P300 telah dilaporkan secara statistik lebih kecil dan lebih lambat daripada kelompok pembanding. 2. Gelombang P300 merupakan yang paling banyak dipelajari dan didefinisikan sebagai gelombang potensial cetusan yang besar dan positif yang terjadi kira-kira 300 milidetik setelah suatu stimulasi sensoris dideteksi. dan kemungkinan kelainan sisi kiri yang lebih banyak dari biasanya. penurunan aktivitas alfa.6. Potensial Cetusan Sejumlah besar kelainan pada potensial cetusan (evoked potentials) pada pasien skizofrenik telah digambarkan dalam literatur penelitian. peningkatan kepekaan terhadap prosedur aktivasi (sebagai contoh. peningkatan aktivitas teta dan delta. Sumber utama gelombang P300 mungkin berlokasi di struktur sistem limbik dari lobus temporalis medial. aktivitas paku yang sering setelah tidak tidur).4.6. Elektrofisiologi Penelitian elektroensefalografi (EEG) pada pasien skizofrenia menyatakan bahwa sejumlah besar pasien mempunyai rekaman yang abnormal.2. kemungkinan aktivitas epileptiformis yang lebih dari biasanya.

0 Prevalensi (%) Kembar monozigotik memiliki angka kesesuaian yang tertinggi. Data potensial cetusan telah diinterpretasikan sebagai menyatakan bahwa. Penelitian pada kembar monozigotik yang diadopsi menunjukkan bahwa kembar yang diasuh oleh orang tuaangkat mempunyai skizofrenia dengan kemungkinan yang sama besarnya seperti saudara kembarnya yang dibesarkan oleh orang tua kandungnya.0 12. mereka mengkompensasi peningkatan kepekaan tersebut dengan mengumpulkan pemrosesan informasi pada tingkat kortikal yang lebih tinggi (dinyatakan oleh potensial cetusan akhir yang lebih kecil). walaupun pasien skizofrenik adalah sensitif secara tidak lazim terhadap stimulus sensorik (potensial cetusan awal yang lebih tinggi). Gelombang N100 adalah gelombang negatif yang terjadi kira-kira 100 milidetik setelah stimulus.0 12. Genetika Prevalensi Skizofrenia pada Populasi Spesifik Populasi Populasi umum Bukan saudara kembar pasien skizofrenik Anak dengan satu orang tua skizofrenik Kembar dizigotik pasien skizofrenik Anak dari kedua orangtua skizofrenik Kembar monozigotik pasien skizofrenik 1. semakin mungkin kembar adalah sama-sama menderita gangguan. 2. Satu penelitian yang mendukung model diatesis-stres menunjukkan bahwa kembar monozigotik yang diadopsi 11 .0 40. Potensial cetusan lain yang telah dilaporkan abnormal pada pasien skizofrenik adalah N100 dan variasi negatif berkelompok (continent negative variation). Apakah karakteristik P300 mewakili suatu keadaan fenomena atau suatu sifat fenomena adalah masih kontroversial.0 8.resiko tinggi mengalami skizofrenia karena mempunyai orang tua yang menderita skizofrenia.0 47. Untuk mendukung lebih lanjut dasar genetika adalah pengamatan bahwa semakin parah skizofrenia.7. Temuan tersebut menyatakan bahwa pengaruh genetik melebihi pengaruh lingkungan. dan variasi negatif berkelompok adalah suatu pergeseran voltasi negatif yang berkembang dengan lambat yang mengikuti presentasi stimulus sensorik yang merupakan peringatan untuksuatu stimulus yang akan datang.

BAB III DIAGNOSA 12 .yang kemudian menderita skizofrenia kemungkinan telah diadopsi oleh keluarga yang tidak sesuai secara psikologis.

seperti pekerjaan. adalah jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau jika onset pada masa anak-anak atau remaja. Kriteria Diagnosis Skizofernia Kriteria diagnostik skizofrenia berdasarkan DSM-IV-TR Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders DSM-IV-TR) : A. alogia. hubungan interpersonal. satu atau lebih fungsi utama. atau pekerjaan yang diharapkan) C. atau tidak ada kemauan (avoilition) masing-masing didapat selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan berhasil) Catatan : hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau atau halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus mengkomentari perilaku atau pikiran pasien. pengalaman persepsi yang tidak lazim) 13 . Durasi : tanda gangguan terus menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan. kegagalan untuk mencapai tingkat pencapaian interpersonal.emah (misalnya. Selama periode prodromal atau residual. atau dua atau lebih suara yang saling bercakap satu sama lainnya. yaitu. B. tanda gangguan mungkin dimanifstasikan hanya oleh gejala negatif atau dua atau lebih gejala yang dituliskan dalam kriteria A dalam bentuk yang diperl. keyakinan yang aneh. atau perwatan diri. Gejala karakteristik : Ditemukannya dua atau lebih gejala berikut : (1) Waham (2) Halusinasi (3) Bicara terdisorganisasi (misalnya. Disfungsi sosial/pekerjaan : Untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan. gejala fase aktif) dan mungkin termasuk periode gejala prodromal atau residual. Periode 6 bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau kurang jika diobati dengan berhasil) yang memenuhi kriteria A (yaiutu. sering menyimpang atau inkoheren) (4) Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas (5) Gejala negatif. akademik.1.3. pendengaran afektif.

suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum. atau (2) jika episode mood telah terjadi selama gela fase aktif. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif : Jika terdapat riwayat adanya gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasif lainnya. Gejala Pramorbid 14 . Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gangguan mood : Gangguan skizoafektif dan gangguan mood dengan ciri psikotik yang telah disingkirkan karena : (1) tidak ada episode depresif berat. E. juga sebutkan jika : dengan gejala negatif yang menonjol negatif yang menonjol 3. Penyingkiran zat/kondisi medis umum : gangguan tidak disebabkan oleh efek psikologis langsung dari suatu zat (misalnya. manik. observasi). juga sebutkan jika : dengan gejala Episode tunggal dalam remisis penuh Pola lain atau tidak ditentukan . atau campuran yang telah terjadi bersama-sama dengan gejala fase aktif. doagnosis tambahan skizofrenia dibuat hanya jika waham atau halusinasi yang menonjol juga ditemukan untuk sekurangnya satu bulan (atau kurang jika diobati secara berhasil) Klasifikasi perjalanan penyakit longitudinal (dapat diterapkan hanya setelah sekurangnya 1 tahun lewat sejak onset awal gejala fase aktif) : • Episodik dengan gejala residual interepisode (episode didefinisikan oleh timbulnya kembali gejala psikotik yang menonjol). Kontinu (gejala psikotik yang menonjol ditemukan di seluruh periode Episode tunggal dalam remisi parsial.D. obat yang disalahgunakan. juga sebutkan jika : dengan gejala negatif yang menonjol • • • • • Episodik tanpa gejala residual interepisodik. F.2. durasi totalnya adalah relatif singkat dibandingkan durasi periode aktif dan residual.

Sebaliknya bila seseorang penderita Skizofrenia tidak lagi aktif menunjukan gejal-gejala Skizofrenia. Sedangkan pada anak laki-laki sering menantang tanpa alasan jelas. serta memindahkan atensi. pikiran yang samar-samar. kurang mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain serta selalu menyendiri. yang bersangkutan terlebih dahulu menunjukan gejala-gejala awal yang disebut gejala pradormal. menarik diri secara sosial. sangat rinci dan ruwet atau stereotipik yang termanifestasi dalam pembicaraan yang aneh dan inkoheren. pikiran obsesif tak terkendali. bisa juga halusinasi visual seperti melihat sesuatu bergerak meliuk-liuk. takut gelap.Sebelum seseorang secara nyata aktif (manifes) menunjukan gejala-gejala Skizofrenia. ular. mempertahankan. tidak bisa menikmati rasa senang dan ekspresi wajah sangat terbatas. Pada gangguan skizotipal orang memiliki perilaku atau tampilan diri aneh dan ganjil. afek sempit. bola-bola bergelindingan. Indikator premorbid (pra-sakit) pada anak pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan anak mengekspresikan emosi: wajah dingin. menutup telinga. Pada anak usia 5-6 tahun mengalami halusinasi suara seperti mendengar bunyi letusan. yaitu gangguan kepribadian paranoid atau kecurigaan berlebihan. persepsi pancaindra yang tidak biasa. jarang tersenyum. percaya hal-hal aneh. Pada anak perempuan tampak sangat pemalu. Anak terlihat bicara atau tersenyum sendiri. Pada bayi biasanya terdapat problem makan. tonus otot lemah. penuh kiasan. takut terhadap label pakaian. apatis dan ketakutan terhadap obyek atau benda yang bergerak cepat. menganggap semua orang sebagai musuh. Penyimpangan komunikasi: anak sulit melakukan pembicaraan terarah. acuh tak acuh. Gangguan kepribadian skizoid yaitu emosi dingin. Pada balita terdapat ketakutan yang berlebihan terhadap hal-hal baru seperti potong rambut. bantingapintu atau bisikan. lintasan cahaya dengan latar belakang warna gelap. Pada remaja perlu diperhatikan kepribadian pra-sakit yang merupakan faktor predisposisi skizofrenia. mengganggu dan tak disiplin. pikiran magis yang berpengaruh pada perilakunya. sering mengamuk tanpa sebab. maka yang bersangkutan menunjukan gejala-gejala sisa yang disebut gejala residual 1. tertutup. gangguan tidur kronis. Tanda awal skizofrenia sering kali terlihat sejak kanak-kanak. 15 . takut terhadap benda-benda bergerak. Gangguan atensi: anak tidak mampu memfokuskan.

3. misalnya stresor lingkungan dan faktor genetik. Meragukan' kesetiaan orang lain. Alam perasaan (afek) sensitif. seperti yang ditunjukkan oleh sekurangkurangnya 3 dari 8 hal berikut ini : 1. 2. yaitu Kepribadian Paranoid.1 Kepribadian Paranoid Seseorang yang berkepribadian paranoid menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut : A. mereka yang normal bisa saja menderita skizofrenia jika stresor psikososial terlalu berat sehingga tak mampu mengatasi. Kepribadian Pramorbid Skizofrenia Faktor predisposisi dan beresiko tinggi bagi terjadinya gangguan jiwa Skizofrenia. Banyak faktor lain yang berperan untuk munculnya gejala skizofrenia.3.Tidak semua orang yang memiliki indikator premorbid pasti berkembang menjadi skizofrenia. Skizoid. 6. reaktif dan mudah tersinggung. tanpa berusaha melihat secara keseluruhan dari konteks yang ada. selalu curiga akan dikhianati dan karenanya sukar untuk mendapatkan kawan ataupun pasangan. 16 . melakukan pengamanan fisik dan tempat tinggalnya. Secara intensif dan picik mencari-cari kesalahan dan bukti tentang prasangkanya. Merasa akan ditipu atau dirugikan. yang bermanifestasi sebagai usaha meneliti secara terus-menerus terhadap tanda-tanda ancaman dari lingkungannya atau mengadakan tindakan-tindakan pencegahan yang sebenarnya tidak perlu. Sikap berjaga jaga atau menutup-nutupi. Tidak mau menerima kritik atau kesalahan. 4. Skizotipal dan Ambang (Borderline) yang kriterianya sebagai berikut: 3. 5. Kecurigaan dan ketidakpercayaan yang pervasif dan tidak beralasan terhadap orang lain. Kewaspadaan yang berlebihan. walaupun ada buktinya. 3. 3. berprasangka buruk dan sukar untuk bisa percaya terhadap maksud baik dari orang lain. Sebaliknya.

1. B. terangsang secara emosional. serangan balik yang Tidak dapat santai. subyektivitas tinggi. seperti yang ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya 2 dari 4 hal berikut ini : 1. seolah-olah tidak pada tempatnya. 8. lembut dan sentimental. rasional dan tidak mudah Tidak ada rasa humor yang wajar terkesan "serius" tidak suka bercanda. C. tidak ada sense of humor. dengan dalih yang dicari-cari untuk pembenaran dari rasa cemburunya itu. mendramatisasi seolah-olah sedang menghadapi kesulitan atau ancaman yang 17 . Perhatian yang berlebihan terhadap motifmotif tersembunyi dan arti-arti khusus. Siap mengadakan balasan apabila merasa terancam. Cemburu yang patologik. hambar dan tidak bereaksi terhadap rangsangan atau hal yang bagi orang lain sesuatu yang membuat lucu atau gembira. tidak mempunyai perasaan. 4. selalu gelisah dan tegang karena tidak Keterbatasan kehidupan alam perasaan (afektif) seperti yang Penampakan yang dingin dan tanpa emosi. penuh kecurigaan terhadap peristiwa atau kejadian di sekitarnya yang diartikan salah dan dianggap ditujukan pada dirinya. Hipersensitivitas. ekspresi wajah kosong. ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya 2 dari 4 hal berikut ini : "tidak hidup" bagaikan "topeng".7. Baik pihak keluarga maupun yang bersangkutan hendaknya berkonsultasi kepada dokter Kecenderungan untuk mudah merasa dihina atau diremehkan dan cepat Membesar-besarkan kesulitan yang kecil. tidak beralasan dan tidak rasional. 4. 2. Pihak keluarga hendaknya mewaspadai manakala diantara anggota keluarga ada yang menunjukkan gejala-gejala kepribadian paranoid sebagaimana diuraikan di muka. ada rasa aman dan terlindung (security feeling). Merasa bangga bahwa dirinya selalu obyektif. 3. 2. serius. 3. tidak tenang. Tidak ada kehangatan emosional. tidak proporsional dan mengambil sikap menyerang (offensive).

Kepribadian Skizotipal Seseorang yang berkepribadian skizotipal menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut. Sikap yang acuh tak acuh (indifferent) terhadap pujian.3.3.2. tidak menghargai orang lain. Baik pihak keluarga maupun yang bersangkutan hendaknya berkonsultasi kepada dokter (psikiater) agar tipe kepribadian ini tidak mengalami gangguan yang pada gilirannya dapat menjelma dalam bentuk gangguan jiwa Skizofrenia. 3. 18 . 3. telepati.(psikiater) agar tipe kepribadian ini tidak mengalami gangguan yang pada gilirannya dapat menjelma dalam bentuk gangguan jiwa Skizofreni.3. Gagasan mirip waham yang menyangkut diri sendiri (ideas of reference). merasa segala peristiwa atau kejadian di sekitarnya selalu ada kaitannya atau bersangkutpaut dengan dirinya. Kepribadian Skizoid Seseorang yang berkepribadian skizoid menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut : A. C. "orang lain dapat merasakan perasaan saya" (pada anak-anak dan remaja terdapat preokupasi dan fantasi yang aneh). indera keenam. Pikiran magik atau gaib (magical thinking) seperti takhyul yang tidak sesuai dengan budayanya (superstitious). kritikan atau perasaan orang lain. D. tidak mampu bersosialisasi. yang merupakan ciri khas kepribadian Skizotipal. perilaku. Pihak keluarga hendaknya mewaspadai manakala diantara anggota keluarga ada yang menunjukkan gejala-gejala kepribadian skizoid sebagaimana diuraikan di muka. B. Hubungan dekat hanya satu atau dua orang saja. dapat melihat apa yang akan terjadi (clairvoyance). atau pikiran yang aneh (eksentrik). termasuk anggota keluarganya. Terdapat ciri emosional yang dingin dan tidak acuh serta tidak terdapatnya perasaan hangat atau lembut terhadap orang lain. Tidak terdapat pembicaraan. yaitu sekurang-kurangnya terdapat 4 dari 8 hal yang berikut ini : 1. 2.

tindakan cedera diri.4. Kecurigaan atau ide paranoid. Alkohol & Zat Adiktif). Impulsivitas atau perubahan yang tidak dapat diduga. yaitu rasa curiga atau buruk sangka yang tidak rasional. setidak-tidaknya dalam dua aspek yang dapat merugikan diri. seperti merasa adanya "kekuatan" atau "orang" yang sebenarnya tidak ada (misalnya merasa seolaholah ibunya yang sudah meninggal berada bersama dengan dirinya dalam ruangan). Isolasi sosial. kabur.3. Ilusi yang berulang-ulang. 6. 3. sirkumstansial (berputar-putar). 8. seperti tidak memiliki kawan akrab atau orang yang dapat dipercaya. kontak sosial hanya terbatas pada tugas sehari-hari yang seperlunya. 4. 5. bertele-tele. penggunaan zat (NAZA: Narkotika. Baik pihak keluarga maupun yang bersangkutan hendaknya berkonsultasi kepada dokter (psikiater) agar tipe kepribadian ini tidak mengalami gangguan yang pada gilirannya dapat menjelma dalam bentuk gangguan jiwa Skizofrenia. misalnya boros. yaitu paling sedikit terdapat 5 dari 8 kriteria di bawah ini : 1. berjudi. seperti pembicaraan yang digresif.3. 7. kurang mampu bersosialisasi. misalnya tampak dingin atau tidak acuh. Kecemasan sosial yang tidak perlu atau hipersensitivitas yang berlebih terhadap kritik yang nyata ataupun yang dibayangkan. makan berlebihan. 19 . depersonalisasi atau derealisasi yang tidak berhubungan dengan serangan panik. Di dalam interaksi (tatap muka) dengan orang lain terdapat hubungan (rapport) yang tidak memadai (inadequate) akibat afek (alam perasaan) yang tidak serasi (inappropriate) atau afek yang terbatas (constricted). metaforik (perumpamaan). Pihak keluarga hendaknya mewaspadai manakala diantara anggota keluarga ada yang menunjukkan gejala-gejala kepribadian skizotipal sebagaimana diuraikan di muka. Kepribadian Ambang Seseorang yang berkepribadian ambang menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut. hubungan seks. Pembicaraan yang ganjil (tetapi tidak sampai menjurus kepada pelonggaran asosiasi atau inkoherensi). mencuri di toko.

cita-cita jangka panjang atau pemilihan karier. Tidak ada satu pun dari gejala berikut yang menonjol: bicara kacau. "saya merasa seperti kakak saya apabila saya sedang senang". atau kurangnya pengendalian terhadap kemarahan. 8. Alam perasaan (mood. Tipe Paranoid Bila ditemui kriteria sebagai berikut: a. misalnya uring-uringan. menyanjung. misalnya ia berusaha keras untuk tidak berada sendirian. misalnya citra diri. merendahkan. afek tumpul atau tidak sesuai. dan kembali ke alam perasaan yang normal. 7. kemarahan yang menetap.4. mutilasi diri (pemotongan atau pengundungan bagian tubuh). kecelakaan berulang kali atau perkelahian fisik. iritabilitas (mudah tersinggung/marah) atau cemas. Perasaan kosong atau rasa bosan (jenuh) yang berkepanjangan (menahun/kronik). nilainilai dan loyalitas.4. 4. Tidak tahan untuk berada sendirian. Ada pola hubungan interpersonal yang mendalam (intense) dan tidak stabil.1. atau tingkah laku yang kacau. 20 . 3. seperti perubahan yang hebat dalam sikap. tingkah laku katatonik. biasanya berlangsung beberapa jam dan (sangat jarang) sehingga beberapa hari. pola persahabatan. 6. manipulasi (secara konsisten mengggunakan orang lain untuk kepentingan dirinya). merasa depresif apabila berada sendirian. Kriteria Diagnosis Subtipe Skizofernia Kriteria diagnostik subtipe skizofrenia berdasarkan DSM-IV-TR Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders DSM-IV-TR) : 3. Preokupasi dengan satu atau lebih delusi atau halusinasi suara yang sering b. Kemarahan hebat dan tidak wajar. misalnya usaha bunuh diri. misalnya "siapakah saya?". identitas jenis (gender identity). Gangguan identitas yang bermanifestasi dalam ketidakpastian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan identitas. 5. 3.2. affect) yang tidak mantap ditandai oleh perubahan hebat dari afek (mood) yang normal menjadi depresi. Tindakan yang mencederai diri sendiri .

Aktivitas motor yang berlebihan (yang kadang-kadang tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimulus eksternal) 3. Adanya bukti dari gangguan seperti yang diindikasikan dengan keberadaan gejala negatif. atau tingkah laku katatonik 2. Tipe residual Tipe skizofernia dimana kriteria ini dijumpai: 1. halusinasi. Afek tumpul atau tidak sesuai b. kekacauan yang terlihat. tetapi tidak memenuhi kriteria untuk tipe paranoid.3. Tingkah laku kacau 3.Tipe katatonik Suatu tipe skizofernia. bicara kacau.4.4. Ekolalia dan ekopraksia 3. dimana gambaran klinisnya didominasi oleh sedikitnya dua dari gejala berikut: 1. Imobilitas motorik. Negativisme yang ekstrim 4. Kriteria tidak sesuai untuk tipe katatonik 3. terdisorganisasi atau katatonik. atau dua atau lebih gejala yang terdapat pada Criterion A untuk skizofrenia. Bicara kacau 2. Tidak ada atau tidak menonjol: delusi. 5.5. Bila semua gejala ini menonjol 1.4.6. 3. 21 . Gerakan volunter yang aneh seperti yang ditunjukkan posturing. Tipe terdisorganisasi (hebefrenik) a. Tipe yang tidak tergolongkan Suatu tipe skizofrenia dimana ditemukan gejala yang memenuhi kriteria A.3.4.2. bukti dari katalepsi (fleksibilitas lilin) atau stupor 2.

3.4.1. non psikiatrik dan berbagai macam zat.lain 3. ketidak mampuan memenuhi tuntutan masyarakat dan penurunan keterampilan sosial. halusinosis alkohol.2.3. 22 . Gangguan Skizofreniform Gambaran klinis Skizofreniform ini sama dengan Skizofrenia.5.3. affect) disertai waham dan halusinasi serta terdapat perasaan gembira yang berlebihan (maniakal) atau rasa sedih yang sangat mendalam (depresi) . putus barbiturat. halusinogen. 3.5. Skizofrenia Laten Hingga kini belum terdapat suatu kesepakatan yang dapat diterima secara umum untuk memberikan gambaran klinis kondisi ini. Diagnosis Banding Gejala psikosis dan katatonia dapat disebabkan oleh berbagai keadaan medis psikiatrik. Gangguan Skizoafektif Gambaran klinis tipe ini didominasi oleh gangguan pada alam perasaan (mood.5. phencyclidine (PCP). Golongan ”Skizofrenia” lain.6. kokain. 3. Medis dan Neurologis  Akibat zat : Amfetamin. 3. Skizofrenia Simpleks Suatu bentuk psikosis (gangguan jiwa yang ditandai dengan terganggunya realitas dan pemahaman diri/insight yang buruk ) yang perkembangannya lambat dan perlahan dari perilaku yang aneh. alkaloid beladona. 3.1. prodormal dan residual ) kurang dari 6 bulan tetapi lebih lama dari 2 minggu.6. perbedaannya adalah bahwa fase-fase perjalanan penyakitnya (fase aktif.5.5.

atau trauma : Terutama frontalis dan limbik.2. Psikiatrik • • • • • • Psikosis atipikal Gangguan autistic Gangguan psikotik singkat Ganguan delusional Berpura-pura Gangguan obsesif-kompulsif 23 .  Kondisi lain : Sindroma immunodefisiensi didapat (AIDS) Porfiria intermitten akut Keracunan karbon monoksida Lipoidosis serebral Penyakit Creutzfeldt-Jakob Penyakit Fabry Penyakit Fahr Penyakit Hallervorden-Spatz Keracunan logam berat Ensefalitis herpes Homosistinuria Penyakit Huntington Lekodistrofi metakromatik Neurosiflis Hidrosefalus Pellagra SLE Sindroma Wernicke-Korsakoff Penyakit Wilson 3.6. penyakit serobrovaskular.  Neoplasma. Epilepsi : Terutama epilepsi lobus temporalis.

4. Terapi yang dimaksud meliputi terapi dengan obat-obatan anti skizofrenia (psikofarmaka). Psikofarmaka Terpi farmakologis merupakan terapi utama dari penatalaksanaan skizofrenia. Terapi yang komprehensif dan holistic atau terpadu dewasa ini sudah dikembangkan sehingga penderita skizofrenia tidak lagi mengalami diskriminasi bahkan metodenya lebih manusiawi daripada masa sebelumnya. Dari sudut organobiologik sudah diketahui bahwa pada skizofrenia terdapat gangguan pada fungsi transmisi sinyal penghantar saraf (neurotransmitter) sel-sel penyusun saraf pusat (otak) yaitu pelepasan zat dopamine dan serotonin yang mengakibatkan gangguan pada alam pikir. BAB IV PENATALAKSANAAN SKIZOFRENIA Gangguan jiwa Skizofrenia adalah salah satu penyakit yang cenderung berlanjut (kronis. baik dibidang organobiologik maupun dibidang obat-obatannya. alam perasaan dan perilaku. Terapi farmakologis atau psikofarmaka merupakan salah satu elemen dari terapi terpadu bagi penderita skizofrenia6.1. terapi psikososial dan terapi psikoreligius. menahun). hal ini dimaksudkan untuk menekan sekecil mungkin kekambuhan (relapse). Oleh karenanya terapi pada skizofrenia memerlukan waktu yang realtif lama (berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun). Pemilihan agent farmakologis yang tepat membutuhkan pertimbangan yang matang akan keuntungan dan kerugian pemberian obat tersebut. psikoterapi.• • Gangguan keperibadian Gangguan skizofrenia lain-lain. Kemajuan dibidang Ilmu Kedokteran Jiwa (Psikiatri) akhir-akhir ini mengalami kemajuan pesat. Oleh karena itu psikofarmaka yang akan 24 .

Tidak ada / sedikit efek samping. f.diberikan ditujukan pada gangguan fungsi neurotransmitter tersebut. d.5 mg. 5 mg Vial 25 mg/ml Tab. 5 mg Tab. c. (Jika mungkin) pemakaiannya dosis tunggal. 0. h. 50 mg. 2 mg Tab. i. 100 mg Amp. sehingga gejalagejala klinis tadi dapat dihilangkan. Syarat-syarat psikofarmaka yang ideal untuk skizofrenia : a. 5 mg Amp. 2 mg/ml Amp. 2.1.25 mg Amp.5&5 mg Liq. yaitu golongan generasi pertama (typical) dan golongan generasi kedua (atypical). 0. 200 mg Dosis Anjuran 150-600 mg/h 2 Haloperidol 5-15 mg/h 50 mg / 2-4 minggu 12-24 mg/h 10-15 mg/h 25 mg / 2-4 minggu 25-50 mg/h 10-15 mg/h 150-600 mg/h 300-600 mg/h 3 4 5 6 7 8 Perphenazine Fluphenazine Fluphenazinedecanoate Levomepromazine Trifluoperazine Thioridazine Sulpiride 25 . 2 mg. 50 mg/ml Tab. 2 mg. 5 mg Tab. Sediaan Antipsikotik dan Dosis Anjuran No 1 Nama Generik Chlorpromazine Nama Dagang LARGACTIL PROMACTIL MEPROSETIL ETHIBERNAL SERENACE HALDOL GOVOTIL LODOMER HALDOL DECANOAS TRILAFON ANATENSOL MODECATE NOZINAN STELAZINE MELLERIL DOGMATIL – Sediaan Tab. Tidak menyebabkan lemas otot. Tidak menyebabkan habituasi. Lebih cepat memulihkan fungsi kognitif (daya pikir dan daya ingat).5 mg. Dosis rendah dengan efektivitas terapi dalam waktu relatif singkat. Berbagai jenis obat yang beredar di pasaran yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter dapat dibagi dalam dua golongan. Dapat menghilangkan gejala-gejala skizofrenia dalam waktu relatif singkat.5 mg. 1. Memperbaiki pola tidur. Tidak menyebabkan kantuk. 5 mg/ml Tab.25 mg/ml Tab. Tabel 4. 25 mg. 1 mg. 4&8 mg Tab. masing-masing jenis obat ada kelebihan dan kekurangannya selain juga ada efek samping. 100 mg Tab. Dewasa ini banyak jenis psikofarmaka yang digunakan untuk mengobati penderita skizofrenia. g. e. b. 2 mg. Hingga sekarang belum ditemukan obat yang ideal. adiksi dan dependensi. 25 mg/ml Tab.

Dengan terapi psikofarmaka sesungguhnya gangguan jiwa skizofrenia dapat diobati dan disembuhkan dalam arti manageable dan controllable. maka penderita tidak mempunyai kemampuan untuk berpikir dan mengingat yang amat penting bagi menjalankan fungsi kehidupannya sehari-hari.3 mg Tab. gejala kognitif dan efek samping EPS. depresi.2. mencegah efek samping EPS dan memulihkan fungsi kognitif. tetapi kurang efektif untuk mengatasi gejal-gejala negatif.2. gangguan tidur.9 10 Pimozide Risperidone 11 12 13 Clozapine Quetiapine Olanzapine FORTE ORAP FORTE RISPERDAL NERIPROS NOPRENIA PERSIDAL-2 RIZODAL CLOZARIL SEROQUEL ZYPREXA Amp.3 mg Tab. Bagaimanapun. gangguan mood. Sedangkan obat golongan atypical dapat mengatasi gejala-gejala positif.1. 26 . Nasrallah (2001) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pemakaian obat golongan typical pada 30% penderita skizofrenia tidak memperlihatkan perbaikan klinis secara bermakna.3 mg Tab. maka penderita skizofrenia dapat hidup produktif dan mendiri. gejala negatif dan gejala kognitif. obat-obat lain mungkin digunakan untuk mengatasi gejala anxietas. sebab kadang kala perjalanan gangguan jiwa skizofrenia ini sewaktu-waktu dapat mengalami remisi. 50 mg/ml Tab. 1. Sebagaimana diketahui meskipun gejala-gejala positif dan negatif skizofrenia telah dapat diatasi. 100 mg Tab. negatif. 10 mg 2-4 mg/h Tab 2-6 mg/h 25-100 mg/h 50-400 mg/h 10-20 mg/h Sharma (2001) menyatakan bahwa 3 gejala yang menonjol pada gangguan jwa skizofrenia adalah gejala positif. 5 mg. 1.1 Obat-obat yang digunakan Antipsikotik merupakan obat utama yang digunakan dalam terapi psikofarmaka untuk penderita skizofrenia.3 mg Tab. 1. 25 mg. juga untuk mengurangi efek samping yang mungkin timbul akibat penggunaan obat utama. 25 mg. 4. 100 mg. Hal ini dimungkinkan dengan ditemukannya obat anti skizofrenia golongan atypical. Diakui bahwa golongan typical ini mampu mengatasi gejala positif skizofrenia. 1. namun bila fungsi kognitif tidak dipulihkan. karena pada hakekatnya penyakit ini merupakan self limitting process. Sehingga dengan demikian bila ketiga gejala-gejala tersebut di atas dapat diatasi.2. 2 mg Tab. 4 mg Tab.2. Penderita skizofrenia tidak harus meminum obat seumur hidup. 200 mg Tab.

pada kondisi ini antipsikotik alternatif mungkin berguna. sehingga mereka akan merasa jauh lebih berbahagia jika tidak meminum obat tersebut. flupenthixol (Fluanxol). Dimana obat-obat 27 . pada pasien dengan gangguan absorpsi atau terkadang untuk tujuan kenyamanan pasien. Injeksi digunakan pada kondisi dimana terjadi compliance. Beberapa antipsikotik yang ada di pasaran misalnya. Terdapat beberapa pasien yang dilaporkan bahwa penggunaan obat-obat antipsikotik sebagai terapi mereka membuat mereka merasa sangat tidak nyaman. Pada pasien-pasien seperti ini sangat perlu ditekankan mengenai pertimbangan keuntungan dan kerugian penggunaan obat antipsikotik tersebut. gangguan pikiran.. dan lain sebagainya). Obat-obat lain dalam golongan ini yang termasuk long-acting injection (depot) diantaranya. fluphenazine decanoate (Modecate). terdapat dua golongan antipsikotik berdasarkan potensi yang dimiliki obat tersebut (antipsikotik potensi rendah dan potensi tinggi). gelisah (akhatisia). Pada umumnya agen antipsikotik tidak menyebabkan alergi. daripa potensi obat itu sendiri. Bagi pasien-pasien yang sangat terganggu. sehingga hanya pasien skizofrenia dengan kecenderungan terjadinya efek samping yang berat yang tidak dapat menerima terapi antipsikotik (kondisi ini sangat jarang terjadi). Pasien rawat jalan dapat diobati dengan sediaan tablet maupun depot / sediaan long-acting. Sebagai contoh. flupenthixol (Fluanxol). Pemilihan obat subtype mana yang akan digunakan lebih dipertimbangkan berdasarkan efek samping yang mungkin muncul selama penggunaan obat tersebut. pimozide (Orap). halusinasi.1.1. pipotiazine (Piportil L4). Terkadang suatu obat tertentu tidak cocok untuk pasien tertentu. dan haloperidol decanoate (Haldol LA).4. waham kejar. Sebagian besar pasien rawat inap diberikan terapi inisial dengan sediaan oral dalam bentuk tablet maupun liquid. Beberapa gejala yang sangat berespon terhadap obat golongan antipsikotik antara lain. Obat-obat dengan potensi tinggi cenderung menyebabkan efek samping muscular dan resah. waham (waham hubungan. trifluoperazine (Stelazine). Neuroleptik (Antipsikotik) Golongan obat ini biasanya sangat esensial untuk mengendalikan gejala-gejala skizofrenia. dapat diberikan sediaan injeksi agen psikotropika yang memiliki efek cepat dengan durasi pendek.1. and chlorpromazine (Largactil) dalam sediaan oral dan sediaan injeksi short-acting .

Dosis terapeutik mungkin dapat dikurangi secara bertahap seiring kemajuan penyakit pasien. sensitivitas meningkat terhadap sinar matahari. sementara beberapa wanita mengalami gangguan siklus haid.dengan potensi yang rendah dapat menyebabkan efek mengantuk dan penurunan tekanan darah. seumur hidup pasien. kekakuan. Pengurangan dosis lebih lanjut sebelum satu tahun terapi. dan pada kedua kelompok jenis kelamin pernah didapatkan laporan bahwa beberapa dari mereka mengalami galacthorrea. pasien dengan penggunaan obat ini mengalami. pengurangan dosis harus dipertahankan pada level sedikit lebih tinggi dari pada pemberian dosis rendah sebelumnya. mengantuk. gemetaran dan atau gelisah. Pada tahap awal. Beberapa pria mengeluh mengalami kesulitan ejakulasi. Efek samping yang paling umum dari obat-obat antipsikotik adalah gangguan otot. Ketika gejala penyakit telah kembali terkendali. yang biasanya terjadi pada otot wajah juga otot – otot anggota gerak. dan konstipasi. setelah pasien tetap berada dalam keadaan gejala terkendali selama beberapa bulan sampai beberapa tahun. pengelihatan kabur. dan pada beberapa kasus. atau dengan mengganti antipsikotik yang sedang digunakan atau dengan menambahkan obat tambahan lain yang berfungsi sebagai penekan gejala efek samping yang terjadi. Setelah beberapa bulan atau biasanya beberapa tahun. klinisi mungkin dapat mengurangi dosis obat lebih cepat. Jika pasien mengalami efek samping yang membuatnya tidak nyaman. leher maupun batang tubuh). Penetalaksanaan terbaik untuk kondisi ini adalah pencegahan. perlambatan gerak. Kondisi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada pasien.terutama otot mata. faintness. Umunya. Efek samping lain yang juga sering terjadi akibat penggunaan antipsikotik yaitu. mulut kering. Antipsikotik mungkin dipergunakan dalam jangka waktu yang lama. beberapa pasien dapat mengalami gerakangerakan otot yang sifatnya involunter. Kondisi-kondisi ini biasanya reversibel dengan dikuranginya dosis antipsikotik yang digunakan. Jika terjadi relapse peningkatan dosis sesaat dari obat tersebut mungkin diperlukan. dapat terjadi dystonia akut (spasme otot. adalah tidak dianjurkan. Pengurangan dosis dapat dipertimbangkan. tetapi berespon cukup cepat terhadap terapi. meskipun dengan resiko meningkatnya kemungkinan relapse. Efek samping jangka panjang yang umum terjadi yaitu tardive dyskinesia. dan oleh karena itu pasien harus mempertahankan dosis terendah yang paling mungkin untuk 28 .

Antiparkinson diindikasikan pada kondisi dimana efek samping gangguan otot yang timbul akibat penggunaan antipsikotik sudah sampai membuat pasien merasa tidak nyaman. pada kelompok yang terakhir.1. Obat golongan ini sangat efektif untuk mengatasi kekauan otot dan tremor serta dapat juga membantu mengatasi gelisah. Obat golongan in juga sering disebut “terapi efek samping”. Karena terdapat kemungkinan pengurangan dosis yang dilakukan secara cepat dapat menyebabkan gangguan tersebut semakin jelas. dan dapat menyebabkan klinisi menetapakan diagnosa yang salah. benztropine mesylate (Cogentin). pada saat 29 . Bagaimanapun. Akan tetapi efek samping tardive dyskinesia ini meskipun tidak ringan. sementara beberapa psikiater lain menyarankan agar antiparkinson baru diberikan pada saat efek samping gangguan otot telah muncul. trihexyphenidyl (Artane). mereka berpegang pada prinsip dimana sebenarnya tidak ada satupun obat yang tidak mempunyai efek samping sama sekali. Antiparkinson Terpisah dari antipsikotik.memberikan efek terapeutik. obat-obat antiparkinson merupakan obat lain yang paling sering diresepkan dalam terapi skizofrenia. Sebaliknya. dan mulut kering. obat-obat ini mungkin dapat memperburuk gejala lainnya seperti pengelihatan kabur. adalah penting untuk mencegah berkembangnya efek samping yang menakutkan atau yang dapat membuat pasien tidak nyaman. Suatu keadaan toxic confusional state dapat terjadi pada pemberian dosis yang berlebih. Bagaimana pun. umumnya tidak sampai membuat pasien merasa tidak nyaman menggunakan obat ini. pemberian dalam dosis tunggal lebih dianjurkan dan paling baik diminum saat pasien terjaga. ketika seorang pasien harus menerima terapi antipsikotik dosis tinggi.1. procyclidine (Kemadrin). agar pasien dapat benar-benar merasakan kerja obat tersebut. karena keadaan ini sangat mirip dengan keadaan dimana terjadi kekambuhan penyakit utama. Dosis pemberian bergantung pada derajat ketidaknyaman pasien. sehingga sangat disarankan untuk mengurangi dosis secara bertahap dengan selisih penurunan relative kecil. meskipun obat-obat golongan ini tidak bersifat causative. Beberapa psikiater menyarankan pemberian antiparkinson sebagai terapi profilaksis untuk mencegah efek samping yang mungkin terjadi. Jika dibutuhkan. 4. 2. Beberapa obat antiparkinson antikolinergik yang sering digunakan antara lain. amantadine (Symmetrel).

antara 4-6 minggu. Misalnya. akibat penggunaan obat golongan ini.1. 30 . dosis terapi antiparkinson yang diberikan dapat dikurangi atau dihentikan. sangat dianjurkan untuk mencegah penggunaan berlebih obat-obat golongan ini.1. guna mencegah terjadinya : 1. Pada golongan non-barbiturat. yaitu : 1. 2. obat ini dapat mennimbulkan kebiasaan / sugesti pasien. Seperti juga benzodiazepine. obat –obat yang sering diresepkan sebagai sedative yaitu chloral hydrate (Noctec). 3. 4. nitrazepam (Mogadon). dapat menombulkan efek toleransi. triazolam (Halcion). kecuali jelas dinyatakan pada referensi yang ada. Obat kehilangan efek terapeutiknya Pasien mengalami ketergantungan secara psikologis maupun fisiologis terhadap obat tersebut. Bagaimanapun. Sedatives and Anxiolytics Obat-obat golongan ini memberikan efek terapeutik sesuai dengan namanya.tercapai keadaan dimana gejala penyakit utama telah terkontrol dan dosis terapi antipsikotik mulai diperkecil. Obatobat golongan benzodiazepine yang paling sering dipakai antara lain. sehingga sangat tidak dianjurkan untuk digunakan lebih dari 4-6 minggu. Digunakan pada waktu (menjelang) tidur. flurazepam (Dalmane). beberapa obat golongan benzodazepine digolongkan sebagai sedatif karena obat-obat tersebut menyebabkan kantuk. 2. 3. Tidak ada satupun obat dalam golongan ini yang digunakan untuk mengatasi skizofrenia. golongan benzodiazepine paling banyak digunakan. Terdapat tiga kelompok obat sedative utama. Diantara ketiganya. obat-obat ini dapat membantu mengatasi gangguan tidur. jika obat-obat ini digunakan dalam jangka waktu lama. Barbiturat – hati-hati terhadap efek toksisitas dan adiksi yang mungkiin timbul Benzodiazepin Sedatif non-barbiturat. sementara yang lainnya digolonkan sebagai anxiolitik karena obat-obat tersebut mengurangi anxietas.

oxazepam (Serax). Trisiklik (amitriptyline (Elavil). Obat golongan ini. clomipramine (Anafranil)). Ketika digunakan pada penatalaksanaan skizofrenia. obat-obat golongan ini berfungsi sebagai terapi penyerta (bersamaan dengan antipsikotik sebagai obat utama) guna mengatasi gangguan mood yang sering menjadi gejala penyerta pada pasien skizofrenia. Untuk alas an yang kedua ini.1. Pada keadaan tertentu. doxepin (Sinequan). Terdapat juga anxiolotik golongan non-benzodiapin. kecuali jika atas permintaan dokter. imipramine (Tofranil). 31 . Oleh karena itu. Obat-obat golongan benzodiazepine yang sering dipakai antara lain. Mengatasi efek samping antipsikotik yang mencakup gelisah. Obat-obat ini harus dihentikan secara bertahap untuk membantu mencegah terjadinya gejala putus obat. anxiolitik sering digunakan selama lebih dari 6 minggu. yaitu : 1. lorazepam (Ativan). Gejala depresi dan anxietas tertentu juga dapat berespon terhadap obat obat trisiklik. anxiolitik digunakan untuk dua alasan. Benzodiazepin tergolong obat yang aman. alprazolam (Xanax). obat-obat golongan ini dapat digunakan sebagai terapi alternatif terhadap benzodiazepin.Sebagian besar anxiolotik (yang juga dikenal secara kurang tepat sebagai minor tranquilizers) juga termasuk golongan benzodiazepine. dalam dosid kecil dapat juga digunakan sebagai sedatif maupun hipnotik. benzodiazepine dapat memperburuk anxietas. Mengurangi anxietas 2. diazepam (Valium). 4. chlordiazepoxide (Librium). 4. Antidepresant terbagi ke dalam empat kelompok utama : 1. clorazepate (Tranxene). dan tremor. Antidepressant Antidepresant paling sering digunakan untuk mengatasi gangguan mood. Kombinasi dengan obat – obat lain sangat tidak dianjurkan.1. tetapi tetap harus dihindari penggunaanya bersamaan dengan alkohol maupun dengan obat lain. kaku otot. tetapi lebih jarang digunakan daripada golongan benzodiazepine. Pada kasus seperti ini. penggunaan lebih lanjut harus dihindari. Dalam penatalaksanaan skizofrenia.

Karena sebagian besar pasien-pasien skizofrenia sering mengalami depresi karena kondisi yang memang tidak menyenagkan (bukan karena perubahan biokimiawi). Psikoterapi diberikan dengan catatan bahwa penderita masih tetap mendapat terapi psikofarmaka. tetapi jarang digunakan dalam penatalaksanaan skizofrenia. 4.1. Jika antidepressant dibutuhkan. penggunaan antidepressant sering tidak banyak menolong. baru dapat diberikan apabila apabila penderita dengan terapi psikofarmaka di atas sudah mencapai tahapan dimana kemampuan menilai realitas (Reality Testing Ability / RTA) sudah pulih kembali dan pemahaman diri (insight) sudah baik. Inhibitor Monoaminoksidase (phenelzine (Nardil) dan tranylcypromine (Parnate)). Obat – obat ini digunakan untuk mengatasi gangguan mood. mulut kering dan pengelihatan kabur). obat-obat ini memerlukan waktu sampai dengan 2 minggu. Psikoterapi Terapi kejiwaan atau psikoterapi pada penderita skizofrenia.2. Tetrasiklik (maprotiline (Ludiomil)). 4. Obat-obat ini tidak menolong untuk pasien yang mengalami depresi karena kondisi dasar yang tidak menyenangkan.2. 32 . Keempat kelompok utama golongan ini digunakan untuk gangguan depresif yang disebabkan oleh perubahan biokimiawi. 3.2. Obatobat ini dapat memperburuk efek samping antipsikotik dan antiparkinson (misal. Lain-lain (trazodone (Desyrel) and fluoxetine (Prozac)). sebelum efek terapeutik obat tersebut tercapai. Efek samping yang mempengaruhi fungsi lain dari tubuh juga dapat terjadi. Efek Samping yang Sering Terjadi dan Penaggulangannya • • • • • Mengantuk Gangguan Otot Efek Antikolinergik Efek Terhadap Jantung dan Pembuluh Darah Reaksi Terhadap Kulit 4.

semangat dan motivasi agar penderita tidak merasa putus asa dan semangat juangnya (fighting spirit) dalam menghadapi hidup ini tidak kendur dan menurun. Kemampuan adaptasi penderita perlu dipulihkan agar penderita mampu berfungsi 33 . mana yang halal dan haram. c. Psikoterapi Re-edukatif Jenis psikoterapi ini dimaksudkan untuk memberikan pendidikan ulang yang maksudnya memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu dan juga dengan pendidikan ini dimaksudkan mengubah pola pendidikan lama dengan yang baru sehingga penderita lebih adaptif terhadap dunia luar. d. Psikoterapi yang sering diterapkan antara lain : a. Psikoterapi Kognitif Jenis psikoterapi ini dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi kognitif (daya pikir dan daya ingat) rasional sehingga penderita mampu membedakan nilai-nilai moral etika. Psikoterapi Rekonstruktif Jenis psikoterapi ini dimaksudkan untuk memperbaiki kembali (rekonstruksi) kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi kepribadian utuh seperti semula sebelum sakit. Psikoterapi Perilaku Jenis psikoterapi ini dimaksudkan untuk memulihkan gangguan perilaku yang terganggu (maladaptif) menjadi perilaku yang adaptif (mampu menyesuaikan diri). e. mana yang boleh dan tidak. f. b. Psikoterapi Psikodinamik Jenis psikoterapi ini dimaksudkan untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan seseorang jatuh sakit dan upaya untuk mencari jalan keluarnya. Dengan psikoterapi ini diharapkan penderita dapat memahami kelebihan dan kelemahan dirinya dan mampu menggunakan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) dengan baik. dan lain sebagainya. mana yang baik dan mana yang buruk. Psikoterapi Suportif Jenis psikoterapi ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan.Psikoterapi ini banyak macam dan ragamnya tergantung dari kebutuhan dan latar belakang penderita sebelum sakit (pramorbid).

seperti dalam bidang studi (sekolah/kuliah). meningkatkan citra diri (self esteem). Dengan terapi psikososial dimaksudkan penderita agar mampu kembali beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitarnya dan mampu merawat diri. memulihkan kepercayaan diri (self confidence).kembali secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari baik di rumah. Kepada penderita diupayakan untuk tidak menyendiri. Terapi Psikoreligius 34 . Sering pula diperlukan pengawasan agar kebutuhan gizi dan higiene terjamin. hubungan sosial dan perawatan diri. banyak kegiatan dan kesibukan dan banyak bergaul. Hendaya ini terjadi dalam berbagai bidang fungsi rutin kehidupan sehari-hari. Penderita selama menjalani terapi psikososial ini hendaknya masih tetap mengkonsumsi obat psikofarmaka sebagaimana juga halnya waktu menjalani psikoterapi. tidak melamun. 4.4. memperkuat ego (ego strength). Secara umum tujuan dari psikoterapi tersebut di atas adalah untuk memperkuat struktur kepribadian. 4. Dengan psikoterapi ini diharapkan keluarga dapat memahami mengenai gangguan jiwa skizofrenia dan dapat membantu mempercepat proses penyembuhan penderita. atau akibat tindakannya yang berdasarkan waham (delusi) atau sebagai respons atau tindak lanjut terhadap halusinasinya. g. pekerjaan. di tempat kerja dan lingkungan sosialnya. mampu mandiri tidak tergantung pada orang lain sehingga tidak menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat. Terapi Psikososial Salah satu dampak dari skizofrenia adalah terganggunya fungsi sosial penderita atau hendaya (impairment). di sekolah/kampus. dan untuk melindungi penderita dari akibat buruk yang disebabkan oleh hendaya daya nila dan hendaya kognitif.3. Psikoterapi Keluarga Jenis psikoterapi ini dimaksudkan untuk memulihkan hubungan penderita dengan keluarganya. yang kesemuanya itu untuk mencapai kehidupan yang berarti dan bermanfaat (meaningfulness of life). mematangkan kepribadian (maturing personality).

d. dan kajian kitab suci. Pada kelompok kedua kemampuan adaptasi lebih cepat daripada kelompok pertama. berdoa. yang dapat diamati dengan adanya gejala-gejala waham (delusi) keagamaan atau jalan pikiran yang patologis dengan pola sentral keagamaan. dkk (1982) dalam penelitiannya membandingkan keberhasilan terapi terhadap dua kelompok penderita skizofrenia. memanjatkan puji-pujian kepada Tuhan. b. secara umum memang menunjukkan bahwa komitmen agama berhubungan dengan manfaatnya dibidang klinik (religious commitment is associated with clinical benefit). Dengan terapi psikoreligius ini gejala patologis dengan pola sentral keagamaan tadi dapat diluruskan. ceramah keagamaan. dengan demikian keyakinan atau keimanan penderita dapat dipulihkan kembali ke jalan yang benar. Penafsiran yang salah terhadap agama dapat mencetuskan terjadinya gangguan jiwa skizofrenia.Dari penelitian yang telah dilakukan. dan lain sebagainya. Gejala-gejala klinis skizofrenia lebih cepat hilang pada kelompok kedua dibandingkan kelompok pertama. Terapi kedua mendapat terapi konvensional (psikofarmaka) dan lain-lainnya serta mendapat terapi keagamaan. c. Hasil perbandingannya ternyata cukup bermakna yaitu : a. Kedua kelompok tersebut dirawat dirumah sakit jiwa yang sama. Pada kelompok kedua hendaya lebih cepat teratasi daripada kelompok pertama. Kelompok pertama mendapat terapi yang konvensional (psikofarmaka) dan lain-lainya tetapi tidak mendapat terapi keagamaan. Larson. Terapi keagamaan yang dimaksudkan dalam penelitian di atas adalah berupa kegiatan ritual keagamaan seperti sembahyang. Pada kelompok kedua lamanya perawatan (long stay hospitalization) lebih pendek daripada kelompok pertama. 35 .

Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya. Pendekatan holistic pada gangguan jiwa SKIZOFRENIA. 3. http://www.mentalhealth.dr. Philadelphia 2000.471-503. p.Clarke Institute of Psychiatry. Jakarta 2001. Schizophrenia : The Medications. John F.DAFTAR PUSTAKA 1.mja.(C). M.P. 36 . Dadang. Cetakan I. Kaplan HI. Et all. 5. Rusdi. Edisi 2.com. Kaplan and Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry. 2. F. http://www. Sadock BJ. hal 14-15. Edisi ketiga. 2001. Jakarta. Department of Psychiatry. 8th ed.R. dr.au/public/issues/178_09_050503/lam10582_fm. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik (Psychotropic Medication). H. Balai Penerbit FKUI. Thornton.C. Hawari. Lippincott Williams and Wilkins. SpKJ.com/book/p42-sc3. Maslim.B. Grebb JA. University of Toronto.html--..html 4.